Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

Islam dan Sains

Nabiel bin Fuad Al Musawa 
“Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu, lalu ia menyembunyikannya, maka kelak di hari Kiamat akan dijahit mulutnya dengan jahitan dari api neraka.”[1]

Sepengetahuan kami, tidak ada dalam aliran agama dan pemikiran manapun di dunia ini, baik yang terdahulu (seperti Kristen, Hindu dan Budha) maupun kontemporer (kapitalisme, westernisme, sosialisme, pluralisme) yang sampai memberikan support demikian kuat kepada anggotanya untuk belajar dan mengajarkan ilmu (dalam arti umum, bukan hanya ilmu agama ansich), bahkan dengan memberikan ancaman yang demikian keras hanya karena tidak mau menjawab sebuah pertanyaan tentang ilmu padahal ia mengetahuinya…

Demikianlah kesempurnaan sistem ilahiah dan rabbaniah yang merupakan sistemtertinggi yang tidak dapat ditandingi oleh sistem manapun dalam kesempurnaannya di segala aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh penganutnya. Demikian tinggi perhatian Islam pada ilmu pengetahuan, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui lisan rasul-Nya yang mulia melarang bersikap iri hati kecuali kepada 2 kelompok orang, salah satunya orang yang dianugerahi ilmu lalu ia memanfaatkan dan mengajarkan ilmunya tersebut siang dan malam.[2]

Lebih jauh, Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan balasan Jannah bagi orang-orang yang sedang berusaha menempuh jalan untuk menuntut ilmu[3], bahkan dalam riwayat lain disebutkan secara lengkap sebagai berikut: “Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka akan Allah mudahkan baginya jalan menuju Jannah.

Sungguh para malaikat itu membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan hal tersebut. Bahwasannya penghuni langit dan bumi sampai ikan-ikan dan kerang di dasar samudera memintakan ampunan kepada orang yang berilmu. Keutamaan orang alim dari seorang abid (ahli ibadah) adalah bagaikan keutamaan bulan purnama dari bintang-bintang. Sungguh para ulama itu adalah pewaris Nabi dan para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham akan tetapi mewariskan ilmu pengetahuan. Maka barangsiapa yang menuntut ilmu, maka ia telah mengambil bagian yg sempurna.”[4]

Keutamaan belajar ilmu dan mengajarkannya bagi pelakunya dalam Islam juga tidak hanya berhenti sebatas di dunia ini saja, melainkan pahala dan keutamaannya tersebut akan terus mengalir kepada orang tersebut sampai setelah ia lama mati [5]sepanjang perbuatan mencari dan mengajarkan ilmu tersebut semata-mata ikhlas ditujukan untuk mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, ada pun jika tujuan mencari ilmu tersebut untuk kepentingan sesaat (duniawi) yang rendah dan buruk, maka hukumanlah yang akan ia dapatkan di akhirat kelak, sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam : “Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya bertujuan untuk mencari ridha Allah ‘Azza wa Jalla, lalu ia mempelajarinya dengan tujuan hanya untuk mendapatkan kedudukan dunia, maka kelak di hari Kiamat ia tidak akan mendapatkan wanginya Jannah.”[6]

Islam pun menggariskan bahwa tidak semua manusia memiliki kemampuan yang sama dalam menyerap dan memahami ilmu pengetahuan, ada yang genius, ada yang moderat dan ada pula yang lemah akalnya (idiot); sebagaimana dalam sabda nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadaku bagaikan hujan yang menimpa bumi. Sebagian tanah ada yang subur, lalu tumbuhlah berbagai tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Namun ada pula tanah yang kering namun masih bisa menyimpan air, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan manfaatkan kepada manusia, mereka bisa minum dari air tersebut dan memberi makanan ternak dan bertani. Ada lagi air yang menimpa bagian bumi yang datar dan lunak yang tidak dapat menyimpan air dan tidak dpt menumbuhkan tumbuhan. Demikianlah perumpamaan orang alim dalam masalah agama dan mengerjakannya, dan perumpamaan orang yang tidak dapat menerima petunjuk Allah yang diturunkan kepada mereka.”[7]

Maka ketika kaum Muslimin mendalami dan mengamalkan agamanya dengan benar, penuhlah dunia dengan para ilmuwan dan saintek Muslim seperti di bidang kedokteran: Kitab Ibnu Sina, Al Qanun (abad-12) & Al Hawi (Ar Razi) menjadi sumber pengetahuan kedokteran di Barat sampai abad-16; Raja Friederich-II dari Perancis meminta putra-putra Ibnu Rusyd (menurut ejaan Barat dibaca: Averoes) untuk tinggal diistananya mengajarinya ilmu Botani & Zoologi; Paus Gerbert (bergelar Sylvestre-II) mengajar ilmu-ilmu alam pada tahun 1552-1562 yang kesemuanya dipelajarinya di Universitas Islam Andalusia di Spanyol; Bahkan menurut Gustave Le Bon (sejarawan Perancis) bahwa ahli-ahli Barat seperti Roger Bacon, Leonardo da Vinci, Albertus Magnus, dan lain-lain dibesarkan dalam era keemasan perpustakaan pengetahuan Islam & Arab.[8] Kesemuanya itu kemudian diganti oleh generasi berikutnya yang menjauh dari nilai-nilai Islam dan bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga sedikit demi sedikit kepemimpinan kaum Muslimin digantikan oleh generasi yang meninggalkan shalat dan mengikuti syahwat.[9]

Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala mencabut ilmu dari kaum Muslimin tidak secara sertamerta, tapi melalui diwafatkannya orang-orang yang berilmu dan bertaqwa dan digantikannya dengan orang-orang yang bodoh dan sesat yang memimpin manusia, sehingga mereka sesat dan menyesatkan orang lainnya.[10]
Allahu a’lam bish Shawab…


[1] Hadits Riwayat: 1. Abu Daud, hadits no. 3658. 2. Tirmidzi, hadits no. 2651. 3. Ibnu Majah, hadits no. 261. 4. Menurut Tirmidzi sanadnya hasan, sedangkan menurut Ibnu Hibban hadits ini shahih (no. 95), juga dalam shahih-nya dalam bab Abdullah bin Umar (96).
[2] HR. Bukhari, I/152-153; Muslim hadits no. 816.
[3] HR. Muslim, hadit no. 2699.
[4] HR. Abu Daud no. 3641-3642; Tirmidzi, no. 2683; Ibnu Majah, no. 223; dan dishahih-kan oleh Ibnu Hibban (74-75) melalui riwayat Abu Darda Radhiyallahu ‘Anhu; juga dari riwayat Jabir bin Muth’im Radhiyallahu ‘Anhu yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad (IV/80) dan dishahih-kan oleh Al Hakim (I/86-87); juga dari riwayat Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘Anhu yang diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad (V/183); hadits ini juga diriwayatkan oleh ad Darami (I/75) dan di-shahih-kan oleh Ibnu Hibban (72-73).
[5] HR. Muslim, hadits no. 1631.
[6] HR. Abu Daud (3664); Ibnu majah (252); dan di-shahih-kan oleh Ibnu Hibban (89) dan Al Hakim (I/85) dan disepakati oleh adz-Dzahabi.
[7] HR. Bukhari I/150-151, VI/152; Muslim (1037).
[8] DR Musthafa As Siba’i, Min Hadharatina.
[9] QS Maryam, 19/59.
[10] HR. Bukhari I/174-175; Muslim (2673).


sumber: http://www.hasanalbanna.com/islam-dan-sains/

0 Komentar:

Posting Komentar

Kehormatan buat kami jika selesai baca Anda beri komentar atas Artikel ini....tapi, Mohon Maaf kawan Komentarnya yang sopan ya....he..he..he..

Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......