Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Militer Khalifah Utsmaniyah Di Pasukan Diponegoro

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

 
Oleh Ustadz Fahmi Suwaidi

Struktur Militer Utsmani dalam Laskar Diponegoro

Penjajahan Belanda di Nusantara selama 350 tahun tidaklah berlangsung dengan mulus tanpa perlawanan. Bangsa Muslim yang memiliki kehormatan dan harga diri ini tak henti-hentinya melawan. Jihad mempertahankan negeri dari serangan penjajah kafir adalah jalan hidup mereka semenjak dahulu kala. Tapi siapa sangka, ternyata pengaruh khilafah Utsmaniyah sangat besar di dalamnya.

Salah satu perlawanan terbesar yang sangat merepotkan Belanda adalah Perang Jawa (Java Oorlog) yang berlangsung dalam kurun 1825-1830. Perlawanan yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro ini berlangsung di sebagian Pulau Jawa. Medannya membentang dari Yogyakarta di pantai selatan hingga perbatasan Banyumas di barat dan Magelang di utara. Meski wilayah ini relatif kecil dalam ukuran zaman sekarang, kawasan ini adalah pusat kerajaan Jawa yang mulai digerogoti oleh kekuasaan Belanda.

Perlawanan ini berkobar lama dan berdarah, ratusan ribu korban jatuh, terutama dari pihak Muslim. Belanda sendiri kehilangan ribuan prajurit dan kasnya hampir kosong untuk membiayai perang. Belanda menghadapi musuh berat yang menentangnya bukan semata sebagai kekuatan penjajah yang merampas hak, namun sebagai kekuatan kafir yang membahayakan akidah Islam.

Perlawanan Pangeran Diponegoro disusun dengan struktur militer Turki. Nama berbagai kesatuannya merupakan adaptasi dari nama kesatuan militer Khilafah Utsmani. Panglima tertingginya adalah Sentot Ali Basah, adaptasi dari gelar Ali Pasha bagi jenderal militer Turki. Sementara unit-unitnya antara lain bernama Turkiyo, Bulkiyo dan Burjomuah menunjukkan pengaruh Turki. Bulkiyo adalah adaptasi lidah jawa bagi Bölük, struktur pasukan Turki dengan kekuatan setara resimen. Sementara jabatan komandannya adalah Bolukbashi.

Susunan militer khas Turki ini membedakan pasukan Diponegoro dengan pasukan Mangkunegaran Surakarta yang menggunakan struktur legiun (mengadopsi sistem Perancis). Juga berbeda dengan kesultanan Yogyakarta yang menggunakan struktur bregodo (brigade, mengadopsi sistem Belanda).

Kiriman Senjata

Tak hanya struktur militer ala Turki, Belanda bahkan mencurigai bahwa ada kiriman senjata dari Turki melalui pantai selatan Jawa. Karenanya pantai yang menghadap Samudera Hindia ini dijaga ketat. Deretan benteng kokoh dibangun Belanda menghadap lautan selatan. Sisanya antara lain masih bisa ditemukan di Cilacap, Jawa Tengah, dan Pangandaran, Jawa Barat. Penduduk lokal kini menyebutnya benteng pendhem (terpendam) karena sebagian strukturnya terpendam di bawah tanah.

Tak cukup dengan benteng berbentuk tembok fisik, benteng mitos agaknya juga dibangun oleh Belanda. Termasuk dengan menanamkan mitos tentang keramatnya pantai selatan. Belakangan muncullah mitos tentang Ratu Kidul yang hingga kini masih disembah dengan berbagai ritual oleh keraton maupun penduduk pesisir selatan.

Mitos tentang pantai selatan itu membuat penduduk lokal selalu dibayang-bayangi ketakutan pada kemurkaan Ratu Kidul. Mereka takut dan enggan mengeksplorasi potensinya. Termasuk potensinya sebagai gerbang hubungan internasional dengan dunia luar. Inilah yang diharapkan Belanda, perjuangan Muslim di Nusantara terisolir dari dunia Islam.

Dugaan penciptaan mitos oleh Belanda ini tidak berlebihan. Di antara program yang intens dilakukan oleh Belanda melalui sisi budaya adalah nativikasi. Upaya mengembalikan penduduk Muslim di Nusantara pada kepercayaan dan agama “asli” atau lokal. Program inilah yang mendorong Belanda tak segan mengeluarkan dana besar untuk mengkaji naskah-naskah kuno yang kini kebanyakan tersimpan di Leiden.

Hasil riset itu kemudian diwujudkan dalam tulisan-tulisan dan kitab-kitab yang kerap menjadi pegangan kelompok Kejawen seperti Darmogandhul dan Gathuloco. Isinya mengagungkan kehidupan Jawa pra-Islam, melecehkan syariat Islam dan mempromosikan teologi Kristen secara tersamar. Meski dianggap kitab kuno, penelitian sejarawan Muslim seperti Susiyanto dari Pusat Studi Peradaban Islam menunjukkan bahwa kitab-kitab itu dikarang pada era Belanda dan memuat ajaran teologi Kristen.


Sisa Laskar Diponegoro

Setelah Perang Diponegoro berakhir dengan kemenangan Belanda, pesisir selatan masih menjadi basis pasukan Diponegoro. Sisa-sisa laskarnya menyebar di pesisir selatan Kebumen dan Purworejo. Mereka biasa menyerang kepentingan Belanda di sekitar kota.

Oleh Belanda gerakan sisa laskar Diponegoro itu disebut sebagai para kecu (perampok yang bergerak siang hari) dan rampok (biasanya bergerak malam hari) yang terkenal di kawasan itu. Bisa jadi perkecuan dan perampokan itu dilandasi semangat terus berjihad melawan Belanda serta merampas ghanimah dan fa’i dari musuhnya. Wallahu a’lam. (eramuslim.com)
Lengkapnya Klik DISINI

Perceraian Antara Sains dan Filsafat, dan Tragedi Islam Liberal

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!
Assalaamu’alaikum wr. wb.
 
Sebagai pelajar dan mahasiswa S1 dahulu, saya selalu punya pandangan negatif terhadap filsafat. Dalam pandangan saya, para filsuf adalah orang yang suka berasyik-masyuk dengan pikirannya sendiri, cuma duduk dan berpikir, kadang berdiskusi, tapi hasilnya tidak jelas. Mereka tidak membuat terobosan baru, bahkan banyak orang belajar filsafat akhirnya bertindak seperti orang bodoh.
 
Sekarang, pandangan saya berubah. Tapi memang ada orang-orang yang membodohi diri sendiri dengan apa yang disebutnya sebagai ‘filsafat’, dan amat disayangkan populasinya di negeri kita ini terlalu banyak.
 
Tahun 2004, mahasiswa jurusan Akidah Filsafat dari UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, dengan lantangnya berteriak “Anjinghu akbaar!”. Sepuluh tahun kemudian, para mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel, Surabaya, menggelar kegiatan orientasi penyambutan mahasiswa baru dengan tajuk “Tuhan Membusuk”. Padahal, filsafat terambil dari kata “philo” dan “sophia” dari bahasa Yunani yang secara berurutan bermakna “cinta” dan “kebijaksanaan”. Filsuf itu cinta kebijaksanaan. Lalu, di mana kebijaksanaan dari kata-kata “Anjinghu akbaar” dan “Tuhan membusuk”? Apakah frase-frase semacam itu membawa perubahan pada kebaikan bagi pengucap dan pendengarnya? Adakah masalah yang bisa diselesaikan dengannya?
 
Adalah dosen filsafat pula yang belum lama ini menggemparkan Univ. Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB), Padang, dengan aksinya menginjak Al-Qur’an di depan kelas. Di mana nilai kebijaksanaan dari tindakan semacam itu? Bijaksanakah seorang Muslim yang menginjak Al-Qur’an? Tanpa Al-Qur’an, bisakah ia memahami Islam? Seribu pertanyaan lainnya bisa kita ajukan. Yang jelas, UMSB telah bertindak cukup bijaksana dengan memberhentikan sang dosen. Kebijaksanaan UMSB akan menjadi lebih sempurna lagi jika ke depannya bisa memperketat seleksi dosen, terutama untuk bidang filsafat.
 
Tanpa perlu menyelami teori filsafat yang rumit-rumit, melainkan dengan logika dasar saja, kita akan memahami betapa banyak kontradiksi dari tindakan para ‘filsuf’ semacam ini. Buat apa ber-dzikir dengan ‘Anjinghu akbar’? Bukankah Yang Maha Besar itu Allah? Buat apa menyebut Tuhan telah membusuk? Buat apa mengaku Muslim yang cinta Allah namun menginjak Al-Qur’an? Bukankah ada nama Allah di setiap lembar Al-Qur’an tersebut? Semua akan terjawab dengan sempurna jika para pelakunya bukan seorang Muslim. Sayangnya, justru di situlah letak kontradiksinya!
 
Di mana sumber permasalahannya? Mengapa banyak orang (tentu tidak semua) yang belajar filsafat malah makin jauh dari kebijaksanaan?
 
Ketika saya mempelajari sejarah Socrates – seorang filsuf Yunani yang sangat ternama – kesan yang saya dapati sangat berbeda, bahkan seratus delapan puluh derajat. Meski tidak semua pemikiran Socrates bisa kita terima, namun kita akan terdorong untuk menghargai kerja keras dan ketulusannya dalam mengejar kebijaksanaan hidup. 
 
Dalam salah satu dialog Socrates (Socratic dialogue) yang ditulis oleh Plato, ada kisah tentang Socrates yang mengajari salah seorang budak milik Meno – rekan diskusinya saat itu – untuk menggunakan ilmu geometri. Socrates bukan orang yang bicaranya sembarangan, suka dengan kata-kata kasar, suka mengolok-olok manusia (apalagi Tuhan), juga tidak suka menginjak-injak buku. Sebaliknya, ia adalah figur yang sangat runut dalam berpikir, lancar berbahasa, dan – sebagaimana dibuktikan dalam kisah ini – juga mengerti sains!
 
Satu dekade yang lalu, saya takkan percaya kalau filsafat dan sains pernah rukun. Tapi kenyataannya demikian. Bukan hanya keduanya hidup dengan damai di dalam kepala para cendekiawan (yang menjadikan mereka filsuf dan saintis sekaligus), tapi juga dahulunya filsafat itu adalah sains, dan sains adalah filsafat. Di jamannya, Sir Isaac Newton tidak menyebut dirinya seorang fisikawan, melainkan sebagai ‘filsuf alam’ (natural philosopher). Bukunya yang mengguncangkan dunia fisika pun diberinya judul Philosophiae Naturalis Principia Mathematica (“Mathematical Principles of Natural Philosophy”).
 
Sebagian orang mendefinisikan filsafat secara sederhana sebagai ilmu yang menggali cara terbaik untuk mengerjakan/memikirkan sesuatu. Dengan penjabaran seperti ini, tidaklah mengherankan kiranya jika apa yang kini kita kenal sebagai sains itu pun merupakan bagian dari filsafat.
Dengan sedikit pengetahuan dasar dalam hal sains, kita akan tahu bahwa ayat Qur'an yang dibicarakan ini sangat akurat.
Hemat saya, kekacauan terjadi justru karena perceraian ‘paksa’ yang mengakibatkan terpisahnya filsafat dan sains. Filsafat (atau lebih tepatnya: apa yang kini kita sebut sebagai filsafat) memang banyak berkutat dengan pikiran, sedangkan pikiran itu bisa melanglang buana tanpa batas, melampaui keterbatasan tubuh. Adapun sains, ia berkutat dengan segala sesuatu yang serba terbatas, nyata dan jelas wujudnya. Jika filsafat begitu ‘melangit’, maka sains sangatlah ‘membumi’.
 
Mereka yang belajar sains pastilah memahami keterbatasannya. Sains itu sendiri – kata teman saya yang lulusan Teknik Fisika ITB – dibangun atas model-model yang merupakan penyederhanaan dari alam. Alam itu sendiri terlalu kompleks untuk dipelajari, sehingga mesti disederhanakan. Gunung atau jalan yang menurun dan menanjak dimodelkan dengan bidang miring, meskipun wujud nyatanya tidak berupa garis lurus seperti modelnya. Banyak rumus dalam sains yang harus diberi catatan, misalnya rumus-rumus Kimia tertentu yang hanya berlaku pada suhu ruangan. Di luar suhu ruangan, kondisinya bisa lebih kompleks lagi. Ada pula masalah tingkat ketelitian, yang bisa terjadi karena ketidaktelitian pengamatan, ada faktor luar yang tidak diperhitungkan sebelumnya, atau juga kerusakan alat ukur. Lahir pula ilmu probabilitas dan statistika yang mengimplikasikan ketidakmampuan manusia untuk memastikan prediksinya sendiri. Ya, namanya juga prediksi! Poin pentingnya: jika Anda mendalami sains, pastilah Anda akan memahami betapa banyaknya ketidakpastian di alam semesta ini, dan betapa minimnya kemampuan manusia dalam memahami alam ciptaan Tuhan ini.

Sains semestinya mendekatkan manusia pada Tuhan, bukan menjauhkannya.
Lho, kok orang sains bicara Tuhan? Ya, bagaimana lagi menjelaskan kompleksitas di alam? Jangan buru-buru bilang Tuhan tidak ada karena belum pernah melihat-Nya, sebab di alam semesta ini ada banyak sekali galaksi, dan manusia belum pernah menjelajah sampai ke ujung tata surya, boro-boro ujung galaksi, apalagi ujung alam semesta. Seperti kata Buya Hamka, meyakini keberadaan Tuhan itu lebih mudah daripada mengingkarinya.
 
Orang yang belajar sains – semestinya – lebih membumi, lebih memahami keterbatasannya, atau singkatnya lebih beradab. Sebaliknya, mereka yang tidak meneliti alam semesta dan sibuk dengan alam pikirannya sendiri sangat mungkin terjebak dalam kesombongan. Mereka pikir mereka hebat, padahal di luar sana begitu banyak yang lebih hebat. Alam memang guru terbaik, karena ia bisa mengajarkan adab dan ilmu sekaligus.
 
Perceraian antara filsafat dan sains menjadikan banyak di antara mereka (sekali lagi: tidak semua!) yang belajar filsafat tergelincir dalam kesombongan. Mereka sangat bersemangat memaksimalkan akalnya – dan itu bagus, bahkan harus – namun lupa untuk bercermin dan melihat besarnya kuasa Allah SWT. Itulah sebabnya dalam ayat ke-191 di Surah Ali ‘Imran, Allah SWT menjelaskan ciri-ciri ulil albaab, yaitu: (1) senantiasa mengingat Allah, (2) memikirkan penciptaan langit dan bumi, (3) menyadari bahwa tiada ciptaan Allah yang bathil, (4) menyucikan nama Allah, dan (5) takut akan api neraka. Poin ke-2 secara khusus sangat berkaitan dengan sains, sedangkan secara keseluruhan kita dapat melihat bahwa ulil albaab ini adalah kelompok manusia yang bukan hanya berilmu, namun juga beradab. Sains memang semestinya membuat manusia menjadi beradab!

Memuja filsafat dan sains, melecehkan agama. Beginikah sikap yang pantas bagi seorang cendekiawan?
Menurut tebakan saya, para ‘filsuf’ yang kehilangan adab kepada Tuhan-nya itu adalah korban dari perceraian antara filsafat dan sains. Hal ini biasa terjadi pada kelompok Islam liberal yang suka mendewa-dewakan sains, padahal mereka sendiri bukan orang sains. Mereka begitu memuja akalnya sendiri dengan mengatasnamakan sains, padahal para penggiat sains nggak gitu-gitu amat. Akhirnya, mereka hanya membohongi diri sendiri. Mengira diri pantas mempertanyakan Allah, padahal ciptaan Allah pun tak tuntas dikaji. 
 
Filsafat tanpa sains bagaikan pohon yang menjulang ke angkasa namun akarnya tidak kokoh menancap di tanah. Asyik membahas pemikiran, namun abai dengan realita. Padahal, realita itulah yang seharusnya menjadi obyek pemikiran manusia. Di dunia ini memang sudah lazim kita jumpai orang-orang pintar yang merasa bodoh dan orang-orang bodoh yang merasa pintar. Tidak ada yang benar-benar baru di kolong langit.
 
wassalaamu’alaikum wr. wb.
 
https://www.facebook.com/notes/akmal-sjafril/perceraian-antara-sains-dan-filsafat-dan-tragedi-islam-liberal/857143474395411

Lengkapnya Klik DISINI

Inilah Beberapa Sejarah Indonesia yang Sengaja dipalsukan Oleh Yahudi. Baca dan Sebarkan!

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!
indonesia-batik
Sejak di Sekolah Dasar nilai-nilai dan pengetahuan tentang sejarah negeri ini mulai di ajarkan, dan berlanjut hingga Sekolah Menengah Atas. Namun setelah masuk di perguruan tinggi sebagian orang mulai berfikir mengenai sejarah asli Indonesia ini.
 
Mungkin anda tidak menyangka kalau sejarah Indonesia ternyata menjadi salah satu korban konspirasi Yahudi ? Tapi inilah kenyataannya, banyak fakta-fakta tentang Indonesia yang mereka (kolonial Belanda/VOC) gelapkan demi misi mereka mengkristenisasikan Indonesia. Tidak hanya lika-liku Islam di Indonesia, tetapi juga biodata tokoh pejuang yang mereka rahasiakan.
 
Dalam kesempatan ini, saya ingin membeberkan kebenaran yang sebenarnya tentang Indonesia, simak berikut ini :

Versi palsu :

1. Islam masuk ke Nusantara baru pada abad ke-13 Masehi yang dibawa para pedagang dari Gujarat, India.

2.Snouck Hurgonje merupakan peneliti Islam Belanda yang masuk Islam dan belajar di Mekkah, serta mengubah namanya dengan Abdul Ghaffar.

3. Kerajaan pertama di Nusantara adalah kerajaan Hindu Tarumanegara yang berdiri pada abad ke-4 Masehi di Jawa Barat.

4. Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara merupakan kerajaan-kerajaan kecil yang tidak mempunyai pengaruh.

5. Invasi penjajah Portugis, Spanyol dan Belanda tidak ada kaitannya dengan misi Salib. Penyebaran agama Kristen dilakukan dengan damai dan penuh cinta kasih.

6. Kerajaan Aceh Darussalam tidaklah besar dan kekuasaannya tidak mencapai atau tidak sampai seluas melebihi wilayah Asia tenggara.

7. Maluku dan Ambon merupakan wilayah kristen.

8. Fatahillah adalah orang pertama yang mengislamkan Jakarta.

9. Nama asli Pattimura adalah Thomas Matullesy, lahir di Saparua dan beragama Kristen.

10. Si Simangaraja XII merupakan Raja Batak yang beragam Palbegu, agama leluhur orang batak.
Lihat Faktanya Berikut Ini :



FAKTANYA :

1. Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-7 M, dibawa oleh para pedagang Arab, langsung dari Mekkah. Ada bukti yang sangat mendukung, salah satunya banyak temuan arkeolog yang menyebutkan di tahun 674 M telah berdiri satu kampung Islam di pesisir Barat Sumatera Utara yang bernama Barus. Bahkan salah satu raja Sriwijaya Budha yang bernama Sri Indrawarman yang masuk Islam.

2. Snouck Hurgonje tidak pernah masuk Islam. Dia hanya berpura-pura sebagai Muslim. Saat meninggal, ia dikubur dengan prosesi Kristen.

3. Kerajaan Nusantara pertama adalah kerajaan Salakanagara yang berdiri di pesisir Utara Jawa Barat pada abad ke-1 M.

4. Kerajaan Islam di Nusantara merupakan kerajaan-kerajaan besar, bahkan kekuasaanya lebih besar dari imperium kerajaan Hindu. Salah satunya adalah kerajaan Aceh Darussalam yang kekuasaannya hampir mencapai Turki. Kerajaan ini menyatukan diri dengan kerajaan Turki Utsmaniyah, buktinya bisa dilihat pada bendera Aceh tempo dulu yang tidak jauh dari bendera Turki Utsmaniyah.

5. Invasi penjajah Portugis, Spanyol dan Belanda tidak lepas dengan penyebaran misi salib. Dilakukan dengan jalan kekerasan, pembantaian, pemaksaan dll. Hal ini diakui oleh banyak sejarawan barat.

6. Kerjaan Aceh Darussalam sangat mendunia. Willfred Cantwell Smith dalam bukunya Islam in Modern History menyebutkan kalau Aceh merupakan 1 dari 5 kerajaan Islam yang merupakan tonggak Muslim saat itu.

7. Maluku merupakan wilayah Islam, daerah ini sudah di datangi pedagang Arab dua setengah abad lebih dulu dari katolik. Nama Maluku berasal dari bahasa Arab ‘Al-Mulk’ yang memiliki arti ‘Tanah Para Raja.

8. Orang pertama yang mendakwahkan Islam di Jakarta adalah Syekh Quro, yang dibantu oleh ulama lain seperi Datuk Ibrahim.

9. Pattimura merupakan marga Muslim, dengan nama asli Ahmad Lussy, lahir di Bacan. Merupakan bangsawan dari kerajaan Islam Saluhau.

10. Si Simangaraja XII merupakan Islam tulen. Cap kerajaan dan benderanya sangat lengket dengan ornamen-ornamen Islam. *Inspirasi Rabbani / sumber


Lengkapnya Klik DISINI

350 Tahun Cuman Omong Kosong!

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

Berhentilah berkata bangsa ini pernah dijajah Belanda selama ratusan tahun!
Foto Eddy Mandiri.
BEBERAPA waktu lalu, saya mengikuti sholat jumat di sebuah masjid dekat Kampus UI. Dalam khotbahnya, beberapa kali sang khatib menyebut bahwa salah satu penyebab umat Islam Indonesia terpuruk adalah karena kita masih belum bisa keluar dari bayang-bayang penjajah yang sudah menguasai bangsa ini selama 350 tahun. Disebut angka itu, tiba-tiba ingatan saya berkunjung ke tahun 1985. Saat itu, saya duduk di kelas 3 Sekolah Dasar, ketika mata pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) pertama kali diluncurkan oleh Pemerintah Orde Baru. Di era itulah saya sering sekali mendengar ungkapan para guru bahwa penjajahan di Indonesia berlangsung selama 350 tahun. Hah 350 tahun? Pikir saya. Alangkah lamanya.

Namun tak ada yang protes dengan angka tersebut. Semua orang (termasuk saya) seolah sudah sepakat bahwa Indonesia memang dijajah dalam kurun waktu sebanyak itu. Hingga pada 1991, saat duduk di bangku kelas 1 SMA, saya membaca perdebatan antara Soe Hok Gie dengan salah seorang dosen sejarahnya.

Soe sangat tidak terima Indonesia dijajah oleh Belanda selama 350 tahun. Mengutip pendapat Profesor G.J. Resink (akademisi UI yang berkebangsaan Belanda), aktivis dan mahasiswa sejarah itu menyebut angka tersebut hanya “dramatisasi politik” Soekarno untuk membakar rakyat Indonesia punya jiwa.

“Dalam kenyataannya, Belanda tak pernah bisa menguasai 100% wilayah Nusantara sampai akhir kekuasaannya,”kata Soe sambil menyebut beberapa pemberontakan rakyat Aceh yang masih berlangsung hingga 1942.

Rahmat Safari, salah seorang teman saya yang sangat menggilai sejarah, bahkan berani menyebut penjajahan Belanda atas Indonesia hanya 4 tahun (1945-1949). Apa sebab? “Sebelum 1945, secara de facto dan de jure, memang Republik Indonesia sudah ada?”katanya malah balik bertanya kepada saya.

Logika historis Rahmat saya pikir-pikir memang ada benarnya juga. Nama Indonesia sendiri baru disebut-sebut di kalangan ilmuwan ketika pada 1850, seorang etnolog berkebangsaan Inggris bernama James Richardson Logan menulis Ethnology of the India Archipelago (dimuat dalam The Journal of Indian Archipelago and East Asian Edisi IV. Dalam waktu yang hampir bersamaan, Adolf Bastian, seorang etnolog Jerman (1826-1905) lantas menulis sebuah buku berjudul Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel(Indonesia atau Pulau-pulau di Kepulauan Melayu).

Sebelum 1945, wilayah Indonesia memang dikenal sebagai Hindia Belanda.Artinya India punya Belanda.Itu untuk membedakan dengan Hindia Barat atau India yang punya Inggris. Dua nama itu murni hasil kesepakatan antara bangsa penjajah semata. Dan jauh sebelum ada nama Hindia Belanda,kawasan kita lebih dikenal sebagai Nusantara (artinya diantara pulau-pulau).Isinya terdiri dari berbagai bangsa dan kerajaan seperti Sunda, Bali, Gowa, Pajajaran, Melayu, Andalas, Pagaruyung, Mataram, Banten dan lain sebagainya.
Kembali ke soal angka 350. Rupanya, angka tersebut hulu-hulunya keluar dari mulut salah seorang Gubernur Hindia

Belanda. Namanya Bonifacius Cornelis de Jonge (1931-1936). Ceritanya, pada sekitar pertengahan tahun 1930-an, ia memberikan keterangan ke pers bahwa sebuah Hindia Belanda yang merdeka masih jauh dari kenyataan: “Kami sudah ada di sini sejak hampir 350 tahun yang lalu, dan kami akan tetap di sini sampai 300 tahun kemudian,”ujarnya.

Benarkah apa yang dikatakan De Jonge? Kalaupun itu dihitung sejak kedatangan pertama kali armada Belanda pimpinan Cornelis de Houtman pada 22 Juli 1596 atau Jacob van Neck, van Heemskerck, dan van Waerwijck pada 1 Mei 1598 ,saya pikir ia tidak salah. Tapi bukankah saat pertama kali mereka datang ke Pelabuhan Banten tujuannya hanya berbisnis semata,bukan melakukan penjajahan? Alih-alih menjajah, mereka bahkan terikat kesepakatan dengan Kerajaan Banten dan justru mempersembahkan upeti kepada Sultan Banten.

Harus diingat pula, setelah berdirinya Maskapai Perdagangan Hindia Timur (VOC) pada 1602 tak serta merta urusan “penguasaan” ekonomi dan politik Belanda atas kawasan Nusantara berlangsung mulus. Berbagai perlawanan terjadi ketika Belanda berniat menganeksasi wilayah kerajaan-kerajaan yang ada saat itu.

Muncullah berbagai perang yang terjadi di berbagai di kawasan Nusantara. Di Jawa Barat muncul seorang Haji Prawatasari yang memimpin secara sporadis perlawanan terhadap VOC (1703-1707), di Sumatera Barat meletus Perang Padri (1821-1837), di Jawa Tengah dan Yogyakarta terjadi Perang Diponegoro (1825-1830), Perang Aceh I (1873-1907), Perang di Jambi (1833-1907), Perang di Lampung (1834-1856), Perang di Lombok (1843-1894), Perang Puputan di Bali (1846-1908), Perang di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (1852-1908), Perlawanan di Sumatra Utara (1872-1904), Perang di Tanah Batak (1878-1907), dan Perang Aceh II (1912-1942).

Praktis hingga 1942, Belanda tidak bisa sepenuhnya menguasai wilayah Nusantara. Di beberapa kawasan seperti Banten, Aceh dan sebagian wilayah Sumatera lainnya, bahkan secara de facto Belanda hanya menguasai kawasan kota semata. Sedangkan kawasan pelosok dan pedalaman, tetap dikendalikan oleh para pejuang lokal. Pendapat tersebut diperkuat oleh sejarawan dari Universitas Padjajaran, Nina Lubis, Menurut Nina, hingga akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, beberapa kerajaan di Bali, dan beberapa kerajaan di Nusa Tenggara Timur, masih mengadakan perjanjian sebagai negara bebas (secara hukum internasional) dengan Belanda.

Jadi masihkan kita menyebut dengan “takjub” di mimbar-mimbar dan kelas-kelas bahwa kita telah dijajah Belanda selama 350 tahun? Kalau saya sih ogah.


Lengkapnya Klik DISINI

Sistem Pendidikan dalam Islam

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

BEBERAPA waktu lalu dunia pendidikan sempat ramai mengenai pergantian kurikulum, yakni pergantian kurikulum 2006 (KTSP) ke kurikulum 2013. Sejak merdeka, Indonesia telah mengalami 10 kali pergantian kurikulum. Sehingga, proses bergantinya kurikulum bukanlah hal yang baru. Dan di setiap pergantian kurikulum selalu ada perdebatan karena ketidaksiapan para tenaga pendidikan dan siswa. Namun pada akhirnya kurikulum 2013 ditarik kembali untuk kemudian dikaji ulang dan disempurnakan.

Selain masalah kurikulum, pendidikan di Indonesia juga mengalami banyak masalah lainnya, misalnya saja praktik kotor di lembaga yang berhubungan dengan pendidikan, mulai dari korupsi di lembaga negara sampai pemotongan uang bantuan dari pemerintah oleh pihak sekolah. Karakter peserta didik yang mengalami degradasi moral juga merupakan masalah yang serius bagi pendidikan di Indonesia. Perilaku peserta didik yang sudah tidak mencerminkan dirinya sebagai seorang pelajar, misalnya tawuran, seks bebas, penggunaan narkoba. Masalah-masalah tersebut muncul karena sistem yang digunakan bukanlah sistem yang bersumber dari Sang Maha Pengatur. Ketika yang digunakan bukan aturan-Nya, maka sudah pasti yang didapatkan adalah penderitaan. Sebaliknya, ketika yang digunakan adalah aturan-Nya, yang akan didapatkan adalah kebahagiaan, dunia dan akhirat.

Sistem pendidikan yang menghasilkan banyak masalah merupakan sistem pendidikan yang lahir dari ideologi yang memiliki orientasi materialisme, melihat segala sesuatu dari kegunaannya, tujuan hidupnya di dunia ialah materi, tidak peduli cara apa yang digunakan. Sehingga adalah wajar ketika hasil cetakan sistem pendidikan tersebut memberikan masalah yang lebih banyak. Dalam Islam, tujuan hidup seorang muslim ialah mencari ridha Allah, sehingga dalam segala perbuatannya ia akan mempertimbangkan dengan matang, terlebih teringat akan konsekuensi jika ia tidak berada di jalan-Nya, neraka.

Sistem pendidikan di dalam Islam berasaskan pada akidah Islam, dengan bertujuan untuk membentuk manusia yang: 1) berkepribadian Islam, yakni keteguhan dalam memegang identitas kemuslimannya dalam kehidupan sehari-hari; 2) menguasai tsaqafah islamiyah, karena merupakan kewajiban bagi setiap muslim; 3) menguasai ilmu-ilmu terapan, yang digunakan sebagai bekal agar mampu menjalankan tugasnya sebagai khalifatullah di muka bumi dengan baik.

Rasulullah saw. bersabda:
“Seorang imam (khalifah/ kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat; ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Dalam Islam, negara lah yang berkewajiban menjamin seluruh urusan rakyat, termasuk di dalamnya pendidikan. Banyak sekali catatan sejarah yang menggambarkan betapa negara sangat menjamin pendidikan untuk rakyatnya. Misalnya ketika Rasulullah akan membebaskan tawanan perang Badar yang mengajarkan baca-tulis kepada sepuluh orang penduduk Madinah, Khalifah Umar yang menggaji setiap guru di Madinah dengan 15 dinar, penghargaan kepada penulis buku yaitu emas seberat buku yang ditulisnya, juga fasilitas-fasilitas pendidikan yang dibangun pada masa itu seperti asrama siswa, perumahan staf pengajar, tempat peristirahatan, ruangan diskusi, perpustakaan, observatorium.

Dalam Islam, jenjang pendidikan formal dikategorikan menjadi dua, yakni pendidikan dasar dan pendidikan tinggi.

Pendidikan dasar bertujuan: 1) membentuk kepribadian Islami, sehingga pada akhir pendidikan dasar, peserta didik sudah harus memiliki kepribadian yang sempurna; 2) anak bisa berinteraksi dengan berbagai macam peralatan dan inovasi yang sejalan dengan kebiasaannya; 3) menyiapkan siswa untuk memasuki jenjang perguruan tinggi dengan mengajari mereka pengetahuan-pengetahuan dasar yang berkaitan. Pendidikan dasar dibagi lagi menjadi dua jenjang, jenjang pertama yakni pendidikan pra balig untuk anak berusia di bawah 10 tahun dan pendidikan untuk umur 10 tahun hingga balig. Pendidikan dasar terdiri dari 36 semester, dengan tiap tahunnya ada 4 semester. Mata pelajaran dalam jenjang pendidikan dasar terdiri dari mata pelajaran pokok dan mata pelajaran keterampilan (skills).

Pendidikan tinggi bertujuan: 1) memperdalam dan mengkristalkan kepribadian islami pada siswa pendidikan tinggi; 2) melahirkan para ahli dan spesialis di semua bidang kehidupan untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat; 3) mempersiapkan tenaga ahli yang diperlukan untuk mengatur urusan masyarakat. Lembaga pendidikan tinggi terdiri dari akademi, akademi kepegawaian, universitas, pusat pengkajian dan pengembangan, dan akademi militer.

Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam, bagi seluruh umat manusia, dalam segala aspek kehidupan. Dan Allah telah memerintahkan kita untuk menerapkan seluruh aturan Allah.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. Tetapi, jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.”
(Al Baqarah: 208-209). 

Wallahu a‘lam bi ash-shawâb. []



Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......