Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

Mengenal Pakar Partai Keadilan Sejahtera dari Spanyol Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook


Wajahnya seperti pria muda Spanyol lainnya dengan rambut pirang serta alis yang tebal dan sorot mata yang tajam. Selain itu juga menunjukkan kecerdasan serta perhatiannya terhadap Indonesia khususnya Islam membuat Dr Javier Gil Perez (33) pria langka yang perlu mendapat perhatian.

Ia adalah satu satunya "Indonesianist" (pakar tentang Indonesia) Spanyol yang sangat fasih berbahasa Indonesia dan berhasil memperoleh gelar Doktor dari Instituto Universitario General Gutierrez Mellado dengan tesis tentang Politik Islam di Indonesia yang khususnya membahas PKS pada tahun 2010.

"PKS merupakan partai yang sangat menarik yang tahu bagaimana membangun pengaruh politik di Indonesia," ujar Dr Javier Gil Perez.

Menurut Dr Javier Gil Perez, jika PKS ingin tumbuh maka harus dapat menawarkan solusi yang lebih banyak atas problem riil di masyarakat.

PKS yang merupakan partai menengah ini dulu tahun 1999 adalah partai kecil yang saat ini dapat disebut sebagai partai utama yang mengusung Islam di Indonesia.

"Saya memprediksi bahwa pemilu presiden di tahun 2014 akan sangat terbuka di mana Presiden SBY tidak dapat lagi dipilih," ujar Dr Javier yang beristrikan wanita India.

Dikatakannya tujuan utama PKS adalah mempertahankan posisi saat ini sebagai partai Islam utama dan masuk kembali dengan jumlah menteri yang lebih banyak di pemerintahan baru.

"Pada saat yang sama, jika PKS ingin tumbuh maka harus dapat menawarkan solusi yang lebih banyak atas problem riil di masyarakat," ujar Dr Javier Gil Perez.

Dikatakannya PKS harus melanjutkan peran Islam, namun harus tidak dapat dilupakan bahwa Indonesia adalah negara yang sangat beragam dan dengan itu untuk meraih kemenangan haruslah terbuka.

Ditangan mereka sendiri PKS akan memordernisasikan diri.

Dr Javier Gil Perez yang cinta Indonesia dengan alasan bahwa Indonesia sangat cantik mengakui bahwa ia pertama kali mengenal Indonesia melalui ayah dan teman ayahnya.

"Ayah saya bekerja di pabrik sepatu yang megimpor sebagian besar karet dari Indonesia," ujarnya.

Muda, pintar dan Ketika ditanyakan mengapa memilih isteri dari India, dijawab dengan bergurau karena isteri saya juga cantik seperti Indonesia. Dari situ ia mulai tertarik dengan Indonesia yang disebutnya sebagai suatu negara yang eksotis.

Sementara itu, teman ayahnya yang tinggal di Tangerang, Indonesia, menceritakan berbagai hal menarik tentang Indonesia yang mendorongnya datang ke Indonesia pada tahun 2005.

"Saya tinggal di Jakarta dan di sana saya belajar bahasa Indonesia. Setelah itu saya menjadi 'visiting fellow' di CSIS di Jakarta," ujar Javier.


Satu-satunya

Menurut Counsellor KBRI Madrid Theodorus Satrio Nugroho, Javier merupakan satu-satunya Indonesianist (pakar tentang Indonesia) dari Spanyol.

"Hal ini sangat menarik dan bisa dikatakan Javier merupakan Indonesianist yang pertama, muda dan pintar," ujar Theo, demikian istri Angela Widowati Nugroho, seorang penulis di Kompasiana yang biasa disapa.

Menurut Dr. Javier Gil Perez, memang benar ia sendiri di Spanyol sebagai pakar Indonesia.

Alasan minimnya ketertarikan orang Spanyol terhadap Indonesia karena sejarah, geografis dan ekonomi.

Selain faktor sejarah di mana hubungan kedua negara yaitu Spanyol dan Indonesia dalam jangka panjang masih terbatas.

"Kontak kedua negara juga terbatas dibandingkan dengan negara lainnya di Asia," ujarnya.

Diakuinya secara geografis, jarak kedua negara sangat jauh dan saat ini di Asia kontak yang mendalam Spanyol hanya dengan China, Jepang dan Korsel di mana mereka memiliki potensi ekonomi yang besar.

Namun demikian, katanya, dorongan ekonomi dan politik di Indonesia telah merubah situasi di atas dan untuk itu Indonesia di masa depan akan memperoleh lebih banyak perhatian bagi Spanyol.

Dr. Javier Gil Perez selalu mengikuti perkembangan di Indonesia serta situasi politik dan ekonomi Indonesia setiap hari.

"Bagi saya adalah kewajiban sebagai dosen dan peneliti tentang tema Asia dan khususnya Indonesia," ujarnya.

Dalam waktu yang sama saya berniat pergi ke Indonesia untuk melihat secara langsung realitas Indonesia saat ini.

Bercerita mengenai kisahnya memilih politik Islam kontemporer Indonesia sebagai tema tesis Doktornya, Dr. Javier Gil Perez mengatakan Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia dan sekaligus adalah negara demokratis.

"Ini yang mendorong saya mengambil tesis doktor saya tentang Partai Keadilan Sejahtera (PKS)," ujarnya menambahkan bahwa ia tertarik mengetahui bagaimana partai-partai Islam - terutama tentang PKS.

Ia juga tertarik melakukan penelitian bagaimana politik Islam di Indonesia memordenisasikan dirinya dan mengadopsi demokrasi sebagai sistem politik yang baik. Menurut Dr. Javier Gil Perez, pilihannya atas PKS adalah hal yang tepat di mana ia dapat mempelajari tentang Islam di Indonesia dalam seluruh sisi.

Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa Indonesia adalah negara garda depan dan suatu contoh terbaik bagi negara-negara Muslim di mana untuk saat ini sedang berjuang untuk kebebasan seperti Mesir, Libia dan lainnya.

Sumber: The Globe Journal

*) http://pk-sejahtera.org/content/mengenal-pakar-partai-keadilan-sejahtera-dari-spanyol
Lengkapnya Klik DISINI

Debat Masalah Bid'ah, Bukan Ilmu hanya Caci Maki


Oleh Ustadz Ahmad Sarwat, Lc
Banyak orang berdebat tentang ada tidaknya bid'ah hasanah itu. Dan biasanya mereka terjebak dengan pengertian kata 'kullu bid'atin'. Apakah kata kullu itu artinya semua tanpa ada pengecualian, ataukah masih ada yang dikecualikan. Dan perdebatannya kadang ke level saling caci maki dan penghinaan, bahkan kadang anggota kebun binatang pun ikut-ikutan diabsen.

Sebenarnya perbedaan tentang adakah bid'ah hasanah itu bukan hal yang aneh. Biasa-biasa saja, tidak perlu harus sampai ribut dan keluar sifat kotor dan akhlaq yang kurang simpatik.

Kalau kita kembali melihat ke zaman salafunas-shalih, baik ulama yang mendukung adanya bid'ah hasanah atau yang tidak mendukung, ternyata kedua kubu tetap kompak dan damai-damai saja.


Kita tidak pernah mendengar Imam As-Syafi'i dicaci maki oleh Imam Abu Hanifah gara-gara beliau melakukan qunut pada shalat shubuh. Padahal Mazhab Hanafi tegas menyebutkan qunut shubuh itu bid'ah. Namun kita tidak pernah mendengar ulama mazhab Hanafi mentahdzir ulama mazhab Syafi'i, begitu juga sebaliknya.


Lalu apa urusan kita saling mentahdzir saudara sendiri? Apakah kita sudah jadi ulama yang sesungguhnya? Dimana posisi kita dari mereka?


Juga belum pernah ada satu pun ulama dari mazhab Hanafi yang bilang bahwa orang yang bermazhab syafi'i pasti masuk neraka, hanya gara-gara menjalankan bid'ah. Mazhab Hanafi hanya menyebut qunut shubuh itu bid'ah, dan bukan bid'ah hasanah.


Ulama mazhab Syafi'i pun tidak pernah mencaci para ulama mazhab Hanafi yang menikahkan janda tanpa orang tua mereka. Tidak ada kalimat yang merendahkan martabat keluar dari mulut suci para ulama di masa salaf itu.


Kata-kata yang kotor dan keji dalam bicara tentang bid'ah ini hanya terjadi di zaman 'salah' sekarang ini, dimana orang yang bukan ulama, tiba-tiba merasa sudah menjadi ulama besar, dan merasa berhak mencaci maki para ulama mulia di masa salaf.


Sayang sekali, apa yang disebut sebagai ilmu ternyata hanya sekedar caci maki kepada saudara seislam, bahkan caci maki kepada para ulama. Saya memandang lebih baik diam dan tinggalkan arena perdebatan yang hanya mendambah dosa dan menghilangkan pahala.

Naudzu billah ighfir lana ya rabb. . .



*)http://www.facebook.com/ustsarwat

from : http://www.pkspiyungan.org/2012/02/debat-masalah-bidah-bukan-ilmu-hanya.html 
Lengkapnya Klik DISINI

Ringkasan Liqo dengan Ismail Haniya di Kuwait


Selasa (7/2/2012) jam 4-5.30 Waktu Kuwait, saya bersama beberapa Karyawan Indonesia di Kuwait, berkesempatan menghadiri pertemuan dengan Ismail Haniya PM palestina,  dalam kunjungannya ke Kuwait. Kesempatan berjabat tangan dan berpelukan dengan Ismail Haniya, berikut rangkuman beberapa point pembicaraan beliau seingatnya karen tidak sempat merekam, sebagian besar rangkuman ini sudah saya posting di akun twitter di sini: @noorahasana  semoga bermanfaat.
Assalaamu 'alaikum WrWb.

Pertemuan dengan Haniya diadakan di "Dewaniya" DR. Naser Al Sanee, ketua Islamic Constitutional Movement, di daerah Raudhah Kuwait. Haniya didampingi beberapa "pejabat" pemerintahannya, satu anaknya, 2 orang pejuang yg baru keluar dari penjara israel dan beberapa orang lagi. PM Palestina dan Pejabat "dalam tanda kutip" hasil pemilu 2006 yang dimenangkan Hamas tetapi yg kemudian tidak diakui dunia internasional.

Setelah kata pembuka, Haniya memperkenalkan siapa-siapa saja yang mengikutinya dalam kunjungan ke negara-negara Arab diantaranya Kuwait. Diantara yang ikut rombongan Haniya, yaitu mentri dalam negeri, seorang doktor tehnik sipil, wakil mentri luar negeri Abu Jamal, anak Haniya yang bernama Hammam, seorang pegawai kantor Haniya pemuda yang 3 orang saudara2nya syahid. Dua orang yang baru keluar dari penjara Israel dalam kesepakatan pertukaran tawanan palestina dengan tentara israel Gilad Shalid. Salah seorang bernama Yahya Al sinwar, yang divonis 400 tahun penjara, dan dibebaskan setelah 25 tahun. Satu orang lagi bernama Ruhul Syahu juga 25 tahun di penjara israel dari total vonisnya 25 tahun.

Sambil bergurau Haniya bercerita bahwa dahuulu ketika kita belajar Fiqh Bab Nikah dan bab Haji, ustadz biasanya bilang, kita lanjutkan bab sesudahnya. Karena dua bab itu (nikah dan haji) adalah dua hal yh sgt susah untuk dilakukan oleh rakyat Palestina apalagi yg divonis 400 tahun, tapi dengan kuasa Allah kita sekarang baru saja melakukan manasik Umrah, dan Akh yahya Al Sinwar yang dihukum 400 tahun baru saja menikah. Kebesaran Allah, ketika umroh kita benar2 merasakan panggilan Nabi Ibrahim dalam surat al-hajj ayat 27 firman Allah  celah yang dalam, sempit, subhanallah kitalah orang-orang itu yg datang dari sempitnya penjara-penjara israel menuju rumah Allah. Ini adalah buah dari kesabaran kita dan keteguhan kita yang tetap berpegang dengan prinsip kita dalam perjuangan ini.


Kesepakatan pertukaran 1000 tahanan palestina di israel dengan Gilat Shalid adalah keberhasilan kita semua. Bukan hanya Hamas, 1000 tahanan yg dibebaskan mencakup semua faksi palestina, dari semua wilayah Palestina, laki-laki dan wanita, muslim dan non muslim. Ini adalah lambang kesatuan kita bangsa Palestina, dari gaza, tepi barat, batas tahun 48, kita semua adalah satu Khusus untuk ikhwah di tepi barat, kalianlah yang akan menjadi penentu perlawanan kita di masa yang akan datang. Tepi barat yang telah melahirkan Yahya Ayyash, tepi baratnya Abu Hanud, tepi baratnya Abu Jabalain.

Penawanan Gilad Shalid adalah sebuah kekuasaan Allah, kita tahan di gaza selama lima tahun, gaza yang terkepung dari segala penjuru Gaza yg dimata-matai setiap jengkal tanahnya, bukan dengan alat-alat canggih, bukan hanya oleh israel tapi juga sebagian saudara-saudara kita. Gaza yang tidak ada gunung, tidak ada gua-gua persembunyian, tapi selama lima tahun kita berhasil menahannya tanpa ada yg tahu tempatnya.

Dalam perundingan-perundingan pasal Gilad Shalit, kita diisyaratkan untuk menuruti beberapa hal prinsip: mengakui Israel, perjanjian Oslo dll. Tapi kita tetap dengan prinsip-prinsip kita, dua syarat utama kita:
    1. Kesatuan tanah palestina gaza tepi barat dll tanpa surut 1 jengkal pun
    2.Perwujudan negara Palestina tanpa mengorbankan sedikitpun prinsip-prinsip kita.

Kita tidak punya hak untuk surut dari sejengkal pun tanah Palestina, karena tanah palestina, tanah Quds semuanya adalah Waqaf. Siapa yang berani mengganggu tanah Quds, semua tanah Syam, Palestina, Syiria, akan bergetar, berintifadhah mengingkirkan thogut. Semua tanah palestina harus dibebaskan dengan segala bentuk perlawanan, jihad, bertahan tanpa goyah sedikitpun.

Kewajiban kita yang ada di bumi quds untuk mempertahankannya dengan gigih, kewajiban kalian (di negara lain) dengan bantuan. Kewajiban kalian (di negara lain) dengan bantuan (materi dan non materi), dengan kerjasama ini kita akan bisa membebaskan Al-Aqsa.


Saudara-saudara kita yg tinggal di tanah tahun 48 (warga negara Israel), sekarang membuat program untuk memakmurkan Masjid Al Aqsa. Setiap hari mulai jam 8 pagi ada bolak-balik bus wakaf yang mengangkut sesiapa yang ingin ke Masjid Al Aqsa supaya tetap ramai. Di halaman-halaman masjid Al Aqsa setiap hari ada kurang lebih 135 halaqoh qur'an dan halaqoh-halaqoh agama dengan ustadz-ustadz yg ditanggung bersama.

Untuk perayaan-perayaan seperti akad nikah dan lainnya kita juga menganjurkan mereka untuk melaksanakannya di halaman Masjid Al aqsa. Ada lebih dari 50 ribu penghafal Al qur'an di palestina, dan kita bertekad akan mewisuda 10 ribu orang setiap tahunnya. Kita ciptakan generasi2 qur'ani, merakalah yang akan bisa membebaskan masjdi dan Bumi Al Aqsa tercinta.

Wassalamualaikum Wr.Wb
Noor Aziz
 
*)http://www.islamedia.web.id/2012/02/ringkasan-liqo-dengan-ismail-haniya-di.html
Lengkapnya Klik DISINI

Coba dech baca kisah-kisah teladan tarbiyah…

Seringkali kita baca kisah-kisah mengagumkan dari shirah Rasulullah dan para sahabat serta para pendahulu kita dari buku-buku shirah atau dikutip oleh ustadz-ustadz atau di artikel-artikel yang kita baca. Kemarin habis baca buku bagus banget, berisi kumpulan kisah-kisah teladan terbiyah dalam bingkai Arkanul Ba’iah, judulnya Teladan Tarbiyah, karya Parman Hanif M.Pd. Isinya bukan dongeng tetapi memang kisah-kisah nyata dari para mujahid yang patut diteladani. Setelah membacanya semoga kita tidak mengatakan, “Ah.. itu kan Rasulullah…” atau “Ah.. itu kan para sahabat…” atau “Ah.. itu kan Hasan Al Banna…” atau “Ah… itu kan Syeikh Ahmad Yasin…” atau “Ah.. itu idealis banget…” begitu dst. Mungkin kita memang tidak bisa menyamai mereka mulai kepahaman mereka, keikhlasan, amal, jihad, pengorbanan, ketaatan, keteguhan, totalitas, ukhuwah sampai ketsiqohan mereka. Tetapi tidakkah kita iri dengan mereka para mujahid yang mendapat kedudukan mulia di hadapan Allah dan Rasul-Nya, yang memberikan cinta tertinggi mereka untuk Allah, Rasulllah dan jihad di jalan-nya?

Mungkin ada yang berpikir, kehidupan kita sekarang berbeda dengan jamannya Rasulluah dan para sahabat. Bagaimana dengan Ustadz Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, Syeikh Ahmad Yasin dan Abdullah Azam, mereka hidup di era baru, di abad 20, tak jauh dengan diri kita.Yang penting bagaimana kita menghubungkan kisah-kisah mereka itu dengan kehidupan masa kini.

Setelah baca kisah-kisah itu, aku merasa malu… malu pada Allah, pada diriku sendiri dan malu pada para mujahid itu. Muncul ruh dan semangat baru. Membaca kisah Perjanjian Hudaibiyah dimana para sahabat harus menerima sesuatu yang menurut mereka buruk tetapi ternyata tidak demikian menurut Allah, sebuah perjanjian yang mengawali kemenangan dan kejayaan Islam. Subhanallah membaca kisah-kisahnya ustadz Hasan Al Banna yang meskipun hanya seorang guru tetapi kiprah dakwahnya menggegerkan seantro dunia, sungguh haru membaca kisah akhir hidupnya.

Malu membaca kisah-kisah keikhlasan para mujahid. Apakah selama ini aku sudah benar-benar ikhlas? Akan sangat merugi jika nantinya menjadi seperti syuhada, ulama dan dermawan yang amalnya ditolak oleh Allah karena mereka tidak ikhlas. Malu dengan kisah-kisah mereka yang tidak hanya dalam tataran faham dan kata-kata tetapi bersegera untuk beramal. Subhanallah kisah Ummu Sulaim yang meminta mahar syahadat dari Abu Thalhah yang meminangnya, bukan menerimanya karena hartanya, dan ia pun menjadi istri yang sholehah. Subhanallah kisahnya Said bin Al Musayyib yang menolak pinangan raja untuk putrinya dan lebih suka menikahkan putrinya itu dengan muridnya yang sholih meskipun miskin.

Membaca kisah-kisah mereka menjadi malu, begitu sungguh-sungguhnya mereka meraih surga, meraih cinta Allah dan Rasul-Nya, memberikan pengorbanan dan persembahan yang terbaik untuk Islam. Trus… apa yang saja yang sudah kita lakukan? Apa yang sudah kita persembahkan untuk kejayaan Islam? Jangan-jangan selama ini kita hanya sibuk dengan diri kita sendiri, memanjakan diri, banyak mengeluh dan bermimpi, berangan-angan mengharapkan kenikmatan duniawi. Padahal yang diimpikan para mujahid itu adalah surga, itulah yang menjadi semangatnya ketika menyambut panggilan jihad. Bagaimana dengan diri kita? Apakah kita hanya terbuai mimpi dapat kerja layak, hidup berkecukupan, dapat pasangan yang kita impikan, dsb. Bukannya tidak boleh meraih kenikmatan duniawi, tetapi jangan hanya karena mengejar itu kenikmatan ukhrawi jadi terlupakan. Dan beban dakwah yang kita miliki lebih banyak dari waktu yang tersedia, masih banyak PR yang harus kita kerjakan.

Subhanallah membaca kisah-kisah jihad saat perang Uhud. Jihad yang paling rendah adalah ingkar hati dan yang tertinggi adalah perang mengangkat senjata di jalan Allah. Sedangkan di tengah-tengah itu adalah jihad lisan, pena, tangan dan berkata benar di hadapan penguasa tiran. Karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk tidak berjihad, seperti sabda Rasulullah “Barangsiapa yang mati, sedangkan ia tidak berjuang atau minimal tidak pernah punya niat untuk berjuang, maka kematiannya adalah dalam keadaan jahiliyah” Mari kita niatkan setiap langkah dan aktifitas kita untuk berjihad, ketika berangkat kuliah, ketika berangkat bekerja, ketika berangkat berdakwah, dsb, karena kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput.

Membaca kisahnya Sayyid Quthub yang dengan keteguhannya dia berjihad dengan tulisan-tulisannya, memberi semangat baru untuk tetap teguh dalam berdakwah lewat tulisan. Tidak takut dan ragu-ragu dengan ancaman atau ejekan orang, karena salah satu cirri generasi yang dicintai Allah (baca generasi 5:54) adalah tidak takut celaan orang. Meskipun bukan sastrawan cerdas seperti Sayyid Quthb, dan tulisan-tulisan yang ada di blog ini juga jauh dari sempurna, paling tidak isinya semoga bisa menjadi obat bagi yang futur dan penyemangat bagi diri sendiri maupun orang yang membacanya.

Itu tadi renungan setelah membaca buku Teladan Tabiyah. Insya Allah akan saya tuliskan kisah-kisahnya secara bertahap di blog ini, saya masukkan ke kategori Teladan Tarbiyah. Jadi, sering-sering aja ya kunjungi blog ini, kali aja ada kisah baru. Bisa bermanfaat untuk bahan rujukan atau taujih di kajian-kajian Islam atau untuk diceritakan kepada putra-putri kita (daripada dongeng kancil ) atau untuk penyemangat diri kita dan yang terpenting kita teladani dalam kehidupan kita.

Wallahu a’lam bishowab

Lengkapnya Klik DISINI

Abu Nawas, Kuah Dibalas Makjun

Di mata Khalifah Harun al-Rasyid figur Abu Nawas memang lihai, dia tidak hanya lucu tetapi juga bijaksana sehingga tidak dapat dipandang enteng. Di satu pihak hal itu sangat membanggakan khalifah, tetapi di lain pihak, sangat menjengkelkannya, karena ia suka kurang ajar dan tidak tahu diri. Oleh karena itu baginda tidak pernah berhenti memeras otak untuk dapat membalas Abu Nawas.

Pada suatu hari di bulan Rabiulawal, baginda khalifah tersenyum simpul sendiri sambil bergumam, “Awas kau, Abu Nawas, kali ini pasti kena.”

Seperti biasa setiap bulan Rabiulawal, Sultan Harun Al-Rasyid menyelenggarakan acara Maulid Nabi di istana. Pada saat itu semua pembesar negeri hadir termasuk putra-putra mahkota dari negeri-negeri sekitarnya, tapi Abu Nawas tidak tampak.
“Panggil dia kemari,” perintah khalifah kepada punggawa.
Setelah Abu Nawas datang menghadap, dimulailah acara hari itu. Semua hadirin dipersilahkan berdiri, kemudian masing-masing disirami air mawar yang menebarkan bau sangat harum, kecuali Abu Nawas. Ia disiram dengan air kencing.

Sadarlah Abu Nawas, bahwa dia dipermalukan khalifah didepan para pembesar negeri. Ia bungkam seribu basa, namun di dalam hati ia berkata, “Oke, khalifah, hari ini kau beri aku kuah, esok akan kubalas kamu dengan isinya.”

Selesai upacara, semua orang pamitan kepada baginda dan pulang ke rumah masing-masing. Begitu pula dengan Abu Nawas.

Sejak itu Abu Nawas tidak pernah menginjakkan kakinya ke Istana. Tak kurang khalifah pun rindu berat kepadanya. Karena bagaimanapun Abu Nawas selalu dapat menghibur hatinya. Ada saja celotehan-celotehan Abu Nawas yang membuat suasana balairung jadi hidup.

Ketika khalifah memanggilnya, Abu Nawas tidak bersedia memenuhi panggilan itu, dengan alasan sakit, meski panggilan tersebut disampaikan terus menerus. Setiap kali punggawa datang setiap kali itu pula Abu Nawas bilang sakitnya makin serius.

Baginda pun khawatir dengan sakitnya Abu Nawas, maka ditengoknya Abu Nawas ke rumahnya di iringi beberapa orang petinggi kerajaan.
Mendengar khalifah menuju ke rumahnya, Abu Nawas buru-buru pasang aksi. Mata terpejam, badan tergeletak lemah lunglai. Namun sebelum itu ia telah menyuruh istrinya menyiapkan obat makjun, ramuan obat yang dibuat seperti dodol bulat, dan dua butir di antaranya dibubuhi tinja. Abu Nawas menelan sebutir obat itu ketika baginda sudah sampai di depannya.
“Hai Abu Nawas, apa yang kamu telan itu?” tanya khalifah.

“Inilah yang disebut obat makjun,” jawab Abu Nawas masih dalam posisi telentang. “Resepnya hamba peroleh tadi malam lewat mimpi. Seorang tua menghadap hamba dan berpesan agar obat makjun ini hamba telan dua butir, niscaya sembuh,” setelah Abu Nawas menelan sebutir lagi dan tampak badannya segar layaknya orang sembuh dari sakit.

“Kalau begitu aku juga mau makan obat makjun itu,” kata khalifah.

“Baiklah, tuanku,” kata Abu Nawas. “Bila paduka akan menelan obat ini, hendaklan berbaring seperti hamba sekarang ini, tidak boleh sambil duduk, apalagi dengan berdiri.”
Maka baginda pun berbaring.

“Pejamkan mata tuanku,” kata Abu Nawas.

Begitu mata Sultan terpejam, Abu Nawas cepat-cepat memasukkan butiran makjun itu ke mulut khalifah. Tiba-tiba khalifah bangkit karena obat itu menyangkut di batang tenggorokannya. Sambil membelalakkan matanya, Sultan berkata keras-keras. “Hai, Abu Nawas, kamu beri aku makan tinja ya?”

Maka Abu Nawas pun menghormat sambil berkata, “Dulu baginda memberi hamba kuahnya, sekarang hamba memberi baginda isinya. Jikalau baginda tidak memberi hamba uang seratus dinar, kejadian ini akan hamba ceritakan kepada khalayak ramai.”

“Diam kamu, jangan ngomong kepada siapa-siapa, nanti ku beri kau uang seratus dinar ,” kata khalifah.
Setelah itu khalifah dan semua pengiringnya kembali ke Istana, menyiapkan pundi-pundi berisi uang seratus dinar.

Lengkapnya Klik DISINI

Aku Anak Mbak ....

Lolo ayo mandi.  
Sebentar Mbak, Lolo masih nonton…
Iin ini makanannya sudah siap. Suster suapin ya...
Tapi Iin maunya makan sambil main….
Mbak, berapa sih 10 + 5 ?
10 + 5 = 15, Ela. 
Nia, sekarang sudah waktunya tidur siang..
Iya Suster, Nia cuci kaki dulu ya…
 
Dialog diatas merupakan gambaran situasi yang terjadi antara anak dengan pengasuhnya. Lolo, Iin, Ela dan Nia adalah tipikal anak-anak kota besar jaman sekarang, yang pengasuhan sehari-harinya diserahkan kepada pembantu atau pengasuh (nanny/baby sitter) di rumah. Bukan lagi diasuh oleh orangtua, karena ayah dan ibunya bekerja. Tapi kalau diamat-amati, anak-anak sekarang sebenarnya kebanyakan tetap diasuh dan memiliki pengasuh sekalipun ibunya tidak bekerja. Anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan pengasuhnya daripada dengan orangtua. Tidak heran kalau banyak anak lebih dekat dengan pengasuh daripada dengan orangtuanya. Ada anak-anak yang jika sedang sakit, tidak mau disuapi makanan atau obat oleh orangtua, tetapi hanya mau disuapi oleh pengasuh. Kalau pengasuh pulang kampung, jadi sedih dan tidak nafsu makan, begitu harus tidur malam hari jadi gelisah dan mencari-cari pengasuhnya. Bahkan ada anak yang terang-terangan mengatakan "Aku anaknya mbak", "Aku sayang sama suster banyak, sayang sama mama papa sedikit" (dengan gaya lucu menggemaskan, tapi cukup membuat hati orangtua nelangsa).
 
Menghadapi kenyataan dan kondisi di atas, apa yang sebaiknya dilakukan orangtua agar  kendali pendidikan dan pengasuhan anak tetap berada di pundak mereka sehingga tidak terjadi hal-hal negatif yang dapat merugikan perkembangan fisik dan mental anak di masa yang akan datang.
Kerjasama Dengan Pengasuh  
Pengasuh (nanny/baby sitter) tidak lagi sekedar orang upahan, tetapi sudah menjadi bagian dari suatu rumah tangga dan merupakan partner orangtua dalam mengasuh anak. Beberapa sekolah yang ada di Jakarta, bahkan sudah sangat menyadari fenomena ini, sehingga di sekolah-sekolah tersebut secara rutin diadakan workshop bagi pengasuh mengenai anak dan cara pengasuhannya. Sebagai partner, orangtua tidak bisa menyepelekan keberadaan pengasuh, dan berpikir ah kan cuman pengasuh; cuman orang luar; saya orangtua; saya majikan. Karena seperti kenyataan yang terlihat, banyak anak lebih dekat dengan pengasuhnya. Partner berarti orang yang bekerjasama, bukan bekerja sama-sama. Sebagai partner berarti harus kompak dan seiya sekata.
 
Mengapa orangtua dan pengasuh harus kompak? Tentu saja bukan semata untuk kepentingan orangtua dan pengasuh, tapi terutama demi anak yang diasuh. Anak membutuhkan lingkungan yang konsisten dan terprediksi untuk berkembang dengan benar. Bagi orangtua dan pengasuh pun ada keuntungannya jika mereka kompak, karena anak akan lebih mudah diasuh dan menurut. Paling tidak satu sama lain tidak saling memboikot, sehingga anak tidak bisa mengambil keuntungan dari situasi ini. Yang dimaksud dengan memboikot adalah misalnya hal-hal yang dilarang oleh orangtua, tetapi diam-diam diperbolehkan oleh pengasuh atau sebaliknya hal-hal yang dilarang pengasuh malah diperbolehkan oleh orangtua.

Mengapa anak lebih mudah diasuh dan menurut kalau orangtua dan pengasuh kompak? Hal tersebut terjadi karena, anak tahu apa yang tidak boleh berarti tidak boleh, dan tidak mencari persetujuan ke tempat lain. Anak juga akan melihat kedua belah pihak sebagai figur otoritas yang harus ditaati dan dihormati, dan tidak menunjukkan ketaatan palsu. Ketaatan palsu adalah ketika anak pura-pura menurut pada orangtua, tapi di belakang mencari persetujuan dari pengasuh ketika orangtua tidak ada. Atau pura-pura menurut pada pengasuh, tetapi ketika orangtua ada di rumah, langsung mencari persetujuan orangtua dan menyepelekan pengasuhnya. Kondisi seperti ini, sebenarnya menunjukkan bahwa anaklah yang memegang otoritas, sehingga akan banyak waktu dimana anak misbehave, dengan mencoba mengatur orang-orang disekitarnya, tidak peduli dihukum karena toh tetap bisa mendapatkan apa yang diinginkan.
 
Dengan latar belakang pendidikan, sosial, ekonomi dan budaya yang seringkali sangat berbeda, menyebabkan orangtua dan pengasuh memiliki nilai-nilai, pemikiran dan tindakan yang berbeda. Dengan kondisi tersebut bekerjasama bukanlah hal yang mudah dilakukan. Tapi mau tidak mau harus dilakukan demi kesejahteraan anak. Bagaimana caranya? Di bawah ini ada beberapa cara yang mungkin dapat dilakukan orangtua dalam bekerjasama dengan pengasuh:
 
1.   Perlakukan sebagai teman
Jalin komunikasi yang baik dan keakraban dengan pengasuh. Berteman dengan pengasuh akan membuatnya lebih mau terbuka. Pengasuh juga akan segan bergosip tentang majikannya, lebih tulus ketika mengasuh anak dan semoga akan lebih menurut pada perintah majikan. Pengasuh yang diam-diam merasa sebel pada majikan, mungkin bisa memboikot majikannya.
 
2.   Membagi pengetahuan tentang perkembangan anak 
Orangtua memiliki pendidikan lebih dari pengasuh, untuk beberapa hal juga akan memiliki pengetahuan yang lebih tentang perkembangan anak. Pengasuh yang berpengalaman juga dalam beberapa hal akan lebih tahu dari orangtua. Cobalah untuk saling membagi pengetahuan ini, supaya jika ada perbedaan, dari awal sudah bisa diketahui dan dicari jalan tengahnya. Dengan saling berbagi, pengetahuan masing-masing akan bertambah dan tidak saling mempertanyakan dan saling menuduh sok tahu dalam hati masing-masing.
 
3.   Mengutarakan dengan jelas aturan-aturan dan kebiasaan-kebiasaan yang ada
Utarakan dengan rinci cara-cara mengasuh anak yang diharapkan orangtua, apa yang boleh apa yang tidak boleh (bagi anak dan bagi pengasuh, misalnya pengasuh tidak boleh memukul anak apapun alasannya, anak sama sekali tidak boleh makan permen) dan hal-hal harian apa saja yang harus dilaporkan kepada orangtua. Utarakan secara jelas dan mendetail, untuk menghindari kesalahpahaman. Hal ini penting, karena dengan demikian berarti orangtua sebagai pemegang kendali kebijaksanaan pengasuhan anak.
 
4.   Jika terjadi pemboikotan segera dibicarakan dan diatasi
Jika secara tidak sengaja (karena masing-masing pihak belum tahu atau tidak mengerti kebiasaan pihak lain, dan ada yang tertinggal dari diskusi awal) terjadi pemboikotan, maka sebaiknya dibicarakan baik-baik, mencari kata sepakat dan tidak memboikot kembali di depan anak.
Idealnya memang akan lebih baik bagi orangtua jika bisa mendapatkan pengasuh yang berpengalaman, penurut, dan memiliki nilai-nilai yang sama. Tapi tentunya tidak semua orangtua bisa seberuntung ini. Oleh karena itu ketika orangtua memutuskan untuk menerima seseorang sebagai pengasuh, orangtua hendaknya sudah memiliki persyaratan tertentu, minimal orang tersebut bersih dan rapi (kuku kaki dan tangan terpotong rapi, pendek, dan bersih, tidak bau badan dan mulut, pakaiannya bersih) dan tentunya bisa membaca menulis (jadi ketika mengasuh anak, bisa sambil membacakan cerita dan bisa juga sedikit-sedikit mengajarkan anak membaca dan menulis). 
Tetap Lekat Dengan Anak
Sekalipun orangtua bekerja dari pagi hingga malam, dan meninggalkan anak dalam asuhan orang lain, pastilah orangtua ingin anaknya tetap lekat dengannya. Anak ada di hati orangtua dan orangtua ada di hati anak. Orangtua pasti tidak berharap mendengar perkataan dari mulut anak "Aku anaknya Mbak Yem". 
Beberapa ahli mengatakan yang penting bukanlah kuantitas waktu yang dihabiskan bersama anak, tapi kualitas waktu ketika sedang bersama anak.  Apa yang dimaksud dengan waktu yang berkualitas? Dalam buku When Others care For Your Child (1987), waktu berkualitas adalah saat-saat dimana orangtua  menghabiskan waktu bersama anak dengan fokus dan perhatian penuh pada anak dan masalah-masalah yang dialami anak. Waktu tersebut bisa sambil mengobrol saja ataupun melakukan suatu kegiatan bersama (nonton televisi, main games, makan malam). Saat-saat tersebut benar-benar tidak terbagi, hanya untuk anak dan orangtua. Orangtua tidak sambil menerima telpon bisnis dari rekan kerja, sambil membicarakan masalah di kantor, ataupun membicarakan deadline yang harus dipenuhi.
 
Hal pertama yang sebaiknya dilakukan ketika orangtua sampai di rumah tentunya adalah menghampiri,  memeluk dan mencium anak, bukannya menyalakan televisi atau langsung masuk kamar untuk istirahat sebentar. Ketika orangtua sudah berada di rumah, pengasuhan anak sebaiknya dikembalikan ke orangtua dan tidak lagi dipegang oleh pengasuh. Kalau anak makan masih disuapi, maka orangtua lah yang seharusnya menyuapi, yang memandikan (kalau belum mandi), mengganti baju dan sikat gigi sebelum tidur, mengantar ke tempat tidur (sambil menyanyikan lagu nina bobo maupun membacakan dongeng).
 
Dengan demikian anak akan mengerti bahwa pengasuh hanya membantu ketika orangtua sedang bekerja, tetapi pengasuh bukanlah orangtua. Anak pun akan tahu bahwa orangtua menganggap anak-anaknya penting dan menyayangi mereka. Ketika ada yang menanyakan anak siapa dia, anak bisa mengatakan "Aku anak Mama Dina dan Papa Dani", dan kalau ditanya Mbak Yem itu siapa, anak akan menjawab "Mbak Yem itu suster aku".

Lengkapnya Klik DISINI

Giliran Salafi Yaman Akan Mendirikan Partai Politik

Kalangan salafi  di Yaman telah memutuskan untuk mendirikan partai politik untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka. Hal tersebut sebagai respon atas lengsernya Ali Abdullah Shaleh dari kursi kekuasaan.

DR. Aqil Muqthiri, salah seorang anggota Persatuan Ulama Yaman dan juga anggota Organisasi Al-Hikmah di Yaman yang memiliki pemahaman salafi, mengumumkan bahwa kalangan salafi di Yaman berencana mendirikan partai atau aliansi politik baru yang akan berkecimpung di dunia politik negeri tersebut.

Beliau menambahkan, "Ada pandangan kurang tepat yang sebelumnya dipahami secara merata oleh kalangan salafi seputar aktifitas politik yang bersumber dari sikap taklid buta, yaitu pandangan bahwa pemilu dan parlemen bertentangan dengan aqidah wala dan bara dan bahwa hal ini hanya akan menguntungkan kalangan sekuler. Ini adalah pandangan yang  kurang tepat."

Muqthiri mengatakan bahwa setelah berlalu sekian lama, kajian dalam internal salafi memberikan kemajuan cara berfikir. Dan bersamaan dengan musim semi Arab, rencana ini dimunculkan seiring dengan tumbangnya diktator dengan rezim pemerintahannya yang bobrok dan sering melakukan pencitraan buruk terhadap aktifis Islam secara umum dan kalangan salafi secara khusus.

 DR. Muqthiri menjelaskan bahwa kalangan salafi Yaman telah melakukan serangkaian dialog dan musyawarah di antara berbagai kelompok mereka untuk mendirikan partai atau aliansi politik agar dapat berpartisipasi aktif dalam kehidupan politik di Yaman.

Adapun mengenai hubungannya dengan partai Ishlah yang memiliki pemahaman Ikhwan, DR. Aqil Muqthiri mengatakan, "Hubungan kami dengan Ishlah adalah hubungan saling tolong menolong dan saling melengkapi, selama tidak bertentangan dengan syariat dan kemaslahatan. Kami akan belajar dari pengalaman politik mereka, karena mereka lebih dahulu dalam masalah ini. Mereka pun dapat mengambil manfaat dari kalangan salafi yang banyak mendalami perkara-perkara syariah dan aqidah."

Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......