Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

Perang Akhir Zaman Akan Menggunakan Senjata Tradisional?

Imam Mahdia.s 268x300 Perang Akhir Zaman Akan Menggunakan Senjata Tradisional?
HANCURNYA bangsa Yahudi merupakan salah satu dari tanda-tanda datangnya hari kiamat. Hal ini bermula dengan sebuah peperangan besar yang melibatkan banyak bangsa di dunia termasuk bangsa Israel. Sebelum terjadi peperangan ini, terdapat beberapa peristiwa lain yang membawa kepada terjadinya peperangan ini menurut kronologi hadis akhir zaman hasil kajian ilmuan Islam. 

Pertempuran dahsyat ini dikenal sebagai Armageddon, di mana lokasi utama perang ini adalah di lembah Megiddo atau Mageddon, Palestina. Mungkin ada yang menganggap Perang Armageddon hanyalah sebuah film rekaan Hollywood belaka. Kenyataannya, Hollywood yang disokong oleh Yahudi memang ingin menyamarkan fakta tentang Armageddon ini melalui propaganda film. Padahal di kalangan para ahli kitab mereka telah mengkaji tentang peperangan ini dan senantiasa bersiap sedia untuk menghadapinya.

Disebutkan dalam Kitab Zakharia (89/13), bahawa sebahagian besar bangsa Yahudi akan mati dalam perang Armageddon dan dua pertiga dari mereka akan musnah. Sedangkan dalam kitab Zagiyal (12/39) disebutkan :”Akan berlangsung tujuh bulan sehingga rumah Israel berhasil mengubur mereka (orang-orang mereka yang terbunuh) sebelum membersihkan bumi”.

Sebutan Armageddon sebenarnya tidak terdapat dalam Hadis manapun. Hanya disebut dalam kajian-kajian Kristen dan Ahli Kitab. Menurut bahasa Ibrani, Ar bermaksud gunung atau bukit. Mageddo pula adalah nama sebuah lembah di Palestina. Sebuah tempat yang cukup strategis dari segi peperangan. Perang ini juga dikatakan sebagai perang terakhir dengan menggunakan seluruh kekuatan pelbagai peralatan senjata moden yang canggih. Mungkin perang itu adalah Perang Dunia ketiga yang disebut-sebut sebagai Perang Nuklir.

Banyak yang mengatakan bahwa dalam Perang Dunia Ketiga, bom nuklir akan digunakan. Ada diceritakan juga dalam kitab Bahrul Mazi. Perang Dunia Ketiga yang diramal akan berlaku dalam tempo yang singkat. Tetapi, kemusnahannya amat dahsyat. Sehingga dikatakan dunia selepas itu akan kembali menjadi seperti Zaman Pertengahan di mana bala tentara hanya akan menunggang kuda serta bersenjatakan pedang seperti perang zaman dahulu.

“Jika Perang Dunia Ketiga adalah berjuang dengan senjata nuklir, yang keempat akan diperjuangkan dengan busur dan anak panah.” – Louis Lord Mountbatten

“Saya tidak tahu dengan apa senjata Perang Dunia Ketiga akan diperjuangkan, tetapi Perang Dunia Keempat akan diperjuangkan dengan kayu dan batu.” – Albert Einstein

Apakah Einstein dan Mountbatten hanya kebetulan mengatakan ini? Konon, ini disebabkan teknologi semua tidak boleh digunakan lagi pada masa itu karena EMP (electromagnetic pulse) senjata nuklir itu sendiri terjadi ketika Perang Dunia Ketiga. Jadi, kekuatan bala tentara ketika Perang Dunia Keempat nanti adalah seimbang dan tidak berat sebelah karena semuanya menggunakan peralatan perang yang sama.

Malah, ada sebahagian hadis yang menekankan akhir zaman nanti akan berlakunya perang menggunakan pedang dan Dajjal akan disembelih dengan pedang. Hadis Nabi juga ada menyebut, Yahudi Zionis akan bersembunyi di balik-balik batu dan kayu dan hanya selamat di belakang pokok Yahudi yaitu pokok Gharqad, yang banyak di tanam sekarang di Israel.

“Tidak akan berlaku kiamat sehinggalah seluruh umat Islam berperang dengan seluruh Yahudi. Umat Islam akan membunuh mereka sehingga apabila mereka bersembunyi di sebalik batu dan pohon, tiba-tiba pohon-pohon dan batu-batu itu bersuara menjerit memanggil umat Islam agar datanglah kamu ke sini dan bunuhlah orang-orang Yahudi itu, kecuali pohon ‘Gharqad’, kerana ia adalah pohon Yahudi”. (Hadith Sahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim). [szlihin]

Lengkapnya Klik DISINI

Memoar Perjuangan Jilbab Era 80-an

i_have_a_dream_by_setobuje-1Kisah jilbab: Ami Fidiyanti, SMA N 28 Jakarta

Kulihat dari ujung kacamataku, teman-teman ikhwan membagi-bagikan jilbab pada teman-teman perempuanku. “Ayo dong pake, nih udah dibawain! Pake’ deh, jadi tambah cakep loh!” ucap mereka dengan semangatnya. Tentu saja kubersyukur. “Ah, teman-teman makasih ya udah ngeringanin tugas akhwat untuk merayu mereka.” Kadang kalau dipikirkan lucu juga teman-teman perempuan itu, mereka nggak kuat kalau yang ngerayu itu ikhwan. Ikhwannya sih seneng-seneng aja, begitu juga dengan teman-teman perempuanku itu yang rela didandanin meng-akhwat. Ya, begitulah yang kami lakukan saat pelajaran agama Islam. Pak Guru membolehkan kami belajar tanpa lepas jilbab maka kami memanfaatkan untuk ‘menjilbabi’ seluruh siswi yang ada di kelas dengan cara memodali mereka jilbab dan peniti. Perbuatan dramatis itu jelas mendapat teguran dari sekolah yang diarahkan ke Pak Guru Agama.

Teguran itu sebenarnya berawal dari sikap kami yang mulai berjilbab di sekolah yang komunitasnya tak pernah berhenti sejak kemunculannya pada 1983 di sekolah tercinta ini. Persoalan jilbab di sekolah negeri mulai ada sejak era ’80-an. Kisahnya selalu klasik yang diakhiri dengan keluarnya siswi tersebut secara sukarela. Hal itulah yang dialami oleh kakak kelas pada angkatan ’83-’85. Tahun-tahun awal itu saat-saat yang berat bagi jilbaber. Apalagi kepengurusan Rohis belum berjalan baik, masih individual dan pengajian di sekolah belum ada. Belum ada komunikasi di antara jilbaber karena jumlahnya masih minim, untuk angkatan ’83 hanya satu orang. Saat itu ia dimusuhi oleh guru bahkan sempat melompat pagar sekolah ketika dikejar-kejar guru karena memakai jilbab terus di sekolah. Akhirnya seperti siswi SMA lain pada umumnya, ia memilih keluar untuk menjaga aqidah Islamiyah. Untuk sesaat, sekolahku ini menjadi kawasan bebas jilbab.

Keberadaan jilbab mulai ‘welcome’ saat jilbaber menurut peraturan sekolah untuk bongkar pasang beberapa tahun setelah peristiwa itu. Wakasek yang kebetulan non-muslim tetap menentang keberadaan kami, sedangkan Kepsek, alhamdulillah tidak terlalu menentang. Ia melihat siswi-siswi berjilbab di SMA tetangga kami (SMA 26) banyak yang membuat harum nama sekolah dengan prestasinya dalam lomba-lomba bidang studi. Di sini, kami memang low profile, hanya ikhwannya yang menonjol sehingga citra jilbab belum terbangun. Walau demikian, para guru cukup toleran dengan memperbolehkan kami membuka jilbab setelah tiba di dalam sekolah. Hal itu tidak bisa kami lakukans etiap saat sebab Wakasek tercinta itu sudah menunggu kami dengan setia di pintu pagar, “Ayo dibuka jilbabnya!” ujarnya tanpa memandang bagaimana perasaan kami ‘digunduli’ di jalan raya yang cukup ramai. Ya, apa boleh buat, kami terpaksa buka jilbab di situ. Alhamdulillah, ia tidak tiap pagi nongkrongin kami. Selamat dari ujian pertama, melangkah pada ujian kedua. Guru BP kadang ngecek siswa, dari baju yang kependekan, sampai… yang kepanjangan. “Kalau ada yang kepanjangan, saya gunting!” katanya. Ah, ujian itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan para sahabat, seperti Bilal atau Amar bin Yassir yang kehilangan kedua orangtuanya.

Kami menyadari bahwa kami berbeda dengan teman-teman yang lain. Jilbab-jilbab yang melambai bahkan ada yang super lebar sampai menyentuh ujung sepatu sempat diprotes sekolah. Yang membuat kami sedih bahkan cenderung stress, yaitu jam olahraga. Olahraga berarti olah jiwa bagi kami. Masya Allah, kami harus pamer aurat, bukan hanya sekadar buka aurat saja. Untuk membayangkannya saja ngeri rasanya, tapi itulah yang terjadi pada tahun 1990. Pada jam olahraga itu kami harus lari keluar dari sekolah. Rute yang ditempuh ialah sekolah-lapangan Palapa PP. Sekolah kami berada pas di pinggir jalan raya. Manusia dan mobil berseliweran setiap detiknya, dan mereka dengan enaknya dapat memandang kami. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya kalau ‘gundul’ hanya baju olahraga saja, tanpa kerudung kepala, kami tetap harus berlari. Hanya dengan pakaian dan celana selutut saja sudah begitu menyiksa kami, ditambah lagi harus berkeliling di jalan raya. Tampang kami yang culun dengan rambut diikat kuda tentu kentara bedanya dengan siswi yang tidak berjilbab, seolah-olah orang-orang di jalan mengatakan, “Itu tuh siswi yang pake jilbab!” “Ya Allah, kuatkan hamba.”

Allahu Akbar! Kami mampu melakukan ‘kucing-kucingan’. Setelah keluar dari pintu gerbang, kami mencari mobil yang diparkir, lalu di balik mobil itu, kami mengenakan jilbab dan… berlari. Sampai di daerah Palapa, dengan lambat-lambat, tanganku bergerak ke atas membuka jilbab. “Ya Allah, apa yang harus kulakukan? Kami sadari kami tidak kaffah, tapi itulah yang mampu kami lakukan saat ini. Ampuni kami ya Allah!”
Kapankah tibanya pertolongan-Mu, ya Allah?

Kapankah Kau kabulkan doa yang kami bisikkan dalam shalat-shalat panjang kami?
Subhanallah, titik terang itu mulai berpencar cahayanya. Saat itu pada 1990, ada musyawarah MPK (Majelis Permusyawaratan Kelas) se-Jaksel yang dihadiri beberapa SMA di antaranya SMA 6, 8, 28, 38, dan 70 yang membahas lokalisasi WTS. Topik yang berkenaan dengan moral itu menjadi momen yang pas untuk melempar isu jilbab dengan harapan jilbab diperbolehkan. Momen kedua menuai isu jilbab saat Pak Arif Rahman (Kepsek SMA Lab-School) berbicara di sekolah kami. Di depan para guru, Pak Arif menyatakan, “Jilbab itu bukan suatu ancaman, malah membuat anak jadi baik.” Allahu akbar! Kami melihat reaksi yang positif. “Ssst… wakepsek ngangguk-ngangguk, ibu BP juga ngangguk-ngangguk, wah ada harapan nih,” bisik teman sebelahku layaknya berdoa.

Doa adalah usaha yang tak pernah kami hentikan, ia selalu terucap dalam setiap detik langkah kami. Subhanallah, Depdikbud sebagai pihak yang berwenang mendengar aspirasi kami (setelah beberapa kasus jilbab mencuat) dengan mengeluarkan SK 100 tahun 1991. Kami bersyukur, dan memang selayaknya bersyukur. Sujud syukur pun dilakukan serentak di Masjid al-Azhar pada Januari 1991. Mendengar kabarnya saja, hanya air mata yang menjadi saksi. Kami tak bisa membendung tangis ini. alhamdulillah wa syukurilah. Sementara itu, kami masih bingung, apakah sudah boleh mengenakan jilbab atau belum karena kami tak mempunyai SK tersebut. Kepsek yang baru hanya menyatakan, “Saya tidak melarang, juga tidak menyuruh,” tetapi guru BP tetap patroli seperti dulu.

Sujud syukur di Masjid al-Azhar dihadiri oleh ratusan muslimah dan subhanallah, aku… adalah salah satu di antaranya. Ternyata, yang berjuang menegakkan syari’at Allah itu bukan hanya aku, banyak sekali jumlahnya, belum lagi di daerah yang tidak sempat menghadiri acara itu. Usai acara di pagi itu, tugas baru menunggu, yaitu memberitahukan kepada teman-teman di sekolah bahwa futuh jilbab sudah benar-benar terjadi. Kami juga harus menentukan apakah mulai hari ini mengenakan jilbab di sekolah, kami bingung. Ya Allah, apakah kami belum siap dengan futuh jilbab? Apakah terlalu singkat perjuangan kami sehingga kami belum bisa menghayati perjuangan kakak-kakak kami dahulu? Akhirnya kami menunda memakai jilbab pada hari bersejarah itu.

Pada masa transisi itu, para ikhwan mengadakan negosiasi dengan sekolah. Mereka meminta akhwat bersabar. “Aduh akhi, bagaimana mau kompromi lagi, ini kan aurat, yang malu kan kita-kita ini para akhwat,” keluh akhwat. Alhamdulillah pada pelajaran olahraga, jilbab boleh dikenakan. Dalam keadaan yang tidak menentu itu, guru BP memanggil semua jilbaber dari kelas I, II, dan III untuk briefing. Kami, sekitar 40-50 orang sudah mempersiapkan argumen, memilih jubir, tetapi kami tidak sanggup bicara, semuanya menangis duluan. Guru BP memulainya dengan menyentuh jiwa bahwa kewajiban sekolah ini untuk orangtua. Ia memainkan emosi yang terdalam, tentang bakti kami kepada orangtua. Wakasek juga mengingatkan bahwa sikap keras kami tak ubahnya seperti gerakan PKI yang laten. Kami memang menentang peraturan pemerintah, kami menentang sekolah, tapi masya Allah, kami…. Kami juga menentang orangtua, termasuk aku. “Ya Allah, bagaimana kami bisa bicara, kalau kami langsung diingatkan kepada orangtua kami di rumah. Kubayangi bapak dan ibu yang kecewa terhadap sulungnya.”

Aku adalah anak sulung yang dicita-citakan menjadi wanita karir. Ternyata aku lebih cepat diizinkan meraih hidayah-Mu. Aku mengenal jilbab saat SMP kelas III. Aku sempat nyantri saat liburan, yang setiap ustadz datang mengajar, ia selalu mengatakan, “Pakaiannya harus pakaian muslimah!” Kulihat juga keagungan wanita berjilbab. Simpatiku pada jilbab sampai pada tahap identifikasi, sayang ortu tak mengizinkan. Setelah itu, hari-hariku berjalan biasa sampai aku diterima di SMA Negeri 28 Jaksel ini. keahlian menari Jawa mengantarkanku masuk nominasi AFS. Saat tes akhir AFS, aku berada pada garis kebimbangan setelah membaca artikel tentang seorang wanita Barat yang masuk Islam dan memilih hijrah ke Mesir. “Lho kok, kenapa aku, wanita Islam malah mau hijrah ke Amerika?” konflik batin terjadi. Aku teruskan niatku di AFS karena aku tertantang ucapan Bapak yang mengizinkanku berjilbab jika lulus AFS. Ternyata aku gagal.

Sementara itu, Bapak terus mencari kebenaran tentang jilbab kepada seorang ulama terkenal yang baru saja pulang dari Amerika, yang kebetulan tetanggaku. Bapak mendapat pertimbangan bahwa jilbab itu dosa kecil yang diampuni. Astaghfirullah! Kuhiraukan argumen ulama tersebut, aku putuskan pake jilbab saat daftar ulang kelas II. Ortu meradang, katanya, “Ini sekali, apa diterusin?” aku disidang. “Benazir Bhuto saja nggak begitu, Pak itu aja yang ulama keluarganya tidak berjilbab,” tegas Bapak. Aku tetap pada sikapku. Bapak jatuh sakit. Akhirnya aku backstreet, berangkat dari rumah ke sekolah melewati jalan yang sepi lalu pake di sana sampai sekolah.

Hal itu kulakukan selama seminggu di kelas II. “Ya Allah, aku mampu membohongi ortu, tapi… aku tidak mampu membohongi diri sendiri.” Bismillah, aku beranikan diriku pulang dengan memakai jilbab sampai depan rumah. Jilbabku langsung direnggut saat itu juga, aku hanya menatapnya lalu masuk kamar dan mengadu pada Allah. Aku menangis. Bapak mengancamku, “Kalau kamu pake lagi, semua bajumu akan diambil.” Aku mencoba istiqomah dengan mencuci dan menjemur baju sendiri. Herannya, semuanya hilang. Ketika hal ini kuceritakan kepada akhwat di sekolah, mereka malah menertawakanku, “Masa di rumah sendiri hilang,” kata mereka. “Iya… ya, lucu juga.” Walhasil, aku kehabisan baju dan jilbab.

Subhanallah, aku tak pernah membayangkan pertolongan Allah datang kepadaku. Saat aku benar-benar kehabisan sandang untuk sekolah, aku mencoba mengambilnya dari kamar ortu. Kuharap bapak tidak membakar baju dan jilbabku seperti janjinya. Aku tidak tahu bagaimana badanku bisa mengecil sehingga mampu masuk kamar yang terkunci itu. Aku hanya melepas satu buah nako dan melewatinya dengan mudah. Badanku memang kurus, tapi melewati jendela nako yang kulepas satu, aku tak bisa membayangkannya. Allahu akbar. Kudapati di atas lemari, semua baju yang kubutuhkan. Bluur… akhirnya aku ambil dua buah untuk menepis kecurigaan.

Semenjak memakai jilbab dan menentang aturan ortu, aku disisihkan dan tersisih dari keluarga besar. Aku seperti disembunyikan di dalam rumah saja, mereka malu mengajakku karena berjilbab. Itu tidak mengapa, tapi… ternyata Bapak menahan SPP-ku selama satu semester. Alhamdulillah ada om-ku yang membayarkannya tanpa sepengetahuannya. Aku tetap mencoba untuk berkomunikasi, aku katakan kepada Bapak, “Walaupun aku tidak nurut pada Bapak, tapi aku tetap anak Bapak.” Bapak memenuhi permintaanku hingga Bapak kembali membayar SPP. Sikap Bapak tetap tidak berubah.

Tekanan dari sekolah dan terlebih dari rumah membuatku selalu berpikir. Aku terkena sakit kepala yang amat sangat, stress, high tension, dan harus berobat ke bagian neurologi RSCM sendirian. Aku masuk EEG sendirian, dan aku menangis sendirian saat kartu berobatku hilang. Hasil EEG menyatakan bahwa aku tidak ada kelainan, hanya tension headache ‘tekanan psikis’. Hal itu terjadi karena kejadian berat selama dua tahun setelah berjilbab. Aku bertambah stress menjelang UMPTN. UMPTN adalah penetuan, kalau tidak lulus maka aku makin tersisih bahkan dalam keluarga besarku.

Pada saat libur lebaran, kami pulang kampung ke Solo. Ibu mencoba mengobati dengan membawaku ke pengobatan tradisional, macam pijat refleksi. Mungkin ibu kasihan melihatku jika datang pusing yang amat sangat. Aku mengaduh di kamar sampai tetangga sebelah mendengar erangan sakitku. Orangtua itu memengang kakiku, bertanya, “Keras amat sih mbak, mendem apa?” Saya menangis nahan sakit. Ibu menjelaskan, “Iya, dia mau pake jilbab, tapi nggak boleh cerita-cerita apalagi sama Om-nya yang deket, walau tinggalnya jauh dari kami.” Bapak itu juga cerita bahwa anaknya yang kuliah di UNS bahkan bercadar, dan tetap pada pendiriannya. Terus ibu bilang, “Kalau kamu mau pake jilbab, terserah!” Terserah… kata itu yang sebenarnya aku tunggu selama dua tahun dari orangtua yang melahirkanku. Subhanallah ibu ridha. Tiga pekan aku di kampung, penyakitku hilang. Aku mengikuti UMPTN dengan baik dan alhamdulillah aku diterima di PTN favorit pada 1992.

Bila kukenang perjuangan kecilku, ternyata tidak sia-sia. Perlahan, satu persatu adik-adikku ikut mengenakan jilbab. Kenikmatan ini memang terlambat dibanding dengan kenikmatan di sekolah. Sekolah tak melarang lagi setelah SK jilbab ’91 diputuskan dan disosialisasikan. Jumlah dari kami dari 40-an bertambah menjadi 150-an jilbaber. Aktivitas mendandani siswi untuk mengakhwat terus berlanjut walau bahkan setelah pelajaran Agama usai. Hanya guru non-muslim yang menyindir, “Coba ya, dirapikan pakaiannya.” Aktivitas Rohis juga semakin baik. Pak guru Agama ditunjuk menjadi PJ Tafakur Alam SMA se-Jaksel. Rohis sendiri melakukan konsolidasi dengan membina seluruh anggotanya secara kontinu dengan bantuan alumni sampai mereka menjadi alumni. Pihak sekolah mendukung dengan cara mewajibkan acara Rohis, seperti Studi Islam Ramadhan, bahkan masuk rapor. “Tak lepas-lepasnya lidah ini mengucap tahmid pada-Mu, ya Allah.”
buku Revolusi Jilbab karya Alwi Alatas dan Fifrida Desliyanti, bertepatan dengan Hari Hijab Internasional (4 September)

Semoga menjadi pelajaran kita semua

Lengkapnya Klik DISINI

Halaqoh, Aku Jatuh Cinta!

Ilustrasi halaqah akhwat (foto facebook)24 Februari 2013, saat fajar menyingsing di sebuah yayasan pondok pesantren di Jawa Barat. Saat itu pula amanah agung kupikulkan. Amanah dakwah yang tak terbesit dipikiranku, murobbiyah. Ya, menjadi murobbiyah untuk ketujuh orang bibit-bibit mawar yang harus kutanam. Entah kupantas atau belum? Hanya Dia Yang Memampukanku.

Tiga tahun lebih waktu bergulir bersama mereka para aktivis dakwah kampus adalah waktu yang tidak singkat. Waktu yang tercipta lebih banyak menuai luka dan aku pun telah jatuh cinta dalam perih dan luka. Sebuah pilihan berada bersama mereka di barisan mujahid dakwah. Bertahan atau bersabar? Namun cinta-Nya terus membetot hingga ke ubun-ubun. Ketika lelah menyergap, ketika jenuh membumbung tinggi, saat itu Dia terus menarikku untuk tetap bertahan. Hingga akhirnya Dia memilihku untuk menjaga dan menanamkan bibit-bibit mawar di taman cinta. Babak baru akan segera dimulai.

Kecintaanku pada ladang yang bernama dakwah tidak dapat terpisahkan dari sosok murobbiyah yang senantiasa kucintai, yang mengenalkanku betapa indahnya dakwah. Bermula dari lingkaran cinta yang mampu membius diri. Jika mengingat perkataanku dulu, “aku tidak suka bergabung bersama mereka...” Tetapi nyatanya kini berbalik atas apa yang kusangkakan. Halaqoh mampu mengubah segala haluan dalam sepenggal kisah hidupku. Lingkaran cinta itu selalu kurindukan. Bertemu mereka adalah kebahagiaan yang tiada tara. Penyejuk jiwa di akhir pekan. Madu penawar rindu. Cinta itu hadir bagai embun di kegersangan tanah tandus. Saat sang murobbiyah menyampaikan risalah cinta-Nya, layaknya obat penyemangat hati, menyingkirkan segala keraguan di dada. Melihat senyum saudari-saudariku mampu mengalihkan keindahan dunia dalam pandanganku. Beban berat dalam hidup seketika lenyap saat bersama dalam lingkaran cinta.

Kini, aku harus mampu menularkan virus cinta pada mereka, adik-adikku. Tetapi aku sadar, tidak mungkin kumampu merangkul mereka tanpa mendekati Sang Pemilik Cinta yang Menguasai hati-hati mereka. Aku sadar, masih jauh ujung jalan ini, namun aku harus terus berjalan entah sampai kapan. Diri yang masih jauh dari kata sampurna. Tetapi aku yakin, Dia yang akan menolongku dari kerisauan hati dan berat beban yang kupikulkan. Dalam surat cinta-Nya aku teringat, “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqoroh: 153)

Aku ingin mengungkapkan kecintaanku pada mereka, adik-adik binaan penyemangat hidup. “Dik, semoga kelak kau mampu bercahaya bersama barisan dakwah. Selamat datang di taman cinta kita! Siap mewarnai kampus dengan cinta dan gerak yang nyata. Berkorban seluruh jiwa, harta, waktu, dan pikiran karena Dia semata. Sungguh jalan ini tidak semulus yang kita bayangkan. Maka bertahan dan bersabarlah. Karena Dia telah memilihmu di jalan ini, bersyukurlah! Teruskan perjuangan, jangan berhenti sampai kaki menginjakkan di surga-Nya, begitulah kata Imam Syafi’i. Kita tidak tahu kapan maut memisahkan cinta dari kehidupan. Kita tidak tahu kapan semuanya akan berakhir. Berpisah dengan kebahagiaan bersama orang-orang yang kita cintai. Dakwah adalah kewajiban. Dan kita membutuhkan dakwah itu, bukan dakwah yang membutuhkan kita. Semoga Allah senantiasa merahmati dan meridoi setiap langkah kita hingga kelak dipertemukan kembali dalam lingkaran cinta di surga-Nya. Aamiiinnn. . . .”

Penulis: Nur Zulfiani Imamah
Cirebon, Jawa Barat

Lengkapnya Klik DISINI

Kisah Wanita Cantik yang Membuat Kagum Para Ulama


 

Ketika menelusuri sebuah jalan di kota Bashrah, Al Atabi melihat seorang wanita yang sangat cantik sedang bersendau gurau dengan seorang lelaki tua buruk rupa. Setiap kali wanita itu berbisik, laki-laki tersebut pun tertawa.

Al Atabi yang penasaran kemudian memberanikan diri bertanya kepada wanita itu. “Siapa laki-laki tersebut?”
“Dia suamiku”

“Kamu ini cantik dan menawan, bagaimana kamu dapat bersabar dengan suami yang jelek seperti itu? Sungguh, ini adalah sesuatu yang mengherankan” Al Atabi meneruskan pertanyannya.
“Barangkali karena mendapatkan wanita sepertiku, maka ia bersyukur. Dan aku mendapatkan suami seperti dirinya, maka aku bersabar. Bukankah orang yang sabar dan syukur adalah termasuk penghuni surga? Tidak pantaskah aku bersyukur kepada Allah atas karunia ini?”

Al Atabi kemudian meninggalkan wanita itu disertai kekaguman. Ulama Al Azhar, Dr Mustafa Murad, juga kagum dengan wanita itu sehingga memasukkan kisah ini dalam bukunya Qashashush Shaalihiin. Kedua ulama tersebut tidaklah kagum kepada wanita itu karena kecantikannya. Mereka kagum karena agamanya.

Dan benarlah pesan Rasulullah: “Wanita itu dinikahi karena empat hal; karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wanita yang baik agamanya, ketika ia kaya, ia tidak sombong. Ia justru dermawan, suka berinfaq dan mendukung perjuangan dakwah suami dengan hartanya.

Wanita yang baik agamanya, ketika ia memiliki kedudukan tinggi dan nasab yang mulia, ia tidak menghina orang lain. Ia justru menjadi wanita yang mulia dan menggunakan kedudukannya untuk membela kebenaran.

Wanita yang baik agamanya, ketika ia cantik, ia tidak membuat suaminya resah. Ia justru menjadi penghibur hati dan penyejuk mata bagi suaminya tercinta. Wallahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]
Lengkapnya Klik DISINI

Ternyata yang membuat bumi ini berputar-putar adalah orang-orang muslim

 
Ternyata seluruh dunia wajib berterimakasih pada umat muslim
Encyclopedia Americana menulis : "Sekiranya orang-orang Islam berhenti melaksanakan thawaf ataupun shalat di muka bumi ini, niscaya akan terhentilah perputaran bumi kita ini, karena rotasi dari super konduktor yang berpusat di Hajar Aswad tidak lagi memancarkan gelombang elektromagnetik."

Menurut hasil penelitian dari 15 Universitas, menunjukkan bahwa Hajar Aswad adalah batu meteor yang mempunyai kadar logam yang sangat tinggi, yaitu 23.000 kali dari baja yang ada. Beberapa astronot yang mengangkasa melihat suatu sinar yang teramat terang memancar dari bumi. Dan setelah diteliti, ternyata bersumber dari Bait Allah atau Ka'bah. Super konduktor itu adalah Hajar Aswad yang berfungsi sebagai mikrofon yang sedang siaran, dan jaraknya mencapai ribuan mil jangkauan siarannya.

Prof Lawrence E Yoseph-Fl Whiple menulis : "Sungguh kita berhutang besar kepada orang Islam, shalat, tawaf dan tepat waktu menjaga super konduktor itu..."
Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Illaha illallah, Allahu Akbar. Betapa bergetar hati kita melihat dahsyatnya gerakan Thawaf haji & Umroh.

Tulisan ini bisa menjawab fitnah & tuduhan jahiliyah yang tak didasari ilmu pengetahuan, yaitu mengapa kaum Muslimin shalat ke arah kiblat dan bahwa umat Islam dianggap menyembah Hajar Aswad.

Wallahu a'lam

Sumber
Lengkapnya Klik DISINI

Inilah Isi Protokol Zionis Yang Menghancurkan Umat Islam (2 – Habis)

MISI Yahudi jelas merusak umat Islam. Dan kaum Muslimin di dunia tentunya yang menjadi tujuan utama gerakan penghancur agama ini. Cara pertama yang dilakukan Yahudi adalah mengkafirkan dan menghancurkan Akidah Muslim Indonesia.

Berikut lanjutan dari protokol-protokol Yahudi itu yang menghancurkan umat Islam.

11. Perang yang dikobarkan konspirasi secara diam-diam harus menyeret negara tetangga agar mereka terjebak utang. Konspirasi akan memetik keuntungan dari kondisi ini.

12. Pemerintahan bentukan Konspirasi harus diisi dengan orang-orang yang tunduk pada keinginan konspirasi. Tidak bisa lain.

13. Dengan emas, konspirasi akan menguasai opini dunia. Satu orang Yahudi yang menjadi korban sama dengan seribu orang non-Yahudi (Gentiles/Ghoyim) sebagai balasannya.

14. Setelah konspirasi berhasil merebut kekuasaan, maka pemerintahan baru yang dibentuk harus membasmi rezim lama yang dianggap bertanggungjawab atas terjadinya semua kekacauan ini. Hal tersebut akan menjadikan rakyat begitu percaya kepada konspirasi bahwa pemerintahan yang baru adalah pelindung dan pahlawan dimata mereka.

15. Krisis ekonomi yang dibuat akan memberikan hak baru kepada konspirasi, yaitu hak pemilik modal dalam penentuan arah kekuasaan. Ini akan menjadi kekuasaan turunan.

16. Penyusupan ke dalam jantung Freemason Eropa agar bisa mengefektifkan dan mengefisienkannya. Pembentukan Bluemasonry akan bisa dijadikan alat bagi konspirasi untuk memuluskan tujuannya.

17. Konspirasi akan membakar semangat rakyat hingga ke tingkat histeria. Saat itu rakyat akan menghancurkan apa saja yang kita mau, termasuk hukum dan agama. Kita akan mudah menghapus nama Tuhan dan susila dari kehidupan.

18. Perang jalanan harus ditimbulkan untuk membuat massa panik. Konspirasi akan mengambil keuntungan dari situasi itu.

19. Konspirasi akan menciptakan diplomat-diplomatnya untuk berfungsi setelah perang usai. Mereka akan menjadi penasehat politik, ekonomi, dan keuangan bagi rezim baru dan juga di tingkat internasional. Dengan demikian, konspirasi bisa semakin menancapkan kukunya dari balik layar.

20. Monopoli kegiatan perekonomian raksasa dengan dukungan modal yang dimiliki konspirasi adalah syarat utama untuk menundukkan dunia, hingga tidak ada satu kekutan non-Yahudi pun yang bisa menandinginya. Dengan demikian, kita bisa bebas memainkan krisis suatu negeri.

21. Penguasaan kekayaan alam negeri-negeri non-Yahudi mutlak dilakukan.

22. Meletuskan perang dan memberinya—menjual—senjata yang paling mematikan akan mempercepat penguasaan suatu negeri, yang tinggal dihuni oleh fakir miskin.

22. Satu rezim terselubung akan muncul setelah konspirasi berhasil melaksanakan programnya.

23. Pemuda harus dikuasai dan menjadikan mereka sebagai budak-budak konspirasi dengan jalan penyebarluasan dekadensi moral dan paham yang menyesatkan.

24. Konspirasi akan menyalahgunakan undang-undang yang ada pada suatu negara hingga negara tersebut hancur karenanya. [islampos/hidup mahasiswa]


Lengkapnya Klik DISINI

"Keadilan Segala(u)-gala(u)nya"

Oleh Ribut Lupiyanto*


Indonesia disepakati para founding father sebagai negara hukum. Hukum menjadi panglima dan keadilan adalah segala-galanya. Konsep trias politika menempatkan yudikatif sebagai penjamin implementasi keadilan hukum bagi rakyat Indonesia tanpa pandang kasta.  Konsekuensi logisnya yudikatif mesti berdiri independen dan tampil suci agar bisa adil dan bijaksana.

Faktanya, kepastian hukum kian hari kian tidak menentu. Keadilan yang segala-galanya menjadi segalau-galaunya. Kegalauan ini memuncak atas fenomena runtuhnya langit keadilan yang disangga lembaga yudikatif. Penyelewengan oknum tidak hanya mencoreng kesakralan lembaga yudikatif, tetapi menodai kepercayaan publik yang tinggi. Selain ke lembaga yudikatif kemana lagi keadilan dapat dicari?

Galau Korupsi

Salah satu kasus besar yang mengguncang dunia peradilan adalah tindak pidana korupsi. Korupsi hadir melalui praktik suap menyuap, jual beli perkara, gratifikasi, dan bentuk lainnya.  Korupsi sudah tumbuh kompleks,  sistemik, dan melewati batas-batas nalar kemanusiaan (hyper corruptus). Kondisi miris menunjukkan hampir semua lembaga yudikatif memiliki oknum anggota yang pernah atau sedang terseret kasus korupsi. 

Kasus terdahsyat adalah tertangkapnya Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar (AM) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Rabu (02/10). AM diciduk tepat 12 hari jelang satu dasawarsa usia MK. AM diresmikan menjadi tersangka suap menyuap kasus pemilukada Kabupaten Gunung Mas Provinsi Kalimantan Tengah dan Kabupaten Lebak Provinsi Banten.

Kasus ini seakan menjadi kiamat mini bagi Mahkamah Konstitusi.  MK sejak berdiri 15 Oktober 2003 menjadi lembaga yudikatif yang paling dipercaya publik. Integritas hakim-hakimnya dipuji dan putusannya dirasa memberikan rasa keadilan. MK menjadi perhatian saat memutus uji materi Undang-undang Pemilu. MK kala itu memperbolehkan mencoblos dengan KTP, karena daftar pemilih tetap (DPT) karut marut. Rakyat pun kembali memperoleh hak pilihnya. 

Tertangkapnya hakim konstitusi AM apalagi menjabat Ketua MK jelas menimbulkan shock bagi seluruh rakyat Indonesia. Bukti ini semakin menguatkan persepsi bahwa korupsi menggoda siapa saja tidak mengenal kasta dan lembaga. Hakim juga manusia, sama seperti profesor, jenderal, konglomerat, dan lainnya yang sudah terjerat sebelumnya.

Kebangkitan Optimisme

Kebobrokan Indonesia karena hantu korupsi tidak boleh memadamkan api optimisme anak negeri. Indonesia pernah dinobatkan Transperency International (TI) sebagai negara terkorup keenam sedunia pada tahun 1999. Patut disyukuri peringkat tersebut terus membaik hingga pada tahun 2012 menempati urutan ke 118 dari 176 negara atau terkorup ke 58.

Secercah optimisme juga masih diberikan KPK. KPK telah berhasil menyelamatkan kekayaan negara Rp. 153 Trilyun sejak tahun 2003. Sejumlah kasus kakap juga berani diungkap. Tidak tanggung-tanggung mulai dari politisi, anggota legislatif, oknum penegak hukum, pejabat kementerian/dinas, hingga menteri aktif pernah diseret KPK.

Optimisme dapat dibangkitkan pada diri setiap anak negeri dengan memberikan jaminan keadilan dan kepastian hukum. Banyak hal dapat diupayakan dalam menghadirkannya. Semua pihak, baik eksekutif, yudikatif, legislatif, hingga masyarakat memiliki peran sentral yang mesti dioptimalkan.

Pertama, meminimalisasi politisasi lembaga negara selain DPR dan DPD. Selama ini mantan politisi bebas memasuki keanggotaan lembaga negara. Efek politisasi ini dapat menyebabkan pudarnya independensi serta membuka banyak peluang hadirnya godaan  korupsi. Lembaga yudikatif ke depan mesti steril dari unsur partai politik. Batasan ketat mesti diatur kaitannya dengan faktor waktu. Setiap mantan politisi baru boleh mengikuti seleksi anggota lembaga negara minimal 10 tahun keluar dari partai politik. Kewenangan dan metode seleksi melalui DPR juga mendesak dievaluasi.                             

Kedua, pencegahan korupsi mesti menjadi arus utama pemberantasan korupsi. Tugas KPK berdasarkan UU No. 30 Tahun 2002 terdiri dari koordinasi, supervisi, penyelidikan- penyidikan-penuntutan, pencegahan, serta monitoring. Realitanya kinerja KPK hingga kini masih dominan  pada pelaksanaan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan saja. Sebesar apapun sumberdaya dan energi yang dimiliki KPK dipastikan tidak akan bisa mengimbangi laju tindak korupsi di negeri ini. Korupsi yang kian sistemik tidak akan hilang hanya dengan penangkapan-penangkapan.    

Ketiga, membenahi dan menguatkan kepolisian dan kejaksaan. Kedua lembaga ini merupakan penegak hukum yang sudah tua, permanen, dan pakem dalam negara demokrasi. Tidak mungkin hanya ke pundak KPK semua beban pemberantasan korupsi diembankan. Kepolisian dan Kejaksaan memang memiliki pekerjaan rumah berat karena menjadi bagian dari masalah korupsi itu sendiri. Hal ini bukan berarti meninggalkan kewenangan dan potensinya yang besar dalam penegakan hukum. 

Keempat, mengetatkan aspek pengawasan terhadap semua lembaga negara. Semua lembaga negara mesti tidak alergi terhadap pengawasan. MK selama ini susah disentuh pengawasan Komisi Yudisial. KPK juga belum jelas siapa yang mengawasinya. Sekuat-kuatnya lembaga dan sehebat-hebatnya manusia di dalamnya perlu check and balance demi memberikan jaminan independensi. Jika pengawasan tidak optimal, maka dikhawatirkan problem kelembagaan akan menjadi bom waktu. 

Bangsa ini tidak boleh larut dalam kesedihan, kegalauan, dan pesimisme. Tanggal 20 Oktober 2013 sebagai Hari Kebangkitan Nasional dapat dijadikan momentum kebangkitan optimisme menegakkan keadilan, memberantas korupsi, dan menangani semua problematika bangsa. Seluruh komponen harus bergandengan tangan dan bahu membahu menyebarkan virus optimisme berbangsa. Semoga kebangkitan optimisme dapat menjadi energi besar dalam akselerasi kemajuan bangsa.


*Dimuat di Kolom OPINI Koran WAWASAN Semarang Edisi Sabtu 19 Oktober 2013
Lengkapnya Klik DISINI

Pilih Resep Nabi atau Resep Dokter?

Ilustrasi - Anatomi tubuh manusia. (inet)
Pernahkah Anda dengar orang bicara seperti ini: “Mau pilih resep Nabi apa pilih resep dokter?”, “mau herbal apa obat kimia?”, “mau vaksin apa ASI eksklusif?”, dan lain-lain. Seolah kedua hal tersebut kontradiksi dan hanya boleh memilih salah satu. Ya hanya boleh salah satu pilihan saja. Begitukah Islam mengajarkan? Mengapa itu bisa terjadi? Ya tidak tahu kenapa. Tapi saya ingin bahas sedikit ke muara ilmu pengobatan ya. 

Tahukah Anda bahwa semua ilmu itu dari Allah? Allah SWT yang Maha Berilmu itu menurunkan ilmu-Nya kepada manusia melalui dua jalan:
  1. Lewat perantaraan Nabi (wahyu), dan
  2. Langsung kepada manusia
Ada karakteristik khas untuk masing-masing jalur ilmu itu dan tidak boleh terbalik dalam aplikasinya. Bila terbalik bisa fatal akibatnya. Ilmu Allah yang turun lewat Nabi, termasuk pengobatan Nabi, bersifat umum, luas, global, dan diyakini mutlak benarnya oleh umat Islam, iya kan? Sebaliknya ilmu yang langsung Allah beri kepada manusia, melalui eksperimen, penelitian, percobaan ilmiah, perenungan, pemikiran, ilham juga khas. Ilmu yang diperoleh melalui eksperimen ini bersifat relatif kebenarannya. Yang benar hari ini belum tentu benar di kemudian hari. Iya kan? Kalau ilmu yang dari Nabi sifatnya benar mutlak tapi global, misalnya: tidak ada kan hadits yang memuat cara operasi bedah tulang, cara operasi jantung dll. Nah kedua jalur ilmu itu karena sumbernya sama dari Allah SWT, maka harusnya saling harmonis asal kita tempatkan sesuai dengan posisinya.

Pengobatan nabi bersifat global, umum sifatnya. Tidak spesialistik dan detail. Karena memang nabi bukan diutus Allah sebagai dokter, tapi Rasul. Jadi bila ada orang yang bilang “Rasulullah is my doctor”, menurut saya dia sudah merendahkan posisi nabi itu sendiri. Masa nabi disamakan dengan saya (dokter, red)? Karena sifat ajaran pengobatan nabi yang mutlak benarnya itu bersifat umum, maka untuk yang detail-detail diserahkan pengembangannya kepada manusia sendiri. Konsep ini menyebabkan ilmuwan Islam zaman dulu maju berkembang pesat. Saat Baghdad punya banyak RS mewah, di Perancis orang masih jarang mandi… Jadi untuk hal-hal spesialistik dan detail seperti cara operasi, cara laparoskopi, vaksinasi, dll pasti tidak ada haditsnya, iya kan?

Lalu apa saja ajaran pengobatan nabi itu? Banyak, tapi lebih bersifat promotif dan preventif, dengan aspek kuratif yang ada bersifat umum. Nabi SAW sendiri sangat hormat terhadap tabib. Saat ada sahabat yang sakit, beliau panggil tabib yang ahli pengobatan. Jadi nabi sendiri menghargai dokter. Nabi sangat menghargai pendapat orang lain. Misalnya kasus perkawinan pohon kurma, saat itu beliau usul suatu cara yang malah bikin kurma tidak berbuah. Akhirnya setelah diprotes karena panen malah menurun, beliau SAW bersabda:

أنْتُمْ أعْلَمُ بِأُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ

“Kamu lebih mengetahui tentang berbagai urusan duniamu.” (Hadits riwayat Muslim, dalam kitab Shahih Muslim (1366))

Nah beginilah kita memahami imunisasi dalam pandangan Islam. Itu termasuk dalam “kamu lebih tahu urusan duniamu”. Syaratnya tidak boleh bertentangan dengan syariat, seperti kehalalan, keamanan, asas manfaat, dan sebagainya. Tugas para ahli lah yang menentukan standar tersebut. Jadi tidak relevan kalau ada yang bilang: vaksinasi tidak perlu karena zaman nabi juga tidak ada vaksinasi, nah dulu juga tidak ada Twitter kan?
Lalu bagaimana kalau ada orang yang mencukupkan diri dengan nasihat pengobatan dari Nabi yang sifatnya umum itu, misal: madu, habatussauda, bekam, dll. Selama kondisi sakit masih ringan dan dalam 3 hari pertama, bisa ditoleransi. Tapi kalau perlu operasi jantung coba mau cari di mana hadits tentang itu? Jadi jangan suka ekstrim menolak pengobatan modern dan menganggap cukup dengan pengobatan ala nabi. Ingat nabi saja memanggil dokter untuk si sakit…

Menganggap semua pengobatan modern adalah salah karena mengandung zat kimia adalah salah total. Bukankah oksigen, gula, nasi, air zat kimia? Menganggap semua herbal adalah aman juga salah total. Bukankah banyak orang yang menderita kanker karena konsumsi herbal tertentu terus menerus. Baik pengobatan nabi maupun pengobatan modern, obat herbal atau obat tablet dan cairan, semua asalnya dari ilmu Allah untuk manusia…

Ranah penelitian dan eksperimen sangat diperlukan untuk pengobatan modern. Ingat untuk menghasilkan 1 vaksin butuh 10-15 tahun penelitian. Jadi masih percayakah kita bila hasil penelitian 15 tahun dimentahkan begitu saja dengan alasan zaman nabi tidak ada vaksin juga sehat? Bagaimana dengan bekam? Bekam sudah dikenal 2000 tahun sebelum Nabi SAW lahir. Nabi menyetujui cara bekam. Tapi beliau tidak membekam orang.

Membabi-buta mengatakan “pengobatan Islam hanyalah bekam” bukan suatu konsep yang benar. Ingat nabi saja memanggil dokter saudara saudaraku… Mari lebih rasional dan proporsional mendudukkan sesuatu. Jadi jangan dikotomikan ASI vs Imunisasi, herbal vs tablet, bekam vs operasi.

Di Cina yang komunis saja, terapi tradisional dan modern duduk berdampingan, harmonis. Untuk kasus akut dan bedah mereka pakai terapi modern. Untuk kasus kronis, sebagian tumor, dll mereka pakai terapi tradisional. Masing-masing ada pembagiannya. Harmonis sekali… Di Cina (saya pernah jadi relawan medis untuk gempa di Cina) pasien pasien kronis biasanya diterapi tradisional medicine. Ada infus yang warna hitam… Tapi bila ada kasus trauma karena KLL, fasilitas modern untuk operasi mereka keluarkan semua. Jadi di satu RS terdapat keduanya, tradisional dan modern.

Harmonisasi antara dua kutub pengobatan perlu juga dilakukan di sini. Tidak perlu dikotomi yang disertai sikap ekstrim saling menyalahkan. Untuk bisa mengobati pasien, seorang dokter kuliah 5 tahun (dokter umum), 4 tahun spesialis, 4 tahun subspesialis, minimal 13 tahun untuk jadi konsultan. Lalu tiba-tiba dengan gagahnya seorang anak muda yang baru kursus bekam 7 hari melarang orang sakit berobat ke dokter ahli tersebut… hmmm. Padahal nabi SAW manusia paling mulia itu pun sangat menghargai profesi dokter. Beliau serahkan pengobatan sahabatnya yang sakit kepada dokter. Nabi mulia itu pun bersabda:

مَنْ تَطَبَّبَ وَلَا يُعْلَمُ مِنْهُ طِبٌّ فَهُوَ ضَامِنٌ

“Barangsiapa berpraktik kedokteran padahal ia belum dikenal menguasai ilmu kedokteran, maka ia harus bertanggung jawab.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, an-Nasai)

Perkembangan penyakit saat ini tidak bisa dipecahkan dengan ilmu yang bersifat umum. Satu cara pengobatan untuk semua penyakit. Tidak bisa saudaraku… Ada anak kawan saya sudah positif demam tifoid (tifus) menolak antibiotic karena zat kimia, tetap diobati herbal terus masuk kondisi memburuk… Akhirnya takdir Allah pun berlaku, ia wafat. Innalillah… Kenapa kita tidak lari dari takdir yang satu menuju takdir yang lain seperti kata Umar.

Motto saya: Anda boleh cari dokter terbaik di dunia, tapi gantungkan harapan kesembuhan hanya kepada Allah SWT, Sang Maha Penyembuh… Bila Anda sakit demam, 3 hari pertama, silakan pakai pengobatan yang Anda yakini, banyak minum, rukyah, bekam, herbal, dll. Tapi bila kondisi tidak membaik bahkan memburuk, serahkan urusan pengobatan kepada dokter yang sekolah belasan tahun itu.

Apakah pengobatan modern itu mengandung zat kimia? Ya, tapi herbal juga zat kimia. Nasi, air, gula, kopi, susu, semua zat kimia. Yang penting obat modern itu halal, tidak mengandung zat-zat yang diharamkan. Bahkan pada obat modern, dosis, efek samping, reaksi alergi sudah diketahui

Tapi sebagian besar herbal tidak diketahui dosis, efek samping, reaksi alergi. Selalu dianggap aman dan dianggap bukan zat kimia… Saya tidak anti herbal, setiap malam saya makan garlic (kapsul bawang putih). Tapi bila kena infeksi bakteri saya akan minum antibiotika. Tapi saya yakin penyebab kesembuhan saya bukan pada garlic atau antibiotika, hanya Allah yang menyembuhkan hamba-hamba-Nya.

Saudaraku, keimanan kepada Allah SWT dan keyakinan kepada Nabi SAW jangan membuat kita benci dengan perkembangan ilmu pengetahuan, termasuk kedokteran. Nabi SAW saja yang guru besar Thibbun Nabawi (pengobatan nabi) minta tolong ahli pengobatan pada saat itu. Nabi menghormati profesi medis. Kenapa sekarang tiba-tiba ada pengarang buku Rasulullah is my doctor, kemudian dia mencaci habis pengobatan modern. Apa dia lebih hebat dari Nabi? Yang perlu kita lakukan sekarang adalah memilah mana pengobatan modern yang tidak bertentangan dengan syariat Islam. Bukan memusuhinya secara total…
Lengkapnya Klik DISINI

BERBAGI KEBAIKAN

Oleh; Ustadz Fariq Gasim Anuz

Imam Dzahabi dalam kitab Siyar A'lam an-Nubala (8/114) menyebutkan, al-Hafidz Ibnu Abdil Barr berkata dalam buku At-Tamhid, “Aku tuliskan ini dari hafalanku, karena buku aslinya tidak ada padaku.”

Abdullah al-Umari al-Abid menulis surat kepada Imam Malik menasihati beliau untuk banyak menyendiri dengan berzikir dan beribadah sunah.

Imam Malik menulis jawaban kepadanya, “Sesungguhnya Allah membagi amalan sebagaimana membagi rezeki. Boleh jadi Allah mudahkan dan memberikan taufik-Nya kepada seseorang untuk banyak melakukan shalat sunah, tapi tidak dalam puasa sunah.”

“Orang lain lagi, Allah memudahkan kepadanya untuk banyak bersedekah, ada lagi yang Allah mudahkan dan beri kelebihan kepada seseorang dalam berjihad. Menyebarluaskan ilmu juga merupakan amal kebaikan yang sangat utama. Saya ridha dengan taufik-Nya yang telah memudahkan untukku dalam menyebarkan ilmu syar'i. Saya kira amalan yang kulakukan ini tidak lebih rendah dari amalanmu. Saya berharap kita semuanya dalam kebaikan.”
Ada beberapa pelajaran dan hikmah dari kisah di atas. Pertama, kehati-hatian ulama dalam menukil atau menceritakan ucapan seseorang.

Imam Ibnu Abdil Barr mengatakan, redaksi cerita ini dari hafalannya, bukan redaksi Imam Malik. Hendaknya kita berupaya membawakan hadis Nabi SAW yang sahih agar tidak terjerumus berdusta atas nama beliau.

Pesan kepada para wartawan dan jurnalis, baik di media cetak maupun elektronik, hendaknya lebih berhati-hati dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Jangan sampai berbohong kepada publik.

Hendaknya kita lebih selektif dalam memilih, memuat, dan menyebarkan berita. Agar informasi yang disampaikan berupa informasi yang membangun, menyejukkan, memperbaiki, dan menyatukan.
Kedua, pentingnya saling menasihati sesama Muslim. Jika kita mengetahui kekurangan dan aib pada saudara kita, janganlah kita menyebarkan aibnya. Ingatkanlah dia.
Jika sulit untuk berjumpa, kirimlah surat dengan ungkapan yang baik. Agar orang yang dinasihati tidak tersinggung, bahkan malah menyadari dan segera memperbaiki kesalahannya.

Ketiga, bagi yang dinasihati, jika isi nasihat tidak tepat atau bahkan salah alamat, janganlah marah atau tersinggung. Bergembiralah dengan kritikan saudara kita, karena nasihat merupakan bentuk perhatian dan rasa sayang kepada sesama saudara.

Keempat, jawablah nasihat yang kurang tepat dengan jawaban yang sopan. Berilah permisalan dan bantahlah dengan tegas tapi tetap menjaga keadilan dan penuh rasa kasih sayang.

Kelima, Allah memberikan potensi dan kelebihan yang beragam kepada hamba-hamba-Nya. Janganlah saling merendahkan, janganlah saling menyombongkan diri.

Hendaklah umat Islam saling bersinergi, bekerja sama dalam kebaikan dan takwa, serta saling menguatkan satu sama lain.

Allah berfirman, “Taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan kekuatan kalian hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS al-Anfal: 46).

Rasululullah SAW bersabda, “Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah dari mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan.” (HR Muslim). “Seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagai sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lainnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
sumber: https://www.facebook.com/pengusahamuslim/posts/10151934367295560
Lengkapnya Klik DISINI

Membangun Kesalehan Personal dan Sosial

“Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. Al-Hajj: 77)

Ayat ini merupakan ayat kedua terakhir dari surah yang unik dan istimewa, surah al-Hajj. Dikatakan surah yang unik karena sebagian ulama tafsir menggolongkan surah ini ke dalam kategori surah Makkiyah, namun sebagian yang lain justru sebaliknya menggolongkannya ke dalam kategori surah Madaniyah. Surah ini juga unik karena di dalamnya ada dua ayat sajdah, yaitu ayat 18 dan ayat ini seperti yang di pahami dari sebuah riwayat dari Uqbah bin Amir:

”Keutamaan surah al-Hajj karena terdapat dua ayat sajdah padanya. Barangsiapa yang tidak bersujud pada keduanya, janganlah ia membaca surah ini.” (HR. at-Tarmidzi dan Abu Dawud)

Ayat ini menggambarkan secara ringkas manhaj Allah SWT untuk manusia dan beban taklif bagi mereka agar mendapatkan keselamatan dan kemenangan. Ia di awali dengan perintah untuk rukuk dan sujud yang merupakan gambaran gerakan shalat yang tampak dan jelas, dilanjutkan dengan perintah untuk beribadah secara umum yang meliputi segala gerakan, amal dan pikiran yang di tujukan hanya kepada Allah SWT sehingga segala aktivitas manusia bisa beralih menjadi ibadah bila hati ditujukan hanya kepada Allah SWT bahkan Kenikmatan-kenikmatan dari kelezatan hidup dunia yang dirasakannya dapat bernilai ibadah yang di tulis sebagai pahala amal baik .

Ayat ini di tutup dengan perintah berbuat baik secara umum dalam hubungan horizontal dengan manusia setelah perintah untuk membangun hubungan vertikal dengan Allah SWT, dalam shalat dan ibadah lainnya. Oleh sebab itu, perintah ibadah dimaksudkan agar umat Islam selalu terhubung dengan Allah SWT sehingga kehidupan berdiri di atas fondasi yang kukuh dan jalur yang dapat membawa kepada-Nya. Sedangkan perintah untuk melakukan kebaikan, dapat membangkitkan kehidupan yang istiqamah dan kehidupan masyarakat yang penuh dengan suasana kasih sayang.

Perintah ini dipertegas kembali di akhir surah al-Hajj, bahwa umat Islam akan mampu mempertahankan eksistensinya sebagai umat pilihan dan sebagai saksi atas umat yang lain manakala mampu membina hubungan baik dengan Allah SWT dan membina hubungan baik sesama manusia:

”Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (AL-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah pelindungmu, Dialah sebaik-baik pelindung dan Sebaik-baik penolong.” (QS. al-Hajj:78)

Pada ayat di atas, Allah SWT memberi perintah kepada orang beriman agar mampu membangun kesalehan personal dan sosial secara bersamaan agar senantiasa dalam kemenangan, rukuk dan sujud merupakan cermin tertinggi dari pengabdian seseorang kepada Allah SWT, sedang ”berbuatlah kebaikan” merupakan indikasi kesalehan sosial.

Secara redaksional dalam urutan perintah ayat di atas, ternyata Allah SWT mendahulukan kesalehan personal dari kesalehan sosial. Ini berarti bahwa untuk membangun kesalehan sosial, harus dimulai dengan kesalehan personal. Atau kesalehan personal akan memberikan kekuatan untuk saleh juga secara sosial. Bahkan seluruh perintah beribadah kepada Allah SWT dimaksudkan agar lahir darinya kesalehan sosial, seperti shalat misalnya, bagaimana ia bisa mencegah dari perbuatan keji dan munkar:

“Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar.” (QS. Al Ankabut : 45)

Kisah yang diabadikan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya bagaimana seorang wanita yang saleh secara personal yang diwujudkan dengan ibadah shalat, puasa dan ibadah mahdhah lainnya namun ternyata Rasulullah SAW menyatakan bahwa ia dalam neraka. Karena ternyata kesalehan itu tidak membawanya menuju kesalehan sosial, bahkan ia cenderung tidak mampu menjaga lisannya dari tidak melukai hati orang lain.

Dalam tataran tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, terdapat beberapa hubungan dan korelasi (munasabah) yang sangat erat antara kesalehan personal dan sosial dengan nilai-nilai mulia dari ajaran Islam. Untuk menggapai predikat ihsan misalnya, seseorang dituntut untuk mampu sholeh secara individu dan sosial yang diwakili dengan shalat malam dan berinfak,

“Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz-Dzariyat : 16-19)

Ibnu Asyur mengomentari ayat ini dengan menjelaskan bahwa dua bentuk amal inilah yang sangat berat untuk dilakukan karena: pertama, bangun malam merupakan sesuatu yang sangat berat karena mengganggu istirahat seseorang. Padahal amal itu merupakan amal yang paling utama untuk membangun kesalehan personal seseorang. Kedua, amal yang melibatkan harta terkadang sangat sukar untuk dipenuhi karena manusia pada dasarnya memiliki sifat kikir dengan sangat mencintai hartanya. Di sinilah Allah SWT menguji kesalehan sosial seseorang dengan memintanya untuk mengeluarkan sebagian harta untuk mereka yang membutuhkan.

Nilai lain yang terkait dengan dua kesalehan ini, adalah sebab utama yang paling banyak menjerumuskan seseorang ke dalam neraka karena tidak mampu membentengi diri dengan dua kesalehan tersebut, seperti pernyataan jujur penghuni neraka yang diabadikan Allah SWT dalam firman-Nya,

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab, ’Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat dan kami tidak pula memberi makan orang miskin dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya.” (QS. Al-Mudatsir : 42-45)

Resep agar tidak bersifat keluh kesah lagi kikir juga sangat terkait dengan kemampuan seseorang membangun dalam dirinya dua kesalehan tersebut secara simultan. Allah SWT memberi jaminan,

“Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang miskin yang meminta dan orang yang tidak memiliki apa-apa (yang tidak mau meminta).” (QS. Al-Ma’arij : 22-25)

Berapa banyak dari umat ini yang hanya mementingkan saleh secara sosial tapi lupa akan hubungan baik dengan Allah SWT. Sebaliknya, banyak juga yang saleh secara personal namun ketika berhadapan dengan sosial, ia larut dan tidak mampu membangun kesalehan di tengah-tengah mereka. Sungguh umat ini sangat membutuhkan kehadiran komunitas yang saleh secara personal, dalam arti mampu menjaga hubungan baik dengan Allah SWT. Saleh secara sosial dalam arti mampu memelihara hubungan baik dan memberi kebaikan dan manfaat yang besar bagi kemanusiaan. (Allahu a’lam)

Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA
Dakwatuna
Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......