Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

Sesungguhnya Spiderman masih kalah hebat dibandingkan sama orang muslim ini

Usamah Bin Zaid ( ilustrasi)

Spiderman
Sama-sama muda, keduanya bertalenta. Kesemuanya merupakan bingkai yang merangkum beribu pesona yang unik dan menawan. Lah, tapi yang satu lahir di komik Marvel, yang satu lagi lahir di madrasah peradaban Nabi Muhammad. Yang satu muncul tiba-tiba dan langsung menyeruak media, ditiru banyak penggemar dan muda-mudi dalam menjalani laku hidup, yang satu kini namanya ‘diredupkan’ sejarah yang kian hari kian terbalik. Kejam nian.
 
Spider-Man dan Usamah bin Zaid. Kesemuanya memiliki prestasi dan cakupan popularitas yang besar. Keduanya sama-sama berkiprah dalam jagat kepahlawanan, heroes, bravery, dan keduanya ada sebagai produk sebuah misi. Ya, misi yang berlawanan.
Biar saya perkenalkan, yang satu, namanya Spider-Man alias Peter Parker. Mahasiswa tekun yang mencintai seorang bernama Marry Jane. Kehidupannya rapuh, ia hidup dari cinta semu dan karena sebuah keberuntungan, ia digigit seekor laba-laba misterius saat sedang studi ke Laboratorium Biologi. Seketika ia berubah menjadi kekar, tak perlu lagi berkacamata, laku hidupnya berubah 180 derajat, hingga akhirnya ia memesan baju ketat dengan lambang laba-laba di dada, bergelantungan di dinding-dinding New York, menangkap penjahat, sesekali bertemu Marry Jane dan... sesuatu yang tidak halal terjadi. Dan anehnya, dia menjadi pahlawan.

Perkenalkan, yang satu ini wajahnya hitam, badannya kekar dan ia bukan apa-apa sebelumnya. Pemuda yang terus belajar dan mencintai Cintanya Sang Maha Cinta. Ia bukan anak saudagar, tapi sebuah risalah telah datang dan mengubah segalanya tentang Arab, termasuk dirinya. Masa kecilnya telah diasuh oleh Seorang Guru Peradaban, karakter, jiwa, perangai, hingga taktik dan keberanian telah dikecapnya, bersama Ayah yang juga kesayangan nabi. Hingga, usia 17 tahun hidupnya, mempertemukannya dengan takdir kepahlawanan yang spektakuler ; memimpin balatentara terbaik melawan Imperium terbesar saat itu, Romawi. Dan jelaslah dia menjadi pahlawan, pahlawan sungguhan.

Namun bukan dunia jika tidak penuh tipu daya. Bandingkan, Spider-Man yang pahlawan fiktif itu menjadi poster dan cover-cover majalah, merembes menjadi ikon kepahlawanan bagi anak-anak Gambarnya dipasang di wallpaper komputer, topengnya dijual di pasar-pasar, dari Ujung Spanyol sampai papua Nugini. Seorang tokoh fiktif yang kemudian lahir tiba-tiba, dan langsung terkenal, membawa sebuah misi; Mind Control, menjadi mindset ikon kepahlawanan. Hingga terurai dalam sebuah riset, 75% anak-anak kecil menyatakan pertama kali melihat adegan perzinaan, adalah ketika mereka menyaksikan film Spider-Man. Memang benar ia Pahlawan, pahlawan bagi Mafia Pengeksploitasi moral.

Spider-Man adalah produk Perang Pemikiran
Mengenaskan, dan disudut yang lain, nama Sang pahlawan muda yang begitu populer di kalangan langit itu terkubur di pentas ikon kepahlawanan. Bahkan kita sendiri kadang-kadang tidak tahu siapa Usamah bin Zaid. Ikon Superhero muda yang menggelora itu ditenggelamkan pasar dan kepentingan bisnis yang mementingkan untung, hingga generasi ini lebih peka mendengar Spider-Man, Power Ranger dan kawan-kawannya ketimbang Superhero Usamah bin Zaid, Muzhaffar Quthuz, Khalid bin Walid, atau Muhammad Al-Fatih. Padahal Usamah bin Zaid adalah cetakan generasi emas Islam.

Ini bukan sebuah permainan semata. Spider-Man, menurut saya adalah salah satu sampel dari sekian ratus ikon bohong yang digunakan untuk menelikung orientasi generasi. Wah wah, nampaknya terkesan dalam sekali ya? Ya, memang benar kan? Keteladanan memegang faktor utama dalam membentuk karakter individu. Jika apa yang dilakukan legenda-legenda fiktif itu dilihat, diperhatikan, diamalkan, wah... sudah jadi generasi ompong namanya. Berkhayal tiada batas, sementara peradaban terus berlari.

Alhamdulillah, setelah sekian lama generasi ini ditantang tontonan superhero khayalan, suatu kali saya menjumpai anak-anak kecil di pusat kota, sedang bermain perang-perangan. Yang satu berteriak,
“Aku jadi Nabi sulaiman!”
“Aku pokoknya jadi Shalahuddin!”
“Ah, jangan… itu aku….!”

Ayah dan Ibu mereka tertawa renyah. Mensyukuri. Anak-anak TK itu bermain pedang-pedangan, seru sekali nampaknya. Alhamdulillah, saya bukan bersyukur karena mereka main perang-perangan, melainkan tingkah polos mereka yang sudah terpatri deretan nama-nama Agung, mereka telah disuapi hikayat dan cerita kepahlawanan yang agung nan semerbak wanginya yang kelak akan mereka teladani, hingga mereka lahir kembali sebagai penerus keemasan pendahulunya.

Antara Spider-Man dan Usamah bin Zaid. Keduanya terkenal. Yang satu terkenal di penjuru media karena film dan komik-komik, yang satunya berbeda, ia terkenal di penjuru langit karena keshalihan dan keluhuran budi pakertinya. Antara Spider-Man dan Usamah bin Zaid, Keduanya hebat, yang satu hebat bohongan yang dijadikan proyek uang bagi Bisnisman tak bertanggung jawab, hebat main sarang laba-laba dan pandai main ayunan di dinding-dinding kota. Yang satunya hebat, baru 17 tahun sudah memboyong kemenangan spektakuler memukul Mundur Romawi di masa-masa tenarnya. Hebat Karena ditunjuk menahkodai Sahabat Senior, Umar bin Khottob, Abdurrahman bin Auf dan sahabat superhero lain juga.

Antara Spider-Man dan Usamah bin Zaid. Keduanya membawa misi yang berlawanan. Yang satu hanya tokoh fiktif namun menjerumuskan orientasi sebuah generasi. Yang satunya membawa misi kemanusiaan, mengantarkan manusia dari penghambaan pada manusia menuju pada penghambaan pada Tuhannya Manusia, misi cerdas yang unik dan menawan. Antara Spider-Man dan Usamah bin Zaid, keduanya superhero, entah di alam nyata atau hanya fiktif belaka. Dan keduanya adalah perlambangan perang yang takkan pernah usai, antara kebenaran dan kebatilan. Anak-anak yang bermain perang-perangan dengan menyebut deretan nama Kamen Raider dan Power Ranger tentu sangatlah berbeda dengan mereka yang sudah hafal nama Ahmad Yassin, Yahya Ayyash, Imad Aqil dan memerankannya dalam petak umpet intifadhah mereka.

Kini dunia menunggu, apakah akan lahir generasi baru yang terinspirasi Superhero gadungan yang berwarna-warni, ataukah dunia akan terperangah dengan kelahiran kembali generasi emas itu, generasi yang terinspirasi dari laku bijak dan luhur pendahulunya, yang mengecap jejak-jejak yang telah ditempuh leluhur besar mereka, para manusia yang berdiri tegak mengumpulkan kerikil dan serakan hikmah menjadi bangunan kokoh bernama peradaban. Peradaban sungguhan tentunya.

Wallahu a’lam bishawab
Sumber
Lengkapnya Klik DISINI

Lelaki Penduduk Surga

“Masuklah kalian ke dalam Surga, tidak ada ketakutan bagi kalian dan tidak akan ada kesedihan.” (QS Al-A’raaf: 49.)
Tifatul Sembiring 2 
Saat tengah berlangsung taklim Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, selepas shalat Ashar di Masjid Madinah. Tiba-tiba Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata, “Akan datang seorang lelaki penduduk Surga.”

Semua mata sahabat melihat ke pintu masjid. Maka masuklah seorang laki-laki, nampaknya ia baru selesai berwudhu, dia usap air yang membasahi jenggotnya kemudian dipercikkan ke belakang. Lalu laki-laki itu shalat sunnat dua rakaat, kemudian ikut bergabung mendengarkan taklim tersebut.

Esok harinya pada jam yang sama, taklim rutin berjalan kembali. Tiba-tiba Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata pula, “Akan datang seorang lelaki dari pendduduk Surga.”
Semua orangpun menoleh, ternyata dia adalah laki-laki yang disebut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemarin.

Adalah putra Umar bin Khathab, yang bernama Abdullah, merasa penasaran mendengar ungkapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersebut dua hari berturut-turut. Apa rahasia ibadah orang ini?, hingga diberi predikat sebagai “lelaki penduduk Surga.”

Selesai shalat Isya, maka Abdullah pun mengikuti laki-laki tersebut dari belakang. Merasa ada orang berjalan di belakangnya, lelaki itupun menoleh, “Ada apa ya Abdullah?” sapa laki-laki itu.

“Bolehkah saya menumpang menginap tiga malam ini, saya sedang kurang enak di rumah,” ujar Abdullah.
“Boleh, silakan,” ujar laki-laki itu.

Setiap tengah malam menjelang subuh, Abdullah bin Umar bangun, mencoba mengintip ibadah laki-laki ini. Mungkin  dia punya kelebihan ibadah dan rajin shalat malam.

Akan tetapi yang dia lihat, hanyalah sebagaimana kebiasaan sahabat secara umum, beribadah menjelang Subuh saja. Selama tiga malam berturut-turut seperti itu.

Merasa sudah cukup, Abdullahpun pamit dan berterima kasih kepada tuan rumah. Namun sebelum pergi Abdullah menyempatkan diri bertanya.

“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata bahwa engkau adalah lelaki dari penduduk Surga. Tapi setelah saya perhatikan, ternyata ibadah engkau biasa-biasa saja. Apakah ada sesuatu yang engkau sembunyikan?” tanya Abdullah.

“Iya, seperti yang engkau lihat,” ujar lelaki itu.
“Baiklah, kalau begitu saya pamit dan terimakasih atas tumpangan menginapnya,” kata Abdullah sambil berlalu.

Setelah agak jauh, tiba-tiba lelaki itu memanggil, “Ya Abdullah, ke sini.”
Abdullah pun datang menghampiri, “Ada apa?”

“Kalaupun ada suatu rahasia yang saya lakukan adalah: Setiap malam sebelum tidur saya menghilangkan semua rasa iri terhadap semua saudara-saudara saya dan saya memaafkan mereka,” ujar laki-laki itu.
“Baiklah, terimakasih,” ucap Abdullah kemudian pergi.

Ternyata dengan membersihkan penyakit hati, berupa iri hati dan menjadi pemaaf sepanjang hidupnya, menyebabkan lelaki itu disebut Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai penduduk Surga.

Pemaaf dan tidak hasad, iri hati adalah sikap seorang yang bertaqwa. Nan tengah kita tempa di dalam bulan Ramadhan ini. Insya Allah.

Kalau ingin untaian melati
Boleh petik  di dekat  saga
Kalau rajin bersihkan hati
Boleh jadi penghuni surga.

sumber: hasanalbanna.com
Lengkapnya Klik DISINI

Kantong Kebaikan

Ary Ginanjar Agustian

Alkisah ada seseorang yang sangat menikmati kebahagiaan & ketenangan di dlm hidupnya.
Orang tersebut mempunyai dua kantong. Pada kantong yg satu terdapat lubang di bawahnya, tapi pada kantong yg lainnya tdk terdapat lubang.

Segala sesuatu yg menyakitkan yg pernah didengarnya seperti makian dan sindiran, ditulisnya di sebuah kertas, digulung kecil, kemudian dimasukkannya ke dlm kantong yg berlubang.

Tetapi semua yg indah, benar, dan bermanfaat, ditulisnya di sebuah kertas kemudian dimasukkannya ke dlm kantong yg tdk ada lubangnya.

Pada malam hari, ia mengeluarkan semua yg ada di dlm saku yg tdk berlubang, membacanya, dan menikmati hal indah yg sudah diperolehnya sepanjang hari itu.
Kemudian ia merogoh kantong yg ada lubangnya, tetapi ia tdk menemukan apa pun. Maka ia pun tertawa dan tetap bersukacita karena tdk ada sesuatu yg dapat merusak hati dan jiwanya.

Saudarakuu...
Itulah yg seharusnya kita lakukan. Menyimpan semua yg baik di “kantong yg tdk berlubang”, sehingga tdk satupun hal baik yg hilang dari hidup kita. Sebaliknya, simpanlah semua yg buruk di “kantong yg berlubang”. Maka hal buruk itu akan jatuh dan tidak perlu kita ingat lagi !!!

Namun sayang sekali.. masih banyak orang yg melakukan dgn terbalik... Mereka menyimpan semua hal baik di “kantong yg berlubang”, dan apa yg tdk baik di“kantong yg tdk berlubang” (alias memelihara pikiran buruk, prasangka buruk/tidak benar & segala sesuatu yg menyakitkan hati). Maka, jiwanya menjadi tertekan dan tdk tenang dlm menjalani hidup.

Oleh karena itu, agar bisa menikmati kehidupan yg bahagia & tenang: Jangan menyimpan apa yg tdk baik di dalam hidup kita. Mari mencoba, menyimpan hanya yg baik dan bermanfaat !!!
sumber : https://www.facebook.com/Ary.Ginanjar.Agustian
judul di masukkan oleh admin
Lengkapnya Klik DISINI

Indonesia, Turki, Mesir, dan Jalan Demokrasi

Nasihin Masha
Nasihin Masha
Sebuah tulisan di The New Yorker, sebuah majalah bergengsi di Amerika Serikat, sedang menjadi trending topic di Twitter. Judulnya simpel saja, “Where is Morsi?” Sebuah tulisan ringkas oleh Amy Davidson. Satu kalimatnya yang menggelitik, “It is not healthy for democracy, or for model of democracy, when an elected head of state just vanishes.” Kalimat lainnya berbunyi, “The pro-coup crowds, including self-described liberals, have relied heavily on the argument that Brotherhood is fundamentally undemocratic.”

Dua kalimat itu menggambarkan dua situasi. Pertama, kudeta terhadap Mursi merusak ide demokrasi. Kedua, salah satu pembenar kudeta adalah tuduhan bahwa Ikhwanul Muslimin adalah organisasi yang antidemokrasi. Dua hal inilah yang membuat komunitas internasional menjadi ambigu dan berpecah. Lalu, tiba-tiba mereka disodorkan pada fakta tragis pascakudeta: pembunuhan, pembekuan aset, militerisme, pemenjaraan tanpa pengadilan, mengadu massa, menghadapi protes dengan senjata, dan seterusnya. Kaum liberalis sudah tak bisa berbuat apa-apa. Harga yang mahal dan setimpal dengan kekerdilan dan kepicikan sikap kaum liberalis.

Jalan sejarah tiga negara berpenduduk mayoritas Muslim ini memang menarik untuk dicermati: Indonesia, Turki, dan Mesir. Tiga negara yang memiliki posisi kunci di kawasan masing-masing. Tiga negara ini pernah dicengkeram militer selama bertahun-tahun. Bahkan, Turki sejak 1922. Sedangkan, Indonesia sejak 1966. Adapun, Mesir sejak zaman Sadat, 1970. Indonesia dan Mesir bahkan pernah berkolaborasi memainkan peran strategis di pentas dunia, yakni pada masa Sukarno dan Jamal Abdul Nasir. Bersama Jawaharlal Nehru (India), M Ali Jinnah (Pakistan), dan Ahmad bin Bella (Aljazair), mereka menghentak dunia. Mereka memerdekakan negeri-negeri di Asia dan Afrika. Mereka membangun poros Gerakan Non-Blok. Mereka menolak terlibat perseteruan Blok Komunis dan Blok Kapitalis.

Ini menunjukkan bahwa negeri-negeri tersebut memiliki pengaruh strategis di kawasannya masing-masing. Namun, melalui politik subversif, negeri-negeri itu ditekuk militer dan kemudian berada dalam genggaman Barat. Hanya India yang bisa bertahan, namun selalu diadang konflik dengan tetangganya maupun konflik internal, bahkan pembunuhan-pembunuhan politik. Semua negeri itu mengalami pelemahan. Setelah politik Perang Dingin tak memiliki relevansi lagi, ditambah bangkitnya kelas menengah di masing-masing negeri itu serta melemahnya negeri-negeri Barat membuat negeri-negeri itu mulai bergolak. Arus demokratisasi menggeliat. Karena sebagian besar adalah negeri mayoritas berpenduduk Muslim, kekuatan sosial-politik Islam memainkan peran strategis. Bahkan, di Mesir, Aljazair, dan Turki, kekuatan besar itu ada di kelompok berideologi Islam.

Aljazair adalah yang pertama bangkit. Partai FIS menang pemilu pada 1991. Namun, kemenangan itu dibuldoser militer. Hingga kini, Aljazair tak kunjung bangkit. Lalu, muncul Partai Refah pimpinan Necmettin Erbakan di Turki pada 1996, namun setahun kemudian ditendang militer. Erdogan keluar dari Refah dan mendirikan AKP. Ia tak lagi membawa isu ideologis, tapi membawa isu demokrasi dan ekonomi. Setelah memenangkan pemilu pada 2003, ia sukses memajukan Turki. Bahkan, ia berhasil mengamendemen konstitusi. Militer Turki tak lagi memiliki hak konstitusional untuk mengambil alih kekuasaan.

Erdogan belajar dari sejarah. Kemenangan saja tidak cukup. Ia harus dikombinasikan dengan realitas segregasi sosial dan keterampilan berpolitik. Karena itu, kabinetnya juga berisi kaum sekuler dan liberal. Yang penting mereka punya visi yang sama tentang keadilan ekonomi dan demokrasi. Hal inilah yang berbeda pada Mursi. Ia luput merangkul beragam kekuatan strategis. Ia tak membuat skala prioritas dengan taktis. Karena, musuh utama sebenarnya adalah kekuatan antidemokrasi. Pelaku penggulingan terhadap FIS dan Refah adalah militer. Penghancur ide demokrasi pada masa awal di negara-negara itu juga militer.

Menengok Mesir kadang seperti menengok sejarah Indonesia pasca-Reformasi. Terjadi jatuh bangun kekuasaan. Habibie hanya sebentar. Gus Dur cuma separuh jalan. Mega gagal melanggengkan kekuasaannya. Hanya SBY yang bisa relatif tenang bekerja, bahkan bisa dua periode. Yang membedakan SBY dengan para pendahulunya itu adalah kemauannya untuk berbagi. Bahkan, jika bisa, semua partai memiliki wakil di kabinet. Namun, itu tak terjadi. Ini karena mereka menolak untuk bergabung. SBY memahami pluralitas politik. Partai pemenang pemilu hanya menguasai seperlima kursi di parlemen. Namun, poin yang terpenting lagi adalah keberhasilan kekuatan prodemokrasi untuk menempatkan militer pada posisinya yang tepat: tak lagi terlibat politik. Ini juga berkat kesadaran dari para jenderal yang berkuasa saat itu.

Walau militer tak bisa secara langsung terlibat politik praktis, jangan dikira mereka tak terampil dan tak mampu memainkan peran politik. Selama puluhan tahun berkuasa membuat mereka cukup memiliki sumber daya di luar dirinya maupun di dalam dirinya (secara di bawah meja). Karena itu, siapa pun yang berkuasa harus menyadari hal ini dan harus bersedia untuk berbagi.

 

Stabilitas politik adalah langkah pertama dalam transisi demokrasi. Karena itu, demokrasi bukan sekadar memenangkan persaingan. Demokrasi adalah kesabaran dan kerelaan. Bukan hanya buat pemenang, melainkan juga buat yang kalah. Karena, di luar kekuatan prodemokrasi selalu ada kekuatan antidemokrasi. Tak harus militer, tapi juga para penikmat kediktatoran lainnya. Namun, stabilitas hanyalah alat. Karena itu, jangan mengabaikan tujuan demokrasi, yaitu membangun keadilan, kesejahteraan, dan pemerataan. Stabilitas tanpa itu semua hanyalah berbagi korupsi dan kronisme

Oleh Nasihin Masha
sumber: republika.co.id
Lengkapnya Klik DISINI

Kesaksian Dua Orang Polisi Yang Menyaksikan Eksekusi Mati Sayyid Quttub

berita islam, berita islam terkini, sosok islam, tokoh islam, islampos
ULAMA, da’i, serta para penyeru Islam yang mempersembahkan nyawanya di Jalan Allah, atas dasar ikhlash kepadaNya, sentiasa ditempatkan Allah sangat tinggi dan mulia di hati segenap manusia. Di antara da’i dan penyeru Islam itu adalah Syuhada (insya Allah) Sayyid Qutb. Bahkan peristiwa eksekusi matinya yang dilakukan dengan cara digantung, memberikan kesan mendalam dan menggetarkan bagi siapa saja yang mengenal beliau atau menyaksikan sikapnya yang teguh.

Di antara mereka yang begitu tergetar dengan sosok mulia ini adalah dua orang polisi yang menyaksikan eksekusi matinya (di tahun 1966). Salah seorang polisi itu mengetengahkan kisahnya kepada kita. Berikut petikannya.

“Ada banyak peristiwa yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya, lalu peristiwa itu menghantam kami dan merubah total kehidupan kami. Di penjara militer pada saat itu, setiap malam kami menerima orang atau sekelompok orang, laki-laki atau perempuan, tua maupun muda. Setiap orang-orang itu tiba, atasan kami menyampaikan bahwa orang-orang itu adalah para pengkhianat negara yang telah bekerja sama dengan agen Zionis Yahudi.

Karena itu, dengan cara apapun kami harus bisa mengorek rahasia dari mereka. Kami harus dapat membuat mereka membuka mulut dengan cara apapun, meski itu harus dengan menimpakan siksaan keji pada mereka tanpa pandang bulu. Jika tubuh mereka penuh dengan berbagai luka akibat pukulan dan cambukan, itu sesuatu pemandangan harian yang biasa. Kami melaksanakan tugas itu dengan satu keyakinan kuat bahwa kami tengah melaksanakan tugas mulia: menyelamatkan negara dan melindungi masyarakat dari para “pengkhianat keji” yang telah bekerja sama dengan Yahudi hina.

Begitulah, hingga kami menyaksikan berbagai peristiwa yang tidak dapat kami mengerti. Kami mempersaksikan para ‘pengkhianat’ ini sentiasa menjaga shalat mereka, bahkan sentiasa berusaha menjaga dengan teguh qiyamullail setiap malam, dalam keadaan apapun. Ketika ayunan pukulan dan cabikan cambuk memecahkan daging mereka, mereka tidak berhenti untuk mengingat Allah. Lisan mereka sentiasa berdzikir walau tengah menghadapi siksaan yang berat.

Beberapa di antara mereka berpulang menghadap Allah sementar ayunan cambuk tengah mendera tubuh mereka, atau ketika sekawanan anjing lapar merobek daging punggung mereka. Tetapi dalam kondisi mencekam itu, mereka menghadapi maut dengan senyum di bibir, dan lisan yang selalu basah mengingat nama Allah.

Perlahan, kami mulai ragu, apakah benar orang-orang ini adalah sekawanan ‘penjahat keji’ dan ‘pengkhianat’? Bagaimana mungkin orang-orang yang teguh dalam menjalankan perintah agamanya adalah orang yang berkolaborasi dengan musuh Allah? Maka kami, aku dan temanku yang sama-sama bertugas di kepolisian ini, secara rahasia menyepakati, untuk sedapat mungkin berusaha tidak menyakiti orang-orang ini, serta memberikan mereka bantuan apa saja yang dapat kami lakukan.

Dengan ijin Allah, tugas saya di penjara militer tersebut tidak berlangsung lama. Penugasan kami yang terakhir di penjara itu adalah menjaga sebuah sel di mana di dalamnya dipenjara seseorang. Kami diberi tahu bahwa orang ini adalah yang paling berbahaya dari kumpulan ‘pengkhianat’ itu. Orang ini adalah pemimpin dan perencana seluruh makar jahat mereka. Namanya Sayyid Qutb.

Orang ini agaknya telah mengalami siksaan sangat berat hingga ia tidak mampu lagi untuk berdiri. Mereka harus menyeretnya ke Pengadilan Militer ketika ia akan disidangkan. Suatu malam, keputusan telah sampai untuknya, ia harus dieksekusi mati dengan cara digantung. Malam itu seorang sheikh dibawa menemuinya, untuk mentalqin dan mengingatkannya kepada Allah, sebelum dieksekusi.

(Sheikh itu berkata, “Wahai Sayyid, ucapkanlah Laa ilaha illa Allah…”. Sayyid Qutb hanya tersenyum lalu berkata, “Sampai juga engkau wahai Sheikh, menyempurnakan seluruh sandiwara ini? Ketahuilah, kami mati dan mengorbankan diri demi membela dan meninggikan kalimat Laa ilaha illa Allah, sementara engkau mencari makan dengan Laa ilaha illa Allah”. Pent).

Dini hari esoknya, kami, aku dan temanku, menuntun dan tangannya dan membawanya ke sebuah mobil tertutup, di mana di dalamnya telah ada beberapa tahanan lainnya yang juga akan dieksekusi. Beberapa saat kemudian, mobil penjara itu berangkat ke tempat eksekusi, dikawal oleh beberapa mobil militer yang membawa kawanan tentara bersenjata lengkap. Begitu tiba di tempat eksekusi, tiap tentara menempati posisinya dengan senjata siap.

Para perwira militer telah menyiapkan segala hal termasuk memasang instalasi tiang gantung untuk setiap tahanan. Seorang tentara eksekutor mengalungkan tali gantung ke leher Beliau dan para tahanan lain. Setelah semua siap, seluruh petugas bersiap menunggu perintah eksekusi. Di tengah suasana ‘maut’ yang begitu mencekam dan menggoncangkan jiwa itu, aku menyaksikan peristiwa yang mengharukan dan mengagumkan.
Ketika tali gantung telah mengikat leher mereka, masing-masing saling bertausiyah kepada saudaranya, untuk tetap tsabat dan shabr, serta menyampaikan kabar gembira, saling berjanji untuk bertemu di Surga, bersama dengan Rasulullah tercinta dan para Shahabat. Tausiyah ini kemudian diakhiri dengan pekikan, “ALLAHU AKBAR WA LILLAHIL HAMD!” Aku tergetar mendengarnya.

Firman Allah SWT: “Dan di antara manusia yang mengorbankan dirinya kerana mencari keredhoan Allah SWT dan Allah maha pengampun kepada hamba-hambanya.” (al baqarah: 207)

Di saat yang genting itu, kami mendengar bunyi mobil datang. Gerbang ruangan dibuka dan seorang pejabat militer tingkat tinggi datang dengan tergesa-gesa sembari memberi komando agar pelaksanaan eksekusi ditunda. Perwira tinggi itu mendekati Sayyid Qutb, lalu memerintahkan agar tali gantungan dilepaskan dan tutup mata dibuka.

Perwira itu kemudian menyampaikan kata-kata dengan bibir bergetar, “Saudaraku Sayyid, aku datang bersegera menghadap Anda, dengan membawa kabar gembira dan pengampunan dari Presiden kita yang sangat pengasih. Anda hanya perlu menulis satu kalimat saja sehingga Anda dan seluruh teman-teman Anda akan diampuni”. Perwira itu tidak membuang-buang waktu, ia segera mengeluarkan sebuah notes kecil dari saku bajunya dan sebuah pulpen, lalu berkata, “Tulislah Saudaraku, satu kalimat saja… Aku bersalah dan aku minta maaf…”

(Hal serupa pernah terjadi ketika Ustadz Sayyid Qutb dipenjara, lalu datanglah saudarinya Aminah Qutb sembari membawa pesan dari rejim thowaghit Mesir, meminta agar Sayyid Qutb sekedar mengajukan permohonan maaf secara tertulis kepada Presiden Jamal Abdul Naser, maka ia akan diampuni)

Sayyid Qutb mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “…“Telunjuk yang sentiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rejim thowaghit…””. Pent)

Sayyid Qutb menatap perwira itu dengan matanya yang bening. Satu senyum tersungging di bibirnya. Lalu dengan sangat berwibawa Beliau berkata, “Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah bersedia menukar kehidupan dunia yang fana ini dengan Akhirat yang abadi”. Perwira itu berkata, dengan nada suara bergetar karena rasa sedih yang mencekam, “Tetapi Sayyid, itu artinya kematian…”

Ustadz Sayyid Qutb berkata tenang, “Selamat datang kematian di Jalan Allah… Sungguh Allah Maha Besar!” Aku menyaksikan seluruh episode ini, dan tidak mampu berkata apa-apa. Kami menyaksikan gunung menjulang yang kokoh berdiri mempertahankan iman dan keyakinan. Dialog itu tidak dilanjutkan, dan sang perwira memberi tanda eksekusi untuk dilanjutkan.

Segera, para eksekutor akan menekan tuas, dan tubuh Sayyid Qutb beserta kawan-kawannya akan menggantung. Lisan semua mereka yang akan menjalani eksekusi itu mengucapkan sesuatu yang tidak akan pernah kami lupakan untuk selama-lamanya… Mereka mengucapkan, “Laa ilaha illah Allah, Muhammad Rasulullah…”

Sejak hari itu, aku berjanji kepada diriku untuk bertobat, takut kepada Allah, dan berusaha menjadi hambaNya yang sholeh. Aku sentiasa berdoa kepada Allah agar Dia mengampuni dosa-dosaku, serta menjaga diriku di dalam iman hingga akhir hayatku.”

Firman ALLAH: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman akan nyawa mereka dan harta benda mereka dengan (balasan) bahawa mereka akan beroleh Syurga, (disebabkan) mereka berPERANG pada jalan Allah maka (di antara) mereka ada yang membunuh dan terbunuh. (Balasan Syurga yang demikian ialah) sebagai janji yang benar yang ditetapkan oleh Allah di dalam (Kitab-kitab) Taurat dan Injil serta Al-Quran; dan siapakah lagi yang lebih menyempurnakan janjinya daripada Allah? Oleh itu, bergembiralah dengan jualan yang kamu jalankan jual-belinya itu, dan (ketahuilah bahawa) jual-beli (yang seperti itu) ialah kemenangan yang besar. (at taubah 110) [sumber: globalkhilafah]
http://islampos.com/kesaksian-dua-orang-polisi-yang-menyaksikan-eksekusi-mati-sayyid-quttub-36376/

Lengkapnya Klik DISINI

Menjadi Remaja Pejuang Islam

Saya cuma bisa cengo waktu liat berita di tv tentang siswi SMP di Surabaya yang menjadi mucikari para temannya, bahkan kakaknya pun ikut ia ‘jual’ kepada om-om hidung belang. Udah separah itukah remaja di Indonesia? Demi kebahagiaan dunia, rela menghalalkan segala cara. Naudzubillah… Miris dah. Terus, pernah liat kan video yang diupload di youtube dan menayangkan para pelajar SMA di Tolitoli (Sulawesi Tengah) melecehkan gerakan shalat dengan gaya Harlem Shake? Mencari kebahagiaan dunia dengan menghibur diri namun caranya salah. Kebijakan sekolah pun harus mereka terima, mereka dikeluarkan dari sekolah dan tidak bisa mengikuti UN.  It’s gonna be unforgettable moment for them .. Tapi akan sangat ‘bodoh’ lagi kalo kemudian mereka bangga dengan ‘kenakalan’ mereka  itu.  Semoga sobat gaulislam nggak seperti mereka ya.. Aamiin.

Setelah baca-baca artikel psikologi remaja, dan karena saya juga pernah remaja (hehehe…), peranan orang tua juga orang-orang terdekat yang peduli atau care dengan kita ternyata menjadi faktor internal yang membangun karakter dan kebiasaan kita dalam kehidupan. Contoh, kalo ortumu, kakakmu suka bohong maka perlahan namun pasti, tertanam dalam pikiran kamu kalo berbohong itu boleh dan akhirnya menjadi kebiasaan. Begitu tahu Islam melarang berbohong akan berat banget untuk menghilangkan kebiasaan itu.

Kamu inget Yoon Seong di City Hunter? Gimana dia dibentuk pola sikap dan pola pikir oleh ayah (walaupun bukan ayah kandungnya) dan orang-orang di sekitarnya hingga ia menjadi orang yang kaku, dingin dan bahkan terkesan tanpa ada ‘rasa cinta’.  Ia pun nggak peduli bahwa kekayaan yang membiayai hidupnya juga misi ‘kebenaran membongkar makar para pejabat Seoul’ yang ia jalankan di bawah kendali ayahnya ternyata berasal dari bisnis ganja.  Ya seperti itu. Kalau kemudian untuk bisa mengubah Yoon Seong menjadi punya hati dan beralih dari kehidupannya yang kaku dan keras juga kudu kerja keras untuk berubah. Eh..kok jadi nostalgia City Hunter sih..hehehe..

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, terlalu lelah mata ini melihat dan telinga ini mendengar akan kenakalan-kenakalan remaja yang terjadi di negeri tercinta ini. Di negeri yang penduduknya mayoritas muslim. Sayangnya pula, orang tua mempercayakan sepenuhnya kepada sekolah untuk membentuk anak-anak mereka dan sekolah justru sebenarnya tidaklah mampu untuk membentuk remaja sepenuhnya.  Justru kinerja kebijakan pemerintah-masyarakat-sekolah dan ortu yang mampu membentuk remaja seutuhnya dimana keluarga lebih dulu sebagai pembentuk internal pada remaja (bahkan sejak dari rahim ibu).

Jangan mudah percaya
Yup, sebagai remaja biasanya punya pemikiran yang kritis. Termasuk masalah akidah, agama. Kadang muncul pertanyaan: kenapa pacaran nggak boleh, kenapa harus berjilbab, kok bergaul harus terpisah laki-laki dan perempuan, emang Allah itu bener ada? Bla bla bla…

Hal ini memang berat kalo kemudian ternyata keluarga nggak terlalu peduli. Ditambah pula di sekolah- pelajaran agama cuma 2 jam pelajaran, ikut belajar di sekolah Islam malah merasa terkekang (nah lo!), bahkan udah terformat di dalam otak kalo yang namanya masa remaja kudu having fun. Padahal, kalo bagi yang laki-laki udah ‘mimpi basah’ dan yang perempuan udah dapet haid, itu artinya sudah terkategori mukallaf alias terkena taklif (terbebani hukum). Artinya, akan mendapat pahala dan dosa terkait aktivitas yang berstatus fardhu/wajib, sunnah, makruh, haram dan mubah. Udah no exception lagi kecuali exception yang memang diperbolehkan oleh Islam. Contoh: Shalat fardhu itu wajib dikerjakan. Tapi gimana kalo sakit dan nggak bisa berdiri? Nah, selama masih dalam kondisi sadar, tidak haid bagi yang cewek dan mampu melafalkan bacaan shalat, diperbolehkan si sakit untuk shalat dalam posisi duduk atau berbaring.

Oya, jangan mudah percaya kepada orang-orang yang kamu anggap memberi kenyamanan dan ketenangan hati. Sebab, saat berada dengan mereka kamu merasa dipedulikan, diajak senang-senang, problem yang dimiliki pun jadi selesai.  Harus waspada, supaya nggak terjebak dalam pergaulan yang salah. Tetep harus pake pakem Islam. Selama temen-temenmu  mengajak kepada kebaikan justru itu yang kudu diikutin. Nikmati aja. Masalah merasa ‘terkekang’ itu belakangan. Kamu akan seterusya terlatih dan terwarnai nantinya (asal istiqomah). Pengen terpaksa tapi masuk surga atau ikhlas sukarela tapi masuk neraka?  Emang surga dan neraka itu ada? Nah, lho. Jangan sampe kamu nggak yakin dengan keberadaan surga dan neraka yang udah diciptakan Allah Ta’ala.

Allah Swt. berfirman (yang artinya), Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS at-Tahrim [66]: 6)

Sobat gaulislam, surga dan neraka saat ini memang nggak bisa dilihat, tapi bisa kita meyakininya melalui al-Quran (dalil naqli). Kalo kamu nggak percaya sama al-Quran, coba deh bikin 1 surat aja untuk menandingi al-Quran. Bisa? Ini jawaban untuk kekritisan teman-teman sobat GI yang  pikirannya kritis melewati ambang batas hingga mencapai tahap ateis. Na’udzubillah min dzalik.

Takut sama syariat Islam 
Takutnya sama azab Allah deh ya.  Justru aneh kalau syariat Islam ditakuti. Hehehe… karena kalo syariat ditaati insya Allah justru menambah pahala, mengurangi dosa, bahkan amal perbuatan kita diridhoi Allah dan menjad berkah. Nggak percaya? Coba aja untuk skala individu dulu, walau pun penuh tantangan. Buat yang cewek dan belum berhijab syar’i, coba deh berhijab untuk selamanya. Shalatnya masih bolong-bolong? Ilmu Islamnya minimalis? Disiplinkan diri kamu deh mulai sekarang, juga cari temen-temen plus komunitas yang positif agar bisa memotivasi kamu untuk menjadi remaja yang smart dan sholihah.
Bro en Sis, sebenarnya kebahagiaan yang kamu dapat adalah bahagia dunia dan akhirat. Bukan di dunia aja.  Berhijab pastinya bikin bahagia karena Islam sudah memuliakan perempuan dalam masalah menutup aurat dan kebahagiaan di akhirat adalah karena telah mampu melaksanakan perintah Allah. Apalagi kalo pemerintahan di seluruh negeri muslim ini melaksanakan syariat Islam, yakin deh Islam rahmatan lil Alamin itu bener adanya!

Jangan bohongi dirimu
Kata siapa kalo melaksanakan syariat Islam itu terkekang, serba sulit dan susah? Coba deh perlahan tapi pasti perbaiki diri, mulai bener-bener meyakini sesuai al-Quran dan as-Sunnah  akan rukun iman terus berhijab bagi yang muslimah, perbaiki akhlak, perbanyak ilmu Islam dan ikut menyebarkan pemikiran Islam yang udah kamu kuasai.  It’s fun, chalenging  dan juga menjadi ajang  fastabiqul khairat plus amar ma’ruf nahi  munkarSo, daripada mempengaruhi orang untuk berbuat bandel (baca: maksiat) berjamaah, mending ngajakin orang-orang untuk berbuat baik, iya kan?
Nah, kalo udah gini, maksudnya udah punya temen-teman yang shalih dan shalihah, udah ngaji, ikutan komunitas supaya terbentuk pribadi yang islami, apa masih keder menjadi pejuang Islam? I hope not!
Go fight ! Jangan kalah sama para remaja di jazirah Arab, wilayah Syam yang kini tetap berkomitmen dan berhadap-hadapan dengan para tirani yang tidak ingin Syam menjadi tempat tegaknya Khilafah Islamiyah. Yap! Mari  berlomba dalam kebaikan dengan para pemuda saudara seiman kita itu. Di sana mereka memperjuangkan syariah dan khilafah, kita pun juga di sini turut serta. Agar tidak ada lagi keraguan bahwa sejatinya remaja Islam adalah pejuang militan yang produktif membawa perubahan  menuju Islam kaffah dan tanpa jalan kekerasan tentunya. Yuk, mulai benahi diri, kuatkan akidahmu, tingkatkan ketakwaanmu, penuhi dengan ilmu, basahi dengan tsaqafah Islam, dan tentunya semangat untuk bedakwah. Sip dah! [Anindita | email: thefaith_78@yahoo.com]

sumber : http://www.gaulislam.com/menjadi-remaja-pejuang-islam
Lengkapnya Klik DISINI

Persinggahan Hati Saat Mengadakan Perjalanan kepada Allah

 Persinggahan Hati Saat Mengadakan Perjalanan kepada Allah
Banyak orang yang mensifati persinggahan ini dan menyebutkan bilangannya. Di antara mereka ada yang menyebutnya seribu, ada pula yang menyebutnya seratus, ada yang kurang dan ada yang lebih. Masing-masing orang mensifatinya menurut perjalanan yang dilakukannya.

Berikut ini akan saya sebutkan secara ringkas namun tuntas masing-masing di antara persinggahan ini.

Yang pertama adalah al yaqzhah, artinya kegalauan hati setelah terjaga dari tidur yang lelap. Hal ini sangat penting dan membantu pembenahan perilaku. Siapa yang merasakannya, berarti dia telah merasakan satu keberuntungan. Jika tidak, berarti dia tetap dicengkeram kelalaian.

Jika sudah tersadar, dia diberi bekal hasrat untuk memulai perjalanannya dan menuju persinggahannya yang pertama dan ke tempat dimana dia ditawan.

Jika perjalanan sudah dimulai, maka hati beralih ke persinggahan al azm, yaitu tekad yang bulat untuk melakukan perjalanan, siap menghadapi segala rintangan dan mencari penuntun yang dapat menghantarkan ke tujuan. Seberapa jauh seseorang memiliki kesadaran, maka sejauh itu pula tekadnya, dan seberapa jauh tekad yang dimilikinya, maka sejauh itu pula persiapan yang dilakukannya.

Jika sudah terjaga, maka dia memiliki al fikrah, yaitu pandangan hati yang hanya tertuju ke sesuatu yang hendak dicari, sekalipun dia belum memiliki gambaran jalan yang menghantarkannya ke sana. Jika fikrah-nya sudah benar, tentu dia memiliki al bashirah, yaitu cahaya di dalam hati untuk melihat janji dan ancaman, surga dan neraka, apa yang telah dijanjikan Allah terhadap para wali dan musuh-Nya. Dengan semua ini seakan-akan dia bisa melihat apa yang terjadi pada hari akhirat, semua orang dibangkitkan dari kuburnya, para malaikat didatangkan, para nabi, syuhada dan shalihin dihadirkan, jembatan dibentangkan, musuh-musuh dikumpulkan, api neraka dikobarkan. Di dalam hatinya seakan ada mata yang dapat melihat berbagai kejadian akhirat, dan dia juga melihat bagaimana keduniaan ini yang begitu cepat berlalu.

Al Bashirah merupakan cahaya yang disusupkan Allah ke dalam hati, sehingga seseorang bisa melihat hakikat pengabaran para rasul, seakanakan dia bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri. Dengan begitu dia bisa mengambil manfaat dari seruan para rasul dan melihat adanya bahaya yang mengancamnya jika dia bertentangan dengan mereka.

Al Bashirah itu didasarkan pada tiga derajat, siapa yang dapat menyempurnakan tiga derajat ini, berarti dia dapat menyempurnakan bashirah- nya, yaitu: Pertama, bashirah tentang asma’ dan sifat. Kedua, bashirah tentang perintah dan larangan. Ketiga, bashirah tentang janji dan ancaman.

Bashirah tentang asma’ dan sifat-sifat Allah, artinya imanmu tidak dipengaruhi syubhat yang bertentangan dengan sifat-sifat yang diberikan Allah kepada Diri-Nya sendiri dan juga yang disifati Rasul-Nya. Sebab syubhat dalam hal ini sama dengan keragu-raguan tentang wujud Allah.

Tingkatan bashirah yang dimiliki masing-masing manusia berbeda-beda, tergantung dari tingkat pengetahuan mereka tentang pengabaran Nabawi dan pemahamannya serta ilmu tentang syubhat yang bertentangan dengan hakikat-hakikatnya. Orang yang paling lemah bashirah-nya adalah para teolog batil yang biasanya suka mencela orang-orang salaf, karena mereka tidak mengetahui nash dan tidak memahaminya. Syubhat mengendap di dalam hati mereka. Orang-orang awam yang bukan termasuk orang-orang Mukmin yang sesungguhnya, justru lebih sempurna daripada para teolog itu, lebih kuat imannya, lebih mempercayai wahyu dan lebih tunduk kepada kebenaran.

Bashirah tentang perintah dan larangan artinya membebaskan hati dari penentangan karena melakukan ta’wil, taqlid atau mengikuti hawa nafsu, sehingga di dalam hatinya tidak ada syubhat yang bertentangan dengan ilmu tentang perintah dan larangan Allah, tidak pula dikuasai nafsu yang menghalanginya untuk melaksanakan perintah dan larangan itu, tidak pula mengikuti taqlid yang membuatnya merasa tidak perlu berusaha menggali hukum dari nash.

Bashirah tentang janji dan ancaman artinya engkau mempersaksi-kan penanganan Allah terhadap apa pun yang dilakukan setiap manusia, yang baik maupun yang buruk, di dunia maupun di akhirat. Ini merupakan konsekuensi Ilahiyah dan Rububiyah-Nya, keadilan dan hikmah-Nya.

Keraguan tentang hal ini sama dengan keraguan tentang Uluhiyah dan rububiyah-Nya, bahkan keraguan tentang wujud-Nya.

Orang yang berada di persinggahan bashirah mempunyai alternatif jalan lain, yaitu bashirah yang membebaskannya dari kebingungan. Jika seseorang sudah sadar dan memiliki bashirah, maka dia akan mengambil maksud dan kehendak yang tulus, menghimpun maksud dan niat untuk melakukan perjalanan kepada Allah. Setelah tahu dan yakin tentang hal ini, maka dia mulai melakukan perjalanan, membawa bekal menuju hari datangnya pembalasan, membebaskan diri dari rintangan yang menghambat perjalanannya. Maksud bisa dibagi menjadi tiga tingkatan:

Pertama, maksud yang membangkitkan keteguhan dan membebaskan diri dari keragu-raguan.
Kedua, maksud yang karenanya semua rintangan akan disingkirkan dan semua penghalang akan dihadapi.

Ketiga, maksud yang mendorongnya mencari pengetahuan dan mau mendengarkan nasihat dari orang yang lebih bijaksana.

Jika maksud sudah kuat, maka ia berubah menjadi tekad yang bulat, lalu mengharuskannya memulai perjalanan sambil disertai tawakal kepada Allah. Firman-Nya, “Kemudian apabila kamu sudah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (Ali Imran: 159).

Al Azm artinya maksud yang bulat dan yang mendorong munculnya aksi. Karena itu ada yang menganggap tekad yang bulat ini merupakan permulaan aksi untuk mencari maksud dan tujuan. Pada hakikatnya tekad ini merupakan kekuatan kehendak yang sudah berhimpun untuk mengadakan aksi.
Tekad ini ada dua macam:

Pertama, tekad orang yang hendak mengayunkan langkah melakukan perjalanan atau bisa juga disebut permulaan perjalanan.

Kedua, tekad saat berada di dalam perjalanan. Hal ini sifatnya lebih khusus lagi.
Pada etape ini seseorang perlu membedakan antara apa yang menjadi haknya dan kewajibannya, agar dia tahu apa yang memang menjadi bagiannya dan apa yang menjadi kewajibannya, yaitu muhasabah sebelum taubat. Tetapi pengarang Manazilus-Sa’irin menempatkan taubat sebelum muhasabah.
Yang perlu diketahui bahwa persinggahan ini jangan disamakan dengan persinggahan menurut kenyataan, dimana seseorang berada di satu tempat itu lalu meninggalkannya begitu saja untuk berpindah ke tempat berikutnya. Tentunya engkau juga tahu bahwa al yaqzhah (kesadaran) harus selalu menyertai dan tidak bisa ditinggalkan, di mana pun tempatnya, begitu pula al bashirah, al iradah, al azm, maupun at taubah.

Seperti wajarnya taubat yang ada di akhir, maka ia juga harus ada di permulaannya dan bahkan ia harus ada di mana-mana. Memang Allah menjadikan taubat ini sebagai bagian akhir dari keadaan hamba-hamba-Nya yang khusus, seperti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabat beliau dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Allah befirman berkaitan dengan perang Tabuk, peperangan terakhir yang mereka lakukan, dan sekaligus merupakan perjalanan yang paling berat bagi mereka, “SesungguhnyaAllah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu.” (At-Taubah: 117).

sumber : fimadani

Lengkapnya Klik DISINI

Tarbiyah dalam Amal Thullabi: Karakteristik Tarbiyah Mahasiswa

Musthafa Muhammad ThahanTarbiyah adalah aktivitas manusia yang memiliki titik tolak sendiri, dan mempunyai kandungan kemasyarakatan. Ia adalah jalan hidup bahkan hidup itu sendiri. Semenjak Adam – alaihis salam — manusia telah melakukan aktivitas tarbiyah terhadap anak-anak dan mereka yang masih dalam usia pertumbuhan. Agar dapat membantu mereka untuk berkembang sehat di masa hidu p mereka kini dan masa datang, dan agar dapat dipenuhi segala kebutuhan mereka, baik kebu tuhan perkembangan fisik, ruhiyyah, perasaan maupun perilaku. Juga u ntuk mempersiapkan masa depan mereka sebagai individu maupun anggota masyarakat.

Tarbiyah menjadi sangat penting karena ia dapat mengubah seorang anak manusia dari hanya sekedar makhluk menjadi insan yang memiliki kepribadian berbeda.

Tarbiyah yang Kita Inginkan 

Jika tarbiyah memiliki urgensi demikian penting, maka kita patut bertanya: “Seperti apakah tarbiyah yang kita inginkan?”

Dunia Islam telah bertahun-tahun mencoba manhaj tarbiyah yang diimpor dari timur maupun barat, namun tak sekalipun menghasilkan generasi yang sholih, tak pernah mengangkat kondisi ummat dan menyelamatkannya dari kejatuhan.

Oleh karena itu wajib bagi Dunia Islam untuk kembali ke sumbernya yang orisinil, jernih dan cemerlang. Dialah Manhaj Allah dan Metode Rasul-Nya yang kekal dan sesuai dengan segala tempat dan zaman. Di sini muncul sebuah pertanyaan: “Apakah keistimewaan Tarbiyah Islamiyah dibanding yang lain?”

Keistimewaan Tarbiyah Islamiyyah 

1. Tarbiyah Insaniyyah
Diantara keistimewaan Tarbiyah Islamiyyah yang bersumber dari tashawwur (persepsi) Islam yang jelas terhadap manusia, alam dan kehidupan, adalah keberadaannya sebagai Tarbiyah Insaniyyah. Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- telah menjelaskan rantai hu bungan tarbiyah ini dengan sabdanya: “Perumpamaanku dan nabi-nabi sebelum ku seperti seorang laki-lakiyang membangun sebuah rumah yang baik, lalu ia menghias dan memperindahnya kecuali sebuah batu bata di sudut rumah itu. Kemudian orang-orang mengelilinginya dan mengaguminya sambil berkata: “Mengapa tidak diletakkan batu bata di sini?” Akulah batu bata itu dan akulah penutup para nabi.” (HR. Mu slim).

Ini adalah risalah sepanjang zaman, untuk setiap tempat, bersumber dari Allah (rabbaniyyah), dan memiliki kandungan kemanusiaan. Ketika metode Tarbiyah lain bertujuan mempersiapkan warga negara yang baik dan penuh dengan fanatisme, maka tarbiyah islamiyyah menjamin terbentuknya manu sia yang baik dan mampu menjaga kemanusiaannya.

2. Tarbiyah yang lengkap dan seimbang
Berbagai manhaj pendidikan berusaha memperbaiki sisi tertentu kehidupan manusia, ada yang memfokuskan pada jasadnya, akalnya, atau jiwanya saja. Hanya Islam yang mampu memperbaiki jiwa manusia, akal dan jasadnya secara seimbang dan menjadi satu kesatuan.

3. Tarbiyah yang realistis
Tarbiyah Islamiyyah mendidik manusia dengan realitas kemanusiannya, ia bukan malaikat, bukan pula hewan. Islam mengenal kelemahan manusia di hadapan bujukan dan rayuan, mengetahui kelemahannya menjalankan beban kehidupan.

4. Tarbiyah ‘Amaliyyah
Dengan Tarbiyah, kata-kata berubah menjadi amal atau akhlaq utama atau pembinaan perilaku sesuai dengan eksistensi manusia yang diinginkan oleh Islam.

5. Tarbiyah yang terus-menerus sepanjang hayat dari buaian sampai liang lahat.

6. Tarbiyah yang bertahap, karena tidak mungkin mengubah manusia dari akhlaq lamanya yang menyeleweng, menjadi akhlaq baru yang lurus sekejap mata.

7. Tarbiyah Akhlaqiyyah, karena akhlaq dalam tarbiyah Islamiyyah bukanlah barang dagangan atau kepentingan, tetapi akhlaq adalah keseluruhan karakter mulia yang wajib dimiliki manusia, yang membedakannya dari makhluk lain dalam berpikir dan berperilaku.

8. Tarbiyah yang menghidupkan hati nurani. Hati nurani adalah penggerak utama pada diri manusia menuju keutamaan, dan penghalang dari kehinaan. Untuk itu tarbiyah islamiyyah berusaha menghidupkan hati yang dapat merasakan pengawasan Allah sebelum pengawasan makhluk-Nya, mengharapkan balasan akhirat sebelum balasan dunia, dan takut kepada siksa Allah di dunia dan akhirat sebelum memandang hukuman dunia. Dengan demikian, semua perbuatan pemilik hati ini akan lurus baik ketika sendiri atau di depan umum, dan menjadi anggota masyarakat yang baik sekaligus melakukan perbaikan.

9. Tarbiyah yang dapat mengapresiasikan keindahan Apresiasi keindahan adalah keistimewaan manusia yang sangat diperhatikan oleh tarbiyah islamiyyah. Sasarannya agar manusia dapat merasakan dan mengapresiasikan keindahan lingkungannya meskipun dari kejauhan dan dan berbagai tingkatannya.

Perangkat-perangkat Tarbiyah Pelajar/Mahasiswa 

Banyak perangkat yang mungkin digunakan dalam tarbiyah thullabiyyah untu k merealisasikan sasaran praktis tarbiyah dan integralitasnya :

1. Pengajar dan Guru Besar (Ustadz)

Ia adalah seorang mumajjih, mursyid, dan guru sebagaimana ia adalah murobbi dan qudwah. Di atas pundaknyalah tanggung jawab besar tarbiyah, merealisasikan sasaran tarbiyah, dan menyempurnakan kerja-kerja pengajaran. Kepadanyalah pandangan dan sorotan mata para siswa diarahkan, telinga mereka mendengar, dan hati mereka memahami. Sekali lagi guru adalah qudwah dalam ucapan, amal, penampilan dan keadaannya.

2. Pemimpin-pemimpin Amal Thullabi

Pengaruh pemimpin Amal Thullabi sangat besar dalam amal tarbawi seperti peran guru dan ustadz, karena pandangan mata para siswa juga terarah kepada mereka, menjadikan mereka sebagai contoh dan mengikuti arahan mereka. Oleh karena itu para aktivis dan pemimpin Amal Thullabi harus terlibat aktif dalam amal tarbawi dengan perbuatan sebelum perkataan.

3. Manhaj Tarbawi

Masih banyak kekurangan dalam manhaj tarbawi yang terjadi di berbagai lembaga pendidikan di dunia Islam. Kita menyaksikan lembaga-lembaga itu begitu memperhatikan prestasi ilmiah tetapi meninggalkan proses pendidikan untuk mencetak orang yang mampu berijtihad secara fardi dan belajar mandiri.

Oleh karena itu, aktivis Amal Thullabi harus melakukan kajian terhadap manhaj tarbawi, penerapannya di masyarakat, dan meletakkan langkah-langkah yang tepat untuk menjalankannya bagi seluru h pelajar/mahasiswa secara umum dan internal Amal Thullabi, serta terus memutabaah dan mengevaluasinya.

Manhaj tarbawi harus berangkat dari prinsip-prinsip Islam, memperhatikan adat masyarakat yang lurus, dan sesuai visi kita di masa depan. Manhaj tarbawi juga harus memperhatikan integralitas cakupannya, sehingga tidak meninggalkan satu sisipu n yang penting. Terakhir, manhaj tarbawi harus bersifat aplikatif, memadukan antara pendalaman teori dengan program amalinya.

4. Tarbiyah ‘Amaliyyah

Pentingnya tarbiyah amaliyyah sangat terlihat dalam kehidupan mahasiswa. Karena tarbiyah amaliyyah-lah yang mampu menjawab tantangan dunia mahasiswa yang dinamis, enerjik, selalu baru dan setiap hari terjadi banyak peristiwa dan aktivitas. Dengan demikian nilai-nilai yang tertanam akan semakin kuat, tarbiyah makin mampu mengangkat semangat, dan mengokohkan pola pikir dalam menghadapi peristiwa di lapangan.

Sehingga buah dan pengaruh tarbiyah pada diri mahasiswa semakin besar dan dirasakan.

sumber : hasanalbanna
Lengkapnya Klik DISINI

Ramadhan, Saatnya ‘Naik Kelas’

Alhamdulillah ya Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam,  sesuatu banget! Akhirnya kita bertemu lagi dengan bulan suci Ramadhan. Wah, nggak terkira deh senangnya karena Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah masih memberikan kita kesempatan untuk mendulang pahala yang banyak dari amalan-amalan shalih yang kita lakukan. Emm.. Kalo kamu sendiri hepi juga nggak nih? Eits! Jangan-jangan malah ada yang manyun? Hayo, ngaku! Hehe… bukan nuduh tetapi nuding (ooppss…)

Sobat gaulislam, memang pada kenyataannya nggak semua orang seneng loh bulan puasa kembali menyapa. Secara gitu loh, selama bulan puasa si abang bakso langganan nggak akan lewat di tengah bolong saat perutmu keroncongan. Atau wakuncar (waktu berkunjung pacar) ditiadakan dengan alasan menghormati bulan puasa (nggak nyambung, bilang aja ngirit bensin karena BBM naik, hehe!). dan yang paling penting puasanya itu loh, nggak nahan, bikin kangen ama abang siomay, abang cendol, abang.…huss, nyebut! (hahaha…). Orang yang bertakwa nggak akan rempong kayak gitu. Sebab, dia paham bahwasannya puasa itu menunjukkan ketakwaannya pada Allah. Simak nih firman Allah Ta’ala dalam surat al-Baqarah ayat 183 (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa

Keutamaan Ramadhan

Udahlah jangan mikirin laper ama dahagamu aja, Sob! Namanya juga puasa ya pasti begitu. Iya nggak sih? Jangan juga kamu malah keingetan menu buka puasa yang udah kamu incer. Nah, tetapi kudu diarahkan supaya inget aja sama keutamaan Ramadhan yang bakal bikin tabungan pahalamu melangit. Wuih, bayangin aja nih, kalo kamu ngerjain amalan sunah seperti sedekah, tahajud, tarawih dan sejenisnya, akan dihitung sebagai amalan wajib yang kadar pahalanya tentu lebih besar. Belum lagi kalo kita ngerjain amalan wajib seperti shalat fardhu dan menutup aurat, dihitung tujuh puluh kali lipat tuh. Mantap banget kan?

Bro en Sis, Ramadhan juga jadi waktu yang tepat buat kamu yang ingin ngelunturin dosa-dosa yang sudah kita lakukan. Nggak percaya? Simak nih sabda Rasulullah saw.: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala (keridhoan) Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu”. (HR Bukhari)

Bro en Sis, Ramadhan juga merupakan bulan kesabaran. Sabar dalam menahan hal-hal yang bisa membatalkan dan membuat cacat puasamu. Inget lho, kalo kesabaran itu balasannya surga. Ummh, so sweet ya? Oya, jangat pelit juga sama makanan. Coz, siapa aja yang ngasih makanan untuk berbuka dengan ikhlas kepada orang yang berpuasa, maka dosa-dosamu pasti diampuni, bisa selamat dari api neraka dan dapet pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa itu. Nggak hanya itu, malaikat akan memintakan ampunan bagi orang yang berpuasa selama berpuasa hingga berbuka. Dan, Allah pun memberikan ampunan untuk mereka di akhir malam bulan Ramadhan. Baginda Rasululullah saw. juga bersabda: “Jika memasuki bulan Ramadhan, maka semua pintu langit dibuka, dan pintu-pintu neraka Jahannam ditutup, sementara syaitan dibelenggu.” (HR al-Bukhari, Muslim, an-Nasai dan Ibn Hibban). Subhanallah, begitu besar ya kasih Allah dengan menurunkan bulan Ramadhan ini?

Oya, daftar keutamaan tadi belum semua Sob. Masih ada lagi nih keutamaan Ramadhan. Yup, Ramadhan juga disebut syahr al-Qur’an (bulan al-Quran). Soalnya nih, al-Quran kan turun pertama kali di bulan ini. Plus, Allah telah menjadikan salah satu malamnya, sebagai Lailatul Qadr, yaitu satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Tapi tentunya nggak gratisan, Sob. Perlu ibadah ekstra supaya kita bisa meraihnya. So, genjot deh ibadahmu di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Semoga kamu dapet tahun ini. Insya Allah. Semangat ya!

Takwa vs hawa nafsu

Bro en Sis rahimakumullah, ‘penggila’ gaulislam, banyak banget keutamaan-keutamaan Ramadhan. Namun, kita bisa saja tidak mendapatkannya karena dihalangi oleh hawa nafsu. Memang sih setan dibelenggu selama Ramadhan, tapi inget Sob, masih ada satu lagi musuh yang dibiarkan oleh Allah menggoda puasa kita. Yup, itulah hawa nafsu!

Hawa nafsu itu memang bawaan lahir bro en sis. Artinya setiap manusia pasti punya hawa nafsu. Bayangin aja, kalo nggak ada nafsu makan pasti kita nggak bakalan mau makan. Sama juga kalo kita nggak punya keinginan untuk menyukai lawan jenis. Sepertinya–walaupun nggak boleh mengandai-andai)–sejarah manusia hanya mentok pada Adam dan Hawa saja. So, sebenernya hawa nafsu itu yang sengaja Allah ciptakan untuk manusia, sebagai pelengkap untuk memenuhi kebutuhan jasmani  dan naluri pada manusia.

Meski demikian, hawa nafsu punya kecenderungan untuk membawa kita kepada perbuatan maksiat ataupun malas melakukan ibadah lho. Sebagai contoh, harusnya bulan Ramadhan kita puasa, tapi dorongan hawa nafsu yang begitu kuat karena ngiler gara-gara lihat jus mangga, bisa mendorong kita untuk nyeruput jus, walhasil batal deh puasa kita. Mulut yang harusnya bicara hanya yang baik-baik saja, eh pas diajak gosipin orang ngalor ngidul sekadar untuk ngabuburit doangan. Menyukai lawan jenis memang fitrah, tapi hawa nafsu merayu kita untuk melampiaskannya dengan cara pacaran, berzina bahkan memperkosa. Naudzubillahi min dzalik! 

Bener lho. Lagi-lagi hawa nafsulah yang mengarahkan kita untuk lebih memilih nonton TV karena ada artis yang kita idolakan daripada shalat tarawih ataupun tadarus. Jadi, Yuk kita kendalikan hawa nafsu agar perbuatan kita selalu berada dalam jalan yang sesuai dengan syariat Allah! Nggak gampang, tapi yakinlah kalo kamu bisa!

Sobat gaulislam, hawa nafsu itu bisa takluk alias tunduk patuh sama takwa lho. Jadi, kalo kamu takwa, pastinya hawa nafsu akan mempunyai kecenderungan untuk mendorong pemenuhan-pemenuhan manusia ke arah amal shalih dan menekan perbuatan maksiat. Misalnya saja, kalo kamu takwa, memenuhi keinginan manusia untuk saling mencintai hanya dalam bingkai pernikahan. Ketakwaan akan mengempiskan keinginan kita untuk marah-marah nggak jelas. Takwa pula yang akan melakukan perlawanan pada hawa nafsu agar bisa bertahan menahan lapar dan haus sampai azan magrib tiba.

Nah, puasa adalah salah satu amalan shalih yang dapat meningkatkan ketakwaan. Selain itu, di bulan Ramadhan ini, kita digembleng abis selama sebulan agar derajat takwa kita benar-benar bisa meroket dengan menjalankan ibadah puasa. Belum lagi kalo kita mengejar keutamaan-keutamaan Ramadhan sekuat tenaga, pantang menyerah dan sampai titik darah penghabisan (lebay!). So, pasti kita bisa menjadi orang yang sukses meningkatkan ketakwaan dari tahun ke tahun. Untuk apa? Tentunya untuk lebih mendekatkan diri dengan Allah, dan di akhirat kita bisa dikumpulkan bersama para nabi-nabi Allah, Rasulullah saw., dan para sahabatnya, sekaligus mendapatkan posisi yang mulia di sisi Allah. Amiiin!

‘Naik Kelas’ setelah Ramadhan
Hehehe, iya dong, naik kelas bukan istilah yang ada di dunia sekolahan aja. Ramadhan merupakan momen yang tepat untuk memperbaiki kualitas keimanan dan kepribadian kita. Puasa dan amalan shalih yang telah kita lakukan pastinya dapat derajat ketakwaan kita, tapi itu kalo kamu bisa mengalahkan hawa nafsu yang setiap hari merongrong kamu selama bulan Ramadhan. Ibarat soal-soal UKK (Ujian Kenaikan Kelas) yang mesti dijawab plus bikin ngebul kepalamu, hawa nafsu juga merupakan ujianmu yang terberat. So, dijamin, kalo kamu bisa melewatinya dengan baik, berarti kamu berhasil memperbaiki diri dan berhak mendapatkan “reward” berupa semua keutamaan Ramadhan dan ‘naik kelas’ tentunya.

Artinya nih, kita menjadi pemenang dalam perlombaan meraih kebaikan di saat yang lain mendapatkan nilai jeblok atau mungkin hanya mendapatkan lapar dan haus doang selama Ramadhan. Pilih mana, Bro en Sis? Ya yang naik kelas lah! Ayo, semangat terus selama Ramadhan! Polkan ibadah yang wajib, geber ibadah sunah, perbanyak sedekah dan dzikir, sikat maksiat, tutup aurat, stop pacaran, semarakkan Ramdhan dengan menuntut ilmu Islam, gencarkan dakwah, untuk apa? ‘Naik kelas’ jadi orang yang bertakwa. Pinteeeer! Hehehe! [Junnie | Twitter @junnieNH]

sumber : http://www.gaulislam.com/ramadhan-saatnya-naik-kelas
Lengkapnya Klik DISINI

Cinta Sejati: Suami Berjalan Kaki Demi Temukan Ginjal Untuk Istrinya

Cinta Sejati: Suami Berjalan Kaki Demi Temukan Ginjal Untuk Istrinya

Bagaimana bila orang yang Anda cintai divonis sakit keras dan umurnya tak akan lama lagi? Pasti Anda akan melakukan apapun agar ia bisa sembuh kembali dan bersama Anda lebih lama.

Sama halnya seperti seorang kakek berusia 78 tahun dari Carolina Selatan yang bernama Larry Swilling ini. Ia memiliki seorang istri berusia 47 tahun bernama Jimmie Sue yang divonis terkena gagal ginjal tahun lalu. Maka di suatu hari di serambi mereka, Larry menggenggam tangan istrinya dan berkata, "Aku akan mendapatkan ginjal untukmu."


Larry tidak hanya menggantungkan nasib istrinya pada pertolongan medis. Pria ini bahkan berjalan menyusuri jalanan sambil mengalungkan papan bertuliskan, 'Dibutuhkan Ginjal'. Tekadnya begitu kuat untuk bisa menyelamatkan sang istri dari penyakit mematikan itu. Apalagi, Sue hanya memiliki satu ginjal di dalam tubuhnya.

Larry tahu bahwa mendapatkan ginjal yang cocok untuk istrinya tidaklah mudah. Sekalipun ada, belum tentu orang tersebut mau memberinya ginjal yang sangat berharga untuk nyawa istrinya itu. Sudah lebih dari setengah tahun Larry mencari ginjal yang tepat untuk istri yang dipanggilnya, 'my heart' itu.


Pria ini memang sangat mencintai istrinya. Ia bahkan berurai air mata saat menjelaskan bahwa bagaimanapun ia akan mengusahakan ginjal untuk istrinya agar bisa sembuh. "Aku memohon-mohon demi sebuah ginjal. Aku akan melakukan apapun, tapi aku membutuhkan ginjal" isaknya. Ia sering mendapatkan telepon dari penjuru dunia seperti Mesir, Swedia dan negara lainnya. Namun sayang, belum ada yang cocok untuk Sue.

Oleh karena itu pria ini memutuskan untuk berjalan kaki di sepanjang kota ia tinggal sambil mengalungkan papan tersebut di dada dan punggungnya. Ia tidak mau melewatkan setiap meter dan setiap orang yang ia temui karena ia tahu dengan tekad yang kuat, harapan kesembuhan untuk sang istri pasti ada.



Dapatkah Anda membayangkan seorang pria yang sudah tua berjalan terengah-engah di bawah terik matahari sambil berpenampilan demikian karena sebegitu cinta dan inginnya dia mendapatkan ginjal bagi istrinya? Sebuah hal yang sulit dilakukan, namun ia tetap melakukannya.

Larry tak peduli orang berkata apa, hanya demi bisa selalu bisa bersama dengan istrinya, "Aku memang lelah, namun aku akan terus melakukan ini." Tak ada yang sia-sia dari apa yang dilakukannya, semua karena didasari oleh cinta yang tulus dan sejati.
Bagaimana bila orang yang Anda cintai divonis sakit keras dan umurnya tak akan lama lagi? Pasti Anda akan melakukan apapun agar ia bisa sembuh kembali dan bersama Anda lebih lama.

Sama halnya seperti seorang kakek berusia 78 tahun dari Carolina Selatan yang bernama Larry Swilling ini. Ia memiliki seorang istri berusia 47 tahun bernama Jimmie Sue yang divonis terkena gagal ginjal tahun lalu. Maka di suatu hari di serambi mereka, Larry menggenggam tangan istrinya dan berkata, "Aku akan mendapatkan ginjal untukmu."

Larry tidak hanya menggantungkan nasib istrinya pada pertolongan medis. Pria ini bahkan berjalan menyusuri jalanan sambil mengalungkan papan bertuliskan, 'Dibutuhkan Ginjal'. Tekadnya begitu kuat untuk bisa menyelamatkan sang istri dari penyakit mematikan itu. Apalagi, Sue hanya memiliki satu ginjal di dalam tubuhnya.

Larry tahu bahwa mendapatkan ginjal yang cocok untuk istrinya tidaklah mudah. Sekalipun ada, belum tentu orang tersebut mau memberinya ginjal yang sangat berharga untuk nyawa istrinya itu. Sudah lebih dari setengah tahun Larry mencari ginjal yang tepat untuk istri yang dipanggilnya, 'my heart' itu.

Pria ini memang sangat mencintai istrinya. Ia bahkan berurai air mata saat menjelaskan bahwa bagaimanapun ia akan mengusahakan ginjal untuk istrinya agar bisa sembuh. "Aku memohon-mohon demi sebuah ginjal. Aku akan melakukan apapun, tapi aku membutuhkan ginjal" isaknya. Ia sering mendapatkan telepon dari penjuru dunia seperti Mesir, Swedia dan negara lainnya. Namun sayang, belum ada yang cocok untuk Sue.

Oleh karena itu pria ini memutuskan untuk berjalan kaki di sepanjang kota ia tinggal sambil mengalungkan papan tersebut di dada dan punggungnya. Ia tidak mau melewatkan setiap meter dan setiap orang yang ia temui karena ia tahu dengan tekad yang kuat, harapan kesembuhan untuk sang istri pasti ada.

Dapatkah Anda membayangkan seorang pria yang sudah tua berjalan terengah-engah di bawah terik matahari sambil berpenampilan demikian karena sebegitu cinta dan inginnya dia mendapatkan ginjal bagi istrinya? Sebuah hal yang sulit dilakukan, namun ia tetap melakukannya.

Larry tak peduli orang berkata apa, hanya demi bisa selalu bisa bersama dengan istrinya, "Aku memang lelah, namun aku akan terus melakukan ini." Tak ada yang sia-sia dari apa yang dilakukannya, semua karena didasari oleh cinta yang tulus dan sejati.
sumber : facebook

Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......