Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

Kisah Nyata Keajaiban 6 Amalan: Hutang Lunas, Istri Kembali

“Lik, kalau besuk kamu nggak bisa melunasi utangmu, lebih baik kamu mengosongi rumah ini. Atau, aku yang akan mengosongi rumahmu ini” ancam rentenir, Ahad pagi itu. Dunia makin terasa sempit bagi Malik. Sudah tiga tahun ini ia bergelut dengan masalahnya, namun tak juga ia sanggup mengatasi masalah-masalah yang membelitnya, termasuk hutang tersebut. Malik sudah berusaha mencari pinjaman, tapi hasilnya nihil. Kurang dari 24 jam lagi rumah satu-satunya itu akan disita.

Setelah si rentenir pergi, datanglah tamu kedua yang tidak lain adalah istrinya sendiri. Sudah 2 tahun suami istri itu pisah ranjang.

“Kalau Abang belum juga menandatangani surat cerai saya, insya Allah besuk siang ada yang akan datang menjemput paksa Abang. Jadi besuk pukul 12 siang, saya tunggu di Pengadilan Agama untuk tanda tangan surat cerai!” Malik makin bongkok mendengar tuntutan istrinya itu. Ah... kalau saja si Malik tidak selingkuh. Ia masih ingat masa itu, ketika masih jaya-jayanya, Malik punya hobi main judi dan minum. Ketika usahanya bangkrut, hobi itu menjadi pelarian. Di tahun kedua ia main judi dan mabuk, terjadilah ‘perselingkuhan’ itu. Malik sudah menjelaskan bahwa ia selingkuh tidak sengaja, tetapi istrinya tidak terima. Pulang ke rumah orangtuanya dan meminta cerai.

Setelah Asar, anak pertama datang ke rumah. “Pak, besuk aku sudah nggak bisa sekolah lagi!”
“Kenapa?” tanya Malik
“Habis Bapak tidak membayarkan uang sekolah. Sudah tujuh bulan nunggak.”
Malik semakin bingung. Tiga masalah menumpuk dan memuncak di hari itu. Pikiran Malik semakin gelap seiring hari yang juga mulai gelap. Akhirnya malam itu, Malik memutuskan untuk bunuh diri.

Untunglah Malik masih punya sedikit iman. Sebelum bunuh diri, ia ingat belum Shalat Isya’. Sudah lama sebenarnya Malik tidak shalat, dan ia ingin shalat untuk terakhir kalinya sebelum ia meninggal. Keinginan untuk shalat ini rupanya adalah taufik dari Allah yang membuat Malik secara tak sengaja mengamalkan 6 amalan yang diwasiatkan Rasulullah kepada umatnya jika sedang dilanda gelisah. Fal yatawadh-dha’, langkah pertama adalah berwudhu.

Setelah berwudhu, tiba-tiba hati Malik mulai tenang. “Ya Allah... saya belum pernah dapat ketenangan seperti ini!”

Malik kemudian menunaikan shalat Isya’. Langkah kedua dalam wasiat Rasulullah: wal yushalli rak’atain dikerjakan oleh Malik. Meskipun yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah Shalat Hajat, namun esensinya sama dengan Shalat Isya’ yang dilakukan Malik.

Setelah shalat, Malik melihat Al Qur’an di atas rak bukunya. “Mengaji dulu ah, untuk terakhir kali,” kata Malik yang kemudian secara tak sengaja membuka Surat Ali Imran ayat 26.

”Katakanlah, ‘Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Seakan-akan Allah mengatakan kepada Malik: “Lik, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kata siapa rumahmu akan disita jika Allah mengamankannya? Kata siapa kau aka bercerai jika Allah menyatukan kalian? Kata siapa anakmu akan putus sekolah jika Allah memberi rezeki? Semua keputusan ada di tangan-Ku”

Namun Malik tetap belum percaya. Bagaimana mungkin uang 15 juta bisa ia dapatkan dalam hitungan jam. Bagaimana mungkin ia bisa kembali harmonis dengan istrinya jika jam 12 besuk ia harus bercerai di pengadilan.

Kemudian Malik meneruskan bacaannya. Ternyata artinya: ”Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki, tanpa batas.” (QS. Ali Imran : 27)

Malik masih ragu. Ia pun membuka lembaran mushaf yang lain dan membaca Surat Faathir ayat 2-3.

”Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yan dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah, maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling?”

Setelah membaca ayat ini, Malik pun sadar. Ia memohon ampun kepada Allah karena telah berniat bunuh diri yang dosanya sangat besar. “Kalau semua urusan adalah kehendak Allah, saya tidak jadi bunuh diri deh,” kata Malik sambil menutup mushafnya.

Malik kemudian mematikan seluruh lampu rumahnya, kecuali kamarnya dan kamar anaknya. Ia ingin bermunajat kepada Allah. Yang ternyata, itu amal keempat dalam wasiat Nabi setelah berwudhu, shalat dan membaca Qur’an.

Malik berdoa dengan khusyu’ memohon kepada Allah agar rumahnya tidak jadi disita, tidak jadi cerai dengan istrinya dan anaknya bisa tetap sekolah. Malik mengiringi doanya dengan membaca asmaul husna yang dihafalnya: Ya Aziizu ya Hakiim, ya Ghafuru ya Rahiim.

Malik terus berdoa dan membaca asmaul husna hingga jam 1. Mata terasa ngantuk, tetapi Malik tidak menyerah. Ia pun berwudhu dan membaca Qur’an lagi. Kali ini ayat yang dibuka tepat tentang keutamaan taqwa dan tawakkal. Surat Ath Thalaq ayat 2-3.

”Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”

Selesai membaca ayat ini, Malik kembali berdoa. Namun, kali ini doanya berbeda dari doa sebelumnya. Ia benar-benar bertawakkal dalam doanya. “Ya Allah... ampuniah dosaku. Jika besuk para rentenir itu datang, aku memasrahkan rumah ini. Aku telah menyerahkan semuanya kepadaMu...”

Setelah bertawakkal, kini Malik mendapatkan petunjuk untuk melakukan amalan keenam yang diwasiatkan Nabi, yaitu wal yatashaddaq, bersedekahlah. Malik ingat bahwa yang akan disita dalah rumahnya saja, sedangkan isinya tidak. Maka ia pun berencana menyedekahkan isi rumah itu. Ia akan keluar dari rumah itu hanya membawa pakaian saja.

Adzan Subuh terdengar. Malik yang sebelumnya lama tidak ke masjid, kini pergi ke rumah Allah itu untuk shalat berjamaah. Selesai shalat, dzikir dan doa, Malik tidak langsung pulang. Ia ingin terus menenangkan hatinya di masjid. Ia pun membaca surat Al Waqi’ah. Ia pernah mendengar, siapa yang membaca surat Al Waqi’ah akan dijauhkan dari kefakiran.

Tepat pukul 6 pagi, Malik keluar dari masjid. Begitu nyampai rumah, ia melihat sudah ada orang yang menunggunya. “keterlaluan si rentenir, janji datang jam 10, jam 6 sudah di sini,” kata Malik. Namun, ia tetap merasa tenang. Tak lupa ia membaca basmalah.

Ternyata tamu pagi-pagi ini bukan rentenir, melainkan teman lamanya. Singkat cerita, setelah saling sapa dan dibuatkan minum, sang teman menyampaikan maksud kedatangannya.

“Sebenarnya gue ada order Lik. Elu kan jago naksir alat-alat berat, bantu gue ya,” kata sang teman. Malik yang memang jago menaksir harga dimintanya untuk menemani ke luar kota yang mau mengadakan lelang alat berat.

“Maaf, nggak bisa. Gue lagi males,” jawab Malik.
“Aduh Lik, tolong dong... bisa rugi gue kalau elu nggak ikut”
Karena Malik tidak mau ikut temannya, ia pun iseng mengatakan, “Begini, deh. Kalau memang elu mau tetap ngajakgue juga, siapkan duit 50 juta cash di meja gue”

Perkiraan Malik, tidak mungkin temannya menyanggupi hal itu. Namun bagi Allah, semuanya bisa terjadi atas kehendakNya. Kun fayakun.

“Lik, kalau 50 juta mah nggak ada. Tapi kalau 25 juta ada, pagi ini cash pun gue siapin”
“Tolong diulang yang tadi,” kata Si Malik yang tersedak mendengar kesanggupan sang teman.
“Kalau 25 juta, bisa langsung gue siapin. Cash”

Alhamdulillah... selesailah masalah pertama. Masalah utang 15 juta itu beres, bahkan ada sisa 10 juta. Tinggal dua masalah lagi. Istri dan anak.

Rupanya, ketika Malik berdoa di malam hari, anaknya yang bungsu tak bisa tidur, ia nangis terus. Orang tua dari istri Malik menyarankan agar si anak dipertemukan dengan Malik pagi-pagi. “Barangkali anakmu kangen bapaknya, ajaklah bertemu besuk pagi sebelum kalian bercerai.”

Setelah mendapatkan uang 25 juta tersebut, datanglah si istri ke rumah Malik sesuai saran orangtuanya. Malik tersenyum lebar menyambutnya. Si istri pun terheran-heran. Namun belum lagi hilang penasarannya, Malik segera memeluknya dan berkata: “Alhamdulillah, Mah, kita selamat!”
“Selamat apa Bang?”

“Abang dapat duit, nih 25 juta. Mamah tahu kan rumah kita diincar rentenir gara-gara utang Abang 15 juta. Ini uang 15 juta nanti Mamah pegang, bayarkan ke rentenir biar nggak datang lagi selamanya. Katanya mau datang jam 10. Sisanya kita bagi dua. 5 juta buat ongkos Abang ke Riau, yang 5 juta Mamah pegang buat urusan anak-anak. Selama Abang di Riau, tolong jaga anak-anak ya”

“Iya Bang” entah mengapa tiba-tiba kata-kata itu yang keluar dari bibir istrinya. Istri yang tadinya bersikeras meminta cerai tiba-tiba lulu hatinya.

Permasalahan kedua pun selesai. Tinggal permasalahan ketiga, yaitu masalah SPP anak. Masalah ini justru yang paling ringan karena tunggakan SPP hanya 7 bulan, sebulannya Rp 50 ribu. Jadi totalnya hanya Rp 350 ribu. 
 
[Disarikan dari Buku Kun Fayakun 2 karya Ustadz Yusuf Mansur]
*http://www.bersamadakwah.com/2013/04/kisah-keajaiban-6-amalan-hutang-lunas.html
Lengkapnya Klik DISINI

Ini yang Terjadi pada Tubuh Saat Minum Soda


 
Nih buat Sobat  yang masih doyan minum minuman bersoda. Wajib baca! ^__^

Meminum sekaleng minuman bersoda di siang hari benar-benar menggiurkan. Rasa dahaga segera berganti dengan kesegaran. Namun, tahukah Sobat, apa yang terjadi di dalam tubuh saat soda masuk ke dalamnya? 

Berikut ini ulasannya, seperti dilansir laman Daily Health Post.

10 Menit Pertama
Kandungan gula yang mencapai 10 sendok teh akan segera masuk ke dalam sistem tubuh. Kita memang tidak akan muntah karena rasa manis yang luar biasa. Pasalnya, asam fosfat yang terkandung di dalamnya akan memotong rasa itu.

20 Menit 
Kadar gula dalam tubuh akan naik yang akhirnya menaikkan kadar insulin. Hati kita akan mengatasinya dengan mengubah gula tersebut menjadi lemak.

40 Menit
Penyerapan kafein selesai. Tekanan darah akan meningkat. Hati akan merespons dengan mengalirkan gula ke dalam aliran darah. Kantuk akan hilang akibat reseptor adenosis di otak terblokir.

45 Menit 
Tubuh mulai merangsang dopamin yang merangsang pusat kesenangan di otak. Cara kerjanya sama seperti heroin.

Lebih dari 60 Menit
Asam fosfat akan mengikat kalsium, magnesium, dan seng dalam usus bagian bawah. Hal ini akan meningkatkan metabolisme tubuh secara signifikan. Dan parahnya, dosis tinggi gula dan pemanis buatan juga akan meningkatkan eksresi kalsium. Selain itu, sifat diuretik dari kafein muncul. Kita akan merasa ingin buang air kecil. Ditambah lagi, kadar gula yang mulai meninggi akan membuat kita mudah marah dan menjadi lamban.

Nah... ngeri gak tuh, Sob? O_o


tempo.co
Lengkapnya Klik DISINI

Menuju Cahaya: Keistimewaan Orientasi Islam

Hasan Al Banna
 Jika kita menempuh jalan Islam ini bersama umat, kita dapat memetik banyak, manfaat darinya. Hal ini antara lain dikarenakan:
  1. Kebenaran manhaj Islam telah teruji dan sejarah telah menjadi saksi atas keunggulannya.
  2. Manhaj Islam telah berhasil mencetak umat paling kuat, paling utama, paling sarat kasih sayang, dan paling diberkati di antara bangsa-bangsa yang ada.
  3. Dengan kesucian manhaj Islam dan telah bersemayamnya manhaj ini dalam dada manusia. menjadikannya mudah diterima semua kalangan, mudah dipahami, dan mudah diikuti pesan-pesannya. Apalagi Islam juga membenarkan bahkan menanamkan kebanggaan berbangsa dan memberikan bimbingan kepada manusia agar mencintai tanah airnya. Mengapa demikian? Karena kita harus membangun kehidupan ini di atas nilai-nilai kehidupan kita sendiri, tanpa perlu mengambil milik orang lain. Dan pada yang demikian itulah kita dapatkan hakekat kemerdekaan sosial dan kemuliaan hidup, setelah kemerdekaan secara politik.
  4. Berjalan di atas jalan ini berarti mengokohkan persatuan Arab secara khusus, dan persatuan Islam secara umum. Dunia Islam dengan segenap jiwanya telah memberikan kepada kita kepekaan perasaan, kelemahlembutan, dan dukungan, sehingga kita menyaksikan sebuah jalinan yang demikian kuat antara kita dengan Islam, yang keduanya saling memberi dukungan dan saling menghormati. Pada yang demikian itu ada sebuah keberuntungan (peradaban) yang besar, yang tidak mungkin diingkari oleh siapa pun.
  5. Manhaj Islam adalah manhaj yang sempurna dan menyeluruh. Ia memuat sistem paling utama untuk memandu kehidupan umat secara umum, baik kehidupan lahiriah maupun batiniah. Inilah keistimewaan Islam apabila dibandingkan dengan ajaran lain, di mana ia (Islam) meletakkan undang-undang kehidupan umat ini di atas dua pondasi pokok: mengambil yang maslahat dan menjauhi yang madharat.
Apabila kita menempuh jalan ini, kita akan terhindar dari berbagai kesulitan hidup, sebagaimana yang melanda berbagai bangsa yang tidak mengenal jalan ini, apalagi menempuhnya. Di atas jalan ini pula kita dapat memecahkan berbagai persoalan hidup yang pelik, yang tidak mungkin dapat dipecahkan oleh sistem nilai mana pun. Kita nukilkan ungkapan Bernard S. yang berkata, “Alangkah butuhnya dunia ini kepada seorang seperti Muhammad, yang dapat memecahkan berbagai persoalan pelik sembari meneguk secangkir kopi.”

Jika kita menempuh jalan ini, akan datanglah pertolongan dan dukungan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari belakang kita. Kedatangannya akan memompa semangat kita tatkala diliputi kelesuan, melepaskan kita dari kesulitan, meringankan kita dari beban berat, dan mendorong kita agar terus maju.

“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar musuhmu. Jika kamu menderita sakit, maka sesungguhnya mereka pun menderita sakit sebagaimana kamu, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (An-Nisa: 104)

Lengkapnya Klik DISINI

Protes Jenderal Mc Chrystal atas Dukungan Obama pada Kudeta Mesir

President Obama and McChrystal in the Oval Office in May 2009 (wikipedia)
Jenderal Stanley Allen McChrystal, mantan komandan Pasukan AS di Afghanistan dan Iraq menceritakan bahwa Obama mempensiunkan dirinya dari militer karena dia telah nyatakan pendapat yang menurutnya bentuk intervensi komandan militer ke dunia politik. Seperti halnya hari-hari ini Obama telah memback up jenderal As-Sisi lakukan kudeta terhadap pemerintahan sah konstitusional.

Jenderal Mc Chrystal menyatakan: "Apa bisa diterima oleh warga negara AS jika menteri pertahanan mengkudeta Obama, menangkapi anggota partainya, dibunuh, dibakar, dan dibubarkan paksa setiap orang yang demo mendukungnya. Bahkan membubarkan majelis senior, membubarkan konggres, merumuskan UU dan majelis tanpa pemilu, apa ini semua masuk akal?!!!

Inilah yang dilakukan pemerintah kami di Mesir (mendukung kudeta militer -ed), dan inilah yang perlu kami jelaskan pada rakyat AS, karena rakyat Mesir tidak inginkan kecuali hidup seperti kalian di AS."

Ia bertanya-tanya; "Kenapa kita memerangi proses demokratisasi dan mematikannya? Kita telah membunuh ribuan rakyat tak berdosa di Afghan, sehingga saya berhenti dan mengatakan: 'kita tidak mungkin menang melawan kaum muslimin di sana selamanya.' Inilah yang menyebabkan saya diganti."

Sampai sekarang ini, kondisi di Afghan seperti saat saya tinggalkan, maka benarlah apa yang saya katakan.

Berdasarkan pengalamanku maka aku katakan pada Obama:

"Anda telah memilih banteng pecundang di Mesir. Kaum muslimin  memiliki aqidah dan agama. Mereka meyakininya dan membelanya dan pantang menyerah. Oleh karena itu kaum muslimin di Mesir tidak akan terkalahkan selamanya."


[egyptwindow.net/UT.]
http://www.pkspiyungan.org/2013/10/protes-jenderal-mc-chrystal-atas.html
Lengkapnya Klik DISINI

Penulis Amerika: Yesus Cuma Hoax


Penulis Amerika: Yesus Cuma Hoax

Joseph Atwill, seorang penulis Amerika Serikat yang mengaku dirinya pakar Alkitab, yang menulis buku Caesar’s Messiah, mengatakan bahwa Yesus Kristus hanya hoax.

Atwill akan mengungkapkan pandangannya dalam sebuah simposium pada 19 Oktober 2013 mendatang. Ia akan menyampaikan topik “Covert Messiah”.

Menurut Atwill, Yesus adalah sosok yang sengaja diciptakan Romawi untuk menenangkan orang Yahudi yang pada masa lalu dinilai sering memberontak.

“Yahudi di Pakistan pada saat itu, yang menunggu Mesias datang, adalah sumber pemberontakan pada abad pertama,” kata Atwil.

“Ketika Romawi lelah untuk mengatasi pemberontakan secara konvensional, mereka beralih ke perang psikologis,” lanjut Atwill.

“Mereka menyadari bahwa cara untuk menghentikan misionaris Yahudi adalah dengan membuat kepercayaan tandingan. Di sanalah, sosok Mesias pencinta perdamaian diciptakan,” imbuhnya.

Penciptaan sosok Mesias itu diharapkan membuat Yahudi patuh dan membayar pajak kepada Romawi.
Atwill membuat kesimpulan bahwa Yesus adalah konstruksi Romawi setelah membandingkan naskah “War of the Jews” karya Flavius Josephus dengan teks Perjanjian Baru.

“Saya mulai melihat urutan pararel antara kedua teks,” kata Atwill seperti dikutip International Business Times, Rabu (9/10/2013) dan diberitakan situs kompas, Minggu, (13/10/2013).

Atwill menuturkan, lokasi dan peristiwa kemesiasan Yesus kurang lebih sama dengan lokasi dan peristiwa dari kampanye militer Titus Flavius, salah satu kaisar Romawi.

“Ini bukti jelas dari sebuah pola yang sengaja dibuat. Biografi Yesus dikonstruksi, dari ujung ke ujung, dari cerita sebelumnya, terutama pada biografi kaisar Romawi,” jelasnya.

Menanggapi pendapat Atwill, Ronald A Lindsay, peneliti senior di Center of Inquiry, sebuah organisasi non-profit, mengatakan, “Kenyataannya, kita sepertinya tidak akan pernah tahu ‘fakta’ tentang Yesus.”
“Ada terlalu banyak cerita yang berbeda tentang Yesus. Semua punya masalah kredibilitas yang serius dan tidak konsisten satu sama lain,” ungkap Lindsay.

Dikutip Discovery, Rabu, Lindsay mengatakan bahwa untuk para sejarawan yang obyektif, Yesus akan tetap menjadi figur yang seperti bayangan.

Namun, ada orang menganggap bahwa cerita soal Yesus adalah kebenaran yang tak terbantahkan. Sementara itu, ada orang seperti Atwill yang menganggap bahwa Yesus adalah sosok yang dibuat.
Lindsay mengungkapkan, “Saya pikir dua ekstrem ini hampir sama-sama tidak masuk akal.”

sumber : http://news.fimadani.com/read/2013/10/14/penulis-amerika-yesus-cuma-hoax/
Lengkapnya Klik DISINI

Chomsky: Buktikan Segera, Mursi Akan Kembali

Noam Chomsky, pemikir dan penulis Amerika (inet)
Noam Chomsky, pemikir dan penulis Amerika (inet)
Penulis dan pemikir Amerika, Noam Chomsky menyatakan bahwa saat ini sedang dilakukan persiapan dan komunikasi untuk menyiapkan kembalinya Presiden Mursi memerintah Mesir. Dalam sebuah ceramahnya di Universitas California, seperti yang diberitakan situs akhbarak.net edisi Selasa (15/10/2013), beliau memastikan kebenaran analisisnya selama ini, karena sumber-sumber informasinya dekat dengan pusat pengambilan keputusan.

Menurutnya, selain As-Sisi terlihat tidak bisa lagi mencegah kebocoran rahasia-rahasianya, sekarang sudah terjadi pertikaian dalam internal militer sendiri. Baik secara tertutup ataupun terbuka dan diketahui oleh publik. Sebelumnya, Chomsky juga sudah mengatakan bahwa jatuhnya kekuasaan kudeta baru akan dimulai jika terjadi pertikaian di internal mereka. Dan hal itu sekarang sudah diketahui semua orang.

Beliau membela diri ketika dituduh lebih memihak kepada Presiden Mursi, “Aku dituduh lebih mencintai dan memihak Presiden Mursi. Bahkan ada salah seorang teman menuduhku menjadi agen Ikhwanul Muslimin. Maka saat ini aku ingin menjawab, bahwa benar aku mencintai Presiden Mursi karena dialah presiden yang sah. Dia seorang presiden yang tidak terbukti sama sekali melakukan korupsi. Tapi walaupun demikian, aku bukanlah seorang pengikut atau anggota Ikhwanul Muslimin. Bahkan seorang muslim pun tidak. Aku aku sangat benci orang-orang yang perbuatannya menyalahi perkataannya.”

Chomsky juga mengatakan bahwa dirinya sering berkomunikasi dengan Muhammad Hasanain Haikal, seorang kolumnis dan jurnalis senior di Mesir, yang mendukung kudeta militer. Suatu kali Haikal bertanya kepadaku tentang sebab aku menulis artikel yang mengatakan bahwa Presiden Mursi akan kembali memimpin Mesir. Haikal juga menanyakan bukti yang membuat Chomsky bisa demikian yakin dengan hal tersebut.

Chomsky menjawab bahwa pihak pengkudeta telah memberi Ikhwan semua tawaran, termasuk menjadi perdana menteri, tapi Ikhwan selalu menolak. Maka kira-kira apa tawaran tersisa yang akan diberikan? Tawaran itu pasti kembalinya Presiden Mursi memimpin Mesir.

Chomsky sangat menyayangkan sikap Haikal. Menurutnya, Haikal telah mencoreng sejarah panjangnya, bahkan di akhir-akhir masa hidupnya. Sejarah akan menulisnya hanya sebagai penyebab meninggalnya ribuan rakyat Mesir.

Chomsky mengakhiri ceramahnya dengan mengatakan, “Di ruangan ini, aku katakan bahwa Presiden Mursi akan kembali. Dia akan menjadi negarawan Mesir. Mesir juga akan menjadi negara yang lebih kuat lagi. Para korban pembantaian Rab’ah Adawiyah adalah bayaran yang telah dipersembahkan demi kebebasan rakyat Mesir yang jumlahnya sekitar 100 juta jiwa. Dunia tidak mau memberi mereka kebebasan, sehingga mereka pun melakukan revolusi yang suci. Buktikan kebenaran perkataanku ini sebentar lagi.”
Lengkapnya Klik DISINI

3 Cara Menjadi “Bocah” di Depan Istri

Suami cium istri (foto noormuslima.com)“Jadilah engkau bocah di depan istrimu.” Kata-kata Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu itu adalah pesan beliau untuk para suami. Meski Umar dikenal sebagai muslim paling kuat dan pemberani, ia bisa memposisikan sebagai bocah saat bersama istrinya. Dan karenanya, ia memberikan tips itu kepada sahabat lainnya, hingga keluarga sakinah mawaddah wa rahmah pun digapainya.

Lalu bagaimana cara menjadi bocah di depan istri? Berikut ini 3 makna dan caranya:

1. Bocah itu Manja
Menjadi bocah di depan istri, artinya kita menghadirkan sikap “manja” kita sebagai ekspresi cinta. Rasulullah mencontohkan, beliau kerap bersikap “manja” dengan istrinya. Misalnya meletakkan kepala di paha istrinya, bahkan memposisikan kepala beliau agar istri bisa menyisirnya saat beliau sedang i’tikaf. Subhanallah... jika saat i’tikaf saja se-“manja” itu, betapa beliau di hari-hari biasa?

Lalu, bagaimana dengan kita? Apakah kita telah bermanja-manja dengan istri hingga cinta makin menyala atau kita jaim hingga terkesan kaku pada istri?

2. Bocah itu Pemaaf
Tidak ada bocah yang pendendam. Lihatlah bocah-bocah di sekitar kita. Mungkin suatu saat mereka berselisih dengan temannya. Mungkin suatu saat ada diantara mereka yang berkelahi dengan temannya. Tetapi setelah perselisihan itu selesai, mereka kembali beraktifitas bersama seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Bahkan setelah berkelahi, mereka kembali akrab seperti semula. Tak ada dendam, mereka langsung memaafkan.

Pun demikian seharusnya menjadi suami istri. Tidak mungkin tak pernah ada masalah dalam hitungan tahun pernikahan. Tetapi, masalah atau perselisihan hanya berlangsung sebentar dan tidak pernah berkarat menjadi dendam. Suami yang baik, ia seperti bocah yang suka memaafkan.

3. Bocah itu Suka Bermain

Dunia bocah adalah dunia bermain. Suami yang menjadi bocah di depan istrinya juga suka bermain. Rasulullah mencontohkan, beliau pernah bermain lomba lari dengan Aisyah. Pertama kali lomba, Rasulullah kalah. Pada kesempatan berikutnya, ketika Aisyah menjadi gemuk, Rasulullah memenangkan lomba lari kali itu. Pernahkah kita berlomba lari dengan istri?

“Permainan” yang lebih “dewasa” juga dicontohkan Rasulullah. Beliau mandi bersama Aisyah dalam satu bejana. Pernahkah kita melakukannya bersama istri kita? Mandi bersama dalam bathtub yang sama?

Berikutnya, kita bisa mengembangkan “permainan-permainan” lainnya. Dengan berbagai posisi, dengan berbagai gaya.

“Istri-istrimu adalah (seperti) ladang bagimu, maka datangilah ladang itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai” (QS. Al Baqarah : 223)

Wallahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]

Lengkapnya Klik DISINI

Berbakti Kepada Orang Tua

qutubiaوَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (24) رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا فِي نُفُوسِكُمْ إِنْ تَكُونُوا صَالِحِينَ فَإِنَّهُ كَانَ لِلْأَوَّابِينَ غَفُورًا (25)

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’ Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat.” (QS Al-Isra’ [17]: 23-25)

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia…”

Ini adalah perintah untuk mengesakan Sesembahan, setelah sebelumnya disampaikan larangan syirik. Ini adalah perintah yang diungkapkan dengan kata qadha yang artinya menakdirkan. Jadi, ini adalah perintah pasti, sepasti qadha Allah. Kata qadha memberi kesan penegasan terhadap perintah, selain makna pembatasan yang ditunjukkan oleh kalimat larangan yang disusul dengan pengecualian: “Supaya kamu jangan menyembah selain Dia…” Dari suasana ungkapan ini tampak jelas naungan penegasan dan pemantapan.

Jadi, setelah fondasi diletakkan dan dasar-dasar didirikan, maka disusul kemudian dengan tugas-tugas individu dan sosial. Tugas-tugas tersebut memperoleh sokongan dari keyakinan di dalam hati tentang Allah yang Maha Esa. Ia menyatukan antara motivasi dan tujuan dari tugas dan perbuatan.

Perekat pertama sesudah perekat akidah adalah perekat keluarga. Dari sini, konteks ayat mengaitkan birrul walidain (bakti kepada kedua orangtua) dengan ibadah Allah, sebagai pernyataan terhadap nilai bakti tersebut di sisi Allah:
“Dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.”
Dengan ungkapan-ungkapan yang lembut dan gambaran-gambaran yang inspiratif inilah Al-Qur’an Al-Karim menggugah emosi kebajikan dan kasih sayang di dahati anak-anak.
Hal itu karena kehidupan itu terdorong di jalannya oleh orang-orang yang masih hidup; mengarahkan perhatian mereka yang kuat ke arah depan. Yaitu kepada keluarga, kepada generasi baru, generasi masa depan. Jarang sekali kehidupan mengarahkan perhatian mereka ke arah belakang..ke arah orang tua..ke arah kehidupan masa silam..kepada generasi yang telah pergi! Dari sini, anak-anak perlu digugah emosinya dengan kuat agar mereka menoleh ke belakang, ke arah ayah dan ibu mereka.

Kedua orang tua secara fitrah akan terdorong untuk mengayomi anak-anaknya; mengorbankan segala hal, termasuk diri sendiri. Seperti halnya tunas hijau menghisap setiap nutrisi dalam benih hingga hancur luluh; seperti anak burung yang menghisap setiap nutrisi yang ada dalam telor hingga tinggal cangkangnya, demikian pula anak-anak menghisap seluruh potensi, kesehatan, tenaga dan perhatian dari kedua orang tua, hingga ia menjadi orang tua yang lemah jika memang diberi usia yang panjang. Meski demikian, keduanya tetap merasa bahagia!
Adapun anak-anak, secepatnya mereka melupakan ini semua, dan terdorong oleh peran mereka ke arah depan. Kepada istri dan keluarga. Demikianlah kehidupan itu terdorong. Dari sini, orang tua tidak butuh nasihat untuk berbuat baik kepada anak-anak. Yang perlu digugah emosinya dengan kuat adalah anak-anak, agar mereka mengingat kewajiban terhadap generasi yang telah menghabiskan seluruh madunya hingga kering kerontang!

Dari sinilah muncul perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua dalam bentuk qadha dari Allah yang mengandung arti perintah yang tegas, setelah perintah yang tegas untuk menyembah Allah.

Setelah itu konteks surat menuangi seluruh suasana dengan keteduhan; dan menggugan emosi dengan kenangan-kenangan masa kecil, rasa cinta, belas kasih dan kelembutan.

“Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu..”
Usia lanjut itu memiliki kesan tersendiri. Kondisi lemah di usia lanjut juga memiliki insprasinya sendiri. Kata عندك yang artinya “di sisimu” menggambarkan makna mencari perlindungan dan pengayoman dalam kondisi lanjut usia dan lemah. “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, dan janganlah kamu membentak mereka…” Ini adalah tingkatan pertama di antara tingkatan-tingkatan pengayoman dan adab, yaitu seorang anak tidak boleh mengucapkan kata-kata yang menunjukkan kekesahan dan kejengkelan, serta kata-kata yang mengesankan penghinaan dan etika yang tidak baik. “Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” Ini adalah tingkatan yang paling tinggi, yaitu berbicara kepada orang tua dengan hormat dan memuliakan.

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan…” Di sini ungkapan melembut dan melunak, hingga sampai ke makhluk hati yang paling dalam. Itulah kasih sayang yang sangat lembut, sehingga seolah-olah ia adalah sikap merendah, tidak mengangkat pandangan dan tidak menolak perintah. Dan seolah-olah sikap merendah itu punya sayap yang dikuncupkannya sebagai tanda kedamaian dan kepasrahan. “Dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’”

Itulah ingatan yang sarat kasih sayang. Ingatan akan masa kecil yang lemah, dipelihara oleh kedua orang tua. Dan keduanya hari ini sama seperti kita di masa kanak-kanak; lemah dan membutuhkan penjagaan dan kasih sayang. Itulah tawajuh kepada Allah agar Dia merahmati keduanya, karena rahmat Allah itu lebih luas dan penjagaan Allah lebih menyeluruh. Allah lebih mampu untuk membalas keduanya atas darah dan hati yang mereka korbankan. Sesuat yang tidak bisa dibalas oleh anak-anak.

Al Hafizh Abu Bakar Al Bazzar meriwayatkan dengan sanadnya dari Buraidah dari ayahnya:
“Seorang laki-laki sedang thawaf sambil menggendong ibunya. Ia membawa ibunya thawaf. Lalu ia bertanya kepada Nabi SAW, “Apakah aku telah menunaikan haknya?” Nabi SAW menjawab, “Tidak, meskipun untuk satu tarikan nafas kesakitan saat melahirkan.”

Oleh karena emosi dan gerak dalam konteks ini terhubung dengan akidah, maka Al-Qur’an mengulangnya dengan mengembalikan semua urusan kepada Allah yang mengetahui niat, dan mengetahui apa yang ada di balik ucapan dan perbuatan.

“Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat.” (25)

Nash ini hadir sebelum melanjutkan bahasan tentang taklif, kewajiban dan adab selanjutnya. Ia hadir untuk mengambalikan setiap ucapan dan perbuatan kepada Allah; untuk membuka pintu taubat dan rahmat bagi orang yang berbuat keliru atau teledor, kemudian kembali dan mengoreksi kekeliruan dan keteledoran tersebut.

Selama hati baik, maka pintu ampunan tetap terbuka. Orang-orang awwab (yang bertaubat) adalah mereka yang setiap kali berbuat keliru maka mereka kembali kepada Tuhan mereka sambil meminta ampun.

Sayid Qutb
sumber : klik diSINI
Lengkapnya Klik DISINI

Mentari di Taman Hati

Oleh : Khoirul Insan
    alam2
  • Parade bisu itu mulai kembali, begitu tenang, sepi, tanpa bergeming. Saat-saat semua insan terlelap pulas dalam buaian nikmatnya berbaring, namun alarm iman mu bergetar tak henti-henti nya berdering, menghantarkan tubuh lemah mu tegak berdiri di sepertiga malam-Nya yang hening. Kini kau sayup dalam ringkik doa rintih mu bersama hamparan sajadah yang menempel di kening….
Ya Allah, berapa kali aku pada-Mu, keangkuhan ku membuat wajah ini berpaling…”

Betapa banyak kesalahan akan dosa-dosa ku perbuat pada-Mu yang terlampau sering…”

Ya Allah, sungguh Engkau maha Tahu betapa sesungguhnya hati ini kosong, gersang dan teramat kering…”

Waktu itu memang sekitar pukul. 02.00 wib pagi, semua tampak teduh bersama beribu-ribu harapan penuh, Saat-saat Muhasabah diri yang paling membuat hati tersentuh. hingga butiran-butiran air mata tak habis-habis nya terjatuh. mengingat semua langkah diri yang selama ini telah di tempuh. Seakan-akan Rabb-mu berbisik ketika alarm keimanan mu mengajak diri ini  untuk selalu bersimpuh.

“ Hai Orang-orang yang berselimut, bangunlah ( untuk sembahyang ) di malam hari kecuali sedikit ( dari pada nya )” ( Q.s Al- Muzzamil : 1-2 )

“Lambung mereka Jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Tuhan nya dengan rasa takut dan harap, dan mereka mengharapkan sebahagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka. ” ( Q.s As – Sajadah : 16 )

Mungkin kita juga sering kali berfikir betapa beruntung nya memang, di beri kesempatan untuk melakukan hal yang hampir semua orang hebat biasa lakukan, menjadikan 1/3 malam mereka Ibarat pelita-pelita di malam hari, bagai cahaya yang mengisi jiwa-jiwa yang kosong. “Harapan yang baik ,selalu di mulai dengan persiapan yang Baikkata-kata yang selalu teringat dalam pikiran ini.

***
melemparkan tiap langkah dan masa yang telah berlalu dalam benak ini memang sudah menjadi bagian dalam setiap melakukan Muhasabah indah itu yang tak pernah berhenti selalu saya pertanyakan. Jadi teringat dan masih teringat dengan ucapan seorang sahabat yang dia pernah bertanya,
He        : ‘ rul, coba kamu lihat pohon yang ada di sana (sambil nunjuk).’
me       : ‘ kenapa memang akh?.’
He        : ‘ menurut mu yang membuat tanaman itu tumbuh subur, terlihat indah dan sejuk di pandang karena apa?.’
me       : ‘ Hmm…( diam sejenak ), jelas karena bibit nya lah akh.”
He        : ‘ Tapi kamu harus ingat rul, ada yang lebih penting kamu ingat dan camkan baik-baik di pikiran mu itu.’
me       : ‘ memang apa akh? ( mulai pasang wajah serius) ‘
He        : ‘Jangan biarkan tanaman itu tidak punya tempat untuk tumbuh dan berkembang ( Sambil menepuk pundak saya dan tersenyum).’ Kita itu tanah nya rul, ‘
Me       : ‘ Kita tanah nya akh?.’
He        : ‘ iya rul, kita tanah nya. apa kamu pikir tanaman itu hanya akan tumbuh indah dan sejuk di pandang saat kamu berhasil memilih bibit yang bagus dan baik saja?, kamu jangan lupa tanah itulah tempat yang menumbuhkan nya, tempat menyimpan sari-sari makanannya, dan segala hal yang ia butuhkan untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Ketika tanah itu baik dan kamu bisa memenuhi segala kebutuhan dan keperluan yang tanaman itu butuhkan, maka ia juga akan menumbuhkan buah yang baik juga.’
sambung nya,

‘ Maka nya rul, kamu harus siapkan tanahnya dengan baik, kelak saat bunga indah mu itu datang, kamu bisa menjaga dan menghidupi nya dengan sebaik-baik nya. Jadilah juga seperti mentari yang bisa bermanfaat menerangi setiap sisi.

***
Buat sebahagian, kualitas hari hadir di saat kita memulai pagi, mempersiapkan diri. menyambut mentari adalah seperti halnya kita sedang menumbuhkan harapan di dalam hati. Bagaimana mungkin orang yang menginginkan sesuatu yang baik ia tidak mempersiapkan nya dengan baik. Sungguh betapa bersyukurnya mereka yang menjadikan Sang Khaliq sebagai pemilik, mereka tak pernah risau menjalani kehidupan ini yang semakin pelik. Mereka yang memilih akhirat dan meletakannya di hati, maka ia tak kan pernah Khawatir karena Allah.SWT akan mengurus hamba-nya tanpa kenal henti.

“ Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). tidak mengantuk dan tidak tidur,…” (Q.s Al-Baqarah : 255)

Taman-taman hati mereka selalu di penuhi sinaran mentari yang selalu terang benderang. Tak hilang terus membawa manfaat. Seperti cahaya pelita yang menembus kegelapan, seperti tanah yang menyuburkan dan menumbuhkan beraneka tanaman yang indah lagi lebat berbuah. Selama Allah.SWT yang selalu di hati sebagai Penerang, insya Allah kita pun juga akan di nanti di tengah manusia untuk menerangi mereka.

Lantas mereka yang menjadikan dunia nya yang selalu di letakan di hati. Sungguh kan kita fahami, betapa kiranya kita sangatlah merugi. Jika menjadikan makhluk sebagai yang lebih utama dan istimewa, maka suatu saat nanti kita akan merasakan kecewa. mengharapkan dunia sebagai mentari nya, maka kita semua akan sadar betapa itu semua tak lebih berarti.

Semakin kuat kita berlari mengejar mentari ( ke timur ), semakin itu pula ia tak akan pernah kita dapati bahkan semakin jauh berlari.

Semakin kita mendekati nya tanpa persiapan, semakin itu pula ia akan membuat gerah, panas dan seketika meleburkan.

Semakin kita memandangi dan menatap nya, semakin itu juga ia akan menyilaukan mu bahkan membutakan mata mu.

Maka sederhanakan lah, menjadikan dunia sebagai tujuan adalah kesalahan, tapi menjadikan dunia sebagai alasan adalah kekuatan. kekuatan untuk lebih dekat kepada-Nya. Baik adalah ketika kita mampu merespons sesuatu dengan baik.

maka bersyukur lah, mentari itu ada dan hadir untuk kita rasakan, sebagai anugerah dari Rabb yang Maha Pemurah. Lalu apa yang harus kita khawatirkan.

maka berikhtiar lah, karena mentari itu anugerah maka janganlah terus berada di bawah, karena semakin di bawah akan semakin banyak yang menghalangi semua itu yang terlihat indah. maka mendaki tinggilah terus naiklah, lantas bersandinglah.

Maka berdo’a lah, semoga mentari itu masih sama. dan menemani nya tenggelam sampai ke barat adalah pilihan. meskipun itu terasa berat, temanilah ia dengan sabar dan sholat, isilah hari-hari yang berlalu dengan kebaikan dan sesuatu yang bermanfaat, semoga Allah.SWT memasukan kita termasuk orang yang selamat, baik di dunia maupun di akhirat.

Mentari itu selalu terang dan tak berkurang, bersama berjuta pertanyaan masihkah aku punya tempat untuk pulang…

Mentari di Taman Hati…

sumber : http://www.eramuslim.com/oase-iman/mentari-di-taman-hati.htm
Lengkapnya Klik DISINI

Terkait Qurban, Benarkah Satu Bulu Sama dengan Satu Kebaikan?

Ilustrasi. (inet)Pertanyaan:

Assalamu ‘Alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh.
Shahihkah hadits yang menyebut bahwa orang yang berqurban mendapatkan pahala sejumlah bulu hewan kurbannya, karena satu bulu adalah satu kebaikan? (Jamaah Masjid Nurul Fikri, Kelapa Dua, Depok)

Jawaban: 

Wa ‘Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh.
Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihiwa Ashhabihi wa Man Waalah, wa ba’d:

Hadits tersebut cukup terkenal, apalagi disebarkan melalui spanduk di berbagai sudut ibu kota Jakarta.
Berikut hadits-hadits tersebut:

1. Riwayat Ibnu Majah dalam Sunannya No. 3127

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ خَلَفٍ الْعَسْقَلَانِيُّ حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ حَدَّثَنَا سَلَّامُ بْنُ مِسْكِينٍ حَدَّثَنَا عَائِذُ اللَّهِ عَنْ أَبِي دَاوُدَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ قَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذِهِ الْأَضَاحِيُّ قَالَ سُنَّةُ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ قَالُوا فَمَا لَنَا فِيهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُلِّ شَعَرَةٍ حَسَنَةٌ قَالُوا فَالصُّوفُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُلِّ شَعَرَةٍ مِنْ الصُّوفِ حَسَنَةٌ

Berkata kepada kami Muhammad bin Khalaf Al ‘Asqalani, berkata kepada kami Adam bin Abi Iyas, berkata kepada kami Sullam bin Miskin, berkata kepada kami ‘Aidzullah, dari Abu Daud, dari Zaid bin Arqam, dia berkata: berkata para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Wahai Rasulullah, hewan qurban apa ini?” Beliau bersabda: “Ini adalah sunah bapak kalian, Ibrahim.” Mereka berkata: “Lalu pada hewan tersebut, kami dapat apa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Pada setiap bulu ada satu kebaikan.” Mereka berkata: “Bagaimana dengan shuf (bulu domba)?” Beliau bersabda: “Pada setiap bulu shuf ada satu kebaikan.”

2. Riwayat Imam Al Hakim dalam Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, 2/422, No. 3467, Juga Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 18796, Abdu bin Humaid dalam Musnadnya No. 259, Ahmad dalam Musnadnya No. 19283

أخبرنا أبو بكر محمد بن عبد الله البزار ببغداد ثنا محمد بن سلمة الواسطي ثنا يزيد بن هارون أنبأ سلام بن مسكين عن عائذ الله بن عبد الله المجاشعي عن أبي داود السبيعي عن زيد بن أرقم رضي الله عنه قال : قلنا يا رسول الله ما هذه الأضاحي ؟ قال : سنة أبيكم إبراهيم قال قلنا : فما لنا منها ؟ قال : بكل شعرة حسنة قلنا يا رسول الله فالصوف ؟ قال : فكل شعرة من الصوف حسنة

Mengabarkan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Abdullah Al Bazzar di Baghdad, bercerita kepada kami Muhammad bin Salamah Al Wasithi, bercerita kepada kami Yazid bin Harun, mengabarkan Sullam bin Miskin, dari ‘Aidzullah bin Abdullah Al Mujasyi’i, dari Abu Daud As Sabi’i, dari Zaid bin Arqam Radhiallahu ‘Anhu, kami berkata: “Wahai Rasulullah, hewan qurban apa ini?” Beliau bersabda: “Ini adalah sunah bapak kalian, Ibrahim.” Mereka berkata: “Lalu pada hewan tersebut, kami dapat apa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Pada setiap bulu ada satu kebaikan.” Mereka berkata: “Bagaimana dengan shuf (bulu domba)?” Beliau bersabda: “Pada setiap bulu shuf ada satu kebaikan.”
Imam Al Hakim berkata:

هذا حديث صحيح الإسناد و لم يخرجاه

Hadits ini shahih isnadnya, dan keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya. (Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, 2/422, No. 3467)

3. Riwayat Imam At Tirmidzi dalam Sunannya No. 1493 secara mu’alaq (tanpa sanad).
قَالَ أَبُو عِيسَى وَيُرْوَى عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ فِي الْأُضْحِيَّةِ لِصَاحِبِهَا بِكُلِّ شَعَرَةٍ حَسَنَةٌ

Berkata Abu ‘Isa (At Tirmidzi), diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa Beliau bersabda: “Bagi pemiliknya, setiap bulu hewan qurban adalah satu kebaikan.”
Selanjutnya……….

Para Imam hadits telah mendhaifkan hadits-hadits ini, bahkan sebagian mereka ada yang mengatakan palsu. Ada pun penshahihan Imam Al Hakim, sebagaimana telah masyhur menurut para ahli hadits, bahwa Beliau termasuk yang mutasahil (memudahkan) dalam menshahihkan hadits.

Imam Adz Dzahabi mengkritik penshahihan Imam Al Hakim dalam At Talkhish dengan mengatakan: “‘Aidzullah, dikatakan oleh Abu Hatim: munkarul hadits.” (Ibid)

Imam Ibnul Mulqin juga mengkritik penshahihan Imam Al Hakim, Beliau berkata:

ثمَّ قَالَ : صَحِيح . وَفِيه نظر ؛ لِأَن فِيهِ عَائِذ الله الْمُجَاشِعِي قَالَ البُخَارِيّ : لَا يَصح حَدِيثه . وَقَالَ أَبُو حَاتِم : مُنكر الحَدِيث . وَقَالَ ابْن حبَان : يروي الْمَنَاكِير ، لَا يجوز الِاحْتِجَاج بِهِ .

Kemudian dia (Al Hakim) berkata: shahih. Hal ini perlu dipertimbangkan lagi, sebab dalam hadits ini terdapat ‘Aidzullah Al Mujasyi’i. Imam Al Bukhari berkata: tidak shahih haditsnya. Berkata Abu Hatim: haditsnya munkar. Berkata Ibnu Hibban: Dia meriwayatkan hadits-hadits munkar, dan tidak boleh berhujjah dengannya. (Al Badrul Munir, 9/274)

Imam Al Mundziri juga mengoreksi Imam Al Hakim, Beliau berkata:

بل واهيه عائذ الله هو المجاشعي وأبو داود هو نفيع بن الحارث الأعمى وكلاهما ساقط

Justru hadits ini lemah, ‘Aidzullah dia adalah Al Mujasyi’i, dn Abu Daud dia adalah Nafi’ bin Al Harits Al A’ma, keduanya gugur.  (Imam Al Mundziri, At Targhib wat Tarhib, 2/99)

Apa sebab kedhaifan hadits ini? Karena di dalamnya ada beberapa perawi yang bermasalah.

Pertama. ‘Aidzullah bin Al Mujasyi’i

Kun-yah (gelar) beliau adalah Abu Muadz. (Al Hafizh Al Mizzi, Tahdzibul Kamal, 14/93. No. 3069). Dia adalah seorang qadhi pada masa khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. (Al Hafizh Ibnu Hajar, Lisanul Mizan, 7/255, No. 3435).

Imam Abu Hatim mengatakan tentangnya: “Munkarul hadits – haditsnya munkar.” (Al Jarh wat Ta’dil, 7/38).

Imam Al Bukhari berkata: “’Aidzullah dari Abu Daud, meriwayatkan darinya Sullam bin Miskin, tidak shahih haditsnya.” (Imam Al Bukhari, Adh Dhu’afa Ash Shaghir, Hal. 96, No. 289)

Imam Ibnu ‘Adi juga berkata seperti Imam Al Bukhari. (Imam Ibnu ‘Adi, Al Kamil fi Dhua’afa Ar Rijal, 5/355)

Imam Ibnu Hibban berkata: “Dia meriwayatkan hadits-hadits munkar, dan tidak boleh berhujjah dengannya.” (Imam Ibnul Jauzi, Adh Dhu’afa wal Matrukin, 2/68, No. 1750)

Kedua. Abu Daud As Sabi’i

Nama aslinya adalah Nufai’ bin Al Harits Al A’ma. (Ta’liq Musnad Ahmad, 32/34)
Imam Yahya bin Ma’in berkata tentangnya: “Laisa bisyai’ – bukan apa-apa.” Imam Abu Hafsh Ash Shairafi ‘Amru bin ‘Ali berkata: “Nafi’ Abu Daud matrukul hadits ­– haditsnya ditinggalkan. Imam Abu Hatim mengatakan: “Munkarul hadits dhaiful hadits – haditsnya munkar dan lemah.” Imam Abu Zur’ah berkata: “Lam yakun bisyai’ – dia bukan apa-apa.” (Lihat semua dalam Al Jarh wat Ta’dil, 8/490)

Imam Abdurrahman bin Mahdi mengatakan: “Dia dikenal dan diingkari.” (Imam Al Bukhari, Adh Dhu’afa Ash Shaghir, Hal. 120, No. 381)

Imam Abu Nu’aim Al Ashbahani mengatakan: “Dia meriwayatkan hadits-hadits mungkar dari Anas, Al Barra, Zaid bin Arqam, dan Buraidah.” (Imam Abu Nu’aim, Adh Dhu’afa, hal. 152), dan hadits ini dia riwayatkan dari Zaid bin Arqam.

Imam Yahya bin Ma’in berkata: “Lam yakun tsiqah - Dia tidak bisa dipercaya.”
Berkata Imam An Nasa’i, Imam Al Fallas, dan Imam Ad Daruquthni: “Matruk.”
Imam Ibnu Hibban mengatakan: “Tidak boleh berhujjah dengannya.” (Imam Ibnul Jauzi, Adh Dhu’afa wal Matrukin, 3/165)

Dalam kitab lain, Imam Yahya bin Ma’in ditanya tentang Abu Daud Al A’ma, katanya: “Tidak bisa dipercaya dan tidak amanah.” (Al Majruhin, 3/55)

Al Hafizh Al Mizzi berkata: “Yahya bin Ma’in mengatakan, Abu Daud Al A’ma memalsukan hadits, dia bukan apa-apa.” (Tahdzibul Kamal, 30/12)

Imam Adz Dzahabi berkata: “Tarakuuhu – para ulama meninggalkan haditsnya.” (Imam Adz Dzahabi, Al Mughni fidh Dhu’afa, 2/701)

Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “Matruk, dan Ibnu Ma’in menyebutnya sebagai pendusta pada generasi kelima.” (Taqribut Tahdzib, 1/1008)

Imam Al Bushiri berkata: “Matruk, dan dia tertuduh memalsukan hadits.” (Mir’ah Al Mafatih, 5/111)
Imam Abul ‘Ala Al Mubarkafuri berkata: wadhaa’ kadzdzaab – pemalsu hadits dan pendusta. (Tuhfah Al Ahwadzi, 9/49)

Disebutkan dalam Hasyiah As Sindi ‘Ala Ibni Majah:

وَقَالَ اِبْن عُمَر أَبُو الْحَمْرَاء اِتَّفَقُوا عَلَى ضَعْفه وَكَذَّبَهُ بَعْضُهُمْ قَالُوا وَأَجْمَعُوا عَلَى تَرْك الرِّوَايَة عَنْهُ

Berkata Ibnu Umar Abul Hamra’: para ulama sepakat atas kelemahannya, sebagian mereka menyebutnya sebagai pendusta, mereka mengatakan bahwa telah sepakat meninggalkan riwayat darinya. (Hasyiah As Sindi ‘Ala Ibni Majah, 4/443)

Demikian cacat yang ada pada sanad hadits ini, dengan cacat yang cukup parah. Oleh karenanya para ulama mendhaifkan hadits ini. Di antaranya:
  • Imam Al Bukhari menjelaskan sanad hadits tersebut: “ ’Aidzullah dari Abu Daud, meriwayatkan darinya Sullam bin Miskin, tidak shahih haditsnya.” (Imam Al Bukhari, Adh Dhu’afa Ash Shaghir, Hal. 96, No. 289)
  • Imam Al Mundziri berkata: “waahiyah – lemah.” (Imam Al Mundziri, At Targhib wat Tarhib, 2/99)
  • Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “Dhaif jiddan – sangat lemah.” (Ta’liq Musnad Ahmad, 32/34)
  • Syaikh Al Albani mengatakan: “maudhu’ – palsu.” (As Silsilah Adh Dha’ifah, No. 527, Dha’if At Targhib wat Tarhib No. 672), dalam kitab lainnya beliau mengatakan: dhaif jiddan. (Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 3127)
  • Imam Ibnul ‘Arabi  menyatakan tidak ada satu pun yang shahih tentang keutamaan berqurban:
    قال بن العربي في شرح الترمذي ليس في فضل الأضحية حديث صحيح انتهى  قلت الأمر كما قال بن العربي
    “Berkata Ibnul ‘Arabi dalam Syarh At Tirmidzi, tidak ada hadits yang shahih tentang keutamaan berqurban. Selesai. Aku (Syaikh Al Mubarkafuri) berkata: “Masalah ini –masalah keutamaan qurban, pen- sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul ‘Arabi.” (Tuhfah Al Ahwadzi, 5/63)
  • Sedangkan hadits riwayat Imam At Tirmidzi yang berbunyi:
    قَالَ أَبُو عِيسَى وَ يُرْوَى عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ فِي الْأُضْحِيَّةِ لِصَاحِبِهَا بِكُلِّ شَعَرَةٍ حَسَنَةٌ
    Berkata Abu ‘Isa (At Tirmidzi), diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa Beliau bersabda: “Bagi pemiliknya, setiap bulu hewan qurban adalah satu kebaikan.”
Imam At Tirmidzi sendiri mengisyaratkan kedhaifannya, dengan menggunakan shighat tamridh (bentuk kata yang menunjukkan adanya cacat), yakni yurwaa ‘an (diriwayatkan dari). Para ahli hadits menyebutkan, bahwa untuk menyebutkan hadits yang dhaif tidak boleh menggunakan shighat jazm (bentuk kata yang menunjukkan kepastian), seperti qaala (bersabda), tetapi hendaknya menggunakan shighat tamridh seperti ruwiya ‘an (diriwayatkan dari), hukiya ‘an (diceritakan dari), dan semisalnya.

Syaikh Al Albani menyebutkan bahwa hadits ini palsu. Menurutnya, hadits riwayat At Tirmidzi ini  aslinya adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Al Hakim, Al Baihaqi, yang telah dibahas sebelumnya. (As Silsilah Adh Dha’ifah No. 1050)

Imam Al Mundziri juga menyebutkan bahwa hadits yang disebutkan diisyaratkan Imam At Tirmidzi ini adalah yang telah kami bahas sebelumnya.  Berkata Syaikh Al Mubarkafuri:

قال المنذري في الترغيب وهذا الحديث الذي أشار إليه الترمذي رواه بن ماجة والحاكم وغيرهما كلهم عن عائذ الله عن أبي داود عن زيد بن أرقم قال

Berkata Al Mundziri dalam At Targhib, bahwa hadits ini yang disebutkan oleh At Tirmidzi ini, juga telah diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, Al Hakim, dan lainnya, semuanya diriwayatkan dari ‘Aidzullah, dari Abu Daud, dari Zaid bin Arqam, dia berkata: .. (lalu disebutkan hadits lengkap seperti hadits kedua). (Tuhfah Al Ahwadzi, 5/63)

Artinya pembahasan hadits ini sama dengan hadits sebelumnya.

Demikian. Wallahu A’lam.
Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......