Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

Sikap Itsar dalam Dinamika Politik

Oleh : Cahyadi Takariawan

Ketika dakwah memasuki wilayah politik, ada berbagai dinamika yang menjadi bagian dari konsekuensi perpolitikan. Misalnya saja setiap prosesi politik lima tahunan, berupa pemilihan umum legislatif, atau pemilihan presiden, atau pemilihan kepala daerah. Selalu saja ada dinamika dalam menentukan calon anggota dewan, calon presiden yang diusung, atau calon kepala daerah yang diusung. Tentu saja dinamika itu adalah hal yang wajar, mengingat keputusan yang diambil menyangkut wilayah strategis dan memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat, bangsa dan negara.

Pada berbagai partai politik, penentuan kepengurusan partai, penentuan calon anggota dewan, penentuan calon kepala daerah yang diusung, selalu menimbulkan konflik. Mereka berebut posisi, berebut jabatan, berebut kesempatan. Ambisi politik telah mengalahkan akal sehat, sehingga tidak jarang partai menjadi pecah dan berantakan. Kekecewaan akibat tidak ditempatkan sebagai calon anggota dewan, sering menjadi dalih untuk bertikai. Saling menjegal, saling menyikut, dan akhirnya menimbulkan barisan sakit hati. Rutin terjadi setiap prosesi pemilihan dan penentuan posisi politik.

Di sisi lain, sebagai muslim kita mendapatkan ajaran ukhuwah yang sangat indah. Kita mendapatkan arahan untuk mendahulukan saudaranya dibanding diri sendiri. Kita tidak diperbolehkan berlaku egois yang hanya memikirkan dan mementingkan diri sendiri. Ajaran tersebut kita kenal sebagai itsar, yaitu mengutamakan kepentingan saudaranya di atas kepentingan diri sendiri.

Adakah Itsar dalam Aktivitas Politik?

Mari tinggalkan perpecahan dan pertikaian berbagai partai politik setiap kali menentukan  posisi perpolitikan. Sesungguhnyalah sampai saat ini, itsar tetap terjaga dalam berbagai kegiatan politik. Dalam skala mikro, di tubuh gerakan dakwah yang berbentuk partai politik, kita bisa menyaksikan bagaimana prosesi pemilihan bakal calon anggota dewan. Ustadz Untung Wahono berkali-kali menyatakan, “Andai boleh memilih, saya memilih tidak menjadi calon anggota dewan. Biarlah ikhwah lain yang menduduki posisi itu, mereka jauh lebih layak dan lebih tepat dibanding dengan saya”.

Pada kesempatan lain, ustadz Untung Wahono menyatakan, “Andai saya boleh memberikan posisi yang diberikan kepada saya sebagai calon anggota legislatif kepada kader lainnya, pasti akan saya berikan. Saya lebih nyaman tidak menjadi calon anggota dewan”.

Sahabat saya, Muhammad Darul Falah menceritakan, “Saya memiliki aktivitas rutin setiap lima tahun sekali, yaitu mengundurkan diri dari proses pencalonan sebagai anggota dewan. Sayangnya, pengunduran diri itu selalu ditolak”. Menurutnya, masih sangat banyak kader lain yang memiliki kapasitas dan kapabilitas yang lebih tepat untuk menempati posisi itu. Ia tidak bersedia dijadikan calon anggota dewan, namun karena sifatnya adalah penugasan, maka setiap kali mengajukan pengunduran diri, selalu ditolak oleh para pimpinan di partai dakwah tempatnya berkiprah.

Bu Anis Byarwati dengan cepat merespon keputusan pimpinan Partai yang menyatakan tidak diperbolehkan suami isteri menjadi calon anggota dewan. Hanya diperbolehkan salah satu saja yang dicalonkan. Beliau mantap tidak maju menjadi calon anggota dewan, dan mempersilakan sang suami yang diproyeksikan menjadi calon anggota dewan. Semua mengerti, bahwa bu Anis Byarwati memiliki kapasitas yang sangat relevan dengan tugas sebagai anggota dewan, apalagi setelah beliau menyandang gelar doktor bidang ekonomi belum lama ini. “Masih banyak kader lain yang memiliki potensi dan kapasitas untuk menjadi anggota dewan”, ungkap beliau suatu ketika.

Demikian pula ustadz Makruf Amary yang selalu menolak untuk dijadikan calon anggota dewan. Beliau memilih menikmati kegiatan sosial karena merasa tidak tepat mendapat amanah sebagai anggota dewan. “Biarlah kader-kader lain yang ditempatkan dalam posisi anggota dewan, saya tidak tepat diberi amanah di bidang itu”. Padahal setiap menjelang Pemilu nama beliau selalu muncul sebagai salah seorang calon anggota dewan, namun beliau selalu konsisten menolak amanah itu karena merasa tidak tepat. “Saya diberi amanah dakwah yang lain saja. Masih sangat banyak amanah dakwah di luar parlemen”, lanjutnya.

Masih sangat banyak kita lihat fenomena seperti itu. Jika banyak kalangan masyarakat selama ini menilai, setiap partai politik atau politisi selalu berebut untuk menjadi anggota legislatif, maka terbukti penilaian itu tidak benar. Di kalangan kader dakwah, sikap mempersilakan kader lain untuk menempati posisi calon anggota dewan masih selalu kita jumpai di antara mereka. Tidak ada yang berebut posisi, daerah pemilihan atau nomer urut pencalonan. Semua saling mempersilakan kader lainnya.

Hanya karena penugasan atau keputusan Partai, maka mereka bersedia menjadi calon anggota legislatif. Bukan saling berebut ingin menjadi calon anggota legislatif. Namun mereka saling mempersilakan kader lainnya, dan dengan sikap itu memudahkan para pimpinan Partai untuk menempatkan calon anggota dewan tanpa ada keributan atau perebutan.
Belajar Itsar dari Generasi Terdahulu
Itsar sudah menjadi pelajaran penting dari generasi keemasan Islam. Para sahabat Anshar dan Muhajirin menjadi pembahasan yang sungguh luar biasa indah dalam pelajaran itsar. Anshar telah memiliki sikap yang sangat tulus dalam memuliakan saudara-saudara mereka dari kalangan Muhajirin. Kecintaan, pembelaan, pengutamaan terhadap saudara mereka atas diri mereka sendiri sungguh mencengangkan, sehingga pantas diabadikan dalam Al Qur’an :

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan” (Al Hasyr : 9).

Para sahabat Anshar digambarkan memiliki dua karakter yang sangat kuat, yaitu mencintai komunitas Muhajirin (yuhibbuuna man haajara ilaihim), dan memiliki kelapangan dada (salamatush shadr) terhadap Muhajirin. Coba perhatikan kalimat yang digunakan Al Qur’an dalam memberi gambaran kebersihan dan ketulusan hati masyarakat Anshar : “Walaa yajiduuna fii shuduurihim haajatan mimmaa uutuu, dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin)”.

Allah menggunakan kata shudur, bukan qulub, ketika menggambarkan kondisi kelapangan dada masyarakat Anshar. Qulub (hati) itu lebih kecil bentuknya, dibandingkan dengan shudur (dada). Orang-orang Anshar itu memiliki kelapangan dada dalam berinteraksi dengan Muhajirin, tampak dalam penggunaan kata “haajatan”. Mereka tidak memiliki suatu keinginan dalam dada. Jangankan iri atau dengki (hasad), keinginan (hajat) saja tidak ada. Hasad tentu lebih besar nilainya dan lebih parah, sementara keinginan (hajat) itu lebih kecil dan sederhana.

Hal kecil berupa “hajat” saja tidak dijumpai dalam dada (shadr) mereka yang luas. Apalagi hasad. Luar biasa penggambaran ini !

Wa yu’tsiruuna ‘alaa anfusihim walau kaana bihim khashaashah, dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan”. Ketika Anshar mengutamakan (itsar) kepada Muhajirin, bukan berarti mereka tidak memiliki kesulitan. “Walau kaana bihim khashaashah”, masyaallah! Mereka memiliki kesulitan, namun tetap mengutamakan Muhajirin atas diri mereka sendiri. Luar biasa sikap yang ditampakkan oleh para sahabat generasi terdahulu.

Bagaimana Mereka Melakukannya?

Perhatikanlah kisah itsar di kalangan para sahabat Nabi Saw berikut ini. Seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw, lalu dia berkata, “Sungguh aku ini miskin dan sangat lapar.” Lalu Rasulullah Saw menyampaikan hal tersebut kepada sebagian istri beliau. Maka mereka berkata, “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan hak, saya tidak memiliki apa-apa kecuali air. Kemudian Rasulullah Saw menyampaikan hal itu kepada istri-istri beliau yang lain. Sampai semuanya mengatakan jawaban yang sama, “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan hak, saya tidak memiliki apa-apa kecuali air”.

Rasulullah Saw pun bertanya kepada para sahabat, “Siapakah kiranya yang sudi menjamu tamuku malam ini?” Maka berkatalah seorang dari kalangan Anshar, “Saya wahai Rasulullah.” Kemudian sahabat tersebut membawa tamunya ke rumahnya dan berkata kepada istrinya, “Muliakanlah tamu Rasulullah Saw.”

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa shahabat tersebut bertanya kepada istrinya, “Apakah kamu memiliki sesuatu (untuk menjamu tamu Rasulullah Saw). Istrinya pun menjawab, “Tidak ada, hanya makanan yang cukup untuk anak-anak kita”. Lalu sahabat tersebut berkata, “Sibukkanlah anak-anak kita dengan sesuatu (ajaklah bermain), kalau mereka ingin makan malam, ajak mereka tidur. Dan apabila tamu kita masuk (ke ruang makan), maka padamkanlah lampu. Dan tunjukkan kepadanya bahwa kita sedang makan bersamanya”.

Mereka duduk bersama, tamu tersebut makan, sedangkan mereka tidur dalam keadaan menahan lapar. Tatkala pagi, pergilah mereka berdua (sahabat dan istrinya) menuju Rasulullah Saw. Lalu Rasulullah Saw memberitakan pujian Allah subhanahu wata’ala terhadap mereka berdua, “Sungguh Allah merasa kagum dengan perbuatan kalian berdua terhadap tamu kalian” (Muttafaq ‘alaih). Kemudian Allah menurunkan surat Al Hasyr ayat 9.

Subhanallah! Luar biasa sikap para sahabat Nabi Saw dalam mengutamakan saudara-saudara mereka. Kisah Perang Yarmuk berikut juga sangat masyhur. Abdullah bin Mush’ab Az Zubaidi dan Hubaib bin Abi Tsabit menceritakan, bahwa dalam perang Yarmuk, Ikrimah meminta air minum, kemudian ia melihat Suhail sedang memandangnya, maka Ikrimah berkata, “Berikan air itu kepadanya.” Dan ketika itu Suhail juga melihat al-Harits sedang melihatnya, maka iapun berkata, “Berikan air itu kepadanya (al Harits)”. Namun belum sampai air itu kepada al Harits, ternyata ketiganya telah meninggal tanpa sempat merasakan air tersebut (Riwayat Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat dan Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid).

Sangat banyak kejadian semacam ini pada zaman keemasan Islam. Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Abu Thalhah pada perang Uhud menjadi pasukan panah dengan posisi di depan Nabi Saw, dia memang seorang yang ahli memanah. Apabila Abu Thalhah memanah maka Rasulullah Saw memperhatikan kemana sasaran anak panahnya mengena. Maka Abu Thalhah mengangkat dadanya (untuk melindungi Nabi) seraya berkata, “Wahai Rasulullah, supaya engkau tidak terkena sasaraan panah musuh, biarlah yang terkena adalah leherku bukan lehermu” (Riwayat Ahmad dan selainnya, sanadnya shahih).

Kisah beredarnya kepala kambing berikut juga sangat terkenal. Ibnu Umar Ra menceritakan bahwa salah seorang dari shahabat Nabi Saw diberi hadiah kepala kambing, dia lalu berkata, “Sesungguhnya Fulan dan keluarganya lebih membutuhkan ini daripada kita.” Ibnu Umar mengatakan, “Maka ia kirimkan hadiah tersebut kepada yang lain, dan secara terus menerus hadiah itu dikirimkan dari satu orang kepada yang lain hingga berputar sampai tujuh rumah, dan akhirnya kembali kepada orang yang pertama kali memberikan” (Riwayat al Baihaqi dalam Asy-Syu’ab).

Ada lagi kisah anggur. Ibnu Umar suatu ketika mengalami sakit, dia sangat menginginkan anggur pada awal musimnya. Maka dia mengutus Shafiyah dengan membawa satu dirham untuk membeli anggur segar. Ketika utusan mengantarkan anggur, dia diikuti oleh seorang pengemis. Setelah sampai di pintu rumah, maka utusan masuk. Dari luar berkata pengemis, “Ada pengemis.” Maka Ibnu Umar berkata, “Berikan anggur itu kepadanya.” Maka utusan itu memberikan anggur tersebut kepada si pengemis (Riwayat Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab).

Kejadian demikian itu terulang hingga dua kali, sehingga Shafiyah meminta agar pengemis itu tidak kembali lagi untuk ketiga kalinya.

Berikut adalah kisah roti. Anas bin Malik meriwayatkan dari Aisyah Ra, bahwa ada seorang miskin meminta-minta kepadanya padahal dia sedang berpuasa, sementara di rumahnya tidak ada makanan selain sekerat roti kering, berkata Aisyah kepada pembantunya, “Berikan roti itu kepadanya,” si pembantu menyahut, “Engkau nanti tidak memiliki apa-apa untuk berbuka puasa”. Maka beliau berkata lagi, “Berikan roti itu kepadanya.” Perawi mengatakan, “Maka pembantu itu melakukannya, dan dia berkata, “Belum menjelang sore ada salah satu dari keluarga Nabi, atau seseorang yang pernah memberi hadiah mengantarkan daging kambing (masak) yang telah ia bungkus. Maka beliau memanggilku dan berkata, “Makanlah engkau, ini lebih baik daripada rotimu tadi” (Riwayat Imam Malik dalam Al-Muwaththa’).

Kisah berikut juga sangat menyentuh. Dari Aun bin Abdullah dia berkata, “Seseorang yang sedang berpuasa berteduh, ketika menjelang berbuka seorang pengemis datang kepadanya, ketika itu dia memiliki dua potong kue. Maka salah satunya diberikan kepada si pengemis, namun sejenak ia berkata, “Sepotong tidaklah membuatnya kenyang, dan sepotong lagi tidak membuatku kenyang, maka kenyang salah satu lebih baik daripada kedua-duanya lapar.” Akhirnya ia berikan yang sepotong lagi kepada si pengemis. Kemudian ketika tidur dia bermimpi didatangi seseorang dan berkata, “Mintalah apa saja yang kau kehendaki.” Dia menjawab, “Aku minta ampunan”. Orang tersebut berkata, “Allah telah melakukan itu untukmu, mintalah yang lain lagi!” Dia berkata, “Aku memohon agar orang-orang mendapatkan pertolongan” (Riwayat Ad-Dainuri dalam Al-Mujalasah).

Kita memang belum ada apa-apanya dibanding mereka. Kadang masih ada hasad dalam hati kita terhadap posisi, kedudukan, jabatan dan kekayaan yang ada pada saudara kita. Astaghfirullahal ‘azhim. Kadang masih kita jumpai ada hasad dalam hati kita atas peluang kejayaan yang dimiliki atau diberikan kepada saudara kita. Astaghfirullahal ‘azhim. Dalam hati (qalb) yang kecil, terdapat hasad yang besar. Sementara para sahabat terdahulu, dalam dada (shadr) mereka yang luas, tidak terdapat hajat yang kecil. Subhanallah.
Lengkapnya Klik DISINI

Pengamat Intelijen: “Jokowi Disetir dan Dipengaruhi Kelompok Zionis-Freemasonry”

mulyo wibisono-mantan kepala bais-seruu.com-jpeg.image
Mulyo Wibisono
Aksi Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo selama ini disetir dan
dipengaruhi agen asing, yakni kelompok Freemasonry dan Zionis. Bahkan istri Jokowi, Iriana, adalah petinggi Rotary Club (RC), yang berafiliasi pada kelompok Zionis Yahudi.

Sinyalemen itu disampaikan pengamat intelijen Laksamana Pertama (Purn) Mulyo Wibisono kepada Kamis (24/1/2013).

“Rotary Club dan Lions Club itu kegiatan subversif. Kelompok ini berusaha mengatur dunia. Itu organisasi yang secara terselubung dikendalikan gerakan internasional, Freemasonry. Itu dikendalikan Amerika Serikat dan Yahudi. Club itu alat asing, maka mereka itu agen asing termasuk istri Jokowi,” tegas Wibisono.

Mantan Komandan Satgas Intel Badan Intelijen Strategis itu juga mengkritisi gaya pencitraan Jokowi.

“Jokowi tak usah banyak ngomong dan tampil di media. Apalagi kalau bicara seratus hari, satu periode saja Jokowi belum bisa memperbaiki Jakarta. Jangan pencitraan terus, nanti dituding omong kosong dan penipu. Jokowi baru tingkat pencitraan saja. Apakah masuk gorong-gorong bisa menyelesaikan banjir Jakarta?” tegas Wibisono.

Wibisono juga menyoal ide Jokowi soal pembangunan di Jakarta. “Itu membutuhkan dana yang besar sekali.  butuh biaya besar. Untuk ngebor saja, anggaran Jakarta bisa habis. Untuk itu harus ada program yang berkesinambungan,” ungkap Wibisono.

Menurut Wibisono, pencitraan Jokowi telah diblow up media massa pro asing, sehingga terkesan Jokowi berhasil. “Jokowi itu seperti anak sekolah dasar yang ngomong sekolah menengah atas. Itulah yang diucapkan Jokowi. Menyelesaikan Jakarta tidak bisa dengan hanya ngomong dan pencitraan,” tegas Wibisono.

Terkait dengan penyelesaian berbagai masalah di Jakarta, kata Wibisono, Jokowi tidak bisa sendiri, tetapi harus diselesaikan oleh pemerintah pusat. “Banjir Jakarta tidak bisa diselesaikan oleh Pemprov DKI saja. Bisa diselesaikan secara nasional. Kalau ada yang mengatakan bisa mengatasi Jakarta, tanpa pemerintah pusat itu omong kosong,” pungkas Wibisono. 

Soal kedekatan Jokowi dan istri dengan kelompok Freemasonry dan Zionis itu memang sudah diungkap oleh banyak media massa. Harian Joglosemar, pada Kamis (23/2/12), misalnya, menurunkan tulisan terkait pelantikan istri Jokowi, Iriana, sebagai anggota kehormatan Rotary Club Solo Kartini. Pelantikan itu bertepatan dengan ulang tahun ke-107 Rotary Internasional. 

Saat menjabat sebagai Walikota Solo, Jokowi pada 15 Juli 2011, bersama sejumlah anggota Rotary Club Solo Kartini meninjau proyek porselenisasi di Krajan, Kadipiro, Solo. Berita itu dirilis media lokal, Sragen Pos. 

Jokowi-jpeg.imageBenarkah Rotary Club bagian dari gerakan Freemasonry dan Zionisme? Peneliti Zionisme, Ridwan Saidi dalam buku bertajuk ‘Jaringan Yahudi di Nusantara’ menyebut Rotary Club Internasional sebagai perabot Zionis.
Menurut Ridwan Saidi, sebagai organisasi elit yang menjalankan misi kemanusiaan, Rotary Club sepenuhnya dikendalikan oleh Freemasonry dan Zionisme. (itoday)

salam-online
Lengkapnya Klik DISINI

TAHUKAH ANDA BAHWA AL-QUR'AN TELAH BICARA SOAL SIDIK JARI?

TAHUKAH ANDA BAHWA AL-QUR'AN TELAH BICARA SOAL SIDIK JARI?

Islamedia - Saat dikatakan dalam Al Qur'an bahwa adalah mudah bagi Allah untuk menghidupkan manusia setelah kematiannya, pernyataan tentang sidik jari manusia secara khusus ditekankan:

"Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya? Ya, bahkan Kami mampu menyusun (kembali) ujung jari-jarinya dengan sempurna." (Al Qur'an, 75:3-4)

Setiap orang, termasuk mereka yang terlahir kembar identik, memiliki pola sidik jari yang khas untuk diri mereka masing-masing, dan berbeda satu sama lain. Dengan kata lain, tanda pengenal manusia tertera pada ujung jari mereka. Sistem pengkodean ini dapat disamakan dengan sistem kode garis (barcode) sebagaimana yang digunakan saat ini.
 
Penekanan pada sidik jari memiliki makna sangat khusus. Ini dikarenakan sidik jari setiap orang adalah khas bagi dirinya sendiri. Setiap orang yang hidup atau pernah hidup di dunia ini memiliki serangkaian sidik jari yang unik dan berbeda dari orang lain.

Itulah mengapa sidik jari dipakai sebagai kartu identitas yang sangat penting bagi pemiliknya dan digunakan untuk tujuan ini di seluruh penjuru dunia.
Akan tetapi, yang penting adalah bahwa keunikan sidik jari ini baru ditemukan di akhir abad ke-19. Sebelumnya, orang menghargai sidik jari sebagai lengkungan-lengkungan biasa tanpa makna khusus. Namun dalam Al Qur'an, Allah merujuk kepada sidik jari, yang sedikitpun tak menarik perhatian orang waktu itu, dan mengarahkan perhatian kita pada arti penting sidik jari, yang baru mampu dipahami di zaman sekarang.

Harun yahyaSaat dikatakan dalam Al Qur'an bahwa adalah mudah bagi Allah untuk menghidupkan manusia setelah kematiannya, pernyataan tentang sidik jari manusia secara khusus ditekankan:

"Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya? Ya, bahkan Kami mampu menyusun (kembali) ujung jari-jarinya dengan sempurna." (Al Qur'an, 75:3-4)

Setiap orang, termasuk mereka yang terlahir kembar identik, memiliki pola sidik jari yang khas untuk diri mereka masing-masing, dan berbeda satu sama lain. Dengan kata lain, tanda pengenal manusia tertera pada ujung jari mereka. Sistem pengkodean ini dapat disamakan dengan sistem kode garis (barcode) sebagaimana yang digunakan saat ini.

Penekanan pada sidik jari memiliki makna sangat khusus. Ini dikarenakan sidik jari setiap orang adalah khas bagi dirinya sendiri. Setiap orang yang hidup atau pernah hidup di dunia ini memiliki serangkaian sidik jari yang unik dan berbeda dari orang lain.

Itulah mengapa sidik jari dipakai sebagai kartu identitas yang sangat penting bagi pemiliknya dan digunakan untuk tujuan ini di seluruh penjuru dunia.

Akan tetapi, yang penting adalah bahwa keunikan sidik jari ini baru ditemukan di akhir abad ke-19. Sebelumnya, orang menghargai sidik jari sebagai lengkungan-lengkungan biasa tanpa makna khusus. Namun dalam Al Qur'an, Allah merujuk kepada sidik jari, yang sedikitpun tak menarik perhatian orang waktu itu, dan mengarahkan perhatian kita pada arti penting sidik jari, yang baru mampu dipahami di zaman sekarang.

Harun yahya
 
 
 
Lengkapnya Klik DISINI

Subhanallah, Lihatlah Pemisah Antara Air Tawar & Asin Di Lautan



PERNAHKAH Anda berenang di pinggir laut? Sungguh indah, bukan? Tapi tahukah rahasia laut dan samudera? Cobalah baca dan renungkan firman Allah berikut ini:

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (QS Al-Furqan : 53)

Kita sudah ketahui bersama bahwa segala sesuatu di alam jagat raya ini memiliki keistimewaan dan ciri khas, bukan hanya terbatas pada makhluk hidup seperti manusia, hewan, dan tumbuhan. Laut dan samudera luas yang terhampar di depan mata kita juga memiliki ciri khas dan sifat yang berbeda.
Para ahli kelautan mengatakan: sifat lautan yang saling bertemu tetapi tidak bercampur satu sama lain karena adanya gaya fisika yang dinamakan “tegangan permukaan”, yaitu air dari laut-laut yang saling bersebelahan tidak menyatu. Akibat adanya perbedaan masa jenis, tegangan permukaan itulah yang mencegah lautan bercampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka. (Davis, Richard A., Jr. 1972, Principles of Oceanography, Don Mills, Ontario, Addison-Wesley Publishing, s. 92-93.)

Para oceanographer telah menemukan bahwa ada perbedaan tertentu antara sampel air yang diambil dari berbagai lautan oleh ekspedisi ilmiah kelautan Inggris.

Dalam pelayaran Voyager tahun 1873 diketahui bahwa massa air laut ternyata berbeda dalam komposisinya. Perbedaan itu terletak pada tingkat keasinan air laut, kepekatan, temperatur, dan jenis organismenya. Data tersebut didapatkan dari 362 stasiun oceanography yang tersebar di seluruh dunia. Laporan dari ekspedisi Voyager tersebut berisi 29.500 halaman, yang terbagi dalam 50 jilid dan dikumpulkan selama 23 tahun. Ekspedisi ini merupakan salah satu ekspedisi eksplorasi ilmiah terbesar yang pernah dilakukan manusia. Ekspedisi ini juga menunjukkan betapa sedikitnya yang diketahui manusia mengenai lautan.

Ilmu pengetahuan modern telah menemukan bahwa di tempat di mana dua lautan
bertemu, ada dinding pemisah antar dua air laut tersebut. Dinding pemisah itu membagi dua lautan sehingga masing masing lautan tetap stabil dengan tingkat keasinan, suhu, dan kepekatannya masing masing. Contohnya, laut Mediterania adalah lautan yang suhunya hangat, asin, dan tingkat kepekatannya lebih rendah dibanding air dari samudera Atlantik. Ketika air dari Laut Mediterania memasuki Samudera Atlantik melalui Selat Gibraltar, air ini masuk hingga ratusan kilometer jauhnya pada kedalaman sekitar 1000 M, namun tetap pada suhu, kepekatan, dan tingkat keasinannya sendiri yang berbeda dari karakteristik yang dimiliki oleh air dari Samudera Atlantik.

Sebuah studi lapangan juga pernah dilakukan di teluk Oman dan di beberapa teluk di Arab. Dari sampel air laut tersebut ditemukan adanya perbedaan yang mengindikasikan kebenaran temuan sebelumnya.

Oceanographer terkenal dari Perancis, J.Costeau menyatakan:

“Kami mempelajari beberapa pernyataan dari para oceanographer sebelumnya mengenai penghalang antara dua lautan, kami melakukan penyelidikan pada Laut Mediterania. Kami menemukan bahwa lautan tersebut memiliki tingkat keasinannya sendiri, dan tingkat kepekatan, serta flora dan fauna yang berbeda dengan air dari lautan Atlantik. Kemudian, kami meneliti Laut Atlantik dan menemukan bahwa lautan ini memiliki tingkat keasinan dan kepekatan serta flora dan faunanya sendiri yang berbeda dari Laut Mediterania. Dan kami kemudian meneliti titik pertemuan kedua lautan tersebut di Selat Gibraltar, kami mengharapkan akan menemukan tingkat keasinan dan kepekatan yang menyatu antara dua air lautan tersebut, tapi kami menemukan bahwa ternyata, masing masing air lautan tersebut masih memiliki tingkat karakteristiknya masing masing, seolah ada dinding yang membatasi mereka. Hal ini mengejutkan kami, penghalang ini mencegah dua lautan bercampur. Hal yang sama juga terjadi pada Teluk Bab El Mandab di Aden yang merupakan pertemuan dengan Laut Merah.

Menurut kesimpulan kami, hasil penelitian para oceanographer terdahulu ternyata benar. Laut yang memilki karakteristik tertentu memiliki dinding pembatas (barrier) yang mencegah bercampurnya air dari dari dua karakteristik yang berbeda tersebut.

Sisi menarik dari hal ini adalah bahwa pada masa ketika manusia tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai fisika, tegangan permukaan, atau pun ilmu kelautan, hal ini telah dinyatakan dalam Al-Qur’an sejak 14 abad yang lalu.



Lengkapnya Klik DISINI

Dubes AS Scot Marciel Memuji Kinerja KPK!

1359816045519445905
Dubes AS Scot Marcial, sesaat setelah bertemu dengan Ketua KPK Abraham Samad. Sumber gambar Kompas.com
Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Scot Marciel, memuji keberhasilan KPK memberantas korupsi di Indonesia, dalam apa yang ia gambarkan sebagai bagian dari keberhasilan Pemerintah Amerika memberikan pelatihan capasity building kepada personil-personil KPK. “Kami sudah memberikan bantuan sejak masa lalu, dan akan terus kami berikan agar kinerja lembaga itu lebih baik! (ciputranews.com – disini)

Demikian dikatakan oleh Scot Marciel dalam kunjungan informalnya ke Gedung KPK Jakarta, Rabu, 30 Januari 2013 lalu. Scot tiba sekitar pukul 12.00 WIB dengan beberapa orang pengiring, tanpa bersedia berbicara kepada wartawan langsung memasuki Gedung KPK untuk bertemu dengan Abraham Samad. Tiga jam kemudian atau sekitar pukul 15.12 WIB Scot Marciel keluar dari Gedung KPK dengan wajah lebih ramah dan santai, kemudian bersedia berbicara kepada awak media yang telah menunggu.

Menurut Marcial, pertemuan ini merupakan kelanjutan kerjasama antara pemerintah Amerika Serikat dengan KPK yang selama ini sudah berjalan dengan baik. Marcial berharap kerjasama dengan KPK mendatang bisa berjalan mulus. “Kami terus memberikan bantuan-bantuan agar kinerja KPK lebih baik lagi! katanya. (tempo.co – disini)

Sebelumnya, gencar diberitakan hubungan dagang Indonesia – Amerika sempat memanas terkait kebijakan Pemerintah Indonesia membatasi impor daging sapi dari AS. Kebijakan ini diprotes keras oleh peternak AS, dengan mengadukannya ke Komisi WTO (indonesian.irib.ir - disini) dan meminta Indonesia kembali melebarkan gerbang impor. Mentan Sarwono tetap menolak dengan alasan melindungi peternak dalam negeri selain karena menghindari penyakit sapi gila sedang berjangkit di California. 

Hingga sekarang, Ketua KPK Abraham Samad belum pernah bicara tentang kunjungan Dubes AS itu dan tindakan bawahannya menangkap Presiden PKS segera sesudahnya. Belum pernah sebelumnya tindakan KPK menuai pro-kontra sehebat sekarang ini. Sebagian orang bersorak gembira seperti dapat lotere, sebagian lagi tertunduk lesu bahkan berurai airmata.
Semoga dalam waktu dekat Abraham Samad menjelaskan semua ini.

*****

Sumber bacaan lainnya: (sindonews.com – disini) dan (chirpstory.com – disini

http://sosbud.kompasiana.com/2013/02/02/dubes-as-scot-marciel-memuji-kinerja-kpk--530318.html
Lengkapnya Klik DISINI

Bangsa Ini Perlu Belajar Menghargai (Pengakuan) Kesalahan

Ilustrasi (123rf.com / Tjui Tjioe)
Suatu hari di kelas, saat uji praktik aku meminta kesediaan murid yang siap untuk maju. Lalu majulah seorang murid maju melakukan uji praktik. Ia berhasil dengan baik dengan nilai hampir sempurna. Teman-teman sekelas ada yang memberi tepuk tangan sekadarnya. Yang lain sibuk melatih diri agar tidak lakukan kesalahan saat di depan. Yang lain mengobrol, entah apa yang dibicarakan. Sengaja aku tidak mengingatkan. Lalu aku kembali menawarkan lagi kepada murid-muridku untuk maju. Tidak ada yang maju. Aku hanya menunggu karena aku memang berniat demikian. Aku ingin melihat respon dan kesiapan murid-muridku mengikuti ujian praktik ini. Setelah beberapa waktu ada seorang muridku yang maju. Ternyata ia melakukan kesalahan yang menurutku tidak perlu ditertawakan. Tapi betapa terkejutnya aku. Hampir satu kelas menertawakan muridku ini dan berteriak “Huu….”. Hingga aku harus berkata, “Ada yang lucu?”

Aku tiba-tiba ingat, ketika tidak sengaja menonton sebuah audisi dari luar negeri untuk penyanyi. Salah seorang penyanyi melakukan kesalahan di tengah pementasan tapi apa yang terjadi dewan juri dan penonton memberi tepuk tangan penyemangat. Lalu saat ada yang bagus pementasannya mereka memberinya “stand up applause” tepuk tangan sambil berdiri yang melambangkan penghargaan tinggi. Tidak seperti pada audisi yang hampir sama, yang ada di Indonesia. Kejadiannya-pun hampir sama seperti di kelasku. Ada teriakan “Hu….”

Ironis bukan? Ini yang kulihat dari seserpih gambaran dari bangsa ini. Anak-anak dari bangsa ini. Hal yang bagus, yang baik jarang dapat penghargaan, dapat pujian. Sekali melakukan kesalahan, kekeliruan bagaikan hujan sehari hilangkan panas setahun. Kesalahan, kekeliruan sekali hancurkan kebaikan yang banyak. Bagai rusak sebelanga karena nila setitik. Begitukah bangsa ini?

Seperti itulah yang kulihat dari sebuah layar kaca kotak di rumahku. Saat seorang pemimpin partai politik yang dari awal mendukung antikorupsi, mendukung KPK, tiba-tiba ditangkap oleh KPK dengan dugaan suap di kantor pusat partai tersebut. Seluruh media menyorot. Bahkan di salah satu provinsi partai tersebut dilecehkan lewat spanduk-spanduk tidak bertanggung jawab (sumber @republikaonline).

Selang beberapa waktu partai tersebut mengangkat pemimpin baru, yang tadinya merupakan sekjen partai. Apa yang diucapkan pemimpin baru tersebut? Ia menyerukan pertobatan nasional bagi seluruh kader partai tersebut. Menyerukan istighfar. Hal ini tak akan pernah terucap kecuali dari seorang pemimpin yang berjiwa besar dan memiliki kerendahan diri kepada Allah SWT…

Apakah benar dugaan suap itu? Apakah ada konspirasi di balik itu? Banyak spekulasi. Baik di media cetak, media internet, dsb. Apapun itu kebenaran akan terungkap. Aku percaya itu. Kita harus percaya itu. Entah di besok, pekan depan, bulan depan, tahun depan, di dunia, atau di akhirat. Aku, kita, pun tidak akan tahu.
Terlepas dari semua hal itu, bangsa ini perlu belajar menghargai pengakuan kesalahan. Tak ada manusia yang terlahir sempurna, begitu lirik lagu d’Masiv. “Setiap anak Adam (manusia) mempunyai salah (dosa), dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” [HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah]. Mari kita tetap dukung perbaikan dalam kebaikan. Semoga kejadian ini dapat menjadi kontemplasi bagi kita semua.

Demi masa. Sesungguhnya, manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran. (QS Al ‘Ashr: 1-3)
 Wallohu a’lam bishowab.
Lengkapnya Klik DISINI

Al Quran Bicara Alam Semesta

Merupakan kebaikan bagi setiap muslim jika ia mampu mensyukuri apa yang telah Allah berikan atas dirinya. Tidaklah ia mampu bernafas melainkan hal tersebut Allah berikan atas dirinya, tidak pula ia memiliki nikmat berjalan, berbicara, mendengar, melihat, dan melakukan sesuatu tidaklah hal tersebut terjadi melainkan adanya campur tangan Allah di dalamnya.

Al Quran Bicara Alam Semesta
Namun acapkali manusia lalai akan nikmat-nikmat itu, hal demikian terjadi dikarenakan hawa nafsu lebih banyak digunakan dibandingkan ketundukan akal dalam memahami hal demikian. Bahwasanya hal tersebut adalah petunjuk bagi akal sebagai ayat-ayat kauniyah yang Allah jadikan agar manusia tersebut senantiasa mengingat Allah dan tidak menjadi sosok penuh kelalaian.

Untuk meyakini adanya Allah seharusnya cukup bagi kita untuk melihat alam semesta ini.  Alam semesta ini sudah menunjukkan adanya eksistensi Allah Ta’ala. Lihatlah adanya gunung tentu adanya yang menciptakan, adanya pohon, daun, buah yang musimnya memiliki pergiliran tentu membuahkan keyakinan ada yang menciptakan. Lebih dari itu, adanya malam untuk istirahat dan terang untuk bekerja juga mengisyaratkan adanya kekuasaan Allah di alam semesta ini. Maka dengan demikian Allah pun berfirman,

“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(Nya),” (QS. An Nahl :12)

Pada ayat lain pula Allah Ta’ala berfirman,

“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Ra’d : 4)

Sesungguhnya tidak kurang Allah Ta’ala jelaskan pada kita dan ini merupakan kesempurnaan agama ini, yakni agama ini Allah turunkan penuh dengan ilmu. Allah Ta’ala pada ayat sebelumnya menceritakan terkait alam semesta jauh sebelum munculnya para penemu-penemu ilmu pengetahuan modern menjelaskan soal malam dan siang, sebelum para penemu itu merilis apa yang ia teliti, dan Al Qur’an telah menerangkan hal demikian secara gamblang. Baik bagi alam semesta maupun makhluk yang mengisi di dalamnya. Mari perhatikan apa yang Allah sampaikan soal hewan,

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Hud : 6)

Sungguh kebanggan bagi kita, kebanggaan sebagai seorang muslim. Bahwasanya Al Quran telah menyampaikan apa yang pernah terjadi juga akan terjadi. Maha Besar Allah atas ciptaannya. Al Qur’an adalah sumber dari ilmu pengetahuan, referensi shahih sepanjang masa yang takkan mungkin bisa  terpatahkan argumentasi di dalamnya. Tidak seperti teori-teori penemuan yang bisa jadi salah. Sebagaimana kita ketahui soal teori penciptaan manusia dimana ada seorang yang mengklaim dirinya ilmuwan menyampaikan bahwasanya nenek moyang manusia adalah kera, asal usul manusia ialah berasal dari kera, padahal manusia diciptakan dari manusia serupa. Dan manusia itu ialah Adam ‘alaihissalam yang telah Allah karuniakan kepadanya akal dan kemampuan berfikir disaat ia berada dalam surga.

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu. (QS. Ali Imran : 189)

Al Quran pula jauh hari telah mengatakan soal peristiwa kondensasi diatas awan dimana uap air diatas awan akibat pemanasan matahari akan menggumpal di awan dan berat sehingga jatuh ke bumi berupa tetesan hujan. Yang demikian telah Allah jelaskan pula sebagaimana firman-Nya,

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, Padahal kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 22)

Maka sudah tak terbantahkan lagi apa yang Allah miliki, dan wajiblah bagi kita untuk senantiasa mendekatan diri kepada Allah. Karena Dia yang menciptakan sesuatu, menghidupkan dan memberikan rejeki. Sekalipun itu terhadap hewan, juga kepada tumbuhan, apatah lagi kepada manusia. Jangankan seorang muslim. Sejatinya apabila kita tanyakan kepada orang kafir terkait dengan penciptaan alam semesta ini, tentulah mereka akan berujar bahwa Allah-lah yang menciptakan hal ini semua. Dan hal tersebut Allah tegaskan dalam firmannya,

“Dan Sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).” (QS Al Ankabut : 63).

Lantas dengan kita mengetahui tentang apa yang Allah miliki yakni perbendaharaan dilangit dan di bumi, Dia yang menghendaki turunnya rejeki hingga kematian seseorang, Dia yang Maha menggenggam alam semesta ini dan berhak atas apa yang telah Dia tetapkan. Maka sebagai manusia tiada lain bagi kita untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita terus-menerus tanpa putus sebagai bekal perjalanan panjang setelah kehidupan kita di dunia ini. Maka sudah merupakan kewajiban bagi kita untuk taat dan patuh atas perintah Allah yakni,

“Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, Sesungguhnya bumi-Ku luas, Maka sembahlah aku saja.” (QS. Al Ankabut : 56)

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda:

“Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan, maka Allah akan fahamkan dia dalam (masalah) dien. Aku adalah Al-Qasim (yang membagi) sedang Allah Azza wa Jalla adalah yang Maha Memberi. Umat ini akan senantiasa tegak di atas perkara Allah, tidak akan memadharatkan kepada mereka, orang-orang yang menyelisihi mereka sampai datang putusan Allah.” (HR. Al-Bukhari).


Oleh: Rizki Aji Hertantyo, Bekasi
FacebookTwitter - Blog

http://www.fimadani.com/al-quran-bicara-alam-semesta/

Lengkapnya Klik DISINI

Noam Chomsky: AS Negara Teroris Terkemuka

Ilmuwan Amerika Serikat (AS) Noam Chomsky menegaskan, AS bisa dianggap sebagai negara teroris terkemuka jika hukum internasional diberlakukan.

"Saya telah mempelajari definisi-definisi resmi terorisme, semuanya sangat baik. Saya memfokuskan pada definisi yang diberikan oleh hukum AS dan Inggris, sebuah definisi yang baik tetapi memiliki cacat. Jika Anda menerapkan hukum itu, ternyata AS merupakan salah satu negara teroris terkemuka di dunia," kata Chomsky seperti dikutip Republika, Rabu (30/1).

Menurut Chomsky, sejak 1981 lalu ia telah meramalkan perang yang disebut AS sebagai "perang melawan terorisme".

"Saya menulis tentang terorisme sejak tahun 1981, sejak Ronald Reagan menjadi presiden dan mengumumkan bahwa perang melawan terorisme akan menjadi fokus dari kebijakan luar negeri AS," ujar Chomsky.

Ilmuwan yang kini berusia 84 tahun itu sempat mempertanyakan legalitas invasi yang dipimpinan AS ke Irak pada 2003.

"AS dan Inggris berusaha untuk memberikan semacam justifikasi untuk invasi itu. Pembenaran itu – seperti yang Anda tahu – bahwa Saddam Hussein belum menghentikan program senjata pemusnah massal."

AS menyerang Irak dan menggulingkan Saddam dengan dalih memiliki senjata pemusnah massal. Namun, senjata yang dimaksud tidak pernah ditemukan di Irak. [AM/Rpb/bsb]

http://www.bersamadakwah.com/2013/01/noam-chomsky-as-negara-teroris-terkemuka.html
Lengkapnya Klik DISINI

Berimam kepada yang Masbuq, bolehkah?

Assalamu’alaikum ustadz
Saya mau menanyakan tentang bagaimana hukum menjadikan seorang masbuk dalam sholat berjamaah sebagai imam, apakah memang tidak ada hadisnya… lalu bagaimana jika masbuk yang dijadikan imam tersebut tidak menguatkan takbirnya (karena beranggapan tidak ada hadis yang membolehkan itu) dan kita mengikutinya hanya dengan mengetahui gerakannya saja.
syukron jazakallah atas jawabannya ustadz.

Jawaban:
Wa ‘Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh.
Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Man waalah Ba’d:

Masalah ini cukup sering ditanyakan dan cukup membingungkan sebagian penanya. Bolehkah hal ini ataukah justru bid’ah?

Dalam hal ini kami membagi menjadi dua model, yakni:

1. Jamaah shalat sudah selesai
Kasus ini terjadi jika seseorang mendatangi masjid, dan dia dapatkan jamaah sudah selesai shalat berjamaah. Lalu, dia shalat sendiri sendiri (munfarid) …., tidak lama kemudian datang orang lain yang juga ingin shalat bersamanya. Maka, yang seperti ini –shalat berjamaah di kloter kedua di masjid yang sama- ada dua pendapat, antara yang membolehkan seperti Imam Ahmad bin Hambal, Imam Ishaq bin Rahawaih, Imam Asy Syaukani, dan lainnya. Ada pula yang memakruhkan seperti Imam Asy Syafi’I, Imam Sufyan Ats Tsauri, dll.
Untuk rinciannya silahkan di buka:
http://www.ustadzfarid.com/2011/06/hukum-shalat-berjamaah-kloter-kedua-di.html

2. Seorang mengalami masbuq tapi masih sempat ikut berjamaah walau pun satu rakaat.
Pada kasus ini, baik dia dijadikan imam oleh jamaah di sampingnya yang sama-sama masbuq dengan cara mundurnya jamaah tersebut. Sederhananya, masbuq menjadi imam bagi masbuq juga. Atau ada orang lain yang baru datang ke masjid, lalu orang tersebut menjadi makmum bagi orang yang masbuq.

Nah, ini pun juga terjadi perbedaan pendapat di antara imam kaum muslimin. Sebagian ulama melarangnya karena tidak ada dalil khusus yang menunjukkan. Justru yang ada adalah sebaliknya, hendaknya mereka semua menyelesaikan shalat masing-masing saja. Inilah yang sesuai dengan petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bagi orang yang masbuq.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya: aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إ ذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا تَأْتُوهَا تَسْعَوْنَ وَأْتُوهَا تَمْشُونَ وَعَلَيْكُمْ السَّكِينَةُ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا
Jika sudah iqamat untuk shalat, maka janganlah mendatanginya dengan tergesa-gesa dan tidak sopan, hendaknya kalian bersikap tenang. Apa yang kamu dapatkan dari shalat, maka lakukanlah seperti itu, ada pun yang tertinggal maka sempurnakanlah kekurangannya. (HR. Bukhari No. 908, Muslim (151) (602) )

Dalam riwayat lain, juga dari Abu Qatadah:
بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعَ جَلَبَةً فَقَالَ مَا شَأْنُكُمْ قَالُوا اسْتَعْجَلْنَا إِلَى الصَّلَاةِ قَالَ فَلَا تَفْعَلُوا إِذَا أَتَيْتُمْ الصَّلَاةَ فَعَلَيْكُمْ السَّكِينَةُ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا سَبَقَكُمْ فَأَتِمُّوا
Ketika mau duduk-duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau mendengar kegaduhan, lalu bersabda: “Apa yang terjadi pada kalian?” Mereka menjawab: “Kami terburu-buru untuk mengerjakan shalat.” Beliau bersabda: “Jangan kalian lakukan itu, jika kalian mendatangi shalat maka wajib bagi kalian untuk tenang, apa saja yang kalian dapati dari shalat maka ikuitilah, ada pun yang tertinggal maka sempurnakanlah.” (HR. Bukhari No. 635, Muslim (155) (603) )
Jika memang benar dibolehkan seorang masbuq berimam kepada masbuq lainnya, tentu hal itu tidak akan luput dari petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan dia tidak akan melupakan itu untuk umatnya, apalagi ini adalah masalah sangat penting; shalat. Namun, yang ada adalah Beliau memerintahkan kita untuk menyempurnakannya sendiri-sendiri.

Kaidah dalam hal ini adalah:
فالأصل في العبادات البطلان حتى يقوم دليل على الأمر
“Maka, dasar dari semua ibadah adalah batal (tidak ada) sampai tegaknya dalil yang memerintahkannya.” (Imam Ibnul Qayyim, I’lamul Muwaqi’in, Hal. 344. 1968M – 1388H. Maktabah Al Kuliyat Al Azhariyah, Kairo – Mesir)

Kenapa demikian? Berkata Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah:
…. أن الله سبحانه لا يعبد إلا بما شرعه على ألسنة رسله فإن العبادة حقه على عباده
“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah disembah kecuali dengan cara-cara yang Dia syariatkan melalui lisan rasul-rasulnya. Karena, ibadah adalah hakNya atas hamba-hambanya.” (Ibid)

Guru beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah juga mengatakan:
فَلَيْسَ لِأَحَدِ أَنْ يَعْبُدَ اللَّهَ إلَّا بِمَا شَرَعَهُ رَسُولُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ وَاجِبٍ وَمُسْتَحَبٍّ لَا يَعْبُدُهُ بِالْأُمُورِ الْمُبْتَدَعَةِ
“Maka, tidak boleh bagi seorang pun menyembah Allah kecuali dengan cara-cara yang telah disyariatkan oleh RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baik berupa kewajiban atau sunah, serta tidak menyembahNya dengan perkara-perkara yang baru (Al Umur Al Mubtadi’ah) .” (Majmu’ Fatawa, 1/80. Cet. 3, 2005M-1426H. Darul Wafa)

Pihak yang melarang adalah kalangan Hanafiyah dan Malikiyah, berikut ini keterangan Syaikh ‘Athiyah Saqr Rahimahullah:
فالحنفية قالوا : لا يصح الاقتداء بالمسبوق بعد قيامه لإِتمام صلاته . والمالكية وافقوهم : على ذلك ، إذا كان المسبوق أدرك ركعة مع إمامه ، لكن لو أدرك أقل من ركعة ، صح الاقتداء به .
Ada pun Hanafiyah, mereka mengatakan tidak sah mengikuti orang yang masbuq setelah berdiri untuk menyempurnakan shalatnya. Kalangan Malikiyah mengikuti pendapat mereka atas hal itu, apabila makmum masbuq yang dijadikan imam itu sempat mendapatkan satu rakaat bersama imam, tetapi kalau ia tidak mendapatkan satu rakaat pun bersama imam, kita boleh bermakmum kepadanya. (Fatawa Al Azhar, 8/487)

Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah juga lebih mengutamakan bahwa sebaiknya makmum masbuq tersebut menyempurnakan shalatnya masing-masing, toh keutamaan dan pahala berjamaah sudah mereka dapatkan selama mereka telah mendapatkan satu rakaat saja dari shalat jamaah yang mereka ikuti. Beliau berkata:
فإذا سلم الإمام من الصلاة، وأراد أحد المسبوقين أن يأتم بمثله بعد السلام، فيما بقي من صلاتهما ففي هذه المسألة وجهان لأهل العلم، وأكثر الفقهاء على المنع من ذلك، فالأولى لكل واحد من المسبوقين أن يتم صلاته بعد سلام الإمام، دون ائتمام أي منهم بالآخر، لأن كلا منهما قد حصل فضل الجماعة بإدركه ركعة فأكثر. والله أعلم
Jika imam salam dari shalatnya, dan salah satu masbuq menyempurnakan sisa shalatnya bersama orang yang sepertinya setelah salam, maka dalam masalah ini ada dua pendapat di antara ulama. Mayoritas ahli fiqih mengatakan hal itu terlarang. Maka, yang lebih utama bagi setiap orang yang masbuq adalah hendaknya menyempurnakan shalatnya setelah salamnya imam, tidak usah lagi mengangkat yang lainnya menjadi imam, karena setiap mereka sudah mendapatkan keutamaan jamaah ketika telah mendapatkan satu rakaat atau lebih. Wallahu A’lam (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah, No. 5494)

Sementara itu, ulama lain membolehkan seorang masbuq berimam kepada sesama masbuq. Dasar mereka adalah orang yang shalat sendiri (munfarid) BOLEH diangkat menjadi imam berdasarkan banyak riwayat shahih, maka seorang masbuq yang sudah berpisah dari jamaah sehingga dia menjadi shalat munfarid, boleh saja dijadikan imam oleh masbuq lainnya.

Dalilnya sebagai berikut:

Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma berkata:
بِتُّ فِي بَيْتِ خَالَتِي مَيْمُونَةَ بِنْتِ الْحَارِثِ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَهَا فِي لَيْلَتِهَا فَصَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ ثُمَّ جَاءَ إِلَى مَنْزِلِهِ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ نَامَ ثُمَّ قَامَ ثُمَّ قَالَ نَامَ الْغُلَيِّمُ أَوْ كَلِمَةً تُشْبِهُهَا ثُمَّ قَامَ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ فَصَلَّى خَمْسَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ نَامَ حَتَّى سَمِعْتُ غَطِيطَهُ أَوْ خَطِيطَهُ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ
“(Bittu) Aku mabit di rumah bibiku Maimunah binti Al Harits, isteri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, pada malam itu nabi berada di sampingnya, lalu beliau shalat isya, kemudian pulang ke rumahnya, lalu shalat empat rakaat, kemudian tidur, kemudian bangun, kemudian dia bersabda: “Bocah kecil (Al Ghulayyim)[1] ini sudah tidur.” Atau kata-kata yang serupa dengan itu. Lalu dia mendirikan shalat, dan aku berdiri di samping kirinya, maka dia memindahkanku ke kanannya, lalu shalat lima rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian beliau tidur, sampai aku mendengar suara dengkurannya, kemudian keluar untuk shalat (subuh).” (HR. Bukhari No. 117)

Dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
جَاءَ رَجُلٌ وَقَدْ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَيُّكُمْ يَتَّجِرُ عَلَى هَذَا فَقَامَ رَجُلٌ فَصَلَّى مَعَهُ
Datang seseorang dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah selesai shalat, Beliau besabda: “Siapakah di antara kalian yang mau menemaninya?” maka berdirilah seorang laki-laki dan shalat bersamanya. (HR. At Tirmidzi No. 220, katanya: hasan. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 4792. Imam Al Haitsami mengatakan perawinya adalah para perawi shahih. Lihat Majma’ Az Zawaid, 2/174 )
Laki-laki itu adalah Abu bakar Ash Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah. (Nailul Authar, 3/185)

Kasus yang semodel ini cukup banyak, diriwayatkan oleh beberapa sahabat seperti istri Rasulullah sendiri, ‘Aisyah dan Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhuma.

Semua ini menunjukkan bahwa boleh menjadikan orang yang tadinya shalat sendiri lalu dia menjadi imam bagi orang lain ketika dia tengah menjalankan shalat munfarid-nya, sebagaimana seorang masbuq mengimami masbuq lainnya ketika mereka lepas dari jamaah sebelumnya. Kalau memang tidak boleh, pastilah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan mengingkari yang dilakukan oleh Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma atau yang lainnya, justru sebaliknya Beliau mempersilahkan Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu menemani orang yang sedang shalat sendiri, padahal Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu sudah shalat sebelumnya.

Pihak yang membolehkan adalah kalangan Syafi’iyah dan Hanabilah, Syaikh ‘Athiyah Saqr Rahimahullah menjelaskan:
والشافعية قالوا : من اقتدى بمأموم مسبوق بعد أن سلم الإِمام ، أو نوى مفارقته : صح الاقتداء ، وهذا فى غير الجمعة أما فى صلاتها فلا يصح الاقتداء . الحنابلة وافقوهم : على ذلك .
Kalangan Syafi’iyah mengatakan: barang siapa yang mengikuti makmum yang masbuq setelah salamnya imam, atau dia berniat untuk memisahkan diri darinya, maka tetap sah mengikutinya. Ini pada selain shalat Jumat, ada pun pada shalat Jumat tidak boleh. Kalangan Hanabilah menyepakati mereka atas hal itu. (Fatawa Al Azhar, 8/487)

Pihak yang membolehkan di antaranya adalah Syaikh Hisyam ‘Afanah, Beliau berkata:
يقول السائل : إنه جاء إلى المسجد فوجد صلاة الجماعة قد انتهت وأنه اقتدى برجل مسبوق فصلى خلفه فما حكم صلاته ؟
الجواب : اقتداؤك بالمسبوق صحيح إن شاء الله على الراجح من أقوال أهل العلم وقد دلت على ذلك أحاديث …
Penanya: Ada seseorang datang ke masjid, dia dapatkan shalat jamaah sudah selesai, dan dia mengikuti seorang yang masbuq, lalu dia shalat di belakangnya, maka apa hukum shalatnya itu?
Jawab: Anda mengikuti seorang yang masbuq adalah benar adanya insya Allah, menurut pendapat yang lebih kuat di antara pendapat para ulama. Hal ini ditunjukkan oleh sejumlah hadits … (lalu disebutkan hadits-hadits yang telah kami sebutkan). (Fatawa Yas’alunaka, 2/15)

Ini juga menjadi pendapat Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdil Wahhab Rahimahumallah, Beliau berkata setelah memaparkan perbedaan pendapat dalam madzhab Hambali dalam hal ini. Beliau berkata:
والذي يترجح عندنا هو الوجه الأول، سواء نويا ذلك في حال دخولهما مع الإمام، أو لا، والله أعلم.
Pendapat yang lebih kuat menurut kami adalah pendapat pertama (maksudnya yang membolehkan, pen), sama saja apakah dia berniat melakukan hal itu dalam keadaan mereka berdua bersama imam yang sama, atau tidak. Wallahu A’lam. (Ad Durar As Saniyah fi Ajwibah An Najdiyah, 4/277)
Dan lain-lain.

Kesimpulan:
- Masalah ini telah diperselisihkan para imam, dan mayoritas melarangnya.

- Walau diperselisihkan hendaknya kita mengambil sikap atas perbedaan ini.

- Namun bersamaan sikap itu, dilarang fanatik dengan salah satu pendapat di antara keduanya, dengan menyerang saudaranya yang mengikuti pendapat lain yang saudaranya itu benar. Hendaknya masing-masing pihak berlapang dada.

- Pendapat yang kami kuatkan adalah pendapat yang mengatakan bahwa sebaiknya dilanjutkan shalat sendiri-sendiri saja, mengingat beberapa hal:

Pertama, dalil secara khusus, atau contoh yang benar-benar seperti itu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya tidak pernah ada. Ibadah ritual yang khusus secara juknis (petunjuk teknis) dan juklak (petunjuk pelaksanaan)-nya –seperti shalat- hendaknya memiliki pedoman tersendiri agar lebih selamat dan aman secara syariat. Kehatian-hatian adalah lebih utama diikuti …

Kedua, dalil-dalil pihak yang membolehkan yaitu dengan mengqiyaskan masalah ini dengan kasus-kasus orang shalat munfarid (sendiri) lalu ditemani orang lain untuk berjamaah, tidaklah sama dengan masbuq menjadi imam bagi masbuq lainnya, atau tidak sama pula dengan kasus seorang masbuq menjadi imam bagi orang yang baru sampai ke mesjid. Istilahnya qiyas ma’al fariq – mengqiyaskan dengan hal yang berbeda.
Kenapa tidak sama? Sebab, seorang yang masbuq tentunya tadinya dia ikut berjamaah dengan seorang imam, dan dia tetaplah dihitung mendapatkan status berjamaah walau imamnya sudah selesai shalat selama ketika dia ikut shalat jamaah tersebut minimal dapat satu rakaat saja. Tentunya ini berbeda dengan kasus satu orang shalat sendiri lalu dia ditemani oleh orang lain untuk berjamaah seperti kasus-kasus yang dijadikan dalil pihak yang membolehkan. Bagaimana mungkin sama antara “menjadi makmum seseorang yang shalatnya tadinya memiliki imam (shalat berjamaah)”, dengan “menjadi makmum seseorang yang shalatnya tidak memiliki imam” ?

Ketiga, ternyata qiyas dalam masalah ibadah ta’abudiyah -seperti shalat- tidak dibenarkan oleh banyak imam. Qiyas hendaknya hanya pada masalah-masalah mu’amalah. Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:
وباب القربات يقتصر فيه على النصوص، ولا يتصرف فيه بأنواع الأقيسة والآراء
Bab masalah qurbah (mendekatkan diri kepada Allah) harus berdasarkan nash, bukan karena qiyas atau pendapat-pendapat. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, Juz.7, Hal. 465. Dar Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi’. Cet. 2, 1999M-1420H)

Keempat, cukup bagi si masbuq melanjutkan dan menyempurnakan shalatnya sendiri-sendiri. Sebagaimana yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam perintahkan. Lagi pula dia telah mendapatkan “status berjamaah” selama mendapatkan satu rakaat saja, apalagi lebih.

Kelima, bahkan untuk orang yang masbuq ketika imam duduk tasyahud, walau dia tidak mendapatkan “status berjamaah” namun pahala orang berjamaah tetap dia dapatkan, Insya Allah. Lebih hebat lagi, ini juga berlaku bagi orang yang ketinggalan jamaah sama sekali, dia terlambat karena adanya uzur syar’i, sehingga jamaah sudah bubar, akhirnya dia shalat sendiri. Dia pun tetap mendapatkan pahala berjamaah karena dia menginginkan shalat berjamaah, namun dia tidak mendapatkannya karena halangan syar’i, bukan karena sengaja memperlambat dan mengulur-ulur. Misal: sebelum sampai ke masjid kendaraan yang dia pakai bermasalah, atau dia sakit perut lalu buang hajat, dan halangan syar’i lainnya.

Dalilnya adalah dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu‘Alaihi wa Sallam bersada:
مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ ثُمَّ رَاحَ فَوَجَدَ النَّاسَ قَدْ صَلَّوْا أَعْطَاهُ اللَّهُ جَلَّ وَعَزَّ مِثْلَ أَجْرِ مَنْ صَلَّاهَا وَحَضَرَهَا لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَجْرِهِمْ شَيْئًا
“Barang siapa yang berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu ia pergi ke mesjid (untuk berjamaah) dan dia lihat jamaah sudah selesai, maka ia tetap mendapatkan seperti pahala orang yang hadir dan berjamaah, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. An Nasa’i No. 855, Abu Daud No. 564, Ahmad No. 8590, Al Hakim No. 754, katany shahih sesuai syarat Imam Muslim. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 6163)

Berkata Imam Abul Hasan Muhammad Abdil Hadi As Sindi Rahimahullah:
ظَاهِره أَنَّ إِدْرَاك فَضْل الْجَمَاعَة يَتَوَقَّف عَلَى أَنْ يَسْعَى لَهَا بِوَجْهِهِ وَلَا يُقَصِّر فِي ذَلِكَ سَوَاء أَدْرَكَهَا أَمْ لَا فَمَنْ أَدْرَكَ جُزْء مِنْهَا وَلَوْ فِي التَّشَهُّد فَهُوَ مُدْرِك بِالْأَوْلَى وَلَيْسَ الْفَضْل وَالْأَجْر مِمَّا يُعْرَف بِالِاجْتِهَادِ فَلَا عِبْرَة بِقَوْلِ مَنْ يُخَالِف قَوْله الْحَدِيث فِي هَذَا الْبَاب أَصْلًا .
“Secara zhahirnya, hakikat keutamaan jamaah adalah dilihat dari kesungguhan dia untuk melaksanakannya, tanpa memperlambat diri atau menunda-nunda. Jika demikian, ia tetap dapat pahala jamaah, baik sempat bergabung dengan jamaah atau tidak. Maka, barang siapa yang mendapatkan jamaah sedang tasyahud, maka pahalanya sama dengan yang ikut sejak rakat pertama. Adapun urusan pahala dan keutamaan tidak dapat diketahui dengan ijtihad. Jadi, sepatutnya kita tidak peduli dengan pendapat yang bertentangan dengan hadits-hadits di atas.” (Syarh Sunan An Nasa’i, 2/111. Cet. 2, 1986M-1406H. Maktab Al Mathbu’at Al Islami. Halab)
Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi ajma’in.
Sekian. Wallahu A’lam
————————–
[1] Al Ghulayyim adalah panggilan kesayangan buat anak kecil, dan yang dimaksud adalah Ibnu Abbas. (Fathul Bari, Juz. 1, Hal. 212. Darul Fikr)

Sumber : http://www.ustadzfarid.com/2012/12/berimam-kepada-yang-masbuq-bolehkah.html
Lengkapnya Klik DISINI

'Operasi Intelijen' untuk PKS: Dari penjatuhan citra hingga perangkap daging impor

Tiga bulan sebelum Letjen TNI (Purn) ZA Maulani meninggal dunia pada 2007, Kepala BIN (BAKIN) di era Presiden Habibie ini memberi informasi dan catatan penting dalam sebuah pertemuan. 

Kepada yang hadir Maulani mengungkap bahwa intelijen asing yang berkomplot dengan pihak internal (dalam negeri) tengah intens "menggarap" ormas/partai Islam tertentu yang dianggap radikal atau dinilai memiliki pengaruh besar dan diprediksi menjadi partai masa depan.

"Operasi intelijen" ini, menurut Maulani, bertujuan untuk melemahkan ormas/partai Islam tertentu. Ada tiga ormas Islam yang dibidik kala itu dan satu partai Islam yang dinilai ke depannya memiliki pengaruh besar sebagai kekuatan politik Islam alternatif, jika tak segera dikebiri.

Menurut Maulani yang juga sangat dibenci Amerika, partai Islam yang dia maksud menjadi perhatian AS dan sekutunya. Rupanya Barat sangat khawatir dengan perkembangan partai yang pernah disebut fenomenal ini. Karena itu, bagaimana caranya agar partai ini dilemahkan, dibonsai dan dikerdilkan.

Menurut Maulani kala itu, ada tiga modus yang bertujuan melemahkan kekuatan ormas/partasi Islam tersebut. Pertama, membikin konflik internal yang target akhirnya menjadi pecah belah. Kedua, membuat citra/imej ormas/partai Islam tersebut menjadi buruk di mata publik. Ketiga, mengarahkan oknum pengurus/petingginya menjadi tergoda dengan dunia.

Maulani menjelaskan, sesungguhnya tak ada ormas/lembaga/partai Islam yang steril—khususnya yang dianggap radikal. Umumnya disusupi. Penyusupan ini tentu untuk lebih memudahkan pelemahan ormas/partai Islam yang dimaksud.

Modus pertama, membuat konflik di internal ormas Islam tertentu. Setidaknya ada 3 ormas Islam—setelah 2007—yang dengan tajam dilanda konflik internal. Satu ormas Islam akhirnya harus merelakan sejumlah pengurus dan anggotanya bedol desa alias keluar dari organisasi. Sedang ormas Islam lainnya pecah dan pecahannya melahirkan organisasi baru.

Modus kedua, membuat ormas Islam satunya lagi menjadi bulan-bulanan yang terus dicitrakan buruk. Sementara terhadap partai islam yang dibidik, "operasi intelijen" agak sulit membuat konflik atau menciptakan imej buruk. Pertama, partai ini dinilai solid, tidak mudah mengacak-acaknya. Kedua, partai yang dimaksud selama ini pertahanannya cukup kuat, segenap pengurus dan kadernya sangat menjaga citra baiknya di hadapan publik.

Walhasil, dari sisi mengarahkan partai ini ke dalam konflik internal dan merusak imejnya tak semudah mengacak-acak dua ormas Islam seperti tersebut di atas. Karenanya, modus ketiga, mengarahkan oknum pengurus tertentu dalam partai Islam ini untuk "silau" dengan dunia dengan cara memberi proyek, misalnya, ternyata cukup jitu.

"Operasi" ini meyakinkan bahwa pasti orang punya kebutuhan dalam hidup. Orang-orang yang lemah dan lebih cenderung pada dunia akan lebih mudah untuk dirasuki—disadari atau tidak—akhirnya berada dalam kubangan pragmatisme. Jalan "operasi" seperti ini dengan mudahnya dilakukan oleh musuh-musuh Islam.
Oknum atau orang-orang tertentu yang di hati dan jiwanya memiliki penyakit yang disebut dalam hadits Nabi sebagai "al-wahn"—cinta dunia benci mati—ternyata bukan saja menggiring pelakunya menjadi mabuk dunia, tetapi bahkan bisa membuat imej buruk dan distrust (hilangnya kepercayaan) publik secara bertahap terhadap partai dan petingginya—yang ujung-ujungnya melahirkan konflik.

Benar, akhirnya partai ini pun tak lepas dari konflik internal. Ada yang dipecat, ada yang mundur. Ada yang tak terima dipecat sehingga menuntut dan berujung ke pengadilan. Dua kubu berseteru, baik secara langsung maupun lewat SMS dan bahkan via media sosial.

Akhirnya partai yang selama ini dianggap solid, tak mudah dipecah belah, jebol juga pertahanannya.
Selesaikah "operasi" ini? Belum. Meski dalam sejumlah survei dinyatakan suara partai ini anjlok, lantaran berkurangnya kepercayaan, namun kelompok Islamfobia yang turut cawe-cawe dalam "proyek" ini masih belum puas.

Ocehan-ocehan 1 atau 2 petingginya yang dinilai tak mencerminkan Islam makin menambah deret banyak pihak, kader atau simpatisan, yang angkat kaki dari partai ini.

Kini, dengan kasus terbaru yang menimpa Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini, masih belum puas juakah "operasi intelijen" yang telah "berhasil" membuat hasil survei memelorotkan suaranya?

Nyatanya "operasi" ini tak berhenti sampai di sini. Bahwa orang-orang partai ini tak jua tersentuh korupsi, agaknya mengundang rasa penasaran. Selama cap koruptor belum menempel pada partai ini sebagaimana partai lainnya, "operasi" ini dianggap belum sempurna.

"Operasi" ini harus "menggarap" orang-orang tertentu dalam partai dan yang terkait dengan partai untuk dipancing. Hanya orang-orang atau figur yang memiliki potensi dan kecenderungan hubbud dun-ya wakarahiyatul maut (cinta dunia benci mati) yang bisa digoda dengan dunia dan isinya. Tak tanggung-tanggung, orang kedua di partai ini, yakni presidennya, terjerembab dalam tudingan suap izin quota daging sapi impor.

Umumnya para petinggi dan pengurus serta kader-kader partai ini baik, lurus, dengan ghirah dan gairah Islam yang tinggi, tetapi segelintir orang telah membuat partai dakwah ini menjadi terpuruk tanpa ada sanksi terhadap mereka.

Inilah yang dijadikan bibit dan bahan "operasi" berikutnya. Sudah lama perangkap dan jebakan dipasang. Tapi rupanya selama ini belum bisa "dieksekusi" untuk memerangkapnya. Padahal vokalitas dan kritik tajam yang dianggap tak sejalan dengan yang namanya Setgab Koalisi kian menyebabkan partai ini harus segera dibonsai.
Lalu, sejumlah kasus yang menimpa beberapa pesohor dan petinggi negeri ini, dari Century, Hambalang, BLBI, dan lainnya, terakhir kasus manipulasi pajak keluarga SBY yang diungkap pertama kali oleh The Jakarta Post, Rabu (30/1/2013), memaksa kasus suap daging sapi impor yang sudah lama disiapkan untuk dimunculkan, sebagaimana dikatakan Prof Dr Tjipta Lesmana.

Menurut pengamat politik ini, kasus suap daging impor ini disinyalir untuk menutupi sederet kasus yang tadi disebutkan—terutama kasus terakhir: manipulasi pajak keluarga SBY.

Hanya, memang, entah lantaran digarap terburu-buru karena mengejar waktu atau seperti dikatakan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Prof Dr Jimly Ash-Shiddiqie adanya faktor kebodohan (rakyat merdeka online, 31/1/2013), proses penetapan tersangka hingga penangkapan dan penahanannya pun tampak janggal di mata publik.

Jimly khawatir keberanian KPK ini karena didasari atas kebodohan. Kalau sampai pedang keadilan diserahkan kepada orang bodoh, menurutnya, itu sangat berbahaya.

"Jangan sampai begitu. Menegakkan keadilan itu kan sebagian juga seni. (Luthfi) belum diperiksa kok dijadikan sebagai tersangka. Mbok ditunggu seminggu kalau memang ada alat bukti. Ini kan soal kecerdikan. Jadi ini penegak hukumnya agak bodoh. Bisa karena bodoh, bisa karena goblok…," tandasnya.

Ya, seperti disebut tadi, entah karena diburu waktu yang mengharuskan skenarionya seperti itu atau faktor kebodohan seperti dikatakan Prof Jimly, yang terang ada beberapa hal yang janggal.

Pertama, KPK mengaku sebelumnya sudah mendapat informasi bahwa akan ada transaski (suap) pada Selasa (29/1/2013) siang di kantor PT Indoguna Utama.

Pertanyaannya, kenapa kemudian KPK tidak menangkap langsung saat transaksi suap terjadi? Bukankah ini lebih meyakinkan? KPK malah melakukan penangkapan pada malam hari di saat penerima suap (AF) tengah berada di sebuah hotel bersama seorang wanita yang belakangan diketahui mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta.

Kedua, ada penilaian publik, bahwa skenario yang mengandung unsur cewek cantiknya dalam "operasi" ini harus dimunculkan. Andai KPK menangkap saat transaksi suap berlangsung, maka dipastikan tak ada berita AF ditangkap saat berdua dengan seorang wanita cantik di dalam kamar hotel dengan busana minim.

Beberapa satsiun televisi berulang-ulang memutar dan memberitakan soal perempuan cantik ini. Bisakah kita menepis dugaan bahwa unsur perempuan cantik ini dalam rangka makin mendramatisir beginilah partai Islam! Citranya makin hancur. Ada pesan yang ingin diblowup dalam episode di bagian cerita ini, yakni: lha, partai dakwah, sudah kena kasus suap, eh malah ada unsur ceweknya pula. Imej tentu kian buruk. Itu pesan khususnya.

Jadi, kembali pada pertanyaan, mengapa ditangkapnya harus di hotel, bukan pada saat transaksi suap berlangsung, sebagaimana dilakukan KPK selama ini (tertangkap tangan)?

Ketiga, ini juga jadi pertanyaan banyak pihak, Luthfi Hasan tidak tertangkap tangan, tapi kenapa langsung dijadikan tersangka? Yang sudah-sudah langsung jadi tersangka saat tertangkap tangan memberi dan menerima suap, sementara Luthfi Hasan tidak ada saat transaksi suap terjadi.

Keempat, siapa sebenarnya AF penerima suap dari pimpinan perusahaan pengimpor daging sapi itu? AF disebut-sebut kurir dan orang dekatnya Luthfi. Tentu agak risih mendengar partai Islam kok kadernya mau disuguhi cewek yang kini disebut sebagai gratifikasi seks?

Namun Hidayat Nur Wahid menyebut AF bukan anggota atau kader PKS. Mantan Presiden PKS ini juga menyebut ada konspirasi terhadap PKS. Lantas, siapa yang menskenariokan AF dekat dan sebagai orang kepercayaan Luthfi? Sejak kapan penggarapan ini berlangsung?

Dan sepertinya "operasi intelijen" sebagaimana diinformasikan Alm ZA Maulani itu sejak 2007 sampai sekarang "berhasil" melemahkan, membonsai dan mengerdilkan partai ini, sehingga urung menjadi partai Islam yang memiliki pengaruh dan harapan umat, setidaknya untuk saat ini, wallahu a'lam ke depannya.
Namun seburuk apapun partai ini, ia pernah menjadi harapan banyak umat Islam. Ia pernah menjadi alternatif dalam politik keumatan di tengah penilaian bobroknya partai-partai sebelumnya.
Maka, badai pahit yang tengah melanda partai ini sudah seharusnya dijadikan pelajaran, introspeksi dan evaluasi untuk perjalanan ke depan yang lebih baik.
Mampukah partai ini mengembalikan trust publik seperti sebelumnya? Tentu, itu kembali pada pengelola partai ini, sejauh mana komitmen ke-Islam-an itu merasuki jiwa dan relung-relung mereka dan menjadikannya sebagai benteng kehidupan yang menghantarkan para kader dan simpatisannya ke dalam gerbang Indonesia yang lebih luas.

Dan, sejauh mana pula keberpihakan pada umat dan bangsa mayoritas Muslim ini sungguh-sungguh dirasakan, dan akhirnya dengan Visi Islamnya memiliki komitmen menegakkan Islam dan memperjuangkan Islam sebagai sistem dalam kehidupan bernegara, pemerintahan, bermasyarakat, meninggalkan sistem kufur!

sumber : (salam-online.com/arrahmah.com)
Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......