Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==
Tampilkan postingan dengan label Fiqhud Da'wah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiqhud Da'wah. Tampilkan semua postingan

Islam itu Satu, Jangan Bertikai Hanya Karena Berbeda Mazhab

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya dan memberikan yang terbaik...

 islam satu
Islam itu satu, jangan dibeda-bedakan. Jika ada perkara kita lakukan tak sama, bukan berarti kita beda, selama memiliki dalil shahih.

Contohnya Qunut. Qunut subuh dan bila tidak melakukannya harus sujud sahwi adalah pendapat mazhab Syafi’i.

Subuh tidak perlu berqunut adalah pendapat mazhab Hanafi, pendapat tersebut juga didukung dengan banyak hujjah.

Imam mengeraskan bacaan Basmalah saat Shalat, ataupun tidak mengeraskan bacaan Basmalah juga sama2 didukung hujjah yg kuat.

Adzan 2 kali saat shalat jumat ataupun adzan 1 kali juga sama-sama didukung hujjah yg kuat.
Dan masih banyak masalah fiqh lainnya banyak terjadi perbedaan yg masing-masing memiliki hujjah yg kuat.
Untuk itu tidak perlu kita berselisih faham hanya gara-gara masalah furu’ sedemikian. Ukhuwwah Islamiyyah haruslah menjadi fokus utama.

KH Abdullah Syafi’i pernah mengimami shalat subuh tanpa qunut saat dibelakang beliau bermakmum Buya Hamka yg biasa tak berqunut.

Buya Hamka pernah mengimami shalat subuh dengan qunut saat dibelakang beliau bermakmum KH Abdullah Syafi’i yg biasa berqunut.

Tak pernah KH Abdullah Syafi’i menyebut Buya Hamka sebagai Wahabi. Tak pernah Buya Hamka menyebut KH Abdullah Syafi’i ahlul bid’ah.

KH Rahmat Abdullah murid KH Abdullah Syafi’i, pernah mengajarkan Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam halaqah-halaqah.

KH Rahmat Abdullah juga mengajarkan Kitab Al-Hikam karya Imam Ibnu Athoillah As-Sakandary yang biasa jadi rujukan para sufi.

Di tanah Betawi yang tak seberapa luas Buya Hamka dan KH Abdullah Syafi’i sama-sama mengembangkan dakwahnya dengan baik tanpa bergesekan.

Mengapa? Karena mereka sama-sama mencari jalan menuju syurga yg luasnya tak berhingga.
Itulah suluk para ulama, mereka betul-betul menghormati ulama lainnya dengan penuh kecintaan walau mungkin diantara mereka ada beberapa perbedaan.

Dan demikian pula seharusnya kita menghormati para ulama dan kelompok-kelompok Islam manapun yg berjuang menegakkan Islam.

Disarikan dari kultwit #IslamSatu @TanpaJIL

Lengkapnya Klik DISINI

Siyasatud Da’wah

hilmi-aminuddin
Ust. Hilmi Aminudin
Bila kita berkecimpung dalam dunia dakwah, maka memahami siyasatud da’wah merupakan tuntutan yang tak dapat dihindarkan. Banyak da’i yang aktif dalam dakwah tetapi sama sekali tidak memahami siyasatud da’wah. Ia bak pita rekaman yang diputar disana sini berjalan tanpa program dan perencanaan. Da’i seperti ini biasanya hanya menjadi bulan-bulanan orang-orang yang punya program, terutama dari kalangan musuh Islam.

Siyasatud da’wah sangat erat kaitannya dengan minhaj da’wah sebagaimana siasatusy-syar’i erat hubungannya dengan minhajusy-syar’i, karenanya dalam suatu gerakan dakwah yang berjalan tanpa minhaj, mustahil ditemukan siyasatud da’wah ini. Hanya para du’at yang berkecimpung dalam jihad minhaji saja yang bisa memahami siyasatud da’wah.

Mendengarkan kata “siyasah” orang mungkin berfikir ini merupakan ilmu politik, sebenarnya tidak demikian. Siasat disini lebih merujuk pada aktifitas politik praktis dakwah dan bukan pada ilmu politik. Islam memiliki pola politik sendiri yang khas dan berlaku pada suatu masyarakat Islam. Siasat dakwah mencakup aktivitas dakwah yang dilakukan oleh praktisi dakwah. Dia menjadi kegiatan utama bagi para personil struktural dan fungsional dakwah. Dengan demikian ruang lingkup siyasatud da’wah adalah “pengendalian da’wah dan problematika-prolematika da’wah”.

Kefahaman terhadap siyasatud da’wah sangat bermanfaat untuk menyusun program dan perencanaan baik bagi individu da’i maupun jama’ah harakah Islam. Dengan kefahaman ini, aktifitas internal maupun eksternal suatu jama’ah akan terarah dan terkontrol. Sasaran utama siyasatud da’wah adalah terbentuknya isti’ab jama’i (kemampuan beramal jama’i) yang tinggi, peningkatan amal jama’i secara kualitas maupun kuantitas sangat berguna untuk menertibkan maratib tanzhim da’wah (stelsel struktural) yang solid dan kuat.

Pengertian Siyasatud Da’wah

Kata siasat sebenarnya sudah cukup mengakar dalam bahasa Indonesia. Dalam kamus bahasa arab berasal dari kata “sasa-yasusu-siyasatan”, artinya “mengendalikan” arti siyasah adalah pengendalian. Sais dalam bahasa kita berarti kusir delman, pekerjaannya mengendalikan kuda. Kata siyasah juga telah biasa diartikan dalam bahasa indonesia sebagai politik. Agar tidak mengurangi makna, dalam pengkajian ini biarlah kita sebut siasat saja.

Dakwah sebagaimana kita kenal adalah upaya mengajak manusia kejalan Allah, dilakukan dengan hikmah dan bijaksana. Sehingga mereka (manusia yang di dakwahi) itu keluar dari kejahiliyahan menuju cahaya Islam. Maka siyasatud da’wah adalah “Suatu upaya optimal mendayagunakan semua sumber potensi dakwah atas dasar prinsip-prinsip yang jelas untuk mencapai tujuan tinggi dengan merealisir sasaran-sasaran yang telah ditentukan.”

Siyasatud dakwah merupakan istighlalul amtsal yaitu usaha yang sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin, baik kualitas maupun kuantitas, untuk mengarahkan semua sumber daya dakwah yang dimiliki gerakan Islam. Bukan hanya yang berbentuk materi, tetapi seluruh yang ada dalam ruang lingkup dakwah. Dalam hal ini termasuk situasi kondisi, pribadi -pribadi , serta lembaga – lembaga baik yang dimiliki umat Islam maupun musuh-musuhnya. Setiap du’at harus pandai melakukan intifa (pemanfaatan) potensi, baik yang ada pada umat Islam maupun lawan-lawan Islam dalam perjuangan dakwah Rasulullah SAW juga melakukan beberapa pemanfaatan ini, sebagai contoh:
  1. Tatkala Rasulullah berada di Mekkah paman beliau yang disegani masyarakat Quraisy selalu membela. padahal Abu Thalib masih kufur. Perlindungan Abu Thalib tidak diminta oleh Rasulullah, tetapi di pergunakan sebesar-besarnya untuk Islam.
  2. Tatkala Rasulullah hijrah bersama Abubakar, beliau dikejar-kejar oleh Saraqah bin Malik yang mengharapkan hadiah besar dari para penguasa Quraisy untuk membunuh Nabi, berulangkali kuda Suraqah berhasil berada di belakang unta Nabi tetapi setiap akan mendekat selalu kuda itu jatuh berlutut, akhirnya Suraqah menyerah. Ia sangat takut pada Nabi dan Abu Bakar, karena takutnya, ia malah minta surat jaminan perlindungan pada nabi agar tidak dibunuh, Nabi bersedia asalkan Suraqah bersedia balik ke Makkah kembali dan mengatakan pada para pengejar yang lain bahwa Nabi dan Abu Bakar tidak berada di jalan itu. Maka pulanglah Suraqah dengan membawa pesan Nabi itu.
Dua peristiwa itu menunjukan upaya Nabi memanfaatkan orang-orang kafir. Berdasarkan pola Nabi SAW diatas, harus diingat beberapa unsur :
  1. Pemanfaatan itu untuk maju dan berkembangnya dakwah bukan untuk kepentingan priibadi.
  2. Pemanfaatan tersebut tidak dengan menjual kebenaran kepada orang-orang kafir tersebut. Harga dakwah harus tetap tinggi tidak boleh rendah.
  3. Memberikan jaminan atau perlindungan bagi kafir-pun boleh asalkan diminta dengan imbalan selamatnya dakwah dan penggerakan Islam.
  4. Tidak mengandalkan dan mengkalkulasikan pertolongan Allah yang menyalahi sunatullah yang berlaku. Seperri jatuhnya kuda Suraqah merupakan pertolongan Allah yang ghaib. Ini tidak boleh di perhitungkan sebagai suatu andalan kekuatan. Dengan demikian, nyatalah siyasatud dakwah harus berdiri sendiri di atas prinsip yang jelas dalam arti tidak melanggar aqidah, fikrah, minhaj, dan akhlak Islam.
Hubungan Siyasatud Da’wah Dengan Mabadi Islamiyah

Adanya siasat tidak berarti kita boleh melarutkan diri dalam kancah politik tanpa disiplin harakah. Sesungguhnya dienul Islam tidak bisa melepaskan diri dari prinsip-prinsip dasar (mabadi) yang menjadi tonggaknya. Bila ada upaya melepas dien, berarti telah melakukan kekeliruan yang fatal. Adanya banyak da’i yang larut dalam kancah jahiliyah dengan alasan siyasatud da’wah. Mereka berupaya untuk meng-Islamisasi struktur, namun ternyata jatuh dilembah kenistaan, menjual ayat-ayat Allah dengan harga dunia yang murah dan sedikit. Ini tidak lain karena da’i tersebut tidak memiliki kekokohan mabadi al-Islamiyah.

Seorang da’i harus bebas dari vested interest dan motivasi-motivasi diluar mardhatillah. Islam selalu memotivasi ummatnya untuk menjadikan ridha Allah sebagai tujuan hidupnya. Siyasatud da’wah-pun tidak boleh lepas dari tujuan li’illaa’i kalimatillah, untuk mengangkat/meninggikan kalimat Allah.
Dalam mendefinisikan fi sabilillah Rasulullah bersabda:

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِىَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ

“Barang siapa berperang agar kalimat Allah tetap tinggi itulah yang fi sabilillah” – HR Bukhari-Muslim.

Dalam siyasatud da’wah, tujuan merupakan faktor yang sangat esensial. Mardhatillah adalah satu-satunya tujuan tiada perubahan dan pergantian. Bila tujuan ini menyimpang, maka semua perencanaan tiada artinya. Untuk mencapai tujuan yang mulia itu, ditentukanlah sasaran-sasaran yang berdasarkan ijtihad amal jama’i. Langkah-langkah yang digariskan disini berarti fleksibel, dapat berubah sesuai kebutuhan. Sasaran-sasaran siyasatud da’wah merupakan sarana mencapai tujuan (ghoyah). sumber

*Inspirasi Rabbani
Lengkapnya Klik DISINI

Diantara Fiqih Da'wah Ibnu Taimiyyah | Panduan Da'wah di Masyarakat

Pergaulan di tengah masyarakat memerlukan ilmu agama (al-fiqhu fid-din), baik terkait fiqhul ahkam, maupun fiqhud-da’wah.

Secara sederhana, yang dimaksud fiqih ahkam adalah pemahaman terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah dan juga sumber-sumber mu’tabar lainnya, demi mendapatkan kejelasan tentang hukum sesuatu, adakah dia wajib, sunnat, mubah, makruh ataukah haram.

Sedangkan fiqih da’wah, secara gampang, maksudnya adalah mengambil pilihan-pilihan fiqih ahkam yang mana yang cocok untuk masyarakat yang dida’wahinya.

Sebagai contoh, seorang aktifis da’wah sering dibingungkan oleh pilihan yang mana yang tepat dalam hal, mengeraskan bacaan bismillah-nya Al-Fatihah atau membacanya secara pelan, saat dia “dipaksa” atau terpaksa, atau kejadian mesti menjadi imam shalat berjamaah.

Atau, manakah yang harus dipilih oleh seorang aktifis da’wah saat ia mengimami shalat shubuh, harus qunut-kah dia, ataukah ia tidak usah qunut. Hal yang sama juga bisa terjadi saat ia mengimami shalat witir berjama’ah di bulan Ramadhan.

Atau saat sang aktifis da’wah berhadapan dengan situasi dan kondisi semacam dua kondisi di atas.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah- (661 – 726 H = 1263 – 1328 M) telah membahas masalah seperti ini didalam Majmu’ Fatawa-nya (XXII/344) yang ringkasan (khulashah)-nya adalah sebagai berikut:

1. Dibenarkan bagi seseorang untuk ber-qunut atau tidak ber-qunut demi ta’liful qulub (mengambil hati jama’ah dan menjaga persatuan serta kesatuan kaum muslimin).
2. Dibenarkan juga ia mengambil pilihan yang berseberangan dengan kebiasaan masyarakat dan jama’ahnya, demi menegakkan dan mengajarkan as-sunnah (ajaran Rasulullah SAW). Namun, pilihan ini dibenarkan untuk dilakukan, jika:

a. Sang aktifis dakwah telah mengukur dan menimbang sikap yang mungkin muncul dari jama’ah dan masyarakatnya.

b. Sang aktifis telah melakukan tahyiah nafsiyah atau pengkondisian psikologis jama’ah dan masyarakatnya.

c. Sang aktifis telah lama membangun upaya ta’liful qulub terhadap jama’ah dan masyarakatnya.

d. Sang aktifis telah melakukan berbagai macam muqaddimat (pembukaan-pembukaan) yang dapat diterima oleh jama’ah dan masyarakatnya.

Fiqih da’wah seperti ini beliau dasarkan pada prinsip: al-mafdhul qad yashiru fadhilan limashlahatin rajihatin. Maksudnya, suatu amal yang menurut kajian disimpulkan sebagai amal yang tingkat keutamaannya lebih rendah (mafdhul), bisa berubah menjadi tingkat lebih tinggi (fadhil) karena adanya kemaslahatan yang menjadikannya unggul.

Kata beliau (Ibnu Taimiyyah): “Kalau sesuatu itu pada asalnya haram, bisa berubah menjadi wajib karena adanya mashlahat rajihah (pertimbangan kemaslahatan yang mengunggulkannya), atau karena alasan untuk menolak madharat yang lebih besar, apatah lagi kalau urusannya “hanyalah” urusan mafdhul dan fadhil, tentu perubahan dalam yang terakhir ini, jika ada mashlahat rajihah, lebih berhak untuk terjadi.

Hal ini mirip-mirip dengan perbandingan antara membaca Al-Qur’an, berdzikir dan berdo’a di satu sisi, dengan shalat di sisi yang lain.

Jika dua bentuk ibadah ini diperbandingkan, secara umum, jelas shalat lebih afdhal daripada membaca Al-Qur’an, berdzikir dan berdo’a.

Namun, saat seseorang sedang berada di masya’ir al-haram (Arafah, Muzdalifah, Mina, Shafa dan Marwa), maka berdo’a di tempat-tempat ini lebih afdhal daripada shalat dan membaca Al-Qur’an.

Juga, kalau harus memperbandingkan antara membaca Al-Qur’an dan membaca tasbih, secara umum, jelas, membaca Al-Qur’an lebih afdhal daripada bertasbih, namun, saat seseorang sedang ruku’ atau sujud, maka ia dilarang membaca Al-Qur’an.

Logika fiqih da’wah inilah yang mendasari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (164 – 241 H = 780 – 855 M) mengeluarkan fatwa kepada murid-muridnya agar saat mereka berada di Madinah al-Munawwarah, para muridnya, kalau mengimami shalat, agar tidak men-jahar-kan (melantangkan) bacaan bismillah, sebab, di zamannya, penduduk Madinah banyak yang mengikuti madzhab Maliki, di mana dalam madzhab Maliki, seorang Imam tidak membaca bismillah.

Contoh kasus lain yang disebut oleh Ibn Taimiyyah diantaranya:

1. Shalat qabliyah Jum’at
Ibnu Taimiyyah berkata (XXIV/194): “Jika seseorang berada di tengah suatu kaum yang melaksanakan shalat sunnat qabliyah Jum’at, jika ia adalah seseorang yang ditaati dan dituruti jika meninggalkannya, dan ia dapat memberi penjelasan kepada mereka tentang sunnah Rasulullah SAW yang sebenarnya tanpa mendapatkan pengingkaran dari mereka, bahkan justru mereka akan mengerti mana yang merupakan sunnah Rasulullah SAW, maka sebaiknya ia tidak melaksanakan shalat qabliyah Jum’at, namun, jika ia bukanlah seorang yang ditaati dan dituruti oleh mereka, dan ia berpandangan bahwa dengan melaksanakan shalat qabliyah Jum’at ia akan dapat men-ta’lif hati mereka kepada hal yang jauh lebih bermanfaat, atau dengan melaksanakan shalat qabliyah Jum’at itu ia dapat menghindari permusuhan dan keburukan-keburukan lainnya, sebab memang ia tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan kebenaran kepada mereka, atau agar mereka bisa dapat menerimanya, atau semacam itu, maka melakukan shalat qabliyah Jum’at baginya juga baik”.

2. Shalat Witir antara 2+1 dan 3 rakaat sekaligus
Ibnu Taimiyyah berkata: “Karena inilah para Imam; Ahmad dan lainnya, mengatakan bahwa sunnat hukumnya bagi seorang imam meninggalkan sesuatu yang afdhal menurutnya jika hal itu memberi dampak ta’liful qulub terhadap makmum. Contohnya adalah masalah shalat witir antara tiga rakaat langsung dengan dua rakaat salam lalu tambah satu rakaat. Jika menurut seorang Imam bahwa yang afdhal adalah 2 + 1, namun makmum menghendaki tiga rakaat langsung, jika sang imam ini tidak mampu melaksanakan yang afdhal menurut dirinya, maka hendaklah ia melaksanakan shalat witir tiga rakaat secara langsung”.

_____
*Bacaan sumber:

1. Tazahumul ahkam asy-syar’iyyah fid-da’wah ‘inda Syaikhil Islam Ibn Taimiyyah, tulisan Abu Bakar Al-Baghdadi, Majallah Al-Hikmah, (Leeds: Britain, tahun 1412 H), vol. VII, hal. 63 – 64.

2. Ibnu Taimiyyah, Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah bitahqiq Abdirrahman bin Muhammad bin Qasim, (Madinah: KSA, 1416 H/1995M), vol. 22, hal. 344 – 345.

Oleh Musyaffa AR
Lengkapnya Klik DISINI

Sikap Da’i dalam Menghadapi Fitnah dan Ujian

 Sikap Da’i dalam Menghadapi Fitnah dan Ujian
Kehidupan seorang da’i sarat dengan ujian dan fitnah karena aktifitasnya sarat dengan aksi –aksi menyeru, mengajak kepada kebaikan dan memperbaiki kemunkaran. Aktifitas dakwah tersebut akan menyebabkan pihak tertentu (ahlul bathil) terganggu dan merasa dirugikan.

Kehidupan seorang da’i sarat dengan ujian dan fitnah karena itu sunnatu dakwah yang akan menjadi realitas berulang, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam beberapa ayat al-Qur’an:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, lalu kemudian mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui orang-orang yang dusta.”(QS Al Ankabut: 2-3)

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, bahwa pertolongan Allah itu Amat dekat.”(QS Al Baqarah: 214)

Fitnah dan ujian itu bisa menguatkan keimanan seseorang dan bisa juga menjerumuskan dan menyebabkannya futur dalam dakwah ini. Oleh karena itu, dibutuhkan penjelasan tentang sikap dan kiat–kiat da’i dalam mengahadapi fitnah, agar setiap da’i bisa menyikapinya dengan tepat dan tegar, dan lulus dalam melewati setiap fitnah dan ujian.

Ada sembilan sikap seorang da’i ketika diuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan fitnah, kesembilan penyikapan tersebut adalah:

Pertama, Muhasabah
Sikap pertama yang harus dilakukan adalah bermuhasabah, berintrospeksi diri atas apa yang telah dilakukan. Bermuhasabah adalah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firmanNya:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Karenanya bermuhasabah adalah tradisi para sahabat dan generasi setelahnya, karena dengan bermuhasabah, setiap kekhilafan bisa diketahui dan diperbaiki sejak dini.

Sebagaimana taujih Umar bin Al Khathab Radhiyallahu ‘Anhu, “Evaluasi dirimu sebelum engkau dievaluasi.”

Kedua, Bertaubat
Langkah selanjutnya adalah bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. dengan sebenar-benarnya taubat (taubatan nashuha), sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS At-Tahrim: 8)
Bertaubat itu memiliki rukun dan prasyaratnya agar taubatnya diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. yaitu sebagai berikut:

A. Yang berkenaan dengan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala:
Bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berarti menunaikan hal-hal berikut:
  1. Menyesali dosa yang telah dilakukannya. Seorang muslim harus merasa bersalah dengan dosa yang dilakukannya, oleh karena itu ia harus menyesali perbuatannya tersebut.
  2. Berkomitmen untuk tidak mengulangi lagi kesalahannya.
  3. Memperbaiki diri dengan memperbanyak amal-amal sholeh.
B. Hak-hak manusia:
Bertaubat juga harus menunaikan hak-hak manusia, yaitu:
  1. Mengembalikan hak orang lain. Jika kesalahannya tersebut adalah merampas dan mengambil hak orang lain, maka ia harus mengembalikannya kepada si empunya.
  2. Melakukan tabayyun (cek & recek) atas setiap informasi yang diterimanya, agar terhindar dari sikap bersu‟udzan kepada orang lain.
Ketiga, Bersabar
Langkah selanjutnya adalah bersabar atas fitnah yang menimpa da’i, dengan berkeyakinan bahwa semua ini adalah ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. untuk mengetahui hamba-hamba pilihan-Nya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat-ayat al-Qur’an:
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS Ali Imran: 200)

Keempat, Taqarrub kepada allah Subhanahu wa Ta’ala
Setiap da’i harus senantiasa bertaqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. agar senantiasa dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala., karena sesungguhnya maksiat dilakukan karena jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bertaqarrub yang dimaksud adalah dua hal:
  1. Berkomitmen menunaikan kewajiban (fara‟id), seperti sholat lima waktu, puasa ramadhan, dan lain-lain.
  2. Memperbanyak ibadah atau amalan sunnah seperti shalat sunnah rawatib, puasa senin dan kamis, sholat tahajjud, tilawah al-Qur’an dan amalan sunnah yang lain, sebagaimana dalam hadits qudsi: “Tidak ada ibadah yang dilakukan oleh hamba-Ku yang lebih Aku cintai selain ibadah yang Aku wajibkan. Dan hambaku senantiasa bertaqarrub kepadaku dengan ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka Aku yang menjaga pendengarannya, Aku yang menjaga pandangannya, Aku yang menjaga tangannya, Aku yang menjaga kakinya. Jika ia meminta kepadaku, maka Aku akan kabulkan. Dan jika ia berlindung kepadaku, maka Aku melindunginya.‟ (Shahih Al Bukhari, kitab Raqaiq, Bab Tawadhu‟, No. 6021)
Kelima, Menghindari tempat-tempat fitnah
Agar kita tidak terhindar dari fitnah, maka setiap da’i harus menghindari hal-hal atau tempat-tempat yang akan menjerumuskannya ke dalam fitnah.
Di antara hal-hal yang bisa mengakibatkan fitnah adalah sebagai berikut:

1. Harta, dengan segala bentuknya.
Banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang memberikan warning agar setiap muslim waspada dengan harta karena karakter harta itu dominan menyebabkan pelakunya kepada maksiat.

2. Perempuan
Begitu pula dengan perempuan, seperti halnya harta, perempuan adalah fitnah / ujian bagi manusia, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan Shallallahu ‘Alaihi wa Sallamah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali Imran ; 14)

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS Al Anfal; 28)

3. Hal-hal syubhat
Menjauhi hal-hal yang syubhat termasuk hal yang harus dilakukan da’i agar bisa terhindar atau berhasil melewati ujian, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

Dari Nu‟man bin basyir r.aberkata: saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: sesungguhnya yang halal itu sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas, diantara keduanya ada hal-hal syubhat yang tidak diketahui banyak manusia. Barang siapa yang menghindari hal-hal syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Barang siapa yang melakukan yang syubhat, maka ia telah melakukan yang haram.‟

4. Teman yang tidak baik
Teman adalah cermin keperibadian sesorang, oleh karena itu jika ingin mengetahui ihwal seseorang, maka bisa diketahui dengan ihwal sahabatnya. Oleh karena itu harus dipastikan karib kita adalah orang-orang sholeh, sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Setiap orang tergantung pada agama temannya, maka kalian lihatlah siapa yang dia jadikan teman.” (Musnad Ahmad, Kitab: Musnad al-muktsirin, Bab: Musnad Abi Hurairah, No. 7685)

5. Berambisi mendapatkan jabatan
Jabatan adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan orang yang memegang amanah adalah orang memiliki kualifikasi dan kompetensi. Maka berambisi mendapatkan jabatan adalah perilaku tercela yang harus dihindarkan, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Dua serigala yang dilepas di tengah gerombolan kambing itu tidaklah lebih merusak dibanding merusaknya ambisi untuk mendapatkan harta dan jabatan terhadap agama seseorang.” (Sunan Tirmidzi, Kitab: Zuhud, Bab: ma ja‟a fi akhdzil mal bihaqqihi, no. 2298)

Maksud hadits tersebut adalah bahwa ambisi meraih harta dan jabatan berdampak merusak agama seseorang lebih dahsyat dari pada dampak kerusakan yang dibuat oleh dua ekor serigala yang menyerang segerombolan domba.

Keenam, Saling memberikan nasihat
Setiap da’i harus terbiasa saling memberi nasihat (tanashuh), karena hanya dengan itulah setiap da’i terbantu untuk memperbaiki diri. Jika yang terjadi sebaliknya; tidak ada budaya tanashuh dan kontrol internal melemah sehingga memungkinkan setiap da’i terperangkap fitnah atau tidak sabar menghadapinya.

Tanashuh dan lapang dada menerima nasihat adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa terpisahkan. Oleh karena budaya tanashuh tersebut tidak akan terwujud jika tidak diimbangi dengan sikap lapang dada; maksudnya setiap da’i jika mendapatkan nasihat, ia harus berlapang dada menerima masukan dan nasihat tersebut. Insya Allah Subhanahu wa Ta’ala nasihat itu memperbaiki kita. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

Dari Tamim ad-Dari, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Nasihat untuk siapa?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Bersabda, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan masyarakat umum.” (Shahih muslim, kitab: al-iman, Bab: ad din nashihah, no. 82)

Ketujuh, Terus bekerja melayani
Setiap ujian dan fitnah tidak boleh menyebabkan kita futur dan berhenti berdakwah, tetapi sebaliknya, ujian tersebut harus menjadi cambuk agar setiap da’i lebih bersemangat dalam beramal dan berdakwah.

Kerja-kerja dakwah itu sangatlah luas, di antara amal dakwah yang menyentuh hajat masyarakat adalah dakwah dalam bidang sosial, dakwah dalam bidang kesehatan agar masyarat hidup sehat, berdakwah dalam bidang keamanan agar masyarakat hidup aman dan nyaman, berdakwah dengan membangun infrastruktur agar fasilitas masyarakat terpenuhi sehingga mereka lancar dan leluasa melakukan hajat dan aktifitas hidupnya. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS At-Taubah: 105)

Delapan, Husnudzan terhadap ikhwah dan dakwah
Setiap da’i senantiasa berhusnudzan terhadap ikhwah dan dakwah. Setiap kali mendengar kabar tidak baik tentang seorang akh atau dakwah, maka harus mengedepankan husnudzan, hingga mendapatkan informasi / penjelasan dari dakwah.

Prinsip berhusnudzan ini yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Tidakkah sebaiknya ketika kamu mendengar (berita bohong) itu orang-orang mukminin dan mukminat bersangka baik terhadap diri mereka sendiri.” (QS An-Nur: 12)

Apalagi jika informasi bersumber dari orang fasiq, maka kita tidak boleh percaya sebelum tabayyun terhadap berita tersebut, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS Al Hujarat: 6)

Sembilan, Istiqomah dalam Jama’ah
Ujian dan fitnah adalah fitrah dalam perjuangan dan dakwah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
 
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS Ali Imron:200)

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS Al Hajj:77)

Oleh karena itu setiap ujian dan fitnah itu tidak boleh membuat da’i futur, tetapi sebaliknya, harus membuat tetap istiqomah dalam dakwah ini.

Ustadz DR. Surahman Hidayat

Lengkapnya Klik DISINI

Ulama Berpolitik: Why Not? Or No Way!

Oleh : Farid Nu’man Hasan
parlemen2Pertanyaan:
Assalamu ‘alaikum. Wr.Wb. Pak ust, saya pernah baca dalam Siyasah Syar’iyah (politik yang berlandaskan syariat), bahwa yang layak terjun ke dalam dunia politik dan menjadi umara (para pemimpin) adalah para ulama, bukan orang yang awam tehadap agama? (dari 081345228xxx)

Jawab:
Wa ‘Alaikum Salam Wr Wb. Bismillahirrahmanirahim.
Ya, seharusnya demikian. Dalam urusan politik dan manajemen kenegaraan harusnya diserahkan kepada ahli ilmu (ulama) sebagaimana pada awal-awal Islam. Dahulu, para Khalufa’ur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman  dan Ali), selain seorang pemimpin mereka juga adalah ulama di kalangan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.  Umar bin Abdul Aziz, seorang mujtahid, dan pembaharu abad pertama dalam Islam. Dia juga seorang khalifah.

Namun, zaman telah berubah, ketika semangat keberagamaan melemah, otomatis politik yang diterapkan saat ini bukanlah siyasah syar’iyah (politik yang sesuai syariat). Melainkan politik kepentingan, politik Machiavelli yang tubarritul washilah (menghalalkan segala cara) untuk melanggengkan kekuasaan.

Para politisi zaman ini umumnya bukanlah orang yang faham agama, baik pokok dan cabangnya. Mereka umumnya adalah para Ar Ruwaibidhah yang diisyaratkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi waSallam bersabda: “Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh kedustaan, saat itu pendusta dipercaya, sementara orang jujur malah didustakan, saat itu para pengkhianat diberi amanah, sedangkan orang yang menjaga amanah justru dikhianati , dan saat itu para Ar Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya: “Apakah Ar Ruwaibidhah itu?” Rasulullah menjawab: “Seseorang yang bodoh tapi sok mengurus urusan orang banyak.”[1]

Justru anehnya, ketika ulama ingin terjun dalam dunia politik, -selain memang politik adalah salah satu sisi yang diatur oleh Islam-,  mereka ingin mencoba menerapkan moralitas politik berbasiskan syariat. Namun, justru mereka dicela, dituduh menjual agama, meninggalkan ‘kandang’ (maksudnya harusnya mereka mengurus permasalahan pesantren saja). Padahal dibalik celaan itu, orang-orang itu takut kalau-kalau kezaliman mereka dibongkar oleh para ulama. Namun demikian, politik saat ini merupakan ranah yang amat berbahaya buat orang shalih dan alim. Mereka bisa berubah lantaran godaan dunia yang sangat terbuka ketika masuk ke gelanggang politik. Ini juga barangkali kekhawatiran sebagian orang jika ulama masuk ke dunia yang penuh getah seperti politik.

Dalam institusi Daulah Islamiyah yang establish, ada yang dinamakan Ahlul Halli wal Aqdi (semacam parlemen). Orang-orang yang layak mendudukinya adalah harus alim, ahli ijtihad, taqwa, dan berwibawa. Demikianlah karakter ahlusy syura yang dipilih oleh Khalifah Umar pada akhir masa jabatannya. Artinya, keulamaan seseorang sangat menentukan layak tidaknya dia dimasukkan ke dalamnya.

Apa Kata Al Quran?
Allah Ta’ala berfirman:“Wahai orang-orang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan ulil Amri di antara kalian..” (QS. An Nisa (4): 59)

Siapakah Ulil Amri yang dimaksud oleh ayat ini? Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan: “Berkata Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu ‘Abbas: “Dan Ulil Amri di antara kalian” artinya ahli fiqih dan agama. Begitu pula menurut Mujahid, Atha’, Hasan Al Bashri, dan Abu al ‘Aliyah: “Dan Ulil Amri di antara kalian” artinya ulama.” (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/345. Darun Nasyr wat Tauzi’)

Sedangkan Imam Ibnu Katsir sendiri mengartikan ulil amri adalah umara (para pemimpin) dan ulama. Berdasarkan hadits Bukhari dan Muslim berikut:

من أطاعني فقد أطاع الله، ومن عصاني فقد عصا الله، ومن أطاع أميري فقد أطاعني، ومن عصا أميري فقد عصانى
“Barangsiapa yang taat kepadaku, maka dia telah taat kepada Allah, barangsiapa yang membangkang kepadaku maka dia telah membangkang kepada Allah, barangsiapa yang mentaati amir (pemimpin)ku, maka dia taat kepadaku, dan barangsiapa yang membangkang kepada pemimpinku maka dia telah membangkang kepadaku.”

Demikianlah makna ulil amri. Para ulama salaf mengartikan ulama, ahli agama, dan ahi fiqih. Merekalah yang dahulu memainkan peran dalam sistem perpolitikan Islam pada masa’masa awal.

Apa kata hadits?
Dalam berbagai artikel sudah kami sampaikan bahwa politk adalah warisan kenabian. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاء
“Adalah Bani Israel bahwa mereka disiyasahkan (diatur, dipimpin, diperintah) oleh para nabi.”   (HR. Bukhari No. 3268 dan Muslim No.1842)

Jadi politik (siyasah) adalah warisan kenabian, karena dahulu para nabi telah mensiyasahkan Bani Israil. Bukan orang awam yang mengatur dan memerintahkan mereka, tetapi para nabi ‘Alaihim As Shalatu was Salam. Maka, para ulama sebagai warasatul anbiya, sebenarnya lebih layak berpolitik. Tetapi, kondisi saat ini adalah kondisi penuh fitnah,  sekulerisme yang lebih kuat, kondisi di mana umat Islam tidak lagi percaya dengan ulama, suka meledek ulama. Mereka baru bertanya kepada ulama ketika ada urusan wanita haid, nifas, dan penentuan awal ramadhan dan akhirnya.  Tetapi urusan kenegaraan, urusan politik, urusan hukum, urusan hudud, urusan hubungan antara negara, dan urusan  besar lainnya. Ulama ? No Way!!

Ada juga kelompok yang mengaku pejuang da’wah Islam yang amat antipati pada politik. Anehnya meraka merasa sangat ‘Islami’ dengan sikapnya itu, padahal  sikap tersebut berawal dari pemahaman yang kurang utuh dan kajian yang kurang mendalam terhadap agama.

Dalam Islam, ahli agama bukanlah rohaniawan yang hanya mengurus rohani, itulah ruhbaniyah, itulah nasrani. Dalam Islam, sebagai agama yang syumul (lengkap), ahli agama adalah mengatur banyak hal aspek kehidupan umatnya, oleh karena itu dia disebut ‘ulama.’ Bukan rohaniawan.
Wallahu A’lam



[1] (HR. Ibnu Majah No. 4038, dan lafal hadits ini adalah berdasarkan riwayat Ibnu Majah. Ahmad No. 7571. Ath Thabarani, Mu’jam Al Kabir, No. 14550. Abu Ya’la No. 3615. Al Hakim, Mustadrak ‘Alas Shahihain No. 8439. Katanya: Shahih sanadnya, tetapi Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan sanadnya jayyid. (Fathul Bari, 13/84). Menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shahihah No. 1887, juga Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 4038)
Lengkapnya Klik DISINI

Sudahkah Kita (Aktivis Dakwah Kampus) Berdakwah?

Sudahkah Kita (Aktivis Dakwah Kampus) Berdakwah? 
Beberapa hari ini diantara kerisauan yang ada dalam benak, ada satu kerisauan yang muncul pasca menghadiri kajian di fakultas lain. Dan luar biasa, pesertanya melebihi 200 orang, dan kemudian saya berkaca, bagaimana di fakultas saya? Kajian sepi? Semakin sedikit orang? Tidak merasakan manfaat dan kemuliaan dakwah? Apalagi objek dakwah bahkan sama sekali tidak terjangkau dakwah.

Mencoba merenung mencari akar masalahnya. Apakah karena pola marketing? Ataukah karena gencarnya dalam media? Atau malah mencari pembenaran, setiap tempat punya karakternya masing-masing, dan setiap karakter tersebut beda-beda penyikapannya, tak usah dirisaukan.

Tapi risau itu masih saja belum hilang dan kemudian berkaca kepada dakwah sesungguhnya, bukankah dakwah berarti menyeru? Mengajak? Sudah jelas disebutkan dalam Al Quran bahwa dawah itu menyeru. Namun pertanyaannya, sudahkah hari ini kita benar-benar menyeru? Bukankah selama ini kita hanya menunggu? Menunggu para mahasiswa untuk datang ke kajian yang kita adakan, pun kajiannya kurang ‘serius’ dalam penyelenggaraanya. Dan karena menunggu, yang datang cuma itu-itu, orang yang sudah baik.
Menelusuri lagi dakwah para Rasul dan Salafush Shalih hingga para da’i pembangun peradaban. Kata menyeru bukanlah kata implisit, tapi itu metode yang secara eksplisit tersurat dengan jelas dalam firmanNya. Menyeru secara langsung! 

Bagaimana Ibrahim menyeru kepada masyarakatnya untuk tidak menyembah berhala; bagaimana Musa melakukan jihad paling utama, menyeru kebenaran di hadapan penguasa; bagaimana seluruh Rasul menyeru Wahai kaumku, “sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.”; hingga ashabul kahfi memproklamirkan keimanannya dan menyeru masyarakatnya. Bagaimana Rasulullah menyeru kepada kaum Quraisy dan seluruh jazirah Arab secara terang-terangan untuk tidak menyekutukan Allah; bagaimana para shahabat, Mush’ab menyeru ke Yatsrib, Abudzar meneriakkan kebenaran dengan lantang; bagaimana seorang sederhana bernama Hasan Al Banna berdakwah dengan sederhana dari satu warung kopi ke warung kopi lain, mendatangi mereka yang memamng membutuhkan seruan Islam; bagaimana para salafush shalih dan para da’i sejati menembus jarak ribuan kilometer hanya untuk satu hal yang teramat mulia “Dakwah!” “Menyeru!” “Mengajak!”

Kembali bertanya, sebenarnya kami ini, mahasiswa yang mengaku aktivis dakwah kampus, sudahkah kami berdakwah? Selama ini apa yang kami lakukan? Sekedar event-organizer dari sebuah acara bernama kajian, diskusi, dialog, seminar dan sebagainya, atau malah ribet berkutat pada masalah internal, ukhuwah lah, komitmen lah, minim kader lah, pensolidan lah dan lain lain?

Lalu bagaimana lingkungan kampus kita? Sudahkah mereka yang butuh dakwah kita, kita datangi, ajak, dan seru secara langsung? Atau kita hanya sibuk dengan tilawah dan sujud di masjid, dengan keshalihan kita dan komunitas kecil kita bernama lembaga dakwah, bersembunyi di balik keshalihan kita?

Sudahkah, warung kopi, giras, cangkrukan, kantin, kita datangi satu-satu untuk kita serukan Islam disana? 

Sudahkah tempat tongkrongan mahasiswa yang biasa merokok sambil maen remi ato gaple kita datangi? 

Untuk setidaknya mengingatkan untuk shalat.  Sudahkah mahasiswi muslimah yang belum berhijab kita seru tentang kewajiban berhijab dan kita ajak berhijab? Sudahkah mereka yang bingung mencari kebenaran, senantiasa berfilsafat, berputar-putar mencari hakikat kebenaran kita ajak diskusi tentang ketauhidan? Sudahkah mereka yang skeptis bahkan phobia terhadap Islam, kita kabarkan pada mereka tentang indahnya Islam?

Bukankah Islam untuk semua? Bukan hanya untuk orang yang sudah sholeh dan ingin sholeh saja?

Hanya Anda, para mahasiswa yang melabeli diri dengan panggilan aktivis dakwah kampus, yang bisa menjawab. Karena merekalah, yang belum tersinari cahaya Islam yang butuh curahan energi, untuk diseru, diajak, dan didakwahi. Malu? Masih takut? Masih ragu? Atau takut dicela? Takut didebat? Takut dicaci? Takut diancam?

Bukankah Ibrahim berdakwah kemudian dibakar, lalu Allah menolongnya, mendinginkan api? Bukankah Musa berdakwah lalu fir’aun mengejarnya, tapi Allah menolongnya, menenggelamkan Fir’aun dan pasukannya? Bukankah Ashhabul Kahfi berdakwah, dikejar-kejar penguasa, lalu Allah menolongnya, menidurkannya selama ratusan tahun? Bukankah Rasulullah berdak’wah, lantas dilempari kotoran, dilempari batu hingga bersimbah luka dan darah, hingga diancam dibunuh, lalu Allah senantiasa bersamanya dan menolongnya,mengokohkan barisan dakwah Rasulullah dengan para shahabat yang setia? Bukankah Hasan al Banna berdakwah, lalu penguasa membunuhnya, tapi Allah menganugerahinya kesyahidan?

Sama sekali tak ada bandingannya, antara apa yang kita lakukan dan mereka lakukan, beban yang kita rasakan dan mereka rasakan, dan pertolongan itu pun entah kapan datannya.

Ya, pertolongan itu entah kapan datangnya, bilamana kita masih bertahan dan bersembunyi di balik keshalihan kita, maka hasilnya tidak akan pernah terlihat. Mari Menyeru!

“Wahai orang yang berselimut, bangkitlah, bangunlah, lalu berilah peringatan. Agungkanlah Rabbmu, bersihkanlah pakaianmu, tinggalkanlah perbuatan dosa (menyembah berhala), dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak, Dan untuk memenuhi (perintah) Rabbmu, bersabarlah” . (QS al Muddatstsir : 1-7)

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”  (QS Ali Imron : 104)

Oleh: Ahmad Jilul Qur’ani Farid, Surabaya

sumber: http://www.fimadani.com/sudahkah-kita-aktivis-dakwah-kampus-berdakwah/
Lengkapnya Klik DISINI

Jalan Ini Terjal, Tapi Menyenangkan

bukan-jalan-mudah 
Saya pernah bikin puisi. Tetapi kalo dilihat-lihat lagi, sepertinya bukan kategori puisi. Tepatnya sih coret-coretan aja. Untungnya bukan di dinding. Waktu itu abis ngisi acara di Surabaya. Daripada bengong nunggu di bandara karena pesawatnya delay, saya nulis puisi. Hehehe.. sebenarnya saya nggak terlalu bisa bikin puisi, meski waktu SMP sering nulis puisi saat ingin menumpahkan perasaan. Nah, ini dia puisi saya tersebut:

perjuangan belum berakhir

kita sudah ada di sini
di jalan terjal pilihan kita
memang bukan hal terbaik untuk saat ini
ketika gemerlap dunia senantiasa menggoda
sahabat, aku tak sudi dirimu berhenti
di saat perjuangan baru saja dimulai

kita sudah ada di sini
di jalan licin pilihan kita
memang bukan hal terbaik untuk saat ini
ketika keindahan dunia senantiasa merayu
sahabat, aku tak suka dirimu mengeluh
di saat perjuangan mulai terasa berat

kita sudah di sini
di jalan mendaki pilihan kita
memang bukan hal terbaik untuk saat ini
ketika kilauan dunia senantiasa mempesona
sahabat, aku tak mau semangatmu redup
di saat perjuangan tengah bergolak panas

kita sudah di sini
dan akan lanjutkan perjalanan
: terjal, licin, dan mendaki
demi kehidupan yang lebih baik
kita siap tinggalkan kesenangan diri
: seperti yang pernah kita ikrarkan

kita sudah di sini
satu langkah telah kita ayunkan
jangan pernah mundur sejengkal pun
ini jalan yang kita pilih
jalan dakwah
: merevolusi kekufuran, tegakkan kebenaran

jangan berhenti di sini
karena revolusi selalu butuh martir
dan memang perjuangan belum berakhir
yakinlah
kibar kemenangan Islam pasti datang
mari berjuang
jangan pernah berhenti

Ruang Tunggu Bandara Internasional Juanda, Surabaya.
29 April 2007

Hehehe.. gimana Bro en Sis rahimakumullah? Keren nggak tulisan yang menyerupai puisi ini? Idih, gue kok jadi narsis gini sih? Ehm, itu lagi ada ‘godaan’ dikit, Bro en Sis. Kadang saya harus melakukan sesuatu untuk meyakinkan jalan yang telah dan akan saya pilih. Saya pikir semua orang pasti punya masalah. Tentu saja berbagai macam masalah. Tak semuanya sama. Kalaupun ada yang sama, mestinya ‘angle-nya’ berbeda. Selain itu, (seharusnya) mereka pun punya cara tersendiri untuk mengatasinya. Tul nggak? Hah? Nggak? Betul aja deh! *maksa banget.

Kuat fisik, kuat mental
 
Bro en Sis pembaca setia gaulislam, jadi aktivis dakwah itu konon katanya adalah pilihan di tengah mainstream alias arus utama yang memang bertentangan dengan jalan dakwah. Arus utama kehidupan saat ini adalah gaya hidup yang hedonis, permisif, sekuler. Sementara jalan dakwah adalah jalan penuh kemuliaan, kebaikan, dan tentunya kebenaran sesuai tuntunan Allah Swt. dan RasulNya. Meski jalan menuju kemuliaan itu terasa berat. Terasa terjal, berliku, berlubang, dan membahayakan. Tapi yakinlah bahwa itu sekadar ujian. Semoga kita jadi tahan banting.

Ngomongin tentang beratnya kehidupan, Aa Gym, dalam narasi awal di salah satu lagu The Fikr bertutur: “jalan berliku, terjalnya tebing, curamnya jurang, bukanlah sesuatu yang mengerikan. Yang paling mengerikan adalah kehilangan keberanian untuk mengarungi kehidupan. Siapapun yang berani mengarungi kehidupan, dia harus menikmati hiruk-pikuk kesulitan, terjalnya masalah, dalamnya kepiluan, karena di balik semua itu tersimpan hikmah yang dalam. Bagi pencari kebenaran, kenikmatan adalah untuk terus mencari, mengarungi samudera kehidupan.”

Sobat muda muslim, untuk menjadi ahli kung-fu, Jacky Chan dan Jet Li kalo di film-filmnya mereka yang versi jadul (tahun 80-an lah) dilatih memikul jerigen berisi air sambil lari-lari, atau ambil air pake mangkok untuk ngisi tempat air besar. Udah gitu, caranya bikin ribet. Kedua kakinya dikaitkan ke sebatang bambu di atas kayak orang main sirkus. Kepala ada di bawah. Nah, lalu tangannya megang mangkok untuk ambil air di jerigen besar di bawah yang akan diisikan ke tempat air di atas yang lebih besar. Halah, latihan yang ribet dan berat. Bahkan tak ada hubungannya dengan jurus-jurus kung-fu. Tapi ternyata itu adalah untuk membiasakan fisik mereka tahan bantingan.

Bagaimana setelah latihan itu? Baru deh, ketika dirasa cukup, biasanya sang guru akan nularin ilmu kung-fu ke muridnya tersebut. Meski itu di film, tapi saya merasa yakin bahwa belajar kung-fu memang tak langsung dilatih jurus-jurus bertarung. Sama seperti main bola. Cristiano Ronaldo dkk nggak melulu latihan menggocek bola. Tapi ada latihan fisiknya. Kalo ini, saya merasa yakin banget karena mereka sering diliatin ke publik saat sesi latihan. BTW, makin yakin lagi karena saya pernah juga main game Soccer Manager (hehehe.. di situ ada simulasi ngelatih fisik pemain juga. Jadi tahu dah). *Ssst.. saya mainnya cuma sebentar kok. (Idih, siapa yang nanya?) Hahahaha…

Lah, terus apa hubungannya ngomongin kung-fu dengan dakwah? Apa korelasinya dengan judul “jalan ini terjal, tapi menyenangkan”? Wadow, untung nggak berlanjut ngelanturnya. Ehm, sebenarnya masih nyambung kok. Nggak ngelantur jauh. Maksudnya, untuk menjadi aktivis dakwah, kita juga harus teruji baik secara fisik maupun mental. Fisik kudu oke. Karena tak jarang dakwah nguras tenaga. Harus ngisi acara pengajian pagi hari, harus ngisi kajian malam hari, atau mengaji di siang hari. Belum lagi tempat atau daerah yang akan dikunjungi untuk berdakwah yang jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggal kita. So, fisik kudu prima, Bro.
Selain kuat fisik, yang nggak kalah penting adalah melatih mental. Pikiran dan perasaan kita kudu siap ngadepin beragam masalah. Meski nggak dituntut agar semau masalah bisa diatasi, tapi setidaknya bisa mencari akar masalahnya dan beberapa masalah bisa diselesaikan dengan baik. Nah, berarti ini memang butuh kesiapan yang bagus. Iya nggak sih?

Tak ada kata henti

Sobat gaulislam, tak ada kata henti dalam hidup kita untuk senantiasa melakukan amal baik. Seharusnya memang tak pernah ada pula keluh kesah dalam perjuangan dakwah ini. Semestinya pun tak keluar dari mulut kita kata putus asa karena begitu banyak perjuangan dakwah yang menyedot perhatian kita. Yakinlah, Allah Swt. tak pernah dan tak akan pernah salah dalam mengkalkulasi amalan baik kita. Mungkin kita lupa sudah berapa amal baik yang kita kerjakan, tapi Allah Ta’ala tak akan pernah lalai mencatatnya dan menghitungnya untuk bekal kita di negeri abadi kelak. Begitu pun pasti kita lupa berapa banyak amalan buruk yang pernah kita lakukan, tapi Allah Swt. pasti tak akan pernah lupa dan akan dengan mudah mencatatnya. Tapi kita memohon kepadaNya, agar tetap diberikan kekuatan untuk melakukan amalan baik selama hidup kita. Sebanyak mungkin.

BTW, masih ingatkah kita ketika kita pertama kali belajar Islam? Kita bahkan mengeja nama Allah dengan amat susah. Kita tidak paham tentang isi al-Quran, kita tak mengerti apa arti perjuangan dakwah, kita bahkan buta dan tak pernah tahu dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup di dunia, dan ke mana akan pergi setelah kematian. Saya pernah merasakan demikian, dan saya yakin di antara kita bahkan ada yang pernah melakukan kemaksiatan sebelum akhirnya mendapat hidayahNya. Saya yakin di antara kita bahkan pernah menolak ajakan dakwah dari seseorang. Mencibir pelakunya dan menganggap sia-sia perbuatan mereka. Itu ketika kita tidak tahu.

Semoga memori tentang ini menjadikan kita manusia yang bijak. Pengemban dakwah yang peka dan mampu menangkap segala sisi manusia sebagai objek dakwah kita. Kita tumbuh menjadi pengemban dakwah dan pejuang Islam yang sabar dan penuh kelembutan. Jika kita berhadapan dengan objek dakwah yang menolak, bahkan menyerang kita, anggap saja bahwa mereka seperti kita dulu yang juga membutuhkan sentuhan kuat orang yang tak bosan mengajak kita menjemput hidayahNya. Jangan pernah merasa menilai umat ini telah jumud, jika kita sendiri belum maksimal mengajaknya untuk menjadi lebih baik. Tak perlu mengampuni usaha kita yang gagal dengan alasan umat sudah bosan dengan dakwah. Lalu kita merasa benar sendiri dan menyalahkan mereka.

Sobat muda muslim, ingatlah bahwa kita bisa seperti sekarang ini juga butuh waktu dan proses. Karena sejatinya perubahan tak bisa dicapai seperti makan cabe rawit yang langsung terasa pedasnya. Atau proses produksi mesin dalam industri yang bisa seragam dan mudah dibuat. Tapi kita berhadapan dengan manusia. Berhadapan dengan jiwa yang seringkali tak mudah untuk diajak berpikir sama seperti yang kita inginkan. Proses perubahan sosial memang tak semudah proses produksi mesin industri. Selalu saja ada variabel yang mengharuskan kita banyak bersabar dan mencari cara jitu mengatasinya.

So, kalo jujur saja, jalan dakwah ini memang terjal. Tapi menyenangkan. Allah Swt. sudah ‘menghibur’ kita dalam firmanNya (yang artinya): “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim’” (QS Fushshilat [41]: 33)

Nah sobat muda muslim, mulai sekarang jangan tunjukkan kelemahan kita dalam perjuangan dakwah ini. Usir deh tuh keluh kesah kita, buang jauh-jauh putus asa. Sebaiknya selalu memohon kepada Allah Ta’ala agar kita dimudahkan dalam mengemban dakwah ini, memohon dalam doa kita kepadaNya agar kita sabar ketika menghadapi berbagai macam ujian dakwah dan ujian kehidupan kita. Selain itu, tentu saja senantiasa kita berharap keridhoan Allah Ta’ala dalam setiap niat dan upaya perjuangan dakwah kita. Semangat! [solihin | Twitter @osolihin]

http://osolihin.wordpress.com/2013/01/07/jalan-ini-terjal-tapi-menyenangkan/
Lengkapnya Klik DISINI

Antara Kader Dakwah dan Singa

Tahukah Anda? Lebih dari 90% perburuan di kalangan singa dilakukan oleh sang betina. Bagaimana dengan para singa jantan? Ternyata mereka enggan mengambil risiko nyawa, atau lebih suka santai dan istirahat.

Membaca hasil penelitian ini kita jadi tertegun. Kita lalu membandingkan dengan jumlah aktifis dakwah, komposisi ikhwan dan akhwat, serta aktifitas mereka khususnya dalam dua kerja besar: merekrut dan membina.

Lihatlah acara-acara dakwah dan pertemuan-pertemuan harakah. Hampir selalu jumlah akhwat lebih banyak daripada ikhwan, kalau tidak boleh menyebutnya mayoritas. Lautan jilbab belum juga tertandingi oleh lautan peci atau rambut hitam ikhwan.

Apa sebabnya? Populasi perempuan lebih banyak dari laki-laki? Tidak juga. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010 menunjukkan, jumlah penduduk Indonesia 237.556.363 orang; terdiri dari 119.507.580 laki-laki dan 118.048.783 perempuan. Nah, lebih banyak laki-laki kan? Jadi para ikhwan tidak memiliki alasan bahwa jumlah akhwat lebih banyak karena segmen dakwahnya lebih luas. Tidak.

Lalu mengapa? Mereka yang mengamati aktifitas harakah dan partisipasi dakwah akan menemukan hal-hal sebagai berikut:
1. Akhwat lebih rajin menghadiri acara-acara dakwah dan aktifitas harakah daripada ikhwan
2. Jumlah rekrutmen akhwat hampir selalu lebih besar daripada jumlah rekrutmen ikhwan
3. Semangat akhwat dalam partisipasi dakwah dan membina lebih besar daripada ikhwan

Tentu saja kesimpulan ini bersifat general, tidak bermaksud memaknainya secara personal bahwa setiap akhwat pasti lebih rajin atau lebih aktif daripada ikhwan. Ada beberapa pengecualian, bahwa akhwat-akhwat tertentu tidak lebih rajin daripada ikhwan, sebagaimana ada ikhwan-ikhwan tertentu yang tidak kalah semangat merekrut dan membina dibandingkan dengan akhwat.

Renungan singkat ini hanya mengingatkan kita, khususnya para ikhwan: jadilah kita pelopor kebajikan, aktifis dakwah yang memiliki syaja'ah dan hamasah, siap berburu pahala. Karena kita bukanlah singa jantan yang malas atau takut cedera. [Muchlisin]

Lengkapnya Klik DISINI

Balaslah Keburukan dengan Kebaikan

Abbas Hasan As Sisi

“Sambunglah orang yang memutuskanmu, berilah makan orang yang bakhil terhadapmu, dan berilah maaf orang yang berbuat zhalim terhadapmu.” (Al Hadits)

Da’i yang dapat mengalahkan nafsunya dan yang ingin mempersatukan barisan kaum Muslimin demi kebangkitan Islam adalah da’i yang mau menerapkan tarbiyah dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam Hal ini karena tidaklah mudah bagi orang yang sudah berbangga dengan dosa yang ia lakukan untuk mengalah dan datang kepada orang yang telah menyakitinya lalu menjabat tangan serta memaafkannya.

Seorang Muslim yang memiliki orientasi adalah yang memahami firman Allah, .”..bersikap lemah lembut ter-hadap kaum Muslimin.” (Al Maidah: 54) Ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk menolong sesamanya, meski ia harus mengorbankan harga dirinya di mata manusia, karena ia menyadari bahwa harga diri yang hakiki terletak pada keteguhan aqidah dan kebaikan akhlak.

Seorang da’i yang berlaku rendah hati kepada sesama Muslim adalah da’i yang ingin mencari ridha Allah. Tatkala melakukan hal itu, ia akan merasakan ketinggian ruhiahnya dan ia akan merasa bahagia, karena ia telah dapat mengalahkan hawa nafsunya, dan pada akhirnya ia dapat masuk ke dalam hati mad’unya. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Jika karenamu Allah memberikan hidayah kepada seseorang, maka hal itu lebih baik bagimu daripada unta merah (harta yang paling mahal) sekalipun.”

Dalam catatan hariannya yang dimuat di harian Asy Syarqul Ausath, Ustadz Umar At-Tilmisani menulis, “Pada masa-masa awal aktivitas saya di Jamaah Ikhwanul Muslimin, saya diberi tugas untuk mendamaikan dua keluarga besar yang sedang bertikai. Satu keluarga dari Jamaah Ikhwanul Muslimin dan satunya lagi bukan. Setelah mendengar sebab-sebab terjadinya pertikaian, jelas sekali bahwa keluarga dari Ikhwan-lah pihak yang benar. Dengan petunjuk dari Ketua Umum Ikhwanul Muslimin itu, kami ingin memberikan contoh nyata kepada masyarakat bagaimana Islam menyelesaikan sebuah permasalahan. Saya meminta kepada keluarga dari pihak Ikhwan agar mau mengalah dan mengunjungi keluarga lainnya.”

Allah berfirman,
“Akan tetapi, orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu ter masuk hal-halyang diutamakan.” (Asy Syura: 43)

Begitulah, jika seorang Muslim betul-betul meyakini keagungan da’wah ini, maka ia akan memfungsikan segala yang telah diberikan oleh Allah untukkebaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala. berfirman,

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu benar. Apakah Rabb kalian tidak cukup (bagi kalian) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Fushilat: 53)

Sesungguhnya ada banyak akhlak dan kekuatan hati yang sudah hilang dari masyarakat kita karena digusur oleh kebudayaan Barat. Oleh karenanya, tugas kita sekarang adalah menyibak kembali perilaku-perilaku itu.
Kalau kita mau mencermati, kita akan tahu bahwa perjalanan hidup Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dihabiskan dalam rangka menyibak kekuatan yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia. Kita saksikan bagaimana Rasulullah menghadapi keburukan dengan kebaikan, menghadapi segala cobaan dengan ketenangan jiwa, serta menghadapi segala rintangan dan gangguan dengan pemberian maaf dan doa,

“Ya Allah, berilahpetunjuk kepada kaumku ini, sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengetahui.” 

Kebanyakan orang-orang yang tidak peduli kepada da’wah kita adalah orangorang yang tidak mengenal hakikat da’wah ini. Oleh karena itu, dalam muktamar kelima, Imam Hasan Al Banna mengatakan, “Ketidak-tahuan masyarakat akan menjadi penghalang jalan kalian. Oleh karena itu, tugas kita yang paling mulia adalah menjadikan masyarakat mengenal hakikat da’wah kita, karena kebersamaan mereka dengan kita adalah lebih baik.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala. berfirman,
“SekiranyaAhliKitab beriman dan bertaqwa, tentulah kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka ke dalam surga yang penuh kenikmatan.” (Al Maidah: 65)

Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......