Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==
Tampilkan postingan dengan label Abbas As-Sisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abbas As-Sisi. Tampilkan semua postingan

Tukang Sapu dan Tukang Sampah

Abbas Hasan As Sisi
Ada seorang akh bertanya kepada saya tentang “kiat sukses memikat hati.”

Saya katakan, “Kita percaya bahwa manusia itu sama. Ini tercermin ketika kaum Muslimin berada dalam masjid. Yang miskin duduk ber-dampingan dengan yang kaya, yang lemah berdam-pingan dengan yang kuat, tukang sapu dan tukang sampah sama seperti kebanyakan manusia lain dalam masjid. Tetapi sayang, hal ini tidak diaplikasikan di luar masjid. Apakah ketika Anda lewat di jalanan dan bertemu salah seorang tukang sapu, Anda mengucapkan salam padanya?”

“Tidak,” jawabnya.

Saya katakan, “Itu karena Anda tidak peduli kepada-nya. Sungguh, Rasul Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melarang perbuatan demikian melalui sabdanya, ‘Janganlah kalian menganggap remeh suatu kebaikan walau itu hanya sekedar bermuka ceria ketika bertemu saudaramu.’  Bila Anda melakukan hal itu, lalu Anda ucapkan salam padanya, baik kenal maupun tidak, berarti Anda telah menghargai dinnya dan memberinya rasa optimis dalam menatap kehidupan, karena sebelumnya ia merasa dari golongan terasing dalam masyarakat. Ia merasa tidak seorang pun yang mau memalingkan wajah ke arahnya, tidak seorang pun yang menghargainya atau sekedar mengajaknya berbi-cara dengan baik. Bila Anda ucapkan salam kepadanya di suatu hari, maka ia akan menantimu lewat di jalan itu, hanya untuk mendapatkan salam darimu. Ketahuilah, telah banyak orang yang mengabaikan sesuatu yang selama im ia cari-cari dan dambakan.”

Pada hakikatnya tukang sapu dan tukang sampah yang bekerja sebagai petugas mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah dan dari jalanan ke jalanan, berhak mendapat penghargaan. Karena kita merasa terbantu dengan pekerjaan yang sulit dan kotor ini.

Oleh karena itu, negara berkewajiban memberikan gaji yang berlipat atau memberinya tunjangan biaya kesehatan. Karena pada hakikatnya ia lebih mudah terserang banyak penyakit, yang disebabkan oleh seringnya berhubungan dengan kotoran-kotoran itu. Jika kita memahami tujuan da’wah, yaitu da’wah pembenahan, guna mewujudkan masyarakat islami, maka tidak akan terlewat dari pikiran kita untuk memahami kenyataan ini, yang dapat menyatukan hati dan menjernihkan akhlak.

Pada suatu hari saya berada di Masjid Kurmuz, Iskandaria, membicarakan tentang hal ini bersama bebe-rapa ikhwah. Ketika saya selesai berbicara, tiba-tiba saya dihampiri seorang pemuda, seraya mengatakan, “Saya sangat terkesan dengan pembahasan ini.” Setelah saya tanya, ternyata ia bekerja sebagai tukang kebersihan dan tukang sapu. Lalu saya katakan, “Bukankah kannas (tukang sapu) itu kan-nas (sama seperti manusia lain)?'” Sungguh, ini kata-kata spontan belaka, yang kebetulan saja berlaku.

Lengkapnya Klik DISINI

Tipudaya, Kecerdikan, dan Latihan Berpikir

Abbas Hasan As Sisi

Saya sangat “kagum” pada orang-orang Yahudi. Sampai hari ini, mereka masih tetap membuahkan idea-idea baru tentang tipudaya dan rekacipta dengan berbagai macam variasinya. Seakan mereka memiliki lembaga khusus tentang hal ini, baik dalam bidang perdagangan, peperangan, maupun politik.

Saya teringat sebuah anekdot yang terjadi di kota Rasyid, sejak sebagian bangsa Yahudi berdomisili di sana. Ada seorang Yahudi menjual rumahnya kepada seorang penduduk kota Rasyid dengan transaksi yang resmi. Setelah beberapa tahun berlalu, datanglah orang Yahudi tersebut ke sekitar rumah itu dengan membawa sejumlah batu bata, kayu bangunan, semen, dan kapur. Ketika pemilik rumah bertanya, “Apa yang sedang Anda kerjakan di sini?”

Ia menjawab, “Saya datang untuk membangun!”

“Mau membangun apa?” tanya pemilik rumah?

 ”Saya akan membuat bangunan baru di atas rumah ini!” jawab Yahudi.

“Bukankah rumah ini sudah kamu jual dan telah kamu terima uangnya beberapa tahun lalu?” kata pemilik rumah.

Si Yahudi menjawab, “Ya, tetapi yang saya jual hanya sampai atap rumah. Masih menjadi hak saya untuk membangun di atas atapnya sampai setinggi-tingginya!”

Anekdot ini terjadi sebelum pendudukan bumi Palestina, Jalur Gaza, dan Tepi Barat Sungai Yordan. Sekarang Israel mengatakan, “Bangsa Arab boleh tinggal di bumi Jalur Gaza dan Tepi Barat Sungai Yordan, tetapi tidak punya hak milik sama sekali. Bumi ini tetap milik Israel.” Masih sama saja, itulah tipudaya Yahudi. Apa bedanya antara malam ini dengan kemarin malam!

Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu sangat memahami tipudaya Yahudi yang dapat menaklukkan dunia itu. Ketika menjadi khalifah, beliau menjumpai seorang Yahudi di Madinah, yang menyimpan sumur penampung air. Ia menguasai sumur itu, yang airnya dijual kepada kaum Muslimin. Maka khalifah menawar kepada Yahudi agar menjual sumur itu kepadanya, untuk disedekahkan kepada kaum Muslimin. Tetapi si Yahudi itu menolak tawaran khalifah. Kemudian khalifah mengatakan, “Juallah sebagian sumur ini padaku, yakm kamu meng-ambil air sehari dan saya juga mengambil air sehari!”

Akhirnya Yahudi itu setuju. Khalifah berkata, “Kaum Muslimin berhak mengambil air secukupnya pada hari giliranku. Pada saat giliranmu mereka tidak akan mem-belinya sedikit pun!”

Setelah beberapa hari, ia merasa  tertekan karena embargo kaum Muslimin kepadanya. Maka tidak ada alternatif lain kecuali ia harus menjual bagiannya kepada Khalifah.

Semoga kisah ini dapat menyadarkan dan menggugah pikiran kaum Muslimin. Yang lalu biarlah berlalu, kebaikan pasti akan datang.

Suatu hari, Khalifah Al Mahdi sedang duduk-duduk bersama beberapa orang, tiba-tiba masuklah seorang lelaki dengan membawa sandal yang terbungkus sapu tangan.

Lelaki itu berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, ini adalah sandal Rasulullah, saya hadiahkan untuk Tuan!”

Beliau pun menerima dan meletakkan di hadapannya, lalu menyerahkan sepuluh nbu dirham kepada lelaki tersebut. Ketika ia pergi, beliau berkata kepada orang-orang yang sedang duduk bersamanya, dan membuat mereka semua terkejut “Saya tahu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mungkin pernah melihat sandal itu, apalagi memakainya. Tetapi bila kita dustakan orang tadi, ia akan menyebarkan fitnah kepada orang lam. Sebaliknya, bila ia kita terima maka ia akan mengatakan kepada orang lain, ‘Saya telah menghadap khalifah dengan membawa sandal Rasulullah, tetapi beliau malah mengembalikan lagi sandal tersebut kepada saya, bahkan saya menerima hadiah.”‘

Beliau tidak tergesa-gesa bertindak sebelum berpikir. Bahkan beliau berpikir sebelum bersikap. Itulah sikap yang bijak.

sumber
Lengkapnya Klik DISINI

Da’wah: “Ruh dan Perasaan”

Abbas Hasan As Sisi
Saya pernah diundang sejumlah pemuda ke suatu tempat yang jarak tempuhnya memakan waktu tiga jam. Sesampainya di sana, mereka menyambut saya sambil duduk. Wajah mereka hambar, perasaannya dingin, dan pandangannya kosong.

Kemudian saya diminta bicara oleh seniornya. Saya berbicara di hadapan mereka tanpa hati dan ruh. Seusai bicara, ia berterima kasih kepada saya. Lalu saya keluar dengan perasaan seperti baru pulang dari takziah. Saya pulang dengan perasaan yang sama seperti ketika datang. Saya merasa sangat sedih sekali setelah menyaksikan peristiwa ini.

Beberapa hari kemudian datanglah orang yang sama, yang mengundang pertama kali. Ia ingin mengundang 

saya untuk yang kedua kalinya. Saya katakan kepadanya, “Saya diundang ke mana?”

Pemuda itu menjawab, “Ke tempat ikhwah yang kemarin dulu itu Ustadz!”

Saya bertanya lagi, “Apakah mereka itu ikhwah?”

Ia menjawab, “Ya!”

Lalu saya katakan, “Mustahil mereka itu memiliki penghayatan tentang nilai ukhuwah! Bagaimana mereka itu dapat dikatakan ikhwah, jika ketika ada tamu yang datang dengan menempuh perjalanan selama tiga jam, sambil memendam rasa rindu yang membara, dan dengan hati yang lapang saja, mereka menyambut dengan perasaan dingin, sembari duduk bagaikan siswa-siswa di sekolah. Hubungan saya dengan mereka seperti seorang guru dengan murid dalam ruangan. Bila pelajaran usai, maka guru atau murid akan keluar tanpa memberi isyarat apa-apa. Tanpa ada perasaan ukhuwah dan tanpa adanya seruan yang menyatukan mereka. Ketika meninggalkan mereka, saya murung dan sedih atas kebekuan perasaan mereka dan hilangnya kehangatan hati mereka. Ketahuilah, sesungguhnya perasaan yang hidup itulah yang menjadi rahasia keberadaan dan kebangkitan kita.”

Akhirnya pemuda itu merasa malu dam bingung, seraya berkata, “Kalau memang ikhwah tidak menghayati nilai ukhuwah tersebut pada kesempatan yang lalu, maka akan saya ingatkan sehingga mereka dapat memahami pada saat yang akan datang.”

Saya pandangi dia seraya berkata, “Hai Tuanku, sesungguhnya potensi ruhiyah, sentuhan rasa, kecmtaan pada kebaikan, serta perasaan yang lembut itu tidak akan muncul hanya sekedar dengan peringatan dan perintah. Sadarilah, bahwa yang dapat membangkitkan-nya adalah dengan sentuhan-sentuhan hati yang penuh kasih sayang dan kerinduan yang sangat dalam terhadap pasangan seaqidahnya yang melekat di hati.”
Saya meminta maaf padanya karena tidak dapat hadir, walaupun saya rindu dan kasihan pada mereka.

Lengkapnya Klik DISINI

Da’wah Fardiyah

http://www.kagakribet.com/ragam/redgrape.jpg 
Setelah Abu Thalib meninggal dunia, penderitaan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam semakin berat,sehingga beliau pergi ke Thaif untuk mencari perlmdungan dari suku Tsaqif, dengan harapan agar mereka mau menerima ajaran Islam.

Ketika sampai di Thaif, beliau menjumpai tokoh-tokoh dari suku Tsaqif, yang mereka itu tiga bersaudara: Abdu Yalail bin Amr bin Umair, Mas’ud, dan Hubaib. Beliau mengajak mereka untuk mengikuti ajaran Islam dan menjelaskan maksud kedatangannya. Akan tetapi, mereka tidak mau menerima kedatangan beliau, bahkan memanggil kaumnya dan menyuruh mereka agar mengusir dan mengolok-olok Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Akhirnya Rasulullah berlindung di kebun milik Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah, yang waktu itu keduanya ber-ada di kebun tersebut dan mengetahui apa yang sedang dialami oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam Rasulullah duduk di bawah pohon kurma. Sementara itu hati kedua pemilik kebun itu tergerak untuk menolong, lalu menyuruh pembantunya yang biasa dipanggil Adas, “Ambillah setangkai anggur dan letakkan di nampan ini, lalu berikan kepada orang itu.”

Adas pun melaksanakan perintah tersebut dan datang ke hadapan Rasulullah seraya berkata, “Silakan dimakan.”

Rasul menerima anggur tersebut, lalu memetiknya, setelah itu membaca “Bismillahir rahmanir rahim” dan memakan-nya. Mendengar bacaan itu, Adas terperanjat dan memandang Rasulullah dengan heran.

“Demi Allah, ucapan ini bukanlah ucapan penduduk negeri ini.”

Rasulullah berkata, “Wahai Adas, kamu berasal dari mana dan apa agamamu?”

Adas menjawab, “Saya beragama Nasrani, saya dari negeri Ninawai.”

Rasulullah bertanya, “Apakah dari negerinya Yunus bin Matta, hamba Allah yang shalih itu?”

Adas berkata, “Apa yang  Anda ketahui tentang Yunus bin Matta?”

Rasulullah menjawab, “Dia adalah nabi dan saya juga seorang nabi.”

Mendengar jawaban itu, Adas langsung menubruk Nabi, menciumi kepala, kedua tangan, dan kedua kaki beliau.

Kedua pemilik kebun itu melihat kejadian tersebut, lalu seorang di antara mereka berkata kepada yang satunya, “Pembantu kita sudah diracuni oleh laki-laki itu.”

Tatkala Adas datang menghadap, keduanya berkata, “Celakalah kamu wahai Adas, apa yang menyebabkan kamu menciumi kepala, kedua tangan, dan kedua kaki orang itu?”

Adas berkata, “Tuanku, tidak ada yang lebih baik dari ini. Dia telah memberi tahu kepadaku perkara yang hanya diketahui oleh seorang nabi.”

Mereka berkata, “Celakalah kamu wahai Adas, jangan sampai omongannya menjadikan kamu berpaling dari agamamu, karena agamamu lebih baik daripada agamanya.”

Saudaraku,
Kita sudah membaca kisah di atas. Sekarang mari kita petik pelajaran yang ada di dalamnya. Mari kita lihat bagaimana cara Rasulullah memikat hati Adas, lalu membimbingnya perlahan-lahan, hingga mau mengikrarkan keislamannya.

Tatkala Adas datang kepada Rasulullah dengan senampan anggur lalu berkata, “Makanlah,” Rasulullah memulai langkah pertamanya: beliau mengambil anggur itu dan membaca “Bismillahir rahmanir rahim”, lalu memakannya. Seandainya Rasulullah tidak mengucapkan “Bismillahir rahmanir rahim”, tentu Adas tidak akan berkomentar apa pun.

Di sinilah terlihat pentingnya menonjolkan karakteristik Islam dengan melaksanakan sunnah Rasulullah, yang juga merupakan proklamasi aqidah Islamiyah di negara-negara nonMuslim, karena dengan begitu kaum Muslimin dapat mengenal satu sama lain.

Langkah kedua adalah tatkala Adas memandang beliau dan berkata, “Ucapan ini bukanlah ucapan penduduk negeri ini.”

Rasulullah lalu berkata, “Wahai Adas kamu berasal dari negeri mana dan apa agamamu?”
Rasulullah memanggilnya dengan menyebut nama Adas. Panggilan dengan menyebut nama secara langsung itu mempunyai erti yang amat besar untuk mengakrabkan sebuah persahabatan. Kemudian beliau menanyakan tentang negeri dan agamanya. Ini merupakan sebuah rangkaian pembicaraan yang berurutan secara rapi.

Adas menjawab, “Saya beragama Nasrani, dari negeri Ninawai.”

Lalu Rasul bertanya, “Apakah kamu dari negerinya Yunus bin Matta, hamba Allah yang shalih itu?”

Kita melihat bahwa Rasulullah memberikan gelar kepada Yunus ‘Alaihis Salam dengan menyebut “hamba yang shalih.” Inilah yang menjadikan hati Adas semakintersentuh dan tertarik. ia juga mengetahui bahwa Rasulullah mengetahui letak negeri Ninawai, sebuah negeri yang terletak di sebelah sungai Furat, Iraq. Ini semua menjadikan Adas semakin tertarik.

Adas bertanya, “Apa yang Anda ketahui tentang Yunus bin Matta?”

Rasulullah menjawab, “Dia adalah saudaraku. Dia seorang nabi dan aku juga seorang nabi.”

Di sini terdapat sentuhan yang amat lembut. Ungkapan Rasulullah, “saudaraku,” semakin membuat Adas tertarik dan percaya. Banyak kita jumpai orang yang bertanya tentang seseorang kemudian ia jawab, “la adalah saudaraku.”

Jawaban itu akan menambah keakraban dan rasa percaya. Dari nada bicara Rasulullah itu terlihat sifat tawadhu’ beliau, yaitu beliau menyebut nama Yunus ‘Alaihis Salam lebih dahulu

sebelum menyebut nama beliau sendiri. Di sini terdapat pelajaran yang amat penting dan berharga bagi seorang da’i.

Banyak di antara kita yang tatkala membicarakan seseorang yang mempunyai “kelebihan” mengatakan, “Dia sekolahnya bersamaan dengan saya,” atau “Dia dulu satu fakultas dengan saya.” Padahal yang lebih baik adalah, “Saya dulu bersamanya waktu di sekolah menengah,” atau “Saya dulu satu fakultas dengannya.”

Saudaraku,
Inilah yang terjadi antara Rasulullah dengan Adas. Sebuah kisah yang sederhana dan mudah dicerna. Jadi, bagi da’i yang ingin memetik pelajaran dari kisah ini tidak akan merasa kesulitan.

Saudaraku,
Sekarang marilah kita perhatikan kisah-kisah yang lain. Ada beberapa orang yang ingin menjumpai Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Salah seorang di antara mereka menceritakan, “Kami berusaha mencari tahu tentang Rasulullah, karena kami belum pernah mengenal dan melihatnya. Kami bertemu dengan seorang laki-laki, lalu kami bertanya kepadanya tentang Rasulullah. ia menjawab, ‘Apakah kalian mengenalnya?’ Kami menjawab, ‘Tidak.’ Ia berkata, ‘Jika kalian masuk ke dalam masjid, maka Muhammad adalah seseorang yang duduk bersama Abbas bin Abdul Muthalib yang tak lain adalah pamannya.’ Kami menjawab, ‘Ya, kami mengenal Abbas, dia sering datang kepada kami untuk berdagang.’ ia berkata, ‘Jika kalian masuk masjid, maka Muhammad adalah orang yang duduk bersama Abbas.’ Kemudian kami masuk ke dalam masjid dan kami menjumpai Rasulullah yang sedang duduk bersama Abbas.

Kami memberi salam, lalu duduk di dekat mereka. Kemudian Rasulullah bertanya kepada Abbas, ‘Wahai Abu Fadl apakah engkau mengenal dua orang ini?’ Abbas menjawab, ‘Ya. Ia adalah Bara’ bin Ma’rur, seorang pemuka kaum dan ini Ka’ab bin Malik.’ Rasul bertanya, ‘Apakah dia penyair yang terkenal itu?’ Abbas menjawab, ‘Ya.’”

Sungguh, saya tidak pernah melupakan ucapan beliau, “Apakah dia penyair yang terkenal itu?” Demikianlah metode Rasulullah dalam memikat hati mad’unya.

Waktu itu saya sedang berada di pejabat pusat Ikhwanul Muslimin di Kairo. Saya melihat Ustadz Hasan Al Banna sedang berbicara dengan salah seorang pemuda (saat itu ada banyak pemuda yang hadir di sana). Dalam pembicaraan itu, Ustadz Hasan Al Banna banyak menyanjung tokoh-tokoh Muslim Syria.
Lalu pemuda itu bertanya dengan nada keheranan, “Apakah Ustadz sudah pernah berkunjung ke Syria?”
Ustadz menjawab, “Saya sudah berniat untuk mengunjunginya, mudahmudahan Allah mengabulkannya.”

Akhirnya harapan itu pun terwujud. Pada tahun 1948 M. beliau pergi ke Syria dalam acara penyambutan kedatangan rombongan Ikhwanul Muslimin yang datang dari Mesir untuk bergabung dengan anggota Ikhwanul Muslimin Syria dalam latihan militer di Quthna, sebelum ikut terjun dalam perang melawan Yahudi di Palestina. Kedatangan Ustadz Hasan Al Banna sendiri disambut gembira oleh massa yang melimpah ruah.
Pada tahun 1948 M. saya masuk dalam anggota pasukan militer yang dikirim untuk berperang di Palestina. Waktu itu saya berkunjung ke pejabat Ikhwanul Muslimin di kota Gaza atas nama Jam’iyah At Tauhid. Di dalam buku tamu saya menjumpai tulisan Ustadz Hasan Al Banna yang telah datang ke Palestina bersama batalion pertama untuk mengusir Yahudi tatkala Inggris menarik pasukannya pada bulan Mei 1948 M. Di antara bunyi tulisan itu adalah: “Hari ini saya berkunjung ke pejabat cabang Ikhwanul Muslimin di kota Gaza Hasyim….”

Saya berhenti pada tulisan beliau, “Gaza Hasyim.” Untuk pertama kalinya saya mengetahui bahwa Hasyim, kakek Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, dimakamkan di kota Gaza.

Saya pergi bersama beberapa teman untuk mengunjungi orang sakit di sebuah rumah sakit di Jerman. Ketika kami sedang berjalan, kami berpapasan dengan seorang dokter muda yang kelihatannya berasal dari Jerman. Namun tiba-tiba ia mengucapkan “Assalamu’alaikum” kepada kami. Salah seorang di antara kami mengejarnya dan berkenalan. Dokter itu mengatakan bahwa dirinya seorang Muslim. Begitulah, seandainya dokter itu tidak mengucapkan salam, maka kami tidak akan mengetahui bahwa ia beragama Islam dan kami pun akan kesulitan mendapatkan orang yang dapat membantu kami.

Tatkala saya berada di Jerman, saya dan seorang teman naik sebuah trem cepat. Kami duduk di sebelah seorang tentara Amerika berkulit coklat. Tatkala men-dengar kami berbicara dengan bahasa Arab, ia berkata, “Kalian beragama Islam?”

Kami menjawab, “Ya, Alhamdulillah, kami adalah orang Islam.”

Lalu ia berkata dengan suara agak keras, “Saya juga seorang Muslim, nama saya Muhammad.”
Kemudian dengan cepat ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebungkus rokok, lalu disodorkannya kepada kami. Kami menolak tawaran itu dengan ucapan terima kasih dan meminta maaf. Kemudian ia bangkit dan menjabat tangan kami dengan hangat sekali dan berbicara dengan bahasa Arab secara terbata-bata, “Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia muliakan tamunya.”‘

Kejadian itu menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitar kami. Tatkala sampai di stasiun tujuannya, ia berdiri dan menjabat tangan kami sekali lagi lalu turun dengan perasaan amat bahagia. Kami pun telah mencatat alamatnya, sehingga kami akan dapat berkirim surat kepadanya. Begitulah, seandainya kami tidak berbicara dengan bahasa Arab, niscaya ia tidak akan peduli dan kami akan kehilangan seorang teman.

Marilah kita melihat bagaimana orang-orang Perancis mengetahui masuk  Islamnya ilmuwan besar berkebangsaan Perancis, Jake Koesto, seorang ilmuwan yang ahli di bidang kedalaman laut. Tatkala ia bepergian bersama teman-temannya, ia disuguhi minuman keras tetapi ia menolak. Teman-temannya bertanya, “Apakah kamu sudah masuk Islam?”

Ia menjawab, “Ya.”

Ternyata ia sudah merahasiakan keislamannya selama bertahun-tahun. Begitulah, akhlak dan perilaku yang islami adalah da’wah.

Abbas As SisiAth Thariq ila Qulub

Lengkapnya Klik DISINI

Dia Tidak Hadir karena Berhalangan

Abbas Hasan As Sisi
Abbas As-Sisi
 Dia adalah sebaik-baik teman, paling aktif ke masjid dan sangat mencintai teman-temannya. Tiba-tiba, lama sekali tidak kelihatan batang hidungnya di tengah-tengah mereka. Ketika kemudian ia dapat berkumpul kembali, tiba-tiba seorang teman datang memaki-makinya. Dengan nada sedih ia mengatakan padanya,

“Kenapa kamu sekarang menengokku? Ke mana saja kamu dan teman-teman selama ini? Mengapa tidak berusaha mencariku selama beberapa bulan terakhir ini? Sebenarnya, saya sangat memerlukan kehadiran kalian di sampingku di saat istriku meninggal dunia, dan meninggalkan anak-anak yang masih kecil. Saya membutuhkan orang-orang yang akrab dengan saya pada saat-saat kritis seperti itu.”

Hal ini menjadi pelajaran berharga bagi saudara-saudara yang belum memenuhi kewajiban kepada saudaranya yang lain dalam hal memantau kondisinya. Ini merupakan kewajiban minimal. Karena Rasul telah besabda, “Bila ia tidak ada maka carilah….”

Ini sekedar contoh, seseorang yang lama tidak mun-cul dan tidak diketahui penyebabnya, tidak akan jelas alasannya kecuali setelah menanyakannya.

Satu contoh lagi, sejumlah orang hidup bersama bertahun-tahun dalam kondisi yang serba sulit —senasib sepenanggungan—. Tiba-tiba, (sudah menjadi sunnatullah bahwa manusia pasti akan saling berpisah dan berjauhan) karena tuntutan hidup, studi, atau pekerjaan sehingga kebersamaan itu akhirnya berhenti juga. Ternyata, ada yang menganggap temannya ini sudah mulai mengambil jarak, atau pergi karena takut, atau karena mulai melemah keakrabannya, dan Iain-lain. Sehingga timbullah berbagai macam dugaan. Padahal kita dilarang melakukan hal tersebut. Allah telah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, danjanganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain.” (Al Hujurat: 12)

Kemudian ia menghilang dari ingatan teman-teman-nya, karena mereka tidak memperhatikan haknya.
Setelah lama berselang dan banyak peristiwa penting terjadi, seperti biasanya dalam perjalanan da’wah, tiba-tiba mereka dikagetkan dengan munculnya teman lama mereka yang sudah sekian waktu menghilang. Ia berada di tengah-tengah mereka.

Ia mengorbankan jiwa dan hartanya dengan penuh ketulusan dan keberanian yang mengagumkan, bahkan membuat malu sebagian mereka yang belum memahami hakikat da’wah. Seseorang yang sudah merasakan nik-matnya da’wah, —da’wah sudah menyatu dalam hati, perasaan, dan pikirannya— maka ia akan menganggap murah semua yang ada padanya. Da’wah lebih mahal dibanding semua yang dimiliki.

Seorang da’i harus senantiasa husnuzhan, tidak me-rendahkan yang lain, atau merasa dirmya lebih baik dari yang lain dalam barisan da’wah. Bahkan, seorang da’i pada saat tertentu ada di depan, pada saat yang lain ada di barisan belakang.

Setiap orang yang pernah tersentuh ruh da’wah nis-caya akan tetap hidup bersama da’wah hingga menemui Allah. Karenanya seorang da’i harus selalu husnuzhan kepada sesama saudaranya dan menutupi aibnya, sampai ia sadar dan kembali ke jalan yang benar. Sehingga, ketika seorang da’i kembali kepada teman-temannya, ia tetap menjumpai suasana saling mencintai. (24092013)

Lengkapnya Klik DISINI

Strategi Psikologis dalam Forum Dialog Umum

Abbas Hasan As Sisi

Abbas As Sisi

Terkadang, dalam suatu acara kita dihadapkan pada sesuatu yang mendadak dan mendesak, serta masalah yang tidak ada kesepakatan sebelumnya. Bahkan sebagian hadirin tidak pernah kenal sebelumnya. Suatu ketika —dalam suatu diskusi—, tiba-tiba pembicaraan berkisar tentang da’wah Ikhwanul Muslimin. Saya paparkan beberapa pom seputar pemikiran Al Ikhwanul Muslimun, sejarah, dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Setelah ceramah, saya menunggu reaksi para peserta.

Muncullah pertanyaan dari salah seorang peserta, ia mengatakan, “Kita adalah Ikhwan, apa sikap kita terhadap orang-orang yang menghalangi da’wah kita? Saya ingin penjelasan tentang pokok-pokok pemikiran Ikhwan dan sejarahnya sehingga saya dapat membelanya?”

Pada saat yang bersamaan ada peserta lain yang bertanya, “Kalian adalah Ikhwan. Bagaimana kalian menghadapi tantangan, tuduhan, dan rencana musuh-musuh da’wah Islam?”

Dari dua tanggapan tersebut, saya menyadari sekaligus menyimpulkan bahwa penanya pertama telah dibukakan hatinya oleh Allah sehingga merespon dan merasa mantap terhadap da’wah Ikhwan. Sementara penanya kedua masih ragu-ragu dan belum mantap menerima manhaj da’wah Ikhwan, sehingga masih perlu mendapat banyak penjelasan. Maka, langsung saja saya mengarahkan perhatian dan pembicaraan kepada penanya kedua dengan penuh rasa hormat. Saya tidak berusaha membantah dan menghubungkan pertanyaannya dengan penanya pertama. Seandainya saya melakukan hal itu, berarti saya telah membuat jarak secara kejiwaan antara keduanya karena terjadi perbedaan pemikiran/pendapat.

Sebenarnya, secara kejiwaan seseorang itu tidak menyukai orang lain yang tidak sependapat dengannya.
Saya menyadari bahwa menyampaikan da’wah pada sekelompok orang yang mempunyai latar belakang dan tujuan berbeda-beda, kecil kemungkinannya dapat menembus hati dan pikiran mereka, karena jumlahnya yang banyak. Yang terjadi justru munculnya perbedaan pen-dapat dan madzhab. Karena kebiasaan seorang pembicara adalah mempertahankan pendapatnya, baik ber-dalih kepada kebenaran maupun kebatilan, sehingga timbullah perdebatan yang tak bermanfaat.

Akan tetapi da’wah fardiyah adalah menyentuh inti permasalahan dan memberikan kesempatan lebih luas dalam berdialog yang bebas dan tenang atau dalam bahasa da’wah “billati hiya ahsan “, 5ehingga dapat saling tukar pandangan dan adu argumentasi. Da’wah fardiyah merupakan cara untuk saling terbuka, karena terkadang ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat diungkap di depan umum.

Seperti tuduhan-tuduhan buruk yang sempat merasuki pikiran generasi muda, yang tidak mengetahui hakikat sebenarnya tentang kondisi politik : Kairo yang dikendalikan oleh musuh-musuh da’wah Islam, yaitu musuh-musuh yang selalu ingin menutup jalan Allah. Namun, Allah berkuasa terhadap utusan-Nya, “Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (Yusuf:21)

Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......