Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==
Tampilkan postingan dengan label Perlu Tau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perlu Tau. Tampilkan semua postingan

Tentang Periwayatan Al-Quran

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

Salah satu keistimewaan al-Quran adalah bahwa ia sampai ke tangan kita dengan riwayat yang mutawatir. Artinya, al-Quran ditransmisikan dari generasi ke generasi oleh orang dalam jumlah yang banyak dan mustahil terjadi kebohongan. Bahkan, sedemikian pentingnya periwayatan itu, apabila ada bacaan (atau pemahaman) yang secara logika terlihat lebih dekat pada kebenaran, bacaan atau pemahaman itu tetap wajib ditolak.

Contoh Pertama.

Dalam surah al-A’raf, Allah SWT berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.” (QS al-A’raf 40).
Mayoritas ulama qiraat membaca ayat tersebut sebagaimana kita dapati dalam mushaf yang sekarang ini kita miliki. Hanya saja, di kalangan mayoritas itu-pun, ada sedikit perbedaan ketika membaca kata “f-t-h”. Sebagian membaca dengan huruf ت sehingga terbaca, (تفتح) dan sebagian lain membaca dengan huruf ي sehingga terbaca (يفتح).
Dengan merujuk pendapat Ibn Ja’far, Imam At-Thabari dalam tafsirnya menyimpulkan, baik bacaan dengan huruf “ta” atau “ya” keduanya dapat dibenarkan, sebab memiliki riwayat yang shahih dan tidak mengubah makna. Apabila dibaca dengan menggunakan huruf “ت”, maka itu berarti “pintu-pintu langit tidak ada yang dibuka satu persatu”. Sementara jika dibaca dengan huruf “ي”, maka semua pintu langit tidak dibuka untuk ruh orang-orang kafir secara serentak.
Perbedaan kedua dalam hal qiraat adalah pada kata “j-m-l” (الجمل).  Mayoritas ahli qiraat membaca ayat tersebut sebagai “الجَمَل” yang berarti unta. Ketika ditanya, apa maksud kata الجمل di ayat itu, Ibn Mas’ud menjawab, هو زوج الناقة  “dia adalah pasangan unta perempuan”. Karena itu, terjemahan yang populer berbunyi, “hingga unta masuk ke lubang jarum”. Maksudnya adalah, bahwa orang kafir mustahil masuk surga sebagaimana mustahilnya unta masuk ke lubang jarum.
Sedangkan Ibnu Abbas membaca, “الجُمَل” yang berarti tambang yang besar (dadung) yang biasa digunakan untuk menarik kapal ke dermaga. Jadi, jika merujuk pada riwayat Ibn Abbas, ayat tersebut (dapat) diterjemahkan sebagai, “hingga tambang masuk ke lubang jarum”. Bacaan Ibn Abbas ini seakan lebih tepat sebab pasangan asli jarum adalah benang, maka membandingkannya dengan unta seakan berlebihan.
Karena itu pula, ketika membaca surah al-Mursaalat,
إِنَّهَا تَرْمِي بِشَرَرٍ كَالْقَصْر * كَأَنَّهُ جمَالَةٌ صُفْرٌ
Ibnu Abbas men-dhomah-kan hurf ج yang artinya, “sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana (*) seperti gulungan tambang yang berwarna kuning”.
Namun demikian, riwayat Ibn Abbas ini riwayat yang syadz (aneh), karena itu tidak diikuti oleh para ahli qiraat baik dari kelompok Kufah atau Madinah.
Contoh kedua:
Dalam surah al-Ghasyiyah, Allah SWT berfirman,
أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (17)وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ (18) وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ (19) وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ (20)
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan
Pada ayat ke-17 itu, ada yang membaca kata الابل dengan tasydid (berat). Akibatnya, maknanya menjadi berbeda, bukan lagi “unta” tetapi “gumpalan awan”. Sekilas, orang akan mengatakan bacaan dengan mentasydid lebih cocok sebab pada ayat berikutnya Allah menjelaskan tentang penciptaan langit, gunung, dan bumi, mengapa kok di awalnya “unta” bukan “awan”. Tetapi, sekali lagi, al-Quran ini sampai ke tangan kita dengan riwayat sehingga, mengutip Imam Al-Qurtubi, bacaan dan pemahaman tersebut tak dapat diterima.
Demikian semoga bermanfaat.

Sumber: cek disini

Lengkapnya Klik DISINI

KEAJAIBAN UMAT NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WASALLAM DALAM KITAB TAURAT

KEAJAIBAN UMAT NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WASALLAM DALAM KITAB TAURAT
Ketika Nabi Musa ‘alaihissalam bermunajat di Gunung Thursina untuk “bertemu” Allah subhaanahu wata’aala, Nabi Musa ‘alaihissalam mengajukan beberapa permintaan terkait isi dalam lauh-lauh (Kitab Taurat) yang diterimanya.

Nabi Musa ‘alaihissalam berkata, “Ya Tuhanku, aku melihat di lauh-lauh itu disebutkan suatu umat yang menjadi umat terbaik yang pernah terlahir ke dunia, mereka menyuruh sesamanya untuk berbuat kebaikan dan mencegah sesamanya berbuat kemungkaran. Ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu sebagai umatku.”
Allah subhaanahu wata’aala menjawab, “Itu adalah umat Muhammad.”

Nabi Musa ‘alaihissalam berkata lagi, “Ya Tuhanku, aku melihat di lauh-lauh itu disebutkan suatu umat yang menjadi umat terakhir yang diciptakan namun mereka adalah umat yang paling dahulu masuk surga. Ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu sebagai umatku.”
Allah subhaanahu wata’aala menjawab, “Itu adalah umat Muhammad.”

Nabi Musa ‘alaihissalam berkata lagi, “Ya Tuhanku, aku melihat di lauh-lauh itu disebutkan suatu umat yang memiliki anak-anak yang sudah dapat menghapal kitab suci mereka, sedangkan umat-umat sebelum itu membaca kitab suci mereka dengan melihat. Apabila kitab itu disingkirkan, mereka tidak dapat membacanya dan tidak mengetahuinya. Engkau juga memberikan mereka daya hafal yang tinggi yang tidak diberikan pada umat-umat lainnya. Ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu sebagai umatku.”
Allah subhaanahu wata’aala menjawab, “Itu adalah umat Muhammad.”

Nabi Musa ‘alaihissalam berkata lagi, “Ya Tuhanku, aku melihat di lauh-lauh itu disebutkan suatu umat yang beriman pada kitab suci yang pertama kali diturunkan hingga kitab suci yang terakhir diturunkan, mereka senantiasa memerangi kesesatan, bahkan mereka juga memerangi makhluk paling pendusta yang bermata satu (Dajjal). Ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu sebagai umatku.”
Allah subhaanahu wata’aala menjawab, “Itu adalah umat Muhammad.”

Nabi Musa ‘alaihissalam berkata lagi, “Ya Tuhanku, aku melihat di lauh-lauh itu disebutkan suatu umat yang dapat memakan hasil dari zakat yang dikeluarkan oleh sesama mereka, namun tetap diberi ganjaran yang berlipat-lipat. Engkau mewajibkan zakat itu pada orang-orang kaya di antara mereka dan menyalurkannya pada orang-orang miskin. Sementara ketika umat-umat lain berzakat, jika diterima maka zakat itu akan dimakan api, dan jika ditolak maka zakat itu akan dimakan hewan buas dan burung-burung. Ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu sebagai umatku.”
Allah subhaanahu wata’aala menjawab, “Itu adalah umat Muhammad.”

Nabi Musa ‘alaihissalam berkata lagi, “Ya Tuhanku, aku melihat di lauh-lauh itu disebutkan suatu umat yang ketika berniat untuk berbuat baik namun mereka tidak melaksanakan niat tersebut, maka akan tertulis satu kebaikan. Dan jika mereka melaksanakan niat tersebut, maka akan tertulis bagi mereka 10 hingga 700 kali lipat. Ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu sebagai umatku.”
Allah subhaanahu wata’aala menjawab, “Itu adalah umat Muhammad.”

Nabi Musa ‘alaihissalam berkata lagi, “Ya Tuhanku, aku melihat di lauh-lauh itu disebutkan suatu umat yang dapat memberikan syafaat sekaligus menerima syafaat. Ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu sebagai umatku.”
Allah subhaanahu wata’aala menjawab, “Itu adalah umat Muhammad.”

Setelah mendegar semua itu, Nabi Musa ‘alaihissalam melemparkan lauh-lauh yang dipegangnya sembari berkata, “Ya Tuhanku, jadikanlah aku salah satu umat Muhammad.”

Lengkapnya Klik DISINI

Adab Pergaulan Pria dan Wanita Menurut Islam

coupleFenomena khalwat (berdua-duan) dan ikhtilat (campur baur) yang terjadi di antara pria dan wanita yang bukan mahram saat ini sungguh sangat memprihatinkan. Dengan alasan ‘gaul’, mereka demikian bebas melakukannya tanpa memperhatikan adab-adab Islam tentang hal itu.

Hendaklah kaum pria dan wanita bertakwa kepada Allah Ta’ala. Alangkah baiknya jika mereka menjauhi khalwat dan ikhtilat guna menutup jalan yang mengarah kepada perbuatan zina. Hindarilah hal-hal yang ‘sepele’, berupa ‘telepon-teleponan’ maupun ‘chating’ yang tidak jelas tujuannya.

Berikut ini kami ingatkan adab-adab yang harus diperhatikan oleh setiap muslim agar mereka terhindar dari perbuatan zina yang tercela:

Pertama, hendaknya setiap muslim menjaga pandangan matanya dari melihat lawan jenis secara berlebihan, apalagi diiringi syahwat. Perhatikanlah firman Allah berikut ini,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُن
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya…” (QS. An-Nur, 24: 30-31)

Awal dorongan syahwat adalah dengan melihat. Karena itu jagalah mata agar terhindar dari tipu daya syaithan. Tentang hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا عَلِيُّ لاَ تُنْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَاِنَّ لَكَ اْلأُوْلَى وَ لَيْسَتْ لَكَ الثَّانِيَةُ
“Wahai Ali, janganlah engkau iringkan satu pandangan (kepada wanita yang bukan mahram) dengan pandangan lain, karena pandangan yang pertama itu (halal) bagimu, tetapi tidak yang kedua!” (HR. Abu Daud).

Kedua, hendaknya setiap muslim menjaga auratnya masing-masing dengan cara berbusana islami. Secara khusus bagi kaum wanita Allah SWT berfirman,

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
“…dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…” (QS. 24: 31).

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu dan juga kepada istri-istri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS. Al-Ahzab, 33: 59)

Dalam hal menjaga aurat, Nabi menegaskan sebuah adab yang harus diperhatikan, beliau bersabda:

لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ، وَلاَ يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ، وَلاَ تُفْضِي الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ.
“Janganlah seorang pria melihat aurat pria lainnya, dan jangan pula wanita melihat aurat wanita lainnya. Seorang pria tidak boleh bersama pria lainnya dalam satu kain, dan tidak boleh pula wanita bersama wanita lainnya dalam satu kain.” (HR. Muslim)

Ketiga, tidak berbuat sesuatu yang dapat mendekatkan diri pada perbuatan zina

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra, 17: 32).

Contoh perbuatan mendekati zina adalah ber-khalwat (berdua-duaan) dengan lawan jenis yang bukan mahram. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang perbuatan tercela ini dengan sabdanya,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الاخِرِ فَلاَ يَخْلُوَنَّ بِاِمْرَاَةٍ فَاِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيطَانُ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah berkhalwat dengan seorang wanita (tanpa disertai mahramnya) karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaithan.” (HR. Ahmad).
Keempat, menjauhi pembicaraan atau cara berbicara yang bisa ‘membangkitkan syahwat’. Arahan mengenai hal ini kita temukan dalam firman Allah,

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا
“Hai para istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti perempuan lain jika kamu bertaqwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara hingga berkeinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya. Dan ucapkanlah perkataan yang ma’ruf.” (QS. Al-Ahzab, 33: 32)

Berkaitan dengan suara perempuan, Ibnu Katsir menyatakan, “Perempuan dilarang berbicara dengan laki-laki asing (non mahram) dengan ucapan lunak sebagaimana dia berbicara dengan suaminya.” (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3)

Kelima, hindarilah bersentuhan kulit dengan lawan jenis, termasuk berjabatan tangan sebagaimana dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اِنِّى لاَ اُصَافِحُ النِّسَاءَ
“Sesungguhnya aku tidak berjabatan tangan dengan wanita.” (HR. Malik, Tirmizi dan Nasa’i).
Dalam keterangan lain disebutkan,

مَا مَسَّتْ يَدُ رَسُوْلِ اللهِ يَدَامْرَاَةٍ لاَ يَمْلِكُهَا قَطٌّ
“Tak pernah tangan Rasulullah menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hal ini dilakukan Nabi tentu saja untuk memberikan teladan kepada umatnya agar melakukan tindakan preventif sebagai upaya penjagaan hati dari bisikan syaithan. Wallahu a’lam.
Keenam, hendaknya tidak melakukan ikhtilat, yakni berbaur antara pria dengan wanita dalam satu tempat yang dapat mendorong kepada fitnah. Hal ini diungkapkan Abu Asied,
خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ مِنَ الْمَسْجِدِ وَقَدِ اخْتَلَطَ الرِّجَالُ مَعَ النِّسَاءِ فِى الطَّرِيقِ, فَقَالَ: اِسْتَأخِرْنَ فَلَيسَ لَكُنَّ اَنْ تَحْقُقْنَ الطَّريْقَ, عَلَيْكُنَّ بِحَافَاتِ الطَّريْقِ.
“Rasulullah saw pernah keluar dari masjid dan pada saat itu bercampur baur laki-laki dan wanita di jalan, maka beliau berkata: “Mundurlah kalian (kaum wanita), bukan untuk kalian bagian tengah jalan; bagian kalian adalah pinggir jalan.” (HR. Abu Dawud).

Dari uraian di atas jelaslah bagi kita bahwa pria dan wanita memang harus menjaga batasan dalam pergaulan. Dengan begitu akan terhindarlah dari hal-hal yang tidak diharapkan.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa membimbing kita kepada kebenaran dan menjauhkan kita dari perbuatan tercela dan tidak terpuji. Amin.

Wallahu A’lam…
Lengkapnya Klik DISINI

D U N I A Y A N G T E R B A L I K

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!
 
Indonesia mayoritas Islam, tapi, yang paling disudutkan Muslim.

Lebih serem yang pake cadar, dari pada yang pake rok mini.

Lebih serem orang berjenggot, dari pada yang tatoan.

Pake baju tauhid ditangkep, pake baju PKI gapapa.

Lebih curiga sama yang rajin ibadah di mesjid, dari pada orang yang mabok-mabokan dan judi.

Diduga teroris langsung tembak, bandar Narkoba Internasional bisa di nego.

Lebih mentolelir aliran sesat, dari pada syariat.

Dunia sudah kebolak balik?

Yang nyunnah – radikal
Yang nyeleneh – toleran

Yang jilbab syar’i – ekstrem
Yang ga pake jilbab – cantik

Yang menikah lagi - Penjahat
Yang main pelacur - Biasa lelaki

Yang muda sholat 5 waktu – Waspadai
Yang muda ga sholat – masih muda

Yang jenggotan rajin ke masjid – teroris
Yang jenggotan rajin dugem – keren

Yang ke majelis ta’lim pekanan – Fanatik
Yang ke bioskop harian – gaul

Yang hapal Al Qur’an 30 juz – militan
Yang hapal banyak musik – hebat

Yang anaknya di jilbabin – Keterlaluan, melanggar HAM
Yang anaknya pake rok mini – imutnya

Yang pakai baju koko – sok alim
Yang ga pake baju – jantan

Yang hariannya bicara Islam – sok ustadz
Yang hariannya ghibah – up to date

Media islam – radikal
Media porno – kebutuhan
.
Buka Mata Hati Anda hai manusia!
ﺑَﺪَﺃَ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡُ ﻏَﺮِﻳﺒًﺎ ﻭَﺳَﻴَﻌُﻮﺩُ ﻛَﻤَﺎ ﺑَﺪَﺃَ ﻏَﺮِﻳﺒًﺎ ﻓَﻄُﻮﺑَﻰ ﻟِﻠْﻐُﺮَﺑَﺎﺀِ

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.”
(HR. Muslim no. 208)

Sahabat bertanya siapa kah orang asing itu,

Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab:
Mereka ialah orang-orang yang senantiasa melakukan kebaikan di tengah kerusakan.
(HR. Ahmad) .

Dan ingatlah bahwa kalian semua PASTI MATI dan hanya kepada Allah Tabaroka wa Ta'āla kalian akan kembali serta dimintai pertanggung jawaban atas segala perbuatan kalian
Maka segeralah bertobat selagi masih ada kesempatan..

sumber fb
Lengkapnya Klik DISINI

Catatan Sejarah: Ramadhan Adalah Bulan Jihad dan Kemenangan

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

 
Ramadhan adalah anugerah Allah swt kepada orang-orang beriman. Dan seringkali kemenangan pada peristiwa-peristiwa besar, Allah anugerahkan di bulan mulia ini.

Ramadhan bukan bulan untuk santai apalagi loyo dan lunglai. Bukti sejarah menunjukan bulan Ramadhan adalah bulan Jihad dan Kemenangan bagi Umat Islam.

Berikut beberapa diantaranya yang diringkas dari berbagai sumber:

1. Perang Badar-Ramadhan 2 H

Perang Badar adalah peperangan besar pertama Rasulullah SAW dan kaum muslimin. Perang yang sangat krusial bagi eksistensi Umat Islam. Sampai-sampai saat perang Badar hendak berkecamuk, manusia paling mulia Rasulullah SAW berdoa:

"Ya Allah, penuhilah untukku apa yang Kau janjikan kepadaku. Ya Allah, berikan apa yang telah Kau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau biarkan pasukan Islam ini binasa, tidak ada lagi yang menyembah-Mu di muka bumi ini."

Kalimat terakhir pada doa diatas jelas menggambarkan suasana kebatinan Rasulullah yang memaknai perang ini sebagai "perang eksistensi".

Bagaimana tidak, inilah perang besar pertama pasca hijrah dengan jumlah pasukan yang tidak sebanding, 300-an di pihak kaum muslimin dan1000-an di pihak kafir quraisy.

Dengan strategi pengusaaan sumber air, atas usul seorang sahabat, Hubaib bin al-Mundzir, Allah swt memenangkan kaum muslimin dalam peperangan ini.

Kemenangan yang mengangkat moral dan spirit kaum muslimin, sekaligus merontokkan mental dan membuat malu suku quraisy yang selama ini dikenal piawai dalam berperang. Apalagi salah seorang pembesar mereka, Abu Jahal, tewas diujung tombak dalam perang ini.

2. Fathu Makkah - Ramadhan 8 H

Delapan tahun setelah 'terusir' dari tanah kelahiran, akhirnya kaum muslimin yang dipimpin Rasulullah SAW kembali ke Makkah dengan kemenangan.

Namun yang paling tidak disangka oleh kaum kafir quraisy, bahkan oleh beberapa orang sahabat, adalah pidato Rasulullah pada saat berhasil memasuki kota Makkah dengan kemenangan:

"Hadza laisa yaumil malhamah, walakinna hadza yaumul marhamah, wa antum thulaqa…

(Hari ini bukan hari pembantaian, melainkah hari kasih sayang, dan kalian semua dimaafkan (serta merdeka) untuk kembali kepada keluarga masing-masing.)

Inilah "Hari Kasih Sayang" yang sesungguhnya, yang membuat kaum kafir quraisy berbondong-bondong memeluk Islam.

Amru bin Salimah berkata, “Kaum Arab menunda keislaman mereka karena menanti fathu makkah. Maka tatkala terjadi fathu makkah, setiap kabilah bersegera masuk Islam dan bapakku segera mendahului kaumku masuk Islam."

3. Penaklukan Andalusia - Ramadhan 92 H

Thariq bin Ziyad ( طارق بن زياد), dikenal dalam sejarah Spanyol sebagai legenda dengan sebutan Taric el Tuerto (Taric yang memiliki satu mata), adalah seorang jendral dari dinasti Umayyah yang memimpin penaklukan muslim atas wilayah Al-Andalus (Spanyol, Portugal, Andorra, Gibraltar dan sekitarnya) pada tahun 711 M.

Musim panas tahun 711 M (92 H), Thariq bin Ziyad berangkat menuju Al-Andalus. Pada tanggal 29 April 711 (6 Rajab 92 H), pasukan Thariq mendarat di Gibraltar (nama Gibraltar berasal dari bahasa Arab, Jabal Tariq yang artinya Gunung Thariq). Setelah pendaratan, ia memerintahkan untuk membakar semua kapal dan berpidato di depan anak buahnya untuk membangkitkan semangat mereka:
.... أيّها الناس، أين المفر؟ البحر من ورائكم، والعدوّ أمامكم، وليس لكم والله إلا الصدق والصبر

 "Wahai sekalian manusia (pasukan Tariq), kemana kalian pergi? tidak ada jalan untuk melarikan diri! Laut di belakang kalian, dan musuh di depan kalian: Demi Allah, tidak ada yang dapat kalian sekarang lakukan kecuali bersungguh-sungguh penuh keikhlasan dan kesabaran."

Pasukan Tariq menyerbu wilayah Andalusia di musim panas tahun 711 berhasil meraih kemenangan yang menentukan atas kerajaan Visigoth, di mana rajanya, Roderick terbunuh pada tanggal 19 Juli 711 (28 Ramadhan 92 H) dalam pertempuran Guadalete. Setelah itu, Thariq menjadi gubernur wilayah Andalusia.

4. Perang Salib - Ramadhan 584 H

Salahsatu episode dalam perang perang salib adalah pertempuran di Hittin yang terjadi akibat salahsatu faksi dalam koalisi salib melanggar perjanjian damai dengan kaum muslimin.

Faksi Chattilon pimpinan Reynald membunuh rombongan peziarah dari Damaskus, termasuk saudara perempuan Shalahuddin al-Ayyubi. Bahkan mereka juga menyiapkan pasukan untuk menyerang kota suci Makkah.

Koalisi tentara salib yang didatangkan dengan jumlah besar dari Eropa bertemu dengan pasukan Shalahuddin di kota Hittin yg saat itu tengah memasuki musim panas.

Tidak terbiasa dengan cuaca panas gurun ditambah baju perang yang terbuat dari besi membuat pasukan salib tidak leluasa dan kewalahan menghadapi kelincahan kuda-kuda Yaman yang ditunggangi pasukan Shalahuddin.

Dalam perang ini, Reynald de Chattilon, yang dulu membunuh saudara perempuan Shalahuddin, berhasil dipenggal.

Kemenangan di Hitiin ini menjadi pembuka jalan bagi pasukan Shalahuddin untuk merebut kembali Yerussalem (Palestina) ke pangkuan kaum muslimin, sebagaimana sebelumnya pernah dibebaskan oleh Khalifah Umar bin Khattab.

5. Perang 'Ain Jalut - Ramadhan 685 H

Siapa yang tidak gentar mendengar nama Hulagu Khan dan tentara Mongol-nya pada masa itu? Kekejaman dan kebengisan mereka terkenal di seantero barat (tentara salib) dan timur (tentara muslim).

Merek lah yang telah menghancurkan kekuasaan Bani Abbasiyah di Baghdad, sebagai pusat peradaban Islam, dengan pembantaian paling biadab dalam sejarah dunia.

Jutaan tengkorak kaum muslimin ditumpuk menjadi bukit sebagai peringatan bagi negeri-negeri lain yang tidak mau tunduk kepadanya.

Dari semua negeri-negeri muslim, hanya tinggal 3 negeri saja yang belum ditaklukan: Makkah, Madinah, Mesir.

Seraya mengirim surat melalui utusannya, Hulagu Khan mengancam penguasa Mesir, Syaifuddin al-Quthuz, untuk menyerah atau merasakan pembantaian berikutnya.

Syaifuddin kecil adalah mantan budak yang diperjualbelikan setelah keluarganya dibantai oleh tentara mongol. Maka inilah saatnya membalas kebiadaban mereka yang telah membantai keluarga dan jutaan kaum muslimin lainnya.

Syaifuddin al-Quthuz menyongsong pasukan mongol di luar Mesir, tepatnya di daerah 'Ain Jalut (wilayah Palestina) pada Ramdhan 685 H.

Pada hari ke-25, pasukan Mongol berhasil dipukul mundur. Dan pada hari ke-30 Ramadhan, Damaskus berhasil direbut kembali.

Dengan kekalahan ini pupuslah ambisi Hulagu Khan utk menguasai semua wilayah muslim. Dan akhirnya Mesir tumbuh sbg pusat peradaban Islam berikutnya, menggantikan Baghdad yg telah porak poranda.

6. Kemerdekaan Indonesia- Ramadhan 1364 H

Lebih dari 350 tahun, negeri muslim terbesar di dunia ini silih berganti dijajah oleh negara-negara kristen, mulai dari Portugis, Belanda, hingga negeri penyembah matahari, Jepang.

Perlawan gagah berani dan pantang menyerah yang dipelopori oleh para ulama sepanjang zaman di negeri ini akhirnya membuahkan hasil pada 9 Ramadhan 1364 H atau bertepatan dgn 17 Agustus 1945 dengan Proklamasi Kemerdekaan RI oleh Soekarno-Hatta.

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

(portalpiyungan.com)
Lengkapnya Klik DISINI

Hizbut Tahrir Mesra Dengan Syiah?

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

Seiring revolusi di belahan Timur Tengah sana, isu Syiah kembali menyeruak. Pertempuran yang terjadi di dunia Arab, khususnya Suriah, memperlihatkan adanya gesekan antara dua kubu; Sunni dan Syiah. Pergesekan ini terus menjalar luas. Terlebih ketika turut campurnya beberapa negara ke kancah perang. Dalam kasus Suriah dan Irak, Iran secara terbuka mengirimkan pasukannya dan milisi Syiah untuk masuk kesana. Pun demikian dengan Arab Saudi. Saudi pun mengirimkan jet-jet tempur ke Yaman untuk menyerang suku Houtsi yang berbasis Syiah. Tak ayal, pengaruh pergesekan ini semakin meluas karena baik Saudi (Sunni) atau Iran (Syiah) mempunyai pengaruh dan pendukungnya masing-masing di berbagai wilayah dunia. 
 
Beberapa waktu lalu pun, Indonesia ramai terkompori masalah ini. Muncul berbagai berita dan spekulasi terkait Sunni & Syiah yang cukup panas aromanya. Kubu Sunni "radikal" memandang bahwa Syiah memiliki hidden agenda dalam pemerintahan Indonesia. Mengingat ada salah satu tokoh Syiah yang duduk di parlemen. Kubu Syiah pun tak kalah gertak, beberapa yang terkenal radikal dan kontroversial, malah siap melakukan pertempuran dengan Sunni. Bahkan jualan mereka didukung oleh kelompok-kelompok liberal yang selama ini memang kerap berhadapan dengan kelompok Sunni "radikal". 
 
Terlepas dari itu, ada suatu fakta menarik yang sayang untuk dilewatkan. Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), sebuah ormas yang dikenal berpaham Sunni, menjadi sorotan beberapa kelompok Sunni "radikal" karena dipandang memiliki hubungan dengan Syiah, khususnya Syiah Iran. Hal tersebut dikarenakan adanya isu tentang penawaran Khilafah kepada Imam Khomeini pasca Revolusi Iran. Akan tetapi keterkaitan dengan Syiah ini dibantah oleh Juru Bicara HTI di sela-sela kegiatan Halaqoh Islam dan Peradaban yang digelar di Gedung Asrama Haji Yogyakarta (11/4/2015).[1] Menurut Jubit HTI, Hizbut Tahrir (HT) kala itu justru mengkritik Khomeini dan Rancangan Konstitusi Iran yang kemudian kritik tersebut dibukukan dalam kitab berjudul Naqdh Masyru’ ad-Dustur al-Irani yang terbit 7 Syawal 1399 H (30 Agustus 1979).[2] Bagi HT, perbedaan HT dengan Syiah adalah pada tataran ushul dan furu'.
 
Fakta ini menjadi menarik karena ada beberapa hal yang justru bertolak belakang dengan penjelasan juru bicara HT dan juga beberapa anggota HT lain terkait Syiah dan Khomeini. Hal-hal yang menyebabkan sebagian pihak akhirnya menyatakan bahwa HT tidak jujur dalam penyikap mereka terhadap Syiah. Entah karena ketidakpahaman mereka akan Syiah atau memang dibalik itu semua ada kemesraan diantara Syiah dengan HT -yang menyatakan dirinya partai politik-. Adapun beberapa hal tersebut adalah: 
 
1. ANGGOTA HT ADA YANG BERALIRAN SYIAH 
 
Besar kemungkinan anggota HT beraliran Syiah di lapangan banyak, khususnya untuk daerah Timur Tengah. Hal ini didasari oleh pernyataan DR. Muhammad Muhsin Radly, anggota HT Irak, dalam tesisnya yang berjudul "Hizbut Tahrir: Tsaqafatuhu wa Manhajuhu fii Iqamati Daulah Khilafah”.[3] Dalam tesis tersebut dijelaskan bahwa pengikut madzhab Jafari (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah) banyak yang bergabung menjadi anggota HT Irak, di antara mereka yang terkenal adalah: Muhammad Hadi Abdullah as-Subaiti, dan Arif al-Bashri." (hal - 98). Selain itu, di Libanon pun banyak tersebar anggota HT dan pendukung HT (hal - 113). Salah satu nama yang mencuat di HT Libanon adalah dr. Mohammad Jaber [4] yang memangku jabatan sebagai salah satu ketua HT di Libanon.
dr. Mohammad Jaber bersama Mahan Abedin, peneliti IDSA di Nabatieh
Dokter kelahiran 50-an dari Nabatieh (Lebanon Selatan) ini menyelesaikan pendidikan kedokteran di Jerman Barat sebelum kembali ke Lebanon pada tahun 1985. Dia sudah bergabung dengan HT sejak tahun 1974 dan menjabat jabatan di HT Libanon pada tahun 2006. Mohammad Jaber mengakui sendiri langsung dalam sebuah wawancara yang dilakukan Mahan Abedin, Peneliti Institute for Defence Studies and Analysis New Delhi, bahwa HT tidak mementingkan untuk melampirkan identitas sektarian dan perbedaan di dalam Islam. Oleh karenanya, dia kemudian mengakui bahwa dirinya lahir dari keluarga Syiah dan dia sendiri bermazhab Jafary [5] (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah). 
 
2. PENAWARAN KHOMEINI MENJADI KHALIFAH 
 
Beberapa anggota HT apabila dikonfirmasi terkait hal ini akan mengatakan bahwa tidak benar HT mengirimkan perwakilannya untuk menawarkan Khalifah kepada Khomeini tahun 1979.[6]Dalam pertemuan tersebut, HT hanya menjelaskan dan menawarkan pada Khomeini tentang kesalahannya dan jauhnya dia dari kebenaran dengan mengesampingkan penerapan Islam secara sempurna. HT juga menyampaikan kepadanya tentang kewajiban mengangkat seorang kepala Negara yang akan bertindak sebagai khalifah bagi seluruh umat Islam. Hal tersebut menurut anggota HT belum pernah dilakukan oleh pihak lain.[7]
 
Karena tidak menerima tanggapan dari Khomeini selama berbulan-bulan, HT akhirnya menerbitkan Naqdh Masyru’ ad-Dustur al-Irani (Kritik terhadap Undang-Undang Dasar Iran) yang terbit 7 Syawal 1399 H (30 Agustus 1979).[8] Kritik tersebut coba diberikan langsung pada Khomeini oleh delegasi HT namun tidak berhasil bertemu Khomeini lagi. 
 
Ada beberapa catatan yang berbeda terkait hal diatas dengan apa yang disampaikan dr. Mohammad Jaber. Menurut Jaber, pertemuan dengan Khomeini tidak hanya dilakukan pada tahun 1979 saja namun dilakukan juga beberapa bulan sebelum kemenangan revolusi Iran. Pertama delegasi HT (terdiri dari dr. Mohammad Jaber, amir HT Eropa, dan pendamping amir HT Eropa) mengirim terlebih dahulu surat untuk bertemu lalu akhirnya dapat bertemu pertama kali pada bulan Oktober 1978. Selanjutnya pertemuan kedua pada Desember 1978 dan terakhir Februari 1979. Delegasi menekankan pada Khomeini agar mau mendirikan negara Islam yang mendunia (Khilafah). Bahkan jika Negara tersebut nantinya akan didominasi oleh penganut Syiah Dua Belas Imam (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah). HT akan siap membantu dengan catatan tetap bentuknya Khilafah untuk seluruh kaum muslimin.[9]
 
Adanya informasi tadi dengan jelas menampakan bahwa HT memang menawarkan Khomeini sebagai Khalifah. Karena HT meminta Khomeini untuk mendirikan Khilafah dan kalaupun dikuasai Syiah Dua Belas Imam (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah) maka tidak mengapa. Kenapa disimpulkan demikian? Karena pemimpin Revolusi Iran sekaligus pemimpin spiritual Syiah Dua Belas Imam (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah) saat itu adalah Khomeini. Pada saat itu pun Khomeini tidak diminta untuk beralih menjadi Sunni. Hal ini diperkuat dengan pernyataan kesiapan HT untuk membantu Khomeini apabila Khilafah nantinya dikuasai Syiah Dua Belas Imam (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah). Sehingga akan tidak mungkin apabila Khalifahnya adalah HT Eropa atau amir HT. Karena kedua orang tadi bukan penganut Syiah Dua Belas Imam (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah). 
 
Bantahan HT tidak menawarkan Khomeini sebagai Khalifah pun tertolak sendirinya dengan apa yang pernah dirilis HT sendiri di majalah Al Khilafah No. 18, Jum’at, 2 Januari 1410 H (1989), dan majalah Al Wa’ie, Nomor 75 halaman 23 (1993). Dalam majalah Al Khilafah dengan artikel berjudul “Hizbut Tahrir wal ‘Imam’ Khomeini”, dikatakan “Kami mengusulkan agar Khomeini menjadi khalifah umat ini”. Sedangkan dalam Al Wa’ie, Nomor 75 halaman 23 (1993) dikatakan bahwa persoalan sunni-syiah ini terjadi karena ada orang-orang yang berada di belakang perpecahan ini (yang mempunyai maksud tertentu). Oleh karenanya HT harus memerangi orang-orang itu, sebab tidak ada perbedaan antara keduanya, dan siapa saja yang melakukan perbedaan itu maka akan HT lawan”. 
 
Bagi HT sendiri, kemungkinan seorang Syiah menjadi Khalifah bukanlah sebuah keniscayaan, sebab dalam buku pelatihan ideologis-politik berjudul “Dasar-Dasar Islam” (1953), dengan jelas diyatakan bahwa penganut Syiah Dua Belas Imam (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah) adalah kaum Mukminin yang memiliki hak untuk berperan secara aktif di dalam Negara Islam, termasuk aksesi ke Kantor Politik-Keagamaan yang tertinggi, yaitu Khalifah.[10
 
3. MENGAGUNGKAN KHOMEINI 
 
Bagi dr. Mohammed Jaber, Khomeini merupakan pemimpin besar Islam dan tulus. Khomeini memiliki pengaruh politik dan hukum dalam tatanan global. Dia juga telah berhasil mengubah jalan dan beberapa konsep yang mendasar terkait hubungan internasional. Menurutnya, pendapat ini adalah pendapat pribadinya akan tetapi pendapat ini disebar di para pemimpin HT dan anggota HT di seluruh dunia.[11]
 
Bukan hanya dr. Mohammed Jaber saja yang memuji Khomeini, tokoh HT lain pun ikut memuji-muji Khomeini. Adalah Muhammad Mis’ari yang menyebarkan selebaran di London pada Kamis 22 Syawwal 1415 H / 23 Maret 1995 M. Isi dari selebaran tersebut salah satunya memuji Khomeini dengan mengatakan bahwa Khomeini adalah seorang pemimpin bersejarah yang agung dan jenius. Selain itu, dia mencaci sebagian ulama dan menganggap Syiah sebagai saudara.[12]
 
4. KERJASAMA DENGAN HIZBULLAH 
 
Hubungan HT dengan Hizbullah secara struktural memang tidak. Kedua kelompok nampaknya pernah menjalin komunikasi. Entah resmi atau tidak. Hal tersebut dapat dilihat dari pernyataan dr. Mohammed Jaber yang memuji Hizbullah sebagai kelompok perlawanan dan politik Islam yang tulus. Adalah sebuah kewajiban syar'i, menurut dr. Mohammed Jaber, untuk mendukung perjuangan Hizbullah.[13] Meskipun demikian, HT menyatakan bahwa mereka tetap kritis terhadap kebijakan-kebijakan politik Hizbullah.


Anggota Hizbut Tahrir Inggris aksi bersama pendukung Hizbullah di depan pagar Kedutaan besar Arab Saudi memprotes serangan Israel ke Gaza (2009)
Hubungan ini nampak ketika diselenggarakannya acara Al Quds Day [14] di jalanan kota London yang rutin setiap tahun. Acara ini memang bukan acara HT dan Hizbullah, namun ini adalah acara lintas golongan, agama, dan kelompok. Beberapa kelompok yang terlibat di dalamnya adalah British Muslim Initiative, Crescent International, Friends of Al-Aqsa, Islamic Forum Europe, Islamic Human Rights Commission, Islamic Student Association UK, Islamic Centre of England, Innovative Minds, International Muslims Organization, Lebanese Communities, Muslim Association of Britain, Neturei Karta, Palestine Return Centre, Palestine Internationalist, Respect Party, Stop the War and the 1990 Trust. Beberapa tokoh HT tercatat pernah mengisi acara ini berbarengan dengan tokoh-tokoh lainnya. Antara lain Majid Nawaz (2006), Taji Mustafa [15] (2008)
Taji Mustafa dalam acara Al Quds Day 2010 bersama organisasi lintas agama dan kelompok di London (4/10/2010)
5. PERNYATAAN TIDAK SEMUA SYIAH KAFIR/SESAT 
 
HT kerap mengatakan bahwa HT dengan Syiah berbeda. Mereka memiliki perbedaan pada tataran ushul dan furu', atau dengan kata lain berbeda dari segi pondasi dan bangunan. Seperti yang disampaikan dalam pertemuan MIUMI Pusat & HTI di Alqur'an Learning Center (AQL) Tebet Jakarta Selatan (24/4/2015).[16] Singkatnya, HT memandang bahwa tidak semua Syiah sesat atau kafir. Syiah ada yang sudah masuk kafir, ada yang sesat, namun sebagian lagi ada yang masih muslim misalnya sebagian Syiah Dua Belas Imam (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah) atau Syiah Zaidiyyah, khususnya yang di Yaman. 
 
Terkait Syiah Zaidiyyah, aliran ini dinisbatkan kepada Zaid bin Ali Zainal Abidin. Ali Zainal Abidin, bapaknya, merupakan sosok yang cinta kepada para sahabat seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman. Bahkan beliau menilai kalangan yang senantiasa mencaci maki para sahabat merupakan kalangan yang melecehkan Islam dan bukan bagian dari Islam (Kafir). Pemahaman ayahnya tersebut diikuti oleh anaknya, Zaid bin Ali. Hingga karena kealimannya, muncullah pengikut yang menamakan diri mereka sebagai Syi’ah Zaidiyah. 
 
Dalam perkembangannya Zaidiyyah disebut memiliki kemiripan dengan Mu’tazilah karena kerap berinteraksi dengan murid-murid Washil bin Atha’. Sedangkan dalam masalah fikih mereka memiliki kemiripan dengan madzhab Hanafi karena sering terjadi interaksi antara murid-murid Abu Hanifah di Irak dengan Zaid bin Ali. Hanya saja, untuk perkara tauhid, Zaidiyyah berbeda dengan mazhab Hanafi dan pandangan sunni lainnya. Beberapa hal terkait akidah yang berbeda dengan sunni adalah; 1) Tidak meyakini bahwa orang-orang yang beriman dapat melihat Allah di akhirat, 2) Allah tidak menciptakan maksiat, 3) Kalam adalah makhluk, bukan bagian dari sifat-sifat Allah, 4) Mengingkari adanya syafaah bagi umat Rasulullah yang menjadi ahli maksiat, 5) Orang yang lebih berhak setelah kepemimpinan Rasulullah adalah Ali dan kelaurganya. Pengangkat Abu Bakar adalah kesalahan. Namun demikian, Zaidiyah tidak sampai mengkafirkan para sahabat akibat “kesalahan” ini, 6) Dibolehkan dan dibenarkan bahkan wajib melakukan pemberontakan kepada pemerintahan Muslim yang zalim (ket: pernah terjadi pada abad ke 8 (bani Umayyah), masa terakhir Utsmaniyyah tahun 1915). 
 
Karena pemikiran Syiah Zaidiyyah seperti diataslah, Imam Asy-Syaukani akhirnya tertobat dan memilih kembali ke ahlu sunnah Wal jamaah. Meskipun selama itu beliau kerap dikenal dan dikatakan sebagai ulama syiah (baca: Syiah Zaidiyyah). Sebagai bentuk pertobatannya, Imam Asy-Syaukani menyusun kitab yang cukup terkenal dengan judul As-Sail Al-Jurar Al-Mutadaffiq 'ala Hada,iq Al-Azhar. Isi kitab tersebut mengkritik seluruh pemikiran dan pendapat kelompok Syiah Zaidiyyah, serta menelanjangi kebohongan-kebohongannya dan penyimpangan-penyimpangannya dari pemahaman As-Sunnah yang dipahami Salaf As Shalih. 
 
Dan bukan hanya Imam As Syaukani saja yang menentang Syiah Zaidiyyah, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari pendiri sekaligus Rais Akbar Nahdhatul Ulama pun menolaknya dan menyatakan mazhab Syiah Dua Belas Imam (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah) dan Zaidiyah tidak sah diikuti umat Islam dan tidak boleh dipegang pendapatnya sebab mereka adalah ahli bid’ah. Pihak MUI pun telah mengeluarkan resmi buku terkait hal tersebut.[17]
Buku Resmi Panduan Majelis Ulama Indonesia terkait penyimpangan Syiah
Yang perlu dipahami adalah Syiah Zaidiyyah saat ini keberadaan mereka hanya tersisa di Yaman, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Syiah Houtsi. Mereka telah banyak menyelesihi pendahulunya, bahkan pada dekade terakhir ini gencar memerangi Ahlu Sunnah dan berusaha merebut dan berkuasa di pemerintahan Yaman. Pergeseran Syiah Zaidiyyah ini banyak bermula dari merapatnya ulama-ulama Syiah Zaidiyyah pasca revolusi Iran yaitu pada tahun 1979 ke Khomeini.[18] Sehingga secara akidah dan politik mereka telah melebur dan membaur menjadi warna yang sama, sebab Syiah Zaidiyah tersebut menjadi berpegang pada kitab yang sama dari kitab yang menjadi rujukan Syiah Itsna Asy'ariyah/Imamiyah. 
 
Terlepas dari itu, kalau pun toh Syiah Zaidiyah (Houtsi) hari ini masih dianggap muslim dan lebih dekat dengan Ahlu Sunnah, maka pembelaan pada Syiah Zaidiyyah yang masih ada di Yaman ini pun menjadi blunder apabila dikaitkan dengan seruan HT tentang persatuan Sunni-Syiah.[19] Mengapa? Sebab kalaulah yang dikatakan Syiah masih muslim itu Syiah Zaidiyyah yang di Yaman, lantas kenapa seruan Sunni dan Syiah bersatu dalam nanungan Khilafah justru dikeluarkan di Irak yang notabene lebih banyak Syiah Nushairiyyah di bagian barat dan sebagian Rafidhah di sebelah timur Irak. Kalau pun mau mengeluarkan seruan tersebut harusnya dikeluarkan oleh HT wilayah Yaman. 
 
Syi'ah sendiri secara keseluruhan, dari awal lahir hingga berakhirnya Khilafah tahun 1924, senantiasa diperangi oleh para dinasti kekhilafahan. Tidak dipungkiri, memang ada upaya dari Khalifah untuk menyatukan sunni dan syiah. Itu pun dalam konteks mendakwahi mereka untuk pindah dari Syiah ke sunni, bukan dibiarkan tetap Syiah. Usaha ini pernah dilakukan tahun 74 H. Umat Islam yang menyokong persatuan ini akhirnya disebut Ahlus-Sunnah Wal-Jamaah. Namun opsi ini ditolak oleh kaum Syiah sendiri. Oleh karena itu, meskipun sempat menguasai wilayah dan pemerintahan, Syiah akhirnya selalu diburu untuk didakwahi agar beralih pada Islam atau diperangi. Khalifah Jafar al Mansur (Bani Abbasiyah) dan Salahuddin al Ayyubi menjadi salah satu bukti atas hal tersebut. Mereka melakukan itu karena paham bagaimana akidah dan tabiat Syiah yang tidak mau bersatu. Kasus kejatuhan Abbasiyah ke tangan Tartar hingga lahir Daulah Syiah Fathimiyah, kasus penghadangan kapal dagang Khilafah masuk Nusantara, kasus pelolosan Portugis masuk Nusantara, hingga masuk kerjasama Syiah dengan Mustafa Kamal Attaturk untuk membendung membendung Khilafah Utsmaniyyah menjadi beberap bukti dari penyimpangan yang kerap dilakukan Syiah.
 
6. MAZHAB JAFARY ADALAH MAZHAB ISLAM 
 
Kembali ke dr. Mohammad Jaber, dia menyatakan dirinya adalah seorang yang bermazhab Jafariy. Mazhab yang menurutnya dan sebagian besar anggota HT masih dalam lingkup Islam. Yang karenanya maka sah-sah saja Jaber menjadi anggota HT bahkan menjadi tokoh sentral di HT Libanon. Namun seperti apakah mazhab Jafari itu? 
 
Mazhab Jafary dikenal juga sebagai mazhab Dua Belas Imam /Istna al asy ariyah/Rafidah. Namnya dinisbatkan kepada Imam ke-6 kaum Syiah, yaitu Ja'far ash-Shadiq bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Ulama terkenalnya abad ini adalah Khomeini. Perlu diketahui, Imam Jafar tidak pernah menuliskan kitab. Berbeda dengan 4 imam besar lainnya seperti; Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali. Imam Malik merupakan murid langsung Imam Jafar. Imam Malik menulis berbagai kitab fiqh tapi tidak dinamakan fiqh Jafary. Karena Imam Malik memiliki metode tersendiri atas fiqhnya yang kemudian lahirlah nama mazhab Maliki. 
 
Akibat ketiadaan kitab yang langsung ditulis oleh Imam Jafar, kaum Syiah penganut mazhab Jafary (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah) akhirnya mencari-cari kitab rujukan. Karena tidak ada satu pun murid Imam Jafar yang menulis kitab (kecuali Imam Malik), akhirnya mereka mendapatkan rujukan pula yaitu kitab Furu’ Al Kafi Al Kulainy (Kitab rujukan tertua). Namun kitab ini ditulis 180 tahun setelah Imam Ja’far wafat. Kitab lain yang dijadikan rujukan adalah kitab Man La Yadurruhul Faqih karya Muhammad bin Ali bin Babawaihy Al Qummy yang ditulis 230 tahun setelah Imam Jafar wafat. Atau 50 tahun kemudian setelah kitab Furu’ Al Kafi Al Kulainy. Atau sekitar 4 generasi. Karena jauhnya jarak periwayat dan penulis kitab, akhirnya banyak ditemukan sanad-sanad yang terputus dan tidak jelas sambungannya ke Imam Jafar. Ulama Syi'ah ternama, Syarif Al Murtadlo di dalam kitabnya Rosail Syarif Al Murtadlo juz 3 hal 310 menjelaskan bahwa kebanyakan fiqh (Syiah) bahkan keseluruhanya tidak terlepas dari berpedoman kepada madzhab yg terhenti, diriwayatkan dari jalur lain dan ada kalanya keduanya darinya. 
 
Kalaulah kemudian mazhab Jafary (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah) mau ini dimasukan ke dalam Islam sebenarnya sah-sah saja. Tidak ada larangan selama memang tidak menjadi masalah bagi umat Islam itu sendiri. Namun sebelum jauh menyatakannya masuk ke dalam khazanah Islam, ada baiknya dilihat terlebih dahulu bagaimana fiqh Jafary (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah) ini sebenarnya. Beberapa fiqh yang menarik yang ada dalam mazhab Jafari (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah) adalah; kebolehan nikah mut'ah, shalat dalam sehari semalam ada 50 kali, gerakan shalat yang berbeda [20], mengucapkan “aamiin” setelah al Fatihah dalam shalat maka batal shalatnya, bersedekap ketika shalat maka batal shalat, mengakui Ali merupakan khalifah dan pemimpin umat Islam setelah Rasulullah dengan alasan perintah dari Allah di sebuah tempat yang dikenal dengan nama “Ghadir Khum” yang akhirnya lahirlah Hari Raya Idul Dhadir, dll. Lalu bagaimana hubungannya dengan HT? Maka apabila kemudian ada seorang anggota HT menyatakan dirinya bukan Syi'ah namun Muslim dengan bermazhab Jafary (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah), maka apakah contoh-contoh fikh diatas tidak cukup mengatakan bahwa anggota tersebut sejatinya bukan anggota HT. Sebab dari contoh fiqh yang sedikit itu saja sudah dapat dipastikan akan bertentangan dengan apa yang diadopsi HT. Kalau misalnya sebenarnya maksud dia adalah "dulu" dia bekas penganut mazhab Jafary (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah) dan sekarang sudah berubah menjadi sunni, apa urgensinya mengaku-ngaku sebagai Syiah atau mengaku bermazhab Jafary (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah)? Kenapa tidak menyatakan diri dengan kalimat "Saya muslim, tapi dulunya saya Syiah" atau "Saya telah tobat dari Syiah Jafary (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah), sekarang saya muslim"? Kenapa konsep Syiah terus dibawa-bawa dan digunakan? Apakah karena Syiah memang didalam tubuh HT dibolehkan? Kalau kemudian dijawab boleh atau muter-muter tidak jelas lagi, maka jangan salahkan orang semakin yakin bahwa HT memang mesra dengan Syiah. Itu pun kalau tidak mau dikatakan HT disusupi Syiah. Atau yang lebih ekstrim lagi adalah HT adalah Syiah itu sendiri. Wallahu’alam
 
Referensi:
8. religion.info, Op.cit.
9. Ibid.
10. Ibid.
11. Ibid.
12. Mereka Adalah Teroris, Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh, Pustaka Qaulan Sadida Cetakan ke 2, Dzulqa’dah 1426 H.
13. religion.info, Op.cit.
17. Buku panduan MUI, Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia, hal 33-34
 
nemu disini :
https://www.facebook.com/notes/adi-sanjaya/hizbut-tahrir-mesra-dengan-syiah/254881064891987 

Lengkapnya Klik DISINI

Palestina Adalah Tanah Kaum Muslimin, Bukan Milik Kaum Yahudi..

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

 tanah-palestina
Inilah tanah pilihan, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan keberkahan tanah Palestina, tanah yang juga termasuk bagian dari Syam. Keberkahannya ini dapat dirunut, misalnya Syam menjadi tempat hijrah Nabi Ibrahim Alaihissalam, tempat singgah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menjalankan Isra dan Mi’raj, tempat dakwah para Nabi. Dakwah yang membawa misi agama tauhid. Dan juga lantaran keberadaan Masjidil Aqsha di tanah Palestina yang penuh berkah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [Al-Israa : 1]

Selain memuliakan tanah Palestina, Allah juga memilih Mekkah dan Madinah. Begitulah Allah telah mengistimewakan wilayah Syam, dan Masjidil Aqsha. Dan Allah memilih Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menjadikannya sebagai khatamul anbiya wal mursalin. [1]

BILAMANA KEBERADAAN BANI ISRAIL DI BUMI PALESTINA?

Masa Nabi Ya’qub Dan Nabi Yusuf

Sejarah Yahudi bermula sejak Israil, yaitu Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim Al-Khalil, yang tumbuh di daerah Kan’an (Palestina) dengan dikarunia sejumlah 12 anak. Mereka itulah yang disebut asbath (suku) Bani Israil, dan hidup secara badawah (pedesaan) [2].

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menempatkan Yusuf sebagai pejabat penting di Mesir, kemudian meminta kedua orang tua dan saudara-saudaranya untuk berpindah ke Mesir. Di Mesir, keluarga ini hidup di tengah masyarakat watsaniyyun (paganisme). Mereka hidup dengan kehidupan yang baik lagi nikmat di masa Yusuf [3]

Setelah Nabi Yusuf wafat, seiring dengan perjalanan waktu dan pergantian penguasa, kondisi Bani Israil berubah total. Yang sebelumnya menyandang kehormatan dan kemuliaan, kemudian menjadi terhina, lantaran Fir’aun melakukan penindasan dan memperbudak mereka dalam jangka waktu yang amat lama, sampai Allah mengutus Nabi Musa Alaihissalam, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya, mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Rabb-mu” [Al-Baqarah : 49]

“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidud anak-anak perempuan mereka …” [Al-Qashash : 4]

Masa Nabi Musa Alaihissalam

Allah mengutus Nabi Musa dan Harun kepada Fir’aun dan kaumnya, dengan dibekali mukjizat, untuk menyeru mereka agar beriman kepada Allah dan membebaskan Bani Israil dari siksaan. Namun Fir’aun dan kaumnya mendustakan mereka berdua, kufur kepada Allah. Karenanya, Allah menimpakan kepada mereka berbagai bencana, kekeringan, rusaknya pertanian, mengirim angin kencang, belalang dan lain-lain.

 [4]. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Musa untuk lari bersama Bani Israil pada suatu malam dari negeri Mesir [5]. Fir’aun dan kaumnya pun mengejar. Tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala menenggelamkan Fir’aun beserta kaumnya, dan menyelematkan Musa dan kaumnya ke Negeri Saina, masuk dalam wilayah Palestina sekarang. Peristiwa itu terjadi pada hari Asyura. [6]

Orang-orang Yahudi menyebutkan, lama Bani Israil tinggal di Mesir 430 tahun. Jumlah mereka waktu itu sekitar 600 ribu orang lelaki.

Mengenai besaran jumlah ini. Dr Su’ud bin Abdul Aziz Al-Khalaf berkata : [7]

“Pengakuan ini sangat berlebihan. Karena berarti, bila ditambah dengan jumlah anak-anak dan kaum wanita, maka akan mencapai kisaran 2 juta-an jiwa. Tidak mungkin dapat dipercaya. Itu berarti jumlah mereka mengalami pertumbuhan 30 ribu kali. Sebab sewaktu Bani Israil masuk ke Mesir, berjumlah 70 jiwa. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Asy-Syu’ara : 53.

“(Fir’aun berkata) ; ‘Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar golongan yang kecil”
Jumlah 2 juta tidak bisa dikatakan kecil. Mustahil dalam satu malam terjadi eksodus dua juta jiwa. Kita tahu di dalamnya terdapat anak-anak dan kaum wanita serta orang-orang tua.

Orang-orang yang bersama Nabi Musa, mereka adalah orang-orang dari Bani Israil yang mengalami penindasan dan kehinaan serta menuhankan manusia dalam jangka waktu yang lama. Aqidah mereka telah rusak, jiwanya membusuk, mentalnya melemah, dan muncul pada mereka tanda-tanda pengingkaran, kemalasan, pesimis, serta bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. [8]

Meski Allah telah menunjukkan banyak mukjizat dan tanda-tanda kekuasaan-Nya melalui Nabi Musa, tetapi mereka tetap ingkar, sombong dan tetap kufur. Mereka justru meminta untuk dibuatkan berhala sebagai tuhan yang disembah. Hingga akhirnya, As-Samiri berhasil menghasut mereka untuk menyembah anak sapi, menolak memerangi kaum yang bengis (Jababirah). Maka, Allah menimpakan hukuman kepada mereka berupa tiih (berjalan berputar-putar tanpa arah karena kebingungan) dalam jangka waktu yang dikehendaki Allah. Pada rentang waktu ini, Musa wafat. Sementara Harun sudah meninggal terlebih dahulu.

Setelah usai ketetapan waktu yang Allah kehendaki untuk menghukum mereka dengan kebingungan tanpa mengetahui arah, Bani Israil berhasil menaklukan bumi yang suci di bawah pimpinan Nabi Yusya bin Nun Alaihissalam. [9]

wilayah+palestina+dan+israel

Para ahli, membagi perjalanan sejarah kota suci Palestina pasca penaklukan tersebut menjadi tiga periode.

Pertama : Masa Qudhah, Yaitu masa penunjukkan hakim bagi setiap suku yang berjumlah dua belas, setelah masing-masing mendapatkan wilayah sesuai pembagian Nabi Yusya bin Nun. Masa ini, kurang lebih berlangsung selama 400 tahun lamanya. [10]

Kedua : Dikenal dengan masa raja-raja. Diawali oleh Raja Thalut. Kondisi masyarakat mengalami masa keemasan saat dipegang oleh Nabi Daud dan Nabi Sulaiman.

Ketiga : Periode yang disebut sebagai masa perpecahan internal, yaitu setelah Nabi Sulaiman wafat. Mereka terbelah menjadi dua kutub. Bagian selatan dengan ibukota Baitul Maqdis dan wilayah utara dengan ibukota Nablus.

Dua wilayah ini, akhirnya dikuasai bangsa asing. Wilayah selatan ditaklukan oleh bangsa Assiria dari Irak. Wilayah utara diserbu Mesir. Disusul kedatangan Nebukadnezar, yang mampu mengusir bangsa Mesir dari sana. Pergantian kekuasaan ini, akhirnya dipegang bangsa Romawi yang berhasil mengalahkan bangsa Yunani, penguasa sebelumnya.

Pada masa kekuasaan Romawi inilah, Isa Al-Masih diutus oleh Allah. Pada masa itu pula, musibah dahsyat dialami kaum Yahudi. Bangsa Romawi melakukan genocide (pemusnahan) secara keras etnis mereka, lantaran orang-orang Yahudi melakukan pemberontakan. Baitul Maqdis pun dihancurkan. Bangsa Yahudi tercerai-berai. Sebagian melarikan diri ke seluruh penjuru wilayah bumi. Demikianlah hukuman Allah dengan mendatangkan bangsa yang menindas mereka. Siksaan dan kepedihan ditimpakan kepada mereka, atas kerusakan, tindak aniaya dan akibat akhlak mereka yang buruk. [11]

Bangsa Romawi menguasai tanah Baitul Maqdis hingga beberapa lama, hingga kemudian pada abad pertama hijriyah, pada masa khalifah Umar Ibnu Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, kaum Muslimin berhasil mengambil alih penguasaan tanah penuh berkah ini dari tangan bangsa Romawi yang memeluk agama Nashrani, meliputi Palestina, Syam dan daerah yang ada di dalamnya. Tepatnya pada pemerintahan Khalifah Umar Ibnul Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, pada bulan Rajab tahun 16H, sehingga menjadi Darul Islam. Penyerahan Baitul Maqdis ini terjadi, setelah pasukan Romawi disana dikepung oleh pasukan kaum Muslimin selama empat puluh hari di bawah komando Abu Ubaidah Ibnul Jarrah Radhiyallahu ‘anhu.

Kemudian Khalifah Umar Ibnul Khaththab menetapkan orang-orang Yahudi tidak boleh tinggal di Baitul Maqdis.

KLAIM PALSU YAHUDI ATAS TANAH PALESTINA

Merasa nenek moyangnya pernah berdiam disana, menyebabkan kaum Yahudi membuat klaim jika mereka memiliki hak atas tanah Palestina. Alasan yang dikemukakan, karena mereka telah mendiaminya sejak Nabi Ibrahim dan berakhir ketika orang-orang Yahudi generasi akhir diusir dari Baitul Maqdis pada masa Romawi.

Mereka pun mengklaim hak kepemilikan tersebut juga berdasarkan tinjauan agama. Yaitu mengacu kepada kitab suci mereka, bahwa Allah telah menjanjikan kepemilikan tanah Kan’an (Palestina) dan wilayah sekitarnya, dari sungai Nil di Mesir sampai sungai Eufrat di Irak. Janji tersebut disampaikan Allah kepada Ibrahim. Begitulah bangsa Yahudi yang hidup pada masa sekarang mengklaim sebagai keturunan Ibrahim, bangsa terpilih. Sehingga merasa paling berhak dengan Palestina dan sekitarnya, yang disebut-sebut sebagai ardhul mi’ad (tanah yang dijanjikan).

Karenanya, muncul upaya untuk menghimpun kaum Yahudi yang tersebar di berbagai wilayah, bertujuan mendirikan sebuah negara Israil Raya, Napoleon Bonaparte, seorang raja Perancis telah memfasilitasi tujuan tersebut. Caranya, pada tahun 1799M, dia mengajak Yahudi dari Asia dan Afrika untuk bergabung dengan pasukannya. Namun akibat kekalahan dideritanya, menyebabkan rencana tersebut tidak terwujud.

Wacana ini kembali muncul, dengan terbitnya buku Negara Yahudi, yang ditulis pemimpin mereka, Theodare Heartzel pada tahun 1896M. Orang-orang Yahudi melakukan kajian secara jeli tentang kondisi negara-negara penjajah. Hingga sampai pada kesimpulan, bahwa Inggris merupakan negara yang paling tepat untuk membantu merealisasikan rencana tersebut.

Ringkasnya, setelah melalui lobi-lobi, maka pada tahun 1917M, Inggris yang menjajah kebanyakan negara Arab, memberikan tanah hunian bagi Yahudi di Palestina. Penguasa Inggris melindungi mereka dari kemarahan kaum Muslimin. Di sisi lain, penjajah Inggris bersikap sangat keras terhadap kaum Muslimin di sana.


KEPALSUAN PENGAKUAN YAHUDI

Sebelum Bani Israil masuk ke wilayah tersebut, tanah Palestina telah didiami dan dikuasai suku-suku Arab. Kabilah Finiqiyyin, menempati wilayah utara kurang lebih pada tahun 3000SM. Kabilah Kan’aniyyun, menempati bagian selatan dari tempat yang dihuni orang-orang Finiqiyyin. Mereka menempati wilayah tengah pada tahun 2500SM. Inilah suku-suku bangsa Arab yang berhijrah dari Jazirah Arabiyah. Kemudian datang kelompok lain, kurang lebih pada tahu 1200SM, yang kemudian dikenal dengan Kabilah Falestin. Menempati wilayah antara Ghaza dan Yafa. Hingga akhirnya nama ini menjadi sebutan bagi seluruh wilayah tersebut. dan ketiga suku ini terus mendiaminya. 
Secara historis, telah jelas Bani Israil bukanlah bangsa yang pertama menempati Palestina.

Daerah itu, sudah dihuni oleh suku-suku Arab sejak beribu-ribu tahun lamanya, sebelum kedatangan Bani Israil. Bahkan keberadaan suku Arab tersebut terus berlangsung sampai sekarang.

Adapun Bani Israil, pertama kalia masuk Palestina, yaitu saat bersama Yusya bin Nun, setelah wafatnya Nabi Musa Alaihissalam. Sebelumnya mereka dalam kebingungan, terusir, tak memiliki tempat tinggal, karena melakukan pembangkangan terhadap perintah Allah

Dikisahkan dalam Al-Qur’an.

“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya :”Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain. Hai kaumku, masuklah ke tanah suci yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena kamu takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi” [Al-Maidah : 20-21]

Akan tetapi, mereka adalah bangsa pengecut yang dihinggapi rasa takut Sikap pengecut ini terlihat jelas dari jawaban mereka terhadap ajakan Nabi Musa.

Kelanjutan ayat di atas menyebutkan.

“Mereka berkata :”Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka keluar daripadanya, pasti kami akan memasukinya”.

“Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya : “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya, nisacaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.

“Mereka berkata : “Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinyua selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabb-mu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja”.

“Berkata Musa : “Ya Rabb-ku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu, pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu”.

“Allah berfirman : “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu” [Al-Maidah : 22-26]

Dengan terusirnya dari tanah yang diberkahi ini, bagaimana mungkin mereka mengaku memiliki hak atas tanah ini? Sementara itu, pengembaraan ke berbagai penjuru bumi, karena terusir di mana-mana menimbulkan konsekwensi bagi mereka berinteraksi, dan beranak-pinak dengan bangsa lainnya. Sehingga terpuituslah nasab mereka dengan nenek moyangnya.

Jelaslah, generasi Yahudi pada masa sekarang ini bukan keturunan Bani Israil sebagaimana yang mereka katakan. Meski demikian, mereka berupaya keras menyebarluaskan klaim palsu ini, bahwa mereka keturunan orang-orang Bani Israil generasi pertama yang menghuni Palestina dahulu. Tujuan propaganda ini, agar kaum Nashara menilai mereka sebagai keturunan Nabi Ya’qub. Sehingga muncul opini, bahwa merekalah yang dimaksud oleh janji sebagaimana tersebut dalam Pejanjian Lama. Dengan ini mereka berharap Nashara merasa memiliki ikatan emosional, dan kemudian membela mereka. Sebab Nashara mengagungkan Taurat (Perjanjian Lama) dan menganggapnya sebagai wahyu dari Allah.

Akan tetapi, fakta menujukkan, jika klaim mereka dalah dusta. Mereka mengaku akar keturunannya masih murni, bersambung sampai ke Israil (Ya’qub). Padahal, mereka sendiri telah mengakui, banyak di antara orang-orang Yahudi yang menikahi wanita Yahudi. Demikian juga, kaum wanitanya pun menikah dengan lelaki non Yahudi.

Sebagai contoh bukti lainnya, sebuah suku yang besar di Rusia , Khazar telah memeluk Yahudi pada abad ke-8 Masehi. Kerajaan ini begitu kuatnya. Kemudian mengalami kehancuran total setelah diserang Rusia. Sejak abad ke -13 Masehi, wilayah ini terhapus dari peta Eropa. Penduduknya bercerai berai di Eropa Barat dan Timur. Ini merupakan salah satu indikasi yang jelas, bahwa mereka tidak mempunyai ikatan dengan Ya’qub dan keturunannya.

Kalaupun mereka tetap bersikeras mengaku sebagai keturunan Ya’qub, akan tetapi sebagai kaum Muslimin, kita tidak merubah sikap, selama mereka memusuhi kaum Muslimin. Sebab, nasab tidak ada artinya, bila masih berkutat dalam kekufuran. [12]

YAHUDI BUKAN KETURUNAN IBRAHIM

Pengakuan mereka sebagai keturunan Ibrahim Alaihissalam, merupakan klaim yang batil, ditinjau dari beberapa aspek berikut.

[1]. Batilnya klaim mereka sebagai keturunan Bani Israil, secara jelas Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan di dalam Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nashrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nashrani. Katakanlah : “Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya”, Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan” [Al-Baqarah : 140]

[2]. Kitab suci mereka tidak lagi orsinil dan sudah terjadi perubahan. Mereka telah melakukan perbuatan tercela terhadap kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi Bani Israil, dengan melakukan tahrif (mengubah), memalsukan dan memanipulasi. Al-Qur’an telah mengabadikan perbuatan mereka tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya. Kami kutuk mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membantu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya …..”[Al-Maidah : 13]

[3]. Klaim kepemilikan tanah yang penuh berkah ini oleh Yahudi, berkaitan dengan janji Allah kepada Ibrahim, hakikatnya janji tersebut telah diwujudkan yaitu saat pertama kali Ibrahim Alaihissalam menginjakkan kaki di wilayah suku Kan’an.

Sekilas, mengacu kepada kitab mereka yang kini disebut Kitab Perjanjian Lama, kita akan mengetahui, jika janji Allah tersebut menjadi hak Isma’il, nenek moyang bangsa Arab dan kaum Muslimin. Pada waktu itu Nabi Ibrahim Alaihissalam belum dikaruniai anak (Kejadian : 12/7). Kemudian janji ini terulang kembali saat beliau kembali ke Mesir (Kejadian : 13/15). Janji ini pun terulang kembali bagi Ibrahim, tetapi beliau belum dikaruniai anak (15/18). Berikutnya, janji itu pun terulang lagi, saat Ibrahim dikaruniai anaknya, yaitu Ismail (Kejadian : 17/8). Sedangkan putra kedua Ibrahim Alaihissalam, yaitu Ishaq, pada saat janji itu ditetapkan ia belum dilahirkan.

[4]. Kalaupun mereka menyanggah, bahwa janji Allah tentang kepemilikan tanah Palestina merupakan warisan dan hunian abadi bagi mereka, yang menurut mereka didukung oleh Al-Qur’an –surat Al-Maidah : 21 : “Hai kaumku, masuklah ke tanah suci yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena kamu takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi”. Maka jawabnya adalah.

Ungkapan janji yang ada dalam ayat tersebut tidak berbentuk abadi, tetapi khusus bagi zaman yang mereka dijanjikan mendapatkannya, sebagai balasan atas sambutan mereka kepada perintah-perintah Allah dan kesabaran mereka. Sedangkan orang-orang Yahudi pada masa ini, mereka bukan Bani Israil –sebagaimana sudah dipaparkan-. Dan ayat ini tidak menyangkut yang bukan Bani Israil, meski kaum Yahudi pada saat ini mayoritas. Sungguh, kebenaran dalam masalah ini yang menjadi pegangan jumhur ulama tafsir

Balasan keimanan dan keistimewaan yang mereka raih atas umat zaman mereka ini merupakan ketetapan Allah bagi hamba-hambaNya. Allah berfirman.

“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai oleh hamba-hambaKu yang shalih”. [Al-Anbiya : 105]

Begitu juga setelah mereka menyimpang dari agama Allah dan melakukan kerusakan di bumi, maka Bani Israil tidak lagi memiliki hak dengan janji tersebut. Justru balasan bagi mereka, sebagaimana terkandung dalam ayat, yaitu mereka mendapat laknat, kemurkaan dan hukuman dari Allah. Mereka tercerai berai di bumi, dikuasai oleh orang-orang yang menimpakan siksaan kepada mereka sampai hari Kiamat, dirundung kehinaan dimanapun mereka berada. Ini semua sebagai hukuman atas kekufuran mereka terhadap ayat-ayat Allah.

Sebuah fakta yang ironis. Ketika Allah memerintahkan Bani Israil untuk memasuki tanah yang dijanjikan, ternyata mereka enggan dan membangkang. Maka Allah menghalangi mereka darinya. Tatkala mereka menyambut perintah, maka Allah memberikannya kepada mereka.

Oleh karena itu, Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Yang Allah janjikan kepada kalian melalui lisan ayah kalian, Israil ia mewariskannya kepada orang yang beriman dari kalian” [13]

Berdasarkan ini, tanah tersebut milik mereka ketika mereka beriman. Tetapi, karena mereka kufur kepada Allah dan para Nabi-Nya, dan Allah telah menetapkan murka dan laknatNya kepada mereka, maka mereka sama sekali tidak mempunyai hak atas tanah suci itu.

[5]. Bisa juga bisa dikatakan, janji itu sudah terwujud pada masa Nabi Musa, yaitu tatkala Bani Israil memasuki tanah suci dengan dipimpin oleh Nabi Yusya bin Nun, kemudian menempatinya pada masa Nabi Dawud dan Sulaiman. Sebuah masa ketika Allah menganugerahkan kepada mereka keutamaan atas manusia seluruhnya. Namun, ketika mereka kufur kepada Allah dan melakukan kerusakan di bumi, maka kemurkaan Allah pun berlaku pada mereka, dan terjadilah bencana menimpa mereka.

[6]. Janji Allah memiliki syarat, yaitu iman dan amalan shalih, sebagaimana juga termuat dalam Taurat. Sedangkan mereka telah berbuat kufur dan murtad, beribadah kepada selain Allah. Oleh karena itu, musibah, bencana dan kemurkaan dari Allah ditimpakan kepada mereka. Dan semua ini termuat dalam kitab-kitab suci mereka. Bahkan dalam kitab mereka, terdapat keterangan yang melarang memasuki Baitul Maqdis, lantaran kekufuran, kesesatan dan kemaksiatan mereka.

Dengan pengingkaran ini, maka janji tersebut tidak terwujudkan. Sebaiknya, siksa dan bencanalah yang mereka dapatkan. Bumi ini milik Allah, diwariskan kepada hamba-hambaNya yang menegakkan agama dan mengikuti ajaran-ajaranNya, bukan diwariskan kepada orang-orang yang melakukan kerusakan di bumi. Allah berfirman.

“Musa berkata kepada kaumnya : “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah ; dipusakakanNya kepada siapa saja yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa” [Al-A’raf : 128]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” [An-Nur : 55]

Menjelaskan ayat ini Ibnu Katsir berkata.

Ini janji dari Allah bagi RasulNya, akan menjadikan umatnya sebagai pewaris bumi. Maksudnya, tokoh-tokoh panutan dan penguasa mereka. Negeri-negeri menjadi baik dengan mereka, dan orang-orang tunduk kepada mereka… Allah Subhanahu wa Ta’la telah mewujudkannya walillahilhamdu walminnah. Nabi tidaklah wafat, melainkan Allah telah membuka penaklukkan Mekah, Khaibar, seluruh Jazirah Arab, wilayah Yaman seluruhnya. Memberlakukan jizyah kepada Majusi dari daerah Hajr, dan sebagian wilayah Syam

Kemudian, ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Abu Bakar mengirimkan pasukan Islam ke Persia di bawah komando Khalid bin Al-Walid dan berhasil menaklukkan sebagian wilayahnya. Juga mengirim pasukan lain pimpinan Abu Ubaidah menuju Syam.

Allah juga memberikan karunia kepada kaum Muslimin. Yaitu mengilhamkan kepada Abu Bakar untuk memilih Umar Al-Faruq untuk menggantikan kedudukannya. Dan Umar pun melaksanakan amanah ini dengan sebaik-baiknya. Pada masa kekuasannya, seluruh wilayah Syam berhasil dikuasai. [14]

Kaum Muslimin, mereka itulah yang dimaksud dengan ayat-ayat tersebut. Bila membenarkan janji yang mereka ikat dengan Allah, kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, berpegang teguh dengan Islam secara sempurna, baik individu, keluarga, masyarakat atau negara, maka sungguh janji Allah benar adanya. Dan siapakah yang berhak atas tanah yang penuh berkah itu? Tidak lain adaka kaum Muslimin.
Maraji.

– Dirasatun Fil Ad-yan Al-Yahudiyah wan Nashraniyah, Dr Su’ud bin Abdil Aziz Al-Khalaf, Penerbit Adhwa-us Salaf, Cetakan I, Th 1422H/2003M
– Mujaz Tarikhil Yahudi war-Raddi Ala Ba’dhi Maza’imil Bathilah, Dr Mahmud bin Abdir Rahman Qadah, Majalah Jami’ah Islamiyah, Edisi 107, Th 29, 1418-1419H
– Shahih Qashashil Anbiya, karya Ibnu Katsir, Abu Usamah Salim bin Id Al-Hilali, Maktabah Al-Furqan, Cetakan I Th, 1422H
– Tafsir Al-Qur’anil Azhim, Abu Fida Ismail Ibnu Umar Ibnu Katsir, Darul Kutub Al-Ilmiyah, Cetakan II, Th.1422H
[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi Khusus 07-08/Tahun X/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]
_________
Footnotes
[1]. Barakatu Ardhisy-Syam, Dr Abu Anas Muhammad bin Musa Alu Nashr, Majalah Manarusy-Syam, edisi Jumadal Ula 1425H.
[2]. Lihat Surat Yusuf ayat 100
[3]. Kisah tersebut termuat dalam Surat Yusuf.
[4]. Lihat Surat Al-A’raaf ayat 133
[5]. Lihat Surat Asy-Syu’ara ayat 52-66
[6]. Dari Ibnu Abbas, ia berkata : “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, saat kaum Yahudi berpuasa hari Asyura. Beliau bersabda. Hari apakah ini yang kalian berpuasa padanya? Mereka menjawab : Ini hari kemenangan Musa atas Fir’aun. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat : Kalian lebih pantas menghormati Musa daripada mereka, maka berpuasalah” [HR Al-Bukhari dan Muslim. Dinukil dari Shahih Qashashil Anbiyaa, halaman 310]
[7]. Dirasatun Fil Adyan Al-Yahudiyah wa Nashraniyah, halaman 49
[8]. Mujaz Tarikhil Yahudi, Majalah Al-Jami’ah Al-Islamiyah, halaman 248
[9]. Nabi Yusya bin Nun Alalihissalam dalah salah seorang dari Nabi yang diutus kepada Bani Israil. Dalil yang menunjukkan kenabiannya, yaitu hadits dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi bersabda : “Matahari tidak pernah tertunda perjalanannya karena seseorang, kecuali bagi Yusya bin Nun, (ketika) pada malam hari ia menuju Baitul Maqdis: [HR Ahmad 2/325].

Ibnu Katsir berkata : Sanadnya sesuai dengan syarat Al-Bukhari. Lihat Al-Bidayah, 1/333. Dan hadits ini dishahihkan oleh Al-Hafizh dalam Al-Fath, 2/221. Di tempat lain, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda : Ada seorang nabi dari kalangan para nabi yang berperang, (ia) berkata kepada kaumnya … kemudian ia berkata kepada matahari, ‘Sesungguhnya engkau diperintah, dan aku pun juga diperintah, Ya Allah, hentikanlah ia, maka matahari itu pun berhenti, sampai akhirnya Allah membuka kota tersebut lantaran mereka” [HR Al-Bukhari, Lihat Al-Fath 6/220]

[10]. Dirasatun Fil Adyan, halaman 53
[11]. Lihat surat Al-A’raaf ayat 167
[12] Dirasatun Fil Ad-yan, halaman 66-67
[13]. Tafsir Al-Qur’anil Azhim, 3/75
[14]. Tafsir Al-Qur’anil Azhim, 3/304 secara ringkas

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Lengkapnya Klik DISINI

Militer Khalifah Utsmaniyah Di Pasukan Diponegoro

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

 
Oleh Ustadz Fahmi Suwaidi

Struktur Militer Utsmani dalam Laskar Diponegoro

Penjajahan Belanda di Nusantara selama 350 tahun tidaklah berlangsung dengan mulus tanpa perlawanan. Bangsa Muslim yang memiliki kehormatan dan harga diri ini tak henti-hentinya melawan. Jihad mempertahankan negeri dari serangan penjajah kafir adalah jalan hidup mereka semenjak dahulu kala. Tapi siapa sangka, ternyata pengaruh khilafah Utsmaniyah sangat besar di dalamnya.

Salah satu perlawanan terbesar yang sangat merepotkan Belanda adalah Perang Jawa (Java Oorlog) yang berlangsung dalam kurun 1825-1830. Perlawanan yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro ini berlangsung di sebagian Pulau Jawa. Medannya membentang dari Yogyakarta di pantai selatan hingga perbatasan Banyumas di barat dan Magelang di utara. Meski wilayah ini relatif kecil dalam ukuran zaman sekarang, kawasan ini adalah pusat kerajaan Jawa yang mulai digerogoti oleh kekuasaan Belanda.

Perlawanan ini berkobar lama dan berdarah, ratusan ribu korban jatuh, terutama dari pihak Muslim. Belanda sendiri kehilangan ribuan prajurit dan kasnya hampir kosong untuk membiayai perang. Belanda menghadapi musuh berat yang menentangnya bukan semata sebagai kekuatan penjajah yang merampas hak, namun sebagai kekuatan kafir yang membahayakan akidah Islam.

Perlawanan Pangeran Diponegoro disusun dengan struktur militer Turki. Nama berbagai kesatuannya merupakan adaptasi dari nama kesatuan militer Khilafah Utsmani. Panglima tertingginya adalah Sentot Ali Basah, adaptasi dari gelar Ali Pasha bagi jenderal militer Turki. Sementara unit-unitnya antara lain bernama Turkiyo, Bulkiyo dan Burjomuah menunjukkan pengaruh Turki. Bulkiyo adalah adaptasi lidah jawa bagi Bölük, struktur pasukan Turki dengan kekuatan setara resimen. Sementara jabatan komandannya adalah Bolukbashi.

Susunan militer khas Turki ini membedakan pasukan Diponegoro dengan pasukan Mangkunegaran Surakarta yang menggunakan struktur legiun (mengadopsi sistem Perancis). Juga berbeda dengan kesultanan Yogyakarta yang menggunakan struktur bregodo (brigade, mengadopsi sistem Belanda).

Kiriman Senjata

Tak hanya struktur militer ala Turki, Belanda bahkan mencurigai bahwa ada kiriman senjata dari Turki melalui pantai selatan Jawa. Karenanya pantai yang menghadap Samudera Hindia ini dijaga ketat. Deretan benteng kokoh dibangun Belanda menghadap lautan selatan. Sisanya antara lain masih bisa ditemukan di Cilacap, Jawa Tengah, dan Pangandaran, Jawa Barat. Penduduk lokal kini menyebutnya benteng pendhem (terpendam) karena sebagian strukturnya terpendam di bawah tanah.

Tak cukup dengan benteng berbentuk tembok fisik, benteng mitos agaknya juga dibangun oleh Belanda. Termasuk dengan menanamkan mitos tentang keramatnya pantai selatan. Belakangan muncullah mitos tentang Ratu Kidul yang hingga kini masih disembah dengan berbagai ritual oleh keraton maupun penduduk pesisir selatan.

Mitos tentang pantai selatan itu membuat penduduk lokal selalu dibayang-bayangi ketakutan pada kemurkaan Ratu Kidul. Mereka takut dan enggan mengeksplorasi potensinya. Termasuk potensinya sebagai gerbang hubungan internasional dengan dunia luar. Inilah yang diharapkan Belanda, perjuangan Muslim di Nusantara terisolir dari dunia Islam.

Dugaan penciptaan mitos oleh Belanda ini tidak berlebihan. Di antara program yang intens dilakukan oleh Belanda melalui sisi budaya adalah nativikasi. Upaya mengembalikan penduduk Muslim di Nusantara pada kepercayaan dan agama “asli” atau lokal. Program inilah yang mendorong Belanda tak segan mengeluarkan dana besar untuk mengkaji naskah-naskah kuno yang kini kebanyakan tersimpan di Leiden.

Hasil riset itu kemudian diwujudkan dalam tulisan-tulisan dan kitab-kitab yang kerap menjadi pegangan kelompok Kejawen seperti Darmogandhul dan Gathuloco. Isinya mengagungkan kehidupan Jawa pra-Islam, melecehkan syariat Islam dan mempromosikan teologi Kristen secara tersamar. Meski dianggap kitab kuno, penelitian sejarawan Muslim seperti Susiyanto dari Pusat Studi Peradaban Islam menunjukkan bahwa kitab-kitab itu dikarang pada era Belanda dan memuat ajaran teologi Kristen.


Sisa Laskar Diponegoro

Setelah Perang Diponegoro berakhir dengan kemenangan Belanda, pesisir selatan masih menjadi basis pasukan Diponegoro. Sisa-sisa laskarnya menyebar di pesisir selatan Kebumen dan Purworejo. Mereka biasa menyerang kepentingan Belanda di sekitar kota.

Oleh Belanda gerakan sisa laskar Diponegoro itu disebut sebagai para kecu (perampok yang bergerak siang hari) dan rampok (biasanya bergerak malam hari) yang terkenal di kawasan itu. Bisa jadi perkecuan dan perampokan itu dilandasi semangat terus berjihad melawan Belanda serta merampas ghanimah dan fa’i dari musuhnya. Wallahu a’lam. (eramuslim.com)
Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......