Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

H I J R A H

Realistis, bukan menyerah. Dakwah untuk semua manusia, bukan cuma untuk masyarakat Mekkah. Bila di sana masyarakat tak mau menerima, sedangkan di tempat lain ada tangan-tangan terbuka menerima dakwah, untuk apa ‘ngotot’ tetap berada di sana? Hijrah adalah sikap yang realistis. Bukan sikap gampang menyerah, juga bukan sikap keras kepala.

Seorang sales tentu tidak akan memaksakan diri menjajakan jualannya pada seseorang yang sudah menolaknya. Ketika ia berpaling dari orang tersebut dan berupaya menggaet pembeli lain, berarti ia sedang menuju pada kesuksesan dan tidak akan pernah diartikan ‘menyerah’.

Justru yang menyerah adalah yang bertahan dalam lingkungan yang zhalim. Padahal bumi ini luas. Kemenangan adalah saat kita mampu menyelamatkan diri dari kezhaliman dengan cara yang elegan.

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?." Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)." Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?." (QS 4:97)

Bergerak, bukannya stagnan. Hijrah adalah suatu terobosan menghindari keadaan yang jumud (mandeg). Hijrah adalah manuver yang ter-skema dengan apik. Pendelegasian  seorang pembuka dakwah sebelum hijrah merupakan langkah yang brilian. Bahkan pilihan pada siapa yang akan menjalankan tugas, adalah pilihan yang sangat jitu. Mush’ab bin Umair. Seorang pemuda tampan yang keluar dari kehidupan borjuis menuju Islam, mampu memainkan peran dengan sukses. Dan Rasulullah pun dengan mulus melanjutkan manuvernya: hijrah ke Madinah.

Hijrah, manuver yang sama yang sudah diusulkan oleh seorang ‘alim kepada pembunuh 100 manusia. Sebelumnya, pembunuh itu berkonsultasi pada seorang Rahib mengenai kemungkinannya bertaubat. Tapi Rahib itu malah memvonis bahwa taubatnya tak kan diterima. Ia bunuh Rahib itu untuk menggenapkan 100 orang korbannya. Selanjutnya ia berkonsultasi pada seorang ‘alim yang penuh ilmu. Orang ‘alim itu menyuruhnya hijrah menuju kampung yang diisi orang-orang baik, meninggalkan kampung yang berisi orang-orang jahat. Itulah manuver elegan menuju kemenangan: Hijrah.

Konsistensi, bukannya tidak setia. Konsistensi harusnya hanyalah pada kebaikan, bukan pada keburukan. Dan untuk para Nabi dan pada da’i (du’at), kesetiaan hanyalah pada dakwah, bukan pada objek dakwah. Sekalipun objek dakwah itu kita cintai. Karena itu, hijrah adalah sikap konsisten untuk berdakwah secara berkesinambungan. Kalau objek dakwah menolak, maka demi menjaga kontinuitas dakwah, beralihlah pada mereka yang siap menerima dakwah. Karena kalau dipaksakan, dakwah tidak akan berkembang dan akan stagnan.

Rasulullah saw sangat mencintai kota Mekkah. Tapi kesetiaan pada dakwah membuatnya untuk patuh pada perintah Allah swt: Hijrah ke Madinah. Dan Rasulullah pun menempatkan sikap konsistennya pada tempat yang tepat.

Cinta tidak menjamin hidayah itu tertransfer mulus. "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk." (QS 28:56) Kisah Abu Thalib telah membuktikan ayat ini. Karena itu, Ibrahim a.s. bukan lah tidak setia ketika ia meninggalkan bapaknya, Adzar. Ia mencintai bapaknya. Tapi demi dakwah, ia harus hijrah untuk menemukan lingkungan yang siap menerima dakwah. Ia setia pada dakwah.

Hijrah adalah konsistensi, manuver, dan kemenangan. Ketika Nabi Yunus a.s. pergi dalam keadaan marah meninggalkan kaumnya, itu bukan bentuk Hijrah. Karena Hijrah adalah manuver yang penuh perhitungan, bukan berlandaskan emosi. Hijrah adalah konsistensi, bukan berlandaskan ketidak-setiaan untuk terus membimbing umat dengan sabar. Hijrah adalah kemenangan, bukan menyerah kalah padahal Allah belum memerintahkan untuk hijrah. Saat para Nabi hijrah meninggalkan kaumnya, itu karena Allah telah memerintahkan begitu. Biasanya karena akan ada adzab untuk kaum tersebut.

http://zicoofficial.wordpress.com/2011/12/03/hijrah/

*) http://www.islamedia.web.id/2012/11/h-i-j-r-h.html
Lengkapnya Klik DISINI

Saat Keikhlasan Ternodai


“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkau ciptakan aku, dan aku adalah hamba-Mu, dan aku di atas perjanjian-Mu, dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung dengan-Mu dari kejahatan apa yang aku perbuat, aku mengakui dengan dosaku, maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosaku kecuali Engkau.”
Ilustrasi (desktopnexus.com)

Dakwah ini perlu perjuangan, pengorbanan dan kebesaran hati menerima setiap warnanya. Perjuangan ini terasa berat, melelahkan dan perih di hati. Saat mendengar balasan surga, hati ini semangat membara tak terkira.

Saudaraku…
Dakwah ini adalah tanggung jawab kita semua, bukan perorangan dan kelompok saja. Tidakkah tugas kita di dunia ini sebagai khalifah? Yang akan memakmurkan bumi ini dengan kalimat-Nya?

Bersama kita berjalan dalam dakwah, menggenggam komitmen kita untuk berjuang di jalan dakwah. Kita sama-sama perbaiki diri, keluarga, masyarakat dan negara kita.

Ada kalanya kita ada bersama dalam organisasi dakwah, terkadang noda dalam dakwah karena ada gesekan-gesekan dalam ukhuwah. Memang kita sama-sama telah paham bagaimana ikhlas, dan menjaganya. Tapi saat syetan itu membisikkan, dan menampakkan dalam pekerjaan manusia lain kita merasa hilang keikhlasan. Pupus kesabaran yang telah dipupuk, hilang rasanya kata ‘ikhlas’ yang pernah diucapkan dan disampaikan kepada yang lain.

Menyadari kekerdilan diri ini, memahami terbatas kemampuan kita. Semua itu bukan untuk mundur dari dakwah, semua itu harus mampu melecutkan semangat yang dulu pernah berkobar dalam diri.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104)

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al ‘Ashr: 2-3)

Tidak akan berjalan dakwah ini tanpa kita mampu menjalin ukhuwah dengan sesama dan selalu menjalin hubungan cinta dengan-Nya. Kita memang bukan makhluk sempurna, bukan malaikat yang tanpa keluh kesah, kita hanya seorang hamba Allah yang tidak luput dari salah.

Saat menerima tugas dalam dakwah, kadang terkotori karena si pemberi tugas tidak melakukan hal yang sama dengan yang kita kerjakan. Sibuk dengan kehidupan pribadinya, sibuk dan menikmati cerita dalam keluarganya. Beristighfarlah….itu yang layak kita ucapkan dan lakukan.

“Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Mahapengampun. Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu cacat?” Q.S. Al Mulk: 1-3

Teringat nasihat seorang ikhwah: “bersabarlah di atas kesabaran, Allah akan menuntunmu dan memudahkan urusanmu. Bukan mereka (manusia) yang akan meminta kebaikan-kebaikan kita atau kerja dakwah kita. Melainkan Allah Sang Pemilik Jiwa ini yang akan meminta amalan-amalan itu”

Mengambil ‘ibrah dari sirah nabi, akan ketangguhan para insan pilihan Allah dalam mengemban dakwah ini. Meski umatnya ada yang ikut dalam langkahnya dan ada banyak yang keukeuh atas keangkuhannya.
Kita memang tidak sesabar mereka para rasul Allah, tapi kita telah mengambil teladan dan berupaya ikuti jalan mereka. Dengan kesadaran diri, memohon ampun pada Allah atas keluputan ini. Sadar diri ini masih terkecoh dengan apa yang dilihat dan yang didengar meski iman ini telah tertanam dalam-dalam.
Allah tahu akan kemampuan kita saudaraku…

Bukankah janjinya dalam ‘Surat Cinta-Nya’ adalah saat kita menolong agama-Nya maka Allah akan mudahkan segala urusan kita dunia akhirat. Mengatasi ke-futur-an dengan mendekatkan diri ini semakin dekat dengan Allah, mendekat kepada saudara-saudara yang akan mengingatkan kita akan akhirat. Jangan biarkan rasa galau menghancurkan semangat kita dan menjauhkan kita dari Allah. Na’udzubillah…
Kita Harus Mampu Bertahan Di jalan ini…

Meski langkah terseyot-seyot, perasaan tercabik-cabik. Tetaplah bertahan, setiap luka, tetes keringat dan lelah yang kita rasakan surga balasannya. Dengan memikirkan nasib dakwah dan umat maka Allah akan selalu ada bersama kita. Selamatkan niat dalam diri untuk tetap ada di jalan dakwah. Jangan biarkan hal-hal kecil itu membuat semangat kita yang besar menjadi kerdil kembali hingga melemahkan perjuangan.

Memang sakit, perih, pincang kaki berjalan menapakinya. Tapi Allah tidak akan membiarkan kita dalam keadaan itu. Allah akan selalu memenangkan Agama-Nya. Semoga Allah sadarkan saudara kita dan bersama berjalan dijalan dakwah ini seperti kepemimpinan Rasulullah yang bertanggung jawab. Bersama-sama meng-evaluasi militansi dan introspeksi diri…apakah yang telah kita berikan dan sedang kita berikan serta akan kita berikan kepada Allah dalam dakwah ini???

Hanya kesetiaanlah yang dapat tabah meniti perjalanan dakwah ini. Kesetiaan yang menjadikan pemiliknya sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian. Menjadikan mereka optimis menghadapi kesulitan dan siap berkorban untuk meraih kejayaan. Kesetiaan yang menghantarkan jiwa-jiwa pejuang sejati untuk berada pada barisan terdepan dalam perjuangan ini. Kesetiaan yang membuat pelakunya berbahagia dan sangat menikmati beban hidupnya. Setia dalam kesempitan dan kesukaran demikian pula setia dalam kelapangan dan kemudahan.

Kesabaran sebagai kuda-kuda pertahanan orang-orang beriman dalam meniti perjalanan ini. Bekal kesabaran mereka tidak pernah berkurang sedikit pun karena keikhlasan dan kesetiaan mereka pada Allah SWT.

Kita harus mampu meyakini bahwa kesabaran yang ada pada diri kita yang membuat kita kuat menghadapi berbagai rintangan dakwah. Bila dibandingkan apa yang kita lakukan serta yang kita dapatkan sebagai risiko perjuangan di hari ini dengan keadaan orang-orang terdahulu dalam perjalanan dakwah ini belumlah seberapa. Pengorbanan kita di hari ini masih hanya terhad pada pengorbanan waktu untuk dakwah. Pengorbanan tenaga dalam amal kebajikan untuk kepentingan dakwah. Pengorbanan sebagian kecil dari harta kita yang masih banyak jika dibandingkan dengan penggunaan lain… Dan bentuk pengorbanan remeh-remeh lainnya yang telah kita lakukan.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih, dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”?” (QS. Fussilat: 33)

Semoga Allah selalu menuntun hati kita, diri kita untuk tetap bertahan dan istiqamah dijalan CINTA-Nya…Jalan Dakwah para insane pilihan-Nya… Amiin.


Choiriyah 
 Oleh: Choiriyah

 
 
Lengkapnya Klik DISINI

Duka LDK dan Dosen Tak Bernyawa

Namanya Novilia Lutfiatul usia 19 tahun Mahasiswi Fakultas Kedokteran Undip.Ia menghembuskan nafas terakhirnya setelah mengalami kecelakaan maut di daerah Baturaden Purwokerto Ahad 04 November 2012. Bis yang membawa Delegasi FULDFK (Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fak. Kedokteran Indonesia), yang mana Delegasi FULDFK ini terdiri dari perwakilan FK se-Indonesia yang menjadi peserta ANTIBIOTIC (Annual Training For Better Knowledge and Application) 8th yang dihelat di FK UNSOED, tiba-tiba oleng dan tidak bisa dikendalikan. Bis yang membawa puluhan kader calon dokter itu pun menabrak seorang pengendara motor, menyambar mobil isuzu, menyerempet warung serta menabrak gerobak dan pengendara motor berplat merah. 

Bukan hanya Novi yang meninggal dunia, temannya Esti Nuha Ilmazakiyah usia 18 tahun pun bernasib sama dengannya. serta empat jiwa lainnya melayang yang terdiri dari supir bis dan warga yang tertabrak bis tersebut.

01 November 2012 sebuah tulisan sempat dipublis disebuah blog pribadi berjudul "DOSEN TAK BERNYAWA" penulisnya tidak lain adalah ukhti Novi. seorang korban kecelakaan maut yang menghembuskan nafas terakhir pada hari Ahad 4 November 2012. 

Berikut adalah tulisan terakhir sebelum ia wafat:

Dosen Tak Bernyawa
oleh : Novilia Lutfiatul

“Manusia berawal dari setetes air mani yang hina

Berakhir menjadi seonggok daging yang membusuk
Dan saat ini berada diantara keduanya dengan membawa kotoran kemana-mana”
-Salim A. Fillah- “Dalam Dekapan Ukhuwah”

Kematian  merupakan salah satu topik yang sangat dihindari oleh kebanyakan orang, apalagi kita yang masih muda-muda. Sukar dimulai dan mudah untuk dihentikan. Padahal setiap manusia tak akan pernah tahu waktu kedatangannya. Kematian tak akan memandang umur, tua muda akan mati bila waktunya memang telah tiba.
Setiap kali memasuki ruangan praktikum anatomi jantungku selalu berdesir miris. Seonggok tubuh yang terbujur kaku dengan bentuk yang sudah tak beraturan dan tak “manusiawi” menjadi pemandangan yang selalu ditemui setiap minggunya. Melawan  kodrat alam, dipaksa tak membusuk dengan formalin. Tubuh-tubuh yang dulunya selalu dibanggakan, tegap, gagah, langsing dan sebagainya yang menjadi pemicu dosa bila tak digunakan dalam koridor syariat-Nya.
Untuk melawan rasa takut, hal pertama yang aku perhatikan saat menghadapi cadaver adalah wajahnya. Walaupun tetap bergidik merinding melihat otot-otot wajah yang menegang saat sakaratul maut. Tergambar jelas kesakitan yang dirasakan saat  detik-detik malaikat Izrail menjemput. Bahkan manusia termulia, dengan pengambilan ruh yang benar-benar pelan dan lembut  saja merasakan sakit yang benar-benar sakit. Apalagi kita, yang sadar akan siksa neraka namun tetap rutin berbuat dosa.
Ya Allah, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut.
Seringkali  tak teganya rasanya membuka lapisan demi lapisan  kulit mereka, menarik-narik otot untuk mencari perlekatannya, mengorek-ngorek menemukan pembuluh darah serta syaraf yang letaknya tersembunyi dan lain-lain. “ Ini dulunya juga manusia Nov, sama sepertimu,  maka perlakukanlah dengan baik dan lembut”, ucapku pada diri sendiri.
Perasaan jijik juga sering mendatangi, bersyukur pada Allah yang memberikan rasa lupa pada manusia. Sehingga aku dan teman-teman masih bisa makan walaupun baru saja memegang dan berkutat dengan cadaver menggunakan tangan kosong, setelah cuci tangan tentunya.
Laboratorium anatomi dan seluruh mayat-mayat  didalamnya selalu mengingatkanku akan datangnya kematian yang tak tahu kapan akan menjemputku. Mereka  adalah guru-guruku, guru dunia karena mengajarkan banyak ilmu pengetahuan serta guru akhirat yang menjadi reminder akan kehidupan dunia yang sementara ini.
Mayat-mayat yang tak jelas asal usulnya, tunawisma, preman dengan tato-tato di tubuhnya dan entah siapa itu tak pernah mengharapkan tubuhnya disayat-sayat dan dipotong-potong menjadi media pembelajaran kami. Semasa hidupnya mereka pasti mengharapkan mayatnya kelak diurus sewajarnya. Dimandikan, disholatkan, dikafani, dimakamkan, dan didoakan oleh keluarga. Pantas atau tidak mereka bisa disebut orang-orang yang tidak beruntung.
Salah seorang temanku pernah bertanya “Apa dosa-dosa mereka bisa tergugurkan ya? Secara fisik mereka adalah preman yang tak pernah kita tahu amal ibadahnya, dan dilihat dari niat mereka tak pernah berharap jadi media praktikum.”
“Hanya Allah yang tahu, tugas kitalah selalu berdoa agar dosa-dosa mereka diampuni melalui setiap sentuhan dan perlakuan yang kita berikan pada mereka” ucapku menutup pembicaraan seusai praktikum bebas malam itu.
Ya Allah, siapapun mereka, ampunilah dosa-dosa mereka
Jadikanlah setiap perlakuan yang kami berikan sebagai penggugur dosa mereka
Terimalah setiap amal ibadah mereka semasa hidup dulu
Gantikanlah liang lahat mereka dengan rumah-rumah surga-Mu
Gantilah kain kafan mereka dengan baju-baju kebesaran penghuni surga
Sayangilah mereka
Karena mereka kami mengenal ilmu-ilmu Mu
Karena mereka kami menjadi orang yang bersyukur
Dan karena mereka, kelak kami bisa menolong hamba-hamba Mu
___________________________________________________________

Selamat Jalan Saudariku...
Semoga engkau bahagia bersama-Nya disana
mengenakan baju-baju kebesaran penghuni syurga-Nya...
Amin..
 http://www.islamedia.web.id/2012/11/duka-ldk-dan-dosen-tak-bernyawa.html
 
Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......