Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

Jangan Bilang Ikhlas, Jika…

(gambar google)
Untuk mewujudkan keikhlasan kita dalam beramal shalih, sebisa mungkin kita nggak milih-milih pekerjaan. Maksudnya milih pekerjaan di sini adalah pekerjaan itu udah halal, hanya saja ada yang menurut ukuran pikiran dan perasaan kita kok kayaknya rendah, gitu lho. Kalo memilih pekerjaan antara yang halal dan haram, itu pasti kudu milih yang halal dong. Maksud nggak pilih-pilih di sini adalah ketika pekerjaan itu sebenarnya halal, cuma kita nggak mau melakukan suatu jenis pekerjaan karena dinilai oleh banyak orang sebagai pekerjaan kasar dan rendahan.

Kalo kebetulan diminta tolong sama ortu kamu ke warung, tapi disuruh beli minyak goreng, gimana tuh? Padahal, kamu udah SMA, dalam hati kamu dongkol. Gengsi banget kalo sampe ketahuan sama temen kamu kan? Ya, kalo kamu punya pikiran kayak gitu, berarti belum ikhlas dalam berbuat. Masih mikir hal-hal lain yang sebenarnya belum tentu terjadi. Iya kan? Jangan sampe deh ya.

Dulu, waktu sekolah SD saya punya temen yang menurut saya tuh udah untung bisa sekolah. Kok bisa? Iya, kebetulan ortunya kurang mampu secara ekonomi. Tapi, saya salut karena teman saya ini sering bawa dagangan ke sekolah. Pas istirahat, dia bakal gelar tuh dagangannya. Seperti gorengan, manisan buah kupa, manisan mangga. Saya juga suka beli. Kalo dipikir-pikir mungkin kalo kita belum tentu mau jualan ke sekolah.

Oya, termasuk dalam hal ini adalah pilih-pilih jabatan ketika kamu gabung di kepanitiaan sebuah acara. Gara-gara kamu nggak menduduki posisi penting di kepanitiaan itu, kamu nggerutu bin ngedumel. Padahal, jabatan yang kamu incer adalah seksi acara tapi kenyataannya kamu malah jadi seksi logistik. Waduh, gengsi banget tuh. Seksi logistik kan identik dengan ADM alias Angkat Dorong Manggul (hehehe…). Jadinya kamu cemberut aja tuh.

Bro en Sis rahimakumullah, Sebaiknya kamu mulai open mind alias berpikiran terbuka deh. Artinya, nggak usah merasa hina or direndahkan gara-gara ditempatkan sebagai kru bagian logistik. Percayalah, bahwa sebuah tim tidak akan bisa berjalan tanpa kontribusi dari bagian tertentu. Ya, namanya juga kerjasama tim. Jadi harus kompak. Meski kamu ditempatin di bagian logistik, tapi pasti kamu punya andil juga untuk kesuksesan acara yang digelar. Yakinlah, tanpa bagian logistik, pasti ada pekerjaan dari tim lain yang nggak bisa diselesaikan dengan sempurna. Percaya deh!

Eh, saya punya cerita yang sedikit nyambung dengan pembahasan kita nih. Ada juga lho temen kita yang meski secara ekonomi orang tuanya tuh kurang mampu tapi belagunya minta ampun. Nggak mau disuruh sama ortunya untuk bantu mereka. Pengennya nyantai, tapi perut kenyang dan pikiran tenang. Seorang kerabat saya pernah cerita tentang pengalaman unik tapi bikin hati jadi kurang ikhlas. Begini ceritanya, sebagai pengurus DKM, dia merasa membutuhkan marbot untuk beres-beres mushola supaya rapi. Singkat kata dia dapet orang (anak muda sih) yang katanya nggak punya pekerjaan. Akhirnya setelah ditawarkan dia mau kerja sebagai marbot.

Tapi seiring perjalanan waktu, anak ini mulai bertingkah yang bikin sebel warga komplek situ. Bersihin mushola aja malas, kalo malam keluyuran. Ada kerja bakti bersihin mushola dan sekitarnya malah kabur entah kemana. Bilangnya sebagai anak muda butuh hiburan. Waduh, udah mah secara fisik itu memprihatinkan, karena ada cacat sejak lahir, tapi kok nggak sadar diri udah dibantu sama orang, gitu lho. Bukan maksud warga situ pamrih. Tapi kan anak ini nggak melaksanakan kewajiban yang udah disepakati dan memang menjadi tanggung jawabnya. Wajar dong kalo ditegur. Jangan pengen dapet gajinya doang tapi kerjanya kagak ada atau nggak mau. Mudah-mudahan yang kayak gini jumlahnya sedikit ya.

Teguh dalam kebenaran

Sobat, ngomongin ikhlas ada juga lho yang berhubungan dengan keteguhan dalam mempertahankan kebenaran. Yup, teguh dalam mempertahankan kebenaran adalah bagian dari keikhlasan kita dalam berjuang. Maksudnya nih, kalo kamu jadi aktivis Rohis, terus ada yang ngeledikin or ada yang mencemooh tentang aktivitas kamu yang, ya pasti beda dong ama anak-anak lain yang nggak jadi aktivis Rohis. Kalo harus dijemberengin sih, intinya aktivis Rohis biasanya beda ama anak-anak yang masih jahiliyah, gitu. Misalnya soal pakaian (menutup aurat atau nggak ketika keluar rumah), soal perhatian terhadap makanan dan minuman (halal or haram), kemudian minatnya yang besar kepada ilmu agama, dan sejenisnya.

Nah, ketika perilakumu yang beda ama anak-anak umum tuh ditunjukkin dalam keseharian kamu, mungkin aja kan ada yang pengen ngeledikin dan mencemooh. Di sinilah diperlukan keikhlasan kamu dalam berpegang teguh di jalan kebenaran yang udah kamu pilih dan pertahankan dengan susah payah. Kalo tujuan kamu adalah menggapai ridho Allah Swt., maka cemoohan bukanlah alasan yang bisa bikin kamu mundur dari kegiatan Rohis. Kalo dengan cemoohan aja bisa mundur, perlu dipoles lagi tuh niatnya. Waspada, sobat!
Masa’ sih? Ya iyalah. Soalnya, niat itu jelas karena ingin mendapat ridho Allah Swt., bukan ridho manusia. Ikhlas hanya ingin mendapatkan penilaian dari Allah Ta’ala semata, insya Allah cemoohan (bahkan mungkin cacimaki) no problem. Kalem aja lagi. Nggak akan mundur dari langkah yang sudah diayunkan ke depan. Nggak bakal berhenti untuk melepas pegangan kebenaran yang selama ini diyakini. Keikhlasan membuat semangat kita nyaris tanpa henti dan tanpa peduli hal-hal yang berkaitan dengan urusan yang bukan karena Allah Swt.

Bro en Sis rahimakumullah, Teguh dalam kebenaran yang kita yakini adalah upaya untuk mewujudkan ikhlas dalam tindakan nyata. Nggak gentar hadapi ujian. Kalo baru dicemooh aja udah mundur dari kegiatan Rohis atau dari kegiatan dakwah, berarti niatnya ikut kegiatan Rohis dan kegiatan dakwah lainnya belum sepenuhnya ikhlas karena Allah Swt. Sebab, kalo udah ikhlas, kita nggak ngarepin apa-apa, termasuk nggak peduli apakah perbuatan benar kita akan disetujui atau malah ditolak mentah-mentah oleh orang lain. Iya kan? Ya, seharusnya memang begitu.

Rasulullah saw. udah nyontohin gimana teguhnya beliau dalam mempertahankan dan menyebarkan agama Islam ini. Rasulullah saw. pun pernah berkata kepada pamannya, pada saat sang paman didesak penguasa Quraisy agar meminta beliau untuk mengurangi kegiatan dakwahnya:  

“(Paman), demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan (dakwah) ini, aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah meme­nangkan agama ini atau aku hancur karenanya.” (dalam Sirah Ibnu Hisyam)

So, mulai sekarang kamu bisa benahi diri untuk senantiasa menjadikan ikhlas dalam seluruh amal shalih yang kita lakukan. Niat itu menentukan perbuatan kita, lho. Jadi perlu ditetapkan bahwa ikhlas karena ingin mendapat ridho Allah Swt. sajalah kita melakukan amal shalih, bukan untuk mendapatkan hal lain atau keridhoan dari manusia. Setuju kan?

Allah Swt. berfirman (yang artinya):  

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS al-Kahfi [18]:110)

“Apa kata Allah” saja deh

Sobat, perlu meyakinkan diri agar bisa mantap menyampaikan pendapat bahwa apa yang kita lakukan adalah wajib sesuai “apa kata Allah”, bukan “apa kata orang”. Nilainya beda, mewujudkannya beda, dan tentu pahalanya juga beda. Bener, Bro. Soalnya, kalo udah menjadikan tuntunan Allah Swt. untuk mengatur kehidupan kita, berarti kita udah pasrah dan percaya, serta yakin dan ikhlas karena ingin mendapat ridho Allah Swt. Pedoman kehidupannya adalah al-Quran yang merupakan kalamullah dan juga hadis-hadis shahih dari Rasulullah saw. Panduan yang sangat bagus karena Nabi saw. udah ngasih penjelasan dalam hadisnya (yang artinya):  

“Aku tinggalkan bagi kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh pada keduanya; Kitabullah dan Sunnah nabiNya,” (HR Imam Malik)

Betul banget. Kalo kita udah menjadikan al-Quran dan as-Sunnah sebagai pedoman hidup kita, berarti kita udah ikhlas untuk diatur oleh Allah Swt. dan RasulNya. Nggak lagi merasa diri harus ngikutin hawa nafsu yang biasanya ingin mendapat imbalan lain ketika melakukan perbuatan yang sebenarnya dilarang dalam Islam. Misalnya nih, kalo nurutin hawa nafsu mengonsumsi narkoba kayaknya asik dan bisa dianggap trendi sekaligus jalan keluar dari problem yang kamu hadapi. But, dalam Islam hal itu justru nggak diperbolehkan bahkan lebih tegas lagi, yakni diharamkan. Di sinilah ikhlas ternyata punya ‘saudara kembar’, yakni ketaatan. Ikhlas dan taat itu saling melengkapi. Kalo kita taat dengan apa yang ditetapkan oleh Allah Swt. dan RasulNya, maka keikhlasan akan mengiringi dan melengkapinya. Ikhlas dan taat kalo disatukan akan menjadi kekuatan besar lho untuk menjaga kita agar tetap berada dalam kebenaran yang kita yakini.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):  

 “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS al-Ahzab [33]: 36)

Yuk ah, kita wujudkan ikhlas dalam kehidupan sehari-hari dengan tindakan nyata. Salah satunya adalah dengan tetap menjadikan Allah Swt. dan RasulNya sebagai tujuan mendapatkan kebaikan. Kalo Allah Swt. udah ridho dengan apa yang kita lakukan, seisi bumi dan langit kayaknya terasa kecil dibanding kebahagiaan kita. Kalo Allah Swt. menjadi tujuan dalam setiap amal shalih yang kita lakukan, insya Allah akan memudahkan kita untuk senantiasa berbuat ikhlas. Oke siap ya? So, jangan bilang ikhlas jika masih mikirin apa kata orang dan mengharap pamrih lainnya—yang sifatnya duniawi dan fana. Tetaplah beriman, tawakal dan hanya mengharap ridho Allah Ta’ala semata. Keridhoan Allah Swt. jauh lebih berharga ketimbang keridhoan manusia. Sip! [solihin | Twitter @osolihin]
Lengkapnya Klik DISINI

Da’wah: “Ruh dan Perasaan”

Abbas Hasan As Sisi
Saya pernah diundang sejumlah pemuda ke suatu tempat yang jarak tempuhnya memakan waktu tiga jam. Sesampainya di sana, mereka menyambut saya sambil duduk. Wajah mereka hambar, perasaannya dingin, dan pandangannya kosong.

Kemudian saya diminta bicara oleh seniornya. Saya berbicara di hadapan mereka tanpa hati dan ruh. Seusai bicara, ia berterima kasih kepada saya. Lalu saya keluar dengan perasaan seperti baru pulang dari takziah. Saya pulang dengan perasaan yang sama seperti ketika datang. Saya merasa sangat sedih sekali setelah menyaksikan peristiwa ini.

Beberapa hari kemudian datanglah orang yang sama, yang mengundang pertama kali. Ia ingin mengundang 

saya untuk yang kedua kalinya. Saya katakan kepadanya, “Saya diundang ke mana?”

Pemuda itu menjawab, “Ke tempat ikhwah yang kemarin dulu itu Ustadz!”

Saya bertanya lagi, “Apakah mereka itu ikhwah?”

Ia menjawab, “Ya!”

Lalu saya katakan, “Mustahil mereka itu memiliki penghayatan tentang nilai ukhuwah! Bagaimana mereka itu dapat dikatakan ikhwah, jika ketika ada tamu yang datang dengan menempuh perjalanan selama tiga jam, sambil memendam rasa rindu yang membara, dan dengan hati yang lapang saja, mereka menyambut dengan perasaan dingin, sembari duduk bagaikan siswa-siswa di sekolah. Hubungan saya dengan mereka seperti seorang guru dengan murid dalam ruangan. Bila pelajaran usai, maka guru atau murid akan keluar tanpa memberi isyarat apa-apa. Tanpa ada perasaan ukhuwah dan tanpa adanya seruan yang menyatukan mereka. Ketika meninggalkan mereka, saya murung dan sedih atas kebekuan perasaan mereka dan hilangnya kehangatan hati mereka. Ketahuilah, sesungguhnya perasaan yang hidup itulah yang menjadi rahasia keberadaan dan kebangkitan kita.”

Akhirnya pemuda itu merasa malu dam bingung, seraya berkata, “Kalau memang ikhwah tidak menghayati nilai ukhuwah tersebut pada kesempatan yang lalu, maka akan saya ingatkan sehingga mereka dapat memahami pada saat yang akan datang.”

Saya pandangi dia seraya berkata, “Hai Tuanku, sesungguhnya potensi ruhiyah, sentuhan rasa, kecmtaan pada kebaikan, serta perasaan yang lembut itu tidak akan muncul hanya sekedar dengan peringatan dan perintah. Sadarilah, bahwa yang dapat membangkitkan-nya adalah dengan sentuhan-sentuhan hati yang penuh kasih sayang dan kerinduan yang sangat dalam terhadap pasangan seaqidahnya yang melekat di hati.”
Saya meminta maaf padanya karena tidak dapat hadir, walaupun saya rindu dan kasihan pada mereka.

Lengkapnya Klik DISINI

Kisah Barbarossa, Laksamana Muslim Legendaris Korban Propaganda Barat


Hollywood adalah corong barat dalam melakukan propagandanya untuk mengaburkan sejarah secara tidak langsung kepada generasi Islam. Salah satu pembahasan pada artikel ini adalah Pirates of  The Caribean dimana karakter Barbarossa sebagai Kapten Kapal Black Pearl yang jahat dan Bengis. Malah yang lebih parah Penjelasan produser bahwa Barbarossa adalah Karakter fiksi alias tidak pernah ada.

Film Sekuel Propaganda ini telah di produksi sebanyak 4 episode, bahkan menurutWalt Disney Pictures telah mengumumkan jadwal rilis film Pirates Of The Caribbean 5 pada Juli 2015. 4 (empat) Seri Film tersebut ;
Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl (2003)
Pirates of the Caribbean: Dead Man’s Chest (2006)
Pirates of the Caribbean: At World’s End (2007)
Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides (2011)
Siapakah Captain Barbarossa (Barbossa) yg sering kalah dikerjain Jack Sparrow itu? Ternyata sejarah berkata lain. Sangat jauh dari apa yg di produksi oleh orang-orang kafir di barat sana. Justru Captain Barbarosa adalah Laksamana Islam yang sangat di segani dan di takuti di Turki pada zaman Khilafah Utsmani (Ottoman). Berikut Biografi Beliau ;

The Barbarosa Brothers

Pada abad ke-15 masehi, di Laut Mediterania ada dua bajak laut bersaudara yang disebut The Barbarossa Brothers. Kedua tokoh ini menjadi legenda dalam dunia ‘per-bajak-laut-an’ dan merupakan tokoh bahari yang SANGAT DITAKUTI orang-orang EROPA pada zamannya. Dan sejarah mencatat bahwa mereka adalah Bajak Laut nomor 1 yang paling ditakuti (Baca : 8 real life pirates who roved the high seas). Kebiasaannya ialah membajak barang-barang berharga yang diangkut oleh kapal-kapal milik kerajaan-kerajaan Eropa yang melintasi Laut Mediterania. Awak kapal yang dibajak biasanya diberi dua pilihan; mati karena melawan atau hidup dengan menyerah secara sukarela.

Barbarossa bukanlah sebuah nama. Barbarossa merupakan kata dalam bahasa Latin –gabungan dari kata barber (janggut) dan rossa (merah) ada juga yang mengatakan Baba Arch. Jadi Barbarrossa berarti janggut merah. Barbarossa merupakan julukan yang diberikan oleh para pelaut Eropa kepada kakak-beradik Aruj dan Khairuddin dari Turki atau Khayr ad-Dīn (Khiḍr). Kedua kakak beradik ini hanyalah pelaut-pelaut biasa yang rutin berlayar di wilayah perairan Yunani dan Turki.

Awal Gerakan Barbarosa

Pada suatu hari, tanpa sebab yang jelas, kapal milik keluarga mereka diserang secara brutal oleh kapal militer Knight of Rhodes. Dalam peristiwa ini, adik bungsu Aruj dan Khairuddin tewas terbunuh. Aruj dan Khairuddin sangat terpukul dengan kematian adik bungsu mereka. Sejak saat itu, mereka melakukan aksi bajak lautkepada semua kapal-kapal militer milik kerajaan-kerajaan Kristen. Aksi-aksi mereka sangat menggemparkan dan membuat mereka ditakuti militer Kristen. Aruj dan Khairuddin pun kemudian dikenal sebagai The Barbarossa Brothers Pirates karena keduanya berjanggut merah.

Kaum Eropa menyebut Barbarossa sebagai BAJAK LAUT, meskipun tidak ada bendera hitam dan tengkorak yang menjadi simbol bajak laut. Maka jangan heran apabila zaman perjuangan dulu, Penjajah menyebut pejuang kita sebagiEXSTRIMIS dan sekarang para mujadin disebut sebagai TERORIS. Bendera yang dipasang Aruj dan Khairuddin di kapal mereka adalah sebuah bendera berwarna hijau berisi kaligrafi doa Nashrun minallaah wa fathun qariib wa basysyiril mu’miniin, ya Muhammad, empat nama khulafaur rasyidin, pedang Zulfikar dan bintang segi enam Yahudi (Bintang David). Awak kapal yang dipimpin kedua bersaudara ini terdiri atas orang-orang Islam dari bangsa Moor, Turki, dan Spanyol, serta beberapa orang Yahudi.

Pada tahun 1492 M, Andalusia yang sejak tahun 756 M dikuasai oleh Daulah Khilafah Islamiyah, jatuh ke tangan Pasukan Salib yang terdiri atas pasukan gabungan Aragon DAN Spanyol. Dalam peristiwa penaklukan Andalusia ini, jutaan orang Islam dan Yahudi tewas dibantai pasukan yang dipimpin Raja Ferdinand II dari Aragon.

PERJUANGAN JIHAD BARBAROSA

Peristiwa itu mengubah haluan misi dendam Aruj dan Khairuddin menjadi misiJIHAD ISLAM. Bahu-membahu bersama sekelompok milisi bangsa Moor, mereka kemudian menyelamatkan puluhan ribu Umat Islam dari Spanyol ke Afrika utara (Maroko, Tunisia dan Aljazair). Kemudian mereka membangun basis pertahanan laut di Aljazair untuk menghadang gelombang serangan Pasukan Salib dari jalur Afrika Utara menuju Tanah Suci Palestina.

Khalifah Islam saat itu, Sulaiman I, mendengar cerita-cerita heroik Barbarossa bersaudara. Sulaiman I sangat kagum pada heroisme mereka. Karena prestasi mereka di lautan, akhirnya Sulaiman I mengangkat Aruj dan Khairuddin sebagai Kapudan Pasha (Panglima Angkatan Laut) Khilafah Islamiyyah untuk membenahi Angkatan Laut Daulah Khilafah Islamiyah yang amburadul.

POLITIK ADU DOMBA PIHAK SPANYOL  (DEVIDE ET IMPERA)
Salah satu Senjata penjajah yang sampai hari ini masih digunakan adalah “Politik Adu Domba”. Ya, gak jauh bedalah ama Agama Syiah hari ini. Sama halnya dengan perjuangan Barbarossa, Pada tahun 1518 Spanyol berhasil menghasut Amir kota Tlemcen (Tilmisan) (baca : wikipedia) untuk melancarkan pemberontakan kepada kepemimpinan Aruj. Aruj kemudian menyerahkan pemerintahan Aljazair kepada Khairuddin untuk sementara. Lalu ia memimpin pasukan untuk berangkat ke Tlemcen. Hati Aruj sangat pilu karena ia malah berperang dengan saudara sendiri sesama Muslim. Akibatnya ia kurang berkonsentrasi dan pasukannya kocar-kacir. Aruj sempat lolos, namun banyak pasukannya yang tertangkap. Karena hubungan emosionalnya dengan anak buahnya, Aruj kembali ke Tlemcen untuk bertempur dan ia gugur dalam pertempuran tersebut.

Dengan gugurnya Aruj, kepemimpinan Angkatan Laut Daulah Khilafah Islamiyah beralih ke tangan Laksamana Khairuddin. Spanyol mengira bahwa era kejayaan Barbarossa di Laut Tengah telah berakhir. Lalu, dengan percaya dirinya, Spanyol mengirim 20.000 tentaranya ke Aljazair. Pertempuran hebat pun terjadi, namun Khairuddin berhasil menghajar pasukan laut tersebut.

Sejarah dan Kehebatan Pasukan Janissary

Guna meminimalisir ancaman dari negeri sekitar Aljazair, selain ancaman utama Spanyol, Khairuddin kemudian meminta kepada Khalifah Sulaiman I agar kekuasaan Amir Tunisia dan Tlemcen dialihkan kepadanya. Sulaiman I pun setuju. Pada 1519, Khalifah mengangkat Khairuddin sebagai beylerbey (Bakhlair Baik) atau wakil Khalifah untuk wilayah Aljazair dan sekitarnya. Kemudian Khairuddin juga ditugasi memimpin pasukan pasukan elit Daulah Khilafah Islamiyah, Pasukan Janissary.

Dalam masa kepemimpinan Khairuddin, Pasukan Janissary berhasil melakukan banyak penyelamatan Umat Islam di Andalusia. Tercatat mereka melakukan 7 kali pelayaran dengan 36 buah kapal untuk mengangkut Umat Islam Spanyol yang diburu bagai hewan oleh Ferdinand II dan Pasukan Salibnya.

Pertengahan dekade 1520-an, Pasukan Darat Janissary yang dipimpin langsung Khalifah Sulaiman I berhasil memenangkan semua pertempuran darat. Pada saat bersamaan, Pasukan Laut Janissary di bawah pimpinan Khairuddin juga berhasil mengontrol lalu lintas pelayaran di Laut Tengah sepenuhnya. Kondisi ini membuat Pasukan Salib Kristen Eropa menjadi pusing tujuh keliling.

Awal Mula Minuman Capucchino

Dalam suasana putus asa, pada tahun 1529 di pulau Penon, Spanyol menembakkan meriam ke menara masjid saat Adzan sedang berkumandang. Maka terjadilah peperangan hebat di Penon dan setelah 20 hari pulau tersebut berhasil dikuasai kembali oleh Khairuddin. Sementara di daratan, Sulaiman I membombardir Wina (Ibukota Austria) dengan dua kali serangan namun keduanya gagal. Pasukan Islam yang mundur dari pertempuran meninggalkan beberapa karung kopi yang kemudian mengubah aturan Paus Roma yang sebelumnya mengharamkan minuman yang biasa diminum kaum muslim itu. Kemudian mereka menyebut minuman itu sebagai dengan nama Cappuccino.

Pada tahun 1535 Pasukan Salib Gabungan Spanyol dan Genoa di bawah pimpinan Charles V dan Andrea Doria (Knight of Malta) menyerang Tunisia dengan kekuatan 25.000 orang pasukan dan 500 kapal. Pertempuran pun berjalan tidak imbang hingga Tunisia pun jatuh ke tangan Spanyol. Pada tahun-tahun selanjutnya, Khairuddin Sang Barbarossa mengalami banyak kekalahan. Namun ia berhasil menduduki kepulauan Beleares dan merampas kapal-kapal Portugis dan Spanyol di selat Gibraltar.

Akhir Gemilang Barbarosa Sebelum Tutup Usia

Tahun 1538, Pasukan Salib Gabungan Italia-Spanyol menyerang Preveza yang saat itu merupakan pelabuhan penting di Laut Tengah. Andrea Doria memimpin 40 kapal dan Barbarossa hanya memimpin 20 kapal. Namun dengan kecerdikannya, Barbarossa memecah armadanya ke tiga arah dan menjebak Pasukan Andrea Doria di tengah untuk kemudian membombardir armada Andrea Doria habis-habisan. Andrea Doria dan armada lautnya pun lari dari pertempuran. Walau begitu, Khairuddin tak mengejarnya karena ia tak ingin berperang di laut lepas, mengingat kapal-kapal armada laut Spanyol mempunyai peralatan yang lebih canggih. Apalagi ia hanya memimpin 20 kapal.

Tiga tahun kemudian, Pasukan Salib Gabungan Spanyol-Genoa kembali menyerang Aljazair dengan kekuatan 200 kapal. Mereka sengaja melancarkan serangan di luar musim berlayar, untuk menghindari pertemuan dengan Pasukan Barbarossa. Rakyat Aljazair di bawah komando Hasan Agha berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan Aljazair. Charles V dan Andrea Doria yang memimpin serangan tak mengira bahwa pertahanan dan strategi perang Hasan Agha sangat matang, sehingga armadanya pun kacau-balau. Ketika itu pula tiba-tiba badai laut dahsyat menghantam Laut Mediterania. Andrea Doria dan Charles V berhasil selamat, dan kembali ke negerinya dengan kekalahan pahit.

Tahun 1565, dalam usia senja, Khairuddin Barbarossa memimpin pasukan untuk merebut Malta dari tangan Knight of St. John. Namun dalam pertempuran itu, Khairuddin gugur. Kemudian Khairuddin dimakamkan di Istanbul. Di dekat kuburannya didirikan masjid dan madrasah untuk mengenangnya. Hingga kini makam tersebut masih terawat untuk menjadi bukti kepahlawanan Khairuddin alias Barbarossa yang namanya masih ditakuti bangsa Eropa hingga zaman sekarang. Subhanallah… 
 
(Redaksi/daulahislamwww.globalmuslim.web.id/MUSLIMINA)
Lengkapnya Klik DISINI

Da’wah Fardiyah

http://www.kagakribet.com/ragam/redgrape.jpg 
Setelah Abu Thalib meninggal dunia, penderitaan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam semakin berat,sehingga beliau pergi ke Thaif untuk mencari perlmdungan dari suku Tsaqif, dengan harapan agar mereka mau menerima ajaran Islam.

Ketika sampai di Thaif, beliau menjumpai tokoh-tokoh dari suku Tsaqif, yang mereka itu tiga bersaudara: Abdu Yalail bin Amr bin Umair, Mas’ud, dan Hubaib. Beliau mengajak mereka untuk mengikuti ajaran Islam dan menjelaskan maksud kedatangannya. Akan tetapi, mereka tidak mau menerima kedatangan beliau, bahkan memanggil kaumnya dan menyuruh mereka agar mengusir dan mengolok-olok Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Akhirnya Rasulullah berlindung di kebun milik Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah, yang waktu itu keduanya ber-ada di kebun tersebut dan mengetahui apa yang sedang dialami oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam Rasulullah duduk di bawah pohon kurma. Sementara itu hati kedua pemilik kebun itu tergerak untuk menolong, lalu menyuruh pembantunya yang biasa dipanggil Adas, “Ambillah setangkai anggur dan letakkan di nampan ini, lalu berikan kepada orang itu.”

Adas pun melaksanakan perintah tersebut dan datang ke hadapan Rasulullah seraya berkata, “Silakan dimakan.”

Rasul menerima anggur tersebut, lalu memetiknya, setelah itu membaca “Bismillahir rahmanir rahim” dan memakan-nya. Mendengar bacaan itu, Adas terperanjat dan memandang Rasulullah dengan heran.

“Demi Allah, ucapan ini bukanlah ucapan penduduk negeri ini.”

Rasulullah berkata, “Wahai Adas, kamu berasal dari mana dan apa agamamu?”

Adas menjawab, “Saya beragama Nasrani, saya dari negeri Ninawai.”

Rasulullah bertanya, “Apakah dari negerinya Yunus bin Matta, hamba Allah yang shalih itu?”

Adas berkata, “Apa yang  Anda ketahui tentang Yunus bin Matta?”

Rasulullah menjawab, “Dia adalah nabi dan saya juga seorang nabi.”

Mendengar jawaban itu, Adas langsung menubruk Nabi, menciumi kepala, kedua tangan, dan kedua kaki beliau.

Kedua pemilik kebun itu melihat kejadian tersebut, lalu seorang di antara mereka berkata kepada yang satunya, “Pembantu kita sudah diracuni oleh laki-laki itu.”

Tatkala Adas datang menghadap, keduanya berkata, “Celakalah kamu wahai Adas, apa yang menyebabkan kamu menciumi kepala, kedua tangan, dan kedua kaki orang itu?”

Adas berkata, “Tuanku, tidak ada yang lebih baik dari ini. Dia telah memberi tahu kepadaku perkara yang hanya diketahui oleh seorang nabi.”

Mereka berkata, “Celakalah kamu wahai Adas, jangan sampai omongannya menjadikan kamu berpaling dari agamamu, karena agamamu lebih baik daripada agamanya.”

Saudaraku,
Kita sudah membaca kisah di atas. Sekarang mari kita petik pelajaran yang ada di dalamnya. Mari kita lihat bagaimana cara Rasulullah memikat hati Adas, lalu membimbingnya perlahan-lahan, hingga mau mengikrarkan keislamannya.

Tatkala Adas datang kepada Rasulullah dengan senampan anggur lalu berkata, “Makanlah,” Rasulullah memulai langkah pertamanya: beliau mengambil anggur itu dan membaca “Bismillahir rahmanir rahim”, lalu memakannya. Seandainya Rasulullah tidak mengucapkan “Bismillahir rahmanir rahim”, tentu Adas tidak akan berkomentar apa pun.

Di sinilah terlihat pentingnya menonjolkan karakteristik Islam dengan melaksanakan sunnah Rasulullah, yang juga merupakan proklamasi aqidah Islamiyah di negara-negara nonMuslim, karena dengan begitu kaum Muslimin dapat mengenal satu sama lain.

Langkah kedua adalah tatkala Adas memandang beliau dan berkata, “Ucapan ini bukanlah ucapan penduduk negeri ini.”

Rasulullah lalu berkata, “Wahai Adas kamu berasal dari negeri mana dan apa agamamu?”
Rasulullah memanggilnya dengan menyebut nama Adas. Panggilan dengan menyebut nama secara langsung itu mempunyai erti yang amat besar untuk mengakrabkan sebuah persahabatan. Kemudian beliau menanyakan tentang negeri dan agamanya. Ini merupakan sebuah rangkaian pembicaraan yang berurutan secara rapi.

Adas menjawab, “Saya beragama Nasrani, dari negeri Ninawai.”

Lalu Rasul bertanya, “Apakah kamu dari negerinya Yunus bin Matta, hamba Allah yang shalih itu?”

Kita melihat bahwa Rasulullah memberikan gelar kepada Yunus ‘Alaihis Salam dengan menyebut “hamba yang shalih.” Inilah yang menjadikan hati Adas semakintersentuh dan tertarik. ia juga mengetahui bahwa Rasulullah mengetahui letak negeri Ninawai, sebuah negeri yang terletak di sebelah sungai Furat, Iraq. Ini semua menjadikan Adas semakin tertarik.

Adas bertanya, “Apa yang Anda ketahui tentang Yunus bin Matta?”

Rasulullah menjawab, “Dia adalah saudaraku. Dia seorang nabi dan aku juga seorang nabi.”

Di sini terdapat sentuhan yang amat lembut. Ungkapan Rasulullah, “saudaraku,” semakin membuat Adas tertarik dan percaya. Banyak kita jumpai orang yang bertanya tentang seseorang kemudian ia jawab, “la adalah saudaraku.”

Jawaban itu akan menambah keakraban dan rasa percaya. Dari nada bicara Rasulullah itu terlihat sifat tawadhu’ beliau, yaitu beliau menyebut nama Yunus ‘Alaihis Salam lebih dahulu

sebelum menyebut nama beliau sendiri. Di sini terdapat pelajaran yang amat penting dan berharga bagi seorang da’i.

Banyak di antara kita yang tatkala membicarakan seseorang yang mempunyai “kelebihan” mengatakan, “Dia sekolahnya bersamaan dengan saya,” atau “Dia dulu satu fakultas dengan saya.” Padahal yang lebih baik adalah, “Saya dulu bersamanya waktu di sekolah menengah,” atau “Saya dulu satu fakultas dengannya.”

Saudaraku,
Inilah yang terjadi antara Rasulullah dengan Adas. Sebuah kisah yang sederhana dan mudah dicerna. Jadi, bagi da’i yang ingin memetik pelajaran dari kisah ini tidak akan merasa kesulitan.

Saudaraku,
Sekarang marilah kita perhatikan kisah-kisah yang lain. Ada beberapa orang yang ingin menjumpai Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Salah seorang di antara mereka menceritakan, “Kami berusaha mencari tahu tentang Rasulullah, karena kami belum pernah mengenal dan melihatnya. Kami bertemu dengan seorang laki-laki, lalu kami bertanya kepadanya tentang Rasulullah. ia menjawab, ‘Apakah kalian mengenalnya?’ Kami menjawab, ‘Tidak.’ Ia berkata, ‘Jika kalian masuk ke dalam masjid, maka Muhammad adalah seseorang yang duduk bersama Abbas bin Abdul Muthalib yang tak lain adalah pamannya.’ Kami menjawab, ‘Ya, kami mengenal Abbas, dia sering datang kepada kami untuk berdagang.’ ia berkata, ‘Jika kalian masuk masjid, maka Muhammad adalah orang yang duduk bersama Abbas.’ Kemudian kami masuk ke dalam masjid dan kami menjumpai Rasulullah yang sedang duduk bersama Abbas.

Kami memberi salam, lalu duduk di dekat mereka. Kemudian Rasulullah bertanya kepada Abbas, ‘Wahai Abu Fadl apakah engkau mengenal dua orang ini?’ Abbas menjawab, ‘Ya. Ia adalah Bara’ bin Ma’rur, seorang pemuka kaum dan ini Ka’ab bin Malik.’ Rasul bertanya, ‘Apakah dia penyair yang terkenal itu?’ Abbas menjawab, ‘Ya.’”

Sungguh, saya tidak pernah melupakan ucapan beliau, “Apakah dia penyair yang terkenal itu?” Demikianlah metode Rasulullah dalam memikat hati mad’unya.

Waktu itu saya sedang berada di pejabat pusat Ikhwanul Muslimin di Kairo. Saya melihat Ustadz Hasan Al Banna sedang berbicara dengan salah seorang pemuda (saat itu ada banyak pemuda yang hadir di sana). Dalam pembicaraan itu, Ustadz Hasan Al Banna banyak menyanjung tokoh-tokoh Muslim Syria.
Lalu pemuda itu bertanya dengan nada keheranan, “Apakah Ustadz sudah pernah berkunjung ke Syria?”
Ustadz menjawab, “Saya sudah berniat untuk mengunjunginya, mudahmudahan Allah mengabulkannya.”

Akhirnya harapan itu pun terwujud. Pada tahun 1948 M. beliau pergi ke Syria dalam acara penyambutan kedatangan rombongan Ikhwanul Muslimin yang datang dari Mesir untuk bergabung dengan anggota Ikhwanul Muslimin Syria dalam latihan militer di Quthna, sebelum ikut terjun dalam perang melawan Yahudi di Palestina. Kedatangan Ustadz Hasan Al Banna sendiri disambut gembira oleh massa yang melimpah ruah.
Pada tahun 1948 M. saya masuk dalam anggota pasukan militer yang dikirim untuk berperang di Palestina. Waktu itu saya berkunjung ke pejabat Ikhwanul Muslimin di kota Gaza atas nama Jam’iyah At Tauhid. Di dalam buku tamu saya menjumpai tulisan Ustadz Hasan Al Banna yang telah datang ke Palestina bersama batalion pertama untuk mengusir Yahudi tatkala Inggris menarik pasukannya pada bulan Mei 1948 M. Di antara bunyi tulisan itu adalah: “Hari ini saya berkunjung ke pejabat cabang Ikhwanul Muslimin di kota Gaza Hasyim….”

Saya berhenti pada tulisan beliau, “Gaza Hasyim.” Untuk pertama kalinya saya mengetahui bahwa Hasyim, kakek Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, dimakamkan di kota Gaza.

Saya pergi bersama beberapa teman untuk mengunjungi orang sakit di sebuah rumah sakit di Jerman. Ketika kami sedang berjalan, kami berpapasan dengan seorang dokter muda yang kelihatannya berasal dari Jerman. Namun tiba-tiba ia mengucapkan “Assalamu’alaikum” kepada kami. Salah seorang di antara kami mengejarnya dan berkenalan. Dokter itu mengatakan bahwa dirinya seorang Muslim. Begitulah, seandainya dokter itu tidak mengucapkan salam, maka kami tidak akan mengetahui bahwa ia beragama Islam dan kami pun akan kesulitan mendapatkan orang yang dapat membantu kami.

Tatkala saya berada di Jerman, saya dan seorang teman naik sebuah trem cepat. Kami duduk di sebelah seorang tentara Amerika berkulit coklat. Tatkala men-dengar kami berbicara dengan bahasa Arab, ia berkata, “Kalian beragama Islam?”

Kami menjawab, “Ya, Alhamdulillah, kami adalah orang Islam.”

Lalu ia berkata dengan suara agak keras, “Saya juga seorang Muslim, nama saya Muhammad.”
Kemudian dengan cepat ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebungkus rokok, lalu disodorkannya kepada kami. Kami menolak tawaran itu dengan ucapan terima kasih dan meminta maaf. Kemudian ia bangkit dan menjabat tangan kami dengan hangat sekali dan berbicara dengan bahasa Arab secara terbata-bata, “Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia muliakan tamunya.”‘

Kejadian itu menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitar kami. Tatkala sampai di stasiun tujuannya, ia berdiri dan menjabat tangan kami sekali lagi lalu turun dengan perasaan amat bahagia. Kami pun telah mencatat alamatnya, sehingga kami akan dapat berkirim surat kepadanya. Begitulah, seandainya kami tidak berbicara dengan bahasa Arab, niscaya ia tidak akan peduli dan kami akan kehilangan seorang teman.

Marilah kita melihat bagaimana orang-orang Perancis mengetahui masuk  Islamnya ilmuwan besar berkebangsaan Perancis, Jake Koesto, seorang ilmuwan yang ahli di bidang kedalaman laut. Tatkala ia bepergian bersama teman-temannya, ia disuguhi minuman keras tetapi ia menolak. Teman-temannya bertanya, “Apakah kamu sudah masuk Islam?”

Ia menjawab, “Ya.”

Ternyata ia sudah merahasiakan keislamannya selama bertahun-tahun. Begitulah, akhlak dan perilaku yang islami adalah da’wah.

Abbas As SisiAth Thariq ila Qulub

Lengkapnya Klik DISINI

Menggunakan RSS Graffiti untuk Publikasi Artikel Secara Otomatis ke Facebook

rss graffitiMemiliki Facebook Fun Page memang sudah menjadi suatu keharusan bagi seorang blogger, salah satu tujuannya adalah untuk menghimpun facebooker agar menjadi pembaca dan pelanggan setia terhadap konten blog yang dipublikasikan.

Publikasi artikel melalui Facebook memang sangat berbanding lurus dengan peningkatan trafik blog serta peningkatan page views.  Bahkan Google Analitycs telah menambahkan parameter Social Networking sebagai salah satu Trafic Sources dalam menyajikan data trafik sebuah web blog. Menurut para pakar SEO bahwa setidaknya Social Networking telah menyumbang rata-rata 10 - 15 % dari total keseluruhan data trafik yang disajikan oleh Google Analitycs.

Mempublikasikan konten blog atau artikel ke salah satu social networking dalam hal ini Facebook, dapat dilakukan dengan cara manual, yaitu menempelkan url konten blog ke dinding facebook, atau mempublikasikan sebagian deskripsi melalui notes pada Facebook Fun Pages dengan mengikutkan url artikel. Cara konvensional ini tentu akan menjemukan dan sedikit beresiko, karena jika terlalu sering menempelkan link artikel ke dinding facebook dapat dianggap sebagai spam oleh pihak Facebook dan link blog Anda tidak akan diizinkan lagi untuk dipublikasikan di Facebook.

Untuk mengantisipasi hal ini dan memudahkan publikasi konten blog ke Facebook gunakan aplikasi RSS Graffiti.  Aplikasi ini secara otomatis akan mengambil update terbaru feed blog Anda dan mempublikasikannya ke Facebook secara otomatis, konten blog akan dipublikasikan di status Page atau Group yang telah Anda beri persetujuan hak akses. Keuntungan lain, Anda akan terhindar dari resiko dianggap sebagai spaming dan phising yang memang tidak diperbolehkan di dunia Internet.

Berikut ini adalah langkah-langkah menggunakan aplikasi RSS Graffiti.
  • Pastikan Anda telah Login ke Facebook
  • Silahkan klik link RSS Graffiti untuk mengkakses aplikasi.
  • Klik tombol Go to App selanjutnya klik tombol Allow untuk mengizinkan aplikasi mengakses profile Facebook Anda.
  • Setelah masuk ke halaman aplikasi, klik link Add New Publishing Plan masukkan nama Publishing Plan Anda dan klik tombol Create Publishing Plane
new publishing plane

create publishing plane
  • Selanjutnya jika Publishing Plane telah terbentuk, klik tombol ADD NEW pada bagian SOURCES untuk memasukkan url feed blog (contoh : http://multipaste.blogspot.com/feeds/posts/default) dan klik tombol Add Sources
add new

rss feeds
  • Lakukan pengaturan seperti Update Frequency, Maximun Posts Per Update, Post Order Per Update silahkan disesuaikan dengan kebutuhan Anda, kemudian klik tombol Save untuk menyimpan pengaturan.
feed setup
  • Lakukan hal yang sama untuk mengatur Target, pilih target yang akan dijadikan tempat posting feed blog, seperti Facebook Page, Group atau Personal Profile

target setup

  • Langkah terakhir, aktifkan RSS Graffiti dengan menekan tombol OFF agar menjadi ON, atau lakukan sebaliknya untuk menonaktifkan RSS Graffiti.
aktifkan rssgraffiti
  • Done!
Silahkan Anda mencobanya, jika sukses ucapkan Alhamdulillah

sumber
Lengkapnya Klik DISINI

Terapi Rasulullah saw Mengatasi Fitnah (Pelajaran dari Haditsul Ifki)

Oleh: Hepi Andi Bastoni, MA

haditsul ifkiMadinah gempar. Fitnah keji terhadap keluarga Nabi saw merebak. Aisyah, istri Nabi saw dituduh berselingkuh dengan Shafwan bin Muaththal. Tuduhan itu seolah menemukan fakta: keduanya ditemukan berjalan berduaan sepulang dari perang Bani Musthaliq!

Lalu, apa yang dilakukan Nabi saw mengatasi fitnah ini? Lembaran sejarah mengajarkan kepada kita, bagaimana beliau memberantas fenomena ini sampai akarnya. Sebuah sikap yang sangat perlu diteladani oleh qiyadah dalam memberikan terapi atas peristiwa semacam ini.

Pertama, melakukan konfirmasi dan klarifikasi. Ini yang kita saksikan melalui beberapa pertanyaan yang diajukan Rasulullah saw, kepada  Zaid sebelum memutuskan kebenaran laporannya. Nabi saw sendiri melakukan hal itu. Qiyadah mana pun seharusnya melakukan klarifikasi sebelum mengeluarkan keputusan.

Jamaah yang tidak menghargai anggotanya takkan mendapatkan manfaat darinya di kala mengalami cobaan. Saat ini setelah era Rasulullah saw, kepada kita tidak diturunkan wahyu yang dapat mengabsahkan kejadian atau mementahkannya. Untuk itu, ada data-data dimana Islam telah menetapkan syarat-syaratnya, di antaranya adanya kesaksian  dan keadilan atau data-data yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan modern, berupa alat perekam atau foto yang merekam data-data pendukung, yang dapat membantu keluasan dan kebenaran penyidik.

Kedua, dalam menanggulangi merebaknya fitnah ini, Rasulullah saw pergi di waktu yang tidak biasanya sebagaimana yang dituturkan Ibnu Hisyam dalam Sirah, “Rasulullah saw pergi bersama beberapa orang shahabat pada siang itu hingga sore, dilanjutkan malam itu hingga pagi harinya, kemudian di hari berikutnya hingga mereka disengat matahari. Kemudian beliau berhenti di suatu tempat bersama para shahabat hingga mereka mengantuk dan tertidur. Rasulullah saw melakukan semua itu agar mereka dapat melupakan pembicaraan seputar kejadian sebelumnya.

Tahapan berikutnya adalah menyibukkan orang-orang dari membicarakan fitnah itu. Sebab, masyarakat yang tidak sibuk, biasanya tak ada yang mereka bicarakan selain fitnah dan gosip. Qiyadah yang bijak dapat mengisi waktu kosong para pemudanya dengan sesuatu yang produktif atau dengan latihan kecakapan yang sesuai bagi mereka atau jihad langsung melawan musuh dimana tenaga dan kekuatan mereka bisa manfaatkan, dan mengalihkan mereka dari kasak-kusuk dan berbagai pertanyaan. Atau menghindarkan mereka dari reaksi positif maupun negatif terhadap kebohongan semacam ini. Kalau hari ini, pergaulan umat Islam dipenuhi fitnah dan gosip, itu lantaran banyaknya pengangguran di kalangan kaum Muslimin. Kalau mereka sibuk, takkan terjadi fitnah, atau fitnah takkan menyebar pesat.

Ketiga, mengemukakan pendapat kepada orang-orang dekat. Beliau melakukan pembicaraan itu kepada anggota inti pasukan. Tidak kepada semua orang. Beliau melakukan terapi dengan penuh kebijakan. Jika hal ini dicerna secara baik oleh jamaah Islam, pasti ia dapat menghindari banyak fitnah. Hendaknya masalah ketakutan hanya tersebar di kalangan tertentu dan tidak kepada semua orang.

Berbeda dengan orang-orang munafik. Mereka biasa menyebarkan desas-desus dan menikmati rasa takut itu. Hal ini sebagaimana digambarkan Allah dengan firman-Nya, “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan  lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)…” (QS an-Nisa’ (4) : 83).

Pelajaran bagi Kaum Muslimin

Bagi kaum Muslimin, peristiwa ini mengangkat derajat mereka. Kisah ini menjadi ujian berat dan menyakitkan bagi Rasulullah saw, Aisyah, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ummu Ruman sang ibu, dan Shafwan bin Muaththal yang disaksikan Rasulullah saw sebagai seorang yang baik dan Allah telah memberi rezeki kepadanya kesyahidan di jalan-Nya sesudah itu.

Seorang Mukmin tentu akan merasa sakit dengan sakitnya Rasulullah saw. Seorang mukmin tidak dapat menahan dirinya dari tangisan, mungkin tidak tahu apakah ia menangisi Rasulullah saw yang dirusak kehormatannya padahal beliau sebaik-baik makhluk, atau Aisyah, wanita yang paling dicintai Rasulullah saw, dan tidaklah Allah memberikan rasa cinta kepadanya terhadap Rasul-Nya kecuali karena kemuliaan dan kehormatannya.

Bagaimana tidak, ia sebaik-baik keluarga Quraisy, keluarga yang seluruhnya beriman; ayahnya, kakeknya, dan saudara-saudaranya. Allah SWT Maha Mengetahui mengatakan setelah orang-orang beiman terombang-ambing dalam musibah dari peristiwa ini selama hampir lima puluh hari, “…..janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu,…” (QS an-Nur: 11).

Sekalipun di dalamnya ada kesulitan besar dan rasa menyakitkan namun ada sisi pelajaran dan pendidikan bagi umat yang jauh lebih baik dari itu semua. Sedangkan orang-orang yang dicoba dengan peristiwa ini, pahalanya di sisi Allah SWT tidak akan dizalimi sekecil apapun, “Tidaklah seorang hamba dizalimi lalu ia bersabar atas kezaliman itu maka Allah pasti menambah kemuliaan baginya.”[1]

Betapa Aisyah terangkat kemuliaannya saat pembuktian dirinya bersih dari segala tuduhan berasal dari al-Qur’an yang selalu dibaca hingga hari kiamat. Padahal klimaks dari harapan Aisyah adalah bilamana Rasulullah saw mendapatkan mimpi tentang kebersihan dirinya. Maka, siapakah yang masih bisa menuduhnya setelah Allah membersihkannya? Kalaupun ada yang masih menuduh Aisyah, berarti ia telah  mengingkari firman Allah.

Alangkah celakanya kaum Syiah dengan keyakinannya yang batil terkait tuduhan mereka kepada Aisyah dan kepada Abu Bakar. Peristiwa ini adalah fitnah yang justru makin menampakkan kemunafikan orang-orang munafiq dan keyakinan orang-orang beriman.

Orang yang mendesain fitnah ini, Allah janjikan dengan siksaan pedih di akhirat. Sementara orang-orang beriman yang menganggap remeh dengan menyebarkan berita bohong ini dan menyangkanya sebagai hal yang biasa, Allah didik mereka dengan penegakan hukum hadd atas mereka. Sehingga mereka menjadi ibrah bagi orang-orang beriman lainnya.

Betapa sering kejadian buruk dan cobaan karena anggapan remeh terhadap dosa kecil. Di antara hasil dari peristiwa ini adalah munculnya fitnah antara kaum Aus dan Khazraj hingga mereka nyaris saling bunuh. Barangkali aturan tentang diharamkannya menuduh dan hukum hadd-nya serta diharamkannya menyebarkan berita yang belum pasti selain peristiwa ini, tidak akan mendapatkan sambutan besar seperti sambutan datangnya ayat-ayat setelah bencana besar ini. Maka, peristiwa ini bisa berarti pendidikan rabbani bagi umat. Dengan demikian, akan menambah keimanan orang-orang beriman dan menampakkan kemunafikan orang-orang munafiq.

Dari peritiwa ini juga dipetik penjelasan bagaimana Allah memberi jalan keluar dan kebahagiaan setelah masa sulit dan ujian. Hingga ketika permasalahan sudah sampai di puncaknya, Allah memberikan sesuatu yang dapat menenangkan jiwa mereka dari wahyu kepada Rasulullah saw sehingga turun laksana gerimis di saat kekeringan dan kepayahan.

Imam az-Zamakhzyari mengatakan, makna “itu baik bagi mereka” adalah karena mereka memperoleh pahala yang besar sebab sebelumnya mereka mendapat cobaan dan bencana yang besar. Bahwa ayat yang turun sebanyak 18 (delapan belas) yang masing-masing mempunyai makna tersendiri, ini semua adalah penghormatan kepada Rasulullah saw dan sebagai hiburan bagi beliau, serta penyucian bagi Ummul Mukminin dan pembersihan bagi keluarganya, sekaligus sebagai peringatan bagi siapa saja yang membicarakannya atau mendengarnya. Serta peringatan kembali bagi semua yang mendengar dan membaca (ayat) hingga hari kiamat, di samping berbagai pelajaran agama, hukum-hukum dan etika yang harus diketahui oleh semuanya.[2]

Imam al-Qurthubi menambahkan, Imam Malik berkata, “Siapa saja yang menghujat Abu Bakar, ia layak mendapatkan hukuman. Siapa yang menghujat Umar, layak mendapat hukuman. Siapa saja yang menghujat Aisyah, maka ia dibunuh. Sebab Allah SWT berfirman, “Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya. Jika kamu orang-orang yang beriman”. (QS. an-Nur: 17).

Ibnul-Arabi menambahkan juga, para pengikut Madzhab Syafii mengatakan, “Siapa yang menghujat Aisyah, maka ia mendapatkan hukuman sebagaimana terhadap orang-orang beriman lainnya, dan bukan berarti “…jika kamu orang-orang yang beriman” tentang Aisyah karena perbuatan tersebut kufur. Namun, seperti yang disabdakan Nabi saw,  “Tidaklah seorang beriman ketika ia tidak menjamin keselamatan tetangganya dari keburukannya.”[3]

Terkait peristiwa ini, Allah menurunkan firmannya dalam surah an-Nuur ayat 11 sampai dengan 21.
Sebulan kemudian keraguan dan keguncangan itu hilang dari Madinah. Kedok kaum munafik pun tersingkap. Menurut Ibnu Ishaq, setelah peristiwa itu, apabila melakukan tindakan-tindakan baru, ia (Abdullah bin Ubay, gembong munafik) dicela oleh kaumnya sendiri.[4]

Selain hampir menyebabkan perang antar saudara, peristiwa ini telah membuat Shafwan bin Muaththal dan Hassan bin Tsabit terlibat perkelahian. Ibnu Ishaq menuturkan, begitu mendengar kabar tersebut, Shafwan mendatangi Hasan bin Tsabit dengan membawa pedang. Shafwan menghadang Hasan lalu memukulnya.

Ketika melihat hal itu, Tsabit bin Qais bin Syammas meloncat ke arah Shafwan. Ia segera mengikat kedua tangannya ke leher dan membawanya ke Bani Harits bin Khazraj. Dalam perjalanan ia bertemu dengan Abdullah bin Rawahah. Abdullah heran melihat kondisi mereka. Lalu, kasus tersebut dibawa ke Rasulullah saw.

Beliau segera memanggil Hasan bin Tsabit dan menasihatinya. Sebagai ganti rugi atas pemukulan Shafwan, Nabi saw memberi Tsabit sebuah istana Biyaraha yang semula milik Thalhah bin Sahl yang telah diberikan kepada Rasulullah saw. Selain itu, Nabi saw juga memberikan seorang budaknya Sirrin hadiah dari raja Mesir kepada Hasan yang kemudian melahirkan anak bernama Abdurahman bin Hassan.

Belakangan, menurut Aisyah, orang-orang pun bertanya tentang Shafwan. Didapati ternyata dia seorang yang impoten dan tidak bisa menggauli wanita. Tak lama setelah itu, Shafwan gugur sebagai syahid.[5]

Sebuah riwayat dari jalur Urwah bin Zubair disebutkan, Aisyah mengatakan, “Demi Allah, sesungguhnya laki-laki yang di-issu-kan itu berkata, ‘Maha Suci Allah, demi Dzat diriku ada pada-Nya, saya tidak pernah memasuki bilik wanita sama sekali.” Setelah itu ia gugur di medan jihad di jalan Allah.[6]

Jadi, dilihat dari berbagai penjelasan, berita buruk tentang Aisyah ini terbantahkan. Ia hanyalah peristiwa yang menjadi makanan empuk orang-orang munafik untuk memecah belah umat Islam saat itu.[7]

Orang Munafik Tak Bekerja Sendiri

Ketika fitnah Haditsul Ifki merebak, yang langsung terlintas dalam bayangan kita adanya berita itu akibat ulah orang-orang munafik. Merekalah yang merancang semua itu. Namun, al-Qur’an menjelaskan bukti bahwa yang membuat gosip itu justru sekelompok ‘oknum’ kaum Mukmimin. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari goongan kalian juga. Janganlah kalian kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kalian, bahkan ia adalah baik bagi kalian…” (QS an-Nur (24) : 11).

Secara berturut-turut ayat al-Qur’an mendebat kaum Mukminin yang terlibat pada peristiwa tersebut. “Mengapa di waktu kalian mendengar berita bohong itu orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata,” (QS an-Nur (24) : 12 )

Sementara itu peran yang dimainkan orang-orang munafik adalah meniup-niupkan berita ini dan menyebarkannya. Aisyah mengisyaratkan bahwa yang mengambil bagian terbesar dalam peristiwa ini adalah Abdullah bin Ubay, sebagaimana yang dikatakannya, “Bagian terbesar pada peristiwa itu adalah Abdullah bin Ubay bin Salul yang memberitakan kepada beberapa orang Khazraj tentang apa yang dikatakan Misthah dan ia menjaminnya.”

Aisyah menceritakan tersebarnya berita itu, “….ketika mereka telah tenang orang itu muncul dan menuntun kendaraanku, lalu orang-orang penyebar gosip itu mengatakan apa yang mereka katakan dan rombongan menjadi gempar. Demi Allah, aku tidak tahu-menahu sedikit pun soal itu….”

Orang-orang munafik tidak akan berani menyebarkan berita itu serta mengguncingkannya setelah kebusukan mereka terbongkar habis melalui Ibnu Ubay. Tersebarnya berita  itu dan tergoncangnya barisan Islam membuat peluang mereka sangat terbuka lebar untuk terlibat dan untuk menyalakan api dan balik tabit. Barangkali  Abdullah bin Ubay sendiri yang tampak dalam nash ini sebagai orang yang mengambil bagian terbesar.

Di kalangan barisan Islam, terdapat tiga orang yang berperan dalam peristiwa ini. Yakni,  Hassan bin Tsabit, penyair Rasulullah saw, orang yang Rasulullah saw pernah bersabda kepadanya, “Seranglah dan Ruhul Qudus bersamamu!”. Lalu, Misthah bin Utsatsah, salah seorang Muhajirin dan termasuk veteran Perang Badar, dan anak bibi Aisyah yang tinggal di rumah Abu Bakar. Kemudian, Hamnah binti Jahsy, anak bibi Rasulullah saw dan istri seorang syahid dalam Islam Mush’ab bin Umair.

Jadi, fenomena orang-orang munafik sebagai suatu kelompok muncul pertama kali menjelang Perang Uhud dan mencapai puncak dan bahayanya bagi barisan Islam pada Perang Uhud itu sendiri. Selanjutnya satu demi satu habis hanya tinggal beberapa orang yang bisa dihitung dengan jari.

Barisan Islam menjadi bersih dan murni, berkat tarbiyah Nabi saw, yang mendorong banyak di antara mereka masuk Islam dan bagus keislamannya. Fenomena ini muncul kembali pasca-Fathu Makkah saat Islam mulai menyabar ke seantero negeri Arab. Yang paling mencolok dalam fenomena tersebut adalah pada Perang Tabuk, dimana surah Bara’ah membongkar rencana dan strategi jahat mereka.

Munculnya kemunafikan pada Fathu Makkah ini disebabkan banyaknya orang masuk Islam secara terpaksa. Rasa takut membuat mereka menampakkan keislamannya dan menyembunyikan kekafiran. Ini yang menjadi benih kemunafikan. Wallahu a’lam.


[1] Bagian dari Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi 9/199, 200 dalam Bab Zuhud. Ia mengatakan: ini hadits hasan shahih. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad 4/231 dari Hadits Abi Kabisyah al-Anmari. Hadits ini juga mempunyai penguat dari riwayat Abu Hurairah dalam shahih Muslim dengan redaksi; “dan tidaklah seorang hamba bertawadhu kecuali Allah meninggikannya.
[2] Al-Kasysyaf 3/217,218
[3] HR Bukhari 10/457 bab Adab, Imam Muslim 2/17 tentang Iman
[4]Ibnu Hisyam II/297
[5] Ibnu Hisyam II/230
[6] HR Bukhari 7/486-499, dan Imam Muslim 18/102-113 daam Bab Taubat
[7] Disarikan dari ar-Rahiqul Makhtum372-373, Ibnu Hisyam II/290-292

sumber 
Lengkapnya Klik DISINI

Dialog Wanita Gaul dan Pemuda Sholeh..... ( wajib baca )



< Baca dulu baru komentar > semoga ada pelajaran yang bisa diambil.....nex...
 
Seorang wanita gaul bertanya pada seorang pemuda yang soleh:

Wanita: "Kenapa sih kamu nggak mau bersentuhan tangan denganku? Emangnya aku ini hina ya?"

Pemuda: "Bukan begitu Mba, Justru saya lakukan itu karena saya sangat menghargai Mba sebagai seorang wanita"

Wanita: "Maksudmu?"

Pemuda: "Coba saya tanya sama Mba, apakah boleh seorang rakyat jelata menyentuh tangan putri keraton yang dimuliakan?"

Wanita: (Sambil mengernyitkan dahi) "T..Tentu gak boleh sembarangan dong!"

Pemuda: "Nah, Islam mengajarkan bagaimana kami menghormati semua wanita layaknya ratu yang ceritakan tadi. Hanya pangeran saja yang layak menyentuh tuan putri".

Wanita: (Sambil agak malu) "Oh.. Terus kenapa sih mesti pakai menutup tubuh segala, pake kerudung lagi, jadi gak keliatan seksinya"

Pemuda : (Membuka sebuah rambutan, lalu memakannya sebagian. Dan mengambil sebuah lagi sambil menyodorkan 2 buah rambutan itu pada wanita tersebut) "Kalau Mba harus memilih, pilih rambutan yang sudah saya makan atau yang masih belum terbuka"

Wanita: (Sambil keheranan dan sedikit merasa jijik) "Hi.. Ya saya pilih yang masih utuh lah, mana mau saya makan bekas Mas".

Pemuda : (Sambil tersenyum) "Tepat sekali, semua orang pasti memilih yang utuh, bersih, terjaga begitu juga dengan wanita. Islam mensyariatkan wanita untuk berhijab dan menutup aurat semata-mata untuk kemuliaan wanita juga".

Wanita: "Terimakasih ya, aku semakin yakin untuk berhijab dan menutup aurat, Islam memang sangat memuliakan wanita.
Subhanallah. Ngomong-ngomongMas sudah punya pacar belum?"

Pemuda: "Mmm.. Saya belum punya dan bertekad tidak akan punya pacar."

Wanita : (Kebingungan) "Loh, kenapa? Bukannya semua muda-mudi sekarang punya temen istimewa"

Pemuda: "Begini Mba, kira-kira kalau Mba diberi hadiah handphone, ingin yang bekas atau yang masih baru??"

Wanita: "Ya jelas yang baru lah"

Pemuda: "Kalau suatu saat Mba menikah, mau pakai baju loakan yang harganya Rp.50.000/3 potong atau gaun istimewa yang harganya Rp.20 juta keatas"

Wanita: "Ih.. Mas ini. Ya pasti saya pilih gaun istimewa, mana mau saya pakai baju loakan, udah bekas dipegang orang, gak steril lagi. hi..."

Pemuda: "Nah, begitu juga Islam memandang pacaran Mba. Kami, diajarkan untuk menjunjung ikatan suci bernama pernikahan. menjadi pasangan yang saling mencintai karenaNya. Yang menjaga kesucian dan kehormatan dirinya sebelum akad suci itu terucap. Karena kami hanya ingin mempersembahkanyang terbaik untuk pasangan kami kelak"

Wanita: (Hatinya berdebar-debar tak menentu, kata-kata pemuda tadi menjadi embun bagi hatinya yang selama ini hampa. Matanya pun menetes) "Mas, aku semakin merasa banyak dosa. Masihkah ada pintu taubat untukku dengan semua yang sudah aku lakukan?"

Pemuda: (Matanya berbinar, perkataannya berat) "Mba, jikalah diibaratkan seorang musafir kehilangan unta beserta makanan dan minumannya di gurun pasir yang tandus. Maka kebahagiaan Allah menerima taubat hambanya lebih besar dari kebahagiaan musafir yang menemukan untanya kembali. Kalaulah kita datang dengan membawa dosa seluas langit, Allah akan mendatangi kita dengan ampunan sebesar itu juga. Subhanallah".

Wanita: (Berderai air matanya, segera ia usap dengan tisunya) "Terimakasih Mas, saya banyak mendapatkan pencerahan hidup. Semoga saya bisa berubah lebih baik”

Pemuda: “Aamiin”

Share lagi ya ke Teman2 mu....

Lengkapnya Klik DISINI

Proses pembusukan tubuh manusia setelah mati dalam hitungan 0 menit sampai 1 tahun

Sesaat sebelum mati Anda akan merasakan jantung berhenti berdetak, nafas tertahan dan badan bergetar. Anda merasa dingin di telinga. Darah berubah menjadi asam dan tenggorokan berkontraksi.

0 Menit
Kematian secara medis terjadi ketika otak kehabisan supply oksigen.

1 Menit
Darah berubah warna dan otot kehilangan kontraksi, isi kantung kemih keluar tanpa izin.

3 Menit
Sel-sel otak tewas secara masal. Saat ini otak benar-benar berhenti berpikir.

4 - 5 Menit
Pupil mata membesar dan berselaput. Bola mata mengkerut karena kehilangan tekanan darah.

7 - 9 Menit
Penghubung ke otak mulai mati.

1 - 4 Jam
Rigor Mortis(Fase Dimana keseluruhan otot di tubuh menjadi kaku) membuat otot kaku dan rambut berdiri, kesannya rambut tetap tumbuh setelah mati.

4 - 6 Jam
Rigor Mortis Terus beraksi. Darah yang berkumpul lalu mati dan warna kulit menghitam.

6 Jam
Otot masih berkontraksi. Proses penghancuran, seperti efek alkohol masih berjalan.

8 Jam
Suhu tubuh langsung menurun drastis.

24 - 72 Jam
Isi perut membusuk oleh mikroba dan pankreas mulai mencerna dirinya sendiri.

36 - 48 Jam
Rigor Mortis Berhenti, Tubuh anda selentur penari balerina.

3 - 5 Hari
Pembusukan mengakibatkan luka skala besar, darah menetes keluar dari mulut dan hidung.

8 - 10 Hari
Warna tubuh berubah dari hijau ke merah sejalan dengan membusuknya darah.

Beberapa Minggu
Rambut, Kuku, Dan Gigi dengan mudahnya terlepas.

Satu Bulan
Kulit Anda mulai mencair.

Satu Tahun
Selain tulang-belulang tidak ada lagi yang tersisa dari tubuh anda. Sekarang Anda adalah saingan Twiggy dan Calista Flockhart. Anda yang sewaktu hidupnya cantik, gagah, ganteng, kaya dan berkuasa, sekarang hanyalah tumpukan tulang-belulang yang menyedihkan.

Proses Pembusukan Tubuh Manusia
Bakteri bekerja secara terstruktur dalam proses degradasi organisme atau proses pembusukan mayat. Pembusukan dimulai dengan pemutusan ikatan protein-protein besar pada jaringan tubuh oleh bakteri fermentasi menggunakan enzim protease. Kumpulan hasil pemutusan ikatan protein yang disebut asam amino ini dicerna berbagai jenis bakteri, misalnya bakteri acetogen. Bakteri ini mereaksikan asam amino dengan oksigen dalam tubuhnya untuk menghasilkan asam asetat, hidrogen, nitrogen, serta gas karbon dioksida. Produk asam asetat ini menimbulkan bau. Bau busuk dari tubuh mayat tidak hanya mengganggu, namun juga membahayakan.

Lalu, bagaimana proses pembusukan tubuh dilakukan dari tubuh utuh hingga tinggal tengkorak? Proses pembusukan berawal dari mikroorganisme, misalnya bakteri-bakteri yang hidup di dalam usus besar manusia. Bakteri tersebut mulai mendegradasi protein yang terdapat dalam tubuh. Jika seluruh jenis ikatan protein sudah terputus, beberapa jaringan tubuh menjadi tidak berfungsi. Proses ini disempurnakan bakteri yang datang dari luar tubuh mayat, bisa berasal dari udara, tanah, ataupun air. Seluruh jenis bakteri ini menyerang hampir seluruh sel di tubuh dengan cara menyerang sistem pertahanan tubuh yang tidak lagi aktif, menghancurkan jaringan otot, atau menghasilkan enzim penghancur sel yang disebut protease. Kemudian dengan berbagai jenis metabolisme, mikroorganisme mulai memakan jaringan mati dan mencernanya. Tak jarang kerja proses ini dibantu reaksi kimia alami yang terjadi dalam organisme mati. Semakin lama, otot-otot semakin habis dimakan bakteri.
*http://lintasfacebook.blogspot.com/2011/05/proses-pembusukan-tubuh-manusia-setelah.html
Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......