Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==
Tampilkan postingan dengan label Ruang Tarbiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ruang Tarbiyah. Tampilkan semua postingan

7 Sifat Yang Dimiliki Orang Yang Suka Merendahkan Orang Lain

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

Merendahkan Orang Lain – Sahabat yang Allah muliakan, ketika kita merendahkan seseorang, terkadang saat itu kita berasa hebat. Apalagi ketika merendahkan itu, kita merupakan salah satu orang yang berpengaruh di masyarakat, lalu merendahkan orang yang miskin, kecil dan rendah. Masyaallah.
Terkadang, diantara teman sendiri, disaat kita mempunyai kelebihan harta atau apapun itu, kita sering tidak sadar merendahkan teman kita. walaupun niat kita hanya bercanda, tetapi kita tidak tahu bahwa hati teman kita merasa sakit saat direndahkan.
Bercanda dan Memotivasi seseorang, bukan berarti dengan cara merendahkan dan mencaci maki perbuatan buruknya. Apalagi jika kamu adalah seseorang yang terpandang sebagai orang berpengaruh seperti Guru, atau Dokter dan yang lainnya. Ada beberapa sifat buruk yang melekat pada orang yang suka merendahkan orang lain, diantaranya sebagai berikut :

1. Sombong / Angkuh

merendahkan orang lain
smpkosgoro.sch.i
Ketika ada orang yang merendahkan orang lain, dengan cara mencaci maki orang tersebut, pasti di dalam hatinya akan terbesit bahwa dirinya itu merasa lebih baik darinya. misalnya orang itu berkata “kamu itu bodoh, tidak mungkin bisa masuk ke Universitas Negeri, balik aja sana!!!”.
Jadi saat kamu merendahkan seseorang, akan terbesit dan timbul rasa sombong bahwa kamu itu seolah lebih baik dari orang tersebut. Untuk itu, janganlah kita merendahkan orang lain. Sebab, mungkin saja orang yang kita rendahkan itu, memiliki derajat yang lebih baik dari kita di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Mempunyai Hati Yang Keras dan Menolak Kebaikan

sifat buruk orang yang suka merendahkan
infoyunik.com
Sudah pasti bahwa orang yang suka merendahkan orang lain, mempunyai hati yang keras. Mengapa demikian? Misalkan ketika ia melakukan yang salah, ada orang yang menasihatinya. Namun karena orang tersebut memiliki hati yang keras, ia malah menolak nasihat tersebut, bahkan sampai merendahkan orang tersebut.
Artinya saat orang itu tidak mau menerima nasihat baik, meskipun nasihat itu benar untuk dirinya, ia akan menolaknya, karena ia merasa lebih baik dari orang yang menasihatinya.

3. Selalu Berprasangka Buruk Sangka (Suudzon)

sifat orang yang suudzon
viva.co.id
Mengapa orang yang selalu merendahkan orang lain mempunyai sifat suudzon? Karena kebanyakan orang yang suka merendahkan itu adalah orang yang selalu berburuk sangka kepada orang lain, bisa kita ketahui bahwa orang yang selalu merendahkan orang lain, menganggap dirinya paling baik. Jadi mereka hanya berfikir positif untuk dirinya sendiri tetapi melihat orang selalu berburuk sangka dan tidak lebih baik darinya.

4. Tidak Berhati-hati (Ceroboh)

Orang yang suka merendahkan orang lain, dirinya tidak berfikir dulu akibatnya sebelum bertindak, dia hanya mementingkan emosi dan hawa nafsunya saja. Terkadang orang yang merendahkan orang lain, mereka lebih bersifat ceroboh, bahkan tidak peduli akibat dari perbuatan mereka. sifat ceroboh ini biasanya identik dengan tidak berhati-hati, tidak cermat, dan tidak dipikirkan baik-baik dan kurang ajar.

5. Tidak Bijaksana

Orang yang suka merendahkan orang lain adalah orang yang tidak menggunakan akal dan budi pekertinya, terlebih lagi mereka kurang berhati-hati dan tidak cermat karena orang yang pandai menggunakan akal dan budi pekertinya tidak akan mudah untuk mencaci maki seseorang.

6. Bodoh

Sebutan yang pas untuk orang suka yang mencaci maki dan merendahkan orang. Mereka tidak mengetahui kelemahan dan kekurangan mereka hanya mengetahui kekurangan orang lain. Mereka tidak memiliki pengetahuan tentang akibat mencaci maki dan merendahkan orang lain

7. Pemarah

sifat orang pemarah
ibuhamil.info
Buas seperti binatang buas yang suka melawan dan suka marah, Terkadang suka memukul orang yang suka mencaci maki itu. tapi terkadang juga orang yang pendiam tetapi sekali berbicara – langsung membuat telinga sakit, itu malah lebih sadis menurut saya. karena kita tahu dia pendiam baik tetapi ternyata sekali berbicara langsung merendahkan orang. itu seperti berbalik 90 derajat.
Demikianlah diantara tujuh sifat orang yang suka merendahkan orang lain. Mudah-mudahan kita tidak termasuk kepada kategori orang-orang yang suka merendahkan orang lain, tapi orang baik kepada orang lain. Semoga bermanfaat.
Lengkapnya Klik DISINI

Kenapa Imam Mazhab Tidak Pakai Hadits Bukhari dan Muslim?



Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

Tahun Lahir Imam Mazhab dan Hadits
Kenapa para Imam Mazhab seperti Imam Malik tidak memakai hadits Sahih Bukhari dan Sahih Muslim yang katanya merupakan 2 kitab hadits tersahih? Untuk tahu jawabannya, kita harus paham sejarah. Paham biografi tokoh2 tsb.

Imam Malik lahir tahun 93 Hijriyah. Sementara Imam Bukhari lahir tahun 196 H dan Imam Muslim lahir tahun 204 H. Artinya Imam Malik sudah ada 103 tahun sebelum Imam Bukhari lahir. Paham?
Apakah hadits para Imam Mazhab lebih lemah dari Sahih Bukhari dan Sahih Muslim?
Justru sebaliknya. Lebih kuat karena mereka lebih awal lahir daripada Imam Hadits tsb.
Rasulullah SAW bersabda, خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ “Sebaik-baik manusia adalah pada kurunku (Sahabat), kemudian yang sesudahnya (Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (Tabi’ut Tabi’in).”[HR. Al-Bukhari no. 2652 dan Muslim no. 2533 ]
Siapakah pengikut ulama SALAF sebenarnya?
1) Imam Hanafi lahir:80 hijrah
2) Imam Maliki lahir: 93 hijrah
3) Imam Syafie lahir:150 hijrah
4) Imam Hanbali lahir:164 hijrah

Jadi kalau ada manusia akhir zaman yang berlagak jadi ahli hadits dgn menghakimi pendapat Imam Mazhab dgn Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, ya keblinger. Hasil “ijtihad” mereka pun berbeda-beda satu sama lain…

Biar kata misalnya menurut Sahih Bukhari misalnya sholat Nabi begini2 dan beda dgn sholat Imam Mazhab, namun para Imam Mazhab seperti Imam Malik melihat langsung cara sholat puluhan ribu anak2 sahabat Nabi di Madinah. Anak2 sahabat ini belajar langsung ke Sahabat Nabi yang jadi bapak mereka. Jadi lebih kuat ketimbang 2-3 hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari 100 tahun kemudian.
Imam Bukhari dan Imam Muslim pun meski termasuk pakar hadits paling top, tetap bermazhab. Mereka mengikuti mazhab Imam Syafi’ie. Ini adalah Imam Hadits yang mengikuti Mazhab Syafi’ie: Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Nasa’i, Imam Baihaqi, Imam Turmudzi, Imam Ibnu Majah, Imam Tabari, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam Abu Daud, Imam Nawawi, Imam as-Suyuti, Imam Ibnu Katsir, Imam adz-Dzahabi, Imam al-Hakim.

Lho apa kita tidak boleh mengikuti hadits Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dsb? Ya boleh sebagai pelengkap. Tapi jika ada hadits yang bertentangan dengan ajaran Imam Mazhab, yang kita pakai adalah ajaran Imam Mazhab. Bukan hadits tsb. Wong para Imam Hadits saja kan mengikuti Mazhab Syafi’ie? Tidak pakai hadits mereka sendiri?


Menurut Ustad Ahmad Sarwat, Lc., MA, banyak orang awam yang tersesat karena mendapatkan informasi yang sengaja disesatkan oleh kalangan tertentu yang penuh dengan rasa dengki dan benci. Menurut kelompok ini Imam Mazhab yang 4 itu kerjaannya cuma merusak agama dengan mengarang-ngarang agama dan menambah-nambahi seenaknya. Itulah fitnah kaum akhir zaman terhadap ulama salaf asli.

Padahal Imam Mazhab tsb menguasai banyak hadits. Imam Malik merupakan penyusun Kitab Hadits Al Muwaththo. Dengan jarak hanya 3 level perawi hadits ke Nabi, jelas jauh lebih murni ketimbang Sahih Bukhari yang jaraknya ke Nabi bisa 6-7 level. Begitu pula Imam Ahmad yang menguasai 750.000 hadits lebih dikenal sebagai Ahli Hadits ketimbang Imam Mazhab.

Ada tulisan bagus dari Ustad Ahmad Sarwat, Lc., MA, yaitu:

Penelitian Hadits Dilakukan Oleh Empat Imam Mazhab


Di antaranya Ustad Ahmad menulis bahwa para imam mazhab yang empat, Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal, sama sekali tidak pernah menggunakan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Kenapa?

Pertama, karena mereka lahir jauh sebelum Bukhari (194-265 H) dan Muslim (204-261 H) dilahirkan. Sementara Imam Malik wafat sebelum Imam Bukhari lahir. Begitu pula saat Imam Syafi’ie wafat, Imam Bukhari baru berumur 8 tahun sementara Imam Muslim baru lahir. Tidak mungkin kan para Imam Mazhab tsb berpegang pada Kitab Hadits yang belum ada pada zamannya?

Kedua, menurut Ustad Ahmad, karena keempat imam mazhab itu merupakan pakar hadits paling top di zamannya. Tidak ada ahli hadits yang lebih baik dari mereka.

Ketiga, karena keempat imam mazhab itu hidup di zaman yang lebih dekat ke Rasulullah SAW dibanding Imam Bukhari dan Imam Muslim, maka hadits mereka lebih kuat dan lebih terjamin keasliannya ketimbang di masa-masa berikutnya.

Dalam teknologi, makin ke depan makin maju. Komputer, laptop, HP, dsb makin lama makin canggih. Tapi kalau hadits Nabi, justru makin dekat ke Nabi makin murni. Jika menjauh dari zamannya, justru makin tidak murni, begitu tulis Ustad Ahmad Sarwat.

Keempat, justru Imam Bukhari dan Muslim malah bermazhab Syafi’ie. Karena hadits yang mereka kuasai jumlahnya tidak memadai untuk menjadi Imam Mazhab. Imam Ahmad berkata untuk jadi mujtahid, selain hafal Al Qur’an juga harus menguasai minimal 500.000 hadits. Nah hadits Sahih yang dibukukan Imam Bukhari cuma 7000-an. Sementara Imam Muslim cuma 9000-an. Tidak cukup.
Ada beberapa tokoh yang anti terhadap Mazhab Fiqih yang 4 itu kemudian mengarang-ngarang sebuah nama mazhab khayalan yang tidak pernah ada dalam sejarah, yaitu mazhab “Ahli Hadits”. Seolah2 jika tidak bermazhab Ahli Hadits berarti tidak pakai hadits. Meninggalkan hadits. Seolah2 para Imam Mazhab tidak menggunakan hadits dalam mazhabnya. Padahal mazhab ahli hadits itu adalah mazhab para ulama peneliti hadits untuk mengetahui keshahihan hadits dan bukan dalam menarik kesimpulan hukum (istimbath).

Kalaulah benar pernah ada mazhab ahli hadits yang berfungsi sebagai metodologi istimbath hukum, lalu mana ushul fiqihnya? Mana kaidah-kaidah yang digunakan dalam mengistimbath hukum? Apakah cuma sekedar menggunakan sistem gugur, bila ada dua hadits, yang satu kalah shahih dengan yang lain, maka yang kalah dibuang?

Lalu bagimana kalau ada hadits sama-sama dishahihkan oleh Bukhari dan Muslim, tetapi isinya bertentangan dan bertabrakan tidak bisa dipertemukan?

Imam Syafi’ie membahas masalah kalau ada beberapa hadits sama-sama shahihnya tetapi matannya saling bertentangan, apa yang harus kita lakukan? Beliau menulis kaidah itu dalam kitabnya : Ikhtilaful Hadits yang fenomenal.

Cuma baru tahu suatu hadits itu shahih, pekerjaan melakukan istimbath hukum belum selesai. Meneliti keshahihan hadits baru langkah pertama dari 23 langkah dalam proses istimbath hukum, yang hanya bisa dilakukan oleh para mujtahid.

Entah orientalis mana yang datang menyesatkan, tiba-tiba muncul generasi yang awam agama dan dicuci otaknya, dengan lancang menuduh keempat imam mazhab itu sebagai  bodoh  dalam ilmu hadits. Hadits shahih versi Bukhari dibanding-bandingkan secara zahir dengan pendapat keempat mazhab, seolah-olah pendapat mazhab itu buatan manusia dan hadits shahih versi Bukhari itu datang dari Allah yang sudah pasti benar. Padahal cuma Al Qur’an yang dijamin kebenarannya. Hadits sahih secara sanad, belum tentu sahih secara matan. Meski banyak hadits yang mutawattir secara sanad, sedikit sekali hadits yang mutawattir secara matan. Artinya susunan kalimat atau katanya sama persis.
Orang-orang awam dengan seenaknya menyelewengkan ungkapan para imam mazhab itu dari maksud aslinya : “Bila suatu hadits itu shahih, maka itulah mazhabku”. Kesannya, para imam mazhab itu tidak paham dengan hadits shahih,  lalu menggantungkan mazhabnya kepada orang-orang yang hidup dua tiga abad sesudahnya.

Padahal para ulama mazhab itu menolak suatu pendapat, karena menurut mereka hadits yang mendasarinya itu tidak shahih. Maka pendapat itu mereka tolak sambil berkata,”Kalau hadits itu shahih, pasti saya pun akan menerima pendapat itu. Tetapi berhubung hadits itu tidak shahih menurut saya, maka saya tidak menerima pendapat itu”. Yang bicara bahwa hadits itu tidak shahih adalah profesor ahli hadits, yaitu para imam mazhab sendiri. Maka wajar kalau mereka menolaknya.

Tetapi lihat pengelabuhan dan penyesatan dilakukan secara terstruktur, sistematis dan masif. Digambarkan seolah-olah seorang Imam Asy-Syafi’i itu tokoh idiot yang tidak mampu melakukan penelitian hadits sendiri, lalu kebingungan dan menyerah menutup mukanya sambil bilang,”Saya punya mazhab tapi saya tidak tahu haditsnya shahih apa tidak, jadi kita tunggu saja nanti kalau-kalau ada orang yang ahli dalam bidang hadits. Nah, mazhab saya terserah kepada ahli hadits itu nanti ya”.
Dalam hayalan mereka, para imam mazhab berubah jadi badut pandir yang tolol dan bloon. Bisanya bikin mazhab tapi tidak tahu hadits shahih. Sekedar meneliti hadits apakah shahih atau tidak, mereka tidak tahu. Dan lebih pintar orang di zaman kita sekarang, cukup masuk perpustakaan dan tiba-tiba bisa mengalahkan imam mazhab.

Cara penyesatan dan merusak Islam dari dalam degan modus seperti ini ternyata nyaris berhasil. Coba perhatikan persepsi orang-orang awam di tengah kita. Rata-rata mereka benci dengan keempat imam mazhab, karena dikesankan sebagai orang bodoh dalam hadits dan kerjaanya cuma menambah-nambahi agama.

Parahnya, setiap ada tradisi dan budaya yang sesat masuk ke dalam tubuh umat Islam, seperti percaya dukun, tahayyul, khurafat, jimat, dan berbagai aqidah sesat, sering diidentikkan dengan ajaran mazhab. Seolah mazhab fiqih itu gudangnya kesesatan dan haram kita bertaqlid kepada ulama mazhab.

Sebaliknya, orang yang harus diikuti adalah para ahli hadits, karena mereka itulah yang menjamin keshahihan hadits.
Ahmad Sarwat, Lc., MA

Baca selengkapnya di:

Menurut Ustad Ahmad Sarwat Lc, MA,  Hadits di zaman Imam Bukhari yang hidup di abad 3 Hijriyah saja sudah cukup panjang jalurnya. Bisa 6-7 level perawi hingga ke Nabi. Sementara jalur hadits Imam Malik cuma 3 level perawi. Secara logika sederhana, yang 3 level itu jelas lebih murni ketimbang yang 6 level.

Jika Imam Bukhari hidup zaman sekarang di abad 15 Hijriyah, haditsnya bisa melewati 40-50 level perawi. Sudah tidak murni lagi. Beda 3 level saja bisa kurang murni. Apalagi yang beda 50 level.
Jadi Imam Bukhari dan Imam Muslim bukan satu2nya penentu hadits Sahih. Sebelum mereka pun ada jutaan ahli hadits yang bisa jadi lebih baik seperti Imam Malik dan Imam Ahmad karena jarak mereka ke Nabi lebih dekat. *Inspirasi Rabbani/sumber
Lengkapnya Klik DISINI

Tukang Sapu dan Tukang Sampah

Abbas Hasan As Sisi
Ada seorang akh bertanya kepada saya tentang “kiat sukses memikat hati.”

Saya katakan, “Kita percaya bahwa manusia itu sama. Ini tercermin ketika kaum Muslimin berada dalam masjid. Yang miskin duduk ber-dampingan dengan yang kaya, yang lemah berdam-pingan dengan yang kuat, tukang sapu dan tukang sampah sama seperti kebanyakan manusia lain dalam masjid. Tetapi sayang, hal ini tidak diaplikasikan di luar masjid. Apakah ketika Anda lewat di jalanan dan bertemu salah seorang tukang sapu, Anda mengucapkan salam padanya?”

“Tidak,” jawabnya.

Saya katakan, “Itu karena Anda tidak peduli kepada-nya. Sungguh, Rasul Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melarang perbuatan demikian melalui sabdanya, ‘Janganlah kalian menganggap remeh suatu kebaikan walau itu hanya sekedar bermuka ceria ketika bertemu saudaramu.’  Bila Anda melakukan hal itu, lalu Anda ucapkan salam padanya, baik kenal maupun tidak, berarti Anda telah menghargai dinnya dan memberinya rasa optimis dalam menatap kehidupan, karena sebelumnya ia merasa dari golongan terasing dalam masyarakat. Ia merasa tidak seorang pun yang mau memalingkan wajah ke arahnya, tidak seorang pun yang menghargainya atau sekedar mengajaknya berbi-cara dengan baik. Bila Anda ucapkan salam kepadanya di suatu hari, maka ia akan menantimu lewat di jalan itu, hanya untuk mendapatkan salam darimu. Ketahuilah, telah banyak orang yang mengabaikan sesuatu yang selama im ia cari-cari dan dambakan.”

Pada hakikatnya tukang sapu dan tukang sampah yang bekerja sebagai petugas mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah dan dari jalanan ke jalanan, berhak mendapat penghargaan. Karena kita merasa terbantu dengan pekerjaan yang sulit dan kotor ini.

Oleh karena itu, negara berkewajiban memberikan gaji yang berlipat atau memberinya tunjangan biaya kesehatan. Karena pada hakikatnya ia lebih mudah terserang banyak penyakit, yang disebabkan oleh seringnya berhubungan dengan kotoran-kotoran itu. Jika kita memahami tujuan da’wah, yaitu da’wah pembenahan, guna mewujudkan masyarakat islami, maka tidak akan terlewat dari pikiran kita untuk memahami kenyataan ini, yang dapat menyatukan hati dan menjernihkan akhlak.

Pada suatu hari saya berada di Masjid Kurmuz, Iskandaria, membicarakan tentang hal ini bersama bebe-rapa ikhwah. Ketika saya selesai berbicara, tiba-tiba saya dihampiri seorang pemuda, seraya mengatakan, “Saya sangat terkesan dengan pembahasan ini.” Setelah saya tanya, ternyata ia bekerja sebagai tukang kebersihan dan tukang sapu. Lalu saya katakan, “Bukankah kannas (tukang sapu) itu kan-nas (sama seperti manusia lain)?'” Sungguh, ini kata-kata spontan belaka, yang kebetulan saja berlaku.

Lengkapnya Klik DISINI

Jika Allah Telah Memilihkan Jodohmu..

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

Ilustrasi. (arinarizkia.wordpress.com)
Ilustrasi. (arinarizkia.wordpress.com)
Setelah mengikuti acara bedah buku “Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan” bersama penulisnya Ustadz Salim A Fillah. Sungguh luar biasa, kita mampu memaknai apa yang telah direncanakan Allah untuk kita.

“Saat kita ditanya, kapan nikah?” maka jawablah ,”Saya sedang mempersiapkan bekal ketaqwaan untuk bertemu jodoh saya nanti,” kata ustadz Salim.

Karena untuk melangkah menuju pernikahan itu harus disiapkan secara matang. Harus siap secara moral, spiritual, konsepsional, fisik, sosial dan material. Mental dan spiritualnya mantap jika niat dan langkahnya menuju pernikahan itu memang telah benar. Mampu mengatasi segala risiko dan keraguan saat akan menikah juga menghadapi saat-saat nanti setelah menikah.

Bisa membaca ulang kisah para nabiyullah, para sahabat/sahabiyah, para ulama dan orang-orang shalih saat menjemput jodohnya. Yaitu dengan mendekatkan dan semakin dekat dengan Tuhannya.

Seorang Khadijah binti khuwailid adalah wanita yang baik hubungan dengan Tuhannya, terjaga izzah (kehormatannya) dan terkenal kebaikannya. Memang layak untuk membersamai Muhammad. Lelaki yang hampir sempurna di hadapan Allah dan manusia. Hingga Khadijah pun menjadi orang pertama yang mengimani bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Dan dialah Khadijah wanita istimewa yang pernah mendapat salam dari Allah dan malaikat Jibril karena kemuliaannya.

Ada seorang perempuan yang terjaga mata, telinga dan kakinya bahkan dirinya dari hal-hal yang tidak memiliki manfaat untuknya dan agamanya. Maka dialah yang disandingkan Allah bersama seorang lelaki yang terjaga ‘izzahnya. terbukti saat di ketemu sebuah apel hanyut di sungai, dengan kondisi sangat lapar. Dia masih mencari orang yang dapat menghalalkan buah itu untuk dimakannya. Mencari si pemilik apel itu. Dan mereka adalah orang tua dari salah seorang imam besar. Yaitu imam Syafi’i

Maka membacalah dan pelajarilah cara mereka menjemput jodohnya. Sesuci cinta Fatimah Azzahra dan Ali bin Abi Thalib menjaga hatinya hingga setan pun sampai tidak mampu mengelabuhi mereka.
Masya Allah..

Pada saat ini di ujung zaman masih adakah orang-orang seperti itu?
Jawabnya ada. Masih ada mereka yang ingin menjemput jodohnya dengan jalan menjaga dirinya, menjaga hubungan mesranya dengan Allah Sang Pemilik dirinya. Hingga amalan sunnah itu hampir menjadi wajib baginya. Karena keistiqamahannya menjaga amalan yang ingin dipersembahkan kepada Tuhannya.

Shalat sunnahnya dia jaga. Puasa sunnahnya rutin dia lakukan di antaranya puasa sunnah Senin kamis, puasa ayyamul bidh (puasa tengah bulan), atau puasa Daud (sehari puasa dan sehari tidak). Dzikirnya, wudhunya, tilawahnya dan amalan-amalan kebaikan yang selalu dia dawwamkan. Rutin dia lakukan, untuk mengharap ridha dan kebaikan dari Tuhannya.

Dan ternyata cara kita memperoleh anak yang baik itu juga dilihat dari cara kita menjemput jodoh. Bagaimana tidak? Jika kita pikirkan saat bibit itu tumbuh di tanah yang baik dan dari keturunan orang yang baik, maka akan memudahkan kita merawat tanaman itu untuk menjadi baik.
Nasehat Ustadz Salim saat itu, apabila kita mencari jodoh carilah:
  • Orang yang mesra hubungannya dengan Allah. Karena jika dengan Tuhannya saja tidak mesra, bagaimana dia akan baik hubungannya kelak dengan pasangan?
  • Orang yang hormat dan patuh kepada orang tuanya, karena dengan begitu dia akan tahu cara menempatkan diri
  • Orang yang baik terhadap teman sebayanya, karena baik tidaknya saat bersama temannya akan menjadi cerminan baik tidaknya dengan kawan hidupnya kelak
  • Orang yang baik terhadap adik atau yang usianya ada di bawah dia. Itu sebagai cerminan dia
Rumah tangga islami harus mempunyai niat untuk beribadah kepada Allah. Dengan proses dan tata cara perjodohan yang sesuai dengan syariat yang benar.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat: 56)

Dan dalam beragama kita tidak boleh mengambil sesuatu hanya dalam sepenggal saja tetapi harus menyeluruh. Karena Islam itu sangatlah sempurna mengatur segala sisi kehidupan manusia. Bukan hanya untuk bekal akhiratnya, tetapi bekal untuk menghadapi kehidupan dunia juga banyak pelajaran dan aturan yang bisa diambil dari kitab suci Allah.

“Hai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam Islam keseluruhannya, dan jangan kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh nyata bagimu.” (Al-Baqarah: 208)
Izinkan saya (penulis) menceritakan saat-saat Allah mempertemukan jodoh. Kala itu jelang kepulangan saya ke kampung halaman berniat untuk melanjutkan studi dan melepas pekerjaan di perantauan demi hijrah melanjutkan misi mewujudkan cita-cita. Doa yang selalu terpanjat kepada Allah, meminta agar Allah tunjukkan jalan hidup yang terbaik. Jika memang harus menikah saat itu memohon agar diberikan jodoh yang mampu mendukung dalam ketaatan kepada Allah serta baik untuk urusan dunia akhiratku. Dan jika memang harus bekerja lagi atau harus lanjut kuliah lagi, semoga Allah berikan yang terbaik dan kemudahan segala urusanku. Doa itu selalu terpanjat indah serta selalu menjaga dan berusaha agar diri ini terus menjadi lebih baik. Qadarullah, saat jelang hari H mendapat tamu seorang lelaki bersama salah seorang ustadz yang ada di pesantren tempat saya pernah belajar di sana. Lelaki itu memang tidak terlalu saya kenal, dia salah satu yang ikut aktif dalam pesantren tempat yang sama untuk mengaji ilmu Allah.

Allah ternyata sedang merencanakan lain dari yang saya rencanakan, ta’aruf itu sempat menjadikan pikiran ini bimbang tak menentu untuk melanjutkan misi belajar atau harus menerima yang telah digariskan Allah. Setelah mengadu kepada Dzat yang memiliki diri ini juga berbincang dengan keluarga dan para guru ngaji akhirnya diputuskan untuk melanjutkan proses perjodohan itu dan menunda proses melanjutkan belajar.

Sampai akhirnya proses perjodohan itu berlangsung hingga sebulan kemudian menginjak pada proses khitbah, saat itu juga kami dihadapkan pada tantangan. Singkat cerita calon suami yang telah bekerja di negeri jiran sana mendapat peluang untuk belajar melanjutkan studi S2 dengan beasiswa dari pemerintah sana. Jika dihitung beasiswa itu minim untuk biaya belajar dan kelangsungan hidup. Saat itu kami ditanya apakah mau lanjut proses atau harus berhenti dengan kondisi itu? Alhamdulillah Allah memberikan kami kekuatan hingga keputusan lanjut proses itu kami mantapkan. Karena keyakinan rizki dan semua yang ada dalam kehidupan ini hanya Allah yang mampu mengatur dan pasti Allah Mahatahu atas segala yang ada pada hamba-Nya.

Alhamdulillah semua telah digariskan dan telah tertulis rapi dalam skenario Allah. Semuanya sangat indah dan rapi, sesuatu yang halal dan telah direstui Allah itu sangat dalam termakna dalam hati dan jiwa.

Benarlah janji Allah saat kita berusaha untuk baik di hadapan-Nya, maka Allah juga akan memberikan kita pasangan yang terbaik dunia dan akhirat. Adapun secara pandangan mata duniawi pasangan kita itu boleh dikatakan “tidak berkepribadian” … Seperti rumah pribadi, mobil pribadi, pesawat pribadi. Hehe..

“Perempuan-perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji pula. Dan perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk perempuan yang baik(pula)…” (An-Nur: 26)

Allah memberikan pasangan yang shalih dalam urusan dunia akhiratnya inilah yang terbaik menurut Allah. Lihatlah bahwa kita juga bukan manusia sempurna, maka jika ada ketidaksempurnaan dalam diri pasangan kita itu wajar. Kita dipersatukan karena untuk saling menyempurnakan dan saling mendukung dalam kebaikan. Kalau kita menunggu yang sempurna. Hehe.. mohon maaf kita pun belum pernah sempurna apalagi di hadapan Allah.

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu, lebih banyak dari yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nisa: 32)

Rumah tangga yang dicinta Allah itu karena semua telah dilalui prosesnya sesuai syariatnya. Yang di dalamnya ditegakkan adab-adab Islam, berdiri atas dasar ibadah. Bertemu dan berkumpul, melakukan segala sesuatu tak luput dari niat melakukan semuanya untuk dan karena Allah. Maka Allah akan karuniakan rasa sakinah (tenang), mawaddah (penuh cinta) dan rahmah (kasih sayang). Maka rumah tangga itu selaksa surga sebelum surga yang sebenarnya.

*** Tulisan ini dipetik dari bedah buku Nikmatnya pacaran setelah pernikahan oleh Ustadz Salim A. Fillah dan dari buku-buku serta pengalaman penulis. sumber.


Lengkapnya Klik DISINI

Memperluas Jaringan Lembaga Dakwah

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

Ilustrasi (inet)Pada setiap lembaga dakwah memperluas jaringan merupakan suatu keniscayaan. Kita mengetahui bahwa jaringan akan membantu gerakan kebaikan menjadi lebih massif dan efektif. Kita juga memahami bahwa lembaga dakwah memiliki kekurangan yang bisa dilengkapi oleh lembaga lain, maka dari itu posisi mempertemukan dua institusi antara institusi dakwah dan institusi yang berkaitan dengan nya menjadi hal penting untuk kita fokuskan agar kebaikan bisa diterima dengan baik oleh objek dakwah.
Selama ini lembaga dakwah dengan berbagai jenjang klasifikasi sudah memiliki jaringan nya masing-masing, setidaknya lembaga dakwah mempunyai relasi regional dan nasional dengan FSLDK Indonesia atau setingkat fakultas. Jika belum bergabung dengan forum ini, maka disarankan untuk segera bergabung, hehe kebangetan kalo belum gabung.

Satu aspek penting analisis jaringan adalah bahwa analisis ini menjauhkan sosiolog dari studi tentang kelompok dan kategori sosial dan mengarahkannya untuk mempelajari ikatan dikalangan dan antar aktor yang “tak terikat secara kuat dan tak sepenuhnya memenuhi persyaratan kelompok“. (Wellman, 1983:169). Contohnya telah di ungkapkan dalam karya Granoveter (1973:1983) tentang “ikatan yang kuat dan lemah” Granoveter membedakan antara ikatan yang kuat, misalnya hubungan antara seorang dan teman karibnya, ikatan yang lemah, misalnya hubungan antara seorang dan kenalannya. Berbeda dengan para sosiolog yang menganggap hubungan yang lemah itu tidak penting, Granoveter menjelaskan bahwa ikatan yang lemah bisa menjadi sangat penting. Contoh, ikatan yang lemah antara dua aktor dapat membantu sebagai jembatan antara dua kelompok yang kuat ikatan internalnya. Tanpa adanya ikatan yang lemah seperti itu, kedua kelompok mungkin akan terisolasi secara total dan dapat berakibat system sosial semakin terfragmentasi. Tanpa ikatan yang lemah, seorang individu dapat merasa dirinya terisolasi dalam kelompok yang ikatannya sangat kuat dan akan kekurangan informasi tentang apa yang terjadi di kelompok lain maupun dalam masyarakat luas.

Mungkin salah satu kriteria aktivis dakwah yang dicalonkan menjadi Ketua/Pengurus Inti/Pengurus Harian adalah bagaimana sosok dia bisa diterima oleh publik. Penerimaan publik menjadi poin penting juga di luar poin lainnya seperti pemahaman agama, kapasitas kepemimpinan, mengenal medan dakwah, kapasitas finansial dan dukungan keluarga, dan sebagainya. Saya pernah mendapat bocoran dari salah satu peserta musyawarah suksesi ketua FSI (harusnya ga boleh dibocorin ini, hehe) bahwa saya dipilih menjadi ketua FSI karena memiliki penerimaan publik yang cukup baik. Yaa mungkin orang internal dan eksternal melihat saya orangnya supel dan asyik aja. Padahal calon ketua FSI lainnya, pemahaman dakwahnya bagus, ganteng, tajir pula, hehe kurang apa coba (kurang nikah kali ya, #piss). seperti yang dibilang Granoveter, bisa dibilang peserta musyawarah suksesi melihat saya memiliki ikatan lemah dan kuat.

Ikatan lemah yang dimaksud di sini adalah saya memiliki kenalan mahasiswa, minimal seangkatan di FISIP, setiap jurusan (kecuali Sosiologi) saya memiliki kenalan minimal 5-10 orang lah. Kenal tapi tidak dekat. Ikatan lemah ini juga memiliki fungsi yang sangat penting menghubungkan saya atau FSI kepada individu atau lembaga lain yang bisa berkolaborasi bersama. Ikatan kuat, saya tafsirkan pada pengenalan medan FISIP dan FSI. Memang secara track record di SMA, saya pernah di Sie Rohani Islam (SRI) SMAN 13 Jakarta sebagai staf pembinaan, ketua komisi aspirasi dan humas MPK, dan Sekretaris PRAGALAS (Pramuka Gaya 13). Ketika masuk FSI tahun pertama, menjadi staf pembinaan juga, lalu tahun kedua jadi Ketua FSI. Berada di lingkungan FSI, tidak membuat saya ‘canggung’ atau culture shock terhadap budaya internal FSI, tetapi dengan pengalaman yang pernah dienyam di SMA, adaptasi sih pun sangat cepat. Saya kenal hampir seluruh pengurus FSI yang jumlahnya 98 dan mengikuti hampir semua acara yang diselenggarakan FSI. So, secara individu saya memiliki ikatan yang kuat di FSI dan ini dilihat oleh para peserta musyawarah.

Ikatan lemah dan kuat ini harus dikelola dengan baik oleh ketua/pengurus LD agar bisa menjalin hubungan dengan institusi lain karena kita tidak tahu yang akan memberikan jaringan institusi kepada kita, apakah dari lingkungan terdekat atau lingkungan terjauh. Hal yang bisa dilakukan LD, pertama melist jaringan apa saja yang dibutuhkan, misalnya media, tokoh nasional, lembaga pemerintahan, lembaga kemahasiswaan, pejabat kampus, ormas, LSM, BUMN, lembaga kemanusiaan, lembaga internasional, dan sebagainya. Kedua, daftar prioritas jaringan sesuai dengan agenda dakwah selama 5 tahun ke depan. Ketiga, cari info dari orang terdekat atau ‘dekat biasa aja’, datangi sasaran institusi dan maintenance sebaik-baiknya. Keempat, jalin kerjasama melakukan agenda kebaikan.
Yuk Mulai Perluas Jaringan!
Salah satu tujuan didirikannya Salam UI (MMS, 2008:11) adalah Kolektif, maksudnya mengembangkan dan meningkatkan ukhuwah islamiyah yang dikenal dalam salah satu amal islami, sebagai sebuah bentuk amalan yang dapat mewujudkan terciptanya persatuan dan kesatuan, yang dalam hal ini dapat pula dijadikan sarana untuk terciptanya integrasi mahasiswa muslim di Universitas Indonesia. Selain Salam UI menghimpun mahasiswa muslim se UI dan bagi mereka yang sudah memiliki identitas pengurus, maka tugas mereka sesudah menyatukan mahasiswa muslim adalah meningkatkan ukhuwah Islamiyah kepada individu, kelompok, dan institusi lain.

Jika merujuk visi umum Salam UI, yakni Perekat Umat, bagaimana tumbuhnya kultur komunikasi, silaturahim, dan kerjasama antar sesama mahasiswa muslim di UI dan institusi lain, yang proaktif, bersahabat, dan berorientasi pada manfaat (MMS, 2008: 12). Pada setiap biro pada bidang eksternal Salam UI memiliki fungsi dalam merekatkan umat pada tingkat universitas, nasional, bahkan internasional. Dengan LD membangun silaturahim dan kerjasama, maka institusi dan masyarakat beranggapan bahwa LD merupakan institusi yang terbuka, tidak eksklusif. Hal ini menjadi peluang LD merekatkan umat dengan gerakan komunikasi dan kerjasama yang dilakukan demi kebaikan umat. Maka dari itu, jaringan Salam UI sampai internasional. Setidaknya jaringan LD perlu diperluas minimal se nasional. Beberapa jaringan Salam UI yang sudah dibangun, FSDLK, PKPU, ACT, BASARNAS, Partai Politik Islam (PPP, PKB, PBB, PKS, PAN), ASPAC Palestine, KNRP, Dakwatuna, Tarbawi, Republika, BSMI, INSIST, ITJ, Pejuang Shubuh, IYG (International Youth Gathering, PMI UM (Persatuan Mahasiswa Muslim Universiti Malaya), PKPIM (Persatuan Kebangsaan Pelajar Islam Malaysia), HARUM (Pertubuhan Ikatan Kekeluargaan Rumpun Nusantara), NTU MS (Nanyang Technological University Muslim Society), CYMK (Creative Young Muslim Kakis), TSAI (Thailand Student Association in Indonesia), WAMY (World Assembly of Muslim Youth), dan sebagainya (takut kepanjangan,hehe).

Dengan memulai komunikasi dan silaturahim, akan memunculkan peluang-peluang kerjasama yang mungkin sebenarnya belum terpikirkan. Sebagai contohnya, Salam UI bekerja sama dengan institusi pengungsi rohingya. Salam UI mendatangkan para pengungsi dan produk lokal rohingya ke kampus dan mereka bisa sharing bagaimana kondisi sebenarnya para pengungsi. Mahasiswa muslim pun bisa bersimpati atas apa yang dirasakan pengungsi Rohingya. Kerjasama dengan ITJ dan INSIST dengan sekolah pemikiran Islam, mendatangkan Parpol Islam demi koalisi pemilu presiden dan wakil presiden 2014, gerakan shalat shubuh berjamaah bersama pejuang shubuh, kerjasama dengan BSMI terkait bencana alam Sinabung, dan lain-lain (takut kepanjangan lagi, hehe).

Dalam membuka peluang-peluang kerjasama dengan institusi lain, tidak ‘ujug-ujug’ datang. LD sebagai institusi dakwah harus juga memiliki standar yang bagus dalam mengelola/manajemen organisasinya. Seperti ciri masyarakat madani (MMS, 2008:15-16­),

Dalam masyarakat yang plural, tidak hanya aturan yang dibutuhkan, namun juga pengaturan. Pluralitas tanpa institusionalisasi yang baik berarti kekacauan. Dalam kemadanian, institusi penting untuk memiliki kredibilitas yang baik. Pola pendekatan yang jujur dan dialogis adalah prasyarat kredibilitas publik terhadap institusi.

Ada kata kunci di sini, yaitu pengaturan, kredibilitas, jujur dan dialogis. Pengaturan dan kredibilitas LD menjadi poin yang dipertaruhkan dalam membina institusi lain. Kenyataannya, Institusi lain dalam membina pun terkadang selektif memilih. Institusi yang cukup terkenal dan memiliki kredibilitas yang baik, membuat institusi lain pun tertarik untuk berinteraksi. Jujur dan dialogis merupakan sifat dan metode agar tidak eksklusif dan terbuka dengan ide-ide baru yang masuk dari hasil interaksi antar individu, kelompok, dan institusi lain. So, jika LD kita sudah bisa dibilang oke, sok atuh beranikan diri untuk perluas jaringan, setelah itu perluas efek dakwah kalian. (dakwatuna.com/hdn)

 


Lengkapnya Klik DISINI

Ramadhan Menjelang Garis Finis

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

Lailatul QadarSobat, yuk kita introspeksi, apa hasil dari shaum Ramadhan yang sudah kita laksanakan dari hari pertama hingga sudah melewati pekan ketiga ini? Jika shaum Ramadhan membuat kita makin takwa, bersyukurlah. Tadinya gampang bohong ke orang lain, tetapi setelah shaum Ramadhan yang dijalani sampai hari ini, kita takut dosa sehingga tak mau berbohong lagi. Ini termasuk berhasil menjadi salah satu bagian dalam hidup kita dalam meraih ketakwaan setelah shaum Ramadhan. Insya Allah.

Ada banyak orang mengistilahkan semangat meraih pahala di bulan Ramadhan, seperti perlombaan. Ibarat lomba maraton, peserta awal tuh banyak banget. Biasanya kalo lomba maraton itu jaraknya lumayan jauh, minimal 10 KM, bahkan bisa lebih. Jumlah peserta yang melimpah dan jarak yang jauh memungkinkan banyak peserta berguguran selama perjalanan. Ada yang di awal doang semangatnya, ada yang di tengah jalan kendur, dan bahkan ada yang menjelang garis finis malah KO. Mereka yang menang lomba maraton, selain karena kesungguhan dan harapan untuk meraih yang terbaik, juga karena daya tahan. Itu beberapa kunci sukses.

Bagaimana dengan shaum? Kunci yang tadi ditambah dengan niat ikhlas karena Allah Ta’ala, caranya benar sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dorongan keimanan inilah yang kemudian bisa membuat kita kuat daya tahannya dalam menjalani shaum Ramadhan. Coba aja lihat, malam pertama tarawih yang datang ke masjid untuk shalat banyak banget. Saya aja pernah tuh kebagian tempatnya di luar ruangan utama. Seneng aja. Sebab, selain Ramadhan seperti biasa masjid sepi peminat. Malam-malam berikutnya mulai tuh ada satu dua yang mulai nggak ke masjid. Seminggu berlalu, jumlahnya terus berkurang. Shaf makin maju. Walhasil, tadi malam saja, di malam yang ke-22 yang tersisa masih mending ada dua shaf juga, daripada nggak ada. Padahal, masjid luas banget. Duh!

Mereka yang masih bertahan semoga mendapatkan kebaikan dan keberkahan yang banyak dari Allah Ta’ala. Daya tahan untuk melaksanakan kewajiban adalah salah satu poin penting bagi seorang muslim. Sebab, betapa banyak pemuda yang gagah tapi ke masjid untuk shalat berjamaah aja malas. Sebaliknya, banyak orang tua yang sudah usia lanjut tetap ke masjid meski secara fisik pastinya mulai lemah. Keimananlah yang membedakan di antara keduanya. So, di sepuluh terakhir bulan Ramadhan ini kita kejar target untuk mendapatkan pahala yang lebih besar. Yuk, semangat!

Iman sebagai daya tahan

Sobat, dalam surah al-Baqarah ayat 183 yang di bulan Ramadhan jadi ‘trending topic’ karena sering disebut dan disampaikan dalam berbagai ceramah, hakikat melaksanakan shaum Ramadhan adalah untuk meraih takwa, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS al-Baqarah [2]: 183)

Nah, coba perhatikan permulaan ayatnya, Bro en Sis. Di situ kan yang dipanggil adalah orang-orang yang beriman. Why? Saya pernah dapetin keterangan saat ikut pengajian. Dijelaskan oleh ustaznya bahwa orang yang beriman itu lembut hatinya. Jadi, mudah untuk melaksanakan perintah Allah Ta’ala. Waktu itu saya tertegun dan berpikir, berarti kebalikannya adalah, kalo kita merasa berat melaksanakan perintah Allah Ta’ala berarti ada sesuatu yang aneh dengan keimanan kita, bisa masih lemah, bisa juga ada kemungkinan udah tipis banget. Introspeksi yuk!

Kita insya Allah bisa mengukur diri, sejauh ini apakah kita udah kuat atau belum keimanannya, udah mantep belum keyakinan kepada Allah Ta’ala. Jika iman sudah kuat, daya tahannya juga oke, lho. Maka, ketakwaan akan didapat. Shaum Ramadhan itu adalah kewajiban kaum muslimin. Syarat dan ketentuannya berlaku. Kalo kita merasa enjoy, bahkan antusias melaksanakan shaum Ramadhan, insya Allah kita termasuk orang-orang yang beriman dan akhirnya ketakwaan kita tumbuh makin kokoh.

Mengenal tauhid

Eh, apa hubungannya pembahasan Ramadhan dengan tauhid? Tentu saja ada. Saya rangkumkan aja ya dari pembahasan di website muslimah.or.id (yang mengutip dari al-Qaulul Mufiiid, jilid  I, halaman 7-10). Pembagian yang populer di kalangan ulama adalah pembagian tauhid menjadi tiga yaitu tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat. Pembagian ini terkumpul dalam firman Allah dalam al-Quran:

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً

“Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (QS Maryam [19]: 65)

Perhatikan ayat di atas:

Pertama, dalam firman-Nya (رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ) (Rabb (yang menguasai) langit dan bumi) merupakan penetapan tauhid rububiyah.

Kedua, dalam firman-Nya (فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ) (maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya) merupakan penetapan tauhid uluhiyah.

Ketiga, dan dalam firman-Nya (هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً) (Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia?) merupakan penetapan tauhid asma’ wa shifat.

Berikut penjelasan ringkas tentang tiga jenis tauhid tersebut. 

Pertama, tauhid rububiyah. Maknanya adalah mengesakan Allah dalam hal penciptaan, kepemilikan, dan pengurusan. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah:

أَلاَلَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah” (QS al-A’raf [7]: 54)

Kedua, tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Disebut tauhid uluhiyah karena penisbatanya kepada Allah dan disebut tauhid ibadah karena penisbatannya kepada makhluk (hamba). Adapun maksudnya ialah pengesaan Allah dalam ibadah, yakni bahwasanya hanya Allah satu-satunya yang berhak diibadahi. Allah Ta’ala berfirman:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَايَدْعُونَ مِن دُونِهِ الْبَاطِلُ

”Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak dan sesungguhnya yang mereka seru selain Allah adalah batil” (QS Luqman [31]: 30)

Ketiga, tauhid asma’ wa shifat. Maksudnya adalah pengesaan Allah ‘Azza wa Jalla dengan nama-nama dan sifat-sifat yang menjadi milik-Nya. Tauhid ini mencakup dua hal yaitu penetapan dan penafian. Artinya kita harus menetapkan seluruh nama dan sifat bagi Allah sebgaimana yang Dia tetapkan bagi diri-Nya dalam kitab-Nya atau sunnah nabi-Nya, dan tidak menjadikan sesuatu yang semisal dengan Allah dalam nama dan sifat-Nya. Dalam menetapkan sifat bagi Allah tidak boleh melakukan ta’thil, tahrif, tamtsil, maupun takyif. Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya: ”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS asy-Syuura [42]: 11)

Masih dalam penjelasan di website muslimah.or.id, disampaikan bahwa antara tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah mempunyai hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Tauhid rububiyah mengkonsekuensikan tauhid uluhiyah. Maksudnya pengakuan seseorang terhadap tauhid rububiyah mengharuskan pengakuannya terhadap tauhid uluhiyah. Barangsiapa yang telah mengetahui bahwa Allah adalah Tuhannya yang menciptakannya dan mengatur segala urusannya, maka dia harus beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya.

Sedangkan tauhid uluhiyah terkandung di dalamnya tauhid rububiyah. Maksudnya, tauhid rububiyah termasuk bagian dari tauhid uluhiyah. Barangsiapa yang beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya, pasti dia meyakini bahwa Allahlah Tuhannya dan penciptanya. Hal ini sebagaimana perkataan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam: “Ibrahim berkata: “Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah (75), kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? (76), karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam (77), (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang memberi petunjuk kepadaku (78), dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku (79), dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkanku (80), dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali) (81), dan Yang amat aku inginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat (82)” (QS asy-Syu’araa’ [26]: 75-82)

Maka, sesuai dengan pembahasan kita tentang Ramadhan ini, khususnya kewajiban melaksanakan shaum, adalah bagian dari konsekuensi terhadap keimanan kepada Allah dan pelaksanaan perintah-Nya. Meyakini hanya Allah Ta’ala sebagai pencipta dan wajib diibadahi.

Semoga saja di Ramadhan yang udah menjelang garis finis ini kita tetap semangat melaksanakan amalan shalih dengan landasan iman (khususnya kepada Allah Ta’ala) sebagai daya tahannya. Mulai dari shaum, shalat tarawih (tentu saja shalat wajib yang utama), shadaqah, baca al-Quran, dan berlomba mendapatkan lailatul qadar. Semoga keikhlasan tetap dijaga, hanya untuk mengharap keridhoan Allah Ta’ala.

Sobat, insya Alalh pekan depan saat kita ketemu lagi bisa saja Ramadhan hari terakhir, karena jumlah hari dalam sebulan menurut penanggalan hijriah adalah 29 atau 30. Semoga bisa sampai di garis finis dan mendapat gelar orang yang takwa. Insya Allah
 
https://osolihin.wordpress.com/2016/06/27/ramadhan-menjelang-garis-finis/

Lengkapnya Klik DISINI

Intima Kepada Gerakan Dakwah

Membangun JamaahSiapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

Ikhwati fillah…

Jika kita memperhatikan perjalanan hidup kita, kita akan menemukan bahwa Allah Ta’ala telah memberikan kita nikmat dan karunia yang tidak terhingga kepada kita. Dimulai ketika kita terlahir dalam keluarga muslim dan hingga sekarang Allah Ta’ala masih memberikan kita nikmat iman dan Islam.

Berapa banyak manusia yang terlahir dalam lingkungan keluarga non-muslim hingga dewasa bahkan sampai ajal menjemput, mereka tetap tidak mendapatkan fitrah penciptaannya, yaitu Islam seperti disebutkan dalam hadits “kullu mauluudin yuuladu ‘alal fithrah” (tiap bayi dilahirkan atas fitrah Islam). Bukankah ini karunia besar yang patut kita syukuri?

Allah Ta’ala mencela dan mengancam orang yang tidak mensyukuri nikmat dengan siksa yang pedih nanti di akhirat,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’”. (Ibrahim:7)

Kelimpahan nikmat dan kebaikan yang Allah Ta’ala berikan kepada manusia disebutkan dalam beberapa ayat, di antaranya:

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al-Mulk:1)

Al-Quran mengungkapkan keberlimpahan kebaikan Allah Ta’ala dengan ungkapan “tabaarak” yang arti sebenarnya adalah Maha Pemberi kebaikan yang berlimpah dan tak terhingga. Pengertian ini dapat kita lihat di ayat lain yang menyebutkan,

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا

Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, kalian tidak akan dapat menghitungnya. (Ibrahim:34)
Hal di atas cukup untuk menjadi alasan pribadi bagi seorang muslim untuk bersyukur dan membela Islam. Dalam tinjauan yang lebih luas lagi, Islam bukan hanya agama pribadi, tetapi juga sebuah arus dan ideologi yang harus diperjuangkan agar nilai-nilainya berjalan di muka bumi. Untuk tujuan ini, maka intima atau berafiliasi kepada Islam dan perjuangan dakwah Islam menjadi suatu keharusan sebagai wujud dari rasa syukur manusia kepada Allah Ta’ala.

Islam adalah ideologi dan risalah Allah Ta’ala yang harus sampai kepada seluruh manusia atau menjadi rahmat bagi semesta. Tugas besar ini memerlukan orang-orang yang memiliki komitmen dan loyalitas serta keterikatan yang kuat kepada Islam. Pembelaan dan keberpihakan kita kepada Islam merupakan wujud intima kita kepada Islam dan gerakan dakwah. Ekspresi kesyukuran kita atas semua nikmat ini harus benar-benar terwujud.

Ikhwati fillah…..

Intima kepada Islam bukan berarti mengungkung manusia, mengikat manusia dan merasa tidak merdeka. Sisi lain dari pemahaman intima yang dapat diwujudkan adalah seperti yang dikatakan Imam Syafi’i dalam suatu sya’irnya,

الحُرُّ مَنْ رَاعَى وِدَادَ لحَظَةٍ                أَو انْتَمَى لمِنَ أَفَادَهُ لَفْظَة
”Orang yang merdeka adalah orang menjaga (merawat) kasih sayang (ukhuwah) yang hanya sebentar atau orang yang berafiliasi kepada orang yang telah memberikan manfaat meski hanya satu kata.”

Dakwah dan tarbiyah telah memberikan sesuatu yang banyak kepada kita. Kita bukan hanya menerima ukhuwah sesaat dari ikhwah lainnya, bahkan bertahun-tahun kita telah hidup menjalin ukhuwah. Ilmu dan nilai yang bermanfaat buat kehidupan telah banyak kita dapatkan dari murabbi kita, dari qiyadah kita dan ikhwah sejawat kita. Jadi kita telah banyak berhutang kepada dakwah dan pelaku dakwah itu sendiri, apalagi kepada Allah, sumber segala kebaikan.

Dengan banyaknya kebaikan yang kita dapatkan dari dakwah dan tarbiyah, maka kita belum dapat dikatakan merdeka jika kita tidak dapat berterima kasih kepada para dai, murabbi, qiyadah, mas’ul kita yang telah menunaikan hak ukhuwah kepada kita. Bukan hanya “lafzhah,” beberapa menit, tetapi bertahun-tahun kita merasakan kebaikan ukhuwah tersebut.

Manfaat yang kita dapatkan dari perkataan murabbi kita bukan hanya “lafzhah” sepatah dua patah, tetapi ribuan kata dalam bentuk arahan, taujih, materi dan berbagai pelajaran telah kita dapatkan, bahkan sebagian kita ada yang membukukan materi yang mereka dapatkan.

Sudah sepantasnya dan tanpa ragu-ragu, kita harus memberikan kontribusi kita kepada dakwah dan gerakan dakwah ini sebagai wujud dan bukti intima kita kepada Islam.

Misi dakwah telah dibebankan kepada para dai. Mereka adalah manusia. Kepada merekalah kita menunjukkan intima Islam kita. Kepada murabbi, kepada naqib, kepada mas’ul, kepada qiyadah dan kepada mereka yang urusan kita menjadi tanggungannya kita bekerja sama dan beramal jamai.

Ketaatan kita kepada qiyadah dan mas’ul merupakan cerminan intima kita kepada gerakan dakwah, karena Allah memerintahkan kita untuk taat kepada pemimpin.

Jika nikmat keislaman kita syukuri dengan berwala kepada Allah, Rasul dan pemimpin Islam, maka nikmat berukhuwah dapat kita syukuri dengan senantiasa berafiliasi kepada gerakan dakwah dalam kerja dan ketaatan kepada kebijakan dakwah.

Wallahu a’lam

Sumber: Taujihat Usbu’iyah No. 69 1429 H
http://www.al-intima.com/harakatuna/intima-kepada-gerakan-dakwah

Lengkapnya Klik DISINI

Lalat dan Lebah

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

Fir'adi Nasruddin

Allah berfirman,

» وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ , ثُمَّ كُلِي مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلاً يَخْرُجُ مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ «

“Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia, Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).’ Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. an-Nahl: 68-69).

Saudaraku,
Di antara bentuk akhlak terpuji yang kita yang seyogyanya kita punya sebagai seorang mukmin adalah semangat berkorban untuk orang lain dan memberi kepada orang yang membutuhkan. Berkorban untuk menularkan kebaikan bagi orang lain dan memberi untuk meringankan beban berat yang ada di pundak orang lain.

Kita berupaya untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan kepada orang lain. Kita diajarkan untuk mau menebarkan kebaikan kepada siapa saja dan di mana saja kita berada. Di mana pun kaki kita berpijak. Menjadi pribadi yang laksana lebah. Hinggap di tempat yang baik, menghisap yang paling baik, menyebarkan yang baik dan bermanfaat bagi manusia. Itulah akhlak kita, jati diri kita dan karakter yang seharusnya melekat pada diri kita.

Kita tidak diajarkan menjadi seperti lalat. Hinggap di tempat yang paling kotor, mengambil yang kotor dan menyebarkan yang kotor untuk merusak manusia.

Haram bin Hayyan r.a, ahli ibadah yang pernah menjadi pegawai Umar bin Khattab r.a berkata: ‘Tiada seorang hamba yang mendekatkan hatinya kepada Allah Ta’ala, melainkan Allah akan mendekatkan hati orang-orang mukmin kepadanya hingga ia mendapatkan kasih sayang mereka’.

Saudaraku,
Untuk mengetahui apakah kita telah mewujud menjadi manusia lebah atau lalat, salah satu ukurannya adalah kesaksian para tetangga yang telah berinteraksi dengan kita.

Muhammad bin Jahm rahimahullah, didatangi seseorang yang ingin membeli rumahnya dengan harga seratus ribu dirham, ia bertanya: ‘Berapa engkau akan membeli rumahku dengan tetangga Sa’id bin Ash?’, lalu ia melanjutkan ucapannya: ‘Berapa engkau memberikan harga tetanggaku, yang bila engkau meminta sesuatu darinya, ia akan memberi. Jika engkau diam ia akan menyapa dan menegurmu terlebih dahulu. Jika engkau berbuat jahat padanya, justru ia membalasmu dengan kebaikan. Jika engkau jauhi dan hindari, ia akan mendekat dan tetap lemah lembut kepadamu?’.

Ketika hal itu dikhabarkan kepada Sa’id, ia mengirimkan utusan dengan membawa 100 ribu dirham. ‘Tetaplah tinggal di rumahmu’, kata Sa’id.

Saudaraku,
Semangat memberi, berkorban dan memberi warna kebaikan tidak dibatasi waktu, profesi, jabatan dan tidak memilah-milah orang yang ingin kita bidik.

Abu Nu’aim al-Ashbahani dalam kitabnya “hilyat al-auliya'” menceritakan tentang Abu Ja’far bin al-Baqir, suatu ketika ia memberikan wasiat kepada khalifah Umar bin Abdul Azis, penguasa yang adil dan sangat dicintai rakyatnya.

“Pergaulilah manusia dalam tiga tingkatan. Pertama; orang yang lebih tua usianya darimu, anggaplah ia sebagai orang tuamu. Kedua; orang yang sebaya denganmu, jadikanlah ia sebagai saudara kandungmu. Ketiga; orang yang lebih muda usianya darimu, posisikanlah ia sebagai anakmu. Maka berbaktilah kepada orang tuamu, sambungkanlah silaturrahim dengan saudaramu, dan kasihilah anakmu’.

Sekiranya kita mampu merealisasikan pesan Abu Ja’far al-Baqir ini dalam kehidupan, niscaya kita dikasihi oleh semua manusia. Orang tua, sebaya, lebih muda usia dan semua lapisan umat, semua menghadirkan kita dalam kehidupan mereka.

Namun pada saat kita salah dalam memposisikan manusia di hati kita, atau keliru dalam berinteraksi dengan mereka, pastilah kita dijauhi sesama. Arak-arakan mendung akan selalu menghiasi langit-langit hati kita.

Saudaraku,
Keindahan pekerti bukan sekadar parameter kesempurnaan iman kita, bahkan pekerti yang luhur memiliki korelasi dengan kemapanan ekonomi dan terbukanya pintu rezeki kita. Yahya bin Muadz rahimahullah berkata, ‘Akhlak yang baik adalah mutiara rezeki yang terpendam’.

Bila kita merasakan kran rezeki kita seperti tersumbat, cobalah kita buka salurannya dengan menampilkan pesona akhlak yang menyejukan mata insan yang melihatnya. Membuka jendela hati orang yang menatapnya. Membuat jatuh hati siapa yang ada di dekatnya. Mari kita jadikan akhlak sebagai bunga diri kita. Penghias pesona kita. Agar kita dipuji Zat yang di Atas sana dan dicintai makhluk yang hidup bersama kita.

Saudaraku,
Imanlah yang mampu mendorong kita untuk berbuat baik. Meski secara kasat, mungkin sia-sia, bahkan berupa beban atau kesulitan. Kebaikan harus ditebarkan pada siapa saja. Keadilan harus dinikmati siapa saja. Kezaliman harus dijauhkan dari siapa saja. Itulah sendi-sendi ajaran Islam yang diberikan pada kita.

Abdullah bin Umar r.a pernah ditanya salah seorang budaknya pada saat ia menyembelih seekor domba, “Apakah engkau akan menghadiahkan sebagian dagingnya untuk tetangga kita yang beragama yahudi?.”

Ia menjawab, “Ya, karena aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda, “Jibril terus menerus berwasiat kepadaku agar kuberbuat baik terhadap tetangga, sehingga aku mengira bahwa tetangga itu mempunyai hak waris.” (HR. Bukhari, no. 6014 dan Muslim, no. 2624).

Saudaraku,
Apa rahasianya orang mudah memberi dan berkorban dengan apa yang dia punya?. Keimanan itulah jawabannya. Iman yang menggerakkan tubuh kita kita mengukir kebaikan dana mal shalih. Memberi tanpa berharap balasan. Berkorban tanpa meminta hadiah. Menyeru dan berusaha menebarkan kebaikan kepada siapa saja dan di mana saja, dan hanya mengharap balasan dari Allah Ta’ala.

“Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.” (QS. Asy-Syu’ara’: 109).

Dengan iman, terasa begitu ringan kita mengeluarkan zakat, sedekah, derma dan bahkan jihad sekalipun. Walau berakhir dengan kematian. Karena dengan kaca mata iman yang kita sandang, surga dan neraka serta balasan di sisi-Nya terlihat begitu jelas dan dekat.

Saudaraku,
Jangan berhenti berbagi kebaikan untuk orang lain. Jangan pernah surut untuk melahirkan kebahagiaan bagi orang lain. Kapan dan di mana pun kita berada. Mungkin ada yang tidak sependapat dengan bentuk pengorbanan yang kita berikan pada orang lain. Karena mereka menganggap kita hanya menyulitkan diri sendiri. Ada juga yang menganggap upaya kita untuk membahagiakan orang lain, hanya membebani diri sendiri dan tiada gunanya.

Itu semua karena mereka hanya memikirkan kepentingan dan manfaat sesaat. Dasar penilaian mereka adalah pamrih dunia yang didapat. Manfaat yang terserap. Kebahagiaan yang mengkilap.

Mereka lupa, bahwa masa depan di akherat jauh lebih penting. Kebahagiaan di sana jauh lebih memikat. Bidadari surga lebih membuat mata terperanjat. Sehingga tipu daya setan di dunia tidak mampu menjerat.

Saudaraku,
Pengalaman hidup yang mungkin pernah kita alami, bila kita jujur dan tulus kepada orang lain, mungkin orang malah akan menipu kita. Tapi tetaplah jujur dan tulus. Karena ketulusan dan kerelaan kita dalam menampilkan kejujuran tiada pernah sia-sia di sisi-Nya.

Jika kita mengalami ketenangan, kebahagiaan dan kejayaan, mungkin ada orang yang iri dan hasud dengan kita. Tapi tetaplah syukuri kebahagiaan kita. Kebaikan kita kemarin dan hari ini, gampang dan sering dilupakan oleh orang lain. Tapi teruslah dan tetaplah melakukan kebaikan. Karena inti masalahnya, ada diantara kita dengan Allah. Bukan antara kita dengan manusia, siapa pun jua orangnya. Keyakinan inilah yang harus selalu tertancap di dalam jiwa kita. Tetap hidup di dalam hati kita. Tetap subur dalam bathin kita yang paling dalam.

Saudaraku,
Mari kita berusaha selalu menjadi manusia lebah dan jangan pernah berpikir menjadi manusia lalat. Semoga Allah senantiasa membimbing kita dan menerangi jalan-jalan kita menuju surga-Nya.
Di dunia kita berlelah-lelah dalam memberi manfaat dan kebaikan pada orang lain. Di sini kita berletih-letih dalam berjuang dan mengabdi kepada-Nya. Jangan sampai keletihan dan kelelahan itu kita rasakan di sana. Semoga keletihan kita berganti kebahagiaan di sana. Semoga kelelaha kita diganti dengan kesenangan yang abadi di sana. Amein. Wallahu a’lam bishawab. 

Lengkapnya Klik DISINI

TAWADHU’ & KEBERKAHAN DAKWAH

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!
Foto Cyber Army PKS :: Cyber Activist Community ::. 
Ustadz Dr. Salim Segaf Aljufrie

1. Mari kita berharap keberkahan Allah pada dakwah ini. Keberkahan itu datangnya dari keyakinan kita kepada Allah, bahwa semua kekuasaan/kemenangan/kekalahan itu terjadi atas kehendak Allah. Kita tidak sependapat dengan yang mengatakan bahwa konspirasi musuh menyebabkan kekalahan kita. Mau konspirasi apapun kalau Allah tidak berkehendak ya tidak akan terjadi. Mari kita melihat amal ini dengan pendekatan dakwah.

2. Evaluasi kita : kita tergiring secara tidak sadar menjadikan politik sebagai panglima. Lalu dakwah dan kaderisasi kita lupakan. Tolonglah slogan OBAH KABEH MUNDAK AKEH itu jangan dimaknai AKEH kursi dan suaranya. Tapi akeh dan mundak keberkahannya. dan itu dengan tetap menjadikan dakwah sebagai misi utama kita. Kursi itu bukan tujuan kita. Kalau kita pantas menerimanya Allah akan berikan. Saya membayangkan andai seluruh anggota dewan kita di indonesia ini di sebar merata ke desa desa yang ada di seluruh negeri. Lalu berdakwah, membina masyarakat dan kita punya kemampuan untuk itu. Insya allah keberkahan akan turun dengan cara itu. Tidak ada urusannya dapat kursi atau tidak.

3. Evaluasi kita : kita sering membuat target target yang sebenarnya tau itu diluar kemampuan kita. Lalu kita terjebak dengan cara cara yang jauh dari keberkahan untuk memaksakan mencapai target itu. Mengumpulkan dana dana syubhat. Bergantung pada konglomerat anu. konglomerat itu. Proyek ini itu.dst. Sekian suara harganya sekian M. Lalu dimana nilai keberkahan dakwah ini? begitu juga dengan perilaku politik kita yang kadang menyalahi sunnatullah. Begadang sampai hampir pagi menjaga suara. Toh tetap jebol juga. Apakah kita ini lebih sibuk dari Rasulullah? beliau selalu tertib dalam hal tidur dan bangun pagi. Di malam hari beliau serahkan dakwah di tangan Allah. Beliau tidur dan qiyamullail. Sesekali bolehlah begadang. Tapi kalau menjadi politic style kita itu sudah salah.

4. Allah hanya ingin kita ini bekerja semaksimal kemampuan kita. Laa yukallifullahu nafsan illa wus’ahaa. Tidak perlu memaksakan pola pola dan cara cara yang diluar kemampuan kita. Jokowi itu sebenarnya contoh dari Allah, bahwa ketika Allah berkehendak, dengan dana pencitraan orang bisa mendapatkan kekuasaan dan Allah juga yang berkuasa menjatuhkannya. Jadi, mari kita semakin tawadhu’ dihadapan Allah. Semakin kita tawadhu’ dan merasa butuh pertolongan-Nya, maka pertolongan akan mendekat. Jangan terlalu ngoyo menampakkaan bahwa kita ini punya kekuatan. Semakin kita berpikir kita punya kekuatan, lalu melupakan Allah, maka justru pertolongan semakin menjauh. (dalam konteks ini, Ust salim menyebut stagnannya suara PKS dari PEMILU ke PEMILU)

5. Itulah sebabnya para ulama mengajari kita doa : Allahummarzuqnaa ma’rifatan yas habuha bil adabi. Ya Allah beri kami ma’rifat kepadamu, yang diiringi dengan adab terhadap-Mu. Kita mengenal Allah tapi kita tidak punya adab dan sopan santun terhadap-Nya. Lalu kita merasa sudah punya kekuatan.dan mulai melupakan-Nya. Ini namanya kita tidak beradab dan sopan santun terhadap Allah.

6. Jangan juga gara gara jabatan politik lantas life style dan perilaku kita berubah. Terbiasa dilayani. Kesenggol dikit marah marah dimana mana seolah ingin menunjukkan kita ini kuat. Kita lupa berapa ton nikmat Allah yang sudah kita makan melalui mulut kita. Mari jadi orang yang biasa biasa saja. dan mengingat bahwa semua ini pemberian Allah yang tidak akan kekal.

7. Pada akhirnya mari memperbanyak dzikrullah. Imam ali berkata :: inna lillahi fil ardhi aaniyatun wa huwa al qolbu. Sesungguhnya Allah itu memiliki tempat di bumi, yaitu dalam hati kita. kita ini standar nya ma’tsurot sughro. Itupun masih suka nanya : ada yang lebih sughro lagi nggak tadz? insya Allah dengan dzikir yang banyak itu keberkahan akan turun.

Wallahu Al musta’aan. (mujahidullah) 

Lengkapnya Klik DISINI

Menjadi Setegar Yusuf AS

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

Setiap manusia pasti merasakan ujian, penderitaan dan berbagai hal yang melahirkan rasa sedih yang kadang bertumpuk, dan berlapis-lapis.
Ilustrasi. (Klinik Fotografi Kompas)
Di antara hal yang bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan kesedihan adalah menikmati hiburan, di antaranya, yang banyak dilakukan adalah menikmati kisah yang indah dan menggugah. Nah, Alquran telah menghadirkan kisah terindah yang bisa kita nikmati, yaitu kisah nabi Yusuf alaihi salam.

Ibnu Atho’ bahkan berkata: “Tidaklah seseorang bersedih lalu mendengar surat Yusuf kecuali pasti dia akan merasa lega”. Bahkan ada sebagian ahli tafsir yang mengatakan kalau surat Yusuf diturunkan sebagai hiburan atas kesedihan Rasulullah yang bertubi-tubi karena mendapat ujian berat saat masih di Mekkah.

Dari kisah ini kita tidak hanya mendapat hiburan untuk menghilangkan kesedihan, tapi sekaligus di dalamnya ada ibroh, hikmah, faidah dan pelajaran yang bermanfaat untuk urusan dunia maupun akhirat, sehingga Allah menyebutnya sebagai kisah terbaik.

Di dalamnya ada kisah persaudaraan, persahabatan, perjuangan menjaga kesucian, muruah, lapang dada dan puncak maaf, juga kesabaran terdahsyat, yang semuanya membekaskan pelajaran berharga; bahwa setiap ujian itu pasti baik buat kita, asal kita bisa menyikapinya dengan cara yang baik pula.
Mari kita ikuti tahap-demi tahap ujian berat yang dilalui oleh Nabi yang sangat mulia ini, sebagaimana telah dirangkum dalam buku Al-Mushoffa min sifati duat berikut ini:
  1. Upaya pembunuhan
Rencana pembunuhan ini berasal dari orang terdekatnya, yaitu saudara-saudaranya. Dan ini yang menjadikan cobaan ini terasa lebih pahit dan menyakitkan, berbeda dengan misi pembunuhan lain yang biasanya datang dari orang yang paling jauh nasabnya. Adapun saat rencana pembunuhan itu berasal dari saudara laki- laki yang sama-sama keluar dari satu sulbi, pasti ini menambah pedih bagi yang menanggung ujian ini, terlebih jika sebab upaya pembunuhan ini adalah hal yang sangat sepele, yaitu sesuai dengan klaim mereka, adalah kecintaan ayah mereka pada Yusuf dan sikapnya yang lebih mengutamakan Yusuf daripada mereka.

Dan kita memperhatikan kelembutan Allah Yang Maha Kuasa pada Yusuf dengan membuat salah satu dari saudaranya berbicara agar kehendak-Nya berjalan dan menjadikan usulan salah satu dari mereka adalah jalan keluar pertama dari ujian pertama ini: “Seorang di antara mereka berkata: “Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah Dia ke dasar sumur supaya Dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat.” (Yusuf: 10).

Akhirnya mereka menyetujui usulan ini dan dengan persekongkolan yang matang, mereka menghadap ayah mereka untuk menyakinkannya agar mengizinkan mereka membawa serta Yusuf untuk pergi tamasya bersama mereka. Dan meskipun Ya’qub ‘alaihissalam bimbang, namun mereka mampu meyakinkannya dan akhirnya merekapun pergi dan Yusuf memasuki sumur sebagai ujian kedua.
  1. Di buang ke dasar sumur
Saudaranya mengusulkan agar Yusuf tidak di bunuh, dan lebih baik di buang ke sumur karena diprediksi akan dipungut oleh rombongan yang melewati tempat tersebut. Tapi sebenarnya ini bukanlah prediksi yang cukup kuat. Karena bisa saja kafilah musafir terlambat melewati sumur tersebut dan Yusuf terancam mati kelaparan. Pemikiran seperti ini bisa saja hadir dalam benak Yusuf, wallahu a’lam.

Dan yang menjadikan ujian ini terasa lebih berat adalah Yusuf kecil menyaksikan sendiri kakak-kakaknya memeganginya dan mereka semua bekerja sama menjebloskannya ke dalam sumur tua, lalu ia menatap mereka pergi berlalu dan membiarkannya seorang diri di padang tandus berdiam diri di kegelapan sumur tanpa seorangpun menemani dan menghiburnya. Hanya ada dinding sumur yang bisu, dan dinginya air di dasar sumur.

Seolah ini adalah dalam rangka mempersiapkannya untuk penjara yang sebenarnya yang Allah takdirkan akan dimasuki oleh Yusuf pada fase-fase ujian yang akan datang dalam kehidupannya.

Kemudian datanglah kemudahan setelah masa sulit dan setelah kesabaran itu pada Yusuf saat dia ditimpa kesendirian yang mematikan dalam sumur itu. Jalan keluar itu berupa kafilah yang memungutnya dari sumur:

Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air, Maka Dia menurunkan timbanya, Dia berkata: “Oh; kabar gembira, ini seorang anak muda!” kemudian mereka Menyembunyikan Dia sebagai barang dagangan. dan Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan. (Yusuf: 19).

Yusuf dikeluarkan dari sumur agar melihat dunia lagi dan telah digariskan agar ia menjalani hidupnya lagi di dunia manusia. Namun keluarnya dari sumur ini merupakan awal dari ujian baru dalam kehidupannya.
  1. Perbudakan
Kafilah musafir itu memungutnya dari sumur dan mereka kagum atas ketampanan Yusuf dan mereka menyangka bahwa ia berasal dari keturunan keluarga yang terhormat, karena itulah mereka khawatir kalau ketahuan dan segera menjualnya sebagai budak dengan harga murah di negeri Mesir:

Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, Yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf.

Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya: “Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh Jadi Dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut Dia sebagai anak.” Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta’bir mimpi. dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. (Yusuf: 20-21).

Yusuf berpindah dari kehidupan merdeka yang dijalaninya bersama kedua orang tuanya, dalam keadaan mulia dan terhormat, yang membuat iri saudaranya menuju kehinaan perbudakan dan kehidupan sebagai hamba sahaya di istana penguasa Mesir. Statusnya sama dengan para budak yang bertugas mengangkut barang berat milik tuannya, membersihkan sampah dan kotoran, dan melayani kebutuhan dan permintaan yang remeh temeh, diperintah dan harus taat. Dan ini adalah ujian tersendiri yang memerlukan kesabaran.

Dan takkan bisa memahami seperti apa kesengsaraan budak kecuali orang yang mau mendengar keluh kesah mereka atau pernah mengalami kehidupan mereka. Dan cukuplah sebagai penderitaan bagi seorang budak, ia tidak seperti manusia pada umumnya. Tidak diperlakukan sebagai manusia, bahkan seringkali diperlakukan hampir seperti binatang.
  1. Ujian wanita
Yusuf ‘alaihi salam sangat rupawan, dan istri petinggi Mesir tergoda oleh ketampananya meski usia mereka terpaut sangat jauh. Dan wanita ini tak mampu menyembunyikan jika ia tertawan dan kasmaran, sedangkan ia adalah nyonya dan Yusuf sebagai budak sahaya. Sampai ketika syahwatnya mencapai puncak, ia menemui Yusuf dan berkata: “Marilah kesini”, setelah menutup semua pintu dan yakin bahwa istana dalam keadaan kosong. Maka Yusuf berkata:

Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. (Yusuf: 23).

Sesungguhnya seorang wanita tak akan mengucapkan perkataan ini pada seorang laki-laki kecuali ia telah mempersiapkan diri untuk perbuatan tersebut dengan segala kesadaran akan daya tarik yang ia miliki, dan ia melakukan segala trik untuk menggoda orang yang dikehendakinya.

Bisa jadi ia menanggalkan seluruh busananya, atau menampakkan keindahan- keindahan tubuhnya, atau menampakkan bagian tubuh yang bisa membangkitkan syahwat laki-laki dan memakai riasan di wajah dan wawangian di tubuhnya. Sungguh, ujian wanita yang menimpa Yusuf adalah ujian terbesar yang dihadapinya di sepanjang hidupnya.

Dan agar kita bisa mengetahui besarnya ujian ini, kita mesti memahami faktor- faktor yang mendorong seorang pria berzina dengan wanita. Tak ragu lagi, faktor itu banyak sekali. Dan seringkali adanya satu faktor saja sudah cukup mendorong terjadinya zina, maka bagaimana jadinya jika semua faktor itu terkumpul dalam peristiwa Yusuf dan istri pembesar istana?

Di antara faktor terbesar yang menyebabkan terjadinya zina adalah:
  • Ketampanan pria
Karena akan mendorongnya untuk melakukan pendekatan pada para wanita karena tertipu dengan ketampanannya. Berbeda dengan yang buruk rupa, yang dari zaman dahulu diketahui bahwa tak akan ada yang tertarik padanya.
  • Ajakan wanita untuk berzina
Dan ini adalah faktor yang paling kuat. Dan faktor ini menjadi dorongan yang kuat ketika permintaan untuk memenuhi syahwat itu itu dilandasi rasa cinta wanita tersebut dan bukan karena alasan harta atau alasan lainnya. Dan inilah yang terjadi pada Yusuf ‘alaihi salam.
  • Keterasingan
Orang yang terasing tak ada yang mengenalnya, dan ini memudahkannya untuk melakukan praktek zina karena ia jauh dari pengawasan orang-orang yang mengenalnya.
  • Perbudakan
Seorang budak tergadai oleh perintah tuannya, dan ia tak mampu menolak perintah itu karena kewajibannya adalah taat tanpa keraguan, karena ia tak memiliki keputusan sendiri.
  • Masa muda
Yusuf adalah seorang pemuda belia, dan ini adalah faktor utama yang membuat seseorang menerima ajakan zina. Lain halnya orang yang orang yang telah tua renta, yang telah lemah atau hilang syahwatnya.
  • Kesiapan wanita untuk berzina
Faktor ini berbeda dengan ajakannya untuk berzina. Maksudnya di sini adalah wanita tersebut memakai atau melakukan hal-hal yang membuat pria tergoda padanya:
Dan berkata: “Marilah ke sini”. (Yusuf: 23)
  • Menutup semua pintu
Dan ini mengundang rasa aman untuk melakukan perbuatan keji, karena jauh dari pantauan pegawai istana, atau kerabat wanita tersebut: “Dia menutup pintu-pintu”. (Yusuf: 23).
  • Kedudukan dan jabatan
Wanita ini adalah istri perdana mentri di masa raja-raja Firaun. Dan posisi wanita ini membuatnya mampu menyembunyikan kejahatan meskipun sebenarnya telah terkuak. Dan ini adalah faktor rasa aman yang lain yang bisa mendorong seorang laki-laki melakukannya. Dan faktor ini benar-benar terjadi dalam ujian ini.
  • Suami yang tidak cemburu
Dari rangkaian ayat nampak jelas bahwa suami wanita tadi adalah laki-laki yang tak memiliki rasa cemburu, dan dalilnya adalah firman Allah SWT:
Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan Kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. wanita itu berkata: “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?” (Yusuf: 25).

Setelah melakukan sidang dan jelas bahwa kebenaran ada di pihak Yusuf ‘alaihi salam, dia hanya mengucapkan pada Yusuf: “(Hai) Yusuf rahasiakanlah hal ini”. (Yusuf: 29). Dan ia berkata pada istrinya: “dan (kamu Hai isteriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu Sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah.”. (Yusuf:29).

Dan ini adalah pendorong yang besar untuk perbuatan yang nista sepanjang orang yang seharusnya melarang, dalam hal ini adalah suaminya, justru tidak menentangnya.
  • Ancaman penjara
Manusia kadang menjadi lemah dan terpukul dengan ancaman seperti ini. Dan ini juga termasuk faktor yang efektis dan berpengaruh bagi kebanyakan manusia. Dan wanita yang tengah kasmaran ini mengancam Yusuf di hadapan para wanita masyarakat yang sakit itu, setelah mereka memotong-motong jemari tangan mereka karena tersihir oleh ketampanannya, yang membuat mereka tak percaya kalau itu adalah ketampanan manusia, tapi mereka menyangkanya malaikat, istri perdana mentri itu mengancam dan berkata: “Itulah Dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan Sesungguhnya aku telah menggoda Dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi Dia menolak. dan Sesungguhnya jika Dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya Dia akan dipenjarakan dan Dia akan Termasuk golongan orang-orang yang hina.” (Yusuf: 32).

Banyak kejahatan berbahaya akhirnya bisa dikerjakan karena menggunakan ancaman penjara. Maka bagaimana dengan kejahatan yang dicenderungi dan diminati oleh hawa nafsu, yaitu berzina dengan wanita istana, pemilik kekuasaan dan jabatan.

Faktor-faktor ini semuanya terangkum dalam ujian yang diarungi oleh Yusuf ‘alaihi salam. Dan jika salah satu faktor saja membuat banyak pria berjatuhan, maka bagaimana jika semua faktor tadi terkumpul di hadapan Yusuf?. Inilah hal yang mendekatkan kita pada jenis tsabat atau keteguhan sikap Yusuf ‘alaihi salam, dan memberikan kita bekal sebuah tarbiyah yang orisinil yang dijalani olehnya, karena ia menjadi salah satu sebab keteguhannya.

Karena tak mungkin bisa bersikap teguh dalam suasana seperti ini orang-orang yang membiarkan jiwanya bersenang-senang semaunya, kemudian mengharapkan sikap tsabat. Sekali-kali tidak. Tak akan mampu tegar kecuali siapa yang lelah membina jiwa dan mensucikannya, sehingga Allah Ta’ala meneguhkannya pada kebanyakan ujian dan cobaan.

Dan setelah Yusuf lolos dalam ujian ini, Allah memberikan jalan keluar dan mengeluarkannya dari krisis tersebut, ke tempat yang jauh dari bau istana yang menyebarkan aroma kerusakana, dan kerendahan akhlak. Dan itu setelah ia menyandarkan diri sepenuhnya pada Allah semata, sambil mengakui kelemahan sisi basyariyahnya di hadapan derasnya ujian: “Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku Termasuk orang-orang yang bodoh”. Maka Tuhannya memperkenankan doa Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (Yusuf: 33-34).

Allah mengeluarkannya dari fitnah ujian tersebut dan mengabulkan permohonannya. Akan tetapi untuk membawanya pada jenis ujian yang lain, yaitu ujian penjara: “Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku”. (Yusuf: 33).
  1. Ujian kurungan penjara
Allah Ta’ala berfirman:

Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu. (Yusuf: 35).
Ketika memasuki penjara yang baginya laksana surga jika dibanding dengan istana yang menjulang itu, Yusuf ‘alaihi salam tidak melupakan obsesi dan misinya, dan saat itu ada dua pemuda yang menyertainya dalam penjara mempercayai kelimuan yang Allah karuniakan padanya, dan memintanya untuk menafsirkan mimpi keduanya:

“Dan bersama dengan Dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. berkatalah salah seorang diantara keduanya: “Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur.” dan yang lainnya berkata: “Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung.” berikanlah kepada Kami ta’birnya; Sesungguhnya Kami memandang kamu Termasuk orang-orang yang pandai (mena’birkan mimpi)”. (Yusuf: 36).

Yusuf ‘alaihi salam memanfaatkan kepercayaan, kedatangan dan keperluan mereka untuk mengetahui mimpi yang aneh tersebut . Maka iapun memulai menerangkan tentang tauhid pada mereka secara bertahab sebelum menjawab permintaan mereka.

Nabi Yusuf menghabiskan sebagian besar waktu yang ada untuk menerangkan pokok-pokok tauhid dan mengupayakan agar mereka tertarik. Adapun jawaban atas pertanyaan keduanya, tak lebih dari dua statemen:

Hai kedua penghuni penjara: “Adapun salah seorang diantara kamu berdua, akan memberi minuman tuannya dengan khamar; Adapun yang seorang lagi Maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku).”. (Yusuf: 41).

Sesungguhnya hal terberat yang menimpa orang–orang yang dipenjara adalah terputusnya mereka dari peristiwa di luar penjara, dari keluarga dan anak-anak, serta peristiwa yang terjadi setiap hari.

Dan lebih berat dari itu adalah saat seseorang masuk penjara sedang ia bebas dari dosa, dan ia tak dipedulikan di sana, tak seorangpun dari mereka yang ada di luar menaruh perhatian bahwa di sana ada manusia yang hidup di penjara. Dan lebih pedih lagi, bahwa orang yang dipenjara tadi tak memiliki kekuasaan atas dirinya mengenai kapan pergi, dan kembali, apa yang dikonsumsi, atau apakah tetap di tempat itu ataukah yang lain.
  1. Perpanjangan masa kurungan
Sesungguhnya orang yang di penjara dan ia mengetahui kapan bisa keluar, dan kapan masa penahanan itu berakhir, tidak akan mengalami apa yang dirasakan oleh nara pidana yang tak mengetahui kapan berakhir masa tahanannya, dan tak pernah dikatakan padanya kapan akan keluar. Setiap hari ia terus menunggu-nunggu, dan setiap hari berlalu seperti sebelumnya tanpa ada kepastian kapan akan berakhir, yang menjadikannya tertimpa ujian spikologis yang terus- menerus, terutama jika penahanan itu berlangsung lama tanpa ada seorangpun yang menyadari hal itu. Dan inilah yang terjadi pada Yusuf ‘alai salam, maka ia berpesan pada salah satu dari kedua temannya yang menurut prediksinya akan selamat: “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.”. (Yusuf: 42).

Akan tetapi setan menjadikan pria tersebut lupa untuk menceritakan kondisi Yusuf yang terdzalimi pada tuannya, dan sikap lupanya menyebabkan bertambahnya masa tahanannya: “Karena itu tetaplah Dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya”. (Yusuf: 42).

Dan tak seorangun mengingatnya kecuali setelah raja memerlukan orang yang bisa menafsirkan mimpinya. Saat itulah pria itu mengingat temannya, Yusuf ‘alaihi salam dan ia menceritakannya pada raja. Namun prinsip Yusuf yang orisinil menolak untuk keluar dari penjara dengan cara seperti ini, dan ia menolak bebas dari penjara namun dengan tuduhan zina masih melekat padanya, hingga diumumkan secara resmi di hadapan khalayak ramai siapa pendosa yang sebenarnya, dan diumumkan pula bahwa ia bersih dan tak bersalah. Nabi Yusuf menjawab ajakan utusan raja dengan penolakan, tak terpengaruh dengan gelapnya penjara dan deritanya, serta lamanya ia mendekam di sana:

“Kembalilah kepada tuanmu dan Tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. (Yusuf: 50).

Dan ketika raja bertanya pada para wanita tersebut dan merekonstruksi rincian peristiwa kriminal itu bersama mereka yang hadir dan berperan dalam peristiwanya, sang pendosa mengaku: “Mereka berkata: “Maha sempurna Allah, Kami tiada mengetahui sesuatu keburukan dari padanya”. berkata isteri Al Aziz: “Sekarang jelaslah kebenaran itu, Akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan Sesungguhnya Dia Termasuk orang-orang yang benar.”. (Yusuf: 51).

Hanya saat itu saja ia ridha untuk keluar secara terhormat, bersih, dan bukan sebagai pesakitan yang bebas karena kemuliaan sang raja dan keperluannya pada Yusuf. Namun ia keluar menuju ujian lain yang para tokoh sekalipun hanya sedikit yang mampu bertahan, yaitu:
  1. Ujian jabatan
Tak diragukan lagi bahwa ujian jabatan termasuk ujian terbesar yang mungkin menimpa para dai. Dan disini Yusuf ‘alaihi salam meminta jabatan bukan karena cinta jabatan, namun karana ia tahu di sana tak ada orang yang lebih kompeten darinya. Dan ia tahu bahwa meninggalkan urusan ini berarti meninggalkan tanggungjawab seorang dai yang harus dilakukannya untuk menyelamatkan manusia, jika ia memiliki kemampuan untuk itu.

Adapun jika ia tahu bahwa ada orang lain yang lebih kapabel dari dirinya, maka yang lebih utama adalah besikap zuhud atas jabatan, karena kecintaanya pada hal ini tidak lain merupakan bentuk dari kecintaan pada dunia. Bahkan Al-Qosim bin Ustman al-Jau’i menganggapnya sebagai bagian dari dosa – dosa yang membinasakan, dengan berkata: “Cinta kepemimpinan adalah pokok segala yang membinasakan”.

Orang-orang yang rakus menyongsong jabatan dan kepemimpinan, Allah haramkan atasnya kelezatan iman dan kekhusyuan. Karena hatinya tertambat dengan selain akhirat. Dan inilah yang diisyaratkan oleh Abu Ja’far al-Muhauli ketika berkata: “Haram bagi jiwa yang di dalamnya ada kecintaan menjadi pemimpin manusia untuk merasakan manisnya akhirat”.

Namun Yusuf ‘alaihi salam tidak termasuk dalam golongan yang rakus pada dunia ini. Bahkan hatinya tertambat dengan akherat. Ujian jabatan tak mengoncangnya untuk tetap berserah diri pada Allah, menjaga adab di hadapan-Nya, dan mengakui kenikmatan-Nya. inilah dia berkata di akhir petualangannya, setelah Allah mengumpulkan ayah dan saudaranya untuknya di negeri Mesir:

Ya Tuhanku, Sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. (ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam Keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh. (Yusuf: 101).

Sayyid Qutb berkata: “Dan begitulah, nama besar dan kekuasaan tertutupi. Dan kegembiraan karena perjumpaan dan pertemuan dengan keluarga dan kebersamaan dengan saudara juga menghilang. Dan muncullah episode terakhir, episode seorang hamba yang memohon pada Rabbnya agar dijaga keislamannya hingga ajal menjemputnya, dan agar dipertemukan dengan orang-orang shaleh di haribaan-Nya. Ini adalah kesuksesan mutlak dalam ujian akhir”. (Fi Dhilali al-Qur’an: 4/ 2030).

Dari sela-sela ujian yang dilewati Yusuf, jelas bahwa jalan keluar setelah masa- masa sulit itu di dahului oleh keteguhan pada prinsip. Kadang jalan keluar itu merupakan hadiah dari keteguhan itu. Atau bisa jadi jalan keluar itu sendiri merupakan ujian lain yang dengannya Allah menguji keteguhan hamba-Nya di waktu datang kemudahan. Dan betapa banyak dai yang teguh di saat datang ujian dan kesulitan, namun ketika datang kemudahan, jalan keluar, dan kejayaan, iapun berpaling dari sikap yang sungguh-sungguh dan menjauh dari barisan dakwah.
Dan pelajaran dari kisah ini adalah:
  • Pertama: Kadar cobaan sesuai dengan kadar kedekatan seseorang pada Allah
  • Kedua: Cobaan kadang terjadi karena menjauh dari Allah pada salah satu makna ubudiyah, meski hanya sedikit.
  • Ketiga: Bahwa setiap cobaan disertai rahmat dari Allah SWT.
  • Keempat: Jalan keluar setelah kesulitan di dahului oleh sikap teguh pada manhaj.
Seberat apapun beban ujian yang menimpa, pasti hanya sepersekian dari ujian yang telah di pikul oleh nabi Yusuf kita. Dan meski kita tak sesabar dan setegar Nabi mulia ini, setidaknya kita pasti mampu memerankan berbagai episode kehidupan kita dengan indah dengan mencermati dan meneladani kisah spektakuler beliau.

Semoga Allah selalu meneguhkan hati kita, dan melepaskan beban yang membebani punggung serta menghilangkan duka kita. Amin.

Wallahu a’lam.

Sumber: Tafsir Al-Baghowi, Al-Mushoffa min shifat ad-Du’at, Syekh Al-Bilali.
Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......