Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

Imam Syafi’i Sang Mujtahid

Imam Syafi’i Sang MujtahidBeliau bernama lengkap Abu ʿAbdullah Muhammad bin Idris al-Shafi’i atau Muhammad bin Idris asy-Syafi’i yang lebih dikenal dangan nama Imam Syafi’i. Beliau termasuk keluarga nabi (Ahlul Bait) karena kakeknya Nabi Muhammad adalah saudara dari kakeknya Imam Syafi’i. Beliau lahir di kota Gaza, Palestina pada tahun 150 Hijriah, dan juga bertepatan dengan tahun wafatnya Imam Abu Hanifah.

Belajar di Mekkah

Di masa kecilnya Imam Syafi’i hidup miskin. Namun ia memiliki ibu yang luar biasa. Sang ibulah yang mendidik Syafi’i sejak kecil dan mengirimnya ke Makkah untuk menimba ilmu dari para ulama besar yang salah satunya adalah Imam Malik.

Di Makkah itulah, Imam Syafi’i yang masih berusia tujuh tahun telah hafal Al Quran lalu membaca dan menghafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik pada usia 10 tahun sebelum beliau berjumpa langsung dengan Imam Malik di Madinah. Sekalipun hidup dalam kemiskinan, beliau tidak berputus asa dalam menimba ilmu. Beliau mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma, dan tulang unta untuk dipakai menulis. Sampai-sampai tempayan-tempayan milik ibunya penuh dengan tulang-tulang, pecahan tembikar, dan pelepah kurma yang telah bertuliskan hadits-hadits Nabi. Saat gurunya terlambat, Syafi’i kecil lah yang mengajari anak-anak lainnya. Ia biasa menghafalkan seketika saat gurunya mendiktekan. “Tak layak bagiku untuk memungut bayaran sepeserpun darimu,” kata sang guru mengetahui keistimewaan dan ‘jasa’ Syafi’i kecil.

Imam Al Baihaqi dengan sanadnya dari Mus’ab bin Abdillah Az-Zabiri, dia berkata, ”Imam Syafi’i memulai aktivitas keilmuannya dengan belajar sya’ir, sejarah dan sastra. Setelah itu baru menekuni dunia fikih. Untuk beberapa waktu Imam Syafi’i terkenal sebagai penyair andal. Hingga suatu saat salah seorang keluarga pamannya mengatakan sesuatu yang akhirnya menjadi awal kemuliaan Imam Syafi’i. “Wahai Abu Abdullah, aku sangat menyayangkan jika kefasihan bahasa dan kecerdasanmu ini tidak disertai dengan ilmu fikih. Dengan ilmu fikih, kau akan memimpin semua generasi zamanmu,” katanya, menyentakkan Imam Syafi’i.

Berangkat dari inilah Imam Syafi’i belajar ilmu fikih kepada Imam Malik. Singkat cerita, Imam Syafi’i akhirnya diterima menjadi murid Imam Malik. Semula ia ditolak, tetapi demi melihat kesungguhan pemuda ini dan kehebatannya yang telah menghafal Al-Muwatha’, Imam Malik menerimanya.

Ada satu kisah unik di saat beliau masih belia, siang itu,di Masjidil Haram terlihat seorang guru tengah mengajari murid-muridnya berbagai prinsip ilmu. Guru itu mengajari berbagai prinsip ilmu agama. Namun ada yang terlihat aneh dari peristiwa itu,ternyata Sang Guru tak jauh lebih tua daripada murid-muridnya. Kemudian, di tengah proses mengajar Sang Guru meminta izin untuk minum, padahal saat itu adalah Bulan Ramadan. Kontan saja murid-muridnya memprotes Sang Guru dan bertanya “Kenapa Anda minum? Padahal sekarang ‘kan Bulan Ramadan?”. Sang Guru menjawab “Aku belum wajib berpuasa.”

Siapakah Sang Guru yang nyeleneh tersebut ? Ya, benar. beliau adalah Imam Syafi’i.

Kehebatan dan Keteladanannya

Kita mengenal Imam Syafi’i sebagai ulama fikih dan imam madzhab yang besar. Namun, kehebatan Imam Syafi’i tidak terbatas pada bidang itu. Seperti disinggung di atas, Imam Syafi’i adalah seorang sastrawan dan ahli bahasa. Ahli nasab dan sejarah. Ia juga terampil dalam berkuda dan memanah. Hal ini dipelajari Imam Syafi’i ketika masih remaja. Ia menjadi ahli dalam kedua jenis olah raga yang dianjurkan Rasulullah itu. “Setiap sepuluh anak panah yang kuluncurkan, semuanya tepat mengenai sasaran,” kata Imam Syafi’i beberapa tahun kemudian kepada para muridnya.

Pada saat Imam Syafi’i hijrah ke Mesir, saat itulah diketahui bahwa Imam Syafi’i juga ahli falak dan memilki ilmu kedokteran. Ceritanya, Seorang dokter yang bertemu dengannya mengajaknya berdiskusi, hingga ia menyangka Imam Syafi’i adalah seorang dokter yang pindah dari Irak. Dokter itu hendak mengajak Syafi’i memperdalam buku kedokteran yang ia punya, tetapi Imam Syafi’i menjawab: “Mereka (murid-muridku) tidak akan merelakan aku untuk mempelajarinya.”

Demikianlah ilmu Imam Syafi’i yang membuat kita terkagum-kagum. Namun akhlak dan keteladanannya tak kalah menawan. Imam Syafi’i rahimahullah membagi waktu malamnya menjadi tiga yakni; sepertiga untuk menulis, sepertiga untuk shalat dan sepertiganya untuk istirahat. Ia dikenal sebagai orang yang sangat wara’, zuhud dan bertaqwa. Imam Syafi’i juga ahli sedekah. Seluruh harta yang didapatkannya segera ia sedekahkan kepada orang yang membutuhkan.

Karya-Karyanya

Imam Syafi’i adalah  pionir dalam bidang Ushul Al- Fiqh dan Ahkam Al-Qur’an. Para ulama dan cendekia terkemuka selalu mengkaji karya-karya Imam Syafi’i dan mengambil manfaat dari karya tersebut. Nama kitab yang ditulis oleh Imam Syafi’i sangat banyak jumlahnya mencapai lebih dari 100 kitab dan sebagiannya kemudian dikodifikasi dalam satu kitab besar bernama Al-Umm. Nama kitab tersebut diambil karena beliau adalah orang yang sangat menyayangi ibunya. Inilah kitab induk mazhab Syafi’i, berisikan pikiran Imam Syafi’i yang sangat teliti, terperinci dan menyeluruh. Selain Al-Umm, kitab Imam Syafi’i yang sangat terkenal adalah Ar-Risalah. Kitab yang disebut terakhir ini merupakan kitab ushul fiqih pertama di dunia. Padahal pada saat itu Imam Syafi’i masih sangat muda. Dan masih banyak lagi karya-karyanya yang lain.

Wafat Imam Syafi’i

Karena sibuknya berdakwah dan menebar ilmu, hingga beliau menderita penyakit wasir yang selalu mengeluarkan darah. Makin lama penyakitnya bertambah parah hingga akhirnya beliau wafat karenanya. Beliau wafat sebagai syuhadaul ilmi di akhir bulan Rajab 204 H. Terjadi pada malam Jumat setelah shalat Isya’ hari terakhir bulan Rajab permulaan tahun 204 dalam usia 54 tahun. Semoga Allah memberikan kepadanya rahmat-Nya yang luas.

Usia beliau memang singkat,namun patut kita teladani kekhidmatan beliau dalam mencari ilmu ke berbagai negeri dan sikapnya yang sangat menghargai waktu, seperti yang pernah diucapkan beliau, “Ilmu bukanlah sesuatu yang dihafal,tetapi ilmu adalah sesuatu yang ada manfaatnya.”

Semoga bermanfaat bagi kita, sebagai motivasi dalam belajar dan mengajarkan ilmu. Amiin.
Barakallahufiikum.


Oleh: Muhammad Rizky Harahap, Bintaro
Mahasiswa Perpajakan, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
 
http://www.fimadani.com/imam-syafii-sang-mujtahid/

0 Komentar:

Posting Komentar

Kehormatan buat kami jika selesai baca Anda beri komentar atas Artikel ini....tapi, Mohon Maaf kawan Komentarnya yang sopan ya....he..he..he..

Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......