Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

Download Powerpoint Problematika Remaja dan Solusinya

Entah mengapa dalam kurun waktu kurang dari dua pekan ini, saya diminta mengisi ceramah tentang seputar Problematika Remaja di tiga tempat. Mungkin secara momentum saja bersamaan dengan Ujian Nasional sehingga sebagian siswa ada yang diliburkan karena ruangan digunakan untuk ujian, maka banyak dimanfaatkan untuk membuat kajian tentang remaja. Atau bisa juga karena salah satu faktor yang membuat banyak remaja berguguran dalam kelulusan UAN, karena terlibat dalam aneka ragam problematika remaja.

Remaja muslim adalah sasaran dan target utama dari seluruh upaya pembaratan. Trend ini sudah lama bergeser dari pemurtadan menjadi perubahan life style yang lama kelamaan menjadikan identitas keislaman remaja islam pudar begitu saja. Perasaan kebanggan dengan syiar, simbol dan tradisi Islam terhapus dengan tawaran ‘gaul’ ala anak muda yang mengharuskan sekian banyak ritual dan aksen yang benar-benar jauh dari Islam.

Serangkaian problematika dan bagaimana Islam memberikan solusinya coba kami paparkan, bukan saja untuk para remaja agar lebih waspada, namun juga kepada para orangtua agar menyadari dan lebih kuat dalam memberikan pengawasan dan arahan, yang tentu saja berbasis kasih sayang, bukan kekerasan. Kita senantiasa berdoa dalam hari-hari kita, untuk menjadikan anak istri sebagai qurrota a’yun (penyejuk mata dan hati), bahkan bukan hanya itu, namun juga menjadikan mereka sebagai pemimpin orang yang bertakwa.

Bagi sahabat yang gemar berbagi inspirasi dan motivasi seputar dunia Remaja, powerpoint berikut kami persembahkan, agar semakin luas kemanfaatan dan semoga menggerakkan dan membawa perubahan.

DOWNLOAD POWERPOINT PROBLEMATIKA REMAJA :

semoga bermanfaat dan salam optimis
Sumber : http://www.indonesiaoptimis.com/2012/04/download-powerpoint-problematika-remaja.html
Lengkapnya Klik DISINI

Sebuah Tim yang Kuat

Cecep Y Pramana (Cepy)
Ambisi dan kesabaran membuat tim menjadi kuat. Ambisi memberi kita dorongan dan antusiasme untuk mulai mendapatkan sesuatu, dan melalui kesabaran mereka akan melihatnya.

Tanpa ambisi, kita tidak akan pernah pergi. Dan tanpa kesabaran, kita akan menyerah jauh sebelum tujuan tercapai.

Bila kita memilih untuk mengembangkan dan mengaktifkan ambisi dan kesabaran kita, maka kita telah menciptakan sebuah kombinasi tanpa henti.

Karena hal itu tidak hanya akan menjadi efektif saja, melainkan sebuah efektivitas yang akan terus menerus diterapkan dari waktu ke waktu.

Dengan ambisi yang cukup, maka kita dapat membuat apa saja terjadi, walaupun hal itu tidak sesegera mungkin. Upaya yang paling efektif adalah dengan terus berusaha, dan itulah yang dapat membuat kesabaran.

Kita tidak harus memilih antara ambisi dan kesabaran. Karena kita dapat hidup dengan mereka berdua pada saat yang sama, dan ketika kita melakukannya, maka hal-hal besar yang akan terjadi.

Sukses datang pada mereka yang tahu kapan harus mendorong dan kapan harus menunggu. Keseimbangan sebuah usaha ambisius dengan mendalam, kesabaran yang mendasari, maka hasil yang kita capai akan benar-benar menakjubkan.

sumber : http://blogmotivasionline.blogspot.com/2013/05/sebuah-tim-yang-kuat.html
Lengkapnya Klik DISINI

Sadar Akan Potensi Diri

 potensimuslim
Kalo kita mau berpikir lebih dalam lagi tentang diri kita, tentunya kita bisa merasakan betapa lemahnya kita. Betapa ringkihnya kita sebagai manusia. Kalo ingin membayangkan gimana lemahnya kita, bisa kita mengkaji diri bahwa seteliti-telitinya kita, selalu aja ada celah kosong yang bisa membuat kita teledor. Sepandai-pandainya kita, selalu saja ada peluang untuk berlaku bodoh.

Tapi jangan khawatir, di balik kelemahan itu manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia. Potensi ini bahkan harusnya membuat kita lebih memahami dengan kondisi kita. Coba, dari jaman Nabi Adam diciptakan sampe sekarang ras manusia telah berhasil menciptakan berbagai kemajuan. Contoh kecil aja, apa pernah kita melihat kucing bisa membuat sepeda motor, terus makan dengan garpu (kecuali si Tom di film Tom and Jerry kali ye?), kemudian ada kucing yang sekolah sampe jenjang yang lebih tinggi. Belum pernah kita melihatnya atau mendengarnya kecuali kalo kita mau mengkhayal dalam sebuah cerita. Tapi manusia, banyak pencapaian yang berhasil diraihnya dari jaman ke jaman. Iya kan? Tentu saja itu juga berkat kemurahan Allah Swt. yang menjadikan manusia lebih mulia dari makhlukNya yang lain. Manusia diberi akal, sobat.

Allah Swt. menjelaskan dalam al-Quran: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS al-Israa’ [17]: 70)

Subhanallah, betapa besar cinta Allah kepada kita. Allah memberikan segalanya buat kita. Itu sebabnya, sangat wajar jika kita kudu pandai mengelola segala potensi hidup yang telah diberikan Allah Swt. Aneh bin ajaib kalo masih ada manusia yang nggak bisa memanfaatkan potensi yang dimilikinya. Sangat heran pula jika pun pandai memanfaatkan potensi yang dimilikinya tapi salah dalam mengamalkannya. Misal, ia memiliki potensi kreativitas yang tak ada hentinya, tapi kreatif dalam rangka mencuri barang orang lain. Wah, itu namanya memanfaatkan di jalur yang salah dong ya?

Sobat muda muslim, jika kita memanfaatkan potensi kita, tentunya tidak lepas dari rasa syukur kita kepada Allah Swt. yang telah memberikan segalanya buat kita. Artinya, amalan kita dalam memanfaatkan potensi pun kudu benar sesuai tuntunan Allah Swt. Nggak bisa asal njeplak berdasarkan hawa nafsu kita. Nggak bebas en liar gitu tentunya.

Sebab, jangan lupa, apa yang kita lakukan nggak bakalan lepas dari pengamatan Allah Swt. Kalo di sekolah kita bisa ngibulin teman atau guru dengan berbohong, maka Allah nggak bakalan bisa dibohongi. Kalo di dunia ini para pembunuh bisa nyantai, bebas berkeliaran belum dihukum oleh negara, maka di akhirat ia pasti nggak bakalan lolos dari hukuman yang diberikan Allah Swt. Bahkan Allah Swt. tak akan pernah salah dalam mengkalkulasi amalan kita. Nggak bakalan ketuker masukin data. Allah Swt. pasti jeli, amalan kita yang baik akan ditaro di “folder” amalan baik. Begitu pun amalan buruk kita. Terus, terminal akhir di akhirat pun sudah jelas buat tiap-tiap manusia sesuai amalannya. Surga buat yang amal baiknya banyak, sementara neraka khusus untuk yang berbuat maksiat waktu di dunia.

Watau, ini kok ngomongnya pahala-dosa dan surga-neraka aja sih? Ya, biar kita takut. Biar kita benar-benar taat kepada Allah Swt. Karena sejatinya yang menciptakan surga dan neraka juga Allah Swt. Tempat itu pun sudah disiapkan oleh Allah untuk kita sesuai amalan kita. Semoga surga yang kita dapatkan.

Hmm…jadi inget lagunya Chrisye, “Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau sujud kepadaNya? Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau, menyebut namaNya?”

Sayangnya, meski surga dan neraka sudah jelas diterangkan keberadaannya di al-Quran oleh Allah Swt. banyak manusia yang tetap berbuat maksiat. Nggak ngikutin perintah Allah dan bahkan ogah menyembahnya. Aneh banget kan? Apalagi kalo surga dan neraka nggak ada? (eh, ini bukan bermaksud mengandai-andai lho)
Sebaiknya, memang kita sadar diri. Yuk, kita mengkaji al-Quran, mengkaji Islam lebih dalam. Memahami siapa diri kita, siapa pencipta kita. Karena apa? Karena kita manusia, yang memang banyak kekurangannya dibanding kelebihannya. Sebagai wujud rasa syukur kita, pantes banget deh kalo kita beribadah hanya Allah Swt. Bukan kepada yang lain. Wallahu’alam.

Salam,
O. Solihin

sumber
Lengkapnya Klik DISINI

Melepas Kegalauan Dengan Iman

Melepas Kegalauan Dengan Iman Seorang pemuda muslim nan taat itu tercenung. Wajahnya murung. Nampak jelas ada permasalahan berat yang menggelayuti hatinya. Seperti  buah simalakama, dan sungguh tak ia kira sebelumnya. Ayah yang dicintainya sepenuh hati, ternyata mengambil sikap kurang terpuji. Dia menelikung kaum muslimin dengan fitnahan yang keji. Akibatnya, terdengar kabar santer bahwa ayahnya akan dibunuh, sebagai hukuman atas perbuatannya. Sebagai anak, alangkah sedih hatinya. Tak dapat ia bayangkan jika ayahnya dibunuh. Namun sebagai muslim yang taat, dia juga sangat malu dengan perbuatan ayahnya. Ini benar-benar simalakama! Persoalan pelik ini membuat dia galau luar biasa.

Lama ia berpikir dan merenung. Kegalauannya yang sangat membuat ia memutuskan untuk segera menghadap pada sang pemimpin tertinggi, Rasulullah SAW. Di hadapan rasul, dengan mengumpulkan seluruh kekuatan batinnya, dia lirih berkata, “Wahai Rasulullah. Sesungguhnya telah sampai kepadaku bahwa Anda ingin membunuh ayahku karena konspirasi yang Anda dengar darinya. Demi Allah, kaumku mengetahui bahwa mereka tidak memiliki orang yang lebih berbakti kepada orang tuanya, selain aku. Sesungguhnya aku takut, bila Anda menyuruh orang lain untuk membunuh ayahku, maka jiwaku akan tidak kuat melihatnya berjalan bebas di tengah kaum muslimin, hingga aku membunuhnya untuk balas dendam. Jika demikian ya Rasul, aku akan menjadi pembunuh seorang mukmin karena dia membunuh seorang kafir, dan akhirnya aku masuk neraka.”

Terdiam sejenak, lalu setelah menghela nafas panjang, dia menguatkan diri untuk berkata, “Oleh karena itu, ya Rasulullah, bila Anda, mau tidak mau harus mengambil kebijakan itu, maka perintahkanlah tugas itu kepadaku. Pasti aku akan membawa kepalanya kepadamu.

Kini, sebongkah beban berat di hatinya seperti terangkat sudah. Tak tahu lagi dia harus bersikap bagaimana, selain mengadu tentang kegalauan hatinya, kepada pemimpin yang ia anggap akan bijak menyikapi permasalahannya.

Mendengar penuturan si pemuda, dengan lembut Rasulullah berkata, “Tidak, nak. Bahkan kami akan bersikap lembut kepadanya, dan berlaku baik kepadanya dalam bergaul, selama dia masih hidup berdampingan dengan kita.

Mendengar jawaban Rasulullah, meneteslah air mata si pemuda. Ayahnya selamat, tidak akan dibunuh. Meskipun ia sangat malu dengan tindakan ayahnya, dia masih ingin ayahnya hidup bersamanya. Dia masih ingin berbakti padanya, dan siapa tahu seiring waktu ayahnya akan bertaubat, mengakui kekeliruannya.

Ini pelajaran pertama. Pemuda itu, meskipun namanya tak begitu dikenal dalam sejarah, sesungguhnya telah memberikan pelajaran sangat berharga pada kita semua. Tentang mengatasi rasa galau, yang sering kali menghinggapi jiwa para pemuda. Kegalauan yang sifatnya sangat manusiawi, namun karena cahaya Islam telah menyelimuti hatinya, maka dia berani mengambil keputusan yang luar biasa: menawarkan diri sebagai algojo pembunuh ayahnya! Ketaatannya pada Islam mampu membuat dia berpikir jernih, di tengah gejolak hati yang hebat berkecamuk. Wahai, apakah kita para pemuda di jaman ini, sanggup memiliki sifat ksatria seperti ini?

Tak berhenti di sini.  Saat hampir memasuki Madinah, si pemuda berjaga di depan gerbang. Dia siaga menghunus pedangnya, meneliti satu-persatu orang yang yang akan masuk Madinah. Ketika dia temukan wajah ayahnya, yang sangat ia cintai, ada diantara rombongan, tegas ia berkata sambil menghunuskan pedangnya, “Kembalilah ayah ke belakang!

Ayahnya, tentu terlonjak kaget. Tak menyangka anaknya berani melakukan perlawanan. Lebih membela Rasul daripada ayahnya. Spontan Ayahnya berkata, “Memang siapa kamu kok melarang ayahmu masuk? Kasihan sekali ya kamu itu.

Sang anak dengan tegas menjawab, “Demi Allah, Ayah tidak boleh melewati tempat ini, hingga Rasulullah mengijinkanmu masuk. Karena sesungguhnya, beliaulah yang lebih kuat dan perkasa sedangkan engkau adalah orang yang lebih lemah dan lebih hina.

Ucapan nan sederhana, namun telak. Membalikkan fitnahan yang terlontar keji dari mulut sang ayah, yang jauh hari sebelumnya dengan pongah berkata, “Apakah mereka (kaum muhajirin) telah berlepas dari diri kita dan merasa lebih banyak dari kita, di negeri kita sendiri? Demi Allah, kita tidak membekali diri kita dan kantong2 orang Quraisy melainkan sebagaimana dikatakan oleh orang-orang terdahulu, “gemukkanlah anjingmu, maka ia pasti memakanmu’. Oleh karena itu, demi Allah, bila kita telah kembali pulang ke Madinah, maka benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya”.

Ucapan yang membuat panas telinga kaum muslimin. Ucapan yang membuat Umar yang duduk di samping Rasul saat ada aduan tentang ucapan tersebut, segera bereaksi, “Ya Rasul. Perintahkan Abbad bin Bisyr untuk membunuhnya”. Namun dijawab Rasul dengan lembut, “Lalu bagaimana wahai Umar, bila orang-orang lalu berkata bahwa Muhammad telah membunuh sahabatnya?”

Duhai siapa dia, sang pemuda yang begitu mengagumkan dalam mengatasi kegalauannya? Dialah Abdullah, anak dari Abdullah bin Ubay, seorang tokoh Madinah yang disegani. Tokoh yang hampir saja mendapatkan mahkota penguasa, andai Rasul tidak hijrah ke Madinah. Tokoh yang membuat sebab turunnya ayat-ayat yang terbungkus dalam satu surat, dengan nama yang membuat tubuh bergidik; Surat Al-Munafiqun. Ya, surat yang khusus ditujukan pada Abdullah bin Ubay dan komplotannya, tapi tentu bukan untuk anaknya yang sangat taat.

Pelajaran kedua. Mari lihatlah ucapan pongahnya. Ucapan yang menjadi sebab turun ayat. Ucapan yang membuat geram kaum muslimin dan berhak membunuhnya, andai mau. Lalu mari bandingkan ucapan itu dengan ucapan-ucapan jaman kini. Terlihat, ucapan Abdullah bin Ubay terlihat masih ‘mendingan’. Tapi itu pun telah berefek luar biasa. Lalu bagaimana dengan ucapan-ucapan kita sendiri? Merasa muslim, lalu seenaknya memaki, merasa sebagai orang yang paling baik? Sungguh jerat-jerat kemunafikan bersiap menghadang, jika kita tak hati-hati. Berangkat dari hati yang sakit, lalu lisan menjadi pembantu setia untuk mengeluarkan kata-kata keji. Sementara, ayat Quran tentu takkan pernah turun lagi, untuk menjelaskan siapa saja yang munafik.  Maka, pantaslah Allah mengancam sifat kemunafikan dengan siksaan abadi di keraknya neraka. Karena perilaku munafik yang menelikung, seolah-olah ada dalam barisan tapi menggunting dalam lipatan. Sulit sekali dicari celah salahnya, karena terbungkus dalam kata-kata dan perilaku licin berbisa. Mari, bersama kita hati-hati menyikapi. Juga dengan sepenuh doa, agar kita terhindar dari sifat munafik. Juga doa sepenuh pasrah, saat ada badai kemunafikan memutarbalikkan fakta sedemikian rupa. Karena doa, bagi orang-orang yang teraniaya, tidak ada lagi pembatas antara dirinya dengan Rabb-nya.

Allahumma arinal haqqo haqqon, war zuqnat tibaa’ah. Wa arinal bathila bathilan, warzuqnaj tinaabah.

Lengkapnya Klik DISINI

"Kita Akan Dimenangkan Allah"

Foto: "Kita Akan Dimenangkan Allah"

Dakwah ini adalah proyeknya Allah, dan kita hanyalah pelaksananya saja. Kalau langkah-langkah kita sesuai dengan irsyadat (bimbingan) dan taujihat (arahan-arahan) rabbaniyyah wa-nnabawiyah (Rabb dan Nabi), kita akan dimenangkan oleh Allah SWT, insya Allah…

Karena dengan selalu disiplin terhadap manhaj rabbani, dengan taujihat rabbaniyyah, irsyadat rabbaniyah yang diberikan Al-Qur’an dan sunnah, maka kita sebelum dinilai menjadi pemenang di hadapan manusia, insya Allah telah dinilai menjadi pemenang di hadapan Allah.

Ikhwan wa akhwat fillah…meraih kemenangan di mata Allah harus menjadi target utama dan pertama sebelum meraih kemenangan menurut penilaian manusia. Na’udzubillah, kalau meraih kemenangan menurut penilaian manusia, sementara kalah menurut penilaian Allah, maka faqad khasira khusraanan mubiina. Rugi serugi-ruginya.

Saya pernah menjelaskan rumusan kemenangan rabbani yang sangat sederhana, seperti disampaikan oleh Imam Ahmad bin Hambal yang mengatakan bahwa definisi kemenangan itu adalah ‘Maa laazumul haqqu qulubana’ artinya: ‘selama kebenaran masih tetap kokoh di dalam hati kita.” Luzumul haq fi qulubina, itulah kemenangan. Itulah intishar. Itulah keberhasilan. Dalam percaturan, pertempuran, apakah ma’rakah siyasiyah, ma’rakah fikriyah, atau ma’rakah intikhabiyah, bentuknya apakah Pilkada di Kabupaten, Kota, Provinsi, Pemilu Nasional, Legislatif atau Presiden, pertama-tama yang harus diraih adalah kemenangan menurut penilaian Allah.

Insya Allah, jika kita dinilai Allah sebagai pemenang, Allah akan memberikan kemenangan yang dinilai oleh manusia. Itu rumusan dasar yang harus kita pegang. Jangan sampai target kemenangan-kemenangan pilkada atau pemilu nasional, membuat kita kalah menurut perhitungan Allah SWT. Kalah karena godaan-godaan jabatan jadi gubernur, bupati, walikota, bahkan presiden. Menang menurut manusia, kalau kemudian dalam posisi itu adalah hasil kecurangan, kezaliman dan ketamakan, maka maghlub ‘indallah, itu kalah menurut Allah.

Sebab ada inkhila-ul haq minal qalb, tercabutnya kebenaran dari hati. Tercerabutnya amanah dari hati. Inkhila-ul shidq, tercerabutnya kejujuran dari hati. Itu adalah kekalahan di sisi Allah. Tentu semua itu tidak kita inginkan. Karena itu kader-kader yang sudah memasuki lembaga-lembaga Negara, yang jadi gubernur atau wagub, atau walikota, atau wakil, agar mempertahankan kemenangan di sisi Allah dalam posisi itu. Agar tetap mustahiq (berhak) mendapatkan kemenangan berikutnya di arena perjuangan dan pergaulan antar manusia. ***


Oleh: Ust. Hilmi Aminuddin

Oleh: Ust. Hilmi Aminuddin
Dakwah ini adalah proyeknya Allah, dan kita hanyalah pelaksananya saja. Kalau langkah-langkah kita sesuai dengan irsyadat (bimbingan) dan taujihat (arahan-arahan) rabbaniyyah wa-nnabawiyah (Rabb dan Nabi), kita akan dimenangkan oleh Allah SWT, insya Allah…

Karena dengan selalu disiplin terhadap manhaj rabbani, dengan taujihat rabbaniyyah, irsyadat rabbaniyah yang diberikan Al-Qur’an dan sunnah, maka kita sebelum dinilai menjadi pemenang di hadapan manusia, insya Allah telah dinilai menjadi pemenang di hadapan Allah.

Ikhwan wa akhwat fillah…meraih kemenangan di mata Allah harus menjadi target utama dan pertama sebelum meraih kemenangan menurut penilaian manusia. Na’udzubillah, kalau meraih kemenangan menurut penilaian manusia, sementara kalah menurut penilaian Allah, maka faqad khasira khusraanan mubiina. Rugi serugi-ruginya.

Saya pernah menjelaskan rumusan kemenangan rabbani yang sangat sederhana, seperti disampaikan oleh Imam Ahmad bin Hambal yang mengatakan bahwa definisi kemenangan itu adalah ‘Maa laazumul haqqu qulubana’ artinya: ‘selama kebenaran masih tetap kokoh di dalam hati kita.” Luzumul haq fi qulubina, itulah kemenangan. Itulah intishar. Itulah keberhasilan. Dalam percaturan, pertempuran, apakah ma’rakah siyasiyah, ma’rakah fikriyah, atau ma’rakah intikhabiyah, bentuknya apakah Pilkada di Kabupaten, Kota, Provinsi, Pemilu Nasional, Legislatif atau Presiden, pertama-tama yang harus diraih adalah kemenangan menurut penilaian Allah.

Insya Allah, jika kita dinilai Allah sebagai pemenang, Allah akan memberikan kemenangan yang dinilai oleh manusia. Itu rumusan dasar yang harus kita pegang. Jangan sampai target kemenangan-kemenangan pilkada atau pemilu nasional, membuat kita kalah menurut perhitungan Allah SWT. Kalah karena godaan-godaan jabatan jadi gubernur, bupati, walikota, bahkan presiden. Menang menurut manusia, kalau kemudian dalam posisi itu adalah hasil kecurangan, kezaliman dan ketamakan, maka maghlub ‘indallah, itu kalah menurut Allah.

Sebab ada inkhila-ul haq minal qalb, tercabutnya kebenaran dari hati. Tercerabutnya amanah dari hati. Inkhila-ul shidq, tercerabutnya kejujuran dari hati. Itu adalah kekalahan di sisi Allah. Tentu semua itu tidak kita inginkan. Karena itu kader-kader yang sudah memasuki lembaga-lembaga Negara, yang jadi gubernur atau wagub, atau walikota, atau wakil, agar mempertahankan kemenangan di sisi Allah dalam posisi itu. Agar tetap mustahiq (berhak) mendapatkan kemenangan berikutnya di arena perjuangan dan pergaulan antar manusia. ***



sumber : PKSpiyungan.

Lengkapnya Klik DISINI

Menjadi Akhwat Tangguh

apakah mereka yang slalu berbuat baik itu tak pernah "terluka"

ah kawan.. boleh jadi mereka lah yang paling banyak terluka di "jalan ini"
bahkan mungkin hati mereka sudah tak utuh lagi.. tercabik dan terkoyak di sana-sini..

lalu mengapa mereka terus menebar kebaikan..?
karena yang mereka cintai adalah Allah… bukan dirinya sendiri…

[Sarwo Widodo Arachnida]

“3 hari sesudah menikah… kami pun hidup terpisah…” ucapnya dengan suara datar.
“Subhanallah…artinya sejak itu anti di Jakarta dan suami di Jawa Timur...? ” tanya Murobbiyah saya untuk meyakinkan.
“Benar…” jawab akhwat tersebut dengan penuh keyakinan tanpa penyesalan.

Itu sepenggal kisah yang dibagi murabbiyah saya saat duduk bersama di Masjid Islamic Center, pagi itu. Kisah tentang salah seorang akhwat pembimbing anak-anak calon penghafal Al Qur’an di Markaz Utrujah yang dirintis oleh DR. Sarmini Lc. MA. Seorang Akhwat tangguh yang berani mengambil pilihan memenangkan Allah dan dakwah di atas kesenangan pribadinya. Beliau lebih memilih mendampingi anak-anak menghafal setiap ayat demi ayat Al Qur’anul Karim dengan konsekuensi harus terpisah jarak dengan sang suami. Beliau lebih memilih bersabar untuk tidak berjumpa dengan suami yang dicinta demi mengantarkan bocah-bocah calon penghafal Al Qur’an itu menjadi generasi Robbani yang akan menjayakan dan memuliakan Islam dengan Al Qur’an. Sebuah pilihan yang tak mudah memang, tapi beliau telah membuat keputusan.

Dari pribadi–pribadi berjiwa tangguhlah selayaknya kita mengambil teladan. Sebab dalam hidup akan ada begitu banyak tantangan yang mesti kita hadapi. Sebab dalam hidup tak sedikit “persimpangan jalan” yang bakal memaksa kita untuk membuat pilihan dan keputusan. Sebab dalam hidup terlampau sering manusia “dipaksa” menjadi lebih kuat agar tidak mengalah pasrah saat menghadapi masalah.

Dari pribadi–pribadi berjiwa tangguh kita belajar, belajar terus menebar kebaikan. Mereka tak hidup untuk dirinya sendiri tapi juga menghidupkan dan memberi manfaat pada sekitarnya. Mereka percaya dengan penuh keyakinan jika di setiap langkah hidup yang mereka tempuh itu demi Allah dan dakwahNya, maka tak pernah akan ada yang sia- sia. Allah Maha Melihat dan malaikatpun tak akan lalai mencatat.. Mereka sepenuhnya mengimani firmanNya :

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)” (QS. Ar-Rahman: 60)

Jika sebuah pilihan yang tak mudah telah diambil, benturan dan luka adalah sebuah keniscayaan. Bentuknya bisa jadi berupa perasaan tidak nyaman, godaan keikhlasan, cacian dan celaan, rasa tidak puas serta tuntutan berlebihan dari lingkungan hingga lintasan hati untuk menghentikan perjuangan. Mungkin tidak cukup sekali, dua kali, tiga kali, bahkan mungkin akan berkali-kali benturan dan luka yang akan terjadi. Tapi pribadi berjiwa tangguh tak terlalu risau dengan segala luka dan kepahitan itu. Mereka lebih memilih Allah dari pada sekedar rasa nyaman. Mereka memilih untuk menjadi kuat sebab mereka tahu Allah yang akan memampukan dan menguatkan mereka dengan pertolonganNya.

”…dan merupakan hak Kami, untuk Menolong orang-orang yang beriman…” (QS. Ar-Rum 47)

“Yang pasti modal awalnya azzam yang kuat… kemudian jiddiyah… bersungguh-sungguh…” kata murabbiyah saya sambil menepuk lembut lutut mutarabbi yang sedang bersila di sampingnya. “Akhwat tadi bisa… Bu Sarmini juga bisa… antipun pasti bisa…” sambungnya menguatkan. Tiba–tiba… serasa sebuah pilihan dihamparkan di hadapan saya. Pilihan menjadi tangguh atau pengeluh…? Menjadi gagah atau kalah…? Pilihan pertama lebih indah sepertinya… bagaimana menurut kalian..? [Kembang Pelangi]

sumber : bersamadakwah.com 
Lengkapnya Klik DISINI

Dakwah di Kedai-kedai Kopi

 Hasan Al Banna
Tibalah saatnya untuk prakte setelah sekian lama menggelutdunia keilmuan. Saya menawarkan kepada teman-teman agar keluar untuk menyampaikan khotbah atau ceramah di kedai-kedai kopi. Teman-teman merasa heran seraya berkomentar, “Para pemilik kedai kopi  tentu tidak akan mengijinkan hal ini. Mereka pasti akan menolakny, karena dapat mengganggu pekerjaan mereka. Disamping itu, kebanyakan dari para pengunjung kedai kopi adalah orang-orang yang hanya memikirkan apa yang sedang mereka nikmati. Bagaimana kita mesti berbicara tentang agama dan akhlak di hadapan orang-orang yang hanya memikirkan kesenangan duniawi seperti yang sedang mereka nikmati itu?”

Saya berbeda pendapat dengan teman-teman ini. Saya meyakini bahwa kebanyakan orang yang berada di kedai kopi siap mendengarkan nasihat dari pihak lain, termasuk dari kalangan aktivis masjid, sebab kegiatan ini merupakan sesuatu yang unik, langka dan baru bagi meremeka.  Kita tidak perlu menyampaikan sesuatu yang dapat melukai perasaan mereka. Kta harus menyampaikan dengan metode yang tepat, dengan gaya yang menarik, dan dalam waktu yang singkat.

Ketika terjadi perdebatan yang panjang seputar masalah ini, saya katakan kepada teman-teman, “Mengapa perconaan ini tidak kita jadikan saja sebagai ‘hakim’ dalam persoalan tersebut?” Akhirnya, teman-teman pun menerima usulan saya. Kami pun akhirnya keluar untuk melakukan apa yang telah kami rencanakan. Kami awali dengan mengunjungi beberapa kedai yang terletak di kompleks Shalahudin. Selanjutnya di kedai-kedai kopi yang tersebar di wilayah Thulun, sehingga akhirnya-melalui jalan berbukit-sampai di Jalan Salamah dan Jalan Sayidah Zainab. Saya perkirakan dalam waktu semalam itu saya dapat menyampaikan lebih dari dua puluh kali ceramah. Setiap ceramah menghabiskan waktu antara lima hingga sepuluh menit.

Ternyata para pendengar sangat takjub. Mereka semua terdiam mendengarkan ceramah dengan seksama. Para pemilik kedai pada mulanya seperti kurang berkenan, namun setelah itu mereka justru minta agar ceramah ditambah lagi. Mereka ingin agar setelah menyampaikan ceramah, kami minum-minum terlebih dulu, atau mintapa saja yang diinginkan. Namun dengan halus kami tolak kami memintamaaf kepada mereka karena tidak bisa memenuhi kemauannya dengan alasan sempitnya waktu. Kami memang telah berjanji kepada diri sendiri untuk mengoptimalkan penggunaan waktu untuk Allah. Karenanya kami tidak ingin memanfaatkannya untuk yang lain. Sikap kami ini dapat memberikan pengaruh yang cukup besar bagi jiwa mereka. Tak perlu heran, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah mengut seorang rosul atau nabi, kecuali moto pertamanya adalah: “Katakanlah, ‘Sya tidak akan meinta upah atas kalian atas dakwah ini.’” Kesucian niat inilah yang memberikan pengaruh yang positf dalam jiwa para mad’u (objek dakwah).

Percobaan ini ternaya berhasil seratus persen. Selanjutnya kami kembali ke tempat kami di Syaikhun. Kami sangat gembira dengan keberhasilan ini dan bertekad untuk meneruskan perjuangan di lahan lain. Kami selalu berusaha memberikan nasihat praktis yang aplikatif kepada semua orang melalui metode semacam ini. Ini merupakan komitmen kami. Di dalam aktivitas ini, saya menemukan ‘hiburan’ tersendiri bersamaan dengan absen saya dari Jam’iyyah Al-Hasyafiyah, yang gregetnya mulai meluntur di Mahmudia,meskipun para anggotanya masih terus mempererat persaudaraan, saling bekerjasama untuk Islam, serta masih dipersatukan oleh Tarekat Hashafiyah untuk tetap melaksanakan aktivitas ibadah, dzikir dan beramar ma’ruf nahi mungkar. Selanjutnya dari waktu ke waktu ekspedisi Inggris itu mampu membangkitkan rasa fanatisme ke dalam jiwa mereka. Inggris telah meletakkan tongkatnya dan bercokol di negeri yang aman ini; negeri yang sebelumnya tidak pernah tertimpa oleh bencana sedasyat ini. Pantasnya ekspedisi seperti itu tertuju ke ngeri-negeri paganis, bukannya mendiami negeri-negeri kaum muslimin, karena mereka adalah manusia-manusia yang keimanannya paling benar, ketauhidannya kepada Allah paling lurus, hatinya paling bersih danjiwanya paling sehat. Hanya Allah-lah yang berhak mengatur segala urusan makhluk-Nya.


Lengkapnya Klik DISINI

Menjadi Sahabat Terbaik Untuk Pasangan Hidup

Menjadi Sahabat Terbaik Untuk Pasangan HidupPertama kali, saya ajak Anda menyimak kembali kisah yang dibacakan Torey Hayden kepada Sheila, dalam buku Sheila, Luka Hati Seorang Gadis Kecil, halaman 219 – 226, dalam judul The Little Prince.
* * *
Pangeran Kecil hidup sendirian dalam sebuah planet kecil, bersama sebatang tanaman mawar yang sangat dirawatnya. Ketika Pangeran Kecil berjalan-jalan melihat mawar liar, ia bertemu rubah seekor rubah.
“Kemari, bermainlah denganku,” kata Pangeran Kecil, “Aku sangat sedih”.

“Aku tidak bisa bermain denganmu,” kata rubah, “Aku belum dijinakkan.”
“Ah, maafkanlah aku,” kata Pangeran Kecil, tapi setelah berpikir beberapa saat, dia menambahkan, “Apa artinya itu –menjinakkan?”
“Itu adalah tindakan yang sering diabaikan,” kata rubah. “Menjinakkan artinya menjalin ikatan.”
“Menjalin ikatan?”

“Begitulah,” kata rubah. “Bagiku, kamu saat ini tidak lebih dari seorang bocah kecil yang sama saja dengan ribuan bocah kecil lainnya. Dan aku tidak membutuhkanmu. Dan kamu sendiri tidak membutuhkan aku. Bagimu, aku tidak lebih dari seekor rubah seperti ratusan ribu rubah lainnya.Tapi jika kamu menjinakkan aku, kita akan saling membutuhkan. Bagiku kamu akan menjadi satu-satunya di dunia. Bagimu, aku akan menjadi satu-satunya di dunia..”
“Hidupku sangat membosankan,” kata rubah.

“Aku berburu ayam, manusia memburuku. Semua ayam sama saja dan semua manusia sama juga. Dan akibatnya aku jadi bosan. Tapi jika kamu menjinakkan, akan terasa seolah matahari menyinari hidupku. Aku akan mengenali suara langkah yang terdengar berbeda dari semua langkah lain. Langkah-langkah lain akan mendorongku bergegas kembali ke bawah tanah. Tapi langkahmu akan memanggilku, seperti musik, keluar dari persembunyianku. Dan coba lihat: Kamu lihat ladang gandum jauh di sana? Aku tidak makan roti. Gandum tidak ada manfaatnya bagiku. Ladang gandum tidak punya arti apa-apa bagiku. Dan itu menyedihkan. Tapi rambutmu berwarna emas. Pikirkan betapa indah jadinya nanti jika kamu telah menjinakkan aku!”

“Butir-butir gandum yang juga berwarna keemasan, akan membuatku ingat kepadamu. Dan aku akan sangat senang sekali mendengarkan suara angin yang meniup butir-butir gandum..”
Lama rubah itu menatap sang Pangeran Kecil.
“Tolong, jinakkan aku!” katanya.

“Aku ingin, ingin sekali,” sahut Pangeran Kecil. “Tapi aku tidak punya banyak waktu. Ada banyak teman yang harus kucari, dan banyak hal yang harus kumengerti.”
“Orang hanya bisa mengerti hal-hal yang dijinakkannya,” kata rubah. “Manusia tidak punya waktu lagi untuk mengerti apapun. Mereka membeli barang yang telah tersedia di toko. Tapi dimana-mana tidak ada toko yang menjual persahabatan, dan karenanya manusia tidak punya teman lagi. Jika kamu ingin punya teman, jinakkan aku..”

“Apa yang harus kulakukan untuk menjinakkan kamu?” tanya Pangeran Kecil. “Kamu harus sabar sekali,” sahut rubah. “Pertama-tama kamu duduk agak jauh dariku –seperti itu– di atas rumput. Aku akan memandangmu dari sudut mataku, kamu tidak boleh bilang apa-apa. Kata-kata adalah sumber kesalahpahaman. Tetapi kamu akan duduk lebih dekat padaku setiap hari..”

Maka Pangeran Kecil menjinakkan rubah. Ketika waktu perpisahan hampir tiba,
“Ah,” kata rubah, “Aku akan menangis”

“Itu salahmu sendiri, aku tidak pernah berkeinginan untuk mencelakaimu. Sama sekali. Tetapi kamu ingin aku menjinakkan kamu..”
“Ya memang begitu,” kata rubah.
“Tapi sekarang kamu akan menangis !” kata Pangeran Kecil.
“Ya memang begitu,” kata rubah.
“Jadi itu tidak mendatangkan kebaikan bagimu sama sekali!”
“Itu baik untukku,” kata rubah. “Karena warna ladang gandum itu.” Lalu ia menambahkan:

“Pergi dan lihatlah lagi bunga-bunga mawar itu. Kamu akan mengerti sekarang bahwa bungamu adalah satu-satunya di seluruh dunia. Lalu kembalilah dan ucapkan selamat tinggal padaku, dan aku akan memberimu hadiah sebuah rahasia.”
Pangeran Kecil pergi untuk melihat lagi bunga-bunga mawarnya.

“Kamu sama sekali tidak seperti bunga mawar milikku,” katanya pada bunga-bunga mawar. “Jadi kamu tidak ada artinya. Tidak ada yang menjinakkan kamu, dan kamu tidak menjinakkan siapa-siapa. Kamu seperti rubahku ketika pertama kali aku mengenalnya. Dia hanya seekor rubah seperti seratus ribu rubah lainnya. Tapi aku telah menjadikannya temanku, dan kini ia menjadi satu-satunya di seluruh dunia.”
Dan mawar-mawar itu sangat pemalu.

“Kamu cantik, tapi hampa,” lanjutnya, “Tidak ada yang bersedia mati demi kamu. Tentu, orang yang lewat akan mengira bahwa bunga mawarku tampak persis seperti kamu mawar yang kumiliki. Tapi hanya dialah yang lebih penting dari ratusan ribu mawar lainnya: sebab dialah yang kulindungi di balik tabir, karena demi dialah aku membunuh ulat (kecuali dua atau tiga diantara mereka yang kami selamatkan agar menjadi kupu-kupu). Karena dialah aku mau mendengarkan, ketika dia mengomel atau membual, atau bahkan kadang-kadang ketika dia tidak bilang apa-apa. Karena dia adalah mawarku.”
Dan dia kembali untuk menemui rubah.
“Selamat tinggal,” katanya.

“Selamat jalan,” kata rubah, “Dan sekarang inilah rahasiaku, rahasia yang sangat sederhana: hanya dengan inilah orang bisa melihat dengan benar: Hal apa yang terpenting itu tidak bisa dilihat dengan mata.”

“Apakah yang terpenting yang tidak dapat dilihat dengan mata?” ulang Pangeran Kecil supaya dia yakin akan bisa mengingatnya.

“Waktu yang telah kamu habiskan untuk mawarmu itulah yang membuat mawarmu begitu penting.”

“Waktu yang aku habiskan untuk mawarku..” kata Pangeran Kecil supaya dia yakin akan bisa mengingatnya.

“Manusia telah melupakan kebenaran ini., ” kata rubah. “Tapi kamu tidak boleh melupakannya. Kamu bertanggungjawab selamanya terhadap apa yang telah kamu jinakkan. Kamu bertanggungjawab kepada mawarmu..”
* * *
Sepertinya ada hal-hal menarik yang bisa kita petik dari kisah tersebut. Bahkan bisa kita kembangkan lebih jauh dan lebih luas dalam konteks relasi suami dan isteri.
Sesungguhnya persahabatan menjadikan seseorang atau sesuatu menjadi istimewa di antara yang lain. Sang rubah menjadi satu-satunya dari ratusan ribu rubah lainnya. Dan sang mawar juga demikian bagi Pangeran Kecil. Anda dapat menjadi yang istimewa dan satu-satunya bagi pasangan anda. Dan sebaliknya, jadikan ia merasa istimewa dan satu-satunya bagi anda.

Untuk menjalin persahabatan, seseorang rela berkorban melakukan apa saja. Persahabatan membutuhkan kesabaran. Anda butuh kesabaran untuk membangun persahabatan dengan pasangan anda.

Waktu yang kita habiskan bersama sahabat adalah sesuatu yang sangat berharga yang tidak bisa dilihat dengan mata. Waktu yang Anda lewatkan bersama pasangan, adalah waktu yang sangat berharga.

Persahabatan akan membawa kesedihan ketika terjadi perpisahan, dan itu wajar. Namun karena spesial, seorang sahabat takkan pernah dilupakan dan senantiasa menyenangkan mengingatnya, dan mengingat segala sesuatu yang mengingatkan pada sahabat, seperti warna ladang gandum. Bahkan menjadikan hal-hal lain yang berhubungan dengannya menjadi bermakna.

Begitulah, Anda dapat pula menjalin persahabatan yang istimewa dengan pasangan Anda. Maka menjadi menyenangkan untuk mengingat segala hal yang berkaitan dengan pasangan Anda. Semoga pasangan Anda pun demikian ketika menganggap Anda sebagai sahabatnya.

Oleh: Ida Nur Laila
Lengkapnya Klik DISINI

Bunga Rampai Kedokteran Islam, Menghimpun Pemikiran yang Terserak

buku-bunga-rampai-kedokteran-islamJudul Buku : Bunga Rampai Kedokteran Islam: Menghimpun Pemikiran yang Terserak
Penulis : Ahmad Jamaludin, dkk
Penerbit : Perhimpunan Profesi Kesehatan Muslim Indonesia – Islamic Medical Association and Network of Indonesia (PROKAMI – IMANI), bekerja sama dengan Celtics Press.
Cetakan ke-1, tahun 2013
Tebal : viii. 138 Halaman

Menghimpun Pemikiran yang Terserak
Lebih dari setahun yang lalu kami memulai suatu kebiasaan yang kami anggap baik yaitu mengumpulkan tulisan. Melalui berbagai cara, sekian tulisan yang terserak hasil karya para dokter muslim berhasil dikumpulkan. Kisah para dokter selalu menarik untuk diceritakan mulai dari kisah klasik seperti The Doctor karya novelis Eric Segal sampai Team Medical Dragon karya mangaka Akira Nagai dan Taro Nogizaka. Muslim yang menggunakan kacamata Islam dalam kehidupannya sebagai dokter tentu memiliki aroma khas yang terasa dalam tulisan-tulisan ini.

Bukan kebetulan pula bila sebagian besar dari kami berasal dari satu almamater yang suatu ketika pernah memiliki suatu momen bersama namun saat ini terpencar di setiap penjuru mata angin dan dalam dimensi kehidupan yang berbeda menjalani takdirnya masing-masing. Tulisan-tulisan ini mengungkap isi fikir kami sebagai muslim dan dokter sekaligus. Buku ini memberikan kami kesempatan untuk melakukan reuni, suatu reuni pemikiran dalam kedokteran Islam.

Ruas pertama dalam buku ini bercerita tentang dilema, mimpi dan harapan. Melalui bagian ini kami bercermin dan melihat kembali apakah jalan yang kami tempuh saat ini memang jalan yang layak untuk seorang muslim. Dari laboratorium ke meja operasi, dan dari ruang praktek ke dalam benak, serta relung jiwa pasien.

Ruas kedua kami isi dengan tulisan yang memberi tuntunan untuk pelbagai masalah seperti problem rokok dan shaum Ramadhan. Kami juga menggali makna dari ilmu dan pengalaman yang tidak jarang mendorong proses deep thinking. Beberapa tulisan disajikan dalam bentuk hasil kunyahan atas ilmu yang tidak setiap orang mampu menimbanya. Pada ruas ketiga kami berusaha mendefinisikan kedokteran islam secara formal. Bagian ini adalah hasil pemikiran mengenai beberapa aspek dalam kedokteran islam seperti tinjauan historis, pelayanan kesehatan, pengobatan ala nabi serta peran ulama. Kami mengikutsertakan Ustadz. Ahmad Sarwat, Lc. MA untuk memperkaya bagian ini.

Terakhir, seperti juga kehidupan, dunia kami diwarnai perdebatan. Kedokteran Islam dipahami oleh banyak kepala dengan beragam pemikiran beserta cabang-cabang pandangannya. Ruas ini menjadi fokus keprihatinan kami karena banyak muslim tidak saja telah melaksanakan, juga telah menyebarluaskan sikap ekstrem yang dibalut semangat dakwah dan jihad. Sedemikian hingga kami melihat fenomena Eropa di abad kegelapan terjadi pada sebagian kecil komunitas muslim di abad kebangkitan Islam namun dengan konsekuensi yang dapat melumpuhkan generasi muslim. Ruas ini kami akhiri dengan doa lulusan dokter yang merangkum dan menggenggam.

Buku ini berusaha merangkum pemikiran yang terserak membentuk mozaik, aroma dan bunga rampai mengenai muslim, dokter dan kedokteran Islam. Satu hal yang kami sadari, kedokteran Islam, sebelum hal lainnya, adalah seorang dokter yang menggunakan Islam untuk memandang kehidupannya. Buku ini berharap menjadi bagian dari upaya membangun budaya belajar dan menulis, kultur rasionalitas ilmu dan intuisi kalbu, peradaban hati dan akal serta menjadi bagian dari arus kebangkitan Islam.
 
 sumber

Lengkapnya Klik DISINI

Animated Recent Post

Recent post menunjukkan apakah post terbaru yang baru dihasilkan oleh seseorang blogger untuk blognya. Adanya animated recent post widget, dapat menambahkan lagi 'seri' bagi senarai recent post anda.



.Tutorial untuk membuat animated recent post ini adalah seperti berikut.

1. Dari dashboard > design > add a gadget > HTML/javascript

2. Copy dan paste kod di bawah ke dalam ruangan HTML/javascript yang anda buka.


<style type="text/css">
#rp_plus_img{height:377px;}
#rp_plus_img li {height:60px;padding:5px;list-style:none;
background-color:#ffffff;
border:solid 1px #000000;}
#rp_plus_img a{color:#00000;}
#rp_plus_img .news-title{display:block;font-weight:bold ;margin-bottom:4px;font-size:11px;
text-align:justify;
-moz-border-radius: 5px;}
#rp_plus_img img{float:left;margin-right:14px;padding:4px;border:solid 1px #00000;width:55px;height:55px;}
</style>
<script type="text/javascript" src="http://ajax.googleapis.com/ajax/libs/jquery/1.4.2/jquery.min.js"></script>
<script type="text/javascript" src="https://sites.google.com/site/unwanted86/javascript/recentpost.js"></script>
<script type="text/javascript">
var speed = 1500;
var pause = 3500;
$(document).ready(function(){
rpnewsticker();
interval = setInterval(rpnewsticker, pause);
});
</script>
<ul id="rp_plus_img">
<script style="text/javascript">
var numposts = 5;
var numchars = 0;
</script>
<script src="/feeds/posts/default?orderby=published&alt=json-in-script&callback=rpthumbnt"></script>
</ul><small><a href="http://rabbani79.blogspot.com/2013/05/animated-recent-post.html" target="_blank">rabbani79.blogspot.com</a></small>

3. Save dan lihat hasilnya. Selamat mencoba

sumber
Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......