Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

10 Bekal di Perjalanan

Dakwah Islamiyah adalah harakatu ishlah wa taghyir (gerakan perbaikan dan perubahan). Perbaikan dan perubahan dari jahiliyah kepada Islam; dari syirik kepada tauhid; dari penyembahan makhluk kepada penyembahan Khaliq; dari orientasi dunia kepada orientasi akhirat; dari kezaliman tirani  kepada keadilan Islam; dari hukum nenek moyang buatan manusia kepada syariat Allah; dan dari perilaku tercela kepada perilaku terpuji.

Dengan begitu dakwah islamiyah juga merupakan gerakan iqomatuddin (penegakkan agama). Sebuah proses menyeluruh yang mengupayakan terjadinya peralihan struktur ideologi, budaya dan kekuasaan dalam sebuah masyarakat.

“…supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah” (QS. Al-Anfal, 8: 39)
Tentu saja hal ini bukan perkara mudah. Karena demikian banyak waktu dan tenaga yang akan terkuras. Demikian panjang dan terjal jalan yang harus dilalui. Oleh karena itu para pengemban dakwah wajib menyiapkan bekal yang cukup di perjalanan.

Ilmu dan Pemahaman

Bekal utama para pengemban dakwah adalah ilmu dan pemahaman. Muhammad Abdullah Al-Khatib dan Muhammad Abdul Halim Hamid dalam Nazharat fi risalatut ta’lim menyatakan, “Pemahaman yang benar dapat membantu mewujudkan amal yang benar, penerapannya yang tepat, dan dapat memelihara pemiliknya dari ketergelinciran.”

Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata: “Barangsiapa yang beramal tanpa didasari ilmu, maka unsur  merusaknya lebih banyak daripada mashlahatnya.”

Orang ikhlas yang beramal, tetapi tidak memiliki pemahaman yang benar dan tidak mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya, dapat tersesat jauh dari jalan kebenaran.

Keikhlasan

Selain ilmu dan pemahaman, bekal lain yang harus disiapkan para pengemban dakwah adalah keikhlasan. Sehingga amalnya tidak tercampuri oleh keinginan-keinginan jiwa yang bersifat sementara, seperti menginginkan keuntungan materi, kedudukan, harta, ketenaran, tempat di hati manusia, pujian dari mereka, menghindari cercaan mereka, mengikuti bisikan nafsu, atau ambisi-ambisi lainnya yang dapat dipadukan dalam satu kalimat, yaitu melakukan amal untuk selain Allah, apa pun bentuknya.

Para pengemban dakwah hendaknya mengorientasikan perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya kepada Allah dan mengharap keridhaan-Nya, tanpa memperhatikan keuntungan materi, prestise, pangkat maupun gelar. Dengan begitu ia menjadi ‘tentara aqidah’, bukan tentara kepentingan yang hanya mencari kemanfaatan dunia.

Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)(QS. Al-An’am, 6: 162-163)

Stamina Amal

Peradaban Islam mustahil terwujud dengan amal tak beraturan, sporadis, reaksioner, temporer dan tambal sulam. Apalagi sekedar menebar slogan mentereng dan propaganda kosong. Oleh karena itu, para pengemban dakwah wajib membekali diri mereka dengan stamina amal yang kuat. Karena mereka akan melakukan amal secara berkesinambungan, tanpa lelah dan tanpa bosan. Ingatlah, sungguh tiada tempat sedikitpun bagi orang-orang yang malas dan berpangku tangan dalam barisan dakwah.

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan (QS. At-Taubah, 9: 105)

Ruhul Jihad

Tanpa jihad, dakwah tidak akan pernah hidup. Urutan jihad yang pertama yang dituntut dari para pengemban dakwah adalah pengingkaran hati terhadap kemaksiatan pada Allah, dan puncaknya adalah berperang di jalan Allah ta’ala. Diantara keduanya ada jihad dengan lisan, pena, tangan, dan kata-kata yang benar di hadapan penguasa yang zalim.

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. (QS. Al-Hajj, 22: 78)
Ibnu Abbas ra berkata tentang pengertian jihad,

“Jihad adalah menguras potensi dalam membela agama Allah, dan tidak takut cercaan orang yang mencerca dalam melaksanakan agama Allah.”

Muqatil berkata,
Makna jihad adalah “Bekerjalah untuk Allah dengan sebenar-benar kerja, dan beribadahlah dengan sebenar-benar ibadah.”

Ibnul Mubarak berkata,
“Jihad adalah mujahadah terhadap jiwa dan hawa nafsu.”

DR. Sa’id Ramadhan Al-Buthi berkata,
“Jihad adalah mencurahkan potensi dalam rangka meninggikan kalimat Allah, dan membentuk masyarakat muslim. Sedangkan mencurahkan tenaga dengan melakukan perang adalah salah satu jenis dari jihad. Tujuan jihad adalah membentuk masyarakat yang islami, dan membentuk Negara Islam yang benar.”

Tadhiyah

At-Tadhiyah adalah mengorbankan jiwa, harta, waktu, kehidupan, dan segala-galanya demi mencapai tujuan.

Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. (QS. At-Taubah, 9: 111)
Marilah kita teladani Abu Bakar yang rela mengorbankan seluruh hartanya pada masa peperangan Tabuk. Begitu pula Shuhaib Ar-Rumi rela melepas apa yang dimiliki ke tangan kaum musyrikin untuk membela agama Allah hijrah dari Makkah ke Madinah.

Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya Karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.(QS. Al-baqarah, 2: 207)

Taat pada Qiyadah

Amal harakah islamiyah adalah amal jama’i. Ada jundi (prajurit) dan ada qiyadah (komandan). Keduanya terikat dalam perjuangan dilandasi kesamaan visi, misi, dan program. Sikap taat—karena Allah—kepada qiyadah adalah keharusan dalam sebuah amal jama’i.

Apa yang akan terjadi jika program dan tugas dakwah yang telah direncanakan diterima oleh telinga yang tidak mampu mendengar, semangat yang melempem, serta hati yang berkecenderungan untuk membantah dan sombong? Tentu saja proyek-proyek besar akan mandeg seketika, amal-amal mulia akan mengalami kelumpuhan dan terkubur tanpa ada seorang pun yang melayatnya.

Kita tentu tahu ibrah agung dalam peperangan Uhud, bagaimana Rasulullah saw memerintahkan para pemanah untuk tidak meninggalkan posisi mereka apa pun yang terjadi. Akan tetapi tatkala mereka melihat kemenangan seolah-olah telah berpihak pada kaum muslimin, mereka turun meninggalkan posisinya dan melanggar perintah Rasulullah saw. Akhirnya terjadi serangan balik dari musyrikin yang menyebabkan 70 orang muslimin syahid. Pelajaran ini menegaskan tentang wajibnya ketaatan.

Karena itu para pengemban dakwah harus senantiasa siap melaksanakan perintah qiyadah dan merealisir dengan segera, baik dalam keadaan sulit maupun mudah, saat bersemangat maupun malas.

Tsabat

Tsabat artinya teguh beramal sebagai mujahid dalam memperjuangkan tujuannya, betapa pun jauh jangkauan dan lama waktunya.

Seorang pengemban dakwah hendaknya tetap dalam keadaan seperti itu sampai bertemu Allah swt. Niscaya ia akan mendapatkan salah satu dari dua kebaikan, yaitu hidup mulia atau mati syahid.

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya), (QS. Al-Ahzab, 33: 23)

Tajarrud

Tajarrud artinya totalitas atau bersungguh-sungguh pada suatu urusan. Di antara tanda-tanda sikap tajarrud yang harus dimiliki para pengemban dakwah adalah:

Pertama, mampu mensikapi manusia atau segala sesuatu dengan timbangan dakwah. Apakah ia berhak mendapatkan loyalitas atau berhak mendapatkan permusuhan.

Sesungguhnya telah ada suri tauldan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka Berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. (QS. Al-Mumtahanah, 60: 4)

Kedua, tidak merasa berat mempersembahkan jiwa di jalan Allah ta’ala dan mengatur segala urusannya serta seluruh kehidupannya sejalan dengan hukum-hukum dan perintah-perintah Allah ta’ala.

Para pengemban dakwah harus mampu menegakkan al-haq di dalam jiwa, nurani, dan kehidupan mereka, dalam bentuk aqidah, akhlak, ibadah, dan perilaku sehari-hari. Hasan Hudhaibi berkata: “Wahai Ikhwan, tegakkanlah Islam di dalam hatimu, tentu ia akan tegak di bumimu.”

Menjaga Ukhuwah

Ukhuwah adalah kekuatan iman yang menumbuhkan perasaan simpati, emosi yang tulus, kecintaan, kasih sayang, penghargaan, penghormatan, dan saling percaya antar orang-orang yang terikat dengan akidah tauhid dan manhaj Islam. Ukhuwah dapat menumbuhkan sikap saling tolong menolong, saling mengutamakan orang lain, saling mengasihi, saling memaafkan, saling berlapang dada, saling menanggung, dan saling mengokohkan.
Tingkatan ukhuwah yang paling rendah adalah salamatush shadr (bersihnya hati dari buruk sangka) dan yang tertinggi adalah itsar (mengutamakan orang lain). Seandainya para pengemban dakwah mengalami penurunan dari tingkatan ukhuwah yang paling rendah—yaitu salamatush shadr—maka perpecahan akan muncul dan pertentangan akan semakin meluas. Kedua hal ini dapat mengantarkan jama’ah dakwah pada kekalahan dan kehancuran.

Taatlah kepada Allah dan rasul-Nya, janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar., (QS. Al-Anfal, 8: 46)

Tsiqah

Bekal terakhir yang harus disiapkan para pengemban dakwah adalah tsiqah, yakni rasa puasnya seorang prajurit atas komandannya dalam hal kemampuan dan keikhlasannya, dengan kepuasan mendalam yang menumbuhkan rasa cinta, penghargaan, penghormatan, dan ketaatan.

Para prajurit dakwah hendaknya selalu waspada dan berhati-hati terhadap musuh-musuh  yang selalu berupaya menimbulkan friksi internal demi memenangkan pertarungan melawan al-haq. Untuk itu para  pengemban dakwah harus menjaga dan memperkokoh tsiqah-nya pada pemimpin agar dakwah terus bergulir mencapai tujuannya.

Wallahu a’lam.

Maraji’: Konsep Pemikiran Gerakan Ikhwan, Muhammad Abdullah Al-Khatib & Muhammad Abdul halim Hamid.

http://islam-kucinta.blogspot.com/2010/08/10-bekal-di-perjalan.html
Lengkapnya Klik DISINI

Impian Hari ini adalah Kenyataan Hari Esok

Saudaraku,
Janganlah engkau putus asa, karena putus asa bukanlah akhlak seorang muslim. Ketahuilah bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan di hari esok. Waktu masih panjang dan hasrat akan terwujudnya kedamaian masih tertanam dalam jiwa masyarakat kita, meski fenomena-fenomena kerusakan dan kemaksiatan menghantui mereka. Yang lemah tidak akan lemah sepanjang hidupnya dan yang kuat tidak akan selamanya kuat.

Allah swt. berfirman,
"Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman serta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu." (Al-Qashash: 5-6)

Putaran waktu akan memperlihatkan kepada kita peristiwa-peristiwa yang mengejutkan dan memberikan peluang kepada kita untuk berbuat. Dunia akan melihat bahwa dakwah kita adalah hidayah, kemenangan, dan kedamaian, yang dapat menyembuhkan umat dari rasa sakit yang tengah dideritanya. Setelah itu tibalah giliran kita untuk memimpin dunia, karena bumi tetap akan berputar dan kejayaan itu akan kembali kepada kita. Hanya Allah-lah harapan kita satu-satunya.

Bersiap dan berbuatlah, jangan menunggu datangnya esok hari, karena bisa jadi engkau tidak bisa berbuat apa-apa di esok hari.

Kita memang harus menunggu putaran waktu itu, tetapi kita tidak boleh berhenti. Kita harus terus berbuat dan terus melangkah, karena kita memang tidak mengenal kata "berhenti" dalam berjihad.

Allah swt. berfirman,
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, sungguh akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. "(Al-Ankabut: 69)

Hanya Allah-lah Dzat yang Maha Agung, bagi-Nya segala puji.

(Hasan Al-Banna)
Lengkapnya Klik DISINI

Kesatuan dan Keragaman Jamaah Dalam Medan Amal Islami ( Bag 2, Habis )

IBNU TAIMIYAH DAN PERBEDAAN ULAMA

Penyerupaan ini sebenarnya telah disampaikan sebelumnya oleh Imam Ibnu Timiyah – semoga Allah merahmatinya -, setelah berbicara tentang kesatuan agama, keragaman syariat dan manhaj para nabi – alaihimus Shalatu wassalam - kemudian mengungkapkan:

“Mazhab-mazhab, jalan-jalan (yang ditempuh oleh ulama-pent), dan strategi yang dipilih oleh para ulama, para masyasyikh dan para pemimpin, apabila mereka berkehendak mencari keridhaan Allah dan bukan hawa nafsu, agar mereka berpegang kepada millah dan agama yang tersimpul dalam rangka mengabdikan kepada Allah semata dan tidak mensyirikannya, mengikuti apa yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan mereka dalam Kitab dan sunnah, dari satu sisi seperti kedudukan syariat dan manhaj para nabi, mereka akan dibalas karena tujuan mereka mencari keridhaan Allah dan beribadah kepadaNya semata, serta tidak mempersekutukanNya dan itulah agama yang sempurna, sebagaimana para nabi dibalas atas pengabdian mereka kepada Allah semata dan tidak mensyirikkanya, dan akan dibalas (para ulama dan masyayikh) atas ketaatan kepada Allah dan RasulNya dalam apa yang mereka pegang teguh, sebagaimana setiap nabi dibalas atas ketaatan mereka kepada Allah dalam syariat dan manhajnya.

Keragaman syariat dan manhaj mereka karena disebabkan seperti: Sebuah redaksi hadits sampai kepada mereka tidak sebagaimana redaksi yang sampai kepada yang lain, sebagian ayat ditafsirkan dengan tafsiran yang berbeda dengan tafsiran yang lain, menggabungkan antar beberapa nash dan menggali hukum dengan pola tartib dan penggabungan tidak sebagaimana yang dilakukan oleh yang lain, demikian juga dalam ibadah dan kecenderungan, kadang yang satu berpegang pada ayat atau hadits dan yang ini berpegang pada ayat atau hadits yang lain. Demikian juga dalam ilmu, sebagian ulama ada yang mengikuti metodologi seorang alim tertentu, maka jadilah syariat yang ia anut hingga ia mendengar perkataan yang lainnya dan melihat (kebenaran) yang ia tempuhnya lalu mentarjih (menguatkan) pendapat itu.

Maka beragamlah pendapat dan sikap mereka karena kecenderungan ini, mereka diperintahkan untuk menegakkan agama dan tidak berpecah belah, sebagaimana para rasul diperintahkan hal itu, mereka diperintahkan untuk tidak memecah belah ummat, sebab ia adalah ummat yang satu sebagaimana yang telah diperintahkan kepada para rasul, dan mereka jauh lebih kuat untuk merealisasikan hal ini, karena mereka disatukan oleh syariat yang satu dan kitab yang satu.

Adapun dalam masalah yang mereka perselisihkan, maka tidak dikatakan: “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan setiap mereka – baik secara lahir maupun batin - untuk berpegang terhadap apa yang yakini, sebagaimana yang tetap pada para nabi”, betapapun perkataan ini telah diungkapkan oleh ahlul kalam (filsafat), akan tetapi seharusnya yang dikatakan: “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan setiap mereka untuk mencari kebenaran menurut kadar kemampuan dan kekuatannya, maka apabila benar dan jikalau tidak maka Allah tidak akan membebani diri diatas kemampuannya, dan sungguh kaum mukminin telah berdo’a: ‘Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau menyiksa kami jika kami lupa atau salah’.” Dan Allah telah berfirman: “Sungguh Aku telah lakukan itu”. Dan Allah telah berfirman pula: “Dan tidak ada dosa atas kalian dalam apa yang kalian berbuat salah”.

Maka barang siapa yang menghina dan mencela atas apa yang Allah tidak akan menyiksa mereka, maka sungguh ia telah melampui batas, dan barang siapa menghendaki menjadikan perkataan dan perbuatan mereka seperti kedudukan perkataan dan perbuatan Nabi Al Makshum (yang terjaga dari kesalahan), membelanya tanpa petunjuk dari Allah maka sungguh telah melampui batas dan mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah.

Dan barang siapa melakukan sebagaimana yang diperintahkan menurut kondisinya, yakni dengan berijtihad yang ia mampu lakukan atau bertaqlid jika ia tidak mampu berjtihad, dan ia bertaqlid dalam posisi yang penuh keadilan maka ia adalah orang yang objektif, sebab perintahnya dibingkai dalam syarat kemampuan, (Allah tidak akan membebani seseorang diatas kemampuannya).

Maka kewajiban atas setiap muslim pada setiap posisi adalah menghadapkan wajahnya hanya Kepada Allah semata, senantiasa menjaga keislamannya, menyerahkan wajahnya yakni mengikhlaskan dirinya hanya kepada Allah, memperbaiki perbuatanya yang baik, maka renungkanlah ini, karena ia adalah sebuah dasar yang sempurna yang bermanfaat lagi agung. [3]

SEBAB-SEBAB KERAGAMAN

Setelah kita mengetahui tentang hakekat keragaman manhaj dakwah, kita dapat menyimpulkan sebab-sebabnya dalam tiga sebab utama:

1. Tabiat nash-nash syar’i yang multipretatif, keragaman pandangan dan ijtihad manusia dalam memahami uslub dan metoda dakwah dalam amal Islami yang digali dari nash-nash syariat dan dari sirah Rasul SAW dan sirah Khulafaurrasyidin semoga Allah meridhai semua.

Jika kita lebih dalam melihat tentang sebab ini, maka kita melihat bahwa keluasan sirah Nabi SAW dan sirah Khulafaur Rasyidin karena keragaman pandangan dan ijtihad, jauh lebih luas dari keluasan nash-nash yang bersumber dari hukum-hukum syariah.

Disana kadang ditemukan sebuah kondisi yang sebagian melihatnya sebagai sebuah kebijakan Imam dan strategi politik, pada saat mana yang lain memandang sebagai sebuah tabligh dan Fatwa, yang lain memandang sebagai sebuah kebijakan Qadhi dan Mufti menurut pemahaman yang dicapai oleh seorang Alim dan mujtahid, sebagaimana kami telah jelaskannya pada tulisan kami yang bertema: “Al Ashalah Wal Mu’ashirah Khashshiyatani min Khashaishid Dakwah Islamiyah” (Orisinalitas dan kemoderenan adalah dua keistimewaan dari keistimewaan dakwah Islam).

Karena seperti sebab-sebab inilah, keragaman manhaj ilmiyah dikalangan ulama salaf kita muncul, ada diantara mereka yang berpegang kepada Atsar dan sedikit menggunakan akal, hingga menjadi dua madrasah besar yakni Madrasah Ahlul Hadits dan Madrasah Ahlur Ra’yi (logika), pada madrasah pertama seperti sahabat Abdullah ibnu Umar – semoga Allah meridhai keduanya - hingga kemudian muncul dalam kepribadian Imam Malik bin Anas – semoga Allah merahmatinya - yakni Imam Kota hijrah. Dan tokoh terkemuka pada madrasah lain – yakni madrasah Ahlul Ra’yi - sahabat sekaliber Umar bin Khattab dan Abdullah ibnu Mas’ud, yang kemudian tampil pada sosok Imam Abu Hanifah – semoga Allah merahmatinya - [4].

Karena hal-hal seperti inilah, terjadi keragaman sikap para salafus shaleh kita - semoga Allah merahmati mereka semua - dalam mengambil ketentuan fikih yang bersifat pasti maupun nisbi, di antara mereka ada yang mengambilnya dan bahkan sangat luas dalam membahasnya, namun ada juga yang menolaknya dan bersifat lebih hati-hati dan masing-masing memberikan dalil-dalil baik yang bersifat naqli maupun Aqli [5].

Seperti ini juga, keragaman manhaj para ulama salaf kita dalam membuka peluang seluas-luasnya dan mempersempit peluang dalam mengambil pokok-pokok bahasan dan memanfaatkan hal-hal yang baik, di antara mereka ada yang memperluas dan sebagian yang lain mempersempit, dan masing-masing memberikan argumentasi terhadap manhajnya baik naqli maupun aqli [6].

Dan contoh-contoh yang lain yang selalu muncul keragaman manhaj kaum muslimin baik pada tempo dulu maupun kontemporer yang meliputi seluruh sisi kehidupan kaum muslimin baik yang umum maupun yang khusus.

2. Diantara sebab yang melahirkan beragamnya manhaj dakwah kaum muslimin hari ini adalah hilangnya kesatuan politik di lapangan medan dakwah yang tercermin dalam khilafah Islam yang menjadi menjaga kepentingan ummat, mensinergikan beragam potensi dan menghilangkan perbedaan.

Dr. Yusuf Al Qardhawi menjelaskan tentang sebab ini saat kami dan beliau sedang diwawancarai olrh majalah Al Ishlah yang terbit di Dubai, salah satu kota di Emirat Arab, beliau ditanya pertanyaan berikut:

“Ketika berbicara tentang Kebangkitan Islam, ada sebuah kenyataan yang sangat menarik perhatian yaitu masalah keragaman jamaah-jamaah Islam yang berada di lapangan dakwah, yang tidak dapat menghilangkan perbedaan tapi bahkan pertikaian yang memecah satu sama yang lain pada beberapa kondisi. Bagaimana persepsi yang benar yang seharusnya dimiliki oleh jamaah-jamaah ini untuk mensinergikan potensi demi kepentingan dan kemaslahatan kaum muslimin secara keseluruhan?”

Beliau menjawab,

“Apakah engkau menyakini bahwa realitas keragaman ini hanyalah sebuah realitas saja? Keragaman ini merupakan sebuah realitas yang pasti dan tidak terelakkan karena hilangkan penegakan kewajiban besar dari kewajiban-kewajiban Islam, apabila kita melihat pada masa generasi awal, masa kenabian, kemudian masa kekhalifahan Ar Rasyidah yang menyatukan ummat, maka kita tidak menemukan kecuali satu jamaah, dibawah kepemimpinan yang satu yakni jamaatul muslimin dibawah kepemimpinan Rasulullah saw kemudian kepemimpinan Khulafurrasyidin.

Amal Islami ini tetap berjalan dibawah naunan jamaah yang satu dan kepemimpinan yang satu hingga hilangnya kekhilafahan yang diangkat dengan sebuah bai’at syar’i dari kaum muslimin, maka terpanggillah para Alim dan para duat yang ikhlash untuk memperbaiki kondisi demi tertegaknya kembali Al Islam, dari sinilah awal munculnya jamaah-jamaah dan sangat beragam. Yakni bahwa keragaman jamaah-jamaah tidak akan muncul apabila kaum muslimin hidup dibawah naungan kekhalifahan yang diangkat dengan sebuah bai’at yang syar’i [7]. Adapun realitas hari ini, saat hilangnya kekhalifahan dari kehidupan kaum muslimin, maka seharusnyalah jamaah-jamaah mensinergikan potensinya dan hendaknya mereka memiliki kesepahaman dan saling tolong menolong diantara mereka. [8]”

3. Diantara sebab yang melahirkan munculnya keragaman ini adalah: Keinginan besar dari para pelaku dakwah di lapangan dalam mengumpulkan jumlah yang besar dari kaum muslimin dalam sebuah amal Islami demi menjaga eksistensi keberadaan kaum muslimin dari makar-makar musuh-musuhnya serta agar lebih memusatkan perhatian segenap potensi ummat untuk merealisasikan tujuan bersama.

Satu hal yang tidak dapat dipungkiri, beragamnya kecenderungan dan tempat pengambilan sumber kaum muslimin serta aneka pendapat dan ijtihad di kalangan mereka tidak memungkinkan dapat diakomodir dan dikelola oleh sebuah tandzim (menejemen dakwah) yang satu atau kepemimpinan yang satu, terlebih saat hilangnya jamaah yang dapat diakui kesempurnaannya oleh semua kalangan, yang dapat menjadi pengayom ketika berada di bawah panji-panjinya, serta tidak lagi membutuhkan kelompok dan perkumpulan-perkumpulan yang lain dengan keberadaanya.

Abul A’la Al Maududi seorang da’i Pakistan pernah menyampaikan sebab yang melahirkan munculnya organisasi yang beliau rintis sebagai berikut:

“Aku berusaha demikian pula para sahabatku yang memiliki keprihatian dan pemikiran yang sama denganku, kami berusaha dengan keras selama kurun tiga tahun menghimpun jamaah-jamaah yang ada saat itu bernaung di bawah bendera yang satu, atau program kerja yang satu yang akan merealisasikan tuntutan-tuntutan lapangan bagi hidupnya Islam yang hakiki, usaha ini bertujuan untuk mensinergikan beragam potensi yang tersebar dalam jamaah-jamaah yang ada, yang dengannya tidak ada lagi alasan dan kebutuhan lapangan untuk membentuk perkumpulan dan jamaah yang lain.

Namun sayang, usaha kami mengalami kegagalan, dan tidak ada pilihan di hadapan kami selain bertemunya jamaah-jamaah yang bergerak dalam medan amal saat itu dalam prinsip-prinsip dasar Islam yang shahih.

Demikianlah, pertemuan yang diadakan di bulan Sya’ban 1360 H atau yang bertepatan dengan bulan Agustus 1941 M, telah diselenggarakan pertemuan organisasi-organisasi, maka setelah diskusi dan perbincangan maka kami sepakat membuat organisasi yang bernama ‘Jamaah Islam’ [9].”

Dan seperti sebab berdirinya organisasi jamaah Islam ini, kita terkadang menemukan kemiripan pada berdirinya organisasi dan jamaah-jamaah Islam yang tersebar hari ini, yang semakin menguatkan kemestian keragamaman jamaah-jamaah dan kebutuhan kaum muslimin saat ini akan keberadaannya.

Jika kaum muslimin pada waktu yang lalu telah dikaruniakan taufiq Allah SWT akan keberadaan para ulama dan du’at yang benar lagi jujur, yang dengan keikhlasan, jerih payah dan kesadaran mereka sanggup mendekatkan antara manhaj (metodologi dan pendekatan) Ahli Hadits dan Ahli Ra’yu (logika), sebagaimana yang telah dilakukan oleh Al Imam Syafi’i – Rahimahullah- dan yang lainnya.

Maka, semoga hari ini kita pun dikaruniakan taufiq Allah Swt para ulama yang ikhlas dan para du’at yang berupaya dengan segenap kekuatannya mempertemukan antar para pelaku di medan amal Islami serta mendekatkan jamaah-jamaah yang beragam, mereka menapaktilasi kembali perjuangan dan usaha yang telah dirintis para pendahulunya, telah memberikan andil menajamkan makna persatuan Islam, dan mendekatkan beragam persepsi dan pemahaman sedapat mungkin, sebab ummat hari ini sangat membutuhkan jamaah yang membawa misi ini dan berupaya dalam medan amalnya merealisasikan tujuan ini.

Siapapun yang membaca realita masa lalu yang pernah terjadi di antara dua kubu madrasah (metodologi dan pemikiran) yakni Ahli hadits dan ahli logika serta para pengikutnya akan menemukan permusuhan, perselisihan yang sengit dan bahkan saling melemparkan tuduhan dan kecaman, lalu mereka kembali dalam kedekatan pemahaman dan persepsi pada sebagian besar masalah, maka akan terasa ringan dan kecil apa yang kita hadapi hari-hari ini, serta rasa optimis yang besar akan terwujudnya kedekatan pemahaman pada jamaah-jamaah ini. Dalam kitab “Tartibul Madarik” Qadhi ’iyadh – rahimahullah - pernah berkata: “Imam Ahmad bin Hambal berkata: “Kami tiada henti-hentinya mengecam Ahli Ra’yi (logika) dan merekapun mengecam kami, hingga datang Imam Syafi’i yang menjadi penengah diantara kami”.”

Qadhi Iyadh berkata: “Yang dimaksud beliau, Imam Syafi’i berpegang pada Atsar-atsar yang shahih dan menggunakannya, kemudian membingkainya dengan logika jika diperlukan lalu menggali hukum-hukum syariat. Dan sesungguhnya ia hanyalah analogi terhadap pokok-pokoknya, dan Imam Syafi’i telah menunjukkan kepada mereka bagaimana mengambilnya serta berpijak terhadap illat-illat hukumnya. Maka Ahli hadits pun mengetahui bahwa Logika yang benar adalah cabang dari hukum asal, dan Ahli logikapun mengetahui bahwa tidak ada cabang tanpa pokok, dan sesungguhnya tiada guna sebuah logika jika harus mendahului sunnah dan atsar-atsar yang shahih [10].”

Pada penutup ini, saya ingin sekali menguatkan penegasan bahwa upaya untuk mempersatukan amal Islami dan mempertemukan satu kalimat dengan berbagai sarana yang memungkinkan adalah kewajiban syar’i bagi siapa saja yang mampu, sebab yang demikian itu akan mencegah perpecahan di kalangan umat Islam, mensinergikan beragam potensi serta lebih merealisasikan kesatuan barisan dihadapan musuh-musuh agama, sebab sudah cukup bencana dan musibah yang telah menimpa umat ini akibat perpecahan dan perselisihan mereka. Allah berfirman:

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara. (QS.3:110)

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. 5:2)

[]


Oleh: Dr. Muhammad Abul Fath Al Bayanuni (Dosen Ma’had Al ‘Aly Fakultas Dakwah Madinah Al Munawwarah)
Penterjemah: Abu Zaki

—--------------------
Catatan Kaki:

[3] Hal ini sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Ibnu Taimiyah – rahimahullah - adalah sebuah dasar yang kokoh, bermanfaat lagi agung, yang menunjukkan kedalaman pandangannya, kejelian analisanya yang belum pernah kami temukan sebelumnya, kami telah beberapa tahun lamanya mengkaji topik ini agak sedikit ragu dengan analogi ini, ketika kami semakin mendalami dan menyelami perkataan ini maka kami semakin tenang dan yakin pendapat kami akan hakekat keragaman manhaj dalam dakwah dan mazhab-mazhab ilmiyah, karenanya kami paparkan penjelasan Ibnu Taimiyah – rahimahullah - secara utuh agar lebih bermanfaat sebab beliau telah menegaskan hakekat keragaman serta beberapa isyarat tentang sebab dan faktor-faktor kemunculannya berikut sikap yang seharusnya kita tampilkan, semoga Allah senantiasa membalasnya dengan segenap kebaikan. Majmu’ Fatawa (19/126-128)

[4] Lihat Kitab “Al Fikrul Sami Fi Tarikhi Fiqhil Islami” yang dikarang oleh Al Hijri yang kemudian di tahqiq oleh Abdul Aziz bin Abdul fatah al Qari, diterbitkan oleh Maktabah Ilmiyah Madinah Al Munawwarah (1/349-353) dan juga kitab “Dirasah Tarikhiyah Lil fiqh Wa Ushuluhu, Wal Ittijahat Allati Dhaharat fiha” karangan Dr. Musthafa Said Al Khasyi yang diterbitkan Syariah Muttahidah Lit Tauzi’ cet. 1 (76-80)

[5] Lihat penjelasannya lebih luas dalam “Al Fikrul Sami Fi Tarikhi Fiqhil Islami” yang dikarang oleh Al Hijri, (1/349-353).

[6] Lihat dalam kitab “Al Muwafaqat” karangan Asy Syathibi yang disyarahkan oleh Asy Syaikh Abdullah Darraz (1/117-123).

[7] Demikianlah pandangan Dr. Yusuf al Qardhawi, dalam hal ini saya memandang bahwa pandangan dalam masalah ini adalah sebuah kemaslahatan yang dilihat oleh seorang Imam. Saat itulah, apabila ia melihat sebuah kemaslahatan harus ditetapkan maka ia akan menetapkannya, dan apabila ia melihat sebuah kemaslahatan harus ditiadakan maka ia akan meniadakannya, dan apabila ia melihat sebuah kemaslahatan adalah dengan berpegang pada satu bentuk dari beberapa bentuk yang ada maka baginya pula, maka ia adalah sebuah rujukan, dan masalah ini hukumnya dapat menghilangkan perbedaan. Wallahu a’lam.

[8] Lihat Majalah Ishlah no 77 bulan Syawal 1404 H

[9] Lihat Kitab “Abul A’la Al Maududi, fikratun wa Dakwatuhu” karangan As’ad Jilani hal.43.

[10] Lihat kitab “Tartibul Madarik” (1/91) (3/181) lihat juga dalam mukaddimah A’la’us Sunan karangan At Tahawuni (1/230)

Cat : Sebaiknya baca juga Bagian Satu DISINI




Lengkapnya Klik DISINI

Cara mudah menghafal surah Al-Qur’an

Penulis : Syahid Abdul Qodir Thohir *

 
LANGKAH – LANGKAH ATAU METODE


I. Menghafal nama – nama Surah dengan metoda cerita.
Metoda yang penulis buat ini sebenarnya terinspirasi dari metoda Quantum Learning melalui pelatihan yang telah diikuti. Prinsipnya bagaimana belajar itu mudah dan menyenangkan. Dan tidak ada salahnya kita gunakan dalam proses mengenal Al-Qur’an dari sisi-sisi tertentu. Salah satunya adalah menghafal nama – nama surah dalam Al-Qur’an.


Mulai saat ini anda diajak untuk mengenal nama-nama surah dalam Al-Qur’an. Anda akan dibawa keluar dari zona nyaman menuju satu pengalaman baru yang mengasyikkan. Membuat anda sadar dan melek dari mitos – mitos yang menyesatkan tentang ghuluw atau bahkan ekstrim yang terlalu jauh menyimpang dalam mensikapi keutamaan Al-Qur’an. Al-Qur’an dianggap sebagai suatu yang mistik. Padahal sebenarnya Al-Qur’an itu mu’jizat. Al-Qur’an memiliki hayawiyyah atau dinamis penuh makna. Dan metoda berikut ini merupakan salah satu pensikapan dinamis dan unik. Bisa dinikmati manfaatnya bagi setiap muslim yang ingin lebih akrab bermu’ayasyah mal qur’an dari sisi nama-nama surahnya yang berjumlah 114 surah. Karena itu cobalah metoda ini;


a. Cara menghafal
Dalam metoda cerita ini pendekatannya melalui arti atau terjemah dari nama surah yang berbahasa Arab. Yang perlu diperhatikan di sini adalah bukan kebenaran ceritanya tetapi bagaimana anda bisa menghafal dan mengingat nama – nama surah dalam Al-Qur’an dengan mudah, karena cerita ini bersifat imajinatif bukan hakiki.

Cerita berikut dibuat bersifat penggalan – penggalan (per sepuluh surah kecuali surah yang ke-91 – 99 dan ke-100 sampai terakhir). Hal ini akan membantu anda mempermudah dalam menghafal dan mengingat kembali nama – nama Surah dalam Al-Qur’an. Ingat yang dihafal bukan ceritanya tetapi alur cerita nama – nama surah Al-Qur’an (dalam terjemah) yang tertulis dengan huruf tebal dan kapital. Seperti; PEMBUKAAN, SAPI BETINA dan seterusnya.


Praktisnya adalah sebagai berikut;
1. Bacalah cerita tersebut (misalnya cerita I; 1-10) sambil tersenyum.
2. Boleh dibaca dalam hati atau dengan suara. Perhatikan pada kata – kata bercetak tebal dan berikan tekanan bunyi yang berbeda dari kata yang tidak bercetak tebal.
3. Bayangkan anda sendiri sedang manjadi pelaku atau terlibat langsung dalam alur cerita tersebut. Kalau bisa sambil membayangkan dan gerakkan anggota tubuh anda sebagai bentuk kreasi dari imajinasi anda.
4. Tulis ulang kata – kata yang bercetak tebal sesuai yang anda ingat saja, lalu cocokkan dan urutkan sesuai urutannya.
5. Setelah anda berhasil menulis ulang kata – kata yang bercetak tebal, dengan melihat kata – kata tersebut cobalah anda mengulang(mengingat) kembali alur ceritanya tanpa harus sama persis.
6. Berikutnya anda melihat grafik kata – kata yang bercetak tebal dan bacalah dalam bahasa Arabnya. Ingat jangan dihafal terlebih dahulu teks arab yang ditulis dengan huruf latin tersebut (hal tersebut akan dibahasa tersendiri).

b. Cara Mengingat ulang
Bila anda lupa dengan nama surah tertentu, misalnya saja anda lupa dengan nama Surah ke-13, maka langsung saja anda mengingat -ingat alur cerita tersebut. Dimulai dari urutan surah yang ke-11 yaitu HUD. Maka anda akan teringat bahwa HUD dan YUSUF disambar PETIR. Secara otomatis dalam hitungan menit atau bahkan detik, anda akan dengan cepat mengingatnya kembali bahwa surat yang ke-13 adalah Surah PETIR (yang Bahasa Arabnya AR RA’D). Menyenangkan bukan?

Selamat mencoba dan menikmati. Semoga anda benar – benar puas.

c. Tekhnis Menghafal
Berikut ini teknis dan cara menghafal nama – nama surah dengan metoda cerita yang dibagi dalam 11 bagian (cerita) agar memudahkan kita dalam penguasaan maksimal dan cepat.

Cerita I; (Surah 1 – 10)

Aku membaca Al-Qur’an dimulai dengan PEMBUKAAN. Kebetulan waktu itu tetanggaku sedang memotong SAPI BETINA untuk KELUARGA IMRAN yang punya anak wanita bernama AN NISA. Ia lapar makan HIDANGAN, sisanya ia berikan untuk BINATANG TERNAK yang berkandang di TEMPAT-TEMPAT YANG TINGGI, di sana dibagikan HARTA RAMPASAN PERANG yang dilakukan setelah TAUBAT seperti taubatnya YUNUS

NO KRONOLOGI CERITA
1 PEMBUKAAN – AL-FATIHAH
2 SAPI BETINA – AL-BAQOROH
3 KELUARGA IMRAN – ALI IMRON
4 AN NISA (WANITA) – AN NISA
5 HIDANGAN – AL MAIDAH
6 BINATANG TERNAK – AL AN ‘AM
7 TEMPAT-TEMPAT YANG TINGGI – AL A’ ROF
8 HARTA RAMPASAN PERANG – AL ANFAL
9 TAUBAT – AT TAUBAH
10 YUNUS -YUNUS

Cerita II; (Surah 11 – 20)

HUD dan YUSUF disambar PETIR sementara itu IBRAHIM sedang berada di PEGUNUNGAN HIJR tempat dimana LEBAH memulai PERJALANAN MALAM menuju ke GUA tempat bersembunyinya MARYAM dan TOHA.

NO KRONOLOGI CERITA
11 HUD – HUD
12 YUSUF-YUSUF
13 PETIR – AR RA’D
14 IBRAHIM -IBRAHIM
15 PEGUNUNGAN HIJR – AL HIJR
16 LEBAH – AN NAHL
17 PERJALANAN MALAM – AL ISRO
18 GUA – AL KAHFI
19 MARYAM – MARYAM
20 TOHA – TOHA

Cerita III; (Surah 21 – 30)

PARA NABI pergi HAJI diikuti oleh ORANG-ORANG BERIMAN berpakain putih – putih sehingga laksana CAHAYA yang menjadi PEMBEDA ANTARA YANG BENAR DAN BATHIL seperti ceritanya PARA PENYAIR tentang SEMUT dalam buku KISAH -KISAH dan juga tentang LABA-LABA yang menyerang BANGSA ROMAWI.

NO KRONOLOGI CERITA
21 PARA NABI – AL ANBIYA
22 HAJI – AL HAJJ
23 ORANG – ORANG BERIMAN-AL MU’MINUN
24 CAHAYA – AN NUR
25 PEMBEDA ANTARA YANG BENAR DAN BATHIL – AL FURQON
26 PARA PENYAIR – ASY SYU ‘ARO
27 SEMUT-AN NAML
28 KISAH-KISAH – AL QOSHOSH
29 LABA-LABA – AL ‘ANKABUT
30 BANGSA ROMAWI – AR RUM

Cerita IV; (Surah 31 – 40)

LUKMAN tidak berSUJUD di kaki GOLONGAN YANG BERSEKUTU dengan KAUM SABA’ yang tidak beriman kepada Yang Maha PENCIPTA. Sementara itu YASIN menyiapkan orang YANG BERSHAF – SHAF membentuk huruf SHOD dengan ROMBONGAN – ROMBONGAN untuk memohon kepada YANG PENGAMPUN dari kesalahan.

NO KRONOLOGI CERITA
31 LUKMAN – LUQMAN
32 SUJUD – AS SAJDAH
33 GOLONGAN YANG BERSEKUTU – AL AHZAB
34 KAUM SABA’ – SABA’
35 PENCIPTA – FATHIR
36 YASIN – YASIN
37 YANG BERSHAF-SHAF – ASH SHOOFFAT
38 SHOD – SHOD
39 ROMBONGAN-ROMBONGAN – AZ ZUMAR
40 YANG PENGAMPUN – GHOFIR

Cerita V; (Surah 41 – 50)

YANG DIJELASKAN dalam MUSYAWARAH itu tentang hukum PERHIASAN bukan tentang KABUT membawa orang YANG BERLUTUT di BUKIT – BUKIT PASIR, saat MUHAMMAD mendapat KEMENANGAN ditandai dengan KAMAR – KAMAR bertuliskan huruf QOF.

NO KRONOLOGI CERITA
41 YANG DIJELASKAN – FUSHSHILAT
42 MUSYAWARAH – ASY SYURA
43 PERHIASAN – AZ ZUKHRUF
44 KABUT – AD DUKHAN
45 YANG BERLUTUT – AL JATSIYAH
46 BUKIT-BUKIT PASIR – AL AHQOF
47 MUHAMMAD – MUHAMMAD
48 KEMENANGAN – AL FATH
49 KAMAR-KAMAR – AL HUJURAT
50 QOF – QOF

Cerita VI; (Surah 51 – 60)

ANGIN YANG MENERBANGKAN menghembus ke BUKIT saat BINTANG dan BULAN bersinar sebagai bukti kuasa YANG MAHA PEMURAH yang akan mendatangkan HARI KIAMAT menghancurkan BESI pada saat WANITA YANG MENGAJUKAN GUGATAN mengalami PENGUSIRAN sebagaimana menimpa PEREMPUAN YANG DIUJI.

NO KRONOLOGI CERITA
51 ANGIN YANG MENERBANGKAN – ADZ DZARIYAT
52 BUKIT – ATH THUR
53 BINTANG – AN NAJM
54 BULAN – AL QOMAR
55 YANG MAHA PEMURAH – AR RAHMAN
56 HARI KIAMAT – AL WAQI ‘AH
57 BESI – AL HADID
58 WANITA YANG MENGAJUKAN GUGATAN – AL MUJADILAH
59 PENGUSIRAN – AL HASYR
60 PEREMPUAN YANG DIUJI – AL MUMTAHANAH

Cerita VII; (Surah 61 – 70)

BARISAN orang beriman pada HARI JUM’AT berbeda dengan ORANG – ORANG MUNAFIK saat HARI DITAMPAKAN KESALAHAN – KESALAHAN orang yang suka TALAK dalam pernikahan dan Allah MENGHARAMKAN pelimpahan KERAJAAN secara tertulis dengan PENA pada HARI KIAMAT yang tidak ada lagi TEMPAT – TEMPAT NAIK bagi amal sholih.

NO KRONOLOGI CERITA
61 BARISAN – ASH SHOF
62 HARI JUM’AT – AL JUMU’AH
63 ORANG-ORANG MUNAFIK – AL MUNAFIQUN
64 HARI DITAMPAKAN KESALAHAN-KESALAHAN – AL TAGHOBUN
65 TALAK – ATH THOLAQ
66 MENGHARAMKAN – AT TAHRIM
67 KERAJAAN – AL MULK
68 PENA – AL QOLAM
69 HARI KIAMAT – AL HAAQQAH
70 TEMPAT-TEMPAT NAIK – AL MA ‘ARIJ

Cerita VIII; (Surah 71 – 80)

NUH diganggu JIN saat ORANG YANG BERSELIMUT dan ORANG YANG BERKEMUL tertidur pulas tidak menyadari datangnya KIAMAT ketika MANUSIA didatangkan MALAIKAT YANG DIUTUS menyampaikan BERITA BESAR tentang kematian yang dibawa MALAIKAT – MALAIKAT YANG MENCABUT nyawa sedangkan IA BERMUKA MASAM.

NO KRONOLOGI CERITA
71 NUH – NUH
72 JIN – AL JINN
73 ORANG YANG BERSELIMUT – AL MUZAMMIL
74 ORANG YANG BERKEMUL – AL MUDATSTSIR
75 KIAMAT – AL QIYAMAH
76 MANUSIA – AL INSAN
77 MALAIKAT YANG DIUTUS – AL MURSALAT
78 BERITA BESAR – AN NABA’
79 MALAIKAT-MALAIKAT YANG MENCABUT – AN NAZI ‘AT
80 IA BERMUKA MASAM – ‘ABASA

Cerita IX; (Surah 81 – 90)

Gempa MENGGULUNG bumi hingga TERBELAH dan ORANG-ORANG YANG CURANG pun ikut TERBELAH hancur lebur menjadi GUGUSAN BINTANG diantaranya bintang YANG DATANG DI MALAM HARI atas kuasa YANG PALING TINGGI pada HARI PEMBALASAN tidak akan muncul FAJAR di NEGERI manapun.

NO KRONOLOGI CERITA
81 MENGGULUNG – AT TAKWIR
82 TERBELAH – AL INFITHOR
83 ORANG-ORANG YANG CURANG – AL MUTHOFFIFIN
84 TERBELAH – AL INSYIQOQ
85 GUGUSAN BINTANG – AL BURUJ
86 YANG DATANG DI MALAM HARI – ATH THORIQ
87 YANG PALING TINGGI – AL A ‘LA
88 HARI PEMBALASAN – AL GHOSYIYAH
89 FAJAR – AL FAJR
90 NEGERI – AL BALAD

Cerita X; (Surah 91 – 99)

MATAHARI tenggelam saat MALAM tiba hingga datang WAKTU DHUHA Allah MELAPANGKAN rizki dan menumbuhkan BUAH TIN untuk manusia yang berasal dari SEGUMPAL DARAH tanpa KEMULIAAN sedikit pun sebagai BUKTI akan terjadi KEGONCANGAN dunia.

NO KRONOLOGI CERITA
91 MATAHARI – ASY SYAMS
92 MALAM – AL LAIL
93 WAKTU DHUHA – ADH DHUHA
94 MELAPANGKAN – AL INSYIROH
95 BUAH TIN – AT TIN
96 SEGUMPAL DARAH – AL ‘ALAQ
97 KEMULIAAN – AL QODR
98 BUKTI – AL BAYYINAH
99 KEGONCANGAN – AZ ZALZALAH

Cerita XI; (Surah 100 – 114)

KUDA PERANG YANG BERLARI KENCANG pada HARI KIAMAT tidak lagi untuk BERMEGAH – MEGAHAN pada MASA itu si PENGUMPAT diinjak – injak GAJAH milik SUKU QURAISY tanpa menyisakan BARANG – BARANG YANG BERGUNA sedikit pun, apalagi NI’MAT YANG BANYAK semuanya pergi dari ORANG-ORANG KAFIR tanpa mendapat PERTOLONGAN dari GEJOLAK API yang membakar karena tidak MEMURNIKAN KEESAAN ALLAH yang sejak WAKTU SUBUH semua MANUSIA telah melaksankannya.

NO KRONOLOGI CERITA
100 KUDA PERANG YANG BERLARI KENCANG – AL ‘ADIYAT
101 HARI KIAMAT – AL QORI ‘AH
102 BERMEGAH-MEGAHAN – AT TAKATSUR
103 MASA – AL ‘ASHR
104 PENGUMPAT – AL HUMAZAH
105 GAJAH – AL FI-L
106 SUKU QURAISY – QURAISY
107 BARANG-BARANG YANG BERGUNA – AL MA ‘UN
108 NI’MAT YANG BANYAK – AL KAUTSAR
109 ORANG-ORANG KAFIR – AL KAFIRUN
110 PERTOLONGAN – AN NASHR
111 GEJOLAK API – AL LAHAB
112 MEMURNIKAN KEESAAN ALLAH – AL IKHLASH
113 WAKTU SUBUH – AL FALAQ
114 MANUSIA – AN NAAS

 * Penulis adalah Guru Tahsin-Tahfiz di LTQ Al Hikmah dan SMP SMART Ekselensia Indonesia
( DD REPUBLIKA )
Lengkapnya Klik DISINI

Festival Al Munawar : Salat zuhur di bawah laut Ternate

Festival Al-Munawar yang digelar Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Al-Munawar Ternate bekerja sama dengan sejumlah ornganisasi islam dan TNI AL serta komunitas penyelam di Ternate, Maluku Utara (Malut) akan dimeriahkan dengan salat zuhur dibawah laut.

Ketua BKM Al-Munawar, H. Muksin Saleh mengatakan di Ternate, Rabu, kegiatan salat zuhur dibawah laut tersebut rencananya dilaksanakan tanggal 5 Februari 2012 di perairan belakang Masjid Al-Munawar tepat pada waktu salat zuhur untuk wilayah Ternate.

Salat zuhur yang rencananya akan dipimpin imam DR Wahda tersebut adalah salat zuhur yang sebenarnya, untuk itu dilaksanakna tepat pada waktu salat zuhur dan pesertanya adalah beragama Islam, hanya yang beda adalah kostum yang digunakan saat salat yakni pakaian penyelam.

Ia mengatakan, sebelum kegiatan salat zuhur di bawah laut tersebut, akan dilakukan kegiatan pembersihan laut serta penanaman terumbu karang yang membentuk huruf Al-Munawar dengan melibatkan anggota TNI AL serta komunitas penyelam di Ternate.

Kegiatan pembersihan laut dan penanaman terumbu karang yang dipusatkan di perairan belakang Masjid Al-Munawar tersebut, akan diikuti pula sejumlah wisatawan dari Amerika Serikat yang kebutulan sedang berkunjung di Ternate.

Festival Al-Munawar yang di gelar dari 28 Januari-8 Februari ini merupakan yang pertama kali di gelar BKM Al-Munawar dalam rangka memeriahkan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 2012.

Sebelumnya Wali Kota Ternate Burhan Abdurrahman saat membuka festival tersebut mengatakan, festival itu akan diupayakan masuk dalam agenda kegiatan tahunan di Ternate sebagai salah satu upaya mendukung pengebangan wisata relegius di Ternate.[antara/foto ilustrasi]

http://www.islamedia.web.id/2012/02/festival-al-munawar-salat-zuhur-di.html
Lengkapnya Klik DISINI

Para Da’i; Pemegang Kunci Usia Bumi

الدعوة إلى الله سبيل النجاة في الدنيا و الآخرة
“Berdakwah kepada Allah merupakan jalan keselamatan di dunia dan akhirat”

Seorang da’i, selayaknya memahami betul hakekat dari sebuah penciptaan manusia di atas muka bumi. Dengan pemahaman yang matang tentang hal ini, para da’i dapat dengan sempurna menjalankan tugasnya. Sebagaimana yang telah dicontokan oleh para nabi dan rasul.

Firman Allah Swt. dalam Al Quran surat Adz-zariyat, ayat: 56, mengabarkan kepada kita akan arti dari hakekat penciptaan. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

Ibadah, dalam hal ini tak akan pernah terealisasikan secara sempurna, tanpa diawali dengan kesadaran yang dalam (‘ala al-bashirah). Dalam Tafsir al-Baidhowi dituliskan, makna ‘ala al-bashirah berarti; melakukan sesuatu hal dengan penuh kesadaran, memiliki argument yang kuat serta dapat dipertanggungjawabkan.

Dan kesadaran dalam beribadah seperti ini tak akan bisa terpupuk dengan baik, tanpa mengikuti risalah yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. dan para nabi lainnya. Sehingga dalam beribadah, sholat misalnya, bukan lagi menjadi sebuah rutinitas belaka, tapi menjadi sebuah kebutuhan yang dilakukan dengan penuh sadar, yang begitu dalam dipahami maknanya.

Apa yang dilakukan oleh nabi dan rasul selaku hamba Allah yang diutus di atas muka bumi ini, pada hakekatnya merupakan pengejawantahan dari ayat yang difirmankan Allah kepada para malaikat, yaitu ketika awal pertama kali Adam As. diciptakan, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". (QS. Al Baqarah: 30)
Dengan demikian, makna hakekat penciptaan manusia secara garis besar adalah berfungsi sebagai khalifah dan untuk beribadah kepada Allah Swt. Sebagaimana yang termaktub dalam dua ayat di atas tadi.

Imam Ar-Razi dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa maksud dari kata ibadah yang tertera dalam Surat Adz-Zariyat adalah, pertama; menaati perintah Allah Swt. dan yang kedua; berlaku kasih sayang terhadap sesama makhluk Allah Swt.

Dan “berdakwah” merupakan amalan ibadah yang menempati posisi puncak, sebagai bentuk aplikasi dari dua definisi ibadah yang disampaikan oleh Imam Ar-razi dalam tafsirnya tadi. Hal ini dikarenakan, pertama; berdakwah memiliki makna menyeru manusia menuju Allah. Tugas yang sama seperti yang diemban oleh para nabi dan rasul. Dalam Surat Al Fushilat ayat 33, Allah Swt. telah berfirman, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?"

Kedua, di dalam berdakwah pula, tercermin rasa kasih sayang antar sesama makhluk ciptaan Allah. Hal ini bener adanya, karena seorang da’I, melihat obyek dakwah (mad’u) dengan penuh harapan, dapat menjadikan dirinya wasilah hidayah menyelamatkan mad’u-nya dari kesia-siaan dalam menjalani hidup. Sang da’i kemudian mendekatinya, dan terus berusaha memberikan arahan, memberikannya pengajaran akan hakekat dari sebuah kehidupan.

Seseorang yang terkukung dalam system hidup duniawi misalnya, yang hari-harinya disibukkan untuk mengejar materi belaka. Berkat sentuhan seorang da’i, cara pandangnya terhadap dunia kemudian bisa berubah, obsesinya berganti bukan lagi materi, namun bagaimana kini ia bisa beramal sebanyak-banyaknya agar bisa menjadi bekal hidupnya di akhirat kelak.

Para nabi dan rasul, telah memberikan kita teladan selama dalam perjuangan mereka mengemban risalah mulia ini, mereka berdakwah siang dan malam, demi mengajak umat manusia menuju Allah, sekalipun cacian dan makian serta intimidasi tak henti-hentinya mereka dapatkan.

Al Quran sangat banyak menceritakan kisah perjuangan para nabi dan rasul, yang tetap tegar berdakwah di tengah kaumnya yang zalim. Namun demikan, Allah selalu memenangkan mereka dan menyelamatkan para utusan-Nya dari kejahatan kaumnya yang durhaka.

Seperti dalam kisah Nabi Nuh As. dengan kaumnya, “Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.” (QS. Yunus: 73)

Kisah nabi Hud as. dan kaumnya, “Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami; dan Kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari 'azab yang berat.” (QS. Huud: 58)

Dan kisah nabi Shaleh dengan kaumnya, “Maka tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Saleh beserta orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami dan (Kami selamatkan) dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Huud: 66)

Serta kisah nabi Luth As. dengan kaumnya “Para utusan (malaikat) berkata: "Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang di antara kamu yang tertinggal, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat? Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Lut itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.". (QS. Huud: 81-82)

Dan masih banyak kisah anbiya’ dan rasul lainnya, yang pada intinya menguatkan pernyataan, bahwa kemenangan selalu berpihak kepada para da’i yang menyeru kepada Allah swt. Dalam Al Quran surat Yunus, ayat 103 Allah Swt. telah berfirman, “ Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban atas Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” Imam Ar-razi kemudian menafsirkan ayat ini dengan mengatakan, bahwa keselamatan atas Rasul dan orang yang beriman, merupakan kebenaran yang telah dijanjikan oleh Allah Swt.

Sayyid Quthub dalam tafir Fi Zilalil Qur’an-nya menuliskan, “Hal ini merupakan sunatullah yang terjadi di atas muka bumi, dan ini merupakan janji Allah kepada para wali-nya. Apabila jalan juang ini terasa panjang, maka sadarilah, bahwa inilah sebenar-benarnya jalan juang itu. Dan jangan tanya lagi berapa besarnya ganjaran yang dijanjikan untuk orang beriman. Dan janganlah ia terburu-buru untuk mendapatkannya, karena jalan juang masih harus ia rentasi. Allah tidak akan pernah mengkhianati janji untuk para wali-nya, dan tidak akan melemahkan bantuan terhadapnya, dan Ia tidak pula akan membiarkan para wali-nya dikalahakan oleh para musuh-Nya. Namun Allah justru akan memberikannya sebuah pengajaran, melatih dan menambah ujian bagi para wali-Nya, dengan memanjangkan jalan dakwah yang harus ia tapaki.”

Umat nabi Muhammad Saw. adalah umat paling istimewa diantara umat yang lain. Banyak ayat yang menceritakan, bagaimana umat terdahulu yang membangkang, langsung mendapatkan azab pada saat itu juga, hingga tak tersisa lagi dari jiwa dan raga mereka, bahkan dilenyapkan hingga satu generasi. Sebagaimana yang termaktub dalam kisah para nabi dan Rasul ketika menghadapi sikap keras kaumnya.

Namun demikian, berbeda hal nya dengan umat nabi Muhammad Saw., para kafir Quraisy tidak serta merta diazab atas sikap penentangannya terhadap risalah kenabian. Namun semua itu ditangguhkan hingga waktunya. Hal serupa yang kita rasakan sekarang. Tatkala penekanan terhadap umat Islam terjadi dimana-mana, pelecehan dan intimidasi karena akidah merebak di berbagai belahan dunia, namun azab untuk mereka musuh-musuh Allah tak kunjung datang. Pertanyaannya adalah mengapa? Jawabannya, hal itu dikarenakan satu hal, yaitu masih bekerjanya para da’I hingga detik ini dalam menyebarkan risalah Islam, sehingga azab yang ditimpakan kepada kaum pembangkang dahulu itu pun kini ditangguhkan.

Kemulian berdakwah inilah sesungguhnya yang Allah berikan kepada kita, selaku umat nabi Muhammad Saw. Para da’i  bahkan menjadi tolak ukur, hingga detik kapan bumi ini hancur dan kiamat terjadi. Dikarenakan sangkakala kiamat tak akan ditiupkan, hingga tak ada satu makhluk pun di atas muka bumi ini yang menyebut-nyebut asma Allah Swt.

Beberapa hadis yang menyebutkan tanda-tanda terjadinya hari kiamat mengabarkan, Rasulullah Saw. bersabda: “Tidak akan terjadi kiamat kecuali kepada manusia durjana (yang paling jahat)” (HR. Muslim)

Dalam hadis lainnya, Rasulullah Saw. bersabda: “Tidaklah akan datang hari kiamat selama masih ada yang mengucapkan Allah.., Allah...” Dalam riwayat yang lain, “sampai tidak terucap lagi kalimah Allah.., Allah...” (HR. Muslim)

Dalil hadis di atas mengisyaratkan, bahwa kiamat terjadi ketika tak ada lagi yang menyeru kepada Allah, dalam artian, tak ada lagi dakwah dan para pengembannya. Oleh karena itu keberadaan seorang da’i sangatlah penting. Keeksistensiannya menentukan akhir dari perjalanan panjang usia bumi.

Disamping itu, ganjaran yang dijanjikan juga sangatlah besar. Karena ia merupakan pelanjut estafet dari apa yang dilakukan oleh para nabi dan rasul. Mereka selalu berada dalam lindungan Allah, mereka pula yang dijanjikan keselamatan baik di dunia mau pun di akhirat; pada hari tak adalagi naungan, melainkan naungan dari-Nya. Dan itu hanya diberikan kepada hamba-hamba pilihan, yang menjalankan sunnah dari hakekat penciptaan dirinya, yaitu menjadi khalifah dan beribadah di setiap sisi masa hidupnya di dunia kepada Allah Swt..  

Wallahu a’lam bishawab

Oleh: Abu Maryam, Lc. 

- Disarikan dari kitab “Qawaidu ad-da’wah ilallah” karya Dr. Hamam Abdurrahim Sa’id, cetakan Dârul wafa’, Manshurah, Mesir.
Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......