Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

Pelangi Hijrah

Semestinya kita tidak lagi menunda-nunda untuk segera membersihkan diri dari lumpur dosa. Usia yang relative masih muda saat ini, bukan alasan untuk berleha-leha dari perbaikan diri.. 
 
Rasa-rasanya tidak akan pernah ada orang yang melewatkan hari-harinya dengan menghitung tanggal, Bulan dan tahun. Apalagi tanggal dan bulan tersebut menyangkut sebuah sejarah penting menyangkut dirinya yang tidak akan pernah terlupakan. Kita telah sama-sama mengetahui bahwa ada dua nama-nama bulan yang dilingkup dalam satu tahunan. Pertama bulan-bulan Masehi dan kedua bulan-bulan Hijriyyah. Sebagian besar orang meyakini bahwa Tahun Masehi bertitik tolak dari hari kelahiran Nabi Isa Al-Masih, sedangkan tahun Hijriyah disefakati titik awal penentuannya dimulai dari hijrah Nabi Muhammad Saw. dari kota Makkah ke kota Madinah.

Salah satu tokoh yang paling berjasa dalam penentuan kalender Hijriyah adalah Amirul Mukminin ( Kholifah ) Umar bin Khottob. Tujuan utama beliau melakukan kebijakan tersebut, semata agar Ummat islam lebih dekat dengan sejarah hijrahnya Nabi Muhamad saw. beserta para sahabatnya yang menjadi tonggak dasar tersebarnya Islam ke seantero dunia.

Hijrah yang dilakukan Rasulullah pada pertama kalinya dimaknai sebagai ajakan pada orang-orang beriman untuk berpindah tempat tinggal ke kota tertentu agar terhindar dari kejahatan kaum kafir yang senantiasa berbuat dzalim kepada mereka yang menerima kebenaran Islam. Beberapa kali hijrah di jaman Rasulullah dilakukan baik yang diikuti oleh beliau sendiri atau hanya dilakukan para sahabatnya saja. Tercatat pula dalam sejarah beberapa tempat pernah dijadikan tempat tujuan hijrah. Seperti Thaif, Habsyah dan yang paling spektakuler adalah Yatsrib ( Madinah ).

Seiring perkembangan da'wah yang dilakukan Rasulullah dengan menuai sukses luar biasa, makna Hijrah seperti pada awal mula menjadi tidak lagi dibutuhkan. Makna hijrah kemudian bergeser dari awalnya perpindahan fisik menjadi perpindahan yang lebih bersifat mentalitas. Hal tersebut diperkuat dengan hadits berikut :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ « لاَ هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوا  - الترمذي -

"Tidak ada hijrah setelah pembukaan kota Makkah, tetapi hanya ada jihad dan niat. Jika kalian diperintah untuk pergi (jihad) maka pergilah." ( HR Tirmidzy )

Berdasarkan pada hadits ini, sejumlah ulama merinci pengertian hijrah sebagai berikut :

1.      Hijrah dari syirik pada tauhid

2.      Hijrah dari kufur pada syukur

3.      Hijrah dari bid'ah pada sunnah

4.      Hijrah dari maksiat pada ta'at, dan lain sebagainya.

Momentum Awal tahun Hijriyah merupakan saat yang tepat untuk mengaplikasikan makna-makna hakiki dari hijrah ini. Mari kita awali hijrah kita di tahun ini dengan  introsfeksi diri ( muhasabah ) untuk menatap masa depan yang lebih baik karena berkaca pada apa yang telah kita lakukan di tahun sebelumnya. Setelah itu secara bertahap kita bersihkan hati dari segala noda yang melekat menuju hati yang bening dan suci.

Semestinya kita tidak lagi menunda-nunda untuk segera membersihkan diri dari lumpur dosa. Usia yang relative masih muda saat ini, bukan alasan untuk berleha-leha dari perbaikan diri karena Allah kuasa untuk memanggil siapa saja yang dikehendakinya. Jangan pernah kita terlena oleh kenikmatan dunia. Hidup di dunia ini hanyalah satu kali.  Itupun semata-mata untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan di akhirat yang kekal abadi. Rasulullah saw. bersabda Dalam sebuah haditsnya sebagai berikut :

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ - الترمذي -

Dari Syaddad Bin Aus, Nabi saw. Bersabda : "orang cerdas itu adalah orang yang mempersiapkan dirinya ( menghisab dirinya ) untuk akhiratnya dan beramal untuk kelak kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah ( bodoh ) adalah orang yang senantiasa megikuti keinginan hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah. ( Hr. Timridzy ).

Lengkapnya Klik DISINI

Pesona Sang Jilbaber

Bismillhirrahmanirrahim.

Dulu, aku sensitif sekali dengan nama yang satu ini. Acap kali ku temukan saat menengok buku-buku (terutama novel remaja) yang berbau-bau islam. Mungkin kata 'keren' tak sanggup menggambarkan penilaianku terhadap mereka. 

Aku sempat berpkir, orang yang berjilbab besar pastilah imannya juga besar. Tapi ternyata aku salah. Tak selamanya penampilan menggambarkan arti yang sebenarnya. mereka juga punya kekurangan disamping beribu kelebihan mereka.Diawal, aku sangat kecewa saat makhluk yang satu ini melakukan sebuah kesalahan. Ternyata aku baru menyadari bahwa mereka juga manusia. bukan robot, alien atau sejenisnya. Diciptakan padanya kelebihan dan kekurangan. Tetapi apakah mereka tetap memupuk kekurangan mereka itu? disinilah bedanya. mereka takkan membiarkan akhlaqul madzmumah itu terus melekat pada diri mereka. Coba, tanyakanlah makna "fastabiqul khoirot" pada mereka!
aku senang dengan kalimat 'dakwah',  'aksi',  'rohis' dan 'mentoring/halaqoh/liqo' yang biasanya melekat pada deskripsi tentang mereka. mungkin untuk yang 2 terakhir aku sudah berkecimpungan didalamya. tapi untuk 2 kata diawal, untuk saat ini aku belum diberi kesempatan untuk mencicipinya. semoga lain waktu :)

Dakwah, maknanya menyeru*iya bukan?*. sepengetahuanku kalimat ini digunakan jika seseorang mengajak (menyeru) kepada orang lain untuk hal-hal yang positif(kebaikan). dapat dihubungkan dengan keimanan. jujur, sampai detik ini volume otakku terhadap pengetahuan yang satu ini masih sangat sempit. pernah suatu kali mentor berkata kepadaku. "dakwah itu berat, dek", "seberat apa, ustadzah?" beliau terdiam sejenak, "yang jelas, gunung saja tak mau diberi amanah oleh Allah untuk mengembannya". hei manusia, kau(termasuk jilbaber) itu hebat, gunung yang sebesar itu saja tak kuat untuk mengemban dakwah. ternyata nikmat akal dan perasaanmu sangat berpengaruh disini. pernahkah kau memikirkan kata syukur terhadap dua nikmat tersebut? jika sudah, alhamdulillah. jangan sampai syukur itu menjadi kufur. jika belum, sama. aku juga baru menyadarinya. semoga kita senantiasa bersyukur, kawan :)

aksi.beraksi, power ranger? superman? batman? atau spiderman? hehe, bukan semua. yang dimaksud aksi jilbaber disini adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan beraksi*lho, piye toh?*. seperti yang kuungkapkan sebelumnya, aku juga belum paham banyak dengan kata 'dakwah' dan kata 'aksi' yang satu ini. mungkin sedikit pengetahuanku, biasanya para jilbaber ini melakukannya dengan praktek seperti aksi terhadap pembelaan palestina, biasanya dengan berjalan arak-arakan, kalimat semangat dilantunkan, takbir dikumandangakan, dan tentunya kalimat-kalimat pembelaan terhadap palestina banyak dituliskan.

kedua adalah aksi demonstrasi. aduh, sayangnya untuk yang satu ini aku benar-benar tidak pernah mengikuti aku hanya sedikit menegok prakteknya. ada yang mnegatakan bahwa demonstrasi itu haram, karena identik dengan pertikaian. hm, gimana ya jawabnya? negara kita adalah negara demonstrasi. masa negara kita haram? maaf, aku bingung jelasinnya. tapi kemarin waktu ulangan agama, ada soal yang kurang lebih penjelasannya begini "demonstrasi menurut islam adalah..." islam ternyata menghalalkan demonstrasi. tapi ingat, islam cinta perdamaian. demonstrasinya tidak dengan kata pertengkaran, permusuhan atau sejenisnya. Oiya, aku ingat. abi pernah bercerita padaku bahwa di zaman Rasulullah pun telah ada demokrasi. Saat perang, Rasulullah SAW menunjuk seseorang untuk menjadi pemimpin pasukan perang/panglima (ingatkah teman-teman dengan Khalid bin Walid dengan teknik perangnya yang hebat membuat bangsa  Romawi kocar-kacir di perang Mu'tah) di perang itupun setiap orang berhak menyampaikan ide-ide dan sarannya. Tidak hanya perang, dalam perjalan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih, Rasulullah SAW menunjuk seseorang untuk dijadikan pemimpin. 

Yang ketiga, aksi kesehatan. kalau yang ini aku suka. pernah sekali ikut ummi ke sebuah acara. disitu juga ada mentor ku, beliau ikut aksi kesehatan gratis(baca:relawan). aku diajak. ilmuku masih rendah soal kesehatan atau obat-obatan. jadi waktu praktek banyak bingungnya. hehe. aksi ini dilakukan dengan memberikan kesehatan gratis kepada masyarakat yang tidak mampu. para jilbaber(yang memiliki ilmu kesehatan) sangat tanggap sekali terhadap kesehatan masyarakat, terutama pada masyarakat kecil. mereka mendatangi suatu kota yang terpencil atau meluncur di TKP bencana alam. memberikan obat dan pemeriksaan kesehatan kepada mereka secara cuma-cuma. subhanallah.

mungkin masih ada aksi lagi*ada yang bisa menyebutkan?*
rohis. kerohanian islam. sebuah organisasi. sebagai sarana dakwah dan sarana merecharge ruhiyah. organisasi ini umumnya diikuti dengan kegiatan keagamaan(islam), seperti kajian, bakti sosial, memperingati hari besar(islam), dan sebagainya. tidak berbeda dengan organisasi lainnya, jabatan seperti ketua, wakil ketua, sekertaris, bendahara, dan anggota juga berlaku disini.  biasanya rohis itu tempatnya di SMA. kalau dikuliahan namanyaaa..(apa ya?) LDK kalau nggak salah. kapanjangannya lembaga dakwah kampus. hampir semua jilbaber aktif di organisasi ini. waktu pakaian putih-biru masih menjadi keseharianku, aku punya keinginan besar agar bisa menjadi salah satu diantara mereka. mengikuti jadwal keseharian mereka. dan kini, alahamdulillah Allah memberi kesempatan itu padaku. Remaja Masjid roudhoyul Ilmi, keluargaku di SMA. harapan kedepan, semoga tujuan dari organisasi ini berjalan dengan lancar. Amin.

mentoring/halaqoh/liqo'. sebuah forum kecil. diforum itu terdapat 1 orang yang disebut mentor. dialah yang menuangkan ilmunya pada a'dho/binaan/orang yang dimentori. yang lain adalah para a'dho yang menerima materi dari mentornya. mentoring ini biasanya diadakan 1 minggu sekali. para jilbaber juga aktif dalam forum ini. dan tidak sedikit diantara mereka  yang sudah duduk di pangkat mentor. dengan senang hati para jilbaber menuangkan ilmunya kepada a'dho mereka. dengan cara yang menyenangkan tentunya. jadi tidak heran jika para a'dho mencintai mentornya. bahkan mentor seakan-akan menjadi 'tong sampah' mereka. dan alhamdulillah sejak beberapa tahun yang lalu, Allah memberi nikmat kepadaku untuk mengikuti forum ini. kaerana keminiman ilmuku, jadi aku masih duduk sebagai a'dhonya murabbiku. Tapi mentorku pernah bercerita bahwa bukan hasil yang menjadi nilai untuk kita, tapi proses. sedikit curcol, sejak awal mengikuti mentoring, aku sudah menaruh hati dengan forum ini. selain rohis, mentoring juga mengandung unsur kekeluargaan. entah, rasanya berat jika meninggalkan sekali pertemuan mentoring ini kalau alasannya hanya karena malas.
itulah kegiatan-kegiatan para jilbaber.

menurut sifat. mereka ramah dengan semua saudaranya. ringan tangan terhadap apapun yang ada disekelilingnya. peduli.  lembut dalam tutur kata maupun perbuatan, tatapi mereka kuat dan tetap tegar mengahadapi berbagai cobaan yang menghadapi mereka. rendah hati, karena mereka sadar bahwa sombong hanyalah milik Allah. mereka punya semngat yang luar biasa dalam menimba ilmu dan amal soleh.

kalau menurut penampilan? yang pasti pakaian mereka menutup aurat dan sesuai syari'at islam.  tidak tabarruj jika berpenampilan. baju panjang+rok/gamis tidak ketat, kaos kaki dan seperti namanya, mereka menggunakan jilbab. untuk ukuran, silahkan dijawab sendiri, bagaimana jilbab yang syar'i itu.

tetapi ingat kawan. diawal aku sudah menuliskan, penampilan tidak menjelaskan arti sebenarnya. ada yang mengatakan 'ukuran jilbab tidak mengukur keimanan seorang akhwat'. tetapi.. ah, soal iman, hanyalah Allah yang mampu menjawab :)

untuk para jilbaber. aku mengagumimu.
dan untukku. sepertinya aku belum pantas jika disamakan denganmu. tapi tidak salah kan, jika aku ingin agar dapat menyamaimumu?

Wallahu a'lam bisshowab. mohon koreksiannya jika ada kekurangan :)

http://rohis.org/artikel/dari-anak-rohis/222-pesona-sang-jilbaber.html

Lengkapnya Klik DISINI

Izinkan Aku Membelamu Yaa Rasulullah

Hari itu Nasibah tengah berada di dapur. Suaminya, Said tengah beristirahat di kamar tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nasibah menebak, itu pasti tentara musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di sekitar Gunung Uhud.

Dengan bergegas, Nasibah meninggalkan apa yang tengah dikerjakannya dan masuk ke kamar. Suaminya yang tengah tertidur dengan halus dan lembut dibangunkannya. “Suamiku tersayang,” Nasibah berkata, “aku mendengar suara aneh menuju Uhud.
Barang kali orang-orang kafir telah menyerang.”

Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Ia menyesal mengapa bukan ia yang mendengar suara itu. Malah istrinya. Segera saja ia bangkit dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu ia menyiapkan kuda, Nasibah menghampiri. Ia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.

“Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang….”

Said memandang wajah istrinya. Setelah mendengar perkataannya seperti itu, tak pernah ada keraguan baginya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu makin mengobarkan keberanian Said saja.

Di rumah, Nasibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang pengendara kuda yang nampaknya sangat gugup.

“Ibu, salam dari Rasulullah,” berkata si penunggang kuda, “Suami Ibu, Said baru saja gugur di medan perang. Beliau syahid…”

Nasibah tertunduk sebentar, “Inna lillah…..” gumamnya, “Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah.”

Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat itu, Nasibah memanggil Amar. Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan, “Amar, kaulihat Ibu menangis? Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah syahid. Aku sedih karena tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat ibumu bahagia?”

Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.

“Ambilah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terbasmi.”

Mata amar bersinar-sinar. “Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi.
Aku was-was seandainya Ibu tidak memberi kesempatan kepadaku untuk membela agama Allah.”

Putra Nasibah yang berbadan kurus itu pun segera menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah. Tidak tampak ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. Di depan Rasulullah, ia memperkenalkan diri. “Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayah yang telah gugur.”

Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. “Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar. Allah memberkatimu….”

Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung sampai sore. Pagi-pagi seorang utusan pasukan islam berangkat dari perkemahan mereka meunuju ke rumah Nasibah. Setibanya di sana, perempuan yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita, “Ada kabar apakah gerangan kiranya?” serunya gemetar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, “apakah anakku gugur?”

Utusan itu menunduk sedih, “Betul….”

“Inna lillah….” Nasibah bergumam kecil. Ia menangis.

“Kau berduka, ya Ummu Amar?”

Nasibah menggeleng kecil. “Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatan? Saad masih kanak-kanak.”

Mendegar itu, Saad yang tengah berada tepat di samping ibunya, menyela, “Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putra seorang ayah yang gagah berani.”

Nasibah terperanjat. Ia memandangi putranya. “Kau tidak takut, nak?”

Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nasibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan itu.

Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan banyak nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, “Allahu akbar!”

Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nasibah. Mendengar berita kematian itu, Nasibah meremang bulu kuduknya. “Hai utusan,” ujarnya, “Kausaksikan sendiri aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diri yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.”

Sang utusan mengerutkan keningnya. “Tapi engkau perempuan, ya Ibu….”

Nasibah tersinggung, “Engkau meremehkan aku karena aku perempuan? Apakah perempuan tidak ingin juga masuk surga melalui jihad?”

Nasibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas saja menghadap Rasulullah dengan kuda yang ada. Tiba di sana, Rasulullah mendengarkan semua perkataan Nasibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan senyum. “Nasibah yang dimuliakan Allah. Belum waktunya perempuan mengangkat senjata. Untuk sementra engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur.”

Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nasibah pun segera menenteng tas obat-obatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur. Dirawatnya mereka yang luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba terciprat darah di rambutnya. Ia menegok. Kepala seorang tentara Islam menggelinding terbabat senjata orang kafir.

Timbul kemarahan Nasibah menyaksikan kekejaman ini. Apalagi waktu dilihatnya Nabi terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh, Nasibah tidak bisa menahan diri lagi. Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang rubuh itu. Dinaiki kudanya.
Lantas bagai singa betina, ia mengamuk. Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang. Hingga pada suatu waktu seorang kafir mengendap dari belakang, dan membabat putus lengan kirinya. Ia terjatuh terinjak-injak kuda.

Peperangan terus saja berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga Nasibah teronggok sendirian. Tiba-tiba Ibnu Mas’ud mengendari kudanya, mengawasi kalau-kalau ada korban yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu melihat seonggok tubuh bergerak-gerak dengan payah, segera mendekatinya. Dipercikannya air ke muka tubuh itu. Akhirnya Ibnu Mas’ud mengenalinya, “Istri Said-kah engkau?”

Nasibah samar-sama memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya, “bagaimana dengan Rasulullah? Selamatkah beliau?”

“Beliau tidak kurang suatu apapun…”

“Engkau Ibnu Mas’ud, bukan? Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku….”

“Engkau masih luka parah, Nasibah….”

“Engkau mau menghalangi aku membela Rasulullah?”

Terpaksa Ibnu Mas’ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah, Nasibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke pertempuran. Banyak musuh yang dijungkirbalikannya. Namun, karena tangannya sudah buntung, akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus. Rubuhlah perempuan itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.

Tiba-tiba langit berubah hitam mendung. Padahal tadinya cerah terang benderang. Pertempuran terhenti sejenak. Rasul kemudian berkata kepada para sahabatnya, “Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan? Itu adalah bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nasibah, wanita yang perkasa.”

Sumber: www.aswaja.net 
Share By: http://rabbani79.blogspot.com/
Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......