Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==
Tampilkan postingan dengan label Manhaj. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manhaj. Tampilkan semua postingan

Siyasatud Da’wah

hilmi-aminuddin
Ust. Hilmi Aminudin
Bila kita berkecimpung dalam dunia dakwah, maka memahami siyasatud da’wah merupakan tuntutan yang tak dapat dihindarkan. Banyak da’i yang aktif dalam dakwah tetapi sama sekali tidak memahami siyasatud da’wah. Ia bak pita rekaman yang diputar disana sini berjalan tanpa program dan perencanaan. Da’i seperti ini biasanya hanya menjadi bulan-bulanan orang-orang yang punya program, terutama dari kalangan musuh Islam.

Siyasatud da’wah sangat erat kaitannya dengan minhaj da’wah sebagaimana siasatusy-syar’i erat hubungannya dengan minhajusy-syar’i, karenanya dalam suatu gerakan dakwah yang berjalan tanpa minhaj, mustahil ditemukan siyasatud da’wah ini. Hanya para du’at yang berkecimpung dalam jihad minhaji saja yang bisa memahami siyasatud da’wah.

Mendengarkan kata “siyasah” orang mungkin berfikir ini merupakan ilmu politik, sebenarnya tidak demikian. Siasat disini lebih merujuk pada aktifitas politik praktis dakwah dan bukan pada ilmu politik. Islam memiliki pola politik sendiri yang khas dan berlaku pada suatu masyarakat Islam. Siasat dakwah mencakup aktivitas dakwah yang dilakukan oleh praktisi dakwah. Dia menjadi kegiatan utama bagi para personil struktural dan fungsional dakwah. Dengan demikian ruang lingkup siyasatud da’wah adalah “pengendalian da’wah dan problematika-prolematika da’wah”.

Kefahaman terhadap siyasatud da’wah sangat bermanfaat untuk menyusun program dan perencanaan baik bagi individu da’i maupun jama’ah harakah Islam. Dengan kefahaman ini, aktifitas internal maupun eksternal suatu jama’ah akan terarah dan terkontrol. Sasaran utama siyasatud da’wah adalah terbentuknya isti’ab jama’i (kemampuan beramal jama’i) yang tinggi, peningkatan amal jama’i secara kualitas maupun kuantitas sangat berguna untuk menertibkan maratib tanzhim da’wah (stelsel struktural) yang solid dan kuat.

Pengertian Siyasatud Da’wah

Kata siasat sebenarnya sudah cukup mengakar dalam bahasa Indonesia. Dalam kamus bahasa arab berasal dari kata “sasa-yasusu-siyasatan”, artinya “mengendalikan” arti siyasah adalah pengendalian. Sais dalam bahasa kita berarti kusir delman, pekerjaannya mengendalikan kuda. Kata siyasah juga telah biasa diartikan dalam bahasa indonesia sebagai politik. Agar tidak mengurangi makna, dalam pengkajian ini biarlah kita sebut siasat saja.

Dakwah sebagaimana kita kenal adalah upaya mengajak manusia kejalan Allah, dilakukan dengan hikmah dan bijaksana. Sehingga mereka (manusia yang di dakwahi) itu keluar dari kejahiliyahan menuju cahaya Islam. Maka siyasatud da’wah adalah “Suatu upaya optimal mendayagunakan semua sumber potensi dakwah atas dasar prinsip-prinsip yang jelas untuk mencapai tujuan tinggi dengan merealisir sasaran-sasaran yang telah ditentukan.”

Siyasatud dakwah merupakan istighlalul amtsal yaitu usaha yang sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin, baik kualitas maupun kuantitas, untuk mengarahkan semua sumber daya dakwah yang dimiliki gerakan Islam. Bukan hanya yang berbentuk materi, tetapi seluruh yang ada dalam ruang lingkup dakwah. Dalam hal ini termasuk situasi kondisi, pribadi -pribadi , serta lembaga – lembaga baik yang dimiliki umat Islam maupun musuh-musuhnya. Setiap du’at harus pandai melakukan intifa (pemanfaatan) potensi, baik yang ada pada umat Islam maupun lawan-lawan Islam dalam perjuangan dakwah Rasulullah SAW juga melakukan beberapa pemanfaatan ini, sebagai contoh:
  1. Tatkala Rasulullah berada di Mekkah paman beliau yang disegani masyarakat Quraisy selalu membela. padahal Abu Thalib masih kufur. Perlindungan Abu Thalib tidak diminta oleh Rasulullah, tetapi di pergunakan sebesar-besarnya untuk Islam.
  2. Tatkala Rasulullah hijrah bersama Abubakar, beliau dikejar-kejar oleh Saraqah bin Malik yang mengharapkan hadiah besar dari para penguasa Quraisy untuk membunuh Nabi, berulangkali kuda Suraqah berhasil berada di belakang unta Nabi tetapi setiap akan mendekat selalu kuda itu jatuh berlutut, akhirnya Suraqah menyerah. Ia sangat takut pada Nabi dan Abu Bakar, karena takutnya, ia malah minta surat jaminan perlindungan pada nabi agar tidak dibunuh, Nabi bersedia asalkan Suraqah bersedia balik ke Makkah kembali dan mengatakan pada para pengejar yang lain bahwa Nabi dan Abu Bakar tidak berada di jalan itu. Maka pulanglah Suraqah dengan membawa pesan Nabi itu.
Dua peristiwa itu menunjukan upaya Nabi memanfaatkan orang-orang kafir. Berdasarkan pola Nabi SAW diatas, harus diingat beberapa unsur :
  1. Pemanfaatan itu untuk maju dan berkembangnya dakwah bukan untuk kepentingan priibadi.
  2. Pemanfaatan tersebut tidak dengan menjual kebenaran kepada orang-orang kafir tersebut. Harga dakwah harus tetap tinggi tidak boleh rendah.
  3. Memberikan jaminan atau perlindungan bagi kafir-pun boleh asalkan diminta dengan imbalan selamatnya dakwah dan penggerakan Islam.
  4. Tidak mengandalkan dan mengkalkulasikan pertolongan Allah yang menyalahi sunatullah yang berlaku. Seperri jatuhnya kuda Suraqah merupakan pertolongan Allah yang ghaib. Ini tidak boleh di perhitungkan sebagai suatu andalan kekuatan. Dengan demikian, nyatalah siyasatud dakwah harus berdiri sendiri di atas prinsip yang jelas dalam arti tidak melanggar aqidah, fikrah, minhaj, dan akhlak Islam.
Hubungan Siyasatud Da’wah Dengan Mabadi Islamiyah

Adanya siasat tidak berarti kita boleh melarutkan diri dalam kancah politik tanpa disiplin harakah. Sesungguhnya dienul Islam tidak bisa melepaskan diri dari prinsip-prinsip dasar (mabadi) yang menjadi tonggaknya. Bila ada upaya melepas dien, berarti telah melakukan kekeliruan yang fatal. Adanya banyak da’i yang larut dalam kancah jahiliyah dengan alasan siyasatud da’wah. Mereka berupaya untuk meng-Islamisasi struktur, namun ternyata jatuh dilembah kenistaan, menjual ayat-ayat Allah dengan harga dunia yang murah dan sedikit. Ini tidak lain karena da’i tersebut tidak memiliki kekokohan mabadi al-Islamiyah.

Seorang da’i harus bebas dari vested interest dan motivasi-motivasi diluar mardhatillah. Islam selalu memotivasi ummatnya untuk menjadikan ridha Allah sebagai tujuan hidupnya. Siyasatud da’wah-pun tidak boleh lepas dari tujuan li’illaa’i kalimatillah, untuk mengangkat/meninggikan kalimat Allah.
Dalam mendefinisikan fi sabilillah Rasulullah bersabda:

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِىَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ

“Barang siapa berperang agar kalimat Allah tetap tinggi itulah yang fi sabilillah” – HR Bukhari-Muslim.

Dalam siyasatud da’wah, tujuan merupakan faktor yang sangat esensial. Mardhatillah adalah satu-satunya tujuan tiada perubahan dan pergantian. Bila tujuan ini menyimpang, maka semua perencanaan tiada artinya. Untuk mencapai tujuan yang mulia itu, ditentukanlah sasaran-sasaran yang berdasarkan ijtihad amal jama’i. Langkah-langkah yang digariskan disini berarti fleksibel, dapat berubah sesuai kebutuhan. Sasaran-sasaran siyasatud da’wah merupakan sarana mencapai tujuan (ghoyah). sumber

*Inspirasi Rabbani
Lengkapnya Klik DISINI

Sur’atul Istijabah (Respon Kilat Terhadap Panggilan Dakwah)

“ Wahai orang-orang yang beriman ! Penuhilah seruan Allah dan Rasul Nya, apabila dia menyeru kepadamu sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu. Dan ketahuilah sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada Nyalah kamu akan dikumpulkan. Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksanya.’(Qs. Al-Anfal:24-25)
***
Seorang al-akh pernah datang kerumah. Ia bercerita kepada saya dengan gurat wajah yang tanpak gelisah. Banyak hal yang ia ceritakan di sana. Salah satu di antaranya adalah tentang dakwah dan para pelakunya. Atau yang lebih popular kita sebut dengan aktivis dakwah.
“Akhi, ana sedih melihat kondisi saat ini.” tuturnya memulai cerita.” Tatsqif sore ini kok minim sekali pesertanya ya? Kemana ikhwah yang lain?” lanjutnya dengan nada bertanya.
“Mungkin mereka belum dapat taklimat akhi. Sehingga mereka gak tahu ada tatsqif hari ini.”
“Iyya akh, mungkin begitu. Tapi apakah harus menunggu taklimat dulu baru datang ngaji?” katanya.” Tidak cukupkah dengan pengumuman yang di sampaikan oleh panitia, di setiap akhir acara, bahwa setiap dua pekan sekali ada kajian di sini. Di tempat ini. di masjid ini?” Protesnya lagi
“Ana heran saja sih. Ternyata sur’atul Istijabah aktivis dakwah hari ini, ana lihat mulai kendor. Respon mereka  dengan kegiatan-kegiatan seperti ini perlahan melemah. Seharusnya kita, yang manyebut diri aktivis dakwah, memiliki respon yang cepat dengan segala seruan-seruan dakwah. Bukan mencari-cari alasan pembenaran untuk menjustifikasi kemalasan kita.”
“Menurut antum, dimana akar permasalahan yang sebenarnya?” tanya saya menyelidiki.
“Ana gak tahu persis dimana letak persoalannya. Yang jelas menurut ana, ta’shil ilminya yang kurang. Semangat untuk menuntut ilmunya yang payah. Sehingga semangat yang dulunya berkobar dan menyala-nyala, perlahan mulai padam. Dan kini hanya tinggal kenangan. Aktivis dakwah itu harus punya iltizam yang kuat dengan ilmu akhi. Bicaranya ilmu. Tindakannya berlandaskan ilmu, semangatnya pun juga begitu. Karena dengan ilmu inilah kita bisa me ri’ayah semangat kita. Bukan dengan yang lainnya. Ini menurut ana sekali lagi yang perlahan mulai di tinggalkan. Semangat mengaji, menambah kafaah syar’I, untuk menjaga semangat yang kita miliki.”
Apa yang di katakan akh kita ini, benar juga fikirku. Semangat menuntut ilmunya yang kurang. Padahal amanah yang dipikul tidak lah pernah berkurang. Amanah akan terus bertambah, seiring dengan ekspansi dakwah yang mulai merambah ke berbagai wilayah dan tentu dengan dinamikanya yang berbeda-beda. Di butuhkan pundak-pundak kekar dan dada-dada yang di penuhi dengan ilmu dan pemahaman, agar ia tetap tegak dengan mengibarkan bendera perjuangan. Demikian, potongan diskusi saya dengan salah seorang akh sore itu, selepas pulang dari menghadiri kajian di Masjid Raya at-Taqwa mataram.
***
Apa yang dimaksud dengan sur’atul istijabah? Biarlah Asy-Syahid Sayyid Quthb rahimahullah menjelaskannya,
“ Sur’atul istijabah adalah tindakan pemenuhan fitrah yang bersih untuk memenuhi seruan da’wah yang haq dan lurus. Di sana ada kejujuran, kelapangan, kekuatan semangat, pengetahuan yang benar dan sambutan akan cetusan qalbu yang hebat atas kebenaran yang nyata.”
Tentang sur’atul Istijabah ini, imam asy-Syahid Hasan Al-banna menggambarkan,“ Dapat kugambarkan profil mujahid sejati dalam diri seseorang yang siap mengambil bekal dan memenuhi perlengkapannya. Seluruh dirinya (seluruh sudut jiwa dan hatinya) didominasi pemikiran seputar perjuangan. Ia dalam pemikiran yang selalu, perhatian yang besar dan kesiapan yang senantiasa.”
Beliau juga mengatakan,”Keimanan mujahid yang terjewantah dalam kesigapannya melaksanakan kebaikan, tugas dan kewajibannya adalah refleksi dari jiwa yang bertanggung jawab yang akan mampu menghindari penyesalan, kerugian dan penderitaan. Ia pun bersegera menuntut ihsan dan itqonul ‘amal sehingga membuahkan natijah yang kongkret.”
Bersemangat, bertanggung jawab, responsif, bersiap siaga, dan bersegera memenuhinya. Mungkin itulah yang dapat kita simpulkan dari paparan dua tokoh dakwah ini. Tokoh dakwah yang telah menjual nyawa satu-satunya kepada dakwah, di jalan dakwah dan untuk Allah Swt. Kata-katanya layak di dengar. Pendapatnya patut untuk di renungkan serta perjalan dakwahnya sungguh bertebaran hikmah untuk kita ambil pelajaran.
Jauh sebelum mereka berdua, Abu Dujana r.a telah mencatatkan dirinya sebagai Ruhul Istijabah, jiwa-jiwa yang merespon panggilan dakwah dengan segera. Jiwa-jiwa yang memenuhi panggilan Jihad, kemudian menjualnya dengan kemewahan surga. “Wahai Rasulullah, apa yang akan aku dapatkan dari jihad bersamamu? Tanyanya suatu ketika. Rasulullah menjawab ,” Syurga”. Lalu seketika ia pun merespon : “ Kalau begitu aku akan berperang sampai aku syahid dengan luka di sini.“ Kata Abu Dujana sambil menunjuk ke lehernya. Rasulullah kemudian mengapresiasi semangatnya itu dan berkata,“ Engkau akan mendapatinya, karena engkau jujur kepada Allah.”
Tak lama kemudian, berkumandanglah panggilan jihad. Rasulullah memerintahkan para sahabatnya untuk segera berangkat ke Uhud. Dan berangkatlah abu Dujana dengan semangat yang menyala-nyala. Dengan segera ia merangsek ke dalam barisan Uhud dan mengatakan, “Sesungguhnya aku mencium wanginya syurga di balik Uhud !” Dan benar, ketika para syuhada Uhud dimakamkan, para sahabat mendapati tubuh Abu Dujana penuh dengan 70 luka pedang, dan luka panah persis seperti yang dia tunjukkan. Allahu akbar!
Respon yang luar biasa dari kisah para sahabat dalam perang Khaibar juga sudah kita pelajari. Perang yang paling lama dan melelahkan. Dipuncak kelelahan, ketika pasukan Muslim berhasil menguasai benteng Ash Sha’b bin Mu’adz, benteng yang paling kaya dengan sumber makanan dan senjata. Di sana mereka telah memasak seekor himar untuk mengisi perut mereka yang digerogoti rasa lapar. Di saat masakan telah siap disajikan, tiba-tiba turun wahyu tentang pengharaman himar. Apa yang terjadi kemudian?
Seketika kuali yang berisi harum daging himar dibalik dan tumpahlah isinya. Tak ada permohonan toleransi atau pembantahan. Nyaris diluar ketaatan kita yang didominasi logika. Mungkin jika kita menjadi meraka akan mengatakan,”Mengapa wahyu itu tidak turun sebelumnya? Tentunya tak akan membuat kecewa perut yang telah keroncongan berhari-hari itu.” Itulah ketaatan dan kecintaan mereka kepada Allah dan Rasul Nya. Yang menembus batas-batas logika.
Dalam era kontemporer seperti saat ini, sur’atul istijabah itu seakan menguap. Bisa dilihat dari jumlah peminat tatsqif kader, kajian ilmiah mahasiswa, bedah buku, atau aksi turu ke jalan. Seharusnya layar HP mendadak buram ketika mendapat jawaban sms, “ afwan ana tidak bisa hadir, ada kuliah…ada urusan ke sini….ada bla…bla…bla…..
Entahlah, berbicara hajat, urusan, kepentingan, semua kita, bahkan para nabi dan para sahabat punya banyak kepentingan. Namun, Allah dan Rasul Nya lebih utama. Kiranya cukuplah kisah Ka’ab bin Malik menjadi teguran dan pelajaran untuk kita semua yang mengaku aktivis dakwah.
Lantas apa sebenarnya yang melunturkan kekuatan sur’atul istijabah itu ? Seharusnya, introspeksi jiwa menjadi kebiasaan, hingga kita dapat mengevaluasi beberapa hal :

1. Keimanan. 

 
Keimanan yang dalam sangat mempengaruhi kekuatan sur’ah. Ia akan melahirkan sensitifitas hati para jundi dakwah dalam memenuhi seruannya. Bila mana kekuatan iman itu melekat di dalam hatinya, maka seperti itu pula kekuatan responnya terhadap panggilan dakwah. Tabiat iman itu sendiri fluktuatif, suatu saat bertambah dan di saat yang lainnya bisa berkurang. Bertambahnya dengan ketaatan, berkurangnya dengan kemaksiatan. Semua tergantung dengan kondisi amaliyah kita sehari-hari. Untuk itu cara kita me ri’ayah sur’ah itu adalah dengan melakukan amaliyah dakwah yang berkesinambungan. Amaliyah yang berkesinambungan akan melahirkan keimanan yang kuat dan bertambah kuat, sehingga setiap junudud dakwah akan memilki ruhul istijabah yang kuat pula.

2. Ilmu dan Pemahaman



Pengetahuan dan pemahaman yang benar dan mendalam terhadap wahyu (Alqur’an) adalah kunci kedua setelah keimanan. Ia (ilmu dan fahm) adalah rukun pertama sebelum menghidupkan ikhlas untuk menegakkan sebuah amal. Tak ada amal tanpa keikhlasan dan tak ada keikhlasan tanpa pemahaman. Seorang da’i tidak mungkin dapat mendistribusikan nilai-nilai Islam kepada orang lain, jika ia sendiri tidak memahaminya. Selama seseorang tidak memahami prinsip yang diyakininya, ia tidak akan bisa berinteraksi dengan prinsip tersebut dan ruh yang terkandung di dalamnya.
Dua hal ini, yang Allah perintahkan kepada Rasulullah Saw. untuk selalu di panjatkan dalam doanya,”Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu dan berilah aku kefahaman.” Olehkarenanya, Beliau Saw. selalu mendorong para sahabat untuk memberikan pemahaman kepada orang-orang yang baru masuk Islam. Beliau mengatakan kepada mereka : “ Berilah pemahaman pada saudaramu dalam urusan agama ini. Bacakan dan ajarkanlah Alqur’an kepadanya.” ( Hadist riwayat Ath Thabarani).
3. Tajdid An-niyyah


Ketahuilah, dalam jasad ini ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh amalan kita. Jika ia nya rusak, maka rusak pulalah seluruh amalan kita. Itulah hati. Ia harus di jaga, agar tetap sehat seperti sedianya. Di dalam hati, bersemai padanya niat. Niat yang akan menentukan, apakah amalan kita diterima ataukah sebaliknya. Niat juga sangat mempengaruhi sur’ah yang akan menggerakkan jiwa dan raga seorang da’i untuk memenuhi panggilan dakwah.
Hendaknya niat ini harus terus menerus ditajdid, untuk memastikan apakah orientasinya tetap condong kepada dakwah ataukah dunia yang fana ini? Barang siapa yang berdakwah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dakwahnya untuk Allah dan rasul-Nya. Barang siapa yang berdakwah, karena dunia yang ingin dikuasainya atau wanita yang ingin di nikahinya, maka dakwahnya akan berbuah sesuai dengan niatnya. Ia akan mendapatkan apa yang di cari, tidak lebih dan tidak pula dikurangi.
Oleh karenanya Ibnul qoyyim al-jauziyah rahimahullah pernah berkata,”cinta akan lenyap dengan lenyapnya sebab.” Ya, kecintaan kita terhadap dakwah ini akan lenyap sesuai dengan motivasi awal kita bergabung di dalamnya. Jika orientasi kita hanya karena jabatan, atau kekuasaan, atau harta benda, atau yang lainnya, maka sebatas itulah umur cinta kita terhadap dakwah ini. Namun, jika motivasi kita hanya semata-mata karena Allah, maka ketahuilah Allah itu kekal. Allah itu abadi tak akan pernah berakhir sehingga Allah memenangkan dakwah ini atau kita syahid di jalannya. Untuk itu, tajdidunniyah adalah niscaya adanya.
4. Perbanyaklah Zikir dan Istighfar.
Barangkali kita tak menyadari, setitik noda maksiat telah mewarnai hati kita. Barangkali kita tak menyadari, ada kata-kata busuk yang keluar dari lisan kita. Atau barangkali ada sangka buruk yang terus menerus kita pelihara. Titik noda itu kemudian kian menjalar menutupi sebagian hati kita, atau bahkan menutupi seluruhnya. hingga cahayanya tak mampu lagi membedakan antara kebenaran dan kebathilan. Hati kita kemudian sakit. Lalu kemudian sekarat. Lalu kemudian mati. Jika sudah demikan, masih adakah sur’atul istijabah menyertainya?
Hati yang sakit, tidaklah mungkin menjawab panggilan dakwah dengan segera. Apatah lagi bagi hati yang sudah mati. Hanya hati yang sehat wal afiatlah yang akan merespon dakwah dengan segera. Hanya hati yang hiduplah yang sanggup memikul beban dakwah di pundaknya. Sebelum ia terjangkiti penyakit yang akut dan mejadikannya benar-benar mati, maka tak ada cara lain untuk mengobatinya. Obatilah ia dengan beristighfar. Hidupkanlah ia dengan zikir. Karena hati yang berzikir adalah hati yang hidup, sebaliknya hati yang tak pernah berzikir adalah hati yang mati.
Rasulullah Saw. bersabda,”Perumpamaan hati yang berzikir kepada Allah dan yang tidak berzikir kepada Allah, ibarat hati yang hidup dan hati yang benar-benar mati.”
Aktifkan kembali hati kita dengan berzikir. Bersihkanlah hati kita dengan beristighfar. Sibukkan diri kita dengan tilawah Al-Qur’an, zikir ma’tsurat, dan amaliyah yaumiyah  lainnya,”Penuhilah seruan Allah dan Rasul Nya, apabila dia menyeru kepadamu sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu. Dan ketahuilah sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada Nyalah kamu akan dikumpulkan. Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksanya.’ (Qs. Al-Anfal:24-25).
“ Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabbmu, dan mendapatkan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang bertaqwa.” (Q.S Ali Imron : 133)
Wallahu a’lam.
Fakir Ila Allah
(Syamsul Bahri)
Staf Humas DPD PKS Kota Mataram
 
sumber: http://www.islamedia.web.id/2012/09/suratul-istijabah-respon-kilat-terhadap.html
 
Lengkapnya Klik DISINI

10 Bekal di Perjalanan

Dakwah Islamiyah adalah harakatu ishlah wa taghyir (gerakan perbaikan dan perubahan). Perbaikan dan perubahan dari jahiliyah kepada Islam; dari syirik kepada tauhid; dari penyembahan makhluk kepada penyembahan Khaliq; dari orientasi dunia kepada orientasi akhirat; dari kezaliman tirani  kepada keadilan Islam; dari hukum nenek moyang buatan manusia kepada syariat Allah; dan dari perilaku tercela kepada perilaku terpuji.

Dengan begitu dakwah islamiyah juga merupakan gerakan iqomatuddin (penegakkan agama). Sebuah proses menyeluruh yang mengupayakan terjadinya peralihan struktur ideologi, budaya dan kekuasaan dalam sebuah masyarakat.

“…supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah” (QS. Al-Anfal, 8: 39)
Tentu saja hal ini bukan perkara mudah. Karena demikian banyak waktu dan tenaga yang akan terkuras. Demikian panjang dan terjal jalan yang harus dilalui. Oleh karena itu para pengemban dakwah wajib menyiapkan bekal yang cukup di perjalanan.

Ilmu dan Pemahaman

Bekal utama para pengemban dakwah adalah ilmu dan pemahaman. Muhammad Abdullah Al-Khatib dan Muhammad Abdul Halim Hamid dalam Nazharat fi risalatut ta’lim menyatakan, “Pemahaman yang benar dapat membantu mewujudkan amal yang benar, penerapannya yang tepat, dan dapat memelihara pemiliknya dari ketergelinciran.”

Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata: “Barangsiapa yang beramal tanpa didasari ilmu, maka unsur  merusaknya lebih banyak daripada mashlahatnya.”

Orang ikhlas yang beramal, tetapi tidak memiliki pemahaman yang benar dan tidak mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya, dapat tersesat jauh dari jalan kebenaran.

Keikhlasan

Selain ilmu dan pemahaman, bekal lain yang harus disiapkan para pengemban dakwah adalah keikhlasan. Sehingga amalnya tidak tercampuri oleh keinginan-keinginan jiwa yang bersifat sementara, seperti menginginkan keuntungan materi, kedudukan, harta, ketenaran, tempat di hati manusia, pujian dari mereka, menghindari cercaan mereka, mengikuti bisikan nafsu, atau ambisi-ambisi lainnya yang dapat dipadukan dalam satu kalimat, yaitu melakukan amal untuk selain Allah, apa pun bentuknya.

Para pengemban dakwah hendaknya mengorientasikan perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya kepada Allah dan mengharap keridhaan-Nya, tanpa memperhatikan keuntungan materi, prestise, pangkat maupun gelar. Dengan begitu ia menjadi ‘tentara aqidah’, bukan tentara kepentingan yang hanya mencari kemanfaatan dunia.

Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)(QS. Al-An’am, 6: 162-163)

Stamina Amal

Peradaban Islam mustahil terwujud dengan amal tak beraturan, sporadis, reaksioner, temporer dan tambal sulam. Apalagi sekedar menebar slogan mentereng dan propaganda kosong. Oleh karena itu, para pengemban dakwah wajib membekali diri mereka dengan stamina amal yang kuat. Karena mereka akan melakukan amal secara berkesinambungan, tanpa lelah dan tanpa bosan. Ingatlah, sungguh tiada tempat sedikitpun bagi orang-orang yang malas dan berpangku tangan dalam barisan dakwah.

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan (QS. At-Taubah, 9: 105)

Ruhul Jihad

Tanpa jihad, dakwah tidak akan pernah hidup. Urutan jihad yang pertama yang dituntut dari para pengemban dakwah adalah pengingkaran hati terhadap kemaksiatan pada Allah, dan puncaknya adalah berperang di jalan Allah ta’ala. Diantara keduanya ada jihad dengan lisan, pena, tangan, dan kata-kata yang benar di hadapan penguasa yang zalim.

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. (QS. Al-Hajj, 22: 78)
Ibnu Abbas ra berkata tentang pengertian jihad,

“Jihad adalah menguras potensi dalam membela agama Allah, dan tidak takut cercaan orang yang mencerca dalam melaksanakan agama Allah.”

Muqatil berkata,
Makna jihad adalah “Bekerjalah untuk Allah dengan sebenar-benar kerja, dan beribadahlah dengan sebenar-benar ibadah.”

Ibnul Mubarak berkata,
“Jihad adalah mujahadah terhadap jiwa dan hawa nafsu.”

DR. Sa’id Ramadhan Al-Buthi berkata,
“Jihad adalah mencurahkan potensi dalam rangka meninggikan kalimat Allah, dan membentuk masyarakat muslim. Sedangkan mencurahkan tenaga dengan melakukan perang adalah salah satu jenis dari jihad. Tujuan jihad adalah membentuk masyarakat yang islami, dan membentuk Negara Islam yang benar.”

Tadhiyah

At-Tadhiyah adalah mengorbankan jiwa, harta, waktu, kehidupan, dan segala-galanya demi mencapai tujuan.

Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. (QS. At-Taubah, 9: 111)
Marilah kita teladani Abu Bakar yang rela mengorbankan seluruh hartanya pada masa peperangan Tabuk. Begitu pula Shuhaib Ar-Rumi rela melepas apa yang dimiliki ke tangan kaum musyrikin untuk membela agama Allah hijrah dari Makkah ke Madinah.

Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya Karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.(QS. Al-baqarah, 2: 207)

Taat pada Qiyadah

Amal harakah islamiyah adalah amal jama’i. Ada jundi (prajurit) dan ada qiyadah (komandan). Keduanya terikat dalam perjuangan dilandasi kesamaan visi, misi, dan program. Sikap taat—karena Allah—kepada qiyadah adalah keharusan dalam sebuah amal jama’i.

Apa yang akan terjadi jika program dan tugas dakwah yang telah direncanakan diterima oleh telinga yang tidak mampu mendengar, semangat yang melempem, serta hati yang berkecenderungan untuk membantah dan sombong? Tentu saja proyek-proyek besar akan mandeg seketika, amal-amal mulia akan mengalami kelumpuhan dan terkubur tanpa ada seorang pun yang melayatnya.

Kita tentu tahu ibrah agung dalam peperangan Uhud, bagaimana Rasulullah saw memerintahkan para pemanah untuk tidak meninggalkan posisi mereka apa pun yang terjadi. Akan tetapi tatkala mereka melihat kemenangan seolah-olah telah berpihak pada kaum muslimin, mereka turun meninggalkan posisinya dan melanggar perintah Rasulullah saw. Akhirnya terjadi serangan balik dari musyrikin yang menyebabkan 70 orang muslimin syahid. Pelajaran ini menegaskan tentang wajibnya ketaatan.

Karena itu para pengemban dakwah harus senantiasa siap melaksanakan perintah qiyadah dan merealisir dengan segera, baik dalam keadaan sulit maupun mudah, saat bersemangat maupun malas.

Tsabat

Tsabat artinya teguh beramal sebagai mujahid dalam memperjuangkan tujuannya, betapa pun jauh jangkauan dan lama waktunya.

Seorang pengemban dakwah hendaknya tetap dalam keadaan seperti itu sampai bertemu Allah swt. Niscaya ia akan mendapatkan salah satu dari dua kebaikan, yaitu hidup mulia atau mati syahid.

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya), (QS. Al-Ahzab, 33: 23)

Tajarrud

Tajarrud artinya totalitas atau bersungguh-sungguh pada suatu urusan. Di antara tanda-tanda sikap tajarrud yang harus dimiliki para pengemban dakwah adalah:

Pertama, mampu mensikapi manusia atau segala sesuatu dengan timbangan dakwah. Apakah ia berhak mendapatkan loyalitas atau berhak mendapatkan permusuhan.

Sesungguhnya telah ada suri tauldan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka Berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. (QS. Al-Mumtahanah, 60: 4)

Kedua, tidak merasa berat mempersembahkan jiwa di jalan Allah ta’ala dan mengatur segala urusannya serta seluruh kehidupannya sejalan dengan hukum-hukum dan perintah-perintah Allah ta’ala.

Para pengemban dakwah harus mampu menegakkan al-haq di dalam jiwa, nurani, dan kehidupan mereka, dalam bentuk aqidah, akhlak, ibadah, dan perilaku sehari-hari. Hasan Hudhaibi berkata: “Wahai Ikhwan, tegakkanlah Islam di dalam hatimu, tentu ia akan tegak di bumimu.”

Menjaga Ukhuwah

Ukhuwah adalah kekuatan iman yang menumbuhkan perasaan simpati, emosi yang tulus, kecintaan, kasih sayang, penghargaan, penghormatan, dan saling percaya antar orang-orang yang terikat dengan akidah tauhid dan manhaj Islam. Ukhuwah dapat menumbuhkan sikap saling tolong menolong, saling mengutamakan orang lain, saling mengasihi, saling memaafkan, saling berlapang dada, saling menanggung, dan saling mengokohkan.
Tingkatan ukhuwah yang paling rendah adalah salamatush shadr (bersihnya hati dari buruk sangka) dan yang tertinggi adalah itsar (mengutamakan orang lain). Seandainya para pengemban dakwah mengalami penurunan dari tingkatan ukhuwah yang paling rendah—yaitu salamatush shadr—maka perpecahan akan muncul dan pertentangan akan semakin meluas. Kedua hal ini dapat mengantarkan jama’ah dakwah pada kekalahan dan kehancuran.

Taatlah kepada Allah dan rasul-Nya, janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar., (QS. Al-Anfal, 8: 46)

Tsiqah

Bekal terakhir yang harus disiapkan para pengemban dakwah adalah tsiqah, yakni rasa puasnya seorang prajurit atas komandannya dalam hal kemampuan dan keikhlasannya, dengan kepuasan mendalam yang menumbuhkan rasa cinta, penghargaan, penghormatan, dan ketaatan.

Para prajurit dakwah hendaknya selalu waspada dan berhati-hati terhadap musuh-musuh  yang selalu berupaya menimbulkan friksi internal demi memenangkan pertarungan melawan al-haq. Untuk itu para  pengemban dakwah harus menjaga dan memperkokoh tsiqah-nya pada pemimpin agar dakwah terus bergulir mencapai tujuannya.

Wallahu a’lam.

Maraji’: Konsep Pemikiran Gerakan Ikhwan, Muhammad Abdullah Al-Khatib & Muhammad Abdul halim Hamid.

http://islam-kucinta.blogspot.com/2010/08/10-bekal-di-perjalan.html
Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......