Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

Kisah ‘Abdurrahman bin ‘Auf Memasuki Surga dengan Merangkak

Kisah ‘Abdurrahman bin ‘Auf Memasuki Surga dengan Merangkak
Sejumlah mubaligh, sufi, dan penulis kadangkala menceritakan hadits tentang kisah ‘Abdurrahman bin ‘Auf yang memasuki surga dengan merangkak dikarenakan terlalu banyak memiliki kekayaan. Biasanya kisah ini dipaparkan saat membahas tentang keutamaan kemiskinan atas kekayaan dan kehidupan yang zuhud.

Bagaimanakah sebenarnya kisah tentang veteran Perang Badar tersebut? Mari kita simak.

Matan Hadits
Ketika ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha sedang berada di rumahnya, tiba tiba terdengar olehnya suara yang mengguncangkan Madinah. ‘Aisyah pun berkata, “Suara apa itu?”

Orang orang menjawab, “Itu suara kafilah dagang ‘Abdurrahman bin ‘Auf yang baru datang dari Syam sebanyak tujuh ratus unta.”

‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata: Adapun aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Aku melihat ‘Abdurrahman bin ‘Auf memasuki surga dengan merangkak.”

Ucapan itu sampai ke telinga ‘Abdurrahman bin ‘Auf, lalu ‘Abdurrahman bin ‘Auf mendatangi ‘Aisyah untuk menanyakan hal itu. ‘Aisyah pun menceritakan hadits tersebut.

‘Abdurrahman bin ‘Auf berkata, “Sesungguhnya kupersaksikan kepadamu, bahwa semua unta ini beserta beban yang dibawanya, juga semua pelana dan sekedupnya, aku berikan untuk perjuangan di jalan Allah.”

Dan dalam riwayat lain, ‘Abdurrahman bin ‘Auf berkata, “Seandainya aku mampu, niscaya kumasuki surga dengan berjalan.” Lalu dia pun memberikan semua unta beserta pelana pelana dan muatannya untuk perjuangan di jalan Allah. Dan itu sebanyak tujuh ratus ekor unta yang suaranya mengguncangkan Madinah.

Takhrij Hadits
Hadits yang datang membawa kisah ini dikeluarkan oleh Ahmad di kitab Musnad (1/115; 24886), Ath Thabarani di kitab Al Mu’jam (1/129; 264), Abu Nu’aim di kitab Ma’rifah Ash Shahabah (1/384) dan di kitab Al Hilyah (1/98), Ibn Al Jauzi di kitab Al Maudhu’at (2/13); semuanya dari jalan ‘Umarah bin Zadzan dari Tsabit al-Bunani dari Anas bin Malik.

Pendapat Para Muhaddits
Al Hafizh Ibn Hajar Al Asqalani menyebutkan ‘Umarah bin Zadzan di kitab at-Tahdzib (7/365), dan beliau mengatakan:
  1. Telah berkata Al Atsram dari Ahmad, “Yang diriwayatkan dari Tsabit dari Anas adalah hadits-hadits mungkar.”
  2. Dan berkata Al Ajurri dari Abu Dawud, “Laisa bi dzaka.”
  3. Dan As Saji berkata, “Padanya terdapat kelemahan, tidak ada apa-apanya dan tidak kuat dalam hadits.”
Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani berkata  di kitab al-Qaul al-Musaddad (halaman 25), “Aku melihatnya tidak meluaskan pembicaraan atas kisah ini, maka cukuplah bagi kita persaksian Imam Ahmad bahwa kisah itu dusta. Lebih utama kita katakan, “Kisah ini termasuk di antara hadits-hadits yang diperintahkan oleh Imam Ahmad untuk disingkirkan, bisa jadi dari yang seharusnya disingkirkan itu tertinggal karena lupa atau bisa jadi sebagian lagi dari yang (ditambahkan) oleh ‘Abdullah (bin Ahmad bin Hanbal) dan luput disingkirkan, Wallahu a’lamu.”

Imam Ad Daruquthni menyebutkan ‘Umarah bin Zadzan di kitab Adh Dhu’afa wa Al Matrukin (382) seraya mengatakan, “’Umarah bin Zadzan Ash Shidalani, orang Bashrah, dia meriwayatkan dari Tsabit Al Bunani dan Abu Ghalib lalu memalsukannya.”
Imam Ibnu Al Jauzi di kitab Al Maudhu’at (2/13) menulis:
  1. Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Hadits ini dusta dan mungkar.” Dia berkata, “’Umarah bin Zadzan tidak bisa dijadikan hujjah.”
  2. Imam Abu Hatim Ar Razi berkata, “’Umarah bin Zadzan tidak bisa dijadikan hujjah.”
  3. Al Jarah bin Minhal meriwayatkan dengan sanad miliknya dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Wahai Ibn ‘Auf, sesunggunya kamu termasuk kalangan orang kaya, dan sesungguhnya kamu tidak memasuki surga kecuali dengan merayap. Maka berikan pinjaman untuk Rabb-mu (dari hartamu), niscaya Allah akan melepaskan kedua kakimu (hingga bisa berjalan).” Imam An Nasa’i berkata, “Hadits ini palsu. Al arah bin Minhal matruk al hadits.” Yahya berkata, “Hadits Al Jarah tidak ada apa-apanya.” Ibn Al Madini berkata, “Haditsnya jangan ditulis.” Ibn Hibban berkata, “Dia biasa berdusta.” Ad-Daruquthni berkata, “Ibnu Ishaq meriwayatkan darinya lalu membalikkan namanya menjadi Minhal bin Al Jarah, dan dia itu matruk.”
Imam Ibn Al Jauzi berkata: “Hadits bathil semisal ini terkait dengan kepandiran orang-orang yang zuhud. Mereka memandang bahwa harta itu merupakan penghalang dari kesegeraan menuju kebaikan. Mereka juga mengatakan, “Jika Ibn ‘Auf memasuki surga sambil merayap dengan sebab hartanya, maka itu sudah cukup menjadi alasan tentang ketercelaan harta.” Padahal hadits ini tidaklah shahih, dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf –shahabat yang telah dipersaksikan baginya surga- terlepas dari (anggapan) bahwa dia terhalang oleh hartanya dari kesegeraan (menuju surga), karena mengumpulkan harta itu memang mubah, yang tercela itu adalah cara mendapatkannya yang tidak benar dan tidak mengeluarkan kewajiban atas harta itu di dalamnya, sedangkan ‘Abdurrahman bin ‘Auf itu terlepas dari kedua hal itu. 

Thalhah pun telah mewariskan emas, demikian juga az-Zubair dan para shahabat lain. Jika mereka mengetahui bahwa mengumpulkan harta itu buruk, niscaya mereka akan mengeluarkan semuanya. Dan berapa banyak tukang cerita yang menyebarluaskan hadits semacam ini yang menganjurkan kepada kefakiran dan mencela kekayaan, maka semoga Allah membanyakkan ulama yang mengetahui yang shahih dan memahami ushul.”

Kesimpulan
Hadits tentang shahabat ‘Abdurahman bin ‘Auf Radhiyallahu ‘Anhu adalah hadits palsu yang ditinggalkan. Kisahnya tidak benar dan bertentangan dengan hadits shahih mengenai Ahli Badar.

Nabi bersabda, “Dia berperan serta dalam perang Badar. Siapa tahu bisa jadi Allah melongok kepada Ahli Badar, lalu berfirman, “Lakukanlah apa yang kalian suka karena Aku telah menganpuni kalian.””

sumber : fimadani.com
Lengkapnya Klik DISINI

Kerudung Bunda Maria Bertuliskan Lafaz Tahlil

Ternyata, kerudung yang dipakai Bunda Maria bertahtakan kaligrafi Arab kuno bertuliskan lafaz tahlil "Laa ilaaha illallah." Hal itu bisa dilihat di lukisan Bunda Maria dan bayi Yesus di Museum Louvre, Prancis. Hanum Salsabiela dan Rangga Almahendra yang pernah ke Museum Louvre memberikan kesaksian dalam bukunya 99 Cahaya di Langit Eropa (Menapak Jejak Islam di Eropa).

Mereka menuturkan, berkat bantuan Marion mereka bisa melihat lukisan yang menjadi bukti bahwa kerudung Bunda Maria bertahtakan kaligrafi Arab kuno bertuliskan, “Laa Ilaa ha Illallah”.

Selain menuliskan bukti kerudung Bunda Maria bertuliskan lafaz tahlil, Hanum dan suaminya juga membeberkan pengalaman spiritual mereka selama hidup tiga tahun di Wina, Austria.

Seperti dilansir Republika, Senin (10/6), menurut Hanum dan Rangga, menjadi pemeluk Islam yang menjadi minoritas di Eropa, mampu membuka cakrawala dan khazanahnya dalam menilai Benua Biru tersebut. Hingga pada akhirnya Hanum mengakui keindahan utama Eropa bukan terletak pada keelokan Menara Eiffel, Colloseum Roma, Tembok Berlin, Stadion sepak bola San Siro alias Giuseppe Meazza, maupun Konser Mozart. Melainkan tempat ziarah Islam, yakni kota di Eropa yang menyimpan jejak peradaban Islam yang mengandung sejuta misteri. [IK/Rpb]

Lengkapnya Klik DISINI

Sistem Pembinaan PKS, Penangkal Gerakan Radikal, Waspadalah!

ilustrasi

By: Nandang Burhanudin 

****

Seorang jamaah orangtua salah satu SMU di Bandung menelpon; "Assalamu'alaikum, pak Ustadz ... mohon maaf saya stress!" 

"Stress kenapa bu?" tanya saya. 

"Anak saya lulus SMU tahun ini. Enam bulan lalu minta sekolah ke LN (Eropa). Saya sudah titipkan uang 400 juta di tabungan dia. Setelah UN, anak uang raib stadz. Malah anak saya dihamili ....", si ibu terdiam dan saya dengar isakan tangis yang nampak tak bisa ia tahan. 

"Inna Lillaahi wa Innaa Ilaihi Rooji'uun ... kok bisa begitu bu. Bukannya putri ibu aktivis Rohis?", tanya saya dengan dada berdebar. 

"Iya pak ustadz. Saya dengar ia direkrut kumpulan remaja yang bernama Remaja Didikan Allah. Singkatannya RADIKAL. Saya pikir, itu Rohis binaan Tarbiyah! Setahu saya, gerakan Tarbiyah tidak seperti itu ...", ujarnya. 

"Oooh ... ndak mungkin bu. Gerakan Tarbiyah itu gak mungkin menguras tabungan. Apalagi mustahil sampai mencederai kehormatan diri, lebih-lebih menghamili!" tegas saya. 

"Iya ... saya teledor pak ustadz. Kurang perhatian pada anak saya ....", keluhnya. 

*** 

Tarbiyah tak bisa dipungkiri merupakan solusi paling cergas dalam menangani pelbagai aksi radikalisme dan penyimpangan atas nama Islam. Karena tarbiyah memiliki prinsip: 

1. Membina kaum muda-mudi Islam untuk memiliki pemahaman Islam yang syamil-mutakamil (universal dan integratif), tidak parsial, menyeimbangkan suasana fikir-dzikir kaum muda-mudi agar komprehensif memahami dan mengamalkan Islam. 

2. Tarbiyah jauh dari doktrin-doktrin takfir (mengkafirkan), tabdi' (membida'ah-bid'ahkan), tadyi'i (menganggap sia-sia orang lain). Jiwa yang terbina dalam bingkai tarbiyah, ia harus paham Islam yang bisa diejawantahkan dalam keshalihan ritual maupun sosial. Rajin shalat, ia pun semakin taat. Rajin dhuha, ia semakin berbakti kepada orang tua. Rajin tilawah, ia semakin hari semakin menjadi berkah bagi kehidupan. 

3. Tarbiyah bersih dari unsur-unsur pemaksaan, apalagi eksploitatif yang berbentuk materi. Tarbiyah sifatnya adalah eksploratif, menggali potensi terbaik dari setiap jiwa kaum muda-mudi untuk meraih prestasi yang dibanggakan. Sejelek-jeleknya orang yang tertarbiyah, ia mudah diingatkan. 

Jadi, sudah saatnya kita meneguhkan Cinta-Kerja-Harmoni. Karena jala-jala kesesatan dan penyimpangan dengan jubah Islam dan Syariah, teramat gesit bergerak! Tak ada lagi waktu untuk diam!

Sumber: Nandang Burhanudin,10: 27, 08/06/13
*)http://www.kabarpks.com/2013/06/sistem-pembinaan-pks-penangkal-gerakan.html
Lengkapnya Klik DISINI

Bunga Rampai Kedokteran Islam: Menghimpun Pemikiran yang Terserak

Bunga Rampai Kedokteran Islam:  Menghimpun Pemikiran yang Terserak
Menghimpun Pemikiran yang Terserak
Pengantar Buku “Bunga Rampai Kedokteran Islam”
Islamic Medical Association & Network of Indonesia (IMANI)
Perhimpunan Profesi Kesehatan Muslim Indonesia (PROKAMI)
Lebih dari setahun yang lalu kami memulai suatu kebiasaan yang kami anggap baik yaitu mengumpulkan tulisan. Melalui berbagai cara, sekian tulisan yang terserak hasil karya para dokter muslim berhasil dikumpulkan. Kisah para dokter selalu menarik untuk diceritakan mulai dari kisah klasik seperti The Doctor karya novelis Eric Segal sampai Team Medical Dragon karya mangaka Akira Nagai dan Taro Nogizaka. Muslim yang menggunakan kacamata Islam dalam kehidupannya sebagai dokter tentu memiliki aroma khas yang terasa dalam tulisan-tulisan ini.

Bukan kebetulan pula bila sebagian besar dari kami berasal dari satu almamater yang suatu ketika pernah memiliki suatu momen bersama namun saat ini terpencar di setiap penjuru mata angin dan dalam dimensi kehidupan yang berbeda menjalani takdirnya masing-masing. Tulisan-tulisan ini mengungkap isi fikir kami sebagai muslim dan dokter sekaligus. Buku ini memberikan kami kesempatan untuk melakukan reuni, suatu reuni pemikiran dalam kedokteran Islam.

Ruas pertama dalam buku ini bercerita tentang dilema, mimpi dan harapan. Melalui bagian ini kami bercermin dan melihat kembali apakah jalan yang kami tempuh saat ini memang jalan yang layak untuk seorang muslim. Dari laboratorium ke meja operasi, dan dari ruang praktek ke dalam benak, serta relung jiwa pasien.

Ruas kedua kami isi dengan tulisan yang memberi tuntunan untuk pelbagai masalah seperti problem rokok dan shaum Ramadhan. Kami juga menggali makna dari ilmu dan pengalaman yang tidak jarang mendorong proses deep thinking. Beberapa tulisan disajikan dalam bentuk hasil kunyahan atas ilmu yang tidak setiap orang mampu menimbanya. Pada ruas ketiga kami berusaha mendefinisikan kedokteran islam secara formal. Bagian ini adalah hasil pemikiran mengenai beberapa aspek dalam kedokteran islam seperti tinjauan historis, pelayanan kesehatan, pengobatan ala nabi serta peran ulama.

Terakhir, seperti juga kehidupan, dunia kami diwarnai perdebatan. Kedokteran Islam dipahami oleh banyak kepala dengan beragam pemikiran beserta cabang-cabang pandangannya. Ruas ini menjadi fokus keprihatinan kami karena banyak muslim tidak saja telah melaksanakan, juga telah menyebarluaskan sikap ekstrem yang dibalut semangat dakwah dan jihad. Sedemikian hingga kami melihat fenomena Eropa di abad kegelapan terjadi pada sebagian kecil komunitas muslim di abad kebangkitan Islam namun dengan konsekuensi yang dapat melumpuhkan generasi muslim. Ruas ini kami akhiri dengan doa lulusan dokter yang merangkum dan menggenggam.

Buku ini berusaha merangkum pemikiran yang terserak membentuk mozaik, aroma dan bunga rampai mengenai muslim, dokter dan kedokteran Islam. Satu hal yang kami sadari, kedokteran Islam, sebelum hal lainnya, adalah seorang dokter yang menggunakan Islam untuk memandang kehidupannya. Buku ini berharap menjadi bagian dari upaya membangun budaya belajar dan menulis, kultur rasionalitas ilmu dan intuisi kalbu, peradaban hati dan akal serta menjadi bagian dari arus kebangkitan Islam.

Judul Buku : Bunga Rampai Kedokteran Islam:  Menghimpun Pemikiran yang Terserak

Penulis : Ahmad Jamaludin, dkk
Penerbit : Perhimpunan Profesi Kesehatan Muslim Indonesia - Islamic Medical Association and Network of Indonesia (PROKAMI – IMANI), bekerja sama dengan Celtics Press.
Cetakan ke-1, tahun 2013
Tebal : viii. 138  Halaman
Pemesanan buku melalui
Telp/SMS/whatsapp 08881610782, pin BB 332157FC (atas nama Efi)
Dr. A. Jamaluddin

Lengkapnya Klik DISINI

Salafi Mesir Kunjungi Gaza, Siap Bersatu Selamatkan Al Aqsha

Perdana Menteri Palestina Ismail Haniyah menyambut baik kedatangan delegasi Dakwah Salafiyah Mesir di Gaza, Kamis (6/6) waktu setempat. Hamas maupun kelompok Salafi itu berpendapat sama bahwa permasalahan Masjid Al Aqsha adalah permasalahan seluruh umat Islam sedunia.

Seperti dilansir InfoPalestina, dalam pertemuan dengan delegasi yang dipimpin oleh Dr. Yasir Burhami itu Haniyah menegaskan, permasalahan Palestina adalah permasalahan umat Islam dan tidak boleh mengalah atau kompromi sedikitpun dalam hak-hak yang prinsipil, terutama hak atas Al Quds, hak kembali pengungsi Palestina ke tanah air mereka. Haniyah menegaskan bahwa hak-hak tersebut tidak boleh ditawar-tawar dan tidak bisa berubah karena perubahan politik.

Haniyah menambahkan, pesatuan bangsa-bangsa dan umat Islam adalah jalan membebaskan Baitul Maqdis dari tangan penjajah zionis.

Sementara itu, Yasir Burhami menegaskan, permasalahan Masjid Al Aqsha bukanlah permasalahan warga Al Quds atau warga Palestina saja, namun ia menjadi permaslahan bersama umat Islam seluruhnya.

Delegasi Dakwah Salafiyah berkunjung ke Jalur Gaza untuk ikut serta dalam konferensi “Nushrah Al-Aqsha” yang digelar oleh Jamiyah Ibnu Bazz di Gaza dengan tema “Yahudisasi Al-Aqsha antara Perpecahan Umat dan Arab Spring”. [IK/IP]

Lengkapnya Klik DISINI

Kepada Para Aktivis Mahasiswa Islam

 Kepada Para Aktivis Mahasiswa Islam
“Mereka yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti yang terbaik. Mereka itulah yang Allah beri petunjuk dan mereka itulah Ulil Albab.” (QS Az Zumar 18)

Bila kita cermati, saat ini para aktivis mahasiswa Islam terkotak-kotak dan mayoritas cenderung fanatik terhadap organisasi atau gerakannya. Aktivis HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) misalnya, bangga berlebihan terhadap kelompoknya dan ‘hanya’ menjadikan Taqiyuddin An Nabhani sebagai rujukan utama pembinaannya.

Begitu juga aktivis mahasiswa Ikhwanul Muslimin di Indonesia –yang sebagian besar menginduk pada Partai Keadilan Sejahtera. Mereka sudah merasa cukup bila sudah dibina dengan kitab-kitab dari Hasan al Banna atau tokoh Ikhwan lainnya. Hal yang sama terjadi pada gerakan Salafi Wahabi atau Salafi Haraki. Gerakan-gerakan yang sangat ketat dalam berpedoman al Qur’an dan Sunnah dan cenderung ‘mengesampingkan’ ijtihad. Gerakan Salafi Wahabi lebih banyak berfokus pada hal-hal bid’ah dan sunnah. Buku yang menjadi rujukan utamanya adalah Nashirudin al Albani. Sedangkan gerakan Salafi Haraki banyak berkutat pada solidaritas dunia Islam karena penjajahan fisik Amerika dan sekutunya. Buku yang menjadi pedoman utamanya adalah Sayid Qutb dan Abdullah Azzam.

Pergerakan mahasiswa di Muhammadiyah (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) atau Nahdhatul Ulama (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) kurang lebih sama. Di PMII cenderung menjadikan Gus Dur sebagai rujukan utama dan sebagian condong ke ‘Islam Liberal’. Gerakan KH Wachid Hasyim, tidak menjadi inspirasi utama mahasiswa-mahasiswa PMII. Situasi yang sama mirip dengan mahasiswa IMM. Gerakan KH Ahmad Dahlan belum menjadi teladan sentral dalam gerakan IMM, meski kini dicoba dengan membuat film dan memperbanyak buku tentangnya. Mahasiswa-mahasiswa Muhammadiyah cenderung terpecah-pecah sumber gerakannya dan sebagian ada yang terjangkit ‘liberal’.

Gerakan-gerakan mahasiswa tahun 80-90an menurut penulis, cenderung lebih terbuka dan intelektual daripada saat ini. Diperlakukannya NKK-BKK, dimana mahasiswa tidak boleh terlibat dalam politik praktis, menjadi berkah bagi mahasiswa untuk fokus pada kajian keislaman yang lebih serius. Saat itu buku-buku dari IIFSO, yang banyak terinspirasi Mohammad Nastir, menjadi rujukan banyak aktivis mahasiswa Islam. Buku-buku Sayyid Qutb, Yusuf Qaradhawi, Abul Ala Maududi, Ali Syariati menjadi kajian-kajian serius di kalangan mahasiswa dan menimbulkan semangat ‘militansi’ yang hebat untuk melawan imperialisme/pemikiran Barat. Begitu pula buku-buku karya Mohammad Natsir, Deliar Noer, Rasjidi menjadi kajian penting dalam membentuk perspektif perjuangan mahasiswa Islam di Indonesia.

Semangat membentuk dan memperbaiki masyarakat Islam yang ‘modern’ menjadi dambaan dan tujuan mahasiswa. Hampir tidak ditemui saar itu aktivis mahasiswa yang gampang membid’ahkan masyarakat atau aktivis mahasiswa yang menutup telinga bila yang ceramah bukan dari harakahnya.

Kini banyak ditemui aktivis mahasiswa Islam yang ‘kaku’ dalam pemikiran. Memang mereka tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena yang membuat mereka demikian adalah para guru/ustadz yang mengajarinya. Para ustadz mereka ada yang hanya membolehkan membaca buku-bukunya atau buku-buku yang seide dengan ustadz itu (guru-gurunya). Bila ada buku lain yang bertentangan atau mengkritik pemikiran ustadz itu, Ustadz tersebut melarang muridnya untuk membacanya. Ada sebuah kejadian, seorang aktivis memarahi penjual buku yang memajang buku Syekh Yusuf Qaradhawi di lapaknya. Dikatakan bahwa Qaradhawi itu hanya menggunakan akalnya saja dalam bukunya. “Kurang nyunnah” istilahnya atau “Ia kan bukan ahli Hadits”, begitu biasanya aktivis Salafi Wahabi berucap. Penulis temui pula ada sebuah kelompok harakah yang melarang aktivis mahasiswanya mendengarkan ceramah beberapa ustadz (ahli dalam pemikiran Islam), hanya karena para ustadz itu tidak masuk dalam kelompok harakah mereka.

Sehingga kini banyak ditemui mahasiswa yang jumud terhadap pemikiran atau gerakan-gerakan Islam. Mereka hanya tahu pemikiran dan gerakannya saja. Tidak memahami dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada gerakan Islam lain.

Bila ditelaah secara mendalam, kecenderungan gerakan saat ini yang ‘ashabiyahnya sangat tinggi’ ini adalah sangat mengkhawatirkan. Para ustadz dari Timur Tengah yang banyak tidak faham sejarah penyebaran Islam atau gerakan Islam di Indonesia banyak yang gegabah mengajari mahasiswa atau santrinya sejak awal bid’ah dan sunnah. Bukan mengajari mereka mereka bagaimana menjaga aqidah Islam yang kokoh di tengah serbuan liberalisme saat ini, bagaimana perjuangan Islam yang tepat di Indonesia, bagaimana memperbaiki masyarakat Islam Indonesia, bagaimana membentuk peradaban Islam di Indonesia dan lain-lain. Sehingga yang terjadi sebenarnya adalah gerakan setback ke belakang, yang meributkan kembali hal-hal fqh yang furu’. Tidak sedikit sekarang aktivis Islam yang mengharamkan musik, maulid, organisasi politik dan lain-lain. Padahal masalah-masalah seperti ini telah dibahas (diperdebatkan) ulama sejak lama. Para ulama telah membahas tentang kebolehan musik dan syarat-syarat musik atau syair yang dibolehkan dan sebagainya. Ketika kaum Muslimin di puncak peradaban Andalusia (abad ke 8 s/d abad ke-15) ada tradisi musik Islam di sana.

Saatnyalah kini para mahasiswa dan khususnya ustadz-ustadnya mau mempelajari dengan serius pemikiran dari tokoh-tokoh gerakan Islam lain. Anak-anak mahasiswa IMM atau PMII mau membaca seirus buku-buku karya Taqiyuddin an Nabhani (pendiri Hizbut Tahrir) dan Hasan al Banna (pendiri Ikhwanul Muslimin). Para aktivis Hizbut Tahrir atau Ikhwanul Muslimin mau mengkaji seksama buku-buku Ahmad Dachlan, Wachid Hasyim, Mohammad Natsir, Naquib Alatas atau Mohammad Roem. Begitu pula para aktivis Salafi mau mempelajari buku-buku Hamka, Raja Ali Haji, tokoh-tokoh Ikhwan atau Hizbut Tahrir.

Bila ini dilakukan insya Allah gerakan mahasiswa Islam Indonesia akan menjadi ‘leader’ bagi arah Indonesia ke depan. Dan bukan mustahil aktivis mahasiswa Islam Indonesia akan menjadi pemimpin bagi aktivis-aktivis mahasiswa Islam di seluruh dunia. Karena di belahan dunia lain pun terjadi kecenderungan gerakan mahaiswa yang kurang lebih sama dengan yang terjadi di Indonesia.

Tokoh-tokoh gerakan Islam itu adalah mutiara-mutiara Islam. Sayang bila kita hanya mengambil satu mutiara saja. Sementara sebenarnya kita bisa mengambil banyak mutiara untuk kita manfaatkan secara optimal. Apalagi sekarang di era ‘kebebasan informasi’, era internet. Dimana kita bisa membaca buku-buku karya tokoh-tokoh itu hanya sekali klik dalam internet. Jadi bagaimanapun ara ustadz membatasi muridnya untuk mengkaji pemikiran gerakan-gerakan lain, ibaratnya sebenarnya seperti melarang seorang konsumen untuk memilih minuman yang terbaik bagi dirinya, ketika ia berkunjung ke supermarket. Tentu agar konsumen bisa memilih tepat minuman itu, ia harus dibekali dengan pengetahuan yang cukup tentang manfaat vitamin, kegunaan air bagi tubuh dan lain-lain.

Kita bisa mengambil pelajaran dari sejarah pemikiran atau kemajuan Barat. Mengapa mereka begitu melesat maju sekarang ini (terlepas kemajuannya arahnya benar atau tidak)? Karena pemikir-pemikir Barat tidak fanatik buta terhadap pendapat pemikir-pemikir besar pendahulu mereka. Mereka meramu pemikiran Aristoteles, Plato, Aquinas, Hobbes, Adam Smith, Faucault dan lain-lain. Mereka tidak mati-matian mempertahankan pendapat salah satu pemikir mereka, bila ditemui pemikir Barat lainnya yang lebih baik.

Akhirnya ulama besar Hamka dalam Tafsir Al Azhar-nya, memberikan nasihat: “Berapa banyak kita banggakan sejarah, sedikit-sedikit sejarah kebesaran Islam, sejarah ulama Islam, sejarah kemenangan Islam. Dan semuanya itu memang benar, tetapi semuanya adalah bekas usaha ummat yang telah lalu. Kalau mereka beroleh pahala dari usaha itu, tidaklah kita yang datang di belakang ini yang akan menerimanya. Kita hanya menerima bekas dari usaha kita sendiri. Adalah amat membosankan membangga-banggakan zaman yang telah lampau, dari usaha orang lain, sehingga masa hanya habis dalam ceritera, tetapi tidak dapat menunjukkan bukti dan usaha sendiri. Inilah penyakit ummat yang telah masuk ke dalam Lumpur. Kata pepatah ahli syair:

“Orang muda sejati ialah yang berkata: Inilah aku
Bukanlah orang muda sejati yang berkata: Bapakku dahulu begini dan begitu.”


Alumni Lembaga Dakwah Kampus IPB

sumber :


Lengkapnya Klik DISINI

Sikap Da’i dalam Menghadapi Fitnah dan Ujian

 Sikap Da’i dalam Menghadapi Fitnah dan Ujian
Kehidupan seorang da’i sarat dengan ujian dan fitnah karena aktifitasnya sarat dengan aksi –aksi menyeru, mengajak kepada kebaikan dan memperbaiki kemunkaran. Aktifitas dakwah tersebut akan menyebabkan pihak tertentu (ahlul bathil) terganggu dan merasa dirugikan.

Kehidupan seorang da’i sarat dengan ujian dan fitnah karena itu sunnatu dakwah yang akan menjadi realitas berulang, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam beberapa ayat al-Qur’an:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, lalu kemudian mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui orang-orang yang dusta.”(QS Al Ankabut: 2-3)

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, bahwa pertolongan Allah itu Amat dekat.”(QS Al Baqarah: 214)

Fitnah dan ujian itu bisa menguatkan keimanan seseorang dan bisa juga menjerumuskan dan menyebabkannya futur dalam dakwah ini. Oleh karena itu, dibutuhkan penjelasan tentang sikap dan kiat–kiat da’i dalam mengahadapi fitnah, agar setiap da’i bisa menyikapinya dengan tepat dan tegar, dan lulus dalam melewati setiap fitnah dan ujian.

Ada sembilan sikap seorang da’i ketika diuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan fitnah, kesembilan penyikapan tersebut adalah:

Pertama, Muhasabah
Sikap pertama yang harus dilakukan adalah bermuhasabah, berintrospeksi diri atas apa yang telah dilakukan. Bermuhasabah adalah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firmanNya:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Karenanya bermuhasabah adalah tradisi para sahabat dan generasi setelahnya, karena dengan bermuhasabah, setiap kekhilafan bisa diketahui dan diperbaiki sejak dini.

Sebagaimana taujih Umar bin Al Khathab Radhiyallahu ‘Anhu, “Evaluasi dirimu sebelum engkau dievaluasi.”

Kedua, Bertaubat
Langkah selanjutnya adalah bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. dengan sebenar-benarnya taubat (taubatan nashuha), sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS At-Tahrim: 8)
Bertaubat itu memiliki rukun dan prasyaratnya agar taubatnya diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. yaitu sebagai berikut:

A. Yang berkenaan dengan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala:
Bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berarti menunaikan hal-hal berikut:
  1. Menyesali dosa yang telah dilakukannya. Seorang muslim harus merasa bersalah dengan dosa yang dilakukannya, oleh karena itu ia harus menyesali perbuatannya tersebut.
  2. Berkomitmen untuk tidak mengulangi lagi kesalahannya.
  3. Memperbaiki diri dengan memperbanyak amal-amal sholeh.
B. Hak-hak manusia:
Bertaubat juga harus menunaikan hak-hak manusia, yaitu:
  1. Mengembalikan hak orang lain. Jika kesalahannya tersebut adalah merampas dan mengambil hak orang lain, maka ia harus mengembalikannya kepada si empunya.
  2. Melakukan tabayyun (cek & recek) atas setiap informasi yang diterimanya, agar terhindar dari sikap bersu‟udzan kepada orang lain.
Ketiga, Bersabar
Langkah selanjutnya adalah bersabar atas fitnah yang menimpa da’i, dengan berkeyakinan bahwa semua ini adalah ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. untuk mengetahui hamba-hamba pilihan-Nya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat-ayat al-Qur’an:
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS Ali Imran: 200)

Keempat, Taqarrub kepada allah Subhanahu wa Ta’ala
Setiap da’i harus senantiasa bertaqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. agar senantiasa dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala., karena sesungguhnya maksiat dilakukan karena jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bertaqarrub yang dimaksud adalah dua hal:
  1. Berkomitmen menunaikan kewajiban (fara‟id), seperti sholat lima waktu, puasa ramadhan, dan lain-lain.
  2. Memperbanyak ibadah atau amalan sunnah seperti shalat sunnah rawatib, puasa senin dan kamis, sholat tahajjud, tilawah al-Qur’an dan amalan sunnah yang lain, sebagaimana dalam hadits qudsi: “Tidak ada ibadah yang dilakukan oleh hamba-Ku yang lebih Aku cintai selain ibadah yang Aku wajibkan. Dan hambaku senantiasa bertaqarrub kepadaku dengan ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka Aku yang menjaga pendengarannya, Aku yang menjaga pandangannya, Aku yang menjaga tangannya, Aku yang menjaga kakinya. Jika ia meminta kepadaku, maka Aku akan kabulkan. Dan jika ia berlindung kepadaku, maka Aku melindunginya.‟ (Shahih Al Bukhari, kitab Raqaiq, Bab Tawadhu‟, No. 6021)
Kelima, Menghindari tempat-tempat fitnah
Agar kita tidak terhindar dari fitnah, maka setiap da’i harus menghindari hal-hal atau tempat-tempat yang akan menjerumuskannya ke dalam fitnah.
Di antara hal-hal yang bisa mengakibatkan fitnah adalah sebagai berikut:

1. Harta, dengan segala bentuknya.
Banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang memberikan warning agar setiap muslim waspada dengan harta karena karakter harta itu dominan menyebabkan pelakunya kepada maksiat.

2. Perempuan
Begitu pula dengan perempuan, seperti halnya harta, perempuan adalah fitnah / ujian bagi manusia, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan Shallallahu ‘Alaihi wa Sallamah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali Imran ; 14)

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS Al Anfal; 28)

3. Hal-hal syubhat
Menjauhi hal-hal yang syubhat termasuk hal yang harus dilakukan da’i agar bisa terhindar atau berhasil melewati ujian, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

Dari Nu‟man bin basyir r.aberkata: saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: sesungguhnya yang halal itu sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas, diantara keduanya ada hal-hal syubhat yang tidak diketahui banyak manusia. Barang siapa yang menghindari hal-hal syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Barang siapa yang melakukan yang syubhat, maka ia telah melakukan yang haram.‟

4. Teman yang tidak baik
Teman adalah cermin keperibadian sesorang, oleh karena itu jika ingin mengetahui ihwal seseorang, maka bisa diketahui dengan ihwal sahabatnya. Oleh karena itu harus dipastikan karib kita adalah orang-orang sholeh, sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Setiap orang tergantung pada agama temannya, maka kalian lihatlah siapa yang dia jadikan teman.” (Musnad Ahmad, Kitab: Musnad al-muktsirin, Bab: Musnad Abi Hurairah, No. 7685)

5. Berambisi mendapatkan jabatan
Jabatan adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan orang yang memegang amanah adalah orang memiliki kualifikasi dan kompetensi. Maka berambisi mendapatkan jabatan adalah perilaku tercela yang harus dihindarkan, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Dua serigala yang dilepas di tengah gerombolan kambing itu tidaklah lebih merusak dibanding merusaknya ambisi untuk mendapatkan harta dan jabatan terhadap agama seseorang.” (Sunan Tirmidzi, Kitab: Zuhud, Bab: ma ja‟a fi akhdzil mal bihaqqihi, no. 2298)

Maksud hadits tersebut adalah bahwa ambisi meraih harta dan jabatan berdampak merusak agama seseorang lebih dahsyat dari pada dampak kerusakan yang dibuat oleh dua ekor serigala yang menyerang segerombolan domba.

Keenam, Saling memberikan nasihat
Setiap da’i harus terbiasa saling memberi nasihat (tanashuh), karena hanya dengan itulah setiap da’i terbantu untuk memperbaiki diri. Jika yang terjadi sebaliknya; tidak ada budaya tanashuh dan kontrol internal melemah sehingga memungkinkan setiap da’i terperangkap fitnah atau tidak sabar menghadapinya.

Tanashuh dan lapang dada menerima nasihat adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa terpisahkan. Oleh karena budaya tanashuh tersebut tidak akan terwujud jika tidak diimbangi dengan sikap lapang dada; maksudnya setiap da’i jika mendapatkan nasihat, ia harus berlapang dada menerima masukan dan nasihat tersebut. Insya Allah Subhanahu wa Ta’ala nasihat itu memperbaiki kita. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

Dari Tamim ad-Dari, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Nasihat untuk siapa?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Bersabda, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan masyarakat umum.” (Shahih muslim, kitab: al-iman, Bab: ad din nashihah, no. 82)

Ketujuh, Terus bekerja melayani
Setiap ujian dan fitnah tidak boleh menyebabkan kita futur dan berhenti berdakwah, tetapi sebaliknya, ujian tersebut harus menjadi cambuk agar setiap da’i lebih bersemangat dalam beramal dan berdakwah.

Kerja-kerja dakwah itu sangatlah luas, di antara amal dakwah yang menyentuh hajat masyarakat adalah dakwah dalam bidang sosial, dakwah dalam bidang kesehatan agar masyarat hidup sehat, berdakwah dalam bidang keamanan agar masyarakat hidup aman dan nyaman, berdakwah dengan membangun infrastruktur agar fasilitas masyarakat terpenuhi sehingga mereka lancar dan leluasa melakukan hajat dan aktifitas hidupnya. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS At-Taubah: 105)

Delapan, Husnudzan terhadap ikhwah dan dakwah
Setiap da’i senantiasa berhusnudzan terhadap ikhwah dan dakwah. Setiap kali mendengar kabar tidak baik tentang seorang akh atau dakwah, maka harus mengedepankan husnudzan, hingga mendapatkan informasi / penjelasan dari dakwah.

Prinsip berhusnudzan ini yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Tidakkah sebaiknya ketika kamu mendengar (berita bohong) itu orang-orang mukminin dan mukminat bersangka baik terhadap diri mereka sendiri.” (QS An-Nur: 12)

Apalagi jika informasi bersumber dari orang fasiq, maka kita tidak boleh percaya sebelum tabayyun terhadap berita tersebut, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS Al Hujarat: 6)

Sembilan, Istiqomah dalam Jama’ah
Ujian dan fitnah adalah fitrah dalam perjuangan dan dakwah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
 
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS Ali Imron:200)

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS Al Hajj:77)

Oleh karena itu setiap ujian dan fitnah itu tidak boleh membuat da’i futur, tetapi sebaliknya, harus membuat tetap istiqomah dalam dakwah ini.

Ustadz DR. Surahman Hidayat

Lengkapnya Klik DISINI

Ternyata memadamkan lampu sebelum tidur berasal dari ajaran Islam

Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk memadamkan lampu-lampu di malam hari (ketika hendak tidur), dan setelah beberapa tahun dilakukan pengkajian ilmiah modern tentang efek cahaya terhadap manusia dan lingkungannya, maka kajian itu mengatakan: ”Sungguh benar Nabinya kaum kaum Muslimin.” Maka mematikan lampu di malam hari adalah salah satu bentuk mukjizat ilmiah Nabawiyah yang melindungi manusia dan lingkungannya dan pencemaran cahaya, yang muncul disebabkan cahaya yang berlebih, yang mengenai tubuh seseorang di malam hari.

Nabi kita yang tercinta, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan kita tentang bahaya lampu, apabila kita membiarkannya menyala ketika kita tidur. Dan peringatan dari Nabi tersebut terdapat dalam banyak riwayat, di antaranya ada yang disebutkan alasan dari peringatan tersebut, yaitu khawatir terjadi kebakaran, dan sebagiannya lagi tidak disebutkan alasan dari perintah memadamkan lampu di malam hari, agar perintah tersebut berlaku umum, dan sebagai bentuk kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada seluruh makhluk di setiap tempat dan zaman. Di antara hadits-hadts tersebut adalah sebagai berikut:

Riwayat-riwayat yang disebutkan di dalamnya alasan untuk memadamkan lampu ketika hendak tidur di malam hari.
1. Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Pada suatu malam terjadi kebakaran di salah satu rumah penduduk di Madinah (ketika penghuninya tertidur). Lalu hal itu diceritakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda:” Sesungguhnya api ini adalah musuh kalian, karena itu apabila kalian hendak tidur, maka padamkanlah ia lebih dahulu.” (HR. al-Bukhari)

2. Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tutuplah tempat air kalian, pintu rumah kalian, dan matikanlah lampu-lampu kalian, karena bisa jadi tikus akan menarik sumbu lampu sehingga mengakibatkan kebakaran yang menimpa para penghuni rumah.” (HR. al-Bukhari)

3. Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersada: “Tutuplah oleh kalian bejana-bejana, rapatkanlah tempat-tempat minuman, tutuplah pintu-pintu, dan matikanlah lampu, karena setan tak dapat membuka ikatan tempat minum, pintu, dan bejana. Jika kalian tak mendapatkan penutupnya kecuali dengan membentangkan sepotong batang kayu kecil di atas bejananya dan menyebut nama Allah, maka lakukanlah. Karena tikus dapat merusak pemilik rumah dengan membakar rumahnya.” (HR. Muslim)

4. Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersada: “Tutuplah oleh kalian pintu rumah, ikatlah kantong air tempat minuman, tutuplah bejana-bejana, dan matikanlah lampu, karena setan tak dapat membuka pintu tertutup, melepas ikatan tempat minum, dan membuka bejana. Dan sesungguhnya tikus dapat merusak pemilik rumah dengan membakar rumahnya.” (HR. imam Malik dalam al-Muwatha’ dan at-Tirmidzi dalam Sunan-nya dan dishahihkan oleh al-Albani rahimahumullah)

Dan masih ada lagi beberapa riwayat yang lain.

Riwayat-riwayat yang tidak disebutkan di dalamnya alasan untuk memadamkan lampu ketika hendak tidur di malam hari.
1. Dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Padamkanlah lampu-lampu di malam hari pada saat kalian tidur di malam hari, kuncilah pintu dan tutuplah bejana, makanan dan minuman.” (HR. al-Bukhari)

2. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersada: “Apabila malam telah datang (setelah matahari tenggelam), tahanlah anak-anak kalian (dari keluar rumah), karena setan bertebaran ketika itu. Apabila telah berlalu sesaat dari waktu ‘Isya biarkanlah mereka, tutuplah pintumu, dan matikanlah lampu serta sebutlah nama Allah” (HR. Al-Bukhari)

Penjelasan Hadits
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata di dalam Fathul Bari, menukil perkataan dari imam al-Qurthubi rahimahullah: ”Perintah dan larangan dalam hadits ini adalah bentuk bimbingan (pengarahan).” Beliau mengatakan:’ Dan mungkin juga bermakna anjuran (sunnah)’ Dan imam Nawawi rahimahullah menegaskan bahwa hal itu adalah sebagai bimbingan, karena hal itu adalah untuk kemaslahatan duniawi.’ Namun dikomentari bahwasanya hal itu terkadang dapat mendatangkan maslahat secara agama, yaitu penjagaan terhadap jiwa yang haram untuk dibunuh, dan penjagaan terhadap harta yang diharamkan untuk dihambur-hamburkan.

Dalam hadits-hadits ini disebutkan bahwa seseorang jika tidur seorang diri, dan di dalam rumahnya ada api, maka wajib bagi dia untuk memadamkannya sebelum tidur, atau melakukan sesuatu yang membuatnya aman dari kebakaran. Demikian juga kalau di dalam rumah ada sekelompok orang, maka wajib atas sebagaian mereka (memadamkannya), dan yang paling berkewajiban adalah yang paling terakhir tidur.

Pandangan Ilmuwan Modern
Para ilmuwan saat ini berbicara tentang polusi cahaya pada malam hari, serta berbicara tentang bahaya terkena cahaya yang berlebih, terutama saat tidur.

Sebuah riset ilmiyah terbaru menegaskan bahwa tetap menyalanya lampu pada saat tidur akan mempengaruhi proses biologis yang ada di dalam otak manusia, dan hal tersebut akan menyebabkan gangguan-gangguan yang mengakibatkan kegemukan. Oleh karena itu, para ilmuwan berpesan agar kita senantiasa mematikan lampu pada malam hari dalam rangka memelihara kesehatan tubuh dan otak. Dan Subhanallah, pesan yang baru diketahui oleh para ilmuwan pada abad 21, telah disampaikan sebelumnya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sejak 14 abad yang lalu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits shahih: “Padamkanlah lampu-lampu di malam hari pada saat kalian tidur di malam hari, kuncilah pintu dan tutuplah bejana, makanan dan minuman.” (HR. al-Bukhari)

Sumber
Lengkapnya Klik DISINI

Saat Engkau Dizalimi

 
Engkau mungkin terlalu sensitif.

Engkau mengira semua orang menghinamu.

Engkau mengira semua orang mengejekmu.

Engkau merasa semua orang mentertawakanmu.

Engkau menduga semua orang membencimu.

Padahal tidak begitu.

Yang terjadi adalah : semua orang tengah memperhatikanmu.

Oleh karena itu mereka akan segera mengetahui kualitas dirimu.

Ketegaranmu memberikan inspirasi bagi siapapun yang memperhatikanmu.

Ketabahanmu memberikan motivasi kepada semua orang di sekitarmu.

Ketulusanmu menguatkan langkah perjuanganmu.

Teruslah berjalan dan bekerja menggapai visi peradaban baru.

Tegakkan kepalamu, saudaraku.
 
Jangan ragu.

Allah tidak akan menyia-nyiakan semua usaha dakwahmu

Oleh : Cahyadi Takariawan
sumber
Lengkapnya Klik DISINI

“Masalah, Buat Loe?”

I-Dont-Care
Jujur saja, kadang saya merasa sedih dan prihatin dengan kondisi sebagian teman-teman remaja. Khususnya tentang sikap peduli. Jangankan untuk urusan yang nun jauh di sana. Kadang masalah yang ada di sebelah mata aja nggak dipikirin dan nggak jadi masalah berat buat mereka. Misalnya aja, tetangganya mau kelaparan apa kekenyangan dia nggak mau mikirin. Temannya nggak datang ke sekolah pun bukan persoalannya. Apakah sang teman yang nggak dateng ke sekolah itu karena sakit atau memang malas bukan urusannya. Cuek aja. Pikirnya, pihak sekolah ama ortunya aja yang kudu mikirin tuh anak yang bermasalah. Kayaknya buat apa harus capek-capek mikirin. Nggak ada untungnya. Kalo diingatkan, dia ngomong sinis, “Emangnya gue pikirin?” atau “Masalah, buat Loe?”

Sikap cuek dalam kehidupan sebagian teman-teman juga berlanjut. Kalo setiap masalah yang ampir nyolok matanya aja (karena saking dekatnya) dia cuek, kemungkinan besar masalah yang jauh darinya bakalan nggak dianggap tuh. Mungkin pikirnya, “Bodo amat, orang di luar negeri sono mo kelaparan, mo perang, mo ribut atau damai, gue nggak peduli. Yang penting gue di sini seneng. Nggak susah. Nggak bikin masalah ama orang lain. Nafsi-nafsi aja. Kalo gue suka, gue mau, gue berhak lakuin apa yang bikin ati gue hepi. Orang lain nggak boleh cerewet berkhotbah di depan gue. Emangnya gue pikirin?! Emang itu masalah buat loe?”

Sobat, mo seneng-seneng, mo ngelakuin apa yang bikin kita hepi, boleh-boleh aja, kok. Nggak ada yang ngelarang. Tentunya asalkan itu halal dan nggak bikin kita lupa diri. Tapi, pasti ada saatnya dong kita mikirin yang lain. Bukan hanya mikirin kita sendiri. Ada waktu yang bisa kita luangkan untuk bantu mikirin orang lain. Menengok bagaimana masalah mereka. Berhenti sejenak dari kesibukan kita untuk berbagi dengan teman yang lain. Nggak cuek abis gitu, lho. Nggak baik dan tentu nggak benar sikap kayak gitu. Apalagi kalo kemudian menjadikan kamu sombong. Hmm… ada baiknya, kita memperhatikan dan menyimak firman Allah Ta’ala, ““Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Luqman [31]: 18)

Sikap cuek alias nggak peduli kini seperti menjadi tren di kalangan kita. Mungkin di sekolahmu pernah menjumpai teman yang nggak peduli dengan nasib teman lainnya. Misalnya aja kamu nggak ngerti pelajaran matematika, sementara teman kamu ada yang ngerti, tapi dia nggak mau ngasih ilmunya ke kamu. Dia malah bilang, “Bodo amat! Emangnya gue pikirin! Lo usaha sendiri dong!” Duh, nyebelin nggak sih orang kayak gitu? Pasti bikin gondok kita, kan?

Itu mungkin boleh dibilang rada-rada biasa, kadang kita nemuin juga tuh teman kita yang sewot abis gara-gara kita ingetin. Padahal nih, tujuan kita ngingetin dia tuh baik. Misalnya aja kita negur teman yang pacarannya hot banget (kalo pun pacarannya nggak hot, tetap aja yang namanya pacaran tuh dilarang dalam Islam), supaya menghentikan kebiasaan jeleknya itu. Eh, dia malah bilang, “Masalah buat loe? Apa pedulimu? Urus aja diri sendiri. Jangan cerewet berdalil segala di depan gue. Terserah lo. Mo bilang apa pun, gue nggak peduli. Emangnya gue pikirin?”

Coba, dinasihatin malah sewot. Ditegur malah ngebul ubun-ubunnya saking marahnya dia. Padahal, kita nasihatin, ngingetin, atau negur itu adalah tanda sayang. Tanda cinta dan peduli kita kepadanya. Tapi, teryata air susu dibalas air tuba. Mungkin bagi mereka yang udah ngerasa benar sendiri (atau hawa nafsunya jadi panglima?), sikap cuek alias nggak peduli ini dianggap jadi pilihannya dan senjata untuk menangkis orang lain yang rewel ikut campur urusan dalam negerinya. Ah, kayaknya doi belum bisa bedain mana sikap teman yang sok ikut campur dengan sikap teman yang emang mau nolongin dia. Kayaknya perlu belajar lagi deh tuh orang. Bukan sombong or congkak nih, tapi kenyataan bahwa kalo orang nggak mau belajar ya kayak gitu. Wawasannya sempit dan nggak mau dengerin pendapat orang lain. Tul nggak seh?

Kayaknya udah saatnya deh kita berpikir lebih dewasa. Berpikir lebih tenang dan bijak. Nggak keburu nafsu menghukumi ini dan itu jika itu nggak sesuai dengan pendapat kita. Jangan keburu memvonis orang yang nasihatin or ngingetin kita tuh sebagai perongrong, tukang cerewet dan kita anggap sebagai duri sehingga kudu disingkirkan dari jalan kita. Apalagi karena kita merasa paling benar, paling senior, paling pinter, paling luas wawasannya, paling banyak jenggotnya (yee apa hubungannya?), lalu kita merasa yang ngasih teguran ke kita tuh orangnya pasti salah. Padahal, siapa tahu kan namanya nasihat tuh bisa datang dari siapa aja? Nasihat itu kadang bisa datang dari anak kecil atau orang yang kita anggap status sosialnya rendah ketimbang kita. Nggak usah malu kalo ditegur, jangan pernah sewot kalo ada yang ngingetin kita. Karena yakinlah, insya Allah apa yang dilakukannya adalah demi kebaikan kita bersama. Kalo emang kita nggak suka dengan caranya menegur atau mengingatkan kita, lebih baik diam sejenak. Jangan langsung reaktif dengan cara menyerangnya. Resapi dulu omongannya, baru kita berpikir dan menyiapkan kata-kata argumentasi. Kalo memang perkataannya benar, ya kita terima aja. Nggak usah malu. Terus nih, yang terpenting kita nggak usah reaktif dan langsung bilang, “Emangnya gue pikirin!”, “Masalah, buat loe?” Hadeeeuhh.. nggak jamannya deh nyolot kayak gitu kalo dinasihatin.
 
Salam,
O. Solihin
Ingin berkomunikasi dengan saya? Silakan via Twitter di @osolihin

*Gambar dari sini

Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......