Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

Menjadi Setegar Yusuf AS

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

Setiap manusia pasti merasakan ujian, penderitaan dan berbagai hal yang melahirkan rasa sedih yang kadang bertumpuk, dan berlapis-lapis.
Ilustrasi. (Klinik Fotografi Kompas)
Di antara hal yang bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan kesedihan adalah menikmati hiburan, di antaranya, yang banyak dilakukan adalah menikmati kisah yang indah dan menggugah. Nah, Alquran telah menghadirkan kisah terindah yang bisa kita nikmati, yaitu kisah nabi Yusuf alaihi salam.

Ibnu Atho’ bahkan berkata: “Tidaklah seseorang bersedih lalu mendengar surat Yusuf kecuali pasti dia akan merasa lega”. Bahkan ada sebagian ahli tafsir yang mengatakan kalau surat Yusuf diturunkan sebagai hiburan atas kesedihan Rasulullah yang bertubi-tubi karena mendapat ujian berat saat masih di Mekkah.

Dari kisah ini kita tidak hanya mendapat hiburan untuk menghilangkan kesedihan, tapi sekaligus di dalamnya ada ibroh, hikmah, faidah dan pelajaran yang bermanfaat untuk urusan dunia maupun akhirat, sehingga Allah menyebutnya sebagai kisah terbaik.

Di dalamnya ada kisah persaudaraan, persahabatan, perjuangan menjaga kesucian, muruah, lapang dada dan puncak maaf, juga kesabaran terdahsyat, yang semuanya membekaskan pelajaran berharga; bahwa setiap ujian itu pasti baik buat kita, asal kita bisa menyikapinya dengan cara yang baik pula.
Mari kita ikuti tahap-demi tahap ujian berat yang dilalui oleh Nabi yang sangat mulia ini, sebagaimana telah dirangkum dalam buku Al-Mushoffa min sifati duat berikut ini:
  1. Upaya pembunuhan
Rencana pembunuhan ini berasal dari orang terdekatnya, yaitu saudara-saudaranya. Dan ini yang menjadikan cobaan ini terasa lebih pahit dan menyakitkan, berbeda dengan misi pembunuhan lain yang biasanya datang dari orang yang paling jauh nasabnya. Adapun saat rencana pembunuhan itu berasal dari saudara laki- laki yang sama-sama keluar dari satu sulbi, pasti ini menambah pedih bagi yang menanggung ujian ini, terlebih jika sebab upaya pembunuhan ini adalah hal yang sangat sepele, yaitu sesuai dengan klaim mereka, adalah kecintaan ayah mereka pada Yusuf dan sikapnya yang lebih mengutamakan Yusuf daripada mereka.

Dan kita memperhatikan kelembutan Allah Yang Maha Kuasa pada Yusuf dengan membuat salah satu dari saudaranya berbicara agar kehendak-Nya berjalan dan menjadikan usulan salah satu dari mereka adalah jalan keluar pertama dari ujian pertama ini: “Seorang di antara mereka berkata: “Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah Dia ke dasar sumur supaya Dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat.” (Yusuf: 10).

Akhirnya mereka menyetujui usulan ini dan dengan persekongkolan yang matang, mereka menghadap ayah mereka untuk menyakinkannya agar mengizinkan mereka membawa serta Yusuf untuk pergi tamasya bersama mereka. Dan meskipun Ya’qub ‘alaihissalam bimbang, namun mereka mampu meyakinkannya dan akhirnya merekapun pergi dan Yusuf memasuki sumur sebagai ujian kedua.
  1. Di buang ke dasar sumur
Saudaranya mengusulkan agar Yusuf tidak di bunuh, dan lebih baik di buang ke sumur karena diprediksi akan dipungut oleh rombongan yang melewati tempat tersebut. Tapi sebenarnya ini bukanlah prediksi yang cukup kuat. Karena bisa saja kafilah musafir terlambat melewati sumur tersebut dan Yusuf terancam mati kelaparan. Pemikiran seperti ini bisa saja hadir dalam benak Yusuf, wallahu a’lam.

Dan yang menjadikan ujian ini terasa lebih berat adalah Yusuf kecil menyaksikan sendiri kakak-kakaknya memeganginya dan mereka semua bekerja sama menjebloskannya ke dalam sumur tua, lalu ia menatap mereka pergi berlalu dan membiarkannya seorang diri di padang tandus berdiam diri di kegelapan sumur tanpa seorangpun menemani dan menghiburnya. Hanya ada dinding sumur yang bisu, dan dinginya air di dasar sumur.

Seolah ini adalah dalam rangka mempersiapkannya untuk penjara yang sebenarnya yang Allah takdirkan akan dimasuki oleh Yusuf pada fase-fase ujian yang akan datang dalam kehidupannya.

Kemudian datanglah kemudahan setelah masa sulit dan setelah kesabaran itu pada Yusuf saat dia ditimpa kesendirian yang mematikan dalam sumur itu. Jalan keluar itu berupa kafilah yang memungutnya dari sumur:

Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air, Maka Dia menurunkan timbanya, Dia berkata: “Oh; kabar gembira, ini seorang anak muda!” kemudian mereka Menyembunyikan Dia sebagai barang dagangan. dan Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan. (Yusuf: 19).

Yusuf dikeluarkan dari sumur agar melihat dunia lagi dan telah digariskan agar ia menjalani hidupnya lagi di dunia manusia. Namun keluarnya dari sumur ini merupakan awal dari ujian baru dalam kehidupannya.
  1. Perbudakan
Kafilah musafir itu memungutnya dari sumur dan mereka kagum atas ketampanan Yusuf dan mereka menyangka bahwa ia berasal dari keturunan keluarga yang terhormat, karena itulah mereka khawatir kalau ketahuan dan segera menjualnya sebagai budak dengan harga murah di negeri Mesir:

Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, Yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf.

Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya: “Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh Jadi Dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut Dia sebagai anak.” Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta’bir mimpi. dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. (Yusuf: 20-21).

Yusuf berpindah dari kehidupan merdeka yang dijalaninya bersama kedua orang tuanya, dalam keadaan mulia dan terhormat, yang membuat iri saudaranya menuju kehinaan perbudakan dan kehidupan sebagai hamba sahaya di istana penguasa Mesir. Statusnya sama dengan para budak yang bertugas mengangkut barang berat milik tuannya, membersihkan sampah dan kotoran, dan melayani kebutuhan dan permintaan yang remeh temeh, diperintah dan harus taat. Dan ini adalah ujian tersendiri yang memerlukan kesabaran.

Dan takkan bisa memahami seperti apa kesengsaraan budak kecuali orang yang mau mendengar keluh kesah mereka atau pernah mengalami kehidupan mereka. Dan cukuplah sebagai penderitaan bagi seorang budak, ia tidak seperti manusia pada umumnya. Tidak diperlakukan sebagai manusia, bahkan seringkali diperlakukan hampir seperti binatang.
  1. Ujian wanita
Yusuf ‘alaihi salam sangat rupawan, dan istri petinggi Mesir tergoda oleh ketampananya meski usia mereka terpaut sangat jauh. Dan wanita ini tak mampu menyembunyikan jika ia tertawan dan kasmaran, sedangkan ia adalah nyonya dan Yusuf sebagai budak sahaya. Sampai ketika syahwatnya mencapai puncak, ia menemui Yusuf dan berkata: “Marilah kesini”, setelah menutup semua pintu dan yakin bahwa istana dalam keadaan kosong. Maka Yusuf berkata:

Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. (Yusuf: 23).

Sesungguhnya seorang wanita tak akan mengucapkan perkataan ini pada seorang laki-laki kecuali ia telah mempersiapkan diri untuk perbuatan tersebut dengan segala kesadaran akan daya tarik yang ia miliki, dan ia melakukan segala trik untuk menggoda orang yang dikehendakinya.

Bisa jadi ia menanggalkan seluruh busananya, atau menampakkan keindahan- keindahan tubuhnya, atau menampakkan bagian tubuh yang bisa membangkitkan syahwat laki-laki dan memakai riasan di wajah dan wawangian di tubuhnya. Sungguh, ujian wanita yang menimpa Yusuf adalah ujian terbesar yang dihadapinya di sepanjang hidupnya.

Dan agar kita bisa mengetahui besarnya ujian ini, kita mesti memahami faktor- faktor yang mendorong seorang pria berzina dengan wanita. Tak ragu lagi, faktor itu banyak sekali. Dan seringkali adanya satu faktor saja sudah cukup mendorong terjadinya zina, maka bagaimana jadinya jika semua faktor itu terkumpul dalam peristiwa Yusuf dan istri pembesar istana?

Di antara faktor terbesar yang menyebabkan terjadinya zina adalah:
  • Ketampanan pria
Karena akan mendorongnya untuk melakukan pendekatan pada para wanita karena tertipu dengan ketampanannya. Berbeda dengan yang buruk rupa, yang dari zaman dahulu diketahui bahwa tak akan ada yang tertarik padanya.
  • Ajakan wanita untuk berzina
Dan ini adalah faktor yang paling kuat. Dan faktor ini menjadi dorongan yang kuat ketika permintaan untuk memenuhi syahwat itu itu dilandasi rasa cinta wanita tersebut dan bukan karena alasan harta atau alasan lainnya. Dan inilah yang terjadi pada Yusuf ‘alaihi salam.
  • Keterasingan
Orang yang terasing tak ada yang mengenalnya, dan ini memudahkannya untuk melakukan praktek zina karena ia jauh dari pengawasan orang-orang yang mengenalnya.
  • Perbudakan
Seorang budak tergadai oleh perintah tuannya, dan ia tak mampu menolak perintah itu karena kewajibannya adalah taat tanpa keraguan, karena ia tak memiliki keputusan sendiri.
  • Masa muda
Yusuf adalah seorang pemuda belia, dan ini adalah faktor utama yang membuat seseorang menerima ajakan zina. Lain halnya orang yang orang yang telah tua renta, yang telah lemah atau hilang syahwatnya.
  • Kesiapan wanita untuk berzina
Faktor ini berbeda dengan ajakannya untuk berzina. Maksudnya di sini adalah wanita tersebut memakai atau melakukan hal-hal yang membuat pria tergoda padanya:
Dan berkata: “Marilah ke sini”. (Yusuf: 23)
  • Menutup semua pintu
Dan ini mengundang rasa aman untuk melakukan perbuatan keji, karena jauh dari pantauan pegawai istana, atau kerabat wanita tersebut: “Dia menutup pintu-pintu”. (Yusuf: 23).
  • Kedudukan dan jabatan
Wanita ini adalah istri perdana mentri di masa raja-raja Firaun. Dan posisi wanita ini membuatnya mampu menyembunyikan kejahatan meskipun sebenarnya telah terkuak. Dan ini adalah faktor rasa aman yang lain yang bisa mendorong seorang laki-laki melakukannya. Dan faktor ini benar-benar terjadi dalam ujian ini.
  • Suami yang tidak cemburu
Dari rangkaian ayat nampak jelas bahwa suami wanita tadi adalah laki-laki yang tak memiliki rasa cemburu, dan dalilnya adalah firman Allah SWT:
Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan Kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. wanita itu berkata: “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?” (Yusuf: 25).

Setelah melakukan sidang dan jelas bahwa kebenaran ada di pihak Yusuf ‘alaihi salam, dia hanya mengucapkan pada Yusuf: “(Hai) Yusuf rahasiakanlah hal ini”. (Yusuf: 29). Dan ia berkata pada istrinya: “dan (kamu Hai isteriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu Sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah.”. (Yusuf:29).

Dan ini adalah pendorong yang besar untuk perbuatan yang nista sepanjang orang yang seharusnya melarang, dalam hal ini adalah suaminya, justru tidak menentangnya.
  • Ancaman penjara
Manusia kadang menjadi lemah dan terpukul dengan ancaman seperti ini. Dan ini juga termasuk faktor yang efektis dan berpengaruh bagi kebanyakan manusia. Dan wanita yang tengah kasmaran ini mengancam Yusuf di hadapan para wanita masyarakat yang sakit itu, setelah mereka memotong-motong jemari tangan mereka karena tersihir oleh ketampanannya, yang membuat mereka tak percaya kalau itu adalah ketampanan manusia, tapi mereka menyangkanya malaikat, istri perdana mentri itu mengancam dan berkata: “Itulah Dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan Sesungguhnya aku telah menggoda Dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi Dia menolak. dan Sesungguhnya jika Dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya Dia akan dipenjarakan dan Dia akan Termasuk golongan orang-orang yang hina.” (Yusuf: 32).

Banyak kejahatan berbahaya akhirnya bisa dikerjakan karena menggunakan ancaman penjara. Maka bagaimana dengan kejahatan yang dicenderungi dan diminati oleh hawa nafsu, yaitu berzina dengan wanita istana, pemilik kekuasaan dan jabatan.

Faktor-faktor ini semuanya terangkum dalam ujian yang diarungi oleh Yusuf ‘alaihi salam. Dan jika salah satu faktor saja membuat banyak pria berjatuhan, maka bagaimana jika semua faktor tadi terkumpul di hadapan Yusuf?. Inilah hal yang mendekatkan kita pada jenis tsabat atau keteguhan sikap Yusuf ‘alaihi salam, dan memberikan kita bekal sebuah tarbiyah yang orisinil yang dijalani olehnya, karena ia menjadi salah satu sebab keteguhannya.

Karena tak mungkin bisa bersikap teguh dalam suasana seperti ini orang-orang yang membiarkan jiwanya bersenang-senang semaunya, kemudian mengharapkan sikap tsabat. Sekali-kali tidak. Tak akan mampu tegar kecuali siapa yang lelah membina jiwa dan mensucikannya, sehingga Allah Ta’ala meneguhkannya pada kebanyakan ujian dan cobaan.

Dan setelah Yusuf lolos dalam ujian ini, Allah memberikan jalan keluar dan mengeluarkannya dari krisis tersebut, ke tempat yang jauh dari bau istana yang menyebarkan aroma kerusakana, dan kerendahan akhlak. Dan itu setelah ia menyandarkan diri sepenuhnya pada Allah semata, sambil mengakui kelemahan sisi basyariyahnya di hadapan derasnya ujian: “Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku Termasuk orang-orang yang bodoh”. Maka Tuhannya memperkenankan doa Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (Yusuf: 33-34).

Allah mengeluarkannya dari fitnah ujian tersebut dan mengabulkan permohonannya. Akan tetapi untuk membawanya pada jenis ujian yang lain, yaitu ujian penjara: “Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku”. (Yusuf: 33).
  1. Ujian kurungan penjara
Allah Ta’ala berfirman:

Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu. (Yusuf: 35).
Ketika memasuki penjara yang baginya laksana surga jika dibanding dengan istana yang menjulang itu, Yusuf ‘alaihi salam tidak melupakan obsesi dan misinya, dan saat itu ada dua pemuda yang menyertainya dalam penjara mempercayai kelimuan yang Allah karuniakan padanya, dan memintanya untuk menafsirkan mimpi keduanya:

“Dan bersama dengan Dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. berkatalah salah seorang diantara keduanya: “Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur.” dan yang lainnya berkata: “Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung.” berikanlah kepada Kami ta’birnya; Sesungguhnya Kami memandang kamu Termasuk orang-orang yang pandai (mena’birkan mimpi)”. (Yusuf: 36).

Yusuf ‘alaihi salam memanfaatkan kepercayaan, kedatangan dan keperluan mereka untuk mengetahui mimpi yang aneh tersebut . Maka iapun memulai menerangkan tentang tauhid pada mereka secara bertahab sebelum menjawab permintaan mereka.

Nabi Yusuf menghabiskan sebagian besar waktu yang ada untuk menerangkan pokok-pokok tauhid dan mengupayakan agar mereka tertarik. Adapun jawaban atas pertanyaan keduanya, tak lebih dari dua statemen:

Hai kedua penghuni penjara: “Adapun salah seorang diantara kamu berdua, akan memberi minuman tuannya dengan khamar; Adapun yang seorang lagi Maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku).”. (Yusuf: 41).

Sesungguhnya hal terberat yang menimpa orang–orang yang dipenjara adalah terputusnya mereka dari peristiwa di luar penjara, dari keluarga dan anak-anak, serta peristiwa yang terjadi setiap hari.

Dan lebih berat dari itu adalah saat seseorang masuk penjara sedang ia bebas dari dosa, dan ia tak dipedulikan di sana, tak seorangpun dari mereka yang ada di luar menaruh perhatian bahwa di sana ada manusia yang hidup di penjara. Dan lebih pedih lagi, bahwa orang yang dipenjara tadi tak memiliki kekuasaan atas dirinya mengenai kapan pergi, dan kembali, apa yang dikonsumsi, atau apakah tetap di tempat itu ataukah yang lain.
  1. Perpanjangan masa kurungan
Sesungguhnya orang yang di penjara dan ia mengetahui kapan bisa keluar, dan kapan masa penahanan itu berakhir, tidak akan mengalami apa yang dirasakan oleh nara pidana yang tak mengetahui kapan berakhir masa tahanannya, dan tak pernah dikatakan padanya kapan akan keluar. Setiap hari ia terus menunggu-nunggu, dan setiap hari berlalu seperti sebelumnya tanpa ada kepastian kapan akan berakhir, yang menjadikannya tertimpa ujian spikologis yang terus- menerus, terutama jika penahanan itu berlangsung lama tanpa ada seorangpun yang menyadari hal itu. Dan inilah yang terjadi pada Yusuf ‘alai salam, maka ia berpesan pada salah satu dari kedua temannya yang menurut prediksinya akan selamat: “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.”. (Yusuf: 42).

Akan tetapi setan menjadikan pria tersebut lupa untuk menceritakan kondisi Yusuf yang terdzalimi pada tuannya, dan sikap lupanya menyebabkan bertambahnya masa tahanannya: “Karena itu tetaplah Dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya”. (Yusuf: 42).

Dan tak seorangun mengingatnya kecuali setelah raja memerlukan orang yang bisa menafsirkan mimpinya. Saat itulah pria itu mengingat temannya, Yusuf ‘alaihi salam dan ia menceritakannya pada raja. Namun prinsip Yusuf yang orisinil menolak untuk keluar dari penjara dengan cara seperti ini, dan ia menolak bebas dari penjara namun dengan tuduhan zina masih melekat padanya, hingga diumumkan secara resmi di hadapan khalayak ramai siapa pendosa yang sebenarnya, dan diumumkan pula bahwa ia bersih dan tak bersalah. Nabi Yusuf menjawab ajakan utusan raja dengan penolakan, tak terpengaruh dengan gelapnya penjara dan deritanya, serta lamanya ia mendekam di sana:

“Kembalilah kepada tuanmu dan Tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. (Yusuf: 50).

Dan ketika raja bertanya pada para wanita tersebut dan merekonstruksi rincian peristiwa kriminal itu bersama mereka yang hadir dan berperan dalam peristiwanya, sang pendosa mengaku: “Mereka berkata: “Maha sempurna Allah, Kami tiada mengetahui sesuatu keburukan dari padanya”. berkata isteri Al Aziz: “Sekarang jelaslah kebenaran itu, Akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan Sesungguhnya Dia Termasuk orang-orang yang benar.”. (Yusuf: 51).

Hanya saat itu saja ia ridha untuk keluar secara terhormat, bersih, dan bukan sebagai pesakitan yang bebas karena kemuliaan sang raja dan keperluannya pada Yusuf. Namun ia keluar menuju ujian lain yang para tokoh sekalipun hanya sedikit yang mampu bertahan, yaitu:
  1. Ujian jabatan
Tak diragukan lagi bahwa ujian jabatan termasuk ujian terbesar yang mungkin menimpa para dai. Dan disini Yusuf ‘alaihi salam meminta jabatan bukan karena cinta jabatan, namun karana ia tahu di sana tak ada orang yang lebih kompeten darinya. Dan ia tahu bahwa meninggalkan urusan ini berarti meninggalkan tanggungjawab seorang dai yang harus dilakukannya untuk menyelamatkan manusia, jika ia memiliki kemampuan untuk itu.

Adapun jika ia tahu bahwa ada orang lain yang lebih kapabel dari dirinya, maka yang lebih utama adalah besikap zuhud atas jabatan, karena kecintaanya pada hal ini tidak lain merupakan bentuk dari kecintaan pada dunia. Bahkan Al-Qosim bin Ustman al-Jau’i menganggapnya sebagai bagian dari dosa – dosa yang membinasakan, dengan berkata: “Cinta kepemimpinan adalah pokok segala yang membinasakan”.

Orang-orang yang rakus menyongsong jabatan dan kepemimpinan, Allah haramkan atasnya kelezatan iman dan kekhusyuan. Karena hatinya tertambat dengan selain akhirat. Dan inilah yang diisyaratkan oleh Abu Ja’far al-Muhauli ketika berkata: “Haram bagi jiwa yang di dalamnya ada kecintaan menjadi pemimpin manusia untuk merasakan manisnya akhirat”.

Namun Yusuf ‘alaihi salam tidak termasuk dalam golongan yang rakus pada dunia ini. Bahkan hatinya tertambat dengan akherat. Ujian jabatan tak mengoncangnya untuk tetap berserah diri pada Allah, menjaga adab di hadapan-Nya, dan mengakui kenikmatan-Nya. inilah dia berkata di akhir petualangannya, setelah Allah mengumpulkan ayah dan saudaranya untuknya di negeri Mesir:

Ya Tuhanku, Sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. (ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam Keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh. (Yusuf: 101).

Sayyid Qutb berkata: “Dan begitulah, nama besar dan kekuasaan tertutupi. Dan kegembiraan karena perjumpaan dan pertemuan dengan keluarga dan kebersamaan dengan saudara juga menghilang. Dan muncullah episode terakhir, episode seorang hamba yang memohon pada Rabbnya agar dijaga keislamannya hingga ajal menjemputnya, dan agar dipertemukan dengan orang-orang shaleh di haribaan-Nya. Ini adalah kesuksesan mutlak dalam ujian akhir”. (Fi Dhilali al-Qur’an: 4/ 2030).

Dari sela-sela ujian yang dilewati Yusuf, jelas bahwa jalan keluar setelah masa- masa sulit itu di dahului oleh keteguhan pada prinsip. Kadang jalan keluar itu merupakan hadiah dari keteguhan itu. Atau bisa jadi jalan keluar itu sendiri merupakan ujian lain yang dengannya Allah menguji keteguhan hamba-Nya di waktu datang kemudahan. Dan betapa banyak dai yang teguh di saat datang ujian dan kesulitan, namun ketika datang kemudahan, jalan keluar, dan kejayaan, iapun berpaling dari sikap yang sungguh-sungguh dan menjauh dari barisan dakwah.
Dan pelajaran dari kisah ini adalah:
  • Pertama: Kadar cobaan sesuai dengan kadar kedekatan seseorang pada Allah
  • Kedua: Cobaan kadang terjadi karena menjauh dari Allah pada salah satu makna ubudiyah, meski hanya sedikit.
  • Ketiga: Bahwa setiap cobaan disertai rahmat dari Allah SWT.
  • Keempat: Jalan keluar setelah kesulitan di dahului oleh sikap teguh pada manhaj.
Seberat apapun beban ujian yang menimpa, pasti hanya sepersekian dari ujian yang telah di pikul oleh nabi Yusuf kita. Dan meski kita tak sesabar dan setegar Nabi mulia ini, setidaknya kita pasti mampu memerankan berbagai episode kehidupan kita dengan indah dengan mencermati dan meneladani kisah spektakuler beliau.

Semoga Allah selalu meneguhkan hati kita, dan melepaskan beban yang membebani punggung serta menghilangkan duka kita. Amin.

Wallahu a’lam.

Sumber: Tafsir Al-Baghowi, Al-Mushoffa min shifat ad-Du’at, Syekh Al-Bilali.
Lengkapnya Klik DISINI

Sejarah Lengkap Kehidupan Shalahuddin al-Ayyubi (Dari Lahir Sampai Meninggal Dunia)

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!




gambar shalahuddin atau saladin 

Salah ad-Din Yusuf bin Ayyub lebih dikenal di dunia Barat sebagai Saladin, seorang Kurdi Muslim yang menjadi Ayyubiyah pertama Sultan Mesir dan Syria. Dia membawa oposisi Islam untuk kaum Frank dan Tentara Salib Eropa lainnya di Levant. Pada puncak kekuasaan, ia berkuasa atas Mesir, Suriah, Mesopotamia, Hijaz, dan Yaman. Dia memimpin umat Islam melawan Tentara Salib dan akhirnya merebut kembali Palestina dari Kerajaan Tentara Salib di Yerusalem setelah kemenangannya dalam Pertempuran Hattin. Dengan demikian, dia adalah tokoh terkemuka di Kurdi, Arab, dan budaya Islam. Shalahuddin adalah seorang penganut Islam Sunni ketat dan murid dari tatanan Qadiri Sufi. perilaku sopan-Nya telah dicatat oleh penulis sejarah Kristen, khususnya dalam akun pengepungan Kerak di Moab, dan meskipun menjadi musuh dari Tentara Salib dia dihormati banyak dari mereka, termasuk Richard si Hati Singa; bukan menjadi sosok dibenci di Eropa, ia menjadi contoh merayakan prinsip-prinsip kesopanan.

Awal Hehidupan

Saladin lahir di Tikrit, Irak. Keluarganya latar belakang Kurdi dan keturunan, dan berasal dari kota Dvin, di Armenia abad pertengahan. Ayahnya, Najm ad-Din Ayyub dibuang dari Tikrit dan di tahun 1139 , ia dan pamannya Asad Al-Din Shirkuh, pindah ke Mosul. Ia kemudian bergabung dengan pelayanan Imad ad-Din Zengi yang membuatnya komandan benteng di Baalbek. Setelah kematian Zengi di 1146, anaknya Nuruddin, menjadi Bupati Aleppo dan pemimpin Zengids.

Saladin, yang sekarang tinggal di Damaskus, dilaporkan memiliki kesukaan khusus kota, namun informasi mengenai masa kecilnya masih langka. Tentang pendidikan, Saladin menulis “anak-anak dibesarkan dengan cara yang tua-tua mereka dibesarkan.” Menurut salah satu penulis biografinya, Al-Wahrani, Saladin mampu menjawab pertanyaan tentang Euclid, Almagest, aritmatika, dan hukum, tetapi ini adalah ideal akademis dan itu mempelajari Al-Quran dan “ilmu agama” yang terhubung ke orang-orang sezamannya. Beberapa sumber mengklaim bahwa selama studinya dia lebih tertarik pada agama daripada bergabung dengan militer. Faktor lain yang mungkin mempengaruhi minatnya dalam agama adalah bahwa selama Perang Salib Pertama, Yerusalem. diambil dalam serangan mendadak oleh umat Kristen. Selain Islam, Saladin memiliki pengetahuan tentang silsilah, biografi, dan sejarah orang Arab, serta garis keturunan kuda Arab. Lebih penting lagi, ia tahu Hamasah Abu Tammam oleh hati.

Awal Ekspedisi

awal ekspedisi sholahuddin
Karir militer Saladin dimulai ketika pamannya Asad Al-Din Shirkuh, seorang komandan militer penting di bawah Nuruddin, mulai pelatihan dia. Pada 1163, wazir kepada khalifah Fatimiyah al-Adid, Shawar, telah diusir dari Mesir oleh Dirgham saingan, seorang anggota suku Bani Ruzzaik kuat. Dia meminta dukungan militer dari Nuruddin, yang sesuai dan di 1164, Shirkuh dikirim untuk membantu Shawar dalam ekspedisi melawan Dirgham. Saladin, pada usia 26, pergi bersama mereka. Setelah Shawar berhasil kembali sebagai wazir, ia menuntut agar Shirkuh mundur pasukannya dari Mesir untuk jumlah 30.000 dinar, tetapi dia menolak bersikeras itu Nur ad-Din akan bahwa dia tetap. Saladin peran dalam ekspedisi ini adalah kecil, dan diketahui bahwa ia diperintah oleh Shirkuh untuk mengumpulkan toko dari Bilbais sebelum pengepungan dengan kekuatan gabungan dari Tentara Salib dan pasukan Shawar itu.

Setelah pemecatan Bilbais, kekuatan Tentara Salib-Mesir dan tentara Shirkuh’s adalah untuk terlibat dalam pertempuran di perbatasan padang pasir di Sungai Nil, Giza di barat. Saladin memainkan peran utama, memimpin sayap kanan tentara Zengid, sementara kekuatan Kurdi diperintahkan kiri, dan Shirkuh ditempatkan di tengah. sumber-sumber muslim pada waktu itu, bagaimanapun, menempatkan Saladin di bagasi “pusat” dengan perintah untuk memancing musuh ke dalam perangkap oleh pementasan mundur palsu. Gaya Tentara Salib menikmati kesuksesan awal terhadap pasukan Shirkuh, tapi daerah itu terlalu curam dan berpasir untuk kuda-kuda mereka, dan komandan Hugh dari Kaisarea tertangkap saat menyerang Saladin unit. Setelah pertempuran kecil tersebar di lembah-lembah di selatan dari posisi utama, gaya Zengid pusat kembali ke ofensif; Saladin bergabung dalam dari belakang.

Pertempuran berakhir dengan kemenangan Zengid, dan Saladin dikreditkan telah membantu Shirkuh di salah satu “kemenangan yang luar biasa yang paling dalam catatan sejarah”, menurut Ibn al-Atsir, meskipun lebih dari pria Shirkuh’s tewas dan pertempuran dianggap oleh sebagian besar sumber-sumber sebagai bukan kemenangan total. Saladin dan Shirkuh bergerak menuju Alexandria di mana mereka disambut, diberi uang, senjata, dan memberikan basa. Risiko yang dihadapi oleh pasukan Salib-Mesir unggul yang mencoba mengepung kota, Shirkuh memisahkan pasukannya. Dia dan sebagian besar pasukannya menarik diri dari Alexandria, sementara Saladin yang tersisa dengan tugas menjaga kota itu.

Pertempuran di Mesir

peta mesir di masa sholahuddin-compressed
Shirkuh terlibat dalam perjuangan kekuasaan atas Mesir dengan Shawar dan Amalric I dari Kerajaan Yerusalem, di mana Shawar meminta bantuan Amalric. Pada 1169, Shawar dilaporkan dibunuh oleh Saladin, dan Shirkuh meninggal kemudian pada tahun. Nur ad-Din memilih pengganti untuk Shirkuh, tetapi Shalahuddin Al-Adid ditunjuk untuk menggantikan Shawar sebagai wazir.

Alasan di balik pemilihan Syiah al-Adid yang Saladin, seorang Sunni, bervariasi. Ibn al-Atsir klaim bahwa khalifah memilih dia setelah diberitahu oleh para penasihatnya bahwa “tidak ada satu lebih lemah atau lebih muda” dari Saladin, dan “bukan salah satu dari emir mematuhinya atau melayaninya.” Namun, menurut versi ini, setelah tawar-menawar, dia akhirnya diterima oleh mayoritas emir. penasihat Al-Adid yang juga diduga mencoba untuk membagi peringkat berbasis Zengid Suriah. Al-Wahrani menulis bahwa Shalahuddin dipilih karena reputasi keluarganya di “kemurahan hati mereka dan kekuatan militer.” Imad ad-Din menulis bahwa setelah masa berkabung singkat Shirkuh, selama yang “berbeda pendapat”, para emir Zengid diputuskan Saladin dan memaksa khalifah untuk “berinvestasi dia sebagai wazir.” Meskipun posisi yang rumit oleh para pemimpin Muslim saingan, sebagian besar para penguasa Suriah didukung Saladin karena perannya dalam ekspedisi Mesir, di mana ia memperoleh catatan kualifikasi militer tanpa cela.

Dilantik sebagai wazir pada tanggal 26 Maret, Saladin bertobat “minum anggur dan berbalik dari kesembronoan untuk menganggap gaun agama.” Setelah mendapatkan kekuasaan lebih dan kemerdekaan dari sebelumnya dalam karirnya, dia masih menghadapi masalah loyalitas utama antara al-Adid dan Nuruddin. terakhir ini dikabarkan akan secara sembunyi-sembunyi perseteruan terhadap pengangkatan Saladin dan dikutip mengatakan, “bagaimana berani dia, Saladin melakukan apa pun tanpa perintah saya?” Dia menulis beberapa surat untuk Saladin, yang menolak tanpa meninggalkan kesetiaan mereka kepada Nuruddin.

Kemudian di tahun itu, sekelompok prajurit Mesir dan emir berusaha untuk membunuh Saladin, tapi sudah dikenal memiliki niat mereka, ia memiliki kepala konspirator, Mu’tamin al-Khilafah-controller sipil dari Fatimiyah Istana-tewas. Keesokan harinya, 50.000 tentara Afrika hitam dari resimen tentara Fatimiyah menentang pemerintahan Saladin bersama dengan sejumlah emir di Mesir dan biasa menggelar sebuah pemberontakan. Pada tanggal 23 Agustus Saladin telah tegas pemberontakan dipadamkan, dan tidak pernah lagi harus menghadapi tantangan militer dari Kairo.


 
 
 
 
 
 
 
Menjelang akhir 1169, Saladin-dengan bantuan dari Nuruddin-mengalahkan pasukan Salib-Bizantium besar dekat Damietta. Sesudahnya, pada musim semi 1170, Nuruddin mengutus ayah Saladin ke Mesir sesuai dengan permintaan Shalahuddin, serta dukungan dari khalifah Abbasiyah Baghdad berbasis, al-Mustanjid, yang bertujuan untuk tekanan Saladin di deposing kalifah saingannya, al-Adid Shalahuddin sendiri. telah memperkuat kekuasaan pada Mesir dan perluasan basis dukungan di sana. Dia mulai memberikan posisi anggota keluarganya tinggi di kawasan ini dan meningkatkan pengaruh Sunni di Kairo, ia memerintahkan pembangunan sebuah perguruan tinggi untuk cabang Maliki Islam Sunni di kota, serta satu untuk denominasi Syafi’i yang ia termasuk dalam al-Fustat.

Setelah mendirikan sendiri di Mesir, Shalahuddin meluncurkan kampanye melawan para Tentara Salib, mengepung Darum pada tahun 1170 Amalric. Menarik pasukan Templar dari Gaza untuk membantu dia dalam membela Darum, tapi Saladin menghindari kekuatan mereka dan jatuh di Gaza sebagai gantinya. Ia menghancurkan kota yang dibangun di luar benteng kota dan membunuh sebagian besar penduduknya setelah mereka ditolak masuk ke kastil. Tidak jelas kapan tepatnya, tapi selama tahun yang sama, ia menyerang dan merebut benteng Tentara Salib dari Eilat, dibangun di sebuah pulau dari kepala Teluk Aqaba. Hal itu tidak menimbulkan ancaman terhadap bagian dari angkatan laut Muslim, tetapi bisa mengganggu partai-partai kecil kapal Muslim dan Saladin memutuskan untuk menghapus dari jalan-Nya.

Sultan Mesir
dirham gambar saladin
Menurut Imad ad-Din, Nur ad-Din menulis surat kepada Saladin pada bulan Juni 1171, menyuruhnya membangun kembali khalifah Abbasiyah di Mesir, yang terkoordinasi Saladin dua bulan kemudian setelah dorongan tambahan oleh Najm ad-Din al-Khabushani, para Syafi’i faqih, yang dengan keras menentang kekuasaan Syiah di negara itu. Beberapa emir Mesir sehingga tewas, tetapi al-Adid diberitahu bahwa mereka dibunuh untuk memberontak terhadap dia. Ia kemudian jatuh sakit, atau diracun menurut satu account. Sementara sakit, ia meminta Saladin untuk menjenguknya untuk meminta bahwa dia mengasuh anak-anak yang masih muda, tapi Saladin menolak, takut pengkhianatan terhadap Bani Abbasiyah, dan dikatakan telah menyesali perbuatannya setelah menyadari apa yang al-Adid yang ingin. Ia meninggal pada tanggal 13 dan lima hari kemudian, khutbah Abbasiyah diucapkan di Kairo dan al-Fustat, menyatakan al-Mustadhi sebagai khalifah.

Pada tanggal 25 September, Saladin meninggalkan Kairo untuk mengambil bagian dalam serangan bersama di Kerak dan Montreal, padang pasir istana Kerajaan Yerusalem, dengan Nuruddin yang akan menyerang dari Suriah. Sebelum tiba di Montreal, Saladin menarik, menyadari bahwa jika ia bertemu dengan Nur ad-Din di Shaubak, ia akan menolak kembali ke Mesir karena keengganan Nur ad-Din untuk mengkonsolidasikan kontrol teritorial seperti besar untuk Saladin. Juga, ada kemungkinan bahwa kerajaan-Tentara Salib yang bertindak sebagai negara penyangga antara Suriah dan Mesir-bisa ambruk memiliki dua pemimpin menyerang dari timur dan pantai. Hal ini akan memberikan Nuruddin kesempatan untuk lampiran Mesir. Saladin mengklaim bahwa ia mengundurkan diri di tengah plot Fatimiyah terhadap dia, tapi Nuruddin tidak menerima “alasan itu.”
Selama musim panas 1172, seorang tentara Nubia bersama dengan kontingen pengungsi Armenia dilaporkan di perbatasan Mesir, mempersiapkan pengepungan terhadap Aswan. Emir kota telah meminta bantuan Saladin dan diberi bantuan di bawah saudara Turan-Shah-Saladin. Akibatnya, nubia pergi, namun kembali pada 1173 dan lagi melaju pergi. Kali ini pasukan Mesir lanjutan dari Aswan dan merebut kota Nubia dari Ibrim. Tujuh belas bulan setelah kematian al-Adid’s, Nuruddin tidak diambil tindakan apapun tentang Mesir, tapi diharapkan beberapa hasil dari 200.000 dinar ia telah dialokasikan untuk pasukan Shirkuh’s yang disita negara. Saladin membayar hutang ini dengan 60.000 dinar, “barang-barang manufaktur yang indah”, beberapa perhiasan, seekor keledai dari jenis terbaik, dan gajah. Sedangkan transportasi barang-barang ke Damaskus, Saladin mengambil kesempatan untuk menyerang pedesaan Tentara Salib. Dia tidak menekan serangan terhadap benteng-benteng padang pasir, tetapi berusaha untuk mengusir orang Badui Muslim yang tinggal di wilayah Tentara Salib dengan tujuan mencabut kaum Frank dari panduan.

Pada tanggal 31 Juli 1173, ayah Shalahuddin Ayyub terluka dalam kecelakaan menunggang kuda, akhirnya menyebabkan kematiannya pada tanggal 9 Agustus. Pada 1174, Saladin dikirim Turan-Shah untuk menaklukkan Yaman untuk mengalokasikan dan perusahaan pelabuhan Aden ke wilayah dari Dinasti Ayyubiyah. Yaman juga menjabat sebagai wilayah darurat, yang Saladin bisa melarikan diri dalam peristiwa invasi oleh Nuruddin.

Penangkapan di Damaskus

Pada awal musim panas 1174, Nuruddin adalah kemauan tentara, mengirim surat panggilan ke Mosul, Diyarbakir, dan al-Jazira dalam persiapan nyata dari serangan terhadap Saladin Mesir. Dinasti Ayyubiyah diadakan dewan atas wahyu persiapan untuk membahas kemungkinan ancaman dan Saladin mengumpulkan pasukannya sendiri di luar Kairo. Pada tanggal 15 Mei Nuruddin meninggal setelah diracuni minggu sebelumnya dan kekuasaan diserahkan kepada anaknya sebelas tahun sebagai-Salih Ismail al-Malik. Kematiannya meninggalkan Saladin dengan kemandirian politik dan dalam sebuah surat kepada as-Salih, ia berjanji untuk “bertindak sebagai pedang” melawan musuh-musuhnya dan merujuk kepada kematian ayahnya sebagai shock gempa “.”

Dalam bangun dari kematian Nur ad-Din, Saladin menghadapi keputusan yang sulit, ia bisa bergerak pasukannya melawan Tentara Salib dari Mesir atau menunggu sampai diundang oleh as-Saleh di Syria datang untuk membantu dan melancarkan perang dari sana. Dia juga bisa membawanya pada dirinya untuk lampiran Suriah sebelum itu mungkin bisa jatuh ke tangan saingannya, tapi takut menyerang tanah yang sebelumnya milik tuannya-yang dilarang dalam prinsip-prinsip Islam ia mengikuti-bisa menggambarkan dia sebagai munafik dan dengan demikian, tidak cocok untuk memimpin perang “suci” melawan Tentara Salib. Shalahuddin melihat bahwa untuk mendapatkan Suriah, dia juga membutuhkan sebuah undangan dari as-Saleh atau memperingatkan bahwa potensi anarki dan bahaya dari Tentara Salib bisa meningkat.

Ketika as-Saleh dipindahkan ke Aleppo pada bulan Agustus, Gumushtigin, yang emir kota dan kapten veteran Nur ad-Din diasumsikan perwalian di atasnya. emir yang siap untuk menggeser semua saingannya di Suriah dan al-Jazira, dimulai dengan Damaskus. Dalam keadaan darurat ini, Emir Damaskus menarik Saif al-Din (sepupu Gumushtigin) Mosul untuk bantuan melawan Aleppo, tapi dia menolak, memaksa Suriah untuk meminta bantuan Saladin yang sesuai. Saladin berkuda di padang pasir dengan 700 penunggang kuda mengangkat, melewati al-Kerak kemudian mencapai Bosra dan menurut dia, telah bergabung dengan “emir, tentara, Turki, Kurdi, dan Badui emosi dari hati mereka untuk dilihat pada wajah mereka. “Pada tanggal 23 November, ia tiba di Damaskus tengah acclamations umum dan beristirahat di rumah tua ayahnya di sana, sampai gerbang Benteng Damaskus dibuka kepadanya empat hari kemudian. Dia menempatkan dirinya di dalam benteng dan menerima hormat dan salam dari warga.

Penaklukan Lebih Lanjut

Membiarkan saudaranya Tughtigin sebagai Gubernur Damaskus, Shalahuddin melanjutkan untuk mengurangi kota-kota lain yang milik Nuruddin, namun sekarang praktis independen. Dia mendapat Hamah dengan relatif mudah, tapi dihindari Hims karena kekuatan benteng tersebut. Lalu ia bergerak ke utara menuju Aleppo, mengepung itu pada tanggal 30 Desember setelah Gumushtigin menolak untuk turun tahta takhtanya. As-Saleh, takut Saladin, keluar dari istana dan meminta penduduk untuk tidak menyerah kepadanya dan kota dengan gaya menyerang. Salah satu penulis sejarah Saladin menyatakan “orang-orang datang di bawah sihirnya”.

Gumushtigin diminta dari Rasyid ad-Din Sinan, grand-master dari pembunuh yang sudah bertentangan dengan Saladin sejak ia menggantikan Fatimiyah Mesir, untuk membunuh Saladin di kampungnya Sekelompok tiga belas Pembunuh mudah diperoleh masuk ke dalam. tetapi segera terdeteksi sebelum mereka melakukan serangan mereka. Satu dibunuh oleh seorang jenderal Saladin dan yang lainnya dibunuh ketika mencoba melarikan diri. Untuk membuat situasi lebih sulit baginya, Raymond dari Tripoli pasukannya dikumpulkan oleh Nahr al-Kabir di mana dia ditempatkan baik untuk menyerang wilayah Muslim. Dia kemudian pindah ke Hims, namun mundur setelah diberitahu kekuatan bantuan sedang dikirim ke kota oleh Saif al-Din.

Sementara itu, saingan Saladin di Suriah dan Jazira mengobarkan perang propaganda, mengklaim bahwa ia mempunyai “lupa kondisinya sendiri hamba [Nur ad-Din]” dan menunjukkan rasa terima kasih tidak untuk tuannya yang lama dengan mengepung putranya, naik “memberontak terhadap Tuhannya . ” Saladin bertujuan untuk melawan propaganda berangkat ini dengan pengepungan untuk mengklaim ia membela Islam sejak Tentara Salib; pasukannya kembali ke Hama untuk melibatkan kekuatan Tentara Salib di sana. Tentara Salib menarik terlebih dahulu dan Saladin menyatakan itu “kemenangan membuka pintu hati manusia”. Segera setelah itu, Shalahuddin memasuki Homs dan merebut benteng nya Maret 1175, setelah perlawanan keras kepala dari pembelanya.

Saladin khawatir keberhasilan Saif al-Din. Sebagai kepala bani Zengid, termasuk Gumushtigin, ia dianggap Suriah dan Mesopotamia seperti kebun keluarga dan marah ketika Saladin berusaha untuk merebut milik mereka. Saif al-Din mengerahkan pasukan dalam jumlah besar dan dikirim ke Aleppo yang cemas pembela telah menanti mereka. Pasukan gabungan dari Mosul dan Aleppo berbaris melawan Saladin di Hama. Sangat kalah jumlah, dia awalnya mencoba untuk berdamai dengan Zengids dengan meninggalkan semua penaklukan utara provinsi Damaskus, tapi mereka menolak, bersikeras ia kembali ke Mesir. Melihat konfrontasi tak terhindarkan, Saladin siap untuk berperang, mengambil posisi unggul di perbukitan dengan ngarai Sungai Orontes. Pada April 13, 1175, pasukan Zengid berbaris untuk menyerang pasukannya, tapi segera menemukan diri mereka dikelilingi oleh para veteran Saladin Ayyubiyah yang dimusnahkan mereka. Pertempuran berakhir dengan kemenangan menentukan bagi Saladin yang mengejar buronan Zengid ke gerbang Aleppo, memaksa penasihat as-Saleh untuk mengakui kekuasaannya provinsi Damaskus, Hims, dan Hama, serta beberapa kota di luar Aleppo seperti sebagai al-Nu’man Ma’arat.

Setelah kemenangan melawan Zengids, Saladin menyatakan dirinya menjadi raja dan menekan nama as-Saleh dalam salat Jumat dan mata uang Islam. Sejak saat itu, ia memerintahkan untuk berdoa untuk dalam semua masjid Suriah dan Mesir sebagai raja berdaulat dan ia mengeluarkan koin emas di Kairo mint bantalan namanya al-Malik an-Nashir Yusuf Ayyub, ala ghaya “itu Raja yang kuat untuk Aid, Yusuf bin Ayub; Maha Tinggi standar. ” Khalifah Abbasiyah di Baghdad dengan anggun menyambut asumsi Saladin kekuasaan dan menyatakan dia “Sultan Mesir dan Suriah”.

Pertempuran Hama tidak mengakhiri kontes untuk kekuasaan antara Ayyubiyah dan Zengids, konfrontasi final terjadi pada musim semi 1176. Saladin telah dibesarkan pasukannya dari Mesir dan Saif al-Din pengadaan pasukan di antara negara-negara kecil dari Diyarbakir dan al-Jazira. Ketika Shalahuddin menyeberangi Orontes, meninggalkan Hama, matahari sudah hilang cahayanya dan meskipun melihat ini sebagai pertanda , ia melanjutkan perjalanan ke utara. Dia mencapai Mound Sultan, 15 mil (24 km) dari Aleppo, di mana pasukannya bertemu tentara Saif al-Din. Sebuah melawan tangan-ke-tangan pun terjadi dan berhasil menggulingkan Zengids sayap kiri Saladin, mengemudi sebelum dia, ketika dia sendiri dibebankan pada kepala penjaga Zengid. Pasukan Zengid panik dan sebagian besar perwira Saif al-Din tewas atau tertangkap-ia sendiri lolos. Kamp tentara Zengid’s, kuda, bagasi, tenda, dan toko diambil oleh Ayyubiyah. Para tahanan Zengid, bagaimanapun, diberi hadiah dan dibebaskan oleh Saladin dan seluruh rampasan kemenangannya diserahkan kepada tentara, tidak menyimpan sesuatu untuk dirinya sendiri.

Dia terus menuju Aleppo yang masih menutup pintu gerbangnya kepadanya, menghentikan sebelum kota. Dalam perjalanan, pasukannya mengambil Buza’a, kemudian ditangkap Manbij. Dari sana mereka menuju ke barat untuk mengepung benteng A’zaz pada tanggal 15 Mei. Beberapa hari kemudian, ketika Saladin sedang beristirahat di salah satu tenda kaptennya, pembunuh bergegas maju ke arahnya dan memukul kepalanya dengan pisau. Tutup pelindung kepalanya tidak menembus dan dia berhasil pegangan tangan pembunuh-belati hanya pemotongan gambeson-dan penyerang itu segera dibunuh. Saladin sudah merasa ngeri pada upaya pada hidupnya yang dia menuduh Gumushtugin dan pembunuh merencanakan, dan meningkatkan upaya dalam pengepungan.

A’zaz menyerah pada tanggal 21 Juni, dan Saladin kemudian bergegas ke Aleppo pasukannya untuk menghukum Gumushtigin. serangan-Nya lagi-lagi menolak, tapi ia berhasil tidak hanya aman gencatan senjata, tetapi sebuah aliansi yang saling menguntungkan dengan Aleppo, di mana Gumushtigin dan as-Saleh diizinkan untuk terus menahan mereka di kota dan di kembali, mereka diakui Saladin sebagai berdaulat atas semua ia menguasai kerajaan. Para emir Mardin dan Keyfa, sekutu Muslim Aleppo, juga diakui Saladin sebagai Raja Suriah. Ketika perjanjian itu disimpulkan, adik dari as-Saleh datang ke Saladin dan meminta pengembalian Benteng A’zaz, ia memenuhi dan dikawal kembali ke gerbang Aleppo dengan berbagai hadiah.

Kampanye Melawan Pembunuh
gambar sejarah shalahuddin
Saladin telah oleh truces sekarang setuju dengan saingan Zengid dan Kerajaan Yerusalem (musim panas 1175), tapi menghadapi ancaman dari Assassins dipimpin oleh Rashid ad-Din Sinan. Berbasis di Pegunungan al-Nusayri, mereka memiliki sembilan benteng-benteng di atas ketinggian tinggi. Begitu diberhentikan sebagian besar pasukannya ke Mesir, Shalahuddin memimpin pasukannya ke berbagai al-Nusayri di Agustus 1176, namun mundur bulan yang sama, setelah peletakan limbah ke daerah pedesaan, namun gagal menaklukkan salah satu benteng. Kebanyakan sejarawan Muslim mengklaim bahwa paman Saladin dimediasi perjanjian damai antara dirinya dan Sinan. Namun, klaim tukang menyusun tulisan berisi pujian-pujian yang terakhir Saladin karena ketakutan untuk hidup sendiri di tangan kaum pembunuh pergi. Dia menabur kapur dan abu di sekitar tenda di luar Masyaf-yang mengepung terhadap-untuk mendeteksi setiap langkah kaki oleh pembunuh dan anak buahnya.

Menurut versinya, suatu malam, penjaga Saladin melihat percikan glowing bawah bukit Masyaf dan kemudian menghilang di antara tenda Ayyubiyah. Saat ini, Saladin bangun dari tidurnya untuk menemukan sosok yang meninggalkan tenda. Dia kemudian melihat bahwa lampu mengungsi dan meletakkan di samping tempat tidurnya scone panas bentuk khas bagi pembunuh dengan catatan di bagian atas ditempelkan dengan belati beracun. Catatan tersebut mengancam bahwa ia akan dibunuh kalau ia tidak menarik diri dari serangan itu. Saladin berteriak, berseru bahwa Sinan sendiri adalah sosok yang meninggalkan tenda. Dengan demikian, Saladin mengatakan penjaga untuk menyelesaikan kesepakatan dengan Sinan. Menyadari ia tidak mampu menaklukkan kaum pembunuh, ia berusaha untuk menyelaraskan diri dengan mereka, sehingga para Tentara Salib merampas senjata rahasia.

Kembali ke Kairo dan Forays di Palestina
gamar sholahuddin saat berperang
Setelah meninggalkan Pegunungan al-Nusayri, Saladin kembali ke Damaskus dan telah pulang kembali tentara Suriah. Ia meninggalkan Turan Syah dalam komando Suriah, dan meninggalkan Mesir dengan hanya pengikut pribadinya, mencapai Kairo pada tanggal 22 September. Setelah absen sekitar dua tahun, ia telah banyak untuk mengatur dan mengawasi di Mesir, yaitu memperkuat dan merekonstruksi Kairo. Tembok kota diperbaiki dan ditata ekstensi mereka, sedangkan pembangunan Benteng Kairo dimulai (85 m) dalam Bir Yusuf (“Joseph’s Well”) dibangun atas perintah Saladin.. Pekerjaan umum kepala ia menugaskan di luar Kairo adalah jembatan besar di Giza, yang dimaksudkan untuk membentuk suatu pekerjaan rumah pertahanan melawan invasi Moor potensial.

Saladin tetap di Kairo mengawasi perbaikan, bangunan sekolah seperti Madrasah dari Pembuat Pedang dan penataan administrasi internal negara. Pada November 1177, ia berangkat atas serangan ke Palestina, Tentara Salib baru forayed ke dalam wilayah Damaskus dan Shalahuddin melihat gencatan senjata itu tidak lagi layak melestarikan. Orang-orang Kristen mengirim sebagian besar tentara mereka untuk mengepung benteng Aleppo Harim utara dan selatan Palestina memamerkan beberapa pembela Shalahuddin. Menemukan situasi matang, dan berjalan ke Ascalon, yang ia sebut sebagai “Mempelai Suriah. ” William dari Tirus dicatat bahwa tentara Ayyubiyah terdiri dari 26.000 prajurit, dimana 8.000 orang pasukan elit dan 18.000 tentara budak hitam dari Sudan. tentara ini berlangsung untuk menyerang daerah pedesaan, karung Ramla dan Lod, dan tersebar diri sejauh Gerbang Yerusalem.

Pertempuran dan Gencatan Senjata dengan Baldwin
gurun pasir tempat peninggalan shalahuddin
Dinasti Ayyubiyah tidak memungkinkan Raja Baldwin untuk memasukkan Ascalon dengan Templar nya berbasis Gaza tanpa mengambil tindakan pencegahan terhadap serangan tiba-tiba. Meskipun kekuatan Tentara Salib hanya terdiri dari 375 ksatria, Saladin ragu-ragu untuk menyergap mereka karena adanya jenderal yang sangat terampil. Pada tanggal 25 November, sedangkan sebagian besar tentara Ayyubiyah tidak hadir, Saladin dan anak buahnya terkejut Beritahu Jezer, dekat Ramla. Sebelum mereka bisa membentuk sampai, gaya Templar hacked tentara Ayyubiyah bawah. Awalnya, Saladin berusaha untuk mengatur anak buahnya ke battle order, tetapi sebagai pengawalnya terbunuh, ia melihat kekalahan yang tak terhindarkan dan begitu dengan sisa-sisa kecil pasukannya melancarkan unta cepat, naik sampai ke wilayah Mesir.

Tidak kecewa dengan kekalahannya di Katakan Jezer, Saladin telah siap untuk melawan Tentara Salib sekali lagi. Pada musim semi 1178, ia berkemah di bawah dinding Homs dan beberapa pertempuran terjadi antara jendral dan tentara Salib. kekuatan-Nya di Hama meraih kemenangan atas musuh mereka dan membawa barang rampasan, bersama dengan banyak tahanan perang untuk Saladin yang memerintahkan tawanan akan dipenggal untuk “menjarah dan meletakkan limbah tanah dari Setia.” Dia menghabiskan sisa tahun di Suriah tanpa konfrontasi dengan musuh-musuhnya.

Saladin intelijen melaporkan kepadanya bahwa para Tentara Salib sedang merencanakan serangan ke Suriah. Dengan demikian, ia memerintahkan salah satu jenderalnya, Farrukh-Shah, untuk menjaga perbatasan Damaskus dengan seribu anak buahnya untuk menonton untuk menyerang, kemudian pensiun menghindari pertempuran dan lampu suar peringatan pada bukit-bukit yang Saladin akan berbaris keluar. Pada April 1179, Tentara Salib dipimpin oleh Raja Baldwin yang diharapkan tidak ada resistensi dan menunggu untuk meluncurkan serangan mendadak pada penggembala penggembalaan Muslim kawanan ternak mereka dan timur Dataran Tinggi Golan. Baldwin maju terlalu terburu-buru dalam mengejar gaya Farrukh-Shah yang terkonsentrasi tenggara Quneitra dan kemudian dikalahkan oleh Dinasti Ayyubiyah. Dengan kemenangan ini, Saladin memutuskan untuk memanggil lebih banyak pasukan dari Mesir, ia diminta 1.500 pasukan berkuda yang akan dikirim oleh al-Adil.

Pada musim panas 1179, Raja Baldwin telah mendirikan pos terdepan di jalan menuju Damaskus dan bertujuan untuk memperkuat suatu bagian atas Sungai Yordan, yang dikenal sebagai Yakub Ford, yang memerintahkan pendekatan ke dataran Banias (dataran itu dibagi oleh kaum Muslim dan orang-orang Kristen). Saladin telah menawarkan keping emas 100.000 untuk Baldwin untuk meninggalkan proyek yang secara khusus menyinggung umat Islam, tetapi tidak berhasil. Ia kemudian memutuskan untuk menghancurkan benteng, pindah markasnya ke Banias. Sebagai Tentara Salib bergegas turun untuk menyerang pasukan muslim, mereka jatuh ke dalam kekacauan, dengan infanteri tertinggal di belakang. Meskipun keberhasilan awal, mereka mengejar Muslim cukup jauh untuk menjadi tersebar dan Saladin mengambil keuntungan dengan mengerahkan pasukannya dan dibebankan pada Tentara Salib. keterlibatan itu berakhir dengan kemenangan Ayyubiyah menentukan dan ksatria tinggi banyak yang ditangkap. Saladin kemudian pindah ke mengepung benteng yang jatuh pada 30 Agustus 1179.

Pada musim semi 1180, ketika Saladin berada di daerah Safad, khawatir untuk memulai kampanye yang kuat terhadap Kerajaan Yerusalem, Raja Baldwin mengirim utusan kepadanya dengan proposal perdamaian. Karena kekeringan dan hasil panen yang buruk menghambat komisaris nya, Saladin setuju untuk gencatan senjata. Raymond dari Tripoli mengecam gencatan senjata, tetapi dipaksa untuk menerima setelah serangan Ayyubiyah di wilayahnya bulan Mei dan atas munculnya Saladin armada laut dari pelabuhan Tartus.

Isu Domestik
gambar shalahuddin al-ayyubiGambar arca pada sebuah konsep waterclock oleh al-Jazarî dalam naskah Arab dari abad ke-15.
Pada Juni 1180, Saladin mengadakan resepsi untuk Nur al-Din Muhammad, Emir Artuqid dari Keyfa, di Geuk Su, di mana ia mempersembahkan dia dan saudaranya Abu Bakar hadiah, senilai lebih dari 100.000 dinar menurut Imad al-Din. Ini dimaksudkan untuk memperkuat persekutuan dengan Artuqids dan terkesan emir lainnya di Mesopotamia dan Anatolia. Sebelumnya, Saladin menawarkan untuk memediasi hubungan antara Nuruddin dan Kilij Arslan II-Sultan Seljuk dari Rum-setelah dua masuk ke konflik. Yang terakhir ini menuntut kembali Nuruddin tanah yang diberikan kepadanya sebagai mahar untuk menikahi putrinya ketika ia menerima laporan bahwa dia disiksa oleh dirinya dan digunakan untuk mendapatkan untuk Seljuk wilayah. Nur al-Din meminta bantuan dari Saladin, tapi Arslan menolak.

Setelah Nuruddin dan Saladin bertemu di Geuk Su, emir Seljuk atas, Ikhtiyar al-Din al-Hasan, dikonfirmasi penyerahan Arslan, setelah kesepakatan yang telah dibuat. Saladin marah untuk menerima pesan dari Arslan segera setelah, mengeluh pelanggaran lebih terhadap putrinya. Dia mengancam akan menyerang kota Malatya, mengatakan, “itu adalah dua hari perjalanan bagi saya dan saya tidak akan turun kuda saya sampai saya di kota” Gusar pada ancaman itu., Orang Seljuk mendorong untuk negosiasi. Saladin merasa Arslan benar untuk merawat anaknya, tapi Nuruddin berlindung dengan dia, dan karena itu ia tidak bisa mengkhianatinya. Akhirnya sepakat bahwa wanita itu akan diusir selama satu tahun dan bahwa jika Nur al-Din tidak memenuhi, Saladin akan meninggalkan dukungan untuknya.

Meninggalkan Farrukh-Shah yang bertanggung jawab atas Suriah, Saladin kembali ke Kairo pada awal 1181; Menurut Abu-Syamah, dia berniat untuk menghabiskan puasa Ramadan di Mesir dan kemudian membuat ibadah haji ke Mekah. Untuk alasan yang tidak diketahui ia rupanya berubah pikiran tentang ibadah haji dan terlihat memeriksa Sungai Nil bank pada bulan Juni. Dia kembali terlibat dengan Badui, dia mengeluarkan dua-pertiga dari wilayah mereka untuk digunakan sebagai kompensasi bagi pemegang perdikan-di Fayyum yang dimaksudkan untuk mengambil alih. The Badui juga dituduh perdagangan dengan Tentara Salib dan gandum mereka disita dan mereka terpaksa pindah ke barat. Kemudian, kapal perang dilancarkan terhadap perompak sungai Badui yang menjarah tepi Danau Tanis.

Pada musim panas 1181, mantan istana Saladin administrator Qara-Qush memimpin pasukan untuk menangkap Majd al-Din-seorang wakil mantan Turan-Shah di kota Zabid di Yaman-saat dia menghibur Imad ad-Din di perkebunan di Kairo. Saladin kawan karib menuduhnya menyalahgunakan pendapatan dari Zabid, tapi Saladin sendiri menjawab bahwa tidak ada bukti terhadap dia. Dia menyadari kesalahannya dan telah Majd al-Din dirilis dengan imbalan pembayaran sejumlah 80.000 dinar kepadanya dan jumlah lain untuk saudara Saladin al-Adil dan Taj al-Muluk Bari. Penahanan kontroversial Majd al-Din adalah bagian dari ketidakpuasan yang lebih besar terkait dengan setelah keberangkatan Turan-Shah dari Yaman, meskipun wakilnya terus mengirimkan pendapatan dari provinsi ini, otoritas terpusat yang kurang dan internal pertengkaran timbul antara Izz al-Din Aden Usman dan Hittan dari Zabid. Saladin menulis dalam surat al-Adil: “ini Yaman adalah rumah harta … Kami menaklukkan itu, tetapi sampai hari ini kita tidak memiliki kembali dan tidak ada keuntungan dari itu. Ada hanya biaya yang tak terhitung banyaknya, yang mengirimkan pasukan … dan harapan yang tidak menghasilkan apa yang diharapkan pada akhirnya. “

Penaklukan dari Mesopotamia Pedalaman

Saif al-Din meninggal awal Juni 1181 dan saudaranya Izz al-Din mewarisi kepemimpinan Mosul Pada 4 Desember., Mahkota-pangeran dari Zengids, as-Saleh, meninggal di Aleppo. Sebelum kematiannya, ia perwira kepala sumpah setia pada Izz al-Din, karena dialah satu-satunya penguasa Zengid cukup kuat untuk melawan Saladin. Izz al-Din disambut di Aleppo, tetapi memiliki dan Mosul menaruh terlalu besar beban pada kemampuannya. Dia demikian, Aleppo menyerahkan kepada saudaranya Imad al-Din Zangi, sebagai ganti Sinjar. Shalahuddin tidak memberikan oposisi terhadap transaksi tersebut untuk menghormati perjanjian dia sebelumnya dibuat dengan Zengids.

Pada 11 Mei, 1182 Saladin bersama dengan setengah dari tentara Ayyubiyah Mesir dan banyak non-kombatan meninggalkan Kairo untuk Suriah. Pada malam sebelum ia pergi, ia duduk bersama teman-temannya dan guru dari salah seorang putranya mengutip sebaris puisi: “menikmati aroma tanaman mata sapi Najd, karena setelah malam ini akan datang lagi.” Saladin mengambil ini sebagai pertanda buruk dan dia tidak pernah melihat Mesir lagi. Mengetahui bahwa pasukan Salib itu berkumpul pada perbatasan untuk mencegat, dia mengambil jalan padang pasir di Semenanjung Sinai untuk Ailah di kepala Teluk Aqaba. Rapat oposisi tidak, Saladin melanda desa Montreal, pasukan Baldwin sementara yang ditonton, menolak untuk campur tangan. Ia tiba di Damaskus pada bulan Juni untuk belajar bahwa Farrukh-Shah telah menyerang Galilea, pemecatan Daburiyya dan menangkap Habis Jaldek, sebuah benteng sangat penting untuk para Tentara Salib. Pada bulan Juli, Saladin dikirim Farrukh-Shah untuk menyerang Kawkab al-Hawa. Kemudian, pada bulan Agustus, Ayyubiyah meluncurkan serangan darat dan angkatan laut untuk menangkap Beirut; Shalahuddin memimpin tentaranya di Lembah Bekaa. serangan itu condong ke arah kegagalan dan Saladin ditinggalkan operasi untuk fokus pada isu-isu di Mesopotamia.

Kukbary, para emir Harran, diundang Saladin menduduki wilayah Jazira, membuat Mesopotamia utara. Dia memenuhi dan gencatan senjata antara dirinya dan Zengids resmi berakhir pada September 1182. Sebelum berbaris untuk Jazira, ketegangan telah tumbuh antara penguasa Zengid daerah, terutama tentang keengganan mereka untuk membayar menghormati ke Mosul. Sebelum ia menyeberangi Sungai Efrat, Saladin Aleppo dikepung selama tiga hari, menandakan bahwa gencatan senjata sudah berakhir.

Setelah ia mencapai Bira, dekat sungai, ia bergabung dengan Kukbary dan Nur al-Din dari Hisn Kayfa dan pasukan gabungan menangkap kota Jazira, satu demi satu. Pertama, Edessa jatuh, diikuti oleh Saruj, maka ar-Raqqah, Karkesiya dan Nusaybin. Ar-Raqqah adalah titik persimpangan penting dan diselenggarakan oleh Quthb Al-Din Inal, yang telah kehilangan Manbij untuk Saladin di 1176. Setelah melihat ukuran besar tentara Saladin, ia sedikit usaha untuk melawan dan menyerah pada kondisi bahwa ia akan mempertahankan miliknya. Shalahuddin segera terkesan penduduk kota ini dengan menerbitkan sebuah dekrit yang memerintahkan sejumlah pajak yang harus dibatalkan dan menghapus semua menyebutkan mereka dari catatan treasury, yang menyatakan “para penguasa paling sengsara adalah mereka yang dompet yang gemuk dan orang kurus mereka.” Dari ar-Raqqah, ia pindah ke menaklukkan al-Fudain, al-Husain, Maksim, Durain, ‘Araban, dan Khabur-semua yang bersumpah setia kepada dia.

Saladin melanjutkan untuk mengambil Nusaybin mana tidak ada resistensi ditawarkan. Sebuah kota menengah, Nusaybin tidak penting sekali, tapi itu terletak di posisi strategis antara Mardin dan Mosul dan mudah dicapai dari Diyarbakir. Di tengah kemenangan itu, Shalahuddin menerima kabar bahwa Tentara Salib merampok desa-desa Damaskus. Dia menjawab, “Biarkan mereka … sementara mereka merobohkan desa-desa, kita mengambil kota; ketika kita kembali, kita akan memiliki semua kekuatan lagi untuk melawan mereka” Sementara itu., Di Aleppo, sang emir kota Zangi Saladin menyerbu kota-kota di utara dan timur, seperti Balis, Manbij, Saruj, Buza’a, al-Karzain. Ia juga menghancurkan benteng sendiri di A’zaz untuk mencegah dari yang digunakan oleh Ayyubiyah jika mereka ingin menaklukkan itu.

Kepemilikan Aleppo

Saladin mengalihkan perhatian dari Mosul ke Aleppo, mengirimkan saudaranya Taj al-Mulk Buri untuk menangkap Beritahu Khalid, 80 mil (129 km) timur laut kota. Sebuah pengepungan ditetapkan, namun Gubernur Khalid Beritahu menyerah pada kedatangan Shalahuddin sendiri pada 17 Mei sebelum pengepungan bisa terjadi. Menurut Imad ad-Din, setelah Beritahu Khalid, Saladin mengambil jalan memutar ke utara Ain Tab, tapi ia berhasil memi ketika pasukannya berbalik ke arah itu, memungkinkan untuk segera mundur lain 60 mil (97 km) terhadap Aleppo. Pada tanggal 21 Mei, ia berkemah di luar kota, menempatkan dirinya di sebelah timur Benteng Aleppo, sementara pasukannya mengelilingi pinggiran Banaqusa ke timur laut dan Bab Janan ke barat. Dia menempatkan orang-orangnya sangat dekat dengan kota, berharap untuk keberhasilan awal.

Zangi tidak menawarkan perlawanan panjang. Dia tidak populer dengan rakyatnya dan ingin kembali ke nya Sinjar, kota ia diatur sebelumnya. Sebuah pertukaran dinegosiasikan mana Zangi akan menyerahkan Saladin di Aleppo untuk kembali untuk pemulihan kontrol nya Sinjar, Nusaybin, dan ar-Raqqa. Zangi akan memegang wilayah-wilayah sebagai pengikut Saladin pada persyaratan layanan militer. Pada tanggal 12 Juni Aleppo secara resmi ditempatkan di tangan Ayyubiyah. Orang-orang Aleppo tidak tahu tentang negosiasi dan terkejut ketika standar Saladin adalah mengangkat atas benteng. Dua emir, termasuk teman lama Saladin, Izz al-Din Jurduk, menyambut baik dan berjanji layanan mereka kepadanya. Saladin menggantikan Hanafi dengan administrasi pengadilan Syafi’i, meskipun janji ia tidak akan ikut campur dalam kepemimpinan agama kota. Meskipun ia kekurangan uang, Saladin juga mengizinkan Zangi berangkat untuk mengambil semua toko benteng bahwa ia bisa bepergian dengan dan untuk menjual sisa-yang dibeli Saladin sendiri.

Meskipun sebelumnya ragu-ragu untuk memeriksa nilai tukar, ia tidak ragu tentang keberhasilannya, menyatakan bahwa Aleppo merupakan “kunci ke tanah” dan “kota ini adalah mata Suriah dan benteng adalah murid-nya”. Untuk Saladin, penangkapan kota menandai akhir lebih dari delapan tahun menunggu sejak dia mengatakan Farrukh-Shah “kita hanya untuk melakukan pemerahan dan Aleppo akan menjadi milik kita.” Dari sudut pandang, ia sekarang dapat mengancam seluruh pantai Tentara Salib.

Setelah menghabiskan satu malam di benteng Aleppo’s, Saladin berbaris untuk Harim, dekat Antiokhia Tentara Salib-diadakan. Kota ini diselenggarakan oleh Surhak, sebuah mamluk “kecil.” Saladin menawarkan kota Busra dan properti di Damaskus dalam pertukaran untuk Harim, tapi ketika Surhak meminta lebih, garnisun sendiri di Harim memaksanya keluar. Ia kemudian ditangkap oleh wakil Taqi Shalahuddin al-Din pada tuduhan bahwa dia berencana untuk membagi Harim untuk Bohemond III dari Antiokhia. Ketika Saladin menerima penyerahan, ia melanjutkan untuk mengatur pertahanan Harim dari Tentara Salib. Dia melaporkan kepada khalifah dan bawahannya sendiri di Yaman dan Baalbek yang akan menyerang Armenia. Sebelum dia bisa bergerak, Namun, ada sejumlah rincian administratif yang harus diselesaikan. Saladin menyetujui gencatan senjata dengan Bohemond dengan imbalan tahanan Muslim ditahan oleh dia dan kemudian ia memberi A’zaz ke Alam ad-Din Suleiman dan Aleppo untuk Saif al-Din al-Yazkuj-yang pertama adalah Emir Aleppo yang bergabung Saladin dan yang kedua adalah mantan mamluk Shirkuh yang telah membantu menyelamatkannya dari usaha pembunuhan di A’zaz.

Berjuang Untuk Mosul

Seperti Saladin mendekati Mosul, ia menghadapi masalah mengambil alih sebuah kota besar dan membenarkan tindakan. The Zengids Mosul mengajukan banding ke-Nasir, khalifah Abbasiyah di Baghdad wazir yang disukai mereka. An-Nashir dikirim Badar al-Badar (tokoh agama tingkat tinggi) untuk menengahi antara kedua belah pihak. Saladin tiba di kota pada November 10, 1182. Izz al-Din tidak akan menerima persyaratan itu karena ia menganggap mereka jujur dan luas, dan Saladin segera mengepung kota yang diperkaya berat.

Setelah beberapa pertempuran kecil dan kebuntuan dalam pengepungan yang dimulai oleh sang khalifah, Saladin dimaksudkan untuk mencari cara untuk menarik diri dari pengepungan tanpa merusak reputasinya sambil tetap menjaga tekanan militer. Dia memutuskan untuk menyerang Sinjar yang sekarang dipegang oleh saudara Izz al-Din Sharaf al-Din. Itu jatuh setelah pengepungan 15 hari pada tanggal 30 Desember komandan Saladin dan tentara. Patah disiplin mereka, menjarah kota; Saladin hanya berhasil melindungi gubernur dan petugas dengan mengirimkan mereka ke Mosul. Setelah mendirikan garnisun di Sinjar, ia menunggu koalisi dirakit oleh Izz al-Din yang terdiri dari pasukannya, yang berasal dari Aleppo, Mardin, dan Armenia Shalahuddin. Dan pasukannya bertemu dengan koalisi di Harran pada Februari 1183, namun pada mendengar pendekatan-nya, yang terakhir mengirim utusan ke Saladin meminta perdamaian. Setiap gaya kembali ke kota-kota mereka dan al-Fadil menulis “Mereka, koalisi Izz Al-Din lanjutan seperti laki-laki, seperti wanita yang mereka menghilang.”

Pada tanggal 2 Maret al-Adil dari Mesir menulis surat kepada Shalahuddin bahwa Tentara Salib telah melanda hati “Islam.” Raynald de Châtillon telah mengirim kapal untuk dari Teluk Aqaba untuk menyerang kota dan desa-desa di lepas pantai Laut Merah. Bukan sebuah upaya untuk memperluas pengaruh Tentara Salib ke laut itu atau untuk menangkap rute perdagangan, tetapi hanya langkah bajak laut. Meskipun demikian, Imad al-Din menulis serangan itu mengejutkan bagi umat Islam karena mereka tidak terbiasa serangan pada laut dan Ibn al-Atsir menambahkan bahwa penduduk tidak punya pengalaman dengan Tentara Salib baik sebagai pejuang atau pedagang

Ibnu Jubair diberitahu bahwa enam belas Muslim kapal dibakar oleh Tentara Salib yang kemudian menangkap kapal haji dan kafilah di Aidab. Dia juga melaporkan bahwa mereka dimaksudkan untuk menyerang Madinah dan menghapus tubuh Muhammad. Al-Maqrizi ditambahkan ke desas-desus itu dengan mengklaim makam Muhammad akan direlokasi wilayah Salib sehingga Muslim akan berziarah di sana. Untungnya bagi Saladin, al-Adil telah pindah kapal perang dari Fustat dan Alexandria ke Laut Merah di bawah komando seorang tentara bayaran Lu’lu Armenia. Mereka memecahkan blokade Tentara Salib, menghancurkan sebagian besar kapal-kapal mereka, dan mengejar dan menangkap mereka yang berlabuh dan melarikan diri ke padang pasir Tentara Salib itu masih hidup, di nomor 170,. Diperintahkan untuk dibunuh oleh Saladin di berbagai kota Muslim.

Dari titik sendiri Saladin pandang, dalam hal wilayah, perang melawan Mosul berjalan lancar, namun ia masih gagal untuk mencapai tujuan dan tentara itu menyusut; Taqi al-Din membawa anak buahnya kembali ke Hama, sementara Nasir al-Din Muhammad dan pasukannya pergi. Hal ini mendorong Izz al-Din dan sekutu-sekutunya untuk mengambil menyinggung. Koalisi sebelumnya bergabung kembali di Harzam sekitar 90 mil (145 km) dari Harran. Di awal April, tanpa menunggu Nasir al-Din, Saladin dan Taqi al-Din memulai pergerakan mereka terhadap koalisi, berjalan ke arah timur ke Ras Al-Ein tanpa hambatan. Pada akhir April, setelah tiga hari “pertempuran aktual” sesuai untuk Shalahuddin, Ayyubiyah telah menangkap tengah. Dia menyerahkan kota Nuruddin Muhammad bersamaan dengan toko-yang terdiri dari 80.000 lilin, sebuah menara penuh dengan panah, dan 1.040.000 buku. Sebagai imbalan atas pemberian ijazah dia kota, Nur al-Din bersumpah setia kepada Saladin, menjanjikan untuk mengikutinya dalam setiap ekspedisi dalam perang melawan Tentara Salib dan kerusakan yang dilakukan untuk memperbaiki kota. Di tengah jatuhnya, selain wilayah, yakin Il-Ghazi di Mardin untuk memasuki pelayanan Saladin, melemahnya koalisi Izz al-Din.

Saladin berusaha untuk mendapatkan khalifah mendukung-Nasir terhadap Izz al-Din dengan mengirimkan surat meminta dokumen yang akan memberikan justifikasi hukum untuk mengambil alih Mosul dan wilayahnya. Saladin bertujuan untuk membujuk khalifah menyatakan bahwa ketika dia menaklukkan di Mesir dan Yaman di bawah bendera Bani Abbasiyah, yang Zengids Mosul secara terbuka mendukung orang Seljuk (saingan dari khalifah) dan hanya datang ke khalifah ketika membutuhkan. Dia juga menuduh pasukan Izz al-Din mengganggu Muslim “Perang Suci” melawan para Tentara Salib, yang menyatakan “mereka tidak puas tidak berperang, tetapi mereka mencegah orang-orang yang bisa.” Saladin membela melakukan sendiri mengklaim bahwa ia datang ke Syria untuk melawan Tentara Salib, akhir ajaran sesat kaum pembunuh, dan untuk mengakhiri-lakukan salah kaum muslimin. Dia juga berjanji bahwa jika Mosul telah diberikan kepadanya, hal itu akan menyebabkan penangkapan Yerusalem, Konstantinopel, Georgia, dan lahan dari Muwahidun di Maghreb, “sampai firman Allah adalah yang tertinggi dan khalifah Abbasiyah telah menyeka dunia bersih, mengubah gereja menjadi masjid. ” Shalahuddin menekankan bahwa semua ini akan terjadi dengan kehendak Allah dan bukannya meminta bantuan keuangan atau militer dari khalifah, ia akan menangkap dan memberikan khalifah wilayah Tikrit, Daquq, Khuzestan, Pulau Kish, dan Oman.

Perang Melawan Tentara Salib
pasukaan shalahuddin siap perang dengan tentara salib
Saladin dan pasukan dari Lusignan setelah Pertempuran Hattin
Pada tanggal 29 September, Shalahuddin menyeberangi sungai Yordan untuk menyerang Beisan yang ditemukan kosong. Hari berikutnya dipecat pasukannya dan membakar kota dan pindah ke barat. Mereka dicegat bala Tentara Salib dari Karak dan Shaubak sepanjang jalan Nablus dan mengambil sejumlah tahanan. Sementara itu, pasukan Tentara Salib utama di bawah pasukan dari Lusignan pindah dari Sepforis al-Fula. Saladin dikirim 500 Penyelinap untuk mengganggu pasukan mereka dan ia sendiri berjalan ke Ain Jalut. Ketika Tentara Salib gaya-diperhitungkan untuk menjadi kerajaan terbesar yang pernah dihasilkan dari sumber daya sendiri, tapi masih outmatched oleh Muslim-maju, Ayyubiyah tiba-tiba bergerak ke dalam arus Ain Jalut. Setelah serangan-serangan Ayyubiyah termasuk beberapa di Zir’in, Forbelet, dan Gunung Tabor-Tentara Salib masih tidak tergoda untuk menyerang kekuatan utama mereka, dan Shalahuddin memimpin anak buahnya kembali ke seberang sungai sekali ketentuan dan pasokan berlari rendah.

Namun, counter-serangan Tentara Salib membangkitkan tanggapan lebih lanjut oleh Saladin. Raynald dari Châtillon, khususnya, dilecehkan perdagangan Muslim dan rute ziarah dengan armada di Laut Merah, rute air yang Saladin harus terus terbuka. Sebagai tanggapan, Saladin membangun sebuah armada 30 kapal kerja paksa untuk menyerang Beirut pada 1182. Raynald mengancam menyerang kota suci Mekkah dan Madinah. Dalam pembalasan, Saladin dua kali dikepung Kerak, benteng Raynald di Oultrejordain, pada 1183 dan 1184. Raynald menanggapinya dengan menjarah karavan peziarah pada haji pada 1185. Menurut ketiga belas Lama kemudian abad ke Perancis Kelanjutan dari William dari Tirus, Raynald menangkap adik Saladin dalam sebuah serangan di karavan, meskipun klaim ini tidak dibuktikan dalam sumber-sumber kontemporer, muslim atau Frank, bukan menyatakan bahwa Raynald telah menyerang sebuah karavan sebelumnya, dan Saladin mengatur penjaga untuk menjamin keamanan adiknya dan putranya, yang datang untuk menyakitinya.

Menyusul kegagalan pengepungan nya Kerak, Saladin sementara mengalihkan perhatian kembali ke proyek jangka panjang dan melanjutkan serangan di wilayah iklan ˤ Izz-Din (Mas ˤ ud bin Mawdud ibn Zangi), sekitar Mosul, yang telah dimulai dengan beberapa keberhasilan dalam 1182. Namun, sejak itu, Mas Ud ˤ telah bersekutu dengan Gubernur kuat Azerbaijan dan Jibal, yang pada 1185 mulai bergerak pasukannya di Pegunungan Zagros, menyebabkan Saladin ragu-ragu dalam serangan itu. Para pembela Mosul, ketika mereka menjadi sadar bahwa bantuan sedang dalam perjalanan, meningkatkan usaha mereka, dan Saladin kemudian jatuh sakit, sehingga Maret 1186 perjanjian damai ditandatangani.

Pada Juli 1187 Saladin merebut sebagian besar Kerajaan Yerusalem. Pada tanggal 4 Juli 1187, pada Pertempuran Hattin, dia menghadapi pasukan gabungan dari Lusignan, Raja Permaisuri Yerusalem dan Raymond III dari Tripoli. Dalam pertempuran ini tentara Salib sendiri sebagian besar dihancurkan oleh tentara Saladin termotivasi. Ini adalah bencana besar bagi Tentara Salib dan sebuah titik balik dalam sejarah Perang Salib. Saladin menangkap Raynald de Châtillon dan secara langsung bertanggung jawab atas eksekusinya pembalasan atas nya menyerang kafilah Muslim. Para anggota kafilah ini sudah, sia-sia, memohon rahmat-Nya dengan mengucapkan gencatan senjata antara Muslim dan Tentara Salib, tetapi ia mengabaikan dan menghina nabi Muhammad sebelum mereka membunuh dan menyiksa beberapa dari mereka. Setelah mendengar ini, Saladin bersumpah untuk mengeksekusi Raynald pribadi.

seorang dari Lusignan juga ditangkap. Melihat pelaksanaan Raynald, dia takut dia akan berikutnya. Tapi hidupnya diampuni oleh Saladin dengan kata-kata, berbicara tentang Raynald:

Bukan ingin raja-raja, untuk membunuh raja-raja, tetapi orang yang telah melampaui batas, dan itulah sebabnya aku memperlakukan dia demikian.

Penangkapan di Jarusalem

Saladin telah menangkap hampir setiap kota Tentara Salib. Yerusalem menyerah untuk pasukannya pada tanggal 2 Oktober 1187, setelah pengepungan. Sebelum pengepungan, Saladin telah menawarkan hal murah menyerah, yang menolak. Setelah pengepungan sudah mulai, dia tidak mau menjanjikan hal seperempat penduduk kaum Frank Yerusalem sampai Balian dari Ibelin mengancam akan membunuh setiap sandera Muslim, diperkirakan pada 5000, dan untuk menghancurkan masjid – masjid Islam dari Kubah Batu dan al -Aqsa Masjid jika kuartal tidak diberikan. Saladin berkonsultasi dengan dewan dan istilah-istilah ini diterima. Uang tebusan itu harus dibayarkan untuk setiap Frank di kota itu baik laki-laki, perempuan atau anak. Saladin banyak diizinkan meninggalkan tanpa jumlah yang diperlukan untuk tebusan untuk orang lain, tetapi sebagian besar prajurit dijual ke perbudakan. Setelah penangkapan Yerusalem, Saladin memanggil orang-orang Yahudi dan mengijinkan mereka untuk menenangkan di kota itu. Secara khusus, penduduk Ashkelon, sebuah pemukiman Yahudi yang besar, menanggapi permintaannya.

Tirus, di pantai Lebanon modern, adalah kota besar terakhir Tentara Salib yang tidak ditangkap oleh pasukan Muslim (strategis, akan lebih masuk akal bagi Saladin untuk menangkap Tirus sebelum Yerusalem-Namun, Saladin mengejar memilih Yerusalem pertama karena pentingnya kota Islam). Kota ini sekarang dipimpin oleh Conrad dari Montferrat, yang memperkuat pertahanan Tirus dan bertahan dua pengepungan oleh Saladin. Pada 1188, di Tortosa, Saladin dirilis seseorang dari Lusignan dan kembali ke istrinya, Ratu Sibylla dari Yerusalem. Mereka pergi pertama ke Tripoli, lalu ke Antiokhia. Di 1189, mereka berusaha untuk merebut kembali kerajaan Tirus untuk mereka, namun ditolak masuk oleh Conrad, yang tidak mengakui dia sebagai raja. dia kemudian mulai mengepung Acre.

Perang Salib Ketiga

Hattin dan jatuhnya Yerusalem diminta Perang Salib Ketiga, dibiayai di Inggris dengan perpuluhan “khusus Saladin.” Richard I dari Inggris memimpin seorang pengepungan Acre, menaklukkan kota itu dan dieksekusi 3.000 Muslim tahanan termasuk wanita dan anak-anak. Saladin membalas dengan membunuh semua kaum Frank yang diambil dari 28 Agustus-10 September. “Meskipun kami berada di sana mereka membawa kedua Frank kepada Sultan (Saladin), yang telah dilakukan oleh penjaga tahanan muka Dia mereka dipenggal di tempat..”

Tentara Saladin terlibat dalam pertempuran dengan pasukan Raja Richard I dari Inggris pada Pertempuran Arsuf pada tanggal 7 September 1191, di mana Saladin dikalahkan. Semua upaya yang dilakukan oleh Richard si Hati Singa kembali gagal mengambil Yerusalem. Namun, hubungan Saladin dengan Richard adalah salah satu sopan saling menghormati serta persaingan militer. Ketika Richard jatuh sakit dengan demam, Saladin menawarkan layanan dari dokter pribadinya. Saladin juga mengirimnya buah segar dengan salju, untuk mendinginkan minuman, sebagai pengobatan. Pada Arsuf, ketika Richard kehilangan kudanya, Saladin mengiriminya dua pengganti. Richard mengusulkan untuk Saladin bahwa Palestina, Kristen dan Muslim, dapat bersatu melalui pernikahan adiknya Joan dari Inggris, Ratu Sisilia untuk saudara Saladin, dan bahwa Yerusalem dapat hadiah pernikahan mereka. Namun, dua orang pernah bertemu muka dengan muka dan komunikasi yang baik tertulis atau melalui kurir.

Sebagai pemimpin faksi masing, kedua orang itu sampai kepada suatu kesepakatan dalam Perjanjian Ramla pada 1192, dimana Yerusalem akan tetap berada di tangan Muslim, tapi akan terbuka untuk ziarah Kristen. Perjanjian itu mengurangi Kerajaan Latin ke strip sepanjang pantai dari Tirus ke Jaffa. perjanjian ini seharusnya tiga tahun terakhir.

Akhir Hidup Saladin

Saladin meninggal karena demam pada 4 Maret 1193, di Damaskus, tak lama setelah kepergian Richard.

Sejak Saladin telah memberikan sebagian besar uangnya untuk amal, ketika mereka membuka perbendaharaannya, mereka menemukan tidak ada cukup uang untuk membayar pemakamannya. Dan Saladin dimakamkan di sebuah makam yang megah di taman luar Masjid Umayyah di Damaskus, Suriah.

Tujuh abad kemudian, Kaisar Wilhelm II dari Jerman menyumbangkan sarkofagus marmer baru ke makam. Saladin Namun, tidak ditempatkan di dalamnya. Sebaliknya makam, yang terbuka kepada pengunjung, sekarang memiliki dua sarkofagus: satu kosong di marmer dan asli yang memegang Saladin terbuat dari kayu. Alasan mengapa Saladin tidak diletakkan di dalam kubur itu paling mungkin menghormati dan keinginan untuk tidak mengganggu tubuhnya.

Makam Saladin di Damaskus, Suriah
makam shalahuddin al-ayyubid di damascus
Perjuangan sengit melawan tentara salib-Nya adalah tempat Saladin mencapai reputasi besar di Eropa sebagai seorang ksatria ksatria, begitu banyak sehingga tidak ada oleh abad keempat belas sebuah puisi epik tentang eksploitasi-nya. Meskipun Saladin memudar dalam sejarah setelah Abad Pertengahan, ia muncul dalam cahaya yang simpatik dalam novel Sir Walter Scott, The Talisman (1825). Hal ini terutama dari novel ini bahwa pandangan kontemporer dari Saladin berasal. Menurut Jonathan Riley-Smith, penggambaran Scott Saladin adalah seorang ” Tuan-tuan Century Eropa liberal, di samping yang Barat abad pertengahan akan selalu membuat yang menunjukkan miskin.” Meskipun pembantaian Tentara Salib “ketika mereka awalnya menaklukkan Yerusalem pada tahun 1099, Saladin mendapat amnesti, dan bagian bebas untuk semua orang Katolik umum dan bahkan mengalahkan tentara Kristen, selama mereka mampu membayar tebusan tersebut (Kristen Ortodoks Yunani diperlakukan bahkan lebih baik, karena mereka sering menentang Tentara Salib Barat ). Pandangan menarik dari Saladin dan dunia di mana ia tinggal disediakan oleh novel Tariq Ali Kitab Shalahuddin. Meskipun pandangan kontemporer tentang Saladin sering positif, kualitas Saladin sering berlebihan, terutama di bawah pengaruh gambar diciptakan selama Abad 19.

Meskipun perbedaan dalam kepercayaan, Saladin Muslim yang dihormati oleh raja Kristen, Richard khususnya. Richard pernah memuji Saladin sebagai pemimpin besar itu, mengatakan bahwa ia tanpa keraguan pemimpin terbesar dan paling kuat di dunia Islam Shalahuddin.
masjid tempat makan shalahuddin
Makam Saladin, dekat sudut Masjid Umayyah’s NW
Sumber: sejarahpejuangkhilafah.wordpress.com


Lengkapnya Klik DISINI

Taujih Ust. Rahmat Abdullah (Alm) : Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwwah

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

Mungkin terjadi seseorang yang dahulunya saling mencintai akhirnya saling memusuhi dan sebaliknya yang sebelumnya saling bermusuhan akhirnya saling berkasih sayang. Sangat dalam pesan yang disampaikan Kanjeng Nabi SAW :  

"Cintailah saudaramu secara proporsional, mungkin suatu masa ia akan menjadi orang yang kau benci. Bencilah orang yang kau benci secara proporsional, mungkin suatu masa ia akan menjadi kekasih yang kau cintai."
 (HSR Tirmidzi, Baihaqi, Thabrani, Daruquthni, Ibn Adi, Bukhari).

Ini dalam kaitan interpersonal. Dalam hubungan kejamaahan, jangan ada reserve kecuali reserve syar'i yang menggariskan aqidah "La tha'ata limakhluqin fi ma'shiati'l Khaliq". Tidak boleh ada ketaatan kepada makhluq dalam berma'siat kepada Alkhaliq. (HR Bukhari, Muslim, Ahmad dan Hakim).
Doktrin ukhuwah dengan bingkai yang jelas telah menjadikan dirinya pengikat dalam senang dan susah, dalam rela dan marah. Bingkai itu adalah : "Level terendah ukhuwah (lower), jangan sampai merosot ke bawah garis rahabatus' shadr (lapang hati) dan batas tertinggi tidak (upper) tidak melampaui batas itsar (memprioritaskan saudara diatas kepentingan diri).
Bagi kesejatian ukhuwah berlaku pesan mulia yang tak asing di telinga dan hati setiap ikhwah : 

"Innahu in lam takun bihim falan yakuna bighoirihim, wa in lam yakunu bihi fasayakununa bighoirihi" (Jika ia tidak bersama mereka, ia tak akan bersama selain mereka. Dan mereka bila tidak bersamanya, akan bersama selain dia). Karenanya itu semua akan terpenuhi bila `hati saling bertaut dalam ikatan aqidah', ikatan yang paling kokoh dan mahal. Dan ukhuwah adalah saudara iman sedang perpecahan adalah saudara kekafiran (Risalah Ta'lim, rukun Ukhuwah).
Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah
Karena bersaudara di jalan ALLAH telah menjadi kepentingan dakwah-Nya, maka "kerugian apapun" yang diderita saudara-saudara dalam iman dan da'wah, yang ditimbulkan oleh kelesuan, permusuhan ataupun pengkhianatan oleh mereka yang tak tahan beramal jama'i, akan mendapatkan ganti yang lebih baik. 

"Dan jika kamu berpaling, maka ALLAH akan gantikan dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan jadi seperti kamu" (Qs. 47: 38).
Masing-masing kita punya pengalaman pribadi dalam da'wah ini. Ada yang sejak 20 tahun terakhir dalam kesibukan yang tinggi, tidak pernah terganggu oleh kunjungan yang berbenturan dengan jadwal da'wah atau oleh urusan yang merugikan da'wah. Mengapa ? Karena sejak awal yang bersangkutan telah tegar dalam mengutamakan kepentingan da'-wah dan menepiskan kepentingan lainnya. Ini jauh dari fikiran nekad yang membuat seorang melarikan diri dari tanggungjawab keluarga.
Ada seorang ikhwah sekarang sudah masuk jajaran masyaikh. Dia bercerita, ketika menikah langsung berpisah dari kedua orang tua masing-masing, untuk belajar hidup mandiri atau alasan lain, seperti mencari suasana yang kondusif bagi pemeliharaan iman menurut persepsi mereka waktu itu. Mereka mengontrak rumah petak sederhana.

"Begitu harus berangkat (berdakwah-red) mendung menggantung di wajah pengantinku tercinta", tuturnya. Dia tidak keluar melepas sang suami tetapi menangis sedih dan bingung, seakan doktrin da'wah telah mengelupas. Kala itu jarang da'i dan murabbi yang pulang malam apalagi petang hari, karena mereka biasa pulang pagi hari. Perangpun mulai berkecamuk dihati, seperti Juraij sang abid yang kebingungan karena kekhususan ibadah (sunnah) nya terusik panggilan ibu. "Ummi au shalati : Ibuku atau shalatku?" Sekarang yang membingungkan justru "Zauji au da'wati" : Isteriku atau da'wahku ?".
Dia mulai gundah, kalau berangkat istri cemberut, padahal sudah tahu nikah dengannya risikonya tidak dapat pulang malam tapi biasanya pulang pagi, menurut bahasa Indonesia kontemporer untuk jam diatas 24.00. Dia katakan pada istrinya : 

"Kita ini dipertemukan oleh Allah dan kita menemukan cinta dalam da'wah. Apa pantas sesudah da'wah mempertemukan kita lalu kita meninggalkan da'wah. Saya cinta kamu dan kamu cinta saya tapi kita pun cinta Allah". Dia pergi menerobos segala hambatan dan pulang masih menemukan sang permaisuri dengan wajah masih mendung, namun membaik setelah beberapa hari. Beberapa tahun kemudian setelah beranak tiga atau empat, saat kelesuan menerpanya, justru istri dan anak-anaknyalah yang mengingatkan, mengapa tidak berangkat dan tetap tinggal dirumah? Sekarang ini keluarga da'wah tersebut sudah menikmati berkah da'wah.
Lain lagi kisah sepasang suami istri yang juga dari masyarakat da'wah. Kisahnya mirip, penyikapannya yang berbeda. Pengantinnya tidak siap ditinggalkan untuk da'wah. Perang bathin terjadi dan malam itu ia absen dalam pertemuan kader (liqa'). Dilakukan muhasabah terhadapnya sampai menangis-menangis, ia sudah kalah oleh penyakit "syaghalatna amwaluna waahluna : kami telah dilalaikan oleh harta dan keluarga" (Qs. 48:11).
Ia berjanji pada dirinya : 

"Meskipun terjadi hujan, petir dan gempa saya harus hadir dalam tugas-tugas da'wah". Pada giliran berangkat keesokan harinya ada ketukan kecil dipintu, ternyata mertua datang. "Wah ia yang sudah memberikan putrinya kepadaku, bagaimana mungkin kutinggalkan?". 
Maka ia pun absen lagi dan dimuhasabah lagi sampai dan menangis-nangis lagi. Saat tugas da'wah besok apapun yang terjadi, mau hujan, badai, mertua datang dll pokoknya saya harus datang. Dan begitu pula ketika harus berangkat ternyata ujian dan cobaan datang kembali dan iapun tak hadir lagi dalam tugas-tugas dak-wah.
Sampai hari ini pun saya melihat jenis akh tersebut belum memiliki komitmen dan disiplin yang baik. Tidak pernah merasakan memiliki kelezatan duduk cukup lama dalam forum da'wah, baik halaqah atau pun musyawarah yang keseluruhannya penuh berkah. Sebenarnya adakah pertemuan-pertemuan yang lebih lezat selain pertemuan-pertemuan yang dihadiri oleh ikhwah berwajah jernih berhati ikhlas ? Saya tak tahu apakah mereka menemukan sesuatu yang lain, "in lam takun bihim falan takuna bighoirihim"(dhianha/abadijayanews)
Lengkapnya Klik DISINI

BAHASANYA VULGAR. APA ADANYA TAPI KITA WAJIB TAHU

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

Barusan nonton Basa Basi di Trans TV. Bintang tamunya Bu Elly Risman. Ngeri sekaligus bikin sedih. Musibah paling bahaya adalah ketika kita ga sadar kalau dalam bahaya besar. Kurang lebih ini kesimpulannya. Untuk para orang tua, silahkan dibaca.

Apa yang beliau paparkan, shocking banget buat para orangtua yang hadir.
Pemaparan awal tentang kesalahan-kesalahan komunikasi orang tua pada anak, bicara terlalu cepat,
bicara terlalu banyak, (ngomel) yang tidak perlu, tanpa sadar berbohong, mengkritik, mengenggurui, dll.

Komunikasi yang salah mengakibatkan anak jadi BLAST. Jiwanya jadi kosong, ga pede, pemarah, dendam sama orang tuanya sendiri.

Beliau ngasih contoh kasus anak kecil yang ngadu ke gurunya, "Bu, kalau aku bunuh ayahku boleh ga? Aku dosa ga?". Ternyata si anak merasa selalu disalahkan dan didikte orang tuanya.

Nah, anak-anak yang BLAST ini adalah sasaran empuk buat pengusaha pornografi karena rata-rata dari mereka pasti akan cari pelampiasan. Sekarang masuk ke bagian industri pornografi. Target market utama mereka adalah anak laki-laki. Kenapa laki-laki? Karena mereka lebih mudah fokus dan hormon testosteron mereka lebih tinggi daripada perempuan. Setiap tahun pebisnis pornografi rapat dengan para ahli dari berbagai disiplin ilmu untuk merencanakan strategi pemasaran yang baru.

Alih-alih mengembangkan produk, mereka memilih untuk 'investasi masa depan' pada anak-anak. Target mereka adalah anak laki-laki yang terpapar pornografi, kalau sudah 33 sampai 35x mast****si berarti sudah bisa dipastikan akan menjadi pelanggan masa depan karena otaknya pasti sudah ketergantungan dengan pornografi (porn addiction).

Yang perlu diketahui, porn addiction jauh lebih merusak otak daripada drugs addiction. Terapinya pun jauh lebih susah. Drug addict bisa diterapi dengan detoxifikasi tapi porn addict harus dengan terapi dan butuh tekad dari yang bersangkutan. Dan kerusakan yang ditimbulkan sekali kita terpapar akan permanen. Paparan pornografi itu berjenjang.

Jadi ibarat sampah, pertama kali mungkin kita akan muntah-muntah nyium baunya. Tapi lama kelamaan, kalau kita nyium sampah (misal tukang sampah) kita akan terbiasa bahkan bisa makan di deket sampah (bahkan ada yang tinggal di TPS tho?)

Begitupun dengan pornografi, setiap levelnya anak akan semakin kebal dan anak butuh melihat yang levelnya lebih tinggi untuk bisa terangsang. Kalau melihat sudah ga 'ngaruh' lagi, mereka akan melakukan. Dan disini bencananya.

Kami dikasih contoh beberapa kasus mengerikan yang pelakunya anak-anak sex addict. Ada audience yang curhat tentang tetangganya, anak kelas 6 SD yang 'ngerjain' adik kandungnya yg berusia 5 tahun. Sekarang si adik malah jadi ketagihan sex.

Ada lagi anak 10 tahun yang menyodomi temennya pake SENDOK! (Ada games yang ngajarin anak-anak untuk menyodomi)

Contoh-contoh mengerikan lainnya. Anak-anak porn addict bisa dikenali. Ada ciri-cirinya. Dan pertanyaan mereka luar biasa.

Kalau anak normal keponya cuman "sex itu apa?". "Bayi itu berasal dari mana?".
Anak-anak porn addict akan bertanya, "Bagaimana cara memasukkan p***s ke dalam v****a?". Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang terlalu vulgar.

Bahkan ada istilah-istilah yang audience aja ga tahu itu apa. Kalau anak sudah 33-35x mast****si, hampir bisa dipastikan akan terjadi incest. Atau dia akan melampiaskan pada temennya di sekolah. Dan itu kasusnya BANYAK. Jadi usia 7 tahun saudara laki-laki dan perempuan tidurnya udah harus dipisah. (Tahu kan kasus anak umur 11 tahun yang memperkosa 2 adik perempuan dan IBU KANDUNGnya karena selalu tidur 1 ruangan dengan mereka?)

80% kasus pelecehan terjadi di rumah sendiri/rumah keluarga dekat (rumah nenek pas ngumpul keluarga) dan sekolah. Nah, disitulah bibit awal pedofilia dan LGBT.

Semuanya saling berkaitan.
Sekarang tentang media, film. Terutama yang asalnya dari Amrika yang dicontohkan film Breaking Dawn sama Fifty Shades of Grey. Games-games cowok dan games cewek (The Sims4).

Video klip contohnya Nicky Minaj (yang ngajarin or*l sex) bahkan kata Bu Elly, kalau anak anda disuruh makan sosis malah muntah, berarti dia udah nonton video klipnya dan Miley Ciyrus (wrecking Ball).

Tontonan lainnya ada Glee (udah jelas lah ya misi LGBTnya), komik, spongebob (kami dikasih liat scene spongebob ciuman sama patrick), stiker LINE, K-Pop (diliatin foto 2 cowok K-Pop idol lagi ciuman bibir di panggung) dan situs (ada situs LGBT bahkan untuk anak-anak).

Bu Elly nangis di panggung, beliau curhat sama kami bahwa pemerintah seolah tutup kuping sama kejadian ini. Beliau sudah menawarkan reset dan mendatangi kementerian-kementerian terkait untuk sosialisasi porn awareness. Tapi ga pernah digubris.

UU pornografi pun ga ada penerapannya (kayak ga ada). Bahkan terakhir beliau diskusi dengan Ibu Jokowi tapi yang bikin kecewa justru bersamaan dengan seminar kami, Ibu negara malah kampanye kanker serviks (sudah booming karena si jupe kena).

Ga ngerti implementasinya sampe atau nggak ke masyarakat. Makanya ayo jadi penggerak di unit kerja kita masing-masing. Pemerintah itu seharusnya membentengi masuknya bencana ke Indonesia bukannya memfasilitasi.

Ekspresi harus bisa dipertanggungjawabkan.
Kalau dibiarin bebas, akhirnya orang jadi liar. Itulah kenapa harus ada aturan. Sebenernya yang pikirannya tertutup justru seniman Indonesia.

Pikirannya hanya terfokus pada gimana sih pemerintah!
Gimana sih umat Islam nih ga kompromis! Padahal harusnya mereka lebih DEWASA dalam berpikir. Ga pragmatis.

Orang Indonesia itu ga semuanya adult. Di sini juga ada anak-anak. Mereka belum ngerti mana yang harus diikuti, mana yang nggak. Di situlah peran kita melindungi mereka.

Kita semua punya tanggungjawab moral. Termasuk seniman.

Hal yang mengejutkan adalah isi sambutan founder salingsapa.com (penyelenggara). Beliau bilang, "Saya punya kenalan beberapa pemilik stasiun tv swasta. Salah satunya yang ada di kebon jeruk. Saya kaget, ternyata rata-rata dari mereka pada ga punya tv. Ketika saya tanya alasannya (sama pemilik stasiun di kobon jeruk), beliau bilang, "Saya sudah tahu bahwa produser itu mengejar rating. Sekarang, program tv itu pure A BUSINESS. Jadi mereka akan menayangkan apapun yang menarik minat masyarakat sehingga rating naik. Kalau rating naik, otomatis iklan berdatangan"

Mereka aja ga membiarkan anak mereka nonton tv. Dan kita masih membiarkan anak-anak kita nonton? Jadi intinya, kita semua punya peran untuk menanggulangi krisis moral di Indonesia. Karena dampaknya jangka panjang dan krusial. Ketika nanti kita jadi pejabat, jadi pengambil keputusan, pelajari baik-baik apa yang mau kita putuskan. Karena tanggungjawab kita besar. Sekarang, tugas kita adalah merintis perubahan positif di unit kerja masing-masing

Ajak diskusi orang-orang yang masih satu visi, orang-orang yang masih punya passion untuk memperbaiki carut-marut negara ini.

Kalimat terakhir paparannya Bu Elly Risman, "Ayo Bergerak Bersama. Lindungi Anak Indonesia dari Bahaya Pornografi".

Sorry, just sharing. Karena kita ga bisa kerja sendiri. Butuh KAMU...
IYA KAMU... 

Butuh KAMU buat ikutan. Semoga kita bisa merintis perbaikan. Semoga negeri ini jadi lebih baik nantinya.

Lengkapnya Klik DISINI

April Mop, Perayaan Dibunuhnya Umat Islam di Spanyol

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

google april mop
google april mop
Setiap tanggal 1 April, di beberapa negara biasanya merayakan April Mop. Beberapa orang meyakini hari itu semua penipuan dan bohong seolah-olah dilegalkan. Tapi tahukah Anda, dari mana asal usul April Mop ini?

Dari laman Wikipedia, April Mop atau dikenal dengan April Fools' Day yang dirayakan 1 April, sebagai hari dimana orang-orang boleh berbohong atau memberi lelucon kepada orang lain tanpa dianggap bersalah. Hari ini ditandai dengan tipu-menipu dan lelucon lainnya terhadap keluarga, musuh, teman bahkan tetangga dengan tujuan mempermalukan orang-orang yang mudah ditipu.

Di beberapa negara seperti Inggris dan Australia serta Afrika Selatan, lelucon hanya boleh dilakukan sampai siang atau sebelum siang hari. Seseorang yang memainkan trik setelah tengah hari disebut sebagai "April Mop". Namun di tempat lain seperti Kanada, Prancis, Irlandia, Italia, Rusia, Belanda, dan Amerika Serikat lelucon bebas dimainkan sepanjang hari. Hari itu juga banyak diperingati di Internet.

Nah para sejarawan mengklaim bahwa April Mop sebenarnya adalah sebuah perayaan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara Spanyol yang dilakukan lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekadar hiburan atau keisengan belaka.

Sejak dibebaskan Islam pada abad ke-8 M oleh Panglima Thariq bin Ziyad, Spanyol menjadi negeri yang makmur. Islam saat itu berkembang hingga Prancis Selatan. Beberapa kota seperti Carcassone, Nimes, Bordeaux, Lyon, Poitou, Tours, penduduknya dengan sukarela memeluk agama Islam.

Hal ini jelas merisaukan beberapa negara tetangga di Spanyol. Akhirnya mereka menemukan cara untuk menaklukkan Islam, yakni dengan melemahkan iman mereka melalui jalan serangan pemikiran dan budaya. Mereka mengirimkan alkohol ke wilayah Spanyol. Musik diperdengarkan untuk membujuk kaum mudanya agar lebih suka bernyanyi dan menari daripada membaca Alquran. Mereka juga mengirimkan sejumlah ulama palsu untuk meniup-niupkan perpecahan ke dalam tubuh umat Islam Spanyol. Lama-kelamaan upaya ini membuahkan hasil.

Akhirnya Spanyolpun  jatuh dan bisa dikuasai oleh pasukan yang dikirim oleh Kerajaan Spanyol yang tersingkir.  Penyerangan yang dilakukan dengan kejam tanpa mengenal peri kemanusiaan. Tidak hanya pasukan Islam yang dibantai, tetapi juga penduduk sipil, wanita, anak-anak kecil, orang-orang tua. Satu-persatu daerah di Spanyol jatuh. Tragedi ini bertepatan dengan tanggal 1 April. Inilah yang kemudian diperingati setiap tanggal 1 April sebagai April Mop (The April’s Fool Day).

Namun beberapa sejarawan juga menulis bahwa asal usul April Mop ini terjadi pada tahun 1582. Saat itu  Paus Gregorius XIII memerintahkan penggantian kalender Julian. Tradisi populer menceritakan bahwa beberapa orang Eropa tidak mengetahui perubahan tersebut dan terus merayakan Tahun Baru pada tanggal 1 April dari kalender Julian sebelumnya.

http://www.republika.co.id/berita/senggang/unik/12/04/01/m1ssh2-april-mop-perayaan-dibunuhnya-umat-islam-di-spanyol

Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......