Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

Sakinah Bersama Islam

Sakinah Bersama Islam
Islam adalah agama yang sempurna karena Islam mengatur setiap sendi kehidupan. Mulai dari masuk WC sampai urusan Negara. Sayangnya, banyak yang anti dengan peraturan Islam. Sayangnya manusia merasa bisa mengatur urusan mereka sendiri tanpa perlu aturan Islam. Contoh sederhana saja dalam urusan rumah tangga. Islam mengatur detail bagaimana seharusnya berumah tangga itu. Apa saja kewajiban suami, apa saja kewajiban istri, Islam jelaskan secara sempurna dengan tujuan yang selalu kita ucapkan setiap kali ada teman kita yang menikah,”Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warohmah.” 

Tapi sepertinya tiga kata itu seolah hanya tradisi biasa. Ucapan yang sudah jadi kebiasaan setiap orang akan menikah. Kadang ketika ditanya apa artinya, Bagaimana cara mewujudkannya, mereka tidak tahu. Sama seperti ketika mereka mendapatkan anugerah berupa anak. Pasti ada yang berdoa semoga menjadi anak yang sholeh. Tapi mereka tidak tahu apa itu sholeh dan bagaimana cara mewujudkannya. Didoakan menjadi anak sholeh, tapi anaknya diajarkan nyanyi dan bergoyang-goyang ditonton penduduk Indonesia. Kan tidak nyambung? 

Begitu pula dalam rumah tangga, sangat aneh ingin menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warohmah, tapi rumah tangga tidak dibina dengan Islam. Bukankah doa-doa itu diajarkan Islam, tentu Islam punya caranya.
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, suapa kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (ar-rum:21) 

Jadi sudah jelas, tujuan pernikahan itu adalah ketentraman, rasa kasih dan sayang, kebahagiaan. Kalau sudah menikah justru tambah tidak bahagia, artinya pernikahannya gagal. Untuk apa menikah kalau tidak bahagia? Bukankah yang dicari adalah kebahagiaan? 

Jika Islam dijadikan nahkoda, InshaAllah rumah tangga akan mendapatkan sakinah. Bagaimana tidak, suami diperintahkan untuk memperlakukan istri dengan baik, lembut jika berucap, memberikan nafkah yang halal. Pun wanita sama, wanita diperintahkan taat pada suami, menyenangkan suami, menjaga amanah dari suami.
Apakah mereka yang menjadikan Islam sebagai nahkoda rumah tangga tidak pernah bertengkar? Tidak, bertengkar itu sudah menjadi bagian dari kodratnya berumah tangga. Jangankan dengan istri yang baru dikenal, dengan adik kandung pun kita sering bertengkar. Jangankan dengan suami yang baru dikenal, dengan Ayah pun kita sering tidak sependapat. Tapi mereka bertengkar tidak akan lama. Bahkan para tetangga pun tidak pernah mendengar pertengkaran mereka. Jika mereka mulai berbeda pendapat, mereka kembalikan pada dalil. Jika suaminya marah, sang istri akan segera merayu, karena istri tahu keridhoaan Allah ada pada keridhoaan suami. 

“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang perempuan kalian di surga?” Kami katakan: “Benar ya Rasulullah.” Beliau bersaba:” Setiap perempuan yang penyayang dan subur, jika ia dibuat marah atau diperlakukan buruk, atau suaminya marah kepadanya, ia berkata: Ini kedua tanganku ada di tanganmu, aku tidak akan bisa memejamkan kedua mataku hingga engkau ridha kepadaku.” (HR HR at-Thabrani)


Foto ilustrasi: google 

Lengkapnya Klik DISINI

Teladan Umat: Syaikh Bin Baz dan Syaikh Al-Qaradhawi

bin baz qaradawiSalah satu keteladanan yang banyak dipraktikkan oleh para ulama salaf adalah sikap saling menghargai dan menghormati saudara-saudaranya yang berbeda pendapat dengan mereka. Sikap seperti ini juga telah ditunjukkan oleh dua ulama besar di zaman kita ini: Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah (w. 1420 H) dan Syaikh Yusuf bin Abdillah Al-Qaradhawi hafizhahullah.

Syaikh Al-Qaradhawi berkata: “Syaikh Bin Baz rahimahullah pernah mengirim surat kepada saya lebih dari seperempat abad yang lalu. Dalam surat tersebut, beliau memberitahukan kepada saya bahwa Departemen Penerangan memberikan kitab saya—Al-Halal wa Al-Haram fi Al-Islam—kepada beliau; Apakah kitab tersebut boleh masuk ke wilayah kerajaan Saudi Arabia atau tidak? Beliau menginginkan agar jangan sampai para pembaca di Saudi dilarang membaca kitab-kitab saya yang menurut beliau, ‘mempunyai nilai tersendiri di dunia Islam’. Beliau mengabarkan, bahwa para Syaikh di Saudi mempunyai delapan catatan atas kitab saya tersebut, di mana beliau menyebutkan semuanya di dalam suratnya. Beliau meminta kepada saya agar mau menelaah kembali isi kitab saya tersebut. Sebab, ijtihad manusia itu bisa saja berubah di lain waktu.

Ketika itu saya membalas Syaikh Bin Baz dengan sebuah surat sederhana. Saya katakana di dalamnya, ‘Sesungguhnya ulama umat yang paling saya cintai dimana saya enggan menyelisihinya dalam berpendapat, dia adalah Syaikh Bin Baz. Akan tetapi sunnatullah telah berlaku bahwasanya tidak pernah ada para ulama yang sependapat dalam semua masalah. Para sahabat saling berbeda pendapat satu sama lain. Dan para imam juga berbeda pendapat satu sama lain, namun demikian, hal ini sedikit pun tidak membawa mudharat pada mereka. Mereka memang berselisih pendapat, namun hati mereka tidak berselisih. Dan sebagian dari delapan masalah ini, para ulama sejak dulu memang telah berselisih pendapat di dalamnya…”

Pada akhir surat Syaikh Al-Qaradhawi menyampaikan kepada Syaikh Bin Baz, “Saya berharap agar jangan sampai perbedaan pendapat yang terjadi antara saya dengan para syaikh (di Saudi) dalam sebagian masalah ini menjadi sebab dilarangnya buku saya masuk ke Saudi.”

Syaikh Bin Baz pun kemudian mengabulkan harapan Syaikh Al-Qaradhawi tersebut. Beliau rahimahullah mengizinkan Kitab Al-Halal wa Al-Haram fi Al-Islam dan kitab lainnya masuk ke Saudi.

Sumber: Fi Wada’ Al-A’lam, Yusuf Al-Qaradhawi, hal. 62-63, Penerbit Dar Al-Fikr Al-Mu’ashir, Beirut, Cetakan pertama, 2003 M – 1424 H, seperti dikutip oleh Abduh Zulfidar Akaha dalam buku Belajar dari Akhlaq Ustadz Salafi, hal xxv-xxvi, Penerbit Al-Kautsar, Jakarta, Cetakan Pertama, Februari 2008, dengan sedikit perubahan.


Lengkapnya Klik DISINI

Saat Qaradhawi Diusir Seorang Syaikh

syaikh_qaradawiSyaikh Yusuf Qardhawi menceritakan kenangannya ketika beliau masih duduk di bangku SMA; di Thantha Mesir ada makam Sayyid Ahmad al-Badawi yang sangat terkenal. Masyarakat awam Mesir menganggap Ahmad al-Badawi sebagai salah satu dari empat wali Allah paling besar. Keempatnya berbagi dunia untuk mereka kuasai dan memenuhi keperluan penghuninya. Bahkan sebagian guru Syaikh Qaradhawi ada yang menghabiskan waktu siang dan malam di sisi makam Sayyid al-Badawi!

Syaikh Qaradhawi pernah berdiskusi dengan salah seorang gurunya, seorang ahli fiqh yang hanif, hanya saja dia termasuk kelompok yang menyucikan tasawuf dan para wali secara berlebihan. Suatu saat Sang Guru mengajarkan materi kurban dalam pelajaran fiqih kepada Syaikh Qaradhawi dan teman-temannya.

Syaikh Qaradhawi berkomentar, “Syeikh, orang-orang telah mengabaikan sunnah (kurban) ini. Sangat sedikit dari mereka yang mau berkurban. Saya yakin para syeikh bisa menjadi teladan bagi mereka dalam hal ini dan para syeikh sangat mungkin mengingatkan mereka tentang sunnah ini.”

Syaikh berkata, “Kemampuan materi orang-orang sudah tidak memadai untuk itu.”

Syaikh Qaradhawi berkata, “Akan tetapi pada momentum lain mereka menyembelih hewan, padahal itu bukan sunnah.”

Syaikh bertanya, “Apa maksudmu?”

Syaikh Qaradhawi berkata, “Maksud saya, mereka menyembelih hewan pada hari kelahiran Sayyid al-Badawi. Saat hari kelahirannya, puluhan atau ratusan bahkan ribuan domba disembelih, sedangkan pada hari raya Idul Adha sangat sedikit orang yang berkurban. Seandainya para syeikh mengarahkan mereka kepada sunnah ini—daripada menyembelih untuk Sayyid al-Badawi—lebih baik mereka menyembelih pada hari raya Idul Adha sehingga mereka menghidupkan sunnah.Bahkan seandainya mereka tidak menyedekahkan daging kurban sedikit pun, bahwa mengalirkan darah kurban berarti menghidupkan salah satu ritual Islam, ‘Fa shalli li Rabbika wanhar.’

Ketika Syaikh Qaradhawi mengatakan itu, Syaikh rahimahullah membentak dan mengusir Syaikh Qaradhawi dari kelas.

Potongan kisah tersebut memberi pelajaran kepada kita bahwa tidaklah suatu kaum menghidupkan bid’ah dan menyibukkan diri dengannya, kecuali mereka telah mematikan sunnah yang semisal dengannya. (Sumber: Bid’ah dalam Agama, Yusuf Qaradhawi, Gema Insani: Jakarta)

http://www.al-intima.com/nasehat/saat-qaradhawi-diusir-seorang-syaikh
Lengkapnya Klik DISINI

Tolong Hentikan Ustadz, Aku Tak Tahan Lagi !!

 
Tahun 2010, saya melakukan survey dengan bertanya kepada beberap perempuan bekerja. Pertanyaan saya sangat sederhana, “Bu, bagaimana perasaan ibu dengan kondisi ibu bekerja saat ini, lebih merasa cukup dengan suami saja bekerja atau merasa lebih cukup dengan ibu ikut bekerja ?

•90% perempuan bekerja menjawab, “Saya merasa cukup dengan hanya suami saja yang bekerja ketimbang saat ini saya ikut bekerja.”

•Para istri yang saya survei itu mengaku justru dengan dirinya bekerja, utang keluarga justru bertambah, padahal niat awalnya agar utang suami tidak bertambah parah. Dulu semua yang diinginkan selalu bisa terpenuhi tapi dengan ikut bekerja menjadi selalu kurang, tidak ada yang cukup.

•Setelah para istri ini curhat tentang kondisinya, lalu saya bertanya kepada, “Ibu tahu tidak penyebab mengapa dulu saat suami ibu yang bekerja semuanya tercukupi dan sekarang ibu bekerja justru selalu kurang ?”

•Ibu-ibu itu menggeleng. Mereka hanya heran harusnya dengan ikut bekerja kebutuhan rumah tangga menjadi lebih dari cukup.
•Saya sampaikan begini kepada ibu-ibu itu :

Keberkahan rezki ibu telah hilang, ibu-ibu tahu mengapa hilang ? Begini, dulu saat suami ibu saja yang bekerja ibu masih sempat mengurus anak-anak berangkat sekolah. Ibu masih sempat membangunkan suami untuk shalat malam. Ibu masih sempat membuatkan sarapan untuknya. Dan ketika suami ibu pulang kerja, ibu sudah cantik berdandan rapi untuk menghilangkan kelelahan suami ibu sore itu. Ibu masak yang terenak untuk suami dan masih sempat membacakan dongeng untuk anak-anak ketika akan tidur dan masih “fresh” saat suami ibu mengajak bercinta.

•Tapi saat ibu bekerja saat ini, ibu lebih awal kan berangkat dari suami? Karena ibu masuk jam 7 pagi karena khawatir terlambat dan jauh ibu berangkat jam 5.30 padahal barangkali suami baru saja mandi. Anak-anak belum terurus baju sekolahnya, bahkan bisa saja di antara mereka nggak ada yang sarapan karena Ibu lupa menyediakan. Iya kan bu ?’ Kata saya kepada mereka.

•Di antara ibu-ibu yang bekerja ini mulai menangis. Saya meminta izin untuk meneruskan taujih di sore itu.

•“Dan ketika suami ibu pulang, ibu belum pulangkan karena ibu diminta lembur oleh boss ibu di pabrik. Ketika suami sudah ada di rumah jam 5 sore, ibu masih berkutat dengan pekerjaan sampai jam 8 malam. Suami ibu bingung ke mana dia mengadukan ceritanya hari itu dia mencari nafkah. Anak-anak ibu belum mandi bahkan bisa saja di antara mereka ada yang tidak shalat Maghrib, karena tidak ada yang mengingatkannya. Kemudian mau makan akhirnya makan seadanya, hanya masak mie dan telur karena hanya itu yang mereka mampu masak.

•Suami ibu hanya makan itu bahkan hampir tiap malam, sedangkan ibu baru pulang jam 9 sampai di rumah di saat anak-anak ibu sudah lelah karena banyak bermain, bahkan di antara mereka masih ada yang bau karena nggak mandi. Suami ibu terkapar tertidur karena kelelahan, karena suami ibu menunggu kedatangan ibu. Kondisi ibu juga lelah, sangat lelah bahkan, ibu bahkan berbulan-bulan tidak bisa berhubungan intim dengan suami karena kelelahan….”

•Ibu bekerja untuk menambah keuangan keluarga tapi ibu kehilangan banyak hal. Hal-hal yang pokok menjadi tidak selesai. Hal-hal yang ibu kerjakan di pabrik juga tidak maksimal karena hati ibu sedih tidak punya kesempatan mengurus suami dan anak-anak. Pakaian suami dan anak-anak kumal, kuku anak-anak panjang, rambut anak-anak gondrong dan tak terurus.

•Ibu-ibu itu semakin kencang menangisnya, di antara mereka mengatakan “Hentikan ustadz, aku tak tahan lagi, hentikan”, sang ibu itu memeluk teman yang di sebelahnya dan menangis.

•Sore itu saya berusaha menyampaikan kewajiban saya sebagai dai. Katakan yang benar itu walaupun harus membuat hati sedih. Di penutup saya menyampaikan, “Tidak ada larangan buat ibu bekerja dengan satu syarat, tugas pokok ibu tidak ada masalah, tidak ada hak-hak suami dan anak-anak yang berkurang yang dapat menyebabkan ketidak berkahan uang yang ibu dapatkan dari bekerja. Pastikan itu semua tidak ada masalah dan bekerjalah setelah itu”

•Adzan Maghrib sore itu menghentikan ceramah saya di sela tangis ibu-ibu yang ingin segera pulang untuk bertemu dengan suami dan anak-anak mereka.

(adi/dakwatuna) foto: vemale
 
Lengkapnya Klik DISINI

Mereka Menangis di Keheningan Malam

Ketika malam tiba, nuansa spiritual hadir dalam jiwa para ulama. Ketika lentera yang menyinari rumah-rumah mereka dimatikan, tak ada yang terlihat mata. Gelap. Namun dalam selimut gelap itulah nuansa spiritual mengental. Mereka menangis dalam beragam latar.

Khalifah Umar bin Abdu Aziz. Meskipun ia bisa menerangi seluruh istananya, ia lebih suka menikmati gelapnya malam. Di tengah malam selepas seharian mengurus rakyatnya, ia shalat malam dan menangis dalam persujudannya. “Ia terus menangis hingga kedua matanya tertidur, kemudian terbangun dan menangis lagi dan lagi,” kata Fatimah binti Abdul Malik, “Dia menghabiskan sebagian besar malamnya seperti itu.”

Ibnu Jauzi mengisahkan, Abu Muhammad biasa menangis di malam hari. Mengapa ia suka menangis di malam hari? “Ia takut jika ia sudah tidak bisa menemui pagi,” kata istrinya. Masya Allah… ingat mati benar-benar dimiliki ahli ibadah ini. Ia memperbanyak ibadah dan menangis di malam hari karena menyadari bahwa tak ada yang bisa menjaminnya bahwa esuk hari ia masih hidup atau telah mati.

Ada pula ulama yang suka menangis di malam hari sebab begitu mendapati gelapnya malam, ia langsung ingat dengan alam barzakh. Ia menyadari, tengah malam yang gulita saja sudah demikian sunyi, bagaimana dengan kuburan yang tertimbun tanah. Tak ada celah. Tak ada cahaya, tak ada teman bicara. Terbujur kaku sendirian, hanya ditemani oleh amal dalam masa penantian panjang. Entah berapa lama hingga kiamat datang. Yang menakutkan, tak ada jaminan bahwa amal-amal sepanjang kehidupan diterima Allah Azza wa Jalla. Bagaimana jika semuanya menguap tak tersisa karena tidak ikhlas pada-Nya. Bagaimana jika seluruhnya tertolak karena tercampur syahwat dunia, riya dan berharap puja?

Ada pula yang menangis karena mereka paham betul. Bahwa hanya mata yang berjaga dalam jihad fi sabilillah dan mata yang menangis karena Allah yang akan diselamatkan dari api neraka. “Dua mata yang tidak akan tersentuh api neraka,” sabda sang Nabi suatu ketika, “mata yang berjaga dalam jihad fi sabilillah dan mata yang menangis karena Allah.”

Para ulama menemukan banyak alasan untuk menangis dan bersimpuh dalam keheningan malam. Bagaimana dengan kita? [Muchlisin BK/Bersamadakwah]


Lengkapnya Klik DISINI

Inilah Kisah Mengharukan Seorang Pendeta di Pedalaman Kalimantan Memeluk Islam

http://islamedia.id/wp-content/uploads/2015/08/pendeta-masuk-islam.jpg
Seorang mantan pendeta Kristen Protestan menuliskan sebuah surat yang ditujukan kepada Tuan Syaikh Abdurrozzaq, dalam surat tersebut mantan pendeta tersebut menerangkan bagaimana kronologis akhirnya dirinya memeluk agama Islam.

Mantan pendeta yang tinggal di Pedalaman Kalimantan tersebut bernama Robert Tanhu Mangkulang dengan nama Islam Abdurrahman Al Islami.

Abdurahman Al Islami belum sempat mengirimkan surat tersebut, mungkin karena sakit yang dideritanya, akan tetapi surat tersebut ditemukan oleh saudaranya yang non muslim ditumpukan buku-bukunya sebulan setelah wafatnya.

Berikut ini isi suratnya dikutip dari website resmi Ustadz Firanda Adireja
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله
Kepada yang saya cintai karena Allah Tuan Syaikh Abdurrozzaq semoga Allah memberkahi anda.
Perkenalkan nama saya Robert Tanhu Mangkulang dengan nama Islam Abdurrahman al Islami 58 tahun, berasal dari suku Dayak Kalimantan.
Sebelumnya saya minta maaf bila mengganggu waktu anda dan aktifitasnya. Saya ingin menceritakan kisah singkat tentang kehidupan saya dan juga harapan saya di akhir hidup saya yang tersisa.
Saya masuk Islam pada tanggal 15 Desember 2011, mulanya saya masuk Islam dan mengenal Agama Islam karena keraguan agama yang saya yakini, di keluargaku 6 bersaudara semuanya berbeda agama, ada hindu paganisme, kristen katholik dan protestan, tapi tidak ada satu pun yang masuk Islam karena keluarga kami menganggap Islam agama yang rumit dan sulit.
Selama 30 tahun lebih saya menjadi misionaris protestan dan terakhir menjadi kepala gereja di seluruh kota di Kalimantan, tepatnya di Kutai Barat, selama itu pula saya diberikan kecukupan rezeki harta dan jabatan yang layak karena itulah tujuan para pendeta, dari keenam kali pernikahan saya tidak dikaruniai anak keturunan, harta yang saya punya dipakai untuk bersenang-senang dan habis di meja judi.
Di akhir masa tua ini saya merasa takut dan gelisah dengan agama yang saya yakini yaitu kristen protestan. Tidak membawa ketenangan dan ketentraman, sebelum saya mengenal Islam ini saya meneliti dan membanding-bandingkan kitab-kitab injil saya dengan kitab yang dulu, ada sisi yang kontradiktif antara satu dan lainnya, ditambah lagi saya ingin menghabiskan masa tua di tempat kelahiran saya.
Sebulan kemudian saya memutuskan untuk pergi meninggalkan gereja demi niat saya untuk pindah mencari ketenangan hati. Singkat cerita kami, yaitu saya dan murid saya yang mengantar sampailah di satu pelosok kabupaten Paser yang mayoritas 90 prosen adalah penganut paganisme dan animisme, namun selama puluhan tahun ditinggalkan ada sedikit berbeda, ada beberapa orang yang masuk agama Islam diantaranya mantan mertua yaitu bapak istri saya ketiga ternyata sudah menjadi muslim.
Seperti biasa di pagi hari saya selalu berkeliling untuk berolahraga, sengaja saya melewati rumah bekas istri saya karena penasaran kami berdiskusi dan berdialog dengan mereka, padahal dulu mereka adalah orang-orang yang nakal dan brutal namun ada perubahan drastis dengan sikap perilaku dan penampilan yang islami.
Tuan Syaikh Abdurozzaq desa kami desa terisolir dan jauh dari keramaian, selama puluhan tahun tidak ada da’i atau ustadz yang masuk ke pedalaman, lalu saya tanyakan kepada mereka apa yang menyebabkan mereka masuk Islam? Mereka bercerita ada seorang pemuda jawa yang datang dari kota kecamatan selalu datang membawa alat penghisap darah penyakit dan mengamalkan agamanya, karena keramahan dan budi pekerti yang baik mereka belajar, dari mulai 2 keluarga yang masuk Islam hingga 30 keluarga (setara 40 orang dewasa 18 anak kecil) yang belajar tentang agama Islam.
Selesai berdialog mereka memberi buku kecil berjudul “Sebab-Sebab Kebahagiaan” karya Syaikh Abdurozzaq dan buku Bekam Sunnah Nabi dan Mukjizat Medis. Sampai di rumah sebelum tidur saya membaca dan merenungi tiap makna dari lembaran buku itu, entah kenapa badan saya merinding, dada bergemuruh karena takjub dengan penjelasan kebahagiaan yang saya cari selama ini.
Puluhan tahun saya berkhotbah di hadapan jamaah, baru kali sekarang saya mendapat suatu kata indah walaupun ada beberapa yang kurang dimengerti dalam bahasanya tapi saya faham akan maksud dan tujuan si penulis.
Keesokan harinya saya bertemu dengan teman-teman di desa untuk menanyakan kapan pemuda itu kembali akan datang? ternyata hari itu mereka sudah ada janji untuk menjemput lewat sungai karena daratan berlumpur setelah hujan lebat.
Setelah ketemu kami yaitu saya mengutarakan niat saya untuk memeluk agama Islam maka dengan keyakinan yang kuat saya mengucapkan syahadat di hadapan 8 laki-laki dewasa dan 4 wanita walaupun agak sulit karena saya belum terbiasa dan tidak bisa maka saya dituntun untuk membaca “Laailaha illallah Muhammad Rasulullah”.
Pemuda tadi memegang erat tangan saya dan memeluknya tubuh ini dengan haru lalu dia ucapkan “Bapak sekarang menjadi saudara saya dalam Islam maka berbahagialah bapak dengan jaminan Allah, bahwa dengan taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya kita akan bertemu di surga”
Setelah itu kami berbincang dan berbagi pengalaman, dan saya tanyakan kepada pemuda ini dimana saya bisa bertemu dengan penulis ini buku, sambil menunjukkan buku yang saya bawa. Ternyata pemuda ini pun belum pernah bertemu atau melihat langsung Syaikh Abdurrozzaq, dia hanya mendengar suara di radio swasta sebelum dia merantau ke Kalimantan, bahkan bila ada kunjungan penulis buku ini dia tidak bisa hadir karena kemampuannya untuk datang ke Jakarta.
Dua minggu kemudian dia datang kembali membawa buku-buku pelajaran cara praktis membaca al-Quran dan papan tulis, sekaligus memberi kabar gembira bahwa Syaikh Aburrozzaq akan datang bulan Februari di Jakarta tahun 2012, maka saya katakan ke padanya “Mari kita berangkat ke Jakarta, masalah ongkos saya yang akan tanggung, bawa juga keluargamu”. Namun dia menolak dengan alasan bahwa dia mengajarkan agama bukan karena harta dan iming-iming materi dunia, tapi saya bersikeras untuk memberi dia uang. Selama dua tahun naik turun bukit pemuda ini hanya digaji dengan ikan dan pisang sedangkan saya diberi sesembahan para jamaah setiap minggu.
Akhirnya dia menerima dan membelikan tiket untuk keberangkatan kami di bulan Februari 2012 bersama keluarganya.
Sejak saat itu kami belajar dan saya pun belajar dengan sungguh-sungguh akan kebaikan Islam, umumnya di suku kami tidak ada paksaan untuk memeluk agama lain karena perbedaan agama boleh asal jangan mengganggu adat istiadat yang ada di desa kami yang mayoritas hindu paganisme.
Di pagi hari badan saya sakit semua, hernia kambuh dan seluruh kaki terasa berat digerakkan, dengan bantuan tetangga dibawa ke poliklinik terdekat lalu saya diobati dengan obat-obatan seadanya karena klinik kampung yang ada di desa tidak ada petugas yang jaga itupun yang mengobati adalah bidan kampung/dukun anak.
Seminggu kemudian pemuda ini datang dan berniat untuk menjemput saya ke rumahnya serta tinggal beberapa hari di rumah samping mushola, namun takdir berkata lain jangankan untuk jalan, berdiripun tak mampu. Pemuda ini membacakan beberapa do’a dan dia meminta madu dan air serta diminumkan kepada saya, sore harinya saya agak membaik, bisa jalan tertatih-tatih, saya minta ijin tidak hadir dalam pengajian iqro dan ia pun mengerti.
Saya mengatakan kepadanya bahwa saya tidak bisa bertemu atau datang ke jakarta, sampaikan salam dan tolong tuliskan rasa terima kasih kepada Syaikh Abdurozzaq, saya akan ke rumah teman yang ada di kabupaten untuk melihat tayangan langsung, kebetulan dia mempunyai parabola. Akhirnya pemuda ini berangkat bersama keluarganya ke jakarta, ada seorang ibu yang menitipkan barang untuk Syaikh berupa tas karena kecintaan beliau kepada tuan Syaikh Abdurrozzaq.
Hari minggu 19 februari 2012, hari itu saya sangat senang melihat wajah anda Syaikh Abdurrozzaq, walaupun ada gangguan dan sinyal yang buruk tapi ada pelajaran yang bisa diambil “bahwa bila kita ingin meraih cinta Allah harus mendahulukan perintah-perintah-Nya”. Saya ingin sekali mendengar tapi suara, gambar dan tayangannya tersendat-sendat, sehingga waktu itu saya jadi berfikir kenapa saya tidak memaksakan berangkat ke jakarta.
Tuan Syaikh Aburrozzaq sejak itu pula saya mulai mengerti arti kehidupan dalam pandangan Islam bahwa dunia hanya sementara sedangkan akhirat kekal dan abadi.
Ada kejadian yang membuat saya miris dan sedih, pemuda tadi dicegat dan diinterogasi oleh sebagian aparatur desa, yang ironisnya mereka adalah muslim, mereka menganggap pemuda ini mengajarkan ajaran menyimpang karena itu dia tertahan dan tidak bisa mengajar lagi, lalu datanglah saudara kami “Maris” salah satu tokoh yang masuk Islam dia menjelaskan kepada aparatur desa bahwa dia hanya mengajarkan baca tulis al-Quran.
Dua bulan tiga bulan sampai satu tahun dia tidak pernah datang lagi, apalagi setelah kami warga muslim ikut-ikutan ritual belian (pemanggilan roh-roh halus), mau tidak mau, suka atau tidak suka kami harus mengikutinya adat-istiadat karena ini solidaritas suku. 
Tuan Syaikh Abudrrozzaq pemuda ini tidak pernah datang lagi, kami memaklumi dan mengerti dia membutuhkan perubahan dari kami dan juga perjuangan untuk melawan adat tapi kami tidak mampu, dan lagi beliau juga perlu penghasilan untuk keluarga semoga Allah memudahkan urusan pemuda ini.
Tuan Syaikh Abdurrozzaq semoga dengan tulisan ini dan sampainya tulisan ini di hadapan anda semoga ada da’i atau ustadz yang mau ke tempat kami, dulu waktu kami menjadi misionaris kami bisa ke pelosok-pelosok tapi umat Islam yang kata anda rahmat semesta alam tidak ada yang bertahan ke pedalaman. Maka disisa umurku ini saya berharap bisa bertemu di surga kelak. Saya mempunyai penyakit kronis bisa saja setelah ini Allah mencabut nyawa saya, sekali lagi terimakasih untuk anda dan Islam.
Abdurrahman al-Islami

Muara Andeh, 15 Agustus 2014
Berikut ini pertanyaan mantan pendeta ketika Syaikh Abdurrozzaq mengisi di Jakarta : https://youtu.be/vDL3aFKHXO0?t=6719

Berikut ini scan surat mantan pendeta:
[islamedia/firanda]
Lengkapnya Klik DISINI

Virus Merah Jambu Dalam Bingkai Ikhtilath

Ilustrasi. (kartinki2008.ru)
Ilustrasi. (kartinki2008.ru)
Semua bencana itu bersumber dari pandangan
Seperti api besar itu bersumber dari percikan bunga api
Betapa banyak pandangan yang menancap dalam hati seseorang seperti panah yang terlepas dari busurnya
Berasal dari sumber matalah semua marabahaya
Mudah beban melakukannya, dilihat pun tak berbahaya
Tapi jangan ucapkan selamat datang kepada kesenangan sesaat yang akan datang membawa bencana.
Pernahkah anda merasa kagum dengan seseorang, pria atau wanita? Simpati dengan perilakunya? Harap-harap cemas tak pasti, selalu ingat akan wajahnya yang cantik atau ganteng, dikit-dikit galau, takut kehilangan dirinya, dan rela mengeluarkan kocek yang dalam untuk seseorang yang dikagumi?

Itulah cinta yang adalah sunnatullahNya. Kalau cinta disalahgunakan jadilah ia seperti virus yang menyerang sistem ketahanan iman. Bisa saja ilmu yang dalam tak mampu menangkal serangan virus cinta ini, virus merah jambu. Virus yang bisa menggerogoti antibodi keikhlasan seseorang dalam berdakwah. Itu yang berbahaya teman.

Seringkali di luar sana kita melihat wanita muslim dengan kerudungnya yang suci harus ternodai saat jalan berduaan dengan seseorang yang bukan muhrimnya tanpa alasan yang syar’i, apalagi mereka yang berdalih pacaran Islami. Mana ada teman dalam Islam mengajarkan pacaran, itu cuma buatan teman-teman liberal yang ingin menghancurkan jatidiri Islam yang sesungguhnya. Belum lagi teman-teman kita seakidah harus terjun ke lembah maksiat manakala berduaan teleponan berjam-jam dengan seseorang yang bukan muhrimnya tanpa alasan yang syar’i, tak ada hijab antara keduanya, memang sih sepele tapi hati-hati mas bro mbak sis, virus merah jambu bisa datang dari arah mana saja dan dalam berbagai kesempatan.

Tahukah teman, ikhtilath dalam bahasa kita bercampur baur antara pria dan wanita yang bukan muhrimnya tanpa alasan yang dibenarkan oleh Islam adalah tradisi Yahudi? Mereka menemukan sarana yang paling efektif untuk menyerang basis ketahanan orang-orang Islam dengan merangsang mereka melakukan kejahatan dan mengumbar hawa nafsu. Ikhtilath itu adalah sarana maksiat kepada Allah SWT dan RasulNya. Ikhtilath adalah salah satu dosa besar yang dapat mendatangkan laknatNya, mampu menodai kehormatan keluarga dan masyarakat, dapat menjadi cikal bakal permulaan zina dan mengundang siksaan dari Allah SWT.

Rasulullah Saw bersabda, “Ada 3 jenis orang yang kita jangan bertanya kepada mereka. Orang yang keluar dari jama’ah dan durhaka kepada imamnya lalu mati dalam keadaan bermaksiat, seorang budak perempuan dan laki-laki yang berlari (dari tuannya) kemudian ia mati, dan seseorang wanita yang ditinggal keluar suaminya dan telah dicukupi kebutuhan dunianya lalu ia tabarruj setelah itu. Jangan bertanya kepada mereka” (HR Imam Ahmad). Kemudian dalam sabdanya yang lain, “Aku membai’atmu agar kamu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anakmu, tidak melakukan kebohongan dari hadapanmu (karena perbuatan lisan dan kemaluan), tidak meratapi (orang mati) dan tidak berhias dengan berhiasnya Jahiliyah awal” (HR Imam Bukhori).

Terus gimana dong dengan status jomblonya nih? Kesendirian adalah saat-saat berharga di mana kita benar-benar mengasah ibadah, kemampuan, kepribadian dan pencarian ilmu yang sebaik-baiknya. Kesendirian mengajarkan kepada kita, betapa sulitnya medan kehidupan. Kesendirian mengajarkan ketangguhan sebagai insan tatkala berbagai rasa sedih, gelisah, rindu dan benci menerpa. Kesendirian adalah moment untuk mengasah diri bermentalkan kemandirian. Seperti kepompong dalam kesendiriannya bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang indah. Untuk saat ini hanya Allahlah tempat sandaran dan pegangan yang terbaik.

Adapun obat yang ampuh untuk menangkal serangan virus merah jambu ini adalah dengan banyak berdoa kepada Allah SWT agar senantiasa melindungi kita dari godaan syaithon dan jiwa yang lemah serta mengokohkan jalan cinta hakiki kita hanya untuk Allah SWT. Kemudian senantiasa memperbaharui iman karena iman sendiri sifatnya yang turun naik sesuai dengan kadar taqorrub kita kepada Allah SWT.
#edisi peduli JoKer (Jomblo Keren)
 
 sumber
Lengkapnya Klik DISINI

JANGAN SANGKA TOMBOL WINDOWS ITU TIDAK BISA APA-APA .. COBA KALIAN PELAJARI DIBAWAH INI !!

 
1. Kalau kamu mau meninggalkan mejamu sebentar, kamu bisa menekan tombol Windows dan tahan kemudian tekan L, dengan begini layar kamu akan terkunci dengan sendirinya, tidak perlu khawatir ada yang menyalahgunakan komputermu.

2. Ketika mau cari dokumen, orang biasa akan membuka "my computer". Bagi professional, dia akan menekan tombol windows+E, dan kamu akan langsung masuk ke PC Manager.

3. Bos kamu datang ketika kamu main game! Bagaimana? Jangan gegabah! Langsung tekan windows+D, kamu akan langsung masuk ke dekstopmu!

4. Trik – trik yang mewah, tekan windows +tab, layar kamu akan terganti menjadi 3D

5. Alat perekam di dalam windows. Tekan saja windows+R dan ketik psr.exe, setelah itu kamu bisa langsung memulai rekaman.

6. Windows +R dan masukan osk, layar kamu akan muncul keyboardvirtual!

7. Gambar / tulisan di layar terlalu kecil, tekan windows ditambah "+" atau"-" ,dan kaca pembesar akan muncul di layar, kamu bisa memperbesar atau memperkecil gambar di layar!

8. Sekarang ini computer kita banyak program, contohnya ID, dan kita akan membuka banyak halaman di browser kita. Dengan ctrl+Tab, kamu bisa menukar halaman di browsermu. Dan tekan ctrl+w, kamu bisa langsung menutup halaman yang sedang dibuka.

9. Ctrl+Esc memunculkan layar Start10. alt+space+c menutup halaman yang sedang dibuka.Semoga Bermanfaat.
Lengkapnya Klik DISINI

Karena Cinta, Aku Harus Memilih (2)

Penduduk Surga mendapatkan fasilitas dari Rabb-Nya, berupa "Berharaplah semau Anda, semua akan tersedia". Oleh karena itu, bagi Anda yang harus meninggalkan hobi Anda karena menyibukkan diri dengan ta'lim, beramal dan berdakwah 

 taat_suami_surga

Bismillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pada artikel Karena Cinta Aku Harus Memilih (bag.1) -Alhamdulillah– telah kami jelaskan tentang kiat mudah meninggalkan latar belakang yang hitam dan tiga poin telah disebutkan di sana, yaitu:
  • Mencintai sesuatu yang paling menyenangkan hati
  • Dengan menyadari bahwa setiap cinta itu butuh pengorbanan.
  • Merenungkan kaidah Qur’ani: “Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik darinya”
Nah, berikut kelanjutan kiat mudah tersebut:

4. Allah tidak sama dengan sesuatu apapun

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat” (QS. Asy-Syuuraa:11).

Allah berbeda dengan makhluk-Nya. Allah mencegah dengan tujuan untuk memberi, adapun makhluk-Nya, banyak di antara mereka yang memberi, agar kelak ganti diberi. Allah berbeda dengan makhluk-Nya. Oleh karena itu, husnudz dzonlah (berprasangka baiklah) Anda kepada-Nya, ketika Anda tercegah mendapatkan sesuatu yang Anda harapkan dari perhiasan dunia, asalkan Anda tetap bisa bertaqwa, apalagi kalau ternyata Anda menjadi lebih bertakwa karenanya, bukan malah nyesel nggak kesampean ‘cita-cita’ jahiliyyahnya atau bukan malah pengen seperti yang dulu, tatkala teringat nostalgia jahiliyyahnya.

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah berkata, Jadi demikiankah, Allah Yang Maha Suci, tidaklah Dia mencegah sesuatu dari hamba-Nya yang beriman, berupa perkara dunia, melainkan Dia akan memberikan kepadanya yang lebih utama dan lebih bermanfaat baginya dan anugerah itu tidaklah diberikan kepada non mukmin. Karena sesungguhnya Allah mencegah hamba-Nya dari mendapatkan sesuatu yang lebih rendah nilainya dan sepele, Dia tidak ridha itu didapatkan oleh hamba-Nya karena Dia hendak memberi kenikmatan yang terbaik dan mahal nilainya untuknya. Namun karena ketidaktahuan seorang hamba terhadap maslahat dirinya dan terhadap kedermawanan,kebijaksanaan dan kelembutan Tuhannya,menjadikannya tidak mengetahui perbedaan tingkatan nilai,antara apa yang ia tercegah mendapatkanya, dengan apa yang disimpan untuknya.

Justru yang ada adalah ia begitu menginginkan sesuatu yang bisa segera didapatkan di dunia ini, walaupun sepele nilainya, sedangkan untuk kenikmatan yang ditunda (di akhirat), demikian lemah seleranya terhadapnya,meski itu sesuatu yang mahal nilainya. Padahal, jika seorang hamba adil dalam bersikap terhadap Rabbnya -namun, bagaimanakah ia bisa begitu?- tentu akan mengetahui bahwa karunia-Nya untuknya  -dalam bentuk pencegahan-Nya dari mendapatkan dunia, kelezatan dan kenikmatannya- lebih baik daripada karunia-Nya dalam bentuk pemberian-Nya.

Jadi, tidaklah Dia mencegah seseorang kecuali untuk memberinya, tidaklah Dia mengujinya kecuali untuk menyelamatkannya, tidaklah Dia mengujinya, kecuali untuk membersihkannya, dan tidaklah Dia mematikannya, kecuali untuk menghidupkannya(Lihat kitab Fawa`idul Fawaid, hal: 82, Ibnul Qoyyim).

Meyakini bahwa: “Di Surga, berharaplah semau Anda, semua akan tersedia!

Allah Ta’ala berfirman,

لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ

“Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya” (QS. Qaaf : 35).

Ya, penduduk Surga mendapatkan fasilitas dari Rabb-Nya, berupa “Berharaplah semau Anda, semua akan tersedia”. Oleh karena itu, bagi Anda yang harus meninggalkan hobi Anda karena menyibukkan diri dengan ta’lim, beramal dan berdakwah, janganlah bersedih karena Anda bisa mendapatkan apa yang terluput di dunia, kelak di Surga.

Simaklah dialog singkat berikut ini:

عن سليمان بن بريدة عن أبيه أن رجلا سأل النبي صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله هل في الجنة من خيل ؟ قال : إنِ اللهُ أدخلك الجنة فلا تشاء أن تحمل فيها على فرس من ياقوتة حمراء يطير بك في الجنة حيث شئت ، قال : وسأله رجل فقال يا رسول الله هل في الجنة من إبل ؟ قال : فلم يقل له مثل ما قال لصاحبه ، قال : إن يدخلك الله الجنة يكن لك فيها ما اشتهت نفسك ولذت عينك .

Dari Sulaiman bin Buraidah, dari bapaknya, bahwa ada seseorang bertanya kepada Nabi shalallahu ‘alaihi sallam, ia berkata, “Ya  Rasulullah, apakah di surga ada kuda? Beliau menjawab, ‘Jika Allah memasukkan Anda ke dalam surga, maka tidaklah Anda menginginkan bisa menaiki kuda dari batu mulia berwarna merah,yang terbang membawamu kemana saja sesesuka Anda di Surga’ (kecuali keingian tersebut akan terlaksana)”. Ia (perawi) berkata, “Ada seseorang bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah di Surga ada unta?’”, Ia (perawi) berkata, “Beliau tidak menjawab kepadanya dengan jawaban seperti yang ditujukan kepada temannya (tadi)” , beliau menjawab:  “Jika Allah memasukkan Anda ke dalam Surga, maka Anda akan mendapatkan apa saja yang disukai jiwa Anda dan yang sedap dipandangan mata Anda”. (HR. At-Tirmidzi (2543) dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi 3/522. [1])

ففي (صحيح البخاري) عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي – صلى الله عليه وسلم – كان يتحدث – وعنده رجل من أهل البادية -: ((إن رجلاً من أهل الجنة استأذن ربه في الزرع، فقال له: ألست فيما شئت؟. قال: بلى، ولكن أحب الزرع، فبذر، فبادر الطرف نباته. واستواؤه، واستحصاده، فكان أمثال الجبال))

Dalam Shahihul Bukhari, dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, bahwa suatu saat Nabi shlallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkisah -sedangkan bersama beliau ada seorang badui-, “Ada seorang penduduk surga memohon izin kepada Tuhannya untuk bercocok tanam, lalu Allah berfirman, “Bukankah engkau sudah mendapatkan semua yang enkau inginkan?” Ia menjawab, “Benar, akan tetapi saya hobi bercocok tanam”. Maka ia pun menabur benih, lalu tumbuh, matang dan siap panennya tanaman tersebut berlangsung dengan cepat, sampai jadilah bergunung-gunung”. [2]

Nah, jika Anda memang mencintai Allah, Anda harus berani menentukan pilihan. Benar karena cinta, Anda harus memilih! 
Artikel Muslim.Or.Id/~Inspirasi Rabbani~

Catatan Kaki
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukkasyah

Lengkapnya Klik DISINI

Farmakolog USU Prof H Aznan Lelo: MSG Narkoba Terselubung

Prof Aznan LeloMasyarakat diminta tidak lagi mengonsumsi atau memakai penyedap masakan monosodium glutamate (MSG) dengan berbagai nama dagang dan wujud tampilan, seperti bubuk penyedap, saus, keuh mueh, susu formula, obat-obatan, vaksin dan sebagainya. Pasalnya, MSG dianggap sebagai narkoba terselubung yang peredarannya tidak terkendali dan mengancam generasi bangsa.

"Narkoba yang mungkin menzalimi orang banyak dalam jumlah besar tentulah melalui makanan. Pada kenyataannya cukup banyak obat berbahaya yang belum tercantum sebagai narkoba namun tersedia dalam berbagai bentuk dan dikonsumsi oleh masyarakat luas tanpa kendali. Salah satu contohnya adalah penyedap masakan monosodium glutamate (MSG)," kata Farmakolog Universitas Sumatera Utara (USU) Prof dr H Aznan Lelo PhD kepada wartawan, usai menjadi pembicara utama pada seminar ilmiah “MSG, Narkoba Terselubung” dalam rangka peringatan Dies Natalis ke-63 USU di Rumah Sakit USU, Selasa (18/8).

Menurut dosen pada Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran (FK) USU ini, meskipun MSG selalu ditemukan dalam berbagai jenis makanan yang dikonsumsi, bukan berarti MSG itu aman.

"Cukup sering ditayangkan di televisi dan dikabarkan di koran-koran dan media cetak lainnya tentang kejadian keracunan makanan pada murid-murid di sekolah-sekolah atau setelah pulang sekolah, pada buruh-buruh di tempat kerja dan di asrama. Sayangnya tidak pernah diungkapkan oleh pihak terkait racun apa yang menyebabkan kejadian tersebut. Padahal, bisa jadi mereka keracunan akibat mengonsumsi MSG,” kata Aznan yang saat itu didampingi Humas USU Bisru Hafi.

Dia melanjutkan, bahwa MSG dapat menimbulkan kecanduan seperti narkoba. Hal ini makin diperparah dengan semakin gencarnya iklan di televisi yang menyampaikan perlunya penambahan MSG dalam makanan sehari-hari. Iklan seperti itu sangat menyesatkan.

Aznan yang biasa disapa Buya ini mencontohkan, dulu bangsa Indonesia terkenal ramah santun dan baik akhlaknya serta pemberani dan perkasa. Sekarang terlihat beringas tidak Pancasilais.

Gampang murka, membakar, membegal, memperkosa, korupsi dan sebagainya yang dilakukan tanpa pandang usia, mulai dari anak-anak sampai si tua renta, tanpa pandang tingkat pendidikan dan keyakinan.
"Kenapa terjadi perubahan negatif secara berjamaah? Narkoba apa yang telah merusak bangsa kita ini? Pastilah narkoba yang tidak perlu diperoleh secara sembunyi-sembunyi, tapi didapat secara terang benderang, gampang dan dianggap aman melalui MSG," sebutnya.

Narkoba seperti ini, kata Buya, diatur dengan UU dan ada sanksi hukumnya, sehingga untuk memerolehnya sembunyi-sembunyi dan dilakukan oleh kelompok orang tertentu.

"Tujuh puluh tahun merdeka telah berlalu, rakyat Indonesia bukan makin sehat jiwa raganya, malah kebalikannya. Selain itu, MSG juga dapat menimbulkan stres oksidatif yang berat," kata pria yang mengaku pernah disuruh tutup mulut oleh salah satu perusahaan penyedap makanan beken di Indonesia, agar tidak membeberkan ke publik soal bahaya MSG tersebut secara kajian ilmiah.

Dia menerangkan, narkoba adalah singkatan dari narkotika (zat yang dapat menidurkan atau narkose, seperti morfin, sabu dan sebagainya) dan obat berbahaya (termasuk ekstasi, alkohol, tembakau, ganja dan lainnya). Dengan berbagai nama dagang dan wujud tampilan, mulai bubuk penyedap, saus, keuh mueh, susu formula, obat-obatan, vaksin dan sebagainya dan MSG termasuk berada di dalamnya.

Dijelaskannya, MSG biasanya tersedia berupa kristal putih mirip dengan narkoba lain dan digunakan sebagai penyedap makanan di banyak negara. Namun konsumsi yang berlebihan telah dilaporkan dapat menimbulkan efek yang merugikan pada banyak organ tubuh, terutama memengaruhi fungsi dan fisiologi otak dan juga menyebabkan stres oksdatif yang berat.

"Fakta yang dijumpai di negeri kita Indonesia yang telah merdeka tujuh puluh tahun yang ditandai dengan merdekanya peredaran narkoba terselubung tanpa kepedulian pihak terkait dan kita semua. Maka akan seperti apakah tampilan anak bangsa Indonesia di masa depan yang terus terpapar MSG melalui vaksin, susu, cemilan dan makanan sehari-hari? Ayo katakan stop MSG mulai saat ini," ajak Buya mengakhiri.
 
~Inspirasi Rabbani~
Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......