Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

Tentang Periwayatan Al-Quran

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

Salah satu keistimewaan al-Quran adalah bahwa ia sampai ke tangan kita dengan riwayat yang mutawatir. Artinya, al-Quran ditransmisikan dari generasi ke generasi oleh orang dalam jumlah yang banyak dan mustahil terjadi kebohongan. Bahkan, sedemikian pentingnya periwayatan itu, apabila ada bacaan (atau pemahaman) yang secara logika terlihat lebih dekat pada kebenaran, bacaan atau pemahaman itu tetap wajib ditolak.

Contoh Pertama.

Dalam surah al-A’raf, Allah SWT berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.” (QS al-A’raf 40).
Mayoritas ulama qiraat membaca ayat tersebut sebagaimana kita dapati dalam mushaf yang sekarang ini kita miliki. Hanya saja, di kalangan mayoritas itu-pun, ada sedikit perbedaan ketika membaca kata “f-t-h”. Sebagian membaca dengan huruf ت sehingga terbaca, (تفتح) dan sebagian lain membaca dengan huruf ي sehingga terbaca (يفتح).
Dengan merujuk pendapat Ibn Ja’far, Imam At-Thabari dalam tafsirnya menyimpulkan, baik bacaan dengan huruf “ta” atau “ya” keduanya dapat dibenarkan, sebab memiliki riwayat yang shahih dan tidak mengubah makna. Apabila dibaca dengan menggunakan huruf “ت”, maka itu berarti “pintu-pintu langit tidak ada yang dibuka satu persatu”. Sementara jika dibaca dengan huruf “ي”, maka semua pintu langit tidak dibuka untuk ruh orang-orang kafir secara serentak.
Perbedaan kedua dalam hal qiraat adalah pada kata “j-m-l” (الجمل).  Mayoritas ahli qiraat membaca ayat tersebut sebagai “الجَمَل” yang berarti unta. Ketika ditanya, apa maksud kata الجمل di ayat itu, Ibn Mas’ud menjawab, هو زوج الناقة  “dia adalah pasangan unta perempuan”. Karena itu, terjemahan yang populer berbunyi, “hingga unta masuk ke lubang jarum”. Maksudnya adalah, bahwa orang kafir mustahil masuk surga sebagaimana mustahilnya unta masuk ke lubang jarum.
Sedangkan Ibnu Abbas membaca, “الجُمَل” yang berarti tambang yang besar (dadung) yang biasa digunakan untuk menarik kapal ke dermaga. Jadi, jika merujuk pada riwayat Ibn Abbas, ayat tersebut (dapat) diterjemahkan sebagai, “hingga tambang masuk ke lubang jarum”. Bacaan Ibn Abbas ini seakan lebih tepat sebab pasangan asli jarum adalah benang, maka membandingkannya dengan unta seakan berlebihan.
Karena itu pula, ketika membaca surah al-Mursaalat,
إِنَّهَا تَرْمِي بِشَرَرٍ كَالْقَصْر * كَأَنَّهُ جمَالَةٌ صُفْرٌ
Ibnu Abbas men-dhomah-kan hurf ج yang artinya, “sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana (*) seperti gulungan tambang yang berwarna kuning”.
Namun demikian, riwayat Ibn Abbas ini riwayat yang syadz (aneh), karena itu tidak diikuti oleh para ahli qiraat baik dari kelompok Kufah atau Madinah.
Contoh kedua:
Dalam surah al-Ghasyiyah, Allah SWT berfirman,
أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (17)وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ (18) وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ (19) وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ (20)
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan
Pada ayat ke-17 itu, ada yang membaca kata الابل dengan tasydid (berat). Akibatnya, maknanya menjadi berbeda, bukan lagi “unta” tetapi “gumpalan awan”. Sekilas, orang akan mengatakan bacaan dengan mentasydid lebih cocok sebab pada ayat berikutnya Allah menjelaskan tentang penciptaan langit, gunung, dan bumi, mengapa kok di awalnya “unta” bukan “awan”. Tetapi, sekali lagi, al-Quran ini sampai ke tangan kita dengan riwayat sehingga, mengutip Imam Al-Qurtubi, bacaan dan pemahaman tersebut tak dapat diterima.
Demikian semoga bermanfaat.

Sumber: cek disini

Lengkapnya Klik DISINI

Membangun Soliditas dengan Kader Berkualitas | Oleh Solikhin Abu Izzudin

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

Gambar terkait

"Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh". (q.s. Ash-Shaff: 4)

Dimulai dari kader berkualitas.

“Setiap umat memiliki orang kepercayaan. Dan orang kepercayaan umat ini ialah Abu Ubaidah bin Al Jarrah.”

Sebuah soliditas adalah keniscayaan dalam jamaah dakwah. Kita memerlukan energy untuk terus membangkitkan semangat dan menghadirkan sosok-sosok pilihan yang mampu memaknai peran tanpa kehilangan jatidiri sebagai aktifis pergerakan. Kader yang senantiasa tegas dan lantang dalam menyuarakan perubahan demi perubahan. Seperti Abu Ubaidah ibnul Jarrah yang tetap teguh menjaga kepribadian. Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah bersabda memuji Abu Ubaidah bin Al Jarrah, “Setiap umat memiliki orang kepercayaan. Dan orang kepercayaan umat ini ialah Abu Ubaidah bin Al Jarrah.”

Bagaimana sosok Abu Ubaidah hingga mendapat pujian sebagai orang kepercayaan? Inilah rahasia super murabbi yang hendak kami sajikan. Beberapa episode penting dalam kehidupannya menjadi inspirasi bagi para murabbi untuk terus menempa diri menghadirkan prestasi demi prestasi dalam setiap episode tarbawi dan dalam setiap mihwar da’awi alias orbit dakwah.

Pada suatu hari Abu Ubaidah dan beberapa tokoh kaum Quraisy lainnya pergi ke rumah keluarga Al Arqam untuk bertemu secara langsung dengan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Oleh beliau, mereka ditawari masuk Islam, dan diperkenalkan syari’at-syari’atnya. Dengan tekun dan tenang Abu Ubaidah mendengarkan apa yang disampaikan oleh beliau. Diam-diam ia mencuri pandang wajah beliau yang nampak sangat rupawan dan bercahaya. Jenggot yang tipis menambah ketampanan beliau. Dan ketika mata Abu Ubaidah beradu pandang dengan mata beliau yang sejuk, seketika ia langsung menunduk dan merasa malu sendiri.

Begitu selesai mendengarkan apa yang disampaikan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Abu Ubaidah dan kawan-kawannya segera menyatakan beriman dengan suka rela dan atas kesadaran sendiri, setelah Allah Ta’ala berkenan membukakan hati mereka menerima Islam. Maka dalam waktu yang sama, Abu Ubaidah dan kawan-kawannya sudah menjadi orang muslim.

Yang menarik dari pribadinya adalah sikap-sikap bijaknya dalam mengatasi konflik. Mampu menyelesaikan masalah-masalah pelik dengan strategi yang sangat cantik dan unik.

Berjiiwa Besar dalam Perang Badar

Dalam perang Badar menghadapi konflik batin yang sangat berat. Dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, banyak para sahabat Nabi syahid di tangan ayahnya sendiri. Terjadi konflik batin, antara membela sahabatnya atau memerangi ayahnya. Dia harus mengambil keputusan. Dia harus bersikap tegas mengatasi konflik itu, dia harus memerangi dan membunuh ayahnya yang musyrik. Dia memenangkan keputusannya. Membunuh ayahnya. Dengan tangannya. Sungguh sebuah medan konflik yang telah diselesaikan dengan cantik.

Dia segera bisa mengambil keputusan yang tegas. Ia lebih mementingkan membela imannya kepada Allah dan mengutamakan akidahnya yang murni daripada menuruti perasaannya sebagai seorang anak terhadap ayahnya. Tanpa ragu-ragu, dia mendekati ayahnya. Segera melancarkan serangan yang mematikan ke tubuh ayahnya, sebelum didahului oleh temannya sesama pasukan muslim. Dan seketika ayahnya tewas di tangannya.

Momentum dalam Perang Uhud

Dalam perang Uhud. Ketika pasukan orang-orang musyrik menyiarkan kabar bohong bahwa Nabi saw telah terbunuh. Pasukan muslimin guncang. Putus asa. Kendor semangatnya. Menyaksikan hal ini Abu Ubaidah segera menghampiri Nabi saw yang sedang mendapat serangan yang sangat gencar. Bibirnya Nabi terluka. Gigi depannya retak. Pelipisnya memar. Wajah berlumuran darah. Luka. Tepat ketika di dekat Nabi, Abu Ubaidah melihat darah mengalir deras dari wajahnya yang elok.

Berkali-kali dia segera berupaya menyeka darah yang terus mengalir. Dia menanggalkan salah satu gigi depan Nabi yang sudah retak dengan cara menggigit. Menggunakan giginya. Tanpa peduli, sekuat tenaga dia tarik gigi depan beliau sehingga akhirnya tanggal. Tentu saja hal ini menimbulkan rasa sakit yang luar biasa pada beliau. Tak ayal, darah pun mengucur deras dari mulut Nabi. Tetapi dia merasa senang karena bisa mengurangi rasa sakit yang dialami oleh beliau. Itulah sisi lain Abu Ubaidah, berani mengambil resiko terberat agar Rasulullah selamat.

Berhasil dalam Perang Dzatus Salasil

Ketika Rasulullah saw mengutus Amru bin Ash dalam perang Dzatus Salasil, bersama 300 prajurit kaum muslimin. Tatkala mereka mendekati kabilah-kabilah tersebut, ternyata jumlah pasukan musuh amatlah besar. Amru bin Ash kemudian meminta tambahan pasukan kepada Rasulullah saw untuk memperkuat skuad pasukan kaum muslimin.

Rasulullah saw pun mengutus Abu Ubaidah ibnul Jarrah bersama 200 pasukan tambahan. Di dalam pasukan terdapat Abu Bakar Ash-Shiddiq. Rasullah juga mengamanahkan panji kepemimpinan pasukan kepada Abu Ubaidah ibnul Jarrah dan memerintahkan segera menyusul pasukan Amru bin Ash seraya berpesan agar mereka bersatu padu dan tidak berselisih paham.

Ketika Abu Ubaidah tiba bersama pasukannya dan hendak mengimami seluruh pasukan tersebut —karena panji-panji kepemimpinan pasukan sebelumnya diserahkan oleh Rasulullah saw kepadanya—, Amru bin Ash berkata kepadanya, “Sesungguhnya engkau datang kemari untuk menambah pasukan yang aku pimpin. Dan aku adalah komandan pasukan di sini.”

Bagaimanakah sikap Abu Ubaidah?

Abu Ubaidah mematuhi apa yang dikatakan oleh Amru bin Ash yang akhirnya memimpin pasukan kaum Muslimin dan meraih kemenangan.

Saudaraku, Abu Ubaidah mampu memahami esensi pesan Nabi dan tetap menahan diri. “Hendaklah kalian semua bersatu padu dan tidak berselisih paham.” Padahal jelas, Rasulullah menyerahkan panji-panji kepemimpinan pasukan kepadanya, mengapa dia tidak merebut kepemimpinan itu?

Mengapa dia mengalah? Mengapa dia rela dipimpin oleh Amru bin Ash? Mengapa? Justeru di situlah keunggulan integritasnya. Pemimpin sejati adalah yang siap memimpin dirinya sendiri dan lebih mengutamakan soliditas dengan menjaga hubungan daripada memenangkan situasi.

Melejit dalam Berbagai Situasi Sulit

Ketika Rasulullah wafat, terjadi krisis kepemimpinan yang sangat sulit, menyulut konflik dan hampir-hampir memecah belah umat. Kaum muhajirin memilih Abu Bakar, kaum Anshar lebih memilih Sa’ad bin Mu’adz. Di tengah konflik inilah muncul nama Abu Ubaidah. Dia yang dipersaudarakan oleh Nabi dengan Sa’ad bin Mu’adz, tokoh puncak kaum Anshor. Sebenarnya ini sebuah pilihan yang tepat untuk perekat umat. Ini ‘kan kesempatan emas untuk berbuat, memberikan kontribusi penuh manfaat. Namun Abu Ubaidah melihat sesuatu yang oleh orang lain tidak terlihat. Dia bertindak cepat, lalu berseru dengan tawadhu,”Bagaimana kalian bisa mencalonkan aku, sementara di tengah-tengah kalian ada seseorang yang lebih hebat?”

Dia merasa Abu Bakar pilihan yang lebih tepat. Akhirnya Abu Ubaidah segera mengambil tangan Abu Bakar untuk berbaiat padanya, diikuti oleh Umar. Umat pun terselamatkan dari perpecahan. Terpilihlah Abu Bakar sebagai khalifah. Alhamdulillah.

Episode demi episode dilalui Abu Ubaidah penuh dengan pilihan-pilihan sulit. Saat berperang melawan Romawi di bawah pimpinan Heraklius, dalam kondisi terdesak dia mengutus kurir menemui sang khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq di Madinah untuk meminta pertimbangan. Khalifah mengirimkan pasukan tambahan dalam jumlah yang sangat besar untuk membantu pasukan yang sudah ada, seraya menginstruksikan:

“Aku mengangkat Khalid bin Al Walid sebagai panglima untuk menghadapi pasukan Romawi di Syiria. Dan aku harap kamu jangan menentangnya. Tetapi ta’atilah dia, patuhilah perintahnya. Aku memang sengaja memilihnya sebagai panglima, meskipun aku tahu kamu lebih baik daripadanya. Tetapi aku yakin dia memiliki kelihaian perang yang tidak kamu miliki. Mudah-mudahan Allah selalu menunjukkan kita kepada jalan yang lurus.”

Abu Ubaidah menerima perintah khalifah dengan lapang dada. Rela sepenuhnya. Dia sambut Khalid bin Walid dengan suka cita. Dia serahkan tampuk kepemimpinan kepadanya dengan sikap hormat. Khalid tahu, Abu Ubaidah seorang komandan yang cerdas, berpengalaman, dan pemberani. Dia menunjuk Abu Ubaidah sebagai komandan pasukan kavaleri. Lalu pasukan berangkat. Mengepung Damaskus. Khalid bin Walid bergerak ke pintu gerbang kota sebelah timur, Abu Ubaidah bergerak ke pintu gerbang daerah Jabiyah. Komandan-komandan yang lain bergerak ke gerbang masing-masing.

Kekuatan pasukan kaum muslimin berhasil mengepung kota yang sangat kuat tersebut dari segala penjuru. Karena terus didesak, penduduk kota Damaskus berusaha melakukan perlawanan dengan sangat gigih untuk mempertahankan kota mereka yang tercinta. Di tengah keadaan yang sangat genting tersebut, ketika pasukan kaum muslimin bertempur habis-habisan dengan pasukan Romawi, Umar bin Khattab ra menemui Abu Ubaidah. Membawa kabar, Abu Bakar telah wafat. Umar juga hendak memecat panglima Khalid bin Al Walid, mengembalikan kepemimpinan kepada Abu Ubaidah.

Abu Ubaidah menyembunyikan berita duka agar tidak terdengar oleh pasukan kaum muslimin yang sedang gigih bertempur di bawah komando panglima Khalid bin Walid melawan pasukan Romawi. Dia khawatir berita kematian sang khalifah Abu Bakar membuat suasana gempar sehingga kekuatan jadi buyar. Bahkan surat Umar untuk pemecatan Khalid bin Al Walid dia tahan, mencari waktu yang tepat benar. Sebab, mereka tengah menghadapi pasukan yang sangat tangguh. Bahkan keadaan pasukan kaum muslimin sedang terdesak. Abu Ubaidah tetap tegar dan tidak mau menyerah. Dia terus berjuang habis-habisan. Dia merasa jika terus menerus mengepung kota Damaskus yang sangat kuat, bisa menguras kekuatan pasukan kaum muslimin, melemahkan semangat mereka, dan menimbulkan kebosanan. Akhirnya dia mencari jalan keluar. Menawarkan gencatan kepada penduduk kota Damaskus. Namun dalam waktu yang bersamaan Khalid bin Al Walid baru saja berhasil mendobrak pintu gerbang kota sebelah timur sehingga dapat memasuki kota tersebut dengan leluasa.

Abu Ubaidah dan Khalid bin Al Walid lalu bertemu. Mereka terlibat perdebatan sengit tentang apa yang harus dilakukan terhadap kota Damaskus, apakah ditaklukkan dengan kekerasan atau memilih jalan damai, gencatan senjata?

Abu Ubaidah bersikukuh menempuh jalan damai dengan penduduk Damaskus, sehingga Khalid bin Walid pun luluh. Mengalah demi menghormati Abu Ubaidah yang terlanjur telah mengadakan perjanjian damai dengan penduduk Damaskus. Khalid bin Al Walid tunduk patuh kepada Abu Ubaidah setelah mengetahui bahwa dirinya sudah dipecat sebagai panglima oleh Umar bin Khattab, khalifah yang baru.

Belajar Keulungan dari Abu Ubaidah

Mari kita belajar dari salah seorang dari Sepuluh Orang yang Dijamin Surga, dialah Abu Ubaidah ibnul Jarrah. Seluruh mozaik kehidupannya perlu kita telisik dengan unik karena sosoknya mencerminkan kader pengokoh soliditas jamaah terutama di saat sulit, dalam berbagai medan konflik dapat dilalui dengan cantik. Kalau surga merindukannya tentunya ini pula yang menjadi obsesi kita.

Pertama, cepat merespon kebaikan demi kebaikan sejak pertama kali bergabung bersama Islam. Prestasi keislamannya dan berbagai peran unggulannya munculnya dari tarbiyah yang paripurna. “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat baik.” (q.s. An-Nahl: 128)

Kedua, memiliki visi yang kuat dalam berjamaah. Yakni keterikatan dia pada jamaah karena ikatan visi, ikatan aqidah, keimanan, dakwah dan ukhuwah bukan karena ikatan kepentingan berupa jabatan, gengsi popularitas maupun kenikmatan duniawi yang sesaat. Medan konflik peran dan konflik batin mampu dilalui dengan sangat manis karena orientasi rabbani benar-benar menghunjam dalam diri.

Ketiga, mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan dan mensinergikannya menjadi jalan kemenangan demi kemenangan meski kemenangan tersebut bukan diatas namakan pada dirinya. Dia mampu menahan diri untuk tidak begitu menyampaikan berita-berita penting di saat-saat genting agar tidak menimbulkan konflik yang meruncing. Seorang murabbi dan para pemimpin dakwah mesti memiliki kecerdasan praktis seperti ini. Yakni kecerdasan untuk mengetahui apa yang harus dikatakan kepada orang tertentu, mengetahui kapan mengatakannya, tahu bagaimana mengatakannya untuk mendapatkan hasil yang maksimal. (Robert Sternberg – dalam buku OUTLIERS Malcolm Gladwell)

Keempat, organisasi adalah system dan sarana bukan tujuan. Dalam menjaga soliditas jamaah dakwah Abu Ubaidah sangat peka merasakan betapa pentingnya menjaga soliditas team dan keberlangsungan system karena adanya tujuan-tujuan agung dakwah yang hendak diraih bersama.

Kelima, Selalu berorientasi memberi. Bila setiap kader memiliki jiwa seperti Abu Ubaidah kita akan merasakan atmosfer tarbiyah dan aura dakwah begitu melimpah ruah karena para ikhwah adalah barisan orang-orang yang sadar untuk memberikan kontribusi dalam perjuangan. Dan ini bisa dibangun dari lima pilar kesadaran berorganisasi atau berjamaah dalam kemenyeluruhan dakwah Islamiyah, yakni :

1. Individu bagian dari FUNGSI pencapaian TUJUAN.
2. Semangat MEMBERI mengalahkan semangat MENERIMA.
3. SIAP menjadi TENTARA KREATIF dalam bingkai KESETIAAN dan KETAATAN.
4. Berorientasi pada KARYA bukan POSISI
5. BEKERJASAMA walaupun BERBEDA
(M. Anis Matta, Dari GERAKAN ke NEGARA)

Bukan Menuntut tapi Memulai…

Soliditas itu dimulai dan dibangun dari dalam diri setiap kader dakwah, murabbi dan murabbiyah secara sadar. Sebab kebanyakan orang keluar dari organisasi –menurut Azim Premji Milyuner Muslim dari India—bukan karena tidak cinta kepada organisasinya namun karena manajemen yang buruk. Nah, kader-kader dakwah yang clear, care and competence mesti menjadi pelopor kebaikan dalam diri dengan mampu menjaga quwwatush shilah billah yang terimplementasi dalam ranah ukhuwah dari tataran dasar salamatush shadr hingga puncak itsar.

Inilah cara sehat untuk sehat. Kita sehat kalau berpikir untuk memberi manfaat kepada orang lain dan kita mudah lelah dan sakit bila hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Saat kita memberikan yang terbaik, sesungguhnya kebaikan itu akan kembali kepada kita juga.

Saudaraku, mari kita membentuk diri dengan spirit keulungan seorang murabbi sejati. Super murabbi didikan Rasulullah. Abu Ubaidah yang mampu mengelola konflik demi konflik dengan apik. Bukan untuk kebesaran dirinya tapi untuk kemenangan bersama. Kemenangan besar. Itulah yang mensurgakan perannya, yang mengangkat kebesaran jiwanya. Keunggulan dalam ketawadhu’an. Ketegasan dalam kesabaran.

Dibutuhkan kesabaran yang super seperti Abu Ubaidah untuk bisa meraih kemenangan yang besar. Kesabaran untuk kebesaran. Itulah cara mengelola sikap optimisme agar menjiwa, mendarahdaging, mensumsum tulang dalam berpikir menang. Kemenangan di alam jiwa, kemenangan di alam nyata.

Begitulah hidup. Lebih bermakna bila fokus pada kualitas tanpa meremehkan kuantitas. Adapun bila kualitas bergabung dengan kuantitas tentu akan menjadi kekuatan super dahsyat. Seperti kejeniusan pikiran seorang pemimpin, bersarang dalam hati yang ikhlas, tegak di atas fisik yang kuat, dan tampak dalam kemuliaan akhlak.

Semoga kita bisa mewujudkannya… dan itu dimulai dari dalam diri setiap ikhwah, kader-kader dakwah dan tarbiyah. Ya Ayyuhalladziinaa aamanuu intanshurullaha yanshurkum wa yutsabbit aqdamakum.

—–

Solikhin Abu Izzudin
dari Buku Super Murabbi
Sumber :
http://www.pkskelapadua.com/2014/05/membangun-soliditas-dengan-kader.html
Lengkapnya Klik DISINI

Kenapa Imam Mazhab Tidak Pakai Hadits Bukhari dan Muslim?



Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

Tahun Lahir Imam Mazhab dan Hadits
Kenapa para Imam Mazhab seperti Imam Malik tidak memakai hadits Sahih Bukhari dan Sahih Muslim yang katanya merupakan 2 kitab hadits tersahih? Untuk tahu jawabannya, kita harus paham sejarah. Paham biografi tokoh2 tsb.

Imam Malik lahir tahun 93 Hijriyah. Sementara Imam Bukhari lahir tahun 196 H dan Imam Muslim lahir tahun 204 H. Artinya Imam Malik sudah ada 103 tahun sebelum Imam Bukhari lahir. Paham?
Apakah hadits para Imam Mazhab lebih lemah dari Sahih Bukhari dan Sahih Muslim?
Justru sebaliknya. Lebih kuat karena mereka lebih awal lahir daripada Imam Hadits tsb.
Rasulullah SAW bersabda, خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ “Sebaik-baik manusia adalah pada kurunku (Sahabat), kemudian yang sesudahnya (Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (Tabi’ut Tabi’in).”[HR. Al-Bukhari no. 2652 dan Muslim no. 2533 ]
Siapakah pengikut ulama SALAF sebenarnya?
1) Imam Hanafi lahir:80 hijrah
2) Imam Maliki lahir: 93 hijrah
3) Imam Syafie lahir:150 hijrah
4) Imam Hanbali lahir:164 hijrah

Jadi kalau ada manusia akhir zaman yang berlagak jadi ahli hadits dgn menghakimi pendapat Imam Mazhab dgn Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, ya keblinger. Hasil “ijtihad” mereka pun berbeda-beda satu sama lain…

Biar kata misalnya menurut Sahih Bukhari misalnya sholat Nabi begini2 dan beda dgn sholat Imam Mazhab, namun para Imam Mazhab seperti Imam Malik melihat langsung cara sholat puluhan ribu anak2 sahabat Nabi di Madinah. Anak2 sahabat ini belajar langsung ke Sahabat Nabi yang jadi bapak mereka. Jadi lebih kuat ketimbang 2-3 hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari 100 tahun kemudian.
Imam Bukhari dan Imam Muslim pun meski termasuk pakar hadits paling top, tetap bermazhab. Mereka mengikuti mazhab Imam Syafi’ie. Ini adalah Imam Hadits yang mengikuti Mazhab Syafi’ie: Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Nasa’i, Imam Baihaqi, Imam Turmudzi, Imam Ibnu Majah, Imam Tabari, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam Abu Daud, Imam Nawawi, Imam as-Suyuti, Imam Ibnu Katsir, Imam adz-Dzahabi, Imam al-Hakim.

Lho apa kita tidak boleh mengikuti hadits Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dsb? Ya boleh sebagai pelengkap. Tapi jika ada hadits yang bertentangan dengan ajaran Imam Mazhab, yang kita pakai adalah ajaran Imam Mazhab. Bukan hadits tsb. Wong para Imam Hadits saja kan mengikuti Mazhab Syafi’ie? Tidak pakai hadits mereka sendiri?


Menurut Ustad Ahmad Sarwat, Lc., MA, banyak orang awam yang tersesat karena mendapatkan informasi yang sengaja disesatkan oleh kalangan tertentu yang penuh dengan rasa dengki dan benci. Menurut kelompok ini Imam Mazhab yang 4 itu kerjaannya cuma merusak agama dengan mengarang-ngarang agama dan menambah-nambahi seenaknya. Itulah fitnah kaum akhir zaman terhadap ulama salaf asli.

Padahal Imam Mazhab tsb menguasai banyak hadits. Imam Malik merupakan penyusun Kitab Hadits Al Muwaththo. Dengan jarak hanya 3 level perawi hadits ke Nabi, jelas jauh lebih murni ketimbang Sahih Bukhari yang jaraknya ke Nabi bisa 6-7 level. Begitu pula Imam Ahmad yang menguasai 750.000 hadits lebih dikenal sebagai Ahli Hadits ketimbang Imam Mazhab.

Ada tulisan bagus dari Ustad Ahmad Sarwat, Lc., MA, yaitu:

Penelitian Hadits Dilakukan Oleh Empat Imam Mazhab


Di antaranya Ustad Ahmad menulis bahwa para imam mazhab yang empat, Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal, sama sekali tidak pernah menggunakan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Kenapa?

Pertama, karena mereka lahir jauh sebelum Bukhari (194-265 H) dan Muslim (204-261 H) dilahirkan. Sementara Imam Malik wafat sebelum Imam Bukhari lahir. Begitu pula saat Imam Syafi’ie wafat, Imam Bukhari baru berumur 8 tahun sementara Imam Muslim baru lahir. Tidak mungkin kan para Imam Mazhab tsb berpegang pada Kitab Hadits yang belum ada pada zamannya?

Kedua, menurut Ustad Ahmad, karena keempat imam mazhab itu merupakan pakar hadits paling top di zamannya. Tidak ada ahli hadits yang lebih baik dari mereka.

Ketiga, karena keempat imam mazhab itu hidup di zaman yang lebih dekat ke Rasulullah SAW dibanding Imam Bukhari dan Imam Muslim, maka hadits mereka lebih kuat dan lebih terjamin keasliannya ketimbang di masa-masa berikutnya.

Dalam teknologi, makin ke depan makin maju. Komputer, laptop, HP, dsb makin lama makin canggih. Tapi kalau hadits Nabi, justru makin dekat ke Nabi makin murni. Jika menjauh dari zamannya, justru makin tidak murni, begitu tulis Ustad Ahmad Sarwat.

Keempat, justru Imam Bukhari dan Muslim malah bermazhab Syafi’ie. Karena hadits yang mereka kuasai jumlahnya tidak memadai untuk menjadi Imam Mazhab. Imam Ahmad berkata untuk jadi mujtahid, selain hafal Al Qur’an juga harus menguasai minimal 500.000 hadits. Nah hadits Sahih yang dibukukan Imam Bukhari cuma 7000-an. Sementara Imam Muslim cuma 9000-an. Tidak cukup.
Ada beberapa tokoh yang anti terhadap Mazhab Fiqih yang 4 itu kemudian mengarang-ngarang sebuah nama mazhab khayalan yang tidak pernah ada dalam sejarah, yaitu mazhab “Ahli Hadits”. Seolah2 jika tidak bermazhab Ahli Hadits berarti tidak pakai hadits. Meninggalkan hadits. Seolah2 para Imam Mazhab tidak menggunakan hadits dalam mazhabnya. Padahal mazhab ahli hadits itu adalah mazhab para ulama peneliti hadits untuk mengetahui keshahihan hadits dan bukan dalam menarik kesimpulan hukum (istimbath).

Kalaulah benar pernah ada mazhab ahli hadits yang berfungsi sebagai metodologi istimbath hukum, lalu mana ushul fiqihnya? Mana kaidah-kaidah yang digunakan dalam mengistimbath hukum? Apakah cuma sekedar menggunakan sistem gugur, bila ada dua hadits, yang satu kalah shahih dengan yang lain, maka yang kalah dibuang?

Lalu bagimana kalau ada hadits sama-sama dishahihkan oleh Bukhari dan Muslim, tetapi isinya bertentangan dan bertabrakan tidak bisa dipertemukan?

Imam Syafi’ie membahas masalah kalau ada beberapa hadits sama-sama shahihnya tetapi matannya saling bertentangan, apa yang harus kita lakukan? Beliau menulis kaidah itu dalam kitabnya : Ikhtilaful Hadits yang fenomenal.

Cuma baru tahu suatu hadits itu shahih, pekerjaan melakukan istimbath hukum belum selesai. Meneliti keshahihan hadits baru langkah pertama dari 23 langkah dalam proses istimbath hukum, yang hanya bisa dilakukan oleh para mujtahid.

Entah orientalis mana yang datang menyesatkan, tiba-tiba muncul generasi yang awam agama dan dicuci otaknya, dengan lancang menuduh keempat imam mazhab itu sebagai  bodoh  dalam ilmu hadits. Hadits shahih versi Bukhari dibanding-bandingkan secara zahir dengan pendapat keempat mazhab, seolah-olah pendapat mazhab itu buatan manusia dan hadits shahih versi Bukhari itu datang dari Allah yang sudah pasti benar. Padahal cuma Al Qur’an yang dijamin kebenarannya. Hadits sahih secara sanad, belum tentu sahih secara matan. Meski banyak hadits yang mutawattir secara sanad, sedikit sekali hadits yang mutawattir secara matan. Artinya susunan kalimat atau katanya sama persis.
Orang-orang awam dengan seenaknya menyelewengkan ungkapan para imam mazhab itu dari maksud aslinya : “Bila suatu hadits itu shahih, maka itulah mazhabku”. Kesannya, para imam mazhab itu tidak paham dengan hadits shahih,  lalu menggantungkan mazhabnya kepada orang-orang yang hidup dua tiga abad sesudahnya.

Padahal para ulama mazhab itu menolak suatu pendapat, karena menurut mereka hadits yang mendasarinya itu tidak shahih. Maka pendapat itu mereka tolak sambil berkata,”Kalau hadits itu shahih, pasti saya pun akan menerima pendapat itu. Tetapi berhubung hadits itu tidak shahih menurut saya, maka saya tidak menerima pendapat itu”. Yang bicara bahwa hadits itu tidak shahih adalah profesor ahli hadits, yaitu para imam mazhab sendiri. Maka wajar kalau mereka menolaknya.

Tetapi lihat pengelabuhan dan penyesatan dilakukan secara terstruktur, sistematis dan masif. Digambarkan seolah-olah seorang Imam Asy-Syafi’i itu tokoh idiot yang tidak mampu melakukan penelitian hadits sendiri, lalu kebingungan dan menyerah menutup mukanya sambil bilang,”Saya punya mazhab tapi saya tidak tahu haditsnya shahih apa tidak, jadi kita tunggu saja nanti kalau-kalau ada orang yang ahli dalam bidang hadits. Nah, mazhab saya terserah kepada ahli hadits itu nanti ya”.
Dalam hayalan mereka, para imam mazhab berubah jadi badut pandir yang tolol dan bloon. Bisanya bikin mazhab tapi tidak tahu hadits shahih. Sekedar meneliti hadits apakah shahih atau tidak, mereka tidak tahu. Dan lebih pintar orang di zaman kita sekarang, cukup masuk perpustakaan dan tiba-tiba bisa mengalahkan imam mazhab.

Cara penyesatan dan merusak Islam dari dalam degan modus seperti ini ternyata nyaris berhasil. Coba perhatikan persepsi orang-orang awam di tengah kita. Rata-rata mereka benci dengan keempat imam mazhab, karena dikesankan sebagai orang bodoh dalam hadits dan kerjaanya cuma menambah-nambahi agama.

Parahnya, setiap ada tradisi dan budaya yang sesat masuk ke dalam tubuh umat Islam, seperti percaya dukun, tahayyul, khurafat, jimat, dan berbagai aqidah sesat, sering diidentikkan dengan ajaran mazhab. Seolah mazhab fiqih itu gudangnya kesesatan dan haram kita bertaqlid kepada ulama mazhab.

Sebaliknya, orang yang harus diikuti adalah para ahli hadits, karena mereka itulah yang menjamin keshahihan hadits.
Ahmad Sarwat, Lc., MA

Baca selengkapnya di:

Menurut Ustad Ahmad Sarwat Lc, MA,  Hadits di zaman Imam Bukhari yang hidup di abad 3 Hijriyah saja sudah cukup panjang jalurnya. Bisa 6-7 level perawi hingga ke Nabi. Sementara jalur hadits Imam Malik cuma 3 level perawi. Secara logika sederhana, yang 3 level itu jelas lebih murni ketimbang yang 6 level.

Jika Imam Bukhari hidup zaman sekarang di abad 15 Hijriyah, haditsnya bisa melewati 40-50 level perawi. Sudah tidak murni lagi. Beda 3 level saja bisa kurang murni. Apalagi yang beda 50 level.
Jadi Imam Bukhari dan Imam Muslim bukan satu2nya penentu hadits Sahih. Sebelum mereka pun ada jutaan ahli hadits yang bisa jadi lebih baik seperti Imam Malik dan Imam Ahmad karena jarak mereka ke Nabi lebih dekat. *Inspirasi Rabbani/sumber
Lengkapnya Klik DISINI

Tukang Sapu dan Tukang Sampah

Abbas Hasan As Sisi
Ada seorang akh bertanya kepada saya tentang “kiat sukses memikat hati.”

Saya katakan, “Kita percaya bahwa manusia itu sama. Ini tercermin ketika kaum Muslimin berada dalam masjid. Yang miskin duduk ber-dampingan dengan yang kaya, yang lemah berdam-pingan dengan yang kuat, tukang sapu dan tukang sampah sama seperti kebanyakan manusia lain dalam masjid. Tetapi sayang, hal ini tidak diaplikasikan di luar masjid. Apakah ketika Anda lewat di jalanan dan bertemu salah seorang tukang sapu, Anda mengucapkan salam padanya?”

“Tidak,” jawabnya.

Saya katakan, “Itu karena Anda tidak peduli kepada-nya. Sungguh, Rasul Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melarang perbuatan demikian melalui sabdanya, ‘Janganlah kalian menganggap remeh suatu kebaikan walau itu hanya sekedar bermuka ceria ketika bertemu saudaramu.’  Bila Anda melakukan hal itu, lalu Anda ucapkan salam padanya, baik kenal maupun tidak, berarti Anda telah menghargai dinnya dan memberinya rasa optimis dalam menatap kehidupan, karena sebelumnya ia merasa dari golongan terasing dalam masyarakat. Ia merasa tidak seorang pun yang mau memalingkan wajah ke arahnya, tidak seorang pun yang menghargainya atau sekedar mengajaknya berbi-cara dengan baik. Bila Anda ucapkan salam kepadanya di suatu hari, maka ia akan menantimu lewat di jalan itu, hanya untuk mendapatkan salam darimu. Ketahuilah, telah banyak orang yang mengabaikan sesuatu yang selama im ia cari-cari dan dambakan.”

Pada hakikatnya tukang sapu dan tukang sampah yang bekerja sebagai petugas mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah dan dari jalanan ke jalanan, berhak mendapat penghargaan. Karena kita merasa terbantu dengan pekerjaan yang sulit dan kotor ini.

Oleh karena itu, negara berkewajiban memberikan gaji yang berlipat atau memberinya tunjangan biaya kesehatan. Karena pada hakikatnya ia lebih mudah terserang banyak penyakit, yang disebabkan oleh seringnya berhubungan dengan kotoran-kotoran itu. Jika kita memahami tujuan da’wah, yaitu da’wah pembenahan, guna mewujudkan masyarakat islami, maka tidak akan terlewat dari pikiran kita untuk memahami kenyataan ini, yang dapat menyatukan hati dan menjernihkan akhlak.

Pada suatu hari saya berada di Masjid Kurmuz, Iskandaria, membicarakan tentang hal ini bersama bebe-rapa ikhwah. Ketika saya selesai berbicara, tiba-tiba saya dihampiri seorang pemuda, seraya mengatakan, “Saya sangat terkesan dengan pembahasan ini.” Setelah saya tanya, ternyata ia bekerja sebagai tukang kebersihan dan tukang sapu. Lalu saya katakan, “Bukankah kannas (tukang sapu) itu kan-nas (sama seperti manusia lain)?'” Sungguh, ini kata-kata spontan belaka, yang kebetulan saja berlaku.

Lengkapnya Klik DISINI

Hijrah Rasulullah Bukan Tanggal 1 Muharram

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

Hasil gambar untuk gambar hijrah
 
Hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah tak terjadi pada tanggal 1 Muharram.

Dalam kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum, Syeikh Al-Mubarakfury mengatakan bahwa Muhammad SAW. meninggalkan kediamannya di Mekkah ke kediaman Abu Bakar saat hari gelap atau malam hari, yakni pada tanggal 27 Shafar. Dari kediaman Abu Bakar, Rasulullah SAW. bersama Abu Bakar meninggalkan Mekkah ke tempat yang berlawanan dengan Madinah, menuju Gua Tsaur untuk tujuan sembunyi. Nabi Muhammad SAW. sempat menginap di dalamnya selama tiga malam, yakni malam Jumat, Sabtu serta Ahad.

Bersama Abu Bakar dan Abdullah bin Uraiqith serta orang kafir penunjuk jalan, Rasulullah SAW. memulai perjalanan ke Madinah lewat jalan yang tak lumrah.

Senin 8 Rabiul Awwal (23 Sept 622M) Rasulullah SAW. tiba di Quba, sekian kilometer sebelum masuk kota Madinah pada masa itu. Di Quba ini Rasulullah SAW. sempat menginap dari hari Senin, Selasa, Rabu hingga Kamis. Rasulullah SAW. bergerak menuju Madinah pada hari Jumat, tepatnya tanggal 11 Rabiul Awwal.
 
Jadi, rasanya kurang tepat apabila pada tanggal 1 Muharram diperingati peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW. Mengapa? karena hijrah Rasulullah SAW. tak terjadi pada bulan Muharram. Apabila ingin memperingati hijrah nabi, waktunya seharusnya antara 27 Shafar hingga 11 Rabiul Awwal.

Jika kita memperingati 1 Muharam sebenarnya itu memperingati ulang tahun kelahiran Al-Madinah Al-Munawwarah. Sebab pada dasarnya penetapan kalender hijriah itu dari kepentingan sistem adminstrasi negara. Umar serta para shahabat ketika itu setuju untuk mulai hitungan tahun pertama adalah sejak berdirinya negara Madinah, yang secara politis dijatuhkan pada tahun dimana Nabi SAW. hijrah dan tiba di Madinah.

Tahun dimana Nabi SAW tiba di Madinah adalah tahun yang menjadi tonggak besar dalam sejarah Islam, sebab merupakan tahun awal mula berdirinya negara Islam pertama.

Seperti halnya kita bangsa Indonesia memperingati 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan RI, dan bangsa Amerika setiap 4 Juli memperingati The Independen Day, maka umat Islam sedunia memperingati tiap 1 Muharram sebagai awal mula berdirinya Madinah sebagai negara.

Tak sedikit orang yang meragukan Madinah sebagai negara, sekalipun yang beragama Islam. Padahal tak ada kausal untuk meragukan kenegaraan Madinah.

Madinah ketika itu sudah memenuhi rukun dasar sebuah negara, yakni adanya pemimpin, rakyat dan wilayah. Madinah punya hukum dan pengadilan sendiri. Yang lebih penting lagi, negara-negara besar di masa itu juga diakui bila Madinah merupakan negara berdaulat.

Buktinya dengan dijawabnya surat yang dikirim oleh Nabi Muhammad kepada para raja dunia. Jawaban dari penguasa Romawi Kaisar Heraklius, surat Nabi SAW yang berisi ajakan masuk Islam itu, direspons baik dengan sepenuh penghormatan serta pengakuan bahwa Rasulullah SAW. adalah kepala negara.

Madinah ketika itu masih sangat kecil areanya, kira-kira hanya seluas masjid An-Nabawi saat ini. Jumlah penduduknya pun masih sangat sedikit. Penelitian menyebutkan bahwa saat Rasulullah tiba, Madinah hanya memiliki penduduk sejumlah kira-kira 15 ribuan jiwa. Saat Rasulullah SAW mangkat, jumlah penduduk Madinah sudah mencapai dua kali lipatnya, yaitu sekitar 30 ribu jiwa. 

sumber : [Paramuda/BersamaDakwah]


Lengkapnya Klik DISINI

KEAJAIBAN UMAT NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WASALLAM DALAM KITAB TAURAT

KEAJAIBAN UMAT NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WASALLAM DALAM KITAB TAURAT
Ketika Nabi Musa ‘alaihissalam bermunajat di Gunung Thursina untuk “bertemu” Allah subhaanahu wata’aala, Nabi Musa ‘alaihissalam mengajukan beberapa permintaan terkait isi dalam lauh-lauh (Kitab Taurat) yang diterimanya.

Nabi Musa ‘alaihissalam berkata, “Ya Tuhanku, aku melihat di lauh-lauh itu disebutkan suatu umat yang menjadi umat terbaik yang pernah terlahir ke dunia, mereka menyuruh sesamanya untuk berbuat kebaikan dan mencegah sesamanya berbuat kemungkaran. Ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu sebagai umatku.”
Allah subhaanahu wata’aala menjawab, “Itu adalah umat Muhammad.”

Nabi Musa ‘alaihissalam berkata lagi, “Ya Tuhanku, aku melihat di lauh-lauh itu disebutkan suatu umat yang menjadi umat terakhir yang diciptakan namun mereka adalah umat yang paling dahulu masuk surga. Ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu sebagai umatku.”
Allah subhaanahu wata’aala menjawab, “Itu adalah umat Muhammad.”

Nabi Musa ‘alaihissalam berkata lagi, “Ya Tuhanku, aku melihat di lauh-lauh itu disebutkan suatu umat yang memiliki anak-anak yang sudah dapat menghapal kitab suci mereka, sedangkan umat-umat sebelum itu membaca kitab suci mereka dengan melihat. Apabila kitab itu disingkirkan, mereka tidak dapat membacanya dan tidak mengetahuinya. Engkau juga memberikan mereka daya hafal yang tinggi yang tidak diberikan pada umat-umat lainnya. Ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu sebagai umatku.”
Allah subhaanahu wata’aala menjawab, “Itu adalah umat Muhammad.”

Nabi Musa ‘alaihissalam berkata lagi, “Ya Tuhanku, aku melihat di lauh-lauh itu disebutkan suatu umat yang beriman pada kitab suci yang pertama kali diturunkan hingga kitab suci yang terakhir diturunkan, mereka senantiasa memerangi kesesatan, bahkan mereka juga memerangi makhluk paling pendusta yang bermata satu (Dajjal). Ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu sebagai umatku.”
Allah subhaanahu wata’aala menjawab, “Itu adalah umat Muhammad.”

Nabi Musa ‘alaihissalam berkata lagi, “Ya Tuhanku, aku melihat di lauh-lauh itu disebutkan suatu umat yang dapat memakan hasil dari zakat yang dikeluarkan oleh sesama mereka, namun tetap diberi ganjaran yang berlipat-lipat. Engkau mewajibkan zakat itu pada orang-orang kaya di antara mereka dan menyalurkannya pada orang-orang miskin. Sementara ketika umat-umat lain berzakat, jika diterima maka zakat itu akan dimakan api, dan jika ditolak maka zakat itu akan dimakan hewan buas dan burung-burung. Ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu sebagai umatku.”
Allah subhaanahu wata’aala menjawab, “Itu adalah umat Muhammad.”

Nabi Musa ‘alaihissalam berkata lagi, “Ya Tuhanku, aku melihat di lauh-lauh itu disebutkan suatu umat yang ketika berniat untuk berbuat baik namun mereka tidak melaksanakan niat tersebut, maka akan tertulis satu kebaikan. Dan jika mereka melaksanakan niat tersebut, maka akan tertulis bagi mereka 10 hingga 700 kali lipat. Ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu sebagai umatku.”
Allah subhaanahu wata’aala menjawab, “Itu adalah umat Muhammad.”

Nabi Musa ‘alaihissalam berkata lagi, “Ya Tuhanku, aku melihat di lauh-lauh itu disebutkan suatu umat yang dapat memberikan syafaat sekaligus menerima syafaat. Ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu sebagai umatku.”
Allah subhaanahu wata’aala menjawab, “Itu adalah umat Muhammad.”

Setelah mendegar semua itu, Nabi Musa ‘alaihissalam melemparkan lauh-lauh yang dipegangnya sembari berkata, “Ya Tuhanku, jadikanlah aku salah satu umat Muhammad.”

Lengkapnya Klik DISINI

Wahai Perempuan, Pelajarilah Seni Berbicara

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

Suami istri (nikah)

Salah satu indikasi kecerdasan seorang perempuan tampak dengan jelas dari pembicaraannya dan kemampuannya dalam mengungkapkan kata-kata yang mudah dipahami.

Hal ini menambahkan kesan kedekatan hubungan dengan orang-orang yang diajak berbicara, baik keluarganya, suaminya ataupun anak-anaknya.

Perempuan yang cerdas mampu membuat spiritnya memuncak. Ia senantiasa menjauhi tema-tema pribadi, seperti kesehatannya, tanggung jawabnya yang harus dipikul sendiri lantaran tidak ada pembantu atau melontar kritik kepada orang lain.

Perempuan cerdas juga tidak menguasai pembicaraan dengan cara melarang orang lain berbicara, sehingga menjadi monolog yang membosankan dan tidak bermanfaat bagi orang lain.

Perempuan yang cerdas tidak membicarakan hal-hal bercabang yang memunculkan banyak tafsir. Jika berbicara, ia mampu menjelaskan tema besar pembicaraannya. Ini merupakan ujian terberat bagi kecerdasan dan pengalamannya.

Perempuan yang pintar mengetahui bagaimana menceritakan hal-hal yang lucu dan kapan saatnya bercerita. Ia mengetahui bahwa tidak boleh menghabiskan waktu yang lama yang dapat menyebabkan pendengarnya bosan.

Hal yang terpenting adalah tidak pernah mengulangi sebuah cerita dua kali kepada orang-orang yang sama.

Untuk itulah, seorang perempuan harus berusaha menggunakan bahasa-bahasa singkat yang mengena. Tidak membiarkan mulut mengeluarkan kata-kata tanpa kendali.

Ia juga tidak menjadi pembicara pertama dari pembicara-pembicara yang datang dalam sebuah forum, sehingga tidak menimbulkan penimbunan pembicaraan.

Perempuan yang hebat selalu mengetahui kapan harus diam dan kapan harus berpikir keras untuk mencerna perkataan.

Banyak sekali kita dapatkan dalam kehidupan sehari-hari, seroang laki-laki melihat bahwa perempuan tertentu dalam pandangannya memiliki kecerdasan hanya karena ia terdiam dan mendengarkan pembicaraan orang lain.

Seorang perempuan tidak harus mengutarakan apapun yang tidak ia miliki dan tidak mesti untuk diungkapkan. Ketika menyampaikan sebuah ide, ia tidak menampakkan keraguan. Ia senantiasa menghindari perkataan yang samar tanpa makna.

Sesungguhnya tingkat kecerdasan perempuan tidaklah lebih rendah daripada kecerdasan seorang laki-laki, tetap ada sedikit perbedaan, karena kecerdasan perempuan memiliki keunikan seperti halnya keunikan perempuan itu tersendiri.

Demikian disadur dari buku Kuni Aniqah karya Shafa Syamandi.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]


Lengkapnya Klik DISINI

Adab Pergaulan Pria dan Wanita Menurut Islam

coupleFenomena khalwat (berdua-duan) dan ikhtilat (campur baur) yang terjadi di antara pria dan wanita yang bukan mahram saat ini sungguh sangat memprihatinkan. Dengan alasan ‘gaul’, mereka demikian bebas melakukannya tanpa memperhatikan adab-adab Islam tentang hal itu.

Hendaklah kaum pria dan wanita bertakwa kepada Allah Ta’ala. Alangkah baiknya jika mereka menjauhi khalwat dan ikhtilat guna menutup jalan yang mengarah kepada perbuatan zina. Hindarilah hal-hal yang ‘sepele’, berupa ‘telepon-teleponan’ maupun ‘chating’ yang tidak jelas tujuannya.

Berikut ini kami ingatkan adab-adab yang harus diperhatikan oleh setiap muslim agar mereka terhindar dari perbuatan zina yang tercela:

Pertama, hendaknya setiap muslim menjaga pandangan matanya dari melihat lawan jenis secara berlebihan, apalagi diiringi syahwat. Perhatikanlah firman Allah berikut ini,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُن
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya…” (QS. An-Nur, 24: 30-31)

Awal dorongan syahwat adalah dengan melihat. Karena itu jagalah mata agar terhindar dari tipu daya syaithan. Tentang hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا عَلِيُّ لاَ تُنْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَاِنَّ لَكَ اْلأُوْلَى وَ لَيْسَتْ لَكَ الثَّانِيَةُ
“Wahai Ali, janganlah engkau iringkan satu pandangan (kepada wanita yang bukan mahram) dengan pandangan lain, karena pandangan yang pertama itu (halal) bagimu, tetapi tidak yang kedua!” (HR. Abu Daud).

Kedua, hendaknya setiap muslim menjaga auratnya masing-masing dengan cara berbusana islami. Secara khusus bagi kaum wanita Allah SWT berfirman,

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
“…dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…” (QS. 24: 31).

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu dan juga kepada istri-istri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS. Al-Ahzab, 33: 59)

Dalam hal menjaga aurat, Nabi menegaskan sebuah adab yang harus diperhatikan, beliau bersabda:

لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ، وَلاَ يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ، وَلاَ تُفْضِي الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ.
“Janganlah seorang pria melihat aurat pria lainnya, dan jangan pula wanita melihat aurat wanita lainnya. Seorang pria tidak boleh bersama pria lainnya dalam satu kain, dan tidak boleh pula wanita bersama wanita lainnya dalam satu kain.” (HR. Muslim)

Ketiga, tidak berbuat sesuatu yang dapat mendekatkan diri pada perbuatan zina

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra, 17: 32).

Contoh perbuatan mendekati zina adalah ber-khalwat (berdua-duaan) dengan lawan jenis yang bukan mahram. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang perbuatan tercela ini dengan sabdanya,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الاخِرِ فَلاَ يَخْلُوَنَّ بِاِمْرَاَةٍ فَاِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيطَانُ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah berkhalwat dengan seorang wanita (tanpa disertai mahramnya) karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaithan.” (HR. Ahmad).
Keempat, menjauhi pembicaraan atau cara berbicara yang bisa ‘membangkitkan syahwat’. Arahan mengenai hal ini kita temukan dalam firman Allah,

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا
“Hai para istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti perempuan lain jika kamu bertaqwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara hingga berkeinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya. Dan ucapkanlah perkataan yang ma’ruf.” (QS. Al-Ahzab, 33: 32)

Berkaitan dengan suara perempuan, Ibnu Katsir menyatakan, “Perempuan dilarang berbicara dengan laki-laki asing (non mahram) dengan ucapan lunak sebagaimana dia berbicara dengan suaminya.” (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3)

Kelima, hindarilah bersentuhan kulit dengan lawan jenis, termasuk berjabatan tangan sebagaimana dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اِنِّى لاَ اُصَافِحُ النِّسَاءَ
“Sesungguhnya aku tidak berjabatan tangan dengan wanita.” (HR. Malik, Tirmizi dan Nasa’i).
Dalam keterangan lain disebutkan,

مَا مَسَّتْ يَدُ رَسُوْلِ اللهِ يَدَامْرَاَةٍ لاَ يَمْلِكُهَا قَطٌّ
“Tak pernah tangan Rasulullah menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hal ini dilakukan Nabi tentu saja untuk memberikan teladan kepada umatnya agar melakukan tindakan preventif sebagai upaya penjagaan hati dari bisikan syaithan. Wallahu a’lam.
Keenam, hendaknya tidak melakukan ikhtilat, yakni berbaur antara pria dengan wanita dalam satu tempat yang dapat mendorong kepada fitnah. Hal ini diungkapkan Abu Asied,
خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ مِنَ الْمَسْجِدِ وَقَدِ اخْتَلَطَ الرِّجَالُ مَعَ النِّسَاءِ فِى الطَّرِيقِ, فَقَالَ: اِسْتَأخِرْنَ فَلَيسَ لَكُنَّ اَنْ تَحْقُقْنَ الطَّريْقَ, عَلَيْكُنَّ بِحَافَاتِ الطَّريْقِ.
“Rasulullah saw pernah keluar dari masjid dan pada saat itu bercampur baur laki-laki dan wanita di jalan, maka beliau berkata: “Mundurlah kalian (kaum wanita), bukan untuk kalian bagian tengah jalan; bagian kalian adalah pinggir jalan.” (HR. Abu Dawud).

Dari uraian di atas jelaslah bagi kita bahwa pria dan wanita memang harus menjaga batasan dalam pergaulan. Dengan begitu akan terhindarlah dari hal-hal yang tidak diharapkan.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa membimbing kita kepada kebenaran dan menjauhkan kita dari perbuatan tercela dan tidak terpuji. Amin.

Wallahu A’lam…
Lengkapnya Klik DISINI

Kumpulan Kata-Kata Semangat Penuh Motivasi

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

kata-kata semangat penuh motivasi
Dalam menjalani kehidupan, pastinya kita tidak selamanya berada dalam kondisi yang menyenangkan. Adakalanya kita terjatuh dan ada kalanya kita juga harus bangkit kembali untuk menatap masa depan yang lebih baik.

Tapi terkadang banyak dari kita saat tengah mengalami cobaan yang berat, seakan-akan dunia berakhir pada saat itu juga. Padahal apabila kita tahu, salah satu ujian yang ada adalah semata-mata untuk menaikkan derajat kita di mata Sang Pencipta.

Nah bagi kalian yang mungkin saat ini sedang bersedih atau sedang dalam posisi di bawah, mungkin beberapa kata-kata semangat yang akan kami berikan ini setidaknya bisa mengembalikan semangat yang kalian miliki. Namun hal yang paling penting dari semua ini adalah kemauan diri untuk kembali bangkit dari kesedihan.

Memulai Hari Dengan Senyuman


awali hari dengan tersenyum
tubgit.com
 “Mulailah setiap hari dengan senyuman dan akhiri dengan senyuman” . (C. Field)
Jadi makna yang terkandung dari kata-kata motivasi di atas menjelaskan bahwa sebaiknya kita itu memulai hari dengan sebuah senyuman dan mengakhiri hari juga dengan senyuman. Adapun manfaat dari tersenyum sendiri bisa membuat kita lebih bahagia dalam mensyukuri nikmat, selain itu dengan kita bersenyum maka pastinya kita juga akan lebih bersemangat dalam menjalani hari.

Akan Ada Hasil Dari Sebuah Perjuangan


hasil dari sebuah usaha
wordsout.co.uk
“Usaha akan membuahkan hasil setelah seseorang tidak menyerah”. (Napolen Hill)
Terkadang kita merasa lelah dan putus asa akan sebuah hasil yang tidak kunjung terlihat meskipun sudah melakukan berbagai macam usaha. Padahal apabila kita meyakininya, saat kita memutuskan menyerah bisa jadi saat itu kita sudah sangat dekat dengan keberhasilan. Untuk itu kata-kata motivasi seperti di atas diharapkan bisa menggugah kembali semangat dan meyakini bahwa tidak ada hasil yang mengkhianati sebuah usaha.

Masa Depanmu Ditentukan Sekarang


masa depanmu ditentukan sekarang
caramudahbelajarbahasainggris.net

“Masa depanmu ditentukan dari apa yang kamu lakukan sekarang, bukan yang kemarin”
Apabila kita ingin menatap masa depan yang lebih baik, maka mulai dari sekarang kita harus melakukan hal-hal yang berguna yang bisa mengantarkan kita pada puncak kesuksesan. Jadi bukan malah sibuk membicarakan kesuksesan kita di masa lalu sementara saat ini kita tidak melakukan apa-apa.

Dengan Keyakinan Kita Mampu Melakukan Semua Hal


yakin melakukan semua hal
http://wagsredefined.com

Ada kata bijak mengatakan :
“Dengan keyakinan kita dapat memindahkan gunung, akan tetapi tanpa persiapan kita dapat tersandung oleh kerikil”
Maksudnya apabila kita mempunyai sebuah keyakinan yang kuat akan suatu hal, maka dengan ijin Tuhan semuanya pasti bisa didapatkan. Akan tetapi semua itu harus dibarengi dengan sebuah persiapan yang matang. Jangan sampai kita hanya memiliki keyakinan namun tanpa melakukan persiapan sama sekali.

Hadapi Rintangan Untuk Mencapai Kesuksesan


hadapi rintangan
euroscientist.com
“Semua orang akan menghadapi rintangan, termasuk mereka yang sudah sukses saat ini. Bedanya, orang yang sukses mampu mengatasi semua rintangan”
Jadi satu hal yang membedakan orang sukses dan orang yang gagal. Jika orang sukses mereka memiliki semangat untuk menghadapi semua rintangan, sementara orang gagal adalah mereka yang menyerah saat mendapati rintangan.

Kita Pasti Mampu


pasti mampu menghadapi apapun
sipenyuluh.blogspot.com
“Jangan dulu mengatakan tidak mampu sebelum anda berusaha menjadikan diri anda mampu”
Mungkin kita sering mengatakan tidak mampu, padahal kita sendiri belum mencobanya. Nah, kebiasaan seperti itu sebaiknya tidak kita lakukan karena bagaimanapun juga mampu atau tidaknya seseorang akan terlihat jika mereka sudah berusaha semaksimal mungkin.
Selain itu dengan kita berusaha untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik, maka bukan tidak mungkin lagi kita mampu melakukan banyak hal.

Berani Mengakui Kesalahan


berani mengakui kesalahan
zetizen.com
Berani Akui Kesalahan Diri dan Siap Lakukan Perbaikan
Bersikaplah sebagai ksatria dalam menghadapi berbagai masalah, sesulit apapun itu. Bersembunyi dibalik masalah hanyalah menjadikan kita sebagai pengecut yang selalu kalah dalam berperang melawan kehidupan.
Akuilah kesalahan-kesalahan yang telah lalu, taubat belum terlambat. Ada Ulama’ Salafus Shalih mengatakan: “Taubat dari dosa itu wajib hukumnya, tapi yang lebih wajib lagi adalah menjauhi dosa”.
Berani mengakui kesalahan diri dan siap melakukan perbaikan bisa juga disebut sebagai taubat. Taubat artinya kembali ketujuan awal, kembali ke orientasi hakiki, kembali kejalan yang telah digariskan kepada kita. Yaitu kita lahir dalam keadaan fitrah yang suci. Maka taubat adalah kembali menuju fitrah yang suci.
Orang yang kembali adalah seorang pemberani. Berani mengakui kesalahan, berani melakukan perubahan, berani merintis kebaikan, dan berani memelopori kesuksesan diri. Sebagaimana sabda nabi: “Setiap anak Adam pasti memiliki salah, dan sebaik-baik yang bersalah adalah yang mau bertaubat”.
Setelah mengakui kesalahan diri, bersiaplah untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Jangan menunda-nunda amal baik lagi. Karena dalam setiap waktu pasti ada kewajiban dan tanggungan yang harus diselesaikan.
“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkal lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadanya”.(QS. Ali Imran: 159)
Kebanyakan penyakit manusia pada umunya adalah menunda amal. Mulailah berkomitmen dari sekarang. Sebelum layar berkembang pantang surut dan sebelum mencapai puncak pendakian pantang turun.
Jika lemah semangat menghampirimu, lakukanlah kreasi dengan mencari reaksi untuk merubah mood dalam dirimu.
Seseorang bisa tertawa karena adanya suatu reaksi berupa melakukan atau merasakan hal-hal yang menyenangkan, sesorang yang menangis pun sama, dia menangis karena adanya reaksi berupa mearasakan atau melakukan hal-hal yang membuatnya terluka.
Maka carilah reaksi untuk membuat semangat. Misalnya dengan menonton film motivasi, hal ini akan membangkitkan semangatmu yang lemah. Berkumpul dengan orang-orang pandai, hal ini juga akan menarik dan memacu semangat kita untuk bisa seperti mereka.
Mulailah dengarkan musik-musik yang memacu semangat, misalnya musik beraliran rock, metal, atau pop yang bergenre tinggi. Karena hal ini berkaitan dengan psikologi yang dapat membuat kita lebih semangat dan memacu kinerja kita lebih cekatan.
Intinya, lakukanlah sesuatu maka kamu akan mendapatkan reaksi.

Jadilah Orang yang Berprinsip


kata-kata-semngat
“Aku ridho Allah sebagai Tuhanku, Muhammad sebagai Nabiku, dan Islam sebagai Agamaku”
Itulah prinsip yang harus dipegang oleh setiap umat muslim di dunia. Jika kita lihat berita di TV, banyak sekali kasus-kasus yang memprihatinkan. Ada seorang siswi SMP yang dipaksa melayani nafsu bejat gurunya sendiri, dengan ancaman jika tidak mau tidak akan diberi nilai/tidak dinaikkan kelas.

Sebenarnya banyak kasus serupa dengan menggunakan modus yang sama, yaitu ANCAMAN, kebanyakan dari mereka menjadi korban karena takut dengan ancaman-ancaman yang sebenarnya tidak mengancam. Mereka takut dengan ancamannya karena tidak berprinsip, atau berprinsip tapi keliru.

Marilah berprinsip yang benar, keluar dari segala ancaman yang menekan kita,
“Biarlah aku tidak naik kelas asalkan Allah masih menjadi Tuhanku, Muhammad Masih menjadi Nabiku, dan Islam masih menjadi Agamaku”.
“Biarlah aku tidak lulus sekolah, asalkan Allah masih menjadi Tuhanku, Muhammad masih menjadi Nabiku, dan Islam masih menjadi Agamaku”.
“Seberapa besar ancamanmu padaku aku tidak takut, selagi Allah masih menjadi Tuhanku, Muhammad masih menjadi Nabiku, dan Islam masih menjadi Agamaku”.
Dengan menanamkan prinsip tersebut, kita akan menjadi manusia yang tak terkalahkan. Cukup tiga prinsip itu yang menjadi sandaran kita dalam kehidupan, bahkan kita perlu mempertaruhkan  nyawa jika ada yang mengancam tiga prinsip tersebut, bukan justru mengalah dan menyerahkan.

Jadilah Dirimu Sendiri


www.pexels.com
www.pexels.com
“Keistimewaan dari sebuah kehidupan adalah menjadi dirimu sendiri” (Joseph Campbell)
Apakah anda pernah kehilangan jati diri anda yang sesungguhnya? Biasanya saat kita berada pada lingkungan baru, kita akan berusaha menjadi orang yang berbeda supaya orang lain menyukai kita. Padahal dengan berusaha menjadi orang lain akan membuat kita tidak bisa menikmati hidup sehingga keistimewaan dari sebuah kehidupan akan hilang, seperti yang dikatakan oleh Joseph Campbell.

Lalu bagaimana cara agar kita bisa menjadi diri sendiri? Salah satu penyebab yang paling banyak terjadi adalah karena kita membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Dengan begitu kita berusaha untuk menjadi seperti atau lebih baik dari orang sehingga kita tidak menjadi diri sendiri. Padahal setiap orang mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Tingkatkan kelebihan yang anda miliki dan jadilah diri anda sendiri.

Orang Sukses Selalu Belajar dan Mencoba


www.pexels.com
www.pexels.com

“Orang sukses akan mengambil keuntungan dari kesalahan dan mencoba lagi dengan cara yang berbeda” (Dale Carnegie)

Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Kegagalan adalah sebuah keuntungan. Saat kita gagal, berarti kita telah diberi waktu untuk belajar.

Saat kita gagal melakukan sesuatu melalui sebuah cara, maka cari cara yang berbeda untuk mencapai keberhasilan, apabila belum sukses maka gunakan cara lain lagi sampai anda mencapai keberhasilan tersebut.

Ingatlah kata-kata berikut ini
“Kegilaan: Melakukan hal yang sama secara terus-menerus dan mengharapkan hasil yang berbeda” (Albert Einstein)
Tidak ada di antara kita yang ingin disebut orang gila, namun kita secara tidak sadar melakukan hal yang sama secara terus menerus dan mengharapkan hasil yang berbeda. Apabila anda ingin hasil yang berbeda maka gunakan pula cara yang berbeda.

Waktu Tidak Akan Menunggu Anda


waktu tidak akan menunggumu
erpitawulandari.wordpress.com
“Anda mungkin bisa menunda, tapi waktu tidak akan bisa menunggu” (Benjamin Franklin)
Salah satu ciri dari orang sukses adalah selalu ingin untuk terus bergerak karena mereka tahu bahwa waktu juga terus bergerak dan menunggu akan menjadi pekerjaan yang sia-sia.

Seperti prinsip yang dimiliki oleh orang Jepang, menunda pekerjaan sama saja dengan menambah pekerjaan. Karena menunda pekerjaan akan membuat waktu yang ada terbuang dan batas waktu dari pekerjaan tersebut semakin sedikit. Itulah sebabnya menunda pekerjaan sama saja menambah pekerjaan

Inovasi Itu Pergerakan


inovasi adalah pergerakan
findonews.com
“Inovasi adalah pergerakan yang sangat cepat” (Bill Gates)
Tidak cukup apabila kita hanya bergerak saja dalam hidup ini. Kita juga harus mengukur pergerakan apa yang kita lakukan. Dengan inovasi, berarti kita bergerak cepat sehingga orang lain akan sulit mengejar kita.

Dalam sebuah perusahaan pun harus ada inovasi walaupun perusahaan itu sudah menjadi besar. Pelanggan selalu menunggu inovasi dari perusahaan-perusahaan yang diikutinya. Tanpa inovasi, sebuah perusahaan akan terlihat monoton dan satu-persatu pelanggan akan pindah ke produk dari perusahaan lain.

Sudah banyak sekali contoh perusahaan besar, bahkan bisa dibilang sangat besar menjadi hancur karena tidak adanya inovasi pada produk-produk yang mereka miliki. Mereka tidak mengikuti perkembangan yang ada pada perilaku konsumen dan tetap percaya bahwa produk mereka akan tetap banyak dicari. Alhasil, yang terjadi pada mereka adalah sebuah kehancuran.

Contohnya adalah salah satu perusahaan yang dulu menjadi perusahaan yang sangat besar bahkan menguasai pasar ponsel di seluruh dunia. Ya, perusahaan tersebut adalah Nokia. Dulu, orang tidak dikatakan keren apabila tidak menggunakan nokia. Namun sekarang  justru sebaliknya, orang yang menggunakan ponsel Nokia tidak lagi dianggap keren bahkan mungkin sudah dianggap ketinggalan jaman.

Bersenang-Senanglah Dalam Pekerjaan Anda


bersenang dalam pekerjaan
tv14.my
“Kesenangan dalam sebuah pekerjaan membuat kesempurnaan pada hasil yang dicapai”, Aristoteles.
Bagi kalian sang pejuang hidup, bersemangatlah dalam mengerjakan tugasmu  hari ini. Abaikan segala macam ucapan negative tentang anda, kesuksesan anda tidak bergantung di tangan orang lain.
Fokus dan berbahagialah dalam perkerjaan kalian. Hanya dengan berbahagia, kalian akan mendapatkan hasil yang kalian impikan.  Disaat kita senang dengan perkerjaan kita, kita tidak akan merasakan itu sebagai beban dan akan dengan mudah dan sempurna kita keselesaikan.

Berfokus Pada Tujuan


bekerja dengan tulus
albalum.wordpress.com
“Yang membuatku terus berkembang adalah tujuan-tujuan hidupku”, Muhammad Ali.
Satu hal yang perlu kalian pastikan, jangan sampai hari ini hanya mengalir tanpa tahu apa tujuan kalian hari ini. Tanpa tujuan, hari kalian hanya akan menjadi sia-sia dan tidak terkontrol. Kalian harus memiliki tujuan untuk mengontrol apa yang akan kalian lakukan setiap harinya.

Lakukan setiap tugas atau hal yang kalian lakukan dengan kebahagiaan. Fokus, bertekad dan berdoa agar segala yang kalian lakukan diperlancar dan dimudahkan. Fokus pada tujuan dan jangan mudah terganggu dengan hal-hal yang tidak penting.

Buat Setiap Hari Bermakna


buat setiap hari bermakna
huffpost.com
“Anda harus melalui hari ini dengan irama. Biarkan seluruh kehidupanmu berirama seperti lagu”,  Sai Baba
Disaat kalian telah menetapkan tujuan hari ini, yakinlah untuk menikmatinya. Segalanya pasti akan menjadi baik dan bermakna. Jalani hidup layaknya irama lagu yang kalian nikmat. Tekadang banyak hal yang mengganggu atau tidak bersahabat, namu yakinlah hal tersebut merupakan bagian dari irama yang harus kalian nikmati.

Hidup akan lebih bermakna ketika kalian mengalamai banyak hal. Jangan pernah mengeluh, karena segala hal pasti ada hikmahnya dan pasti baik bagi kalian.

Jangan Pernah Berkata “Mungkin”


jangan berkata mungkin
deviantart.net
“Saya tidak berbicara dengan kata mungkin”, Abdurahman Wahid
Pesrsiapkan harimu dan Janganlah mulai hari dengan keraguan. Jangan katakan mungkin namun ganti dengan saya bisa melakukannya. Kata mungkin merupakan tanda ketidakyakinan, mulailah hari dengan sugesti diri penuh keyakinan dengan mengatakan “Aku Bisa”.

Disaat kita telah merasa yakin dan optimis, maka segala macam haling rintangan akan kita hadapi hingga kita bisa menyelesaikannya. Namun apabila kita sudah pesimis dari awal, segala macam tantangan akan menjadi alasan kegagalan.

Lakukan Dan Bekerjalah Dengan Ketulusan


bekerja dengan tulus
afif1.wordpress.com
“Sekali anda mengerjakan sesuatu, jangan takut gagal dan jangan tinggalkan itu. Orang-orang yang bekerja dengan ketulusan hati adalah mereka yang paling bahagia”, Chanakya
Kesalahan dan kegagalan adalah sebuah hal yang wajar. Dengan hal tersebut, kita akan belajar dan menjadi lebih baik. Ambil pelajaran dari kesalahan dan kegagalan yang kalian lakukan, dan lakukan hal yang lebih baik.

Disaat kita belajar dari kesalahan, tanpa sengaja hal tersebut akan membentuk diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Selain itu, bekerja bukan hanya untuk hal materi, namun untuk kebahagiaan . Disaat kita dapat belajar  menjadi lebih baik dan melakukan kesenangan dala perkerjaan, tentu itu merupakan kebahagiaan yang harus kalian syukuri

Kesempatan Muncul Dalam Tantangan


hadapi tantangan
rudylim.com
“Kesempatan untuk menemukan kekuatan yang lebih baik dalam diri kita muncul ketika hidup terlihat sangat menantang“, Joseph Campbell
Disaat kalian berada dalam masalah atau tantangan, janganlah mengeluh dan putus asa! Carilah jalan keluar dan jadikan tantangan tersebut sebagai tahapan untuk membuktikan diri dan belajar.  Disaat kita berhasil menaklukan tantangan yang belum pernah kalian lakukan, maka itu akan menjadi guru terbaik dalam peningkatan diri kalian.
Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......