Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

Keajaiban Ciptaan Allah: Ilmuwan Temukan Pohon yang Sedot Emas dari Bumi


Tanaman bisa mendatangkan emas, dalam arti sebenarnya. Ini penjelasan ilmiahnya: sejumlah pohon punya akar yang menghujam ke dalam Bumi, menyerap nutrisi dan mineral yang dibutuhkannya untuk hidup. Dalam proses tersebut, emas di dalam tanah bisa terangkat ke permukaan.

Para peneliti berharap, fakta ini bisa membantu para penambang mendapatkan emas, apalagi penemuan deposito baru logam mulia ini telah turun 45 persen selama 10 tahun terakhir.

Dan kini, ilmuwan telah menemukan pohon itu.

Para ilmuwan di Australia kini fokus pada pohon eukaliptus (eucalyptus). Sebab, jejak emas sering ditemukan di tanah di sekitar tanaman tersebut.

Meski awalnya para ahli belum bisa memastikan, apakah pokok tersebut bisa menyerap emas dari deposit emas di bawah tanah atau kebetulan angin menerbangkan debu emas dari lokasi pertambangan.

Ternyata, dugaan pertama yang cenderung benar. Bahwa eukaliptus menyerap emas dari kedalaman tanah.

Dan kini, sekelompok peneliti menemukan bukti perdana bahwa ada partikel emas di dalam jaringan hidup pohon tersebut.

Peneliti menyelidiki daun, ranting, dan kulit pohon eukaliptus yang tingginya 10 meter di dua lokasi berbeda di Australia, satu di barat, lainnya di selatan.

Analisis sinar-X mengungkapkan partikel emas dengan lebar sampai sekitar 8 mikron berada dalam sel pohon. Sekitar 10 kali lebih tipis dari rambut manusia rata-rata.

Sampel lapangan dan percobaan rumah kaca menunjukkan, partikel-partikel emas -- dalam konsentrasi yang tidak membahayakan pohon -- diserap oleh akar dan didistribusikan ke jaringan lain, terutama daun -- di mana konsentrasi emas tertinggi ditemukan.

Temuan tersebut, yang dijelaskan panjang lebar di jurnal ilmiah Nature Communications, 22 Oktober 2013 mengungkap, pohon eukaliptus bisa menyerap deposit emas sampai kedalaman 35 meter di bawah tanah saat mencari air di tengah cuaca kering.

"Kami terkesima dengan kapasitas pohon eukaliptus untuk membawa emas dari kedalaman yang setara tinggi gedung 10 lantai," kata koordinator penulis studi, Melvyn Lintern, ahli geokimia dari Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization, Australia, seperti dimuat LiveScience, 22 Oktober 2013.

Kemampuan pohon itu benar-benar luar biasa. Ajaib! Namun, para peneliti tak mengusulkan menambang emas dari pohon eukaliptus.

"Jumlah kandungan emas dalam pohon luar biasa kecil. Dibutuhkan emas dari 500 pohon bahkan lebih untuk membuat satu cincin saja," kata Lintern.

Sebaliknya, pohon eukaliptus bisa membantu para penambang emas mengidentifikasi di mana deposit emas mungkin terkubur. Menjadi pemandu harta karun.

Cara itu bisa mengurangi waktu yang terbuang, juga mengirit uang dan sumber daya yang dibutuhkan untuk memburu logam berharga di area yang sangat luas.

Petunjuk dari Rayap


Tak hanya di pohon eukaliptus, sebelumnya, ilmuwan juga menemukan serbuk emas di dalam sarang rayap.

Aaron Stewart, ahli entomologi dari Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization Australia, menganalisa sampel 222 sarang rayap jenis, Tumulitermes tumuli, berupa gundukan tanah di sekitar area Moolart Well, di wilayah Goldfields, Australia barat -- yang dikenal kaya emas .

Bukan sengaja para rayap membawa emas ke sarang mereka. "Namun akibat dari kebiasaan mereka membangun sarang, dari bahan yang bersumber dari kedalaman beberapa meter di bawah permukaan tanah," kata Stewart.

Tak cuma itu, tubuh rayap mengandung logam, yang berasal dari tanaman yang mereka makan. Rayap memiliki organ yang disebut malpighian tubules, mirip dengan ginjal manusia. Ilmuwan menemukan, tubules bertanggung jawab membentuk batu kaya logam dalam tubuh hewan kecil itu, seperti halnya batu ginjal pada manusia. Demikian dijelaskan tim dalam jurnal PLoS ONE.

Stewart dan para koleganya menyarankan para penambang memanfaatkan rayap. Sebab, ia mungkin jadi petunjuk harta tersembunyi jauh di bawah tanah.

"Menggunakan sarang rayap bisa membantu perusahaan eksplorasi mempersempit daerah pengeboran," kata Stewart. "Itu berpotensi menghemat banyak uang." (Ein/Mvi)

http://news.liputan6.com/read/727192/ilmuwan-temukan-pohon-ajaib-yang-sedot-emas-dari-bumi
Lengkapnya Klik DISINI

Penemuan Umat Islam Yang Mengubah Dunia

sains
Keudukan ilmu sains di masa keemasan Islam mencapai posisi yang tinggi dan diakui dunia kala itu. Kaum muslimin menjadi pelopor terdepan dalam perkemabangan sains, mengusai puncak-puncak ilmu pengetahuan, dan universitas-universitas mereka ramai dikunjungi pelajar dari penjuru dunia, termasuk dari Eropa. Para raja Eropa mengutus putra-putra terbaik negeri mereka untuk menimba ilmu kepada ilmuan-ilmuan Islam di negeri-negeri Islam.

Meceritakan masa kegemilangan Islam bukan berarti kita membangga-banggakan masa lalu kejayaan Islam, tapi kita hanya berusaha mengobati hati sebagian pemuda muslim yang kecewa karena kondisi keterpurukan umat Islam saat ini dan menganggap bahwa Islam menghalangi kemajuan, dan tidak sedikit di antara mereka yang menjadi pembenci Islam dan menjelek-jelekkan Islam (musuh dari dalam) karena kecewa dengan Islam. Padahal tidak demikian faktanya, seorang ilmuan Perancis, Gustave Le Bon, berangan-angan, “Seandainya kaum muslimin menjadi penguasa di Perancis, niscaya negara ini akan seperti Cordova di Spanyol yang muslim.” (Arab Civilization, Hal: 13). Ia juga mengatakan, “Sesungguhnya bangsa Eropa adalah sebuah kota bagi negeri Arab (umat Islam) karena kehebatan peradaban yang mereka miliki.” (Arab Civilization, Hal: 566).

1.       Penemuan di Bidang Kesehatan

Berbicara mengenai bidang kesehatan tentu saja arah pembicaraan kita akan tertuju pada bidang kedokteran. Ilmu kedokteran merupakan ilmu yang perkembangannya sangat cepat. Umat Islam memberikan sumbangsih yang sangat besar pada cabang ilmu pengetahuan ini. Kedokteran Islam bukan sekedar mendiagnosa mengobati penyakit lalu selesai, tapi meliputi dasar-dasar metode eksperimen yang sangat berpengaruh pada seluruh sisi-sisi praktis sebagai pencegahan dan pengobatan, meringankan dan akurasi pengobatan, serta menjauhkan manusia dari pola hidup yang buruk.

Ketika Islam datang, orang-orang Arab jahiliyah juga mempunyai tabib, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk berobat. Beliau bersabda, “Berobatlah! Karena Allah tidak menurunkan penyakit kecuali membuat obatnya. Kecuali satu penyakit, yaitu tua.” Rasulullah berobat dengan madu, kurma serta ilalang alami dan yang lainnya. Metode ini dikenal dengan Tibbun Nabawi (Pengobatan Nabi).

Kaum muslimin tidak hanya berhenti pada tibbun nabawi, mereka terus bereksperimen dan terus mengembangkan ilmu kedokteran. Ada seorang dokter muslim pada abad pertengahan, Ali bin Isa al-Kahal, spesialisasinya pada mata dan banyak merumuskan teori-teori tentang mata. Ia mengumpulkan teorinya dalam sebuah buku yang berjudul Tazkirah al-Kahalain. Adapula az-Zahrawi, orang pertama yang menemukan teori bedah dengan menggunakan suntik dan alat-alat bedah. Az-Zahrawi mengarang sebuah buku tentang ilmu bedah yang berjudul at-Tashrif Liman Ajiza an Ta’lif yang diterjemahkan ke bahasa latin oleh ilmuan Italia, Gerardo (1114 – 1187). 

Alat bedah az Zahrawi Penemuan Umat Islam Yang Mengubah DuniaSejak saat itu buku teori bedah az-Zahrawi dijadikan dasar-dasar ilmu bedah di Eropa hingga 5 abad kemudian, yakni abad ke-16, lalu mempengaruhi perkembangan ilmu bedah di masa berikutnya. Seorang pakar anatomi tubuh, Hallery, mengatakan, “Seluruh pakar bedah Eropa sesudah abad ke-16 menimba ilmu dan berpatokan pada pembahasan buku ini (at-Tashrif Liman Ajiza an Ta’lif).” (Fi Tarikh at-Tib fi ad-Daulah al-Islamiyah, Hal: 132-133).

Kemudian umat Islam juga merupakan generasi pertama yang membangun rumah sakit. Rumah sakit Islam pertama kali didirikan pada masa pemerintahan Khalifah al-Walid bin Abdul Malik, yang memegang jabatan antara 705-715 M. Rumah sakit ini khusus untuk penderita lepra. Setelah itu banyak rumah sakit dibangun di wilayah-wilayah kekuasaan Islam lainnya. Saat itu rumah sakit disebut dengan istilah  al-Baimarastanat (tempat tinggal orang sakit) bukan dengan istilah musytasyfa. Sembilan abad kemudian barulah rumah sakit-rumah sakit didirikan di Eropa.

2.       Arsitektur

Arsitektur adalah ilmu yang dikenal sejak dulu karena kebutuhan manusia untuk membuat tempat tinggal serta tempat-tempat yang menjadi kebutuhan mereka dalam kehidupan sehari-hari, bahkan hewan pun memiliki naluri dan insting untuk membuat bangunan tempat mereka tinggal. Namun perhitungan dan perumusannya diperkirakan baru ada di zaman Mesir kuno, kemudian dilanjutkan peradaban Babilonia dan Yunani.

Ilmu arsitektur masuk ke dunia Arab Islam melalui penerjemahan buku-buku arsitektur Yunani ke dalam bahasa Arab, khususnya buku Euclides, Ushul al-Handasah. Dari sinilah inovasi terhadap ilmu arsiterktur mulai dilakukan.

Orang-orang Arab Islam membagi arsitektur ke dalam dua bagian; aqliyah (nalar/matematika) dan hissiyah (seni atau sentuhan), atau dengan bahasa yang lebih mudah aqliyah adalah yang berkaitan dengan teori sedangkan hissiyah adalah tataran praktis. Kita dapati sebagaian karya arsitek Islam, Ibnu Haitsam, membuat teori persamaan dan materi dalam pembahasan cahaya untuk menentukan titik pantul dalam kondisi bulat berbentuk cakeram, krucut, cembung, atau botol kaca.

Al Hambra 3 Penemuan Umat Islam Yang Mengubah Dunia

Pujian pun dilontarkan oleh ilmuan-ilmuan Barat terhadap arsitek dan arsitektur Islam. Martin Isbraikes, salah seorang orientalis yang meneliti sejarah Islam dalam masalah arsitektur dan ruang, mengatakan, “Meski dunia Arab diliputi kebodohan dalam bidang arsitek pada permulaan masa penaklukkan, namun pada kenyataannya arsitektur-arsitektur Islam terlihat di setiap negeri dan setiap zaman, berikut pengaruhnya dalam peradaban Islam. Di negeri Islamlah terdapat banyak bangunan sekolah setempat yang merupakan lambang keahlian pembuatnya.” (Turats Islam bi Isyraf, Hal: 232).

3.       Kamera

Sulit kita bayangkan dunia modern saat ini tanpa kamera. Perusahaan-perusahaan besar seperti Instagram dan Canon memanfaatkan tekonologi ini sebagai “barang dagang” mereka yang utama. Seorang ilmuan Islam yang bernama Ibnu al-Haytam adalah orang pertama yang mengembangkan kemampuan optik untuk difungsikan menjadi kamera.

al Haitham Kamera Obscura galacara.com  564x338 Penemuan Umat Islam Yang Mengubah Dunia

Hidup di tengah kota besar Kairo pada awal tahun 100-an M, Ibnu al-Haytam dikenal sebagai seorang ilmuan yang paling terkemuka. Ia mengembangkan berbagai macam teori sains. Ketika menjadi tahanan rumah pada saat Bani Fatimiah berkuasa, ia mulai mempelajari kerja cahaya. Sebagian penelitiannya terfokus pada bagaimana memungsikan lensa pada kamera. Ia adalah ilmuan pertama yang menyadari ketika pin hole (lubang kecil kamera) dimasukkan ke dalam lightproof (kotak hitam), maka akan memproyeksikan sebuah gambar. Semakin kecil lubangnya, maka kualitas gambar yang dihasilkan pun semakin tajam. Tanpa penelitian Ibnu al-Haytam mengenai pergerakan cahaya ini, maka kamera yang ada di zaman modern ini tidak akan pernah ada.

4.       Geografi

Peninggalan Islam dalam bidang ini mempunyai peranan khusus yang amat penting, walaupun geografi bukanlah ilmu yang dilahirkan oleh kaum muslimin. Namun karya-karya umat Islam pada cabang ilmu geografi berpengaruh pada penjelajahan dunia bahkan penyebaran penduduk di muka bumi ini.

Bapak geografi Yunani, Hektatius, menyatakan bahwa bumi menggambar sebuah peta dengan dasar bulat pipih melingkar, walaupun teori Hektatius ini disanggah oleh Plato yang meyakini bahwa bumi itu bulat, namun Plato tak mampu mengungkapkan argument yang kuat atas teorinya tersebut. Kemudian ilmuan Islam, diantaranya Khalifah Abbasiyah, al-Makmun sebagai orang pertama yang merumuskan bumi itu bulat dengan mengadakan penelitian dengan memprediksi letak bintang kutub. Ilmuan lainnya adalah Ibnu Khardzabah, yang menyatakan “Bumi itu berputar sebagaimana bola, tempatnya seperti muhhah (kuning telur) dalam tengah telur.” (al-Masalik wa Mamalik, Hal: 4). Hal itu ia rumuskan berangkat dari kajian terhadap Alquran surat Az-Zumar: 5 dan An-Naziat: 30.

Peta al Masudi tahun 956 M1 Penemuan Umat Islam Yang Mengubah DuniaIlmuan Islam juga berjasa membuat peta laut sehingga banyak orang mengadakan ekspedisi laut untuk mengelilingi dunia dan berdampak pada tersebarnya manusia di berbagai benua di muka bumi. Seperti peta yang dibuat al-Idris dan al-Mas’udi dalam bukunya Murawwaju adz-Dzahab. Pembuatan peta ini jauh sebelum Cristoper Columbus mengklaim menemukan benua Amerika –mengenai klaim Columbus sebagai penemu benua Amerika telah penulis sanggah dalam tulisan sebelumnya: Klaim Columbus-.

Gustave Le Bon mengatakan, “Buku-buku Arab yang telah sampai kepada kita dalam ilmu Geografi penting untuk satu tujuan, dan sebagian dasar-dasar ilmu ini menjadi pelajaran di Eropa selama berabad-abad.” (Gustave Le Bon, Hal: 469).

Ditulis oleh Nurfitri Hadi, M.A.
Artikel KisahMuslim.com


Baca Juga  
Lengkapnya Klik DISINI

Sikap Terhadap Harta (Tadabbur Surah Al-Qashshash: 79-80)

ilustrasi, ujian dan fitnah (inet)Qarun adalah sosok kaya raya yang hidup pada zaman Nabi Musa as. Dia memiliki kekayaan yang melimpah ruah sehingga kunci-kunci tempat penyimpanan hartanya dilukiskan dalam redaksi ayat, “sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat” (QS. 28:76). Bisa dibayangkan, kuncinya saja sebanyak dan seberat itu, apatah lagi harta kekayaan dan perhiasan yang tersimpan di dalamnya. Namun karena kesombongannya, Qarun akhirnya ditenggelamkan Allah ke dasar bumi beserta seluruh harta kekayaannya itu.

Dalam konteks kisah Qarun ini, Allah menampilkan sikap dua kelompok manusia dalam memandang harta kekayaan sebagaimana tercantum dalam surah Al-Qashshash, 28:79-80. Kelompok pertama memandang harta sebagai sumber kesenangan dan kebahagiaan dan mereka berangan-angan dapat memiliki harta yang mewah dan berlimpah sebagaimana yang dimiliki Qarun. Tetapi, tatkala mereka menyaksikan kesudahan yang buruk dari episode kehidupan Qarun, mereka pun segera insaf dan menyadari kesalahannya lalu berkata, “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang- orang yang mengingkari (nikmat Allah).”

Sedangkan kelompok kedua, yaitu orang-orang yang dianugerahi ilmu, tidak tertipu dengan gemerlapnya harta dan meyakini bahwa pahala dari Allah adalah lebih baik bagi orang beriman dan mengerjakan kebajikan. Menariknya, ayat ke-80 ini ditutup dengan ungkapan “dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar.” Ini secara gamblang menggarisbawahi tentang pentingnya sikap kesabaran dalam berinteraksi dengan harta, baik ketika “disempitkan” oleh Allah maupun tatkala “diluaskan”-Nya.

Orang yang tidak sabar dengan kesempitan harta cenderung bertindak melanggar aturan dengan melakukan segala cara untuk mengejar kekayaan, sedangkan orang yang tidak sabar dengan keluasan harta rentan terhadap kesombongan dan kemewahan. Orientasi hidup orang yang tidak sabar ini sebatas duniawi belaka sehingga mereka selalu berusaha mengejar kekayaan dengan cara apa pun lalu menikmatinya sepuas-puasnya selama hidup di dunia.

Sementara itu, orientasi orang yang sabar lebih berdimensi akhirat, meskipun bukan berarti melupakan dunia (QS. 28:77). Bagi mereka, dunia sekadar tempat transit sementara menuju kehidupan akhirat. Kegemerlapan harta tidak menyilaukan mata karena mereka meyakini pahala dan ganjaran dari Allah jauh lebih baik dan lebih layak untuk dikejar.

Orang yang sabar dan berorientasi ukhrawi ini lebih suka berbagi dengan sesama daripada menikmatinya sendiri. Mereka memilih mendatangi masjid untuk shalat karena seruan hayya ‘ala al-falah (mari menuju kemenangan) daripada sibuk menunggui barang dagangannya. Mereka lebih mengejar pahala shalat Subuh berjamaah yang pahala shalat sunnah qabliyahnya saja lebih baik dari dunia beserta seluruh isinya. Mereka sengaja memilih berlapar-lapar dengan puasa daripada memenuhi perutnya dengan beraneka makanan dan minuman.

Mereka inilah orang-orang yang beruntung karena memilih menjalin ‘perniagaan dengan Allah’, perniagaan yang tidak pernah merugi (QS.35:29). Bagi mereka, harta adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan justru menjauhkannya sebagaimana yang terjadi pada Qarun.
Lengkapnya Klik DISINI

Diantara Fiqih Da'wah Ibnu Taimiyyah | Panduan Da'wah di Masyarakat

Pergaulan di tengah masyarakat memerlukan ilmu agama (al-fiqhu fid-din), baik terkait fiqhul ahkam, maupun fiqhud-da’wah.

Secara sederhana, yang dimaksud fiqih ahkam adalah pemahaman terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah dan juga sumber-sumber mu’tabar lainnya, demi mendapatkan kejelasan tentang hukum sesuatu, adakah dia wajib, sunnat, mubah, makruh ataukah haram.

Sedangkan fiqih da’wah, secara gampang, maksudnya adalah mengambil pilihan-pilihan fiqih ahkam yang mana yang cocok untuk masyarakat yang dida’wahinya.

Sebagai contoh, seorang aktifis da’wah sering dibingungkan oleh pilihan yang mana yang tepat dalam hal, mengeraskan bacaan bismillah-nya Al-Fatihah atau membacanya secara pelan, saat dia “dipaksa” atau terpaksa, atau kejadian mesti menjadi imam shalat berjamaah.

Atau, manakah yang harus dipilih oleh seorang aktifis da’wah saat ia mengimami shalat shubuh, harus qunut-kah dia, ataukah ia tidak usah qunut. Hal yang sama juga bisa terjadi saat ia mengimami shalat witir berjama’ah di bulan Ramadhan.

Atau saat sang aktifis da’wah berhadapan dengan situasi dan kondisi semacam dua kondisi di atas.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah- (661 – 726 H = 1263 – 1328 M) telah membahas masalah seperti ini didalam Majmu’ Fatawa-nya (XXII/344) yang ringkasan (khulashah)-nya adalah sebagai berikut:

1. Dibenarkan bagi seseorang untuk ber-qunut atau tidak ber-qunut demi ta’liful qulub (mengambil hati jama’ah dan menjaga persatuan serta kesatuan kaum muslimin).
2. Dibenarkan juga ia mengambil pilihan yang berseberangan dengan kebiasaan masyarakat dan jama’ahnya, demi menegakkan dan mengajarkan as-sunnah (ajaran Rasulullah SAW). Namun, pilihan ini dibenarkan untuk dilakukan, jika:

a. Sang aktifis dakwah telah mengukur dan menimbang sikap yang mungkin muncul dari jama’ah dan masyarakatnya.

b. Sang aktifis telah melakukan tahyiah nafsiyah atau pengkondisian psikologis jama’ah dan masyarakatnya.

c. Sang aktifis telah lama membangun upaya ta’liful qulub terhadap jama’ah dan masyarakatnya.

d. Sang aktifis telah melakukan berbagai macam muqaddimat (pembukaan-pembukaan) yang dapat diterima oleh jama’ah dan masyarakatnya.

Fiqih da’wah seperti ini beliau dasarkan pada prinsip: al-mafdhul qad yashiru fadhilan limashlahatin rajihatin. Maksudnya, suatu amal yang menurut kajian disimpulkan sebagai amal yang tingkat keutamaannya lebih rendah (mafdhul), bisa berubah menjadi tingkat lebih tinggi (fadhil) karena adanya kemaslahatan yang menjadikannya unggul.

Kata beliau (Ibnu Taimiyyah): “Kalau sesuatu itu pada asalnya haram, bisa berubah menjadi wajib karena adanya mashlahat rajihah (pertimbangan kemaslahatan yang mengunggulkannya), atau karena alasan untuk menolak madharat yang lebih besar, apatah lagi kalau urusannya “hanyalah” urusan mafdhul dan fadhil, tentu perubahan dalam yang terakhir ini, jika ada mashlahat rajihah, lebih berhak untuk terjadi.

Hal ini mirip-mirip dengan perbandingan antara membaca Al-Qur’an, berdzikir dan berdo’a di satu sisi, dengan shalat di sisi yang lain.

Jika dua bentuk ibadah ini diperbandingkan, secara umum, jelas shalat lebih afdhal daripada membaca Al-Qur’an, berdzikir dan berdo’a.

Namun, saat seseorang sedang berada di masya’ir al-haram (Arafah, Muzdalifah, Mina, Shafa dan Marwa), maka berdo’a di tempat-tempat ini lebih afdhal daripada shalat dan membaca Al-Qur’an.

Juga, kalau harus memperbandingkan antara membaca Al-Qur’an dan membaca tasbih, secara umum, jelas, membaca Al-Qur’an lebih afdhal daripada bertasbih, namun, saat seseorang sedang ruku’ atau sujud, maka ia dilarang membaca Al-Qur’an.

Logika fiqih da’wah inilah yang mendasari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (164 – 241 H = 780 – 855 M) mengeluarkan fatwa kepada murid-muridnya agar saat mereka berada di Madinah al-Munawwarah, para muridnya, kalau mengimami shalat, agar tidak men-jahar-kan (melantangkan) bacaan bismillah, sebab, di zamannya, penduduk Madinah banyak yang mengikuti madzhab Maliki, di mana dalam madzhab Maliki, seorang Imam tidak membaca bismillah.

Contoh kasus lain yang disebut oleh Ibn Taimiyyah diantaranya:

1. Shalat qabliyah Jum’at
Ibnu Taimiyyah berkata (XXIV/194): “Jika seseorang berada di tengah suatu kaum yang melaksanakan shalat sunnat qabliyah Jum’at, jika ia adalah seseorang yang ditaati dan dituruti jika meninggalkannya, dan ia dapat memberi penjelasan kepada mereka tentang sunnah Rasulullah SAW yang sebenarnya tanpa mendapatkan pengingkaran dari mereka, bahkan justru mereka akan mengerti mana yang merupakan sunnah Rasulullah SAW, maka sebaiknya ia tidak melaksanakan shalat qabliyah Jum’at, namun, jika ia bukanlah seorang yang ditaati dan dituruti oleh mereka, dan ia berpandangan bahwa dengan melaksanakan shalat qabliyah Jum’at ia akan dapat men-ta’lif hati mereka kepada hal yang jauh lebih bermanfaat, atau dengan melaksanakan shalat qabliyah Jum’at itu ia dapat menghindari permusuhan dan keburukan-keburukan lainnya, sebab memang ia tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan kebenaran kepada mereka, atau agar mereka bisa dapat menerimanya, atau semacam itu, maka melakukan shalat qabliyah Jum’at baginya juga baik”.

2. Shalat Witir antara 2+1 dan 3 rakaat sekaligus
Ibnu Taimiyyah berkata: “Karena inilah para Imam; Ahmad dan lainnya, mengatakan bahwa sunnat hukumnya bagi seorang imam meninggalkan sesuatu yang afdhal menurutnya jika hal itu memberi dampak ta’liful qulub terhadap makmum. Contohnya adalah masalah shalat witir antara tiga rakaat langsung dengan dua rakaat salam lalu tambah satu rakaat. Jika menurut seorang Imam bahwa yang afdhal adalah 2 + 1, namun makmum menghendaki tiga rakaat langsung, jika sang imam ini tidak mampu melaksanakan yang afdhal menurut dirinya, maka hendaklah ia melaksanakan shalat witir tiga rakaat secara langsung”.

_____
*Bacaan sumber:

1. Tazahumul ahkam asy-syar’iyyah fid-da’wah ‘inda Syaikhil Islam Ibn Taimiyyah, tulisan Abu Bakar Al-Baghdadi, Majallah Al-Hikmah, (Leeds: Britain, tahun 1412 H), vol. VII, hal. 63 – 64.

2. Ibnu Taimiyyah, Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah bitahqiq Abdirrahman bin Muhammad bin Qasim, (Madinah: KSA, 1416 H/1995M), vol. 22, hal. 344 – 345.

Oleh Musyaffa AR
Lengkapnya Klik DISINI

KISAH SI TUKANG GORENGAN

Ary Ginanjar Agustian - Jakarta, IndonesiaAlkisah ada seorang penjual gorengan yang selalu menyisakan buntut singkong goreng yang tak terjual. Dia selalu memberikan sisa gorengan tersebut pada seorang bocah yang sering main di tempatnya mangkal.
Tanpa terasa, sudah lebih dari 20 tahun dia menjalani usahanya itu. Namun tidak ada perubahan yang berarti; usahanya tetap begitu2 saja.

Suatu hari, datang seorang pria membawa mobil mewah, lalu berhenti di depan gerobak gorengannya. Pria itu bertanya, "Ada gorengan buntut singkong, Pak?"

Si tukang gorengan lantas menjawab, "Nggak ada, Mas."

"Saya kangen sama buntut singkongnya, Pak. Dulu waktu kecil, ketika ayah saya baru meninggal, tidak ada yang membiayai hidup saya. Teman-teman saya mengejek saya karena tidak bisa beli jajanan. Tapi waktu itu, Bapak selalu memberi buntut singkong goreng kepada saya, setiap kali saya main di dekat gerobak bapak," ujar pria muda itu.

Tukang gorengan terperangah. "Yang saya berikan dulu kan cuma buntut singkong.. Kenapa kamu masih ingat saya?"

"Bapak tidak sekadar memberi buntut singkong, tapi juga sudah memberikan kebahagiaan dan harapan buat saya. Saya mungkin tidak bisa membalas budi baik Bapak. Tapi, saya ingin memberangkatkan Bapak ke Tanah Suci. Semoga Bapak bahagia," lanjut pria itu.

Si tukang singkong goreng hampir tidak percaya. Hanya sebuah kebaikan/sedekah kecil tapi mendatangkan berkah yang begitu besar!

Pesan dari kisah ini: selalu bersyukur & berbuat baik. Sekecil apa pun, asal ikhlas dan tulus, pasti akan membuahkan kebahagiaan dan keberkahan.

Selamat beraktivitas,
Salam Semangat!

@AryGinanjar165
sumber 
Lengkapnya Klik DISINI

Sepotong Ayat Al-Quran Meruntuhkan Teori ‘Bumi Adalah Datar’


 

Seorang ulama terkemuka daripada Andalusia, Ibnu Hazm (994M-1064M) telah menangkis teori cendikiawan Yunani bahawa bumi berbentuk rata dan mendatar. Ide logika Yunani tersebut telah ditangkis sepenuhnya Ibnu Hazm dengan hanya menggunakan hujah daripada surah Az-Zumar ayat 5 yang bermaksud:

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”  

Ibnu Hazm mendakwa bumi adalah berbentuk bulat berdasarkan firman Allah swt yang mengatakan bumi dan matahari bergantian untuk memberikan malam dan siang. Tegasnya lagi, mana mungkin pengantian malam dan siang boleh terjadi jika bumi bersifat mendatar dan rata. Atas dasar logik sekalipun ia mustahil berlaku.

Teori Ibnu Hazm memberi dimensi baru dalam bidang astronomi. Miskipun diketahui bahawa terdapat beberapa individu daripada tamadun Yunani purba seperti Pythagoras (570M-495M) dan Parmenides(hidup pada abad ke-5 sebelum masihi)  telah mendakwa bumi adalah Bulat namun pembuktian tersebut masih diragui dan dipersendakan oleh masyarakat pada era mereka. Teori Ibnu Hazm telah memberi inspirasi secara langsung dan tidak langsung kepada kepada ramai ahli astronomi selepasnya sepertiAl-Idrisi (1099-1165), Ibnu As-Shatir (1304-1375), Nasiruddin al-Tusi (1201-1274) dan ramai lagi.

Ibnu As-Shatir menggambarkan bumi adalah Bulat sepertimana yang terkandung dalam manuskripnya.

Boleh dikatakan bahawa manuskrip-manuskrip ahli-ahli astronomi Islam pada abad pertengahan menggambarkan bumi adalah bulat sedangkan di Barat, ramai cendikiawan mereka masih ragu-ragu dengan fizikal bumi yang sebenar-benarnya. Pembelajaran di Eropah pada abad pertengahan juga menerapkan konsep bumi adalah mendatar. Malahan ketika Christopher Columbus dan Ferdinand Magellan memulakan perlayaran sudah ada kata-kata daripada ahli astronomi mereka meramalkan mereka tidak akan kembali dan jatuh terperosok ke lembah lautan.

Itulah hebatnya ulama silam. Ulama zaman dahulu tidak mengehadkan skop pengetahuannya kepada ruang lingkup agama dan ad-din semata-mata tetapi turut mengkaji dengan lebih mendalam berkenaan subjek berkaitan sains dan logik. Atas semua sains dan logik, ia telah diterangkan secara terperinci mahupun tersirat di dalam al-Quran.

Lukisan karya Orlando Ferguson yang menggambarkan bumi adalah mendatar.
Oleh yang demikian, terbuktilah bahawa al-Quran bukan kitab kosong sepertimana dakwaan para musuh-musuh Allah, akan tetapi sebuah kitab yang mengandungi hikmah dan pengetahuan yang luar biasa.
Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami. menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.(Surah Al-A’raaf 7:52) 

Lengkapnya Klik DISINI

Cintailah Jalanmu


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjSh0wQtoUZvJw1oJ-KWWSNjhQdVrx5r70thzR6qZTUikZ2aVG4opqB_0IQM3A60GMkbRmkvPI3AsuIZno4U-XHjzevdNXPPC9mG-Aq9AWcJUxOGMnCG6PguNSym6GaGifjUdyaSiucfatz/s1600/wpid-jalan-yang-panjang.jpg 

Terik matahari memanggang tubuhnya. Diatas pasir dengan mata yang silau menatap langit. Setumpuk batu menindih dadanya membuatnya sulit bernafas lega. “ahad.. ahad..” itulah yang dia katakan. Kedamaian hati meneguh langkah. Tiada bergeming ia atas fisik yang terus disiksa.

Lain pula yang lain. kekayaan, harta yang melimpah, pakaian yang mahal harganya. Terkenal pula dengan parfumnya. Sedemikan singkat waktu hingga semua menjadi sirna. Pakaian yang lusuh, tidak ada lagi parfum. Hingga Rasulullah menetes air matanya menatapnya. Sebuah konsekuensi pilihannya. Ia bahagia dalam resah pandangan orang lain.

Ada yang terus bergelimang emas permata. Semua orang menghormatinya. Ialah tokoh yang dermawan. Saat tiba waktunya maka semua hartanya ia keluarkan. Maka Sang Junjungan pun bertanya perihal simpanannya untuk keluarganya, ia hanya menjawab “Cukup Allah saja bagiku..”

Pernah juga terdengar. Posisinya paling tinggi dalam “kasta” sosial. Semua masyarakat tunduk padanya. Semua pasukan taat mendengarkannya. Namun naas, Ia mati dalam usia muda kepemimpinannya. Terdapatlah kisah, dibalik posisi kehormatannya, seorang rakyat pernah batal meminta jatah zakatnya karena baginya “orang terhotmat” inilah yang lebih pantas menerima zakatnya. Khidmatnya atas rakyat, menyiksa dirinya. Ya, mati muda!

ah, mereka terlalu jauh dalam pusaran masa lalu waktu.

Tapi masih kujumpai mereka yang baru belajar, kini. Yang meniti jalannya.

***

Sejenak kita membayangkan begitu bahagianya menjadi orang biasa saja. biasa dalam segala hal yang mayoritas. Saat sela waktu kita bersenang-senang, bersendau gurau. Saat tiba akhir pekan kita berlibur, menikmati indahnya dunia juga seperti yang lain.

Jatah waktu tidur bukan lagi seperti mereka yang “patuh” dengan dokter;sebagian. Yang mengatakan bahwa tidur minimal delapan jam sehari agar kondisi tubuh tetap fit.

Atau mungkin kita juga ingin tidak direpotkan dengan ikut memikirkan orang lain berlebihan. Toh, mengurusi diri sendiri saja belum beres.

Dan bisa jadi, tidak perlu menghemat jatah makan “enak” hanya demi biaya-biaya yang seharusnya tidak perlu kita tanggung. mengeluarkan biaya yang sepertinya tidak layak untuk disebut menyisihkan.

Itulah manusiawinya. Merdeka secara naluri. Berjalan bahkan berlari kapan dan dimana saja kita mau. Hingga akhirnya tiba pada satu titik yang seolah menjadi “penjara” bagi dunia kita yang terlalu luas. Setidaknya itu yang orang disekelilingmu berikan tanggapan. “hidupmu freak!” “terlalu kaku!” “kuno” atau mungkin “jumud”
Engkau terpaksa mengorbankan dirimu. Siksaan-siksaan batin lewat ke-akuan yang terbelenggu oleh “bagaimana memang seharusnya diri”. Engkau ingin berteriak, rasanya semakin berat.

Saat tanggungan bersama menumpuk. lagi-lagi yang lain satu persatu menepi. tingggallah engkau beberapa saja. terus berjalan, sedikit melambat sepertinya. engkau tahan amarahmu, menyesakkan perasaanmu.

Lagi-lagi itulah konsekuensi. Itulah takdir kepahlawanan. Disaat semua berjalan-berlari terus mengejar haknya. Maka sebagian orang harus rela menanggung kewajibannya. Banyak yang meminta cahaya, tapi hanya sedikit yang ingin menjadi lampu.

Kelelahan, kejenuhan, berat menanggung beban. Tidak perlu dipoles karena memang begitulah adanya. Luka pada tubuh tidak perlu ditanyakan karena ia pasti perih.

Lantas kemana ini semua berujung? Cukuplah janji-Nya yang menenangkan, cukuplah ketaatan yang menentramkan. Engkau yakini ini untuk-Nya, berbahagialah atasnya. Setiap keluh kesah himpitan sesak “siksaan” inilah ujian cinta yang sebenarnya. Seperti itulah Bilal bin rabah, Mus’ab bin Umair, Abu Bakar ra, dan Umar bin Abdul aziz.

Jika Allah menginginkan kebaikan untuk seorang hamba maka dia akan mempekerjakan/menggunakannya”, beliau ditanya, “Bagaimana Allah akan mempekerjakannya, wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”, beliau menjawab: “Allah akan memberinya petunjuk untuk beramal shalih sebelum meninggal”. [1]
Karenanya. Cintailah jalanmu karena Allah sedang menuntunmu berjalan kepada-Nya.

 
Fardan

CEO Badan Mentoring IT Telkom
Kader KAMMI IT Telkom
 
Lengkapnya Klik DISINI

Merajut Asa dalam Dakwah

Kartun akhwat (desainkawanimut.com)Masih tersimpan rapi sebuah pesan singkat dari seorang sahabat, “Jika engkau merasa bahwa segala yang ada di sekitarmu gelap dan pekat, tidakkah dirimu curiga bahwa engkaulah yang dikirim oleh Allah untuk menjadi cahaya bagi mereka? Berhentilah mengeluhkan kegelapan itu, sebab sinarmulah yang sedang mereka nantikan, maka berkilaulah.” Ya, kalimat ini senantiasa kubaca berulang-ulang, untuk mengobati hati yang kadang duka, seperti saat Jum’at siang itu.

Biasanya, setiap Jum’at kami mengikuti halaqah di sebuah masjid sekitar kampus. Sepulang kuliah, aku dan temanku tidak langsung ke sana, kami pulang terlebih dahulu untuk mengisi perut yang sudah berorasi. Karena jarak rumahku ke kampus yang cukup jauh, aku biasa mampir ke rumahnya. Selesai makan, aku pun bergegas untuk pergi mengikuti halaqah. Sambil bersiap, sempat kulirik temanku yang tampak santai di tempat tidurnya. Tanpa berpikir panjang aku pun bertanya, “Kamu gak ikut liqa’?” Dia hanya menggeleng, memperlihatkan raut wajah yang mengantuk.

Aku yang tak ingin memaksa, hanya bisa diam seribu bahasa. Namun aku juga tak pandai menyembunyikan kekecewaanku padanya. “Biarlah dia melihat kekecewaanku.” Tuturku dalam hati. Tanpa menunggu lama, akupun segera pergi sendirian. Meski saat itu matahari begitu terik, namun tak mampu mengahangatkan hatiku yang basah oleh duka. Saat itu aku belum memiliki kendaraan pribadi, “Ah tak mengapa naik kendaraan umum yang penting bisa sampai ke tujuan.” Pikirku. Sontak akupun tersadar, dengan cepat mataku melihat jam tangan pemberian saudaraku, tepat pukul 12.30. “Astaghfirullah, bukankah sudah tidak ada lagi angkutan umum jam segini?” Mulutku terlihat komat-kamit berbicara sendiri. Sebenarnya, tak mengapa jika aku harus berjalan kaki kesana. Namun aku bisa menghabiskan waktu 1 jam jika hanya bermodalkan jalan kaki. Sementara ustadzah sudah berada di sana sejak pukul 12.15 tadi. Tidak mungkin kubiarkan dia menunggu begitu lama.

Setapak demi setapak kulalui sambil merajut asa, berharap ada keajaiban dari-Nya. Tak perlu menunggu lama, Allah pun berikan kemudahan-Nya. Ya, seorang wanita berhenti tepat di depanku dengan sepeda motornya. Tanpa basa-basi, ia pun segera menyuguhkan tumpangannya untukku. “Mau kemana?” Tanyanya padaku yang tak henti mengucap syukur dalam hati. “Mau ke Mesjid di depan kampus.” Kulihat anggukannya dari belakang, tanda ia setuju mengantarkanku ke sana. Tak ada yang kebetulan di dunia ini, semua telah diatur oleh-Nya, termasuk tumpangan gratis yang aku dapatkan ini.

Tibalah aku di tempat tujuan, sudah terlihat sosok wanita yang sedang melemparkan senyum tulusnya ke arahku. Wajahnya terlihat teduh dalam tampilannya yang sederhana. Kuucapkan salam padanya, kujabat tangannya yang hangat, serasa ada energi yang mengalir ke raga ini. Tanpa ada kata yang terucap, dia terus memandangiku. Ya, mataku mulai berkaca, kesedihanku pecah dalam genggaman tangannya. Kuceritakan apa yang kualami, bukan karena aku harus sempat berjalan kaki lantas membuatku bersedih, namun karena ia adalah sahabatku. Aku merasa tidak berhasil menjadi teman yang baik untuknya. Tak masalah jika aku harus menunggunya mengerjakan sesuatu terlebih dahulu sebelum kami pergi halaqah, tak masalah jika aku harus menjemputnya dan mengantarnya sepulang halaqah. Asalkan dia mau pergi bersamaku. Pergi bersama merajut asa dalam dakwah. Namun ustadzahku yang satu ini sangat tau harus berkata apa, “Paman Nabi Muhammad, tidak sempat memeluk Islam sebelum ia meninggal, tidak ada seorang pun yang bisa membuka pintu hati seseorang kecuali Allah SWT. Kita hanya mampu berusaha, tapi segalanya Allah yang menentukan. Jangan menyerah, teruslah saling menasehati dalam kebaikan dengan penuh kesabaran.”

Kata penguat dari ustadzah tercinta, mampu menembus lorong waktu begitu cepat. Membawa semangat menuju tempat berperang, bagai panah yang ingin segera lepas dari busurnya. Tapi kali ini, aku akan melepaskan panah-panah penguat ukhuwah untuk para generasi Islam. Kumulai dengan mengirim pesan lewat sms setiap kali ada pengajian, bertanya dan memastikan akan kedatangannya, mencoba mendengar segala keluh kesahnya, menjadikan pundak ini untuk sandarannya kala duka. Dan ternyata, kesabaran pun siap diuji, komitmen siap dipertaruhkan, halaqah selanjutnya masih belum terisi oleh semua saudaraku tercinta, ada dari mereka yang kelupaan, menjadikan hujan sebagai benteng alasan. Bahkan ada juga yang tidak ingin bergabung lagi. Alasan diri yang belum siap. Bukankah ajal tak pernah menunggu kita sampai siap? Namun, itu semua lantas tak membuat ku mematung, berdiam diri begitu saja. Komunikasi yang rutin kini tak boleh hanya lewat media, tapi juga harus bertatap muka, dengan saling berjabat tangan, rangkulan yang membagi energi sampai asa terajut menjadi sebuah kenyataan indah.

Seiring berjalannya waktu dengan doa dan ikhtiar bersama, kini semua sahabatku telah kembali lagi dalam dekapan ukhuwah dan Allah telah mengeratkannya bersama pejuang-pejuang dakwah yang baru, semoga Allah menjadikan kami istiqamah merajut asa dalam dakwah dijalan-Nya. Aamiin. []

Penulis : Fauziah
Banda Aceh

Lengkapnya Klik DISINI

19 Pertanyaan Ini Membuat Pendeta dan Jemaatnya Masuk Islam di Gereja

Ilustrasi gereja (foto Antara)Pagi itu, sang pendeta telah berdiri untuk memberikan khotbah. Namun, melihat ada seorang pemuda yang memiliki tanda khusus hadir di gerejanya, sang pendeta menahan khotbahnya.

“Aku tidak akan memberikan khotbah kepada kalian, karena diantara kalian ada umatnya Muhammad,” kalimat pertama pendeta itu bagaikan petir di siang bolong. Sebagian jemaat gereja melihat kanan dan kiri, siapa orang yang dimaksud pendeta.
“Bagaimana pendeta mengetahuinya?” tanya seorang jema’at.
“Karena umat Muhammad memiliki tanda khusus di jidatnya, yakni bekas sujud”

Sang pemuda yang dimaksud kemudian berdiri hendak pergi. Namun, tantangan sang pendeta membuat langkahnya terhenti. “Wahai orang muslim, aku akan bertanya kepadamu. Jika kamu bisa menjawab pertanyaanku maka aku akan masuk Islam;

Pertanyaan pertama: Siapakah yang satu dan tidak ada duanya?

Pertanyaan kedua: Apa sesuatu yang dua dan tidak ada ketiganya?

Pertanyaan ketiga: Apa sesuatu yang tiga dan tidak ada keempatnya?

Pertanyaan keempat: Apa sesuatu yang empat dan tidak ada kelimanya?

Pertanyaan kelima: Apa sesuatu yang lima dan tidak ada keenamnya?

Pertanyaan keenam: Apa sesuatu yang enam dan tidak ada ketujuhnya?

Pertanyaan ketujuh: Apa sesuatu yang tujuh dan tidak ada kedelapannya?

Pertanyaan kedelapan: Apa sesuatu yang delapan dan tidak ada kesembilannya?

Pertanyaan kesembilan: Apa sesuatu yang sembilan dan tidak ada kesepuluhnya?

Pertanyaan kesepuluh: Apa sesuatu yang sepuluh dan tidak ada kesebelasnya?

Pertanyaan kesebelas: Apa sesuatu yang sebelas dan tidak ada kedua belasnya?

Pertanyaan kedua belas: Apa sesuatu yang dua belas dan tidak ada ketiga belasnya?

Pertanyaan ketiga belas: Apa sesuatu yang tiga belas dan tidak ada keempat belasnya?

Pertanyaan keempat belas: Siapakah makhluk yang diciptakan Allah, tetapi Allah mencelanya?

Pertanyaan kelima belas: Siapakah makhluk yang diciptakan Allah, tetapi Allah menganggapnya besar?

Pertanyaan keenam belas: Apa sesuatu yang bisa bernafas padahal tidak memiliki ruh?

Pertanyaan ketujuh belas: Siapakah orang yang dapat berjalan di dalam kuburnya?

Pertanyaan kedelapan belas: Pohon apakah yang terdiri dari 12 dahan, setiap dahannya terdiri dari 30 daun, dan setiap daunnya terdiri dari lima buah?

Pertanyaan kesembilan belas: Apa kunci surga?”

Pemuda yang di malam harinya bermimpi didatangi seseorang yang menyuruhnya pergi ke gereja untuk membela Nabi itu kemudian menjawab pertanyaan sang pendeta.

“Jawaban pertanyaan pertama: Dzat yang satu dan tidak ada duanya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jwaban pertanyaan kedua: sesuatu yang dua dan tidak ada ketiganya adalah siang dan malam, sebagaimana firman Allah ‘Kami menjadikan siang dan malam sebagai dua tanda’ (QS. Al Isra’ : 12)

Jawaban pertanyaan ketiga: sesuatu yang tiga dan tidak ada keempatnya adalah pertanyaan Nabi Musa kepada tukang sayur.

Jawaban pertanyaan keempat: sesuatu yang empat dan tidak ada kelimanya adalah kitab samawi. Yakni Zabur, Taurat, Injil dan Al Qur’an.

Jawaban pertanyaan kelima: sesuatu yang lima dan tidak ada keenamnya adalah shalat lima waktu.

Jawaban pertanyaan keenam: sesuatu yang enam dan tidak ada ketujuhnya adalah masa Allah menciptakan langit dan bumi. Sebagaimana firmanNya: ‘Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan’ (QS. Qaf : 38)”

Tiba-tiba sang pendeta menyela, “Mengapa Tuhanmu berkata ‘dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan’?”

“Karena orang Yahudi berkeyanikan bahwa Allah menciptakan langit, bumi dan isinya selama enam hari. Kemudian Allah kelelahan dan beristirahat di hari yang ketujuh. Oleh karena itu Allah berfirman ‘dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan’

Jawaban pertanyaan ketujuh: sesuatu yang tujuh dan tidak ada kedelapannya adalah langit. ‘Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah menciptakan tujuh langit yang bertingkat-tingkat? (QS. Nuh : 15)

Jawaban pertanyaan kedelapan: sesuatu yang delapan dan tidak ada kesembilannya adalah mereka yang memikul arsy. Sebagaimana firman Allah, ‘Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit, dan pada hari itu delapan malaikat menjunjung Arsy Tuhanmu di atas kepala mereka’ (QS. Al Haqqah : 17)

Jawaban pertanyaan kesembilan: sesuatu yang sembilan dan tidak ada kesepuluhnya adalah mukjizat Nabi Musa. Sebagaimana firman Allah ’Dan sesungguhnya Kami telah memberikan sembilan mukjizat yang nyata kepada Musa’ (QS. Al Isra’ : 101)

Jawaban pertanyaan kesepuluh: sesuatu yang sepuluh dan tidak ada kesebelasnya adalah pahala orang yang melakukan kebaikan. Dia akan mendapatkan sepuluh kebaikan.

Jawaban kesebelas: sesuatu yang sebelas dan tidak ada kedua belasnya adalah saudara-saudara Nabi Musa.

Jawaban pertanyaan kedua belas: sesuatu yang dua belas dan tidak ada ketiga belasnya adalah terpecahnya batu.

Jawaban pertanyaan ketiga belas: sesuatu yang tiga belas dan tidak ada keempat belasnya adalah saudara-saudara Nabi Yusuf dan kedua orang tuanya.

Jawaban pertanyaan keempat belas: makhluk yang diciptakan Allah, tetapi Allah mencelanya adalah suara keledai. ’Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai’ (QS. Luqman : 19)

Jawaban pertanyaan kelima belas: makhluk yang diciptakan Allah, tetapi Allah menyebutnya besar adalah tipu daya wanita. ‘Sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar’ (QS. Yusuf : 28)

Jawaban pertanyaan keenam belas: sesuatu yang bisa bernafas padahal tidak memiliki ruh adalah waktu Subuh. ’Dan demi Subuh apabila fajarnya mulai bernafas’ (QS. At Takwir : 18)

Jawaban pertanyaan ketujuh belas: orang yang dapat berjalan di dalam kuburnya adalah Nabi Yunus ketika berada di dalam perut ikan.

Jawaban pertanyaan kedelapan belas: Pohon yang terdiri dari 12 dahan, setiap dahannya terdiri dari 30 daun, dan setiap daunnya terdiri dari lima buah adalah tahun. Setahun ada 12 bulan. Sebulan ada 30 hari. Sehari ada lima waktu shalat.

Jawaban pertanyaan kesembilan belas: kunci surga adalah Laa ilaaha illallah, Muhammad rasulullah.

Mendengar jawaban ini, sang pendeta kemudian masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Kemudian para jemaatnya juga masuk Islam di hari itu juga, di gereja yang sama. Dan nama pemuda yang menjadi perantara keislaman mereka adalah Abu Yazid Bastami. [Sumber: Qashashush Shaalihiin, karya Guru Besar Universitas Al Azhar Dr Mustafa Murad]

Dr Mustafa Murad -Guru besar universitas Al Azhar- menyatakan bahwa kisah-kisah dalam bukunya Qashashush Shaalihiin adalah kisah nyata. Kisah pendeta masuk Islam ini terjadi pada abad ketiga hijriyah.

Abu Yazid Al Bastami yang dimaksud dalam kisah ini lahir pada 188 H dan wafat pada 261 H. Abu Yazid lahir di Bustam, bagian timur laut Persia, sehingga disebut Al Bustami atau Al Bastami. Beliaulah tokoh sufi yang terkenal dengan nasehatnya: "Jika kalian melihat seseorang sanggup melakukan pekerjaan-pekerjaan ajaib, walaupun ia sanggup terbang ke udara, maka janganlah kalian tertipu sebelum melihat bagaimana ia mengikuti Nabi dan menjaga batas-batas syari`at".
Lengkapnya Klik DISINI

Perang Akhir Zaman Akan Menggunakan Senjata Tradisional?

Imam Mahdia.s 268x300 Perang Akhir Zaman Akan Menggunakan Senjata Tradisional?
HANCURNYA bangsa Yahudi merupakan salah satu dari tanda-tanda datangnya hari kiamat. Hal ini bermula dengan sebuah peperangan besar yang melibatkan banyak bangsa di dunia termasuk bangsa Israel. Sebelum terjadi peperangan ini, terdapat beberapa peristiwa lain yang membawa kepada terjadinya peperangan ini menurut kronologi hadis akhir zaman hasil kajian ilmuan Islam. 

Pertempuran dahsyat ini dikenal sebagai Armageddon, di mana lokasi utama perang ini adalah di lembah Megiddo atau Mageddon, Palestina. Mungkin ada yang menganggap Perang Armageddon hanyalah sebuah film rekaan Hollywood belaka. Kenyataannya, Hollywood yang disokong oleh Yahudi memang ingin menyamarkan fakta tentang Armageddon ini melalui propaganda film. Padahal di kalangan para ahli kitab mereka telah mengkaji tentang peperangan ini dan senantiasa bersiap sedia untuk menghadapinya.

Disebutkan dalam Kitab Zakharia (89/13), bahawa sebahagian besar bangsa Yahudi akan mati dalam perang Armageddon dan dua pertiga dari mereka akan musnah. Sedangkan dalam kitab Zagiyal (12/39) disebutkan :”Akan berlangsung tujuh bulan sehingga rumah Israel berhasil mengubur mereka (orang-orang mereka yang terbunuh) sebelum membersihkan bumi”.

Sebutan Armageddon sebenarnya tidak terdapat dalam Hadis manapun. Hanya disebut dalam kajian-kajian Kristen dan Ahli Kitab. Menurut bahasa Ibrani, Ar bermaksud gunung atau bukit. Mageddo pula adalah nama sebuah lembah di Palestina. Sebuah tempat yang cukup strategis dari segi peperangan. Perang ini juga dikatakan sebagai perang terakhir dengan menggunakan seluruh kekuatan pelbagai peralatan senjata moden yang canggih. Mungkin perang itu adalah Perang Dunia ketiga yang disebut-sebut sebagai Perang Nuklir.

Banyak yang mengatakan bahwa dalam Perang Dunia Ketiga, bom nuklir akan digunakan. Ada diceritakan juga dalam kitab Bahrul Mazi. Perang Dunia Ketiga yang diramal akan berlaku dalam tempo yang singkat. Tetapi, kemusnahannya amat dahsyat. Sehingga dikatakan dunia selepas itu akan kembali menjadi seperti Zaman Pertengahan di mana bala tentara hanya akan menunggang kuda serta bersenjatakan pedang seperti perang zaman dahulu.

“Jika Perang Dunia Ketiga adalah berjuang dengan senjata nuklir, yang keempat akan diperjuangkan dengan busur dan anak panah.” – Louis Lord Mountbatten

“Saya tidak tahu dengan apa senjata Perang Dunia Ketiga akan diperjuangkan, tetapi Perang Dunia Keempat akan diperjuangkan dengan kayu dan batu.” – Albert Einstein

Apakah Einstein dan Mountbatten hanya kebetulan mengatakan ini? Konon, ini disebabkan teknologi semua tidak boleh digunakan lagi pada masa itu karena EMP (electromagnetic pulse) senjata nuklir itu sendiri terjadi ketika Perang Dunia Ketiga. Jadi, kekuatan bala tentara ketika Perang Dunia Keempat nanti adalah seimbang dan tidak berat sebelah karena semuanya menggunakan peralatan perang yang sama.

Malah, ada sebahagian hadis yang menekankan akhir zaman nanti akan berlakunya perang menggunakan pedang dan Dajjal akan disembelih dengan pedang. Hadis Nabi juga ada menyebut, Yahudi Zionis akan bersembunyi di balik-balik batu dan kayu dan hanya selamat di belakang pokok Yahudi yaitu pokok Gharqad, yang banyak di tanam sekarang di Israel.

“Tidak akan berlaku kiamat sehinggalah seluruh umat Islam berperang dengan seluruh Yahudi. Umat Islam akan membunuh mereka sehingga apabila mereka bersembunyi di sebalik batu dan pohon, tiba-tiba pohon-pohon dan batu-batu itu bersuara menjerit memanggil umat Islam agar datanglah kamu ke sini dan bunuhlah orang-orang Yahudi itu, kecuali pohon ‘Gharqad’, kerana ia adalah pohon Yahudi”. (Hadith Sahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim). [szlihin]

Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......