Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

Kesaksian Dua Orang Polisi Yang Menyaksikan Eksekusi Mati Sayyid Quttub

berita islam, berita islam terkini, sosok islam, tokoh islam, islampos
ULAMA, da’i, serta para penyeru Islam yang mempersembahkan nyawanya di Jalan Allah, atas dasar ikhlash kepadaNya, sentiasa ditempatkan Allah sangat tinggi dan mulia di hati segenap manusia. Di antara da’i dan penyeru Islam itu adalah Syuhada (insya Allah) Sayyid Qutb. Bahkan peristiwa eksekusi matinya yang dilakukan dengan cara digantung, memberikan kesan mendalam dan menggetarkan bagi siapa saja yang mengenal beliau atau menyaksikan sikapnya yang teguh.

Di antara mereka yang begitu tergetar dengan sosok mulia ini adalah dua orang polisi yang menyaksikan eksekusi matinya (di tahun 1966). Salah seorang polisi itu mengetengahkan kisahnya kepada kita. Berikut petikannya.

“Ada banyak peristiwa yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya, lalu peristiwa itu menghantam kami dan merubah total kehidupan kami. Di penjara militer pada saat itu, setiap malam kami menerima orang atau sekelompok orang, laki-laki atau perempuan, tua maupun muda. Setiap orang-orang itu tiba, atasan kami menyampaikan bahwa orang-orang itu adalah para pengkhianat negara yang telah bekerja sama dengan agen Zionis Yahudi.

Karena itu, dengan cara apapun kami harus bisa mengorek rahasia dari mereka. Kami harus dapat membuat mereka membuka mulut dengan cara apapun, meski itu harus dengan menimpakan siksaan keji pada mereka tanpa pandang bulu. Jika tubuh mereka penuh dengan berbagai luka akibat pukulan dan cambukan, itu sesuatu pemandangan harian yang biasa. Kami melaksanakan tugas itu dengan satu keyakinan kuat bahwa kami tengah melaksanakan tugas mulia: menyelamatkan negara dan melindungi masyarakat dari para “pengkhianat keji” yang telah bekerja sama dengan Yahudi hina.

Begitulah, hingga kami menyaksikan berbagai peristiwa yang tidak dapat kami mengerti. Kami mempersaksikan para ‘pengkhianat’ ini sentiasa menjaga shalat mereka, bahkan sentiasa berusaha menjaga dengan teguh qiyamullail setiap malam, dalam keadaan apapun. Ketika ayunan pukulan dan cabikan cambuk memecahkan daging mereka, mereka tidak berhenti untuk mengingat Allah. Lisan mereka sentiasa berdzikir walau tengah menghadapi siksaan yang berat.

Beberapa di antara mereka berpulang menghadap Allah sementar ayunan cambuk tengah mendera tubuh mereka, atau ketika sekawanan anjing lapar merobek daging punggung mereka. Tetapi dalam kondisi mencekam itu, mereka menghadapi maut dengan senyum di bibir, dan lisan yang selalu basah mengingat nama Allah.

Perlahan, kami mulai ragu, apakah benar orang-orang ini adalah sekawanan ‘penjahat keji’ dan ‘pengkhianat’? Bagaimana mungkin orang-orang yang teguh dalam menjalankan perintah agamanya adalah orang yang berkolaborasi dengan musuh Allah? Maka kami, aku dan temanku yang sama-sama bertugas di kepolisian ini, secara rahasia menyepakati, untuk sedapat mungkin berusaha tidak menyakiti orang-orang ini, serta memberikan mereka bantuan apa saja yang dapat kami lakukan.

Dengan ijin Allah, tugas saya di penjara militer tersebut tidak berlangsung lama. Penugasan kami yang terakhir di penjara itu adalah menjaga sebuah sel di mana di dalamnya dipenjara seseorang. Kami diberi tahu bahwa orang ini adalah yang paling berbahaya dari kumpulan ‘pengkhianat’ itu. Orang ini adalah pemimpin dan perencana seluruh makar jahat mereka. Namanya Sayyid Qutb.

Orang ini agaknya telah mengalami siksaan sangat berat hingga ia tidak mampu lagi untuk berdiri. Mereka harus menyeretnya ke Pengadilan Militer ketika ia akan disidangkan. Suatu malam, keputusan telah sampai untuknya, ia harus dieksekusi mati dengan cara digantung. Malam itu seorang sheikh dibawa menemuinya, untuk mentalqin dan mengingatkannya kepada Allah, sebelum dieksekusi.

(Sheikh itu berkata, “Wahai Sayyid, ucapkanlah Laa ilaha illa Allah…”. Sayyid Qutb hanya tersenyum lalu berkata, “Sampai juga engkau wahai Sheikh, menyempurnakan seluruh sandiwara ini? Ketahuilah, kami mati dan mengorbankan diri demi membela dan meninggikan kalimat Laa ilaha illa Allah, sementara engkau mencari makan dengan Laa ilaha illa Allah”. Pent).

Dini hari esoknya, kami, aku dan temanku, menuntun dan tangannya dan membawanya ke sebuah mobil tertutup, di mana di dalamnya telah ada beberapa tahanan lainnya yang juga akan dieksekusi. Beberapa saat kemudian, mobil penjara itu berangkat ke tempat eksekusi, dikawal oleh beberapa mobil militer yang membawa kawanan tentara bersenjata lengkap. Begitu tiba di tempat eksekusi, tiap tentara menempati posisinya dengan senjata siap.

Para perwira militer telah menyiapkan segala hal termasuk memasang instalasi tiang gantung untuk setiap tahanan. Seorang tentara eksekutor mengalungkan tali gantung ke leher Beliau dan para tahanan lain. Setelah semua siap, seluruh petugas bersiap menunggu perintah eksekusi. Di tengah suasana ‘maut’ yang begitu mencekam dan menggoncangkan jiwa itu, aku menyaksikan peristiwa yang mengharukan dan mengagumkan.
Ketika tali gantung telah mengikat leher mereka, masing-masing saling bertausiyah kepada saudaranya, untuk tetap tsabat dan shabr, serta menyampaikan kabar gembira, saling berjanji untuk bertemu di Surga, bersama dengan Rasulullah tercinta dan para Shahabat. Tausiyah ini kemudian diakhiri dengan pekikan, “ALLAHU AKBAR WA LILLAHIL HAMD!” Aku tergetar mendengarnya.

Firman Allah SWT: “Dan di antara manusia yang mengorbankan dirinya kerana mencari keredhoan Allah SWT dan Allah maha pengampun kepada hamba-hambanya.” (al baqarah: 207)

Di saat yang genting itu, kami mendengar bunyi mobil datang. Gerbang ruangan dibuka dan seorang pejabat militer tingkat tinggi datang dengan tergesa-gesa sembari memberi komando agar pelaksanaan eksekusi ditunda. Perwira tinggi itu mendekati Sayyid Qutb, lalu memerintahkan agar tali gantungan dilepaskan dan tutup mata dibuka.

Perwira itu kemudian menyampaikan kata-kata dengan bibir bergetar, “Saudaraku Sayyid, aku datang bersegera menghadap Anda, dengan membawa kabar gembira dan pengampunan dari Presiden kita yang sangat pengasih. Anda hanya perlu menulis satu kalimat saja sehingga Anda dan seluruh teman-teman Anda akan diampuni”. Perwira itu tidak membuang-buang waktu, ia segera mengeluarkan sebuah notes kecil dari saku bajunya dan sebuah pulpen, lalu berkata, “Tulislah Saudaraku, satu kalimat saja… Aku bersalah dan aku minta maaf…”

(Hal serupa pernah terjadi ketika Ustadz Sayyid Qutb dipenjara, lalu datanglah saudarinya Aminah Qutb sembari membawa pesan dari rejim thowaghit Mesir, meminta agar Sayyid Qutb sekedar mengajukan permohonan maaf secara tertulis kepada Presiden Jamal Abdul Naser, maka ia akan diampuni)

Sayyid Qutb mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “…“Telunjuk yang sentiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rejim thowaghit…””. Pent)

Sayyid Qutb menatap perwira itu dengan matanya yang bening. Satu senyum tersungging di bibirnya. Lalu dengan sangat berwibawa Beliau berkata, “Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah bersedia menukar kehidupan dunia yang fana ini dengan Akhirat yang abadi”. Perwira itu berkata, dengan nada suara bergetar karena rasa sedih yang mencekam, “Tetapi Sayyid, itu artinya kematian…”

Ustadz Sayyid Qutb berkata tenang, “Selamat datang kematian di Jalan Allah… Sungguh Allah Maha Besar!” Aku menyaksikan seluruh episode ini, dan tidak mampu berkata apa-apa. Kami menyaksikan gunung menjulang yang kokoh berdiri mempertahankan iman dan keyakinan. Dialog itu tidak dilanjutkan, dan sang perwira memberi tanda eksekusi untuk dilanjutkan.

Segera, para eksekutor akan menekan tuas, dan tubuh Sayyid Qutb beserta kawan-kawannya akan menggantung. Lisan semua mereka yang akan menjalani eksekusi itu mengucapkan sesuatu yang tidak akan pernah kami lupakan untuk selama-lamanya… Mereka mengucapkan, “Laa ilaha illah Allah, Muhammad Rasulullah…”

Sejak hari itu, aku berjanji kepada diriku untuk bertobat, takut kepada Allah, dan berusaha menjadi hambaNya yang sholeh. Aku sentiasa berdoa kepada Allah agar Dia mengampuni dosa-dosaku, serta menjaga diriku di dalam iman hingga akhir hayatku.”

Firman ALLAH: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman akan nyawa mereka dan harta benda mereka dengan (balasan) bahawa mereka akan beroleh Syurga, (disebabkan) mereka berPERANG pada jalan Allah maka (di antara) mereka ada yang membunuh dan terbunuh. (Balasan Syurga yang demikian ialah) sebagai janji yang benar yang ditetapkan oleh Allah di dalam (Kitab-kitab) Taurat dan Injil serta Al-Quran; dan siapakah lagi yang lebih menyempurnakan janjinya daripada Allah? Oleh itu, bergembiralah dengan jualan yang kamu jalankan jual-belinya itu, dan (ketahuilah bahawa) jual-beli (yang seperti itu) ialah kemenangan yang besar. (at taubah 110) [sumber: globalkhilafah]
http://islampos.com/kesaksian-dua-orang-polisi-yang-menyaksikan-eksekusi-mati-sayyid-quttub-36376/

Lengkapnya Klik DISINI

Menjadi Remaja Pejuang Islam

Saya cuma bisa cengo waktu liat berita di tv tentang siswi SMP di Surabaya yang menjadi mucikari para temannya, bahkan kakaknya pun ikut ia ‘jual’ kepada om-om hidung belang. Udah separah itukah remaja di Indonesia? Demi kebahagiaan dunia, rela menghalalkan segala cara. Naudzubillah… Miris dah. Terus, pernah liat kan video yang diupload di youtube dan menayangkan para pelajar SMA di Tolitoli (Sulawesi Tengah) melecehkan gerakan shalat dengan gaya Harlem Shake? Mencari kebahagiaan dunia dengan menghibur diri namun caranya salah. Kebijakan sekolah pun harus mereka terima, mereka dikeluarkan dari sekolah dan tidak bisa mengikuti UN.  It’s gonna be unforgettable moment for them .. Tapi akan sangat ‘bodoh’ lagi kalo kemudian mereka bangga dengan ‘kenakalan’ mereka  itu.  Semoga sobat gaulislam nggak seperti mereka ya.. Aamiin.

Setelah baca-baca artikel psikologi remaja, dan karena saya juga pernah remaja (hehehe…), peranan orang tua juga orang-orang terdekat yang peduli atau care dengan kita ternyata menjadi faktor internal yang membangun karakter dan kebiasaan kita dalam kehidupan. Contoh, kalo ortumu, kakakmu suka bohong maka perlahan namun pasti, tertanam dalam pikiran kamu kalo berbohong itu boleh dan akhirnya menjadi kebiasaan. Begitu tahu Islam melarang berbohong akan berat banget untuk menghilangkan kebiasaan itu.

Kamu inget Yoon Seong di City Hunter? Gimana dia dibentuk pola sikap dan pola pikir oleh ayah (walaupun bukan ayah kandungnya) dan orang-orang di sekitarnya hingga ia menjadi orang yang kaku, dingin dan bahkan terkesan tanpa ada ‘rasa cinta’.  Ia pun nggak peduli bahwa kekayaan yang membiayai hidupnya juga misi ‘kebenaran membongkar makar para pejabat Seoul’ yang ia jalankan di bawah kendali ayahnya ternyata berasal dari bisnis ganja.  Ya seperti itu. Kalau kemudian untuk bisa mengubah Yoon Seong menjadi punya hati dan beralih dari kehidupannya yang kaku dan keras juga kudu kerja keras untuk berubah. Eh..kok jadi nostalgia City Hunter sih..hehehe..

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, terlalu lelah mata ini melihat dan telinga ini mendengar akan kenakalan-kenakalan remaja yang terjadi di negeri tercinta ini. Di negeri yang penduduknya mayoritas muslim. Sayangnya pula, orang tua mempercayakan sepenuhnya kepada sekolah untuk membentuk anak-anak mereka dan sekolah justru sebenarnya tidaklah mampu untuk membentuk remaja sepenuhnya.  Justru kinerja kebijakan pemerintah-masyarakat-sekolah dan ortu yang mampu membentuk remaja seutuhnya dimana keluarga lebih dulu sebagai pembentuk internal pada remaja (bahkan sejak dari rahim ibu).

Jangan mudah percaya
Yup, sebagai remaja biasanya punya pemikiran yang kritis. Termasuk masalah akidah, agama. Kadang muncul pertanyaan: kenapa pacaran nggak boleh, kenapa harus berjilbab, kok bergaul harus terpisah laki-laki dan perempuan, emang Allah itu bener ada? Bla bla bla…

Hal ini memang berat kalo kemudian ternyata keluarga nggak terlalu peduli. Ditambah pula di sekolah- pelajaran agama cuma 2 jam pelajaran, ikut belajar di sekolah Islam malah merasa terkekang (nah lo!), bahkan udah terformat di dalam otak kalo yang namanya masa remaja kudu having fun. Padahal, kalo bagi yang laki-laki udah ‘mimpi basah’ dan yang perempuan udah dapet haid, itu artinya sudah terkategori mukallaf alias terkena taklif (terbebani hukum). Artinya, akan mendapat pahala dan dosa terkait aktivitas yang berstatus fardhu/wajib, sunnah, makruh, haram dan mubah. Udah no exception lagi kecuali exception yang memang diperbolehkan oleh Islam. Contoh: Shalat fardhu itu wajib dikerjakan. Tapi gimana kalo sakit dan nggak bisa berdiri? Nah, selama masih dalam kondisi sadar, tidak haid bagi yang cewek dan mampu melafalkan bacaan shalat, diperbolehkan si sakit untuk shalat dalam posisi duduk atau berbaring.

Oya, jangan mudah percaya kepada orang-orang yang kamu anggap memberi kenyamanan dan ketenangan hati. Sebab, saat berada dengan mereka kamu merasa dipedulikan, diajak senang-senang, problem yang dimiliki pun jadi selesai.  Harus waspada, supaya nggak terjebak dalam pergaulan yang salah. Tetep harus pake pakem Islam. Selama temen-temenmu  mengajak kepada kebaikan justru itu yang kudu diikutin. Nikmati aja. Masalah merasa ‘terkekang’ itu belakangan. Kamu akan seterusya terlatih dan terwarnai nantinya (asal istiqomah). Pengen terpaksa tapi masuk surga atau ikhlas sukarela tapi masuk neraka?  Emang surga dan neraka itu ada? Nah, lho. Jangan sampe kamu nggak yakin dengan keberadaan surga dan neraka yang udah diciptakan Allah Ta’ala.

Allah Swt. berfirman (yang artinya), Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS at-Tahrim [66]: 6)

Sobat gaulislam, surga dan neraka saat ini memang nggak bisa dilihat, tapi bisa kita meyakininya melalui al-Quran (dalil naqli). Kalo kamu nggak percaya sama al-Quran, coba deh bikin 1 surat aja untuk menandingi al-Quran. Bisa? Ini jawaban untuk kekritisan teman-teman sobat GI yang  pikirannya kritis melewati ambang batas hingga mencapai tahap ateis. Na’udzubillah min dzalik.

Takut sama syariat Islam 
Takutnya sama azab Allah deh ya.  Justru aneh kalau syariat Islam ditakuti. Hehehe… karena kalo syariat ditaati insya Allah justru menambah pahala, mengurangi dosa, bahkan amal perbuatan kita diridhoi Allah dan menjad berkah. Nggak percaya? Coba aja untuk skala individu dulu, walau pun penuh tantangan. Buat yang cewek dan belum berhijab syar’i, coba deh berhijab untuk selamanya. Shalatnya masih bolong-bolong? Ilmu Islamnya minimalis? Disiplinkan diri kamu deh mulai sekarang, juga cari temen-temen plus komunitas yang positif agar bisa memotivasi kamu untuk menjadi remaja yang smart dan sholihah.
Bro en Sis, sebenarnya kebahagiaan yang kamu dapat adalah bahagia dunia dan akhirat. Bukan di dunia aja.  Berhijab pastinya bikin bahagia karena Islam sudah memuliakan perempuan dalam masalah menutup aurat dan kebahagiaan di akhirat adalah karena telah mampu melaksanakan perintah Allah. Apalagi kalo pemerintahan di seluruh negeri muslim ini melaksanakan syariat Islam, yakin deh Islam rahmatan lil Alamin itu bener adanya!

Jangan bohongi dirimu
Kata siapa kalo melaksanakan syariat Islam itu terkekang, serba sulit dan susah? Coba deh perlahan tapi pasti perbaiki diri, mulai bener-bener meyakini sesuai al-Quran dan as-Sunnah  akan rukun iman terus berhijab bagi yang muslimah, perbaiki akhlak, perbanyak ilmu Islam dan ikut menyebarkan pemikiran Islam yang udah kamu kuasai.  It’s fun, chalenging  dan juga menjadi ajang  fastabiqul khairat plus amar ma’ruf nahi  munkarSo, daripada mempengaruhi orang untuk berbuat bandel (baca: maksiat) berjamaah, mending ngajakin orang-orang untuk berbuat baik, iya kan?
Nah, kalo udah gini, maksudnya udah punya temen-teman yang shalih dan shalihah, udah ngaji, ikutan komunitas supaya terbentuk pribadi yang islami, apa masih keder menjadi pejuang Islam? I hope not!
Go fight ! Jangan kalah sama para remaja di jazirah Arab, wilayah Syam yang kini tetap berkomitmen dan berhadap-hadapan dengan para tirani yang tidak ingin Syam menjadi tempat tegaknya Khilafah Islamiyah. Yap! Mari  berlomba dalam kebaikan dengan para pemuda saudara seiman kita itu. Di sana mereka memperjuangkan syariah dan khilafah, kita pun juga di sini turut serta. Agar tidak ada lagi keraguan bahwa sejatinya remaja Islam adalah pejuang militan yang produktif membawa perubahan  menuju Islam kaffah dan tanpa jalan kekerasan tentunya. Yuk, mulai benahi diri, kuatkan akidahmu, tingkatkan ketakwaanmu, penuhi dengan ilmu, basahi dengan tsaqafah Islam, dan tentunya semangat untuk bedakwah. Sip dah! [Anindita | email: thefaith_78@yahoo.com]

sumber : http://www.gaulislam.com/menjadi-remaja-pejuang-islam
Lengkapnya Klik DISINI

Persinggahan Hati Saat Mengadakan Perjalanan kepada Allah

 Persinggahan Hati Saat Mengadakan Perjalanan kepada Allah
Banyak orang yang mensifati persinggahan ini dan menyebutkan bilangannya. Di antara mereka ada yang menyebutnya seribu, ada pula yang menyebutnya seratus, ada yang kurang dan ada yang lebih. Masing-masing orang mensifatinya menurut perjalanan yang dilakukannya.

Berikut ini akan saya sebutkan secara ringkas namun tuntas masing-masing di antara persinggahan ini.

Yang pertama adalah al yaqzhah, artinya kegalauan hati setelah terjaga dari tidur yang lelap. Hal ini sangat penting dan membantu pembenahan perilaku. Siapa yang merasakannya, berarti dia telah merasakan satu keberuntungan. Jika tidak, berarti dia tetap dicengkeram kelalaian.

Jika sudah tersadar, dia diberi bekal hasrat untuk memulai perjalanannya dan menuju persinggahannya yang pertama dan ke tempat dimana dia ditawan.

Jika perjalanan sudah dimulai, maka hati beralih ke persinggahan al azm, yaitu tekad yang bulat untuk melakukan perjalanan, siap menghadapi segala rintangan dan mencari penuntun yang dapat menghantarkan ke tujuan. Seberapa jauh seseorang memiliki kesadaran, maka sejauh itu pula tekadnya, dan seberapa jauh tekad yang dimilikinya, maka sejauh itu pula persiapan yang dilakukannya.

Jika sudah terjaga, maka dia memiliki al fikrah, yaitu pandangan hati yang hanya tertuju ke sesuatu yang hendak dicari, sekalipun dia belum memiliki gambaran jalan yang menghantarkannya ke sana. Jika fikrah-nya sudah benar, tentu dia memiliki al bashirah, yaitu cahaya di dalam hati untuk melihat janji dan ancaman, surga dan neraka, apa yang telah dijanjikan Allah terhadap para wali dan musuh-Nya. Dengan semua ini seakan-akan dia bisa melihat apa yang terjadi pada hari akhirat, semua orang dibangkitkan dari kuburnya, para malaikat didatangkan, para nabi, syuhada dan shalihin dihadirkan, jembatan dibentangkan, musuh-musuh dikumpulkan, api neraka dikobarkan. Di dalam hatinya seakan ada mata yang dapat melihat berbagai kejadian akhirat, dan dia juga melihat bagaimana keduniaan ini yang begitu cepat berlalu.

Al Bashirah merupakan cahaya yang disusupkan Allah ke dalam hati, sehingga seseorang bisa melihat hakikat pengabaran para rasul, seakanakan dia bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri. Dengan begitu dia bisa mengambil manfaat dari seruan para rasul dan melihat adanya bahaya yang mengancamnya jika dia bertentangan dengan mereka.

Al Bashirah itu didasarkan pada tiga derajat, siapa yang dapat menyempurnakan tiga derajat ini, berarti dia dapat menyempurnakan bashirah- nya, yaitu: Pertama, bashirah tentang asma’ dan sifat. Kedua, bashirah tentang perintah dan larangan. Ketiga, bashirah tentang janji dan ancaman.

Bashirah tentang asma’ dan sifat-sifat Allah, artinya imanmu tidak dipengaruhi syubhat yang bertentangan dengan sifat-sifat yang diberikan Allah kepada Diri-Nya sendiri dan juga yang disifati Rasul-Nya. Sebab syubhat dalam hal ini sama dengan keragu-raguan tentang wujud Allah.

Tingkatan bashirah yang dimiliki masing-masing manusia berbeda-beda, tergantung dari tingkat pengetahuan mereka tentang pengabaran Nabawi dan pemahamannya serta ilmu tentang syubhat yang bertentangan dengan hakikat-hakikatnya. Orang yang paling lemah bashirah-nya adalah para teolog batil yang biasanya suka mencela orang-orang salaf, karena mereka tidak mengetahui nash dan tidak memahaminya. Syubhat mengendap di dalam hati mereka. Orang-orang awam yang bukan termasuk orang-orang Mukmin yang sesungguhnya, justru lebih sempurna daripada para teolog itu, lebih kuat imannya, lebih mempercayai wahyu dan lebih tunduk kepada kebenaran.

Bashirah tentang perintah dan larangan artinya membebaskan hati dari penentangan karena melakukan ta’wil, taqlid atau mengikuti hawa nafsu, sehingga di dalam hatinya tidak ada syubhat yang bertentangan dengan ilmu tentang perintah dan larangan Allah, tidak pula dikuasai nafsu yang menghalanginya untuk melaksanakan perintah dan larangan itu, tidak pula mengikuti taqlid yang membuatnya merasa tidak perlu berusaha menggali hukum dari nash.

Bashirah tentang janji dan ancaman artinya engkau mempersaksi-kan penanganan Allah terhadap apa pun yang dilakukan setiap manusia, yang baik maupun yang buruk, di dunia maupun di akhirat. Ini merupakan konsekuensi Ilahiyah dan Rububiyah-Nya, keadilan dan hikmah-Nya.

Keraguan tentang hal ini sama dengan keraguan tentang Uluhiyah dan rububiyah-Nya, bahkan keraguan tentang wujud-Nya.

Orang yang berada di persinggahan bashirah mempunyai alternatif jalan lain, yaitu bashirah yang membebaskannya dari kebingungan. Jika seseorang sudah sadar dan memiliki bashirah, maka dia akan mengambil maksud dan kehendak yang tulus, menghimpun maksud dan niat untuk melakukan perjalanan kepada Allah. Setelah tahu dan yakin tentang hal ini, maka dia mulai melakukan perjalanan, membawa bekal menuju hari datangnya pembalasan, membebaskan diri dari rintangan yang menghambat perjalanannya. Maksud bisa dibagi menjadi tiga tingkatan:

Pertama, maksud yang membangkitkan keteguhan dan membebaskan diri dari keragu-raguan.
Kedua, maksud yang karenanya semua rintangan akan disingkirkan dan semua penghalang akan dihadapi.

Ketiga, maksud yang mendorongnya mencari pengetahuan dan mau mendengarkan nasihat dari orang yang lebih bijaksana.

Jika maksud sudah kuat, maka ia berubah menjadi tekad yang bulat, lalu mengharuskannya memulai perjalanan sambil disertai tawakal kepada Allah. Firman-Nya, “Kemudian apabila kamu sudah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (Ali Imran: 159).

Al Azm artinya maksud yang bulat dan yang mendorong munculnya aksi. Karena itu ada yang menganggap tekad yang bulat ini merupakan permulaan aksi untuk mencari maksud dan tujuan. Pada hakikatnya tekad ini merupakan kekuatan kehendak yang sudah berhimpun untuk mengadakan aksi.
Tekad ini ada dua macam:

Pertama, tekad orang yang hendak mengayunkan langkah melakukan perjalanan atau bisa juga disebut permulaan perjalanan.

Kedua, tekad saat berada di dalam perjalanan. Hal ini sifatnya lebih khusus lagi.
Pada etape ini seseorang perlu membedakan antara apa yang menjadi haknya dan kewajibannya, agar dia tahu apa yang memang menjadi bagiannya dan apa yang menjadi kewajibannya, yaitu muhasabah sebelum taubat. Tetapi pengarang Manazilus-Sa’irin menempatkan taubat sebelum muhasabah.
Yang perlu diketahui bahwa persinggahan ini jangan disamakan dengan persinggahan menurut kenyataan, dimana seseorang berada di satu tempat itu lalu meninggalkannya begitu saja untuk berpindah ke tempat berikutnya. Tentunya engkau juga tahu bahwa al yaqzhah (kesadaran) harus selalu menyertai dan tidak bisa ditinggalkan, di mana pun tempatnya, begitu pula al bashirah, al iradah, al azm, maupun at taubah.

Seperti wajarnya taubat yang ada di akhir, maka ia juga harus ada di permulaannya dan bahkan ia harus ada di mana-mana. Memang Allah menjadikan taubat ini sebagai bagian akhir dari keadaan hamba-hamba-Nya yang khusus, seperti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabat beliau dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Allah befirman berkaitan dengan perang Tabuk, peperangan terakhir yang mereka lakukan, dan sekaligus merupakan perjalanan yang paling berat bagi mereka, “SesungguhnyaAllah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu.” (At-Taubah: 117).

sumber : fimadani

Lengkapnya Klik DISINI

Tarbiyah dalam Amal Thullabi: Karakteristik Tarbiyah Mahasiswa

Musthafa Muhammad ThahanTarbiyah adalah aktivitas manusia yang memiliki titik tolak sendiri, dan mempunyai kandungan kemasyarakatan. Ia adalah jalan hidup bahkan hidup itu sendiri. Semenjak Adam – alaihis salam — manusia telah melakukan aktivitas tarbiyah terhadap anak-anak dan mereka yang masih dalam usia pertumbuhan. Agar dapat membantu mereka untuk berkembang sehat di masa hidu p mereka kini dan masa datang, dan agar dapat dipenuhi segala kebutuhan mereka, baik kebu tuhan perkembangan fisik, ruhiyyah, perasaan maupun perilaku. Juga u ntuk mempersiapkan masa depan mereka sebagai individu maupun anggota masyarakat.

Tarbiyah menjadi sangat penting karena ia dapat mengubah seorang anak manusia dari hanya sekedar makhluk menjadi insan yang memiliki kepribadian berbeda.

Tarbiyah yang Kita Inginkan 

Jika tarbiyah memiliki urgensi demikian penting, maka kita patut bertanya: “Seperti apakah tarbiyah yang kita inginkan?”

Dunia Islam telah bertahun-tahun mencoba manhaj tarbiyah yang diimpor dari timur maupun barat, namun tak sekalipun menghasilkan generasi yang sholih, tak pernah mengangkat kondisi ummat dan menyelamatkannya dari kejatuhan.

Oleh karena itu wajib bagi Dunia Islam untuk kembali ke sumbernya yang orisinil, jernih dan cemerlang. Dialah Manhaj Allah dan Metode Rasul-Nya yang kekal dan sesuai dengan segala tempat dan zaman. Di sini muncul sebuah pertanyaan: “Apakah keistimewaan Tarbiyah Islamiyah dibanding yang lain?”

Keistimewaan Tarbiyah Islamiyyah 

1. Tarbiyah Insaniyyah
Diantara keistimewaan Tarbiyah Islamiyyah yang bersumber dari tashawwur (persepsi) Islam yang jelas terhadap manusia, alam dan kehidupan, adalah keberadaannya sebagai Tarbiyah Insaniyyah. Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- telah menjelaskan rantai hu bungan tarbiyah ini dengan sabdanya: “Perumpamaanku dan nabi-nabi sebelum ku seperti seorang laki-lakiyang membangun sebuah rumah yang baik, lalu ia menghias dan memperindahnya kecuali sebuah batu bata di sudut rumah itu. Kemudian orang-orang mengelilinginya dan mengaguminya sambil berkata: “Mengapa tidak diletakkan batu bata di sini?” Akulah batu bata itu dan akulah penutup para nabi.” (HR. Mu slim).

Ini adalah risalah sepanjang zaman, untuk setiap tempat, bersumber dari Allah (rabbaniyyah), dan memiliki kandungan kemanusiaan. Ketika metode Tarbiyah lain bertujuan mempersiapkan warga negara yang baik dan penuh dengan fanatisme, maka tarbiyah islamiyyah menjamin terbentuknya manu sia yang baik dan mampu menjaga kemanusiaannya.

2. Tarbiyah yang lengkap dan seimbang
Berbagai manhaj pendidikan berusaha memperbaiki sisi tertentu kehidupan manusia, ada yang memfokuskan pada jasadnya, akalnya, atau jiwanya saja. Hanya Islam yang mampu memperbaiki jiwa manusia, akal dan jasadnya secara seimbang dan menjadi satu kesatuan.

3. Tarbiyah yang realistis
Tarbiyah Islamiyyah mendidik manusia dengan realitas kemanusiannya, ia bukan malaikat, bukan pula hewan. Islam mengenal kelemahan manusia di hadapan bujukan dan rayuan, mengetahui kelemahannya menjalankan beban kehidupan.

4. Tarbiyah ‘Amaliyyah
Dengan Tarbiyah, kata-kata berubah menjadi amal atau akhlaq utama atau pembinaan perilaku sesuai dengan eksistensi manusia yang diinginkan oleh Islam.

5. Tarbiyah yang terus-menerus sepanjang hayat dari buaian sampai liang lahat.

6. Tarbiyah yang bertahap, karena tidak mungkin mengubah manusia dari akhlaq lamanya yang menyeleweng, menjadi akhlaq baru yang lurus sekejap mata.

7. Tarbiyah Akhlaqiyyah, karena akhlaq dalam tarbiyah Islamiyyah bukanlah barang dagangan atau kepentingan, tetapi akhlaq adalah keseluruhan karakter mulia yang wajib dimiliki manusia, yang membedakannya dari makhluk lain dalam berpikir dan berperilaku.

8. Tarbiyah yang menghidupkan hati nurani. Hati nurani adalah penggerak utama pada diri manusia menuju keutamaan, dan penghalang dari kehinaan. Untuk itu tarbiyah islamiyyah berusaha menghidupkan hati yang dapat merasakan pengawasan Allah sebelum pengawasan makhluk-Nya, mengharapkan balasan akhirat sebelum balasan dunia, dan takut kepada siksa Allah di dunia dan akhirat sebelum memandang hukuman dunia. Dengan demikian, semua perbuatan pemilik hati ini akan lurus baik ketika sendiri atau di depan umum, dan menjadi anggota masyarakat yang baik sekaligus melakukan perbaikan.

9. Tarbiyah yang dapat mengapresiasikan keindahan Apresiasi keindahan adalah keistimewaan manusia yang sangat diperhatikan oleh tarbiyah islamiyyah. Sasarannya agar manusia dapat merasakan dan mengapresiasikan keindahan lingkungannya meskipun dari kejauhan dan dan berbagai tingkatannya.

Perangkat-perangkat Tarbiyah Pelajar/Mahasiswa 

Banyak perangkat yang mungkin digunakan dalam tarbiyah thullabiyyah untu k merealisasikan sasaran praktis tarbiyah dan integralitasnya :

1. Pengajar dan Guru Besar (Ustadz)

Ia adalah seorang mumajjih, mursyid, dan guru sebagaimana ia adalah murobbi dan qudwah. Di atas pundaknyalah tanggung jawab besar tarbiyah, merealisasikan sasaran tarbiyah, dan menyempurnakan kerja-kerja pengajaran. Kepadanyalah pandangan dan sorotan mata para siswa diarahkan, telinga mereka mendengar, dan hati mereka memahami. Sekali lagi guru adalah qudwah dalam ucapan, amal, penampilan dan keadaannya.

2. Pemimpin-pemimpin Amal Thullabi

Pengaruh pemimpin Amal Thullabi sangat besar dalam amal tarbawi seperti peran guru dan ustadz, karena pandangan mata para siswa juga terarah kepada mereka, menjadikan mereka sebagai contoh dan mengikuti arahan mereka. Oleh karena itu para aktivis dan pemimpin Amal Thullabi harus terlibat aktif dalam amal tarbawi dengan perbuatan sebelum perkataan.

3. Manhaj Tarbawi

Masih banyak kekurangan dalam manhaj tarbawi yang terjadi di berbagai lembaga pendidikan di dunia Islam. Kita menyaksikan lembaga-lembaga itu begitu memperhatikan prestasi ilmiah tetapi meninggalkan proses pendidikan untuk mencetak orang yang mampu berijtihad secara fardi dan belajar mandiri.

Oleh karena itu, aktivis Amal Thullabi harus melakukan kajian terhadap manhaj tarbawi, penerapannya di masyarakat, dan meletakkan langkah-langkah yang tepat untuk menjalankannya bagi seluru h pelajar/mahasiswa secara umum dan internal Amal Thullabi, serta terus memutabaah dan mengevaluasinya.

Manhaj tarbawi harus berangkat dari prinsip-prinsip Islam, memperhatikan adat masyarakat yang lurus, dan sesuai visi kita di masa depan. Manhaj tarbawi juga harus memperhatikan integralitas cakupannya, sehingga tidak meninggalkan satu sisipu n yang penting. Terakhir, manhaj tarbawi harus bersifat aplikatif, memadukan antara pendalaman teori dengan program amalinya.

4. Tarbiyah ‘Amaliyyah

Pentingnya tarbiyah amaliyyah sangat terlihat dalam kehidupan mahasiswa. Karena tarbiyah amaliyyah-lah yang mampu menjawab tantangan dunia mahasiswa yang dinamis, enerjik, selalu baru dan setiap hari terjadi banyak peristiwa dan aktivitas. Dengan demikian nilai-nilai yang tertanam akan semakin kuat, tarbiyah makin mampu mengangkat semangat, dan mengokohkan pola pikir dalam menghadapi peristiwa di lapangan.

Sehingga buah dan pengaruh tarbiyah pada diri mahasiswa semakin besar dan dirasakan.

sumber : hasanalbanna
Lengkapnya Klik DISINI

Ramadhan, Saatnya ‘Naik Kelas’

Alhamdulillah ya Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam,  sesuatu banget! Akhirnya kita bertemu lagi dengan bulan suci Ramadhan. Wah, nggak terkira deh senangnya karena Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah masih memberikan kita kesempatan untuk mendulang pahala yang banyak dari amalan-amalan shalih yang kita lakukan. Emm.. Kalo kamu sendiri hepi juga nggak nih? Eits! Jangan-jangan malah ada yang manyun? Hayo, ngaku! Hehe… bukan nuduh tetapi nuding (ooppss…)

Sobat gaulislam, memang pada kenyataannya nggak semua orang seneng loh bulan puasa kembali menyapa. Secara gitu loh, selama bulan puasa si abang bakso langganan nggak akan lewat di tengah bolong saat perutmu keroncongan. Atau wakuncar (waktu berkunjung pacar) ditiadakan dengan alasan menghormati bulan puasa (nggak nyambung, bilang aja ngirit bensin karena BBM naik, hehe!). dan yang paling penting puasanya itu loh, nggak nahan, bikin kangen ama abang siomay, abang cendol, abang.…huss, nyebut! (hahaha…). Orang yang bertakwa nggak akan rempong kayak gitu. Sebab, dia paham bahwasannya puasa itu menunjukkan ketakwaannya pada Allah. Simak nih firman Allah Ta’ala dalam surat al-Baqarah ayat 183 (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa

Keutamaan Ramadhan

Udahlah jangan mikirin laper ama dahagamu aja, Sob! Namanya juga puasa ya pasti begitu. Iya nggak sih? Jangan juga kamu malah keingetan menu buka puasa yang udah kamu incer. Nah, tetapi kudu diarahkan supaya inget aja sama keutamaan Ramadhan yang bakal bikin tabungan pahalamu melangit. Wuih, bayangin aja nih, kalo kamu ngerjain amalan sunah seperti sedekah, tahajud, tarawih dan sejenisnya, akan dihitung sebagai amalan wajib yang kadar pahalanya tentu lebih besar. Belum lagi kalo kita ngerjain amalan wajib seperti shalat fardhu dan menutup aurat, dihitung tujuh puluh kali lipat tuh. Mantap banget kan?

Bro en Sis, Ramadhan juga jadi waktu yang tepat buat kamu yang ingin ngelunturin dosa-dosa yang sudah kita lakukan. Nggak percaya? Simak nih sabda Rasulullah saw.: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala (keridhoan) Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu”. (HR Bukhari)

Bro en Sis, Ramadhan juga merupakan bulan kesabaran. Sabar dalam menahan hal-hal yang bisa membatalkan dan membuat cacat puasamu. Inget lho, kalo kesabaran itu balasannya surga. Ummh, so sweet ya? Oya, jangat pelit juga sama makanan. Coz, siapa aja yang ngasih makanan untuk berbuka dengan ikhlas kepada orang yang berpuasa, maka dosa-dosamu pasti diampuni, bisa selamat dari api neraka dan dapet pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa itu. Nggak hanya itu, malaikat akan memintakan ampunan bagi orang yang berpuasa selama berpuasa hingga berbuka. Dan, Allah pun memberikan ampunan untuk mereka di akhir malam bulan Ramadhan. Baginda Rasululullah saw. juga bersabda: “Jika memasuki bulan Ramadhan, maka semua pintu langit dibuka, dan pintu-pintu neraka Jahannam ditutup, sementara syaitan dibelenggu.” (HR al-Bukhari, Muslim, an-Nasai dan Ibn Hibban). Subhanallah, begitu besar ya kasih Allah dengan menurunkan bulan Ramadhan ini?

Oya, daftar keutamaan tadi belum semua Sob. Masih ada lagi nih keutamaan Ramadhan. Yup, Ramadhan juga disebut syahr al-Qur’an (bulan al-Quran). Soalnya nih, al-Quran kan turun pertama kali di bulan ini. Plus, Allah telah menjadikan salah satu malamnya, sebagai Lailatul Qadr, yaitu satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Tapi tentunya nggak gratisan, Sob. Perlu ibadah ekstra supaya kita bisa meraihnya. So, genjot deh ibadahmu di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Semoga kamu dapet tahun ini. Insya Allah. Semangat ya!

Takwa vs hawa nafsu

Bro en Sis rahimakumullah, ‘penggila’ gaulislam, banyak banget keutamaan-keutamaan Ramadhan. Namun, kita bisa saja tidak mendapatkannya karena dihalangi oleh hawa nafsu. Memang sih setan dibelenggu selama Ramadhan, tapi inget Sob, masih ada satu lagi musuh yang dibiarkan oleh Allah menggoda puasa kita. Yup, itulah hawa nafsu!

Hawa nafsu itu memang bawaan lahir bro en sis. Artinya setiap manusia pasti punya hawa nafsu. Bayangin aja, kalo nggak ada nafsu makan pasti kita nggak bakalan mau makan. Sama juga kalo kita nggak punya keinginan untuk menyukai lawan jenis. Sepertinya–walaupun nggak boleh mengandai-andai)–sejarah manusia hanya mentok pada Adam dan Hawa saja. So, sebenernya hawa nafsu itu yang sengaja Allah ciptakan untuk manusia, sebagai pelengkap untuk memenuhi kebutuhan jasmani  dan naluri pada manusia.

Meski demikian, hawa nafsu punya kecenderungan untuk membawa kita kepada perbuatan maksiat ataupun malas melakukan ibadah lho. Sebagai contoh, harusnya bulan Ramadhan kita puasa, tapi dorongan hawa nafsu yang begitu kuat karena ngiler gara-gara lihat jus mangga, bisa mendorong kita untuk nyeruput jus, walhasil batal deh puasa kita. Mulut yang harusnya bicara hanya yang baik-baik saja, eh pas diajak gosipin orang ngalor ngidul sekadar untuk ngabuburit doangan. Menyukai lawan jenis memang fitrah, tapi hawa nafsu merayu kita untuk melampiaskannya dengan cara pacaran, berzina bahkan memperkosa. Naudzubillahi min dzalik! 

Bener lho. Lagi-lagi hawa nafsulah yang mengarahkan kita untuk lebih memilih nonton TV karena ada artis yang kita idolakan daripada shalat tarawih ataupun tadarus. Jadi, Yuk kita kendalikan hawa nafsu agar perbuatan kita selalu berada dalam jalan yang sesuai dengan syariat Allah! Nggak gampang, tapi yakinlah kalo kamu bisa!

Sobat gaulislam, hawa nafsu itu bisa takluk alias tunduk patuh sama takwa lho. Jadi, kalo kamu takwa, pastinya hawa nafsu akan mempunyai kecenderungan untuk mendorong pemenuhan-pemenuhan manusia ke arah amal shalih dan menekan perbuatan maksiat. Misalnya saja, kalo kamu takwa, memenuhi keinginan manusia untuk saling mencintai hanya dalam bingkai pernikahan. Ketakwaan akan mengempiskan keinginan kita untuk marah-marah nggak jelas. Takwa pula yang akan melakukan perlawanan pada hawa nafsu agar bisa bertahan menahan lapar dan haus sampai azan magrib tiba.

Nah, puasa adalah salah satu amalan shalih yang dapat meningkatkan ketakwaan. Selain itu, di bulan Ramadhan ini, kita digembleng abis selama sebulan agar derajat takwa kita benar-benar bisa meroket dengan menjalankan ibadah puasa. Belum lagi kalo kita mengejar keutamaan-keutamaan Ramadhan sekuat tenaga, pantang menyerah dan sampai titik darah penghabisan (lebay!). So, pasti kita bisa menjadi orang yang sukses meningkatkan ketakwaan dari tahun ke tahun. Untuk apa? Tentunya untuk lebih mendekatkan diri dengan Allah, dan di akhirat kita bisa dikumpulkan bersama para nabi-nabi Allah, Rasulullah saw., dan para sahabatnya, sekaligus mendapatkan posisi yang mulia di sisi Allah. Amiiin!

‘Naik Kelas’ setelah Ramadhan
Hehehe, iya dong, naik kelas bukan istilah yang ada di dunia sekolahan aja. Ramadhan merupakan momen yang tepat untuk memperbaiki kualitas keimanan dan kepribadian kita. Puasa dan amalan shalih yang telah kita lakukan pastinya dapat derajat ketakwaan kita, tapi itu kalo kamu bisa mengalahkan hawa nafsu yang setiap hari merongrong kamu selama bulan Ramadhan. Ibarat soal-soal UKK (Ujian Kenaikan Kelas) yang mesti dijawab plus bikin ngebul kepalamu, hawa nafsu juga merupakan ujianmu yang terberat. So, dijamin, kalo kamu bisa melewatinya dengan baik, berarti kamu berhasil memperbaiki diri dan berhak mendapatkan “reward” berupa semua keutamaan Ramadhan dan ‘naik kelas’ tentunya.

Artinya nih, kita menjadi pemenang dalam perlombaan meraih kebaikan di saat yang lain mendapatkan nilai jeblok atau mungkin hanya mendapatkan lapar dan haus doang selama Ramadhan. Pilih mana, Bro en Sis? Ya yang naik kelas lah! Ayo, semangat terus selama Ramadhan! Polkan ibadah yang wajib, geber ibadah sunah, perbanyak sedekah dan dzikir, sikat maksiat, tutup aurat, stop pacaran, semarakkan Ramdhan dengan menuntut ilmu Islam, gencarkan dakwah, untuk apa? ‘Naik kelas’ jadi orang yang bertakwa. Pinteeeer! Hehehe! [Junnie | Twitter @junnieNH]

sumber : http://www.gaulislam.com/ramadhan-saatnya-naik-kelas
Lengkapnya Klik DISINI

Cinta Sejati: Suami Berjalan Kaki Demi Temukan Ginjal Untuk Istrinya

Cinta Sejati: Suami Berjalan Kaki Demi Temukan Ginjal Untuk Istrinya

Bagaimana bila orang yang Anda cintai divonis sakit keras dan umurnya tak akan lama lagi? Pasti Anda akan melakukan apapun agar ia bisa sembuh kembali dan bersama Anda lebih lama.

Sama halnya seperti seorang kakek berusia 78 tahun dari Carolina Selatan yang bernama Larry Swilling ini. Ia memiliki seorang istri berusia 47 tahun bernama Jimmie Sue yang divonis terkena gagal ginjal tahun lalu. Maka di suatu hari di serambi mereka, Larry menggenggam tangan istrinya dan berkata, "Aku akan mendapatkan ginjal untukmu."


Larry tidak hanya menggantungkan nasib istrinya pada pertolongan medis. Pria ini bahkan berjalan menyusuri jalanan sambil mengalungkan papan bertuliskan, 'Dibutuhkan Ginjal'. Tekadnya begitu kuat untuk bisa menyelamatkan sang istri dari penyakit mematikan itu. Apalagi, Sue hanya memiliki satu ginjal di dalam tubuhnya.

Larry tahu bahwa mendapatkan ginjal yang cocok untuk istrinya tidaklah mudah. Sekalipun ada, belum tentu orang tersebut mau memberinya ginjal yang sangat berharga untuk nyawa istrinya itu. Sudah lebih dari setengah tahun Larry mencari ginjal yang tepat untuk istri yang dipanggilnya, 'my heart' itu.


Pria ini memang sangat mencintai istrinya. Ia bahkan berurai air mata saat menjelaskan bahwa bagaimanapun ia akan mengusahakan ginjal untuk istrinya agar bisa sembuh. "Aku memohon-mohon demi sebuah ginjal. Aku akan melakukan apapun, tapi aku membutuhkan ginjal" isaknya. Ia sering mendapatkan telepon dari penjuru dunia seperti Mesir, Swedia dan negara lainnya. Namun sayang, belum ada yang cocok untuk Sue.

Oleh karena itu pria ini memutuskan untuk berjalan kaki di sepanjang kota ia tinggal sambil mengalungkan papan tersebut di dada dan punggungnya. Ia tidak mau melewatkan setiap meter dan setiap orang yang ia temui karena ia tahu dengan tekad yang kuat, harapan kesembuhan untuk sang istri pasti ada.



Dapatkah Anda membayangkan seorang pria yang sudah tua berjalan terengah-engah di bawah terik matahari sambil berpenampilan demikian karena sebegitu cinta dan inginnya dia mendapatkan ginjal bagi istrinya? Sebuah hal yang sulit dilakukan, namun ia tetap melakukannya.

Larry tak peduli orang berkata apa, hanya demi bisa selalu bisa bersama dengan istrinya, "Aku memang lelah, namun aku akan terus melakukan ini." Tak ada yang sia-sia dari apa yang dilakukannya, semua karena didasari oleh cinta yang tulus dan sejati.
Bagaimana bila orang yang Anda cintai divonis sakit keras dan umurnya tak akan lama lagi? Pasti Anda akan melakukan apapun agar ia bisa sembuh kembali dan bersama Anda lebih lama.

Sama halnya seperti seorang kakek berusia 78 tahun dari Carolina Selatan yang bernama Larry Swilling ini. Ia memiliki seorang istri berusia 47 tahun bernama Jimmie Sue yang divonis terkena gagal ginjal tahun lalu. Maka di suatu hari di serambi mereka, Larry menggenggam tangan istrinya dan berkata, "Aku akan mendapatkan ginjal untukmu."

Larry tidak hanya menggantungkan nasib istrinya pada pertolongan medis. Pria ini bahkan berjalan menyusuri jalanan sambil mengalungkan papan bertuliskan, 'Dibutuhkan Ginjal'. Tekadnya begitu kuat untuk bisa menyelamatkan sang istri dari penyakit mematikan itu. Apalagi, Sue hanya memiliki satu ginjal di dalam tubuhnya.

Larry tahu bahwa mendapatkan ginjal yang cocok untuk istrinya tidaklah mudah. Sekalipun ada, belum tentu orang tersebut mau memberinya ginjal yang sangat berharga untuk nyawa istrinya itu. Sudah lebih dari setengah tahun Larry mencari ginjal yang tepat untuk istri yang dipanggilnya, 'my heart' itu.

Pria ini memang sangat mencintai istrinya. Ia bahkan berurai air mata saat menjelaskan bahwa bagaimanapun ia akan mengusahakan ginjal untuk istrinya agar bisa sembuh. "Aku memohon-mohon demi sebuah ginjal. Aku akan melakukan apapun, tapi aku membutuhkan ginjal" isaknya. Ia sering mendapatkan telepon dari penjuru dunia seperti Mesir, Swedia dan negara lainnya. Namun sayang, belum ada yang cocok untuk Sue.

Oleh karena itu pria ini memutuskan untuk berjalan kaki di sepanjang kota ia tinggal sambil mengalungkan papan tersebut di dada dan punggungnya. Ia tidak mau melewatkan setiap meter dan setiap orang yang ia temui karena ia tahu dengan tekad yang kuat, harapan kesembuhan untuk sang istri pasti ada.

Dapatkah Anda membayangkan seorang pria yang sudah tua berjalan terengah-engah di bawah terik matahari sambil berpenampilan demikian karena sebegitu cinta dan inginnya dia mendapatkan ginjal bagi istrinya? Sebuah hal yang sulit dilakukan, namun ia tetap melakukannya.

Larry tak peduli orang berkata apa, hanya demi bisa selalu bisa bersama dengan istrinya, "Aku memang lelah, namun aku akan terus melakukan ini." Tak ada yang sia-sia dari apa yang dilakukannya, semua karena didasari oleh cinta yang tulus dan sejati.
sumber : facebook

Lengkapnya Klik DISINI

Kemenangan Kian Terasa Dekat


Mungkin ini hanya sebait kata dari beribu kata di dunia…
Mungkin ini hanya setitik peluh dari berjuta peluh pejuang yang lebih dulu dalam kancah perjuangan ini…
Mungkin ini hanya setitik air dari diantara air mata para pejuang yang telah syahid memperjuangkan risalah Islam ini….

Melalui sebait kata ini ingin ku sampaikan padamu wahai saudaraku… bahwa… kemenangan kian terasa dekat!!!

Kemenangan kian terasa dekat wahai saudaraku!!!
Ketika yang lain berusaha menjatuhkanmu…
Namun, engkau tetap berusaha kokoh dalam pendirianmu…

Kemenangan kian terasa dekat wahai saudaraku!!!
Ketika yang lain mencacimu…
Namun, engkau semakin tunduk dalam sujud dan do’amu…

Kemenangan kian dekat wahai saudaraku!!!
Ketika yang lain tak percaya padamu…
Namun, kau semakin padu menyatukan ukhuwahmu…

Menyatukan visi demi tegaknya kemuliaan Rabbmu…
Menyatukan visi demi tegaknya risalah Rasulmu…
Menyatukan visi demi tegaknya firman-firman Indah Rabbmu…
Yang kan dapat membawa sepenggal firdaus bagi negerimu…
Yang kan dapat membawa rahmat bagi semesta alam yang dititipkan padamu, padaku, dan pada kita semua…

Mungkin saat ini kau terlihat dibawah saudaraku…
Tetapi tidak saudarku!!! Sunguh tidak saudaraku!! sungguh tidak!!!
Aku ingin meyakinkanmu… bahwa dipandangan Rabbmu,
Engkau masih terus menerus berlari naik menanjak!!!
Engkau masih terus menerus berlari naik menanjak!!!
Engkau masih terus menerus berlari naik menanjak!!!
Engkau masih terus menerus berlari naik menanjak…. untuk menggapai bukit impianmu wahai saudaraku….

Mungkin saat ini kerikil-kerikil sedang menghampirimu… tetapi itu bukanlah penghalang tegaknya kemuliaan Rabbmu penguasa jagat raya, penguasa alam semesta…
Mungkin saat ini banyak jalan lubang berbatu.. tetapi jangan bersedih saudaraku…
bergembiralah karena itu kemuliaan bagimu,
karena Rabbmu ingin mengujimu layaknya orang-orang beriman terdahulu,
membasuh noda di hatimu, mengangkat derajatmu, meneguhkan kesabaran dan kedudukanmu….

Yakinlah saudaraku!!! Yakinlah saudaraku!!! Yakinlah saudaraku!!! akan pertolongan Rabbmu…
Yakinlah saudaraku!!! bahwa dibalik gulitanya rembulan kan berganti dengan pagi yang menawan…
Yakinlah saudaraku!!! bahwa dibalik lebatnya hujan kan berganti dengan pelangi yang rupawan…
Yakinlah saudaraku!!! bahwa dibalik gelapnya awan kan berganti dengan sinar mentari dengan seribu kehangatan..
Yakinlah saudaraku!!! bahwa dibalik gelapnya terowongan kan kau temukan setitik ujung harapan,

Entah kapan, entah kapan, entah kapan,… tetapi itu terasa kian dekat saudaraku!!!
Teruslah berdo’a dalam munajat malammu saudaraku… Teruslah berdo’a dalam sujud-sujudmu saudaraku… untuk keadlianmu, keadlianku, dan keadilan kita semua…
Terusalah berusaha saudaraku… untuk kesejahteraanmu, kesejahteraanku, dan kesejahteraan kita semua…
Terusalah berdo’a dan berusaha saudaraku… dalam harmoni cintamu, dalam harmoni kerjamu…

Jangan berhenti saudara-saudaraku, meskipun serangan-serangan telah lelah menyerangmu,
Jangan berhenti saudara-saudaraku, meskipun caci maki telah lelah mencacimu,
karena kau bekerja bukan untuk menangkis serangan-serangan itu,
karena kau bekerja bukan untuk menghalau caci maki itu,
karena kau bekerja hanya untuk Rabbmu, penggenggam hatimu, penggenggam jiwamu,
hingga kau kembali di sisi Raabmu, di surga… yang mengalir beribu-ribu sungai-sungai indah dibawahnya……
Itulah kemenangan yang agung!!! Itulah kemenangan yang agung!!! Itulah kemenangan yang agung!!! wahai saudara-saudaraku……

Yakinlah saudaraku!!! Yakinlah saudaraku!!! Yakinlah saudaraku!!!
Hingga jika ini nafas terakhirmu!!! Hingga jika ini nafas terakhirku!!! Hingga jika ini nafas terakhir kita semua!!!

Yakinlah, Yakinlah, Yakinlah!!!
Yakinlah akan secercah mentari di esok pagi, dan jangan katakan lelah sebelum kembali!!!
Yakinlah akan secercah senyum harapan mengembang…
Di balik wajah orang tuamu, orang tuaku, orang tua kita semua…
Yakinlah akan secercah senyum harapan mengembang…
Di balik wajah saudaramu, saudaraku, saudara kita semua….
Yakinlah akan secercah senyum harapan mengembang…
Di balik wajah sahabat-sahabatmu, sahabat-sahabatku, sahabat-sahabat kita semua…
Yakinlah akan secercah senyum harapan mengembang…
Di balik wajah anakmu, anakku, dan anak-anak negeri ku tercinta, Indonesia…

Allahuakbar!!!.. Allahuakbar!!!… Allahuakbar!!! []


Penulis: Abdurrahman Lathiif Fattaahillah
sumber: bersamadakwah
Lengkapnya Klik DISINI

Nasehat Ibnu Taimiyah tentang Ukhuwwah

 Foto: Nasehat Ibnu Taimiyah tentang Ukhuwwah

Nasehat Ibnu Taimiyah tentang Ukhuwwah Tafarruq alias perpecahan, adalah salah satu penyakit klasik umat, yang amat diwaspadai oleh para ulama salah satunya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah


 
BERSATU, BERBEDA PENDAPAT, PERSAUDARAAN DALAM DIN
"..bisa berbeda pendapat dalam masala ilmiah dan amaliyah, tetapi tetap bersatu/persaudaraan dalam dien" (ibnu Taimiyah)
BANYAKNYA komunitas-komunitas keislaman, organisasi dakwah, kajian serta bertambah jumlah da’i secara kuantitas merupakan hal yang perlu disyukuri di satu sisi. Akan tetapi timbul keprihatinan di sisi lain, karena dengan timbulnya fenomena itu semestinya umat Islam bergerak lebih sinergis, tapi fakta dilapangan sering kali bertolak belakang, komunitas serta organisasi dakwah yang ada sering kali saling ‘menyerang’, saling menyesatkan dan bahkan membid’ahkan, enggan mengucap salam satu sama lain, dan ada yang lebih “hebat” lagi, yaitu enggan melakukan shalat dengan umat Islam yang masih tergolong sunni, dikarenakan ada perbedaan pendapat dalam beberapa masalah. Tampaknya “penyakit” tafarruq yang menggerogoti umat ini mulai kronis.

Tafarruq alias perpecahan, adalah salah satu penyakit klasik umat, yang amat diwaspadai oleh para ulama salah satunya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H), beliau adalah seorang ‘alim yang sadar akan bahayanya penyakit ini, hingga kita dapati dari beberapa karya beliau ikut berbicara dalam masalah ini. Bagaimana seharusnya umat Islam yang menganut madzahib mu’tabarah ini bisa tetap menjalin ukhuwah walau berbeda pendapat. Tentu hal ini amat perlu kita ketahui.

Kewajiban Tawahud dan Haramnya Tafarruq

Dalam sebuah risalah yang ditulis Ibnu Taimiyah –rahimahullah– yang berjudul Khilaf Al Ummah fi Al Ibadat wa Madzhab Ahlu As Sunnah, yang tergabung dalam Risalah Ulfah Baina Al Muslimin, beliau berkata: “…Perpecahan dan ikhtilaf yang menyebabkan tidak berkumpul dan bersatu terhadap mereka yang berbeda mengakibatkan sebagian dari mereka membenci dan memusuhi yang lain serta mencintai dan berloyalitas kepada yang lain, sampai mengakibatkan timbulnya celaan, hinaan, cacian terhadap yang lain, juga sampai menimbulkan pertumpahan darah, baik dengan tangan maupun senjata! Serta menyebabkan pemutusan hubungan dan pemboikotan, sehingga sebagian dari mereka tidak shalat di belakang sebagian yang lain. Ini semua adalah termasuk perkara paling besar yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya!”

Kemudian Syaikhul Islam Menjelaskan beberapa dalil, beliau berkata: “Berkumpul dan bersatu adalah salah satu perkara paling besar yang diwajibkan Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman:”Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan muslim. Dan berpegang taguhlah kalian semua dengan tali Allah dan janganlah bercerai-berai.” Sampai dengan firman Allah:”Dan janganlah kalian menjadi seperti mereka yang bercerai berai dan berselisih setelah datang kepada mereka berbagai keterangan. Dan mereka akan mendapat siksa yang besar. Di hari dimana waktu itu ada wajah-wajah yang putih dan wajah-wajah yang hitam…” (Ali Imran: 102-106).

Ibnu Abbas mengatakan bahwa mereka yang berwajah putih adalah ahlu sunnah dan yang berwajah hitam adalah ahlul bid’ah.”

Orang yang melakukan perbuatan di atas adalah orang yang menyelisihi sunnah sehingga banyak yang berubah menjadi ahlu bid’ah. Syaikhul Islam mengatakan:”Dan banyak dari mereka (orang yang bercerai-berai) menjadi ahlu bid’ah dengan keluarnya mereka dari sunnah yang telah disyari’atkan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam atas umatnya, dan termasuk ahli furqah disebabkan furqah menyelisihi jama’ah yang diperintahkan Rasulullah shlallahu ‘alahi wasalam.” (Lihat, Khilaf Al Ummah fi Al Ibadat wa Madzhab Ahlu As Sunnah, yang targabung dalam Risalah Ulfah Baina Al Muslimin, hal.25).

Syaikhul Islam Mengatakan: ”Bagaimana boleh dalam umat Muhammad shalallahu’alaihi wasalam ini ada perselisihan dan perpecahan sehingga seseorang berloyalitas pada sebuah thaifah dan menyakiti thaifah yang lain dengan prasangka dan hawa nafsu tanpa menggunakan hujjah dari Allah. Allah telah berlepas terhadap nabi-Nya dalam masalah seperti ini. Ini adalah perbuatan ahlu bid’ah seperti khawarij, yang memisahkan diri dari jama’ah muslimin dan menghalalkan darah mereka yang menyelisihinya. Adapun ahlu sunnah wal jama’ah mereka yang tetap berpegang teguh dengan tali Allah.” (Majmu’ah Al Fatawa, vol. 3, hal. 258)

Berbeda Pendapat, Tetap Bersaudara

Dalam Majmu’ah Al Fatawa Ibnu Taimiyah mengatakan: “Ulama dari para sahabat, tabi’in dan setelah mereka, jika berselisih dalam permasalahan, mereka mengikuti perintah Allah:”…Lalu jika kalian berselisih atas sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir, itu hal yang baik dan lebih baik kesudahannya (An Nisa’:59). Mereka berdebat dalam sebuah masalah dengan musyawarah dan saling menasehati. Dan bisa jadi mereka berbeda pendapat dalam masala ilmiah dan amaliyah, akan tetapi tetap bersatu dan tetapnya kamaksuman serta persaudaraan dalam dien.”

Di tempat lain beliau berkata: “Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu’anha telah menyelisishi Ibnu Abbas dan para sahabat lain yang berpendapat bahwa Muhammad shallahu’alaihi wasalam telah melihat Rabb-nya. Aisyah berkata:

”Barang siapa mengira bahwa Muhammad telah melihat Rabb-nya maka telah berdusta besar kepada Allah Ta’ala”. Akan tetapi mayoritas umat memilih pendapat Ibnu Abbas dan mereka tidak membid’ahkan sahabat lain yang berpendapat sama dengan Ummul Mukminin radhiallahuanha.”

Ibnu Taimiyah juga menyebutkan adanya perselisihan antara Aisyah dengan para sahabat yang lain dalam masalah doa, apakah didengar oleh mayit atau tidak. Juga perbedaan para sahabat dalam menyikapi parkataan Rasulullah yang memerintahkan agar mereka tidak shalat Ashar kecuali ketika tiba di Bani Quraidhah. Ketika waktu Ashar tiba pada saat dalam perjalanan, ada sebagian sahabat yang memilih shalat Ashar di perjalanan karena takut terlewatkan waktu ashar dan ada yang tetap tidak shalat Ashar, kecuali setelah sampai di Bani Quraidhah walau waktu Ashar telah habis. Dan tidak ada satu orang pun dari mereka yang dicela.(Lihat, Majmu’ah Al Fatawa, vol. 24, hal. 95-96).

Dalam Khilaf Al Ummah fi Al Ibadat wa Madzhab Ahlu As Sunnah, Syaikhul Islam menyebutkan: “Para sahabat telah bersepakat -dalam masalah yang mereka selisihkan- untuk mengakui tiap-tiap kelompok dalam mengamalkan hasil ijtihadnya masing-masing (lihat, Risalah Ulfah, hal. 79).*

Ikhtilaf dalam Masalah Ijtihad

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang orang-orang yang bertaklid kepada sebagian ulama dalam masalah ijtihad, apakah harus dingkari dan dijauhi? Beliau menjawab: “Alhamdulillah, dalam masalah-masalah ijtihad, barang siapa mengamalkan pendapat ulama tidak boleh diingkari atau dijauhi. Dan barang siapa mengambil salah satu dari dua pendapat juga tidak boleh dingkari, jika dalam sebuah masalah ada dua pendapat. Apabila seseorang mengetahui ada salah satu dari dua pendapat yang lebih rajih, maka hendaklah ia mengamalkannya, jika tidak maka dibolehkan dia bertaklid terhadap beberapa ulama yang bisa dijadikan rujukan untuk menjelaskan pendapat yang lebih rajih diantara dua pendapat, wallahu’alam.” (Majmu’ah Al Fatawa, vol. 20, hal. 115)

Beliau berkata di tempat lain:”Adapun ikhtilaf dalam permasalahan hukum, bisa lebih banyak lagi. Seandainya saja jika dua orang muslim ikhtilaf dalam suatu masalah dan keduanya saling menjahui maka tidaklah tersisa dari umat ini kemaksuman dan persaudaraan…” (Majmu’ah Al Fatawa, vol. 24, hal 96).

Syaikhul Islam dalam Khilaf Al Ummah fi Al Ibadat wa Madzhab Ahlu As Sunnah juga menyebutkan Imam Ahmad yang berpendapat bahwa membaca basmalah dalam shalat tidak perlu dengan jahr. Akan tetapi beliau membaca basmalah dengan jahr jika shalat di Madinah, karena penduduknya membaca basmalah dengan jahr. Qadhi Abu Yu’la Al Fara’ menjelaskan bahwa Imam Ahmad melakukan hal itu dalam rangka menjaga ukhuwah (Risalah Ulfah, hal. 48).

Larangan Berpecah-Belah

Salah satu penyebab perpecahan umat adalah imtihan (menguji) dengan penisbatan yang tidak berdasarkan nash. Seperti yang dicontohkan oleh Ibnu Taimiyah, yaitu dengan mengatakan kepada seseorang:”Kamu Shukaily atau Qarfandi?” Maka jika seseorang ditanya dengan pertanyaan seperti itu, jawabnya adalah:”Saya bukan Shukaili atau Qarfandi, akan tetapi saya muslim yang mengikuti Kitabullah dan sunnah rasul-Nya.”

Sebagaimana diriwayatkan, bahwa Ibnu Abbas ditanya oleh Muawiyah:”Kamu mengikuti millah Ali atau millah Utsman?” Beliau menjawab: “Saya tidak mengikuti millah Ali ataupun Utsman, akan tetapi saya mengikuti millah Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam.”

Begitu juga tidak diperbolehkan imtihan (menguji) dengan penisbatan yang sudah umum dipakai para ulama, seperti penisbatan kepada Imam (Al Hanafi, Al Maliki, As Syafi’i atau Al Hambali), yaitu dengan mengatakan: “Kamu Hanafi atau Maliki?” Juga penisbatan kepada guru ( Al Qadiri atau Al ‘Adawi), atau qabilah (Al Qaisi atau Al Yamani), atau negeri (Al Iraqi, Al Mishri atau As Syami). Juga tidak boleh berloyalitas atas nama-nama ini dan tidak pula menyakiti mereka yang bernisbah kepadanya. Adapun yang paling muliya di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa, tidak pandang dari thaifah mana pun dia (Lihat, Majmu’ah Fatawa, vol. 3, hal. 255).

Loyalitas Tidak Didasari Atas Penisbatan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah-rahimahullah- mengatakan: “Allah telah memberi kabar, bahwa orang mukmin memiliki loyalitas kepada Allah, rasul-Nya serta hamba-hamba-Nya yang mukmin. Mukmin di sini bersifat umum, barang siapa beriman maka dia disifati dengan sifat ini. Baik mereka yang menisbahkan diri, atas negeri, madzhab, thariqah atau yang tidak menisbahkan diri. Allah telah berfirman:”Dan laki-laki yang beriman serta perempuan yang berimana, sebagian mereka menjadi penolong sebagian yang lain.”(At Taubah: 71).

Ibnu Taimiyah juga menyebutkan beberapa hadits, salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari: “Permisalan orang-orang mukmin dalam kecintaan, kasih dan sayang atas sesama mereka seperti satu tubuh, jika salah satu dari anggota badan sakit maka seluruh badan ikut demam susah tidur.” (Lihat, Majmu’ah Al Fatawa, vol. 3, hal. 257)

Tawadhu’ Ibnu Taimiyah Kepada Ulama Madzhab Lain

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tidak hanya cukup berfatwa, lebih dari itu, amalan beliau mencerminkan apa yang beliau katakan. Ibnu Taimiyah tetap bisa bersikap obyektif kepada para ulama lain walaupun mereka berbeda pendapat atau madzhab. Meskipun beliau dalam banyak hal mengambil pendapat Madzhab Hambali akan tetapi beliau memiliki beberapa murid yang bermadzhab lain, seperti Ibnu Katsir (774 H) dan Imam Ad Dzahabi (748 H), keduanya bermadzhab Syafi’i.

Antara Ibnu Taimiyah dan Taqiyuddin As Subki (756 H) yang bermadzhab Syafi’i sering saling mengkritik lewat karya masing-masing, akan tetapi Ibnu Taimiyah tetap memuji karya-karya Taqiyuddin As Subki, dan beliau tidak memberi penghormatan kepada orang lain sebagaimana beliau menghormati Taqiyuddin As Subki (lihat, Tabaqat Asyafi’yah Al Kubra, vol.10, hal. 194).

Yang juga perlu dicontoh dari Ibnu Taimiyah adalah sifat tawadhu’ beliau terhadap ‘Alauddin Al Baji (724 H), salah satu ulama madzhab Syafi’I, mutakallim, yang mempunyai majelis perdebatan. Suatu saat mereka berdua bertemu, dan Al Baji berkata kepada Ibnu Taimiyah: ”Bicaralah, kita membahas permasalahan denganmu.” Akan tetapi Ibnu Taimiyah menjawab:”Orang sepertiku tidak akan berbicara di hadapan anda, tugasku adalah mengambil faidah dari anda.” (Tabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, vol. 10, hal. 342)

Nasehat Ibnu Taimiyah

Syikhul Islam –rahimahullah- mengatakan: “Perpecahan umat yang telah menimpa para ulama, para masyayikh, umara’, serta para pembesarnya merupakan penyebab berkuasanya musuh atas mereka. Dan itu disebabkan karena mereka telah meninggalkan perintah untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya…”

Di tempat lain dijelaskan, bahwa Allah berfirman:”Dan hendaklah ada dari antara kamu satu golongan yang mengajak kepada kebaikan dan menyeru kepada hal yang ma’ruf serta melarang hal yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.” Ibnu Taimiyah mengatakan:”Amar ma’ruf adalah memerintahkan untuk bersatu dan berkumpul adapun nahi mungkar adalah menegakkan hudud dengan Syari’at Allah.” (Lihat, Majmu’ah Al Fatawa, vol. 3, hal. 259).

Maka, marilah kita rapatkan shaff, kikis rasa ta’ashub pada diri kita, juga prasangka buruk terhadap yang lain, juga perasaan bahwa diri kita selalu dalam kebenaran dan yang lain selalu berada dalam kebathilan, juga klaim bahwa hanya kita yang memahami dien sedangakan yang lain hanyalah juhala’ yang tidak perlu didengarkan. Wallahu’alam bishowab.*/Thoriq

Rep: Cholis Akbar
Editor: Cholis Akbar
Nasehat Ibnu Taimiyah tentang Ukhuwwah Tafarruq alias perpecahan, adalah salah satu penyakit klasik umat, yang amat diwaspadai oleh para ulama salah satunya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

BERSATU, BERBEDA PENDAPAT, PERSAUDARAAN DALAM DIN

"..bisa berbeda pendapat dalam masala ilmiah dan amaliyah, tetapi tetap bersatu/persaudaraan dalam dien" (ibnu Taimiyah)

BANYAKNYA komunitas-komunitas keislaman, organisasi dakwah, kajian serta bertambah jumlah da’i secara kuantitas merupakan hal yang perlu disyukuri di satu sisi. Akan tetapi timbul keprihatinan di sisi lain, karena dengan timbulnya fenomena itu semestinya umat Islam bergerak lebih sinergis, tapi fakta dilapangan sering kali bertolak belakang, komunitas serta organisasi dakwah yang ada sering kali saling ‘menyerang’, saling menyesatkan dan bahkan membid’ahkan, enggan mengucap salam satu sama lain, dan ada yang lebih “hebat” lagi, yaitu enggan melakukan shalat dengan umat Islam yang masih tergolong sunni, dikarenakan ada perbedaan pendapat dalam beberapa masalah. Tampaknya “penyakit” tafarruq yang menggerogoti umat ini mulai kronis.

Tafarruq alias perpecahan, adalah salah satu penyakit klasik umat, yang amat diwaspadai oleh para ulama salah satunya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H), beliau adalah seorang ‘alim yang sadar akan bahayanya penyakit ini, hingga kita dapati dari beberapa karya beliau ikut berbicara dalam masalah ini. Bagaimana seharusnya umat Islam yang menganut madzahib mu’tabarah ini bisa tetap menjalin ukhuwah walau berbeda pendapat. Tentu hal ini amat perlu kita ketahui.

Kewajiban Tawahud dan Haramnya Tafarruq

Dalam sebuah risalah yang ditulis Ibnu Taimiyah –rahimahullah– yang berjudul Khilaf Al Ummah fi Al Ibadat wa Madzhab Ahlu As Sunnah, yang tergabung dalam Risalah Ulfah Baina Al Muslimin, beliau berkata: “…Perpecahan dan ikhtilaf yang menyebabkan tidak berkumpul dan bersatu terhadap mereka yang berbeda mengakibatkan sebagian dari mereka membenci dan memusuhi yang lain serta mencintai dan berloyalitas kepada yang lain, sampai mengakibatkan timbulnya celaan, hinaan, cacian terhadap yang lain, juga sampai menimbulkan pertumpahan darah, baik dengan tangan maupun senjata! Serta menyebabkan pemutusan hubungan dan pemboikotan, sehingga sebagian dari mereka tidak shalat di belakang sebagian yang lain. Ini semua adalah termasuk perkara paling besar yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya!”

Kemudian Syaikhul Islam Menjelaskan beberapa dalil, beliau berkata: “Berkumpul dan bersatu adalah salah satu perkara paling besar yang diwajibkan Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman:”Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan muslim. Dan berpegang taguhlah kalian semua dengan tali Allah dan janganlah bercerai-berai.” Sampai dengan firman Allah:”Dan janganlah kalian menjadi seperti mereka yang bercerai berai dan berselisih setelah datang kepada mereka berbagai keterangan. Dan mereka akan mendapat siksa yang besar. Di hari dimana waktu itu ada wajah-wajah yang putih dan wajah-wajah yang hitam…” (Ali Imran: 102-106).

Ibnu Abbas mengatakan bahwa mereka yang berwajah putih adalah ahlu sunnah dan yang berwajah hitam adalah ahlul bid’ah.”

Orang yang melakukan perbuatan di atas adalah orang yang menyelisihi sunnah sehingga banyak yang berubah menjadi ahlu bid’ah. Syaikhul Islam mengatakan:”Dan banyak dari mereka (orang yang bercerai-berai) menjadi ahlu bid’ah dengan keluarnya mereka dari sunnah yang telah disyari’atkan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam atas umatnya, dan termasuk ahli furqah disebabkan furqah menyelisihi jama’ah yang diperintahkan Rasulullah shlallahu ‘alahi wasalam.” (Lihat, Khilaf Al Ummah fi Al Ibadat wa Madzhab Ahlu As Sunnah, yang targabung dalam Risalah Ulfah Baina Al Muslimin, hal.25).

Syaikhul Islam Mengatakan: ”Bagaimana boleh dalam umat Muhammad shalallahu’alaihi wasalam ini ada perselisihan dan perpecahan sehingga seseorang berloyalitas pada sebuah thaifah dan menyakiti thaifah yang lain dengan prasangka dan hawa nafsu tanpa menggunakan hujjah dari Allah. Allah telah berlepas terhadap nabi-Nya dalam masalah seperti ini. Ini adalah perbuatan ahlu bid’ah seperti khawarij, yang memisahkan diri dari jama’ah muslimin dan menghalalkan darah mereka yang menyelisihinya. Adapun ahlu sunnah wal jama’ah mereka yang tetap berpegang teguh dengan tali Allah.” (Majmu’ah Al Fatawa, vol. 3, hal. 258)

Berbeda Pendapat, Tetap Bersaudara

Dalam Majmu’ah Al Fatawa Ibnu Taimiyah mengatakan: “Ulama dari para sahabat, tabi’in dan setelah mereka, jika berselisih dalam permasalahan, mereka mengikuti perintah Allah:”…Lalu jika kalian berselisih atas sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir, itu hal yang baik dan lebih baik kesudahannya (An Nisa’:59). Mereka berdebat dalam sebuah masalah dengan musyawarah dan saling menasehati. Dan bisa jadi mereka berbeda pendapat dalam masala ilmiah dan amaliyah, akan tetapi tetap bersatu dan tetapnya kamaksuman serta persaudaraan dalam dien.”

Di tempat lain beliau berkata: “Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu’anha telah menyelisishi Ibnu Abbas dan para sahabat lain yang berpendapat bahwa Muhammad shallahu’alaihi wasalam telah melihat Rabb-nya. Aisyah berkata:

”Barang siapa mengira bahwa Muhammad telah melihat Rabb-nya maka telah berdusta besar kepada Allah Ta’ala”. Akan tetapi mayoritas umat memilih pendapat Ibnu Abbas dan mereka tidak membid’ahkan sahabat lain yang berpendapat sama dengan Ummul Mukminin radhiallahuanha.”

Ibnu Taimiyah juga menyebutkan adanya perselisihan antara Aisyah dengan para sahabat yang lain dalam masalah doa, apakah didengar oleh mayit atau tidak. Juga perbedaan para sahabat dalam menyikapi parkataan Rasulullah yang memerintahkan agar mereka tidak shalat Ashar kecuali ketika tiba di Bani Quraidhah. Ketika waktu Ashar tiba pada saat dalam perjalanan, ada sebagian sahabat yang memilih shalat Ashar di perjalanan karena takut terlewatkan waktu ashar dan ada yang tetap tidak shalat Ashar, kecuali setelah sampai di Bani Quraidhah walau waktu Ashar telah habis. Dan tidak ada satu orang pun dari mereka yang dicela.(Lihat, Majmu’ah Al Fatawa, vol. 24, hal. 95-96).

Dalam Khilaf Al Ummah fi Al Ibadat wa Madzhab Ahlu As Sunnah, Syaikhul Islam menyebutkan: “Para sahabat telah bersepakat -dalam masalah yang mereka selisihkan- untuk mengakui tiap-tiap kelompok dalam mengamalkan hasil ijtihadnya masing-masing (lihat, Risalah Ulfah, hal. 79).*

Ikhtilaf dalam Masalah Ijtihad

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang orang-orang yang bertaklid kepada sebagian ulama dalam masalah ijtihad, apakah harus dingkari dan dijauhi? Beliau menjawab: “Alhamdulillah, dalam masalah-masalah ijtihad, barang siapa mengamalkan pendapat ulama tidak boleh diingkari atau dijauhi. Dan barang siapa mengambil salah satu dari dua pendapat juga tidak boleh dingkari, jika dalam sebuah masalah ada dua pendapat. Apabila seseorang mengetahui ada salah satu dari dua pendapat yang lebih rajih, maka hendaklah ia mengamalkannya, jika tidak maka dibolehkan dia bertaklid terhadap beberapa ulama yang bisa dijadikan rujukan untuk menjelaskan pendapat yang lebih rajih diantara dua pendapat, wallahu’alam.” (Majmu’ah Al Fatawa, vol. 20, hal. 115)

Beliau berkata di tempat lain:”Adapun ikhtilaf dalam permasalahan hukum, bisa lebih banyak lagi. Seandainya saja jika dua orang muslim ikhtilaf dalam suatu masalah dan keduanya saling menjahui maka tidaklah tersisa dari umat ini kemaksuman dan persaudaraan…” (Majmu’ah Al Fatawa, vol. 24, hal 96).

Syaikhul Islam dalam Khilaf Al Ummah fi Al Ibadat wa Madzhab Ahlu As Sunnah juga menyebutkan Imam Ahmad yang berpendapat bahwa membaca basmalah dalam shalat tidak perlu dengan jahr. Akan tetapi beliau membaca basmalah dengan jahr jika shalat di Madinah, karena penduduknya membaca basmalah dengan jahr. Qadhi Abu Yu’la Al Fara’ menjelaskan bahwa Imam Ahmad melakukan hal itu dalam rangka menjaga ukhuwah (Risalah Ulfah, hal. 48).

Larangan Berpecah-Belah

Salah satu penyebab perpecahan umat adalah imtihan (menguji) dengan penisbatan yang tidak berdasarkan nash. Seperti yang dicontohkan oleh Ibnu Taimiyah, yaitu dengan mengatakan kepada seseorang:”Kamu Shukaily atau Qarfandi?” Maka jika seseorang ditanya dengan pertanyaan seperti itu, jawabnya adalah:”Saya bukan Shukaili atau Qarfandi, akan tetapi saya muslim yang mengikuti Kitabullah dan sunnah rasul-Nya.”

Sebagaimana diriwayatkan, bahwa Ibnu Abbas ditanya oleh Muawiyah:”Kamu mengikuti millah Ali atau millah Utsman?” Beliau menjawab: “Saya tidak mengikuti millah Ali ataupun Utsman, akan tetapi saya mengikuti millah Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam.”

Begitu juga tidak diperbolehkan imtihan (menguji) dengan penisbatan yang sudah umum dipakai para ulama, seperti penisbatan kepada Imam (Al Hanafi, Al Maliki, As Syafi’i atau Al Hambali), yaitu dengan mengatakan: “Kamu Hanafi atau Maliki?” Juga penisbatan kepada guru ( Al Qadiri atau Al ‘Adawi), atau qabilah (Al Qaisi atau Al Yamani), atau negeri (Al Iraqi, Al Mishri atau As Syami). Juga tidak boleh berloyalitas atas nama-nama ini dan tidak pula menyakiti mereka yang bernisbah kepadanya. Adapun yang paling muliya di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa, tidak pandang dari thaifah mana pun dia (Lihat, Majmu’ah Fatawa, vol. 3, hal. 255).

Loyalitas Tidak Didasari Atas Penisbatan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah-rahimahullah- mengatakan: “Allah telah memberi kabar, bahwa orang mukmin memiliki loyalitas kepada Allah, rasul-Nya serta hamba-hamba-Nya yang mukmin. Mukmin di sini bersifat umum, barang siapa beriman maka dia disifati dengan sifat ini. Baik mereka yang menisbahkan diri, atas negeri, madzhab, thariqah atau yang tidak menisbahkan diri. Allah telah berfirman:”Dan laki-laki yang beriman serta perempuan yang berimana, sebagian mereka menjadi penolong sebagian yang lain.”(At Taubah: 71).

Ibnu Taimiyah juga menyebutkan beberapa hadits, salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari: “Permisalan orang-orang mukmin dalam kecintaan, kasih dan sayang atas sesama mereka seperti satu tubuh, jika salah satu dari anggota badan sakit maka seluruh badan ikut demam susah tidur.” (Lihat, Majmu’ah Al Fatawa, vol. 3, hal. 257)

Tawadhu’ Ibnu Taimiyah Kepada Ulama Madzhab Lain

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tidak hanya cukup berfatwa, lebih dari itu, amalan beliau mencerminkan apa yang beliau katakan. Ibnu Taimiyah tetap bisa bersikap obyektif kepada para ulama lain walaupun mereka berbeda pendapat atau madzhab. Meskipun beliau dalam banyak hal mengambil pendapat Madzhab Hambali akan tetapi beliau memiliki beberapa murid yang bermadzhab lain, seperti Ibnu Katsir (774 H) dan Imam Ad Dzahabi (748 H), keduanya bermadzhab Syafi’i.

Antara Ibnu Taimiyah dan Taqiyuddin As Subki (756 H) yang bermadzhab Syafi’i sering saling mengkritik lewat karya masing-masing, akan tetapi Ibnu Taimiyah tetap memuji karya-karya Taqiyuddin As Subki, dan beliau tidak memberi penghormatan kepada orang lain sebagaimana beliau menghormati Taqiyuddin As Subki (lihat, Tabaqat Asyafi’yah Al Kubra, vol.10, hal. 194).

Yang juga perlu dicontoh dari Ibnu Taimiyah adalah sifat tawadhu’ beliau terhadap ‘Alauddin Al Baji (724 H), salah satu ulama madzhab Syafi’I, mutakallim, yang mempunyai majelis perdebatan. Suatu saat mereka berdua bertemu, dan Al Baji berkata kepada Ibnu Taimiyah: ”Bicaralah, kita membahas permasalahan denganmu.” Akan tetapi Ibnu Taimiyah menjawab:”Orang sepertiku tidak akan berbicara di hadapan anda, tugasku adalah mengambil faidah dari anda.” (Tabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, vol. 10, hal. 342)

Nasehat Ibnu Taimiyah

Syikhul Islam –rahimahullah- mengatakan: “Perpecahan umat yang telah menimpa para ulama, para masyayikh, umara’, serta para pembesarnya merupakan penyebab berkuasanya musuh atas mereka. Dan itu disebabkan karena mereka telah meninggalkan perintah untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya…”

Di tempat lain dijelaskan, bahwa Allah berfirman:”Dan hendaklah ada dari antara kamu satu golongan yang mengajak kepada kebaikan dan menyeru kepada hal yang ma’ruf serta melarang hal yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.” Ibnu Taimiyah mengatakan:”Amar ma’ruf adalah memerintahkan untuk bersatu dan berkumpul adapun nahi mungkar adalah menegakkan hudud dengan Syari’at Allah.” (Lihat, Majmu’ah Al Fatawa, vol. 3, hal. 259).

Maka, marilah kita rapatkan shaff, kikis rasa ta’ashub pada diri kita, juga prasangka buruk terhadap yang lain, juga perasaan bahwa diri kita selalu dalam kebenaran dan yang lain selalu berada dalam kebathilan, juga klaim bahwa hanya kita yang memahami dien sedangakan yang lain hanyalah juhala’ yang tidak perlu didengarkan. Wallahu’alam bishowab.*/Thoriq

sumber : facebook
Lengkapnya Klik DISINI

Keshabaran Demokratis

Keshabaran DemokratisKudeta militer atas presiden yang dipilih secara demokratis Muhammed Mursi diiringi keadaan huru-hara di Mesir. Sikap negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat dan Uni Eropa, yang diadopsi dalam menghadapi manifes ketidakadilan dan tirani ini adalah  benar-benar menjijikkan. Bermuka dua dan berstandar ganda. Sikap Barat yang memasarkan diri sebagai pendukung demokrasi menciptakan  kekecewaan pada banyak orang.

Mursi tidak melakukan apa pun untuk layak diperlakukan secara tirani dan tidak adil ini. Selama tahun dia berada di jabatannya, Mursi menghadapi begitu banyak konspirasi dan plot amoral dan ilegal, yang semuanya memalukan.

Ikhwanul Muslimin (IM) adalah sebuah gerakan sosial yang berusia 85 tahun dan luas cakupannya. Ini merupakan salah satu contoh terbaik dari gerakan sosial Islam di seluruh dunia. IM telah menyebar ke seluruh dunia Muslim.

Tujuan utamanya adalah untuk memperkuat moral, sosial dan spiritual masyarakat. Jadi itu adalah sebuah organisasi sipil. Gerakan ini menunjukkan minat sesekali dalam politik, meski beberapa langkah politik yang terbukti salah, sementara yang lain terbukti sangat tepat. Namun, tidak pernah menggunakan bahasa kemunafikan dan tidak pernah memiliki agenda rahasia. IM tidak menjadi terlalu terlibat dengan politik sambil mempromosikan retorika menahan diri dari politik.

Ketika menemukan kesempatan, IM mendorong beberapa anggotanya untuk mencalonkan diri di parlemen. IM menunggu dengan sabar ketika itu tidak memiliki kesempatan ini.

Ikhwan tidak pernah menggunakan kekerasan ataupun aksi terorisme. Ikhwan tegas memisahkan diri dengan para anggotanya yang condong menggunakan kekerasan dan terorisme. Aksi Ikhwan masih dalam kerangka hukum.

Banyak anggota Ikhwan yang melarikan diri ke negara-negara Teluk (untuk menghindari perlakauan zhalim di dalam negeri Mesir), namun opini para pemimpin dan inteletual-nya tidak mendukung sistem kerajaan, monarki ataupun rejim otoritarian.

Satu-satunya perkecualian adalah Raja Faishal (rahimahullah). Faishal adalah seorang raja, namun dia paham bahwa kawasan Arab tidak dapat bangkit kecuali hanya dengan Islam. Dia mempercayai misi Ikhwan. Dia memerintahkan radio Arab Saudi menyiarkan program Tafsir Al Qur’an Fi Dzilalil Qur’an karya Sayyid Qutb.

Dia menumbuhkan sentimen anti imperialis dan AS.
Ketika Henry Kissinger menemuinya saat berlangsung embargo minyak di 1973, dia malahan menemuinya di tengah padang pasir, jauh dari Riyyadh. Kissinger hanya dapat sampai ke kemah itu setelah menempuh perjalanan beberapa hari yang melelahkan.
“Mengapa memilih tempat disini?” sergahnya.
“Kami dulunya dari gurun pindah ke kota. Kami tidak membutuhkan minyak, jika perlu. Kami dapat kembali lagi ke gurun karena kami tidak butuh minyak. Tapi Anda tidak dapat hidup tanpa minyak”, jawabnya.
Karenanya, Kissinger mencatat nama Faishal dalam daftar mafia dunia.

Sayangnya, kini, Kerajaan (Saudi), kalangan Liberal, Kiri, Nasionalis, negara-negara Barat, para penyandang dana besar, Al Azhar, Salafi (Partai An Nur) dan gereja Koptik Mesir justru menjadi pendukung kudeta. Mereka tengah melakukan tindakan buruk nan memalukan.

Tersingkirnya Mursi dalam kudeta hanya “sebuah garis miring dalam kemajuan bersejarah” Ikhwanul Muslimin, meminjam kata-kata mendiang Necmettin Erbakan yang menghadapi kudeta pos-modern 1997.
Dalam pernyataan terakhirnya, Mursi menyerukan Ikhwanul Muslimin dan orang-orang Mesir yang berpihak pada legitimasi untuk “menolak secara damai.” Ini adalah panggilan yang benar dan tepat. Mesir tidak akan menerima kudeta. Dan mudah-mudahan, mereka akan meminjamkan telinga kepada Mursi dan menolak damai.

Mereka tidak akan jatuh ke dalam kesalahan terlibat dalam perjuangan bersenjata seperti orang-orang Suriah. Jika oposisi Suriah tidak disampaikan kepada provokasi perang saudara, itu bisa saja berhasil sekarang.

Setiap orang yang adil mendukung rakyat Mesir yang menolak kudeta damai. Seluruh negeri dan bahkan seluruh dunia Muslim akan mendukung mereka jika IM tidak terlibat dalam penentangan bersenjata. Revolusi sesungguhnya baru saja dimulai di Mesir, hal ini akan menjadi revolusi moral Muslim yang akan terjadi tanpa penumpahan darah. Mereka akan menang karena mereka memiliki legitimasi dan supremasi moral.

Dalam agama, “keshabaran” adalah gagasan kunci. Keshabaran adalah tindakan terus-menerus mencari bantuan dan kemenangan Allah melalui tindakan kita. Sebagai perbandingan, gerakan sekuler bertindak dengan tergesa-gesa. Allah bersama orang-orang yang shabar.

sumber : fimadani
Lengkapnya Klik DISINI

Pesan-pesan Anis Matta pada Pertemuan Kader2 PKS Alumni LIPIA

 
Anis Matta memberikan taujih di hadapan kader-kader PKS (para ustadz) alumni LIPIA.
Isi Taujih Presiden PKS ini secara ringkas disampaikan oleh ustadz Abdullah Haidir, Lc yang ikut dalam pertemuan di Jawa Barat tersebut via akun twitternya @abdullahhaidir1.....

Anis Matta: Musyarokah adalah partisipasi politik dalam pengertian luas. Masuk parlemen termasuk musyarokah. Masuk eksekutif perluasan musyarokah.

Negara memiliki efek pengganda bagi agama, meskipun agama dapat tetap ada tanpa negara... (Anis Matta)

Perlu rekonstruksi berpolitik dg 3 referensi: Kitab klasik + pemikiran moderen + pengalaman politik sendiri.... (Anis Matta)

Anis Matta: Dalam kondisi politik instabil, selain dibutuhkn idaroh taghyir (manajemen perubahan) juga dibutuhkan idaroh shira' (manajemn konflik).

Perlu peralihan di kalangn aktifis, dari budaya underground ke budaya panggung... (Anis Matta)

Sebab dlm politik, berbeda antara fakta dan persepsi. Media menjadi penting utk membangun persepsi (Anis Matta)

Kendala kita bukan pada skill, tapi lebih pada budaya. Banyak aktifis yg memiliki kapasitas tapi tdk memiliki budaya panggung (Anis Matta)

PKS adalah gudang intelektual. Butuh peledakan kapasitas intelektual di dalamnya... (Anis Matta)

Menghadapi ombak, jangan dilawan, gunakan gaya berselancar.... (Anis Matta)

Seluruh kader diwajibkan punya akun twitter.... (Anis Matta)

@pkspiyungan Kang Mas... diomongin sama Anis Matta tuh.... dahsyat katanya...!

Ada 2 masalah dlm diskursus politik Islam: -Terlalu banyak distorsi dlm ide2 Islam... -Kekuatan masih kecil, tdk berbobot (Anis Matta)

Hampir 2 jam sudah Anis Matta berbicara, tdk ada yg ngantuk dan beranjak... padahal sudah lebih sejam dari wkt makan siang...

Kekuatan modal memiliki peran sangat vital dlm sebuah negara, bahkan militer tidak dpt intervensi.. (Anis Matta)

Survey: Pemilih rasional; 12 %, pemilih emosional; 50-60%. PKS terbesar dlm pemilh rasional terminim pemilh emosional (Anis Matta)

Pandangan umum masyarakat: -PKS Islamnya beda...! -Kader PKS kurang gaul.....


*https://twitter.com/abdullahhaidir1

http://www.pkspiyungan.org/2013/06/pesan-pesan-anis-matta-pada-pertemuan.html
Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......