Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

Jeda Dakwah

Oleh : Cahyadi Takariawan

pak cah di pantai goa cemara
Saya yakin, anda sudah pernah mendapat kiriman kisah Stephen R. Covey berikut. Saat Stephen R. Covey mengajar tentang Manajemen Stress dan bertanya kepada para peserta kuliah, “Menurut anda, kira-kira berapa berat segelas air ini?” Jawaban para peserta sangat beragam, mulai dari 200 gram sampai 500 gram.
“Sesungguhnya yang menjadi masalah bukanlah berat absolutnya. Tetapi berapa lama anda memegangnya,” ungkap Covey.

“Jika saya memegangnya selama satu menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama satu jam, lengan kanan saya akan sakit. Jika saya memegangnya selama satu hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya,” lanjutnya.

“Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat. Jika kita membawa beban terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu terasa meningkat beratnya,” ungkap Covey.

”Yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut. Istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi. Kita harus meninggalkan beban kita, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi. Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sehari-hari, tinggalkan beban pekerjaan anda. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok,” lanjutnya.

“Apapun beban yang ada di pundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak. Setelah beristirahat, nanti dapat diambil lagi. Hidup ini sangat singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya. Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat atau disentuh, tapi dapat dirasakan jauh di dalam hati kita,” kata Covey.
 pak cahyadi berdiskusi di republik cheko
Bagaimana dengan Beban Dakwah ?

Beban dalam dakwah, lebih sering kita sebut sebagai amanah. Ada teramat sangat banyak amanah dakwah yang kita miliki dan harus klita selesaikan dengan paripurna. Bagaimana cara kita meletakkannya?

Ada saatnya kita harus rehat. Saat bersama keluarga, nikmati seluruh keindahannya. Saat bersama anak-anak, bercanda dan bercengkeramalah dengan mereka. Kita harus memiliki waktu untuk melakukan rekreasi bersama seluruh anggota keluarga, ke pantai, ke gunung, ke desa atau ke kota, atau kemanapun sesuai kondisi dan situasi. Itu adalah bagian “jeda” yang sangat penting bagi setiap aktivis.

Saat mengambil jeda tersebut, jangan terbebani oleh berbagai amanah dakwah yang belum terselesaikan. Karena kita akan kehilangan keindahan rihlah jika terus menerus memikirkan beban dakwah. Kita hanya meletakkan sebentar saja. Kita hanya mengambil jeda sesaat saja. Maka nikmati masa jeda tersebut dengan optimal. Setelah masa jeda itu, kita akan mengambil kembali beban dan amanah dakwah untuk kita kerjakan dengan optimal.

Pikiran dan hati kita tidak boleh terus menerus berada dalam ketegangan dan beban. Harus ada waktu jeda untuk melakukan recharging dan refreshing, walau hanya sesaat. Dengan cara itu kita akan lebih kuat dan segar dalam mengemban berbagai amanah dakwah.
Lengkapnya Klik DISINI

Janganlah Hidup hanya Berdasarkan Angka Angka dan Hitungan

Wahai saudara saudaraku

Gambaran dari masyarakat mukmin adalah masyarakat yang tenang dengan akidah tauhid, dan mereka ridha dengan ketentuan Allah dalam soal rezeki dan ajal, sehingga mereka tidak bisa digoyahkan oleh apapun dan tidak dapat digoncangkan dengan kekuatan apapun. 

Sebaliknya dengan gambaran masyarakat jahiliyah, syaraf mereka selalu tegang, hati mereka selalu cemas, pikiran mereka selalu bingung. Manusia manusia yang selalu khawatir dengan penghidupan mereka, tak seorangpun diantara mereka yang mampu membebaskan diri dari belenggu kematian yang selalu membayanginya ke manapun ia berjalan, kecemasan tak memperoleh rezeki senantiasa mengusik tidur mereka dan membuat kedua kelopak mata mereka tak bisa terpejam.

Pengangguran di dunia barat hari demi hari kian meningkat. Dan kamu dapati seseorang di antara mereka dari saat ke saat mendapat surat pemberitahuan PHK, oleh karena perusahaan bangkrut atau hampir bangkrut, tak ia dapati solusi kedepannya kecuali bunuh diri dan mati, karena seluruh hidupnya hanya bertalian dengan gajinya, maka jika gajinya terputus, ia berfikir kehidupannya telah putus pula. Ia tidak mendapatkan cara untuk memutus rasa sakitnya, mengakhiri duka citanya, dan mengendurkan ketegangan syarafnya selain akhiri kehidupannya.

Beda jauh dengan kehidupan seorang muslim, apabila ditimpa bencana dan himpit kesulitan, maka ia langsung berhubungan dengan Allah, merendahkan diri dan menghiba di hadapanNya, dan memohon agar disingkirkan kesusahannya, dihilangkan kesedihannya, dan di hapuskan penderitaannya.
Berhati hatilah terhadap rencana Yahudi dalam protokol ke empat :

“ Akan kita cabut kepercayaan kepada Allah dari benak orang orang kristiani, kemudian kita letakkan sebagai gantinya berupa angka angka hitung dan aktivitas aktivitas duniawi…”

Dan Yahudi berhasil menjadikan kristiani seperti itu, dan sekarang mereka mulai merusak umat Islam…


- Abdullah azzam -

sumber :eramuslim
Lengkapnya Klik DISINI

10 Ribu membuat Anda mengerti cara Bersyukur


kisah inspirasi
Ada seorang sahabat menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan. Usai membayar, tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan.
Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, "Beri kami sedekah, Bu!"

Istri Budiman kemudian membuka dompetnya lalu ia menyodorkan selembar uang kertas berjumlah 1000 rupiah. Wanita pengemis itu lalu menerimanya. Tatkala tahu jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan, ia lalu menguncupkan jari-jarinya mengarah ke mulutnya. Kemudian pengemis itu memegang kepala anaknya dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari yang terkuncup itu ke mulutnya, seolah ia ingin berkata, "Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kami
tambahan sedekah untuk bisa membeli makanan!"

Mendapati isyarat pengemis wanita itu, istri Budiman pun membalas isyarat dengan gerak tangannya seolah berkata, "Tidak... tidak, aku tidak akan menambahkan sedekah untukmu!"
Ironisnya meski tidak menambahkan sedekahnya, istri dan putrinya Budiman malah menuju ke sebuah gerobak gorengan untuk membeli cemilan. Pada kesempatan yang sama Budiman berjalan ke arah ATM center guna mengecek saldo rekeningnya. Saat itu memang tanggal gajian, karenanya Budiman ingin mengecek saldo rekening dia.
Di depan ATM, Ia masukkan kartu ke dalam mesin. Ia tekan langsung tombol INFORMASI SALDO. Sesaat kemudian muncul beberapa digit angka yang membuat Budiman menyunggingkan senyum kecil dari mulutnya. Ya, uang gajiannya sudah masuk ke dalam rekening.
Budiman menarik sejumlah uang dalam bilangan jutaan rupiah dari ATM. Pecahan ratusan ribu berwarna merah kini sudah menyesaki dompetnya. Lalu ada satu lembar uang berwarna merah juga, namun kali ini bernilai 10 ribu yang ia tarik dari dompet. Uang itu Kemudian ia lipat kecil untuk berbagi dengan wanita pengemis yang tadi meminta tambahan sedekah.

Saat sang wanita pengemis melihat nilai uang yang diterima, betapa girangnya dia. Ia pun berucap syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Budiman dengan kalimat-kalimat penuh kesungguhan: "Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah... Terima kasih tuan! Semoga Allah memberikan rezeki berlipat untuk tuan dan keluarga. Semoga Allah memberi kebahagiaan lahir dan batin untuk tuan dan keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Rumah tangga harmonis dan anak-anak yang shaleh dan shalehah. Semoga tuan dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat kelak nanti di surga...!"
Budiman tidak menyangka ia akan mendengar respon yang begitu mengharukan. Budiman mengira bahwa pengemis tadi hanya akan berucap terima kasih saja. Namun, apa yang diucapkan oleh wanita pengemis tadi sungguh membuat Budiman terpukau dan membisu. Apalagi tatkala sekali lagi ia dengar wanita itu berkata kepada putri kecilnya, "Dik, Alhamdulillah akhirnya kita bisa makan juga....!"

Deggg...!!! Hati Budiman tergedor dengan begitu kencang. Rupanya wanita tadi sungguh berharap tambahan sedekah agar ia dan putrinya bisa makan. Sejurus kemudian mata Budiman membuntuti kepergian mereka berdua yang berlari menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah warung tegal untuk makan di sana.

Budiman masih terdiam dan terpana di tempat itu. Hingga istri dan putrinya kembali lagi dan keduanya menyapa Budiman. Mata Budiman kini mulai berkaca-kaca dan istrinya pun mengetahui itu. "Ada apa Pak?" Istrinya bertanya.

Dengan suara yang agak berat dan terbata Budiman menjelaskan: "Aku baru saja menambahkan sedekah kepada wanita tadi sebanyak 10 ribu rupiah!"

Awalnya istri Budiman hampir tidak setuju tatkala Budiman mengatakan bahwa ia memberi tambahan sedekah kepada wanita pengemis. Namun Budiman kemudian melanjutkan kalimatnya:
"Bu..., aku memberi sedekah kepadanya sebanyak itu. Saat menerimanya, ia berucap hamdalah berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah. Tidak itu saja, ia mendoakan aku, mendoakan dirimu, anak-anak dan keluarga kita. Panjaaaang sekali ia berdoa!

Dia hanya menerima karunia dari Allah Swt sebesar 10 ribu saja sudah sedemikian hebatnya bersyukur. Padahal aku sebelumnya melihat di ATM saat aku mengecek saldo dan ternyata di sana ada jumlah yang mungkin ratusan bahkan ribuan kali lipat dari 10 ribu rupiah. Saat melihat saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Aku terlupa bersyukur, dan aku lupa berucap hamdalah.

Bu..., aku malu kepada Allah! Dia terima hanya 10 ribu begitu bersyukurnya dia kepada Allah dan berterimakasih kepadaku. Kalau memang demikian, siapakah yang pantas masuk ke dalam surga Allah, apakah dia yang menerima 10 ribu dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku yang menerima jumlah lebih banyak dari itu namun sedikitpun aku tak berucap hamdalah."

Budiman mengakhiri kalimatnya dengan suara yang terbata-bata dan beberapa bulir air mata yang menetes. Istrinya pun menjadi lemas setelah menyadari betapa selama ini kurang bersyukur sebagai hamba. Ya Allah, ampunilah kami para hamba-Mu yang kerap lalai atas segala nikmat-Mu

kisah diambil dari http://myquran.org/forum/index.php/topic,82145.0.html di posting oleh andy swan
gambar dari http://mathedu-unila.blogspot.com/2010/07/gambar-uang-10-ribu-baru.html

Lengkapnya Klik DISINI

Akhirnya, Salafi Yaman Deklarasikan Partai Politik

Setelah ditunggu publik terkait keputusan "ijtihad baru" di bidang politik, akhirnya Salafi Yaman mendeklarasikan berdirinya partai politik. Salafi Yaman mengambil momentum akhir Muktamar Umum Salafi yang digelar di Shan'a untuk mendeklarasikan partai bernama Ittihad Ar Rasyad Al Yamani, Rabu (14/3). Demikian lansir Yaman Sama Al Akhbariyah pada hari yang sama.

Muktamar juga menghasilkan keputusan mengajak rakyat Yaman untuk mendukung dan bergabung dengan partai baru itu.

Al Jazeera mengatakan, pembentukan partai politik itu merupakan peran besar para pemuda Salafi Yaman. Merekalah yang mendorong para tokoh Salafi di Yaman untuk membentuk partai politik sebagai wadah perjuangan yang yang diharapkan kelak menyatukan seluruh kelompok Salafi Yaman.

Syeikh Murad Al Qudsy menyatakan bahwa para pemuda Salafi memberi deadline kepada para tokoh Salafiyah untuk membentuk parpol. Jika tidak, mereka akan membentuk partai sendiri tanpa menyertakan para tokoh tersebut.

Muktamar bertajuk,”Salafiyun dan Aktivitas Perpolitikan” yang berlangsung selama dua hari tersebut juga membahas mengenai masalah demokrasi dalam pandangan syariat dan disyariatkannya aktif dalam perpolitikan serta alasan untuk berkecimpung di dalamnya. Menurut ketua panitia Abdul Wahhab Al Hamiqani, muktamar itu dihadiri para tokoh besar Salafi di Yaman dan seluruh faksi serta yayasannya.

Sebelumnya, sejak Februari lalu, salah seorang tokoh Salafi Dr. Aqil Al Miqthari, menegaskan akan mendirikan partai politik, terinspirasi dari Salafi Mesir yang telah mengambil "ijtihad siyasi" tersebut lebih dulu dan menjadi pemenang kedua melalui Partai An-Nur. [IK/Hdy/bsb]

http://www.bersamadakwah.com/2012/03/akhirnya-salafi-yaman-deklarasikan.html
Lengkapnya Klik DISINI

Mat Ambon, Lelaki Yang Diselamatkan Adzan

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim... 

Penulis bertemu dengan bapak dua anak yang biasa dipanggil Mat Ambon ini di perkampungan Mauk-Tangerang-Banten. Rumahnya sedehana, berbentuk semi permanen. Separuh dindingnya terbuat dari bilik bambu. 

Begitu masuk ke halaman kantornya, tampak suasana hijau nan asri. Tanaman hias dan buah tumbuh subur. Di sekelilingnya terdapat sangkar-sangkar burung, ternak bebek, ayam dan beberapa kelinci bebas berkeliaran. Di sini, suasana tenang dan damai terasa. 


Hidup di jalanan membuat lelaki ini berkubang kesesatan. Raja preman yang pernah menguasai Lapangan Banteng, Tanjung Priuk, Senen, sampai Tangerang ini akhirnya menerima panggilan Allah melalui suara adzan. Kini ia mengasuh 20-an anak-anak yatim dan anak terlantar lewat Yayasan Ali Zanni.

Masuk Penjara ...

Sekarang saya merasakan damai dan tenang dalam menjalani hidup. Suatu perasaan yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Hidup saya kelam, berkubang dosa sebelum saya taubat. Semua diawali ketika saya masih kecil. Waktu itu, tahun 1957, masa-masa sulit bagi bangsa ini setelah terbebas dari belenggu penjajah.

Ayah saya seorang militer berpangkat mayor. Jangan bayangkan kami bisa hidup enak. Tidak seperti sekarang, seorang mayor bisa hidup makmur. Dulu, pekerjaan ayah dihabiskan untuk mengabdi pada negara, bertugas menjaga keamanan, berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain. Keluarga kami harus hidup seadanya, sangat pas-pasan.

Saya anak ketiga dari empat bersaudara. Kehidupan kami sangat sulit, ibu menitipkan anak-anaknya ke beberapa kerabat agar bisa bertahan hidup. Cuma saya yang tinggal bersama ibu. Untuk membantu keuangan, saya bekerja apa saja; jualan koran, menyemir sepatu, dan melakukan pekerjaan kasar lainnya. Yang penting kami bisa makan.

Saya giat bekerja, sibuk mencari uang. Sekolah saya terbengkalai, saya tidak bisa melanjutkan sekolah dasar. Karena terbiasa hidup di jalan, tanpa sepengetahuan ibu, saya merantau ke Jakarta, tujuannya mencari uang untuk membantu ibu. Malang, saya malah terjebak pada dunia jalanan, dunia premanisme yang sedikitpun tidak pernah saya bayangkan.

Waktu itu, di Jakarta banyak terjadi Petrus (Penembakan misterius). Suatu pagi, ketika hendak mangkal di Lapangan Banteng, tempat saya mengais uang dengan menyemir sepatu, saya ditangkap petugas. Saya digiring ke kantor polisi, ditanya macam-macam tentang korban Petrus.

Walaupun saya dan teman-teman lain bukan tersangka, atau terkait dengan korban, tapi kami tetap harus menginap di hotel prodeo. Pahit sekali pengalaman saya. Saya pun bersumpah, inilah untuk terakhir kalinya saya masuk penjara. Nyatanya saya semakin terperosok. Hidup di kota besar banyak pengorbanan yang kita harus lakukan, terlebih kalau hidup di jalanan. Bagaikan vampir, setelah terhisap racun, saya pun menyedot racun lainnya agar bisa bertahan.

Jalanan telah membentuk saya menjadi seorang yang keras, tidak mengenal ampun. Menindas atau ditindas, membunuh atau dibunuh. Kekerasan hidup itulah yang akhirnya membuatku semakin terperosok dalam lumpur dosa. 

Semakin Hanyut ...

Bisa dikatakan saya ini seangkatan dengan Joni Indo. Dia itu abang saya. Syukurlah dia akhirnya bisa melepaskan diri dari cengkraman setan. Ketika saya remaja, saya tidak lagi bekerja nyemir sepatu atau jual koran.

Lama hidup di jalanan, saya tidak saja tahu seluk beluk jalanan, tapi saya menguasai dunia gelap itu. Saya tumbuh menjadi remaja yang lepas kontrol. Saya tidak bisa lagi membedakan mana yang tidak boleh saya lakukan.

Untuk bertahan, saya harus melakukan apa saja; menjadi preman, pencuri, perampok, bahkan saya harus menjadi pembunuh. Kejam? Memang, tapi semua saya lakukan untuk bertahan. 

Daerah Lapangan Ban­teng sudah saya kuasai. Semua preman tak ada yang tidak mengenal saya. Mereka tunduk, hormat dan mau melakukan apapun yang saya minta. Daerah kekuasaan saya sampai Poncol, Senen, Tanjung Priuk sampai Tangerang.

Walaupun preman, wajah saya tidak segarang yang dibayangkan orang. Fisik saya gagah dan tampan. Kekuatan saya tidak hanya pada dunia kriminalitas, tapi juga dalam menaklukan wanita. Saya sering gonta-ganti pasangan. Siapa pun wanita yang melihat saya langsung tunduk bahkan ada yang mengejar-ngejar saya.

Saya semakin hanyut, saya menggunakan daya tarik fisik saya untuk memperkaya diri. Ya, terjerumuslah saya dalam gelimang dunia gigolo. Naudzubillah. Setiap mengingat ini, perasaan saya sedih, pilu mengingat masa-masa kelam itu.

Waktu itu saya tidak merasa bersalah apalagi berdosa. Tidak pernah. Saya menikmati dunia yang mengumbar nafsu syahwat untuk kenikmatan sesaat. Saya memang tidak pernah merasa puas, justru saya semakin hanyut, larut, dalam nikmat dunia yang tidak pernah terpuaskan. Bayangkan, saya memiliki semuanya. Uang, perempuan dan status. Beberapa kali saya terpilih sebagai ketua preman, tapi semua itu sedikit pun tak pernah membahagiakan jiwa saya.

Saya bergelimang uang. Uang dari berzina, orang-orang yang membayar jasa saya ketika saya melakukan apa yang dia perintahkan, dan anak-anak buah yang rutin memberikan setoran. Mereka tunduk, memberikan berapa pun uang yang saya minta. Tapi, rezeki setan tidak pernah berkah. Saya tidak memiliki rumah, kendaraan mewah, atau harta lainnya. Semua uang saya habis di meja judi.

Judi adalah permainan yang membuat saya ketagihan, saya gila karenanya. Berapapun uang yang saya terima selalu habis di sana. Bahkan ketika saya menang pun, uang jutaan rupiah selalu habis dalam sekejap.

Hingga suatu sore, di tahun 2003, saya main judi di Gerendeng, daerah pusat kota Tangerang. Tiba-tiba saya mendengar suara adzan, panggilan untuk menunaikan shalat Ashar. Saya kemudian ke luar ruangan, telinga saya berdengung, hati saya bergetar. Tiba-tiba terbersit dalam hati: “Ya Allah, saya ingin bertaubat. Saya harus meninggalkan judi, minum, main perempuan. Saya bersumpah, ya Allah. Saya ingin taubat.”

Saya pun mengutarakan hal itu kepada 40 orang anak buah saya. Mereka terkejut, tidak percaya apa yang saya katakan. “Mana mungkin shalat Abang diterima, tato Abang kan banyak,” kata mereka.

Ada juga yang bilang, “Shalat Bang? Bakal hujan gede, geledek besar kalau Abang shalat,” atau ada yang berkomentar, “Yang bener nih? Berarti Abang nggak bakal bergaul sama kita lagi dong.”

Intinya mereka menghalagi saya ketika saya akan shalat. Tapi saya tidak peduli, saya sudah berbulat hati, saya capek hidup dalam kegelapan terus. Saya ingin shalat, saya ingin taubat. Itulah pertama kalinya saya menginjak masjid. Tubuh saya menggigil, dijalari rasa takut. Niat saya sudah bulat, saya berwudhu dan shalat.

Membangun Mushala ...

Saya mengalami perasaan luar biasa ketika pertama kalinya saya mencium bumi, bersujud dalam shalat. Nikmatnya luar biasa. Sulit saya gambarkan perasaan saya waktu itu.

Hari-hari berikutnya saya habiskan untuk shalat dan berzikir, saya memohon kepada Allah untuk mengampuni dosa-dosa yang saya perbuat. 

Saya terus bermunajat, berharap hanya kepada Allah. Saya tidak ingat hari; siang-malam saya habiskan untuk duduk bertafakur kepada-Nya. Setiap membaca inna shalati, wanusuki, wama yahya wa mati…saya merasakan siap untuk mati, menghadap Allah swt. Saya menangis setiap menyebut nama-Nya.

Subhanallah. Apakah taubat saya diterima? Allahu a’lam. Saya merasakan perasaan lapang, damai, dan kelembutan. Setelah rutin menjalani shalat, saya menjadi sosok yang mudah menangis, dan tidak bisa berbuat kasar. Bahkan menepuk nyamuk pun saya tidak tega. Benarlah janji Allah, bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan munkar. Setiap hari yang ingin saya lakukan hanya shalat saja. Apalagi shalat Tahajud, ibadah sunnah yang selalu saya rindukan.

Di saat saya kembali ke jalan Allah, ujian terberat adalah rezeki. Dulu, saya bergelimang uang, yang mudah sekali saya dapatkan. Berapapun yang saya minta selalu diberi. Kini, uang sangat sulit saya dapatkan, karena saya mantap mau menerima uang halal. Saya tidak mau menerima uang hasil rampokan dan sebagainya. Di sinilah kesabaran saya diuji.

Pada saat yang sama muncul dalam benak saya keinginan yang ingin segera saya wujudkan, yakni membangun mushala. Saya bisa saja mendapatkan uang dari yang tidak halal, tapi saya tidak mau. Saya ingin uang itu dari keringat saya sendiri. Saya mau uang itu terjaga kehalalannya. Saya pun mulai bekerja. Apa saja; menjadi satpam, menjaga rumah atau membantu orang-orang yang butuh bantuan.

Alhamdulillah, banyak orang yang mempercayakan saya untuk menjaga amanahnya. Waktu tak begitu lama, saya sudah mendapatkan rezeki untuk membangun mushala, saya menerima tanah wakaf seluas 100 meter persegi. Tidak hanya bantuan materi, bantuan fisik pun saya dapatkan dari para penduduk desa setempat. Kami bergotong-royong, bahu membahu, mengerjakan mushala.

Saya bersyukur kepada Allah swt. yang telah mengaruniakan semua ini. Sampai sekarang pun saya selalu memikirkan proses taubat saya yang tiba-tiba. Tapi itulah hidayah Allah yang tidak bisa dihalangi oleh siapapun. 

Kadang saya bertanya: Mungkinkah ini karena puasa Senin-Kamis yang tidak pernah saya tinggalkan semenjak muda? Ya, walaupun hidup berkubang maksiat, saya memang tidak pernah meninggalkan puasa sunnah itu. Entah mengapa ada kepercayaan kuat bahwa puasa itu akan membuat saya lebih kuat dari segi fisik.

Mendirikan Panti Asuhan ...

Kata orang, satu ibadah yang kita yakini akan menolong kita, akan menjadi pintu untuk kembali kepada cahaya-Nya. Mungkinkah karena puasa yang tidak pernah saya tinggalkan ini? Ya, apapun itu saya sangat bersyukur karena diberi kesempatan untuk kembali kepada jalan-Nya yang lurus.

Saya tidak mau merasakan nikmat ini sendirian. Saya kemudian mengajak teman-teman-teman preman untuk mengikuti jejak saya. Caranya, saya mengundang mereka untuk syukuran. Di sana saya akan menyusupkan pesan-pesan untuk bertaubat. Malam itu telah hadir 40 preman.

Mereka senang, karena menyangka saya akan kembali dalam dunia mereka. Mereka datang ada yang teler, setengah teler, dengan menggunakan motor dengan suara yang meraung-raung. Acara saya adakan di mushala.

Acara saya susun seperti acara pengajian. Banyak anak buah yang protes, “Bang, bilang dong kalo ngadain pengajian,” ungkap mereka. Banyak yang meninggalkan tempat, tapi ada juga empat orang preman yang ingin bertaubat dan mengikuti langkah saya. Alhamdulillah.

Saya tidak pernah meninggalkan teman-teman saya, walaupun banyak dari mereka yang kecewa pada perubahan saya. Sebaliknya saya tetap baik dan berdakwah kepada mereka. Mereka pun sama kuatnya untuk mengajak saya kembali berbuat maksiat. 

Tapi saya selalu menolaknya dengan cara halus. Saya yakin bahwa dakwah yang lembut akan mudah diterima. Saya tidak pernah menyerah. Saya akan terus mengajak mereka. Saya harus tanamkan bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa kita jika kita sungguh-sungguh bertaubat.

Hadits yang mengatakan jika kita berjalan menuju jalan Allah, Allah swt. akan berlari menyambut kita. Setelah bertaubat banyak kenikmatan dunia yang saya dapatkan, hidup tentram, rumah tangga saya harmonis. Kini amanah saya bertambah, yakni menjaga anak yatim.

Ceritanya, di wilayah yang tidak jauh dari tempat saya tinggal, ada sebuah rumah panti asuhan yang akan dibakar warga, karena seorang ibu asuhnya ingin membakar salah satu anak asuhnya. Beberapa orang datang kepada saya, “Bapak Ambon, tolong jaga rumah itu sebelum dibakar warga,” kata mereka. Saya pun menjaganya supaya tidak ada korban yang berjatuhan.

Peristiwa itu kemudian ditangani polisi. Masalah selanjutnya, siapa yang akan menampung 8 anak asuh yang tinggal di sana. Saya langsung menyatakan kesediaan. Istri saya sempat ragu, “Bagaimana Bapak ini, mencari nafkah untuk menghidupi anak 2 saja sulit, bagaimana dengan 8 anak lainnya?” kata istri saya khawatir. 

Saya pun meyakinkan, kita percaya Allah akan menolong kita, jika kita menolong anak-anak istimewa, titipan Allah itu. Akhirnya istri saya setuju.

Kami memiliki 5 pintu untuk dikontrakkan. Sekarang, seluruh tempat dipakai untuk anak-anak yatim. Sekarang jumlah anak asuh saya lebih dari 20 orang. Mareka adalah anak-anak yatim yang berasal dari wilayah di Tangerang. Saya tidak hanya menampung, tapi juga menyekolahkan mereka. 

Saya akan berupaya supaya mereka mendapat pendidikan yang tinggi, kalau perlu kuliah sampai sarjana. Istri saya, Ani Nurhayati, seorang ibu yang sabar, disipilin dan tekun beribadah. Yang saya kagum padanya adalah kekuatan dari dirinya untuk menyadarkan dan mendukung saya sepenuhnya.

Istri saya sangat sabar dalam mendidik dan mendisiplinkan anak-anak. Tadi pagi kami kedatangan tamu, seorang ibu yang menyerahkan anaknya yang baru berusia dua hari, karena tidak mampu memberinya makan. Istri saya dengan tangan terbuka mau mengasuh bayi tersebut.

Subhanaallah. Padahal dia tidak muda lagi, usianya sudah berkepala 6. Sekarang, kami sepakat untuk konsentrasi mengasuh anak-anak yatim. Saya berniat membangun asrama yatim. Semoga Allah memudahkan niat kami. Amin. (Siwi)

Wallahu A'lam bishawab ..


Lengkapnya Klik DISINI

Ketika Salman Al-Farisi Ditolak Lamarannya

Salman al Farisi adalah salah seorang sahabat Nabi saw yang berasal dari Persia. Salman sengaja meninggalkan kampung halamannya untuk mencari cahaya kebenaran. Kegigihannya berbuah hidayah Allah dan pertemuan dengan Nabi Muhammad saw di kota Madinah. Beliau terkenal dengan kecerdikannya dalam mengusulkan penggalian parit di sekeliling kota Madinah ketika kaum kafir Quraisy Mekah bersama pasukan sekutunya datang menyerbu dalam perang Khandaq.

Berikut ini adalah sebuah kisah yang sangat menyentuh hati dari seorang Salman Al Farisi: tentang pemahamannya atas hakikat cinta kepada perempuan dan kebesaran hati dalam persahabatan.


Salman Al Farisi sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mu’minah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai pacar. Tetapi sebagai sebuah pilihan untuk menambatkan cinta dan membangun rumah tangga dalam ikatan suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah, pelamaran.

Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang telah dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

”Subhanallaah. . wal hamdulillaah. .”, girang Abu Darda’ mendengarnya. Keduanya tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abu Darda’ berbicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.”

Abu Darda dan Salman menunggu dengan berdebar-debar. Hingga sang ibu muncul kembali setelah berbincang-bincang dengan puterinya.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Keterusterangan yang di luar kiraan kedua sahabat tersebut. Mengejutkan bahwa sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya. Bayangkan sebuah perasaan campur aduk dimana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran. Ya, bagaimanapun Salman memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya.

Namun mari kita simak apa reaksi Salman, sahabat yang mulia ini:

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”

Betapa indahnya kebesaran hati Salman Al Farisi. Ia begitu faham bahwa cinta, betapapun besarnya, kepada seorang wanita tidaklah serta merta memberinya hak untuk memiliki. Sebelum lamaran diterima, sebelum ijab qabul diikrarkan, tidaklah cinta menghalalkan hubungan dua insan. Ia juga sangat faham akan arti persahabatan sejati. Apalagi Abu Darda’ telah dipersaudarakan oleh Rasulullaah saw dengannya. Bukanlah seorang saudara jika ia tidak turut bergembira atas kebahagiaan saudaranya. Bukanlah saudara jika ia merasa dengki atas kebahagiaan dan nikmat atas saudaranya.

“Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” [HR Bukhari]

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil hikmah dari kisah Salman ini.[zilzaal]


sumber: http://www.islamedia.web.id/2013/01/ketika-salman-al-farisi-ditolak.html
Lengkapnya Klik DISINI

''Playboy Berkedok Ikhwan''

cara bicaranya, cara merespon lawan
bicara, cara memberi komentar di pesbuk,
semua kata-katanya indah dan menyentuh,
bahkan sangat gentlemen banget.”


Demikian kira-kira curhat seorang akhwat
terdengar kepada penulis. Mungkin banyak
dari kita mendapat curhat seperti itu dari
rekan dekat dan sekitar. Curhat kekaguman
seorang akhwat terhadap ikhwan yang
dikenal via fesbuk atau jejaring sosial lain.


Tidak mengherankan jika akhwat
mengagumi ikhwan berlebihan, karena
mungkin sang akhwat sedang terpedaya
oleh kalimat menghanyutkan dari sang
ikhwan.


Tetapi ada hal lain yang mesti diperhatikan
oleh seorang muslimah, bahwa lembut dan
tegas harus diletakkan pada tempat yang
proporsional.


Jika kita memperhatikan pergaulan dunia
maya, banyak yang tertipu dan mudah
percaya dengan identitas yang tersaji.


Padahal dunia maya itu tidak sepenuhnya
dapat dijadikan rujukan informasi tentang
identitas seseorang. Contoh yang paling
menonjol, banyak peristiwa akhwat terlukai
oleh manis tipuan ikhwan dunia maya.


Penulis ambil contoh dari jejaring sosial
fesbuk. Di sini rentan terjadi penipuan, baik
dari orang biasa maupun orang luar biasa
atau orang yang keluar dari kebiasaan.


Ada akhwat yang memang senang dan
merasa tersanjung dengan didekati ikhwan
yang rada-rada punya jiwa gombalis suka
bergaya puitis. Inbox dan komentar
dinilainya sebagai bentuk perhatian khusus
bagi akhwat, padahal tidak jarang bukan
cuma dua atau tiga akhwat yang dijadikan
target melancarkan aksi gombalisasi.


Tetapi ada juga akhwat yang justru merasa
risih dan gerah dengan banyak diperhatikan
ikhwan, karena akhwat akan dapat
menyimpulkan bahwa ikhwan model gini
tidak layak disebut sebagai ikhwan, tapi
lebih pantas dijuluki “Playboy Berkedok
Ikhwan.”


Ada beberapa ciri-ciri playboy bergaya
ikhwan di dunia maya yang bernama
facebook, antara lain:
1. Rajin memberikan perhatian kepada
akhwat melalui komentar, seakan ia adalah
ikhwan shalih yang hafal ratusan dalil Al
Qur’an dan hadits, padahal bermodal copy-
paste dari internet.


2. Giat kirim inbox pada akhwat. Penting
engga penting, ada aja alasan buat
membuka celah agar tercipta dialog,
terkadang dipaksa-paksakan, sampai-
sampai kucing tetangga yang lagi sakit pun
jadi bahan pembicaraan.


3. Tebar komentar berisi pujian, misalnya:
‘Subhanallah, ukhty sangat anggun dengan
hijab lebar itu’, atau ‘Wah….mantap benar
nih ukhti, ga rugi ana jadi teman anti’, dan
bla bla bla….


4. Tebar perhatian berisi nasihat, misalnya:
“Ukhti sholatnya yang khusyu’ ya’, ato ‘ukhti
semangat, mujahidah gitu lho, hehhee’.
Norak banget khan?”


5. Yang paling parah ini nih, tebar janji
ta’aruf dan nikah, padahal yang dijanjikan
bukan cuma dua atau tiga akhwat. Giliran
ketauan bohongnya, jadi berabe.


De el el, masih banyak lagi, yang pasti play
boy berbaju ikhwan ini sistematis cara
melancarkan serangan. Jika yang di incer
akhwat yang suka ngebahas jihad, maka
bentuk tebar pesonanya juga berkecimpung
tentang jihad, meskipun dengan modal
mbah Google. 


Jika yang diincar akhwat
aktivis, maka bentuk perhatiannya juga ga
jauh-jauh tentang problema keumatan,
meski kalimat perhatiannya hasil copas
beranda tetangga sebelah.


Terakhir, penulis hanya ingin mengingatkan
saja, hati-hati dengan JIL alias Jaringan
Ikhwan Lebay yang suka tebar perhatian.
Para FBI alias Female Bidikan Ikhwan juga
harus pintar-pintar menggunakan jejaring
sosial agar mendapatkan manfaat, bukan
mudharat. Kalau mau serius sama ikhwan,
lebih baik ajak kopdar dan nanya orang-
orang dekat. Dan kepada para play boy,
stop it deh aksinya, kasian para akhwat
yang udah terpedaya oleh aksi kalian. Be
Good man guys.. ^_^ Wahai Akhwat, Jangan
Tertipu ''Playboy Berkedok Ikhwan''



Sumber: Islamedia
Lengkapnya Klik DISINI

Mursi Fasilitasi Hamas dan Fatah Bahas Rekonsiliasi, Israel Meradang

Khalid Misy'al beserta sejumlah perwakilan Hamas bertemu dengan Mahmud Abbad beserta sejumlah perwakilan Fatah, Rabu (9/1) malam waktu setempat, di Kairo. Pertemuan untuk memperdalam pembahasan rekonsiliasi itu difasilitasi oleh Presiden Mesir Muhammad Mursi.

Sebelum pertemuan, Mursi menyambut para delegasi Palestina. Dengan ramah, presiden pertama yang terpilih secara demokratis di negeri Piramida itu menerima Khalid Misy'al dan membicarakan perkembangan terakhir Palestina serta agenda rekonsiliasi nasional.

Rekonsiliasi menjadi agenda penting bagi Hamas dan Fatah untuk bersatu membangun Palestina dan bagaimana menghadapi Israel. Selama ini, upaya rekonsiliasi selalu "digagalkan" oleh negara Zionis dengan berbagai cara.

Sejak terpilihnya Mursi sebagai presiden Mesir, Kairo berperan aktif merekatkan kedua belah pihak, Hamas dan Fatah. Campur tangan Israel diprediksi akan semakin melemah dalam memprovokasi Fatah menjauhi rekonsiliasi. [AM/IP/bsb]
 http://www.bersamadakwah.com/2013/01/mursi-fasilitasi-hamas-dan-fatah-bahas.html
Lengkapnya Klik DISINI

Kisah Perempuan Gila Pesta, Masuk Islam dan Pakai Jilbab

Heather Matthews, penggila pesta yang kini berjilbabKebahagiaan sejati dan menemukan ketenangan hidup, adalah tujuan sejati manusia. Ia bisa ditemukan dengan beragam cara, misalnya berbuat kebaikan untuk sesama, pergi ke tempat sunyi untuk berkontemplasi, atau mendalami ajaran agama.

Salah satunya dialami Heather Matthews (27), penampilannya berubah drastis, perempuan "gila pesta" dengan penampilan super-minim  kini berhijab atau mengenakan jilbab setelah memeluk agama Islam. Baginya Islam mengenalkannya pada kesejatian cinta dan kebahagiaan, yang tidak ia jumpai di gaya hidup lamanya.

Matthews, ibu dua anak itu, masuk Islam empat minggu lalu, dua bulan setelah pulang dari liburan di Ibiza. Ia kini bahkan mengatakan, foto-foto liburannya di Ibiza, tanpa jilbab, adalah sebuah bukti kekeliruan bagaimana dunia Barat mendefinisikan kecantikan.

"Aku melihat cara gadis-gadis masa kini berperilaku dan berdandan, mati-matian menciptakan imej untuk mereka tunjukkan pada orang lain, terutama para pria," kata dia. "Ini adalah soal menghormati diri sendiri. Jika Anda berpakaian dan berperilaku dengan cara tertentu, baik atau buruk, itu akan mempengaruhi cara orang memperlakukan Anda."

"Islam mengajarkan pada saya tentang kesejatian cinta, bukan hasrat palsu dan nafsu. Saat ini saya bahkan memandang perjodohan adalah hal yang logis."

Studi kelompok lintas agama, Faith Matters menemukan, jumlah warga Inggris yang akhirnya memeluk agama Islam saat ini melewati angka 100.000, dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir. Laporan tersebut juga menyebut, dua per tiganya adalah perempuan, dengan rata-rata usia 27 tahun. Seperti halnya Matthews.

Jalannya menuju Islam diawali justru ketika ia meyakinkan mantan suaminya, Jerrome, yang baru saja menjadi muslim, bahwa Islam adalah agama yang salah. Ia yang curiga pada Islam, mulai banyak membaca untuk mendukung argumennya.

Meski mereka bercerai tahun lalu, Heather Matthews terus mempelajari Islam dan makin mengerti. Akhirnya, empat minggu lalu ia mengucap kalimat syahadat di depan ulama lokal. "Aku saat ini memiliki saudari-saudari muslim, mereka membelikan aku hijab dan buku-buku Islami untuk merayakannya. Ini luar biasa."

Keputusannya itu menimbulkan reaksi dari teman-teman dan keluarga. Juga kenalannya yang kebetulan berpapasan, ternganga melihat kepalanya berjilbab. "Saat memakai jilbab, aku bisa tersenyum pada orang, tanpa membuat mereka berpikir, itu godaan secara seksual," kata dia seperti dilansir Daily Mail.

Matthews juga sepakat dengan aturan Islam, yang melarang hubungan seks di luar pernikahan. Juga menyimpan kecantikan hanya untuk suami. Ia kini berhenti minum alkohol, hanya mengonsumsi makanan halal, dan berniat puasa penuh di Bulan Ramadhan.

Tak ada paksaan dalam beragama
Meski menemukan ketenangan dalam Islam, Matthews tak akan memaksakan agama barunya pada dua putrinya, Ellah (5) dan Halle (2) hasil pernikahannya dengan Jerrome. Ia memberi kesempatan pada dua putrinya untuk menemukan jalan hidupnya sendiri.

Seperti halnya dirinya. "Orang bisa saja berprasangka, aku dalam tekanan. Tapi tidak. Aku perempuan yang kuat, percaya diri, dan berpikiran bebas," kata dia. "Aku mungkin masuk kategori orang-orang yang dianggap tak mungkin masuk Islam."

Namun, Matthews yakin, ia tak menyesali keputusannya. "Mungkin mengejutkan, namun aku memilih Islam demi cinta dan kebahagiaan. Yang jelas hidupku telah berubah." (umi)

 http://dunia.news.viva.co.id/news/read/362719-kisah-perempuan-gila-pesta--masuk-islam-dan-pakai-jilbab
Lengkapnya Klik DISINI

Jalan Ini Terjal, Tapi Menyenangkan

bukan-jalan-mudah 
Saya pernah bikin puisi. Tetapi kalo dilihat-lihat lagi, sepertinya bukan kategori puisi. Tepatnya sih coret-coretan aja. Untungnya bukan di dinding. Waktu itu abis ngisi acara di Surabaya. Daripada bengong nunggu di bandara karena pesawatnya delay, saya nulis puisi. Hehehe.. sebenarnya saya nggak terlalu bisa bikin puisi, meski waktu SMP sering nulis puisi saat ingin menumpahkan perasaan. Nah, ini dia puisi saya tersebut:

perjuangan belum berakhir

kita sudah ada di sini
di jalan terjal pilihan kita
memang bukan hal terbaik untuk saat ini
ketika gemerlap dunia senantiasa menggoda
sahabat, aku tak sudi dirimu berhenti
di saat perjuangan baru saja dimulai

kita sudah ada di sini
di jalan licin pilihan kita
memang bukan hal terbaik untuk saat ini
ketika keindahan dunia senantiasa merayu
sahabat, aku tak suka dirimu mengeluh
di saat perjuangan mulai terasa berat

kita sudah di sini
di jalan mendaki pilihan kita
memang bukan hal terbaik untuk saat ini
ketika kilauan dunia senantiasa mempesona
sahabat, aku tak mau semangatmu redup
di saat perjuangan tengah bergolak panas

kita sudah di sini
dan akan lanjutkan perjalanan
: terjal, licin, dan mendaki
demi kehidupan yang lebih baik
kita siap tinggalkan kesenangan diri
: seperti yang pernah kita ikrarkan

kita sudah di sini
satu langkah telah kita ayunkan
jangan pernah mundur sejengkal pun
ini jalan yang kita pilih
jalan dakwah
: merevolusi kekufuran, tegakkan kebenaran

jangan berhenti di sini
karena revolusi selalu butuh martir
dan memang perjuangan belum berakhir
yakinlah
kibar kemenangan Islam pasti datang
mari berjuang
jangan pernah berhenti

Ruang Tunggu Bandara Internasional Juanda, Surabaya.
29 April 2007

Hehehe.. gimana Bro en Sis rahimakumullah? Keren nggak tulisan yang menyerupai puisi ini? Idih, gue kok jadi narsis gini sih? Ehm, itu lagi ada ‘godaan’ dikit, Bro en Sis. Kadang saya harus melakukan sesuatu untuk meyakinkan jalan yang telah dan akan saya pilih. Saya pikir semua orang pasti punya masalah. Tentu saja berbagai macam masalah. Tak semuanya sama. Kalaupun ada yang sama, mestinya ‘angle-nya’ berbeda. Selain itu, (seharusnya) mereka pun punya cara tersendiri untuk mengatasinya. Tul nggak? Hah? Nggak? Betul aja deh! *maksa banget.

Kuat fisik, kuat mental
 
Bro en Sis pembaca setia gaulislam, jadi aktivis dakwah itu konon katanya adalah pilihan di tengah mainstream alias arus utama yang memang bertentangan dengan jalan dakwah. Arus utama kehidupan saat ini adalah gaya hidup yang hedonis, permisif, sekuler. Sementara jalan dakwah adalah jalan penuh kemuliaan, kebaikan, dan tentunya kebenaran sesuai tuntunan Allah Swt. dan RasulNya. Meski jalan menuju kemuliaan itu terasa berat. Terasa terjal, berliku, berlubang, dan membahayakan. Tapi yakinlah bahwa itu sekadar ujian. Semoga kita jadi tahan banting.

Ngomongin tentang beratnya kehidupan, Aa Gym, dalam narasi awal di salah satu lagu The Fikr bertutur: “jalan berliku, terjalnya tebing, curamnya jurang, bukanlah sesuatu yang mengerikan. Yang paling mengerikan adalah kehilangan keberanian untuk mengarungi kehidupan. Siapapun yang berani mengarungi kehidupan, dia harus menikmati hiruk-pikuk kesulitan, terjalnya masalah, dalamnya kepiluan, karena di balik semua itu tersimpan hikmah yang dalam. Bagi pencari kebenaran, kenikmatan adalah untuk terus mencari, mengarungi samudera kehidupan.”

Sobat muda muslim, untuk menjadi ahli kung-fu, Jacky Chan dan Jet Li kalo di film-filmnya mereka yang versi jadul (tahun 80-an lah) dilatih memikul jerigen berisi air sambil lari-lari, atau ambil air pake mangkok untuk ngisi tempat air besar. Udah gitu, caranya bikin ribet. Kedua kakinya dikaitkan ke sebatang bambu di atas kayak orang main sirkus. Kepala ada di bawah. Nah, lalu tangannya megang mangkok untuk ambil air di jerigen besar di bawah yang akan diisikan ke tempat air di atas yang lebih besar. Halah, latihan yang ribet dan berat. Bahkan tak ada hubungannya dengan jurus-jurus kung-fu. Tapi ternyata itu adalah untuk membiasakan fisik mereka tahan bantingan.

Bagaimana setelah latihan itu? Baru deh, ketika dirasa cukup, biasanya sang guru akan nularin ilmu kung-fu ke muridnya tersebut. Meski itu di film, tapi saya merasa yakin bahwa belajar kung-fu memang tak langsung dilatih jurus-jurus bertarung. Sama seperti main bola. Cristiano Ronaldo dkk nggak melulu latihan menggocek bola. Tapi ada latihan fisiknya. Kalo ini, saya merasa yakin banget karena mereka sering diliatin ke publik saat sesi latihan. BTW, makin yakin lagi karena saya pernah juga main game Soccer Manager (hehehe.. di situ ada simulasi ngelatih fisik pemain juga. Jadi tahu dah). *Ssst.. saya mainnya cuma sebentar kok. (Idih, siapa yang nanya?) Hahahaha…

Lah, terus apa hubungannya ngomongin kung-fu dengan dakwah? Apa korelasinya dengan judul “jalan ini terjal, tapi menyenangkan”? Wadow, untung nggak berlanjut ngelanturnya. Ehm, sebenarnya masih nyambung kok. Nggak ngelantur jauh. Maksudnya, untuk menjadi aktivis dakwah, kita juga harus teruji baik secara fisik maupun mental. Fisik kudu oke. Karena tak jarang dakwah nguras tenaga. Harus ngisi acara pengajian pagi hari, harus ngisi kajian malam hari, atau mengaji di siang hari. Belum lagi tempat atau daerah yang akan dikunjungi untuk berdakwah yang jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggal kita. So, fisik kudu prima, Bro.
Selain kuat fisik, yang nggak kalah penting adalah melatih mental. Pikiran dan perasaan kita kudu siap ngadepin beragam masalah. Meski nggak dituntut agar semau masalah bisa diatasi, tapi setidaknya bisa mencari akar masalahnya dan beberapa masalah bisa diselesaikan dengan baik. Nah, berarti ini memang butuh kesiapan yang bagus. Iya nggak sih?

Tak ada kata henti

Sobat gaulislam, tak ada kata henti dalam hidup kita untuk senantiasa melakukan amal baik. Seharusnya memang tak pernah ada pula keluh kesah dalam perjuangan dakwah ini. Semestinya pun tak keluar dari mulut kita kata putus asa karena begitu banyak perjuangan dakwah yang menyedot perhatian kita. Yakinlah, Allah Swt. tak pernah dan tak akan pernah salah dalam mengkalkulasi amalan baik kita. Mungkin kita lupa sudah berapa amal baik yang kita kerjakan, tapi Allah Ta’ala tak akan pernah lalai mencatatnya dan menghitungnya untuk bekal kita di negeri abadi kelak. Begitu pun pasti kita lupa berapa banyak amalan buruk yang pernah kita lakukan, tapi Allah Swt. pasti tak akan pernah lupa dan akan dengan mudah mencatatnya. Tapi kita memohon kepadaNya, agar tetap diberikan kekuatan untuk melakukan amalan baik selama hidup kita. Sebanyak mungkin.

BTW, masih ingatkah kita ketika kita pertama kali belajar Islam? Kita bahkan mengeja nama Allah dengan amat susah. Kita tidak paham tentang isi al-Quran, kita tak mengerti apa arti perjuangan dakwah, kita bahkan buta dan tak pernah tahu dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup di dunia, dan ke mana akan pergi setelah kematian. Saya pernah merasakan demikian, dan saya yakin di antara kita bahkan ada yang pernah melakukan kemaksiatan sebelum akhirnya mendapat hidayahNya. Saya yakin di antara kita bahkan pernah menolak ajakan dakwah dari seseorang. Mencibir pelakunya dan menganggap sia-sia perbuatan mereka. Itu ketika kita tidak tahu.

Semoga memori tentang ini menjadikan kita manusia yang bijak. Pengemban dakwah yang peka dan mampu menangkap segala sisi manusia sebagai objek dakwah kita. Kita tumbuh menjadi pengemban dakwah dan pejuang Islam yang sabar dan penuh kelembutan. Jika kita berhadapan dengan objek dakwah yang menolak, bahkan menyerang kita, anggap saja bahwa mereka seperti kita dulu yang juga membutuhkan sentuhan kuat orang yang tak bosan mengajak kita menjemput hidayahNya. Jangan pernah merasa menilai umat ini telah jumud, jika kita sendiri belum maksimal mengajaknya untuk menjadi lebih baik. Tak perlu mengampuni usaha kita yang gagal dengan alasan umat sudah bosan dengan dakwah. Lalu kita merasa benar sendiri dan menyalahkan mereka.

Sobat muda muslim, ingatlah bahwa kita bisa seperti sekarang ini juga butuh waktu dan proses. Karena sejatinya perubahan tak bisa dicapai seperti makan cabe rawit yang langsung terasa pedasnya. Atau proses produksi mesin dalam industri yang bisa seragam dan mudah dibuat. Tapi kita berhadapan dengan manusia. Berhadapan dengan jiwa yang seringkali tak mudah untuk diajak berpikir sama seperti yang kita inginkan. Proses perubahan sosial memang tak semudah proses produksi mesin industri. Selalu saja ada variabel yang mengharuskan kita banyak bersabar dan mencari cara jitu mengatasinya.

So, kalo jujur saja, jalan dakwah ini memang terjal. Tapi menyenangkan. Allah Swt. sudah ‘menghibur’ kita dalam firmanNya (yang artinya): “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim’” (QS Fushshilat [41]: 33)

Nah sobat muda muslim, mulai sekarang jangan tunjukkan kelemahan kita dalam perjuangan dakwah ini. Usir deh tuh keluh kesah kita, buang jauh-jauh putus asa. Sebaiknya selalu memohon kepada Allah Ta’ala agar kita dimudahkan dalam mengemban dakwah ini, memohon dalam doa kita kepadaNya agar kita sabar ketika menghadapi berbagai macam ujian dakwah dan ujian kehidupan kita. Selain itu, tentu saja senantiasa kita berharap keridhoan Allah Ta’ala dalam setiap niat dan upaya perjuangan dakwah kita. Semangat! [solihin | Twitter @osolihin]

http://osolihin.wordpress.com/2013/01/07/jalan-ini-terjal-tapi-menyenangkan/
Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......