Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

Sikap Da’i dalam Menghadapi Fitnah dan Ujian

 Sikap Da’i dalam Menghadapi Fitnah dan Ujian
Kehidupan seorang da’i sarat dengan ujian dan fitnah karena aktifitasnya sarat dengan aksi –aksi menyeru, mengajak kepada kebaikan dan memperbaiki kemunkaran. Aktifitas dakwah tersebut akan menyebabkan pihak tertentu (ahlul bathil) terganggu dan merasa dirugikan.

Kehidupan seorang da’i sarat dengan ujian dan fitnah karena itu sunnatu dakwah yang akan menjadi realitas berulang, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam beberapa ayat al-Qur’an:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, lalu kemudian mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui orang-orang yang dusta.”(QS Al Ankabut: 2-3)

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, bahwa pertolongan Allah itu Amat dekat.”(QS Al Baqarah: 214)

Fitnah dan ujian itu bisa menguatkan keimanan seseorang dan bisa juga menjerumuskan dan menyebabkannya futur dalam dakwah ini. Oleh karena itu, dibutuhkan penjelasan tentang sikap dan kiat–kiat da’i dalam mengahadapi fitnah, agar setiap da’i bisa menyikapinya dengan tepat dan tegar, dan lulus dalam melewati setiap fitnah dan ujian.

Ada sembilan sikap seorang da’i ketika diuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan fitnah, kesembilan penyikapan tersebut adalah:

Pertama, Muhasabah
Sikap pertama yang harus dilakukan adalah bermuhasabah, berintrospeksi diri atas apa yang telah dilakukan. Bermuhasabah adalah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firmanNya:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Karenanya bermuhasabah adalah tradisi para sahabat dan generasi setelahnya, karena dengan bermuhasabah, setiap kekhilafan bisa diketahui dan diperbaiki sejak dini.

Sebagaimana taujih Umar bin Al Khathab Radhiyallahu ‘Anhu, “Evaluasi dirimu sebelum engkau dievaluasi.”

Kedua, Bertaubat
Langkah selanjutnya adalah bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. dengan sebenar-benarnya taubat (taubatan nashuha), sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS At-Tahrim: 8)
Bertaubat itu memiliki rukun dan prasyaratnya agar taubatnya diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. yaitu sebagai berikut:

A. Yang berkenaan dengan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala:
Bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berarti menunaikan hal-hal berikut:
  1. Menyesali dosa yang telah dilakukannya. Seorang muslim harus merasa bersalah dengan dosa yang dilakukannya, oleh karena itu ia harus menyesali perbuatannya tersebut.
  2. Berkomitmen untuk tidak mengulangi lagi kesalahannya.
  3. Memperbaiki diri dengan memperbanyak amal-amal sholeh.
B. Hak-hak manusia:
Bertaubat juga harus menunaikan hak-hak manusia, yaitu:
  1. Mengembalikan hak orang lain. Jika kesalahannya tersebut adalah merampas dan mengambil hak orang lain, maka ia harus mengembalikannya kepada si empunya.
  2. Melakukan tabayyun (cek & recek) atas setiap informasi yang diterimanya, agar terhindar dari sikap bersu‟udzan kepada orang lain.
Ketiga, Bersabar
Langkah selanjutnya adalah bersabar atas fitnah yang menimpa da’i, dengan berkeyakinan bahwa semua ini adalah ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. untuk mengetahui hamba-hamba pilihan-Nya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat-ayat al-Qur’an:
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS Ali Imran: 200)

Keempat, Taqarrub kepada allah Subhanahu wa Ta’ala
Setiap da’i harus senantiasa bertaqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. agar senantiasa dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala., karena sesungguhnya maksiat dilakukan karena jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bertaqarrub yang dimaksud adalah dua hal:
  1. Berkomitmen menunaikan kewajiban (fara‟id), seperti sholat lima waktu, puasa ramadhan, dan lain-lain.
  2. Memperbanyak ibadah atau amalan sunnah seperti shalat sunnah rawatib, puasa senin dan kamis, sholat tahajjud, tilawah al-Qur’an dan amalan sunnah yang lain, sebagaimana dalam hadits qudsi: “Tidak ada ibadah yang dilakukan oleh hamba-Ku yang lebih Aku cintai selain ibadah yang Aku wajibkan. Dan hambaku senantiasa bertaqarrub kepadaku dengan ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka Aku yang menjaga pendengarannya, Aku yang menjaga pandangannya, Aku yang menjaga tangannya, Aku yang menjaga kakinya. Jika ia meminta kepadaku, maka Aku akan kabulkan. Dan jika ia berlindung kepadaku, maka Aku melindunginya.‟ (Shahih Al Bukhari, kitab Raqaiq, Bab Tawadhu‟, No. 6021)
Kelima, Menghindari tempat-tempat fitnah
Agar kita tidak terhindar dari fitnah, maka setiap da’i harus menghindari hal-hal atau tempat-tempat yang akan menjerumuskannya ke dalam fitnah.
Di antara hal-hal yang bisa mengakibatkan fitnah adalah sebagai berikut:

1. Harta, dengan segala bentuknya.
Banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang memberikan warning agar setiap muslim waspada dengan harta karena karakter harta itu dominan menyebabkan pelakunya kepada maksiat.

2. Perempuan
Begitu pula dengan perempuan, seperti halnya harta, perempuan adalah fitnah / ujian bagi manusia, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan Shallallahu ‘Alaihi wa Sallamah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali Imran ; 14)

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS Al Anfal; 28)

3. Hal-hal syubhat
Menjauhi hal-hal yang syubhat termasuk hal yang harus dilakukan da’i agar bisa terhindar atau berhasil melewati ujian, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

Dari Nu‟man bin basyir r.aberkata: saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: sesungguhnya yang halal itu sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas, diantara keduanya ada hal-hal syubhat yang tidak diketahui banyak manusia. Barang siapa yang menghindari hal-hal syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Barang siapa yang melakukan yang syubhat, maka ia telah melakukan yang haram.‟

4. Teman yang tidak baik
Teman adalah cermin keperibadian sesorang, oleh karena itu jika ingin mengetahui ihwal seseorang, maka bisa diketahui dengan ihwal sahabatnya. Oleh karena itu harus dipastikan karib kita adalah orang-orang sholeh, sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Setiap orang tergantung pada agama temannya, maka kalian lihatlah siapa yang dia jadikan teman.” (Musnad Ahmad, Kitab: Musnad al-muktsirin, Bab: Musnad Abi Hurairah, No. 7685)

5. Berambisi mendapatkan jabatan
Jabatan adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan orang yang memegang amanah adalah orang memiliki kualifikasi dan kompetensi. Maka berambisi mendapatkan jabatan adalah perilaku tercela yang harus dihindarkan, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Dua serigala yang dilepas di tengah gerombolan kambing itu tidaklah lebih merusak dibanding merusaknya ambisi untuk mendapatkan harta dan jabatan terhadap agama seseorang.” (Sunan Tirmidzi, Kitab: Zuhud, Bab: ma ja‟a fi akhdzil mal bihaqqihi, no. 2298)

Maksud hadits tersebut adalah bahwa ambisi meraih harta dan jabatan berdampak merusak agama seseorang lebih dahsyat dari pada dampak kerusakan yang dibuat oleh dua ekor serigala yang menyerang segerombolan domba.

Keenam, Saling memberikan nasihat
Setiap da’i harus terbiasa saling memberi nasihat (tanashuh), karena hanya dengan itulah setiap da’i terbantu untuk memperbaiki diri. Jika yang terjadi sebaliknya; tidak ada budaya tanashuh dan kontrol internal melemah sehingga memungkinkan setiap da’i terperangkap fitnah atau tidak sabar menghadapinya.

Tanashuh dan lapang dada menerima nasihat adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa terpisahkan. Oleh karena budaya tanashuh tersebut tidak akan terwujud jika tidak diimbangi dengan sikap lapang dada; maksudnya setiap da’i jika mendapatkan nasihat, ia harus berlapang dada menerima masukan dan nasihat tersebut. Insya Allah Subhanahu wa Ta’ala nasihat itu memperbaiki kita. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

Dari Tamim ad-Dari, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Nasihat untuk siapa?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Bersabda, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan masyarakat umum.” (Shahih muslim, kitab: al-iman, Bab: ad din nashihah, no. 82)

Ketujuh, Terus bekerja melayani
Setiap ujian dan fitnah tidak boleh menyebabkan kita futur dan berhenti berdakwah, tetapi sebaliknya, ujian tersebut harus menjadi cambuk agar setiap da’i lebih bersemangat dalam beramal dan berdakwah.

Kerja-kerja dakwah itu sangatlah luas, di antara amal dakwah yang menyentuh hajat masyarakat adalah dakwah dalam bidang sosial, dakwah dalam bidang kesehatan agar masyarat hidup sehat, berdakwah dalam bidang keamanan agar masyarakat hidup aman dan nyaman, berdakwah dengan membangun infrastruktur agar fasilitas masyarakat terpenuhi sehingga mereka lancar dan leluasa melakukan hajat dan aktifitas hidupnya. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS At-Taubah: 105)

Delapan, Husnudzan terhadap ikhwah dan dakwah
Setiap da’i senantiasa berhusnudzan terhadap ikhwah dan dakwah. Setiap kali mendengar kabar tidak baik tentang seorang akh atau dakwah, maka harus mengedepankan husnudzan, hingga mendapatkan informasi / penjelasan dari dakwah.

Prinsip berhusnudzan ini yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Tidakkah sebaiknya ketika kamu mendengar (berita bohong) itu orang-orang mukminin dan mukminat bersangka baik terhadap diri mereka sendiri.” (QS An-Nur: 12)

Apalagi jika informasi bersumber dari orang fasiq, maka kita tidak boleh percaya sebelum tabayyun terhadap berita tersebut, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS Al Hujarat: 6)

Sembilan, Istiqomah dalam Jama’ah
Ujian dan fitnah adalah fitrah dalam perjuangan dan dakwah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
 
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS Ali Imron:200)

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS Al Hajj:77)

Oleh karena itu setiap ujian dan fitnah itu tidak boleh membuat da’i futur, tetapi sebaliknya, harus membuat tetap istiqomah dalam dakwah ini.

Ustadz DR. Surahman Hidayat

Lengkapnya Klik DISINI

Ternyata memadamkan lampu sebelum tidur berasal dari ajaran Islam

Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk memadamkan lampu-lampu di malam hari (ketika hendak tidur), dan setelah beberapa tahun dilakukan pengkajian ilmiah modern tentang efek cahaya terhadap manusia dan lingkungannya, maka kajian itu mengatakan: ”Sungguh benar Nabinya kaum kaum Muslimin.” Maka mematikan lampu di malam hari adalah salah satu bentuk mukjizat ilmiah Nabawiyah yang melindungi manusia dan lingkungannya dan pencemaran cahaya, yang muncul disebabkan cahaya yang berlebih, yang mengenai tubuh seseorang di malam hari.

Nabi kita yang tercinta, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan kita tentang bahaya lampu, apabila kita membiarkannya menyala ketika kita tidur. Dan peringatan dari Nabi tersebut terdapat dalam banyak riwayat, di antaranya ada yang disebutkan alasan dari peringatan tersebut, yaitu khawatir terjadi kebakaran, dan sebagiannya lagi tidak disebutkan alasan dari perintah memadamkan lampu di malam hari, agar perintah tersebut berlaku umum, dan sebagai bentuk kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada seluruh makhluk di setiap tempat dan zaman. Di antara hadits-hadts tersebut adalah sebagai berikut:

Riwayat-riwayat yang disebutkan di dalamnya alasan untuk memadamkan lampu ketika hendak tidur di malam hari.
1. Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Pada suatu malam terjadi kebakaran di salah satu rumah penduduk di Madinah (ketika penghuninya tertidur). Lalu hal itu diceritakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda:” Sesungguhnya api ini adalah musuh kalian, karena itu apabila kalian hendak tidur, maka padamkanlah ia lebih dahulu.” (HR. al-Bukhari)

2. Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tutuplah tempat air kalian, pintu rumah kalian, dan matikanlah lampu-lampu kalian, karena bisa jadi tikus akan menarik sumbu lampu sehingga mengakibatkan kebakaran yang menimpa para penghuni rumah.” (HR. al-Bukhari)

3. Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersada: “Tutuplah oleh kalian bejana-bejana, rapatkanlah tempat-tempat minuman, tutuplah pintu-pintu, dan matikanlah lampu, karena setan tak dapat membuka ikatan tempat minum, pintu, dan bejana. Jika kalian tak mendapatkan penutupnya kecuali dengan membentangkan sepotong batang kayu kecil di atas bejananya dan menyebut nama Allah, maka lakukanlah. Karena tikus dapat merusak pemilik rumah dengan membakar rumahnya.” (HR. Muslim)

4. Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersada: “Tutuplah oleh kalian pintu rumah, ikatlah kantong air tempat minuman, tutuplah bejana-bejana, dan matikanlah lampu, karena setan tak dapat membuka pintu tertutup, melepas ikatan tempat minum, dan membuka bejana. Dan sesungguhnya tikus dapat merusak pemilik rumah dengan membakar rumahnya.” (HR. imam Malik dalam al-Muwatha’ dan at-Tirmidzi dalam Sunan-nya dan dishahihkan oleh al-Albani rahimahumullah)

Dan masih ada lagi beberapa riwayat yang lain.

Riwayat-riwayat yang tidak disebutkan di dalamnya alasan untuk memadamkan lampu ketika hendak tidur di malam hari.
1. Dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Padamkanlah lampu-lampu di malam hari pada saat kalian tidur di malam hari, kuncilah pintu dan tutuplah bejana, makanan dan minuman.” (HR. al-Bukhari)

2. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersada: “Apabila malam telah datang (setelah matahari tenggelam), tahanlah anak-anak kalian (dari keluar rumah), karena setan bertebaran ketika itu. Apabila telah berlalu sesaat dari waktu ‘Isya biarkanlah mereka, tutuplah pintumu, dan matikanlah lampu serta sebutlah nama Allah” (HR. Al-Bukhari)

Penjelasan Hadits
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata di dalam Fathul Bari, menukil perkataan dari imam al-Qurthubi rahimahullah: ”Perintah dan larangan dalam hadits ini adalah bentuk bimbingan (pengarahan).” Beliau mengatakan:’ Dan mungkin juga bermakna anjuran (sunnah)’ Dan imam Nawawi rahimahullah menegaskan bahwa hal itu adalah sebagai bimbingan, karena hal itu adalah untuk kemaslahatan duniawi.’ Namun dikomentari bahwasanya hal itu terkadang dapat mendatangkan maslahat secara agama, yaitu penjagaan terhadap jiwa yang haram untuk dibunuh, dan penjagaan terhadap harta yang diharamkan untuk dihambur-hamburkan.

Dalam hadits-hadits ini disebutkan bahwa seseorang jika tidur seorang diri, dan di dalam rumahnya ada api, maka wajib bagi dia untuk memadamkannya sebelum tidur, atau melakukan sesuatu yang membuatnya aman dari kebakaran. Demikian juga kalau di dalam rumah ada sekelompok orang, maka wajib atas sebagaian mereka (memadamkannya), dan yang paling berkewajiban adalah yang paling terakhir tidur.

Pandangan Ilmuwan Modern
Para ilmuwan saat ini berbicara tentang polusi cahaya pada malam hari, serta berbicara tentang bahaya terkena cahaya yang berlebih, terutama saat tidur.

Sebuah riset ilmiyah terbaru menegaskan bahwa tetap menyalanya lampu pada saat tidur akan mempengaruhi proses biologis yang ada di dalam otak manusia, dan hal tersebut akan menyebabkan gangguan-gangguan yang mengakibatkan kegemukan. Oleh karena itu, para ilmuwan berpesan agar kita senantiasa mematikan lampu pada malam hari dalam rangka memelihara kesehatan tubuh dan otak. Dan Subhanallah, pesan yang baru diketahui oleh para ilmuwan pada abad 21, telah disampaikan sebelumnya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sejak 14 abad yang lalu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits shahih: “Padamkanlah lampu-lampu di malam hari pada saat kalian tidur di malam hari, kuncilah pintu dan tutuplah bejana, makanan dan minuman.” (HR. al-Bukhari)

Sumber
Lengkapnya Klik DISINI

Saat Engkau Dizalimi

 
Engkau mungkin terlalu sensitif.

Engkau mengira semua orang menghinamu.

Engkau mengira semua orang mengejekmu.

Engkau merasa semua orang mentertawakanmu.

Engkau menduga semua orang membencimu.

Padahal tidak begitu.

Yang terjadi adalah : semua orang tengah memperhatikanmu.

Oleh karena itu mereka akan segera mengetahui kualitas dirimu.

Ketegaranmu memberikan inspirasi bagi siapapun yang memperhatikanmu.

Ketabahanmu memberikan motivasi kepada semua orang di sekitarmu.

Ketulusanmu menguatkan langkah perjuanganmu.

Teruslah berjalan dan bekerja menggapai visi peradaban baru.

Tegakkan kepalamu, saudaraku.
 
Jangan ragu.

Allah tidak akan menyia-nyiakan semua usaha dakwahmu

Oleh : Cahyadi Takariawan
sumber
Lengkapnya Klik DISINI

“Masalah, Buat Loe?”

I-Dont-Care
Jujur saja, kadang saya merasa sedih dan prihatin dengan kondisi sebagian teman-teman remaja. Khususnya tentang sikap peduli. Jangankan untuk urusan yang nun jauh di sana. Kadang masalah yang ada di sebelah mata aja nggak dipikirin dan nggak jadi masalah berat buat mereka. Misalnya aja, tetangganya mau kelaparan apa kekenyangan dia nggak mau mikirin. Temannya nggak datang ke sekolah pun bukan persoalannya. Apakah sang teman yang nggak dateng ke sekolah itu karena sakit atau memang malas bukan urusannya. Cuek aja. Pikirnya, pihak sekolah ama ortunya aja yang kudu mikirin tuh anak yang bermasalah. Kayaknya buat apa harus capek-capek mikirin. Nggak ada untungnya. Kalo diingatkan, dia ngomong sinis, “Emangnya gue pikirin?” atau “Masalah, buat Loe?”

Sikap cuek dalam kehidupan sebagian teman-teman juga berlanjut. Kalo setiap masalah yang ampir nyolok matanya aja (karena saking dekatnya) dia cuek, kemungkinan besar masalah yang jauh darinya bakalan nggak dianggap tuh. Mungkin pikirnya, “Bodo amat, orang di luar negeri sono mo kelaparan, mo perang, mo ribut atau damai, gue nggak peduli. Yang penting gue di sini seneng. Nggak susah. Nggak bikin masalah ama orang lain. Nafsi-nafsi aja. Kalo gue suka, gue mau, gue berhak lakuin apa yang bikin ati gue hepi. Orang lain nggak boleh cerewet berkhotbah di depan gue. Emangnya gue pikirin?! Emang itu masalah buat loe?”

Sobat, mo seneng-seneng, mo ngelakuin apa yang bikin kita hepi, boleh-boleh aja, kok. Nggak ada yang ngelarang. Tentunya asalkan itu halal dan nggak bikin kita lupa diri. Tapi, pasti ada saatnya dong kita mikirin yang lain. Bukan hanya mikirin kita sendiri. Ada waktu yang bisa kita luangkan untuk bantu mikirin orang lain. Menengok bagaimana masalah mereka. Berhenti sejenak dari kesibukan kita untuk berbagi dengan teman yang lain. Nggak cuek abis gitu, lho. Nggak baik dan tentu nggak benar sikap kayak gitu. Apalagi kalo kemudian menjadikan kamu sombong. Hmm… ada baiknya, kita memperhatikan dan menyimak firman Allah Ta’ala, ““Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Luqman [31]: 18)

Sikap cuek alias nggak peduli kini seperti menjadi tren di kalangan kita. Mungkin di sekolahmu pernah menjumpai teman yang nggak peduli dengan nasib teman lainnya. Misalnya aja kamu nggak ngerti pelajaran matematika, sementara teman kamu ada yang ngerti, tapi dia nggak mau ngasih ilmunya ke kamu. Dia malah bilang, “Bodo amat! Emangnya gue pikirin! Lo usaha sendiri dong!” Duh, nyebelin nggak sih orang kayak gitu? Pasti bikin gondok kita, kan?

Itu mungkin boleh dibilang rada-rada biasa, kadang kita nemuin juga tuh teman kita yang sewot abis gara-gara kita ingetin. Padahal nih, tujuan kita ngingetin dia tuh baik. Misalnya aja kita negur teman yang pacarannya hot banget (kalo pun pacarannya nggak hot, tetap aja yang namanya pacaran tuh dilarang dalam Islam), supaya menghentikan kebiasaan jeleknya itu. Eh, dia malah bilang, “Masalah buat loe? Apa pedulimu? Urus aja diri sendiri. Jangan cerewet berdalil segala di depan gue. Terserah lo. Mo bilang apa pun, gue nggak peduli. Emangnya gue pikirin?”

Coba, dinasihatin malah sewot. Ditegur malah ngebul ubun-ubunnya saking marahnya dia. Padahal, kita nasihatin, ngingetin, atau negur itu adalah tanda sayang. Tanda cinta dan peduli kita kepadanya. Tapi, teryata air susu dibalas air tuba. Mungkin bagi mereka yang udah ngerasa benar sendiri (atau hawa nafsunya jadi panglima?), sikap cuek alias nggak peduli ini dianggap jadi pilihannya dan senjata untuk menangkis orang lain yang rewel ikut campur urusan dalam negerinya. Ah, kayaknya doi belum bisa bedain mana sikap teman yang sok ikut campur dengan sikap teman yang emang mau nolongin dia. Kayaknya perlu belajar lagi deh tuh orang. Bukan sombong or congkak nih, tapi kenyataan bahwa kalo orang nggak mau belajar ya kayak gitu. Wawasannya sempit dan nggak mau dengerin pendapat orang lain. Tul nggak seh?

Kayaknya udah saatnya deh kita berpikir lebih dewasa. Berpikir lebih tenang dan bijak. Nggak keburu nafsu menghukumi ini dan itu jika itu nggak sesuai dengan pendapat kita. Jangan keburu memvonis orang yang nasihatin or ngingetin kita tuh sebagai perongrong, tukang cerewet dan kita anggap sebagai duri sehingga kudu disingkirkan dari jalan kita. Apalagi karena kita merasa paling benar, paling senior, paling pinter, paling luas wawasannya, paling banyak jenggotnya (yee apa hubungannya?), lalu kita merasa yang ngasih teguran ke kita tuh orangnya pasti salah. Padahal, siapa tahu kan namanya nasihat tuh bisa datang dari siapa aja? Nasihat itu kadang bisa datang dari anak kecil atau orang yang kita anggap status sosialnya rendah ketimbang kita. Nggak usah malu kalo ditegur, jangan pernah sewot kalo ada yang ngingetin kita. Karena yakinlah, insya Allah apa yang dilakukannya adalah demi kebaikan kita bersama. Kalo emang kita nggak suka dengan caranya menegur atau mengingatkan kita, lebih baik diam sejenak. Jangan langsung reaktif dengan cara menyerangnya. Resapi dulu omongannya, baru kita berpikir dan menyiapkan kata-kata argumentasi. Kalo memang perkataannya benar, ya kita terima aja. Nggak usah malu. Terus nih, yang terpenting kita nggak usah reaktif dan langsung bilang, “Emangnya gue pikirin!”, “Masalah, buat loe?” Hadeeeuhh.. nggak jamannya deh nyolot kayak gitu kalo dinasihatin.
 
Salam,
O. Solihin
Ingin berkomunikasi dengan saya? Silakan via Twitter di @osolihin

*Gambar dari sini

Lengkapnya Klik DISINI

Kebutuhan, Bukan Ketergantungan

 Muhammad Anis Matta
Baik dalam kaitannya dengan kebutuhan psikologis akan kelembutan, kesetiaan, cinta dan kasih sayang, maupun dalam kaitannya dengan kebutuhan biologis terhadap perempuan, selalu tersisa sebuah syubhat yang harus dijelaskan.

Kedua jenis kebutuhan itu tidak pernah berkembang menjadi ketergantungan yang melumpuhkan. Cinta yang besar kepada istri, misalnya, baik pada sisi psikologisnya maupun pada sisi biologisnya, tidak boleh berkembang menjadi ketergantungan. Dan itulah yang buru-buru diingatkan oleh Al-Qur’an, bahwa keluarga, pada suatu ketika seperti ini, dapat menjadi musuh bebuyutan.

Ketergantungan adalah tanda kelemahan jiwa. Dan seseorang tidak akan pernah menjadi pahlawan dengan jiwa yang lemah. Suatu saat Abu Bakar As-Shiddiq pernah menyuruh anaknya menceraikan istrinya. Sebabnya adalah sang istri terlalu cantik dan sang anak terlalu mencintainya, bahkan kadang ketinggalan shalat jama’ah karena berat berpisah dengan istrinya.

Pada kesempatan lain, Umar bin Khattab juga pernah menyuruh puteranya, Abdullah Bin Umar, satu dari tujuh ulama besar sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, untuk menceraikan istrinya. Alasannya sama, karena ia terlalu mencintai istrinya. Walaupun Abdullah bin Umar tetap mempertahankan istrinya, tetapi sang ayah menganggap itu sebagai kelemahan jiwa.

Maka, ketika seorang sahabat mengusulkan kepada Umar untuk mencalonkan puteranya itu, Abdullah, sebagai khalifah, beliau menjelaskan beberapa alasan penolakannya, diantaranya, katanya, “Saya tidak akan pernah menyerahkan amanah ini kepada seorang laki-laki yang lemah, yang bahkan tidak berdaya menceraikan istrinya.”

Jadi, syahwat kepada perempuan dan kebutuhan akan kelembutan, kesetiaan, cinta dan kasih sayang bersinergi dengan baik bersama rasionalitas sang pahlawan. Maka, mereka melepaskan sisi kekanakan mereka dengan polos, atau menumpahkan syahwat mereka dengan sempurna, tetapi mereka tidak berubah menjadi seorang pria melankolik.

Mereka mungkin romantis, tetapi tidak melankolik.
Perbedaan itu akan terlihat pada, misalnya, peristiwa kematian atau perceraian. Mereka mungin sangat bersedih, tetapi mereka tidak larut. Mereka mungkin terguncang, tetapi tidak meratap. Kenangan ada ruangnya dalam ingatan mereka, tetapi pesta sejarah harus dilanjutkan. Mereka memiliki kebesaran jiwa yang mengalahkan sifat melankolik mereka.

Maka, walaupun Rasulullah saw sangat mencintai Khadijah, beliau akhirnya menikah lagi dengan Saudah dan Aisyah pada tahun kesebelas. Kesedihan dan ingatannya pada Khadijah tidak hilang sama sekali. Yang terjadi adalah rasionalitas dan realisme mengalahkan segalanya.

Lengkapnya Klik DISINI

Masih Pantaskah Kita Mengeluh?

Masih Pantaskah Kita Mengeluh?
“Huh, lagi-lagi begini. Kapan sih aku hidup bahagia?”

Mungkin tak sedikit dari kita yang suka mengeluhkan cobaan yang datang dari Allah. Tidak mau bersabar dengan bentuk ujian dari Allah bahkan sampai menyalahkan takdir Allah serta tidak mengakui nikmat yang Allah berikan. Orang-orang yang tidak mau mengakui bahwa sebenarnya ia pernah merasakan kebahagiaan namun mengingkarinya seperti kalimat pembuka di atas.

Untuk belajar bagaimana makna kesabaran ada baiknya kita menyimak kisah dari sahabat mulia Ammar bin Yasir radhiyallahuanhuma. Siapa tak mengenal Ammar bin Yasir? Beliau adalah salah satu imam besar dan salah satu sahabat Rasulullah SAW yang termasuk dalam golongan Assabiqunal Awwalun, yakni orang-orang yang pertama kali masuk islam.

Ayahnya bernama Yasir bin Amir  dan Ibunya bernama Sumayyah binti Kubbath. Ayah dan Ibunya adalah orang pertama dan kedua yang menjemput kesyahidan ketika mempertahankan keimanan mereka karena siksaan kafir Quraisy. Kesabaran dan ketabahan yang luar biasa dari mereka mungkin tidak bisa dibayangkan oleh orang-orang di zaman para sahabat apalagi umat Islam pada zaman sekarang ini.

Semenjak keislamannya diketahui oleh orang-orang kafir Quraisy, keluarga Amar bin Yasir tak luput dari penganiayaan dan penyiksaan. Mereka diseret keluar menuju tanah lapang oleh kaum musyrikin yang dipimpin oleh Abu Jahal di siang hari yang panas dan menyengat. Mereka disiksa dicambuk hingga punggung mereka berdarah-darah. Lebih dari itu mereka disiksa dengan besi panas ditempelkan ke dadanya. Hingga sang ayah, Yasir bin Amir menjemput kesyahidan dalam siksaan tersebut. Sedangkan ibunya Sumayyah binti Kubbath ditusuk  oleh Abu Jahal pada kemaluannya dengan tombak hingga meninggal dunia.

Setelah itu kaum musyrikin tak henti-hentinya menyiksa Ammar dengan menjemurnya, meletakan batu besar panas di atas dadanya hingga penderitaan yang amat sangat dan hilang kesadaran akalnya. Kala itu mereka berkata kepadanya, “Kami akan terus menyiksamu  hingga engkau mencaci Muhammad atau mengatakan sesuatu yang baik terhadap Lata dan Uzza”. Maka, dia pun dengan terpaksa menyetujui hal tersebut. Setelah kejadian itu, dia mendatangi Rasulullah SAW sambil menangis dan meminta maaf atas hal tersebut kepada beliau. Ketika itu turunlah ayat;

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapatkan kemurkaan dari Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir pada hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa)..” (QS. An-Nahl : 106)

Diriwayatkan dari Utsman, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Bersabarlah seperti kesabaran keluarga Yasir, karena yang dijanjikan kepada kalian adalah surga.”

Apakah kita pantas mengeluh kepada Allah atas musibah yang menimpa kita, yang jauh lebih ringan dibandingkan penderitaan dan siksaan yang pernah dialami oleh keluarga Ammar bin Yasir? Bahkan sebagian dari saudara kita yang  mengaku kaum muslimin justru ketika mengalami kesusahan mereka mendatangi dukun-dukun, meminta jimat-jimat yang sama sekali tidak akan mendatangkan manfaat bagi mereka.

Ketika kita menerima sebuah ujian dan cobaan hidup hendaklah kita mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan senantiasa bersabar menjalaninya. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan ujian dan cobaan yg melebihi kekuatan hambaNya.

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sungguh bersama kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Al Insyiroh ayat 6-7)

Apabila kita sedang dilanda kesulitan dan kegelisahan maka kita dianjurkan memperbanyak doa seperti yang diajarkan oleh Rosulullah SAW berdasarkan hadits berikut

Rasulullah SAW memperbanyak do’a: “Ya Alloh, aku berlindung kepadaMu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalas-an, dari sifat pengecut dan bakhil serta dari tidak mampu membayar hutang dan dari penguasaan orang lain.” (HR. Al-Bukhari).

Oleh: Alir Retno, Yogyakarta
FacebookTwitterBlog

Lengkapnya Klik DISINI

Kami Akan Tetap Disini...

Sejak dikibarkannya panji da’wah pada masa Rasulullah saw, hingga saat ini panji da’wah ini tetap berkibar dengan tegar. Meskipun sejuta fitnah terus menggoyahkan da’wah ini. Meskipun hizbussyaithon tak pernah henti membuat makar pada da’wah ini. Meskipun para kaum munafik dengan kelicikannya terus menggoyahkan keyakinan dan kestiqohan prajurit da’wah ini…meskipun ancaman-ancaman yang dilontarkan terus menyinggapi jundi-jundi da’wah ini..meskipun arus deras fitnah yang membadai menghantam tubuh para qiyadah ini…kami akan tetap disini. Bersama kalian, saling berpegangan tangan, menyatukan hati, memperkokoh barisan, merajut ukhuwah, melangkah tegap bersama, menghantam badai fitnah murahan, sampai kemuliaan kami raih atau kesyahidan menjemput kami..saksikanlah janji kami!!  

Fitnah hari ini tak berarti apa-apa bagi kami. Karena kami selalu berkaca dengan para pendahulu kami. Mereka disiksa, dibunuh, difitnah, dan sejuta kisah targis lain yang membuat kami malu untuk mengeluh apalagi menyerah pada musuh-musuh da’wah ini. Ujian kami tak seberapa..jauh dibanding Bilal bin Rabah yang disiksa ditengah terik matahari dengan ditindih batu besar. Ujian kami tak seberapa..dengan sahabat yang dipotong anggota tubuhnya satu persatu agar meninggalkan dien ini, ujian kami tak seberapa.. dengan para syaikh kami yang kuku-kukunya dicabut satu persatu di dalam sel..ujian kami tak seberapa..malu kami untuk mengeluh dan menyerah…malu kami menghakimi qiyadah kami, malu kami lebih percaya fitnah yang gencar menyerang lewat media terhadap qiyadah-qiyadah kami.
Kami memang terkadang menangis..tapi bukan karena fitnah yang membuat kami menangis. Tapi karena rasa tsiqoh kami dengan saudara sendiri dikalahkan dengan fitnah yang menimpah saudara kami. Kami menangis karena da’wah yang telah membesarkan kami, tak lagi kami percaya dengannya, karena arus deras fitnah media yang tak jelas siapa mereka…satu pertanyaan yang membuat kami tertohok “antum lebih tsiqoh saudara antum atau media???”..maafkan kami duhai saudara kami dimanapun berada, maafkan kami duhai para qiyadah kami, kami sadar kalian terluka dengan tingkah kami, kami tahu kalian “kecewa” dengan kami..maafkan kami yang sempat meragukan keikhlasan antum dalam berdakwah,,dan “memaki” keikhlasan antum dalam beramal.
Bergugurannya para ikhwah dari kafilah dakwah ini, tak akan mempengaruhi kami. memang serasa bumi terbelah dan langit serasa runtuh saat satu diantara saudara kami harus pergi meninggalkan kafilah ini. Karena mereka adalah saudara kami se-iman, se-aqidah se-perjuangan. Kami tetap mendo’akan, mengajak untuk kembali bersama-sama mereguk manisnya iman dan ukhuwah bersama kafilah dakwah ini. Kami akan tetap menjaga kehormatan saudara-saudara kami yang sudah tak lagi bersama kami. Dan kami juga berdo’a agar mereka yang telah pergi tidak menjadi bagian apa yang disampaikan oleh asy-syahid Sayyid Quthb ini :
"Dari waktu ke waktu, ada sebagian anggota jamaah yg melakukan penyimpangan. Dan setiap kali para pelaku penyimpangan itu berguguran bagaikan gugurnya daun-daun kering dari pohonnya yg besar. Boleh jadi musuh memegang salah satu ranting dari pohonnya itu. Ia mengira bahwa dengan menarik ranting itu ia akan dapat mencerabut pohon scr keseluruhan. Hingga, ketika sampai waktunya, dan si musuh menarik ranting itu, ia lepas dalam bentuk kayu bakar kering, TANPA AIR & TANPA KEHIDUPAN. Sementara si pohon tetap berdiri dengan kokohnya" Asy-Syahid Sayyid Quthb

Dan kepada Pemilik Hati; Allah SWT, mari kita doakan saudara-saudara yang lain yg patah dari pohon besar itu agar kembali bersama kita dalam suka cita berjamaah...
Kami akan tetap bertahan disini..bersama saudara saudara kami…kalian salah menjatuhkan kami dengan fitnah, kalian keliru memborbardir kami dengan makar-makar kacangan..kalian mengira, kami akan terpecah belah dengan semua fitnah-fitnah ini? tidak! Justru kami akan semakin kuat!..sampai nyawa ini terbang mengangkasa, sampai dunia ini hancur lebur, kami akan tetap disini…maju atau hancur bersama dalam kafilah dakwah ini…
********
 
“Pendukung partai Wafd terus menebar tipu daya terhadap Ikhwan. Hinga akhirnya mempengaruhi seorang Ikhwan bernama Ustadz Ahmad As-Sukari yang dikenal memiliki kecenderungan kepada Al-Wafd. As Sukari menyatakan diri keluar dari Ikhwan dan berbalik menyerang secara khusus terhadap pimpinan Ikhwan, Hasan Al-Banna. Harian Al-Wafd menyediakan ruangan khusus di halaman pertamanya untuk Ahmad As-Sukari yang bertema  “Bagaimana kekeliruan Hasan Al-Banna dalam Dakwah Ikhwanul Muslimin?”.
Mereka mengira tulisan-tulisan itu akan memecah barisan Ikhwan dan menyebabkan sebagian besar Ikhwan keluar mengikuti jejak Ahmad As-Sukari. Namum kenyataannya, keluarnya As-Sukari dari barisan Ikhwan ibarat menarik sehelai rambut dari tepung. Tak ada yang menangisi kepergiannya, tak ada hati yang peduli merindukannya. Para Ikhwan hanya menyayangkan apa yang ia tulis di media massa tersebut. Ikhwan berusaha menyikapi hal ini sebagaimana firman Allah SWT.
"dan apabila mereka mendengar Perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: "Bagi Kami amal-amal Kami dan bagimu amal-amalmu, Kesejahteraan atas dirimu, Kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil".
(Al Qashash:55)

Ada juga yang mengikuti sikap As-Sukari, tapi itu sangat sedikit dan sama sekali tidak mempengaruhi sikap Ikhwan yang lainnya. Hasan Al-Banna sendiri tidak membalas serangan dan kritikan Ahmad As-Sukari secara khusus. Al-Banna hanya menuliskan sebuah makalah yang berisi harapan agar perpisahan dirinya dengan As Sukari dilakukan dengan baik, tidak melupakan kebaikan masing-masing tetap menyambung hubungan baik diantara mereka meski telah berpisah jalan. Al Banna mengatakan bahwa dirinya tak ingin masuk kedalam peperangan itu, dan menyerahkan semua urusannya kepada Allah SWT, dengan mengutip firman Allah SWT.

“Allah-lah Tuhan Kami dan Tuhan kamu. bagi Kami. amal-amal Kami dan bagi kamu amal-amal kamu. tidak ada pertengkaran antara Kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)". (Asy Syura:15)
(Aku dan Al Ikhwanul Muslimin” Dr. Yusuf Qaradhawi )
-abu rafah-
 
Lengkapnya Klik DISINI

Tsawabit

 Shalah Sulthan
1. Definisi nama dan istilah yang syar’I merujuk pada Al Qur’an, hadits, dan atsar sahabat
Kata iman, kufur, dan sejenisnya adalah kata-kata syar’i yang wajib dikembalikan kepada Al Qur’an, hadits, dan atsar dalam memahaminya. Nabi Saw. telah menjelaskannya, sehingga tidak memerlukan lagi argumentasi tentang usul-usul dan akar katanya serta bukti pemakaian istilah itu oleh bangsa arab dan semisalnya. Karenanya, merujuk kepada penjelasan Allah dan Rasul-Nya dalam memahami kandungan makna istilah ini adalah suatu keharusan, karena sudah jelas dan mencukupi. Sedangkan berpaling dari manhaj ini merupakan awal jalan menuju penyimpangan dan bid’ah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah mengatakan,”Perlu diketahui bahwa kata-kata yang terdapat dalam Al Qur’an dan hadits jika telah diketahui maksudnya dari keterangan Nabi, maka tidak diperlukan lagi pencarian dalil dengan ucapan ahli bahasa atau lainya.”[109]

2. Iman terdiri dari qaul (ucapan) dan ‘amal (perbuatan)
Qaul maksudnya adalah ucapan hati, yakni mengetahui, membenarkan, dan mengakui, juga ucapan lisan, yakni mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengakui konsekuensinya. Sedangkan ‘amal maksudnya adalah perbuatan hati, yakni menerima, mematuhi, mencintai dan ikhlas, dan perbuatan anggota badan yakni mengerjakan amal-amal anggota badan yang diwajibkan Allah kepada hamba-Nya.

Imam Bukhari mengatakan,”Saya telah bertemu dengan lebih dari seribu ulama di berbagai wilayah, saya tidak pernah melihat ada di antara mereka yang berbeda pendapat bahwa sesungguhnya iman adalah qaul dan ‘amal, bisa bertambah dan bisa berkurang.”[110]

Dalam kitabnya Syarah Ushul I’tiqad Ahl As Sunnah wa Al Jama’ah, Imam Allalikai menukil pengertian ini dari sejumlah besar ulama, di antaranya adalah Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rawahah, Abu Ubaid, Abu Zar’ah, dan lainya.[111]

3. Pokok iman adalah membenarkan berita dan melaksanakan perintah
Barangsiapa tidak membenarkan dengan hatinya dan tidak melaksanakan pesan Islam, maka ia kafir. Karena itulah ketika sekelompok orang Yahudi datang kepada Rasulullah Saw. dan berkata, “Kami bersaksi bahwa sesungguhnya engkau adalah utusan Allah,” tidaklah serta merta mereka menjadi Islam, sebab mereka mengatakannya dalam rangka memberikan apa yang di dalam hati mereka, “Kami mengetahui dan meyakini bahwa engkau adalah utusan Allah”. Karena itu, Rasulullah bertanya,”Mengapa kalian tidak mau mengikutiku?” Mereka menjawab,”Kami takut orang-orang Yahudi.”

Dari keterangan ini dapat dipahami bahwa semata-mata mengetahui dan menceritakan pengetahuan belumlah disebut iman, sampai keimanannya tersebut diucapkannya sebagai pernyataan yang  mengandung komitmen dan kepatuhan serta pemberitaan tentang keyakinan dalam hatinya. Orang-orang munafik berkata dengan dusta untuk memberitahukan imannya, sementara dalam batinnya mereka kufur. Sedangkan kelompok Yahudi  yang mengatakan keimanan tanpa disertai komitmen dan kepatuhan, pada hakekatnya adalah orang-orang kafir lahir dan batin. Begitu juga Abu Thalib, banyak riwayat mengatakan bahwa ia telah mengetahui kenabian Muhammad Saw. dan berkata,”Sungguh aku tahu bahwa agama Muhammad adalah sebaik-baik agama yang dianut manusia.” Akan tetapi, ia menolak untuk mengatakan tauhid dan kenabian, karena cintanya kepada agama nenek moyang dan khawatir dihina kaumnya. Oleh karena ilmunya di dalam batin tidak disertai kecintaan dan kepatuhan, sehingga ia tetap mencintai kebatilan dan membenci kebenaran, maka ia tidak menjadi beriman.”[112]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah mengatakan, “telah diketahui bahwa iman adalah iqrar (pengakuan), bukan sekadar pembenaran. Iqrar mengandung ucapan hati, yaitu pembenaran dan perbuatan hati, yaitu kepatuhan. Maksudnya membenarkan apa yang diberitakan rasul dan mematuhi apa yang diperintahkannya, sebagaimana iqrar terhadap Allah berarti mengakui-Nya dan beribadah kepada-Nya. Kufur adalah tidak adanya iman, baik disertai pendustaan, kesombongan, pembangkangan, atau keberpalingan. Barangsiapa di dalam hatinya tidak terdapat pembenaran dan kepatuhan, maka ia adalah kafir.”[113]

Di tempat lain ia menjelaskan,”Tidak ada bedanya antara orang yang meyakini Allah sebagai Tuhan dan Dia telah memerintahkan keyakinan ini kepadanya, kemudian ia bersaksi bahwa dirinya tidak mau patuh kepada-Nya karena perintah-Nya dianggap tidak benar, dengan orang yang meyakini bahwa Muhammad adalah utusan Allah dan ia wajib diikuti dalam pemberitaan dan perintah, namun ia lalu dicaci maki atau mencela sebagian dari perbuatannya, atau ia merendahkan martabatnya dengan sesuatu yang tidak sepantasnya disandang seorang rasul.

Iman adalah perkataan dan perbuatan. Barangsiapa meyakini Allah dalam sifat ketuhanan-Nya dan meyakini Muhammad sebagai hamba dan Rasul-Nya, kemudian tidak mengiringi keyakinannya dengan sikap mengagungkan dan memuliakan sebagaimana keadaan hati yang menampakkan pengaruhnya pada anggota badan, bahkan ia menyertainya dengan sikap meremehkan dan merendahkan dengan ucapan dan perbuatan, maka adanya keyakinan itu sama dengan tidak adanya, karena telah menjadi rusak dan tidak membawa manfaat dan kebaikan.”[114]

Ibnul Qayyim mengatakan,”sesungguhnya iman bukanlah sekadar pembenaran, akan tetapi iman adalah pembenaran yang mendatangkan ketaatan dan kepatuhan. Begitu juga petunjuk, ia bukanlah sekedar pengetahuan dan pemahaman tentang kebenaran, melainkan pengetahuan tentang kebenaran yang menimbulkan ketaatan dan pengalaman yang menjadi konsekuensinya. Kalaupun yang pertama disebut petunjuk, maka bukanlah petunjuk sempurna yang membuat seorang mendapat hidayah. Sebagaimana keyakinan yang hanya berupa pembenaran semata-mata, walaupun disebut pembenaran namun bukanlah pembenaran yang menjadikannya seseorang disebut beriman. Telaahlah prinsip ini dan perhatikanlah dengan seksama.”[115]

4. Berpaling dari hukum syariat dan mendustakannya, merupakan kufur besar.
Telah menjadi jelas bahwa iman adalah pengakuan terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah Saw. dengan pembenaran dan kepatuhan. Barangsiapa tidak terdapat pembenaran dan kepatuhan di dalam hatinya, ia adalah kafir. Atas dasar ini, maka menolak hukum syariat adalah seperti mendustakannya. Menolak hukum syariat makasudnya adalah tidak menerimanya dan menolak untuk berkomitmen dengannya sebagai agama, untuk beribadah kepada Allah sebagai hukum yang wajib diikuti dalam menghadapi perselisihan. Ia berkaitan dengan penentangan kepada syariat dan penolakan mengikutinya sejak awal. Oleh karena itu, ia dibedakan dari perbuatan maksiat yang dilakukan terus menerus tanpa taubat, karena ini berkaitan dengan keengganan menerapkan hukum, sedangkan penolakan berkaitan dengan penentangan penerapan hukum syariat.

Allah berfirman,
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat,”Sujudlah kalian kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir (Al Baqarah:34)

Kekafiran iblis bukanlah karena mendustakan karena ia berbicara langsung dengan Allah, akan tetapi karena penentangan dan kesombongan.

Allah berfirman
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya (An Nisa: 65)

Dalam tafsir Ahkam Al Qur’an, Imam Al Jasshash mengatakan,”Ayat ini menunjukan bahwa orang yang menolak salah satu perintah Allah atau perintah Rasul-Nya Saw., maka ia telah keluar dari Islam, baik ia menolaknya karena keraguan maupun karena tidak mau menerimanya dan tidak patuh terhadapnya. Ini membuktikan kebenaran sikap yang diambil para sahabat dalam menghukumi murtadnya orang-orang yang menolak membayar zakat, serta memerangi mereka dan menjadikan anak isterinya sebagai tawanan, karena Allah telah menetapkan bahwa orang yang tidak tunduk kepada putusan dan hukum nabi, bukanlah termasuk orang beriman.”[116]

Perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiah yang terdahulu menegaskan,”kufur adalah tidak adanya keimanan, baik disertai pendustaan atau kesombongan, pembangkangan atau keberpalingan. Maka dari itu, barangsiapa di dalam hatinya tidak terdapat sikap pembenaran dan kepatuhan, ia adalah orang kafir.”

Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq mengatakan,”Hukum tentang ini tidak ada perbedaan pendapat sama sekali, yakni hokum tentang kafirnya orang yang menolak hukum Allah yang tertera dalam kitab-Nya atau ditegaskan oleh rasul-Nya, bahwa syariat tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan manusia dan tidak selaras dengan tuntutan masa, kejam, dan sejenisnya. Karena mencela syariat pada hakikatnya adalah mencela peletak syariat, padahal yang meletakkan syariat dan menetapkannya adalah Allah Swt. Tidak ada seorang Muslim pun yang meragukan bahwa mencela Allah atau menisbatkan sifat kekurangan atau kebodohan kepada-Nya adalah kekafiran dan keluar dari Islam. Oleh karena itu, persoalan utama orang-orang yang menolak hukum Islam adalah mereka bukanlah termasuk jamaatul muslimin dan tidak bergabung kepada umat Islam sama sekali, kecuali kalau mereka telah memproklamirkan tobatnya kepada Allah Swt.”[117]

Ustadz Abdul Qadir Audah mengatakan, “Termasuk telah disepakati bahwa orang yang menolak sesuatu dari perintah Allah dan rasul-Nya berarti keluar dari Islam, baik ia menolaknya karena keraguan atau karena tidak menerima, atau enggan berserah diri. Para sahabat telah menetapkan hukum murtad bagi orang-orang yang menolak membayar zakat dan menilai mereka kafir, keluar dari Islam. Allah telah menetapkan bahwa orang yang tidak tunduk kepada rasul serta tidak tunduk kepada putusan dan hukumnya, maka ia bukan orang beriman. Allah Swt. berfirman,

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya ( An Nisa:65)”[118]

Di antara bentuk keberpalingan dari hukum syariat ini tercermin dalam praktik yang berlaku di negeri-negeri kaum muslimin. Yaitu dipakainya hukum positif buatan manusia yang menanggalkan hukum-hukum syariat pada sebagian besar urusan kenegaraan, dan membolehkan berhukum kepada selain apa yang diturunkan Allah dalam persoalan tersebut, bahkan mengharuskannya dan menghukum siapa yang menentangnya.

Lengkapnya Klik DISINI

Jangan Menyekutukan Allah dengan Ucapan Sumpahmu

Jangan Menyekutukan Allah dengan Ucapan Sumpahmu Ibnu Abbas Radhiyallahu ’Anhu mengatakan bahwa ada seorang lelaki berkata kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu’, maka Nabi bersabda , “Apakah kamu telah menjadikan diriku sekutu bagi Allah? Hanya atas kehendak Allah semata.”

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Apakah engkau menjadikan diriku sekutu bagi Allah?” adalah sebagai bukti adanya penolakan terhadap orang-orang yang mengatakan kepada beliau, “Atas kehendak Allah dan kehendakmu”.

Jika demikian sikap beliau, lalu bagaimana dengan orang-orang yang mengatakan tentang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan perkataan, “Wahai makhluk termulia, tak ada seorangpun bagiku sebagai tempatku berlindung kecuali engkau (Muhammad).” Padahal, tempat berlindung adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Maka janganlah kamu membuat sekutu untuk Allah padahal kamu  mengetahui (bahwa Allah adalah Maha Esa) ” (QS Al Baqarah: 22).

Ibnu Abbas Radhiyallahu ’Anhu dalam menafsirkan ayat tersebut mengatakan, “Membuat sekutu untuk Allah adalah perbuatan syirik, suatu perbuatan dosa yang lebih sulit untuk dikenali dari pada semut kecil yang merayap di atas batu hitam, pada malam hari yang gelap gulita. Yaitu seperti ucapanmu, ‘Demi Allah dan demi hidupmu wahai Fulan, juga demi hidupku’, atau seperti ucapan,  ‘Kalau bukan karena anjing ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri itu’, atau seperti ucapan, ‘Kalau bukan karena angsa yang di rumah ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri tersebut’, atau seperti ucapan seseorang kepada kawan-kawannya, ‘Ini terjadi karena kehendak Allah dan kehendakmu’, atau seperti ucapan seseorang, ‘Kalaulah bukan karena Allah dan Fulan’. Oleh karena itu, janganlah kamu menyertakan “Si Fulan” dalam ucapan-ucapan di atas, karena bisa menjatuhkan anda ke dalam kemusyrikan.” (HR. Ibnu Abi Hatim)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang bersumpah dengan menyebut selain Allah, maka ia telah berbuat kekafiran atau kemusyrikan.” (HR At Tirmidzi, dan ia nyatakan sebagai hadits hasan, dan dinyatakan oleh Al Hakim: shahih).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah kalian bersumpah dengan nama nenek moyang kalian! Barangsiapa yang bersumpah dengan nama Allah, maka hendaknya ia jujur. Dan barangsiapa yang diberi sumpah dengan nama Allah, maka hendaklah ia rela (menerimanya). Barangsiapa yang tidak rela menerima sumpah tersebut maka lepaslah ia dari Allah” (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang hasan)

Bahkan, Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ’Anhu berkata “Sungguh bersumpah bohong dengan menyebut nama Allah lebih aku sukai daripada bersumpah jujur tetapi dengan menyebut nama selainNya.”

Diriwayatkan dari Hudzaifah Radhiyallahu ’Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah kalian mengatakan, ‘Atas kehendak Allah dan kehendak si Fulan’, tapi katakanlah, ‘Atas kehendak Allah kemudian atas kehendak si Fulan’.” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang baik)

Diriwayatkan dari Ibrahim An Nakha’i bahwa ia melarang  ucapan, “Aku berlindung kepada Allah dan kepadamu”, tetapi ia memperbolehkan ucapan, “Aku berlindung kepada Allah, kemudian kepadamu”, serta ucapan, ‘Kalau bukan karena Allah kemudian karena si Fulan’, dan ia tidak memperbolehkan ucapan, ‘Kalau bukan karena Allah dan karena Fulan’.

Qutaibah Radhiyallahu’anhu berkata bahwa ada seorang Yahudi datang kepada Rasulullah, lalu berkata, “Sesungguhnya kamu sekalian telah melakukan perbuatan syirik, kalian mengucapkan, ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu’, dan mengucapkan,  ‘Demi Ka’bah’.

Maka Rasulullah memerintahkan para Sahabat apabila hendak bersumpah supaya mengucapkan, “Demi Rabb Pemilik Ka’bah’, dan mengucapkan, ‘Atas kehendak Allah, kemudian atas kehendakmu’. (HR An Nasa’i dan ia nyatakan sebagai hadits shahih).
Hadits di atas menunjukkan bahwa orang Yahudi pun mengetahui tentang perbuatan yang disebut syirik ashghar atau kecil.

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dari Ath Thufail saudara seibu Aisyah Radhiyallahu ‘Anhumma, ia berkata:
Aku bermimpi seolah-olah aku mendatangi sekelompok orang-orang Yahudi, dan aku berkata kepada mereka, “Sungguh kalian adalah sebaik-baik kaum, jika kalian tidak mengatakan, ‘Uzair putra Allah’. “

Mereka menjawab, “Sungguh kalian juga sebaik-baik kaum jika kalian tidak mengatakan, ‘Atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad’.”
Kemudian aku melewati sekelompok orang-orang Nasrani, dan aku berkata kepada mereka, “Sungguh kalian adalah sebaik-baik kaum jika kalian tidak mengatakan, ‘Al Masih putra Allah’.”

Mereka pun balik berkata, “Sungguh kalian juga sebaik-baik kaum jika kalian tidak mengatakan, “Atas kehendak Allah dan Muhammad’.”

Maka pada keesokan harinya aku memberitahukan mimpiku tersebut kepada kawan-kawanku. Setelah itu aku mendatangi Nabi Muhammad, dan aku beritahukan hal itu kepada beliau. Kemudian Rasul bersabda, “Apakah engkau telah memberitahukannya kepada seseorang?”
Aku manjawab, “Ya.”

Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda yang diawalinya dengan memuji nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Amma ba’du. Sesungguhnya Thufail telah bermimpi tentang sesuatu, dan telah diberitahukan kepada sebagian orang dari kalian. Dan sesunguhnya kalian telah mengucapkan suatu ucapan yang ketika itu saya tidak sempat melarangnya, karena aku disibukkan dengan urusan ini dan itu, oleh karena itu, janganlah kalian mengatakan, “Atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad”, akan tetapi ucapkanlah, “Atas kehendak Allah semata’.”

Pemahaman seseorang akan kebenaran tidak menjamin ia untuk menerima dan melaksanakannya, apabila ia dipengaruhi oleh hawa nafsunya. Sebagaimana orang-orang Yahudi tadi, mereka mengerti kebenaran, tetapi dia tidak mau mengikuti kebenaran itu, dan tidak mau beriman kepada Nabi yang membawanya.

Ucapan seseorang, “Atas kehendak Allah dan kehendakmu,” termasuk syirik ashghar, tidak termasuk syirik akbar, karena beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Kalian telah mengucapkan suatu ucapan yang karena kesibukanku dengan ini dan itu aku tidak sempat melarangnya.” Jika ia merupakan syirik besar, tentu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melarangnya meskipun ada kesibukan.
 
 sumber : http://www.fimadani.com/jangan-menyekutukan-allah-dengan-ucapanmu/
Lengkapnya Klik DISINI

Pengetahuan Generasi Al-Fatih

Pasukan Muhammad Al-Fatih (inet)
Pasukan Muhammad Al-Fatih (inet)
Dua puluh dua hari Murad II mengepung Konstantinopel dari arah barat, namun benteng paling kokoh di zamannya selalu melumpuhkan para penantang, sebagaimana ia telah melumpuhkan pasukan muslim selama delapan abad. Namun mimpinya tidak mati, ia inspirasikan ke anaknya Muhammad II hingga mengalir di jiwa dan darahnya lalu menjadi tujuan hidupnya.

Tulisan ini bukanlah kisah pertarungan bukan juga pertempuran, tapi cerita tentang pikiran besar dibalik penaklukan yang kata kuncinya adalah kurikulum Murad II. Maka cerita ini dimulai dari pengisian bahan-bahan pikiran.

Murad II memulai dari ibukota ‘Ustmaniyyah, Edirne. Ia desainkan konsep masjid dan institusi pendidikan terbaik, masjid untuk pendidikan dan institusi pendidikan yang berspirit masjid. Tidak hanya untuk Muhammad II tapi juga untuk pemuda se-generasinya, karena kebangkitan tak ditopang seorang pahlawan tunggal, tapi sebuah generasi berpengetahuan.

Kendala umum anak-anak lingkungan borjuis adalah keangkuhan, termasuk anaknya sendiri. Karena kelimpahan fasilitas, kekuasaan keluarga, dan posisi kepemimpinan yang pasti di tangan adalah racun yang melemahkan sendi-sendi motivasi belajar. Murad II menyelesaikan kendala ini sebelum fase belajar Muhammad II dimulai. Ahmad bin Ismail al-Kurani adalah guru pertamanya “Aku dikirim ayahmu untuk pendidikanmu, bahkan jika diperlukan pukulan-pun aku keluarkan kalau kamu gemar membangkang”. Muhammad II kecil tertawa mendengar gurunya, hingga Sang Guru benar-benar memukulnya. Pukulan itu yang meruntuhkan tameng kewibawaan mental istana, hingga Muhammad II mulai memahami makna menjadi orang biasa, bukan anak raja.

Rombongan ulama besar yang tinggal di sana dikerahkan seluruhnya untuk misi besar penyiapan generasi ini. Seperti murid-murid Syaikh Tiftazani dan Sayyid Syarif Jurjani yang buku-bukunya sekarang dipelajari di Universitas Islam sedunia, bahkan ‘Alauddin at-Thusi langsung mengajar di sana. Tapi mereka tidak diminta mendatangi Muhammad karena ia yang harus berlelah datangi pintu guru-guru itu setiap hari bersama anak-anak jelata lain.

Pendidikan masa kecil itulah cetakan awal karakter Muhammad II yaitu mental seorang ilmuan. Para pakar itu tidak tersaji di halaman istana yang hijau tapi dicari dan didatangi walau di tanah tertandus. Gairah belajar lebih penting dari pada konten pengetahuannya sendiri karena ia yang menjamin kontinuitas. Dan ini keberhasilan didikan Al-Kurani. Sehingga Al-Quran dihafalnya cepat sebelum delapan tahun, lalu ilmu-ilmu syari’at dilahapnya setelah itu.

Bahasa pengantar yang diajarkan pada Muhammad II ada tujuh yaitu: Arab, Turki, Persia, Yunani, Serbia, Italia, dan Latin. Ketujuh bahasa ini ia selesaikan di usia remaja. Maka akses Muhammad II untuk mengkaji semesta ini tidak dibatasi cakrawala budayanya [Turki]. Bahkan zaman Murad II ini dikenal dengan masa emas terjemahan referensi-referensi besar Islam ke dalam bahasa Turki seperti Tafsir dan Tarikh Thabari, Tafsir dan Tarikh Ibnu Katsir, referensi-referensi Fiqih, Hadits, kedokteran, kimia untuk dikonsumsi generasi se-zamannya dan setelahnya.

Tapi keistimewaan tersebut bukan pada kuantitas penguasaan bahasa, karena ia hanyalah tools pembuka pengetahuan, tapi ketepatan sasaran dalam penggunaan. Maka ilmu ketiga dalam kurikulum Murad II untuk dipelajari Muhammad II kecil setelah Qur’an dan Islamologi adalah sejarah. Ia fokus mengkaji kaidah-kaidah kemenangan dan sebab-sebab kekalahan dalam jejak perjalanan umat-umat terdahulu. Lalu Matematika, Geografi dan Astronomi. Perangkat ilmu ini membuatnya rasionalis dan berfikir strategis, berpandangan global dalam perencanaan tapi detail dalam pelaksanaan.

Kemampuan ini saja sudah membuatnya unggul di antara generasi muda sezamannya, namun Murad II memberi anaknya perangkat lain, yaitu sastra. Tak sembarangan, seorang guru besar, Ibnu Tamjid, seorang penyair Arab dan Persia, juga Syaikh Khairuddin dan Sirajuddin al-Halabi. Kapasitas sastra berfungsi menghidupkan pikiran-pikiran imajinatifnya. Bahkan lebih dari itu, Muhammad II memang seorang penyair.

Tibalah bagi Murad II untuk menguji kapasitas pengetahuan Muhammad II. Di usianya yang ke 14, ia ditunjuk menjadi gubernur Manisa. Siapa pun yang pernah mengunjunginya, akan mengakui kapasitas kepemimpinan Muhammad II dalam mengelola kota, manajemen administratif, membangun tentara, mendesain konsep sekolah, dan menghiasi kota dengan seni, festival kebudayaan, dan pembangunan simbol-simbol kebanggaan sejarah.

Namun kesibukan politik tidak mengakhiri petualangan pengetahuannya. Masjid Ibrahim Khaja adalah saksi sejarah seorang pemimpin kota yang rela duduk merendah di jajaran para ulama terbaik di zamannya, khususnya As-Syamsuddin, seorang ilmuan ensiklopedik penemu konsep mikrobat dalam ilmu kedokteran. Di sinilah pengetahuan Muhammad II mendaki puncaknya, karena landasan teoritis yang dikuasai sejak dulu bertemu dengan ruang aplikasi untuk kemudian dievaluasi dalam majelis pengetahuan masjid Ibrahim Khaja.

Semua perjalanan pengetahuan ini adalah pengantar menuju penaklukan yang dirancang dengan sangat sistematis oleh Murad II. Ia sendiri meninggal muda dan bahkan tidak pernah menyaksikan anaknya mempersiapkan pasukan Ustmani menuju Konstantinopel. Tapi waktu realisasi itu tidak lama. Muhammad II menggantikan menjadi sultan di Edirne dalam usia 22 tahun dan hanya dalam waktu dua tahun ia melunasi hadits Nabi yang selama 8 abad belum berhasil dituntaskan generasi-generasi kuat terdahulu, baik generasi para penakluk daulah Umawiyyah atau generasi kemakmuran daulah Abbasiyyah.

Generasi-generasi sebelum Muhammad II al-Fatih mungkin sama kuat militernya, sama luas wilayah kekuasaanya, sama melimpah aset manusia dan alamnya, dan sama menggebu obsesi penaklukannya, tapi Murad II meretas jalan untuk mencetak generasi baru yang belum pernah ada dalam sejarah Islam. Yaitu generasi yang berpengetahuan tingkat tinggi dengan pemimpin terbaiknya. Pemimpin terbaik di zaman itu bukan hanya petarung, atau manajer, atau sastrawan, atau ahli fiqih, atau panglima, atau pemikir strategis, tapi pengetahuannya mencapai tingkat kepakaran nyaris di semua bidang.

Maka mudah saja, memahami semua kreasi strategi Muhammad Al-Fatih dalam proses penaklukan Konstantinopel, yang belum pernah terfikirkan generasi sebelumnya, seperti pembuatan meriam raksasa, mengangkat 70 perahu lewat darat sepanjang 3 mil, karena itu semua produk pemikiran berbasis pengetahuan. Bahkan andai strategi-strategi teknis itu gagal, generasi al-Fatih tidak akan kehabisan stok strategi dari gudang pengetahuannya. Bagaimana tidak? Rasulullah sendiri yang mendeskrisipsikan generasi penakluk itu “Konstantinopel benar-benar akan dibebaskan, pemimpin terbaik adalah pemimpin yang membebaskannya dan pasukan terbaik adalah pasukan yang bersamanya”. Dibalik setiap cerita kemenangan, selalu ada revolusi pengetahuan. Dan Muhammad Al-Fatih beserta generasinya adalah model yang paling sempurna untuk itu. (Edisi Lengkap Serial Pemuda bisa diakses di www.elvandi.com)

Muhammad Elvandi, LcIstanbul, 29 April 2013
Majalah Intima Edisi Mei 2013
Muhammad Elvandi, Lc
Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......