Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

Segenggam Maaf Hamka untuk Yamin

Oleh: Rizki Lesus

Penggiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

Tatapannya begitu tenang. Tak ada rasa benci di sana. Tak ada dendam. Hamka benar-benar menjalani kehidupan dengan lapang dada. Sebelum wafatnya Soekarno (baca tulisan Buya Hamka, Ketika Air Tuba dibalas Air Susu) , seorang tokoh Bangsa, Mohammad Yamin sempat berseteru dengan Hamka. Hal ini bermula dari gaung Hamka digedung konstituante Bandung, yang menyerukan agar Indonesia berdasarkan dengan Islam.

Masyumi sebagai pimpinannya, mengajukan dasar negara berdasarkan Islam. “..Bila negara kita ini mengambil dasar negara berdasarkan Pancasila, sama saja kita menuju jalan ke neraka … “ lantang Hamka dengan tegas. Walau akhirnya, Hamka menerima Pancasila dengan tafsiran bahwa Tuhan yang Maha Esa adalah Allah, dan karena-Nya, berkat rahmat-Nya, Indonesia dapat merdeka hingga saat ini.

Tentu saja para hadirin dalam sidang paripurna Konstituante itu terkejut mendengar pernyataan Hamka. Mr. Moh. Yamin sebagai seorang anggota Konstituante turut terkejut atas pernyataan sang Buya. Yamin tidak saja marah, berlanjut menjadi benci. Moh Yamin tidak dapat menahan kebencian- nya baik bertemu dalam acara resmi, seminar kebudayaan dan sama-sama menghadiri sidang Konstituante, kebencian itu tetap tak dapat dihilangkannya.

Saat di rumah, Hamka  kedatangan tamu Buya KH. Isa Anshari. Ulama sekampung dengan kampung Hamka, Maninjau, beliau sudah lama bermukim di Kota Bandung Dalam acara makan siang, Buya KH. Isa Anshari bertanya kepada Hamka, “Apa masih tetap Yamin bersitegang dengan Hamka ?”

Sang Buya menjawab, “Rupanya bukan saja wajahnya yang diperlihatkan kebenciannya kepada saya, hati nuraninya pun ikut membenci saya.”

Bertahun-tahun setelah dekrit di mana Soekarno kemudian membubarkan Konstituante, parlemen dan menetapkan UUD ’45 dan Pancasila yang dijiwai Piagam Jakarta sebagai dasar negara, terjadi peristiwa yang luar biasa.

Tahun 1962; Mr. Moh. Yamin jatuh sakit parah dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat, RSPAD. Telepon berdering di Kebayoran. Suara Menteri Chairul Shaleh dari balik telepon membujuk Hamka agar Hamka dapat menemui Moh. Yamin yang sedang di Rumah Sakit. Tentu saja, Hamka dengan senang menyambut seruan itu.

“Buya, saya membawa pesan dari Bapak Yamin. Beliau  sakit sangat parah. Sudah berhari-hari dirawat. Saya sengaja datang menemui Buya. Ada pesan dari Pak Yamin, mungkin merupakan pesan terakhir. “ “Apa pesannya?” tanya Hamka.

“Pak Yamin berpesan agar saya menjemput Buya ke rumah sakit. Beliau ingin menjelang ajalnya, Buya dapat mendampinginya, sekarang Pak Yamin dalam sekarat.” Sang Buya agak tercengang mendengar pesan Pak Yamin itu.  Teringat kembali sikap bermusuhan dan membencinya.

“Apalagi pesan Pak Yamin?” Kembali Hamka bertanya kepada menteri yang ditugaskan Pak Yamin itu. “Begini Buya, yang sangat merisaukan pak Yamin, beliau ingin bila wafat dapat dimakamkan di kampung halamannya yang telah lama tidak dikunjungi. Beliau sangat khawatir masyarakat Talawi tidak berkenan menerima jenazahnya. Ketika terjadi pergolakan di Sumatara Barat, Pak Yamin turut mengutuk aksi pemisah-an wilayah dari NKRI. Beliau mengharapkan sekali Hamka bisa menemaninya sampai ke dekat liang lahatnya.”

Sang Buya termenung. Banyak pengalaman pahit yang dirasa oleh ayah selama beberapa tahun ini dengan tokoh yang mengaku wajahnya mirip dengan Patih Majapahit Gajah Mada itu.  ”Kalau begitu mari bawa saya ke RSPAD menemui beliau.”

Sore itu juga langkah kaki Buya tak tertahankan, menuju lorong VIP Rumah Sakit. Dibukanya pintu itu. Seorang tengah berbaring lemah. Begitu hati ini bergetar. Selang-selang tersambung dengan tubuh Pak Yamin. Belalai-belai alat kedokteran begitu berseliweran. Ingin rasanya mata ini menangis melihatnya, wajah yang begitu lemah. Dijabatnya tangan Yamin, dan dikecup keningnya, tokoh yang selam ini membencinya.

” Terima kasih Buya sudi datang.” Lirihnya sangat lemah. Dari kedua kelopak matanya tampak air mata menggenangi matanya.  “Dampingi saya,” bisiknya lagi. Tangan Hamka masih terus digenggamnya. Air mata mereka berkumpul di sudut matanya. Dibisikkanya kalam Ilahi, Al Fatihan dengan lembut oleh Hamka. Kalimat tauhid yang berulang-ulang dibisikkan,  La ilaha illallah Muhammadan Rasalullah.

Sudah lama sekali..lama..kalimat ini, tak terlafal. Begitu lemah, suara itu mengikuti gerak bibir Hamka. Berulang-ulang, kalimat tauhid itu terlafal. Genggaman tangan itu semakin kuat. Suaranya tak terdengar lagi. Hanya isyarat genggamanan mengyat. Terakhirkali, Hamka membisikkan kalimat “tiada Tuhan selain Allah” ke telinganya. Tidak ada respon. Hamka merasa genggaman Pak Yamin mengendur dan terasa dingin dan terlepas dari genggaman ayah.

Seorang dokter datang memeriksa. Dokter itu memberitahu Pak Yamin sudah tidak ada lagi. “Innalillahi wa inna lillaihi rajiun.”Tokoh yang bertahun-tahun sangat membenci Hamka, diakhir hayatnya meninggal dunia sambil bergenggaman tangan dengan sang Buya.

Sungguh,tak ada yang begitu terkenang kecuali dengan akhlak sang Buya. Senyumnya, kelembutannya, ketegasannya dalam hal akidah. Jiwa maafnya yang selalu terbuka, terlapang. Salam takjim untuk Buya Hamka Rahimahullah. Semoga Allah merahmatimu wahai Buya

http://www.islampos.com/segenggam-maaf-hamka-untuk-yamin-83109/
Lengkapnya Klik DISINI

3 Langkah ‘Pemanasan’ dari Hadits Nabi

Kamar cinta (foto uniquebedroom.com)Jima’ adalah kebutuhan suami istri, bukan hanya salah satunya. Kepuasan dalam jima’ juga hak keduanya, bukan hanya milik suami. Mengingat kaum wanita umumnya lebih ‘dingin’ dan lama dalam proses pendakian menuju puncak, Islam mengajarkan para suami untuk tidak langsung memulai jima’ sebelum melakukan pemanasan.

Sedikitnya ada tiga langkah pemanasan yang bersumber dari hadits:

1. Kata-kata mesra
“Janganlah salah seorang dari kalian menjima’ istrinya seperti binatang ternak mendatangi pasangannya. Tetapi hendaklah ada ar rasuul antara keduanya.” Ditanyakan kepada beliau, “Apakah ar rasuul itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ciuman dan kalimat-kalimat obrolan (mesra)” (HR. Ad Dailami)

Sebelum melakukan jima’, dahuluilah dengan kata-kata romantis. Kata-kata yang mesra. Rasulullah, di hari-hari biasa saja memanggil Aisyah dengan humaira, yang pipinya kemerahan. Betapa beliau sangat romantis, apalagi ketika hendak ‘bercinta’ bersama istri.

Kata-kata romantis dan mesra ini yang pertama akan mencairkan suasana dan membuat rileks. Tingkatan kata-kata yang lebih mesra selanjutnya akan membuat tubuh yang rileks mulai ‘memanas’ serasa dipanggil untuk tidak hanya bermain kata.

2. Ciuman
“Janganlah salah seorang di antara kalian menggauli istrinya seperti binatang. Hendaklah ia terlebih dahulu memberikan pendahuluan, yakni ciuman dan cumbu rayu,” (HR. Tirmidzi)

Jika kata-kata melahirkan imajinasi dan emosi, maka ciuman lebih ‘terasa’ bagi istri. Detak jantung menjadi lebih cepat, nafas menjadi tak teratur, dan hasrat jima’ pun mulai timbul.

Dalam bab ini, ciuman tidaklah sebatas bibir bertemu bibir.

3. Sentuhan
Jika kata-kata mesra adalah pemanasan dengan ucapan dan ciuman adalah pemanasan dengan bibir, pemanasan yang lainnya adalah dengan tangan; sentuhan.

Imam Abu Hanifah ditanya oleh muridnya tentang suami yang memegang kemaluan istrinya atau istri memegang kemaluan suaminya (sebagai pendahuluan jima’), beliau menjawab, “Tidak masalah, bahkan saya berharap ini akan memperbesar pahalanya.” (Tabyin al-Haqaiq).

Demikian 3 Langkah ‘Pemanasan’ dari Hadits Nabi. Langkah kedua dan ketiga tidak harus berurutan. Wallahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]
 
Lengkapnya Klik DISINI

Manajemen Cinta

Fenomena keterhanyutan dan kelarutan generasi muda ke dalam jebakan kampanye cinta palsu yang menyesatkan dalam bungkus life’s style bergaya Valentine’s Day beberapa tahun belakangan ini lebih merefleksikan gejala umum degub jiwa kepenasaranan, kehausan dan sekaligus kebingungan akan makna cinta dari kalangan generasi muda di samping ekspresi dari absurditas dan ketidakarifan memahami makna cinta dari kalangan industri momentum kasih sayang dan cinta. Budaya ber-valentine’s-ria di kalangan remaja memang fenomenanya telah menjadi gejala yang memprihatinkan seperti pengalaman saya pada suatu kali di pusat perbelanjaan bersama istri berbelanja tiba-tiba terhenyak dengan ucapan spontan mereka ketika bertemu sesamanya dengan ucapan ‘happy valentine’. Kaget karena menjadi tradisi yang tidak pantas dalam tradisi ketimuran apalagi keislaman.

Cinta sebagaimana fitrahnya merupakan anugerah dan cinta juga musibah. Cinta menjadi kenikmatan bila karena Allah dan dijalan-Nya (Al-Hubb Fillah wa Lillah). Cinta islami demikian tidaklah mengenal batas ruang dan waktu serta melampaui batas fisik materi. Cinta yang fitri kata orang bijak adalah buah yang tak mengenal musim dan dapat dipetik oleh siapa pun. Cinta yang demikian tak jadi masalah kepada siapa dan seberapa besar asalkan karena Allah dan dijalan-Nya. Inilah rumus cinta suci segitiga dalam Islam; cinta proporsional (equilibrium love) antara cinta kepada Allah yang tidak menelantarkan cinta kepada makhluk, dan cinta kepada makhluk yang tidak melalaikan bahkan senantiasa dalam cinta kepada Allah Sang Khalik.

Perasaan cinta pada dasarnya sebuah kenikmatan. Betapa indahnya hidup yang dipenuhi cinta sejati dan betapa sengsaranya hidup yang dipenuhi kebencian. Orang yang dipenuhi semangat cinta yang suci mulia akan selalu merasa bahagia sebelum orang lain bahagia sehingga mendorongnya untuk memiliki sikap tenang, damai, puas dan ridha. Bahkan cinta merupakan energi dahsyat kehidupan yang mengilhami Lao Tzu, filsuf Cina yang hidup sekitar abad ke-6 SM untuk merangkai kata mutiara bahwa dicintai secara mendalam oleh seseorang akan memberimu kekuatan, dan mencintai seseorang secara mendalam akan memberimu keberanian. Demikian Plato filsuf Yunani kuno juga berkesimpulan bahwa cinta adalah sumber keindahan sehingga dengan sentuhan cinta setiap orang dapat menjadi pujangga.

Perasaan cinta yang dialami setiap jiwa manusia memang sebuah misteri sebagaimana fenomena ruh (jiwa). Nabi saw. bersabda: “Ruh itu laksana pasukan yang dikerahkan, maka seberapa jauh mereka saling mengenal maka sejauh itu pula mereka saling menyatu, dan seberapa jauh mereka tidak saling mengenal maka sejauh itu pula mereka akan berselisih.” (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud). Menyatunya jiwa sesama mukmin dalam cinta begitu kuat dan tetap hidup seperti satu tubuh sebagaimana diumpamakan Nabi saw. dalam hadits riwayat Imam Muslim. Begitu kuatnya pengaruh cinta sehingga kadang dapat menghilangkan kontrol emosi dan keseimbangan rasio sehingga tidak mampu bersikap objektif.

Mabuk asmara sebagaimana dikatakan filosof Plato merupakan cinta buta yang bergelora dalam jiwa yang kosong. Aristoteles juga berujar: “Cinta buta adalah cinta yang buta untuk melihat kesalahan orang yang dicintai. Cinta buta adalah kebodohan yang membalikkan hati yang hampa, sehingga ia tidak lagi mau memikirkan yang lain.” Oleh karena itu perlu manajemen cinta untuk menghindarkan ekses negatif dan efek kegilaan cinta yang menjurus kepada cinta buta yang sangat berbahaya sebagaimana dilukiskan penyair Qais: “Kau gila karena orang yang kau cinta. Memang cinta buta itu lebih parah dari gila. Orang tidak bisa sadar karena cinta buta, sedang orang gila bisa terkapar tak berdaya”. Bahkan yang lebih parah lagi bila cinta menghanyutkan seseorang sehingga melupakannya dari prioritas cinta lainnya seperti melupakan ataupun menduakan cinta kepada Allah yang dapat berakibat syirik.

Cinta memang persoalan hati (qalbu) dan hati seperti namanya adalah bersifat labil (yataqallabu) sehingga yang diperlukan adalah upaya maksimal lahir batin dalam pengendaliannya secara adil untuk setiap yang berhak atasnya. Nabi saw memaklumi fenomena batin ini dalam pengakuannya:

“Ya Allah, inilah usahaku sebatas kuasaku, maka janganlah Engkau cela diriku tentang apa yang Engkau kuasai dan aku tidak kuasai (hati).” (HR. Abu Dawud).

Melalui proses manajemen dan pengendalian cinta, seseorang dapat menjadikan perasaan cinta sebagai motivasi kontrol dalam kerangka kebajikan dan kemuliaan. Inilah esensi pesan Risalah Islam mengenai Alhubb wal Bughdhu fillah (Cinta dan benci karena Allah) sehingga kita tidak akan termakan oleh doktrin sinetron yang menyesatkan seperti sinetron “Kalau cinta jangan marah”. Hal itu karena kemarahan dalam perspektif manajemen cinta merupakan kelaziman cinta sejati yang diekspresikan dalam bentuk yang arif bijaksana tanpa keluar jalur syariat sebagaimana kemarahan Nabi saw diungkapkan dalam bentuk ekspresi perubahan mimik muka, diam, atau isyarat lainnya sebagai peringatan yang selanjutnya diberikan penjelasan dan dialog dari hati ke hati. Karenanya, beliau tidak menyukai lelaki yang suka memukul wanita bila marah apalagi sampai menampar wajah. Sebaliknya beliau juga tidak menyukai wanita yang meninggalkan atau mengkhianati suaminya bila sedang marah.

Manajemen cinta akan menumbuhkan sikap adil dalam cinta yang membawa hidup sehat dan seimbang (tawazun) dan bukan menjadi sumber penyakit sebagaimana Ibnul Qayyim sampaikan bahwa cinta bagi ruh sama dengan fungsi makanan bagi tubuh. Jika engkau meninggalkannya tentu akan membahayakan dirimu dan jika engkau terlalu banyak menyantapnya serta tidak seimbang tentu akan membinasakanmu. Kelezatan hidup inilah yang dilukiskan dalam hadits tentang kelezatan iman:

“Ada tiga perkara yang siapa pun memilikinya niscaya akan merasakan kelezatan iman; barang siapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari lainnya, barang siapa yang mencintai seseorang hanya karena Allah, dan siapa yang benci kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Proses menuju cinta suci yang diberkati Allah tidaklah mudah sehingga memerlukan upaya manajemen diri termasuk pengendalian ego dan penumbuhan rasa empati serta solidaritas sebagai persyaratan iman. Sabda Nabi saw:

“Tidaklah beriman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya (seiman) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” Bahkan cinta sesama mukmin merupakan syarat masuk surga “Tidaklah kalian akan masuk surga sampai kalian beriman dan kalian tidak akan beriman sehingga kalian saling mencintai.” (HR. Muslim)

Cinta yang dikehendaki Islam adalah cinta sejati dan arif bukan cinta buta yang bodoh. Manajemen cinta mengajarkan agar perasaan cinta kepada seseorang tidak menghalangi kita untuk tetap melakukan segala hal yang semestinya kita kerjakan. Sehingga kita tidak akan melakukan ataupun meninggalkan segala hal demi rasa cinta ataupun mendapatkan cinta dari orang yang kita cintai meskipun hal itu bertentangan dengan kemaslahatan (kebaikan) dirinya, membahayakan orang lain dan menimbulkan kerusakan di muka bumi atau memancing kemarahan Allah. Karena sikap demikian merupakan cinta buta yang bodoh. Sebagai contoh seorang ibu yang begitu memanjakan anaknya karena cintanya yang mendalam sampai melupakan pendidikan dan pengajarannya yang pada gilirannya justru akan menjadi bumerang bagi orang tuanya karena menjadi anak durhaka.

Adapun cinta yang arif sejati adalah sebagaimana cinta Allah kepada hamba-Nya dan cinta Rasulullah kepada umatnya sehingga yang diinginkan Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah kebaikan, kesempurnaan dan kemuliaan dengan membenci segala kemungkaran dan kejahatan. (QS. Fathir: 35, Al-Kahfi: 18).

Seorang muslim tidak mengenal cinta monyet, cinta buta, cinta dusta, cinta palsu dan cinta bodoh. Ia hanya mengenal cinta suci mulia yang penuh kearifan dan kesadaran yang melahirkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dan meletakkan cinta tersebut di atas segala-galanya sebagai tolok ukur cinta lainnya. Suatu ketika seorang Arab badui menghadap Nabi saw dan menanyakan perihal datangnya kiamat, lalu beliau balik bertanya: “Apa yang telah kau persiapkan?” Ia menjawab: “Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya” Beliau menyahut: “Engkau bersama siapa yang kau cintai” (HR. Bukhari dan Muslim)

Cinta karena Allah dan benci karena Allah akan menjadi filter, kontrol sekaligus tolok ukur dalam mencintai segala hal. Dengan demikian cinta yang tulus karena Allah Dzat Maha Abadi inilah yang akan bertahan abadi sementara cinta yang dilandasi motif lainnya justru yang akan cepat berubah, bersifat temporer dan akan membuahkan penyesalan. (QS. Az-Zukhruf: 43, Al-Furqan: 25)

Cinta karena Allah dan benci karena Allah akan menjadi filter, kontrol sekaligus tolok ukur dalam mencintai segala hal. Dengan demikian cinta yang tulus karena Allah Dzat Maha Abadi inilah yang akan bertahan abadi sementara cinta yang dilandasi motif lainnya justru yang akan cepat berubah, bersifat temporer dan akan membuahkan penyesalan. (QS. Az-Zukhruf: 43, Al-Furqan: 25)

Manajemen cinta mendidik sikap selektif dalam menambatkan dan melabuhkan cinta serta memilih orang-orang yang masuk dalam kehidupan dirinya. Nabi berpesan: “Seseorang akan mengikuti pola hidup orang dekatnya maka hendaklah kalian mencermati siapa yang ia pergauli.” (HR. Ahmad, At-Turmudzzi dan Baihaqi).

Sabdanya pula: “Janganlah engkau berakraban kecuali kepada seorang mukmin dan janganlah menyantap makananmu kecuali orang yang taqwa.” (HR. At-Turmudzi dan Abu Dawud).

Di antara konsekuensi sikap selektif dalam cinta ini adalah sikap arif dalam memilih pasangan hidup. Nabi saw. bersabda: “Seorang wanita dinikahi karena empat hal; hartanya, status sosialnya, kecantikannya dan agamanya, maka pilihlah yang kuat agamanya niscaya kamu diberkati” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sabdanya yang lain: “Jika seseorang yang engkau puas dengan kondisi agama dan akhlaqnya melamar kepadamu maka nikahkanlah ia. Sebab jika tidak kau lakukan maka akan timbul fitnah di muka bumi dan kerusakan yang dahsyat.” (HR. At-Turmudzi)

Demikian pula larangan tegas al-Qur’an untuk mengambil pasangan hidup dari yang berlainan aqidah karena ikatan Allah adalah yang paling kuat sementara lainnya adalah rapuh. (QS. Al-Baqarah: 32)

Tatkala pilihan cinta kita sudah tepat maka masih diperlukan pemeliharaan secara proporsional, karena cinta adalah buah iman dan iman seseorang selalu mengalami fluktuasi dan dinamika seiring dengan baik buruknya perlakuan dan sikap hidup. Kalau cinta diibaratkan tanaman maka ia memerlukan siraman, pemupukan, perawatan dan penjagaan secara kontinyu. Cinta yang sudah tepat labuhnya sekalipun (sefikrah dan sekufu misalnya) dapat redup ataupun mati bila tidak dipelihara. Dalam pengalaman keseharian seseorang sering mengalami problem cinta dengan pasangan hidupnya dari merasa tidak dicintai lagi, sudah hambar atau merasa sudah memberikan segalanya namun tidak ada timbal balik cinta yang pantas dan sebagainya.

John Gray, PhD dalam “Men, Women and Relationships” memberikan resep manjur agar pasangan merasa dicintai adalah dengan cara berfikir berlawanan pola dengan apa yang paling ia inginkan sendiri. Artinya harus berani mengenyampingkan perspektif dan keinginan serta ego diri sendiri namun sebaliknya mengedepankan apa yang diinginkan pasangan menurut perspektifnya yang tentunya dalam Islam tanpa melanggar kaidah syariat.

Sementara menurut prinsip membangun rekening emosinya Stephen R. Covey dalam “The 7 Habits of Highly Effective Families” Cinta diibaratkan rekening bank emosi yang tentunya memerlukan saldo minimum agar tidak ditutup yang berarti permusuhan, perceraian, perpisahan dan perpecahan. Dengan demikian manajemen cinta dalam hal ini mengajarkan prinsip melakukan penyetoran lebih didahulukan daripada penarikan dan tidak peduli apapun situasinya, karena selalu ada hal-hal yang dapat kita lakukan yang akan membuat hubungan cinta menjadi lebih baik. Bukankah Nabi saw juga berpesan: “Janganlah engkau remehkan suatu kebaikan pun meskipun hanya memberikan senyuman kepada saudaramu.” Sikap mengesalkan dan menyebalkan bagi orang-orang sekeliling kita janganlah dipelihara dan dibiasakan sebab itu berarti penarikan beruntun rekening emosi yang dengan semakin menipisnya emosi simpati sebagai salah satu modal saling mencintai akan berakibat fatal. Namun sayang hal ini justru sering diremehkan.

Sebaliknya kita perlu banyak dan sesering mungkin menaburkan rabuk tanaman cinta dan mengisi bank emosi cinta di antaranya dengan beberapa hal-hal positif berikut sebagaimana dikemukakan oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauzziyah dalam “Raudhah Al-Muhibbin” sebagai bukti cinta kepada siapa pun yang kita cintai:

1. Sesering mungkin kontak mata yang penuh keteduhan dan kedamaian sebagai magnet cinta antar orang-orang yang kita kasihi.

2. Melakukan seni mengingat kekasih, menghargai dan menyebutnya sesuai kesukaannya secara baik.

3. Mengikuti keinginan orang yang kita kasihi tanpa melanggar kaidah syariat

4. Bersabar menghadapi sikap dan perlakuan orang yang dicintai.

5. Menunjukkan perhatian dan bersedia menyimak curahan hati kekasih.

6. Berusaha mencintai dan menyenangi apapun yang dicintai dan disenangi kekasih

7. Merasakan ringan resiko perjalanan menuju dan bersama kekasih tanpa keluh kesah

8. memberikan kepedulian dan kecemburuan yang wajar dan proporsional kepada kekasih

9. Rela berkorban demi kekasih dan menjadikan pengorbanannya sebagai pemikat hati

10. Membenci dan memusuhi apa yang tidak disukai kekasih sebagai bentuk konsekuensi wala’ dan bara’ dalam cinta.

Skala prioritas cinta adalah hal yang niscaya dan semestinya diimplementasikan dalam manajemen cinta agar tidak bertabrakan dan memberantakkan hubungan, karena dalam hidup banyak hal yang harus dan secara fitrah kita cintai (QS. Ali Imran: 14). Hal itu tentunya akan berjalan baik dengan saling memberikan pengertian secara bersama dan arif bijaksana sehingga tidak terjadi salah paham dan kecemburuan yang tidak pada tempatnya. Sebagai ilustrasi ada baiknya kita sebutkan model prioritas cinta yang pertama adalah cinta Allah dan Rasul-Nya yang berarti cinta Islam, aqidah, syariat dan jihad fi sabilillah di atas segala-galanya. Kemudian cinta kepada orang tua bagi anak lelaki dan bagi wanita yang belum menikah adapun wanita yang sudah menikah kepada suami baru kepada orang tua. Lalu kepada istri dan anak bagi lelaki dan seterusnya yang lebih bersifat materi, fasilitas fisik dan civil efek serta pengakuan ataupun aktualisasi diri dalam konteks hubungan sosial.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Allah memberikan rahmat dengan membukakan pintu goa yang tertutup bagi seorang suami yang biasa menyimpan susu untuk diminumkan kepada orang tuanya sebelum anak dan istrinya dan rela menahan diri dan keluarganya untuk meminumnya sebelum orang tuanya. Sebaliknya Allah mengampuni dosa orang tua yang meninggal dunia karena ketaatan istri kepada suami untuk tidak keluar rumah selama kepergiannya tanpa seizinnya sampai akhirnya orang tuanya meninggal dunia dan ia tidak sempat menjenguk. Dengan keikhlasan masing-masing pihak untuk menerima jatah cinta dan kasih sayang untuknya sebagaimana mestinya yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan akan membawa keberkatan cinta itu sendiri.

Hal lain yang tidak boleh dilupakan dalam manajemen cinta yang terkait dengan skala prioritas perhatian adalah situasi, kondisi dan peran yang diamanahkan Allah dalam hidupnya dapat menjadi pertimbangan sendiri. Sebagai contoh seseorang yang seharusnya pergi berjihad namun memiliki orang tua yang tidak ada yang merawatnya kecuali dirinya atau seorang ibu yang harus merawat anaknya dan tidak ada orang lain yang menggantikannya maka Rasulullah saw justru mewajibkan padanya untuk merawat keluarganya dan melarangnya untuk ikut berjihad. Namun sebaliknya jika potensi dan perannya dibutuhkan dalam dakwah dan jihad sementara ada elemen pendukung lain yang menggantikan peran cintanya untuk selain jihad dan ia enggan memberikan bukti cintanya kepada Allah dan rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya maka Allah mengancamnya dengan kemurkaan-Nya. (QS. At-Taubah: 9).

Wallahu A’lam Wa Billahit Taufiq wal Hidayah

Oleh: Dr. Setiawan Budi Utomo
dakwatuna


Baca juga  Manajemen Cemburu
Lengkapnya Klik DISINI

Saat Hidayah tak Dapat Dibendung

Ilustrasi (wikimedia.com)
Serangan kaum penyembah berhala terhadap dakwah Nabi saw tidak berhenti pada tindak kekerasan fisik namun secara masif mereka pun melakukan penistaan dan penzhaliman yang luar biasa. Seluruh jaringan dan koneksitas pendukung paganisme di tanah Arab sudah didesain agar mencegah semakin banyaknya orang yang masuk ke dalam Islam. 

Dari sekadar menakut-nakuti sampai pada ancaman badan, bahkan mereka sepakat melekatkan ‘lebel’ tukang sihir kepada Rasulullah saw. Mereka mendirikan pos-pos pengintaian di setiap pintu masuk kota Mekah. Ribuan intel Quraisy disebar ke seluruh tanah Mekkah. Setiap orang yang masuk Mekah mereka katakan: “Jangan dekati Muhammad, sebab dia tukang sihir, nanti kamu akan kena sihirnya, dia itu memisahkan antara anak dengan ayahnya, suami dengan istrinya, seseorang dengan saudaranya, maka jangan kamu ngomong dengannya, jangan dengar perkataannya, kami khawatir akan menimpa kamu dan kaummu”. (Sirah Ibnu Ishaq)

Termasuk yang termakan provokasi isu penistaan ini adalah Thufail ibn Amar al-Dausy. Thufail datang ke Mekkah dengan menutup kupingnya dengan kapas sehingga apa yang dikatakan Nabi saw ia tidak mendengarkannya.

Saat Nabi saw keluar shalat di Ka`bah, Thufail sempat mendekatinya. Kemudian Nabi kembali ke rumah. Ternyata secara diam-diam diikuti oleh Thufail dari belakang. Tufail berkata: “Ya Muhammad, kaummu mengatakan kepadaku begini … begitu…, demi Allah mereka terus menakut-nakuti aku hingga aku sumbatkan kapas ke dua telingaku, akan tetapi Allah SWT menakdirkan lain, aku sempat mendengarkan perkataanmu…, perkataan itu kurasakan sesuatu yang baik, terangkanlah kepadaku ajaran apa yang kamu bawa ini…”

Nabi saw kemudian membacakan beberapa ayat suci al-Qur`an. Lantas Thufail berkata, “Aku tidak pernah mendengar bacaan seindah dan secantik ini”. Tufail kemudian menyatakan keislamannya.

Setelah menyatakan keislamannya Tufail melakukan dakwah dan dalam waktu satu tahun Thufail dapat merekrut 80 keluarga penyembah berhala masuk Islam. Termasuk keislaman Abu Hurairah RA. Subhanallah… Ternyata sehebat apapun kampanye hitam yang menistakan dakwah hasilnya tidaklah seperti yang mereka harapkan. Justru yang terjadi sebaliknya. Isu yang dimunculkan bukan membuat orang menjauhi dakwah, justru menjadi sebab berbondong-bondongnya orang memeluk agama Allah ini. (hah/hdn)

Aidil Heryana, S.Sosi

Lengkapnya Klik DISINI

Inilah Isi Protokol Zionis Yang Menghancurkan Umat Islam (1)


BERIKUT ini dipaparkan Protokol Zionis versi Mayer Amshell Rothschild yang disusun tahun 1773 di Judenstrasse, Frankfurt, Jerman. Protokol ini terdiri dari 25 Butir, yang kemudian dibeberkan dalam Konferensi Zionis I tahun 1897 di Swiss.

Dan protokol-protokol inilah yang sesungguhnya menghancurkan umat Islam dengan misi-misi biadab Yahudi. Mereka merealisasikannya kedalam bentuk apapun sehingga umat benar-benar hancur.

1. Manusia itu lebih banyak cenderung pada kejahatan ketimbang kebaikan. Sebab itu, Konspirasi harus mewujudkan ‘hasrat alami’ manusia ini. Hal ini akan diterapkan pada sistem pemerintahan dan kekuasaan. Bukankah pada masa dahulu manusia tunduk kepada penguasa tanpa pernah mengeluarkan kritik atau pembangkangan? Undang-undang hanyalah alat untuk membatasi rakyat, bukan untuk penguasa.

2. Kebebasan politik sesungguhnya utopis/khayalan. Walau begitu, Konspirasi harus mempropagandakan ini ke tengah rakyat. Jika hal itu sudah dimakan rakyat, maka rakyat akan mudah membuang segala hak dan fasilitas yang telah didapatinya dari penguasa guna memperjuangkan idealisme yang utopis itu. Saat itulah, konspirasi bisa merebut hak dan fasilitas mereka.

3. Kekuatan uang selalu bisa mengalahkan segalanya. Agama yang bisa menguasai rakyat pada masa dahulu, kini mulai digulung dengan kampanye kebebasan. Namun rakyat banyak tidak tahu harus melakukan apa dengan kebebasan itu. Inilah tugas konspirasi untuk mengisinya demi kekuasaan, dengan kekuatan uang.

4. Demi tujuan, segala cara boleh dilakukan. Siapa pun yang ingin berkuasa, dia mestilah meraihnya dengan licik, pemerasan, dan pembalikkan opini. Keluhuran budi, etika, moral, dan sebagainya adalah keburukan dalam dunia politik.

5. Kebenaran adalah kekuatan konspirasi. Dengan kekuatan, segala yang diinginkan akan terlaksana.

6. Bagi kita yang hendak menaklukkan dunia secara finansial, kita harus tetap menjaga kerahasiaan. Suatu saat, kekuatan konspirasi akan mencapai tingkat di mana tidak ada kekuatan lain yang berani untuk menghalangi atau menghancurkannya. Setiap kecerobohan dari dalam, akan merusak program besar yang telah ditulis berabad-abad oleh para pendeta Yahudi.

7. Simpati rakyat harus diambil agar mereka bisa dimanfaatkan untuk kepentingan konspirasi. Massa rakyat adalah buta dan mudah dipengaruhi. Penguasa tidak akan bisa menggiring rakyat kecuali ia berlaku sebagai diktator. Inilah satu-satunya jalan.

8. Beberapa sarana untuk mencapai tujuan adalah: Minuman keras, narkotika, perusakan moral, seks, suap, dan sebagainya. Hal ini sangat penting untuk menghancurkan norma-norma kesusilaan masyarakat. Untuk itu, Konspirasi harus merekrut dan mendidik tenaga-tenaga muda untuk dijadikan sarana pencapaian tujuan tersebut.

9. Konspirasi akan menyalakan api peperangan secara terselubung. Bermain di kedua belah pihak. Sehingga Konspirasi akan memperoleh manfaat besar tetapi tetap aman dan efisien. Rakyat akan dilanda kecemasan yang mempermudah bagi konspirasi untuk menguasainya.

10. Konspirasi sengaja memproduksi slogan agar menjadi ‘tuhan’ bagi rakyat. Dengan slogan itu, pemerintahan aristokrasi keturunan yang tengah berkuasa di Perancis akan diruntuhkan. Setelah itu, Konspirasi akan membangun sebuah pemerintahan yang sesuai dengan Konspirasi. [islampos/hidup mahasiswa]

 sumber
Lengkapnya Klik DISINI

Bahagia Karena Banyak Digunjing

gunjingDi gunjing? anda tentu tau apa yang dikatakan dengan di gunjing. Setiap orang sudah mengenal kata ini bahkan sejak ia menginjak bangku SD.

Ya, segala sesuatu yang ada dalam kata di gunjing konotasinya adalah tidak mengenakkan sekali. Kebanyakan dari isinya adalah tentang pendapat dan hal-hal yang tidak di suka oleh objek gunjingan. isu-isu yang sarat dengan kamuflase dan biasanya berakibat merugikan objek gunjingan.

Perbuatan menggunjing ini sudah merata ke setiap kalangan dan jenis kelamin. Dimana-mana orang sadar atau tidak sadar ia pasti pernah ikut terlibat dalam gunjing menggunjing. Dengan cepat dan sigap suara gunjingan menyebar kemana-mana dan bertambah-tambah.

Itulah hebatnya gunjing, semua jadi kreatif olehnya, bumbu-bumbu yang tadinya sedikit menjadi meluas untuk di masak agar nikmat untuk di konsumsi bersama-sama. Indah sekali terasa bagi yang memakannya dan menyakitkan sekali bagi objeknya.

“ wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian banyak prasangka itu dosa. Dan jangalah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu akan merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah maha penerima taubat, maha penyayang.” (QS. AL-HUJURAT:12)

Namun tidak berlaku untuk yang merasa dirinya orang beriman dan mukmin sejati. Kenapa demikian, karna ia mengetahui rahasia tersembunyi dari setiap keadaan yang menerpanya.

Sebut sajalah ia sedang menjadi objek gunjingan, panas sekali hatinya mendengar dirinya tengah asyik di perbincangkan dalam skala yang buruk-buruk. Namun apabila ia memang orang yang beriman dan memiliki kecakapan pengetahuan yang luas tentang ilmu agama, maka ia tidak akan terganggu sedikitpun oleh suara-suara yang mempergunjingkannya tersebut.

Ya, orang-orang yang di gunjing mestinya bersyukur dan bertambah bahagia. Apa sebab? Sebab ia tau hakikat dari keadaan di gunjing tersebut. Marilah kita ulas satu persatu dari sekian banyak rahasia kebaikan dari keadaan di gunjing, ada 10 kebaikan padanya, yaitu sebagai berikut:

1)     Anda yang di gunjing jadi mendapatkan perhatian lebih dari sebelumnya, karna orang-orang jadi sibuk memperhatikan anda, sehingga andapun jadi lebih memperhatikan sikap anda.

2)     Pada dasarnya orang yang sedang ramai di bicarakan, pertanda ia sedang berada di atas, dengan kata lain mereka yang menggunjing menyadari dalam hatinya tentang kelebihan anda yang tidak mereka punya.

3)     Anda jadi memiliki penasehat gratis yang suka mengoreksi kekurangan anda, agar anda dapat segera memperbaikinya dan berubah menjadi lebih teliti dan hati-hati.  Tanpa anda harus menyewa mahal consultant karakter ataupun psikiater pribadi.

4)     Yang tadinya anda tidak tau kekurangan anda, karna memiliki penasehat gratis maka anda jadi menyadari dan akhirnya dapat pelajaran baru untuk mensiasati pribadi anda jadi lebih baik dari sebelumnya, karna setiap kita pasti ada kekurangan.

5)     Dalam sebuah hadist, di katakan bahwa mereka yang bergunjing, hakikatnya sedang mengambil dosa-dosa anda, semakin banyak mereka bergunjing tentang anda, semakin banyak pula dosa anda di ambil oleh mereka.

6)     Sebaliknya, orang yang sedang di gunjing hakikatnya sedang menerima pasokan pahala dari mereka yang sedang menggunjingnya, dengan kata lain pahala mereka pindah ke orang yang di gunjing.

7)     Tabiatnya orang-orang yang suka menggunjing akan saling menggunjing lagi di belakang masing-masing, sehingga tampaklah bagi mereka keburukan mereka masing-masing, dan akhirnya saling tidak mempercayai lagi dan satu persatu bubar, tanpa anda harus bekerja keras untuk balik menyerang kumpulan mereka.

8)     Jika anda dapat membuktikan gunjingan mereka salah, maka seketika mereka akan takjub pada anda dan balik saling membela anda satu sama lain, dan tampaklah bagi mereka masing-masing bahwa mereka sama-sama tidak berpendirian yang baik. Sekali lagi tanpa anda harus bekerja keras untuk balik menggunjing mereka.

9)     Jika mereka tidak dapat anda perbaiki, diam adalah sikap cerdas dalam menghadapi gunjingan, agar proses transfer pahala dan pemindahan dosa berlangsung dengan sukses.

10)  Senyum terima kasih pada mereka setiap bertemu, karna mereka telah memberikan pahala mereka dengan cepat kepada anda. Lagipula tak ada salahnya selalu tebar senyum untuk semakin menambah saldo pahala anda, karna senyum adalah sedekah.

11)  Bahagia, karna slama ini anda kurang inisiatif dalam beramal, namun dapat tumpukan pahala dari mana-mana akibat gunjingan yang bahkan anda tidak kenal dengannya, hingga hapus sedikit demi sedikit dari catatan dosa-dosa anda.

Bukankah semua itu baik? Bukankah semua yang tampak menyakitkan dan merugikan ternyata baik akibatnya. Tentunya jika sikap anda tetap baik dan santun dalam fase menjadi objek gunjingan. Namun jika anda balik membalas dan mengajak berkelahi, maka itu semakin memperburuk keadaan anda di mata mereka dan bukan pahala yang di dapat, melainkan menambah kesalahan baru.

Untuk itulah anda di tuntut agar tetap tenang dan bersahaja jika sedang menghadapi gunjingan yang tidak enak, bersabar sedikit demi kebaikan yang banyak. Diam bukanlah tanda kelemahan, mengalah bukanlah tanda penakut, namun karna berilmu maka anda mengambil sikap yang bijak.

Tentunya sikap baik akan menuai hasil yang baik, dan sikap pasif tersebut di pilih semata-mata karna mengharap pahala dan ridha dari Allah swt. Bukankah anda tidak menyengaja merencanakan agar mereka ramai-ramai menggunjing anda sedemikian rupa, agar pahala amalan mereka pindah kepada anda?

Jadi, jangan sedih jika anda sedang menghadapi sebuah gunjingan. Justru berbahagialah karna ada orang-orang yang suka mengambil deretan dosa-dosa anda, dan menggantinya dengan pahala-pahala mereka. Bahkan kalau anda mampu, sediakanlah bagi mereka kado ucapan terima kasih karna telah bersedia mengambil dosa-dosa anda.

Untuk itulah anda semestinya tersenyum dan bahagia jika sedang menjadi objek gunjingan yang tidak mengenakkan.  Tidak perlu marah, tidak perlu naik darah. Cukup kelola hati anda agar tetap dingin, dan selalu tersenyum untuk mengikis pandangan sinis orang-orang yang menggunjing anda.

Semestinya kita bersyukur dan semestinya kita bahagia jika ada orang mendzolimi kita. Karna dengan begitulah jalan pintas untuk kita dapat menghapus sedikit demi sedikit dosa-dosa kita yang kita ketahui , apalagi untuk kategori dosa-dosa yang kita tidak ketahui bahwa itu adalah dosa. Sehingga tanpa sadar kita berjalan menuju hari tua sudah dalam keadaan berkurangnya jumlah dosa, apalagi sampai terkikis habis dosanya. Bukankah itu keberuntungan? Insya’Allah….

“ wahai orang-orang yang beriman! janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang (di olok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan-perempuan yang lain, karena boleh jadi perempuan yang (di olok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Jangalah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. AL-HUJURAT:11)

Wallahu’alam….

eci 










Oleh : Echiey Hisaan, Pekanbaru
Pengelola Rumah Tahfidz dan Aktivis

sumber: eramuslim
Lengkapnya Klik DISINI

Allah Menerima Taubat dan Memberi Petunjuk


Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, juga untuk segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.
Amma ba’du. Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
Ikhwan sekalian, kajian kita telah sampai pada firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ maka bersujudlah mereka kecuali iblis, ia enggan dan takabur, dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir,” (QS. Al-Baqarah: 34) hingga akhir ayat, sampai pada firman Allah, “Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 39).
Saya sudah mengatakan bahwa ada beberapa jenis makhluk: ada malaikat, jin, dan manusia. Malaikat adalah salah satu makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang mempunyai bentuk-bentuk mulia seperti manusia dan sebagainya, yang tidak pernah keluar dari ketaatan kepada Allah dan tidak pernah bermaksiat. Sebagian ulama mengatakan, “Mereka makhluk dari cahaya.” Pendapat ini sulit dicari dalilnya. Yang benar, semacam apakah makhluk ini, hanya Allah yang mengetahuinya.
Allah subhanahu wa ta’ala telah menyerahkan tugas-tugas kepada mereka. Di antara mereka ada yang menjadi utusan yang menghubungkan antara Allah dan para rasul-Nya, ada penjaga neraka Jahanam, ada yang mengurus masalah-masalah yang berkaitan dengan kematian, dan ada yang menjaga manusia serta menulis amalnya. Banyak lagi tugas-tugas lainnya.
Jin juga makhluk yang hakikatnya hanya diketahui oleh Allah. Mereka mendapat beban untuk melaksanakan hukum-hukum dan mengikuti para rasul, sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Jin: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan. (Yaitu) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami.” (QS. Al-Jin: 1-2); sampai firman Allah, “Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang taat maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api neraka Jahanam.” (QS. Al-Jin: 14-15)
Ikhwan sekalian, dengan demikian kita mengetahui bahwa mereka terkena perintah yang berkaitan dengan cabang-cabang syariah. Adapun manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah subhanahu wa ta’ala dari tanah liat kering dan di dalam dirinya Allah telah menyimpan berbagai rahasia-Nya. Manusia pertama yang diciptakan Allah adalah Adam alayhissalaam.
Dari Adam inilah Hawa diciptakan. Dari keduanyalah seluruh anak turun manusia berasal. “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 1)
Ini bukan hakikat mutlak yang harus dipahami, bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Adapun riwayat yang menyatakan bahwa wanita tercipta dari tulang rusuk yang bengkok bukanlah berarti bahwa wanita benar-benar diciptakan dari tulang rusuk itu, melainkan diciptakan seperti keadaan tulang rusuk yang bengkok, tidak lurus. Jika Anda meluruskannya, ia akan patah dan jika Anda membiarkannya, maka ia akan tetap pada kebengkokannya. Adapun perkataan orang yang menyebutkan bahwa laki-laki mempunyai duapuluh tiga tulang rusuk sedangkan wanita memiliki duapuluh empat tulang rusuk, bukanlah perkataan yang benar.
Ikhwan sekalian, hubungan manusia dengan para malaikat diungkapkan oleh ayat-ayat yang menjelaskan keistimewaan makhluk jenis ini. Karakter istimewa yang dimiliki oleh para malaikat adalah bahwa mereka, “Hamba-hamba yang dimuliakan.”
“…Yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya dan mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)
Keistimewaan yang dimiliki oleh manusia adalah bahwa ia diberi keinginan dan kemampuan untuk mengetahui dan menyingkap hal-hal yang semula tidak diketahui, serta mengenal masalah-masalah yang masih samar melalui penelitian. Adapun ilmu yang dimiliki oleh para malaikat adalah pemberian dari sisi Allah yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Ia tidak mempunyai tugas untuk mencari ilmu sebagaimana manusia. Sedangkan manusia hanya diajari prinsip-prinsip yang bisa mengantarkannya kepada ilmu, pengetahuan, dan penelitian.
Keistimewaan jin adalah sifat membangkang, maksiat, iri, dan dengki. Jin yang pertama kali adalah iblis yang diperintah Allah subhanahu wa ta’ala untuk bersujud kepada Adam, tetapi ia enggan, sombong, dan termasuk dalam golongan orang-orang kafir.
Hubungan manusia dan jin adalah hubungan permusuhan. Telah ditegaskan terjadinya permusuhan antara Iblis dan Adam serta cucu-cucunya.
“Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, maka saya benar-benar akan (manghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka,dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).’” (QS. Al-A’raf: 16-17)
“…Dan saya akan menyuruh mereka memotong (telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan saya suruh mereka (mengubah ciptaan Allah) lalu benar-benar mereka mengubahnya.” (QS. An- Nisa’: 119)
Allah telah mengingatkan Adam dan Hawa agar waspada dan jangan sampai terperosok dalam perangkap-perangkap setan. “Maka kami berkata, ‘Hai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga yang menyebabkan kamu menjadi celaka.” (QS. Thaha: 117)
Tetapi Iblis memanfaatkan kebaikan hati Adam yang menjadikannya patuh kepada perintah Tuhannya. “Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasakan buah kayu itu, tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka, ‘Bukankah Aku telah melarang kalian berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepada kalian, ‘Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian berdua?’” (QS. Al-A’raf: 22)
Akhirnya Allah mengeluarkannya dari surga dan mengujinya dengan ini. Kemudian Allah mengilhamkan kalimat-kalimat untuk sekedar diucapkan. “Keduanya berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 23)
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menerima taubatnya. “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 37)
Ikhwan sekalian, ada sebuah kisah istimewa bahwa setan pada hari kiamat nanti berkhotbah di hadapan para penduduk neraka di atas mimbar dari api. Ia berkata, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kalian, melainkan sekedar aku menyeru kalian lalu kalian mematuhi seruanku, oleh sebab itu, janganlah kalian mencerca aku, akan tetapi cercalah diri kalian sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolong kalian dan kalian sekali-kali tidak dapat pula menolongku. Sesungguhnya Aku tidak membenarkan perbuatan kalian mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” (QS. Ibrahim: 22). Ia meninggalkan pengikut-pengikut yang dulu membantunya.
“(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia, ‘Kafirlah kalian!’ maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata, ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari kalian karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.’” (QS. Al-Hasyr: 16)
Ikhwan sekalian, adapun mengenai jannah yang darinya Adam dikeluarkan, maka para ulama berbeda pendapat mengenai hakikatnya. Apakah ia jannatul khuldi (surga abadi) ataukah jannatud dunya (kebun dunia)? Sebagian mereka mengatakan, “Sesungguhnya ia adalah salah satu kebun yang ada di dunia.” Arti jannah di sini adalah kebun sebagaimana dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana kami telah menguji pemilik-pemilik kebun (jannah).” (QS. Al-Qalam: 17)
Juga sebagaimana dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebun (jannah)mu ‘Masya Allah’ (sungguh atas kehendak Allah)’.” (QS. Al-Kahfi: 39)
Sebagian lain berpendapat bahwa jannah tersebut adalah surga abadi, yaitu yang akan diberikan sebagai balasan bagi orang-orang beriman. Alasan mereka adalah bahwa Al-Qur’an sering menggunakan kata ini untuk menyebut surga akhirat. “Maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kalian berdua dari surga yang menyebabkan kalian menjadi celaka. Sesungguhnya kalian tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan sesungguhnya kalian tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya.” (QS. Thaha: 117-119). Sifat-sifat seperti ini merupakan karakter dari surga akhirat. Maksud yang tidak memerlukan interpretasi itu lebih baik untuk dipakai daripada yang memerlukan interpretasi.
Orang-orang yang memegang pendapat pertama mengatakan, “Di surga tidak ada beban kewajiban, sedangkan surga ini (dalam kisah Adam, edt) tidak demikian. Salah satu sifatnya yang lain adalah barangsiapa telah memasukinya, ia tidak akan keluar darinya, sedangkan Adam dikeluarkan darinya. Selain itu, surga tidak bisa dimasuki oleh Iblis, sedangkan surga ini dimasuki oleh Iblis.” Bagaimanapun, ini semua adalah pendapat yang bisa jadi itulah yang dimaksudkan oleh Al-Qur’an.
Ikhwan sekalian, adapun mengenai kemaksiatan Adam, maka dikatakan, bahwa kemaksiatan ini terjadi sebelum adanya taklif (pembebanan kewajiban) atau sesudahnya. Selain itu, ia tidak dikatakan bermaksiat, karena ia melakukannya dengan tidak sengaja tetapi karena lupa. Hukuman yang ditimpakan kepadanya termasuk dalam kategori kebaikan orang-orang yang baik dan keburukan orang-orang yang didekatkan kepada Allah. Karena itu Allah berfirman, “Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.” (QS. Thaha: 122)
Adapun kisah yang diriwayatkan, yang menyatakan bahwa setan masuk ke dalam perut ular agar bisa mendekati Adam, ini merupakan riwayat yang tidak mempunyai nilai sama sekali. Karena riwayat ini tidak terdapat dalam Al-Qur’an maupun As-Sunah. Hubungan antara setan dan manusia adalah hubungan nonfisik, sebagaimana hubungan antara cahaya dengan apa yang disinarinya. Setan bisa melakukan godaan-godaannya melalui hubungan semacam ini. “Sesungguhnya setan itu berjalan pada diri anak Adam sebagaimana perjalanan darah,” sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam.
Jika Anda membaca ayat-ayat dan merenungkan kandungannya, niscaya Anda dapati bahwa masing-masing dari ketiga makhluk ini mempunyai keistimewaan.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda)” (QS. Al-Baqarah: 31); menunjukkan keistimewaan manusia dengan ilmunya.
Firman Allah, “Mereka berkata, ‘Mahasuci Engkau tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Engkau ajarkan kepada kami.” (QS. Al-Baqarah: 32); menunjukkan “keistimewaan” malaikat dengan ilmu yang diberi langsung oleh Allah.
Sedangkan firman Allah, “Kecuali Iblis, dia enggan dan takabbur, dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34); menunjukkan “keistimewaan” jin yang senang membangkang, dengki, dan iri.
Dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dan janganlah kamu dekati pohon ini” (QS. Al-Baqarah: 35); dimulailah proses penghalalan dan pengharaman sehingga Allah mengetahui —sedangkan Dia Maha Mengetahui— siapakah yang melanggar perintah-Nya dan siapakah yang menaati-Nya. “Supaya Dia menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2 dan QS. Hud: 7)
Ikhwan sekalian, ada pendapat yang berkembang di kalangan para penganut tasawuf mengenai taubat. Mereka mengatakan bahwa sumber taubat adalah dari Allah, sedangkan taubat pada manusia hanya merupakan indikasi lahir saja. Seorang hamba bertaubat dikarenakan Allah mengarahkan taubat itu kepadanya. “Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya(QS. Al-Maidah: 54)
“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 118)
Ikhwan sekalian, hendaklah Anda masing-masing menguji dirinya sendiri. Hendaklah ia berusaha mengetahui kedudukannya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Jika Anda merasakan banyak penyesalan terhadap berbagai perbuatan jahat yang Anda lakukan, maka ketahuilah bahwa itu terjadi karena kedekatan kedudukan Anda dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Jika melihat ketidakpedulian di dalam diri Anda, maka ketahuilah bahwa itu disebabkan oleh jauhnya Anda dari-Nya.
Wahai Akhi, hendaklah memohon taubat kepada Allah dengan tidak henti-henti dan memohon kepada Allah agar mengaruniakan kelestarian taufiq. Amin.
Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Sayidina Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya.
Hasan Al Banna
hasanlabanna.com
Lengkapnya Klik DISINI

PKS : Pemilu 2014 Merupakan Panggilan Sejarah

http://menits.com/image.php?n=images/posting/2013/09/23/20130923_menits.com_KPU_2.jpgPresiden Partai Keadilan Sejahtera Anis Matta menegaskan Pemilihan Umum 2014 bagi partainya bukan sekadar pertaruhan politik, namun sekaligus menjadi pertaruhan untuk mengukir sejarah.
 
"Memenangi Pemilu 2014 bagi kita yang hadir di sini dan seluruh kader se-Indonesia serta perwakilan di puluhan negara, merupakan sebuah panggilan sejarah. Ini adalah misi peradaban PKS," kata Anis Matta dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (23/9).
 
Anis Matta menyatakan hal itu di acara Konsolidasi Struktur, Kader, dan Calon Anggota Dewan (CAD) PKS Kalimantan Tengah (Kalteng) di Gedung Tambun Bungai, Palangkaraya, Minggu (22/9) sore.
 
Dia menjelaskan panggilan sejarah PKS mulai bergulir ketika partai politik tersebut lahir sebagai bagian penting kekuatan reformasi yang turut melepaskan Indonesia dari belenggu status quo orde baru.
 
Menurut Anis, melanjutkan hasil perjuangan itu PKS akan terus berupaya membangun sinergi bersama kekuatan reformis lainnya. Dia mengatakan targetnya dalam rangka mewujudkan perbaikan berkesinambungan bagi bangsa dan republik tercinta ini.
 
"Namun, bukan cuma di Indonesia, kita juga berpikir dan berjuang untuk mengupayakan hadirnya kesejahteraan dunia," ujarnya.
 
Dia menegaskan karena target dan misi besar dimaksud maka seluruh kekuatan yang dimiliki PKS akan ditumpahkan untuk memenangi Pemilu mendatang.
 
Anis yakin ribuan kadernya yang mengikuti konsolidasi dan bekerja untuk memenangi Pemilu 2014 maka akselerasi pencapaian kesejahteraan tersebut dapat dilakukan.
 
"Pola pikir kita sekarang bukan sekadar disemangati untuk menaklukkan `lawan`, tetapi lebih dari itu kita hendak tampil untuk turut berkontribusi positif mengendalikan proses perubahan negeri ini," kata Anis.
 
Dalam pertemuan itu, Anis juga menggarisbawahi pentingnya upaya lebih menyatukan seluruh kekuatan Islam menghadapi Pemilu 2014.
 
Usai memimpin agenda konsolidasi PKS Kalteng, Anis Matta dan rombongan menggelar pertemuan silaturrahim dengan tokoh ormas setempat. Hadir dalam acara ini, antara lain, tokoh Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Ikatan Cendekiawan Muslim (ICMI), MUI, dan tokoh akademisi. (RS)
 
Lengkapnya Klik DISINI

‘Ied Kita dan ‘Ied Mereka

'Ied kita di sini ditandai dengan sejuta kembang api, mercon, bedug, takbir, dan baju baru. 'Ied kita di sini dipenuhi senyum suka cita. Kegembiraan bertalu-talu di hati kita. Anak-anak kita menangis bukan karena sedih. Tangisan mereka karena ingin segera dibelikan baju baru, celana baru, dan sepatu baru. Rumah-rumah kita penuh dengan ketupat, daging, kue, dan lainnya. Sanak famili saling mengunjungi. Membagi kue membagi suka. Tawa canda terukir indah di bibir mungil anak-anak kita yang berlepotan cokelat dan ice cream.

Tapi di belahan lain dunia kita, awan kelabu menutupi cerah langit 'Ied saudara-saudara kita. Langit 'Ied di Suriah dihiasi dentuman meriam dan desingan peluru. Tak ada daging, roti, atau kue di rumah-rumah mereka. Tidak. Bahkan rumah-rumah mereka pun telah jadi puing. Anak-anak Suriah tentu tak lagi merengek minta dibelikan baju, celana, dan sepatu baru. Mereka bahkan tak mengerti, masih adakah 'Ied bagi mereka.

Saudara kita di Rohingya tak kalah merana. ‘Ied bagi mereka adalah tangis kerinduan atas kampung halaman yang kini telah dibumihanguskan. Jangankan baju baru, bahkan adanya makanan di hari ‘Iedul Fitri ini sudah merupakan sebuah kesyukuran. Dan ribuan anak-anak Muslim Rohingya pun menangis di hari ini, bukan karena minta dibelikan baju baru tetapi karena mereka tak lagi menemukan wajah ayah dan ibu, yang tangannya mereka cium pada ‘Ied tahun lalu.

Pernah pulakah kita membayangkan ‘Ied saudara-saudara kita di Afghanistan dan Irak. Mereka tidak menikmati suara kembang api, bahkan mereka dihantui ledakan bom dan senjata api. Kekacauan yang dimulai tentara Amerika hingga kini tak ada akhir dan ujung ceritanya. ‘Ied mereka tidak semeriah ‘Ied kita. Bahkan ‘Ied mereka dibayangi merahnya darah umat Islam yang terus tertumpah.

Atau bagaimana ‘Ied di Mesir. Jutaan orang merayakannya di lapangan, jauh dari kampung halaman. ‘Ied tahun ini tiba-tiba berubah. Jika tahun lalu mereka bersuka cita bersama handai taulan dan tetangga, kini mereka rayakan ‘Ied di bawah pengawasan tentara yang mengepung mereka. Yang merenggut hak-hak sipil mereka. Yang merampas pemimpin yang telah mereka pilih. Yang membajak perjalanan mereka menuju tegaknya syariah, lalu memaksa dengan jalan kudeta untuk menjauh dari Qur’an dan sunnah. Yang tak segan memuntahkan peluru, hingga ratusan Muslim jatuh ke tanah bersimbah darah.

Dapat jugakah kita membayangkan bagaimana saudara kita di Kashmir, Somalia, Palestina, dan lainnya merayakan 'Ied mereka?

'Ied yang suci, indah, dan cerah ini kini ternoda dengan simbahan darah saudara-saudara kita yang tak berdosa. Tawa canda yang mestinya mewarnai hari sakral ini, kini berganti luka dan derai air mata. Di sini kita bersuka, di sana mereka berduka. Di sini kita tertawa, di sana mereka menangis. Di sini kita gembira, di sana mereka berdarah.

Luka yang menimpa saudara kita di belahan bumi lain terasa menyayat hati kita yang sedang bergembira di sini. Ketika menikmati hidangan 'Iedul Fitri, mari sejenak kita mengenang nasib saudara-saudara kita yang sedang mengungsi, berjuang, atau terzhalimi. Mengenang nasib mereka dan anak-anak mereka. Juga mengenang 'ketidakmampuan' kita berbuat sesuatu untuk mereka. Mengenang bahwa kegembiraan 'Jasad Islam' yang besar ini, pada 'Iedul Fitri ini, tak setuntas kegembiraannya pada perayaan 'Ied di tahun-tahun yang telah lalu.

Suatu ketika, dari bumi jihad Afghanistan, Sayyaf pernah berkata: “jika kalian tak mampu membantu kami, minimal janganlah bakhil dengan doa kalian untuk kami.” Yah, jika tak sanggup memberi materi, sekurangnya kita memberi doa. [Anis Matta, dari buku Arsitek Peradaban dengan beberapa penyesuaian]

http://www.bersamadakwah.com/2013/08/ied-kita-dan-ied-mereka.html
Lengkapnya Klik DISINI

Sisi Komprehensif Surat Al-Kahfi


Sisi Komprehensif Surat Al-Kahfi

Seringkali Rasulullah Saw menyinggung sunnah membaca sebuah surat pada hari-hari tertentu dengan fadhilah yang demikian besar. Seperti misalnya siapa saja yang membaca surat Al-Waqiah di malam hari maka ia tidak akan menjadi miskin bahkan kaya, siapa yang membaca Ayat Kursi menjelang tidur malam ia tidak akan diganggu syetan sepanjang malam, siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari jum’at maka ia tidak akan terkena fitnah al-Masih Dajjal, siapa yang hafal surat Al-Mulk maka tidak akan mendapat siksa kubur dan demikian seterusnya.

Makna tersirat di balik ini semua tentu bukan hanya sekedar menyuruh kita membaca saja secara rutin tanpa perenungan. Tidak! Namun lebih dari itu tujuannya adalah memberikan stimulasi kepada setiap muslim dan muslimah untuk memberikan perhatian agar mempertahankan interaksi dirinya dengan Al-Qur’an. Kalau hanya dipahami bahwa surat-surat tertentu itu memberi dampak positif bagi pembacanya apabila ia membacanya maka betapa banyak dari umat Islam yang merutinkan bacaannya, tapi sayang tidak memahaminya sama sekali. Padahal surat-surat yang selalu ia baca itu memuat bobot yang sangat padat untuk kehidupannya.

Misalnya saja, ketika Rasulullah Saw memerintahkan umatnya untuk membaca surat Al-Kahfi pada malam dan siang hari jum’at, setidaknya ada beberapa hal yang patut dipahami tentang fadhilah perintah ini. Apa kandungan surat Al-Kahfi tersebut dan apa perannya bagi kemaslahatan seorang muslim sejati?

Setidaknya ada 3 kisah yang indah yang terkandung di dalam surat Al-Kahfi ini yang intinya adalah mengokohkan akidah (keyakinan) seorang muslim kepada Allah dan mengimani keagungan-Nya.

Pertama: Kisah Ashabul Kahfi (tiga pemuda penghuni gua).

Kisah ini mengetengahkan tentang tadhiyyah (pengorbanan) dengan jiwa dalam mempertahankan eksistensi akidah. Ia adalah kisah tentang para pemuda muslim yang hijrah keluar dari kampung mereka demi menyelamatkan keyakinan mereka dan bersembunyi di sebuah gua di salah satu gunung. Mereka berdiam diri di dalam gua tersebut dalam keadaan tidur selama 309 tahun. Kemudian Allah membangunkan mereka setelah itu.

Kedua: Kisah Musa dan Khidir.

Kisah ini menjelaskan tentang anjuran bersikap tawadhu dalam menuntut ilmu dan hal-hal ghaib yang Allah perlihatkan kepada Musa melalui bentuk pengajaran hamba yang shaleh, Khidir terhadap Musa ‘alaihissalam seperti kisah sebuah bahtera, peristiwa pembunuhan anak kecil dan pembangunan dinding.

Ketiga: Kisah Zulqornain

Sebagai seorang raja yang telah Allah karuniakan kepadanya kerajaan besar lalu ia memerintahkan dengan ketakwaan dan keadilan sehingga ia bisa mengurus kerajaannya dengan penuh kemakmuran, mengendalikan belahan bumi Barat dan Timur dan kejadian yang berkenaan dengan pembangunan bendungan besar.

Selain menjabarkan secara rinci ketiga hal kisah di atas, surat agung ini juga memaparkan tentang perumpamaan tiga realitas yang menerangkan bahwa al-Haq (kebenaran) tidak terikat sama sekali dengan ukuran banyaknya harta (materi) dan kekuasaan. Tetapi al-Haq terikat dengan akidah (keyakinan).

Pertama: Perumpamaan tentang seorang kaya raya yang bergelimang dalam harta kekayaannya dan seorang fakir yang bangga dengan akidah dan keimanannya. Hal ini dijelaskan pada kisah pemilik dua kebun.

Kedua: Ilustrasi kehidupan dunia dan hal-hal yang berhubungan dengan kefanaan dan kebinasaan.

Ketiga: Perumpamaan tentang sikap takabbur dan tipu daya yang tergambarkan pada peristiwa penolakan iblis untuk sujud kepada nabi Adam alaihissalam serta kejadian yang harus diterima iblis berupa pengusiran dan diharamkan dari kebaikan Allah swt.

Demikian bobot dan kepadatan hikmah yang dikandung surat al-Kahfi ini.
Jelas saja Rasulullah saw mensunnahnya umatnya untuk senantiasa membaca surat al-Kahfi pada setiap hari jum’at. Dengan harapan rutinitas nabawi ini tidak sekedar sebagai bacaan yang terhafal oleh bibir namun kering pada hati di makna-maknanya. Padahal surat al-Kahfi yang sarat hikmah dan pelajaran apabila kita mau mengeksplorasi secara mendalam lagi.

Semoga saja kita bisa lebih meningkatkan interaksi kita dengan nilai-nilai al-Qur’an dari balik rutinitas sunnah nabawi yang dianjurkan kepada kita dari surat-surat al-Qur’an sehingga kelak ia bisa menjadi pedoman hidup yang selalu segar dalam ingatan untuk kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, Amiin Ya Robbal ‘Alamin.

Wallahu a’lam bish-Showab
Oleh: Hidayat Hamim

sumber: http://www.fimadani.com/sisi-komprehensif-surat-al-kahfi/
Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......