Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

Abu Nawas dan Menteri yang Zalim (Bagian Kedua – Habis)

 lembu-abunawas-kecil
“Sudahkah kamu menerima pembayaran harga lembumu?” tanya Abu Nawas kepada anak muda pada malam harinya.

“Hamba diperdaya menteri itu,” jawab si pemuda dengan wajah nelangsa. “Lembu hilang, uang melayang.”
“Coba ceritakan kata Abu Nawas. “Aku kira jual beli berjalan lancar sehingga aku cepat-cepat pergi karena ada urusan lain.”

Maka diceritakanlah kejadian itu dengan nada mendongkol. “Sialan menteri itu,” ujar si pemuda.

“Oh begitu, kata Abu Nawas. “Jangan sedih, Insya Allah aku akan membantu.” Kemudian Abu Nawas minta si pemuda bersedia melaksanakan rencana yang telah disusunnya untuk membunuh si menteri zalim itu.
Keesokan harinya jam tujuh malam seorang wanita cantik berhenti di depan rumah si menteri zalim, ia tampak membuang sesuatu yang dicabut dari kakinya.
“Hai Adinda, dari mana gerangan asalmu?” tiba-tiba muncul suara dari sudut yang gelap. Suara itu ternyata milik menteri yang saat itu juga sedang berjalan-jalan di depan rumahnya. Hatinya amat girang begitu melihat wajah cantik yang tiba-tiba muncul di depan matanya.
“Hamba orang desa, tadi ketika berjalan bersama suami, kaki hamba tertusuk duri. Hamba terpaksa berhenti untuk menarik duri dari kaki, suami hamba tidak mau menunggu dan hamba ditinggal di sini. Hamba tidak tahu jalan pulang ke rumah,” kata si perempuan itu dengan penuh iba, lalu ia pun menangis.

“Jika Adinda mau, silahkan mampir ke rumah hamba sambil menunggu suami Adinda. Barangkali dia sekarang sedang mencari Adinda,” kata si menteri. “Jangan takut.”

“Hamba takut kepada istri dan pelayan-pelayan tuan,” kata perempuan muda itu.

“Kalau begitu, silahkan Adinda duduk di sini, Kanda akan menyuruh istri pergi ke rumah ibunya bersama pelayan-pelayan itu,” kata si menteri. Maka sang menteri pun tergopoh-gopoh masuk ke rumahnya.

“Hai Adinda, katanya, “Sekarang ini sebaiknya Adinda pergi ke rumah ibu karena sudah lama rasanya Adinda tidak kesana.” “Jika demikian kehendak Kakanda, baiklah hamba kesana,” jawab istri si menteri.
“Hai Adinda, kata si menteri kepada perempuan muda itu setelah rumah kosong. “Silahkan masuk ke rumah hamba, karena istri dan semua pelayan telah pergi.”
“Baiklah, katanya sambil mengikuti langkah si menteri. Di dalam rumah dilihatnya tali gantungan seperti yang diceritakan Abu Nawas. Menteri itu mendorong si perempuan muda ke kamar dan mengajak tidur, namun ia mencoba menolak sambil merajuk.
“Sebelum kita tidur, cobalah Kakanda bergantung sebentar pada tali itu,” rayunya. “Seumur hidup hamba belum pernah melihat orang bergantung ditali.”

Karena terdorong oleh nafsu syahwat yang menggelora, permintaan itu dituruti si menteri. “Tolong Adinda pegang tali gantungan ini kuat-kuat, jangan dilepaskan,” katanya.

Menteri itu kemudian memasukkan badannya kedalam tali gantungan, setelah itu si perempuan gadungan melepaskan tali yang dipegangnya sehingga badan si menteri menggantung dengan posisi kaki di atas dan kepala di bawah. Si perempuan pun mengeluarkan sebuah pentungan lalu memukul badan dan kepala si menteri zalim itu sambil berujar. “Hai menteri zalim, aku bukan perempuan, akulah pemilik lembu yang kau tipu, sekarang terimalah pembalasanku. Aku minta harga lembuku, ayo bayar… bayar” Bak – Bik – Buk… darah segar mengalir dari mulut, hidung dan telinga menteri itu, sehingga ia tidak sadarkan diri. “Mampuslah kau,” teriak si pemuda.

Mengira bahwa si menteri sudah mati, masuklah perempuan palsu itu ke dalam rumah, dan menjarah barang-barang yang ada, sesudah itu barulah ia pulang dengan menggondol harta kekayaan si menteri zalim

Di tempat lain si istri menteri mendapat firasat buruk, hatinya berebar-debar keras. “Ada apa gerangan di rumahku?” pikirnya dalam hati, maka dengan bergegas pulanglah ia ke rumah.

Setiba di rumah ia menjerit-jerit histeris lantaran dilihatnya suaminya tergantung pingsan dengan kepala berdarah dan harta bendanya ludes. Ketika tali gantungan dilepas, ternyata suaminya masih bernafas, meski terengah-engah. Kemudian dipercikkan air mawar ke sekujur tubuhnya dan kepala menteri hingga siuman dan membuka matanya.

“Ya Kakanda……” ucap si istri sambil menangis meratapi nasib suaminya. “Kenapa Kanda bisa begini?”
Si menteri tidak bisa segera menjawab pertanyaan itu, tapi lambat laun setelah kesadarannya mulai pulih ia pun bisa menceritakan semua yang dialaminya. Setelah itu ia jatuh sakit.

Abu Nawas khawatir demi mendengar kabar itu, buru-buru ditemui si anak muda itu di rumahnya. “Mengapa tidak kamu matikan dia?” tanya Abu Nawas. “Bukankah aku sudah pesan, jangan kamu tinggal sebelum dia mati. Sekarang sebaiknya kamu tambah penyakit menteri itu supaya mati.

“Bagaimana caranya?” tanya si pemuda, ia tidak kalah khawatir dengan Abu Nawas.

“Berpura-puralah menjadi dukun, karena saat ini menteri itu sedang mencari dukun, kata Abu Nawas. “Selanjutnya usahakan dengan caramu sendiri agar rumah itu kosong, dan setelah kosong pukulilah menteri itu sampai mati, sebelum mati, jangan kamu tinggalkan dia.”

Esok harinya datanglah seorang kakek tua bertongkat ke rumah menteri itu, ia memakai jubah panjang dan serban putih dengan langkah terbungkuk-bungkuk.

“Tuan, tanya seorang pelayan menteri itu, siapakah tuan ini?
“Aku ini dukun,” jawabnya, “Kenapa kamu menyapa aku di tengah jalan seperti ini, tidak sopan berbuat seperti itu kepada orang tua.”

“Maaf,” kata si pelayan, “Hamba pelayan menteri, beliau saat ini sedang sakit dan perlu dukun, jika tuan suka, silahkan masuk ke rumahnya.” “Ya tuan dukun, obatilah hamba ini,” kata si menteri itu setelah dukun palsu itu duduk di samping pembaringannya. “Hamba sakit…” lama-kelamaan suaranya hilang.

“Moga-moga hamba bisa mengobati tuan,” jawab si dukun. “Tapi bisakah pelayan-pelayan itu disuruh mencari daun kayu lengkap dengan akarnya. Daun itu memang sulit dicari tetapi banyak gunanya untuk penyembuhan tuan.”

Menteri itu kemudian menyuruh tiga orang pelayan untuk memenuhi permintaan dukun. Tak lama kemudian dukun itu berkata lagi, “Maaf, hamba lupa, adalagi daun kayu yang lain yang hamba butuhkan. Tolong pelayan yang lain disuruh mencari.” Maka menteri itu pun menyuruh pelayan lainnya sehingga rumah itu kosong karena anak dan istri menteri itu sabelumnya sudah pergi ke luar rumah.

Setelah yakin bahwa rumah itu kosong, diambil sebuah pentungan dan dipukulnya sekujur badan menteri itu sampai babak belur dan mengeluarkan darah dari hidung, telinga dan mulunya. “Hai menteri, aku bukan dukun, tapi pemilik lembu yang kamu tipu. Mana bayaranmu!” katanya.

Menteri itu pingsan dan tidak bernafas lagi. Dikiranya si menteri sudah mati, cepat-cepat dukun itu pergi, karena khawatir para pelayan itu segera kembali. “Puas hatiku karena menteri itu sudah mati,” pikir si dukun palsu.

Kira-kira satu jam kemudian para pelayan itu kembali dengan tangan hampa diikuti oleh istri menteri. Mereka cemas melihat tuannya tergeletak dan dukun itu tidak ada lagi. Lalu istri menteri itu menyiram badan suaminya dengan air mawar yang diminumkan seteguk ke mulutnya. Tak lama kemudian menteri itu sadar namun belum bisa bicara.
“Ya istriku, orang itu bukan dukun, tetapi yang punya lembu itu juga,” kata si menteri setelah sadar. “Panggil orang-orang alim dan kabarkan kepada mereka bahwa aku sudah mati. Masukkan badanku ke dalam keranda bersama sekerat batang pisang yang dibungkus kain putih sebagaimana mayat laiknya. Tetapi yang dimasukkan ke liang lahat nanti adalah batang pisang tadi, sedang badanku tetap dalam keranda dan dibawa pulang kembali. Dengan demikian orang yang punya lembu itu tidak akan datang lagi kemari. Kapan-kapan bila aku sembuh akan kucari orang itu untuk membuat perhitungan terakhir.”
Semua pesan itu dikerjakan oleh istri menteri itu dengan baik. Tetap dasar Abu Nawas, ia berhasil mencium akal busuk itu. Maka ditemuinya si pemilik lembu. “Kenapa tidak kamu pukul sampai mati menteri itu?” bertanya Abu Nawas.

“Orang itu sudah mati,” kata si pemuda. “Ia tidak bergerak dan tidak bernafas lagi, karena darah keluar dari hidung dan telinganya.”

“Saat ini menteri itu masih hidup tapi pura-pura mati,” kata Abu Nawas. Lalu diceritakannya rencana menteri tadi dan rencananya sendiri agar menteri itu benar-benart mati, sebab jika ia masih hidup juga aku tidak dapat menjamin nasibmu kelak,”

“Hai saudara, maukan Anda aku bayar untuk menaiki kuda yang cepat larinya?” kata Abu Nawas kepada seorang joki yang berbadan tinggi tegap, dekatilah kuburan menteri itu, jika jenazah sudah sampai ke liang kubur, berteriaklah keras-keras, “Akulah pemilik lembu”, kemudian paculah kudamu sekencang-kencangnya. “Setuju?” “Nah, ini uangnya, pergilah.”

Esok harinya iring-iringan jenazah menteri itu berangkat dari rumah lengkat dengan orang besar, orang alim, sanak keluarga, dan sahabat almarhum. Begitu sampai dekat liang lahat, terdengar teriakan “Akulah pemilik lembu”.

Suasana di kuburan menjadi kacau, karena para pelayat kemudian berlarian ingin mengejar orang yang berteriak tadi. Namun apa lacur, orang yang dikejar sudah kabur dengan kudanya, sementara keranda ditinggal tidak terurus. Pada saat itulah si pemuda pemilik lembu yang sebenarnya muncul.

Rupanya ia ikut dalam barisan pelayat. “Hai menteri, akulah pemilik lembu yang kamu tipu, sekarang saatnya kamu harus membayar lunas utangmu. Tidak akan kubiarkan nyawamu tetap bersarang di badanmu.” Lalu di pukulnya menteri itu sekuat tenaga hingga benar-benar mati. Setelah itu ia pulang ke rumah.

Akan halnya joki tadi, akhirnya ia terkejar dan tertangkap dan kemudian dibawa ke kuburan menteri. Upacara pemakaman yang tadinya hanya pura-pura menjadi upacara sungguhan karena menteri yang diusung di dalam keranda itu benar-benar mati, badannya hancur dan tidak bernafas lagi tanpa diketahui siapa pelakunya. Hal itu mengagetkan seluruh pelayat.

Setelah itu orang-orang pulang ke rumah masing-masing dengan hati masygul dan heran. Sedangkan si joki dibawa oleh anak-anak menteri kerumahnya. “Apa sebab kamu berteriak dan mengaku sebagai orang yang punya lembu?” tanya mereka.

“Aku tidak tahu sebabnya, aku hanya diupah untuk berteriak seperti itu,” jawab si joki.
“Siapa yang mengupah kamu?” Tanya anak-anak meteri. “Abu Nawas,” jawab si joki.
“Hai Abu Nawas,” kata anak menteri setelah menemukan Abu Nawas, kenapa kamu mengupah untuk berteriak seperti itu dan menganiaya bapakku?”
“Menganiaya bapakmu?” Abu Nawas balik bertanya. “Bertanyalah yang benar.”
“Engkau suruh orang itu berteriak mengaku sebagai orang yang punya lembu, maka kami kejar dia, karena yang menyebabkan bapakku sakit tiada lain adalah orang yang punya lembu, bukan dari Allah.

“Oh begitu,” kata Abu Nawas sambil senyum kecil. “Jadi kamu tidak tahu bahwa orang yang punya lembu itu sudah ditakdirkan Allah untuk berbuat demikian karena bapakmu terlalu zalim, penipu, penganiaya, pengisap darah orang kecil, dan sebagainya. Rasanya tidak usah diperpanjang masalah ini, yang akan membuatmu malu besar, lebih baik kamu doakan saja agar bapakmu diampuni Allah.”

Anak menteri itu terdiam, sebab ia tahu semua perbuatan bapaknya. “Barangkali memang demikian takdir bapakku,” pikirnya dalam hati sambil berjalan pulang ke rumah.

Warga kota itu – termasuk orang yang punya lembu – merasa senang dan tenang hatinya karena tidak ada lagi orang yang akan berbuat zalim.

Sedangkan Abu Nawas segera kembali ke rumahnya. “Niatku sudah terlaksana,” pikirnya. “Siapa tahu barangkali Khalifah Harun Al-Rasyid sedang menanti kedatanganku ke istana beliau, lagi pula aku juga sudah sangat rindu kepada Baginda Sultan.”

Referensi: Alkisah Nomor 17 / 16 – 29 Agt 2004
Habis




Lengkapnya Klik DISINI

CINTA ITU BUTA..???

Cinta itu buta?
Memang cinta itu tidak bermata,
Tapi tidak pula buta,
Kerana kitalah mata itu,
Mata yang letaknya di hati,
Hati yang seharusnya berjalankan petunjukNya
bukannya…

yang disuluh dari cahaya duniawi.
Seharusnya janganlah biar ia dikaburi nafsu ,
Kelak ketajaman mata itu kian hilang bisanya lalu terus tumpul.
Asahlah ia dengan zikrullah,

Siramilah ia dengan basah lidah suarakan selawat buat Rasullullah,
Suburilah ia dengan muhasabah…

Firman Allah yang bermaksud : “Maka tidak pernahkah kamu berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya, bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (Surah al-Hajj : 46)
Kenapa dikatakan cinta itu buta??

Kerana bila tidurnya tidak lena ,
Mandinya tidak basah,
Makannya tidak kenyang,
Hilang tumpuan sibuk & asyik terkenangkan orang tersayang,
Ingatan persis layang-layang terbang di awan terapung bersama angan-angan,
Bila nasihat orang tua dikatakan penghalang,
Bila yang haram menjadi halal,

..berjalan beriringan sambil berpegang tangan,
.. naik motor berpelukan takut tercicir dijalanan,
.. lama -kelamaan kesucian menjadi korban,
Kononnya sebagai tanda cinta sejati tidak berbelah bahagi.
Yang paling diendahkan..

Bilamana tanggungjawab sebagai hamba-Nya mula diabaikan,
Bilamana kitabNya sudah tidak betah ditangan,
..dek kerana mata hati yang mula kabur terjerumus dalam cinta dunia..

Ya Allah, jangan kiranya hati itu milikku,
Ya Allah, jangan juga kiranya anak itu adalah aku,
Ya Allah, ku tak sanggup memiliki tangan itu,
Ya Allah, jauhkanlah dari ‘dimiliki’ mahupun memiliki cinta seperti itu.
Ya Allah , ku takut kiranya akulah hambaMu yang tidak bertanggungjawab itu…
Ku pohon padaMu , payungilah aku dari panahan nafsu syaitan,
Ku harapkan teduhan di bawah lembayung rahmatMu,
Ku tagih redup dari rimbunan pohon kasih sayangMu,
Ku tahu ya Allah, ku tak layak menghuni syurgaMu,
tapi tidak pula ku ingin ke Neraka-Mu..Amin.
Namun begitu ya Allah, layakkah aku untuk CINTA AGUNG-MU??

Daripada Abu Hurairah r.a., Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud : “Dunia penjara orang Mukmin dan Syurga orang kafir.” (Riwayat al-Tirmizi dan al-Hakim)

http://akuisan.wordpress.com/2013/05/05/cinta-itu-buta/#more-52
Lengkapnya Klik DISINI

Akhlak: Modal Sinergi Gerakan Islam

bersatu
Sinergi antar gerakan Islam akan mudah diwujudkan, jika masing-masing gerakan—kalangan elit maupun pengikutnya—memiliki modal akhlak yang sama, berdiri di atas landasan moral yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya. 

Paling tidak ada 6 modal akhlak yang menjadi syarat terwujudnya sinergi antar gerakan Islam. DR. Yusuf Qaradawi menjelaskan hal ini dalam Fiqhul Ikhtilaf, berikut ringkasannya:

Pertama, ikhlas karena Allah dan terbebas dari hawa nafsu. Menurut beliau, seringkali perselisihan antar kelompok atau pribadi nampak secara lahiriah sebagai perselisihan ilmiah atau mengenai masalah-masalah pemikiran semata-mata. Tetapi sesungguhnya perselisihan tersebut timbul karena faktor egoisme dan memperturutkan hawa nafsu yang dapat menyesatkan seseorang dari jalan Allah.

Seringkali perselisihan itu terjadi karena faktor-faktor pribadi dan popularitas, sekalipun dibalut dengan kepentingan Islam atau jama’ah dan lain sebagainya yang tidak diketahui bahkan oleh manusia itu sendiri.
Banyak perselisihan timbul hanya karena si Zaid menjadi pemimpin atau karena si Umar menjadi komandan, kemudian para pengikut masing-masing mengira sebagai perselisihan mengenai prinsip dan pemahaman. Padahal ia merupakan perselisihan memperebutkan kepemimpinan atau jabatan.

Tarbiyah Islamiah senantiasa menempa agar setiap mu’min menjadikan tujuannya hanyalah mencari ridha Allah, bukan ridha makhluk, kebahagiaan akhirat, bukan kemaslahatan duniawi. Mengutamakan apa yang ada di sisi Allah, bukan apa yang ada di sisi manusia.

“Apa yang di sisimu akan lenyap, sedangkan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Sesungguhnya kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl, 16: 96).

Kedua, meninggalkan fanatisme terhadap individu, madzhab dan golongan. Seseorang bisa berlaku ikhlas sepoenuhnya kepada Allah dan berpihak hanya kepada kebenaran jika ia dapat membebaskan dirinya dari fanatisme terhadap pendapat orang, madzhab, dan golongan.

Dengan kata lain, ia tidak mengikat dirinya kecuali dengan dalil. Jika dilihatnya ada dalil yang menguatkan maka ia segera mengikutinya, sekalipun bertentangan dengan madzhab yang dianutnya atau perkataan seorang Imam yang dikaguminya atau golongan yang diikutinya. Sebab, kebenaran lebih berhak untuk diikuti daripada pendapat si Zaid atau si Umar. Allah tidak memerintahkan kita beribadah mengikuti perkataan seorang ulama atau Imam tertentu, tetapi Allah memerintahkan kita agar beribadah sesuai dengan apa yang terdapat di dalam kitab-Nya dan sunnah Nabi-Nya.

Seseorang harus melepaskan dirinya dari fanatisme terhadap pendapatnya sendiri, mazhab, kelompok, atau partai. Al-Qur’an menceritakan beberapa contoh dari orang-orang fanatik ini sebagai kecaman terhadap mereka dan peringatan kepada kaum muslimin agar tidak mengikuti jejak langkah mereka.

Firman Allah tentang Bani Israil:

Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada Al Quran yang diturunkan Allah,” mereka berkata: “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”. Lalu  mereka kafir kepada Al Quran yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Quran itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. “ (QS. Al-Baqarah, 2: 91).

Firman Allah tentang orang-orang Musyrik:

Apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”. (QS. Al-Baqarah, 2: 170)

Diantara akhlak meninggalkan fanatisme terhadap individu, madzhab dan golongan ialah sikap melihat kepada perkataan bukan kepada orang yang mengatakannya. Hendaknya ia punya keberanian untuk mengkritik diri sendiri, mengakui kesalahan, menerima dengan lapang dada kritik orang lain. Ia tidak segan meminta nasehat dan evaluasi dari orang lain, memanfaatkan ilmu dan hikmah yang dimiliki orang lain, memuji orang yang tidak sependapat jika memang pendapatnya baik, dan membelanya apabila dia dituduh dengan tuduhan yang batil atau dilecehkan dengan tidak benar.

Ketiga, berprasangka baik kepada orang lain. Diantara akhlak dasar yang penting dalam pergaulan sesama aktivis Islam ialah berprasangka baik kepada orang lain dan mencopot kacamata hitam ketika melihat amal-amal dan sikap-sikap mereka. Akhlak dan pandangan seorang mu’min tidak boleh didasarkan pada prinsip memuji diri sendiri dan menyalahkan orang lain.

Allah melarang kita menganggap diri suci. Firman-Nya:

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (QS. An-Najm, 53: 32)

Seorang mu’min—seperti dikatakan oleh para salaf—lebih keras mengadili diri sendiri ketimbang mengadili penguasa yang zalim atau teman yang bakhil. Ia senantiasa menuduh dirinya sendiri. Tidak memberikan toleransi kepada dirinya dan tidak mencari-cari dalih atas kesalahan-kesalahannya. Ia senantiasa dihantui rasa kurang melaksanakan perintah-perintah Allah dan menunaikan hak-hak hamba Allah.

Di samping itu ia senantiasa mencarikan alasan bagi kesalahan-kesalahan makhluk Allah, terutama para saudaranya dan orang-orang yang berjuang bersama-sama untuk membela agama Allah. Ia senantiasa mengatakan apa yang diucapkan oleh sebagian salaf yang shalih: “Aku mencarikan ‘udzur (alasan) bagi kesalahan saudaraku sampai tujuh puluh alas an, kenudian aku katakana lagi: barangkali dia punya alas an lain yang tidak aku ketahui”.

Diantara cabang iman yang terbesar ialah: Berprasangka baik kepada Allah dan manusia. Kebalikannya ialah: Berprasangka buruk kepada Allah dan hamba Allah.

Keempat, tidak menyakiti dan mencela. Diantara factor penyambung hubungan ialah sikap tidak menyakiti dan mencela orang yang berbeda pendapat serta meminta ma’af kepadanya sekalipun dia salah dalam anggapan Anda. Bisa jadi dia yang benar dan Anda yang salah, sebab dalam masalah ijtihad tidak ada kepastian tentang kebenaran salah satu dari kedua pendapat yang diperselisihkan. Dalam hal ini yang bisa dilakukan adalah tarjih. Sedangkan tarjih itu sendiri tidak berarti sebuah kepastian.

Orang yang keliru dalam masalah-masalah ijtihadiyah juga tidak boleh dicela sama sekali. Kesalahannya harus dimaafkan bahkan mungkin saja dia memperoleh pahala dari Allah sebagaimana ditegaskan dalam hadits Nabi.

Bagaimana mungkin kita mencela dan menyakiti orang yang melakukan ijtihad yang telah diberi pahala oleh Allah, sekalipun hanya satu pahala?

Demikianlah manhaj para salaf dalam berbeda pendapat menyangkut masalah ijtihadiyah. Mereka tidak saling mencela atau menyakiti, tetapi saling memuji, sekalipun tetap berbeda pendapat.

Kelima, menjauhi jidal dan permusuhan sengit. Di lapangan dakwah Islam kita saksikan adanya orang-orang yang tidak punya perhatian kecuali perbantahan dalam segala hal. Mereka tidak punya kesiapan untuk menarik pendapatnya sedikitpun. Mereka hanya menginginkan agar orang lain mengikuti pendapatnya. Mereka merasa selalu benar sedangkan orang lain senantiasa salah.

Diantara mereka ada yang mengecam fanatisme kepada madzhab tetapi mereka sendiri membuat madzhab baru dan menyerang orang lain yang tidak sepaham dan tidak mau mengikutinya.

Diantara mereka ada yang mengaharamkan taqlid tetapi mereka sendiri menuntut orang lain agar mengikutinya. Atau melarang taqlid kepada ulama terdahulu, sementara mereka sendiri bertaqlid kepada ulama sekarang.

Diantara mereka ada yang melakukan konfrontasi demi masalah-masalah furu’iyah (cabang) dan sektoral. Padahal para salaf sendiri pernah memperselisihkannya, tetapi tidak sampai menimbulkan keruhnya hubungan sesama saudaranya.

Rasulullah SAW mengecam keras perbantahan dan menganjurkan ummatnya agar menjauhinya. Dari Abu Umamah ra bahwa Nabi SAW bersabda:

“Aku menjamnin istana di pinggir sorga bagi orang yang meninggalkan perbantahan sekalipun dia benar…” (HR. Abu Dawud).

“Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan petunjuk, kecuali karena mereka melakukan perbantahan.” (HR. Turmudzi)

Perbantahan dan perdebatan yang paling dibenci ialah perbantahan di sekitar Al-Qur’an yang sesungguhnya diturunkan Allah untuk member kata putus terhadap apa yang diperselisihkan oleh manusia. Jika Al-Qur’an dijadikan sumber perselisihan maka ukuran dan pedoman apa lagi yang akan dijadikan rujukan oleh manusia?

Ibnu Amer berkata: “Aku dan saudaraku pernah duduk dalam sebuah majelis yang lebih aku sukai daripada onta merah. Saat itu aku dan saudaraku datang. Namun ada beberapa orang sahabat Rasulullah SAW duduk di salah satu pintunya. Kami ntidak ingin memisahkan tempat duduk mereka, sehingga kami duduk terpisah di sudut. Tiba-tiba mereka menyebutkan satu ayat Al-Qur’an dan memperdebatkannya sehingga suara mereka semakin keras. Mendengar ini Rasulullah SAW langsung keluar dalam keadaan marah dan merah mukanya. Seraya menaburkan pasir kepada mereka, Rasulullah SAW bersabda:

“Dengan inilah ummat-ummat sebelum kalian binasa. Mereka menentang para Nabi mereka dan mempertentangkan sebagian isi Al-Kitab dengan sebagian yang lain. Sesungguhnya Al-Qur’an tidak diturunkan sebagiannya mendustakan sebagian yang lain. Tetapi justru sebagiannya membenarkan sebagian yang lain. Apa yang telah kamu ketahui darinya hendaklah kamu amalkan dan apayang belum kamu ketahui hendaklah kamu kembalikan (tanyakan) kepada orang yang mengetahuinya.” (Hadits nomor 6702 dari Al-Musnad [1/174-175]. Syakir berkata: sanadnya shahih).

Keenam, dialog dengan cara yang lebih baik.
Allah SWT berfirman:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl, 16: 125).

Dalam ayat ini terdapat perbedaan ungkapan antara apa yang dituntut dalam melakukan nasehat (mau’izhah) dan apa yang dituntut dalam melakukan bantahan (jidal). Dalam melakukan mau’izhah cukup dengan cara yang baik (hasanah), tetapi dalam melakukan jidal tidak dibenarkan kecuali dengan cara yang lebih baik (ahsan).

Ada dua cara dalam jidal. Pertama, ialah cara yang baik dan yang kedua cara yang lebih baik. Kita diperintahkan untuk mengikuti yang lebih baik.

Mau’izhah—biasanya—ditujukan kepada orang-orang yang menerima dan sudah komit dengan prinsip dan fikrah. Mereka tidak memerlukan kecuali nasehat yang meningatkan, memperlembut hati, menjernihkan kekeruhan dan memperkuat tekad mereka. Sedangkan jidal—biasanya—ditujukan kepada orang-orang yang menentang, yang seringkali membuat orang yang berselisih pendapat dengan mereka tidak sabar sehingga mengeluarkan ungkapan kasar dan sikap kaku. Maka dengan bijaksana Al-Qur’an memerintahkan kita agar mengambil cara yang lebih baik dalam berdialog dengan mereka, agar memberikan hasil yang baik. Diantara caranya ialah berdialog dengan memilih ungkapan-ungkapan yang lembut dan sejuk. Al-Qur’an dalam menghadapi orang-orang Yahudi dan Nasrani menggunakan ungkapan yang menyiratkan makna pendekatan antara mereka dan kaum muslimin. Seperti ungkapan ‘Ahlul Kitab’ atau orang-orang yang diberi Al-Kitab.

Bahkan kepada orang-orang musyrik penyembah berhala, Al-Qur’an tidak menggunakan ungkapan, “Wahai orang-orang musyrik”, tetapi memanggil mereka dengan, “Wahai manusia”. Di dalam Al-Qur’an tidak terdapat seruan kepada orang-orang musyrik dengan menggunakan ungkapan kemusyrikan atau kekafiran kecuali di dalam surat Al-Kafirun. Itu pun karena tujuan khusus yaitu memupus harapan kaum musyrikin dalam merayu kaum muslimin agar bersedia mengalah sedikit dalam masalah aqidah mereka, aqidah tauhid. Oleh sebab itu ayat tersebut mengulang-ulang masalah tauhid dengan beberapa ungkapan sebagai peneguhan. Sekalipun demikian surat tersebut diakhiri dengan sebuah ayat yang mencerminkan, puncak toleransi: “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.”

Diantara cara dialog yang baik ialah menekankan pada ‘titik pertemuan’ dan ‘faktor kesepakatan’ antara Anda dan mitra dialog Anda. Cara ini adalah cara Qur’ani yang harus kita kenali dan terapkan. Perdebatan-perdebatan para Rasul dengan kaum mereka, sebagaimana diceritakan di dalam Al-Qur’an, memperjelas sikap ini. Sikap lembut, sopan, dan menggunakan ungkapan yang sejuk dalam dakwah dan dialog.

Lengkapnya Klik DISINI

Hukuman Buat Anak, Perlukah?

Nanti Ibu pukul ya kalau nggak mau mandi!” Sepintas itu adalah kalimat biasa yang wajar meluncur dari seorang ibu untuk menyuruh anaknya mandi. Padahal, hukuman adalah jurus pamungkas yang boleh dilakukan setelah tahapan panjang sebelumnya terjadi.

Menghukum anak, secara fisik ataupun psikis, menjewer, memukul, mencubit, menyabet dengan gesper atau menghinanya sepintas sangat efektif dalam menegakkan disiplin anak. Perilaku positif yang diharapkan muncul dari anak, seperti mandi, bisa cepat terlaksana. Namun, mengobral hukuman fisik ataupun psikis, terbukti tidak efektif dalam mendisiplinkan anak.

Becky A Bailey, PhD, pakar pendidikan dalam bukunya Easy to Love Difficult to Discipline, mengibaratkan orangtua yang sering menghukum anak ibarat orang yang kehabisan akal. Dalam bukunya tersebut, ia ingin meyakinkan bahwa menghukum untuk mendisiplinkan anak atau mengharapkan perilaku positif yang muncul dari diri anak terbukti tidak efektif. Kalaupun berhasil, anak menuruti perintah orangtua, itu hanyalah sesaat karena anak takut dengan hukuman.

Ketakutan anak terhadap hukuman dari orangtua bahkan bisa membuat anak menjadi frustasi karena anak melihatnya sebagai upaya orangtua memaksakan kehendak. Hal itu tentu saja sangat berlawanan dengan tujuan utama orangtua, yaitu ingin menegakkan disiplin secara mendalam. Fakta ini disampaikan oleh Neil A.S. Summerheil, dalam bukunya A Radical Approach to Children Rearing.

Lebih buruk lagi, banyak anak yang malah kebal terhadap hukuman. Hukuman badan tidak membuat mereka melaksanakan suatu aktivitas dengan baik. Sebaliknya, anak akan cenderung membiarkan dirinya dihukum daripada melakukan perilaku yang diharapkan orangtuanya.

Teladan dulu sebelum hukuman

Seorang pakar pendidikan anak, DR Abdullah Nashih Ulwan, dalam bukunya Pendidikan Anak yang Islami, menjelaskan tentang lima tahap dalam metode influentif mendidik anak. Yaitu, pendidikan dengan keteladanan, adat, nasihat, perhatian dan hukuman. Jadi, memberikan hukuman kepada anak memang ada, namun pada tahapan terakhir setelah proses panjang sebelumnya.

Contohnya, untuk mengajarkan anak shalat. Ada hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Abu Daud, “Apabila seorang anak sudah bisa membedakan tangan kanan dan tangan kiri, maka ajarkanlah dia shalat.” Kapan seorang anak sudah mulai bisa membedakan tangan kanan dan kiri? Umumnya sekitar usia 3-4 tahun. Maka, pada usia itu, anak sudah mulai kita ajarkan shalat. Orangtua memberikan contoh dan pelajaran secara bertahap.

Selanjutnya, ada lagi hadits lain yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud yang berbunyi, “Perintahkanlah anak-anakmu mendirikan shalat pada saat dia berusia tujuh tahun, dan pukullah dia bila tidak mau (meninggalkan ) shalat ketika sudah berumur 10 tahun, dan pisahkanlah tidurnya.” Jadi, ada tahapan yang jelas dalam mendidik anak untuk shalat. Sudah dibiasakan sejak usia balita, mulai ditegaskan usia 7 tahun. Bila di usia 10 tahun, anak tidak melaksanakannya orangtua boleh memukulnya dengan pukulan yang mendidik. Pukulan tidak boleh dilakukan kepada anak di bawah usia kurang dari 10 tahun. Tujuan pemberian hukuman kepada anak jelas untuk menekankan tentang pentingnya penegakan shalat. Beberapa ulama mengingatkan bahwa pukulan kepada anak adalah pukulan sayang, bukan pukulan yang meninggalkan bekas atau pun yang menyakitkan.

Penting diingat oleh kita semua, bahwa memberikan contoh secara konsisten, memunculkan kebiasaan yang baik pada lingkungan rumah sehingga menjadi kebiasaan seluruh anggota keluarga, memberikan nasihat melalui cerita dan kisah serta perhatian penuh terhadap proses terbentuknya perilaku positif yang diharapkan, jauh lebih penting daripada pemberian hukuman kepada anak. Ingat, bahwa fokus orangtua adalah terletak pada terbentuknya perilaku positif pada anak, bukannya pemberian hukuman yang salah-salah hanya merupakan bentuk dari pelampiasan emosi orangtua. Mau mandi dipukul, mau makan dijewer, mau belajar disabet sapu. Wah, jangan-jangan orangtua yang bermasalah pada pengendalian emosinya.

Kapan hukuman boleh diberikan?

Sebagai tahapan terakhir dalam proses pembentukan perilaku positif anak, orangtua perlu mengingat beberapa hal berikut terkait dengan pemberian hukuman kepada anak.

Pertama, lemah-lembut dan kasih-sayang adalah dasar dalam pendidikan anak. Hal ini sejalan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari yang berbunyi, “Hendaklah kamu bersikap lemah-lembut dan kasih-sayang, hindarilah sifat keras dan keji.” Hadits ini jelas menegaskan dalam proses pendidikan anak harus didasari pada sifat lemah lembut dan kasih sayang, dan menghindari sifat keras dan keji.

Kedua, dalam upaya pendidikan dan perbaikan, hukuman yang diberikan dilakukan secara bertahap. Dari yang paling ringan hingga yang paling keras. Misalnya, berawal dengan menunjukkan kesalahan dengan pengarahan yang membekas, ringkas dan jelas dengan tutur kata yang tidak keras dan tidak mencelanya. Atau, dengan menunjukkan kesalahan melalui isyarat. Bila cara tersebut belum ampuh, maka kesalahan ditunjukkan dengan nada ‘kecaman’, sedangkan bentuk pemukulan diberikan sebagai tahapan terakhir. Bila pada tahapan sebelumnya, permasalahan sudah teratasi, maka pemukulan tidak perlu dilakukan.

Ketiga, hukuman yang berbentuk pemukulan tidak boleh dilakukan orangtua dalam keadaan marah karena akan membahayakan anak. Tidak dibenarkan juga memukul anggota badan yang peka seperti kepala, muka, dada dan perut. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah saw dalam riwayat Abu Daud, “…janganlah kamu memukul muka.”

Keempat, pemukulan sebagai bentuk hukuman tidak boleh keras dan menyakitkan. Pukulan tersebut berkisar antara satu hingga tiga kali.

Kelima, tidak memukul anak sebelum ia berusia sepuluh tahun.

Keenam, jika kesalahan anak adalah kesalahan yang dibuatnya pertama kali, hendaknya ia diberikan kesempatan untuk bertaubat dan meminta maaf tanpa memberikan hukuman. Serta memberikannya kesempatan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan.

Ketujuh, tidak menghukum anak di depan orang lain.

Kedelapan, tidak membahas secara berulang-ulang kesalahannya di depan orang lain, apalagi bila ia sudah berjanji untuk tidak mengulangi kesalahannya.

Bila sedemikian panjang daftar yang perlu kita ingat dalam memberikan hukuman, sebenarnya dengan kata lain hukuman tak perlu kita lakukan bila tahapan sebelumnya berjalan dengan baik. Jangan lupa, hukuman harus terfokus pada pembentukan perilaku positif anak sehingga anak sadar akan kesalahannya. Bukan pelampiasan kemarahan orangtua, lho.

(Sarah Handayani)
Lengkapnya Klik DISINI

TRAGEDI CINTA


 Muhammad Anis Matta
Ada sisi lain yang menarik dari pengalaman emosional para pahlawan yang berhubungan dengan perempuan. Kalau kebutuhan psikologis dan bilogis terhadap perempuan begitu kuat pada para pahlawan, dapatkah kita membayangkan seandainya mereka tidak mendapatkannya?

Rumah tangga para pahlawan selalu menampilkan, atau bahkan menjelaskan, banyak sisi dari kepribadian para pahlawan. Dari sanalah mereka memperoleh energi untuk bekerja dan berkarya. Tapi jika mereka tidak mendapatkan sumber energi itu, maka kepahlawanan mereka adalah keajaiban di atas keajaiban. Tentulah ada sumber energi lain yang dapat menutupi kekurangan itu, yang dapat menjelaskan kepahlawanan mereka.

Ibnu Qoyyim menceritakan kisah Sang Imam, Muhammad bin Daud Al Zhahiri, pendiri mazhab Zhahiriyah. Beberapa saat menjelang wafatnya, seorang kawan menjenguk beliau. Tapi justru Sang Imam mencurahkan isi hatinya, kepada sang kawan, tentang kisah kasihnya yang tak sampai. Ternyata beliau mencintai seorang gadis tetangganya, tapi entah bagaimana, cinta suci dan luhur itu tak pernah tersambung jadi kenyataan. Maka curahan hatinya tumpah ruah dalam bait-bait puisi sebelum wafatnya.

Kisah Sayyid Quthub bahkan lebih tragis. Dua kalinya ia jatuh cinta, dua kali ia patah hati, kata DR. Abdul Fattah Al-Khalidi yang menulis tesis master dan disertasi doktornya tentang Sayyid Quthub. Gadis pertama berasal dari desanya sendiri, yang kemudian menikah hanya tiga tahun setelah Sayyid Quthub pergi ke Kairo untuk belajar. Sayyid menangisi peristiwa itu.

Gadis kedua berasal dari Kairo. Untuk ukuran Mesir, gadis itu tidak termasuk cantik, kata Sayyid. Tapi ada gelombang yang unik yang menyirat dari sorot matanya, katanya menjelaskan pesona sang kekasih. Tragedinya justru terjadi pada hari pertunangan. Sambil menangis gadis itu menceritakan bahwa Sayyid adalah orang kedua yang telah hadir dalam hatinya. Pengakuan itu meruntuhkan keangkuhan Sayyid; karena ia memimpikan seorang yang perawan fisiknya, perawan pula hatinya. Gadis itu hanya perawan pada fisiknya.

Sayyid Quthub tenggelam pada penderitaan yang panjang. Akhirnya ia memutuskan hubungannya. Tapi itu membuatnya semakin menderita. Ketika ia ingin rujuk, gadis itu justru menolaknya. Ada banyak puisi yang lahir dari penderitaan itu. Ia bahkan membukukan romansa itu dalam sebuah roman.

Kebesaran jiwa, yang lahir dari rasionalitas, relaisme dan sangkaan baik kepada Allah, adalah keajaiban yang menciptakan keajaiban. Ketika kehidupan tidak cukup bermurah hati mewujudkan mimpi mereka, mereka menambatkan harapan kepada sumber segala harapan; Allah!

Begitu Sayyid Quthub menyaksikan mimpinya hancur berkeping-keping, sembari berkata, “Apakah kehidupan memang tidak menyediakan gadis impianku, atau perkawinan pada dasarnya tidak sesuai dengan kondisiku?” Setelah itu ia berlari meraih takdirnya; dipenjara 15 tahun, menulis Fi Dzilalil Qur’an, dan mati di tiang gantungan! Sendiri! Hanya sendiri!  Serial Cinta Tarbawi, Anis Matta
Lengkapnya Klik DISINI

Ketika Mekkah Berubah Menjadi Las Vegas

Pg 32 mecca main getty Ketika Mekkah Berubah Menjadi Las Vegas
DI BALIK pintu tertutup—dimana polisi dan keamanan lainnya tidak dapat mendengarkan—penduduk Mekkah mulai menyebut kota mereka sebagai Las Vegas baru, dan itu sama sekali bukan pujian kebanggan.
Selama 10 tahun terakhir situs paling suci dalam agama Islam itu telah mengalami transformasi besar, dan membelah umat Islam di seluruh dunia.

Kota yang asalnya merupakan padang pasir berdebu itu berjuang untuk mengatasi jumlah jamaah haji yang membludak jutaan setiap tahunnya, dan sekarang, Mekkah menjulang dengan gedung pencakar langit berkilauan, pusat perbelanjaan dan hotel-hotel mewah.

Untuk monarki al-Saud, Mekah adalah visi mereka tentang masa depan, sebuah kota metropolis baja dan beton dibangun di atas hasil kekayaan minyak yang sangat besar dan ya, mereka menganggapnya itu semua yang bisa menampilkan kebanggaan nasional mereka.

Kapitalisme Mekkah dan Madinah

Namun angka pertumbuhan penduduk, khususnya mereka yang tinggal di dua kota suci Mekkah dan Madinah, jelas-jelas terperanjat ketika menyadari bahwa warisan arkeologi bangsa diinjak-injak di bawah mania-konstruksi yang ironisnya didukung oleh ulama garis sebelah, yang menggembor-gemborkan pelestarian warisan mereka sendiri.

Mekah, merupakan tempat di mana Nabi Muhammad mengatakan bahwa semua Muslim akan berkedudukan sama, telah menjadi tempat bermain untuk orang kaya; dan kapitalisme telah merebut spiritualitas kota itu sebagai raison d’etre (justifikasi).

Dan hanya sedikit orang yang bersedia untuk membicarakan ketakutan mereka secara terbuka karena risiko yang terkait jika mereka mengkritik kebijakan resmi di kerajaan. Arkeolog Barat? Mereka pun diam karena takut bahwa beberapa situs dimana mereka telah diberi izin untuk mengaksesnya, akan ditutup lagi bagi mereka.

Mekkah dan Madinah; Selesai?

Namun sejumlah arkeolog dan sejarawan terkemuka Saudi berbicara sangat yakin bahwa peluang untuk menjaga situs suci yang tersisa di Arab Saudi secara historis telah tertutup rapat.

“Tidak ada yang memiliki nyali untuk berdiri dan mengutuk budaya vandalisme,” kata Dr Irfan Al-Alawi, Direktur Eksekutif Yayasan Riset Warisan Islam, yang tampaknya telah berjuang sia-sia untuk melindungi situs sejarah negara dan agamanya. “Kami telah kehilangan 400-500 situs.  Saya hanya berharap tidak terlalu terlambat untuk membalikkan keadaan…”

Sami Angawi, pakar terkenal di arsitektur Islam di Saudi, tak kurang khawatir juga. “Ini adalah kontradiksi mutlak untuk sifat Mekkah dan kesucian rumah Allah,” katanya kepada kantor berita Reuters awal tahun ini. “Baik [Mekkah dan Madinah] secara historis hampir selesai. Anda tidak menemukan apa-apa lagi kecuali gedung pencakar langit..”

Renovasi Masjidil Haram

Keprihatinan Dr Alawi yang paling mendesak adalah renovasi Masjidil Haram yang diperkirakan akan menelan 690 juta poundsterling. Masjidil Haram merupakan situs paling suci dalam Islam yang di dalamnya terdapat Ka’bah.

Renovasi itu sendiri secara resmi dimulai awal bulan ini dengan Menteri Kehakiman, Mohammed al-Eissa, berdalih bahwa proyek itu adalah penghormatan terhadap “kesucian dan kemuliaan terhadap masjid”.

Ada sebuah argumen kecil bahwa Mekah dan Madinah sangat membutuhkan pembangunan infrastruktur; Dua belas juta jemaah haji mengunjungi kota-kota ini setiap tahun dengan jumlah yang diperkirakan meningkat menjadi 17 juta pada tahun 2025.

Tetapi para kritikus khawatir bahwa keinginan untuk memperluas tempat-tempat ini telah memungkinkan pemerintah hanya menginjak-injak warisan budaya di daerah itu. The Washington, sebuah institut yang berbasis di Teluk, memperkirakan bahwa 95 persen dari bangunan Mekah telah dihancurkan dalam dua dekade terakhir saja.

Orang non-Muslim tidak dapat mengunjungi Mekah dan Madinah, tapi The Independent, sebuah media Barat, mampu mewawancarai sejumlah warga yang menyatakan ketidakpuasan akan perubahan kota mereka. Seorang wanita muda yang rumahnya baru-baru ini dibuldoser untuk pembangunan, menggambarkan bagaimana keluarganya masih menunggu kompensasi. “Hanya ada peringatan yang sebentar, mereka datang dan mengatakan bahwa rumah harus dibuldoser,” katanya.

Seorang Mekah lain menambahkan: “Jika seorang pangeran dari anggota keluarga kerajaan ingin memperluas istananya, dia akan melakukannya. Tidak ada yang berbicara tentang hal itu di depan umum.”

Dr Alawi berharap masyarakat internasional akhirnya akan mulai bangun dengan apa yang terjadi pada peninggalan suci Islam. “Kita tidak akan mengizinkan seseorang untuk menghancurkan Piramida (di Mesir), jadi mengapa kita membiarkan sejarah Islam menghilang?” (sa/independent)


Baca Juga
Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......