Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

Abu Nawas, Kuah Dibalas Makjun

Di mata Khalifah Harun al-Rasyid figur Abu Nawas memang lihai, dia tidak hanya lucu tetapi juga bijaksana sehingga tidak dapat dipandang enteng. Di satu pihak hal itu sangat membanggakan khalifah, tetapi di lain pihak, sangat menjengkelkannya, karena ia suka kurang ajar dan tidak tahu diri. Oleh karena itu baginda tidak pernah berhenti memeras otak untuk dapat membalas Abu Nawas.

Pada suatu hari di bulan Rabiulawal, baginda khalifah tersenyum simpul sendiri sambil bergumam, “Awas kau, Abu Nawas, kali ini pasti kena.”

Seperti biasa setiap bulan Rabiulawal, Sultan Harun Al-Rasyid menyelenggarakan acara Maulid Nabi di istana. Pada saat itu semua pembesar negeri hadir termasuk putra-putra mahkota dari negeri-negeri sekitarnya, tapi Abu Nawas tidak tampak.
“Panggil dia kemari,” perintah khalifah kepada punggawa.
Setelah Abu Nawas datang menghadap, dimulailah acara hari itu. Semua hadirin dipersilahkan berdiri, kemudian masing-masing disirami air mawar yang menebarkan bau sangat harum, kecuali Abu Nawas. Ia disiram dengan air kencing.

Sadarlah Abu Nawas, bahwa dia dipermalukan khalifah didepan para pembesar negeri. Ia bungkam seribu basa, namun di dalam hati ia berkata, “Oke, khalifah, hari ini kau beri aku kuah, esok akan kubalas kamu dengan isinya.”

Selesai upacara, semua orang pamitan kepada baginda dan pulang ke rumah masing-masing. Begitu pula dengan Abu Nawas.

Sejak itu Abu Nawas tidak pernah menginjakkan kakinya ke Istana. Tak kurang khalifah pun rindu berat kepadanya. Karena bagaimanapun Abu Nawas selalu dapat menghibur hatinya. Ada saja celotehan-celotehan Abu Nawas yang membuat suasana balairung jadi hidup.

Ketika khalifah memanggilnya, Abu Nawas tidak bersedia memenuhi panggilan itu, dengan alasan sakit, meski panggilan tersebut disampaikan terus menerus. Setiap kali punggawa datang setiap kali itu pula Abu Nawas bilang sakitnya makin serius.

Baginda pun khawatir dengan sakitnya Abu Nawas, maka ditengoknya Abu Nawas ke rumahnya di iringi beberapa orang petinggi kerajaan.
Mendengar khalifah menuju ke rumahnya, Abu Nawas buru-buru pasang aksi. Mata terpejam, badan tergeletak lemah lunglai. Namun sebelum itu ia telah menyuruh istrinya menyiapkan obat makjun, ramuan obat yang dibuat seperti dodol bulat, dan dua butir di antaranya dibubuhi tinja. Abu Nawas menelan sebutir obat itu ketika baginda sudah sampai di depannya.
“Hai Abu Nawas, apa yang kamu telan itu?” tanya khalifah.

“Inilah yang disebut obat makjun,” jawab Abu Nawas masih dalam posisi telentang. “Resepnya hamba peroleh tadi malam lewat mimpi. Seorang tua menghadap hamba dan berpesan agar obat makjun ini hamba telan dua butir, niscaya sembuh,” setelah Abu Nawas menelan sebutir lagi dan tampak badannya segar layaknya orang sembuh dari sakit.

“Kalau begitu aku juga mau makan obat makjun itu,” kata khalifah.

“Baiklah, tuanku,” kata Abu Nawas. “Bila paduka akan menelan obat ini, hendaklan berbaring seperti hamba sekarang ini, tidak boleh sambil duduk, apalagi dengan berdiri.”
Maka baginda pun berbaring.

“Pejamkan mata tuanku,” kata Abu Nawas.

Begitu mata Sultan terpejam, Abu Nawas cepat-cepat memasukkan butiran makjun itu ke mulut khalifah. Tiba-tiba khalifah bangkit karena obat itu menyangkut di batang tenggorokannya. Sambil membelalakkan matanya, Sultan berkata keras-keras. “Hai, Abu Nawas, kamu beri aku makan tinja ya?”

Maka Abu Nawas pun menghormat sambil berkata, “Dulu baginda memberi hamba kuahnya, sekarang hamba memberi baginda isinya. Jikalau baginda tidak memberi hamba uang seratus dinar, kejadian ini akan hamba ceritakan kepada khalayak ramai.”

“Diam kamu, jangan ngomong kepada siapa-siapa, nanti ku beri kau uang seratus dinar ,” kata khalifah.
Setelah itu khalifah dan semua pengiringnya kembali ke Istana, menyiapkan pundi-pundi berisi uang seratus dinar.

Lengkapnya Klik DISINI

Aku Anak Mbak ....

Lolo ayo mandi.  
Sebentar Mbak, Lolo masih nonton…
Iin ini makanannya sudah siap. Suster suapin ya...
Tapi Iin maunya makan sambil main….
Mbak, berapa sih 10 + 5 ?
10 + 5 = 15, Ela. 
Nia, sekarang sudah waktunya tidur siang..
Iya Suster, Nia cuci kaki dulu ya…
 
Dialog diatas merupakan gambaran situasi yang terjadi antara anak dengan pengasuhnya. Lolo, Iin, Ela dan Nia adalah tipikal anak-anak kota besar jaman sekarang, yang pengasuhan sehari-harinya diserahkan kepada pembantu atau pengasuh (nanny/baby sitter) di rumah. Bukan lagi diasuh oleh orangtua, karena ayah dan ibunya bekerja. Tapi kalau diamat-amati, anak-anak sekarang sebenarnya kebanyakan tetap diasuh dan memiliki pengasuh sekalipun ibunya tidak bekerja. Anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan pengasuhnya daripada dengan orangtua. Tidak heran kalau banyak anak lebih dekat dengan pengasuh daripada dengan orangtuanya. Ada anak-anak yang jika sedang sakit, tidak mau disuapi makanan atau obat oleh orangtua, tetapi hanya mau disuapi oleh pengasuh. Kalau pengasuh pulang kampung, jadi sedih dan tidak nafsu makan, begitu harus tidur malam hari jadi gelisah dan mencari-cari pengasuhnya. Bahkan ada anak yang terang-terangan mengatakan "Aku anaknya mbak", "Aku sayang sama suster banyak, sayang sama mama papa sedikit" (dengan gaya lucu menggemaskan, tapi cukup membuat hati orangtua nelangsa).
 
Menghadapi kenyataan dan kondisi di atas, apa yang sebaiknya dilakukan orangtua agar  kendali pendidikan dan pengasuhan anak tetap berada di pundak mereka sehingga tidak terjadi hal-hal negatif yang dapat merugikan perkembangan fisik dan mental anak di masa yang akan datang.
Kerjasama Dengan Pengasuh  
Pengasuh (nanny/baby sitter) tidak lagi sekedar orang upahan, tetapi sudah menjadi bagian dari suatu rumah tangga dan merupakan partner orangtua dalam mengasuh anak. Beberapa sekolah yang ada di Jakarta, bahkan sudah sangat menyadari fenomena ini, sehingga di sekolah-sekolah tersebut secara rutin diadakan workshop bagi pengasuh mengenai anak dan cara pengasuhannya. Sebagai partner, orangtua tidak bisa menyepelekan keberadaan pengasuh, dan berpikir ah kan cuman pengasuh; cuman orang luar; saya orangtua; saya majikan. Karena seperti kenyataan yang terlihat, banyak anak lebih dekat dengan pengasuhnya. Partner berarti orang yang bekerjasama, bukan bekerja sama-sama. Sebagai partner berarti harus kompak dan seiya sekata.
 
Mengapa orangtua dan pengasuh harus kompak? Tentu saja bukan semata untuk kepentingan orangtua dan pengasuh, tapi terutama demi anak yang diasuh. Anak membutuhkan lingkungan yang konsisten dan terprediksi untuk berkembang dengan benar. Bagi orangtua dan pengasuh pun ada keuntungannya jika mereka kompak, karena anak akan lebih mudah diasuh dan menurut. Paling tidak satu sama lain tidak saling memboikot, sehingga anak tidak bisa mengambil keuntungan dari situasi ini. Yang dimaksud dengan memboikot adalah misalnya hal-hal yang dilarang oleh orangtua, tetapi diam-diam diperbolehkan oleh pengasuh atau sebaliknya hal-hal yang dilarang pengasuh malah diperbolehkan oleh orangtua.

Mengapa anak lebih mudah diasuh dan menurut kalau orangtua dan pengasuh kompak? Hal tersebut terjadi karena, anak tahu apa yang tidak boleh berarti tidak boleh, dan tidak mencari persetujuan ke tempat lain. Anak juga akan melihat kedua belah pihak sebagai figur otoritas yang harus ditaati dan dihormati, dan tidak menunjukkan ketaatan palsu. Ketaatan palsu adalah ketika anak pura-pura menurut pada orangtua, tapi di belakang mencari persetujuan dari pengasuh ketika orangtua tidak ada. Atau pura-pura menurut pada pengasuh, tetapi ketika orangtua ada di rumah, langsung mencari persetujuan orangtua dan menyepelekan pengasuhnya. Kondisi seperti ini, sebenarnya menunjukkan bahwa anaklah yang memegang otoritas, sehingga akan banyak waktu dimana anak misbehave, dengan mencoba mengatur orang-orang disekitarnya, tidak peduli dihukum karena toh tetap bisa mendapatkan apa yang diinginkan.
 
Dengan latar belakang pendidikan, sosial, ekonomi dan budaya yang seringkali sangat berbeda, menyebabkan orangtua dan pengasuh memiliki nilai-nilai, pemikiran dan tindakan yang berbeda. Dengan kondisi tersebut bekerjasama bukanlah hal yang mudah dilakukan. Tapi mau tidak mau harus dilakukan demi kesejahteraan anak. Bagaimana caranya? Di bawah ini ada beberapa cara yang mungkin dapat dilakukan orangtua dalam bekerjasama dengan pengasuh:
 
1.   Perlakukan sebagai teman
Jalin komunikasi yang baik dan keakraban dengan pengasuh. Berteman dengan pengasuh akan membuatnya lebih mau terbuka. Pengasuh juga akan segan bergosip tentang majikannya, lebih tulus ketika mengasuh anak dan semoga akan lebih menurut pada perintah majikan. Pengasuh yang diam-diam merasa sebel pada majikan, mungkin bisa memboikot majikannya.
 
2.   Membagi pengetahuan tentang perkembangan anak 
Orangtua memiliki pendidikan lebih dari pengasuh, untuk beberapa hal juga akan memiliki pengetahuan yang lebih tentang perkembangan anak. Pengasuh yang berpengalaman juga dalam beberapa hal akan lebih tahu dari orangtua. Cobalah untuk saling membagi pengetahuan ini, supaya jika ada perbedaan, dari awal sudah bisa diketahui dan dicari jalan tengahnya. Dengan saling berbagi, pengetahuan masing-masing akan bertambah dan tidak saling mempertanyakan dan saling menuduh sok tahu dalam hati masing-masing.
 
3.   Mengutarakan dengan jelas aturan-aturan dan kebiasaan-kebiasaan yang ada
Utarakan dengan rinci cara-cara mengasuh anak yang diharapkan orangtua, apa yang boleh apa yang tidak boleh (bagi anak dan bagi pengasuh, misalnya pengasuh tidak boleh memukul anak apapun alasannya, anak sama sekali tidak boleh makan permen) dan hal-hal harian apa saja yang harus dilaporkan kepada orangtua. Utarakan secara jelas dan mendetail, untuk menghindari kesalahpahaman. Hal ini penting, karena dengan demikian berarti orangtua sebagai pemegang kendali kebijaksanaan pengasuhan anak.
 
4.   Jika terjadi pemboikotan segera dibicarakan dan diatasi
Jika secara tidak sengaja (karena masing-masing pihak belum tahu atau tidak mengerti kebiasaan pihak lain, dan ada yang tertinggal dari diskusi awal) terjadi pemboikotan, maka sebaiknya dibicarakan baik-baik, mencari kata sepakat dan tidak memboikot kembali di depan anak.
Idealnya memang akan lebih baik bagi orangtua jika bisa mendapatkan pengasuh yang berpengalaman, penurut, dan memiliki nilai-nilai yang sama. Tapi tentunya tidak semua orangtua bisa seberuntung ini. Oleh karena itu ketika orangtua memutuskan untuk menerima seseorang sebagai pengasuh, orangtua hendaknya sudah memiliki persyaratan tertentu, minimal orang tersebut bersih dan rapi (kuku kaki dan tangan terpotong rapi, pendek, dan bersih, tidak bau badan dan mulut, pakaiannya bersih) dan tentunya bisa membaca menulis (jadi ketika mengasuh anak, bisa sambil membacakan cerita dan bisa juga sedikit-sedikit mengajarkan anak membaca dan menulis). 
Tetap Lekat Dengan Anak
Sekalipun orangtua bekerja dari pagi hingga malam, dan meninggalkan anak dalam asuhan orang lain, pastilah orangtua ingin anaknya tetap lekat dengannya. Anak ada di hati orangtua dan orangtua ada di hati anak. Orangtua pasti tidak berharap mendengar perkataan dari mulut anak "Aku anaknya Mbak Yem". 
Beberapa ahli mengatakan yang penting bukanlah kuantitas waktu yang dihabiskan bersama anak, tapi kualitas waktu ketika sedang bersama anak.  Apa yang dimaksud dengan waktu yang berkualitas? Dalam buku When Others care For Your Child (1987), waktu berkualitas adalah saat-saat dimana orangtua  menghabiskan waktu bersama anak dengan fokus dan perhatian penuh pada anak dan masalah-masalah yang dialami anak. Waktu tersebut bisa sambil mengobrol saja ataupun melakukan suatu kegiatan bersama (nonton televisi, main games, makan malam). Saat-saat tersebut benar-benar tidak terbagi, hanya untuk anak dan orangtua. Orangtua tidak sambil menerima telpon bisnis dari rekan kerja, sambil membicarakan masalah di kantor, ataupun membicarakan deadline yang harus dipenuhi.
 
Hal pertama yang sebaiknya dilakukan ketika orangtua sampai di rumah tentunya adalah menghampiri,  memeluk dan mencium anak, bukannya menyalakan televisi atau langsung masuk kamar untuk istirahat sebentar. Ketika orangtua sudah berada di rumah, pengasuhan anak sebaiknya dikembalikan ke orangtua dan tidak lagi dipegang oleh pengasuh. Kalau anak makan masih disuapi, maka orangtua lah yang seharusnya menyuapi, yang memandikan (kalau belum mandi), mengganti baju dan sikat gigi sebelum tidur, mengantar ke tempat tidur (sambil menyanyikan lagu nina bobo maupun membacakan dongeng).
 
Dengan demikian anak akan mengerti bahwa pengasuh hanya membantu ketika orangtua sedang bekerja, tetapi pengasuh bukanlah orangtua. Anak pun akan tahu bahwa orangtua menganggap anak-anaknya penting dan menyayangi mereka. Ketika ada yang menanyakan anak siapa dia, anak bisa mengatakan "Aku anak Mama Dina dan Papa Dani", dan kalau ditanya Mbak Yem itu siapa, anak akan menjawab "Mbak Yem itu suster aku".

Lengkapnya Klik DISINI

Giliran Salafi Yaman Akan Mendirikan Partai Politik

Kalangan salafi  di Yaman telah memutuskan untuk mendirikan partai politik untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka. Hal tersebut sebagai respon atas lengsernya Ali Abdullah Shaleh dari kursi kekuasaan.

DR. Aqil Muqthiri, salah seorang anggota Persatuan Ulama Yaman dan juga anggota Organisasi Al-Hikmah di Yaman yang memiliki pemahaman salafi, mengumumkan bahwa kalangan salafi di Yaman berencana mendirikan partai atau aliansi politik baru yang akan berkecimpung di dunia politik negeri tersebut.

Beliau menambahkan, "Ada pandangan kurang tepat yang sebelumnya dipahami secara merata oleh kalangan salafi seputar aktifitas politik yang bersumber dari sikap taklid buta, yaitu pandangan bahwa pemilu dan parlemen bertentangan dengan aqidah wala dan bara dan bahwa hal ini hanya akan menguntungkan kalangan sekuler. Ini adalah pandangan yang  kurang tepat."

Muqthiri mengatakan bahwa setelah berlalu sekian lama, kajian dalam internal salafi memberikan kemajuan cara berfikir. Dan bersamaan dengan musim semi Arab, rencana ini dimunculkan seiring dengan tumbangnya diktator dengan rezim pemerintahannya yang bobrok dan sering melakukan pencitraan buruk terhadap aktifis Islam secara umum dan kalangan salafi secara khusus.

 DR. Muqthiri menjelaskan bahwa kalangan salafi Yaman telah melakukan serangkaian dialog dan musyawarah di antara berbagai kelompok mereka untuk mendirikan partai atau aliansi politik agar dapat berpartisipasi aktif dalam kehidupan politik di Yaman.

Adapun mengenai hubungannya dengan partai Ishlah yang memiliki pemahaman Ikhwan, DR. Aqil Muqthiri mengatakan, "Hubungan kami dengan Ishlah adalah hubungan saling tolong menolong dan saling melengkapi, selama tidak bertentangan dengan syariat dan kemaslahatan. Kami akan belajar dari pengalaman politik mereka, karena mereka lebih dahulu dalam masalah ini. Mereka pun dapat mengambil manfaat dari kalangan salafi yang banyak mendalami perkara-perkara syariah dan aqidah."

Lengkapnya Klik DISINI

Masa Lalu Izinkan Aku Untuk Berdakwah

Setiap insan pastilah memiliki masa lalu. Sebuah masa dimana hal-hal yang telah dilalui yang tidak akan mungkin kita dapat mengulanginya kembali. Berbagai macam masa lalu yang dilalui oleh seseorang tak sedikit mempengaruhi perjalanan masa depannya. Ada penyesalan dan ada kebahagiaan. Penyesalan ketika masa lalu itu tak bisa diulang kembali karena seluruh isinya penuh dengan kegelapan dan kemudian ada kebahagiaan ketika masa lalu bisa dimanfaatkan secara baik dengan visi dan misi masa depan.

Masa lalu yang disi dengan kegelapan banyak membuat pesimis ketika akan berbicara tentang visi dan misi masa depan, apalagi jika hal tersebut berhubungan dengan dakwah keislaman watawatsaubil haq watawatsaubil shabar. Tidak akan sedikit cela dan cemooh yang datang “sudahlah, kami tau masa lalu kamu bagaimana!” “udah jadi ustadz yah sekarang!” “baru belajar islam kemaren sore aja udah belagu!” dan akan banyak cemoohan lainnya.

Kemudian akan timbul pertanyaan “haruskah kita menyalahkan masa lalu?”
Syeikh Abdur Rahman Bin Nasir As-Sa’di dalam bukunya yang berjudul “Meraih Hidup Bahagia” mengatakan bahwa Rasulullah saw berlidung dari Al-Hamm dan Al-Hazn.Al-Hazn adalah perkara-perkara yang telah lalu yang tidak mungkin diulang dan didapati kembali, sedangkan Al-Hamm adalah sesuatu yang diakibatkan oleh ketakutan pada masa yang akan datang. Sehingga Syeikh Abdur Rahman Bin Nasir As-Sa’di memberikan pejelasan maka hendaklah seseorang menjadi manusia hari ini, mengerahkan sekuat tenaga kesungguhannya dalam memperbaiki hari dan waktunya saat ini.
Tak ada masa lalu yang harus disalahkan dalam perjalan ini. Yang kemudian harus disalahkan adalah ketika kita terfokus pada cemoohan dan celaan sehingga timbul sikap pesimis yang menyebabkan tak ada amal pengganti atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan.
Dalam sebuah hadist Rasulullah saw dikatakan bahwa :
 
“Berusahalah untuk meraih apa yang bermanfaat untukmu, mintalah pertolongan Allah dan janganlah engkau lemah. Jika ada sesuatu yang menimpamu, maka jangan engkau katakan: Seandainya saya kerjakan ini niscaya akan jadi begini dan begitu, akan tetapi katakanlah bahwa Allah yang telah menetapkannya, apa yang Dia kehendaki Dia perbuat. Karena sesungguhnya (kata-kata) “seandainya” membuka peluang bagi perbuatan setan.” (HR. Muslim)

Syeikh Abdur Rahman Bin Nasir As-Sa’di  menjelaskan hadist ini bagaimana Rasulullah saw dalam hadits diatas menggabungkan antara perintah untuk berupaya mendapatkan manfaat dalam setiap keadaan dengan perintah meminta pertolongan kepada Allah serta tidak tunduk terhadap kelemahan, yaitu kemalasan yang merugikan dan menyerah terhadap perkara-perkara yang telah berlalu serta menyaksikan ketetapan Allah dan ketentuannya.

Tentunya kita harus fokus pada amal yang kita lakukan pada hari ini, dengan mengabaikan setiap cemoohan dan setiap celaan dari orang-orang yang tidak paham akan jalan kebaikan.

"Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang-orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul". Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab (ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur'an ketika Al Qur'an itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia." (QS. al Furqan: 27-29).

Bagaimana kemudian kita bisa mencontoh Rasulullah saw dalam menyampaikan kebaikan-kebaikan sehingga mereka orang-orang yang melakukan cemooh atau celaan akan tau kemanfaatan hingga nanti di akhir zaman dan munculah penyesalan-penyesalan karena masih berteman dengan masa lalu yang telah kita lakukan.

Hal-hal yang kita lakukan hari memiliki urgensi yang sejalan dari sebuah perjalanan perubahan. Imam al Ghazali dalam kitab “Ihya Ulumuddin” menyampaikan bahwa taubat adalah sebuah makna yang memiliki 3 buah unsur, yaitu Ilmu, Hal, dan Amal. Dimana ada proses keterkaitan diantara ketiganya yang saling mewajibkan ketika menjalani sebuah perjalanan perubahan.

Imam Al Ghazali menyampaikan dalam bukunya : "Sedangkan ilmu adalah, mengetahui besarnya bahaya dosa, dan ia adalah penghalang antara hamba dan seluruh yang ia senangi. Jika ia telah mengetahui itu dengan yakin dan sepenuh hati, pengetahuannya itu akan berpengaruh dalam hatinya dan ia merasakan kepedihan karena kehilangan yang dia cintai. Karena hati, ketika ia merasakan hilangnya yang dia cintai, ia akan merasakan kepedihan, dan jika kehilangan itu diakibatkan oleh perbuatannya, niscaya ia akan menyesali perbuatannya itu. Dan perasaan pedih kehilangan yang dia cintai itu dinamakan penyesalan. Jika perasaan pedih itu demikian kuat berpengaruh dalam hatinya dan menguasai hatinya, maka perasaan itu akan mendorong timbulnya perasaan lain, yaitu tekad dan kemauan untuk mengerjakan apa yang seharusnya pada saat ini, kemarin dan akan datang. Tindakan yang ia lakukan saat ini adalah meninggalkan dosa yang menyelimutinya, dan terhadap masa depannya adalah dengan bertekad untuk meninggalkan dosa yang mengakibatkannya kehilangan yang dia cintai hingga sepanjang masa. Sedangkan masa lalunya adalah dengan menebus apa yang ia lakukan sebelumnya, jika dapat ditebus, atau menggantinya”.

Jadi tak seharusnya kita melahirkan sikap-sikap pesimis atas sebuah perjalanan perubahan. Sikap optimis untuk menghasilkan amal sebagai jalan penggugur kesalahan-kesalahan harus di pupuk terus-menerus sehingga memudarkan masa lalu yang cukup itu menjadi munajad beserta tetes-tetes air mata di setiap hening malam.

Saudaraku, setiap orang memiliki jalan perubahan menuju kebaikan. Janganlah timbulkan sikap-sikap pesimis di hati mereka. Jikau engkau tak dapat menerima seruannya maka syukurilah bahwa hari ini telah hadir calon baru penduduk surga. Doakan mereka, sikapi mereka dengan bijaksana. Ajarkan mereka tentang dunia tapi jangan ajak mereka terperosok kembali kedalam jurang kegelapan maya.
Wallahualam

Oleh : Faguza Abdullah 
 
Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......