Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Seperti Abu Bakar dan Umar

UmarPemimpin teladan sepanjang zaman setelah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakar dan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhuma. Rasanya hingga hari ini—setelah Utsman dan Ali juga selain Umar bin Abdul Aziz—belum pernah muncul kembali pemimpin yang mirip dengan mereka berdua, wallahu a’lam. Maka sudah selayaknya bagi para politisi muslim mengambil teladan dari dua pemimipin yang mulia ini.
Sekelumit Karakter Mulia Sang Khalifah Rasulullah

Kokoh dan Teguh Pendirian

Abu Bakar adalah seorang yang kokoh jiwanya. Lihatlah bagaimana beliau menjadi orang yang terdepan menenangkan umat Islam pada hari wafatnya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.

Beliau pun adalah seorang yang teguh pendirian dengan dalil-dalil yang kuat. Ia pernah berselisih pendapat dengan para sahabat yang lainnya tentang tindakan yang harus dilakukan kepada orang-orang yang tidak mau membayar zakat. Perkataannya yang terkenal yang menunjukkan keteguhannya adalah, “Demi Allah, akau akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dan zakat. Demi Allah, kalau sekiranya mereka tidak mau memberikan anak kambing yang merek berikan kepada Rasulullah, maka pasti aku akan memerangi mereka karena penolakan mereka.”

Faqih dan Selalu Berpegang Teguh Kepada Al-Qur’an dan Sunnah

Syeikh Abu Ishaq menjadikan perkataan Abu Bakar di atas sebagai bukti bahwa Abu Bakar adalah sahabat yang paling tahu agama karena semua sahabat saat itu tidak memahami hukum masalah tersebut. Setelah Abu Bakar menjelaskan, akhirnya mereka menyadari bahwa pendapat Abu Bakar yang benar sehingga mereka pun mengambil pendapat Abu Bakar.

Ya, Abu Bakar adalah pribadi muslim yang cerdas berwawasan. Ia senantiasa berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan sunnah. Sesungguhnya jika ada satu permasalahan yang diajukan kepada Abu Bakar dan dia tidak mendapatkan di dalam Kitab Allah dan Sunnah, Abu Bakar akan mengatakan, “Aku akan berijtihad dengan menggunakan kemampuan akalku. Apabila hal itu benar maka itu dari Allah, jika salah, maka itu berasal dari kelemahanku dan aku memohon ampun kepada Allah.”

Maimun bin Muhram berkata, “Apabila Abu Bakar menemukan suatu perselisihan atau perbedaan pendapat maka dia melihat hukumnya di dalam Al-Qur’an. Jika dia menemukan hukumnya di dalam Al-Qur’an, dia memutuskan hukumnya dengan Al-Qur’an. Akan tetapi, jika dia tidak menemukan hukumnya di dalam Al-Qur’an dan dia mengetahui hadits Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tentang masalah tersebut maka dia akan memutuskan dengan hadits Rasulullah. Apabila tidak mendapatkannya dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, dia akan bertanya kepada umat Islam, ‘Seseorang telah dating kepadaku dan menanyakan demikian dan demikian. Apakah ada diantara kalian yang mengetahui bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam pernah memutuskan perkara ini?”’

Fasih

Ibnu Katsir berkata, “Abu Bakar adalah orang yang paling fasih bahasanya dan paling piawai berkhutbah. Zubair bin Bakkar berkata, ‘Aku mendengar seorang ulama berkata, ‘Orang yang paling fasih dalam berkhutbah di antara para sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam adalah Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib.’”

Lembut Hatinya

Selain kokoh jiwanya, teguh pendiriannya, cerdas berwawasan, disiplin memegang hukum Allah, dan fasih bahasanya, Abu Bakar juga dikenal lembut hatinya sehingga ia diberi gelar Al-Awwah, yang menurut Ibrahim An-Nakh’i artinya adalah ‘orang yang sering berkeluh kesah lantaran rasa iba dan kasih sayangnya’. Maka tidaklah heran jika ia menjadi orang yang selalu berusaha memberi manfaat kepada orang lain. Rabi’ bin Anas berkata, “Tertulis dalam kitab terdahulu: perumpamaan Abu Bakar As-Shiddiq adalah seperti tetesan air hujan. Di mana pun jatuh, ia member manfaat.

Pemimpin Amanah

Abu Bakar memahami bahwa kepemimpinan sejatinya adalah amanah. Kepemimpinan bukanlah kekuatan yang mendorong dirinya untuk bertindak sesuka hati. Kepemimpinan baginya adalah tugas berat agar ia mampu menegakkan keadilan dan kebenaran serta menghapuskan berbagai kemudharatan dan kemaksiatan. Hal ini tergambar dalam pidatonya sesaat setelah dibai’at menjadi khalifah,

“Wahai umat Islam! Sesungguhnya aku telah dipilih untuk memimpin kalian, padahal aku bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Jika akau melakukan sesuatu yang baik, bantulah aku. Jika aku melakukan perbuatan yang menyimpang maka luruskanlah aku! Sebab kejujuran adalah amanah, sedangkan kebohongan adalah pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kalian itu kuat dalam pandanganku. Aku akan penuhi hak-haknya, insya Allah. Sedangkan orang yang kuat di antara kalian itu lemah di hadapanku. Aku akan tuntut kewajibannya, insya Allah. Ketika suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah maka Allah pasti akan menghinakan mereka. Setiap kali kemaksiatan merajalela di tengah suatu kaum, Allah pasti menimpakan malapetaka kepada mereka. Taatlah kalian kepadaku selama aku taat kepada Allah dan rasul-Nya. Jika aku melakukan kemaksiatan kepada Allah dan rasul-Nya maka tidak ada kewajiban taat kalian kepadaku…”

Tidak Berlebihan ‘Menikmati’ Harta Umat

Kesadaran bahwa kepemimpinan itu hanyalah amanah dan bukan alat untuk mengumpulkan kekayaan, membuat Abu Bakar bersikap hati-hati terhadap harta milik umat. Dia tidak berani meminta bagian dari harta milik umat kecuali setelah Umar dan Abu Ubaidah menetapkan jatah baginya.

Ibnu Sa’ad dari Atha’ bin Saib mengisahkan bahwa ketika Abu Bakar dibaiat menjadi khalifah, dia pernah berangkat ke pasar dengan memanggul kain. Umar bertanya, “Mau ke mana kau?” Abu Bakar menjawab, “Ke pasar.” Umar bertanya, “Apa yang akan kau lakukan, sedangkan kau telah diangkat sebagai khalifah untuk memimpin umat Islam?” Abu Bakar balik bertanya, “Lalu, darimana aku harus memberi makan keluargaku?” Kemudian Umar berkata, “Pergilah ke rumah Abu Ubaidah. Kita akan meminta pendapatnya tentang biaya hidupmu dan keluargamu.” Keduanya lalu pergi menuju rumah Abu Ubaidah. Abu Ubaidah berkata, “Aku anggarkan untukmu makanan seperti yang dimakan seorang Muhajirin, bukan dari golongan atas dan bukan dari golongan bawah, serta pakaian musim dingin dan musim panas. Apabila itu telah rusak, kembalilah dan silahkan ambil yang lain.” Lalu, Abu Ubaidah dan Umar menetapkan jatah makanan Abu Bakar setiap harinya setengah kambing, serta apa yang dipakainya untuk menutupi kepala dan badan.

Ibnu Sa’ad dari Maimun memberitakan bahwa para pengurus Baitul Mal menetapkan gaji Abu Bakar sebesar 2.000 dirham. Lalu Abu Bakar berkata, “Aku mohon agar jumlah itu ditambah karena aku mempunyai keluarga, sedangkan kalian telah membuatku tidak bisa berdagang.” Kemudian mereka pun memberikan tambahan gaji kepada Abu Bakar sebesar 500 dirham.

Peduli Umat

Abu bakar memiliki Baitul Mal di Sanah, sebuah tempat di pinggiran KotaMadinah. Dari Baitul Mal inilah Abu Bakar pernah membagikan harta untuk rakyatnya yang fakir miskin dengan pembagian yang merata. Dia membeli unta, kuda, dan senjata untuk kepentingan jihad di jalan Allah. Dia juga membeli karpet yang dibawa orang-orang Badui dan dia bagikan kepada janda-janda yang ada di Madinah. Ketika Abu Bakar wafat dan telah dimakamkan, Umar memanggil orang-orang kepercayaannya, diantaranya Abdurahman bin Auf dan Utsman bin Affan. Mereka masuk ke Baitul Mal milik Abu bakar dan membukanya, namun mereka tidak mendapatkan satu dinar atau dirham pun di dalamnya.

Sekelumit Karakter Mulia Sang Amirul Mu’minin

Sama halnya dengan Abu Bakar, Umar bin Khattab pun memiliki keunggulan dalam kepemimpinannya.

Kebijakan-Kebijakan Baru Yang Maju

Amirul Mu’minin, Umar bin Khattab, adalah orang yang pertama kali menetapkan penanggalan Islam yang diawali dari hijrahnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam; ia juga disebut-sebut sebagai orang yang pertama kali membangun administrasi baitul mal dalam pemerintahan Islam; dalam peribadatan, Umar lah yang pertama kali memerintahkan shalat tarawih berjama’ah di bulan Ramadhan; ia pula yang pertama kali membangun kantor-kantor administrasi dan memberikan gaji khusus kepada orang-orang yang masuk Islam lebih dahulu; mengangkat hakim di kota-kota dan membangun kota-kota, seperti Kufah, Bashrah, Umar juga adalah orang yang pertama kali mengambil zakat kuda; dan banyak lagi kebijakan-kebijakan lainnya.

Ibnu Sa’ad berkata, “Umar membuat lumbung untuk menyimpan tepung gandum, kurma, kismis, dan semua bahan makanan yang diperlukan. Dengan lumbung makanan tersebut, Umar membantu orang-orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan. Dia membangun lumbung itu di antara Makkah dan Madinah yang gampang diambil oleh orang yang membutuhkannya. Dia juga yang pertama merenovasi Masjid Nabawi di madinah dan memperluasnya, serta menghamparinya dengan batu kerikil yang lembut. Umar adsalah yang mengusir orang-orang Yahudi dari Hijaz ke Syam dan mengusir orang-orang Najran ke Kufah. Umar juga menempatkan maqam Ibrahim pada posisinya yang kita lihat hingga sekarang. Maqam Ibrahim sebelumnya menempel dengan Ka’bah.”

Berbagai pembebasan wilayah banyak dilakukan pada masa Umar; Himsh, Baklabakka, Bashrah, Aballah, Yordania, Thabarriyah, Ahwaz, Madain, Tikrit, Baitul Maqdis, dan masih banyak lagi daerah-daerah lain, hingga Islam menjadi sebuah kekuatan yang besar.

Pribadi yang Tegas namun Lembut

Meskipun memimpin kekuatan yang demikian besar, Umar bin Khattab tetap menjadi pribadi yang sederhana, rendah hati, namun tegas.

Umar bin Khattab berkata tentang gaya kepemimpinan yang dipilihnya, “Sesungguhnya pemerintahan ini tidak mungkin bisa berjalan kecuali dengan ketegasan, tetapi tidak zalim; dan kelembutan, tetapi tidak lemah dan takut.”

Pemerintahan yang Bersih

Khuzaimah bin Tsabit berkata, “Jika Umar mengangkat pejabat, dia akan menuliskan baginya suatu perjanjian. Dia mensyaratkan kepada pejabat itu untuk tidak mengendarai kuda, tidak memakan makanan dengan kualitas tinggi, tidak memakai pakaian yang halus, dan tidak menutup rumahnya bagi siapa yang terdesak kebutuhannya. Jika dia melakukannya, dia dipecat.”
Umar juga memerintahkan kepada para pejabatnya atau orang yang akan diangkatnya sebagai pejabat untuk mencatat harta kekayaannya.

Sebagaimana halnya Abu Bakar, Umar bin Khattab pun sangat berhati-hati terhadap harta milik umat. Umar awalnya tidak makan dari harta Baitul Mal, ketika terjadi masa paceklik, dia meminta kepada para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberikan pendapat. Dia berkata, “Aku telah menyibukkan diri dengan urusan khalifah ini. Lalu apakah aku boleh mengambil sesuatu dari Baitul Mal?” Ali berkata, “Engkau boleh mengambil makanan untuk makan siang dan malam.” Lalu Umar mengambil dari Baitul Mal sebagaimana yang disarankan Ali.

Ibnu Sa’ad dari Sufyan bin Abu Auja’ menceritakan bahwa Umar pernah berkata, “Demi Allah, aku tidak mengetahui apakah aku ini seorang raja atau khalifah. Jika aku ini adalah seorang raja maka ini adalah persoalan yang besar.” Seorang yang hadir berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, sesungguhnya di antara keduanya itu memiliki perbedaan yang besar.” Umar bertanya, “Apa perbedaannya?” Orang itu menjawab, “Seorang khalifah itu tidak mengambil harta rakyatnya, kecuali dengan cara yang benar dan mempergunakannya dengan cara yang benar pula dan engkau seperti itu, sedangkan seorang raja adalah orang yang melakukan kezaliman kepada manusia, mengambil hak orang lain dengan sekehendaknya, dan memberikan hartanya dengan sekehendaknya pula.” Mendengar itu Umar terdiam.

Hasan berkata, “Suatu ketika, Umar dating ke rumah anaknya yang bernama Ashim. Saat itu Ashim sedang memakan daging. Umar berkata, ‘Apa ini?’ Ashim menjawab, ‘Kami ingin sekali makan daging’ Umar berkata, ‘Apakah kau akan memakan setiap yang kau inginkan? Seseorang dianggap sebagai pemboros jika dia selalu menuruti apa yang dinginkannya.’”

Qatadah mengatakan bahwa pada saat Umar menjabat sebagai khalifah, dia memakai jubah dari bahan wol yang ditambal dengan kulit. Dia berkeliling di pasar sambil membawa cemeti untuk memukul orang yang berlaku curang.

Abdullah bin Amir pernah melaksanakan haji bersama Umar. Dia tidak pernah mendirikan kemah atau tenda. Yang dilakukannya adalah menggelar tikar di bawah pohon, lalu berteduh di bawah pohon itu.

Lengkapnya Klik DISINI

‘Diancam’ Pedang oleh Rakyatnya, Umar Malah Tersenyum

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!
Amirul Mukminin Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu merupakan salah satu pemimpin terbaik yang pernah dimiliki oleh kaum Muslimin. Keteladanan beliau dalam memimpin menjadi buah bibir lintas generasi. Harum dikenang. Dibincangkan kebaikan-kebaikannya. Tak bertepi.

Umar bin Khaththab merupakan pemimpin yang tegas. Beliau diberi gelar al-Faruq, yang mampu membedakan antara kebaikan dengan keburukan. Saking tegasnya, beliau juga dijuluki sebagai sosok yang menjadi palang pintu bagi masuknya fitnah kepada kaum Muslimin.

Di zaman beliau, tidak ada fitnah besar yang melanda kaum Muslimin. Dan sepeninggalnya, kaum Muslimin dilanda fitnah yang amat besar hingga akhir zaman. Meskipun, kedua hal ini hanya bisa terjadi atas izin Allah Ta’ala. Dia Berkehendak melakukan semua yang Dikehendaki.

Umar juga seorang pemimpin yang sangat pemberani. Di bawah kepemimpinannya, Islam dan kaum Muslimin disegani dan kuat. Banyak daerah baru yang berhasil ditaklukan dengan kalimat tauhid. Banyak pencapaian-pencapain yang bahkan belum pernah terjadi di zaman Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam.

Meski demikian, Umar justru sangat khawatir dan sangat ketakutan. Beliau khawatir, apa yang dia capai merupakan fitnah karena hal itu tidak diberikan oleh Allah Ta’ala kepada Abu Bakar dan Rasulullah, padahal keduanya jauh lebih baik dari Umar bin Khaththab.

Salah satu kisah luar biasa lainnya terjadi ketika Umar bin Khathtab baru dilantik sebagai pemimpin kaum Muslimin. Saat ayah Hafshah ini menyampaikan pidato, ada salah seorang sahabat mulia yang berani menyampaikan ancaman positif. Uniknya, Umar bukannya marah, tapi justru tersenyum dengan apa yang disampaikan oleh sahabatnya itu.

Katanya dengan sangat tegas, “Apabila Engkau, wahai Khalifah, benar, maka aku akan menaatimu. Tetapi jika Engkau menyimpang, pedang ini yang akan meluruskanmu.”

Mari sedikit berandai-andai, apa yang akan terjadi jika pemimpin kita tengah berpidato, lalu ada yang mengatakan kalimat semakna ini? Akankah dia tersenyum selayaknya Umar bin Khaththab? Ataukah dia akan marah-marah, malu, lalu menimpakan hukuman kepada rakyat yang mengatakan seperti itu?
Bahkan, membayangkan pun tak akan pernah sempurna. Sebab antara kita dan rakyatnya Umar bin Khaththab amat jauh kualitasnya. Apalagi kualitas pemimpinnya.
Wallahu a’lam. 

http://kisahikmah.com/diancam-rakyatnya-umar-malah-tersenyum/


Lengkapnya Klik DISINI

Pengakuan Mencengangkan Non-Muslim tentang al-Qur’an

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

sumber gambar: pda.vietbao.vn
Akan menjadi sangat aneh jika ada orang yang mengaku Islam, atau memeluk agama Islam sejak lahir, tapi dia tidak mempercayai al-Qur’an al-Karim. Apalagi, hanya berbekal otak dan logikanya yang pendek, mereka berdalih sedemikian rupa hanya untuk mendiskreditkan al-Qur’an. Padahal, salah satu tokoh non-Muslim termuka dari negeri Barat ini mengakui bahwa al-Qur’an merupakan wahyu dari Allah Ta’ala yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Siapakah tokoh non-Muslim ini?

“Kitab suci al-Qur’an,” tulis laki-laki ini dalam Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, “adalah kumpulan wahyu kepada Muhammad yang diyakininya berasal dari Allah Ta’ala.”
Sosok yang memasukkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di peringkat pertama tokoh yang paling berpengaruh di jagat raya ini melanjutkan, “Sebagian dari wahyu ini disalin dengan penuh kesungguhan selama Muhammad masih hidup, kemudian dihimpun dalam bentuk yang tak tergoyahkan tak lama setelah ia wafat.”

“Dengan demikian,” tuturnya tentang al-Qur’an ini, “al-Qur’an berkaitan erat dengan pandangan-pandangan Muhammad serta ajaran-ajarannya, karena dia bersandar kepada wahyu Tuhan.”

Jika seorang non-Muslim saja berkata demikian, alangkah dangkalnya oknum kaum ini yang menyangsikan, bahkan meragukan Muhammad sebagai Nabi terakhir, lalu mengangkat sosok lain sebagai panutannya.

Jika al-Qur’an amatlah sempurna, tiada kesalahan maupun kotradiksi di dalamnya, namun tidak demikian dengan kitab lainnya. “Sebaliknya,” lanjutnya menerangkan, “tak satu pun kumpulan yang begitu terperinci dari ajaran-ajaran Isa yang masih dapat dijumpai di zaman sekarang. Meski al-Qur’an bagi kaum Muslimin, sedikit banyak, sama pentingnya dengan Injil bagi kaum Nashrani, (namun) pengaruh Muhammad dengan perantara al-Qur’an teramat besar (di banding pengaruh Isa bagi kaum Nashrani).”

Pungkas laki-laki yang tak lain adalah Michael H. Hart sebagaimana dikutip oleh udo Yamin Efendi Majdi dalam Quranic Quotient, “Kemungkinan pengaruh Muhammad dalam Islam lebih besar dari pengaruh Isa dan St. Paul (digabung jadi satu) dalam dunia Kristen.”

Bolehkah dilihat secara detail, adakah buku yang mengulas kehidupan Isa tulisan penganut Nashrani secara runut dan terperinci? Sedangkan terkait Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ada begitu banyak kitab yang menerangkannya. Kehidupan beliau bak mata air yang tak pernah kering, senantiasa memancarkan cahaya di seantero zaman.
Wallahu a’lam. [Pirman/BersamaDakwah] sumber
Lengkapnya Klik DISINI

Muhammad Ali Lamu

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

Ust. Ali Lamu, LC (Alm)
Oleh : Cahyadi Takariawan

Aku tadi melihatmu. Tersenyum cerah di antara para mujahid itu. Wajah teduhmu membuatku tak berpaling menatapmu.

Tegak engkau berdiri di tengah keramaian orang-orang salih itu. Menyapa ramah semua yang di sekitarmu. Engkau jabat erat tangan para sahabat, satu per satu.

Ya, aku mengenalimu. Suara lembut dan renyah itu, bergema di sudut kalbu. Aku sangat mengenal suara itu.

Benar, aku tadi melihatmu. Karena engkau selalu hadir di setiap acara dakwah nasional, aku tahu itu. Saat para pejuang berkumpul, engkau tak pernah melewatkan kesempatan untuk bertemu.

Seolah engkau ingin memastikan kami masih di jalan itu. Jalan dakwah yang terdahulu. Jalan yang mengantar kepergianmu.

Seolah engkau berpesan agar kami tidak ragu. Agar kami selalu berjuang bersama semangatmu. Engkau tidak ingin kami meninggalkan jalan kesetiaan itu.

Ya, aku tadi melihatmu. Tersenyum cerah di antara para mujahid itu. Wajah teduhmu membuatku tak berpaling menatapmu.

Berbaju putih bersih, cahaya seakan memancar dari wajahmu. Menerangi semua yang berdiri di sekelilingmu.

Sekelebat, sangat cepat, aku telah kehilanganmu. Saat aku berlari menyongsongmu, ternyata engkau telah berlalu.

Aku segera terbangun dari lamunanku. Tepat pukul sepuluh, saatnya aku menuju ruangan tempat bertemu. Para mujahid, berbaju putih bersih, telah memenuhi ruangan menungguku.

Aku segera masuk, menyapa mereka satu per satu. Air mata bahagia meleleh di pipiku. Di mataku, wajah mereka semua tampak seperti wajahmu.

Depok, 13 Januari 2016
Menjelang Penutupan Rakernas PKS
🌴Mengenang seorang mujahid dakwah dari Palu. Muhammad Ali Lamu.

Lengkapnya Klik DISINI

Di Balik “Ketika Tangan dan Kaki Berkata”

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

Foto: bintang.com
PENYAIR Taufiq Ismail menulis sebuah artikel tentang Krismansyah Rahadi atau biasa dipanggil Chrisye (1949-2007) di majalah sastra HORISON:

Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata, “Bang, saya punya sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi saya tidak puas. Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?” Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa. Saya tanyakan kapan mesti selesai. Dia bilang sebulan. Menilik kegiatan saya yang lain, deadline sebulan itu bolehlah.

Kaset lagu itu dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan diisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi relijius.

Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul. Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat tetap buntu. Saya heran. Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan. Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan harinya dan saya mau bilang, “Chris, maaf ya, macet. Sori.” Saya akan kembalikan pita rekaman itu.

Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin. Malam itu, ketika sampai ayat 65 yang berbunyi, A’udzubillahiminasy syaithonirrojim. “Alyauma nakhtimu ’alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu yaksibuun” saya berhenti. Maknanya, “Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan.” Saya tergugah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa!

Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke larik-larik lagi tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot itu akan bisa masuk pas ke dalamnya. Bismillah. Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu selesai. Lagu itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon, “Chris, alhamdulillah selesai.” Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul inspirasi lirik tersebut.

Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis lagi, berkali-kali.
Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye–Sebuah Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye:

Lirik yang dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya benar-benar mencekam dan menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan! Di kamar, saya berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya membanjir. Saya coba lagi. Menangis lagi. Yanti sampai syok! Dia kaget melihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu. Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki Berkata.
Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan saya.

“Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65…” kata Taufiq. Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya.

Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi. Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri!

Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke Australia, saya lalu mengajak Yanti ke studio, menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya.

Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai. Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu, itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang! Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya ingin berlari!

Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benar benar meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam selama menyanyi.

Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luar biasanya, dengan saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari Akhir di hari kiamat kelak.

Mengenai menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin akan menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya. Demikian sensitif dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut.

***

Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam peluncuran album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser untuk lagu tersebut. Saya enggan menerimanya. Chrisye terkejut. “Kenapa Bang, kurang?” Saya jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi saluran saja. Jadi saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah Yasin ayat 65, firman Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan hak saya.

Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian saya, tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan jalan keluar. “Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi. Kalau Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah, mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan Maha Pengampun ’kan?”

Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau saya berkeras menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan. Akhirnya solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya pun senang.

***

Pada subuh hari Jum’at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Diagnosis yang mengejutkan adalah kanker paru-paru stadium empat. Dia meninggalkan isteri, Yanti, dan empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album sountrack, 20 album solo dan 2 filem. Semoga penyanyi yang lembut hati dan pengunjung masjid setia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang amal salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semoga terbuka lebar baginya. Amin.

Ketika Tangan dan Kaki Berkata
Lirik : Taufiq Ismail
Lagu : Chrisye

Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita

Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya

Tidak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba

Rabbana…
Tangan kami…
Kaki kami…
Mulut kami…
Mata hati kami…

Luruskanlah…
Kukuhkanlah…
Di jalan cahaya….
sempurna

Lagu tersebut mengalun pelan menemani muhasabah di akhir tahun 1431 Hijriyah.

Ya Allah, semoga Engkau masukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang ihsan, sehingga kelak saat tangan dan kaki kami berkata di hari penghisaban, kesaksiannya menambah berat timbangan amal baik kami, amiin. []

www.ratnautami.com/


Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......