Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

Mar’ah (wanita) Muslimah

Bismillahirrahmaanirrahiim

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan oleh-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)

Seseorang menuliskan untukku sebuah surat yang pada intinya meminta agar saya berkenan menulis tentang wanita dan sikapnya terhadap pria. Juga Sebaliknya, sikap pria terhadap wanita, pendapat Islam tentang hal itu, dan upaya menganjurkan manusia agar berpegang teguh dengannya serta mau menerapkan hukum-hukumnya.

Bukan berarti saya bodoh akan urgensi bahasan seperti ihi kalau saya tidak serta merta mengikuti permintaan tersebut. Bukan pula tidak mengetahui akan posisi wanita dalam percaturan bangsa. Bahkan ia setengah yang paling menentukan dalam kehidupan bangsa tersebut. Karena wanita adalah madrasah perdana yang akan membentuk dan memformat generasi. Pola bagaimana yang diterima oleh seorang anak, maka itulah yang menentukan perjalanan bangsa dari sudut pandang umat. Dan lebih dari itu semua, wanita adalah orang pertama yang memberikan kontribusi dalam kehidupan pemuda dan bangsa.

Saya tidak menutup mata akan ini semuanya, dan Islam yang hanif ini juga tak mengabaikannya. Karena ia yang datang sebagai cahaya dan petunjuk bagi seluruh manusia, telah mengatur semua aspek kehidupan dengan serangkaian aturan yang paling proporsional dan berpijak di atas landasan dan tata perundang-undangan yang utama. Memang Islam tidak mengabaikan itu semuanya dan tidak meninggalkan manusia kebingungan dalam setiap aspek kehidupan. Islam menjelaskan kepada mereka semuanya dengan penjelasan yang tidak membutuhkan tambahan.

Pada hakekatnya tidak begitu penting bagi kita untuk mengetahui pendapat Islam tentang wanita (juga pria), hubungan antara mereka, dan kewajiban satu dengan yang lainnya. Karena semua itu adalah masalah yang sudah cukup dikenal oleh setiap manusia. Namun yang penting adalah kita bertanya kepada diri  kita, apakah kita sudah siap untuk menjalankan hukum Islam?

Realitasnya, negeri ini dan juga negeri-negeri muslim yang lain tetap diterpa oleh gelombang seruan yang dahsyat dan ganas untuk bertaklid kepada Barat dan tenggelam di dalamnya.

Sebagian orang bahkan tidak hanya tenggelam dalam gelombang taklid itu, lebih dari itu mereka berusaha menipu diri sendiri dengan mengendalikan sesuai dengan ambisi dan sistem Barat. Mereka memperalat sifat toleransi ajaran Islam dan keluwesan hukum-hukumnya dengan cara sangat keji, sehingga mengeluarkan hukum-hukum itu dari bentuk Islamnya, menjadikannya tata aturan yang sama sekali tidak punya keterkaitan dengan Islam, mengabaikan Tasyri’nya itu sendiri, dan membuang nash-nash yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka.
Sungguh ini merupakan malapetaka yang besar. Mereka tidak puas hanya sekedar untuk menentang, sampai mereka memperoleh sebuah pelampiasan hukum untuk realisasi dari penentangan ini dan memformatnya dengan shibghah permisifisme dan pembolehan sehingga mereka sendiri enggan untuk sadar dan melepaskan diri darinya.

Maka yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita melihat hukum-hukum Islam dengan kaca mata yang bersih dari hawa nafsu. Kita persiapkan diri kita untuk mau menerima perintah dan larangan Allah. Hal ini merupakan asas dalam menyambut kebangkitan kontemporer kita.

Berdasar asas dia atas tidak ada salahnya jika kita ingatkan manusia terhadap hal-hal yang telah mereka ketahui, dan nilai-nilai yang wajib mereka pahami dari hukum Islam dalam masalah ini.

Pertama : Islam mengangkat harkat dan martabat wanita dan menjadikannya partner laki-laki dalam hak dan kewajiban.
Masalah ini sepertinya dianggap telah selesai. Islam telah meninggikan derajat wanita dan mengangkat nilai kemanusiaannya serta menetapkannya sebagai saudara sebagai sesamanya dan partner bagi laki-laki dalam kehidupan. Wanita adalah bagian dari laki-laki dan laki-laki adalah bagian dari wanita, 

“Sebagian kamu adalah bagian dari yang lain.”

Islam mengakui hak-hak pribadi, hak-hak peradaban, dan hak-hak politik wanita secara umum dan sempurna. Islam memperlakukannya sebagai manusia dengan kesempurnaan kemanusiaannya. Ia mempunyai hak dan kewajiban, ia dipuji jika berhasil menunaikan kewajibannya, dan pada saat yang sama hak-haknya wajib dipenuhi. Al-Qur’an dan Al-Hadits penuh dengan nash-nash yang menegaskan dan menjelaskan pernyataan di atas.

Kedua : Membedakan laki-laki dan wanita dalam hak, sesungguhnya yang terjadi menyusul adanya perbedaan-perbedaan penciptaan yang sudah pasti ada di antara keduanya. Juga karena perbedaan tugas yang harus dilaksanakan serta dalam rangka menjaga keutuhan hak yang dianugerahkan kepada keduanya.
Ada yang mengatakan bahwa Islam membedakan antara laki-laki dan wanita dalam banyak situasi dan kondisi serta tidak memberikan persamaan yang sempurna kepada keduanya. Pernyataan itu benar namun dari sisi yang lain perlu juga dicatat bahwa jika ada hak wanita yang kelihatannya dikuramgi dalam satu sisi, maka Islam pasti menggantinya dengan yang lebih baik pada sisi yang lain.[1]) atau bisa jadi pengurangan ini demi manfaat dan kebaikan wanita itu sendiri sebelum yang lainnya. Dapatkah seseorang mengatakan bahwa pembentukan jasmani dan rohani wanita itu sama persis dengan pembentukan laki-laki? Dapatkah seseorang mengatakan bahwa peran yang harus dimainkan wanita dalam kehidupan ini sama dengan peran yang harus dimainkan laki-laki, selama kita mengakui adanya ibu dan bapak?

Saya yakin bahwa proses pembentukan keduannya berbeda dan bahwa tugas keduannya dalam hidup ini juga berbeda. Perbedaan ini sudah barang tentu akan diikuti berbagai pranata kehidupan yang berhubungan dengan keduannya. Inilah rahasia dari apa yang telah digariskan oleh Islam dari adanya pembedaan-pembedaan antara wanita dan laki-laki dalam hak dan kewajiban.

Ketiga : Antara wanita dan laki-laki terdapat fitrah keterikatan yang kuat satu sama lain. Ini merupakan asas pertama dalam hubungan di antara keduanya. Dan bahwa tujuan dari hubungan tadi-sebelum berupa kenikmatan dan apa saja yang terikat dengannya-adalah kerja sama untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia dan bersama-sama menanggulangi beban kehidupan.

Islam telah mengisyaratkan adanya kecenderungan jiwa ini, menyucikannya, dan mengendalikannya dari makna kebinatangan dengan satu pengalihan yang sangat indah menuju makna spiritual, mengagungkan tujuannya, menjelaskan maksud yang ada di dalamnya, dan tinggi nilainya dari sekedar kenikmatan semata menuju sebuah kerja sama yang sempurna.

Marilah kita dengarkan firman Allah swt.:
وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah, Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya dia antaramu rasa kasih dan sayang.” (Ar-Ruum: 21)

Ini adalah prinsip dasar yang dipelihara dan ditegaskan oleh Islam berkenaan dengan persepsinya tentang wanita. Dengan pondasi prinsip dasar tadi dibangunlah syariat oleh-Nya yang bijaksana, yang mem-back up kerja sama yang sempurna antara kedua jenis ini, di mana yang satu akan beroleh manfaat dari yang lainnya. Dan syariat ini pulalah yang membantunya dalam berbagai aktifitas kehidupan.
Secara ringkas, Islam membicarakan pandangannya tentang wanita di masyarakat yang termuat dalam butir-butir berikut ini:

Pertama: Kewajiban Mendidik Wanita
Islam melihat adanya kewajiban untuk memperbaiki dan mentarbiyahi akhlak wanita dengan keutamaan-keutamaan dan kesempurnaan sejak dini. Islam juga menganjurkan para bapak dan para wali wanita untuk melakukan hal ini dan menjanjikan bagi mereka pahala besar dari Allah, serta mengancam mereka dengan adzab yang pedih jika mereka menelantarkannya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan oleh-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)

Dalam hadits shahih Rasulullah saw. bersabda,
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ قَالَ وَحَسِبْتُ أَنْ قَدْ قَالَ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي مَالِ أَبِيهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian itu adalah penggembala dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang digembalakannya. Seorang Imam adalah penggembala dan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang digembalakannya, seorang laki-laki adalah penggembala didalam keluarganya dan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang digembalakannya, seorang wanita adalah penggembala di rumah suaminya dan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang digembalakannya, seorang pembantu adalah penggembala dari harta majikannya dan dimintai pertanggungjawaban atas yang digembalakan, dan setiap kalian adalah penggembala dan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang digembalakannya.” (HR. Syaikhan dari Abdullah bin Umar)

Dari Ibnu Abbas ra. Berkata Rasulullah saw.,
مَا مِنْ رَجُلٍ تُدْرِكُ لَهُ ابْنَتَانِ فَيُحْسِنُ إِلَيْهِمَا مَا صَحِبَتَاهُ أَوْ صَحِبَهُمَا إِلَّا أَدْخَلَتَاهُ الْجَنَّةَ
“Tidaklah seorang muslim yang mempunyai dua anak perempuan, kemudian ia berbuat baik dalam hubungan dengan keduannya kecuali keduanya akan bisa memasukannya ke dalam surga.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang shahih dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya)

Dari Ibnu Abbas ra. Berkata, Rasulullah saw. bersabda,
مَنْ كَانَ لَهُ ثَلَاثُ بَنَاتٍ أَوْ ثَلَاثُ أَخَوَاتٍ أَوْ ابْنَتَانِ أَوْ أُخْتَانِ فَأَحْسَنَ صُحْبَتَهُنَّ وَاتَّقَى اللَّهَ فِيهِنَّ فَلَهُ الْجَنَّةُ
Barangsiapa yang mempunyai tiga anak perempuan, atau dua anak perempuan, atau dua saudara perempuan, kemudian ia berbuat baik dalam berhubungan dengan mereka dan bertakwa kepada Allah atas (hak) mereka, maka baginya surga.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud, hanya saja pada riwayat Abu Dawud Rasulullah saw bersabda, “Kemudian ia mendidik, berbuat baik, dan menikahkan mereka, maka baginya surga.”)

Di antara didikan yang baik bagi anak-anak dalam mengajarkan kepada mereka apa saja dari hal-hal yang sesuai dengan keberadaan mereka seperti: membaca, menulis, berhitung, ilmu agama, sejarah para salafus shalih, -lelaki maupun perempuan-, mengurus rumah, masalah-masalah kesehatan, dasar-dasar tarbiyah, mengurus anak, serta segala sesuatu yang dibutuhkan oleh seorang ibu dalam mengatur rumah dan mendidik anak-anaknya.

Dalam hadits Bukhari dikatakan, Rasulullah saw. bersabda,
نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ الْأَنْصَارِ لَمْ يَمْنَعْهُنَّ الْحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِي الدِّينِ
“Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk mendalami agama.” (Bukhari dari Aisyah RA)

Banyak wanita salaf dahulu yang menjadi gudang ilmu, keutamaan, dan fiqih dari dien Allah.
Sedangkan selain hal-hal di atas, dari ilmu-ilmu yang tidak dibutuhkan oleh wanita, maka sia-sia dan tiada guna. Wanita tidak perlu akan hal itu, lebih baik ia menggunakan waktunya untuk hal-hal yang bermanfaat.
Adalah Abul A’la Al Ma’arry berpesan kepada wanita seraya berkata,

“Ajarilah mereka memintal dan menjahit. Biarkan mereka membaca dan menulis aksara. Doanya seorang dara dengan Al-Fatihah dan Al-Ikhlas. Sama dengan membaca Yunus dan Bara’ah”
Memang kita tidak menghendaki hanya sampai disitu saja namun kita juga tidak menghendaki mereka-mereka yang melampaui batas dalam membawa wanita kepada hal-hal yang tidak dibutuhkannya dari berbagai macam studi. Kita katakan, “Ajarilah wanita apa yang dibutuhkannya dengan melihat kepada tugas dan peran yang telah dititahkan oleh Allah kepadanya, yakni mengurus rumah dan mendidik anak.”

Kedua: Membedakan Antara Wanita dan Laki-laki
Islam melihat bahwa ikhtilat (campur aduk) antara wanita dan laki-laki itu berbahaya, Islam memisahkan antara keduannya kecuali dengan cara menikah. Oleh karena itulah maka masyarakat Islam adalah masyarakat tunggal bukan bersifat ganda.

Para propagandis ikhtilat mengatakan bahwa hak itu akan menyebabkan kemandulan dalam menikmati lezatnya berkumpul dan manisnya bercengkrama yang akan didapatkan oleh salah satu dari keduanya manakala berkumpul dengan yang lain. Ikhtilat juga akan mewujudkan rasa yang membuahkan aneka tata karma sosial seperti lemah lembut, baik dalam bergaul, halus dalam bertutur, santun dalam sikap, dan lain-lain. Mereka juga mengatakan, pemisahan antara dua jenis ini akan menjadikan salah seorang merasa rindu dengan yang lain. Namun dengan berhubungan antara keduannya (laki-perempuan) akan memperkecil kesempatan berpikir tentang hal itu, akan menjadikannya sebagai hal yang lumrah dalam jiwa. Karena yang paling dicintai manusia adalah apa yang dilarang baginya dan apa yang ada dalam genggaman tangan sudah tidak lagi jadi pikiran jiwa.

Demikianlah yang mereka katakan dan banyak yang terfitnah dengan kata-kata mereka itu. Apalagi hal itu merupakan pikiran yang sesuai dengan gejolak hawa nafsu dan sejalan dengan syahwat. Kita katakan kepada mereka, “Kendati kami belum sepenuhnya puas dengan apa yang kalian katakan pada statemen yang pertama, kami akan katakan kepada kalian akan apa yang diakibatkan oleh kelezatan bertemu dan kenikmatan bercengkramannya laki-perempuan. Akibat itu adalah hilangnya kehormatan, rusaknya jiwa dan perilaku, kehancuran rumah, kesengsaraan keluarga, rawannya kriminalitas, degradasi moral, tidak mempunyai kejantanan yang tidak hanya sekedar sampai kepada kebancian dan kelembekan. sungguh hal ini bisa dibuktikan dan tidak akan membantah kecuali oleh orang yang sombong.”

Dampak negatif ikhtilat ini seribu kali lipat lebih banyak daripada manfaatnya. Jika bertentangan antara maslahat dan kerusakan, maka tentunya menghalau kerusakan itu lebih didahulukan. Apalagi maslahat yang didapat itu tidak sebanding dengan banyaknya kerusakan.

Sedangkan statemen yang kedua, maka itu tidak benar. Justru ikhtilat itu akan menambah kecenderungan. Dulu ada yang mengatakan, “Adanya makanan itu akan menambah syahwatnya orang yang rakus (untuk makan).” Seorang suami hidup bersama istrinya bertahun-tahun, sudah pasti kecenderungan (untuk menggaulinya) akan bertambah dalam jiwanya. Maka bagaimana mungkin hubungan (selalu dekat) dengan sang istri tidak menjadi sebab kecenderungan kepadanya?

Sementara itu seorang wanita yang ikhtilat akan terdorong untuk memamerkan lekuk-lekuk perhiasannya. Ia tidak rela kecuali laki-laki itu kagum kepadanya, ini merupakan dampak ekonomis yang negatif yang ditimbulkan oleh ikhtilat, yakni boros dalam perhiasan, tabarruj yang mengarah pada habisnya uang, bangkrut, dan kekafiran.

Oleh karena itulah kamu berseru bahwa masyarakat Islam itu adalah masyarakat tunggal bukan masyarakat ganda. Para lelaki punya masyarakat sendiri sebagaimana wanita punya masyarakat sendiri. Islam membolehkan bagi wanita untuk mengikuti shalat ‘ied, shalat jamaah, dan keluar untuk berperang dalam situasi yang sangat darurat. Namun Islam hanya sampai batas ketentuan ini (tidak merambah pada yang lain) dengan menentukan berbagai macam persyaratan seperti: menjauhi tabaruj (berhias berlebihan), menutup aurat, melebarkan pakaian (longgar), tidak tipis, dan tidak pula membentuk warna dan lekuk tubuh, serta tidak berkhalwat (duduk bersepi-sepi) dengan lelaki yang bukan mahramnya dalam situasi dan keadaan yang bagaimanapun.

Sesungguhnya diantara dosa besar dalam Islam adalah jika ada seorang laki-laki berkhalwat dengan wanita yang bukan mahramnya. Islam juga telah memberikan garis ketetapan yang keras dan pasti terhadap segala jalan menuju ikhtilat bagi kedua jenis anak manusia ini. Maka menutup aurat adalah bagian dari tatakramanya.
- Pengharaman khalwat dengan lawan jenis yang bukan mahramnya adalah salah satu hukum dari sekian hukum-hukumnya.
- Menundukkan pandangan adalah bagian dari kewajiban-kewajibannya.
- Menetap dirumah bagi seorang wanita sampai ketika shlat adalah merupakan syiar dari sekian banyak syiar-syiarnya.
- Menjauhi rangsangan baik suara, maupun gerak dengan segala macam fenomena berhias, -khususnya ketika keluar rumah-adalah salah satu dari sekian banyak garis ketetapannya.
Semua itu disyariatkan agar kaum lelaki selamat dari fitnah wanita, karena fitnah ini adalah fitnah yang paling mudah hinggap dalam dirinya. Juga agar kaum wanita selamat dari fitnah laki-laki, karena fitnah itu adalah fitnah yang paling mudah mendekati hatinya. Ayat-ayat mulia dan hadits-hadits suci telah menuturkan hal itu:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah merasa menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (An-Nuur:30)

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آَبَائِهِنَّ أَوْ آَبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menundukkan –pandangannya dan memelihara kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakan perhiasannya kecuali yang (biasa) tampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” (An-Nuur: 31)

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi katakan pada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang dengan demikian itu supaya mereka mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” (Al-Ahzab: 59)

Dan ayat-ayat lainnya.
Dari Abdullah bin Masud ra. Berkata, Rasulullah saw. bersabda, (yakni meriwayatkan dari Rabbnya),
إِنَّ النَّظْرَةَ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومٌ، مَنْ تَرَكَهَا مَخَافَتِي أَبْدَلْتُهُ إِيمَانًا يَجِدُ حَلاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ
“Pandangan itu anak panah beracun dari anak-anak panah iblis. Barangsiapa yang menghindarnya karena takut kepada-Ku, aku akan menggantinya dengan iman yang akan ia dapatkan manisnya keimanan itu di dalam hatinya.” (HR. At-Thabrani dan Al-Hakim)

Dari Abu Umamah ra. Berkata, bahwa Rasulullah saw. Bersabda,
لَتَغُضَّنَّ أَبْصَارَكُمْ، وَلَتَحْفَظُنَّ فُرُوجَكُمْ، وَلَتُقِيمُنَّ وُجُوهَكُمْ أَوْ لَتُكْسَفَنَّ وُجُوهُكُمْ
“Hendaklah kalian menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan kalian, atau (kalau tidak) Allah akan membutakan wajah-wajah kalian.” (HR. Thabrani)

Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra. Berkata Rasulullah saw. Bersabda,
مَا مِنْ صَبَاحٍ إِلَّا وَمَلَكَانِ يُنَادِيَانِ وَيْلٌ لِلرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ وَوَيْلٌ لِلنِّسَاءِ مِنْ الرِّجَالِ
“Tidaklah pagi itu akan menjelang kecuali ada dua malaikat yang berseru, sungguh celaka kaum lelaki dan kaum wanita, sungguh celaka kaum wanita karena kaum lelaki.” (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim)

Dari Uqbah bin Amir ra. Behwasannya Rasulullah saw. Bersabda,
إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ
“Jauhilah kalian untuk memasuki rumah wanita,” berkatalah orang dari Anshar, “Tahukah kamu saudara ipar itu?”, ia mengatakan, “Saudara ipar itu mematikan.” (HR. Bukhari)

sumber: klik aja DISINI

[1] Dalam hal warisan, Islam menjadikan bagian wanita adalah setengan dari bagian laki-laki, namun di sisi lain Islam membebani laki-laki untuk mencari nafkah.
Lengkapnya Klik DISINI

Islam Agama Cinta

Ketika perang Qadisiyyah meletus, Khalifah ‘Umar bin Khattab menulis surat kepada panglimanya, Sa‘ad bin Abi Waqqas, supaya menaklukkan Hilwan, sebuah propinsi di Irak. Maka dikirimlah 300 personel kavaleri di bawah komando Nadhlah bin Mu‘awiyah al-Ansari. Hari itu, setelah dengan mudah menguasai seluruh propinsi, mereka menyaksikan suatu kejadian luar biasa. Saat itu masuk waktu maghrib dan Nadhlah pun naik ke sebuah tempat yang agak tinggi di lereng bukit untuk mengumandangkan azan. Anehnya, setiapkali Nadhlah selesai mengumandangkan kalimat azannya, spontan terdengar suara seseorang menjawabnya. “Allahu akbar!” laung Nadhlah, “Kabbarta kabiran, ya Nadhlah!” sahut orang itu. “Asyhadu alla ilaha illa Allah” dijawab dengan “Kalimatul ikhlas, ya Nadhlah!”. Lalu ketika dilaungkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, suara misterius itu menyahut, “Huwa ad-dinu, wa huwa alladzi basysyarana bihi ‘Isa ibnu Maryam ‘alayhima as-salam, wa ‘ala ra’si ummatihi taqumu as-sa‘ah!” Nadhlah menyambung azannya, “Hayya ‘ala ash-shalah!” lalu dijawabnya, “Thuba liman masya ilayha wa waazhaba ‘alayha!”, sedangkan “Hayya ‘ala al-falah!” dijawab dengan “Qad aflaha man ajaaba Muhammadan shallallahu ‘alayhi wa sallam, wa huwa al-baqa’ li ummatihi”. Dan laungan “La ilaha illa Allah” disambut dengan “Akhlashta al-ikhlash, ya Nadhlah, faharrama Allah jasadaka ‘ala an-naar!”

Selesai azan, Nadhlah yang tentu saja tidak gentar, meskipun cukup heran, lantas berseru: “Siapakah engkau, hai orang yang dikasihi Allah!? Apakah engkau Malaikat, jin penghuni di sini, atau seorang hamba Allah (dari golongan manusia)? Engkau telah memperdengarkan pada kami suaramu, maka tunjukkanlah pada kami dirimu! karena kami ini datang atas perintah Allah dan Rasulullah saw. dan atas instruksi Umar bin Khattab!” Lalu tiba-tiba terdengar suara gemuruh seperti gempa bumi kemudian bukit itu terbelah, dan dari situ muncul seorang berambut dan berjenggot serba putih. Setelah memberi salam, orang misterius tersebut memperkenalkan dirinya: “Saya Zurayb bin Bartsamla, orang yang disuruh tinggal di bukit ini oleh hamba yang saleh ‘Isa bin Maryam alayhima as-salam dan didoakan oleh beliau dapat berumur panjang untuk menunggu turunnya beliau dari langit, dimana beliau akan memusnahkan babi, menghancurkan salib dan berlepas diri dari agama kaum Nasrani (yatabarra’ mimma nahalathu an-nashara).”

Kisah sejarah ini diriwiyatkan oleh Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Arabi dalam kitabnya, al-Futuhat al-Makkiyyah, bab 36 (fi ma‘rifat al-Isawiyyin wa aqthabihim wa ushulihim). Lalu apa relevansi kisah tersebut? Menurut Ibnu Arabi, berdasarkan riwayat ini jelas sekali bahwa pengikut Nabi Isa yang murni tidak hanya mengimani kenabian Muhammad saw. tapi juga beribadah menurut syari‘atnya. Ini karena dengan kedatangan sang Nabi terakhir, syari’at agama-agama sebelumnya otomatis tidak berlaku lagi. Fa inna syari‘ata Muhammad saw. naasikhah!, tegas Ibnu Arabi, seraya mengutip hadis Rasulullah,

“Law kana Musa hayyan ma wasi‘ahu illa an yattabi‘ani).”
“Seandainya Nabi Musa hidup saat ini, maka beliau pun tidak dapat tidak mesti mengikutiku” 

Di sini nampak cukup jelas sikap dan posisi Ibnu Arabi terhadap agama pra-Islam.
Ironisnya, sejak beberapa dekade yang lalu hingga sekarang, tokoh Sufi yang berasal dari Andalusia ini oleh sementara ‘kalangan’ acapkali ‘diklaim’ sebagai pelopor gagasan Islam inklusif. Nama beliau kerap ‘dicatut’ untuk menjustifikasi ide pluralisme agama. Tidak hanya itu, Syaikh tasawuf ini bahkan ‘dijadikan bemper’ untuk melegitimasi asumsi para penganut ‘agama perennial’ (religio perennis) bahwa dalam aspek esoteris dan pada dataran transenden, semua agama adalah sama, karena semuanya sama benarnya, sama sumbernya (Tuhan), dan sama misinya (pesan moral, perdamaian, dsb).

Dengan kata lain, seperti diungkapkan oleh Nurcholish Madjid (dalam kata pengantarnya untuk buku Tiga Agama Satu Tuhan, hal. xix), “Setiap agama sebenarnya merupakan ekspresi keimanan terhadap Tuhan yang sama.” Sebagaimana kita ketahui, pemahaman semacam ini dipopulerkan oleh F. Schuon, S.H. Nasr, W.C. Chittick dalam tulisan-tulisan mereka yang kini nampak mulai mendapat tempat di Indonesia. Untuk mendukung klaimnya, biasanya ‘kalangan’ ini mengutip tiga bait puisi Ibn Arabi dalam karya kontroversialnya, Tarjuman al-Asywaq, yang berbunyi: “Hatiku telah mampu menerima aneka bentuk dan rupa; ia merupakan padang rumput bagi menjangan, biara bagi para rahib, kuil anjungan berhala, ka‘bah tempat orang bertawaf, batu tulis Taurat, dan mushaf bagi al-Qur’an. Agamaku adalah agama cinta, yang senantiasa kuikuti kemanapun langkahnya; demikianlah agama dan keimananku.”

Seolah membenarkan asumsinya sendiri (self-fulfilling prophecy), Nasr menyimpulkan bahwa disinilah Ibnu Arabi “came to realize that the divinely revealed paths lead to the same summit” (Lihat: Three Muslim Sages [Delmar, New York: Caravan Books, 1964], hlm.118).

Sekilas memang nampak meyakinkan. Akan tetapi sebenarnya kaum transendentalis [sengaja?] tidak mengemukakan—kalau bukan justru menyembunyikan—fakta bahwa Ibnu Arabi telah menjelaskan maksud semua ungkapannya dalam syarah yang ditulisnya sendiri, yaitu Dzakha’ir al-A‘laq syarh Tarjuman al-Asywaq (ed.Dr.M.‘Alamuddin asy-Syaqiri, Cairo: Ein for Human and Social Studies, 1995, hlm.245-6). Di situ dinyatakan bahwa yang beliau maksudkan dengan ‘agama cinta’ adalah agama Nabi Muhammad saw., merujuk kepada firman Allah dalam al-Quran Ali Imran:31

“Katakanlah [hai Muhammad!], kalau kalian betul-betul mencintai Allah, maka ikutilah aku!—niscaya Allah akan mencintai kalian.” 

Dan memang dalam kitab Futuhat-nya (bab 178, fi Maqam al-Mahabbah), Ibn Arabi dengan gamblang menerangkan apa yang beliau fahami tentang cinta dalam ayat tersebut. Berdasarkan objeknya, terdapat empat jenis cinta, kata beliau: (1) cinta kepada Tuhan (hubb ilahi); (2) cinta spiritual (hubb ruhani); (3) cinta alami (hubb thabi‘i); dan terakhir (4) cinta material (hubb ‘unsuri).

Setelah menguraikan tipologi cinta tersebut, Ibn Arabi dengan tegas menyatakan bahwa cinta kepada Tuhan harus dibuktikan dengan mengikuti syari‘at dan sunnah Rasul-Nya saw (al-ittiba‘ li-rasulihi saw. fima syara‘a). Jadi, ‘agama cinta’ yang beliau maksudkan adalah Islam, yaitu agama syari‘at dan sunnah Nabi Muhammad saw., dan bukan ‘la religion du coeur’ versi Schuon dan para pengikutnya itu.

Selain bait puisi di atas, kaum Transendentalis juga giat mencari pernyataan-pernyataan Ibn Arabi yang dapat di‘plintir’ to serve their own purposes. Ini biasanya disertai dengan tafsiran seenaknya yang sesungguhnya merupakan ekspresi ke‘sok tahu’an belaka dan murni reka-reka (conjecture) , sebagaimana terungkap dalam kalimat “perhaps Ibn Arabi would also accept”, “may be that”, “Ibn Arabi might reply” dsb. (Lihat Chittick, “A Religious Approach to Religious Diversity” dalam buku Religion of the Heart: Essays presented to Frithjof Schuon on his eightieth Birthday, ed. S.H. Nasr dan W. Stoddart, Washington, D.C.: Foundation for Traditional Studies, 1991).

Lebih parah lagi—dan ini yang perlu diwaspadai dan dikritisi—adalah praktek menggunting dan membuang bagian dari teks yang tidak mendukung asumsi mereka. Sebagai contoh, ketika mengutip sebuah paragraf dari Futuhat (bab) yang mengungkapkan pendapat Ibnu Arabi mengenai status agama-agama lain dalam hubungannya dengan Islam, Chittick tidak memuatnya secara utuh.

“All the revealed religions (shara’i‘) are lights. Among these religions, the revealed religion of Muhammad is like the light of the sun among the lights of the stars. When the sun appears, the lights of the stars are hidden, and their lights are included in the light of the sun. Their being hidden is like the abrogation of the other revealed religions that takes place through Muhammad’s revealed religion. Nevertheless, they do in fact exist, just as the existence of the light of the stars is actualized. This explains why we have been required in our all-inclusive religion to have faith in the truth of all the messengers and all the revealed religions. They are not rendered null (batil) by abrogation—that is the opinion of the ignorant.” (Lihat: Imaginal Worlds: Ibn Arabi and the Problem of Religious Diversity, New York: State University of New York Press, 1994, hlm.125).
Dengan [sengaja?] berhenti di situ, Chittick memberi kesan seolah-olah Ibnu Arabi menolak pendapat mayoritas kaum Muslimin bahwa semua agama samawi pra-Islam dengan sendirinya terabrogasi dengan datangnya Islam. Padahal maksud pernyataan Ibn Arabi adalah semua agama dan kitab suci yang dibawa oleh para rasul pada zaman dahulu harus diakui kebenarannya dalam konteks sejarah masing-masing—yakni sebelum Nabi Muhammad saw. muncul. Dan ini merupakan bagian dari rukun iman. Akan tetapi tidak berarti bahwa validitas tersebut berkelanjutan setelah kedatangan Rasulullah saw. atau bahkan sampai sekarang. “Nabi Isa pun, seandainya sekarang ini turun, niscaya tidak akan mengimami kita kecuali dengan mengikut sunnah kita [Ummat Muhammad], dan tidak akan memutuskan suatu perkara kecuali dengan syari‘at kita.” (Wa hadza ‘Isa idza nazala ma ya’ummuna illa minna, ay bi sunnatina, wa la yahkumu fina illa bi syar‘ina), demikian tegas Ibn Arabi (Lihat: Futuhat, bab 36).

Lebih jauh, dengan kutipan yang tidak komplit itu Chittick berusaha menggiring pada para pembaca agar meyakini bahwa Ibnu Arabi adalah seorang penganut pluralisme dan transendentalist seperti dirinya.
Sambungan pernyataan Ibnu Arabi yang dipotong oleh Chittick dalam kutipan tersebut di atas berbunyi: “Maka berbagai jalan [agama] semuanya bermuara pada jalan [agama] Nabi [Muhammad] saw. Karena itu, seandainya para rasul berada di zaman beliau, niscaya mereka mengikuti beliau sebagaimana syari‘at mereka ikut syari‘at beliau” (Fa raja‘at ath-thuruq kulluha nazhiratan ila thariq an-Nabiy shallallahu ‘alayhi wa sallama, fa law kanat ar-rusul fi zamanihi latabi‘uhu kama tabi‘at syara’i‘uhum syar‘ahu).
Bagaimana dengan ayat yang mengatakan bahwa Allah telah menciptakan syari‘at dan jalan untuk masing-masing kalian (al-Ma’idah:48)

“Likullin ja‘alna minkum syir‘atan wa minhajan”. 

Menurut Ibnu Arabi, kata ganti orang kedua dalam bentuk jamak (“kum”) dalam konteks ayat tersebut merujuk kepada para Nabi, bukan umat mereka. Sebab jika ia ditujukan kepada umat mereka, niscaya Allah tidak mengutus lebih dari seorang rasul untuk suatu umat. Dan jika kata “kalian” disitu difahami sekaligus untuk para rasul serta umat mereka, maka kita telah menta’wilkannya secara gegabah. Jadi maksud ayat tersebut, menurut Ibnu Arabi, bukan membenarkan semua jalan menuju Tuhan, atau menyamakan status semua agama. Sebaliknya, terdapat garis demarkasi yang jelas antara hak dan batil, iman dan kufur, tawhid dan syirik, dst. Kalau tidak, lanjut Ibnu Arabi, niscaya Nabi saw. tidak akan berdakwah mengajak orang masuk Islam, niscaya orang yang pindah agama (yartadid ‘an dinihi) tak disebut kafir (2:217) dan niscaya tidak keluar perintah membunuh orang yang murtad (hadits: “man baddala dinahu fa-qtuluhu”).

Oleh sebab itu, Ibnu Arabi menambahkan, orang Yahudi atau Nasrani yang masuk Islam tidak dikatakan murtad, karena ajaran murni agama mereka memang mengharuskan beriman kepada dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw. (Selengkapnya dapat dilihat di Futuhat, bab 495, fi Ma‘rifati hal quthb kana manziluhu “wa man yartadid minkum ‘an dinihi fayamut wa huwa kafir”). 
sumber:http://www.al-ikhwan.net/islam-agama-cinta-3332/
Lengkapnya Klik DISINI

Yang manakah Anda?

Seorang anak mengeluh pada ayahnya tentang hidupnya yang sulit. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa dan ingin menyerah saja. Ia lelah berjuang. Setiap saat satu persoalan terpecahkan, persoalan yang lain muncul. 

Ayahnya, seorang juru masak, tersenyum dan membawa anak perempuannya ke dapur. Ia lalu mengambil tiga buah panci, mengisinya masing-masing dengan air dan meletakkannya pada kompor yang menyala.

Beberapa saat kemudian air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama, ia memasukkan wortel. Lalu, pada panci kedua ia memasukkan telur. Dan, pada panci ketiga ia memasukkan beberapa biji kopi tumbuk. Ia membiarkan masing-masing mendidih. Selama itu ia terdiam seribu bahasa. 

Sang anak menggereget gigi, tak sabar menunggu dan heran dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya. Dua puluh menit kemudian, sang ayah mematikan api. Lalu menyiduk wortel dari dalam panci dan meletakkanya pada sebuah piring. Kemudian ia mengambil telur dan meletakkanya pada piring yang sama. Terakhir ia menyaring kopi yang diletakkan pada piring itu juga.

Ia lalu menoleh pada anaknya dan bertanya, "Apa yang kau lihat, nak?" "Wortel, telur, dan kopi, " jawab sang anak. Ia membimbing anaknya mendekat dan memintanya untuk memegang wortel. Anak itu melakukan apa yang diminta dan mengatakan bahwa wortel itu terasa lunak. Kemudian sang ayah meminta anaknya memecah telur. Setelah telur itu dipecah dan dikupas, sang anak mengatakan bahwa telur rebus itu kini terasa keras. Kemudian sang ayah meminta anak itu mencicipi kopi. Sang anak tersenyum saat mencicipi aroma kopi yang sedap itu.

"Apa maksud semua ini, ayah?" tanya sang anak. sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda tadi telah mengalami hal yang sama, yaitu direbus dalam air mendidih, tetapi selepas perebusan itu mereka berubah menjadi sesuatu yang berbeda-beda. Wortel yang semula kuat dan keras, setelah direbus dalam air mendidih, berubah menjadi lunak dan lemah. Sedangkan telur, sebaliknya, yang semula mudah pecah, kini setelah direbus menjadi keras dan kokoh. Sedangkan biji kopi tumbuh berubah menjadi sangat unik. Biji kopi, setelah direbus, malah mengubah air yang merebusnya itu. 

"Maka, yang manakah dirimu?" tanya sang ayah pada anaknya. "Di saat kesulitan menghadang langkahmu, perubahan apa yang terjadi pada dirimu?

Apakah kau menjadi sebatang wortel, sebutir telur atau biji kopi?"

sumber: klik aja disini
Lengkapnya Klik DISINI

Saudaraku, Tetaplah Di Sini


Oleh Zulda Musyarifah

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah". (QS 3:110, Ali ‘Imran)

Kenapa kita berada di jalan ini? Mungkin akan banyak sekali alasan seseorang berada di jalan ini. Intinya, kita berada di sini atas pilihan kita sendiri. Tetapi memang tidak ada pilihan lain lagi bagi seorang manusia ketika ia diciptakan oleh Allah selain untuk beribadah kepada-Nya.

Di dalam melaksanakan tugas hidupnya dengan baik agar mendapatkan ridha Allah SWT, maka manusia harus memilih Islam sebagai jalan hidupnya.

Maka sebagai konsekuensi logis atas keimanan terhadap Islam, maka seorang yang mengaku beragama Islam harus memiliki rasa terikat diri (komitmen) kepada Islam. Komitmen tersebut menurut Endang Saifuddin Anshari, MA meliputi: mengimani, mengilmui, mengamalkan, menda'wahkan dan bersabar dalam ber-Islam.
Tapi tidak setiap muslim diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar karena ia harus istiqamah. Langkah kakinya harus kokoh menapaki jalan ini. Karena ia satu-satunya jalan yang akan menyelamatkan, sebagaimana ia jalan satu-satunya untuk meraih kebahagiaan hakiki; fid dunya hasanah, fil akhirati hasanah.

"Manusia melakukan kebaikan maupun keburukan atas pilihan dan kehendaknya sendiri dan tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah dikerjakannya". (Al-Mudatsir : 38).

api, satu hal penting yang harus disadari para penempuh jalan ini adalah ia berada di sini semata-mata karena kasih sayang Allah. Dalam perjalanan ini, Allah telah memberikan petunjuk melalui Al-Quran dan sunnah Rasul-Nya. Allah SWT juga telah memberikan kemampuan untuk berfikir dan memberi kita sejumlah kewajiban. Itulah bukti rahmat Allah SWT.

"Sungguh inilah nikmat yang teramat mahal harganya. Karena di jalan ini kita akan dapat belajar tentang persaudaraan, cinta, dan kasih sayang. Karena nikmat ini juga kita dapat merasakan manisnya pengorbanan, nikmatnya keletihan dan lapangnya kesulitan. Sungguh barang siapa yang menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan mengokohkan kaki kalian". (QS . Muhammad : 7)

Bekal paling pertama dan utama adalah keikhlasan karena sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niat. Ibnu Athaillah pernah berujar,” Salah satu tanda sukses di akhir perjalanan adalah kempali kepada Allah

Lengkapnya Klik DISINI

Kisah Umar dan Sepotong Kain

Ada sebuah kisah tentang seseorang yang bekerja di sebuah instansi negara di negeri ini. Ketika baru beberapa pekan dia bekerja di instansi tersebut, ia ditegur oleh atasannya karena yang bersangkutan memakai celana sedikit di atas mata kaki. Hanya beberapa centimeter saja di atas mata kaki. Sang atasan memanggil yang bersangkutan karena karyawan-karyawan lainnya mulai banyak membicarakan yang bersangkutan. Oleh atasannya, orang itu ditanya dengan sopan,”Kenapa mas fulan memakai celana yang sepertinya di atas mata kaki yang orang-orang menyebutnya celana ngatung?”

Seseorang tersebut pun tersenyum mendengar pertanyaan dari atasannya. Ia kemudian menjelaskan sedikit demi sedikit alasannya kenapa ia mengenakan celana yang sedikit sekali di atas mata kaki. Mendengar penjelasan orang itu, sang atasan pun memaklumi dan menasehatkan agar mempertahankannya.
Sekitar ribuan tahun silam, ada kisah menarik tentang sepotong kain di zaman Umar bin Khattab RA mendekati ajal. Ketika itu, Umar bin Khattab RA berada di hari menjelang kematiannya. Keadaan Umar benar-benar berada dalam keadaan yang parah dan kepayahan. Sampai-sampai ada sebagian kaum muslimin yang berkata, "Aku khawatir ia akan tewas."

Setelah itu, dibawakanlah kepada Umar minuman nabidz agar diminum oleh beliau.  Beliau pun langsung meminumnya, namun minuman tersebut keluar kembali dari lubang tikaman di perutnya.
Kemudian dibawakan kepada beliau susu dan beliau pun meminumnya. Lagi-lagi, susu tersebut juga keluar dari perutnya yang ditikam.

Dalam kondisi Umar yang seperti itu, tiba-tiba datang seorang pemuda dan berkata kepada beliau “Bergembirahlah wahai amirul mu’minin dengan berita gembira dari Allah untukmu, engkau adalah sahabat Rasulullah, pendahulu Islam, engkau adalah pemimpin dan engkau berlaku adil, kemudian engkau diberikan Allah syahadah (mati syahid)," Umar lalu menjawab “Aku berharap seluruh perkara yang engkau sebutkan tadi cukup untukku, tidak lebih ataupun kurang." Tatkala pemuda itu berbalik ternyata pakaiannya terjulur hingga menyentuh lantai (bahasa kerennya isbal_pen).
Umar lantas memanggil pemuda itu dan berkata, “Wahai saudaraku, angkatlah pakaianmu! Sesungguhnya hal itu akan lebih bersih bagi pakaianmu dan lebih menaikkan ketaqwaanmu kepada Rabbmu”, [Lihat kisahnya di Al-Bidayah Wan Nihayah tulisan Ibnu Katsir].

Di tengah keadaan yang cukup kepayahan menjelang sakaratul maut, Umar masih sempat mengingatkan seorang pemuda tentang gaya pakaiannya. Terdenger remeh memang, tetapi hikmahnya adalah betapa Umar RA tidak pernah menganggap remeh setiap permasalahan pun. Atau justru sebaliknya, justru itulah pesan Umar terakhir yang penting karena biasanya orang banyak berpesan hal-hal yang penting menjelang kematiannya. Barangkali di mata Umar, persoalan pakaian bukanlah persoalan remeh temeh namun juga tetap penting dan perlu diperhatikan. Wallahu a'lam.

Ahmed Fikreatif (Blogger/Narablog)
Lengkapnya Klik DISINI

Tips Perawatan Telinga Agar Tetap Sehat

Telinga adalah organ yang kompleks. Telinga terdiri dari tiga wilayah utama. Pertama, telinga luar untuk melindungi gendang telinga dari kerusakan langsung. Telinga tengah adalah rongga berisi udara yang menghubungkan ke bagian belakang hidung melalui tabung Eustachio, yang akan terbuka bila Anda menelan atau menguap. Yang terakhir adalah tulang kecil yang mengirimkan getaran dari gendang telinga ke telinga bagian dalam atau koklea.

Kesehatan telinga penting untuk kita jaga. Selain membebaskan kita dari rasa sakit dan infeksi, juga menyelamatkan pendengaran dari kerusakan.

Sayang, tidak banyak orang yang tahu bagaimana cara merawat telinga dengan baik. Sebagai contoh, berharap memiliki telinga yang bersih, seseorang dengan frekuensi sering menggunakan cotton bud untuk membersihkannya. Padahal, terlalu sering membersihkan telinga dapat menyebabkan infeksi dan kerusakan telinga hingga permanen.

Dilanisir dari laman Daily Mail, Sabtu, 25 Juni 2011, berikut ini beberapa saran yang bisa Anda lakukan untuk mendapatkan telinga yang sehat.

1. Telinga bagian luar dirancang sebagai tempat yang mudah untuk dibersihkan. Cotton bud yang biasa Anda gunakan bukan berfungsi membersihkan, melainkan malah mendorong kotoran telinga semakin dalam. Cara yang paling baik adalah dengan menggunakan air dan sabun. Sebab, telinga dengan sendirinya akan mendorong kotoran keluar. Selain itu, Anda juga bisa menggunakan minyak zaitun untuk melunakkan kotoran telinga.

2. Jangan khawatir dengan perubahan warna kotoran telinga Anda. Tekstur dan warna dapat berbeda pada setiap orang. Bisa lembut atau keras, bisa berwarna oranye atau kecokelatan. Namun, jika sudah berwarna hijau dan kental, tandanya telinga Anda mengalami infeksi. Dan itu harus segera diobati.

3. Jangan pernah menggaruk telinga ketika terasa gatal. Rasa gatal bisa diakibatkan oleh eksim atau psoriasis. Segera ke dokter untuk mendapatkan pengobatan.

4. Tiap jenis infeksi pada telinga membutuhkan penanganan dari dokter ahli. Ada 2 jenis infeksi, yakni pada telinga luar dan telinga tengah. Untuk bagian luar umumnya terjadi karena terkena air kotor. Telinga menjadi sakit, bengkak, atau bahkan bernanah. Biasanya, diobati dengan tetesan antibiotik. Sementara itu, untuk bagian tengah, terkadang bisa berdampak buruk pada gendang telinga. Gendang telinga bisa pecah. Biasanya, penderita diberi resep tablet antibiotik selain menggunakan resep obat tetes.

5. Rasa nyeri yang muncul bukan semata-mata karena telinga Anda bermasalah, tetapi bisa karena Anda menderita radang tenggorokan atau nyeri sendi leher. Tapi, saat Anda merasa nyeri di telinga, ada baiknya Anda konsultasikan pada dokter.

6. Pendengaran Anda bisa berkurang karena faktor usia. Namun, jika usia bukan penyebabnya, segera konsultasikan kepada dokter. Pendengaran berkurang secara mendadak bisa karena kerusakan sel-sel rambut.

7. Mendengarkan musik dengan keras dan dalam waktu yang lama dapat merusak sel-sel rambut. Akibatnya, pendengaran Anda pun lama-kelamaan berkurang.

8. Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan pendengaran Anda berkurang. Pertama, tamparan di telinga yang menyebabkan gendang telinga berlubang. Biasanya, membran akan sembuh dengan sendirinya dalam 6 minggu. Tapi, telinga harus tetap kering agar infeksi tidak semakin parah. Selain itu,  dipukul di bagian telinga saat sedang berenang juga berakibat pada berkurangnya pendengaran. Sebab, air dipaksa masuk ke dalam telinga. Trauma dan patah tulang tengkorak sering kali merusak telinga bagian dalam. Akibatnya, dapat mengurangi pendengaran seseorang.

9. Saat melakukan perjalanan dengan pesawat pun telinga terkadang terasa sakit. Untuk mengurangi rasa sakit itu, Anda bisa menutup hidung dan meniup telinga dengan lembut. Atau menguap pun terkadang menjadi solusi.[muslimdaily.net/temp]
Lengkapnya Klik DISINI

10 KEAJAIBAN MENAKJUBKAN PADA TUBUH KITA



1. Kalian dapat hidup walaupun kehilangan banyak organ dalam
Mungkin banyak diantara kalian semua yang berpikiran, jika kita kehilangan salah 1 organ internal, maka kita akan segera mati, walaupun hal ini berlaku untuk organ hati dan jantung, namun tidak berlaku bagi organ-organ internal lainnya. Faktanya, walaupun kalian kehilangan limpa, 1 ginjal, 1 paru-paru, 75% bagian hati, 80% bagian usus, dan organ lainnya yang terletak di daerah pinggul dan pangkal paha, kalian semua masih dapat hidup ! Walaupun fungsi2 organ yang ada tidak dapat berjalan dengan baik dan anda tidak dapat hidup selama yang diinginkan, paling tidak, anda masih dapat hidup tanpa organ2 tersebut.

2. Kematian ratusan juta sel
Setiap menit, tubuh kita sekarat, ini adalah fakta ! Setiap 60 detik berlalu, tubuh kita kehilangan 300.000.000 sel. Yupz, ini merupakan jumlah sel yang sangat banyak, yang besarnya dapat disamakan dengan jumlah populasi negara usa. Mungkin ada diantara kalian yang berpikir, jumlah sel yang mati sangatlah banyak, kenapa tubuh manusia tidak juga membusuk? Hal ini terjadi karena jumlah sel yang lahir lebih banyak daripada jumlah sel yang mati. Setiap hari, 10-50 triliun sel digantikan di dalam tubuh kita.

3. Rambutmu merupakan "superman" tubuhmu
Ketika ane mengatakan rambutmu merupakan "superman" tubuhmu, hal ini berarti bahwa rambut merupakan salah 1 bagian badan yang sulit dihancurkan. Kerusakan rambut berjalan pada tingkat yang sangat lambat dan ini artinya rambut dapat bertahan lebih lama daripada bagian lain dari tubuh. Faktanya, mumi yang telah dimakamkan ratusan bahkan ribuan tahun lamanya masih memiliki rambut di kepalanya. Perubahan iklim, kelembapan, suhu, atau akibat zat asam dan kimia, tidak dapat merusak rambut kaskuser semua. Satu-satunya kelemahan utama dari rambut adalah api....(koq bisa)..karena struktur pembentuk rambut terdiri dari bahan karbon. (mungkin kalian semua berkata, ya ialah, ga usah rambut, hampir semua bagian tubuh klo dibakar pasti lenyap tak berbekas.

4. Waspadai kekuatan asam lambung
Perut juga merupakan salah 1 bagian terkuat dalam tubuh. Di dalam perut terdapat asam lambung yang sangat kuatnya, sehingga dapat melarutkan zat seng. Kalian mungkin berpikir, dengan asam lambung yang begitu kuatnya, mungkin dapat membuat perut kita bolong....tetapi hal ini tidak terjadi karena lapisan di dalam perut kita dapat segera memperbaharui dirinya dengan begitu cepat untuk mencegah asam lambung merusak perut kita. Jika bukan karena kapasitas memperbaharui dengan cepat ini, mungkin semua manusia memiliki perut yang bolong.

5. Paru-paru, tulang dan kuku
Berikut ini, adalah fakta dari ketiga hal di atas. Pertama, paru-paru kalian berisi pembuluh darah kecil yang disebut kapiler. Dalam paru-paru terdapat 300 juta kapiler, yang jika kita ambil semua kapiler tersebut, dan kita bentangkan dari ujung ke ujung, maka akan menghasilkan panjang sebesar 1500 mil. Kedua, kalian dapat mematahkan tulang, tetapi sebenarnya tulang itu cukup kuat. Satu blok tulang sebesar korek api, dapat menahan berat sampai 9 ton.ketiga, kuku kalian terus berkembang secara konstan dan ketika kehilangan kuku tangan/kaki, akan membutuhkan waktu selama setengah tahun agar kuku tersebut dapat tumbuh dari pangkal ke ujung kuku

6. Kita selalu tumbuh setiap malam
Ya, benar ! Setiap malam, tubuh kaliam tumbuh dengan sedikit. Diperkirakan tubuh tumbuh sekitar sepertiga inch saat tertidur karena cakram tulang rawan tertekan oleh gravitasi ketika kaskuser duduk atau berdiri. Jadi, ketika mulai bangun dan berjalan, tinggi badan akan menyusut ke tinggi semula. (jadi agar tinggi badan tidak menyusut, jangan bangun dari tidur.

7. Nature's filter
Ginjal berfungsi untuk membersihkan racun dalam tubuh. Yang menakjubkan disini adalah kapasitas filter dari ginjal. Setiap ginjal mengandung 1 juta filter. Hal ini berarti di dalam tubuh mengandung 2 juta filter, yang menyaring 1,3 liter darah per menit dan mengeluarkan urin 1,4 liter per hari ! Tanpa fungsi filter ini, racun akan menumpuk di dalam tubuh kita dan kita akan sering sakit dan dekat dengan kematian....inilah sebabnya orang2 yang mengalami gagal ginjal, perlu melakukan pencucian darah rutin.

8. Tubuh kita panas !!!
Tubuh manusia adalah sebuah mesin produksi energi yang besar. Ketika melihat tubuh manusia menggunakan teknologi infra merah, yang terlihat adalah pancaran panas yang keluar dari tubuh manusia. Panas yang dihasilkan oleh tubuh, membantu manusia untuk tetap hidup. Faktanya, tubuh manusia dapat menghasilkan panas hanya dalam waktu 30 menit, dimana hasilnya adalah panas tersebut dalam membuat setengah galon air mendidih. Yang terlihat memang tidak seperti ketika memasak air hanya dalam waktu beberapa menit di atas kompor, namun ingatlah bahwa dengan panas tersebut dan tanpa melakukan apapun setiap hari, panas itu membuat tetap hidup hingga hari ini.

9. Kita adalah makhluk visual
Kita adalah makhluk visual karena sebagian informasi yang kita peroleh berasal dari indra penglihatan daripada indra lainnya. Meskipun kelelawar dapat memproses sebagian besar informasi melalui telinganya, kita memproses lebih dari 90% informasi melalui mata kita, sedangkan 10% informasi lainnya diproses melalui indra sentuhan, rasa, bau, dan suara.

10. Melewati batas kecepatan
Tubuh manusia tidak dapat bergerak secepat binatang lain, cheetah contohnya, tetapi manusia bisa melebihi kecepatan 100 mil per jam dengan sesuatu, bersin.Ketika kita bersin, kita mengeluarkan udara dari hidung dan mulut dengan kecepatan 100 mil per jam. Dan itu merupakan sesuatu hal yang harus dibanggakan... Sebagai tambahan informasi , apabila bersin, jangan ditahan. Apabila tetap nekat menahan bersin, akibatnya adalah menyebabkan patah tulang di tulang rawan hidung, mimisan, pecah gendang telinga, gangguan pendengaran, vertigo (gejala sakit berupa sensasi berputar), dan retina yang terlepas atau mengalami emfisema (hal ini karena tubuh berusaha menahan kecepatan dari bersin yang tinggi). Jadikalau bersin jangan ditahan ya!!!
Lengkapnya Klik DISINI

Awali Sukses Anda Dengan Tersenyum

Ilustrasi ( ft Zahra)
Mungkin pernah diantara kita berobat ke rumah sakit dan menunggu di ruang tunggu untuk menunggu panggilan sesuai urutan nomer antrian. Banyak, selain kita, pasien yang mengeluh atas rasa sakitnya, ada yang mulutnya manyun karena gigi nya sakit, ada yang lemes karena sudah 6 hari sakit bisulnya tidak kunjung sembuh, ada yang tidak bergairah karena sudah 1 minggu tidak bisa tidur nyenyak, intinya diruangan itu semua bermuka muram, kusam, lesu, letih, lemah, tidak ada gairah sama sekali.

Mungkin sebagian dari kita pernah ada yang mengalami, ketika ada seorang ibu menggendong bayinya dan duduk disebelah orang yang sedang sakit gigi untuk mengantri, bayi tersebut kemudian tersenyum kepada laki-laki itu, senyuman bayi yang ikhlas, yang lepas, yang lebar, yang indah dan kira-kira apa yang dilakukan oleh lelaki yang sedang menahan sakit giginya itu? Benar, dia membalas senyuman si bayi tadi, walaupun dengan menahan rasa sakit giginya yang luar biasa.

Kisah ini bisa kita tarik ibroh yaitu tentang kekuatan senyuman. Bagaimana senyuman yang tulus & ikhlas yang keluar dari hati yang lapang akan memberikan feedback yang luar biasa, yaitu timbul sifat keakraban, kekeluargaan bahkan seorang bayi bisa memberikan kehangatan kepada seluruh pasien di ruang tunggu hanya karena tersenyum kepada mereka.

Lebih baik kita tersenyum daripada merengut. Buatlah suasana hati kita supaya bisa selalu tersenyum. Nyanyikan lagu-lagu yang membuat kita bisa tersenyum lepas, membaca hal-hal yang lucu atau mengobrol dengan teman-teman seputar hal yang menyenangkan.
Mulai hari ini marilah kita menarik dagu kita, menegakkan kepala kita, dan buatlah senyuman terindah yang kita punya supaya memberikan efek positif kepada lingkungan, dan juga dengan senyuman maka kehidupan akan berjalan harmonis, orang-orang yang mempunyai banyak masalah akan cepat riang ketika kita memberikan senyuman hangat yang tulus kepadanya. Hilangkan pikiran takut, takut kalau orang yang kita berikan senyuman salah sangka kepada kita. Tebarlah senyuman kepada orang-orang yang kita cintai dan sayangi.

Orang-orang sukses bukan orang-orang yang sibuk memikirkan dunia ini, tetapi mereka yang sibuk melepas senyuman mereka kepada orang-orang yang mereka temui, dan orang pandai pastinya tidak perlu merengutkan dahi ketika terjadi masalah, cukup dengan tersenyum insyaAllah masalah akan selesai karena dia tahu apa yang harus dilakukan. Terkadang manusia suka membesar-besarkan masalah yang tidak seharusnya dibesarkan, proporsionalkanlah, jangan membuat masalah besar menjadi kecil dan sebaliknya, membuat masalah kecil menjadi besar.

Tetapi seberapa besar masalah yang kita hadapi tetaplah tersenyum karena Innallahu ma’ana (Allah bersama kita), jadi tidak ada yang perlu dicemaskan bukan? Dengan tersenyum akan membuka pikiran yang buntu, akan membuka hati yang gundah, akan menyegarkan wajah yang muram, akan menguatkan langkah kaki yang bingung mau melangkah kemana.

Tersenyumlah saudara-saudaraku, seandainya dunia ini tidak memiiki bahasa maka cukup dengan tersenyum saja dunia ini akan indah, seperti bayi yang berada di ruang tunggu.

Abu Ayman
lulusan Sastra Arab Universitas Indonesia, dosen ”Personality Development” di perguruan tinggi swasta di Jakarta
sumber:http://www.fimadani.com/awali-sukses-anda-dengan-tersenyum/

cat: foto kami ganti sebagai ilustrasi (yahya ayyasy) 
Lengkapnya Klik DISINI

Buah Mentimun, Obat Alami Isteri Nabi

Buah Mentimun, Obat Alami Isteri Nabi



Selama ini, mungkin, kita hanya tahu mentimun sebagai sayuran dan pelengkap makanan. Padahal, banyak manfaat yang dikandung oleh sayuran ini, baik untuk kecantikan maupun kesehatan. Berikut ini pemaparannya sebagaimana pernah dimuat dalam Majalah Hidayatullah
.
Di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sayuran ini sudah dipakai sebagai salah satu bahan untuk kesehatan. Biasanya, mentimun dikombinasi dengan kurma segar untuk menjaga kesehatan. Dalam sebuah Hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW sering melakukannya.
Dari Aisyah bahwasanya, “Rasulullah sering makan mentimun dicampur dengan kurma basah.” (Riwayat Tirmidzi)
Selain untuk menjaga kesehatan, kombinasi keduanya juga untuk meningkatkan berat badan dan mengubah bentuk tubuh yang semula kurus ceking menjadi lebih berisi. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Aisyah Radhiyallahu ‘anha (RA) ketika hendak dipertemukan dengan Rasulullah SAW, rutin mengonsumsi mentimun dan kurma basah untuk mendapatkan tubuh yang ideal. Maklum, ketika itu tubuhnya kecil dan kurus.
Aisyah berkata, “Ibuku mengobatiku agar aku kelihatan gemuk, saat dia hendak mempertemukan aku dengan Rasulullah, dan usaha itu tidak membuahkan hasil sehingga aku memakan mentimun dengan kurma basah. Kemudian aku menjadi gemuk dengan bentuk yang ideal.” (Riwayat Ibnu Majah)
Selain itu, mengonsumsi kurma dan mentimun bisa memperbesar ukuran payudara bagi kaum wanita.
Dalam ilmu pengobatan Islam, sayur yang memiliki nama ilmiah cucumis sativus ini dikenal dengan nama qitsa’ atau khiyar. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut sayuran ini dalam surat Al Baqarah: 61.
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik ? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”.
Hasil penelitian modern menyebutkan bahwa mentimun mengandung 0,65% protein, 0,1% lemak, dan 2,2% karbohidrat. Selain itu, juga mengandung zat bermanfaat lain, seperti kalsium, zat besi, magnesium, fosforus, vitamin A, vitamin B1, vitamin B2 dan vitamin C.
Karena banyak mengandung bahan penting itu, mentimun sangat baik digunakan sebagai tonik (menjaga kesehatan). Selain itu, ia juga bisa digunakan untuk mengobati beberapa penyakit. Jus mentimun bersifat mendinginkan badan dan menurunkan panas pada saat demam. Juga menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi, serta menyehatkan saluran pencernaan.

Ia juga merupakan peluruh kencing yang baik, sementara irisan mentimun yang dikompreskan pada kelopak mata saat terpejam, dapat menghilangkan noda hitam pada kantung mata akibat kurang tidur.
Masker wajah dengan mentimun yang dihaluskan merupakan ramuan alami untuk meremajakan sel-sel kulit wajah agar tetap awet muda dan mencegah keriput. Sementara bila secara teratur dioleskan/dibalurkan pada pangkal paha atau bagian pantat, bisa berkhasiat menghilangkan selulit.

Beberapa khasiat lain dari mentimun juga dibahas dalam beberapa Hadist Nabi maupun dalam Al Qur`an yang pada dasarnya berkhasiat untuk kesehatan, kebugaran, dan kecantikan. (hidayatullah)
Lengkapnya Klik DISINI

Nilai - Nilai Harokah dalam Peristiwa Isra' dan Mi'raj

 http://stat.kompasiana.com/files/2010/07/isra21.jpg





سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ   
17.1. Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.


Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah sebuah peristiwa  Maha dahsyat yang terjadi  pada tanggal 27 Rajab  tahun ke 12 dari kenabian . dimana Alloh SWT mengawali firman Nya dalam surat Al-Isra’ ayat 1 dengan kalimat Subhana ( Maha Suci Alloh ) untuk menggambarkan betapa Agung dan Sucinya peristiwa ini, didalamnya banyak terkandung hikmah dan pelajaran yang sangat berharga bagi Rasululloh sendiri ,sahabat,hingga kita ummatnya yang hidup dizaman  kini .Peristiwa ini lebih tepatnya tejadi kira-kira 8 bulan sebelum Hijrahnya Rasululloh Saw dari Mekkah ke Madinah Sehingga para Mufassirin berpendapat bahwa ada Korelasi yang kuat antara peristiwa Isra’mi’raj dengan Peristiwa hijrah. Ada Nilai-Nilai Harokah (Pergerakan Dakwah) yang terkandung didalamnya.

Ada dua fase yang pertama Fase yang harus kita cermati jika kita ingin mengambil makna harokiyah dari peristiwa mi’raj,Fase yang pertama adalah sebelum Isra Mi’raj ,yang kedua adalah fase disaat rasululloh di Isra’mi’rajkan.

Fase sebelum isra Mi’raj

1. AlFitnatu  Alaa thoriiqid dakwah ( Fitnah dijalan dakwah )

Fitnah  dan  gangguan yang dialami Disepanjang perjalanan dakwah Rasululloh sebelum isra’ mi’raj merupakan salah satu penyebab Semakin terasa beratnya Amanah dakwah yang dipikul oleh Rasululloh dan para sahabatnya dikala itu.terlebih lagi peristiwa boikot yang dilakukan orang kaum Quraisy kepada seluruh keluarga Bani Hasyim. Kaum Quraisy tahu bahwa sumber kekuatan Nabi Saw adalah keluarganya. Oleh karena itu untuk menghentikan dakwah Nabi Saw. sekaligus menyakitinya, mereka sepakat untuk tidak mengadakan perkawinan, transaksi jual beli dan berbicara dengan keluarga bani Hasyim. Mereka juga bersepakat untuk tidak menjenguk yang sakit dan mengantar yang meninggal dunia dari keluarga Bani Hasyim. Boikot ini berlangsung kurang lebih selama tiga tahun. Tentunya boikot selama itu telah mendatangkan penderitaan dan kesengsaraan khususnya kepada Nabi Saw. dan umumnya kepada keluarga Bani Hasyim. hal ini menyiratkan makna bagi kita bahwa : Ujian-ujian berat akan selalu mengiringi perjuangan para penggiat dakwah(Muharik dakwah) dimanapun dan sampai kapanpun.
Firman Alloh dalam surat Al-Anfal ayat 30

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُواْ لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللّهُ وَاللّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

8.30. Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.


2. Ahamiyah Ta’yiidu da,wah (Urgensi Dukungan Terhadap Dakwah)

Peristiwa wafatnya paman beliau, Abu Thalib. Peristiwa ini menjadi sangat penting dalam perjalanan dakwah Nabi Saw. sebab Abu Thalib adalah salah satu paman beliau yang senantiasa mendukung dakwahnya dan melindungi dirinya dari kejahilan kaum Quraisy. Dukungan dan perlindungan Abu Thalib itu tergambar dari janjinya," Demi Allah mereka tidak akan bisa mengusikmu, kecuali kalau aku telah dikuburkan ke dalam tanah." Janji Abu Thalib ini benar. Ketika ia masih hidup tidak banyak orang yang berani mengusik Nabi Muhammad Saw, namun setelah ia wafat kaum Quraisy menjadi leluasa untuk menyakitinya .

Peristiwa wafatnya istri beliau, Siti Khadijah r.a. Peristiwa ini terjadi tiga hari setelah pamannya wafat. Siti Khadijah bagi Nabi Saw. bukan hanya seorang istri yang paling dicintai, tapi juga sebagai sahabat yang senantiasa mendukung perjuangannya baik material maupun spiritual, yang senantiasa bersama baik dalam keadaan suka maupun duka. Oleh karena itu, wafatnya Siti Khadijah menjadi pukulan besar bagi perjuangan Nabi Saw. Namun Alloh menghibur Rasululloh dengan Firmannya di surat al-anfal ayat 64

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللّهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ 
8.64. Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mu'min yang mengikutimu.

Dari dua peristiwa yang disebut sebagai peristiwa  Amul hujn (tahun Duka Cita)  tergambarkanlah bahwa betapa pentingnya dukungan keluarga terhadap dakwah .namun dukungan utama kita adalah Alloh SWT (Ta’yidulloh) dan dukungan orang-orang yang beriman(Ta’yidul Mu’minin).

Fase Isra’ dan Mi’raj

3.Al-masjidu Markazul Harakah (Masjid sebagai pusat pergerakan)

Sebelum Rasulullah mi’raj ke sidratil muntaha bersama malaikat jibril mengendarai buraq.beliau SAW mengawali perjalanannya (isra’) dari Masjidil haram ke masjidil Aqso (minal masjid ilal masjid) bahkan nabi sempat mengimami sholat bersama para nabi dimasjid al-aqso (palestina) sabdanya :

Dari Abu Hurairah, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW : "..... Dan sungguh telah diperlihatkan kepadaku jama'ah para nabi. Adapun Musa, dia sedang berdiri shalat. Dia lelaki tinggi kekar seakan-akan dia termasuk suku Sanu'ah. Dan ada pula 'Isa bin Maryam alaihi`ssalam sedang berdiri shalat. Manusia yang paling mirip dengannya adalah 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi. Ada pula Ibrahim 'alaihi`ssalam sedang berdiri shalat. Orang yang paling mirip dengannya adalah sahabat kalian ini, yakni beliau sendiri. Kemudian diserukanlah shalat. Lantas aku mengimami mereka. Seusai shalat, ada yang berkata (Jibril): "Wahai Muhammad, ini adalah Malik, penjaga neraka. Berilah salam kepadanya!" Akupun menoleh kepadanya, namun dia mendahuluiku memberi salam.(H.R.Muslim)

Jika ummat islam ingin kembali kepada kejayaannya maka kembalilah kemasjid ( back To mosque), jadikan mesjid sebagai pusat perjuangan

4. Ats-tsiqoh bil qiyadah (Percaya kepada Pemimpin dakwah)

Saat Nabi SAW diisrakan ke Masjid al-Aqsha, subuhnya orang-orang membicarakan hal itu. Maka sebagian orang murtad dari yang awalnya beriman dan membenarkan beliau. Mereka memberitahukan hal itu kepada Abu Bakar radhiya`llahu anhu. Mereka bertanya: "Apa pendapatmu tentang sahabatmu yang mengaku bahwasanya dia diisrakan malam tadi ke Baitul Maqdis?" Dia (Abu Bakar) menjawab: "Apakah ia berkata demikian?" Mereka berkata: Ya. Dia menjawab: "Jika ia mengatakan itu, maka sungguh ia telah (berkata) jujur." Mereka berkata: "Apakah engkau membenarkannya bahwasanya dia pergi malam tadi ke Baitul Maqdis dan sudah pulang sebelum subuh?" Dia menjawab: "Ya, sungguh aku membenarkannya (bahkan) yang lebih jauh dari itu. Aku membenarkannya terhadap berita langit (yang datang) di waktu pagi maupun sore." Maka karena hal itulah, Abu Bakar diberi nama ash-Shiddiq (orang yang membenarkan). HR al-Hakim dari Aisyah radhiyallahu anha. Shahih lighairih menurut  dalam ash-Shahihah (I: 306)

Sikap yang ditunjukkan oleh abu baker As-Shidiq adalah sifat seorang kader dakwah sejati yang begitu tsiqohnya terhadap Rasululloh sebagai Qiyadah Dakwah ( pimpinan dakwah ) tak terpendam  dalam hatinya Amrodutsstiqoh (Krisis kepercayaan) karena Rasululloh adalah seorang qiyadah yang memiliki sifat Shidiq,Amanah,Tabligh,dan Fathonah.
Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......