Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

Istriku... Berhentilah Mengeluh!

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

Inspirasi Rabbani ~ Kisah ini menceritakan sepasang suami istri yang memiliki tujuh orang anak. Suatuhari, suaminya melihat sang istri sedang menangis sambil memasak makanan.Melihat hal itu, suami bertanya, “Wahai Istriku, apa yang terjadi denganmu? Apa yang membuatmu menangis?”

“Aku menangis karena merasa sangat lelah dalam mengurus keluarga dan melakukan semua pekerjaan rumah,” sahutnya. “Aku mengurus tujuh anak kita dengan berbagaitabiat mereka. Aku harus menyediakan makanan, membereskan rumah, mencuci baju yang sangat banyak. Aku bekerja 24 jam sehari. Rasanya, aku tidak sanggup lagi untuk melakukan semua ini.

”Sang suami tersenyum. “Apa yang harus aku lakukan?” tanyanya.“Tolong carikan aku budak perempuan yang dapat membantuku mengurus semuanya.”“Tentu saja, aku akan mencarikannya. Tapi,tolong dengarkan aku sebentar saja,” kata sang suami sambil membelai istrinya dengan penuh kasih sayang.

“Allah senantiasa membantu hamba-Nya yang tidak pernah berputus asa dan ikhlas dalam mengerjakan apa pun yang mengandung kebaikan. Kau adalah seorang istri yang sangat sabar dalam menjaga keluargamu, seorang ibu yang menjadi teladan bagi ketujuh anakmu, dan menjadi pendampingku yang salihah dengan beratnya tugas-tugasmu.

Aku bisa saja mencarikan seorang Pembantu untuk meringankan pekerjaanmu. Namun, jika kau tetap mengerjakan semua kebaikan ituuntuk keluarga kita maka Allah akan menghapus semua salah dan dosamu.” Ujar suaminya.

Sang suami kemudian berkata lagi, “Istriku yang salihah, perempuan yang tidak pernah lelah menjaga keluarganya dan ikhlas dengan apa yang dilakukannya, Allahakan menetapkan setiap butiran keringatnya menjadi kebaikan yang dapat melebur keburukannya sekaligus mengangkat derajatnya.

”Sang Suami membelai Istrinya yang masih terisak menahan malu, lalu diajaknya duduk santai di ruang dapur mungil yang sangat sederhana itu, lalu Sang Suami melanjutkan nasehatnya,“ coba ingat kembali Wasiat Rosulullah SAW kepada Fatimah putri Beliau, yang dipersunting Ali Bin Abi Thalib yang sangat miskin, yang ketika itu juga sedang mengeluh kepada Ayahnya Rosulullah SAWkarena tangannya yang dulunya halus kini berubah menjadi kasar dan lecet-lecet karena setiap hari harus menumbuk gandum sendiri, mengolah dan memasaknya. Ada 10 WASIAT Beliau kepada Putrinya :

1. Wahai Fatimah ! Sesungguhnya wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, kelak Allah akan tetapkan baginya kebaikan dari setiap biji gandum yang diadonnya, dan juga Allah akan melebur kejelekan serta meningkatkan derajatnya.

2. Wahai Fatimah ! Sesungguhnya wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya Allah akan menjadikan antara neraka dan dirinya tujuh tabir pemisah.

3. Wahai Fatimah ! Sesungguhnya wanita yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirnya dan kemudian mencuci pakaiannya, maka Allah akan tetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.

4. Wahai Fatimah ! Sesungguhnya wanita yang membantu kebutuhan tetangga-tetangganya, maka Allah akan membantunya untuk dapat meminum Telaga Kautsar pada hari kiamat nanti.

5. Wahai Fatimah ! Yang lebih utama dari seluruh keutamaan di atas adalah keridhaan suami terhadap istri. Andaikata suamimu tidak ridha kepadamu,maka aku tidak akan mendoakanmu. Ketahuilah Fatimah, Kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.

6. Wahai Fatimah ! Disaat seorang wanita hamil, maka malaikat memohonkan ampunan baginya, danAllah tetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan, serta melebur seribu kejelakan. Ketika seorang wanita merasa sakit akan melahirkan, maka Allah tetapkan pahala baginya sama dengan pahala para Pejuang Allah. Disaat seorang wanita melahirkan kandungannya,makabersihlah dosa-dosanya seperti ketikadia dilahirkan dari kandungan ibunya. Disaat seorang wanita meninggal karena melahirkan, maka dia tidak akan membawa dosa sedikit pun, didalam kubur akan mendapat taman yang indah yang merupakan bagian dari taman surga. Allah memberikan padanya pahala yang sama dengan pahala seribu orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.

7. Wahai Fatimah! Disaat seorang istri melayani suaminya selama sehari semalam, dengan rasa senang dan ikhlas, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya dihari kiamat berupa pakaian yang serba hijau, dan menetapkan baginyasetiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Allahpun akan memberikan kepadanya pahala seratus kali ibadah haji dan umrah.

8. Wahai Fatimah! Disaat seorang istri tersenyum dihadapan suaminya, maka Allah akan memandangnya dengan pandangan penuh kasih.

9. Wahai Fatimah! Disaat seorang istri membentangkan alas tidur untuk suaminya dengan rasa senang hati, maka para malaikat yang memanggil dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.

10. Wahai Fatimah! Disaat seorang wanita meminyaki kepala suami dan menyisirnya,meminyaki jenggotnya dan memotong kumisnya serta kuku-kukunya, maka Allah akan memberi minuman yang dikemas indah kepadanya, yang didatangkan dari sungai-sungai surga.

Allah pun akan mempermudah sakaratul maut baginya, serta menjadikan kuburnya bagian dari taman surga. Allah pun menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shirathal mustaqim dengan selamat.Istrinya pun menangis karena merasa malu. Sejak itu, dia tak pernah lagi mengeluh.

Subhaanallah, wasiat ini merupakan mutiara termahal nilainya, khususnya bagi setiap istri yang mendambakan kesalehan.Betapa Agung dan Mulianya Posisi Wanita dalam rumah tangga ketia ia rela dan ikhlas menjalani Fitrahnya sebagai seorang Istri.

Lengkapnya Klik DISINI

Pelajaran Tentang Jihad Siyasi dari Sirah Perjanjian Hudaibiya

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

sirahOleh: H.Khozin Abu Faqih, Lc.

Pada bulan Dzul Hijjah tahun 6 Hijriah, Rasulullah saw. bersama isteri beliau Ummu Salamah dan sekitar 1400 shahabat berangkat menuju ke Makkah untuk melakukan Umrah. Mereka tidak membawa senjata, kecuali yang biasa dibawa oleh para musafir, yaitu pedang yang berada di sarungnya. Juga membawa binatang sembelihan “Al-Hadyu” untuk meyakinkan masyarakat, bahwa kaum muslimin benar-benar ingin melakukan Umrah.

Ketika tercium berita bahwa kaum musyrikin hendak menghadang kaum muslimin, maka beliau mengutus Utsman bin Affan untuk menjelaskan kepada para pemuka Quraisy tentang tujuan kedatangan kaum muslimin ke Makkah. Akan tetapi, tersiar berita bahwa Utsman terbunuh, maka Rasulullah saw. membai’at para shahabat di bawah pohon. Bai’at itu dikenal dengan nama Bai’atur Ridlwan.

Quraisy yang mengetahui kondisi tersebut, segera mengutus Suhail bin Amr untuk membuat perjanjian damai dengan kaum muslimin. Perjanjian damai inilah yang dikenal dengan nama “Shulhu Hudaibiyah.” Perdamaian ini memberi banyak pelajaran kepada para aktivis dakwah di sepanjang masa, antara lain sebagai berikut.
  1. Sikap akomodatif jauh lebih bermanfaat daripada konfrontatif, di mana sebelum perdamaian ditandatangani, Rasulullah saw. menyatakan dengan sumpah,
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ يَسْأَلُونِي خُطَّةً يُعَظِّمُونَ فِيهَا حُرُمَاتِ اللَّهِ إِلاَّ أَعْطَيْتُهُمْ إِيَّاهَا

“Demi Dzat Yang jiwaku di Tangan-Nya, tidaklah mereka meminta sesuatu hal yang menyebabkan mereka mengagungkan kemuliaan Allah swt., kecuali aku akan memberikan sesuatu tersebut.” (HR. Bukhari)

Ibnu Hajar menjelaskan dalam Fathul Baari bahwa yang dimaksud “Mereka mengagungkan kemuliaan Allah swt.” adalah meninggalkan perang di tanah Haram. Sedangkan, dalam riwayat Ibnu Ishaq dinyatakan, “Mereka meminta kepadaku sesuatu yang dapat meyambung kekerabatan.” Pernyataan itu menegaskan bahwa beliau lebih memilih perdamaian daripada perang.
  1. Menghapuskan beberapa hal yang tidak subtansial secara administratif, demi tercapainya perdamaian dan kebersamaan.
“…Maka Rasulullah saw. memanggil juru tulis (dalam riwayat lain Ali bin Abi Thalib ra.), kemudian bersabda, “Tulislah ‘bismillahir rahmanir rahim’.” Suhail (delegasi Quraisy) berkata, “Adapun Ar-Rahman, maka demi Allah aku tidak mengenalnya. Oleh karena itu, tulislah, Bismika Allahumma, sebagaimana yang kamu tulis.” Para shahabat berkata, “Demi Allah, kami tidak akan menulis, kecuali Bismillahir rahmanir rahim.” Nabi saw. bersabda, “Tulislah, Bismika Allahumma.” Kemudian beliau melanjutkan sabdanya, “Ini yang telah diputuskan oleh Muhammad Rasulullah.” Suhail berkata, “Demi Allah, kalau kami mengetahui bahwa kamu Rasul Allah, maka kami tidak akan menghalang-halangimu dari baitullah dan tidak akan memerangimu. Tulislah, ‘Muhammad bin Abdillah’.” Nabi saw. bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar Rasul Allah, meski kalian mendustakan aku. Tulislah, ‘Muhammad bin Abdillah’.” (HR. Bukhari)

Az-Zuhri mengatakan, “Inilah yang dimaksud oleh ucapan Rasulullah saw., ‘Demi Dzat Yang jiwaku di Tangan-Nya, tidaklah mereka meminta sesuatu hal yang menyebabkan mereka mengagungkan kemuliaan Allah swt., kecuali aku akan memberikan sesuatu tersebut’.” (HR. Bukhari)

Penggalan sirah ini menggambarkan bahwa Rasulullah saw. rela menghapus tulisan Nama Allah Ar-Rahman dari teks perjanjian, demi tercapainya kesepatakan. Beliau juga menghapus tulisan Rasulullah saw. dan menggantinya dengan nama asli, Muhammad bin Abdillah, demi terwujudnya perdamaian. Karena penghapusan tulisan tersebut tidak mempengaruhi keyakinan kaum muslimin dan tidak mereduksi keimanan mereka sedikit pun. Ini hanya urusan administrasi antara kaum muslimin dan kaum Quraisy, serta strategi perjuangan. Bukan subtansi aqidah dan keimanan.
  1. Tidak hanya memandang kepentingan jangka pendek, tetapi memandang kepentingan dakwah ke depan yang lebih luas. Meski untuk itu harus mengorbankan sebagian kepentingan jangka pendek.
Ketika butir perjanjian keempat tengah dibahas, “Jika ada orang Quraisy yang melarikan diri ke Muhammad, tanpa seizin walinya, maka Muhammad mengembalikannya kepada Quraisy. Sebaliknya, jika pengikut Muhammad melarikan diri ke Quraisy, maka mereka tidak perlu mengembalikannya kepada Muhammad.” Saat itu datanglah Abu Jandal bin Suhail dengan menyeret belenggu yang mengikatnya. Ia berjalan dari ujung Makkah, lalu melemparkan diri di tengah kaum muslimin. Melihat itu, Suhail berkata, “Ini orang pertama yang aku tuntut untuk dikembalikan.”

Suhail mengatakan, “Kalau begitu, demi Allah, aku tidak akan menuntut apa pun kepadamu untuk selamanya.”

Rasulullah saw. berkata, “Kalau begitu, izinkan dia untukku.”

Suhail berkata, “Aku tidak akan memberi izin padanya untukmu.” Kemudian Suhail memukul wajah Abu Jandal dan menarik kerah bajunya, untuk dikembalikan kepada kaum musyrikin. Maka Abu Jandal berteriak dengan keras, “Wahai kaum muslimin, apakah aku akan dikembalikan kepada kaum musyrikin, agar mereka menyiksaku karena agamaku?”

Rasulullah saw. menjawab, “Wahai Abu Jandal, bersabarlah dan mohonlah pahala dari Allah. Sesungguhnya Allah akan memberikan jalan keluar kepadamu dan orang-orang yang tertindas sepertimu. Kami telah mengikat perdamaian dengan mereka, dan kami tidak akan menghianatinya.”
  1. Rasulullah saw. membatalkan keinginannya dan keinginan para shahabat untuk Umrah, meski persiapan untuk itu telah maksimal. Bahkan para shahabat sudah siap bertempur hingga titik darah penghabisan. Ini semua dilakukan oleh Rasulullah saw. demi menjaga perdamaian dan menghindari pertempuran.
Pada awalnya para shahabat tercengang dengan keputusan Rasulullah saw., namun, ketercengangan mereka bukan karena kepentingan pribadi, tetapi karena semangat keagamaan dan kemaslahatan bagi dakwah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Umar bin Khathab ra., “Maka aku menemui Rasulullah saw. dan bertanya, ‘Bukankah engkau benar-benar Nabi Allah?’

Beliau menjawab, ‘Benar.’

Aku bertanya, ‘Bukankah kita berada di pihak yang benar dan musuh kita di pihak yang batil?’

Beliau menjawab, ‘Benar.’

Aku berkata, ‘Lalu mengapa kita menimpakan kehinaan pada agama kita?’

Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya aku ini Rasul Allah; aku tidak akan durhaka kepada-Nya dan Dia akan menolong-ku.’

Aku bertanya, ‘Bukankah engkau berkata kepada kami bahwa kita akan datang ke Baitullah dan berthawaf?’

Beliau menjawab, ‘Benar, tetapi apakah aku mengatakan padamu bahwa kita akan datang ke Baitullah tahun ini?’

Aku menjawab, ‘Tidak.’

Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya kamu akan datang ke Baitullah dan thawaf di sekitarnya’.”
Bahkan kekagetan mereka benar-benar luar biasa, sehingga ketika diperintahkan oleh Rasulullah saw. untuk menyembelih binatang sembelihan dan mencukur rambut, tidak ada yang menyambut, sampai akhirnya dicontohkan oleh beliau sendiri. Kemudian, mereka berlomba meniru beliau. Kekagetan mereka itu disebabkan oleh beberapa hal, antara lain sebagai berikut.

Pertama, mereka telah bersiap maksimal untuk melakukan Umrah dan Rasulullah saw. melakukan mobilisasi besar-besaran, sehingga tidak ada yang tertinggal di Madinah, kecuali yang mendapat tugas, kaum wanita, anak-anak, dan kaum munafikin.
 
Kedua, ketika ada ancaman perang, mereka telah berjanji setia untuk membela Islam, hingga titik darah penghabisan. Sebagaimana dalam Bai’atul Ridlwan.

Ketiga, isi perjanjian damai seolah-olah merugikan kaum muslimin, bahkan menghinakan mereka.
Meski demikian, ketika sudah menjadi keputusan, maka mereka kembali normal dan menerima kebijakan, hingga Allah swt. menurunkan ketenangan kepada hati mereka dan mengkaruniakan kemenangan besar kepada mereka.

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak). Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Al-Fath: 1-4)

Perdamaian Hudaibiyah ini merupakan kemenangan nyata dan pengantar kemenangan-kemenangan besar setelahnya. Di antara bentuk kemenangan perdamaian ini adalah sebagai berikut.

Pertama, kemenangan dakwah. Karena dengan perdamaian ini manusia mendapatkan rasa aman, sehingga orang lebih rasional. Maka Islam lebih berpeluang mengisi akal fikiran dan hati manusia, sehingga dalam kurun waktu dua tahun jumlah kaum muslimin bertambah secara spektakuler. Ibnu Hisyam menyatakan bahwa pada saat Hudaibiyah Rasulullah saw. berangkat bersama 1400 shahabat, sedang dalam fathu makkah dua tahun setelahnya beliau berangkat bersama 10.000 pasukan. Di antara yang masuk Islam di masa itu adalah Khalid bin Walid ra. dan Amr bin Ash ra. Az-Zuhri mengatakan, “Islam belum pernah mendapatkan kemenangan yang melebihi kemenangan tersebut.

Kedua, optimalisasi potensi kaum muslimin untuk meluaskan territorial dakwah. Sebab perjanjian itu dapat mengurangi tekanan dan ancaman kekuatan musuh (terutama Quraisy), sehingga kaum muslimin dapat lebih leluasa membebaskan Jazirah Arab dari sisa-sisa Yahudi yang selalu berkhianat. Pada tahun 7 Hijrah terjadilah perang Khaibar, di mana kaum muslimin mendapatkan rampasan perang besar. Rampasan itu hanya diberikan kepada kaum muslimin yang ikut perjanjian Hudaibiyah.

Ketiga, pengakuan eksistensi kekuasaan Islam. Ustadz Muhammad ‘Izzah Darwazah mengatakan dalam sirahnya, “Tidak diragukan bahwa perjanjian damai yang dinamai oleh Al-Qur’an kemenangan yang agung ini, benar-benar berhak mendapatkan nama tersebut. Bahkan dapat dikatakan bahwa peristiwa itu merupakan fase penentu dalam sirah nabawiyah, sejarah Islam dan kekuatannya, atau dengan kata lain peristiwa terbesar sepanjang sejarah. Sebab Quraisy mengakui Nabi, Islam, serta eksistensi dan kekuatan keduanya. Mereka juga menganggap Nabi dan Islam sebagai rival yang sebanding.”

Kaum Badui dan kaum munafiqin pun semakin segan dan takut dengan kekuasaan kaum muslimin. Sebab pada saat berangkat Umrah, mereka menyangka bahwa Muhammad saw. dan shahabatnya tidak akan pulang ke Madinah dengan selamat. Ternyata, mereka kembali ke Madinah dengan mendapat pengakuan dari Quraisy.

Keempat, kematangan kaum muslimin. Sebab dengan peristiwa Hudaibiyah, para shahabat semakin tsiqah dengan pimpinannya, semakin mantab dengan fikrahnya, dan semakin yakin dengan kebersamaan Allah swt. bersama mereka. Kematangan itu tergambar di bai’atur ridlwan dan tergambar secara jelas di penghujung Surat Al-Fath,

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Fath: 29)


Lengkapnya Klik DISINI

D U N I A Y A N G T E R B A L I K

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!
 
Indonesia mayoritas Islam, tapi, yang paling disudutkan Muslim.

Lebih serem yang pake cadar, dari pada yang pake rok mini.

Lebih serem orang berjenggot, dari pada yang tatoan.

Pake baju tauhid ditangkep, pake baju PKI gapapa.

Lebih curiga sama yang rajin ibadah di mesjid, dari pada orang yang mabok-mabokan dan judi.

Diduga teroris langsung tembak, bandar Narkoba Internasional bisa di nego.

Lebih mentolelir aliran sesat, dari pada syariat.

Dunia sudah kebolak balik?

Yang nyunnah – radikal
Yang nyeleneh – toleran

Yang jilbab syar’i – ekstrem
Yang ga pake jilbab – cantik

Yang menikah lagi - Penjahat
Yang main pelacur - Biasa lelaki

Yang muda sholat 5 waktu – Waspadai
Yang muda ga sholat – masih muda

Yang jenggotan rajin ke masjid – teroris
Yang jenggotan rajin dugem – keren

Yang ke majelis ta’lim pekanan – Fanatik
Yang ke bioskop harian – gaul

Yang hapal Al Qur’an 30 juz – militan
Yang hapal banyak musik – hebat

Yang anaknya di jilbabin – Keterlaluan, melanggar HAM
Yang anaknya pake rok mini – imutnya

Yang pakai baju koko – sok alim
Yang ga pake baju – jantan

Yang hariannya bicara Islam – sok ustadz
Yang hariannya ghibah – up to date

Media islam – radikal
Media porno – kebutuhan
.
Buka Mata Hati Anda hai manusia!
ﺑَﺪَﺃَ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡُ ﻏَﺮِﻳﺒًﺎ ﻭَﺳَﻴَﻌُﻮﺩُ ﻛَﻤَﺎ ﺑَﺪَﺃَ ﻏَﺮِﻳﺒًﺎ ﻓَﻄُﻮﺑَﻰ ﻟِﻠْﻐُﺮَﺑَﺎﺀِ

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.”
(HR. Muslim no. 208)

Sahabat bertanya siapa kah orang asing itu,

Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab:
Mereka ialah orang-orang yang senantiasa melakukan kebaikan di tengah kerusakan.
(HR. Ahmad) .

Dan ingatlah bahwa kalian semua PASTI MATI dan hanya kepada Allah Tabaroka wa Ta'āla kalian akan kembali serta dimintai pertanggung jawaban atas segala perbuatan kalian
Maka segeralah bertobat selagi masih ada kesempatan..

sumber fb
Lengkapnya Klik DISINI

Catatan Sejarah: Ramadhan Adalah Bulan Jihad dan Kemenangan

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

 
Ramadhan adalah anugerah Allah swt kepada orang-orang beriman. Dan seringkali kemenangan pada peristiwa-peristiwa besar, Allah anugerahkan di bulan mulia ini.

Ramadhan bukan bulan untuk santai apalagi loyo dan lunglai. Bukti sejarah menunjukan bulan Ramadhan adalah bulan Jihad dan Kemenangan bagi Umat Islam.

Berikut beberapa diantaranya yang diringkas dari berbagai sumber:

1. Perang Badar-Ramadhan 2 H

Perang Badar adalah peperangan besar pertama Rasulullah SAW dan kaum muslimin. Perang yang sangat krusial bagi eksistensi Umat Islam. Sampai-sampai saat perang Badar hendak berkecamuk, manusia paling mulia Rasulullah SAW berdoa:

"Ya Allah, penuhilah untukku apa yang Kau janjikan kepadaku. Ya Allah, berikan apa yang telah Kau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau biarkan pasukan Islam ini binasa, tidak ada lagi yang menyembah-Mu di muka bumi ini."

Kalimat terakhir pada doa diatas jelas menggambarkan suasana kebatinan Rasulullah yang memaknai perang ini sebagai "perang eksistensi".

Bagaimana tidak, inilah perang besar pertama pasca hijrah dengan jumlah pasukan yang tidak sebanding, 300-an di pihak kaum muslimin dan1000-an di pihak kafir quraisy.

Dengan strategi pengusaaan sumber air, atas usul seorang sahabat, Hubaib bin al-Mundzir, Allah swt memenangkan kaum muslimin dalam peperangan ini.

Kemenangan yang mengangkat moral dan spirit kaum muslimin, sekaligus merontokkan mental dan membuat malu suku quraisy yang selama ini dikenal piawai dalam berperang. Apalagi salah seorang pembesar mereka, Abu Jahal, tewas diujung tombak dalam perang ini.

2. Fathu Makkah - Ramadhan 8 H

Delapan tahun setelah 'terusir' dari tanah kelahiran, akhirnya kaum muslimin yang dipimpin Rasulullah SAW kembali ke Makkah dengan kemenangan.

Namun yang paling tidak disangka oleh kaum kafir quraisy, bahkan oleh beberapa orang sahabat, adalah pidato Rasulullah pada saat berhasil memasuki kota Makkah dengan kemenangan:

"Hadza laisa yaumil malhamah, walakinna hadza yaumul marhamah, wa antum thulaqa…

(Hari ini bukan hari pembantaian, melainkah hari kasih sayang, dan kalian semua dimaafkan (serta merdeka) untuk kembali kepada keluarga masing-masing.)

Inilah "Hari Kasih Sayang" yang sesungguhnya, yang membuat kaum kafir quraisy berbondong-bondong memeluk Islam.

Amru bin Salimah berkata, “Kaum Arab menunda keislaman mereka karena menanti fathu makkah. Maka tatkala terjadi fathu makkah, setiap kabilah bersegera masuk Islam dan bapakku segera mendahului kaumku masuk Islam."

3. Penaklukan Andalusia - Ramadhan 92 H

Thariq bin Ziyad ( طارق بن زياد), dikenal dalam sejarah Spanyol sebagai legenda dengan sebutan Taric el Tuerto (Taric yang memiliki satu mata), adalah seorang jendral dari dinasti Umayyah yang memimpin penaklukan muslim atas wilayah Al-Andalus (Spanyol, Portugal, Andorra, Gibraltar dan sekitarnya) pada tahun 711 M.

Musim panas tahun 711 M (92 H), Thariq bin Ziyad berangkat menuju Al-Andalus. Pada tanggal 29 April 711 (6 Rajab 92 H), pasukan Thariq mendarat di Gibraltar (nama Gibraltar berasal dari bahasa Arab, Jabal Tariq yang artinya Gunung Thariq). Setelah pendaratan, ia memerintahkan untuk membakar semua kapal dan berpidato di depan anak buahnya untuk membangkitkan semangat mereka:
.... أيّها الناس، أين المفر؟ البحر من ورائكم، والعدوّ أمامكم، وليس لكم والله إلا الصدق والصبر

 "Wahai sekalian manusia (pasukan Tariq), kemana kalian pergi? tidak ada jalan untuk melarikan diri! Laut di belakang kalian, dan musuh di depan kalian: Demi Allah, tidak ada yang dapat kalian sekarang lakukan kecuali bersungguh-sungguh penuh keikhlasan dan kesabaran."

Pasukan Tariq menyerbu wilayah Andalusia di musim panas tahun 711 berhasil meraih kemenangan yang menentukan atas kerajaan Visigoth, di mana rajanya, Roderick terbunuh pada tanggal 19 Juli 711 (28 Ramadhan 92 H) dalam pertempuran Guadalete. Setelah itu, Thariq menjadi gubernur wilayah Andalusia.

4. Perang Salib - Ramadhan 584 H

Salahsatu episode dalam perang perang salib adalah pertempuran di Hittin yang terjadi akibat salahsatu faksi dalam koalisi salib melanggar perjanjian damai dengan kaum muslimin.

Faksi Chattilon pimpinan Reynald membunuh rombongan peziarah dari Damaskus, termasuk saudara perempuan Shalahuddin al-Ayyubi. Bahkan mereka juga menyiapkan pasukan untuk menyerang kota suci Makkah.

Koalisi tentara salib yang didatangkan dengan jumlah besar dari Eropa bertemu dengan pasukan Shalahuddin di kota Hittin yg saat itu tengah memasuki musim panas.

Tidak terbiasa dengan cuaca panas gurun ditambah baju perang yang terbuat dari besi membuat pasukan salib tidak leluasa dan kewalahan menghadapi kelincahan kuda-kuda Yaman yang ditunggangi pasukan Shalahuddin.

Dalam perang ini, Reynald de Chattilon, yang dulu membunuh saudara perempuan Shalahuddin, berhasil dipenggal.

Kemenangan di Hitiin ini menjadi pembuka jalan bagi pasukan Shalahuddin untuk merebut kembali Yerussalem (Palestina) ke pangkuan kaum muslimin, sebagaimana sebelumnya pernah dibebaskan oleh Khalifah Umar bin Khattab.

5. Perang 'Ain Jalut - Ramadhan 685 H

Siapa yang tidak gentar mendengar nama Hulagu Khan dan tentara Mongol-nya pada masa itu? Kekejaman dan kebengisan mereka terkenal di seantero barat (tentara salib) dan timur (tentara muslim).

Merek lah yang telah menghancurkan kekuasaan Bani Abbasiyah di Baghdad, sebagai pusat peradaban Islam, dengan pembantaian paling biadab dalam sejarah dunia.

Jutaan tengkorak kaum muslimin ditumpuk menjadi bukit sebagai peringatan bagi negeri-negeri lain yang tidak mau tunduk kepadanya.

Dari semua negeri-negeri muslim, hanya tinggal 3 negeri saja yang belum ditaklukan: Makkah, Madinah, Mesir.

Seraya mengirim surat melalui utusannya, Hulagu Khan mengancam penguasa Mesir, Syaifuddin al-Quthuz, untuk menyerah atau merasakan pembantaian berikutnya.

Syaifuddin kecil adalah mantan budak yang diperjualbelikan setelah keluarganya dibantai oleh tentara mongol. Maka inilah saatnya membalas kebiadaban mereka yang telah membantai keluarga dan jutaan kaum muslimin lainnya.

Syaifuddin al-Quthuz menyongsong pasukan mongol di luar Mesir, tepatnya di daerah 'Ain Jalut (wilayah Palestina) pada Ramdhan 685 H.

Pada hari ke-25, pasukan Mongol berhasil dipukul mundur. Dan pada hari ke-30 Ramadhan, Damaskus berhasil direbut kembali.

Dengan kekalahan ini pupuslah ambisi Hulagu Khan utk menguasai semua wilayah muslim. Dan akhirnya Mesir tumbuh sbg pusat peradaban Islam berikutnya, menggantikan Baghdad yg telah porak poranda.

6. Kemerdekaan Indonesia- Ramadhan 1364 H

Lebih dari 350 tahun, negeri muslim terbesar di dunia ini silih berganti dijajah oleh negara-negara kristen, mulai dari Portugis, Belanda, hingga negeri penyembah matahari, Jepang.

Perlawan gagah berani dan pantang menyerah yang dipelopori oleh para ulama sepanjang zaman di negeri ini akhirnya membuahkan hasil pada 9 Ramadhan 1364 H atau bertepatan dgn 17 Agustus 1945 dengan Proklamasi Kemerdekaan RI oleh Soekarno-Hatta.

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

(portalpiyungan.com)
Lengkapnya Klik DISINI

Turki: Kebijakan Kami Belum dan Tidak Akan Pernah Berubah Terhadap Palestina

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

palestine-614x220
Jurubicara Kepresidenan Turki Abraham Kaln, Selasa (28/6), menegaskan bahwa kebijakan negaranya terhadap Palestina belum dan tidak akan berubah, pasca kesepahaman antara Turki dan Israel terkait dengan masalah normalisasi hubungan kedua belah pihak.
Abraham mengatakan, “Sikap-sikap Turki tetap, terkait dengan diakhirinya pendudukan Israel, kemerdekaan Palestina, perbaikan situasi hidup penduduk Jalur Gaza dan solusi isu Palestina melalui pendirian dua negara Palestina dan Israel.”

Seperti dikutip kantor berita Anadolu, Abraham menjelaskan bahwa negaranya akan terus membela hak-hak rakyat Palestina di seluruh forum internasional. Dia memprediksi bahwa dimulainya kembali hubungan diplomasi antara Ankara dan Tel Aviv akan menjadi sarana untuk menambah peran Turki dalam menyelesaikan persoalan Palestina dan menjamin kebutuhan sehari-hari penduduk Jalur Gaza.”

Dia mengingatkan bahwa lamanya waktu yang dibutuhkan pembicaraan Turki dan Israel, hasilnya adalah kegigihan negaranya untuk mewujudkan tuntutannya terhadap dengan normalisasi hubungan. Penandatanganan kesepahaman ini terjadi setelah terwujud semua persyaratan yang diminta dan dituntut oleh Turki.

Abraham melanjutkan, “Hasil positif kesepahaman ini akan berdampak bagi saudara-saudara di Palestina. Kapal bantuan pertama akan bertolak hari Jum’at ini dari pelabuhan propinsi Mersin menuju Jalur Gaza. Kapal ini bukan satu-satunya yang akan menuju Jalur Gaza, namun akan disusul kapal-kapal lain dari waktu ke waktu.”

Hubungan antara Turki dan Israel menegang setelah pasukan komando angkatan laut penjajah Zionis menyerang armada kebebasan “Freedom Flotilla” yang membawa bantuan kemanudiaan pada 31 Mei 2010 lalu. Serangan yang terjadi di perairan internasional ini mengakibatkan 9 aktivis Turki gugur yang saat itu berada di atas kapal Mavi Marmara, sementara itu beberapa yang lainnya meninggal akibat luka yang dialami dalam serangan tersebut. 
 
 sumber

Lengkapnya Klik DISINI

Ramadhan Menjelang Garis Finis

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

Lailatul QadarSobat, yuk kita introspeksi, apa hasil dari shaum Ramadhan yang sudah kita laksanakan dari hari pertama hingga sudah melewati pekan ketiga ini? Jika shaum Ramadhan membuat kita makin takwa, bersyukurlah. Tadinya gampang bohong ke orang lain, tetapi setelah shaum Ramadhan yang dijalani sampai hari ini, kita takut dosa sehingga tak mau berbohong lagi. Ini termasuk berhasil menjadi salah satu bagian dalam hidup kita dalam meraih ketakwaan setelah shaum Ramadhan. Insya Allah.

Ada banyak orang mengistilahkan semangat meraih pahala di bulan Ramadhan, seperti perlombaan. Ibarat lomba maraton, peserta awal tuh banyak banget. Biasanya kalo lomba maraton itu jaraknya lumayan jauh, minimal 10 KM, bahkan bisa lebih. Jumlah peserta yang melimpah dan jarak yang jauh memungkinkan banyak peserta berguguran selama perjalanan. Ada yang di awal doang semangatnya, ada yang di tengah jalan kendur, dan bahkan ada yang menjelang garis finis malah KO. Mereka yang menang lomba maraton, selain karena kesungguhan dan harapan untuk meraih yang terbaik, juga karena daya tahan. Itu beberapa kunci sukses.

Bagaimana dengan shaum? Kunci yang tadi ditambah dengan niat ikhlas karena Allah Ta’ala, caranya benar sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dorongan keimanan inilah yang kemudian bisa membuat kita kuat daya tahannya dalam menjalani shaum Ramadhan. Coba aja lihat, malam pertama tarawih yang datang ke masjid untuk shalat banyak banget. Saya aja pernah tuh kebagian tempatnya di luar ruangan utama. Seneng aja. Sebab, selain Ramadhan seperti biasa masjid sepi peminat. Malam-malam berikutnya mulai tuh ada satu dua yang mulai nggak ke masjid. Seminggu berlalu, jumlahnya terus berkurang. Shaf makin maju. Walhasil, tadi malam saja, di malam yang ke-22 yang tersisa masih mending ada dua shaf juga, daripada nggak ada. Padahal, masjid luas banget. Duh!

Mereka yang masih bertahan semoga mendapatkan kebaikan dan keberkahan yang banyak dari Allah Ta’ala. Daya tahan untuk melaksanakan kewajiban adalah salah satu poin penting bagi seorang muslim. Sebab, betapa banyak pemuda yang gagah tapi ke masjid untuk shalat berjamaah aja malas. Sebaliknya, banyak orang tua yang sudah usia lanjut tetap ke masjid meski secara fisik pastinya mulai lemah. Keimananlah yang membedakan di antara keduanya. So, di sepuluh terakhir bulan Ramadhan ini kita kejar target untuk mendapatkan pahala yang lebih besar. Yuk, semangat!

Iman sebagai daya tahan

Sobat, dalam surah al-Baqarah ayat 183 yang di bulan Ramadhan jadi ‘trending topic’ karena sering disebut dan disampaikan dalam berbagai ceramah, hakikat melaksanakan shaum Ramadhan adalah untuk meraih takwa, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS al-Baqarah [2]: 183)

Nah, coba perhatikan permulaan ayatnya, Bro en Sis. Di situ kan yang dipanggil adalah orang-orang yang beriman. Why? Saya pernah dapetin keterangan saat ikut pengajian. Dijelaskan oleh ustaznya bahwa orang yang beriman itu lembut hatinya. Jadi, mudah untuk melaksanakan perintah Allah Ta’ala. Waktu itu saya tertegun dan berpikir, berarti kebalikannya adalah, kalo kita merasa berat melaksanakan perintah Allah Ta’ala berarti ada sesuatu yang aneh dengan keimanan kita, bisa masih lemah, bisa juga ada kemungkinan udah tipis banget. Introspeksi yuk!

Kita insya Allah bisa mengukur diri, sejauh ini apakah kita udah kuat atau belum keimanannya, udah mantep belum keyakinan kepada Allah Ta’ala. Jika iman sudah kuat, daya tahannya juga oke, lho. Maka, ketakwaan akan didapat. Shaum Ramadhan itu adalah kewajiban kaum muslimin. Syarat dan ketentuannya berlaku. Kalo kita merasa enjoy, bahkan antusias melaksanakan shaum Ramadhan, insya Allah kita termasuk orang-orang yang beriman dan akhirnya ketakwaan kita tumbuh makin kokoh.

Mengenal tauhid

Eh, apa hubungannya pembahasan Ramadhan dengan tauhid? Tentu saja ada. Saya rangkumkan aja ya dari pembahasan di website muslimah.or.id (yang mengutip dari al-Qaulul Mufiiid, jilid  I, halaman 7-10). Pembagian yang populer di kalangan ulama adalah pembagian tauhid menjadi tiga yaitu tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat. Pembagian ini terkumpul dalam firman Allah dalam al-Quran:

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً

“Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (QS Maryam [19]: 65)

Perhatikan ayat di atas:

Pertama, dalam firman-Nya (رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ) (Rabb (yang menguasai) langit dan bumi) merupakan penetapan tauhid rububiyah.

Kedua, dalam firman-Nya (فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ) (maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya) merupakan penetapan tauhid uluhiyah.

Ketiga, dan dalam firman-Nya (هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً) (Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia?) merupakan penetapan tauhid asma’ wa shifat.

Berikut penjelasan ringkas tentang tiga jenis tauhid tersebut. 

Pertama, tauhid rububiyah. Maknanya adalah mengesakan Allah dalam hal penciptaan, kepemilikan, dan pengurusan. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah:

أَلاَلَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah” (QS al-A’raf [7]: 54)

Kedua, tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Disebut tauhid uluhiyah karena penisbatanya kepada Allah dan disebut tauhid ibadah karena penisbatannya kepada makhluk (hamba). Adapun maksudnya ialah pengesaan Allah dalam ibadah, yakni bahwasanya hanya Allah satu-satunya yang berhak diibadahi. Allah Ta’ala berfirman:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَايَدْعُونَ مِن دُونِهِ الْبَاطِلُ

”Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak dan sesungguhnya yang mereka seru selain Allah adalah batil” (QS Luqman [31]: 30)

Ketiga, tauhid asma’ wa shifat. Maksudnya adalah pengesaan Allah ‘Azza wa Jalla dengan nama-nama dan sifat-sifat yang menjadi milik-Nya. Tauhid ini mencakup dua hal yaitu penetapan dan penafian. Artinya kita harus menetapkan seluruh nama dan sifat bagi Allah sebgaimana yang Dia tetapkan bagi diri-Nya dalam kitab-Nya atau sunnah nabi-Nya, dan tidak menjadikan sesuatu yang semisal dengan Allah dalam nama dan sifat-Nya. Dalam menetapkan sifat bagi Allah tidak boleh melakukan ta’thil, tahrif, tamtsil, maupun takyif. Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya: ”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS asy-Syuura [42]: 11)

Masih dalam penjelasan di website muslimah.or.id, disampaikan bahwa antara tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah mempunyai hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Tauhid rububiyah mengkonsekuensikan tauhid uluhiyah. Maksudnya pengakuan seseorang terhadap tauhid rububiyah mengharuskan pengakuannya terhadap tauhid uluhiyah. Barangsiapa yang telah mengetahui bahwa Allah adalah Tuhannya yang menciptakannya dan mengatur segala urusannya, maka dia harus beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya.

Sedangkan tauhid uluhiyah terkandung di dalamnya tauhid rububiyah. Maksudnya, tauhid rububiyah termasuk bagian dari tauhid uluhiyah. Barangsiapa yang beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya, pasti dia meyakini bahwa Allahlah Tuhannya dan penciptanya. Hal ini sebagaimana perkataan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam: “Ibrahim berkata: “Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah (75), kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? (76), karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam (77), (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang memberi petunjuk kepadaku (78), dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku (79), dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkanku (80), dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali) (81), dan Yang amat aku inginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat (82)” (QS asy-Syu’araa’ [26]: 75-82)

Maka, sesuai dengan pembahasan kita tentang Ramadhan ini, khususnya kewajiban melaksanakan shaum, adalah bagian dari konsekuensi terhadap keimanan kepada Allah dan pelaksanaan perintah-Nya. Meyakini hanya Allah Ta’ala sebagai pencipta dan wajib diibadahi.

Semoga saja di Ramadhan yang udah menjelang garis finis ini kita tetap semangat melaksanakan amalan shalih dengan landasan iman (khususnya kepada Allah Ta’ala) sebagai daya tahannya. Mulai dari shaum, shalat tarawih (tentu saja shalat wajib yang utama), shadaqah, baca al-Quran, dan berlomba mendapatkan lailatul qadar. Semoga keikhlasan tetap dijaga, hanya untuk mengharap keridhoan Allah Ta’ala.

Sobat, insya Alalh pekan depan saat kita ketemu lagi bisa saja Ramadhan hari terakhir, karena jumlah hari dalam sebulan menurut penanggalan hijriah adalah 29 atau 30. Semoga bisa sampai di garis finis dan mendapat gelar orang yang takwa. Insya Allah
 
https://osolihin.wordpress.com/2016/06/27/ramadhan-menjelang-garis-finis/

Lengkapnya Klik DISINI

Hizbut Tahrir Mesra Dengan Syiah?

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

Seiring revolusi di belahan Timur Tengah sana, isu Syiah kembali menyeruak. Pertempuran yang terjadi di dunia Arab, khususnya Suriah, memperlihatkan adanya gesekan antara dua kubu; Sunni dan Syiah. Pergesekan ini terus menjalar luas. Terlebih ketika turut campurnya beberapa negara ke kancah perang. Dalam kasus Suriah dan Irak, Iran secara terbuka mengirimkan pasukannya dan milisi Syiah untuk masuk kesana. Pun demikian dengan Arab Saudi. Saudi pun mengirimkan jet-jet tempur ke Yaman untuk menyerang suku Houtsi yang berbasis Syiah. Tak ayal, pengaruh pergesekan ini semakin meluas karena baik Saudi (Sunni) atau Iran (Syiah) mempunyai pengaruh dan pendukungnya masing-masing di berbagai wilayah dunia. 
 
Beberapa waktu lalu pun, Indonesia ramai terkompori masalah ini. Muncul berbagai berita dan spekulasi terkait Sunni & Syiah yang cukup panas aromanya. Kubu Sunni "radikal" memandang bahwa Syiah memiliki hidden agenda dalam pemerintahan Indonesia. Mengingat ada salah satu tokoh Syiah yang duduk di parlemen. Kubu Syiah pun tak kalah gertak, beberapa yang terkenal radikal dan kontroversial, malah siap melakukan pertempuran dengan Sunni. Bahkan jualan mereka didukung oleh kelompok-kelompok liberal yang selama ini memang kerap berhadapan dengan kelompok Sunni "radikal". 
 
Terlepas dari itu, ada suatu fakta menarik yang sayang untuk dilewatkan. Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), sebuah ormas yang dikenal berpaham Sunni, menjadi sorotan beberapa kelompok Sunni "radikal" karena dipandang memiliki hubungan dengan Syiah, khususnya Syiah Iran. Hal tersebut dikarenakan adanya isu tentang penawaran Khilafah kepada Imam Khomeini pasca Revolusi Iran. Akan tetapi keterkaitan dengan Syiah ini dibantah oleh Juru Bicara HTI di sela-sela kegiatan Halaqoh Islam dan Peradaban yang digelar di Gedung Asrama Haji Yogyakarta (11/4/2015).[1] Menurut Jubit HTI, Hizbut Tahrir (HT) kala itu justru mengkritik Khomeini dan Rancangan Konstitusi Iran yang kemudian kritik tersebut dibukukan dalam kitab berjudul Naqdh Masyru’ ad-Dustur al-Irani yang terbit 7 Syawal 1399 H (30 Agustus 1979).[2] Bagi HT, perbedaan HT dengan Syiah adalah pada tataran ushul dan furu'.
 
Fakta ini menjadi menarik karena ada beberapa hal yang justru bertolak belakang dengan penjelasan juru bicara HT dan juga beberapa anggota HT lain terkait Syiah dan Khomeini. Hal-hal yang menyebabkan sebagian pihak akhirnya menyatakan bahwa HT tidak jujur dalam penyikap mereka terhadap Syiah. Entah karena ketidakpahaman mereka akan Syiah atau memang dibalik itu semua ada kemesraan diantara Syiah dengan HT -yang menyatakan dirinya partai politik-. Adapun beberapa hal tersebut adalah: 
 
1. ANGGOTA HT ADA YANG BERALIRAN SYIAH 
 
Besar kemungkinan anggota HT beraliran Syiah di lapangan banyak, khususnya untuk daerah Timur Tengah. Hal ini didasari oleh pernyataan DR. Muhammad Muhsin Radly, anggota HT Irak, dalam tesisnya yang berjudul "Hizbut Tahrir: Tsaqafatuhu wa Manhajuhu fii Iqamati Daulah Khilafah”.[3] Dalam tesis tersebut dijelaskan bahwa pengikut madzhab Jafari (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah) banyak yang bergabung menjadi anggota HT Irak, di antara mereka yang terkenal adalah: Muhammad Hadi Abdullah as-Subaiti, dan Arif al-Bashri." (hal - 98). Selain itu, di Libanon pun banyak tersebar anggota HT dan pendukung HT (hal - 113). Salah satu nama yang mencuat di HT Libanon adalah dr. Mohammad Jaber [4] yang memangku jabatan sebagai salah satu ketua HT di Libanon.
dr. Mohammad Jaber bersama Mahan Abedin, peneliti IDSA di Nabatieh
Dokter kelahiran 50-an dari Nabatieh (Lebanon Selatan) ini menyelesaikan pendidikan kedokteran di Jerman Barat sebelum kembali ke Lebanon pada tahun 1985. Dia sudah bergabung dengan HT sejak tahun 1974 dan menjabat jabatan di HT Libanon pada tahun 2006. Mohammad Jaber mengakui sendiri langsung dalam sebuah wawancara yang dilakukan Mahan Abedin, Peneliti Institute for Defence Studies and Analysis New Delhi, bahwa HT tidak mementingkan untuk melampirkan identitas sektarian dan perbedaan di dalam Islam. Oleh karenanya, dia kemudian mengakui bahwa dirinya lahir dari keluarga Syiah dan dia sendiri bermazhab Jafary [5] (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah). 
 
2. PENAWARAN KHOMEINI MENJADI KHALIFAH 
 
Beberapa anggota HT apabila dikonfirmasi terkait hal ini akan mengatakan bahwa tidak benar HT mengirimkan perwakilannya untuk menawarkan Khalifah kepada Khomeini tahun 1979.[6]Dalam pertemuan tersebut, HT hanya menjelaskan dan menawarkan pada Khomeini tentang kesalahannya dan jauhnya dia dari kebenaran dengan mengesampingkan penerapan Islam secara sempurna. HT juga menyampaikan kepadanya tentang kewajiban mengangkat seorang kepala Negara yang akan bertindak sebagai khalifah bagi seluruh umat Islam. Hal tersebut menurut anggota HT belum pernah dilakukan oleh pihak lain.[7]
 
Karena tidak menerima tanggapan dari Khomeini selama berbulan-bulan, HT akhirnya menerbitkan Naqdh Masyru’ ad-Dustur al-Irani (Kritik terhadap Undang-Undang Dasar Iran) yang terbit 7 Syawal 1399 H (30 Agustus 1979).[8] Kritik tersebut coba diberikan langsung pada Khomeini oleh delegasi HT namun tidak berhasil bertemu Khomeini lagi. 
 
Ada beberapa catatan yang berbeda terkait hal diatas dengan apa yang disampaikan dr. Mohammad Jaber. Menurut Jaber, pertemuan dengan Khomeini tidak hanya dilakukan pada tahun 1979 saja namun dilakukan juga beberapa bulan sebelum kemenangan revolusi Iran. Pertama delegasi HT (terdiri dari dr. Mohammad Jaber, amir HT Eropa, dan pendamping amir HT Eropa) mengirim terlebih dahulu surat untuk bertemu lalu akhirnya dapat bertemu pertama kali pada bulan Oktober 1978. Selanjutnya pertemuan kedua pada Desember 1978 dan terakhir Februari 1979. Delegasi menekankan pada Khomeini agar mau mendirikan negara Islam yang mendunia (Khilafah). Bahkan jika Negara tersebut nantinya akan didominasi oleh penganut Syiah Dua Belas Imam (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah). HT akan siap membantu dengan catatan tetap bentuknya Khilafah untuk seluruh kaum muslimin.[9]
 
Adanya informasi tadi dengan jelas menampakan bahwa HT memang menawarkan Khomeini sebagai Khalifah. Karena HT meminta Khomeini untuk mendirikan Khilafah dan kalaupun dikuasai Syiah Dua Belas Imam (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah) maka tidak mengapa. Kenapa disimpulkan demikian? Karena pemimpin Revolusi Iran sekaligus pemimpin spiritual Syiah Dua Belas Imam (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah) saat itu adalah Khomeini. Pada saat itu pun Khomeini tidak diminta untuk beralih menjadi Sunni. Hal ini diperkuat dengan pernyataan kesiapan HT untuk membantu Khomeini apabila Khilafah nantinya dikuasai Syiah Dua Belas Imam (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah). Sehingga akan tidak mungkin apabila Khalifahnya adalah HT Eropa atau amir HT. Karena kedua orang tadi bukan penganut Syiah Dua Belas Imam (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah). 
 
Bantahan HT tidak menawarkan Khomeini sebagai Khalifah pun tertolak sendirinya dengan apa yang pernah dirilis HT sendiri di majalah Al Khilafah No. 18, Jum’at, 2 Januari 1410 H (1989), dan majalah Al Wa’ie, Nomor 75 halaman 23 (1993). Dalam majalah Al Khilafah dengan artikel berjudul “Hizbut Tahrir wal ‘Imam’ Khomeini”, dikatakan “Kami mengusulkan agar Khomeini menjadi khalifah umat ini”. Sedangkan dalam Al Wa’ie, Nomor 75 halaman 23 (1993) dikatakan bahwa persoalan sunni-syiah ini terjadi karena ada orang-orang yang berada di belakang perpecahan ini (yang mempunyai maksud tertentu). Oleh karenanya HT harus memerangi orang-orang itu, sebab tidak ada perbedaan antara keduanya, dan siapa saja yang melakukan perbedaan itu maka akan HT lawan”. 
 
Bagi HT sendiri, kemungkinan seorang Syiah menjadi Khalifah bukanlah sebuah keniscayaan, sebab dalam buku pelatihan ideologis-politik berjudul “Dasar-Dasar Islam” (1953), dengan jelas diyatakan bahwa penganut Syiah Dua Belas Imam (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah) adalah kaum Mukminin yang memiliki hak untuk berperan secara aktif di dalam Negara Islam, termasuk aksesi ke Kantor Politik-Keagamaan yang tertinggi, yaitu Khalifah.[10
 
3. MENGAGUNGKAN KHOMEINI 
 
Bagi dr. Mohammed Jaber, Khomeini merupakan pemimpin besar Islam dan tulus. Khomeini memiliki pengaruh politik dan hukum dalam tatanan global. Dia juga telah berhasil mengubah jalan dan beberapa konsep yang mendasar terkait hubungan internasional. Menurutnya, pendapat ini adalah pendapat pribadinya akan tetapi pendapat ini disebar di para pemimpin HT dan anggota HT di seluruh dunia.[11]
 
Bukan hanya dr. Mohammed Jaber saja yang memuji Khomeini, tokoh HT lain pun ikut memuji-muji Khomeini. Adalah Muhammad Mis’ari yang menyebarkan selebaran di London pada Kamis 22 Syawwal 1415 H / 23 Maret 1995 M. Isi dari selebaran tersebut salah satunya memuji Khomeini dengan mengatakan bahwa Khomeini adalah seorang pemimpin bersejarah yang agung dan jenius. Selain itu, dia mencaci sebagian ulama dan menganggap Syiah sebagai saudara.[12]
 
4. KERJASAMA DENGAN HIZBULLAH 
 
Hubungan HT dengan Hizbullah secara struktural memang tidak. Kedua kelompok nampaknya pernah menjalin komunikasi. Entah resmi atau tidak. Hal tersebut dapat dilihat dari pernyataan dr. Mohammed Jaber yang memuji Hizbullah sebagai kelompok perlawanan dan politik Islam yang tulus. Adalah sebuah kewajiban syar'i, menurut dr. Mohammed Jaber, untuk mendukung perjuangan Hizbullah.[13] Meskipun demikian, HT menyatakan bahwa mereka tetap kritis terhadap kebijakan-kebijakan politik Hizbullah.


Anggota Hizbut Tahrir Inggris aksi bersama pendukung Hizbullah di depan pagar Kedutaan besar Arab Saudi memprotes serangan Israel ke Gaza (2009)
Hubungan ini nampak ketika diselenggarakannya acara Al Quds Day [14] di jalanan kota London yang rutin setiap tahun. Acara ini memang bukan acara HT dan Hizbullah, namun ini adalah acara lintas golongan, agama, dan kelompok. Beberapa kelompok yang terlibat di dalamnya adalah British Muslim Initiative, Crescent International, Friends of Al-Aqsa, Islamic Forum Europe, Islamic Human Rights Commission, Islamic Student Association UK, Islamic Centre of England, Innovative Minds, International Muslims Organization, Lebanese Communities, Muslim Association of Britain, Neturei Karta, Palestine Return Centre, Palestine Internationalist, Respect Party, Stop the War and the 1990 Trust. Beberapa tokoh HT tercatat pernah mengisi acara ini berbarengan dengan tokoh-tokoh lainnya. Antara lain Majid Nawaz (2006), Taji Mustafa [15] (2008)
Taji Mustafa dalam acara Al Quds Day 2010 bersama organisasi lintas agama dan kelompok di London (4/10/2010)
5. PERNYATAAN TIDAK SEMUA SYIAH KAFIR/SESAT 
 
HT kerap mengatakan bahwa HT dengan Syiah berbeda. Mereka memiliki perbedaan pada tataran ushul dan furu', atau dengan kata lain berbeda dari segi pondasi dan bangunan. Seperti yang disampaikan dalam pertemuan MIUMI Pusat & HTI di Alqur'an Learning Center (AQL) Tebet Jakarta Selatan (24/4/2015).[16] Singkatnya, HT memandang bahwa tidak semua Syiah sesat atau kafir. Syiah ada yang sudah masuk kafir, ada yang sesat, namun sebagian lagi ada yang masih muslim misalnya sebagian Syiah Dua Belas Imam (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah) atau Syiah Zaidiyyah, khususnya yang di Yaman. 
 
Terkait Syiah Zaidiyyah, aliran ini dinisbatkan kepada Zaid bin Ali Zainal Abidin. Ali Zainal Abidin, bapaknya, merupakan sosok yang cinta kepada para sahabat seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman. Bahkan beliau menilai kalangan yang senantiasa mencaci maki para sahabat merupakan kalangan yang melecehkan Islam dan bukan bagian dari Islam (Kafir). Pemahaman ayahnya tersebut diikuti oleh anaknya, Zaid bin Ali. Hingga karena kealimannya, muncullah pengikut yang menamakan diri mereka sebagai Syi’ah Zaidiyah. 
 
Dalam perkembangannya Zaidiyyah disebut memiliki kemiripan dengan Mu’tazilah karena kerap berinteraksi dengan murid-murid Washil bin Atha’. Sedangkan dalam masalah fikih mereka memiliki kemiripan dengan madzhab Hanafi karena sering terjadi interaksi antara murid-murid Abu Hanifah di Irak dengan Zaid bin Ali. Hanya saja, untuk perkara tauhid, Zaidiyyah berbeda dengan mazhab Hanafi dan pandangan sunni lainnya. Beberapa hal terkait akidah yang berbeda dengan sunni adalah; 1) Tidak meyakini bahwa orang-orang yang beriman dapat melihat Allah di akhirat, 2) Allah tidak menciptakan maksiat, 3) Kalam adalah makhluk, bukan bagian dari sifat-sifat Allah, 4) Mengingkari adanya syafaah bagi umat Rasulullah yang menjadi ahli maksiat, 5) Orang yang lebih berhak setelah kepemimpinan Rasulullah adalah Ali dan kelaurganya. Pengangkat Abu Bakar adalah kesalahan. Namun demikian, Zaidiyah tidak sampai mengkafirkan para sahabat akibat “kesalahan” ini, 6) Dibolehkan dan dibenarkan bahkan wajib melakukan pemberontakan kepada pemerintahan Muslim yang zalim (ket: pernah terjadi pada abad ke 8 (bani Umayyah), masa terakhir Utsmaniyyah tahun 1915). 
 
Karena pemikiran Syiah Zaidiyyah seperti diataslah, Imam Asy-Syaukani akhirnya tertobat dan memilih kembali ke ahlu sunnah Wal jamaah. Meskipun selama itu beliau kerap dikenal dan dikatakan sebagai ulama syiah (baca: Syiah Zaidiyyah). Sebagai bentuk pertobatannya, Imam Asy-Syaukani menyusun kitab yang cukup terkenal dengan judul As-Sail Al-Jurar Al-Mutadaffiq 'ala Hada,iq Al-Azhar. Isi kitab tersebut mengkritik seluruh pemikiran dan pendapat kelompok Syiah Zaidiyyah, serta menelanjangi kebohongan-kebohongannya dan penyimpangan-penyimpangannya dari pemahaman As-Sunnah yang dipahami Salaf As Shalih. 
 
Dan bukan hanya Imam As Syaukani saja yang menentang Syiah Zaidiyyah, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari pendiri sekaligus Rais Akbar Nahdhatul Ulama pun menolaknya dan menyatakan mazhab Syiah Dua Belas Imam (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah) dan Zaidiyah tidak sah diikuti umat Islam dan tidak boleh dipegang pendapatnya sebab mereka adalah ahli bid’ah. Pihak MUI pun telah mengeluarkan resmi buku terkait hal tersebut.[17]
Buku Resmi Panduan Majelis Ulama Indonesia terkait penyimpangan Syiah
Yang perlu dipahami adalah Syiah Zaidiyyah saat ini keberadaan mereka hanya tersisa di Yaman, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Syiah Houtsi. Mereka telah banyak menyelesihi pendahulunya, bahkan pada dekade terakhir ini gencar memerangi Ahlu Sunnah dan berusaha merebut dan berkuasa di pemerintahan Yaman. Pergeseran Syiah Zaidiyyah ini banyak bermula dari merapatnya ulama-ulama Syiah Zaidiyyah pasca revolusi Iran yaitu pada tahun 1979 ke Khomeini.[18] Sehingga secara akidah dan politik mereka telah melebur dan membaur menjadi warna yang sama, sebab Syiah Zaidiyah tersebut menjadi berpegang pada kitab yang sama dari kitab yang menjadi rujukan Syiah Itsna Asy'ariyah/Imamiyah. 
 
Terlepas dari itu, kalau pun toh Syiah Zaidiyah (Houtsi) hari ini masih dianggap muslim dan lebih dekat dengan Ahlu Sunnah, maka pembelaan pada Syiah Zaidiyyah yang masih ada di Yaman ini pun menjadi blunder apabila dikaitkan dengan seruan HT tentang persatuan Sunni-Syiah.[19] Mengapa? Sebab kalaulah yang dikatakan Syiah masih muslim itu Syiah Zaidiyyah yang di Yaman, lantas kenapa seruan Sunni dan Syiah bersatu dalam nanungan Khilafah justru dikeluarkan di Irak yang notabene lebih banyak Syiah Nushairiyyah di bagian barat dan sebagian Rafidhah di sebelah timur Irak. Kalau pun mau mengeluarkan seruan tersebut harusnya dikeluarkan oleh HT wilayah Yaman. 
 
Syi'ah sendiri secara keseluruhan, dari awal lahir hingga berakhirnya Khilafah tahun 1924, senantiasa diperangi oleh para dinasti kekhilafahan. Tidak dipungkiri, memang ada upaya dari Khalifah untuk menyatukan sunni dan syiah. Itu pun dalam konteks mendakwahi mereka untuk pindah dari Syiah ke sunni, bukan dibiarkan tetap Syiah. Usaha ini pernah dilakukan tahun 74 H. Umat Islam yang menyokong persatuan ini akhirnya disebut Ahlus-Sunnah Wal-Jamaah. Namun opsi ini ditolak oleh kaum Syiah sendiri. Oleh karena itu, meskipun sempat menguasai wilayah dan pemerintahan, Syiah akhirnya selalu diburu untuk didakwahi agar beralih pada Islam atau diperangi. Khalifah Jafar al Mansur (Bani Abbasiyah) dan Salahuddin al Ayyubi menjadi salah satu bukti atas hal tersebut. Mereka melakukan itu karena paham bagaimana akidah dan tabiat Syiah yang tidak mau bersatu. Kasus kejatuhan Abbasiyah ke tangan Tartar hingga lahir Daulah Syiah Fathimiyah, kasus penghadangan kapal dagang Khilafah masuk Nusantara, kasus pelolosan Portugis masuk Nusantara, hingga masuk kerjasama Syiah dengan Mustafa Kamal Attaturk untuk membendung membendung Khilafah Utsmaniyyah menjadi beberap bukti dari penyimpangan yang kerap dilakukan Syiah.
 
6. MAZHAB JAFARY ADALAH MAZHAB ISLAM 
 
Kembali ke dr. Mohammad Jaber, dia menyatakan dirinya adalah seorang yang bermazhab Jafariy. Mazhab yang menurutnya dan sebagian besar anggota HT masih dalam lingkup Islam. Yang karenanya maka sah-sah saja Jaber menjadi anggota HT bahkan menjadi tokoh sentral di HT Libanon. Namun seperti apakah mazhab Jafari itu? 
 
Mazhab Jafary dikenal juga sebagai mazhab Dua Belas Imam /Istna al asy ariyah/Rafidah. Namnya dinisbatkan kepada Imam ke-6 kaum Syiah, yaitu Ja'far ash-Shadiq bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Ulama terkenalnya abad ini adalah Khomeini. Perlu diketahui, Imam Jafar tidak pernah menuliskan kitab. Berbeda dengan 4 imam besar lainnya seperti; Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali. Imam Malik merupakan murid langsung Imam Jafar. Imam Malik menulis berbagai kitab fiqh tapi tidak dinamakan fiqh Jafary. Karena Imam Malik memiliki metode tersendiri atas fiqhnya yang kemudian lahirlah nama mazhab Maliki. 
 
Akibat ketiadaan kitab yang langsung ditulis oleh Imam Jafar, kaum Syiah penganut mazhab Jafary (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah) akhirnya mencari-cari kitab rujukan. Karena tidak ada satu pun murid Imam Jafar yang menulis kitab (kecuali Imam Malik), akhirnya mereka mendapatkan rujukan pula yaitu kitab Furu’ Al Kafi Al Kulainy (Kitab rujukan tertua). Namun kitab ini ditulis 180 tahun setelah Imam Ja’far wafat. Kitab lain yang dijadikan rujukan adalah kitab Man La Yadurruhul Faqih karya Muhammad bin Ali bin Babawaihy Al Qummy yang ditulis 230 tahun setelah Imam Jafar wafat. Atau 50 tahun kemudian setelah kitab Furu’ Al Kafi Al Kulainy. Atau sekitar 4 generasi. Karena jauhnya jarak periwayat dan penulis kitab, akhirnya banyak ditemukan sanad-sanad yang terputus dan tidak jelas sambungannya ke Imam Jafar. Ulama Syi'ah ternama, Syarif Al Murtadlo di dalam kitabnya Rosail Syarif Al Murtadlo juz 3 hal 310 menjelaskan bahwa kebanyakan fiqh (Syiah) bahkan keseluruhanya tidak terlepas dari berpedoman kepada madzhab yg terhenti, diriwayatkan dari jalur lain dan ada kalanya keduanya darinya. 
 
Kalaulah kemudian mazhab Jafary (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah) mau ini dimasukan ke dalam Islam sebenarnya sah-sah saja. Tidak ada larangan selama memang tidak menjadi masalah bagi umat Islam itu sendiri. Namun sebelum jauh menyatakannya masuk ke dalam khazanah Islam, ada baiknya dilihat terlebih dahulu bagaimana fiqh Jafary (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah) ini sebenarnya. Beberapa fiqh yang menarik yang ada dalam mazhab Jafari (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah) adalah; kebolehan nikah mut'ah, shalat dalam sehari semalam ada 50 kali, gerakan shalat yang berbeda [20], mengucapkan “aamiin” setelah al Fatihah dalam shalat maka batal shalatnya, bersedekap ketika shalat maka batal shalat, mengakui Ali merupakan khalifah dan pemimpin umat Islam setelah Rasulullah dengan alasan perintah dari Allah di sebuah tempat yang dikenal dengan nama “Ghadir Khum” yang akhirnya lahirlah Hari Raya Idul Dhadir, dll. Lalu bagaimana hubungannya dengan HT? Maka apabila kemudian ada seorang anggota HT menyatakan dirinya bukan Syi'ah namun Muslim dengan bermazhab Jafary (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah), maka apakah contoh-contoh fikh diatas tidak cukup mengatakan bahwa anggota tersebut sejatinya bukan anggota HT. Sebab dari contoh fiqh yang sedikit itu saja sudah dapat dipastikan akan bertentangan dengan apa yang diadopsi HT. Kalau misalnya sebenarnya maksud dia adalah "dulu" dia bekas penganut mazhab Jafary (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah) dan sekarang sudah berubah menjadi sunni, apa urgensinya mengaku-ngaku sebagai Syiah atau mengaku bermazhab Jafary (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah)? Kenapa tidak menyatakan diri dengan kalimat "Saya muslim, tapi dulunya saya Syiah" atau "Saya telah tobat dari Syiah Jafary (Istna Asy’ariyah/Imamiyah/Rafidhah), sekarang saya muslim"? Kenapa konsep Syiah terus dibawa-bawa dan digunakan? Apakah karena Syiah memang didalam tubuh HT dibolehkan? Kalau kemudian dijawab boleh atau muter-muter tidak jelas lagi, maka jangan salahkan orang semakin yakin bahwa HT memang mesra dengan Syiah. Itu pun kalau tidak mau dikatakan HT disusupi Syiah. Atau yang lebih ekstrim lagi adalah HT adalah Syiah itu sendiri. Wallahu’alam
 
Referensi:
8. religion.info, Op.cit.
9. Ibid.
10. Ibid.
11. Ibid.
12. Mereka Adalah Teroris, Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh, Pustaka Qaulan Sadida Cetakan ke 2, Dzulqa’dah 1426 H.
13. religion.info, Op.cit.
17. Buku panduan MUI, Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia, hal 33-34
 
nemu disini :
https://www.facebook.com/notes/adi-sanjaya/hizbut-tahrir-mesra-dengan-syiah/254881064891987 

Lengkapnya Klik DISINI

7 Panglima Muslim Terhebat dalam Sejarah Islam

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

Dimana ada suatu peradaban, disitu selalu saja ada peperangan tak berujung demi memperebutkan otoritas wilayah maupun kekuasaan ideologi atau agama. Alhasil, beberapa pertempuran pun sempat memunculkan beberapa pemimpin perang terhebat di dunia dalam sejarah tersebut.

Panglima atau dalam istilah lain adalah raja perang yang memiliki hak kontrol atau berkuasa terhadap daerah beserta beberapa pasukan militer yang setia kepadanya. Tak hanya lihai dalam bertarung, akan tetapi mereka juga dihiasi dengan akhlak mulia dan unggul dalam pemikiran merancang strategi.

1. Salahuddin Al-Ayyubi
Saladin
azquotes.com

Pemilik nama lain Saladin atau Salah ad-Din ini merupakan seorang jendral pejuang muslim Kurdi yang berasal dari Tikrit, Irak. Ia membangun sebuah Dinasti Ayyubiyah di berbagai negara Afrika dan Asia seperti Suriah, Mesir, Irak, Mekkah Hejaz, Yaman dan Deyak Bakr.

Dalam dunia Muslim bahkan Kristen, Salahuddin memang dikenal karena kepemimpinan, kekuatan militer serta sifatnya yang mudah memaafkan saat bertempur melawan para tentara nasrani pada saat perang salib.

Selain jago dalam hal kepemimpinan, Salahuddin juga merupakan seorang ulama terkemuka. Ia mewasiatkan catatan kaki dan beragam jenis penjelasan pada kitab hadits Abu Dawud.
 
2. Abdullah bin Aamir
Abdullah bin Amr
theghurabah.blogspot.com

Menjabat sebagai Gurbernur Busrha pada tahun 647 – 656M, Abdullah bin Aamir adalah seorang jenderal militer yang sukses di masa kejayaan pemerintah Khalifah Utsman bin Affan. Beliau memiliki kemampuan dalam mengola administrasi negara beserta kekuatan militernya.
 
3. Amr bin Ash
Amr bin Ash
skanaa.com

Sebelum masuk agama Islam, Amr bin Ash pernah mengambil bagian dalam pertempuran melawan Nabi Muhammad SAW beserta kamu muslimin. Singkat cerita, beliau mendapatkan hidayah dari Allah SWT. lalu bersyadat bersama dengan Khalid bin Walid.

Selang 6 bulan kemudian, Amr bin Ash mendampingi Rasulullah SAW untuk menaklukan kota Mekkah dalam peristiwa Fathul Mekkah. Ia dikenal sebagai panglima perang berwatak bijak dan cermat dalam mengatur strategi.

Lain dari pada itu, Amr bin Ash juga sempat menjadi panglima perang dalam misi penaklukan Baitul Maqdis dan Mesir agar terlepas dari cengkraman jajahan Romawi.

Di masa pemerintahan Umar bin Khattab, beliau ditunjuk sebagai gubernut Mesir. Hingga akhirnya masa jabatan tersebut berakhir ketika pemerintahan Utsman bin Affan telah mengambil alih.
 
4. Tariq bin Ziyad
Thariq bin Ziyad
voa-islam.com

Dalam sejarah Spanyol, Tariq bin Ziyad terkenal sebagai salah satu legenda berjuluk Taric el Tuerto (Taric bermata satu). Beliau menjabat sebagai jendral pada masa pemerintahan dinasti Umayyah.

Dinasti tersebut juga sempat menaklukan di sekitar wilayah Al-Andalalus yakni Portugal, Andorra, Gibraltar, Spanyol di tahun 711 M.
 
5. Syurahbil bin Hasanah
Syurahbil bin Hasan
dakwahmuslim.com

Beliau adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW. Syurahbil bin Hasanah pernah ditunjuk sebagai komandan dalam pasukan Rasyidin. Di bawah naungan Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab, beliau dinilai sukses dalam jabatan komandan tersebut.

Selama penaklukan Muslim di Suriah, Syurahbil didaulat menjadi komandan lapangan utama. Tugasnya dimulai sejak tahun 634 hingga akhirnya kematian menjemput beliau akibat serangan wabah pada tahun 639.
 
6. Khalid bin Walid
Khalid bin Walid
oasemuslim.com

Menjadi seorang panglima perang di masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin. Khalid bin Walid terkenal dengan kelihaiannya menghunus musuh dengan pedang saat berperang, sehingga ia dijuluki sebagai Saifullah Al-Maslul yakni pedang Allah yang terhunus.
Beliau merupakan salah satu dari beberapa panglima perang yang berperan penting dan tidak pernah terkalahkan sepanjang karirnya.
7. Muhammad Al-Fatih
Muhammad Al-Fatih
jurnalislam.com

Sultan Mehmed II atau biasa dikenal dengan Muhammad Al-Fatih merupakan seorang jenderal yang menaklukkan Konstatinopel di masa itu. Karena penaklukan tersebut, banyak dari masyarakat bahkan tak sedikit dari lawannya kagum dengan cara kepemimpinan beliau.

Bagaimana tidak? Taktik dan strategi Muhammad Al-Fatih dianggap sudah mendahului pada zamannya beserta beberapa kaedah tentang pemilihan tentaranya.
sumber :  http://www.satujam.com/panglima-muslim/
Lengkapnya Klik DISINI

Antara Ramadhan, Perang Badar, dan Fathul Mekah

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

Ilustrasi. (dakwatuna/hdn)Rasulullah saw dan umat Islam memulai perjuangan suci untuk menegakkan Agama Islam di bulan Ramadhan dan memperoleh kemenangan gemilang di bulan Ramadhan pula. Kapankah umat Islam Indonesia mau menapak tilasi fakta sejarah ini?

Setelah Rasulullah saw dan kaum muslimin hijrah dari Mekah ke Madinah, di kota baru ini Rasulullah saw menata umat dan membangun fondasi negara Islam. Dimulai dengan membangun masjid sebagai pusat kegiatan dan pembinaan umat Islam, mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar, sampai membuat perjanjian damai antar suku di Madinah, termasuk dengan Yahudi.

Pada abad II Hijrah, negara yang baru seumur jagung ini mendapat ancaman dari musuh, kafir Quraisy. Kaum kafir Quraisy berjumlah seribu pasukan di bawah pimpinan Abu Jahal bergerak menuju Madinah. Rasulullah saw menyambutnya dengan menghimpun pasukan sejumlah 300 orang. Kedua pasukan berbeda akidah ini bergerak dan berhadap-hadapan di lembah Badar.

Lembah ini diapit oleh dua bukit; di timur diapit oleh bukit ‘Udwah al-Qushwa dan di barat diapit oleh bukit ‘Udwah ad-Dunya. Di sisi selatan, lembah Badar dibatasi oleh bukit al-Asfal. Sejak masa sebelum Islam, lembah tersebut sudah menjadi jalur yang banyak dilintasi kafilah-kafilah dagang asal Mekah atau Yaman yang hendak berniaga ke Syam (Suriah dan Lebanon).

Tanahnya yang subur karena memiliki campuran pasir dan tanah dengan beberapa mata air di lembah tersebut membuat para kafilah bisa singgah beristirahat di lembah ini dengan nyaman. Saat ini, lembah Badar menjadi salah satu kota yang berada di wilayah Propinsi Madinah dengan nama lengkap Kota Badar Hunain. Jarak kota ini dari kota Madinah sekitar 130 km.

Lembah ini menjadi saksi sejarah saat kaum muslimin memukul telak kaum kafir Quraisy dalam perang Badar. Perang ini meletus pada 17 Ramadhan 2 H. bertepatan dengan 17 Maret 624 M. Perang yang sejatinya tidak seimbang ini, baik dari segi jumlah pasukan maupun perlengkapan perang, memberikan pelajaran mahal bagi kita, umat Islam. Betapapun jumlah kita sedikit, kecil, lemah, namun ketika akidah dan iman tertanam kokoh dalam hati, maka Allah pasti menguatkan dan mengokohkan. Allah pasti memberikan pertolongan, bahkan dari jalan yang tidak biasa.

Simaklah kedahsyatan pertolongan Allah yang direkam dalam Al-Qur’an surah Ali ‘Imran ayat 123-126.

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin, ‘Apakah tidak cukup bagi kamu, Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?’ ‘Ya (cukup)’, jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda. Dan, Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)-mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali ‘Imran : 123-126)

Perang Badar dimenangkan dengan gemilang oleh pasukan muslim atas pertolongan Allah. Pada perang ini, ratusan kaum kafir Quraisy tewas dan pentolan kaum kafir Quraisy, Abu Jahal, tewas oleh mantan budak yang disiksanya, Bilal bin Rabah ra.

Enam tahun kemudian, diawali dengan pengkhianatan kaum kafir Quraisy terhadap perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah saw menghimpun pasukan muslim dengan jumlah 10.000 pasukan. Rasulullah saw bergerak menuju Mekah dengan singgah di beberapa titik. Di satu titik persinggahan, Marra Zhahran, Abu Sofyan, pentolan kaum kafir Quraisy yang tersisa, masuk Islam. Ini pertanda kaum kafir Quraisy sebenarnya tidak berdaya melawan pasukan muslim.

Kemenangan pasukan muslim dalam Fathul Mekah sejatinya telah dikabarkan dua tahun sebelumnya dengan turunnya wahyu surat Al-Fath. Dan, pembuktiannya terjadi pada 10 Ramadhan 8 H. Pasukan muslim memasuki kota Mekah tanpa perlawanan sedikitpun. Pembebasan kota Mekah berlangsung damai dan aman. Rasulullah saw memasuki Masjidil Haram dan menghancurkan berhala-berhala yang mengitari Kakbah.

Pada hari itu, Mekah berubah dari kota kemusyrikan menjadi kota bertauhid. Warga Mekah berbondong-bondong memeluk Islam tanpa paksaan. Kemudian, disusul oleh orang-orang dari berbagai suku di sekitar Mekah dan jazirah Arab lainnya berbondong-bondong masuk Islam. Inilah kemenangan yang nyata, saat umat manusia tersinari oleh cahaya Islam, ketika umat manusia berbondong-bondong masuk agama Islam. Peristiwa ini diabadikan dalam surah An-Nashr.

Mari kita telaah dua peristiwa besar dalam sejarah Islam ini untuk kita petik pelajaran. Menariknya, perang Badar dan Fathul Mekah sama-sama terjadi di bulan Ramadhan. Artinya, Ramadhan adalah bulan perjuangan dan Ramadhan pula bulan kemenangan. Ramadhan adalah momentum bagi kita untuk melakukan perubahan dan perbaikan mendasar dan menyeluruh dalam hidup kita, baik dalam konteks pribadi, keluarga, masyarakat, maupun negara.

Karena itu, tanyakan kepada diri kita sudahkah kita menyusun program Ramadhan? Telah berapa Ramadhan yang kita lalui? Lalu, bagaimana hasilnya? Rasulullah saw hanya menjalani sembilan kali Ramadhan dalam hidupnya. Hasilnya? Dahsyat luar biasa. Bahkan, beliau hanya perlu enam kali Ramadhan untuk menuntaskan perjuangan besar, misi suci nan agung, menerangi alam dengan cahaya Islam.

Jika demikian, ada yang salah dengan Ramadhan kita. Ramadhan berhenti sebatas ibadah ritual yang belum terejawantahkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Kita masih pilih-pilih dalam menjalankan Islam. Yang mudah dan enak diambil, namun yang dirasa berat ditinggalkan. Kita puasa, tapi ekonomi ribawi masih dijalankan. Kita puasa, tapi pendidikan kita sekuler. Kita puasa, tapi masih enggan berzakat dan berinfak. Padahal, perintah puasa Ramadhan pada tahun 2 Hijrah didahului dengan perintah zakat pada tahun yang sama.

Kita puasa, tapi lebih memilih kesibukan dunia daripada memenuhi panggilan Allah (baca: shalat). Padahal, perintah puasa Ramadhan pada tahun 2 Hijrah didahului dengan perintah pemindahan kiblat dari Masjidil Aqsha ke Kakbah di Masjidil Haram. Kita puasa, tapi alergi dengan tema jihad. Padahal, perintah puasa Ramadhan pada tahun 2 Hijrah disusul dengan perintah jihad fi sabilillah. Simpulannya, kita puasa, tapi sistem hidup kita belum Islami. Sistem hidup kita belum mengikuti sistem hidup Rasulullah saw dan generasi sahabat.

Jika demikian, bagaimana mungkin kemenangan gemilang umat Islam Indonesia akan hadir di Ramadhan tahun ini? Entah, harus berapa Ramadhan lagi, kita bisa meraih kemenangan sebagaimana Fathul Mekah? Bergantung dari kemauan dan kesungguhan kita. Allah memberikan kemenangan dan kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki. Maka, mari pantaskan diri, keluarga, lembaga, masyarakat, dan negara kita untuk diberikan kemenangan gemilang. Wallahu A’lam…  (dakwatuna.com/hdn)

Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......