Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

Seorang Ilmuwan Fisika Ukraina Masuk Islam

Demitri Bolykov, sorang ahli fisika yang sangat mengandrungi kajian serta riset-riset ilmiah, ia mengatakan bahwa pintu masuk keislamannya adalah fisika. Sungguh suatu yang sangat ilmiah , bangaimanakah fisika bisa mendorang Demitri Bolyakov masuk Islam.

Demitri mengatakan bahwa ia tergabung dalam sebuah penelitian ilmiah yang dipimpin oleh Prof.Nicolai Kosinikov, salah seorang pakar dalam bidang fisika. Mereka sedang dalam sebuah penelitian terhadap sebuah sempel yang diuji di laboratorium untuk mempelajari sebuah teori moderen yang menjelaskan tentang perputaran bumi dan porosnya. Mereka berhasil menetapkan teori tersebut.

Akan tetapi Dimetri mengetahui bahwasanya diriwayatkan dalam sebuah hadis dari nabi saw yang diketahui umat Islam, bahkan termasuk inti akidah mereka yang menguatkan keharusan teori tersebut dan sesuai dengan hasil yang dicapainya. Demitri merasa yakin bahwa pengetahuan seperti ini, yang umurnya lebih dari 1.400 tahun yang lalu sumber satu-satunya yang mungkin hanyalah pencipta alam semesta ini.

Teori yang dikemukan oleh Prof. Kosinov merupakan teori yang paling baru dan paling berani dalam menafsirkan fenomena perputaran bumi pada porosnya. Kelompok peneliti ini merancang sebuah sempel berupa bola yang diisi penuh dengan papan tipis dari logam yang dilelehkan , ditempatkan pada badan area magnet yang terbentuk dari elektroda yang saling berlawanan arus.

Ketika arus listrik berjalan pada dua elektroda tersebut maka menimbulkan gaya magnet dan bola yang dipenuhi papan tipis dari logam tersebut mulai berputar pada porosnya fenomena ini dinamakan “Gerak Integral Elektro Magno-Dinamika”. gerak ini pada substansinya aktivitas perputaran bumi pada porosnya.

Pada tingkat realita dialam ini, daya matahari merupakan “kekuatan penggerak yang bisa melahirkan area magnet yang bisa mendorong bumi untuk berputar pada porosnya. Kemudian gerak perputaran bumi ini dalam hal cepat atau lambatnya seiring dengan daya insensitas daya matahari. Atas dasar ini pula posisi dan arah kutub utara bergantung.

Telah diadakan penelitian bahwa kutub magnet bumi hingga tahun 1970 bergerak dengan kecepatan tidak lebih dari 10 km dalam setahun, akan tetapi pada tahun-tahun terakhir ini kecepatan tersebut bertambah hingga 40km dalam setahun, bahkan pada tahun 2001 kutub magnet bumi bergeser dari tempatnya hingga mencapai jarak 200 km dalam sekali gerak.ini berarti bumi dengan pengaruh daya magnet tersebut mengakibatkan dua kutub magnet bergantian tempat. Artinya bahwa “Gerak”perputaran bumi akan mengarah pada arah yang berlawanan. Ketiak itu matahari akan terbit (keluar ) dari Barat !!!.

Ilmu pengetahuan dan informasi seperti ini tidak didapati Demitri dalam buku-buku atau didengar dari manapun, akan tetapi ia memperoleh kesimpulan tersebut dari hasil riset dan percobaan serta penelitian. Ketika ia menelaah kitab-kitab samawi lintas agama, ia tidak mendapatkan satupun petunjuk kepada informasi tersebut selain dari Islam. Ia medapat informasi tersebut dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda” Siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari Barat, maka Allah akan menerima Taubatnya.” (dari kitab Islam wa Qishshah, Muhama
d Bayumi ).

sumber: http://sayaberitahu.blogspot.com/2011/06/seorang-ilmuwan-fisika-ukraina-masuk.html
Lengkapnya Klik DISINI

Keajaiban Penggunaan Siwak dalam Sunnah Nabi

Penggunaan alat-alat kebersihan mulut telah dimulai semenjak berabad-abad lalu. Beraneka ragam peralatan sederhana dipergunakan untuk membersihkan mulut mereka dari sisa-sisa makanan, mulai dari tusuk gigi, batang kayu, ranting pohon, kain, bulu burung, tulang hewan hingga duri landak. Diantara peralatan tradisional yang mereka gunakan dalam membersihkan mulut dan gigi adalah kayu siwak atau chewing stick.

Miswak /Siwak (Chewing Stick) telah digunakan oleh orang Babilonia semenjak 7000 tahun yang lalu, yang mana kemudian digunakan pula di zaman kerajaan Yunani dan Romawi, oleh orang-orang Yahudi, Mesir dan masyarakat kerajaan Islam. Siwak memiliki nama-nama lain di setiap komunitas, seperti misalnya di Timur Tengah disebut dengan miswak, siwak atau arak, di Tanzania disebut miswak, dan di Pakistan dan India disebut dengan datan atau miswak.

Istilah siwak sendiri pada kenyatannya telah umum dipakai selama masa kenabian Nabi Muhammad yang memulai misinya sekitar 543 M. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Seandainya tidak memberatkan ummatku niscaya akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan sholat (dalam riwayat lain : setiap akan berwudhu’).”

Penelitian yang dilakukan oleh Erwin dan Lewis (1989) menyatakan bahwa pengguna siwak memiliki relativitas yang rendah dijangkiti kerusakan dan penyakit gigi meskipun mereka mengkonsumsi bahan makanan yang kaya akan karbohidrat.

Al-Lafi dan Ababneh (1995) melakukan penelitian terhadap kayu siwak dan melaporkan bahwa siwak mengandung mineral-mineral alami yang dapat membunuh dan menghambat pertumbuhan bakteri, mengikis plaque, mencegah gigi berlubang serta memelihara gusi. Siwak memiliki kandungan kimiawi yang bermanfaat, meliputi :

Antibacterial Acids, seperti astringents, abrasive dan detergent yang berfungsi untuk membunuh bakteri, mencegah infeksi, menghentikan pendarahan pada gusi. Penggunaan kayu siwak yang segar pertama kali, akan terasa agak pedas dan sedikit membakar, karena terdapat kandungan serupa mustard yang merupakan substansi antibacterial acid tersebut.

Kandungan kimiawi seperti Klorida, Pottasium, Sodium Bicarbonate, Fluorida, Silika, Sulfur, Vitamin C, Trimetilamin, Salvadorin, Tannin dan beberapa mineral lainnya yang berfungsi untuk membersihkan gigi, memutihkan dan menyehatkan gigi dan gusi. Bahan-bahan ini sering diekstrak sebagai bahan penyusun pasta gigi.

Minyak aroma alami yang memiliki rasa dan bau yang segar, yang dapat menyegarkan mulut dan menghilangkan bau tidak sedap.

Enzim yang mencegah pembentukan plak yang merupakan penyebab radang gusi dan penyebab utama tanggalnya gigi secara prematur.

Anti Decay Agent (Zat anti pembusukan) dan Antigermal System, yang bertindak seperti Penicilin menurunkan jumlah bakteri di mulut dan mencegah terjadinya proses pembusukan. Siwak juga turut merangsang produksi saliva, dimana saliva sendiri merupakan organik mulut yang melindungi dan membersihkan mulut.

El-Mostehy dkk (1998) melaporkan bahwa tanaman siwak mengandung zat-zat antibakterial. Darout et al. (2000) Melaporkan bahwa antimikrobial dan efek pembersih pada miswak telah ditunjukkan oleh variasi kandungan kimiawi yang dapat terdeteksi pada ekstraknya.

Menurut hasil penelitian Gazi et al. (1987) ekstrak kasar batang kayu siwak pada pasta gigi yang dijadikan cairan kumur, dikaji sifat-sifat antiplaknya dan efeknya terhadap komposisi bakteri yang menyusun plak dan menyebabkan penurunan bakteri gram negatif batang.

Penyusun (2005) di dalam skripsi yang berjudul “Pengaruh Ekstrak Serbuk Kayu Siwak (Salvadora persica) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus mutans Dan Staphylococcus aureus Dengan Metode Difusi Lempeng Agar” menemukan bahwa ekstrak serbuk kayu siwak bersifat antibakterial sedang terhadap bakteri S. mutans dan S. aureus.

Siwak sebagai “oral cleaner device” (alat pembersih mulut)
Siwak sangat efektif sebagai alat pembersih mulut. Almas (2002) meneliti perbandingan pengaruh antara ekstrak siwak dengan Chlorhexidine Gluconate (CHX) yang sering digunakan sebagai cairan kumur (mouthwash) dan zat anti plak pada dentin manusia dengan SEM (Scanning Electron Microscopy). Almas melaporkan bahwa 50% ekstrak siwak dan CHX 0,2% memiliki efek yang sama pada dentin manusia, namun ekstrak siwak lebih banyak menghilangkan lapisan noda-noda (Smear layer) pada dentin.

(Diadopsi dari Skripsi penyusun yang berjudul “PENGARUH EKSTRAK SERBUK KAYU SIWAK (Salvadora persica) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Streptococcus mutans DAN Staphylococcus aureus DENGAN METODE DIFUSI LEMPENG AGAR), 2005, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.
Lengkapnya Klik DISINI

Kisah Si Tukang Cukur Mencari Tuhan

Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4hZpgHbGoILm6pk8G0lyQkrrA7GyydC3uo7NPMx5f_P4pUGdiFJxGq-gajFgOAc_mo5jfHMquMQoz2mX8bW1WfkjER64k3OI4kZOkNjUpbBxgkcizAzxuuGeUpG36hySJASx8Z4eTLis/s320/barbe1editr(2).JPG

Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan.

Si tukang cukur bilang,”Saya tidak percaya Tuhan itu ada”.
“Kenapa kamu berkata begitu ???” timpal si konsumen.

“Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, apa yang terjadi di jalanan itu menunjukkan bahwa Tuhan itu tidak ada? Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada, mengapa ada orang sakit??, mengapa ada anak terlantar??"

"Jika Tuhan ada, pastiah tidak akan ada orang sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi.”

Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.

Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.

Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar (mlungker-mlungker, istilah jawa-nya), kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.

Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata,” Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR.”

Si tukang cukur tidak terima,” Kamu kok bisa bilang begitu ??”.
“Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!”

“Tidak!” elak si konsumen.
“Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana,” Si konsumen menambahkan.

“Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!” sanggah si tukang cukur.
”Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya”, jawab si tukang cukur membela diri.

“Cocok!” kata si konsumen menyetujui.” Itulah point utama-nya!.

Sama dengan Tuhan, Tuhan itu juga ada, tapi apa yang terjadi… orang-orang tidak mau datang kepada-Nya, dan tidak mau mencari-Nya. Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.”

Apakah Tuhan harus memaksa untuk datang kepada-Nya baru dunia tidak ada kesusahan? Semua kembali pada diri kita masing-masing.
Lengkapnya Klik DISINI

Cara Mencegah dan Mengobati Asma Pada Balita

Asma adalah penyakit paru-paru yang didasari oleh reaksi alergi. Pada penderita asma terjadi penyempitan saluran karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu dan produksi lendir yang berlebihan, sehingga terjadi peradangan dan penderita mengalami sesak nafas. Seperti pada reaksi alergi lainnya, hal ini merupakan penyakit turunan dan akan timbul bila ada faktor yang mencetuskannya.

Hanya sebagian kecil penderita asma dapat sembuh total saat dewasa. Kebanyakan penderita asma terus mengalami kambuh sampai usia dewasa. Frekuensi serangan asma ini akan berpengaruh pada ketahanan tubuh penderita asma mengalami kesembuhan. Jadi, semakin jarang penderita mengalami serangan asma, maka kemungkinan untuk sembuhnya akan semakin besar, dan sebaliknya.

Pencegahan
Untuk pencegahan serangan asma pada anak balita dapat dilakukan hal-hal berikut :
1. Menghindari faktor pencetus asma, seperti : kelelahan bermain, asap rokok, debu, makan coklat, makan es krim, makan chiki, dll.
2. Mengajaknya berolah raga secara teratur seperti berenang bila sudah memungkinkan
3. Menurunkan berat badannya bila ia mempunyai berat badan berlebihan
4. Mencegah terjangkitnya penyakit saluran pernafasan, seperti : flu, pilek, batuk, dll.

Pengobatan
Obat bagi anak yang menderita asma, hanya diberikan pada saat serangan akan timbul atau sedang berlangsung. Pemberian dosis, tergantung dari berat badan penderitanya. Jadi, dosis tersebut tidak bisa dijadikan ukuran untuk seumur hidup. Untuk itu, harus dilakukan pemeriksaan secara berkala ke dokter.

Selama tidak terjadi serangan asma, maka si anak akan seperti anak normal lainnya. Jadi cobalah sebisa mungkin untuk menghindari serangan tersebut, sehingga si anak dapat beraktifitas seperti anak-anak lainnya.
Ada beberapa pengobatan asma selain obat-obatan di apotik, yaitu dengan menggunakan bahan-bahan tradisional warisan leluhur, yang bahan-bahannya mudah didapatkan pada daerah tropis seperti Indonesia.

Dibawah ini ada beberapa macam ramuannya, tetapi jangan dilakukan semua dalam waktu bersamaan, pilihlah yang sesuai. Dan jangan khawatir atau pun ragu, karena ramuan-ramuan dibawah ini, cukup ampuh dan teruji untuk mengobati asma menurut ahlinya.

Ini dia ramuan pengobatan penyakit asma ( bengek ) :
Ramuan 1
Lobak putih secukupnya dijus hingga tertampung 1 mangkok, lalu ditim dan diminum.
Pemakaian : Konsumsi secara reguler 2 kali sehari

Ramuan 2
15 gram bunga melati direbus dengan 400 cc mengudarakan hingga tersisa 200 cc, kemudian airnya diminum selagi hangat.
Pemakaian : Konsumsi secara reguler 2 kali sehari

Ramuan 3
30 gram akar putri malu/sikejut direbus dengan 400 cc mengudarakan hingga tersisa 200 cc, kemudian airnya diminum selagi hangat.
Pemakaian : Konsumsi secara reguler 2 kali sehari

Ramuan 4
15 gram bunga kenop segar direbus dengan 400 cc mengudarakan hingga tersisa 200 cc, kemudian airnya diminum selagi hangat.
Pemakaian : Konsumsi secara reguler 2 kali sehari

Ramuan 5
15 gram bunga melati dan 15 gram jahe direbus dengan 600 cc mengudarakan hingga tersisa 300 cc, kemudian airnya diminum selagi hangat sebanyak ½ gelas
Pemakaian : Konsumsi secara reguler 2 kali sehari

Ramuan 6
Irisan jahe setebal 3 mm ditempelkan dengan menggunakan koyo hangat/koyo cabe pada titik dazhui.
Pemakaian : Konsumsi secara reguler 2 kali sehari

Ramuan 7
60 gram rumput jukut pendul direbus dengan 400 cc mengudarakan hingga tersisa 200 cc, kemudian airnya diminum selagi hangat.
Pemakaian : Konsumsi secara reguler 2 kali sehari

Ramuan 8
10 lembar daun kecubung diiris-iris dan dijemur sampai kering.
Pemakaian : gunakan untuk merokok dengan bungkus kelobot jagung.

Ramuan 9
3 siung bawang putih ditumbuk halus, lalu dicampur dengan 1 sendok makan madu, dan gula batu secukupnya. Dicampur sampai merata, kemudian campuran diperas dan disaring.
Pemakaian : Minum setiap pagi sampai sembuh.
Demikian artikel tentang asma pada balita ini, semoga dapat membawa kesembuhan bagi si kecil tercinta.

Amien.
Lengkapnya Klik DISINI

Rahasia Ubun Ubun Dalam Al Qur'an

Gambaran otak manusia bagian depan yang disebut Allah dalam Al Qur’an Al Karim dengan kata nashiyah (ubun-ubun). Al-Qur’an menyifati kata nashiyah dengan kata kadzibah khathi’ah (berdusta lagi durhaka). Allah berfirman, “(Yaitu) ubun-ubun yang mendustakan lagi durhaka.” (Al-‘Alaq: 16). Bagaimana mungkin ubun-ubun disebut berdusta sedangkan ia tidak berbicara? Dan bagaimana mungkin ia disebut durhaka sedangkan ia tidak berbuat salah?

Prof. Muhammad Yusuf Sakr memaparkan bahwa tugas bagian otak yang ada di ubun-ubun manusia adalah mengarahkan perilaku seseorang. “Kalau orang mau berbohong, maka keputusan diambil di frontal lobe yang bertepatan dengan dahi dan ubun-ubunnya. Begitu juga, kalau ia mau berbuat salah, maka keputusan juga terjadi di ubun-ubun.”

Kemudian ia memaparkan masalah ini menurut beberapa pakar ahli. Di antaranya adalah Prof. Keith L More yang menegaskan bahwa ubun-ubun merupakan penanggungjawab atas pertimbangan-pertimbangan tertinggi dan pengarah perilaku manusia. Sementara organ tubuh hanyalah prajurit yang melaksanakan keputusan-keputusan yang diambil di ubun-ubun.

Karena itu, undang-undang di sebagian negara bagian Amerika Serikat menetapkan sanksi gembong penjahat yang merepotkan kepolisian dengan mengangkat bagian depan dari otak (ubun-ubun) karena merupakan pusat kendali dan instruksi, agar penjahat tersebut menjadi seperti anak kecil penurut yang menerima perintah dari siapa saja.

Dengan mempelajari susunan organ bagian atas dahi, maka ditemukan bahwa ia terdiri dari salah satu tulang tengkorak yang disebut frontal bone. Tugas tulang ini adalah melindungi salah satu cuping otak yang disebut frontal lobe. Di dalamnya terdapat sejumlah pusat neorotis yang berbeda dari segi tempat dan fungsinya.

Lapisan depan merupakan bagian terbesar dari frontal lobe, dan tugasnya terkait dengan pembentukan kepribadian individu. Ia dianggap sebagai pusat tertinggi di antara pusat-pusat konsentrasi, berpikir, dan memori. Ia memainkan peran yang terstruktur bagi kedalaman sensasi individu, dan ia memiliki pengaruh dalam menentukan inisiasi dan kognisi.

Lapisan ini berada tepat di belakang dahi. Maksudnya, ia bersembunyi di dalam ubun-ubun. Dengan demikian, lapisan depan itulah yang mengarahkan sebagian tindakan manusia yang menunjukkan kepribadiannya seperti kejujuran dan kebohongan, kebenaran dan kesalahan, dan seterusnya. Bagian inilah yang membedakan di antara sifat-sifat tersebut, dan juga memotivasi seseorang untuk bernisiatif melakukan kebaikan atau kejahatan.

Ketika Prof. Keith L Moore melansir penelitian bersama kami seputar mukjizat ilmiah dalam ubun-ubun pada semintar internasional di Kairo, ia tidak hanya berbicara tentang fungsi frontal lobe dalam otak (ubun-ubun) manusia. Bahkan, pembicaraan merembet kepada fungsi ubun-ubun pada otak hewan dengan berbagai jenis. Ia menunjukkan beberapa gambar frontal lobe sejumlah hewan seraya menyatakan, “Penelitian komparatif terhadap anatomi manusia dan hewan menunjukkan kesamaan fungsi ubun-ubun.

Ternyata, ubun-ubun merupakan pusat kontrol dan pengarauh pada manusia, sekaligus pada hewan yang memiliki otak. Seketika itu, pernyataan Prof. Keith mengingatkan saya tentang firman Allah, “Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (Hud: 56)

Beberapa hadits Nabi SAW yang bericara tentang ubun-ubun, seperti doa Nabi SAW, “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu dan anak hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di tangan-Mu…”

Juga seperti doa Nabi SAW, “Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan setiap sesuatu yang Engkau pegang ubun-ubunnya…”

Juga seperti sabda Nabi SAW, “Kuda itu diikatkan kebaikan pada ubun-ubunnya hingga hari Kiamat.”

Apabila kita menyandingkan makna nash-nash di atas, maka kita menyimpulkan bahwa ubun-ubun merupakan pusat kontrol dan pengendali perilaku manusia, dan juga perilaku hewan.
Lengkapnya Klik DISINI

Misteri Waktu Sholat…!

13082674461058945873 
Sering saya perhatikan saat malam menjelang tidur,jika tidak ada acara olah raga tennis,maka saya lebih suka menikmati siaran tv live dari mekah..namanya tv saudi quran,kalo yg live dari madinah namanya tv saudi sunah..!


Di sini jadi kita tau atau update tentang banyak tidak jemaah yg sedang umroh dimasjidil haram atau yg sedang ziarah di madinah!kadang saat menjelang subuh biasanya tetap padat walo hari biasa,tapi setelah jam 7-9am..biasanya sepi hanya beberapa ratus orang saja yg sedang melakukan tawaf,ini  terjadi kalo hari biasa atau  hari jam sibuk kerja macam hari sabtu-senin(maaf asal anda tahu  libur arab saudi  hari kamis-jumat),tapi kalo sudah memasuki hari selasa -jumat,maka masjidil haram tampak penuh padat,apalagi hari jumat macam sekarang dah pasti penuh sesak..!

Yang uniq adalah di tv tersebut selalu tampak texs bar..berjalan..memberi tahukan jadwal waktu sholat dari berbagai belahan dunia…!!jika daerah/negara yg dilintasi oleh garis khatulistiwa macam indonesia,maka waktu sholatnya baik subuh/fajar sampai isya tak banyak perubahan sepanjang tahun,tapi beda dengan daerah yg sub tropis atau yg daerah sudah memasuki wilayah dekat kutub..jadwal sholatnya,sangat sulit ditebak..kadang ada yg saat musim dingin subuhnya jam 7am,tapi ada pula saat musim panas seperti dibelahan bumi utara macam sekarang maka subuhnya ada yg pukul 3.00am..begitupun sholat isyanya malah menjelang jam 8.30pm..!sementara saat musim dingin magrib ada yg jam 4.30 pm..ini benar-benar suatu hal yg ada pada islam saja..!

Sampai saat ini saya masih bertanya-tanya..ternyata waktu sholat/menghadap allah bagi umat islam,sangat bergantung sekali dengan pedoman matahari…!!waktunya sudah ditetapkan sedemikian rupa,dan tiap-tiap wilayah adalah tidak sama..mungkin bisa jadi dengan dibedakannya waktu seperti ini, jadi setiap detiknya di belahan bumi manapun ada orang yg selalu berzikir,bersujud dan bershalawat..menyebut nama allah dan mengagungkanNya dalam rentang 24jam, seperti halnya bumi mengitari matahari,buat saya ini adalah benar-benar suatu misteri atau rahasia allah..!yang sangat mengagumkan..!
Contoh waktu sholat di afghanistan..waktu sekarang adalah:
Afghanistan Prayer Times
City Fajr Sunrise Dhuhr Asr Maghrib Isha
Ghazni 3:03 4:45 11:58 3:42 7:09 8:52
Herat 3:24 5:08 12:22 4:08 7:36 9:21
Jalalabad 3:24 5:09 12:23 4:09 7:36 9:21
Kabul 2:55 4:40 11:54 3:41 7:08 8:54
Mazar-i-Sharif 2:50 4:41 12:02 3:54 7:22 9:14
Qandahar 3:23 5:01 12:08 3:48 7:14 8:54
Sementara dibelahan selatan dunia lainnya macam argentina untuk saat ini adalah:
Argentina Prayer Times
City Fajr Sunrise Dhuhr Asr Maghrib Isha
Buenos Aires 6:31 8:00 12:56 3:33 5:51 7:16
Cordoba 6:48 8:14 1:18 4:03 6:21 7:43
La Plata 6:28 7:58 12:53 3:29 5:47 7:13
Mendoza 7:09 8:36 1:37 4:18 6:36 8:00
Salta 6:44 8:04 1:23 4:21 6:41 7:58
Ada perbedaan yg  sangat menyolok..waktu sholat subuh/fajar di Kabul/Afghanistan..: jam 2.55Am
Sementara waktu sholat shubuh/fajar sekarang di argentina/Buenos Aires jam: 6.31Am
Dan maaf  semua tulisan ini adalah hanya opini saya semata..yg masih banyak kekurangan..!

Salam..!

 http://www.islamicfinder.org/world.php
Lengkapnya Klik DISINI

Terpilihnya Jazirah Arab untuk Risalah Kenabian Terakhir

Terpilihnya Jazirah Arab untuk Risalah Kenabian Terakhir
Kita mungkin sering bertanya-tanya, mengapa risalah kenabian Islam terakhir diturunkan tidak di negeri dengan peradaban yang dikenal tinggi seperti Romawi, Persia, Mesir, Yunani, China, atau India. Risalah kenabian penutup justru diturunkan di sebuah dataran negeri yang belum memiliki track record peradaban yang tinggi dan menakjubkan, Jazirah Arab. Sebuah tanah yang lebih dikenal sebagai negerinya kaum Baduwi yang kurang beradab dan wilayahnya tidak subur. 

Namun, Allah menghendaki untuk menurunkan risalah kenabian di jazirah negeri ini. Ia mengutus Muhammad bin Abdullah sebagai pengemban risalah fithriyah ilahiyah. Ia mengutus Muhammad bin Abdullah sebagai rasul-Nya di muka dunia. Ia mengutus Muhammad bin Abdullah untuk menyeru manusia untuk kembali mentauhidkan-Nya dan menyerahkan diri mereka sepenuhnya pada Allah.

Allah memilih Muhammad sebagai rasulullah dari salah satu keluarga Arab di Kota Makkah. Imam Muslim menulis dalam Shahih, bahwa Rasulullah berkata tentang silsilah keturunannya, “Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari garis keturunan Ismail, dan memilih Quraisy dari garis keturunan Kinanah, dan memilih Bani Hasyim dari garis keturunan Quraisy, dan memilih saya dari Bani Hasyim.”

Ismail adalah salah satu nabi putera Bapak Para Nabi, Nabi Ibrahim Sang Kekasih Allah. Dari Nabi Ibrahim inilah lahir pula Nabi Ishaq. Dari keturunan Nabi Ishaq, diangkatlah nabi-nabi untuk Bani Israel. Sementara itu dari keturunan Nabi Ismail, tidak ada yang diangkat menjadi rasul hingga pengangkatan Muhammad.
Disebutkan dalam Fikih Sirah karangan Prof. Dr. Zaid Abdul Karim Az Zaid, sejumlah ulama memberikan pemaparan berdasarkan ijtihad mereka tentang sebab-sebab terpilihnya Jazirah Arab sebagai tempat turunnya risalah kenabian yang terakhir. Sebab-sebab ini disimpulkan dari fenomena yang ada pada Jazirah Arab dibandingkan dengan wilayah lainnya.

1.Wilayah Sulit
Jazirah Arab merupakan sebuah wilayah yang sebagian besarnya merupakan gurun pasir panas yang sulit ditaklukkan oleh imperium-imperium besar di sekitarnya. Dua imperiuam besar yang wilayahnya berdekatan dengan Jazirah Arab saat itu adalah Imperium Romawi yang beragama Kristen dan Imperium Persia yang beragama Majusi.

Meskipun Jazirah Arab tidak memiliki satu kekuatan politik pemersatu yang kuat, tapi dua imperium raksasa ini kesulitan untuk menginvasi wilayah Jazirah Arab secara keseluruhan. Bahkan sejatinya Jazirah Arab diisi oleh suku-suku yang suka berperang diantara sesamanya.

2.Agama Persatuan
Berbeda dengan dua imperium raksasa seperti Persia dan Romawi yang disatukan secara politis dan religius dengan agama yang sama, yakni Majusi dan Kristen, Jazirah Arab memiliki agama dan kepercayaan religius yang sangat beragam.

Meskipun kemusyrikan dianut mayoritas penduduk Jazirah, akan tetapi tatacara ibadah dan bentuk kemusyrikan mereka berbeda-beda antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Ada kelompok yang menyembah malaikat, ada kelompok yang menyembah bintang, ada kelompok yang menyembah berhala, dan lain sebagainya. Bahkan bisa jadi antara satu keluarga dengan keluarga yang lain memiliki tuhan yang berbeda dan tatacara ibadah yang berbeda pula.

Sebagian kecil yang lain memandang bahwa agama-agama ini sesat. Sehingga mereka memilih dan menganut agama-agama terdahulu yang ada, misalnya sisa agama Ibrahim, Yahudi, dan Kristen.

3.Sistem Sosial
Jazirah Arab memiliki sistem sosial tertentu dengan tradisi kesukuan tertentu. Misalnya sistem kekeluargaan yang memegang peranan sangat sentral dalam sistem kemasyarakatan saat itu. Apa yang dilakukan Bani Hasyim saat membela dakwah Muhammad bin Abdullah merupakan bukti kekuatan sistem sosial ini. Meskipun sebagian diantara mereka belum atau tidak menerima risalah yang dibawa Rasulullah, akan tetapi mereka memberikan pembelaan terhadap dakwahnya dan mencegah kezhaliman terhadapnya.
Ashabiyah atau fanatisme kesukuan dalam sistem sosial masyarakat Arab sangat dimanfaatkan oleh kaum Muslimin dalam membela aqidah dan menyebarkan dakwah Islam.

4.Fithrah Sosial
Orang-orang yang tinggal di Jazirah Arab umumnya tinggal di wilayah pedesaan yang jauh dari keramaian kehidupan kota. Sehingga pola pikir dan corak pemahaman mereka belum terlalu terkontaminasi oleh masyarakat perkotaan yang lebih individualistis dan materialistis. Mereka merupakan masyarakat yang pemikiran, perspektif, dan persepsi kehidupannya masih murni.

5. Pusat Geografis
Sejumlah pakar geografi dan ulama syari’at menyimpulkan bahwa Jazirah Arab secara geografis merupakan wilayah yang terletak di tengah-tengah peta dunia.

Dr. Husain Kamaluddin mengatakan, “Tatkala saya telah meletakkan langkah-langkah awal penulisan ini dan saya menggambar peta dunia, saya mendapatkan bahwa Makkah berada di tengah lingkaran yang menyentuh segala ujung benua, atau dengan bahasa lain, wilayah daratan dari bumi ini terletak di sekitar Makkah dengan letak yang tertata rapi, dan bahwasanya kota Makkah sekarang merupakan pusat orbit bumi daratan..”
Dalam Surat Asy Syura’ ayat 7, Allah berfirman, “Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur’an dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Makkah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya, serta memberi peringatan  (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya…”

6.Bahasa Arab
Bahasa Arab yang menjadi alat komunikasi lingual tunggal di Jazirah Arab merupakan satu sistem bahasa yang unggul dan luas persebarannya. Berbeda dengan wilayah lain yang bahasanya bermacam-macam dan jumlahnya banyak. Di wilayah India ada 15 bahasa resmi, sementara Indonesia memiliki sekitar 300 bahasa daerah.

7. Sosio Religiusitas Makkah
Kota Makkah memiliki beberapa keutamaan yang tidak dimiliki oleh kota-kota lain di dunia. Di kota Makkah banyak pengunjung yang datang, berziarah ke Ka’bah yang dibangun Ibrahim dan Ismail, diselenggarakannya haji, kompetensi sastera dan syair, dan dilakukannya perdagangan oleh para sudagar.

Dengan semua keutamaan itu, maka akan mempermudah sampainya berita ke berbagai wilayah di Jazirah Arab melalui para musafir yang datang ke Makkah dan kembali ke asalnya. Kaum Anshar pertama juga masuk Islam saat musim haji.

8. Kesempurnaan Antropologi
Pakar sosiologi Islam terkemuka, Ibnu Khaldun, dalam Muqaddimah, mengatakan, “Penduduk Jazirah Arabia adalah manusia pertengahan berdasarkan segi perawakan tubuh, warna kulit, akhlak, dan agama kepercayaan, hingga mayoritas nabi-nabi yang diutus berasal dari belahan dunia Arab. Kita belum mendengar berita kenabian yang muncul dari belahan selatan atau utara dunia ini, karena nabi dan rasul harus memiliki kesempurnaan dari segi fisik dan moral.”

Dalam Surat Ali Imran ayat 110, Allah berfirman, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.”
“Yang demikian itu,” lanjutnya, “Agar mereka umat manusia mudah menerima risalah dakwah para nabi itu, dan penduduk Jazirah Arabia lebih memiliki syarat-syarat yang memudahkan mereka menerima risalah itu.”

9.Penggenapan Nubuwah
Nubuwah tentang terpilihnya seorang lelaki dengan nama Ahmad, dalam Al Kitab, disebutkan dalam Al Qur’an Surat Ash Shaff ayat 6, “Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata, ‘Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).’ Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, ‘Ini adalah sihir yang nyata.’”

Syaikh Ahmad Deedat, dalam bukunya The Choice, saat menafsirkan ayat dalam Injil yang menjelaskan tentang kedatangan paraclete atau paracletos, merujuk tafsirannya kepada “Sang Penghibur” atau “Sang Pembawa Berita Gembira”, yaitu Muhammad.

Itulah beberapa alasan yang disebutkan para ulama.
Bagaimanapun fenomena dan sebab-sebab yang tampak dari alasan terpilihnya Jazirah Arab sebagai tempat turunnya risalah kenabian terakhir, tapi tetap saja Allah lah yang lebih tahu tentang rahasia ini. Penyebabnya tentu saja karena memang tidak ada dalil-dalil atau nash yang secara eksplisit menyebutkan tentang rahasia ini.

sumber:http://www.fimadani.com/
Lengkapnya Klik DISINI

Sumber Rujukan Kajian Fikih Sirah

Sumber Rujukan Kajian Fikih Sirah
      Seperti halnya kajian ilmiah yang lainnya, Fikih Sirah juga dikaji dari berbagai sumber-sumber ilmiah yang terkait dengannya. Dikarenakan Fikih Sirah merupakan kajian tentang perjalanan kehidupan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, maka sumber-sumber rujukannya pun haruslah merupakan sumber yang kredibel. Dalam hal ini, kehidupan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam selalu terkait dengan wahyu ilahiah dan
pergaulan sosial politiknya.

Dr. Muhammad Said Ramadhan Al Buthi dalam Fiqush Sirah-nya menyebutkan bahwa secara umum sumber rujukan sirah nabawiyah ada tiga, yakni Kitabullah, Sunnah Nabawiyah yang shahih, dan kitab-kitab sirah.
Berikut pemaparan dari ketiga sumber rujukan kajian Fikih Sirah Nabawiyah tersebut:

1. Kitabullah Al Qur’an
Al Qur’an merupakan sumber utama dalam kajian Fikih Sirah untuk memahami bagaimana sifat dan karakter umum Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Al Qur’an adalah wahyu dari Allah yang menjadi penuntun jalan bagi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dalam menjalankan dan memperjuangkan da’wah Islam ke penjuru dunia.

Dari Al Qur’an pulalah kita mengetahui bagaimana akhlak moralitas serta karakter kepribadian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam sebagai seorang utusan Allah dan sekaligus “manusia biasa”. Ketika isteri beliau, Ummul Mukminin Aisyah, ditanya tentang akhlak Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, beliau menjawab, “Akhlak Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam itu adalah Al Qur’an.” Pernyataan Ummul Mukminin Aisyah ini tercatat dalam Kitab Shahih Muslim.

Dalam mengemukakan sirah nabawiyah, Al Qur’an menggunakan dua metode utama.
Pertama, mengemukakan sebagian kejadian dari kehidupan dan sirahnya. Metode ini diimplementasikan dengan ayat-ayat yang menjelaskan tentang berbagai peperangan seperti Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq, dan Perang Hunain. Juga pada ayat-ayat tentang perkawinan beliau dengan Zainab binti Jahsi.

Kedua, mengomentari kasus dan peristiwa yang terjadi untuk menjawab masalah, memberikan penjelasan, menarik perhatian kaum Muslimin dengan pelajaran dan nasihat yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut.  Misalnya ayat tentang tiga pertanyaan kaum musyrik kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dan jawaban dari Allah atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Kedua metode ini memberikan gambaran dalam fragmen perjalanan kehidupan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam di dalam memperjuangkan dakwah Islam. Sehingga banyak potongan-potongan riwayat hidup Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang bisa diperoleh dari Kitabullah.

Namun, meskipun metode-metode tersebut banyak bertebaran di dalam Al Qur’an, gambaran kehidupan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam secara utuh dan kronologis belum bisa diperoleh. Pembicaraan Al Qur’an tentang ini hanya terputus-putus pada fragmen-fragmen tertentu kehidupan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam secara umum dan sekilas saja.

2. Sunnah Nabawiyah yang Shahih
Sunnah yang dimaksud dalam hal ini adalah hadits, yakni sesuatu yg disandarkan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, berupa perkataan ,perbuatan, pernyataan, dan yg sebagainya yang diriwayatkan dari shahabat hingga ke para imam penghimpun hadits.

Sunnah ini telah dihimpun oleh para imam hadits sejak awal masa Islam pasca wafatnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Sedangkan sunnah yang shahih merupakan sunnah atau hadits yang kredibilitasnya diakui. Secara umum sunnah ini terdapat dalam kitab-kitab hadits induk yang disusun oleh para imam hadits, misalnya Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Abu Dawud, Imam Ibnu Khuzaimah, Imam Tirmidzi, Imam An Nasa’i, dan sebagainya.

Sumber rujukan kedua dalam kajian sirah nabawiyah ini lebih luas dan lebih rinci dibandingkan dengan Al Qur’an. Akan tetapi, sumber rujukan ini belum tersusun secara sistematis dan kronologis tentang kehidupan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam sejak lahir hingga wafat.

Hal ini disebabkan karena penyusunan hadits dalam kitab-kitab induk tersebut berdasarkan bab-bab fikih atau pokok pembahasan berdasarkan syari’at Islam. Selain itu, para imam hadits biasanya tidak mencatat riwayat sirah secara terpisah, tapi hanya mencatat dalil-dalil syariat secara umum yang diperlukan.
Selain itu, keistimewaan sunnah shahih ini adalah bahwa sebagian besar isinya diriwayatkan dengan sanad shahih yang bersambung kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam atau para shahabat yang merupakan sumber khabar manqul, meskipun juga ada sebagian riwayat dha’if yang tidak bisa dijadikan sumber rujukan yang kredibel.

3. Kitab-kitab Sirah
Kajian sirah nabawiyah pada masa awal Islam diambil dari berbagai riwayat dari para shahabat tanpa dituliskan dan disusun secara khusus. Pada masa tabi’in, kajian sirah nabawiyah mulai diperhatikan lebih khusus dengan pengumpulan dan penulisan berbagai data sirah. Di antara mereka ialah Urwah bin Zubair (wafat 92 H), Aban bin Utsman (wafat 105 H), Syurahbil bin Sa’ad (wafat 123 H), Wahab bin Munabbih (wafat 110 H) dan Ibnu Syaihab Az Zuhri (wafat 124 H). Namun, artefak tulisan peninggalan mereka telah hilang, kecuali sebagian riwayat yang sempat ditulis Imam Ath Thabari. Konon, tulisan Wahab bin Munabbih sampai sekarang masih tersimpan di Heidelberg, Jerman.

Setelah mereka, muncul generasi baru penyusun sirah. Yang paling populer adalah Muhammad bin Ishaq (wafat 152 H). Lalu muncul Al Waqidi ( wafat 203 H) dan Muhammad bin Sa’ad dengan kitabnya Ath Thabaqat Al Kubra. Kitab yang ditulis oleh Muhammad bin Ishaq, yang berjudul Al Maghazi, merupakan kitab sirah paling tua. Akan tetapi kitab tersebut telah hilang.

Abu Muhammad Abdul Malik atau yang populer dengan nama Ibnu Hisyam meriwayatkan sirah nabawiyah yang ditulis oleh Ibnu Ishaq dan melakukan berbagai penyempurnaan. Beliau menulisnya dari dua kitab sirah nabawiyah Ibn Ishaq yang berjudul Al Maghazi dan As Siar. Dari kitab Ibnu Hisyam itulah pada masa kontemporer disarikan isi kitabnya yang merupakan duplikasi dari sirah nabawiyah karangan Ibnu Ishaq, lantas dinisbatkan sebagai kitab sirah nabawiyah Ibnu Ishaq. Jadi, kitab sirah nabawiyah Ibnu Ishaq yang beredar saat ini adalah hasil penyaringan dari kitab sirah nabawiyah Ibnu Hisyam.

Setelah masa itu, muncullah kitab-kitab sirah nabawiyah yang disusun oleh para ulama. Misalnya Ismail bin Katsir atau Ibnu Katsir dengan Al Fushul fi Ikhtishari Siratur Rasul Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Selain itu beliau juga menulis sirah nabawiyah dalam bagian Al Bidayah wan Nihayah. Ibnul Jauzi menulis pula tentang sirah nabawiyah dengan judul Al Wafa’ bi Ahwal Al Musthafa. Imam Al Asfahani menulis Dala’il An Nubuwah. Imam At Tirmidzi menulis Asy Syama’il, dan Ibnul Qayyim Al Jauziyah menulis dalam kitabnya, Zadul Ma’ad. Ini hanya sebagian kecil contoh saja.

Di masa modern dan kontemporer  kitab-kitab sirah nabawiyah  banyak pula ditulis para ulama, diantaranya adalah Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri dengan kitabnya Ar Rahiq Al Makhtum. Ada juga versi ringkas sirah nabawiyah yang ditulis oleh Imam Muhammad bin Abdul Wahab dengan judul Mukhthasar Siratur Rasul Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ustadz Abul Hasan Ali An Nadwi dari India pun juga menulis As Sirah Nabawiyah. Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi menulis kitab Hadzal Habib, Ya Muhibb.  Muhammad Husain Haikal dari Mesir menulis Hayat Muhammad.  Sementara itu di Indonesia, terdapat KH Moenawar Chalil yang menulis Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, sebuah kitab sirah nabawiyah dengan pendekatan tarikh.
Bahkan, hingga saat ini masih banyak para ulama, intelektual, dan orientalis yang juga menulis tentang sirah nabawiyah.

Selain tiga sumber rujukan utama yang disebutkan oleh Dr. Muhammad Said Ramadhan Al Buthi tersebut, sebenarnya sumber-sumber rujukan utama dalam kajian Fikih Sirah masih banyak. Misalnya yaitu kitab-kitab induk kajian fiqh, kitab-kitab induk tafsir Al Qur’an, kitab asbabun nuzul, kitab syarah hadits, kitab sejarah Islam, kitab kajian politik Islam, dan kitab kajian gerakan Islam kontemporer.

sumber:http://www.fimadani.com/sumber-rujukan-kajian-fikih-sirah/
Lengkapnya Klik DISINI

Mata-Mata dalam Perang Rasulullah

Dalam peperangan, trik dan intrik menjadi salah satu aspek kemenangan. Begitu juga yang dilakukan Rasulullah dalam beberapa perangnya. Rasulullah saw bersabda: “Berbohong tidak dihalalkan kecuali dalam tiga perkara, yaitu dalam peperangan, dalam rangka mendamaikan antara orang-orang yang bersengketa, suami yang berbicara kepada isterinya dengan tujuan menggembirakannya.” (HR. Ahmad, HR. At-Turmudzi No. 1862).

Mata-Mata dalam Perang RasulullahDalam Riyadhus Sholihin, Imam Nawawi membawakan dalil dari Ummu Kultsum, dari Nabi SAW bersabda: “Tidaklah dikatakan pendusta orang yang mendamaikan antara manusia dan dia berkata baik pada kedua belah pihak.” (Hadis Bukhari No. 2692 atau Muslim No. 2605). Di sini, aspek yang akhirnya menjadi pentinga dalah mata-mata. Untuk mengetahui kekuatan lawan, mata-mata sangat diperlukan.

Dalam istilah kepolisian, kegiatan memata-matai ini ada dua jenis, yaitu survaillance dan undercover. Beberapa perang Rasulullah juga menggunakan pola ini. Satu hal yang menjadi poin terpenting adalah bagaimana cara Rasulullah memilih orang yang berkompeten sesuai dengan firman Allah,
“Karena sesungguhnya orang yang paling baik di antara kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (Al Qashash:26)

Perang Badar
Menjelang peristiwa perang Badar, Rasulullah dan pasukan melakukan perjalanan menuju Badar. Setelah melalui beberapa bukit, maka tibalah mereka di Badar. Dari sana beliau melakukan kegiatan mata-mata bersama Abu Bakar. Tatkala mereka berputar-putar di sekitar pasukan kafir Quraisy, tiba-tiba mereka berpapasan dengan seorang Arab yang sudah tua.

Pada saat pertemuan yang tidak sengaja itu, Rasulullah melakukan penyamaran agar tidak ketahuan sebagai bagian dari pasukan Muslimin dari Madinah. Rasulullah bertanya kepada orang tua itu tentang pasukan Quraisy dan Muhammad. Strategi itu dilakukan Rasulullah agar tidak diketahui penyamarannya. Orang tua itu berkata, “Aku tidak akan memberitahu kepada kalian sebelum kalian memberitahu kepadaku, dari mana asal kalian berdua.” Rasulullah menanggapi, “Beritahukan kepada kami, nanti akan kami beritahukan kepadamu dari mana asal kami.” “Jadi begitukah?” Rasulullah menjawab, “Benar.” Orang tua itu menjelaskan, “Menurut informasi yang kudengar, Muhammad dan rekan-rekannya berangkat pada hari ini dan ini. Jika informasi itu benar, berarti pada hari ini dia sudah tiba di tempat ini (tepat di tempat pemberhentian pasukan Muslimin). Menurut informasi yang kudengar, Quraisy berangkat pada hari ini dan ini. Jika informasi ini benar, berarti mereka sudah tiba di tempat ini (tepat di tempat pemberhentian pasukan musyrikin Quraisy).”

Setelah selesai memberikan penjelasan, orang tua itu bertanya, “Lalu dari mana asal kalian berdua?” Rasulullah menjawab, “Kami berasal dari setetes air.” Setelah itu Rasulullah dan Abu Bakar beranjak pergi meninggalkan orang tua itu melongo keheranan, “Dari setetes air yang mana? Ataukah dari setetes air di Irak?”, ujar orang tua itu masih melongo.

Perang Khandaq
Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Hudzaifah Ibnul Yaman r.a. ia berkata : “Rasulullah saw merasakan tiupan angin yang sangat kencang dingin mencekam. Rasulullah saw kemudian bersabda “Adakah orang yang bersedia mencari berita musuh dan melaporkannya kepadaku. Mudah-mudahan Allah menjadikannya bersamaku pada hari kiamat”. Kami semua diam, tak seorang pun dari kami menjawabnya, Rasulullah saw mengulangi pertanyaan itu hingga tiga kali kemudian berkata “Bangkitlah, wahai Hudzaifah. Carilah berita dan laporkanlah kepadaku!”. Karena itu, tidak boleh tidak, aku harus bangkit karena beliau menyebut namaku.”
Setelah sampai sampai di basis Kaum Musyrikin Quraisy, Hudzaifah sempat melihat Abu Sofyan menghangatkan punggungnya di perapian dan memasang anak panahnya untuk bersiap membunuh Abu Sofyan, tetapi Hudzaifah segera teringat pesan Rasulullah “Jangan engkau melakukan tindakan apapun”.

Dalam Perang Khandaq ini tidak terjadi pertempuran fisik. Hudzaifah masuk menyamar ke dalam basis Kaum Musyrikin Quraisy dan pasukan Rasulullah bertahan dengan perlindungan parit. Setelah Hudzaifah berhasil masuk ke dalam basis Kaum Musyrikin Quraisy dan mengetahui bahwa Abu Sofyan saat itu memerintahkan untuk pasukannya kembali ke rumah.Kemudian Rasulullah bersama para sahabatnya kembali ke Madinah.

Perang Hunain
Dalam Perang Hunain, ada strategi yang sama yang diterapkan pihak lawan dan pihak pasukan muslim. Dari pihak lawan, Malik bin Auf mengirim beberapa mata-mata untuk mencari informasi tentang kaum Muslimin. Tapi mereka menjadi cerai berai dan turun moralnya karena berpapasan dengan sekumpulan laki-laki. Pihak mata-mata itu kembali kepada Malik dan melapor, “Kami berpapasan dengan sekumpulan laki-laki yang berpakaian putih menunggang kuda yang gagah. Demi Allah, lebih baik kami menarik diri daripada kami mendapat musibah.” Dalam buku Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfury, diterjemahkan bahwa sekumpulan laki-laki itu adalah malaikat.

Sementara pada saat yang sama Rasulullah saw mengutus Abu Hadrad Al-Islamy untuk memata-matai keberangkatan musuh dan memerintahkan agar menyusup ke tengah-tengah mereka (strategi undercover). Maka dia ikut menyusup di tengah pasukan musuh dan bisa mengetahui apa yang seharusnya diketahui, dan kembali lagi untuk diberitahukan kepada Rasulullah saw.

Dalam dunia intel, sering sekali mata-mata akhirnya ditangkap dan berakhir tragis. Sebut saja Mata Hari, Leila Khaled, Tokyo Rose, Allan Pope, dan masih banyak lagi. Fenomena-fenomena itu kebanyakan terjadi karena masalah uang dan kekuasaan. Kisah intel dan mata-mata Rasulullah yang dibekali keimanan dan ketaatan kepada perintah Rasulullah, serta ketaqwaan kepada Allah menjadikan mereka aman dan melaksanakan tugas dengan baik. Dan sekali lagi, Rasulullah selalu mencontohkan untuk menugaskan seorang yang berkompeten.

Wallahua’lam bisshowab.


sumber:http://www.fimadani.com

Lengkapnya Klik DISINI

SISTEM PEMERINTAHAN DALAM ISLAM

Seorang Nabi adalah seorang pemimpin yang mengatur rakyatnya dengan hidayah Allah. Kepemimpinan yang menunjukkan supremasi Dienullah atas aturan-aturan hidup yang lainnya. Ini telah dibuktikan dengan kepemimpinan Dawlah Islamiyah dimana Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam bertindak sebagai Imam dan sekaligus kepala negara

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati. hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (QS. 5. Almaaidah:49)

Ayat di atas menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wa Sallam dengan ajaran Islam yang dibawanya datang untuk memerintah manusia dengan wahyu yang diturunkan Allah Ta’ala. Seorang Nabi adalah seorang pemimpin yang mengatur rakyatnya dengan hidayah Allah. Kepemimpinan yang menunjukkan supremasi Dienullah atas aturan-aturan hidup yang lainnya. Ini telah dibuktikan dengan kepemimpinan Dawlah Islamiyah dimana Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam bertindak sebagai Imam dan sekaligus kepala negara.

Kepemimpinan Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam dilanjutkan oleh Sahabat-sahabat beliau. Para sahabat yang secara berturut-turut menggantikan fungsi Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam sebagai kepala negara mendapat jaminan boleh diikuti sepakterjangnya dalam sistem pemerintahan Islam. Nabi bersabda, “Hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapatkan hidayah”.

Para ulama mengatakan bahwa khulafaur Rasyidun ada empat: Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Tholib Radliyallahu Anhum. Sebagian mereka mengatakan ada lima dengan menambah Umar bin Abdul Aziz Radliyallahu Anhu. Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam juga berkata,

 “Khalifah sesudahku ada tigapuluh, kemudian sesudah itu kepemimpinan yang mengigit”

Para ulama berlainan pendapat dengan makna “tsalasin (tigapuluh)”
Ada yang mengatakan 30 tahun hijriyah ada yang mengartikan 30 orang Khalifah yang adil sampai hari kiamat. Sistem pemerintahan Islam dalam bentuk Khilafah telah mandeg sejak Tahun 1928 dengan Khalifah terakhir Sultan Abdul Hamid II dari Turki Othmani. Ini terjadi disebabkan kelalaian kaum muslimin sendiri.
Setelah berakhirnya masa khulafaur rasyidin sampai masa runtuhnya Khilafah Utsmaniyah tersebut telah terbentuk pula kerajaan-kerajaan Islam yang tersebar di seluruh Dunia. Kekhilafahan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain dmenanungi kerajaan-kerajaan Islam yang tersebar di seluruih Dunia. Dakwah Islam menjadi sebab utama munculnya berbagai kerajaan itu.
Di Indonesia pernah tegak kerajaan Perlak, Samudra Pasai, Pagaruyung, Palembang (Sumatera), Demak, Mataram, (Pulau Jawa), Pontianak, Pangkalan Bun, Banjar, Kutai (Kalimantan), Kesultanan Makassar dan Bone (Sulawesi), Kesultanan Ternate dan Tidore (Maluku), dan lain-lain. Para wali yang menyebarkan Islam di berbagai kepulauan Nusantara tidak hanya mengajarkan akidah, fikih, dan akhlak tetapi juga membangun masyarkat dan negara Islam. Mereka disebut Wali jamaknya awliya karena mereka adalah pemimpin-pemimpin negara yang menyampaikan dakwah Islam ke seluruh pelosok Nusantara…. Gelar mereka pun Sunan yang lebih tinggi derajatnya dari Sultan. Namun karena bentuknya yang kecil-kecil dan jauhnya hubungan kerajaan-kerajaan tersebut dengan pusat Khilafah semakin lama kerajaan-kerajaan itu semakin lemah sehingga satu persatu dapat ditaklukan oleh Penjajah.
Ketika perang kemerdekaan, kaum muslimin di Indonesia berdiri di front terdepan untuk membebaskan negerinya dari penjajah. Namun kondisi ummat Islam di dunia benar-benar berada dalam keadaan parah. Sementara itu masyarakat yang baru merdeka pada umumnya tyerkena euforia nasionalisme Barat…. Mereka mengatakan, “Kalau ingin maju tirulah barat (yang selama ini menjajah kita) dan tinggalkanlah agama”. Karena itu di dunia Islam sistem pemerintahan yang ada pada umumnya tidak mengacu pada sistem Islam. Kaum muslimin seolah-olah lebih percaya kepada selain ajaran Islam dan kaum muslimin untuk mengatur negeri ini.

Setelah runtuhnya Khilafah islamiyah berbagai upaya menegakkan kembali sistem ini dilakukan oleh para mujahid dakwah. Salahsatu yang mengambil jalan bertahap dan sistemik adalah Imam Syahid Hasan Albanna dengan gerakan dakwah Al Ikhwanul Muslimun. Beliau memiliki pandangan yang tajam dan terencana untuk membangun kembali kejayaan peradaban Islam. Mutiara pemikiran beliau yang terserak-serak tentang perbaikan pemerintahan akan kita sajikan kembali di sini dalam bentuk yang telah disesuaikan untuk keadaan sekarang.

Keharusan Ishlahul Hukumah
Ajaran Islam yang hanif ini mengharuskan pemerintahan yang diakui kaum muslimin tegak di atas kaidah sistem sosial yang telah digariskan oleh Allah untuk ummat manusia . Ia tidak menghendaki
terjadinya kekacauan dan tidak membiarkan ummat Islam hidup tanpa pemimpin. Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam bersabda kepada sebagian sahabatnya,

 Jika engkau berada di sebuah negeri yang tidak ada kepemimpinan di dalamnya, maka tinggalkanlah negeri itu”.

Pada hadits yang lain beliau juga bersabda kepada para sahabat,

 “Dan jika kalian bertiga, maka hendaklah salah seorang (di antara kalian) memimpin”

Barangsiapa beranggapan bahwa agama- terlebih lagi Islam tidak mengungkap masalah politik atau bahwa politik tidak termasuk dalam agenda pembahasannya, maka sungguh ia telah menganiaya diri dan intelektualitasnya sendiri. Kita tidak mengatakan bahwa ia telah menganiaya Islam, karena Islam itu syariat Allah yang sama sekali tidak mengandung kebatiln baik di depan maupun belakangnya.
Sungguh indah kata-kata Imam Al Ghazaly, “Ketahuilah bahwa syariat itu fondasi, dan raja itu penjaganya. Sesuatu yang tidak ada fondasinya pasti akan hancur, dan sesuatu yang tidak ada penjaganya niscaya akan hilang”.
Dawlah Islamiyah tidak akan tegak kecuali bertumpu di atas fondasi dakwah, sehingga ia menjadi sebuah pemerintahan yang menghasung sebuah misi, bukan sekedar bagan struktur, dan bukan pula
pemerintahan yang materialistis; yang gersang tanpa ruh di dalamnya.
Demikian juga dakwah tidak akan tegak kecuali jika ada jaminan perlindungan yang akan menjaga, menyebarkan, dan mengiokohkannya.

Merupakan kesalah yang fatal ketika kita melupakan akar pemikiran ini, sehingga dalam prakteknya kita sering memisahkan urusan agama dari urusan politik meski secara teoritis sebagian kita mengingkari pemisahan seperti ini. Para pakar politik seringkali merusak citra Islam dalam persepsi dan pikiran khalayak, serta merusak keindahan Islam dalam realitas kehidupan.
Hal ini mereka lakukan dengan keyakinan dan kesadaran penuh untuk menjauhkan pesan-pesan agama dari kancah politik. Inilah awal dari persangkaan yang keliru dan ini pulalah pangkal kerusakan.

Tiang-tiang Penyangga Pemerintahan Islam
Pemerintahan dalam Islam tegak di atas kaidah-kaidah yang sudah polpuler dan baku. Kaidah-kaidah itu merupakan kerangka pokok bagi sistem pemerintahan Islam . Ia tegak di atas tiga pilar: rasa tanggungjawab pemerintah, kesatuan masyarakat, dan sikap menghargai aspirasi rakyat.

Tanggung Jawab Pemerintah
Pemerintah dalam menjalankan tugasnya bertanggung-jawab kepada Allah dan rakyatnya. Pemerintah adalah pelayan dan pekerja, sedangkan rakyat adalah tuannya. Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam pernah bersabda,
 “Pemimpin suatu bangsa adalah pelayan mereka”
 “Setiap kalian adalah penggembala dan setiap kalian bertanggungjawab atas yang digembalakan”

 Ketika Abu Bakar ra diangkat menjadi khalifah, beliau naik ke atas mimbar seraya berkata, “Wahai sekalian manusia, aku dulu bekerja untuk keluargaku. Akulah yang menghasilkan makan buat mereka. Namun, kini aku bekerja untuk kalian, maka bayarlah aku dari baitulmaal kalian”.

Dengan penjelasan ini maka beliau telah memberikan penafsiran yang paling baik dan adil terhadap teori hubungan sosial antara pemerintah dengan rakyatnya. Bahkan beliau telah meletakkan dasar- dasarnya, bahwa masing-masing pihak harus menjaga hak-hak dan kewajiabnnya serta memelihara
kepentingan bersama. Jika dia baik dalam melakukan tugasnya, maka baginya pahala.
Namun jika sebaliknya, maka baginya telah sudah ditetapkan sanksi hukuman.

Kesatuan Ummat
Ummat Islam adalah ummat yang satu - karena ukhuwwah yang dengannya Islam telah mempersatukan hati mereka – adalah salahsatu landasan iman. Tidak ada kesempurnaan iman kecuali dengan ukhuwwah, dan tidak akan terealisir iman kecuali dengan menegakkannya. Namun hal itu tidak berarti menghalangi kebebasan menyatakan pendapat dan menyampaikan nasihat dari yang kecil kepada yang besar, atau dari yang besar kepada yang kecil. Hal inilah yang merupakan tradisi Islam , yakni memberi nasihat, amar makruf nahi munkar, Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam bersabda,

Agama itu nasihat. Mereka berkata, “Bagi siapa wahai Rasulullah ?? Rasulullah menjawab, “bagi Allah, Rasul-Nya, kitab-Nya, para pemimpin kaum muslimin , dan kalangan ummat mereka”

Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, Jika engkau melihat ummatku takut berkata kepada orang yang berbuat zalim, “Wahai si zhalim, maka ia telah keluar dari kelompok mereka”

Pada riwayat lain beliau menambahkan, “Dan perut bumi lebih baik bagi mereka daripada permukaannya”.
 Penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Mutollib dan orang yang berdiri di hadapan pemimpin durjana dengan memerintah berbuat makruf dan melarang dari perbuatan munkar, kemudian ia dibunuh”

Di kalangan ummat Islam tidak terdapat perbedaan dalam persoalan-persoalan prinsip antara satu dengan yang lain, karena sistem sosial yang mereka yakini adalah satu, yakni Al Islam yang telah dikenal luas oleh mereka. Sementara itu, perbedaan dalam hal furu’ (cabang) tidaklah membahayakan, tidak akan menimbulkan kebencian, permusuhan, dan fanatisme golongan. Meskipun demikian, diperlukan adanya penelitian dan kajian, musyawarah dan saling menasihati,. Apa yang sudah ada nashnya tidak perlu dilakukan ijtihad terhadapnya. Sedangkan yang tidak ada maka kepala negaralah yang memutuskan agar ummat tetap bersatu dengannya. Dan tidak ada lagi yang sesudah itu.

Menghargai Aspirasi Rakyat
Di antara hak ummat Islam adalah melakukan kontrol terhadap pemerintah dengan secermat-cermatnya dan menasihatinya jika dirasa hal itu membawa kebaikan. Sedangkan pemerintah hendaknya bermusyawarah dengan rakyat, menghargai aspirasinya, dengan mengambil yang baik dari masukan-masukannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kepada kepada kepala pemerintahan
agar melakukan hal itu,

Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu (Ali Imran: 159)

Bahkan Allah memuji kebaikan kaum muslimin atas prinsip tersebut,

Sedang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah antara mereka. (Assyura: 38)

Masalah ini juga ditegaskan oleh Sunnah Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam dan Khulafaur Rasyidin,
 “Jika datang kepada mereka suatu masalah, mereka mengumpulkan para ahli dari kaum muslimin. Kemudian mereka saling bermusyawarat dan mengambil yang benar dari rangkaian pendapat mereka. Bahkan para ahli tadi mengajak dan menganjurkan kamu berpegang kepada pendapat yang benar tadi”

Abu Bakar As Shiddiq berkata,
 Jika kalian melihat aku dalam kebenaran maka dukunglah (untuk melaksanakannya) dan jika kalian melihatku dalam kebatilan, maka betulkan dan luruskanlah”

Sistem Islam bukanlah slogan dan julukan semata, selama kaidah-kaidah pokok di atas tadi bisa diwujudkan (dimana tidak mungkin suatu hukum akan tegak tanpanya) dan diterapkan secara tepat
sehingga dapat menjaga keseimbangan dalam berbagai situasinya (yang masing-masing bagian tidak mendominasi bagian lainnya). Keseimbangan ini tidak mungkin dapat terpelihara tanpa adanya nurani yang selalu terjaga dan perasaan yang tulus akan kesakralan ajaran ini. Dengan memelihara dan menjaganya akan tercapailah keberuntungan di dunia dan keselamatan akhirat.

Itulah yang dalam istilah politik modern kita dikenal sebagai kesadaran politik, atau kematangan politik, atau pendidikan politik, atau istilah-istilah sejenis yang semua itu bermuara pada satu hakikat; keyakinan akan kelayakan sistem dan rasa kepedulian untuk menjaganya. Teks-teks ajaran
saja tidak akan cukup untuk membangkitkan ummat. Demikian juga, sebuah undang-undang tidak akan berguna jika tidak ada seorang hakim yang adil dan bersih- yang mempelopori penerapannya.

Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi oang-orang yang yakin? (QS. 5. AlMaaidah:50)

Telah dibahas dalam kajian pertama bahwa sistem pemerintahan Islam tegak di atas tiga pilar: tanggungjawab pemerintah, kesatuan ummat, dan penghargaan terhadap aspirasi rakyat. Kesemuanya telah terwujud sempurna pada masa khulafaur rasyidin. Para Khalifah ini memiliki rasa tanggungjawab yang besar dalam mengemban amanah yang dipikulkan di atas pundak mereka selaku pemimpin. Hal ini tercermin baik dalam pidato-pidato mereka maupun perilaku mereka selama memimpin. Berbagai kebijakan yang telah diambil juga dirasakan keadilannya oleh seluruh rakyat yang dipimpinnya. Simaklah pidato Umar bin Khattab ketika baru diangkat sebagai khalifah,

 “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku telah diangkat untuk menjadi pemimpin kalian. Kalau bukan Rasulullah aku diharap untuk menjadi yang terbaik di antara kalian, yang paling kuat untuk bisa mengurusi kalian, dan paling sensitif untuk bisa menyelesaikan perkara-perkara penting kalian, tentu aku tidak akan mau menjadi pemimpin di antara kalian. Cukuplah tugas Umar ini begitu menyedihkan, sambil menanti detik-detik hari perhitungan. Dia mengambil dan meletakkan hak-hak kalian sebagaimana yang telah ia lakukan dan ia hidup bersama kalian sebagaimana ia telah lakukan. Sungguh Tuhankulah Dzat yang berhak dimintai pertolongan”.

Umar merasa tidak mempunyai kekuatan kecuali jika ada rahmat, pertolongan, dan dukungan dari Allah. Berkenaan dengan besarnya rasa tanggungjawab sebagai pemimpin beliau berkata, “Seandainya ada unta yang hilang di dekat sungai eufrat, sungguh saya khawatir jangan-jangan keluarga Khattab yang akan dimintai pertanggungjawaban.”

Sementara itu Umar bin Abdul Aziz dalam sebuah khutbahnya mengatakan,

 “Amma ba’du, sesungguhnya tidak ada seorang Nabi pun setelah Nabi kalian Muhammad Shollallahu Alaihi Wa Sallam. Tidak ada kitab yang akan diturunkan setelah Kitab yang diturunkan kepada beliau. Ingatlah bahwa apa yang dihalalkan oleh Allah itu akan tetap halal sampai hari kiamat dan apa yang diharamkan Allah akan tetap haram sampai hari kiamat. Aku bukanlah seorang hakim tetapi aku seorang penyeru kepada keselamatan. Aku bukanlah seorang mubtadi’ (pembuat bid’ah) tapi aku seorang muttabi’ (yang berittiba kepada Rasulullah). Tidak ada seorang pun yang boleh ditaati dalam bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya, aku bukanlah yang terbaik di antara kalian, hanya saja Allah telah menjadikan aku orang yang paling berat dalam menanggung beban daripada kalian ”.

Tampuk kekuasaan diserahkan kepada Umar bin Abdul Aziz setelah pemakaman Sulaiman bin Abdul Malik (Khalifah sebelumnya). Namun beliau meminta untuk ditunda. Beliau kemudian menaiki kudanya dan kembali ke rumah. Salah seorang pelayannya yang bernama Muzahim masuk ke rumah seraya berkata, “Wahai amirul mukminin, kelihatannya ada yang penting?” Beliau menjawab, “Perkara yang menimpaku saat inilah yang kuanggap sangat penting. Sesungguhnya tidak ada satupun ummat Muhammad di Barat maupun di Timur kecuali punya hak yang aku harus
menunaikannya, meskipun ia tidak menuliskan atau memintanya kepadaku untuk melaksanakannya”.

Dulu ummat bersatu kata dengan berpegang teguh kepada tali-tali agama, yakni akan keutamaan hukum-hukumnya, memelihara perintah Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam dan peringatan keras beliau untuk menjaga persatuan. Demikian, pentingnya arti jamaah dan persatuan di bawah naungannya, sampai-sampai Rasulullah memerintahkan untuk membunuh siapa saja yang memisahkan diri dari jamaah dan keluar dari ketaatan. Beliau bersabda,
 “Barangsiapa yang datang kepada kalian – sementara kalian sudah bersatu - untuk memecah belah kekuatan kalian, maka penggallah ia dengan pedang, bagaimana pun keadaannya”.

Sebagaimana beliau juga bersabda, “Barangsiapa yang keluar dari ketaatan dan menentang jamaah
kemudia ia mati, maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah. Dan barangsiapa yang berperang di bawah bendera ashobiyah, marah karena ashobiyah, menyeru kepada ashobiyah, atau menghidupkan ashobiyah, kemudian, ia mati terbunuh maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah. Barangsiapa yang keluar dari ummatku, mencela yang baik maupun yang buruknya, tidak mau berhati-hati terhadap orang-orang mukmin dan tidak mau menepati janji, maka dia tidak termasuk golonganku dan aku bukan bagian daripadanya”.

Demikian, juga aspirasi dan kehendak rakyat, ia merupakan sesuatu yang sangat dihormati dan dihargai. Abu Bakar tidak memutuskan suatu keputusan pun bagi rakyatnya, kecuali setelah bermusyawarah dengan mereka, terutama dalam hal yang tidak ada nash hukumnya. Demikian, pula Umar bin Khattab. Untuk menduduki posisi Khilafah sesudahnya, beliau menunjuk enam orang – yang Rasulullah ridha kepadanya sampai akhir hayatnya – untuk bermusyawarah.
Pada saat ini kaum muslimin di negeri kita telah mengadopsi sistem demokrasi dan parlemen dari Eropa, dan menjadikannya sebagai pijakan pemerintahan kita. Maka sejauh manakah kesesuaiannya terhadap Islam ? Manfaat apa yang bisa kita peroleh dari diterapkannya di negeri kita selama lebih dari setengah abad?

Sikap Islam Terhadap Demokrasi dan Sistem Perwakilan

Sebagaian ummat menganggap demokrasi sebagai suatu kemungkaran dan kekafiran yang nyata, sementara mereka belum mengetahui secara persis apa itu hakikat dan esensi demokrasi tersebut. Mereka hanya mengetahui kulit luarnya saja dan langsung mengecam kelompok lain yang memanfaatkan sistem demokrasi dalam memperjuangkan dakwah Islam. Karena itulah DR. Yusuf Qardhawi di dalam bukunya “Fiqhud dawlah” menjawab dengan tangkas berbagai bentuk keraguan
tentang hubungan Islam dengan demokrasi. Menurut beliau hakikat demokrasi - berbeda jauh dengan definisi dan terminologi akademis kebanyakan orang - adalah bahwa rakyat memilih orang
yang akan memerintah dan menata persoalan mereka, tidak boleh dipaksakan kepada mereka penguasa yang tidak mereka sukai atau rejim yang mereka benci. Dalam demokrasi yang sebenarnya masyarakat diberi hak untuk mengoreksi penguasa bila dia keliru, diberi hak untuk mencabut dan menggantinya bila dia menyimpang. Mereka tidak boleh digiring dengan paksa untuk mengikuti berbagai sistem ekonomi, sosial, dan politik yang tidak mereka kenal dan tidak pula mereka sukai. Bila sebagian mereka menolak, maka mereka tidak boleh disiksa, dianiaya atau dibunuh.

Demokrasi yang sebenarnya memberikan beberapa bentuk dan cara praktis seperti pemilihan dan referendum umum, mendukung pihak mayoritas, menerapkan sistem multi partai, memberikan hak kepada minoritas untuk beroposisi, menjamin kebebasan pers dan kemandirian peradilan. Hakikat demokrasi seperti ini tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam sebab Islam tidak membenarkan seorang yang dibenci atau tidak disukai makmum menjadi imam mereka. Nabi berkata, “Ada tiga tipe orang yang sholatnya tidak naik di atas kepalanya walaupun satu jengkal. Yang pertama dari mereka “orang yang mengimami suatu kaum sedang ia dibenci oleh kaum itu ”.

Dalam masalah politik Nabi bersabda,
 “Imam atau pemimpin kalian yang terbaik adalah orang-orang yang kalian cintai dan mereka yang mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka juga mendoakan kalian. Imam atau pemimpin kalian yang terburuk adalah orang-orang yang kalian benci mereka juga membenci kalian, kalian mencela mereka dan mereka juga mencela kalian”.

Islam dapat menerima demokrasi karena ajarannya mencela penguasa diktator atau penguasa yang mengaku tuhan di muka bumi. Kisah-kisah yang diceritakan Al Qur-an kepada kita menjadi pelajaran bahwa para diktator seperti Namrudz di zaman Ibrahim AS, dan Fir’aun di zaman Musa AS adalah model penguasa yang dibenci Allah dan kaum muslimin harus menganggapnya sebagai sumber kemungkaran. Dari kisah Musa AS, Al Qur-an mengungkapkan bahwa kediktatoran terbangun berdasarkan aliansi empat pihak yang keji dan tercela,

Pertama: Penguasa yang angkuh yang mengaku tuhan di muka bumi, yang berlaku sewenang-wenang terhadap hamba-hamba Allah, penguasa seperti ini penggambarannya diwakili oleh Fir’aun.
Kedua, Politikus oportunis yang menggunakan kepintaran dan pengalamannya untuk melayani kepentingan penguasa tiran, untuk memantapkan kekuasaan dan meningkatkan popularitasnya, sehingga dia selalu dipatuhi rakyat. Politikus seperti ini diwakili oleh Haman.
Ketiga, Kapitalis dan feodalis yang mengambil manfaat dari pemerintahan yang zalim. Mereka mendukung pemerinthan ini dengan mengeluarkan sebagian hartanya untuk mendapatkan harta yang lebih banyak lagi dengan memeras keringat dan darah rakyat. Kelompok ini diwakili oleh Qarun….
Keempat, Para penasihat spiritual, para dukun, yang selalu menipu rakyat dengan meligitimasi perbuatan zalim penguasa berdasarkan pembodohan rakyat dengan dalil-dalil supranatural. Kelompok ini diwakili oleh tukang-tukang sihir Fir’aun termasuk mantan ulama bernama Bal’aam bin Baura.
Keempat kelompok ini bergabung karena kepentingan materi dan pemuasan syahwat. Al Qur-an mengungkapkan aliansi keempat kelompok tersebut dan sikap mereka dalam menghadang risalah Musa AS, sehingga akhirnya Allah membungkam mereka dengan kekuasaan-Nya. Dengan cermat sekali Al Qur-an mengaitkan antara kezaliman penguasa dengan tersebarnya kerusakan, yang merupakan penyebab runtuhnya berbagai bangsa di masa lalu,

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum 'Aad, (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain, dan kaum Tsamut yang memotong batu-batu yang besar di lembah, dan kaum Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang dalam negerinya, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab, sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi. (QS. 89. Al Fajr:6-14)

Kadang-kadang Al Qur-an mengungkapkan “kezaliman” dengan kata “keangkuhan”, yaitu kesombongan dan keangkara murkaan dengan menghina dan merendahkan hamba-hamba Allah. Allah berfirman tentang Fir’aun,

Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka.Sesungguhnya Fir'aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. 28. Al Qashsas:4)

Firman Allah,
Sesungguhnya dia adalah orang yang sombong, salah seorang dari orang-orang yang melampaui batas. (Ad Dukhan: 3)

Disamping mencela penguasa yang sombong dan mengaku tuhan. Al Qur-an juga mencela bangsa yang tunduk kepada orang-orang yang zalim itu. Al Qur-an membebankan tanggungjawab ke pundak berbagai bangsa itu berikut para pemimpinnya. Firman Allah tentang kaum Hud,

“Dan itulah kisah kaum Aad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, dan mendurhakai Rasul-rasul Allah dan menuruti semua perintah penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran)”. (Hud: 59)

Firman Allah tentang kaum Fir’aun,

Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik” (Az Zukhruf:54) Tapi mereka mengikuti perintah Fir’aun, padahal perintah Fir’aun sekali-kali bukanlah perintah yang benar. Ia berjalan di muka kaumnya di hari kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi. (Hud: 97-98)

Al Qur-an membebankan tanggungjawab kepada berbagai bangsa itu karena merekalah yang menjadikan Fir’aun sebagai Fir’aun yang zalim dan kejam. Hal ini sejalan dengan anekdot yang sering dikemukakan di masyarakat.

Ketika Fir’aun ditanya, “Kenapa kamu jadi Fir’aun?” Dia menjawab, “Saya tidak menemukan orang yang akan meluruskan tindakan saya”.

Bila demokrasi di tengah suatu masyarakat dibangun untuk memberdayakan masyarakat tersebut, untuk menolak kediktatoran suatu rezim, atau untuk membangun iklim dan budaya musyawarah di tengah masyarakat, maka Islam mengakui dan menerima demokrasi. Bahkan prinsip-prinsip demokrasi yang seperti itu sejalan atau mendekati amar ma’ruf nahi munkar, tawsiyah bil hak, dan
upaya-upaya menegakkan keadilan. Norma-norma dan prinsip penentangan terhadap kezaliman telah lebih dahulu di tetapkan Islam jauh sebelum adanya istilah “demokrasi” di muka bumi. Namun Islam menyerahkan perinciannya kepada ijtihad kaum muslimin sesuai dengan nilai-nilai dasar agama mereka, dan sejalan pula dengan kepentingan duniawi dan perkembangan kehidupan mereka di setiap tempat dan waktu. Melalui perjuangan panjang melawan kezaliman dan para diktator dari kalangan raja dan kaisar, demokrasi membentuk berbagai sarana yang sampai sekarang masih dianggap sebagai sarana terbaik untuk menjamin dan melindungi rakyat dari kesewenang-wenangan kaum tiran, walaupun disana sini masih terdapat kekurangan, karena kreasi manusia memang tidak ada yang sempurna.

DR. Yusuf Qardhawi mengatakan, “Tidak ada salahnya bagi suatu bangsa, bagi pemimpin dan pemikirnya, untuk berpikir dengan menggunakan berbagai konsep lain, barangkali dia akan menemukan sesuatu yang lebih baik dan sempurna. Namun sebelum hal itu dapat terwujud dan terlaksana dalam kenyataan, maka sebaiknya kita mengambil pelajaran dari berbagai konsep dan prinsip demokrasi yang ada, demi terwujudnya keadilan, musyawarah, menghormati hak-hak asasi manusia manusia, dan menghadapi para penguasa tiran yang berlaku angkuh di muka bumi. Di antara kaidah syariat yang telah disepakati adalah segala sesuatu kewajiban yang tidak sempurna kewajiban kecuali dengannya, maka dia juga wajib. Dan bila terbukti suatu sarana diperlukan untuk
merealisir tujuan syariat, maka sarana itu sama hukumnya dengan tujuan itu. Secara syariat tidak ada halangan untuk memanfaatkan gagasan politis atau solusi praktis dari non-muslim.

Contohnya, dalam perang Al Ahzab, Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam pun menerima pemikiran”menggali parit” di seputar kota madinah yang seperti diketahui pemikiran tersebut berasal dari Persia.

Pemilu dan Sistem Perwakilan Kita Dalam Pandangan Islam
Di antara sistem demokrasi yang lazim berlaku adalah sistem pemilihan umum. Menurut pandangan Islam, Pemilu merupakan “kesaksian” terhadap calon atas kelayakannya. Karena itu pemilih diharuskan memenuhi persyaratan seorang saksi, seperti adil dan di atas usia tertentu. Persyaratan keadilan boleh saja diringankan sesuai dengan keadaan, sehingga rakyat dapat memberikan kesaksian sebanyak mungkin. Semua orang diharapkan memberikan kesaksian, kecuali orang yang telah dibuktikan pengadilan melakukan tindak kriminal yang mencemari kehormatan dan harga diri dan seumpamanya.

Di Indonesia, yang diberikan kesaksian di dalam Pemilu adalah Partainya. Sayang karena kebodohan masyarakat terhadap politik mereka tidak mengetahui kualitas kandidat-kandidat calon wakil rakyat yang diajukan oleh Partai tersebut. Padahal dalam kesaksian ini setiap muslim dituntut untuk sejujurnya memberikan penilaian kepada Partai dan orang yang menjadi kandidat tersebut.

Karena itu siapa yang memberikan kesaksian bahwa seorang itu baik, padahal sesungguhnya dia tidak baik maka dia telah melakukan persaksian palsu yang tergolong dusta yang dosanya disejajarkan dengan menyembah berhala, “Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta”. (Al Hajj: 30)

Orang-orang yang memberikan suaranya dalam pemilihan umum kepada seorang calon bahwa dia baik dan layak untuk dipilih hanya karena yang bersangkutan adalah kerabat dan putera daerahnya, atau karena kepentingan pribadi, maka dia telah melanggar perintah Allah,  “Dan hendaklah kamu
tegakkan kesaksian itu karena Allah”.(Ath Tholaq: 2)  

Sebaiknya suara diberikan dengan landasan karena Allah dengan kriteria yang sesuai dengan kehendak Allah yaitu kepada orang yang paling taqwa kepada-Nya dan terbaik dalam beramal soleh di tengah kehidupan masyarakat. Maka para calon itu hendaknya diketahui kualitas agamanya, kebiasaan amal solehnya, dan kemampuannya beramar ma’ruf dan nahi munkar. Identitas mereka tidak boleh disembunyikan. Pemilu menunjukkan wala (loyalitas) seorang pemilih kepada orang-orang yang dipilihnya. Tingkat terendah dari wala adalah afiliasi kepada orang atau Partainya. Karena itu seorang muslim memilih harus berdasarkan firman Allah berikut,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) (QS. 4. An Nisaa:144)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. 5. Al Maaidah:51)

Pemilu itu pada dasarnya untuk memilih wakil rakyat.
Para pakar hukum perundang-undangan mengatakan bahwa sesungguhnya sistem perwakilan itu ditegakkan di atas fondasi tanggungjawab pemerintah, kedaulatan rakyat, dan penghargaan terhadap aspirasi mereka. Dalam sistem perwakilan juga tidak ada yang menghalangi persatuan dan kesatuan ummat. Perpecahan dan perbedaan pun termasuk syarat tegaknya, kendati sebagian dari mereka bahwa salahsatu tiang penyangga sistem parlementer adalah sistem kepartaian. Akan tetapi kalaupun ini telah menjadi tradisi, sesungguhnya ia bukan merupakan fondasi bagi tegaknya sistem ini. Karena sangat mungkin sistem parlementer tanpa adanya partai dan tanpa keluar dari kaedah-kaedah aslinya.

Atas dasar ini tidak ada kaidah-kaidah sistem parlemen yang bertentangan dengan kaidah-kaidah yang digariskan oleh Islam dalam menata pemerintahan. Dengan demikian, berarti sistem parlemen tidak jauh melenceng dan tidak asing bagi sistem Islam. Karena itulah sewajarnya kaum muslimin mempunyai Partai, ikut serta dalam Pemilu, mempunyai wakil-wakil di Parlemen untuk menyuarakan aspirasi mereka di tengah bangsanya yang majemuk. Tanpa kehadiran mereka, ada banyak keburukan akan terlahir dari dua poros besar,  

Pertama, munculnya pemimpin-pemimpin yang dibenci oleh Ummat Islam. Yaitu pemimpin yang akan bertindak diktator dengan mengatasnamakan demokrasi….
Kedua, semakin leluasanya orang-orang kafir dan sekuler membuat undang-undang dan aturan yang akan merugikan Islam dan kaum muslimin.

Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......