Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

Ingat Kesalahan Sendiri, Lupakan Kesalahan Orang Lain

Layaknya sebuah kertas yang sudah kejatuhan atau tergores oleh tinta hitam, tentu akan sangat sulit untuk dibersihkan. Begitu juga dengan hati dan pikiran kita, semua rekaman dan rasa yang menjamah pasti adakalanya membekas selama kita masih hidup.

Dalam konteks kehidupan yang kita alami setiap hari, harus kita yakini bahwa setiap episode kehidupan yang kita lalui tentu tak akan pernah lepas dari keterlibatan interaksi diri kita dengan orang-orang yang selama ini dekat dengan diri kita, baik itu orang tua, saudara, ataupun sahabat kita. Keterlibatan antara kita dengan orang lain inilah yang terkadang menyisakan banyak kisah, baik kisah yang indah untuk dikenang, maupun kisah buruk yang sulit untuk dilupakan.

Kisah yang indah bisa muncul dari berbagai macam kolaborasi antara tindakan, rasa dan persepsi, serta nilai-nilai kebaikan yang menyertai jalannya episode kehidupan yang dinilai memiliki makna yang membuat hati nyaman dan mampu merangsang pikiran untuk menyimpan rekaman kisah ini secara permanen di dalam otak. Karena output dari kisah indah ini adalah kebahagiaan dan kasih sayang. Sementara kisah yang buruk dan sulit dilupakan muncul dari prasangka, dan tindakan negatif yang membuat hati tidak nyaman untuk menerimanya dan pikiran sulit untuk melupakannya, outputnya adalah kebencian.

Harus kita akui bahwa setiap insan termasuk diri kita tidak akan pernah luput dari kesalahan, baik kesalahan yang sengaja ataupun tak disengaja. Dan harus kita akui bahwa setiap insan di dunia ini pasti pernah melakukan nilai-nilai kebaikan yang luhur baik secara langsung maupun tidak langsung.

Adakalanya kesalahan yang orang lain perbuat kepada diri kita membuat kita sulit untuk melupakannya atau meremovenya dari memory kenangan kita. Ketika bertemu dengan orang yang melakukan kesalahan terhadap diri kita maka yang akan muncul dari benak kita adalah lintasan kesalahan kesalahan yang diperbuatnya, dengan melupakan semua kebaikan yang pernah ia perbuat untuk diri kita. Bukankah kebencian atau amarah yang terpendam tanpa maaf akan menumbuhkan tunas kedengkian dalam hati yang membuat darah semakin panas? Lantas sampai kapan kita akan terus menyimpan semua perbuatan salah yang orang lain lakukan pada diri kita dan melupakan nilai kebaikan yang diperbuatnya untuk diri kita?

Teringat pesan yang begitu berharga dari seorang Murabbi yang begitu santun dalam tutur katanya ketika ia memberikan nasehat, yaitu “Akhi ada 2 hal yang harus kita lupakan dalam hidup kita, yaitu “Kesalahan yang orang lain perbuat pada diri kita, dan kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain, dan ada 2 hal yang harus kita ingat dalam hidup kita, kesalahan yang kita lakukan kepada orang lain, serta kebaikan yang orang lain lakukan untuk kita.”

Ya kesalahan yang orang lain lakukan pada diri kita tak akan ada manfaatnya jika terus kita ingat dan kita simpan dalam lerung qolbu dan lintasan pikiran kita, justru semakin kita ingat maka akan semakin timbul rasa benci yang amat sangat, bukankah memaafkan itu indah sebagaimana firman Allah:

“…Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran: 134)

”Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh…” (QS. Al A’raaf [7] ; 199)

“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (Asy-Syuura: 43)

Masih banyak ayat yang lain dari pesan cinta Allah untuk kita tentang urgensi memaafkan kesalahan orang lain. Sungguh memaafkan itu lebih indah dibandingkan dengan terus mendendam tiada arti. Kemudian mengenai kebaikan yang kita lakukan kepada orang lain bukanlah sesuatu hal yang harus kita pamerkan. Niat dan keikhlasan kita dalam beramal menjadi penilaian tersendiri di hadapan Allah.

Maka jadilah sebuah pohon yang rindang serta lebat buahnya yang tumbuh subur di tengah jalanan, ikhlas memberikan kesejukan bagi mereka yang berteduh dan sabar di lemari batu untuk di ambil buahnya. Semakin banyak kita ingat kebaikan yang kita lakukan dan kita ungkit kembali di hadapan orang yang kita tolong maka semakin muncul sifat riya’ ke dalam permukaan hati.

Sungguh di balik setiap kebaikan yang kita lakukan dan orang lain lakukan kepada diri kita Allah SWT tahu itu semua. Dan juga karena setiap kebaikan itu adalah sedekah. Dari Jabir bin Abdullah RA, dari Nabi Muhammad saw bersabda: “Semua kebaikan itu adalah sedekah.” (HR Al Bukhari dan Muslim).

Jadi mulai saat ini juga ada 2 hal yang harus kita lupakan dalam hidup kita, yaitu “Kesalahan yang orang lain perbuat pada diri kita, dan kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain,” dan ada 2 hal yang harus kita ingat dalam hidup kita, “Kesalahan yang kita lakukan kepada orang lain, serta kebaikan yang orang lain lakukan untuk kita.”

Latihlah kesabaranmu dengan memaafkan kesalahan orang lain terhadap dirimu, karena, “Sungguh, Allah ‘azza wa jalla bersama orang yang sabar.” (QS. al-Anfal [8] : 46)

Dan latihlah keikhlasanmu dengan tidak mengungkit setiap kebaikan yang kau kerjakan, cukuplah Allah dan Malaikat yang menjadi saksi.

“Dan barang siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji zarah niscaya ia akan menerima pahalanya, dan barangsiapa yang melakukan keburukan sebesar biji zarah niscaya ia akan menerima balasannya.” (Qs. Az-Zalzalah: 7-8)

Wallahualam Bissawab..

Gunawan Alfarizi


http://www.islamedia.web.id/2012/12/ingat-kesalahan-sendiri-lupakan.html

Lengkapnya Klik DISINI

Menjaga Keutuhan Dakwah


dakwah pak cah Menjelang pemilihan umum (Pemilu) legislatif, selalu ada prosesi pembahasan yang panjang dan bertanggung jawab, untuk menentukan Bakal Calon Anggota Dewan (BCAD). Demikian pula dalam menyambut Pemilu tahun 2014 ini. Sebagian kecil kader akan ditetapkan sebagai BCAD, yang diberi amanah berjuang melakukan dakwah di parlemen. Sebagian sahabat bergurau, akan menjadi ABCD (Aleg Bukan, Caleg Doang). Ssssstt…. Jangan dipikirin istilah ABCD itu, cuma canda saja…..
Obsesi Adalah Energi
Dalam Majelis kemarin(Rabu 28/11/2012) yang berlangsung sejak jam 09.00 hingga 00.30 wib di Markaz Dakwah, ada ungkapan yang sangat menarik dari ustadz Arifinto selaku pimpinan Majelis. “Tumuhat (obsesi) adalah energi yang besar dalam beraktivitas. Jika tidak ada tumuhat, maka akan membuat lemahnya aktivitas disebabkan tidak ada energi yang memadai”.
Kalimat itu mengomentari “aduan” saya, yang menyatakan keberatan untuk dijadikan calon anggota legislatif. Saya menyatakan, tidak ada keinginan, minat dan obsesi sedikitpun dalam diri saya untuk menempati posisi jabatan politik seperti di lembaga eksekutif ataupun legislatif. Oleh karena itu saya khawatir akan membuat kelemahan dalam berjuang di bidang itu, disebabkan tidak adanya minat dalam diri saya.
Babnya memang bukan sekedar keinginan, minat atau obsesi. Dalam konteks dakwah, penempatan setiap personal adalah amanah. Tapi minat dan obsesi adalah hal yang tidak boleh diabaikan. Tumuhat (obsesi) adalah salah satu energi dan bahan bakar yang akan menyalakan semangat perjuangan. Jika minat saja tidak ada, tumuhat tidak ada, lalu apa energi untuk bergerak? Padahal sistem pemilihan umum untuk legislatif dilakukan dengan sistem suara terbanyak. Artinya, semua calon harus berjuang secara maksimal agar bisa mendapatkan kursi.
Aplikasi Syumuliyatud Da’wah
Ustadz Ahmad Mudzofar, Lc dari Surabaya selalu mengingatkan kita tentang urgensi menjaga syumuliyatud da’wah. Sesungguhnyalah aktivitas dakwah kita bercoral syamil, integral, utuh dan menyeluruh. Mencakup seluruh aktivitas dan dinamika kehidupan. Oleh karena itu, harus ada yang berkonsentrasi untuk menumbuhkan dan mengembangkan masing-masing bagiannya. Jangan semua potensi terkonsentrasi untuk terlibat dalam politik praktis.
Sangat banyak lahan untuk beramal dalam dakwah, yang apabila dilakukan dengan kesungguhan, akan membangun keutuhan dakwah. Ada yang bergerak di jalur politik melalui lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif. Mereka berdakwah melalui mimbar lembaga resmi pemerintahan. Ada yang berdakwah melalui berbagai kegiatan sosial, ekonomi, pendidikan, seni, budaya, kesehatan, lingkungan, dan lain sebagainya. Ada yang berdakwah melalui aktivitas tarbiyah, membina berbagai komunitas masyarakat agar mengenal nilai-nilai ketuhanan. Ada yang berdakwah melalui lembaga pendidikan keagamaan, seperti madrasah, pesantren, ma’had, dan lain sebagainya.
Ada yang berdakwah melalui interaksi dengan kalangan yang terpinggirkan, seperti para pengamen, anak-anak jalanan, dan para penyandang patologi sosial. Ada yang berdakwah melalui sarana media baik cetak maupun elektronik dan digital. Ada yang berdakwah melalui kegiatan kemasyarakatan, pendampingan terhadap kelompok ekonomi lemah, pendampingan terhadap petani, nelayan, buruh, dan komunitas lainnya.
Seluruh sisi kehidupan masyarakat memerlukan sentuhan dakwah, melalui lembaga formal kenegaraan ataupun melalui aktivitas swadaya kemasyarakatan. Melalui partai politik, ormas, LSM, yayasan, sekolah, madrasah, pesantren, masjid, mushalla, rumah tangga, komunitas masyarakat, tokoh adat, dan lain sebagainya. Semua cara, semua metoda, semua sarana perlu ditempuh untuk memberikan penguatan dakwah dalam berbagai bidang kehidupan.
Memperhatikan Kecenderungan, Minat, Bakat, Potensi dan Obsesi
Seluruh potensi personal akan menjadi optimal perannya dalam dakwah, apabila ditempatkan sesuai dengan minat, bakat, kecenderungan, potensi dan obsesinya. Jika tidak sesuai, maka akan membuat tidak optimalnya peran seseorang dalam dakwah di bidang tersebut. Tidak seluruh personal cocok untuk melakukan dakwah di semua bidang, karena kecenderungan, minat, bakat, potensi dan obsesi yang berbeda-beda.
Tidak semua kader dakwah tepat diberi amanah menjadi guru Taman Kanak-kanak (TK), karena untuk menjadi guru TK diperlukan kecenderungan, minat, bakat, potensi dan obsesi yang spesifik. Tidak semua kader dakwah bisa mendapat amanah untuk berdakwah melalui lembaga-lembaga strategis pemerintahan, karena untuk menjadi pejabat yang handal diperlukan kecenderungan, minat, bakat, potensi dan obsesi yang khusus pula. Tidak semua kader dakwah bisa diberi amanah melakukan tabligh akbar, karena kecenderungan, minat, bakat, potensi dan obsesinya tidak ke bidang itu.
Hendaknya setiap personal diberikan amanah yang sesuai dengan kecenderungan, minat, bakat, potensi dan obsesi masing-masing. Dengan itu, akan membuat optimal dalam menunaikan amanah. Organisasi harus memiliki peta yang rinci terhadap kecenderungan, minat, bakat, potensi dan obsesi dari setiap kader yang ada, sehingga ketika memberikan amanah atau penugasan, harus disesuai dengan hal tersebut.
Saya termasuk salah satu dari sekian kader yang merasa tidak cocok berdakwah di lembaga legislatif ataupun eksekutif, karena tidak memiliki kecenderungan, minat, bakat, potensi dan obsesi di bidang itu. Saya merasa lebih optimal berdakwah melalui serangkaian kegiatan sosial, pembinaan, pendidikan dan pemberdayaan keluarga dan masyarakat. Saya merasa bukan tipe pejabat publik, namun lebih bercorak sebagai pekerja sosial. Sebagian sahabat saya bahkan menjuluki saya sebagai “pengamen jalanan”, dan saya merasa itulah kenyataannya.
Ada sekian banyak kader dakwah lainnya yang memiliki talenta publik yang luar biasa. Mereka itulah yang harus disalurkan potensinya untuk menjadi pelaku dakwah di kabinet, di parlemen, di gedung DPR, MPR, DPD, DPRD, atau menjadi pimpinan daerah seperti Gubernur, Bupati dan Walikota atau wakilnya. Sementara sekian banyak kader dakwah lainnya, ditugaskan untuk mengelola dakwah di berbagai pos yang berbeda-beda, sesuai kecenderungan, minat, bakat, potensi dan obsesi masing-masing.
Mari Terus Bekerja dan Berkarya
Saya sangat mengapresiasi semua kader dakwah yang bekerja dengan sepenuh kesungguhan dan kecintaan, di bidang masing-masing, Di pos dakwah masing-masing. Ada yang terkenal, ada yang tidak terkenal. Ada yang tampil di publik, ada yang tidak tampil di publik. Ada yang sering muncul di koran dan televisi, ada yang tidak pernah muncul di koran dan televisi. Ada yang bekerja di lembaga pemerintahan, ada yang bekerja di tengah denyut kehidupan masyarakat. Semua dari mereka sedang bekerja dakwah, sesuai karakter tugas masing-masing bagian. Ada pos dakwah yang memerlukan publisitas dan penampilan, ada pula pos dakwah yang tidak memerlukan publisitas.
Tidak ada yang lebih mulia antara satu dengan lainnya, karena semua sama-sama mulia dengan tugas dakwahnya. Bukan berarti kader yang menjadi Gubernur lebih hebat dan keren dibandingkan dengan kader yang diberi amanah menjadi murabbi dan mudarib kepanduan. Bukan berati kader yang menjadi anggota DPR/MPR lebih mulia dibanding dengan para ummahat yang berjihad mendidik anak dan keluarga. Semua memiliki nilai kemuliaan di sisi Allah, semua memiliki arti dalam memenangkan dakwah.
Maka, berbahagialah dengan amanah dakwah yang tengah kita emban. Nikmati semuanya dengan segenap jiwa dan cinta. Sebagai apapun, atau tidak sebagai apapun dalam konteks posisi publik. Kita adalah pejuang yang selalu memberikan energi terbaik bagi tercapainya tujuan dakwah ini.
Lengkapnya Klik DISINI

Hidup Vegetarian Cenderung Berumur Panjang


Hidup Vegetarian Cenderung Berumur Panjang
Menjadi vegan berarti memiliki untuk memetik nutrisi dari nabati. Menyingkirkan semua menu hewani dengan berbagai alasan, mulai dari alasan rohani maupun alasan kesehatan.
Menurut Universitas Loma Linda di California, mereka yang memilih menjadi kaum vegan cenderung memiliki riwayat kesehatan yang baik, serta usia yang lebih panjang. Studi tentang hal ini telah dilakukan sejak tahun 1970-an, dari hasil penelitian, seperti dilansir oleh Huffingtonpost, banyak manfaat yang bisa dipetik dari cara hidup vegetarian.
Ditemukan pula dari hasil penelitian bahwa mengonsumsi buah, sayur-sayuran dan kacang-kacangan dapat membantu seseorang terhindar dari kanker, penyakit jantung, diabetes tipe 2, mengontrol BMI, mengontrol ukuran pinggang serta meningkatkan kemampuan otak.
Studi yang dilakukan oleh Universitas Loma Linda melibatkan 96 ribu orang dengan penelitian mendetail. Mereka bahkan telah mempresentasikan hasil penelitiannya di Food n Nutrition Conference and Expo.
Dari penelitian tersebut dilaporkan rata-rata mereka yang menjalani hidup vegetarian, pria dapat hidup hingga 83,3 tahun, sedangkan wanita 85,7 tahun.
Selain itu, beberapa hasil kesehatan berikut juga ditemukan:
  • Vegan memiliki berat badan yang cenderung lebih ringan ketimbang mereka yang mengonsumsi menu hewani
  • Vegan memiliki BMI yang cenderung lebih rendah dan normal
  • Vegan memiliki kadar insulin yang normal dan di bawah pengonsumsi menu hewani
  • Vegan mengurangi dan menekan jumlah obesitas
Bagaimana, tertarik untuk hidup ala vegetarian juga?
Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......